بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 41
Empat Sifat Tasybihiyah Allah Swt.
-- Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat -- Dalam
Perwujudannya Berlaku: Sangat
Umum, Umum, Khusus
dan Sangat Khusus
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan hikmah urutan keempat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah, yang dimulai dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. yang
bersifat “sangat umum”:
“Dalam Surah Al-Fatihah, Allah
Yang Maha Perkasa mengemukakan 4 Sifat-sifat-Nya yaitu Rabbul
‘ālamīn (Pencipta seluruh alam), Rahmān (Maha Pemurah), Rahīm (Maha Penyayang) dan Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari pembalasan). Urutan
penyampaian Sifat-sifat itu
merupakan urutan alamiah perwujudannya.
Rahmat
Ilahi dimanifestasikan di dunia dalam 4 bentuk. Yang pertama
(Rabubiyat) adalah rahmat yang berlaku sangat umum. Ini
adalah Sifat yang merupakan rahmat
mutlak yang melingkupi semua hal di langit dan di bumi tanpa
membedakan mahluk hidup dengan benda mati.
Perwujudan
segala hal dari keadaan ketiadaan yang kemudian berkembang menuju kesempurnaannya adalah
berkat dari rahmat (Rabubiyat) ini. Tidak ada yang berada di luar ruang
lingkup rahmat ini. Semua jasmani
dan ruhani dimanifestasikan (diwujudkan) oleh dan melalui rahmat
ini dan semuanya berkembang atau dikembangkan melalui rahmat
tersebut.
Rahmat (Rabubiyat) ini adalah inti
kehidupan dari alam semesta. Jika rahmat ini
dihentikan sesaat saja maka alam semesta
ini akan berakhir, dan jika bukan
karena rahmat ini maka tidak akan ada penciptaan [alam semesta]. Dalam Al-Quran, Sifat ini disebut sebagai Rabubiyat dan karena itu Allah disebut Rabbul ‘ālamīn (Tuhan/Pencipta seluruh alam) sebagaimana
dikatakan:
ہُوَ
رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ
Dia
adalah Rabb (Tuhan/Pencipta) segala
sesuatu (Al-An’ām
[6]:165).
Tidak ada suatu pun di alam ini yang
berada di luar rangkuman Sifat Rabubiyat-Nya. Jadi Sifat Rabbul ālamīn disebutkan dalam Surah Al-Fatihah sebagai yang pertama dari
semua Sifat rahmat Allah Swt.. Sifat ini memiliki prioritas alamiah, baik karena mewujud mendahului Sifat-sifat yang lain mau pun karena
bersifat yang paling umum dalam
ruang lingkupnya, mengingat mencakup baik makhluk hidup maupun benda
mati.
Sifat Rahmāniyat Allah Swt. Berlaku Umum Bagi Seluruh Makhluk Bernyawa
Sifat yang kedua (Rahmāniyat) juga bersifat umum. Adapun perbedaannya dengan Sifat yang disebut
sebelumnya (Rabubiyat) adalah
Sifat yang pertama mencakup keseluruhan alam semesta
sedangkan Sifat yang kedua (Rahmāniyat) bersifat karunia Ilahi yang
diberikan kepada mahluk hidup saja. Perhatian Ilahi terhadap keseluruhan makhluk hidup dianggap juga
sebagai rahmat yang bersifat umum.
Sifat (Rahmāniyat) ini berfungsi bagi semua makhluk hidup
sejalan dengan kebutuhan mereka. Rahmat ini mewujud bukan karena akibat
atau sebagai ganjaran dari amalan (perbuatan) mereka. Berkat
rahmat
ini maka semua makhluk bisa hidup,
makan, minum, terpelihara dari mara-bahaya dan terpenuhi kebutuhannya. Melalui rahmat
ini semua sarana kehidupan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup menjadi tersedia.
Adalah akibat yang dibawa Sifat (Rahmaniyat) ini maka
semua yang diperlukan ruhani bagi perkembangan jasmaninya bisa dipenuhi. Begitu juga dengan mereka --
yang selain perkembangan jasmani -- juga menginginkan perkembangan ruhani
(atau mereka memiliki kemampuan untuk perkembangan jenis demikian), maka firman Tuhan akan turun menembus keabadian
pada saat diperlukan. Melalui fungsi karunia Rahmāniyat maka manusia memenuhi berjuta keinginannya.
Tersedia baginya seluruh bumi
untuk tempat tinggal, matahari dan bulan untuk penerangan, udara untuk bernafas, air untuk diminum, segala macam pangan untuk dimakan, berjuta-juta obat untuk penyembuhan, berbagai bentuk
pakaian untuk menutup tubuh dan Kitab
Allah sebagai petunjuk. Tidak ada seorang pun manusia yang bisa mengakukan bahwa semua rahmat
itu adalah hasil karyanya, bahwa ia
dalam eksistensi (keberadaan)
sebelumnya telah melakukan suatu hal yang baik sehingga Tuhan menganugrahkan karunia
tidak berhingga ini atas umat manusia.
Dengan demikian jelas bahwa rahmat yang dimanifestasikan dalam beribu-ribu bentuk tersebut adalah manifestasi kasih Allah
Swt. agar setiap makhluk hidup bisa mencapai tujuan
hidup alamiahnya masing-masing serta memenuhi kebutuhannya, tanpa memerlukan upaya
khusus dari dirinya.
Berkat dari rahmat Ilahi (Rahmāniyat) ini memberikan semua pemenuhan kebutuhan umat manusia
dan hewan serta memberikan perlindungan agar kapasitas mereka tidak
berhenti berkembang. Eksistensi Sifat Ilahi ini ditegaskan
melalui telaah hukum alam. Tidak ada orang
berakal yang akan menyangkal bahwa matahari, bulan,
bumi dan semua elemen serta segala yang dibutuhkan yang terdapat di alam dan
menjadi sumber kehidupan mahluk,
nyatanya memang dimanifestasikan
melalui rahmat ini.
Sebutan mengenai rahmat
yang dimanfaatkan semua makhluk yang
bernafas -- tanpa pembedaan manusia
atau hewan, mukmin atau kafir, baik atau jahat -- adalah Rahmāniyat dan karenanya Allah disebut sebagai Al-Rahmān (Maha Pemurah) dalam Surah Al-Fatihah setelah Sifat Rabbul
‘ālamīn.
Beberapa Contoh Perwujudan Sifat Rahmāniyat
(Maha Pemurah) Allah Swt. dan Peragaannya
Dalam Kehidupan Manusia
Sifat Ilahi ini disebut di beberapa
tempat dalam Al-Quran, sebagai contoh:
وَ اِذَا
قِیۡلَ لَہُمُ اسۡجُدُوۡا لِلرَّحۡمٰنِ قَالُوۡا وَ مَا الرَّحۡمٰنُ ٭ اَنَسۡجُدُ لِمَا
تَاۡمُرُنَا وَ زَادَہُمۡ
نُفُوۡرًا ﴿٪ٛ﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ جَعَلَ فِی السَّمَآءِ
بُرُوۡجًا وَّ جَعَلَ فِیۡہَا
سِرٰجًا وَّ قَمَرًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ
خِلۡفَۃً لِّمَنۡ اَرَادَ اَنۡ
یَّذَّکَّرَ اَوۡ اَرَادَ شُکُوۡرًا ﴿﴾ وَ عِبَادُ
الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ یَمۡشُوۡنَ
عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا وَّ اِذَا خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ قَالُوۡا سَلٰمًا ﴿﴾
Apabila dikatakan kepada mereka: “Bersujudlah kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah” قَالُوۡا وَ مَا الرَّحۡمٰنُ
-- mereka berkata: “Dan siapakah Tuhan Yang Maha Pemurah itu? Haruskah
kami bersujud kepada apapun yang engkau suruh kami?” Dan hal ini menambah keengganan mereka. تَبٰرَکَ الَّذِیۡ
جَعَلَ فِی السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ
جَعَلَ فِیۡہَا سِرٰجًا وَّ قَمَرًا مُّنِیۡرًا
-- Maha Beberkatlah Dia Yang telah menjadikan gugusan bintang di langit dan telah menempatkan di dalamnya matahari yang menerbitkan cahaya dan bulan yang memantulkan cahaya. وَ ہُوَ الَّذِیۡ
جَعَلَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ خِلۡفَۃً لِّمَنۡ اَرَادَ اَنۡ یَّذَّکَّرَ اَوۡ اَرَادَ شُکُوۡرًا -- Dan Dia-lah Yang telah menjadikan malam dan
siang, masing-masing susul menyusul,
untuk kemanfaatan bagi orang yang
ingin mengambil pelajaran atau mau bersyukur. وَ عِبَادُ الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ یَمۡشُوۡنَ عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا -- Dan hamba-hamba
sejati dari Tuhan Yang Maha Pemurah
ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri, وَّ اِذَا خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ قَالُوۡا سَلٰمًا -- dan apabila orang jahil menegur mereka, mereka menghindari mereka itu dengan anggun seraya mengucapkan: “Selamat sejahtera!”’ (Al-Furqān [25]:61-64).
Maksudnya, ketika orang-orang kafir, para penyembah berhala (pagan) dan para atheis diingatkan untuk bersujud
di hadapan Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah), mereka merasa tidak menyukai nama Al-Rahmān dan mereka bertanya: ‘Apa itu Rahmān?’
Jawabannya adalah, Rahmān adalah Wujud Yang Berberkat, Yang menjadi Sumber dari segala
hal yang baik, Yang telah menciptakan gugusan-gususan bintang di
langit dan menempatkan matahari dan bulan dalam gugusan tersebut guna memberikan cahaya kepada semua makhluk tanpa
membedakan mereka yang beriman
atau yang kafir.
Adalah Al-Rahmān yang sama yang telah menciptakan malam
dan siang bagi manusia agar para pencari kebenaran bisa menarik manfaat dari pengaturan yang bijaksana itu dan membebaskan dirinya
dari kebodohan dan ketidak-acuhan, dengan demikian mereka yang tahu berterima kasih akan bersyukur. Penyembah
sejati dari Wujud Al-Rahmān adalah mereka yang berjalan di muka
bumi dengan rendah hati, dimana ketika orang-orang bodoh mencacinya,
mereka menjawab dengan kata-kata “salam“ dan kasih sayang.
Dengan kata lain, mereka membalas kekerasan dengan kelembutan dan sebagai imbalan
dari caci maki, mereka malah mendoakan
para pencaci itu. Melalui cara itu mereka memperlihatkan sifat
kasih sayang sebagaimana
Yang
Maha Pemurah telah memberi berkat
dalam bentuk matahari, bulan, bumi dan segala hal bagi
semua makhluk-Nya tanpa membedakan baik atau jahat.
Dalam ayat-ayat itu ditekankan
bahwa kata Al-Rahmān digunakan hanya untuk Allah
Swt. karena Kasih-Nya meliputi semua yang baik mau pun yang jahat.
Penangguhan Azab Sebagai Pemberian Kesempatan Untuk Bertaubat
Di tempat lain dikatakan:
عَذَابِیۡۤ اُصِیۡبُ
بِہٖ مَنۡ اَشَآءُ ۚ وَ رَحۡمَتِیۡ وَسِعَتۡ کُلَّ
شَیۡءٍ
Siksaan-Ku Aku timpakan kepada siapa
yang Aku kehendaki, tetapi rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.’ (Al-A’rāf [7]:157).
Begitu juga di tempat lain dinyatakan:
مَنۡ یَّکۡلَؤُکُمۡ بِالَّیۡلِ وَ النَّہَارِ مِنَ الرَّحۡمٰنِ ؕ
بَلۡ ہُمۡ عَنۡ ذِکۡرِ رَبِّہِمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ ﴿﴾
Siapakah yang dapat melindungi
kamu pada waktu malam dan siang hari terhadap (kemurkaan) Tuhan Yang Maha Pemurah?’ Bahkan mereka berpaling dari peringatan
Rabb (Tuhan) mereka. (Al-Anbiya [21]:43).
Dengan kata lain dinyatakan bahwa baik yang ingkar atau pun yang kafir
sudah diberitahu bahwa jika bukan karena Sifat
Rahmāniyat, maka mereka tidak akan terhindar
dari penghukuman samawi. Adalah
melalui sifat Rahmāniyat maka Allah Swt. memberikan sela (tenggang) waktu kepada para kafir
dan penyembah berhala, serta tidak
langsung menghukum mereka. Di tempat lain dikemukakan:
اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اِلَی الطَّیۡرِ فَوۡقَہُمۡ صٰٓفّٰتٍ
وَّ یَقۡبِضۡنَ ؔۘؕ مَا یُمۡسِکُہُنَّ
اِلَّا الرَّحۡمٰنُ ؕ اِنَّہٗ
بِکُلِّ شَیۡءٍۭ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Tidakkah mereka melihat burung-burung di atas mereka mengembangkan
sayap mereka di waktu terbang
dan kemudian mengatupkannya ketika menyambar mangsa? Tiada yang dapat menahan mereka selain Tuhan Yang Maha Pemurah.
(Al-Mulk [67]:20).
Berarti karunia Sifat Rahmāniyat meliputi semua makhluk
hidup sehingga burung yang tidak
berarti pun bisa terbang gembira
dalam arus rahmat ini. Karena rahmat ini secara alamiah datang setelah Sifat Rabbubiyat, maka dalam Surah Al-Fatihah urutannya pun jadi demikian.
Sifat Rahīmiyat Allah Swt. Berlaku
Khusus Bagi Orang-orang Beriman
Rahmat yang ketiga (Rahīmiyat/Maha
Penyayang) merupakan rahmat yang bersifat khusus.
Perbedaan rahmat ini dengan rahmat yang bersifat umum (Rahmāniyat) adalah pada yang bersifat umum
tidak ada dipersyaratkan kepada
penerimanya untuk berperilaku baik atau mencerahkan
egonya dari kegelapan ruhani,
atau pun sengaja berupaya guna memperolehnya. Berkat Allah Swt. dari rahmat
yang bersifat umum adalah berupa karunia kepada semua makhluk hidup
menurut apa yang dibutuhkannya tanpa
perlu ada upaya khusus dari pihak yang bersangkutan.
Adapun untuk rahmat yang
bersifat khusus (Rahīmiyat),
diperlukan adanya usaha dan upaya untuk mensucikan hati, bersujud, memperhatikan perintah
Allah Swt. dan semua tindakan lainnya yang dipersyaratkan. Hanya yang melaksanakan hal-hal tersebut yang akan
memperoleh rahmat tersebut. Eksistensi
(penampakkan) dari Sifat ini juga
ditunjukkan melalui telaah hukum alam.
Jelas bahwa mereka yang berupaya di jalan Allah dan mereka yang tidak
acuh, tidak akan bisa sama statusnya.
Tanpa diragukan, berkat khusus hanya turun bagi mereka yang berjuang
di jalan Allah, serta menjauh dari segala kegelapan dan kekacauan.
Berkat rahmat ini maka dalam Al-Quran
nama Tuhan disebut sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang). Karena Sifat Rahīmiyat bersifat khusus dan terwujud
karena pemenuhan beberapa persyaratan tertentu, makanya disebut
setelah Sifat Rahmāniyat karena sifat Rahmāniyat dimanifestasikan sebelum Sifat Rahīmiyat muncul. Itulah sebabnya Sifat Rahīmiyat dalam Surah Al-Fatihah
disebutkan setelah Sifat Rahmāniyat. Sifat Rahīmiyat disebut di beberapa tempat dalam Al-Quran. Sebagai contoh, dinyatakan:
وَ کَانَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ
رَحِیۡمًا ﴿﴾
Dia Maha
Penyayang terhadap orang-orang
yang beriman.
(Al-Ahzāb [33]:44).
Berarti Sifat Rahīmiyat Allah Swt. terbatas hanya bagi
mereka yang beriman saja, sedangkan orang
kafir dan penyangkal tidak mendapat bagian.
Perlu diingatkan lagi bahwa pemberlakuan Sifat Rahīmiyat terbatas hanya bagi
orang-orang beriman saja, sedangkan Sifat Rahmāniyat tidak terbatas. Tidak ada disebutkan bahwa Tuhan bersifat Rahmān hanya untuk orang-orang beriman, karena bagi mereka ini yang berlaku adalah Sifat Rahīm. Di
tempat lain dikemukakan:
اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ
قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Al-A’rāf
[7]:57).
Begitu juga dikatakan:
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
الَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ ۙ اُولٰٓئِکَ
یَرۡجُوۡنَ رَحۡمَتَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ
غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan
orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’ (Al-Baqarah [2]:219).
Dengan kata lain, Sifat Rahīmiyat-Nya hanya dikaruniakan kepada mereka yang berhak saja. Tidak ada seorang pun yang tidak akan menemukan-Nya jika memang mau mencari. Pencinta macam apakah ia itu jika Yang Maha Penyayang tidak
menyukainya?
“Wahai Junjungan-ku, apa yang masih kurang adalah penyakitnya,
karena Sang Maha
Penyembuh selalu ada”.
Sifat Mālikiyat Yaumid-dīn Allah Swt. Allah Swt. Berlaku Sangat Khusus dan Menjelma
Sepenuhnya di Alam Akhirat
Rahmat yang keempat (Mālikiyat)
bersifat sangat khusus. Rahmat
ini tidak bisa dicapai semata-mata dengan upaya dan usaha saja. Syarat
pertama dari manifestasi (penampakkan) Sifat ini adalah dihancurkannya
terlebih dahulu dunia ini, dimana kekuasaan Allah Swt. dalam keagungan-Nya
yang sempurna akan mewujud
“telanjang” tanpa intrusi
(gangguan/halangan) sarana apa pun. Rahmat
terakhir ini mewujud setelah rahmat-rahmat lainnya berakhir.
Rahmat ini berbeda
dengan sifat rahmat lainnya dalam kesempurnaannya
karena bersifat terbuka, jelas, nyata, tanpa ada yang ditutupi
atau pun ada kekurangan. Tidak ada
apa pun yang bisa diragukan mengenai
pengenaan rahmat ini, begitu juga dengan realitas, kesucian dan kesempurnaan sifat rahmat tersebut.
Kemurahan
dan pengganjaran yang dilakukan Yang Maha Abadi, Pengarunia segala berkat,
akan muncul terang seperti siang hari dimana si penerima berkat akan mengetahui dan merasakan secara pasti karunia dan kegembiraan serta perhatian
yang dilimpahkan-Nya, dan bahwa ia menerima ganjaran tersebut
sebagai imbalan dari perilakunya yang benar dan sempurna. Karunia yang
diterimanya bersifat amat jelas dan agung tanpa ada ujian atau cobaan
lagi yang harus ditempuhnya.
Agar bisa menjadi penerima berkat
yang lengkap dan sempurna serta abadi demikian, diperlukan adanya transportasi yang
bersangkutan dari dunia yang cacat,
sempit, guram dan fana ini, karena rahmat
tersebut merupakan pengalaman
manifestasi akbar (penampakan besar)
dimana keindahan Sang Maha Penyayang (Al-Rahīm) akan terlihat secara jelas dan dialami
secara pasti tanpa ada tahap-tahapan
manifestasi (penampakkan) dan pemastian
serta tidak ada tabir sarana material
yang menghalanginya.
Segenap rincian dari pemahaman (makrifat) yang lengkap harus mewujud dengan kekuatan penuh. Manifestasi (penampakan)
itu harus demikian jernih dan pasti sehingga Allah Sendiri yang nantinya akan menyatakan bahwa mereka itu terbebas dari ujian atau cobaan
apa pun. Manifestasi tersebut akan membawa kegembiraan tinggi
yang sempurna bagi hati, jiwa serta semua indera jasmani dan ruhani
pada tingkatnya yang paling tinggi
yang tidak mungkin bisa lebih baik lagi.
Dunia yang tidak sempurna
pada intinya, berkabut dalam
penampilannya, fana (tidak kekal)
dalam wujudnya serta sempit dalam
ruang lingkupnya, tidak akan mampu menampung
manifestasi (penampakkan) akbar demikian dimana cahaya
yang suci dan karunia yang abadi serta nur
sempurna yang kekal menjadi bagian darinya.
Untuk manifestasi demikian itu dibutuhkan dunia lain yang
sepenuhnya bebas dari kegelapan
oleh sarana material serta harus berwujud manifestasi sempurna
dari kekuasaan Yang Maha Kuasa.
Orang-orang yang “Mati Sebelum Mati”
Rahmat yang amat khusus ini
sampai suatu tingkat tertentu
dinikmati dalam kehidupan sekarang
oleh mereka yang memiliki kepribadian sempurna yang melangkah di jalan kebenaran,
dengan sepenuhnya bergantung kepada Allah Swt. dengan meninggalkan
nafsu dan keinginan
dirinya sendiri. Mereka sudah mengalami
kematian sebelum kematian yang
sebenarnya.
Meskipun mereka hidup di dunia ini tetapi hatinya bermukim di dunia lain.
Sebagaimana mereka mengunci hati mereka dari kehidupan
jasmani dunia ini serta meninggalkan
kebiasaan kemanusiaan dan menjauh
dari segala hal yang tidak berasal dari Allah Swt., maka sebenarnya mereka mengikuti jalan yang tidak
biasa sehingga Tuhan pun
akan memperlakukan mereka dengan cara
yang sama (yang khusus).
Dengan cara yang luar biasa Dia akan memanifestasikan (menampakan) bagi mereka nur yang hanya bisa dilihat manusia lainnya setelah kematian mereka. Mereka ini mengalami rahmat
yang bersifat sangat khusus itu sampai suatu tingkat tertentu di
dalam kehidupan sekarang. Rahmat ini bersifat sangat
khusus dan menjadi pamungkas dari semua rahmat
lainnya.
Barangsiapa yang berhasil mencapainya
berarti telah berhasil memperoleh keberuntungan
yang paling besar dan akan menikmati
kesejahteraan
abadi yang menjadi sumber
dari semua kegembiraan. Barangsiapa
yang dikucilkan dari rahmat
ini berarti telah dikutuk selamanya masuk neraka. Menurut Sifat-Nya ini maka Allah Yang Maha Perkasa menyebut diri-Nya
dalam Al-Quran sebagai Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari
pembalasan).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 16 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar