Kamis, 03 September 2015

Munculnya Berbagai Bentuk "Thaghut" (Berhala Sembahan) Pada Masa "Fatrah" (Masa Jeda Pengutusan Rasul Allah) & Perbedaan Orang-orang yang Beriman Kepada "Nur di Atas Nur" dengan Mereka yang Berada Dalam "Kegelapan di Atas Kegelapan"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 27

Munculnya Berbagai Bentuk “Thaghut" (Berhala Sembahan) Pada Masa Fatrah (Masa Jeda Pengutusan Rasul Allah) & Perbedaan Orang-orang yang Beriman Kepada  “Nur di atas Nur” dengan Mereka yang Berada  Dalam “Kegelapan di Atas Kegelapan

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai firman Allah Swt.  dalam Surah At-Taubah: ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ   -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ  -- walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya  (At-Taubah [9]:33), dan lihat pula QS.61:10.
         Para mufassir (ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  kemenangan Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s.  (Tafsir Al-Quran oleh  Ibnu Jarir Thabari), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bangkit dan akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
         Cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan masuk ke dalam haribaan Islam dalam jumlah besar, sebagaimana yang pernah terjadi di masa awal kejayaan Islam yang pertama, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾   اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  ۙ اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ --   Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا --   dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allāh berbon-dong-bondong,   فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ -- maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau,  dan mohonlah ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  -- sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat  (An-Nashr [110]:1-4).
        Kejayaan Islam yang kedua kali  di Akhir Zaman ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan cara-cara kekerasan secara fisik  -- sehingga terjadi pertumpahan darah   --  sebab yang tampil adalah Sifat Ahmad dari Nabi Besar Muhammad saw., yang menggambarkan jamaliyat (keindahan) beliau saw., sebagaimana pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berikut ini mengenai nubuatan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.,  firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  اِنِّیۡ  رَسُوۡلُ  اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا  لِّمَا بَیۡنَ  یَدَیَّ  مِنَ  التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ  -- dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.” فَلَمَّا جَآءَہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ --     Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah  sihir yang nyata.” (Ash-Shaf [61]:7).
         Di Akhir Zaman ini  Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)   -- yang  juga merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw.   (QS.62:3-4)  --  telah memberi nama Ahmadiyah kepada jama’ah Muslim   yang didirikannya atas perintah Allah Swt.,  sesuai dengan sifat jamaliyah (keindahan/kelembutan) Nabi Besar Muhammad saw., yakni “Ahmad.”

Kemunculan “Thāghūt” Sebagai “Sembahan” di Kalangan  Berbagai Firqah Umat Beragama

        Pendek kata, hanya melalui upaya penegakkan kembali Tauhid Ilahi dengan perantaraan pengutusan Rasul Allah yang dijanjikan sajalah   -- yakni melalui “Tali Allah” yang diulurkan dari langit (QS.3:103-105; QS.61:10)  -- kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini, insya Allah, akan kembali terwujud, firman-Nya:
فَاَقِمۡ  وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ  الَّتِیۡ فَطَرَ  النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah engkau  kepada agama yang lurus, yaitu fitrat Allah,  yang atas dasar itu  Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah,  itulah agama yang lurus,  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ    --  Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat,   وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ --     Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ --     tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar- Rūm [30]:31-33).
         Tuhan adalah  Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri (QS.7:173-175). Di dalam agama inilah seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
      Ayat 32 menjelaskan bahwa hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan mutlak dan Keesaan Tuhan  -- yang sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki  -- adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu  shalat – yang merupakan sarana utama pelaksanaan haququllūh -- adalah  yang harus mendapat prioritas utama.
        Penyimpangan dari agama sejati menjuruskan umat di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran atau firqah-firqah serta mazhab-mazhab yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa berkepanjangan di antara mereka akibat keangkuhan  dari para pemimpin  firqah atau mazhab  tersebut dan berusaha untuk ditaati  oleh para pengikutnya, sehingga sekan-akan mereka itu menjadi “tuhan-tuhan sembahan” (thāghūt) mereka, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan, firman-Nya:
اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾٪
Allah adalah Pelindung orang-orang beriman, یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ --  Dia menge-luarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya, وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ  -- dan orang-orang kafir  pelindung mereka adalah thāghūt, یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ -- yang   mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai kegelapan, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  mereka itu  penghuni Api, mereka kekal di dalamnya  (Al-Baqarah [2]:258).

Pengaruh Luar Biasa  “Nur di atas Nur”  Terhadap  Para  Pengamalnya

        Kembali kepada masalah firman Allah Swt. mengenai  نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ – “Nur di atas nur”  yang uraikan dalam Bab 23 berkenaan dengan Nabi besar Muhammad saw., firman-Nya:
 اَللّٰہُ  نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ  فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ  زَیۡتُوۡنَۃٍ  لَّا شَرۡقِیَّۃٍ  وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur  seluruh langit dan bumi. Perumpamaan nur-Nya   seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca.   Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu  pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- Nur di atas nur.  یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ  -- Allah memberi bimbingan menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ --  dan Allah mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  -- dan Allah Maha  Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).
          Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai pengaruh luar-biasa dari  نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ – “Nur di atas nur” tersebut: 
فِیۡ  بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ  اَنۡ تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ یُسَبِّحُ لَہٗ  فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ۙ﴾  رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ  وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ  اِقَامِ الصَّلٰوۃِ  وَ  اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ ۪ۙ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ ﴿٭ۙ﴾  لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ  اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ  بِغَیۡرِ  حِسَابٍ ﴿﴾
Di dalam rumah yang Allah telah mengizinkan supaya ditinggikan dan nama-Nya diingat di dalamnya, یُسَبِّحُ لَہٗ  فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ --  bertasbih kepada-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ  وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ  اِقَامِ الصَّلٰوۃِ  وَ  اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ -- Orang-orang lelaki, tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah perniagaan dan tidak pula jual-beli, mendirikan shalat dan membayar zakat, یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ --   mereka takut akan hari ketika   di dalamnya hati dan mata berubah-ubah, لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ  اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا  -- supaya  Allah memberi mereka ganjaran yang sebaik-baiknya atas apa yang telah mereka kerjakan, وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ  -- dan Allah akan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ  بِغَیۡرِ  حِسَابٍ -- Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (An-Nūr [24]:37-39).
         Ayat ini berisikan suatu bukti dan juga suatu nubuatan. Ayat ini menubu-atkan, bahwa rumah-rumah yang disinari oleh cahaya yang terdapat dalam Al-Quran akan dimuliakan dan para penghuninya senantiasa akan mengirim persembahan sanjung-puji kepada Allah Swt.. Ini akan merupakan bukti bahwa rumah-rumah itu disinari oleh nur Ilahi.
        Ayat selanjutnya  رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ  وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ  اِقَامِ الصَّلٰوۃِ  وَ  اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ --     Orang-orang lelaki, tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah perniagaan dan tidak pula jual-beli, mendirikan shalat dan membayar zakat”,  merupakan pengakuan agung terhadap ketakwaan dan kebaikan sahabat-sahabat Nabi Besar Muhammad saw.   dan terhadap kecintaan mereka kepada Allah Swt..
      Mereka itu orang-orang — demikian kata ayat itu — yang berdaging dan bertulang. Mereka pun mempunyai kemauan-kemauan dan keinginan-keinginan duniawi, pekerjaan-pekerjaan, dan kesibukan-kesibukan. Mereka bukan rahib-rahib atau petapa-petapa yang telah memutuskan hubungan dengan dunia. Namun di tengah-tengah segala kesibukan dan perjuangan dalam urusan dunianya  mereka tidak lalai menjalankan kewajiban-kewajiban mereka kepada Allah   Swt. (haququllāh) dan manusia (haququl- ‘ibād).

Kegelapan di Atas  Kegelapan

       Bertolak belakang dengan  نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍNur di atas nur”   yang diamalkan para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw.  yang sejati, selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai para penentang Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran:
وَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اَعۡمَالُہُمۡ کَسَرَابٍۭ بِقِیۡعَۃٍ یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَہٗ  لَمۡ  یَجِدۡہُ شَیۡئًا وَّ وَجَدَ  اللّٰہَ عِنۡدَہٗ  فَوَفّٰىہُ حِسَابَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿ۙ﴾  اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ  بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ ؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ  لَمۡ  یَکَدۡ یَرٰىہَا ؕ وَ مَنۡ  لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ   لَہٗ   نُوۡرًا  فَمَا  لَہٗ  مِنۡ  نُّوۡرٍ ﴿٪﴾ 
Dan orang-orang kafir   amal-amal mereka bagaikan fatamorgana di padang pasir,  یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً -- orang-orang  yang haus menyangkanya air, حَتّٰۤی اِذَا جَآءَہٗ  لَمۡ  یَجِدۡہُ شَیۡئًا  -- hingga apabila ia mendatanginya  ia tidak mendapati sesuatu pun, وَّ وَجَدَ  اللّٰہَ عِنۡدَہٗ  فَوَفّٰىہُ حِسَابَہٗ  -- dan ia mendapati Allah di sisinya lalu Dia membayar penuh per-hitungannya, وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ  -- dan Allah sangat cepat dalam perhitungan. اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ   --  Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya gelombang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. ظُلُمٰتٌۢ  بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ  -- Kegelapan sebagiannya di atas sebagian lain. اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ  لَمۡ  یَکَدۡ یَرٰىہَا  -- Apabila ia mengulurkan tangan-nya ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya, وَ مَنۡ  لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ   لَہٗ   نُوۡرًا  فَمَا  لَہٗ  مِنۡ  نُّوۡرٍ --  dan barangsiapa baginya   Allah tidak menjadikan nur maka baginya tidak ada nur  (An-Nūr [24]:40-41).  
        Dalam ayat-ayat 37-39 sebelumnya  telah dikemukakan kata-kata penghargaan yang ditujukan kepada suatu golongan manusia  yaitu para pencinta Nur Ilahi atau hamba-hamba Allah yang bertakwa, ayat ini dan ayat sebelumnya membicarakan sesuatu golongan manusia lainnya  yaitu anak-anak kegelapan.
       Golongan pertama menerima nur serta berjalan di dalamnya. Keadaan mereka yang sungguh membangkitkan rasa iri itu telah digambarkan dalam tamsil (perumpamaan) dengan kata-kata  نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- “nur di atas nur”. Sedangkan golongan kedua menolak nur Ilahi dan memilih jalan kegelapan dalam rimba keragu-raguan. Segala usaha mereka terbukti sia-sia serta menyesatkan, laksana suatu fatamorgana.
       Mereka suka kepada kegelapan, mengikuti langkah kegelapan dan tinggal dalam kegelapan,  maka keadaan mereka yang tidak menarik itu telah dilukiskan dengan tepat dan jelas lagi terperinci dengan kata-kata  اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ  بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ --   “atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya gelombang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. Kegelapan sebagiannya di atas sebagian lain.”

Tidak Mampu Membedakan Kebenaran  dengan  Kepalsuan
  
         Jika keadaan umat manusia sudah berada dalam kegelapan yang pekat  seperti itu   -- yang bahkan mereka tidak dapat melihat tangannya sendiri: اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ  لَمۡ  یَکَدۡ یَرٰىہَا  -- “apabila ia mengulurkan tangannya ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya”, lalu bagaimana  mereka bisa memberi petunjuk kepada orang-orang lain yang juga berada dalam kegelapan yang pekat?  Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman:
اَوَ مَنۡ کَانَ مَیۡتًا فَاَحۡیَیۡنٰہُ وَ جَعَلۡنَا لَہٗ نُوۡرًا یَّمۡشِیۡ بِہٖ فِی النَّاسِ کَمَنۡ مَّثَلُہٗ فِی الظُّلُمٰتِ لَیۡسَ بِخَارِجٍ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ زُیِّنَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا فِیۡ کُلِّ قَرۡیَۃٍ اَکٰبِرَ مُجۡرِمِیۡہَا لِیَمۡکُرُوۡا فِیۡہَا ؕ وَ مَا یَمۡکُرُوۡنَ  اِلَّا بِاَنۡفُسِہِمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾   
Dan apakah  orang yang telah mati lalu Kami menghidupkannya dan Kami menjadikan baginya cahaya dan ia berjalan dengan cahaya itu  di tengah-tengah manusia, sama  seperti keadaan  orang yang berada di dalam berbagai macam kegelapan  dan ia  sekali-kali tidak  dapat keluar darinya?  Demikianlah telah ditampakkan indah bagi orang-orang kafir apa yang senantiasa mereka kerjakan.   Dan demikianlah Kami  menjadikan di dalam tiap negeri pendosa-pendosa besarnya, supaya mereka melakukan makar di dalam negeri itu, tetapi sekali-kali tidak ada yang terkena makar mereka kecuali dirinya sendiri tetapi mereka tidak menyadarinya.  (Al-An’ām [6]:123-124).
        Bagaimana mana pun  orang   buta  tidak akan dapat  menuntun orang-orang yang buta lainnya untuk menempuh jalan-jalan keselamatan, sebagaimana jika dituntun oleh orang-orang yang pencainderanya normal, firman-Nya:
وَ مَا یَسۡتَوِی  الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ﴿ۙ﴾  وَ لَا الظُّلُمٰتُ وَ لَا  النُّوۡرُ ﴿ۙ﴾ وَ لَا الظِّلُّ  وَ لَا  الۡحَرُوۡرُ ﴿ۚ﴾  وَ مَا یَسۡتَوِی  الۡاَحۡیَآءُ  وَ لَا الۡاَمۡوَاتُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  یُسۡمِعُ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَاۤ  اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ  مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ ﴿﴾  اِنۡ  اَنۡتَ  اِلَّا  نَذِیۡرٌ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak sama  orang buta dengan  orang yang melihat.   Dan  tidak sama kegelapan dengan cahaya.   Dan tidak  sama teduh dengan panas.  وَ مَا یَسۡتَوِی  الۡاَحۡیَآءُ  وَ لَا الۡاَمۡوَاتُ  --   Dan sekali-kali tidak sama yang hidup dengan yang mati. اِنَّ اللّٰہَ  یُسۡمِعُ مَنۡ یَّشَآءُ --     Sesungguhnya Allah membuat mendengar siapa yang dikehendaki-Nya, وَ مَاۤ  اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ  مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ --  dan engkau sekali-kali tidak dapat membuat mendengar  orang yang ada dalam kubur.  اِنۡ  اَنۡتَ  اِلَّا  نَذِیۡرٌ --   Engkau tidak lain melainkan seorang pemberi peringatan  (Al-Fāthir [35]:20-24).
    Orang-orang beriman telah disebut orang-orang “yang hidup,” sebab dengan menerima kebenaran yang diajarkan Rasul Allah  mereka memperoleh suatu kehidupan baru, sedangkan  orang-orang kafir disebut orang-orang “yang mati,” sebab dengan menolak kebenaran  -- yang merupakan air kehidupan abadi  --  mereka mendatangkan kematian ruhani atas diri mereka sendiri.

Tidak Mampu Membedakan Tuhan Yang Hakiki dengan Tuhan-tuhan Palsu

       Tidaklah mungkin bagi seorang nabi Allah membuat mereka yang sengaja menutup hati dan telinga mereka mendengar dan menerima seruan Ilahi. Orang-orang semacam itu secara ruhani telah mati   dan bagaikan orang-orang yang terpendam dalam kuburan: وَ مَاۤ  اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ  مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ --  “dan engkau sekali-kali tidak dapat membuat mendengar  orang yang ada dalam kubur.” Firman-Nya lagi:
مَثَلُ الۡفَرِیۡقَیۡنِ کَالۡاَعۡمٰی وَ الۡاَصَمِّ وَ الۡبَصِیۡرِ وَ السَّمِیۡعِ ؕ ہَلۡ یَسۡتَوِیٰنِ مَثَلًا ؕ اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿٪﴾
Keadaan kedua golongan itu adalah semisal keadaan orang buta lagi tuli dengan orang melihat lagi mendengar. Apakah sama misal kedua orang itu? Tidakkah  kamu  mau mengerti? (Hūd [11]:25).
        Suatu perumpamaan yang indah telah dikemukakan dalam ayat tersebut  untuk menjelaskan perbedaan antara keimanan dan kekafiran. Orang mukmin digambarkan sebagai orang yang mempunyai daya melihat dan mendengar yang sempurna, sedang orang kafir diibaratkan sebagai orang buta dan tuli, sampai-sampai mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan yang hakiki, yaitu Allah Swt.,  dengan tuhan-tuhan  palsu,  firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah  Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung  yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ --  Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan  orang-orang yang melihat?  اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ -- Atau samakah gelap dan terang? َمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ  -- Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 4 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar