Selasa, 01 September 2015

Perumpamaan "Nur di Atas Nur" atau "Bintang Cemerlang" Pengejar "Syaitan-syaitan Pencuri Dengar Suara Langit" & Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi Dengan Manusia


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 25

Perumpamaan “Nur di atas Nur” atau “Bintang Cemerlang” Pengejar “Syaitan-syaitan Pencuri Dengar  Suara Langit” & Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi Dengan Manusia    

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  kata “syaitan” dalam QS.15:18: وَ  حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ --  “Dan  Kami telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk,” dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung atau para ahli kebatinan dan para sufi palsu.
         Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan berarti bahwa manakala di dunia ini tidak ada seorang Mushlih rabbani  (pembaharu dari Allah Swt.) maka  ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan kotornya dengan menipu orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang Mushlih rabbani  ilmu mereka yang lancung itu terbuka kedoknya, dan orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib dari rasul-rasul Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir.

Perajaman “Syaitan-syaitan Pencuri Dengar Suara Langit

      Ayat ini dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong dari wahyu Ilahi dengan menceraikannya dari susunan kalimatnya, dan berusaha menyebar-luaskannya dalam bentuk yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana pancaran  cahaya yang berbinar-binar lalu menghancur-leburkan rencana-rencana buruk orang-orang yang bertingkah laku seperti syaitan itu.
Dalam makna yang sama tetapi dikemukakan dengan  penjelasan yang berbeda Allah Swt. berfirman: 
اِنَّا زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾  وَ  حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾  لَا یَسَّمَّعُوۡنَ  اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ  کُلِّ  جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾  دُحُوۡرًا  وَّ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾ اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ  ثَاقِبٌ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang,  dan telah memeliharanya dari setiap syaitan durhaka.  لَا یَسَّمَّعُوۡنَ  اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ  کُلِّ  جَانِبٍ  -- Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan majlis malaikat-malaikat yang tinggi dan mereka dilempari dari segala penjuru, دُحُوۡرًا  وَّ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  وَّاصِبٌ --  terusir dan bagi mereka ada azab yang kekal. اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ  ثَاقِبٌ --   Kecuali barangsiapa mencuri-curi  sesuatu pembicaraan  maka ia dikejar oleh cahaya api yang cemerlang.   (Ash-Shāffat [37]:7-11).
       Ayat ini pun menunjuk kepada kesejajaran antara alam kebendaan dan alam keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala alam lahir didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang  ruhani  yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih rabbani. Tiap-tiap wujud mereka itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam keruhanian, sebagaimana bintang-bintang dan planit-planit di langit memperindah dan menghiasi cakrawala alam lahir ini.
         Syaitan-syaitan itu terdiri dari dua golongan: (a) musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin sendiri, seperti orang-orang munafik, dan sebagainya. Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut dalam ayat ini, dan (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajīm” (syaitan yang terkutuk  -- QS.15:18).
        Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di langit maka  Kalamullāh itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian dan serobotan, tetapi sesudah diturunkan kepada seorang nabi Allah, maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi Allah berusaha menyalah-sampaikan atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi Allah itu secara keliru atau dengan mengambil sebagian wahyunya dan mencampurkan banyak kepalsuan dengan wahyu itu, atau bahkan mereka mencoba mengemukakan  ajaran nabi  Allah itu sebagai ajaran mereka sendiri. Tetapi kepalsuan mereka tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh sang Mushlih rabbani mengenai wahyunya itu.

Perumpamaan Nur Allah Swt.

       Dalam Bab-bab sebelum  ini telah dikemukakan penjelasan tentang  Syihābun- mubīn (QS.15:19) atau Syihābun- Tsīqib (QS.37:18) atau Ath-Thāriq (QS.86:1-5) yang muncul di Akhir Zaman ini sebagai perwujudan pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani (QS.62:3-4), guna mewujudkan  kejayaan Islam kedua kali,  sebagaimana yang dijanjikan oleh  Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. setelah Islam mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun sejak kejayaannya yang pertama selama 3 abad (QS.32:6), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
      Di Akhir Zaman ini begitu  pekatnya kegelapan yang melingkupi “daratan dan lautan”  sebagaimana yang terjadi di masa menjelang pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ  -- Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.”  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ   --  Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus,  مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ  -- sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan, یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ --  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
          Sungguh tepat  perumpamaan  mengenai  nur (cahaya)  dan    kegelapan  yang meliputi “daratan dan lautan”  -- yakni kehidupan duniawi mau pun kehidupan ruhani  yang terjadi di Akhir Zaman ini,  yang  bahkan terjadi juga di kalangan umumnya umat Islam, padahal seharusnya mereka melaksanakan kewajibannya sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS,3:111)  terutama di wilayah Timur Tengah, dimana  sekitar 1400 tahun yang lalu menjadi tempat terbitnya “matahari ruhani” hakiki yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:46-47),     firman-Nya:
 اَللّٰہُ  نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ  فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ  زَیۡتُوۡنَۃٍ  لَّا شَرۡقِیَّۃٍ  وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur  seluruh langit dan bumi. Perumpamaan nur-Nya  seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca.   Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu  pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- Nur di atas nur.  یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ  -- Allah memberi bimbingan menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ --  dan Allah mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  -- dan Allah Maha  Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).
         Nur berarti cahaya sebagai lawan dari kegelapan. Kata nur mempunyai pengertian lebih luas dan lebih menembus dan juga lebih bertahan (lama) daripada dhiya (Lexicon Lane).    Misykat berarti:  relung dalam sebuah tembok  yakni lobang atau lekuk   dalam tembok yang tidak menembus dinding itu, lampu (pelita) yang ditempatkan di sana memberi cahaya lebih banyak daripada di tempat lain; tiang yang dipuncaknya diletakkan lampu (Lexicon Lane).  Zujajah berarti: kaca; bola dari kaca (Lexicon Lane).

“Nur di atas Nur”

           Ayat ini merupakan tamsil (perumpamaan) yang indah. Ayat ini membicarakan tiga buah benda — pelitakaca, dan relung. Nur Ilahi disebutkan terkurung di dalam tiga benda tersebut yang bila digabung bersama membuat binar dan kilau cahayanya menjadi lengkap dan sempurna.
         Memang “pelita” itulah yang menjadi sumber cahaya, sedangkan   “kaca” yang melindungi lampu itu menjaga supaya cahayanya jangan padam oleh tiupan angin serta menambah terangnya,  dan “relung” menjaga cahaya itu supaya   pancarannya   tidak pecah
        Tamsil (perumpamaan) ini dengan tepat dapat dikenakan kepada lampu senter yang bagian-bagiannya adalah (2)  kawat-kawat listrik yang memberikan cahaya, (2) bola-lampu yang melindungi cahaya itu dan (3)  reflektor yang memancarkan dan menyebarkan cahaya serta memberi arah kepadanya.
        Dalam istilah ruhani  tiga buah benda itu — “lampu”, “kaca” dan “relung” — masing-masing dapat melukiskan (1)  cahaya Ilahi, (2) para nabi Allah yang melindungi cahaya  Ilahi  itu dari menjadi padam serta menambah kilau dan terangnya, dan (3) para khalifah yang menyebarkan dan memancarkan cahaya Ilahi dan memberikan arah dan tujuan untuk menjadi petunjuk dan sinar penerang dunia.
         Ayat ini selanjutnya menyatakan bahwa minyak yang dipakai menyalakan lampu itu mempunyai kemurnian yang semurni-murninya dan dapat menyala sampai batas hingga membuat minyak itu berkobar menyala-nyala  sekalipun tidak dinyalakan api. Minyak itu diambil dari pohon yang bukan dari timur dan bukan juga dari barat, yaitu yang tidak bersifat pilih kasih terhadap sesuatu kaum tertentu.
        Ayat ini pun dapat pula mempunyai tafsiran lain lagi. Nur (cahaya) yang tersebut dalam ayat ini dapat dianggap menunjuk kepada  Nabi Besar Muhammad saw., sebab beliau dalam Al-Quran disebut nur (QS.5:16), dalam keadaan demikian “relung” berarti “hati” beliau saw., dan “lampu” berarti fitrat beliau saw. yang amat murnikhalis dan dikaruniai sifat-sifat serta mengandung arti bahwa nur Ilahi yang telah ditanamkan dalam fitrat beliau adalah sebersih dan secemerlang hablur (kristal). Bila nur wahyu Ilahi turun kepada nur fitrat Nabi Besar Muhammad saw. maka nur itu bersinar dengan kilauan berlipat ganda, yang oleh Al-Quran dilukiskan dengan kata-kata نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ  -- “nur di atas nur”.
        Nur Nabi Besar Muhammad saw.  ini telah dibantu oleh minyak yang keluar dari pohon yang bukan hanya terang dan cemerlang tetapi juga berlimpah-limpah, mantap, dan kekal (seperti arti dan maksud kata mubarakah itu) dan dimaksudkan menyinari timur dan barat kedua-duanya.
       Lagi pula hati Nabi  Besar Muhammad saw.  begitu suci bersih, dan fitrat beliau saw. dianugerahi kemampuan yang begitu mulia, sehingga beliau saw. layak melaksanakan tugas-tugas misi agung beliau saw., bahkan sebelum wahyu Ilahi turun kepada beliau saw.. Inilah maksud kata-kata: یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ  -- “yang minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya.”
Tamsil ini dapat pula diberi tafsiran lain lagi. Relung dalam ayat ini berarti jasad manusia. Jasad manusia berisi ruh  serta mengantarkan cahaya, yang berarti tubuh manusia itu berisikan misbah atau pelita ruh yang menyinari akal manusia dan menghubungkannya dengan Tuhan.
       Pelita itu terletak dalam zujājah (semprong kaca) yang menjaganya terhadap kemudaratan dan cacat serta menambah dan memantulkan cahayanya, zujājah yang melambangkan otak manusia susunannya begitu sempurna, sehingga telah menjuruskan beberapa ahli filsafat untuk mengira bahwa akal manusia adalah sumber asli cahaya Ilahi, padahal bukan.
        Cahaya itu dibantu oleh minyak yang berasal dari suatu pohon yang diberkati, yaitu dari kebenaran-kebenaran yang pokok lagi abadi, yang tidak merupakan milik khusus orang-orang timur ataupun barat, sebab kebenaran-kebenaran kekal-abadi itu telah tertanam dalam fitrat manusia  -- terutama fitrat Nabi Besar Muhammad saw.   --  dan hampir-hampir akan menampakkan dirinya meskipun tanpa bantuan wahyu Ilahi.

Pentingnya Keberadaan Wahyu Ilahi

         Namun bagaimana pun sempurnanya akal mau pun fitrat  yang dimiliki manusia   -- sehingga nyaris bercahaya dengan sendirinya --  tetapi tanpa adanya peran  pasangannya yang sejati  yaitu wahyu Ilahi maka fitrat dan akal manusia tidak akan  akan benar-benar menjadi   cahaya penerang  sejati yang disebut نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ    --  ”Nur di atas nur”, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ  مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan  dari diri mereka sendiri, mau pun  dari apa yang  tidak mereka ketahui. (Yā Sīn [36]:37).
       Ilmu pengetahuan telah menemukan kenyataan, bahwa pasangan-pasangan terdapat dalam segala sesuatu — dalam alam nabati (tumbuh-tumbuhan) dan malahan dalam zat anorganik. Bahkan yang disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya, sebab unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud (eksis).
        Kebenaran ilmiah ini berlaku juga untuk kecerdasan manusia. Sebelum nur-nur samawi turun, manusia tidak dapat memperoleh ilmu sejati yang lahir dari perpaduan wahyu Ilahi dan kecerdasan otak manusia, termasuk Nabi Besar Muhammad saw. yang memiliki otak serta fitrat yang paling sempurna di kalangan umat manusia, firman-Nya:
 وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijak-sana. وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا   -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ --  Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا  -- tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ --  Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus,  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ --   Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ  -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali. (Asy-Syūra [42]:52-54).
          Sejak pengutusan Nabi besar Muhammad saw. hingga di Akhir Zaman ini Al-Quran tetap ada dilingkungan umat Islam, namun dalam kenyataannya setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad, ketika Allah Swt.  menarik kembali “ruh” Al-Quran (QS.17:86-89) maka berbagai bentuk kemunduran di kalangan umat Islam terus menerus terjadi selama 1000 (QS.32:6), termasuk terjadinya  perpecahan umat  Islam yang semakin parah dan berdarah-darah terutama di wilayah Timur Tengah (QS.30:32-33).
         Kenyataan tersebut membuktikan bahwa sekali pun Al-Quran tetap ada dan  teksnya tetap terpelihara (QS.15:10), tetapi ketika  wahyu Ilahi – yang merupakan “pasangannya”  --  tidak lagi menyertainya maka keberadaan Al-Quran bukan lagi  merupakan “khazanah ruhani” yang luar biasa, malah oleh orang-orang yang dalam  hatinya ada kebengkokan dan penyakit   (QS.3:8-9)  atau  “syaitan-syaitan pencuri dengar suara langit” (QS.15:17-19; QS.37:7-1) telah dijadikan dalil  berbagai fitnah dan kesesatan yang mereka sebarkan

Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi dengan Manusia & Munculnya  Kemampuan  Kanuragan

   Ayat tersebut menyebut tiga cara Allah Swt.    berbicara atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
       (a) Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara.
     (b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir,"
   (c) Allah Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
      Dalam ayat 53  Al-Quran disebut di sini ruh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya, bangsa yang keadaan akhlak dan keruhaniannya telah mati mendapat kehidupan baru.   Islam (Al-Quran) adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt. dan menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya, yakni untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57), sebab   permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di tangan Allah Swt..
       Untuk dapat melaksanakan tujuan agung penciptaan manusia tersebut   -- yakni untuk beribadah kepada Allah   -- sarana petunjuknya  yang paling sempurna telah tersedia, yakni Kitab suci Al-Quran, tetapi selama tidak ada pasangannya yang utama  yaitu wahyu Ilahi  kepada hamba-hamba Allah yang terpilih, yakni rasul Allah (QS.3:180; QS.72:27-29), maka khazanah-khazanahnya yang benar-benar  dapat menghidupkan akhlak dan ruhani manusia serta menumbuh-kembangkannya ke tingkatan-tingkatan akhlak dan ruhani  terpuji akan  tetap  tertutup (tersembunyi), dan yang berkembang  adalah berupa potensi-potensi  batin berupa kanuragan, yang dianggap sebagai karamat kewalian padahal  bukan,  yang kemudian menyuburkan praktek kemusyrikan berupa penyembahan kuburan para wali Allah,  bahkan “mempertuhankan” mereka, sebagaimana yang marak di kalangan golongan Ahli Kitab di masa kemunduran ruhani mereka,   firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani ber-kata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ  --  Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,  یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ  -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ --   Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ  -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ   --    Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka,  وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ   -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ  -- walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).

Munculnya “Kemusyrikan” di Kalangan Umat Beragama

     ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mem-punyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau men-dapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
      Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
    Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish  Encyclopaedia  & Encyclopaedia  Biblica).
        Ahbar dan Ruhban dalam ayat اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ     -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah” mereka adalah ulama-ulama Yahudi  dan para rahib agama Nasrani, yang dalam lingkungan umat  Hindu adalah para yogi, sedangkan  di kalangan umat Islam  mirip dengan para faqir atau sufi.

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 2 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar