Selasa, 22 September 2015

Surat "Da'wah Islam" yang Dikirim Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Para pemimpin Bangsa dan Agama




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 47

Surat Da’wah Islam yang Dikirim Nabi Besar Muhammad Saw.  Kepada Para Pemimpin  Bangsa dan Agama  

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai  makna wujud (wajah-wajah) dalam ayat لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ  ini berarti pula, “Supaya mereka akan menghina pemimpin-pemimpin kamu.” Kata wujuh berarti pula pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane), firman-Nya:   فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا   --   “Lalu apabila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai” (Bani Israil [17]:8).
    Ayat ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan, dan tentang azab Ilahi  yang menimpa mereka sebagai akibatnya. Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  serta berusaha membunuh beliau pada palang salib dan memusnahkan pergerakan beliau (QS.4:157-159).

Keluhan Yesus  Terhadap “Yerusalem” yakni Orang-orang Yahudi & Ajakan  Kembali Kepada “Kalimat yang Sama” yakni Tauhid Ilahi

     Oleh sebab itu Allah Swt. menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras, ketika pada tahun 70 M. pasukan-pasukan Romawi di bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di tengah-tengah kejadian-kejadian mengerikan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumihanguskan (Encyclopaedia Biblica pada kata “Yerusalem”).
      Malapetaka yang menimpa  Yerusalem – yang melambangkan   orang-orang Yahudi --  itu terjadi ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. a.s. masih hidup di Kasymir  (QS.23:51). Hal ini pun dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. (Ulangan 32: 18-26), dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Matius 23:37-39 & 24:1-22):
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!  Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. 23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga   kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
     Jadi, penghancuran  yang kedua kali kota Yerusalem membuktikan betapa benarnya  firman Allah Swt. dalam ayat sebelumnya:   لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ  ini berarti pula, “Supaya mereka akan menghina pemimpin-pemimpin kamu” (Bani Israil [17]:8).
     Kata wujuh berarti pula pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane), sebab kota Yerusalem bukan saja merupakan kota suci golongan Ahli KItab,  tetapi juga menjadi lambang (perumpamaan) orang-orang Yahudi, sebagaimana  firman Allah Swt. melalui mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut.
      Perlu pula dicatat di sini, bahwa nubuatan mengenai azab kedua kali itu telah disebut dalam Bible sesudah adanya nubuatan yang membicarakan hukuman pertama (Ulangan Bab 28). Lebih dari itu, bahkan nubuatan ini disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan 30:1-5). Hal ini menunjukkan, bahwa nubuatan ini (Ulangan 32:18-26) menunjuk kepada azab yang kedua, yang telah disinggung dalam Al-Quran, yaitu “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan  besar di muka bumi ini dua kali.” (QS.17:5).
       Mengisyaratkan kepada  maraknya  berbagai bentuk “kemusyrikan” di kalangan golongan Ahli-Kitab itulah maka  Allah Swt. telah berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mengajak mereka   kembali kepada “kalimat yang sama” antara  mereka dengan tujuan diutusnya beliau saw.,  yaitu kembali kepada  amanat Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ya’qub a.s. agar mereka berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi (QS.2:131-134), firman-Nya:
قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ  بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai Ahlul Kitab, بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ   -- marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan  sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ -- Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah: “Jadi saksilah bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri kepada Allah” (Āli ‘Imran [3]:65).

Tidak Ada Kompromi Dalam Masalah Agama   & Mubahalah (Tanding Doa)

        Ayat ini dengan keliru dianggap oleh sementara orang seakan-akan mem-berikan dasar untuk mencapai suatu kompromi antara Islam di satu pihak dan Kristen serta agama Yahudi di lain pihak. Dikemukakan sebagai alasan bahwa bila agama-agama tersebut pun mengajarkan dan menanamkan Keesaan Tuhan, maka ajaran Islam lainnya yang dianggap menduduki tempat kedua dalam kepentingannya, sebaiknya ditinggalkan saja.
    Sulit dimengerti bahwa gagasan kompromi dalam urusan agama pernah dianjurkan dengan kaum yang dalam ayat-ayat sebelum ayat ini dikutuk dengan sangat keras atas kepalsuan kepercayaan mereka dan ditantang begitu hebat untuk bermubahalah (tanding doa) untuk meminta keputusan langsung dari Allah Swt., tetapi mereka menolaknya dengan berbagai alasan,   firman-Nya:
اَلۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُنۡ مِّنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾  فَمَنۡ حَآجَّکَ فِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَکَ مِنَ الۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ الۡقَصَصُ الۡحَقُّ ۚ وَ مَا مِنۡ  اِلٰہٍ  اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Kebenaran ini dari Rabb (Tuhan) engkau maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. Tetapi barangsiapa membantah engkau mengenainya setelah datang kepada engkau ilmu maka katakanlah:  تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ --  Marilah kita panggil anak-anak laki-laki kami dan anak-anak laki-lakimu,  perempuan-perempuan kami dan pe-rempuan-perempuanmu, orang-orang kami dan orang-orangmu, kemudian kita   berdoa supaya laknat Allah menimpa orang-orang yang berdusta.”  Sesungguhnya ini benar-benar  kisah yang haq, dan sekali-kali tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali  Allah, dan sesungguhnya Allah   Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Āli ‘Imran [3]:61-63).
       Pembahasan ajaran Kristen yang digarap oleh Surah Āli ‘Imran ini telah berakhir dalam ayat 62. Rujukan  itu, seperti telah disebut di atas, tertuju kepada suatu perutusan orang-orang Kristen dari Najran, terdiri atas 40 orang dipimpin oleh kepala kabilah mereka ‘Abd-al-Masih, yang terkenal dengan nama Al-’Āqib. Mereka menjumpai  Nabi Besar Muhammad saw.  di masjid beliau saw., dan pertukaran pikiran tentang akidah yang dinamakan mereka ketuhanan Isa berlangsung beberapa lama.
      Ketika masalahnya telah dibahas secukupnya dan para anggota delegasi ternyata masih tetap berpegang pada ajaran mereka, maka  Nabi Besar Muhammad saw. mematuhi perintah Ilahi yang tercantum dalam ayat 62 ini, sebagai langkah penghabisan mengajak mereka untuk ikut serta dengan beliau saw. dalam semacam adu kekuatan doa dan yang secara teknis disebut mubahalah, yakni menyeru agar kutukan Allah Swt.  menimpa penganut kepercayaan palsu.
    Tetapi karena orang-orang Kristen itu  tidak merasa yakin mengenai dasar kepercayaan mereka maka mereka menolak menerima tantangan itu, dengan demikian secara tidak langsung mengakhiri kepalsuan akidah mereka (Zurqani). Secara sambil lalu baiklah disebutkan, bahwa sewaktu berlangsung tukar pikiran dengan delegasi Kristen dari Najran itu,  Nabi Besar Muhammad saw.    mengizinkan mereka melakukan sembahyang di masjid beliau  saw. dengan cara mereka sendiri, dan mereka melakukan dengan menghadap ke timur, suatu sikap toleransi keagamaan yang tiada taranya, dalam sejarah agama (Zurqani).
      Kembali kepada makna Surah  Āli ‘Imran [3]:65  mengenai ajakan Nabi Besar Muhammad saw. golongan Ahli Kitab   untuk kembali kepada “kalimat yang sama”, firman-Nya:  قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ  -- Katakanlah: “Hai Ahlul Kitab, بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ   -- marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”

Surat-surat Kiriman Da’wah Islam dari Nabi Besar Muhammad Saw

       Nabi Besar Muhammad saw. dalam menulis surat dakwah kepada Heraclius, Kaisar kerajaan Romawi,  memakai ayat ini pula, malahan mendesak Heraclius supaya menerima Islam dan mengancamnya dengan ancaman azab Ilahi, bila ia menolak berbuat demikian (Bukhari). Hal itu tak ayal lagi menunjukkan bahwa kepercayaan  Heraclius  terhadap Keesaan Tuhan semata-mata, menurut celiau saw.  tidak akan dapat menyelamatkan Heraclius dari azab Ilahi.
       Memang ayat ini dimaksudkan untuk menyarankan satu cara yang mudah dan sederhana,  yang dengan itu orang-orang Yahudi dan Kristen dapat sampai kepada keputusan yang tepat mengenai kebenaran Islam. Sebab kaum Kristen kendatipun mengaku beriman kepada Tauhid Ilahi, percaya pula kepada ketuhanan Isa, dan orang-orang Yahudi  — sungguhpun mengaku berpegang kuat kepada Tauhid — mereka mengikuti dengan membuta rahib-rahib dan ulama-ulama mereka, dan dengan demikian seolah-olah menempatkan mereka dalam kedudukan yang sama dengan Tuhan sendiri (QS.9:30-32).
     Ayat 65 ini menyuruh kedua golongan itu kembali kepada kepercayaan asal mereka, yakni Tauhid Ilahi, dan meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan palsu yang menjadi perintang bagi mereka untuk masuk Islam. Jadi,   maksud ayat tersebut bukan   mencari kompromi dengan agama-agama itu, melainkan ayat ini sesungguhnya mengajak para pengikut agama itu untuk menerima Islam dengan menarik perhatian mereka kepada Tauhid yang sedikitnya dalam bentuk lahir, merupakan akidah pokok yang sama pada agama-agama tersebut, dapat berlaku sebagai satu dasar titik-temu untuk melakukan  penyelidikan lebih lanjut mengenai kebenaran agama Islam (Al-Quran) yang diwahyukan Allah Swt.  kepada Nabi Besar Muhammad saw..
       Secara sambil lalu baiklah di sini diperhatikan, bahwa surat yang disebut oleh Bukhari dan ahli-ahli hadist lainnya, dialamatkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  kepada Heraclius dan beberapa kepala pemerintahan lain — Muqauqis, raja muda Mesir itu satu dari antara mereka — disusun dengan kata-kata dari ayat 65 ini dan mengajak mereka untuk menerima Islam, akhir-akhir ini telah ditemukan dan ternyata mengandung kata-kata yang persis dikutip oleh Bukhari (The Review of Religions. jilid V, no. 8). Hal itu mengandung bukti kuat mengenai keotentikan Bukhari dan pula kita-kitab hadits lainnya yang telah diakui.
        Berikut  adalah “copas”  beberapa  Surat    Dakwah Nabi Besar Muhammad saw.   mengajak   pemimpin dunia masuk Islam.  Sepanjang hidupnya, Rasulullah menulis langsung sebanyak 43 surat untuk pemimpin dunia seperti para raja, tokoh agama dan kepala suku. Berikut ini beberapa   surat  da’wah Nabi Besar Muhammad saw..
                                                                                                              
1. Surat Da’wah untuk Raja Najasyi, Negus – Habsyah (Ethiopia)
       Nabi Besar Muhammad saw mengirim surat kepada Raja Najasyi- Habsyah yang bernama Ashhamah bin Al-Abjar. Isi suratnya adalah menyerukan sang raja agar memeluk agama Islam. Saat surat tersebut sampai di Istana, sang raja  An-Najasyi mengambil surat itu,  lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliau pun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Thalib r.a.
      Setelah masuk Islam, sang raja kemudian membalas surat kepada Rasulullah saw.  untuk mengabarkan keislamannya. Raja Najasyi akhirnya meninggal pada bulan rajab tahun ke-9 Hijriyyah. Saat mendengar raja ini meningggal,  Nabi Besar Muhammad saw. pun melakukan shalat ghaib untuk sebagai penghormatan terakhir. Nabi saw. juga mengabarkan bahwa Raja Najasyi kelak akan masuk surga.
      Adapun isi surat Nabi Besar Muhammad asw.  kepada Raja Najasyi adalah sebagai berikut:
Bismillaahirrahmaannirrahiim.
      Dari Muhammad Rasulullah, salam kepada Najasyi, pembesar Habasyah. Salam kepada siapa yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.
       Sesungguhnya aku bertauhid kepada yang tiada Tuhan kecuali Dia, Yang Maharaja yang Maha Suci, Yang Maha Pemberi Keselamatan, Yang Maha Pemberi Keamanan, Yang Maha Pelindung. Dan aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam (tiupan) roh dari Allah (yang terjadi) dengan kalimat-Nya (yang disampaikannya) kepada Maryam yang perawan, yang baik dan menjaga diri (suci) lalu mengandung (bayi) Isa dari wahyu dan tiupan-Nya sebagaimana menciptakan Adam dengan tangan-Nya.  
       Aku mengajak Anda kepada Allah yang Esa, tidak mempersekutukan sesuatu bagi-Nya dan taat patuh kepada-Nya dan mengikuti aku dan meyakini (ajaran) yang datang kepadaku.  Sesungguhnya aku utusan Allah. Dan aku mengajak Anda dan tentara Anda kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Agung. Aku telah menyampaikan dan telah aku nasihatkan; maka terimalah nasihatku. Salam bagi yang mengikuti petunjuk ini.”  [Zaadul Ma'ad 3/61].
        Firman Allah Swt. berikut ini mengisyaratkan kepada  sikap terpuji  terpuji beliau:
وَ  اِذَا سَمِعُوۡا مَاۤ  اُنۡزِلَ  اِلَی الرَّسُوۡلِ تَرٰۤی اَعۡیُنَہُمۡ تَفِیۡضُ مِنَ  الدَّمۡعِ مِمَّا عَرَفُوۡا مِنَ الۡحَقِّ ۚ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ  اٰمَنَّا فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul ini, engkau melihat mata me-reka mengucurkan air mata  karena mereka telah mengenal kebenaran. Mereka berkata:  ”Ya Rabb (Tuhan) kami, kami telah beriman maka tulislah   kami di antara orang-orang yang men-jadi saksi.  (Al-Maidah [5]:84).
        Ayat itu telah dikenakan pula teristimewa kepada Najasyi. Ketika Ja’far  bin Abi Thalib r.a.,  saudara misan Nabi Besar Muhammad saw.    --  dan sebagai juru bicara untuk para pengungsi kaum Muslimin di Abesinia  --  membacakan padanya ayat-ayat permulaan Surah Maryam, nampak sekali hati Najasyi tergerak, dan air mata mengalir  ke pipinya dan ia berkata dengan suara lirih penuh haru bahwa tak ubah seperti itulah kepercayaannya mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dan bahwa ia memandang beliau, sedikit pun tidak lebih dari itu (Hisyam).

2. Surat Da’wah kepada Raja Al-Muqawqis  – Mesir (Egypt)
      
       Bismillaahirrahmaannirrahiim.
 Dari Muhammad hamba Allah dan Rasulullah. Kepada Muqauqis Peguasa Qibthi. Salam sejahtera kepada yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.
       Aku mengajak Anda dengan dakwah Islam. Anutlah agama Islam dan Anda selamat. Allah akan memberi Anda pahala dua kali lipat. Tetapi apabila Anda berpaling, Anda akan memikul dosa kaum Qibthi. Wahai Ahli kitab, marilah menuju ke suatu kalimat ketetapan yang tidak terdapat suatu perselisihan di antara kita, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun. Tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah (muslimin).”

3. Surat Da’wah  kepada Raja Khosrau II  -  Chosroes   Parsi (Persia)

       Nabi Besar Muhammad   saw.  juga mengirim surat kepada  Raja Khosrau II, Abrawaiz dari kerajaan Persia. Ia mengutus sahabatnya Abdullah bin Hudzaifah As-Sahmi, yang isinya menyerunya kepada Islam. Namun setelah membaca surat tersebut, sang raja melah merobek surat dari beliau saw. dan berkata: ”Hamba rendahan dari rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku.”
      Kabar dirobeknya surat tersebut sampai kepada beliau saw., dan beliau pun  bersabda, ”Semoga Allah merobek-robek kerajaannya.”   Allah Swt. pun mengabulkan doa tersebut. Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan.
        Kemudian dia pun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih. Dia dibunuh dan dirampas kekuasaannya. Seterusnya kerajaan itu kian terobek-robek dan hancur sampai akhirnya ditakluki oleh pasukan Islam pada zaman Khalifah Umar bin Al-Khaththab r.a hingga tidak dapat lagi berdiri. Isi surat:
       Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Kepada Kisra penguasa rakyat Persia. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk dan beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Aku bersaksi behawa tiada Tuhan kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku mengajak dengan seruan Allah.
      Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada seluruh umat manusia supaya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup hatinya dan supaya ketetapan azab kepada orang-orang kafir itu pasti. Masuklah Anda ke dalam Islam, niscaya akan selamat. Jika kamu menolak, sesungguhnya kamu memikul dosa kaum Majusi.”

4. Surat Da’wah kepada Kaisar  Hiraclius    penguasa Romawi (Byzantium).

        Nabi Besar Muhammad saw. juga mengirim surat da’wah kepada Hiraclius (Kaisar Romawi) yang dibawa oleh Dihyah al-Kalbi. Ketika Rasulullah saw mengirim surat kepada Kaisar Heraclius dan menyerukan kepada Islam. Pada waktu itu Kaisar sedang merayakan kemenangannya atas Negeri Persia. Isi surat:
       Bismillsahirrahmasnnirrahiim.
 Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah kepada Heraklius penguasa Romawi. Salam sejahtera bagi siapapun yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.
       Dengan ini, aku menyeru Anda untuk memeluk Islam. Masuk Islamlah, maka Allah akan mengganjar Anda dengan pahala dua kali lipat. Akan tetapi, jika Anda  menolak, Anda  harus menanggung dosa orang-orang Arisi.
      “Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.  Sebagian kita tidak pula menjadikan tuhan selain Dia. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
      “Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimah (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahawa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahawa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”  (Surah Ali-Imran: 65)  [Sahih Al-Bukhari 1/4,5].
      Begitu menerima surat dari beliau saw. Kaisar pun berkeinginan untuk melakukan penelitian guna memeriksa kebenaran kenabian Muhammad saw. Lalu Kaisar memerintahkan untuk mendatangkan seseorang dari bangsa Arab ke hadapannya. Abu Sufyan r.a., waktu itu masih kafir, dan rombongannya segera dihadirkan di hadapan Kaisar.
      Abu Sufyan pun diminta berdiri paling depan sebagai juru bicara karena memiliki nasab yang paling dekat dengan Nabi Besar Muhammad saw.  Rombongan yang lain berdiri di belakangnya sebagai saksi. Itulah strategi Kaisar untuk mendapatkan keterangan yang valid.
       Maka berlangsunglah dialog yang panjang antara Kaisar dengan Abu Sufyan ra. Kaisar Hiraclius adalah seorang yang cerdas dengan pengetahuan yang luas. Beliau bertanya dengan taktis dan mengarahkannya kepada ciri seorang nabi. Abu Sufyan r.a. juga seorang yang cerdas dan bisa membaca arah pertanyaan Sang Kaisar. Namun beliau dipaksa berkata benar walaupun berusaha memberi sedikit bias.
       Di akhir dialog  Kaisar mengutarakan pendapatnya bahwa inilah ciri-ciri seorang nabi menurut pandangannya dan sebagaimana telah dia baca di dalam Injil. Ternyata semua ciri yang tersebut ada pada diri  Nabi Besar Muhammad saw.          Kaisar Heraclius telah mengetahui tentang beliau saw. dan membenarkan kenabian beliau dengan pengetahuan yang lengkap.
      Akan tetapi ia dikalahkan rasa cintanya atas tahta kerajaan, sehingga ia tidak menyatakan keislamannya. Ia mengetahui dosa dirinya dan dosa dari rakyatnya sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi Besar Muhammad saw. Dengan kecerdasan dan keluasan ilmunya Kaisar bisa mengetahui kebenaran kenabian Rasulullah saw. Bahkan Kaisar menyatakan: “Dia (maksudnya Rasulullah saw.) kelak akan mampu menguasai wilayah yang dipijak oleh kedua kakiku ini.” Saat itu Kaisar sedang dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis.
      Abu Sufyan ra menceritakan dialog ini setelah masuk Islam dengan keislaman yang sangat baik, sehingga hadits ini diterima. Kaisar lalu memuliakan Dihyah bin Khalifah Al-Kalby dengan menghadiahkan sejumlah harta dan pakaian. Kaisar pun memuliakan surat dari Rasulullah saw.,  namun ia lebih mencintai tahtanya. Akibatnya, di dunia, Allah Swt. memanjangkan kekuasaannya. Namun dia harus mempertanggungjawabkan kekafirannya di akhirat kelak.

5. Surat Da’wah Kepada Uskup Dhughathir

      Selain mengirimkan surat kepada Hiraclius, Nabi saw. juga menulis surat yang ditujukan kepada uskup terpandang di Romawi, yaitu Uskup Dhughatir. Surat yang diantarkan juga oleh Dihyah tersebut berisi:
      Salam bagi yang beriman. Atas dasar itu sesungguhnya Isa bin Maryam adalah tiupan roh Allah, terjadi dengan kalimat-Nya yang benar (haq), disampaikan kepada Maryam yang suci. Aku beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya serta apa yang diberikan kepada para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya tunduk patuh kepadanya. Salam yang mengikuti petunjuk.”
       Setelah membaca surat tersebut, sang uskup berkata kepada Dihyah, “Demi Allah, kawannya adalah seorang Nabi yang diutus. Kami mengenali sifat-sifat dan namanya semuanya tercantum dalam kitab-kitab kami.”
      Uskup tersebut kemudian menanggalkan keuskupannya yang berwarna hitam dan digantinya dengan jubah berwarna putih. Dia mengambil tongkatnya, lalu beranjak menuju ke gereja. Di sana, banyak orang sedang berkumpul. Di hadapan mereka, uskup berkata, “Wahai segenap orang Romawi, aku telah menerima surat dari Ahmad yang mengajak kita kepada Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
    Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang pun serempak menyerang dan memukulinya bertubi-tubi hingga tewas.
      Setelah kejadian itu, Dihyah kembali kepada Heraklius. Kemudian Heraklius berujar, “Aku sudah memberitahukan kepadamu bahwa kami mencemaskan diri sendiri dan tindakan kekerasan mereka. Demi Allah, uskup Dhughatir lebih mulia daripada aku.”

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 22  September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar