بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 25
Perumpamaan “Nur
di atas Nur” atau “Bintang Cemerlang” Pengejar “Syaitan-syaitan Pencuri Dengar Suara Langit” &
Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi
Dengan Manusia
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
kata “syaitan” dalam QS.15:18: وَ حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ -- “Dan Kami
telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk,” dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung atau para ahli
kebatinan dan para sufi palsu.
Dalam hal itu “merajam
syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan berarti bahwa manakala di dunia ini tidak
ada seorang Mushlih rabbani (pembaharu dari Allah Swt.) maka ahli-ahli
nujum dan tukang-tukang sihir
akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan
kotornya dengan menipu
orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang Mushlih rabbani ilmu mereka
yang lancung itu terbuka kedoknya,
dan orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib dari rasul-rasul
Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir.
Perajaman “Syaitan-syaitan
Pencuri Dengar Suara Langit”
Ayat ini dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong dari wahyu Ilahi dengan menceraikannya
dari susunan kalimatnya, dan berusaha
menyebar-luaskannya dalam bentuk yang
sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana pancaran cahaya yang berbinar-binar lalu
menghancur-leburkan rencana-rencana buruk
orang-orang yang bertingkah laku seperti syaitan
itu.
Dalam makna yang sama tetapi dikemukakan dengan penjelasan yang berbeda Allah Swt. berfirman:
اِنَّا
زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا
بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾ وَ حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾ لَا یَسَّمَّعُوۡنَ
اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ کُلِّ
جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾ دُحُوۡرًا وَّ
لَہُمۡ عَذَابٌ وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾ اِلَّا مَنۡ خَطِفَ
الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ ثَاقِبٌ
﴿﴾
Sesungguhnya
Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah
memeliharanya dari setiap syaitan durhaka. لَا
یَسَّمَّعُوۡنَ اِلَی الۡمَلَاِ
الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ
کُلِّ جَانِبٍ -- Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan
majlis malaikat-malaikat yang tinggi
dan mereka dilempari dari segala penjuru,
دُحُوۡرًا
وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ
وَّاصِبٌ -- terusir dan bagi mereka ada azab yang kekal. اِلَّا مَنۡ
خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ
ثَاقِبٌ -- Kecuali barangsiapa mencuri-curi sesuatu
pembicaraan maka ia dikejar oleh cahaya api yang
cemerlang. (Ash-Shāffat
[37]:7-11).
Ayat ini pun menunjuk kepada kesejajaran antara alam kebendaan dan alam
keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala
alam lahir didukung oleh adanya planit-planit
dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh
adanya planit-planit dan bintang-bintang ruhani yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih
rabbani. Tiap-tiap wujud mereka
itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam keruhanian, sebagaimana
bintang-bintang dan planit-planit di langit memperindah
dan menghiasi cakrawala alam lahir ini.
Syaitan-syaitan itu terdiri dari dua golongan: (a)
musuh-musuh di dalam selimut jemaat
kaum Muslimin sendiri, seperti
orang-orang munafik, dan sebagainya.
Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut dalam ayat ini,
dan (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang
kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajīm” (syaitan yang terkutuk -- QS.15:18).
Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di
langit maka Kalamullāh
itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian
dan serobotan, tetapi sesudah
diturunkan kepada seorang nabi Allah,
maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi
Allah berusaha menyalah-sampaikan
atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi Allah itu secara keliru
atau dengan mengambil sebagian wahyunya
dan mencampurkan banyak kepalsuan
dengan wahyu itu, atau bahkan mereka
mencoba mengemukakan ajaran nabi Allah itu sebagai ajaran mereka sendiri. Tetapi kepalsuan mereka tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh
sang Mushlih rabbani mengenai wahyunya itu.
Perumpamaan Nur Allah
Swt.
Dalam Bab-bab sebelum ini telah dikemukakan penjelasan tentang Syihābun- mubīn (QS.15:19) atau Syihābun- Tsīqib (QS.37:18) atau Ath-Thāriq (QS.86:1-5) yang muncul di Akhir Zaman ini sebagai perwujudan pengutusan kedua kali Nabi Besar
Muhammad saw. secara ruhani
(QS.62:3-4), guna mewujudkan kejayaan Islam kedua kali, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Swt.
dan Nabi Besar Muhammad saw. setelah Islam
mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun sejak kejayaannya yang pertama selama
3 abad (QS.32:6), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak
menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Di Akhir
Zaman ini begitu pekatnya kegelapan yang melingkupi “daratan dan lautan” sebagaimana yang
terjadi di masa menjelang pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
ظَہَرَ
الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ
کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ
کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan, supaya
mereka kembali dari
kedurhakaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat
bagi orang-orang sebelum kamu ini.
کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ -- Maka hadapkanlah
wajah engkau kepada agama yang lurus,
مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا
مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ -- sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan, یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ -- pada hari
itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Sungguh tepat perumpamaan mengenai
nur (cahaya) dan kegelapan
yang meliputi “daratan dan lautan” -- yakni kehidupan
duniawi mau pun kehidupan ruhani yang terjadi di Akhir Zaman ini, yang bahkan terjadi juga di kalangan umumnya umat Islam, padahal seharusnya mereka melaksanakan
kewajibannya sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS,3:111) terutama di wilayah Timur Tengah, dimana sekitar
1400 tahun yang lalu menjadi tempat terbitnya “matahari ruhani” hakiki yakni Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.33:46-47), firman-Nya:
اَللّٰہُ
نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ
زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ
مُّبٰرَکَۃٍ زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا
یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی
اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi.
Perumpamaan nur-Nya seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca.
Kaca itu seperti bintang yang
gemerlapan. Pelita itu dinyalakan
dengan minyak dari sebatang pohon
kayu yang diberkati, yaitu pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, minyaknya
hampir-hampir bercahaya walaupun api
tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- Nur di atas nur. یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- Allah memberi bimbingan
menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia
kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ -- dan Allah
mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia,
وَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).
Nur berarti cahaya sebagai lawan dari kegelapan. Kata nur mempunyai
pengertian lebih luas dan lebih menembus dan juga lebih bertahan (lama)
daripada dhiya (Lexicon Lane). Misykat berarti: relung dalam sebuah tembok yakni lobang atau lekuk dalam tembok yang tidak menembus dinding itu,
lampu (pelita) yang ditempatkan di
sana memberi cahaya lebih banyak
daripada di tempat lain; tiang yang
dipuncaknya diletakkan lampu (Lexicon Lane). Zujajah berarti: kaca; bola dari kaca
(Lexicon Lane).
“Nur di atas
Nur”
Ayat ini merupakan tamsil (perumpamaan) yang indah. Ayat
ini membicarakan tiga buah benda — pelita, kaca,
dan relung. Nur Ilahi disebutkan terkurung di dalam tiga benda tersebut yang bila
digabung bersama membuat binar dan kilau cahayanya menjadi lengkap dan
sempurna.
Memang “pelita” itulah yang menjadi sumber cahaya, sedangkan “kaca” yang melindungi lampu itu menjaga
supaya cahayanya jangan padam oleh tiupan angin serta menambah terangnya, dan “relung” menjaga cahaya itu supaya pancarannya tidak pecah
Tamsil (perumpamaan) ini dengan
tepat dapat dikenakan kepada lampu senter
yang bagian-bagiannya adalah (2) kawat-kawat listrik yang memberikan cahaya, (2) bola-lampu yang melindungi
cahaya itu dan (3) reflektor yang memancarkan dan menyebarkan
cahaya serta memberi arah
kepadanya.
Dalam istilah ruhani tiga buah benda itu —
“lampu”, “kaca” dan “relung” — masing-masing dapat melukiskan (1) cahaya Ilahi, (2) para nabi Allah yang
melindungi cahaya Ilahi itu dari menjadi padam serta menambah kilau
dan terangnya, dan (3) para khalifah
yang menyebarkan dan memancarkan cahaya Ilahi dan memberikan arah dan tujuan untuk menjadi petunjuk
dan sinar penerang dunia.
Ayat ini selanjutnya menyatakan
bahwa minyak yang dipakai menyalakan lampu itu mempunyai kemurnian yang semurni-murninya dan
dapat menyala sampai batas hingga
membuat minyak itu berkobar menyala-nyala sekalipun tidak dinyalakan api. Minyak itu diambil dari pohon yang bukan dari timur dan bukan juga dari barat, yaitu yang tidak bersifat pilih kasih terhadap sesuatu kaum tertentu.
Ayat ini pun dapat pula mempunyai
tafsiran lain lagi. Nur (cahaya) yang tersebut dalam ayat ini dapat
dianggap menunjuk kepada Nabi Besar
Muhammad saw., sebab beliau dalam Al-Quran disebut nur (QS.5:16), dalam
keadaan demikian “relung” berarti “hati” beliau saw., dan “lampu” berarti fitrat
beliau saw. yang amat murni, khalis
dan dikaruniai sifat-sifat serta
mengandung arti bahwa nur Ilahi yang telah ditanamkan dalam fitrat
beliau adalah sebersih dan secemerlang hablur (kristal). Bila nur
wahyu Ilahi turun kepada nur fitrat
Nabi Besar Muhammad saw. maka nur itu
bersinar dengan kilauan berlipat ganda,
yang oleh Al-Quran dilukiskan dengan kata-kata نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- “nur di atas nur”.
Nur Nabi Besar Muhammad saw. ini telah dibantu oleh minyak yang keluar dari pohon yang bukan hanya terang dan cemerlang tetapi juga berlimpah-limpah,
mantap, dan kekal (seperti arti dan maksud kata mubarakah itu) dan
dimaksudkan menyinari timur dan barat kedua-duanya.
Lagi pula hati Nabi Besar Muhammad
saw. begitu suci bersih, dan fitrat beliau saw. dianugerahi kemampuan
yang begitu mulia, sehingga beliau saw. layak melaksanakan tugas-tugas misi agung beliau saw., bahkan sebelum wahyu Ilahi turun kepada beliau saw..
Inilah maksud kata-kata: یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ
لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ -- “yang minyaknya hampir-hampir bercahaya
walaupun api tidak menyentuhnya.”
Tamsil ini dapat pula diberi tafsiran lain lagi. Relung dalam
ayat ini berarti jasad manusia. Jasad
manusia berisi ruh serta
mengantarkan cahaya, yang berarti tubuh manusia itu berisikan misbah atau
pelita ruh yang menyinari akal
manusia dan menghubungkannya dengan Tuhan.
Pelita itu terletak dalam zujājah (semprong kaca) yang menjaganya
terhadap kemudaratan dan cacat serta menambah dan memantulkan cahayanya, zujājah yang
melambangkan otak manusia susunannya
begitu sempurna, sehingga telah menjuruskan beberapa ahli filsafat untuk mengira bahwa akal manusia adalah sumber asli cahaya
Ilahi, padahal bukan.
Cahaya itu dibantu
oleh minyak yang berasal dari suatu pohon yang diberkati, yaitu dari kebenaran-kebenaran
yang pokok lagi abadi, yang tidak merupakan milik
khusus orang-orang timur ataupun barat, sebab kebenaran-kebenaran kekal-abadi itu telah tertanam dalam fitrat
manusia -- terutama fitrat Nabi Besar Muhammad saw.
-- dan hampir-hampir akan menampakkan dirinya meskipun tanpa
bantuan wahyu Ilahi.
Pentingnya Keberadaan Wahyu
Ilahi
Namun bagaimana pun sempurnanya akal mau pun fitrat yang dimiliki
manusia -- sehingga nyaris bercahaya dengan sendirinya
-- tetapi tanpa adanya peran pasangannya
yang sejati yaitu wahyu Ilahi maka fitrat
dan akal manusia tidak akan akan benar-benar menjadi cahaya
penerang sejati yang disebut نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- ”Nur di atas nur”, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ
وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ مِمَّا لَا
یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Maha Suci Dzat Yang menciptakan
segala sesuatu berpasang-pasangan baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan
dari diri mereka sendiri, mau
pun dari apa yang tidak mereka ketahui.
(Yā
Sīn [36]:37).
Ilmu
pengetahuan telah menemukan kenyataan, bahwa pasangan-pasangan terdapat dalam segala sesuatu — dalam alam nabati (tumbuh-tumbuhan) dan malahan
dalam zat anorganik. Bahkan yang
disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya, sebab unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud (eksis).
Kebenaran ilmiah ini berlaku juga untuk kecerdasan
manusia. Sebelum nur-nur samawi turun,
manusia tidak dapat memperoleh ilmu
sejati yang lahir dari perpaduan wahyu
Ilahi dan kecerdasan otak
manusia, termasuk Nabi Besar Muhammad saw. yang memiliki otak serta fitrat yang
paling sempurna di kalangan umat manusia, firman-Nya:
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ
مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ﴾ صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya,
kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa
yang Dia kehendaki, sesungguhnya, Dia
Maha Tinggi, Maha Bijak-sana. وَ کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ
اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ
مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا الۡاِیۡمَانُ -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur,
yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada
siapa yang Kami kehendaki dari
antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke
jalan lurus, صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang
ada di bumi. اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali. (Asy-Syūra
[42]:52-54).
Sejak pengutusan Nabi besar Muhammad saw.
hingga di Akhir Zaman ini Al-Quran
tetap ada dilingkungan umat Islam,
namun dalam kenyataannya setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad, ketika Allah Swt.
menarik kembali “ruh” Al-Quran
(QS.17:86-89) maka berbagai bentuk kemunduran
di kalangan umat Islam terus menerus terjadi selama 1000 (QS.32:6), termasuk
terjadinya perpecahan umat Islam yang
semakin parah dan berdarah-darah terutama di wilayah Timur
Tengah (QS.30:32-33).
Kenyataan tersebut membuktikan bahwa sekali
pun Al-Quran tetap ada dan teksnya
tetap terpelihara (QS.15:10), tetapi
ketika wahyu Ilahi – yang merupakan “pasangannya” --
tidak lagi menyertainya maka keberadaan Al-Quran bukan lagi
merupakan “khazanah ruhani”
yang luar biasa, malah oleh orang-orang yang dalam hatinya ada kebengkokan dan penyakit (QS.3:8-9) atau “syaitan-syaitan pencuri dengar suara langit”
(QS.15:17-19; QS.37:7-1) telah dijadikan dalil berbagai fitnah
dan kesesatan yang mereka sebarkan
Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi dengan Manusia &
Munculnya Kemampuan Kanuragan
Ayat tersebut menyebut tiga cara Allah Swt.
berbicara atau berkomunikasi
kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a) Dia berfirman secara langsung
kepada mereka tanpa perantara.
(b)
Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf
(penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang
membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu
mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka. Inilah arti
kata-kata "dari belakang tabir,"
(c)
Allah Swt. menurunkan seorang utusan
atau seorang malaikat yang
menyampaikan Amanat Ilahi.
Dalam ayat 53 Al-Quran
disebut di sini ruh (nafas hidup — Lexicon
Lane), sebab dengan perantaraannya, bangsa yang keadaan akhlak dan keruhaniannya telah mati
mendapat kehidupan baru. Islam (Al-Quran) adalah kehidupan, nur, dan jalan yang
membawa manusia kepada Allah Swt. dan
menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya, yakni untuk beribadah
kepada-Nya (QS.51:57), sebab permulaan
dan akhir segala sesuatu terletak di
tangan Allah Swt..
Untuk dapat melaksanakan tujuan agung penciptaan manusia
tersebut -- yakni untuk beribadah kepada Allah -- sarana petunjuknya yang paling sempurna telah tersedia, yakni Kitab suci Al-Quran, tetapi selama tidak
ada pasangannya yang utama yaitu wahyu
Ilahi kepada hamba-hamba Allah yang terpilih,
yakni rasul Allah (QS.3:180;
QS.72:27-29), maka khazanah-khazanahnya
yang benar-benar dapat menghidupkan akhlak dan ruhani manusia
serta menumbuh-kembangkannya ke
tingkatan-tingkatan akhlak dan ruhani
terpuji akan tetap tertutup
(tersembunyi), dan yang berkembang adalah
berupa potensi-potensi batin
berupa kanuragan, yang dianggap
sebagai karamat kewalian padahal bukan, yang kemudian menyuburkan praktek kemusyrikan berupa penyembahan kuburan para wali Allah, bahkan “mempertuhankan”
mereka, sebagaimana yang marak di kalangan golongan Ahli Kitab di masa kemunduran
ruhani mereka, firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
ber-kata: “Al-Masih adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.
قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ
ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari
Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ
الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka
dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya mereka
menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan
cahaya-Nya, walau pun orang-orang
kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ -- Dia-lah Yang telah mengutus
Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia
mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- walau-pun
orang-orang musyrik tidak menyukainya.
(At-Taubah [9]:30-33).
Munculnya “Kemusyrikan” di Kalangan Umat Beragama
‘Uzair
atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan
Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan
dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau
termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mem-punyai pengaruh yang luas
sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau men-dapat kehormatan khas di
antara nabi-nabi Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan
suatu mazhab Yahudi di Hadramaut,
mempercayai beliau sebagai anak Allah.
Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan
beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel”
bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa
Ezra.
Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau
dianggap patut jadi wahana pengemban
syariat seandainya syariat itu
tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s. Beliau bekerjasama dengan Nehemya
dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish
Encyclopaedia & Encyclopaedia
Biblica).
Ahbar
dan Ruhban dalam ayat اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka
dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah” mereka adalah ulama-ulama
Yahudi dan para rahib agama Nasrani, yang
dalam lingkungan umat Hindu adalah para yogi, sedangkan di kalangan umat Islam mirip dengan para faqir atau sufi.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 2 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar