بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 39
Keunggulan Nabi
Besar Muhammad Saw. dan para Pengikut
Sejati Beliau Saw. & Menurut Al-Quran “Kerajaan Tuhan” Sudah Berlaku Sejak Awal Penciptaan Alam Semesta
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai Janji Allah Swt. mengenai ditegakkan-Nya khilafat adalah jelas dan tidak
dapat menimbulkan salah paham. Oleh
sebab kini Nabi Besar Muhammad saw. satu-satunya hadi (petunjuk
jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32), khilafat beliau saw. akan terus berwujud
dalam salah satu bentuk di dunia
ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat
yang lain telah tiada lagi, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ
تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ
یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ -- maka ikutilah
aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ -- Dan
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” قُلۡ اَطِیۡعُوا
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ -- Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, فَاِنۡ تَوَلَّوۡا
فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ -- kemudian jika mereka
berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33)
Ayat 32 dengan tegas menyatakan bahwa dengan diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul
Allah pembawa syariat terakhir
dan tersempurna (QS.5:4) maka tujuan
memperoleh kecintaan Ilahi sekarang
tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti
beliau saw. (QS.3:20 & 86).
Keunggulan
Nabi Besar Muhammad Saw. dan Para Pengikut
Sejati Beliau saw.
Ayat ini pun melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat
saja sudah cukup untuk memperoleh najat
(keselamatan), mengenai hal tersebut
selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allāh memberi nikmat kepada
mereka مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ
ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- yakni:
nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui (An-Nisā [4]:70-71).
Ayat
ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka
bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — para nabi, para shiddiq, para syuhada dan
para shalih (orang-orang saleh) —
kini semuanya dapat dicapai hanya
dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.
Hal ini merupakan kehormatan
khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw.
semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai
beliau saw. dalam perolehan nikmat ruhani ini. Kesimpulan tersebut lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang
membicarakan nabi-nabi Allah secara
umum dan mengatakan:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ
وَ رُسُلِہٖۤ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ
عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ
“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah
dan rasul-rasul-Nya,
mereka adalah orang-orang shiddiq
dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka…” (Al-Hadīd
[57]: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca
bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai
martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi
dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi Allah
juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang
mengatakan: “Tuhan telah membagi
orang-orang beriman dalam empat golongan
dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di
antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang
beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan
membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua
macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat,
sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat
dicapai.”
Karena tujuan didirikan-Nya khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwah (Khilafat kenabian)
adalah untuk menciptakan “bumi baru
dan langit baru” (QS.14:49) karena
itu sebagaimana Allah Swt. telah
menciptakan tatanan alam semesta jasmani ini melalui keempat Sifat utama Tasybihiyah-Nya dalam Surah Al-Fatihah – yakni Rabubiyat,
Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat
-- maka demikian pula halnya dengan penciptaan tatanan
“bumi baru dan langit baru” keruhanian di Akhir Zaman ini, hanya mungkin dapat dilaksanakan melalui pengikut
sejati Nabi Besar Muhammad saw. yang telah meraih martabat kenabian pula (QS.3:32] QS.4:70-71).
Rasul Akhir Zaman yang
Ditunggu-tunggu Semua Umat Beragama & Berdirinya “Khilafat
Kenabian”
Wujud yang dijanjikan Allah Swt. tersebut tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih
Mau’ud a.s. , yang atas perintah Allah Swt. telah mendirikan Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang pada saat
ini Jemaat Muslim Ahmadiyah telah
berada di lebih 200 negara di dunia,
sehingga terwujudnya kejayaan Islam
yang kedua kali hanya tinggal menunggu
waktu serta genapnya takdir Allah
Swt. saja., firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ
رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿ ﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai.
(Ash-Shaff
[61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan
sebab di zaman beliau semua agama
muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.
Dalam rangka mewujudkan hal tersebut maka
Allah Swt. di Akhir Zaman ini telah membukakan rahasia-rahasia makrifat
Ilahi yang baru kepada Pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah (QS.7:27-29), sehingga sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan tafsir Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 -- bahwa seorang
laki-laki dari keturunan Farsi
akan membawa kembali keimanan yang
telah terbang ke bintang Tsuraya sesuai nubuatan
dalam QS.17:82;QS.32:6 -- benar-benar
menjadi genap (sempurna).
Kembali kepada janji Allah Swt. mengenai khilafat
di atas jalan kenabian di kalangan umat Islam yang beriman dan beramal shaleh
(QS.24:56), bahwa di antara sekian banyak keunggulan lainnya dan merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw. yang menonjol di atas semua nabi Allah dan rasul Allah lainnya adalah di kalangan pengikut sejati beliau saw. akan ada yang mendapat karunia kenabian (QS.4:70-71), firman-Nya:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
dan beramal saleh di antara kamu لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ
فِی الۡاَرۡضِ -- niscaya Dia
akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ -- sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, وَ
لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی
ارۡتَضٰی لَہُمۡ -- dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka, وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا -- dan
niscaya Dia akan mengubah keadaan
mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ
لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا -- Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, وَ مَنۡ
کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡفٰسِقُوۡنَ -- dan barangsiapa
kafir sesudah itu mereka itulah orang-orang durhaka. (An-Nūr [24]:56).
Sesuai dengan hal tersebut di Akhir
Zaman ini telah berdiri khalifah
ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yang
terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat
Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s.,
sebab tidak ada lembaga khilafat atau (khalifah) yang tidak didahului oleh kenabian.
Doa dalam Injil yang Bernuansa
“Keputus-asaan” & Kerajaan Ilahi Mencakup Seluruh Langit dan
Bumi
Selanjutnya mengenai rahasia Sifat-sifat Allah Swt.
yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah
– sebagai
rahasia keberhasilan menciptakan “bumi baru dan langit baru” di Akhir Zaman
ini (QS.14:49) -- dijelaskan secara terinci oleh Masih Mau’ud a.s. dalam rangka
meluruskan doa dalam Injil. Beliau bersabda:
“Kitab Injil mengajarkan untuk berdoa: “Bapak kami yang di sorga, dikuduskanlah
nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami
akan kesalahan kami seperti juga kami mengampuni orang yang bersalah kepada
kami; dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami
dari pada yang jahat, karena Engkau-lah yang empunya kerajaan dan kuasa dan
kemuliaan sampai selama-lamanya[1].’
Tetapi Kitab Suci Al-Quran
mengajarkan bahwa bumi ini tidak
luput dari Kesucian Allah Swt. yang tidak saja dinyatakan di langit tetapi juga di bumi. Sebagaimana dinyatakan:
تُسَبِّحُ لَہُ
السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ وَ
الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ ......﴿ ﴾
Kepada-Nya bertasbih
ketujuh petala langit dan bumi
dan apa pun yang ada di dalamnya,
dan tiada suatu benda pun melainkan menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya (Bani Israil [17]:45).
Apa pun yang berada di langit atau pun di bumi semuanya mengagungkan
Asmā (Sifat-sifat) Allah Swt., berarti semua partikel seluruh
langit dan bumi mengagungkan dan menyerukan Kesucian Allah, dan semua yang berada di antara keduanya sibuk dengan pujian serta penghormatan.
Demikian pula gunung-gunung berdzikir mengingat-Nya, sungai-sungai
berdzikir mengingat-Nya, pohon-pohon
berdzikir mengingat-Nya sebagaimana juga para muttaqi (orang-orang bertakwa) sibuk dengan pengkudusan-Nya.
Barangsiapa alpa (lalai) mengingat-Nya dalam kalbu
atau di lidahnya masing-masing serta tidak merendahkan dirinya
di hadapan Allah Swt. maka ia akan direndahkan melalui berbagai bentuk siksaan
berdasarkan takdir Ilahi. Kepatuhan
para malaikat kepada Rabb (Tuhan) mereka -- seperti yang
dikemukakan dalam Kitab Allah -- berlaku juga kepada setiap lembar
daun atau dzarah (partikel) di bumi ini. Semuanya patuh kepada-Nya,
tidak ada selembar daun pun akan gugur tanpa kehendak-Nya,
tidak ada obat yang bisa menyembuhkan
tanpa perkenan-Nya, begitu juga tidak ada makanan yang bermanfaat tanpa izin-Nya. Semuanya sujud
dengan rendah hati dan hasrat pengabdian di hadirat Allah Swt.
Setiap dzarah (partikel) dari bumi dan pegunungan, setiap tetes air dari sungai dan samudra, setiap lembar daun pepohonan, semua partikel
dari tubuh manusia dan hewan semuanya mengakui dan patuh
kepada Allah Swt. dan sibuk dengan pengagungan dan pujian
bagi-Nya. Karena itulah maka Allah
Yang Maha Kuasa berfirman bahwa:
یُسَبِّحُ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ
Apa jua pun yang ada di seluruh langit dan apa jua pun yang ada di bumi
senantiasa menyanjung Allah
(Al-Jumu’ah [62]:2), dengan pengertian bahwa semua yang ada di bumi mengkuduskan
Kesucian Allah Swt.,
sebagaimana juga segala benda yang ada di langit. Lalu bagaimana mungkin
mengatakan bahwa Tuhan tidak dikuduskan di bumi ini?
Ungkapan demikian [dalam Injil] tidak patut keluar
dari seorang yang dianggap memiliki pemahaman
sempurna. Dari semua benda
yang ada di bumi, sebagian mematuhi kaidah (peraturan) hukum alam, sebagian lagi
mengikuti takdir Ilahi dan lainnya disibukkan dengan mematuhi
kedua hal tersebut. Awan, udara, api dan bumi semuanya mengabdi dan mengagungkan
Tuhan.
Jika ada manusia yang tidak
mematuhi kaidah dari hukum
Ilahi maka ia akan terbawa kepada takdir dari Ilahi. Tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari ruang lingkup kedua
kaidah tersebut.
Setiap orang sujud kepada kerajaan langit dalam suatu
bentuk atau lainnya.
Dua Kaidah Allah Swt. yang
Berbeda di Langit dan di Bumi
Memang benar bahwa berkenaan
dengan kesucian dan kekotoran kalbu manusia, sikap ketidak-acuhan
dan kepatuhan kepada Allah
silih berganti muncul di muka bumi,
namun pasang naik dan surut ini tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena mematuhi
keinginan Samawi.
Terjadilah apa pun yang diinginkan oleh Allah Swt.. Silih ganti antara periode adanya petunjuk
(dzikir Ilahi) dan kealpaan atau kelalaian
manusia berlangsung sama seperti peralihan
malam dengan siang,
sejalan dengan nur dan perintah Allah Swt. dan tidak
terjadi dengan sendirinya. Walaupun
demikian, semuanya tetap mendengar
suara-Nya dan mengagungkan nama-Nya.
Adapun kitab Injil menyatakan
bahwa bumi ini sepi dari pengkudusan
Tuhan dan yang dijadikan alasan
adalah karena katanya kerajaan Tuhan belum mewujud di bumi.
Karena itulah keinginan Ilahi belum
berfungsi di bumi sebagaimana telah berlaku
di sorga. Ajaran Al-Quran menolak
pandangan seperti itu. Kitab Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa tidak
ada pencuri, pembunuh, pezinah atau
para perusuh yang akan melakukan kekejian di muka bumi kecuali memang
diizinkan
oleh Samawi. Lalu bagaimana akan mengatakan
bahwa kerajaan langit tidak berfungsi di bumi?
Apakah ada wujud yang berdiri menghalangi
pelaksanaan keinginan Tuhan di bumi?
Jelas tidak. Allah Swt. Sendirilah
Yang menciptakan sebentuk kaidah bagi para malaikat di langit dan kaidah lainnya bagi manusia
di bumi. Dalam kerajaan langit-Nya Tuhan tidak memberikan hak memilih kepada
para malaikat. Kepatuhan sudah
merupakan bagian yang inheren
(melekat) dalam fitrat mereka. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk membantah. Mereka tidak bisa melakukan
kesalahan
atau kealpaan (kelalaian).
Adapun bagi fitrat manusia diberikan kesempatan untuk memilih atau membantah.
Karena kesempatan memilih ini
berasal dari langit (Tuhan), maka tidak bisa dikatakan bahwa akibat
ketidakpatuhan manusia lalu
kerajaan
Tuhan diluputkan di muka bumi.
Kerajaan
Tuhan sesungguhnya beroperasi
setiap saat dan dengan segala cara.
Memang benar bahwa terdapat dua sistem kaidah. Yang satu
adalah untuk para malaikat di langit berbentuk takdir Ilahi yang harus
dipatuhi oleh para malaikat,
dan kaidah lainnya adalah yang berfungsi di bumi dimana manusia diberikan kesempatan untuk memilih
di antara kebaikan dan kejahatan. Hanya saja jika
manusia mau memohon kepada Tuhan-nya
agar diberi kekuatan mengalahkan kebathilan maka dengan bantuan
Ruhulkudus ia akan bisa
mengatasi kelemahan dirinya dan memelihara
dirinya dari dosa sebagaimana halnya para
rasul dan nabi
Allah Swt..
Jika mereka yang berdosa mau
mengajukan permohonan pengampunan kepada Tuhan-nya maka mereka akan dipeliharakan
dari konsekwensi (akibat) kejahatan
mereka dan mereka tidak akan lagi dihukum
karenanya, sebab jika sudah datang terang
maka gelap pun akan menghilang.
Adapun para pendosa yang tidak memohon
pengampunan maka mereka
akan dihukum karena dosa-dosa mereka.
Wabah Pes Mematikan yang Melanda Hindustan
Sekarang ini telah datang wabah pes ke muka bumi sebagai
bentuk penghukuman, dan mereka yang durhaka telah dimusnahkan
karenanya. Lalu bagaimana bisa mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum
berfungsi di muka bumi? Jangan lalu berpendapat bahwa
jika sudah ada kerajaan Tuhan di muka bumi,
lalu mengapa masih saja ada dosa yang dilakukan manusia? Yang namanya dosa
juga tunduk kepada kaidah takdir
Ilahi. Meskipun si pelaku dosa itu bisa menempatkan
dirinya di luar lingkup hukum syariat, mereka tetap saja tidak terbebas dari hukum
takdir. Karena itu bagaimana mengatakan bahwa para pendosa tidak
harus tunduk kepada gandar
(ketentuan) kerajaan Ilahi?
Bila kaidah Ilahi dibentuk
berupa penghukuman yang amat keras dimana setiap pezina misalnya dihantam
dengan petir, atau setiap pencuri tangannya dijangkiti penyakit
yang akan membusukkan dan merontokkan tangannya, sedangkan mereka yang durhaka terhadap Tuhan akan mati karena wabah, maka dalam waktu seminggu
saja seluruh dunia ini akan berubah menjadi orang-orang
saleh yang bertakwa.
Memang lalu langsung terbentuk kerajaan Tuhan di bumi ini, tetapi nyatanya kaidah
samawi telah memberikan kemerdekaan sehingga para pendurhaka
tidak langsung dihukum. Namun demikian azab penghukuman ini juga
berlangsung terus. Gempa bumi bisa
muncul di mana saja, petir bisa
menyambar, gunung bisa meletus yang
membunuh ribuan nyawa, kapal-kapal
bisa tenggelam, kereta api bisa
celaka, badai bisa muncul, rumah bisa rubuh, ular bisa mematuk, hewan
buas bisa mencabik dan penyakit
bisa mewabah yang semuanya atau
masing-masing merupakan sarana penghukuman dan mengganjar
mereka yang berdosa. Karena itu bagaimana bisa mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan tidak berfungsi di bumi?
Kenyataannya kerajaan itu memang ada di sini. Setiap pendosa mempunyai belenggu
di tangan dan rantai di kakinya, namun takdir Ilahi sudah dilunakkan sedemikian rupa, sehingga belenggu dan rantai itu
tidak langsung berfungsi. Namun
jika si pendosa itu terus saja dalam kesalahannya maka rantai itu akan membawanya ke neraka
dimana ia akan mati pun tidak dan hidup pun tidak.
Pendek kata, dalam hal ini ada dua sistem kaidah, dimana yang
satu berkaitan dengan para malaikat yang memang diciptakan
untuk selalu taat sehingga kepatuhan itu menjadi ciri dari kecemerlangan wujud
mereka. Mereka tidak mampu melakukan
dosa
tetapi mereka juga tidak bisa mencapai
kemajuan dalam kebajikan. Sistem kaidah atau fitrat yang kedua
berkaitan dengan manusia dimana menurut fitratnya mereka itu bisa
melakukan dosa, tetapi mereka juga bisa memperoleh kemajuan
dalam kebajikan.
Kaidah Ilahi Bagi Malaikat Berbeda dengan Kaidah Ilahi bagi Manusia
Kedua system kaidah ini tidak akan berubah, sebagaimana malaikat
tidak bisa menjadi manusia, begitu juga manusia
tidak akan bisa menjadi malaikat. Sistem kaidah
ini bersifat abadi dan tidak akan berubah. Kaidah yang berlaku di langit tidak akan berfungsi di bumi, begitu juga kaidah bumi tidak akan berlaku di antara para malaikat. Dalam hal
manusia pendosa kemudian bertobat maka manusia bisa
menjadi lebih baik daripada malaikat, sedangkan malaikat
sendiri tidak bisa memperoleh kemajuan
dalam kebajikan.
Dosa manusia bisa diampuni melalui pertobatan. Hikmah
Ilahi terkadang membiarkan
beberapa orang bebas melakukan dosa-dosa
agar mereka kemudian menyadari kelemahan mereka dan memperoleh pengampunan
karena pertobatan. Demikian itulah kaidah yang
ditetapkan dan sesuai dengan fitrat manusia. Alpa (lalai) dan lupa merupakan ciri
fitrat manusia dan ciri ini
tidak ada pada malaikat, karena itu kaidah yang mengatur para malaikat
tidak bisa diterapkan kepada manusia.
Adalah suatu kesalahan untuk
mengalamatkan suatu kelemahan kepada Wujud Allah Yang Maha Kuasa. Akibat dari
berfungsinya kaidah itulah yang dimanifestasikan
(dilaksanakan) di bumi. Apakah Tuhan
itu memang sedemikian lemahnya
sehingga kerajaan, kekuasaan dan keagungan-Nya hanya dibatasi
di langit saja, ataukah
ada sosok lainnya
yang memang menguasai bumi?
Sepatutnya umat Kristiani
tidak menekankan bahwa kerajaan Tuhan hanya berfungsi di langit dan belum berlaku di bumi, sedangkan mereka menganggap bahwa langit tidak ada wujudnya. Kalau langit
memang tidak ada wujudnya untuk tempat berfungsinya
kerajaan Tuhan sedangkan kerajaan
itu belum ada di bumi, berarti kerajaan
Tuhan tidak ada dimana-mana. Padahal kita menyaksikan bagaimana kerajaan
Tuhan beroperasi di bumi
ini.
Sejalan dengan kaidah-Nya maka hidup kita suatu
waktu akan berakhir dan keadaan kita selalu berubah
terus menerus. Kita mengalami
beratus macam bentuk kenikmatan dan kepedihan.
Ribuan manusia yang mati karena takdir Ilahi dan beribu-ribu lagi yang dilahirkan.
Doa-doa mendapat pengabulan,
tanda-tanda samawi diperlihatkan dan
bumi ini menumbuhkan beribu macam
sayuran, buah dan bunga karena takdir-Nya.
Apakah semua ini terjadi tanpa
berdaulatnya kerajaan Allah? Benda-benda langit mengalami perubahan tetapi kita tidak
menyadarinya, dan hal ini menunjukkan bahwa ada Wujud Yang membawa perubahan.
Adapun bumi selalu mengalami perubahan dari hari ke hari.
Setiap hari berjuta manusia meninggalkan
dunia dan berjuta lagi yang dilahirkan dan dalam semuanya itu pengendalian kuat dari Sang Maha Pencipta
amat terasa. Apakah masih saja tidak diakui bahwa ada kerajaan Tuhan di bumi? Kitab Injil tidak menjelaskan alasan mengapa kerajaan Tuhan belum tiba di dunia….
(Kishti Nuh, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 29-34, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar,
14 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar