بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 27
Munculnya Berbagai Bentuk “Thaghut" (Berhala Sembahan) Pada Masa Fatrah
(Masa Jeda Pengutusan Rasul Allah) & Perbedaan Orang-orang yang Beriman Kepada “Nur di
atas Nur” dengan Mereka yang Berada
Dalam “Kegelapan di Atas Kegelapan”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai firman Allah Swt. dalam Surah At-Taubah: ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya
(At-Taubah [9]:33), dan
lihat pula QS.61:10.
Para mufassir (ahli
tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. kemenangan
Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s. (Tafsir Al-Quran oleh Ibnu Jarir Thabari), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bangkit dan akan berusaha
sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran
mereka sendiri.
Cita-cita
dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah
diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam
akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan
masuk ke dalam haribaan Islam dalam
jumlah besar, sebagaimana yang pernah terjadi di masa awal kejayaan Islam yang pertama, berikut firman-Nya kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾ اِذَا
جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ
الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ
بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ
ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. ۙ اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ -- Apabila
datang pertolongan Allah dan kemenangan, وَ رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا -- dan
engkau melihat manusia masuk dalam agama Allāh berbon-dong-bondong,
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ -- maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah
ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا
-- sesungguhnya
Dia Maha Penerima taubat (An-Nashr [110]:1-4).
Kejayaan Islam yang kedua
kali di Akhir Zaman ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan cara-cara kekerasan secara fisik -- sehingga terjadi pertumpahan darah -- sebab yang tampil adalah Sifat Ahmad dari Nabi Besar Muhammad saw.,
yang menggambarkan jamaliyat (keindahan)
beliau saw., sebagaimana pernyataan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. berikut ini mengenai nubuatan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ
قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ
اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ
مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیَّ
مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ
مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ
فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ
قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika
Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani
Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah
kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ -- dan memberi
kabar gembira mengenai seorang rasul
yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.”
فَلَمَّا
جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا
ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ -- Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaf
[61]:7).
Di Akhir
Zaman ini Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) --
yang juga merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.62:3-4) -- telah memberi nama Ahmadiyah kepada jama’ah Muslim yang didirikannya atas perintah Allah Swt., sesuai
dengan sifat jamaliyah (keindahan/kelembutan)
Nabi Besar Muhammad saw., yakni “Ahmad.”
Kemunculan “Thāghūt” Sebagai
“Sembahan” di Kalangan Berbagai Firqah Umat Beragama
Pendek kata, hanya melalui upaya penegakkan kembali Tauhid Ilahi dengan perantaraan pengutusan
Rasul Allah yang dijanjikan
sajalah -- yakni melalui “Tali Allah” yang diulurkan dari langit
(QS.3:103-105; QS.61:10) -- kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini, insya Allah, akan kembali terwujud, firman-Nya:
فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ
اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ
الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾ مُنِیۡبِیۡنَ
اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾ مِنَ الَّذِیۡنَ
فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا
شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama
yang lurus, yaitu fitrat Allah, yang atas dasar itu Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah,
itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. مُنِیۡبِیۡنَ
اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ -- Kembalilah kamu
kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat,
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah kamu
termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا
دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ -- Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan,
کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ -- tiap-tiap
golongan bangga dengan apa yang ada
pada mereka. (Ar- Rūm [30]:31-33).
Tuhan
adalah Esa dan kemanusiaan itu
satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia
menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri (QS.7:173-175). Di dalam agama inilah seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan
orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka
itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
Ayat 32 menjelaskan bahwa hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan
mutlak dan Keesaan Tuhan -- yang sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki -- adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu shalat – yang merupakan sarana utama
pelaksanaan haququllūh -- adalah yang harus mendapat prioritas utama.
Penyimpangan dari agama sejati menjuruskan umat di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran atau firqah-firqah serta mazhab-mazhab
yang saling memerangi dan menyebabkan
sengketa berkepanjangan di antara
mereka akibat keangkuhan dari para pemimpin firqah
atau mazhab tersebut dan berusaha untuk ditaati
oleh para pengikutnya, sehingga sekan-akan mereka itu menjadi “tuhan-tuhan sembahan” (thāghūt) mereka,
yang mengeluarkan mereka dari cahaya
kepada kegelapan, firman-Nya:
اَللّٰہُ
وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ
وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ
النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾٪
Allah adalah Pelindung orang-orang beriman, یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ
الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ -- Dia menge-luarkan mereka dari berbagai
kegelapan kepada cahaya, وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ -- dan orang-orang
kafir pelindung mereka adalah thāghūt, یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ
مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ -- yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai
kegelapan, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka itu penghuni
Api, mereka kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:258).
Pengaruh Luar Biasa “Nur di
atas Nur” Terhadap Para
Pengamalnya
Kembali kepada masalah firman Allah Swt.
mengenai نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ – “Nur di atas nur” yang uraikan dalam Bab
23 berkenaan dengan Nabi besar Muhammad saw., firman-Nya:
اَللّٰہُ
نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ
زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ
مُّبٰرَکَۃٍ زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا
یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی
اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi.
Perumpamaan nur-Nya seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca.
Kaca itu seperti bintang yang
gemerlapan. Pelita itu dinyalakan
dengan minyak dari sebatang pohon
kayu yang diberkati, yaitu pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, minyaknya
hampir-hampir bercahaya walaupun api
tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- Nur di atas nur. یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- Allah memberi bimbingan
menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia
kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ -- dan Allah
mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia,
وَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman mengenai pengaruh
luar-biasa dari نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ – “Nur di atas nur” tersebut:
فِیۡ بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ اَنۡ تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ
یُسَبِّحُ لَہٗ فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ ﴿ۙ﴾ رِجَالٌ ۙ لَّا
تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ
عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ
الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ ۪ۙ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا
تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ ﴿٭ۙ﴾ لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ
فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ
بِغَیۡرِ حِسَابٍ ﴿﴾
Di dalam rumah yang Allah telah mengizinkan supaya ditinggikan dan nama-Nya diingat di dalamnya, یُسَبِّحُ
لَہٗ فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- bertasbih
kepada-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ
تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ اِقَامِ الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ
الزَّکٰوۃِ -- Orang-orang lelaki, tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah perniagaan dan tidak pula
jual-beli, mendirikan shalat dan
membayar zakat, یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ -- mereka takut
akan hari ketika di dalamnya hati dan mata berubah-ubah, لِیَجۡزِیَہُمُ
اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا -- supaya Allah
memberi mereka ganjaran yang sebaik-baiknya
atas apa yang telah mereka kerjakan,
وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ -- dan Allah
akan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.
وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ بِغَیۡرِ
حِسَابٍ -- Dan Allah
memberi rezeki kepada siapa yang Dia
kehendaki tanpa perhitungan. (An-Nūr [24]:37-39).
Ayat ini berisikan suatu bukti dan juga suatu nubuatan.
Ayat ini menubu-atkan, bahwa rumah-rumah yang disinari oleh cahaya yang terdapat dalam Al-Quran akan dimuliakan dan para penghuninya
senantiasa akan mengirim persembahan
sanjung-puji kepada Allah Swt.. Ini akan merupakan bukti bahwa rumah-rumah itu disinari oleh nur Ilahi.
Ayat selanjutnya رِجَالٌ ۙ
لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا
بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ
الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ -- Orang-orang lelaki, tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah perniagaan dan tidak pula
jual-beli, mendirikan shalat dan
membayar zakat”, merupakan pengakuan
agung terhadap ketakwaan dan kebaikan sahabat-sahabat Nabi Besar
Muhammad saw. dan terhadap kecintaan mereka kepada Allah Swt..
Mereka itu orang-orang — demikian kata ayat itu — yang berdaging dan
bertulang. Mereka pun mempunyai kemauan-kemauan
dan keinginan-keinginan duniawi, pekerjaan-pekerjaan, dan kesibukan-kesibukan. Mereka bukan rahib-rahib atau petapa-petapa yang telah memutuskan
hubungan dengan dunia. Namun di
tengah-tengah segala kesibukan dan perjuangan dalam urusan dunianya mereka tidak lalai menjalankan kewajiban-kewajiban mereka kepada Allah
Swt. (haququllāh) dan manusia
(haququl- ‘ibād).
“Kegelapan di Atas Kegelapan”
Bertolak belakang dengan نُوۡرٌ عَلٰی
نُوۡرٍ
– “Nur di atas nur” yang diamalkan para
pengikut sejati Nabi Besar Muhammad
saw. yang sejati, selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai para penentang
Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran:
وَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَعۡمَالُہُمۡ
کَسَرَابٍۭ بِقِیۡعَۃٍ یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً ؕ حَتّٰۤی اِذَا
جَآءَہٗ لَمۡ یَجِدۡہُ شَیۡئًا وَّ وَجَدَ اللّٰہَ عِنۡدَہٗ فَوَفّٰىہُ حِسَابَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿ۙ﴾ اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ
مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ ؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ
یَدَہٗ لَمۡ یَکَدۡ یَرٰىہَا ؕ وَ مَنۡ لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ لَہٗ
نُوۡرًا فَمَا لَہٗ
مِنۡ نُّوۡرٍ ﴿٪﴾
Dan orang-orang kafir amal-amal
mereka bagaikan fatamorgana di
padang pasir, یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً -- orang-orang yang
haus menyangkanya air, حَتّٰۤی
اِذَا جَآءَہٗ لَمۡ یَجِدۡہُ شَیۡئًا -- hingga apabila ia mendatanginya ia tidak mendapati sesuatu pun, وَّ وَجَدَ اللّٰہَ عِنۡدَہٗ فَوَفّٰىہُ حِسَابَہٗ -- dan ia
mendapati Allah di sisinya lalu Dia membayar
penuh per-hitungannya, وَ اللّٰہُ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- dan
Allah sangat cepat dalam perhitungan.
اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ
مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ -- Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya gelombang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. ظُلُمٰتٌۢ بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ -- Kegelapan sebagiannya di
atas sebagian lain. اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ لَمۡ یَکَدۡ یَرٰىہَا -- Apabila ia mengulurkan tangan-nya ia hampir-hampir
tidak dapat melihatnya, وَ مَنۡ لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ لَہٗ
نُوۡرًا فَمَا لَہٗ
مِنۡ نُّوۡرٍ -- dan barangsiapa
baginya Allah tidak menjadikan nur
maka baginya tidak ada nur (An-Nūr [24]:40-41).
Dalam
ayat-ayat 37-39 sebelumnya telah
dikemukakan kata-kata penghargaan
yang ditujukan kepada suatu golongan
manusia yaitu para pencinta Nur
Ilahi atau hamba-hamba Allah yang bertakwa,
ayat ini dan ayat sebelumnya membicarakan sesuatu golongan manusia lainnya
yaitu anak-anak kegelapan.
Golongan pertama menerima nur serta berjalan di dalamnya. Keadaan mereka yang sungguh membangkitkan rasa iri itu telah
digambarkan dalam tamsil (perumpamaan)
dengan kata-kata نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- “nur di atas nur”. Sedangkan golongan kedua menolak nur Ilahi dan memilih jalan kegelapan dalam rimba keragu-raguan. Segala usaha mereka terbukti sia-sia serta menyesatkan, laksana suatu fatamorgana.
Mereka suka kepada kegelapan,
mengikuti langkah kegelapan dan
tinggal dalam kegelapan, maka keadaan mereka yang tidak menarik itu
telah dilukiskan dengan tepat dan jelas lagi terperinci dengan kata-kata اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ
مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ
بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ -- “atau seperti kegelapan di lautan yang
dalam, di atasnya gelombang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada
awan hitam. Kegelapan sebagiannya di atas sebagian lain.”
Tidak Mampu Membedakan Kebenaran
dengan Kepalsuan
Jika keadaan umat manusia sudah berada dalam kegelapan yang pekat seperti itu
-- yang bahkan mereka tidak dapat
melihat tangannya sendiri: اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ لَمۡ
یَکَدۡ یَرٰىہَا -- “apabila ia mengulurkan tangannya ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya”,
lalu bagaimana mereka bisa memberi petunjuk kepada orang-orang lain yang
juga berada dalam kegelapan yang pekat? Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman:
اَوَ مَنۡ کَانَ مَیۡتًا فَاَحۡیَیۡنٰہُ وَ جَعَلۡنَا
لَہٗ نُوۡرًا یَّمۡشِیۡ بِہٖ فِی
النَّاسِ کَمَنۡ مَّثَلُہٗ فِی
الظُّلُمٰتِ لَیۡسَ
بِخَارِجٍ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ زُیِّنَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ مَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا فِیۡ کُلِّ قَرۡیَۃٍ اَکٰبِرَ
مُجۡرِمِیۡہَا لِیَمۡکُرُوۡا فِیۡہَا ؕ وَ مَا یَمۡکُرُوۡنَ اِلَّا بِاَنۡفُسِہِمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
apakah orang yang telah mati lalu Kami menghidupkannya dan Kami menjadikan baginya cahaya dan ia berjalan dengan cahaya itu di tengah-tengah manusia, sama seperti keadaan orang yang berada di dalam berbagai macam
kegelapan dan ia sekali-kali
tidak dapat keluar darinya?
Demikianlah telah ditampakkan indah bagi orang-orang
kafir apa yang senantiasa mereka
kerjakan. Dan demikianlah
Kami menjadikan di dalam tiap negeri
pendosa-pendosa besarnya, supaya mereka
melakukan makar di dalam negeri itu, tetapi sekali-kali tidak ada yang terkena makar mereka
kecuali dirinya sendiri tetapi mereka
tidak menyadarinya. (Al-An’ām
[6]:123-124).
Bagaimana mana pun orang buta tidak akan dapat menuntun
orang-orang yang buta lainnya untuk
menempuh jalan-jalan keselamatan,
sebagaimana jika dituntun oleh orang-orang yang pencainderanya normal, firman-Nya:
وَ مَا
یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ﴿ۙ﴾ وَ لَا الظُّلُمٰتُ وَ لَا النُّوۡرُ ﴿ۙ﴾ وَ لَا الظِّلُّ وَ لَا
الۡحَرُوۡرُ ﴿ۚ﴾ وَ مَا
یَسۡتَوِی الۡاَحۡیَآءُ وَ لَا الۡاَمۡوَاتُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُسۡمِعُ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَاۤ اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ ﴿﴾ اِنۡ
اَنۡتَ اِلَّا نَذِیۡرٌ ﴿﴾
Dan sekali-kali
tidak sama orang buta dengan orang
yang melihat. Dan tidak sama kegelapan dengan cahaya. Dan
tidak sama teduh dengan panas. وَ مَا یَسۡتَوِی الۡاَحۡیَآءُ
وَ لَا الۡاَمۡوَاتُ -- Dan sekali-kali
tidak sama yang hidup dengan yang mati. اِنَّ اللّٰہَ یُسۡمِعُ مَنۡ
یَّشَآءُ -- Sesungguhnya Allah membuat mendengar siapa yang dikehendaki-Nya, وَ مَاۤ اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ -- dan engkau
sekali-kali tidak dapat membuat mendengar orang yang ada dalam kubur. اِنۡ اَنۡتَ
اِلَّا نَذِیۡرٌ -- Engkau
tidak lain melainkan seorang pemberi
peringatan (Al-Fāthir [35]:20-24).
Orang-orang beriman telah disebut orang-orang “yang hidup,” sebab dengan menerima kebenaran yang diajarkan Rasul
Allah mereka memperoleh suatu kehidupan baru, sedangkan orang-orang
kafir disebut orang-orang “yang mati,”
sebab dengan menolak kebenaran -- yang merupakan air kehidupan abadi -- mereka mendatangkan kematian ruhani atas diri mereka sendiri.
Tidak Mampu Membedakan Tuhan
Yang Hakiki dengan Tuhan-tuhan Palsu
Tidaklah mungkin bagi seorang nabi Allah membuat mereka yang sengaja menutup hati dan telinga mereka mendengar dan menerima seruan
Ilahi. Orang-orang semacam itu secara
ruhani telah mati dan bagaikan orang-orang yang terpendam
dalam kuburan: وَ مَاۤ اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ -- “dan engkau
sekali-kali tidak dapat membuat mendengar orang yang ada dalam kubur.” Firman-Nya lagi:
مَثَلُ الۡفَرِیۡقَیۡنِ کَالۡاَعۡمٰی وَ الۡاَصَمِّ وَ الۡبَصِیۡرِ وَ
السَّمِیۡعِ ؕ ہَلۡ یَسۡتَوِیٰنِ مَثَلًا ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿٪﴾
Keadaan kedua golongan itu adalah semisal keadaan orang buta lagi tuli dengan orang melihat lagi mendengar. Apakah
sama misal kedua orang itu?
Tidakkah kamu mau
mengerti? (Hūd [11]:25).
Suatu perumpamaan yang indah telah dikemukakan dalam ayat tersebut untuk menjelaskan perbedaan antara keimanan
dan kekafiran. Orang mukmin digambarkan sebagai orang yang
mempunyai daya melihat dan mendengar yang sempurna, sedang orang kafir diibaratkan sebagai orang buta dan tuli, sampai-sampai mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan yang hakiki, yaitu Allah
Swt., dengan tuhan-tuhan
palsu, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ
اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ
لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ
الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb
(Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak
memiliki kekuasaan untuk kemanfaatan
ataupun kemudaratan, meskipun
bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی
الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ -- Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan orang-orang
yang melihat? اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی
الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ -- Atau samakah gelap dan terang? َمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ -- Atau apakah
mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu
yang telah menciptakan seperti
ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi
mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 4 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar