بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 47
Surat Da’wah
Islam yang Dikirim Nabi Besar Muhammad Saw.
Kepada Para Pemimpin Bangsa dan
Agama
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai makna wujud (wajah-wajah) dalam ayat لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ ini berarti pula, “Supaya mereka akan menghina pemimpin-pemimpin
kamu.” Kata wujuh berarti pula pemimpin-pemimpin
(Lexicon Lane),
firman-Nya: فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- “Lalu apabila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan
lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka
mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai” (Bani Israil [17]:8).
Ayat ini membicarakan jatuhnya
kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan, dan tentang azab Ilahi yang menimpa mereka sebagai akibatnya. Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta berusaha membunuh beliau pada palang
salib dan memusnahkan pergerakan
beliau (QS.4:157-159).
Keluhan Yesus Terhadap “Yerusalem”
yakni Orang-orang Yahudi & Ajakan Kembali Kepada “Kalimat yang Sama” yakni Tauhid
Ilahi
Oleh sebab itu Allah Swt. menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras,
ketika pada tahun 70 M. pasukan-pasukan
Romawi di bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di
tengah-tengah kejadian-kejadian mengerikan
yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan
dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumihanguskan (Encyclopaedia Biblica pada kata “Yerusalem”).
Malapetaka yang menimpa Yerusalem
– yang melambangkan orang-orang Yahudi -- itu terjadi ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. a.s.
masih hidup di Kasymir (QS.23:51). Hal
ini pun dinubuatkan oleh Nabi Musa
a.s. (Ulangan 32:
18-26), dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Matius
23:37-39 & 24:1-22):
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh
nabi-nabi dan melempari dengan batu
orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di
bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan
dan menjadi sunyi. 23:39 Dan Aku berkata
kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan
melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius
23:37-39).
Jadi, penghancuran yang kedua kali kota Yerusalem membuktikan betapa benarnya firman Allah Swt. dalam ayat sebelumnya: لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ ini berarti pula, “Supaya mereka akan menghina
pemimpin-pemimpin kamu” (Bani Israil [17]:8).
Kata wujuh berarti pula pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane), sebab kota Yerusalem bukan saja merupakan kota
suci golongan Ahli KItab, tetapi juga menjadi lambang (perumpamaan) orang-orang
Yahudi, sebagaimana firman Allah Swt. melalui mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
tersebut.
Perlu pula dicatat di sini, bahwa
nubuatan mengenai azab kedua kali itu telah disebut dalam Bible sesudah adanya nubuatan yang membicarakan hukuman
pertama (Ulangan Bab 28). Lebih dari itu, bahkan nubuatan ini disebut sesudah nubuatan
mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan 30:1-5).
Hal ini menunjukkan, bahwa nubuatan
ini (Ulangan 32:18-26) menunjuk kepada azab yang kedua, yang telah
disinggung dalam Al-Quran, yaitu “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan besar di muka bumi ini dua kali.”
(QS.17:5).
Mengisyaratkan kepada
maraknya berbagai bentuk “kemusyrikan” di kalangan golongan Ahli-Kitab itulah maka Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi
Besar Muhammad saw. untuk mengajak
mereka kembali
kepada “kalimat yang sama”
antara mereka dengan tujuan diutusnya beliau saw., yaitu kembali
kepada amanat Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ya’qub a.s. agar mereka berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi (QS.2:131-134), firman-Nya:
قُلۡ
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا
اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا
اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا
بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai Ahlul Kitab, بَیۡنَنَا وَ
بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ -- marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak
menyembah kecuali kepada Allah, وَ لَا نُشۡرِکَ
بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ -- dan tidak
pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian
yang lain sebagai tuhan-tuhan
selain Allah.” فَاِنۡ تَوَلَّوۡا
فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ -- Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah:
“Jadi saksilah bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri kepada
Allah” (Āli ‘Imran [3]:65).
Tidak Ada Kompromi Dalam Masalah Agama & Mubahalah
(Tanding Doa)
Ayat ini dengan keliru dianggap oleh sementara orang
seakan-akan mem-berikan dasar untuk
mencapai suatu kompromi antara Islam di satu pihak dan Kristen serta agama Yahudi di lain pihak. Dikemukakan sebagai alasan bahwa bila agama-agama tersebut pun mengajarkan dan
menanamkan Keesaan Tuhan, maka ajaran Islam lainnya yang dianggap
menduduki tempat kedua dalam
kepentingannya, sebaiknya ditinggalkan
saja.
Sulit dimengerti bahwa gagasan
kompromi dalam urusan agama
pernah dianjurkan dengan kaum yang
dalam ayat-ayat sebelum ayat ini dikutuk
dengan sangat keras atas kepalsuan kepercayaan mereka dan ditantang begitu hebat untuk bermubahalah (tanding doa) untuk meminta
keputusan langsung dari Allah Swt.,
tetapi mereka menolaknya dengan
berbagai alasan, firman-Nya:
اَلۡحَقُّ
مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُنۡ مِّنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾ فَمَنۡ حَآجَّکَ فِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَکَ
مِنَ الۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ
نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ
فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ الۡقَصَصُ الۡحَقُّ ۚ وَ مَا
مِنۡ اِلٰہٍ اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Kebenaran ini dari Rabb (Tuhan) engkau maka janganlah
engkau termasuk orang-orang yang
ragu. Tetapi barangsiapa membantah
engkau mengenainya setelah datang kepada engkau ilmu maka katakanlah: تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ
نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ
لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ -- “Marilah
kita panggil anak-anak laki-laki kami dan anak-anak laki-lakimu, perempuan-perempuan kami dan
pe-rempuan-perempuanmu, orang-orang kami dan orang-orangmu, kemudian kita berdoa
supaya laknat Allah menimpa orang-orang yang berdusta.” Sesungguhnya ini benar-benar kisah yang haq,
dan sekali-kali tidak ada Tuhan yang
patut disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya Allah Dia
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Āli ‘Imran [3]:61-63).
Pembahasan ajaran
Kristen yang digarap oleh Surah Āli
‘Imran ini telah berakhir dalam ayat 62. Rujukan itu, seperti telah disebut di atas, tertuju
kepada suatu perutusan orang-orang
Kristen dari Najran, terdiri atas 40 orang dipimpin oleh kepala kabilah
mereka ‘Abd-al-Masih, yang terkenal
dengan nama Al-’Āqib. Mereka
menjumpai Nabi Besar Muhammad saw. di masjid beliau saw., dan pertukaran pikiran tentang akidah yang
dinamakan mereka ketuhanan Isa berlangsung
beberapa lama.
Ketika masalahnya telah dibahas
secukupnya dan para anggota delegasi ternyata masih tetap berpegang pada ajaran mereka, maka Nabi Besar Muhammad saw. mematuhi perintah Ilahi yang tercantum dalam ayat 62 ini, sebagai langkah penghabisan mengajak mereka
untuk ikut serta dengan beliau saw. dalam semacam adu kekuatan doa dan yang secara teknis disebut mubahalah,
yakni menyeru agar kutukan Allah Swt.
menimpa penganut kepercayaan
palsu.
Tetapi karena orang-orang Kristen
itu tidak merasa yakin mengenai dasar
kepercayaan mereka maka mereka menolak
menerima tantangan itu, dengan
demikian secara tidak langsung
mengakhiri kepalsuan akidah mereka (Zurqani). Secara sambil lalu baiklah disebutkan, bahwa
sewaktu berlangsung tukar pikiran
dengan delegasi Kristen dari Najran
itu, Nabi Besar Muhammad saw. mengizinkan
mereka melakukan sembahyang di masjid beliau saw. dengan cara mereka sendiri, dan mereka
melakukan dengan menghadap ke timur, suatu sikap toleransi keagamaan yang tiada taranya, dalam sejarah agama (Zurqani).
Kembali kepada makna Surah Āli ‘Imran [3]:65 mengenai ajakan
Nabi Besar Muhammad saw. golongan Ahli
Kitab untuk kembali kepada “kalimat yang sama”, firman-Nya:
قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ -- Katakanlah: “Hai Ahlul Kitab, بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ -- marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak
menyembah kecuali kepada Allah, وَ لَا نُشۡرِکَ
بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ -- dan tidak
pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian
yang lain sebagai tuhan-tuhan
selain Allah.”
Surat-surat Kiriman Da’wah
Islam dari Nabi Besar Muhammad Saw
Nabi Besar Muhammad saw. dalam menulis surat dakwah kepada Heraclius,
Kaisar kerajaan Romawi, memakai ayat ini
pula, malahan mendesak Heraclius supaya menerima Islam dan mengancamnya dengan ancaman azab Ilahi, bila ia menolak
berbuat demikian (Bukhari). Hal itu tak ayal lagi
menunjukkan bahwa kepercayaan Heraclius terhadap Keesaan
Tuhan semata-mata, menurut celiau saw. tidak akan dapat menyelamatkan Heraclius dari azab
Ilahi.
Memang ayat ini dimaksudkan untuk menyarankan
satu cara yang mudah dan sederhana, yang dengan itu orang-orang Yahudi dan Kristen
dapat sampai kepada keputusan yang tepat
mengenai kebenaran Islam. Sebab kaum Kristen kendatipun mengaku beriman kepada Tauhid Ilahi, percaya pula kepada ketuhanan Isa, dan orang-orang
Yahudi — sungguhpun mengaku
berpegang kuat kepada Tauhid — mereka
mengikuti dengan membuta rahib-rahib dan ulama-ulama mereka, dan dengan demikian seolah-olah menempatkan mereka dalam kedudukan yang sama dengan Tuhan sendiri (QS.9:30-32).
Ayat 65 ini menyuruh kedua golongan itu kembali kepada kepercayaan
asal mereka, yakni Tauhid Ilahi, dan
meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan
palsu yang menjadi perintang bagi
mereka untuk masuk Islam. Jadi, maksud
ayat tersebut bukan mencari kompromi dengan agama-agama itu, melainkan ayat ini
sesungguhnya mengajak para pengikut agama itu untuk menerima Islam dengan menarik perhatian mereka kepada Tauhid yang sedikitnya dalam bentuk lahir, merupakan akidah pokok yang sama pada agama-agama
tersebut, dapat berlaku sebagai satu dasar
titik-temu untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai
kebenaran agama Islam (Al-Quran) yang
diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw..
Secara sambil lalu baiklah di sini diperhatikan, bahwa surat yang disebut oleh Bukhari
dan ahli-ahli hadist lainnya,
dialamatkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. kepada Heraclius dan beberapa kepala
pemerintahan lain — Muqauqis,
raja muda Mesir itu satu dari antara mereka — disusun dengan kata-kata dari ayat 65 ini dan mengajak
mereka untuk menerima Islam,
akhir-akhir ini telah ditemukan dan ternyata mengandung kata-kata yang persis dikutip oleh Bukhari (The
Review of Religions. jilid V, no. 8). Hal itu mengandung bukti kuat
mengenai keotentikan Bukhari
dan pula kita-kitab hadits lainnya
yang telah diakui.
Berikut adalah “copas” beberapa Surat Dakwah Nabi Besar Muhammad saw. mengajak pemimpin
dunia masuk Islam. Sepanjang hidupnya, Rasulullah menulis
langsung sebanyak 43 surat untuk pemimpin dunia seperti para raja, tokoh agama
dan kepala suku. Berikut ini beberapa surat da’wah Nabi Besar Muhammad saw..
1. Surat Da’wah untuk
Raja Najasyi, Negus – Habsyah (Ethiopia)
Nabi
Besar Muhammad saw mengirim surat
kepada Raja Najasyi- Habsyah yang bernama Ashhamah bin Al-Abjar. Isi suratnya
adalah menyerukan sang raja agar memeluk agama Islam. Saat surat tersebut
sampai di Istana, sang raja An-Najasyi mengambil surat itu, lalu
meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliau pun masuk Islam
melalui Ja’far bin Abi Thalib r.a.
Setelah masuk Islam, sang raja kemudian membalas surat kepada Rasulullah saw. untuk
mengabarkan keislamannya. Raja
Najasyi akhirnya meninggal pada bulan rajab tahun ke-9 Hijriyyah. Saat
mendengar raja ini meningggal, Nabi Besar Muhammad saw. pun melakukan shalat ghaib untuk sebagai penghormatan terakhir. Nabi saw. juga
mengabarkan bahwa Raja Najasyi kelak akan masuk surga.
Adapun isi surat Nabi Besar Muhammad asw. kepada Raja Najasyi adalah sebagai berikut:
“Bismillaahirrahmaannirrahiim.
Dari Muhammad Rasulullah, salam kepada
Najasyi, pembesar Habasyah. Salam kepada siapa yang mengikuti petunjuk. Amma
ba’du.
Sesungguhnya aku bertauhid kepada yang tiada Tuhan kecuali Dia, Yang Maharaja yang Maha Suci, Yang Maha Pemberi Keselamatan, Yang Maha Pemberi Keamanan, Yang Maha Pelindung. Dan aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam (tiupan) roh dari Allah (yang terjadi) dengan kalimat-Nya (yang disampaikannya) kepada Maryam yang perawan, yang baik dan menjaga diri (suci) lalu mengandung (bayi) Isa dari wahyu dan tiupan-Nya sebagaimana menciptakan Adam dengan tangan-Nya.
Sesungguhnya aku bertauhid kepada yang tiada Tuhan kecuali Dia, Yang Maharaja yang Maha Suci, Yang Maha Pemberi Keselamatan, Yang Maha Pemberi Keamanan, Yang Maha Pelindung. Dan aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam (tiupan) roh dari Allah (yang terjadi) dengan kalimat-Nya (yang disampaikannya) kepada Maryam yang perawan, yang baik dan menjaga diri (suci) lalu mengandung (bayi) Isa dari wahyu dan tiupan-Nya sebagaimana menciptakan Adam dengan tangan-Nya.
Aku mengajak Anda
kepada Allah yang Esa, tidak mempersekutukan sesuatu bagi-Nya dan taat patuh
kepada-Nya dan mengikuti aku dan meyakini (ajaran) yang datang kepadaku. Sesungguhnya aku utusan Allah. Dan aku
mengajak Anda dan tentara Anda kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Agung. Aku
telah menyampaikan dan telah aku nasihatkan; maka terimalah nasihatku. Salam
bagi yang mengikuti petunjuk ini.”
[Zaadul
Ma'ad 3/61].
Firman Allah Swt. berikut ini
mengisyaratkan kepada sikap terpuji terpuji beliau:
وَ اِذَا سَمِعُوۡا مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَی الرَّسُوۡلِ تَرٰۤی اَعۡیُنَہُمۡ
تَفِیۡضُ مِنَ الدَّمۡعِ مِمَّا
عَرَفُوۡا مِنَ الۡحَقِّ ۚ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada
Rasul ini, engkau melihat mata
me-reka mengucurkan air mata karena mereka
telah mengenal kebenaran. Mereka berkata: ”Ya Rabb (Tuhan) kami, kami
telah beriman maka tulislah kami di antara orang-orang yang men-jadi saksi.
(Al-Maidah [5]:84).
Ayat itu telah dikenakan pula teristimewa
kepada Najasyi. Ketika Ja’far bin Abi Thalib r.a., saudara misan Nabi Besar Muhammad saw. -- dan sebagai juru bicara untuk para
pengungsi kaum Muslimin di Abesinia -- membacakan padanya ayat-ayat permulaan Surah Maryam, nampak sekali hati Najasyi tergerak, dan air mata mengalir ke pipinya dan ia berkata dengan suara lirih
penuh haru bahwa tak ubah seperti itulah kepercayaannya
mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dan bahwa ia memandang beliau,
sedikit pun tidak lebih dari itu (Hisyam).
2. Surat Da’wah kepada Raja Al-Muqawqis – Mesir (Egypt)
“Bismillaahirrahmaannirrahiim.
Dari Muhammad hamba Allah dan Rasulullah.
Kepada Muqauqis Peguasa Qibthi. Salam sejahtera kepada yang mengikuti petunjuk.
Amma ba’du.
Aku mengajak
Anda dengan dakwah Islam. Anutlah agama Islam dan Anda selamat. Allah akan
memberi Anda pahala dua kali lipat. Tetapi apabila Anda berpaling, Anda akan
memikul dosa kaum Qibthi. Wahai Ahli kitab, marilah menuju ke suatu kalimat
ketetapan yang tidak terdapat suatu perselisihan di antara kita, bahwa kita
tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun.
Tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain
dari Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah
bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah (muslimin).”
3. Surat Da’wah kepada Raja Khosrau II - Chosroes Parsi (Persia)
Nabi Besar Muhammad saw. juga mengirim surat kepada Raja Khosrau
II, Abrawaiz dari kerajaan Persia. Ia mengutus sahabatnya Abdullah bin
Hudzaifah As-Sahmi, yang isinya menyerunya kepada Islam. Namun setelah membaca
surat tersebut, sang raja melah merobek
surat dari beliau saw. dan berkata: ”Hamba
rendahan dari rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku.”
Kabar dirobeknya
surat tersebut sampai kepada beliau saw., dan beliau pun bersabda, ”Semoga
Allah merobek-robek kerajaannya.” Allah
Swt. pun mengabulkan doa tersebut.
Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi Romawi dengan kekalahan yang
menyakitkan.
Kemudian
dia pun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih. Dia dibunuh dan
dirampas kekuasaannya. Seterusnya kerajaan itu kian terobek-robek dan hancur
sampai akhirnya ditakluki oleh pasukan Islam pada zaman Khalifah Umar bin
Al-Khaththab r.a hingga tidak dapat lagi berdiri. Isi surat:
“Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya.
Kepada Kisra penguasa rakyat Persia. Salam sejahtera bagi yang mengikuti
petunjuk dan beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Aku bersaksi behawa tiada
Tuhan kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku mengajak dengan seruan
Allah.
Sesungguhnya aku
adalah Rasul Allah kepada seluruh umat manusia supaya dapat memberi peringatan
kepada orang-orang yang hidup hatinya dan supaya ketetapan azab kepada
orang-orang kafir itu pasti. Masuklah Anda ke dalam Islam, niscaya akan
selamat. Jika kamu menolak, sesungguhnya kamu memikul dosa kaum Majusi.”
4. Surat Da’wah kepada Kaisar Hiraclius – penguasa Romawi (Byzantium).
Nabi Besar Muhammad saw. juga mengirim surat da’wah kepada Hiraclius (Kaisar
Romawi) yang dibawa oleh Dihyah al-Kalbi. Ketika Rasulullah saw mengirim surat
kepada Kaisar Heraclius dan menyerukan kepada Islam. Pada waktu itu Kaisar sedang merayakan kemenangannya atas
Negeri Persia. Isi surat:
“Bismillsahirrahmasnnirrahiim.
Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah
kepada Heraklius penguasa Romawi. Salam sejahtera bagi siapapun yang mengikuti
petunjuk. Amma ba’du.
Dengan ini, aku
menyeru Anda untuk memeluk Islam. Masuk Islamlah, maka Allah akan mengganjar
Anda dengan pahala dua kali lipat. Akan tetapi, jika Anda menolak, Anda
harus menanggung dosa orang-orang Arisi.
“Wahai Ahli
Kitab, marilah (berpegang) kepada satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali
Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun. Sebagian kita tidak pula menjadikan tuhan
selain Dia. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa
kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
“Katakanlah: Hai
Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimah (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara kami dan kamu, bahawa tidak kita sembah kecuali Allah dan
tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebahagian kita
menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka
berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahawa kami adalah
orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (Surah Ali-Imran: 65) [Sahih
Al-Bukhari 1/4,5].
Begitu menerima surat dari beliau saw. Kaisar
pun berkeinginan untuk melakukan penelitian guna memeriksa kebenaran kenabian Muhammad saw. Lalu Kaisar
memerintahkan untuk mendatangkan seseorang dari bangsa Arab ke hadapannya. Abu
Sufyan r.a., waktu itu masih kafir, dan rombongannya segera dihadirkan di
hadapan Kaisar.
Abu Sufyan pun diminta berdiri paling
depan sebagai juru bicara karena memiliki nasab yang paling dekat dengan Nabi
Besar Muhammad saw. Rombongan yang lain
berdiri di belakangnya sebagai saksi.
Itulah strategi Kaisar untuk mendapatkan keterangan yang valid.
Maka berlangsunglah dialog yang panjang
antara Kaisar dengan Abu Sufyan ra. Kaisar Hiraclius adalah seorang yang cerdas
dengan pengetahuan yang luas. Beliau bertanya dengan taktis dan mengarahkannya
kepada ciri seorang nabi. Abu Sufyan r.a. juga seorang yang cerdas dan bisa
membaca arah pertanyaan Sang Kaisar. Namun beliau dipaksa berkata benar
walaupun berusaha memberi sedikit bias.
Di akhir dialog Kaisar mengutarakan pendapatnya bahwa inilah
ciri-ciri seorang nabi menurut
pandangannya dan sebagaimana telah dia baca di dalam Injil. Ternyata semua ciri yang tersebut ada pada diri Nabi Besar Muhammad saw. Kaisar
Heraclius telah mengetahui tentang beliau saw. dan membenarkan kenabian beliau dengan pengetahuan yang
lengkap.
Akan tetapi ia dikalahkan rasa cintanya
atas tahta kerajaan, sehingga ia tidak menyatakan keislamannya. Ia mengetahui dosa dirinya dan dosa dari rakyatnya
sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi Besar Muhammad saw. Dengan kecerdasan
dan keluasan ilmunya Kaisar bisa mengetahui kebenaran kenabian Rasulullah saw. Bahkan Kaisar menyatakan: “Dia (maksudnya Rasulullah saw.) kelak akan mampu menguasai wilayah yang
dipijak oleh kedua kakiku ini.” Saat itu Kaisar sedang dalam perjalanan
menuju Baitul Maqdis.
Abu Sufyan ra menceritakan dialog ini
setelah masuk Islam dengan keislaman yang sangat baik, sehingga hadits ini
diterima. Kaisar lalu memuliakan Dihyah bin Khalifah Al-Kalby dengan
menghadiahkan sejumlah harta dan pakaian. Kaisar pun memuliakan surat dari Rasulullah saw., namun ia lebih mencintai tahtanya. Akibatnya,
di dunia, Allah Swt. memanjangkan kekuasaannya. Namun dia harus mempertanggungjawabkan
kekafirannya di akhirat kelak.
5. Surat Da’wah Kepada Uskup Dhughathir
Selain mengirimkan surat kepada Hiraclius,
Nabi saw. juga menulis surat yang ditujukan kepada uskup terpandang di Romawi,
yaitu Uskup Dhughatir. Surat yang
diantarkan juga oleh Dihyah tersebut berisi:
“Salam
bagi yang beriman. Atas dasar itu sesungguhnya Isa bin Maryam adalah tiupan roh
Allah, terjadi dengan kalimat-Nya yang benar (haq), disampaikan kepada Maryam
yang suci. Aku beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim,
Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya serta apa yang diberikan kepada para
Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara
mereka, dan kami hanya tunduk patuh kepadanya. Salam yang mengikuti petunjuk.”
Setelah membaca surat tersebut, sang uskup
berkata kepada Dihyah, “Demi Allah,
kawannya adalah seorang Nabi yang diutus. Kami mengenali sifat-sifat dan
namanya semuanya tercantum dalam kitab-kitab kami.”
Uskup tersebut kemudian menanggalkan
keuskupannya yang berwarna hitam dan digantinya dengan jubah berwarna putih.
Dia mengambil tongkatnya, lalu beranjak menuju ke gereja. Di sana, banyak orang
sedang berkumpul. Di hadapan mereka, uskup berkata, “Wahai segenap orang Romawi, aku telah menerima surat dari Ahmad yang
mengajak kita kepada Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan
aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang pun
serempak menyerang dan memukulinya bertubi-tubi hingga tewas.
Setelah kejadian itu, Dihyah kembali kepada
Heraklius. Kemudian Heraklius berujar, “Aku
sudah memberitahukan kepadamu bahwa kami mencemaskan diri sendiri dan tindakan
kekerasan mereka. Demi Allah, uskup Dhughatir lebih mulia daripada aku.”
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 22 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar