Senin, 14 September 2015

Keunggulan Nabi Besar Muhammad saw. dan para Pengikut Sejati Beliau Saw. Menurut Al-Quran "Kerajaan Tuhan" Sudah Berlaku Sejak Awal Penciptaan Alam Semesata


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 39

Keunggulan Nabi Besar Muhammad Saw. dan para Pengikut Sejati Beliau Saw. &   Menurut Al-Quran  “Kerajaan Tuhan” Sudah Berlaku Sejak Awal Penciptaan Alam Semesta    

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai Janji Allah Swt. mengenai ditegakkan-Nya  khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham. Oleh sebab kini Nabi Besar Muhammad saw.  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32), khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ   --  maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  -- Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ -- Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”,  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ -- kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33)
     Ayat 32  dengan tegas menyatakan bahwa  dengan diutus-Nya  Nabi Besar Muhammad saw. sebagai  Rasul Allah pembawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) maka tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti beliau saw. (QS.3:20 & 86).

Keunggulan  Nabi Besar Muhammad Saw. dan Para Pengikut Sejati Beliau saw.

    Ayat ini  pun melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan), mengenai hal  tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allāh memberi nikmat kepada mereka مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  --  yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui  (An-Nisā [4]:70-71).
        Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — para nabi, para shiddiq, para syuhada dan para shalih (orang-orang saleh) — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti  Nabi Besar Muhammad saw.
        Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw.  semata. Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat   ruhani ini. Kesimpulan tersebut  lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi Allah secara umum dan mengatakan:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ  وَ رُسُلِہٖۤ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ  عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ
“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan  rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka…” (Al-Hadīd [57]: 20).
        Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut  Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi Allah juga.
       Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
       Karena tujuan didirikan-Nya khilāfatun ‘alā  minhājin- nubuwah (Khilafat kenabian) adalah untuk menciptakan “bumi baru dan langit baru” (QS.14:49) karena itu sebagaimana Allah Swt.  telah menciptakan tatanan alam semesta jasmani  ini melalui keempat Sifat utama Tasybihiyah-Nya  dalam Surah Al-Fatihah – yakni Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat --  maka demikian pula halnya dengan penciptaan  tatanan  “bumi baru dan langit baru” keruhanian di Akhir Zaman ini,   hanya mungkin dapat dilaksanakan melalui  pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw. yang telah meraih martabat kenabian pula (QS.3:32] QS.4:70-71).

Rasul Akhir Zaman yang Ditunggu-tunggu Semua Umat Beragama  & Berdirinya “Khilafat Kenabian

         Wujud  yang dijanjikan Allah Swt. tersebut tersebut adalah  Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s. , yang atas perintah Allah Swt. telah mendirikan Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang pada saat ini Jemaat Muslim Ahmadiyah telah berada  di lebih 200 negara di dunia, sehingga terwujudnya kejayaan Islam yang kedua kali hanya tinggal menunggu waktu serta genapnya takdir Allah Swt. saja., firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿ ﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaff [61]:10).
    Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian. Dalam  rangka mewujudkan hal tersebut maka Allah Swt.  di Akhir Zaman ini telah membukakan rahasia-rahasia  makrifat Ilahi yang baru kepada Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah (QS.7:27-29), sehingga sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan tafsir Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4   -- bahwa seorang laki-laki dari keturunan Farsi akan membawa kembali keimanan yang telah terbang ke bintang Tsuraya  sesuai  nubuatan dalam QS.17:82;QS.32:6   -- benar-benar menjadi genap (sempurna). 
  Kembali kepada janji Allah Swt.  mengenai khilafat di atas jalan kenabian di kalangan umat Islam yang beriman dan beramal shaleh (QS.24:56),  bahwa  di antara sekian banyak keunggulan   lainnya  dan  merupakan kelebihan  Nabi Besar Muhammad saw.  yang menonjol di atas semua nabi Allah dan rasul Allah lainnya adalah di kalangan pengikut sejati beliau saw. akan ada yang mendapat karunia kenabian (QS.4:70-71), firman-Nya:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ  --  niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ     --    sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah,  وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ -- dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,   وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا -- dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا --  Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku,  وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ -- dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka.  (An-Nūr [24]:56).
Sesuai dengan hal tersebut di  Akhir Zaman ini telah berdiri  khalifah ruhani  Nabi Besar Muhammad saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s., sebab tidak ada lembaga khilafat  atau (khalifah) yang tidak didahului oleh kenabian.

Doa dalam Injil yang Bernuansa “Keputus-asaan” & Kerajaan Ilahi Mencakup Seluruh Langit dan Bumi

        Selanjutnya mengenai rahasia Sifat-sifat  Allah Swt.  yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah     – sebagai  rahasia  keberhasilan menciptakan “bumi baru dan langit baru” di Akhir Zaman ini (QS.14:49) -- dijelaskan secara terinci oleh  Masih Mau’ud a.s.   dalam rangka  meluruskan doa dalam Injil. Beliau bersabda:
        “Kitab Injil mengajarkan untuk berdoa: “Bapak kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti juga kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat, karena Engkau-lah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya[1].’
       Tetapi Kitab Suci Al-Quran mengajarkan bahwa bumi ini tidak luput dari Kesucian Allah Swt. yang tidak saja dinyatakan di langit tetapi juga di bumi. Sebagaimana dinyatakan:
تُسَبِّحُ  لَہُ  السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ  اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ  ......﴿ ﴾
Kepada-Nya bertasbih ketujuh petala langit dan bumi dan apa pun yang ada di dalamnya, dan tiada suatu benda pun melainkan menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya (Bani Israil [17]:45).
        Apa pun yang berada di langit atau pun di bumi semuanya mengagungkan Asmā (Sifat-sifat) Allah Swt., berarti semua partikel  seluruh  langit dan bumi mengagungkan dan menyerukan Kesucian Allah,  dan semua yang berada di antara keduanya sibuk dengan pujian serta penghormatan. Demikian pula gunung-gunung berdzikir mengingat-Nya, sungai-sungai berdzikir mengingat-Nya, pohon-pohon berdzikir mengingat-Nya sebagaimana juga para muttaqi  (orang-orang bertakwa) sibuk dengan pengkudusan-Nya.  
        Barangsiapa alpa (lalai) mengingat-Nya dalam kalbu atau di lidahnya masing-masing serta tidak merendahkan dirinya di hadapan Allah  Swt. maka ia akan direndahkan melalui berbagai bentuk siksaan berdasarkan takdir Ilahi. Kepatuhan para malaikat kepada Rabb (Tuhan) mereka -- seperti yang dikemukakan dalam Kitab Allah -- berlaku juga kepada setiap lembar daun atau dzarah (partikel) di bumi ini. Semuanya patuh kepada-Nya, tidak ada selembar daun pun akan gugur tanpa kehendak-Nya, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan tanpa perkenan-Nya, begitu juga tidak ada makanan yang bermanfaat tanpa izin-Nya. Semuanya sujud dengan rendah hati dan hasrat pengabdian di hadirat Allah  Swt.
         Setiap dzarah (partikel) dari bumi dan pegunungan, setiap tetes air dari sungai dan samudra, setiap lembar daun pepohonan, semua partikel dari tubuh manusia dan hewan semuanya mengakui dan patuh kepada Allah Swt. dan sibuk dengan pengagungan dan pujian bagi-Nya. Karena itulah maka Allah Yang Maha Kuasa berfirman bahwa:
یُسَبِّحُ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
 Apa jua pun yang ada di  seluruh langit dan apa jua pun yang ada di bumi senantiasa menyanjung Allah  (Al-Jumu’ah [62]:2),  dengan pengertian bahwa semua yang ada di bumi mengkuduskan Kesucian Allah  Swt.,  sebagaimana juga segala benda yang ada di langit. Lalu bagaimana mungkin mengatakan bahwa Tuhan tidak dikuduskan di bumi ini?
         Ungkapan  demikian [dalam Injil]  tidak patut keluar dari seorang yang dianggap memiliki pemahaman sempurna. Dari semua benda yang ada di bumi, sebagian mematuhi kaidah (peraturan)  hukum alam, sebagian lagi mengikuti takdir Ilahi dan lainnya disibukkan dengan mematuhi kedua hal tersebut. Awan, udara, api dan bumi semuanya mengabdi dan mengagungkan Tuhan.
       Jika ada manusia yang tidak mematuhi kaidah dari hukum Ilahi maka ia akan terbawa kepada takdir dari Ilahi. Tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari ruang lingkup kedua kaidah tersebut. Setiap orang sujud kepada kerajaan langit dalam suatu bentuk atau lainnya.

Dua Kaidah Allah Swt.  yang Berbeda di Langit dan di Bumi

       Memang benar bahwa berkenaan dengan kesucian dan kekotoran kalbu manusia, sikap ketidak-acuhan dan kepatuhan kepada Allah silih berganti muncul di muka bumi, namun pasang naik dan surut ini tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena mematuhi keinginan Samawi.
       Terjadilah apa pun yang diinginkan oleh Allah Swt.. Silih ganti antara periode adanya petunjuk (dzikir Ilahi) dan kealpaan atau kelalaian manusia berlangsung sama seperti peralihan malam dengan siang, sejalan dengan nur dan perintah Allah  Swt. dan tidak terjadi dengan sendirinya.  Walaupun demikian, semuanya tetap mendengar suara-Nya dan mengagungkan nama-Nya.
        Adapun kitab Injil menyatakan bahwa bumi ini sepi dari pengkudusan Tuhan dan yang dijadikan alasan adalah karena katanya kerajaan Tuhan belum mewujud di bumi. Karena itulah keinginan Ilahi belum berfungsi di bumi sebagaimana telah berlaku di sorga. Ajaran Al-Quran menolak pandangan seperti itu. Kitab Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa tidak ada pencuri, pembunuh, pezinah atau para perusuh yang akan melakukan kekejian di muka bumi kecuali memang diizinkan oleh Samawi. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan langit tidak berfungsi di bumi?
        Apakah ada wujud yang berdiri menghalangi pelaksanaan keinginan Tuhan di bumi? Jelas tidak. Allah  Swt.  Sendirilah Yang menciptakan sebentuk kaidah bagi para malaikat di langit dan kaidah lainnya bagi manusia di bumi. Dalam kerajaan langit-Nya  Tuhan tidak memberikan hak memilih kepada para malaikat. Kepatuhan sudah merupakan bagian yang inheren (melekat) dalam fitrat mereka. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk membantah. Mereka tidak bisa melakukan kesalahan atau kealpaan (kelalaian).
       Adapun bagi fitrat manusia diberikan kesempatan untuk memilih atau membantah. Karena kesempatan memilih ini berasal dari langit (Tuhan), maka tidak bisa dikatakan bahwa akibat ketidakpatuhan manusia lalu kerajaan Tuhan diluputkan di muka bumi. Kerajaan Tuhan sesungguhnya beroperasi setiap saat dan dengan segala cara.
       Memang benar bahwa terdapat dua sistem kaidah. Yang satu adalah untuk para malaikat di langit berbentuk takdir Ilahi yang harus dipatuhi oleh para malaikat, dan kaidah lainnya adalah yang berfungsi di bumi dimana manusia diberikan kesempatan untuk memilih di antara kebaikan dan kejahatan. Hanya saja jika manusia mau memohon kepada Tuhan-nya agar diberi kekuatan mengalahkan kebathilan maka dengan bantuan Ruhulkudus ia akan bisa mengatasi kelemahan dirinya dan memelihara dirinya dari dosa sebagaimana halnya para rasul dan nabi Allah Swt..
       Jika mereka yang berdosa mau mengajukan permohonan pengampunan kepada Tuhan-nya maka mereka akan dipeliharakan dari konsekwensi (akibat) kejahatan mereka dan mereka tidak akan lagi dihukum karenanya, sebab jika sudah datang terang maka gelap pun akan menghilang. Adapun para pendosa yang tidak memohon pengampunan maka mereka akan dihukum karena dosa-dosa mereka.

Wabah Pes Mematikan yang Melanda Hindustan
 
       Sekarang ini telah datang wabah pes ke muka bumi sebagai bentuk penghukuman, dan mereka yang durhaka telah dimusnahkan karenanya. Lalu bagaimana bisa mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum berfungsi di muka bumi? Jangan lalu berpendapat bahwa jika sudah ada kerajaan Tuhan di muka bumi, lalu mengapa masih saja ada dosa yang dilakukan manusia? Yang namanya dosa juga tunduk kepada kaidah takdir Ilahi. Meskipun si pelaku dosa itu bisa menempatkan dirinya di luar lingkup hukum syariat, mereka tetap saja tidak terbebas dari hukum takdir. Karena itu bagaimana mengatakan bahwa para pendosa tidak harus tunduk kepada gandar  (ketentuan) kerajaan Ilahi?
       Bila kaidah Ilahi dibentuk berupa penghukuman yang amat keras dimana setiap pezina  misalnya dihantam dengan petir, atau setiap pencuri tangannya dijangkiti penyakit yang akan membusukkan dan merontokkan tangannya,   sedangkan mereka yang durhaka terhadap Tuhan akan mati karena wabah, maka dalam waktu seminggu saja seluruh dunia ini akan berubah menjadi orang-orang saleh yang  bertakwa.
       Memang lalu langsung terbentuk kerajaan Tuhan di bumi ini, tetapi nyatanya kaidah samawi telah memberikan kemerdekaan sehingga para pendurhaka tidak langsung dihukum. Namun demikian azab penghukuman ini juga berlangsung terus. Gempa bumi bisa muncul di mana saja, petir bisa menyambar, gunung bisa meletus yang membunuh ribuan nyawa, kapal-kapal bisa tenggelam, kereta api bisa celaka, badai bisa muncul, rumah bisa rubuh, ular bisa mematuk, hewan buas bisa mencabik dan penyakit bisa mewabah yang semuanya atau masing-masing merupakan sarana penghukuman dan mengganjar mereka yang berdosa. Karena itu bagaimana bisa mengatakan bahwa kerajaan Tuhan tidak berfungsi di bumi?
      Kenyataannya kerajaan itu memang ada di sini. Setiap pendosa mempunyai belenggu di tangan dan rantai di kakinya, namun takdir Ilahi sudah dilunakkan sedemikian rupa,  sehingga belenggu dan rantai itu tidak  langsung berfungsi. Namun jika si pendosa itu terus saja dalam kesalahannya maka rantai itu akan membawanya ke neraka dimana ia akan mati pun tidak dan hidup pun tidak.
      Pendek kata, dalam hal ini ada dua sistem kaidah, dimana yang satu berkaitan dengan para malaikat yang memang diciptakan untuk selalu taat sehingga kepatuhan itu menjadi ciri dari kecemerlangan wujud mereka. Mereka tidak mampu melakukan dosa tetapi mereka juga tidak bisa mencapai kemajuan dalam kebajikan.   Sistem kaidah atau fitrat yang kedua berkaitan dengan manusia dimana menurut fitratnya mereka itu bisa melakukan dosa, tetapi mereka juga bisa memperoleh kemajuan dalam kebajikan.

Kaidah Ilahi Bagi Malaikat Berbeda dengan Kaidah Ilahi  bagi Manusia

       Kedua system kaidah ini tidak akan berubah, sebagaimana malaikat tidak bisa menjadi manusia, begitu juga manusia tidak akan bisa menjadi malaikat. Sistem kaidah ini bersifat abadi dan tidak akan berubah. Kaidah yang berlaku di langit tidak akan berfungsi di bumi, begitu juga kaidah bumi tidak akan berlaku di antara para malaikat. Dalam hal manusia pendosa kemudian bertobat maka manusia bisa menjadi lebih baik daripada malaikat,  sedangkan malaikat sendiri tidak bisa memperoleh kemajuan dalam kebajikan.
      Dosa manusia bisa diampuni melalui pertobatanHikmah Ilahi terkadang membiarkan beberapa orang bebas melakukan dosa-dosa agar mereka kemudian menyadari kelemahan mereka dan memperoleh pengampunan karena pertobatan. Demikian itulah kaidah yang ditetapkan dan sesuai dengan fitrat manusia. Alpa (lalai) dan  lupa  merupakan ciri fitrat manusia dan ciri ini tidak ada pada malaikat, karena itu kaidah yang mengatur para malaikat tidak bisa diterapkan kepada manusia.
      Adalah suatu kesalahan untuk mengalamatkan suatu kelemahan kepada Wujud Allah Yang Maha Kuasa.  Akibat dari berfungsinya kaidah itulah yang dimanifestasikan (dilaksanakan) di bumi. Apakah Tuhan itu memang sedemikian lemahnya sehingga kerajaan, kekuasaan dan keagungan-Nya hanya dibatasi di langit saja,  ataukah ada sosok lainnya yang memang menguasai bumi?
      Sepatutnya umat Kristiani tidak menekankan bahwa kerajaan Tuhan hanya berfungsi di langit dan belum berlaku di bumi, sedangkan mereka menganggap bahwa langit tidak ada wujudnya. Kalau langit memang tidak ada wujudnya untuk tempat berfungsinya kerajaan Tuhan sedangkan kerajaan itu belum ada di bumi, berarti kerajaan Tuhan tidak ada dimana-mana. Padahal kita menyaksikan bagaimana kerajaan Tuhan beroperasi di bumi ini.
       Sejalan dengan kaidah-Nya maka hidup kita suatu waktu akan berakhir dan keadaan kita selalu berubah terus menerus. Kita mengalami beratus macam bentuk kenikmatan dan kepedihan. Ribuan manusia yang mati karena takdir Ilahi dan beribu-ribu lagi yang dilahirkan. Doa-doa mendapat pengabulan, tanda-tanda samawi diperlihatkan dan bumi ini menumbuhkan beribu macam sayuran, buah dan bunga karena takdir-Nya. Apakah semua ini terjadi tanpa berdaulatnya kerajaan Allah? Benda-benda langit mengalami perubahan tetapi kita tidak menyadarinya, dan hal ini menunjukkan bahwa ada Wujud Yang membawa perubahan. Adapun bumi selalu mengalami perubahan dari hari ke hari.
        Setiap hari berjuta manusia meninggalkan dunia dan berjuta lagi yang dilahirkan dan dalam semuanya itu pengendalian kuat dari Sang Maha Pencipta amat terasa. Apakah masih saja tidak diakui bahwa ada kerajaan Tuhan di bumi? Kitab Injil tidak menjelaskan alasan mengapa kerajaan Tuhan belum tiba di dunia…. (Kishti Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 29-34, London, 1984).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 14 September 2015


[1] Injil Matius 6:9-13. (Penterjemah/Ir.Qayum Wahid Rasyid)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar