Rabu, 16 September 2015

Empat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. -- Rabubiyat, Rahmaaniyat, Rahiimiyat, dan Maalikiyat -- Dalam Perwujudannya Berlaku: Sangat Umum, Umum, Khusus, dan Sangat Khusus --


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 41

Empat Sifat Tasybihiyah  Allah Swt.  -- Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat   --  Dalam Perwujudannya   Berlaku: Sangat Umum, UmumKhusus dan Sangat Khusus

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan hikmah urutan  keempat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah, yang dimulai dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. yang  bersifat “sangat  umum”:
      “Dalam Surah Al-Fatihah, Allah Yang Maha Perkasa mengemukakan 4  Sifat-sifat-Nya yaitu Rabbul ‘ālamīn   (Pencipta seluruh alam), Rahmān (Maha Pemurah), Rahīm (Maha Penyayang) dan Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari pembalasan). Urutan  penyampaian Sifat-sifat itu merupakan urutan alamiah perwujudannya. Rahmat Ilahi dimanifestasikan di dunia dalam 4 bentuk. Yang pertama (Rabubiyat)  adalah rahmat yang berlaku sangat umum. Ini adalah Sifat yang merupakan rahmat mutlak yang melingkupi semua hal di langit dan di bumi tanpa membedakan mahluk hidup dengan benda mati.   
     Perwujudan segala hal dari keadaan ketiadaan yang kemudian berkembang menuju kesempurnaannya  adalah berkat dari rahmat (Rabubiyat) ini. Tidak ada yang berada di luar ruang lingkup rahmat ini. Semua jasmani dan ruhani dimanifestasikan  (diwujudkan) oleh dan melalui rahmat ini dan semuanya berkembang atau dikembangkan melalui rahmat tersebut.
      Rahmat (Rabubiyat) ini adalah inti kehidupan dari alam semesta. Jika rahmat ini dihentikan sesaat saja maka alam semesta ini akan berakhir, dan jika bukan karena rahmat ini maka tidak akan ada penciptaan [alam semesta]. Dalam Al-Quran, Sifat ini disebut sebagai Rabubiyat dan karena itu Allah disebut Rabbul ‘ālamīn (Tuhan/Pencipta seluruh alam) sebagaimana dikatakan:
ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ
 Dia adalah Rabb (Tuhan/Pencipta) segala sesuatu  (Al-An’ām [6]:165).
    Tidak ada suatu pun di alam ini yang berada di luar rangkuman Sifat Rabubiyat-Nya. Jadi Sifat Rabbul ālamīn disebutkan dalam Surah Al-Fatihah sebagai yang pertama dari semua Sifat rahmat  Allah Swt.. Sifat ini memiliki prioritas alamiah, baik karena mewujud mendahului Sifat-sifat yang lain mau pun karena bersifat yang paling umum dalam ruang lingkupnya, mengingat mencakup baik makhluk hidup maupun benda mati.

Sifat Rahmāniyat Allah Swt. Berlaku Umum Bagi Seluruh Makhluk Bernyawa

     Sifat yang kedua (Rahmāniyat) juga bersifat umum. Adapun perbedaannya dengan Sifat yang disebut  sebelumnya (Rabubiyat)  adalah Sifat yang pertama mencakup keseluruhan alam semesta sedangkan Sifat yang kedua (Rahmāniyat) bersifat karunia Ilahi yang diberikan kepada mahluk hidup saja. Perhatian Ilahi terhadap keseluruhan makhluk hidup dianggap juga sebagai rahmat yang bersifat umum.
     Sifat (Rahmāniyat) ini berfungsi bagi semua makhluk hidup sejalan dengan kebutuhan mereka. Rahmat ini mewujud bukan karena akibat atau sebagai ganjaran dari amalan (perbuatan) mereka. Berkat rahmat ini maka semua makhluk bisa hidup, makan, minum, terpelihara dari mara-bahaya dan terpenuhi kebutuhannya. Melalui rahmat ini semua sarana kehidupan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup menjadi tersedia.
    Adalah akibat yang dibawa Sifat (Rahmaniyat)  ini maka semua yang diperlukan ruhani bagi perkembangan jasmaninya bisa dipenuhi. Begitu juga dengan mereka -- yang selain perkembangan jasmani  --  juga menginginkan perkembangan ruhani (atau mereka memiliki kemampuan untuk perkembangan jenis demikian), maka firman Tuhan akan turun menembus keabadian pada saat diperlukan. Melalui fungsi karunia Rahmāniyat maka manusia memenuhi berjuta keinginannya.
     Tersedia baginya seluruh bumi untuk tempat tinggal, matahari dan bulan untuk penerangan, udara untuk bernafas, air untuk diminum, segala macam pangan untuk dimakan, berjuta-juta obat untuk penyembuhan, berbagai bentuk pakaian untuk menutup tubuh dan Kitab Allah sebagai petunjuk. Tidak ada seorang pun manusia yang bisa mengakukan bahwa semua rahmat itu adalah hasil karyanya, bahwa ia dalam eksistensi (keberadaan) sebelumnya telah melakukan suatu hal yang baik sehingga Tuhan menganugrahkan karunia tidak berhingga ini atas umat manusia. Dengan demikian jelas bahwa rahmat yang dimanifestasikan dalam beribu-ribu bentuk tersebut adalah manifestasi kasih Allah Swt.  agar setiap makhluk hidup bisa mencapai tujuan hidup alamiahnya masing-masing serta memenuhi kebutuhannya, tanpa memerlukan upaya khusus dari dirinya.
     Berkat dari rahmat Ilahi (Rahmāniyat)  ini memberikan semua pemenuhan kebutuhan umat manusia dan hewan serta memberikan perlindungan agar kapasitas mereka tidak berhenti berkembang. Eksistensi Sifat Ilahi ini ditegaskan melalui telaah hukum alam. Tidak ada orang berakal yang akan menyangkal bahwa matahari, bulan, bumi dan semua elemen serta segala yang dibutuhkan yang terdapat di alam dan menjadi sumber kehidupan mahluk, nyatanya memang dimanifestasikan melalui rahmat ini.
       Sebutan  mengenai rahmat yang dimanfaatkan semua makhluk yang bernafas -- tanpa pembedaan manusia atau hewan, mukmin atau kafir, baik atau jahat -- adalah Rahmāniyat dan karenanya Allah disebut sebagai Al-Rahmān (Maha Pemurah) dalam Surah Al-Fatihah setelah Sifat Rabbul ‘ālamīn.

Beberapa Contoh Perwujudan Sifat  Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. dan Peragaannya Dalam Kehidupan Manusia

        Sifat Ilahi ini disebut di beberapa tempat dalam Al-Quran, sebagai contoh:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمُ  اسۡجُدُوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ قَالُوۡا وَ مَا  الرَّحۡمٰنُ ٭ اَنَسۡجُدُ لِمَا تَاۡمُرُنَا  وَ  زَادَہُمۡ  نُفُوۡرًا ﴿٪ٛ﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ جَعَلَ فِی السَّمَآءِ  بُرُوۡجًا وَّ جَعَلَ  فِیۡہَا سِرٰجًا وَّ قَمَرًا  مُّنِیۡرًا ﴿﴾  وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ خِلۡفَۃً لِّمَنۡ اَرَادَ  اَنۡ یَّذَّکَّرَ اَوۡ اَرَادَ شُکُوۡرًا ﴿﴾  وَ عِبَادُ  الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ  یَمۡشُوۡنَ عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا وَّ اِذَا خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ  قَالُوۡا سَلٰمًا ﴿﴾
Apabila dikatakan kepada mereka: “Bersujudlah kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”  قَالُوۡا وَ مَا الرَّحۡمٰنُ  --  mereka berkata: “Dan siapakah Tuhan Yang Maha Pemurah itu? Haruskah kami bersujud kepada apapun yang engkau suruh kami?” Dan hal ini menambah keengganan mereka. تَبٰرَکَ الَّذِیۡ جَعَلَ فِی السَّمَآءِ  بُرُوۡجًا وَّ جَعَلَ  فِیۡہَا سِرٰجًا وَّ قَمَرًا  مُّنِیۡرًا  --  Maha Beberkatlah Dia Yang telah menjadikan gugusan bintang di langit dan telah menempatkan di dalamnya matahari yang menerbitkan cahaya dan bulan yang memantulkan cahaya. وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ خِلۡفَۃً لِّمَنۡ اَرَادَ  اَنۡ یَّذَّکَّرَ اَوۡ اَرَادَ شُکُوۡرًا -- Dan Dia-lah Yang telah menjadikan malam dan siang, masing-masing susul menyusul, untuk kemanfaatan bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau mau bersyukur. وَ عِبَادُ  الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ  یَمۡشُوۡنَ عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا   --   Dan hamba-hamba sejati dari Tuhan Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri, وَّ اِذَا خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ  قَالُوۡا سَلٰمًا -- dan apabila orang jahil menegur mereka, mereka menghindari mereka itu dengan anggun seraya mengucapkan: “Selamat sejahtera!”’ (Al-Furqān [25]:61-64).
       Maksudnya, ketika orang-orang  kafir, para penyembah berhala (pagan) dan para atheis diingatkan untuk bersujud di hadapan Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah), mereka merasa tidak menyukai nama Al-Rahmān dan mereka bertanya: ‘Apa itu Rahmān?’   Jawabannya adalah, Rahmān adalah Wujud Yang Berberkat, Yang menjadi Sumber dari segala hal yang baik, Yang telah menciptakan   gugusan-gususan bintang   di langit dan menempatkan matahari dan bulan dalam  gugusan  tersebut guna memberikan cahaya kepada semua makhluk tanpa membedakan mereka yang beriman atau yang kafir.
      Adalah Al-Rahmān yang sama yang telah menciptakan malam dan siang bagi manusia agar para pencari kebenaran bisa menarik manfaat dari pengaturan yang bijaksana itu dan membebaskan dirinya dari kebodohan dan ketidak-acuhan, dengan demikian mereka yang tahu berterima kasih akan bersyukurPenyembah sejati dari Wujud Al-Rahmān adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dimana ketika orang-orang bodoh mencacinya, mereka menjawab dengan kata-kata “salam“ dan kasih sayang.
     Dengan kata lain, mereka membalas kekerasan dengan kelembutan dan sebagai imbalan dari caci maki, mereka malah mendoakan para pencaci itu. Melalui cara itu mereka memperlihatkan sifat kasih sayang sebagaimana Yang Maha Pemurah telah memberi berkat dalam bentuk matahari, bulan, bumi dan segala hal bagi semua makhluk-Nya tanpa membedakan baik atau jahat.
        Dalam ayat-ayat itu ditekankan bahwa kata Al-Rahmān digunakan hanya untuk Allah  Swt. karena Kasih-Nya meliputi semua yang baik mau pun yang jahat.   

Penangguhan Azab Sebagai Pemberian  Kesempatan Untuk Bertaubat

       Di tempat lain dikatakan:
عَذَابِیۡۤ  اُصِیۡبُ  بِہٖ  مَنۡ  اَشَآءُ ۚ وَ رَحۡمَتِیۡ وَسِعَتۡ کُلَّ شَیۡءٍ
 Siksaan-Ku Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, tetapi rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.’ (Al-A’rāf [7]:157).
      Begitu juga di tempat lain dinyatakan:
مَنۡ یَّکۡلَؤُکُمۡ  بِالَّیۡلِ وَ النَّہَارِ مِنَ الرَّحۡمٰنِ ؕ بَلۡ ہُمۡ عَنۡ ذِکۡرِ رَبِّہِمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ ﴿﴾
Siapakah yang dapat melindungi kamu pada waktu malam dan siang hari terhadap (kemurkaan) Tuhan Yang Maha Pemurah?’ Bahkan mereka berpaling dari peringatan Rabb (Tuhan) mereka.  (Al-Anbiya [21]:43).
       Dengan kata lain dinyatakan bahwa baik yang ingkar atau pun yang kafir sudah diberitahu bahwa jika bukan karena Sifat Rahmāniyat, maka mereka tidak akan terhindar dari penghukuman samawi. Adalah melalui sifat Rahmāniyat maka Allah  Swt. memberikan sela (tenggang) waktu kepada para kafir dan penyembah berhala, serta tidak langsung menghukum mereka.  Di tempat lain dikemukakan:
اَوَ لَمۡ  یَرَوۡا اِلَی الطَّیۡرِ فَوۡقَہُمۡ صٰٓفّٰتٍ وَّ یَقۡبِضۡنَ ؔۘؕ مَا یُمۡسِکُہُنَّ  اِلَّا الرَّحۡمٰنُ ؕ اِنَّہٗ  بِکُلِّ  شَیۡءٍۭ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Tidakkah mereka melihat burung-burung di atas mereka mengembangkan sayap mereka di waktu terbang dan kemudian mengatupkannya ketika menyambar mangsa? Tiada yang dapat menahan mereka selain Tuhan Yang Maha Pemurah.  (Al-Mulk [67]:20).
         Berarti karunia Sifat Rahmāniyat meliputi semua makhluk hidup sehingga burung yang tidak berarti pun bisa terbang gembira dalam arus rahmat ini. Karena rahmat ini secara alamiah datang setelah Sifat  Rabbubiyat, maka dalam Surah Al-Fatihah urutannya pun jadi demikian.

Sifat Rahīmiyat Allah Swt. Berlaku  Khusus Bagi Orang-orang Beriman

     Rahmat yang ketiga (Rahīmiyat/Maha Penyayang) merupakan rahmat yang bersifat khusus. Perbedaan rahmat ini dengan rahmat yang bersifat umum (Rahmāniyat) adalah pada yang bersifat umum tidak ada dipersyaratkan kepada penerimanya untuk berperilaku baik atau mencerahkan egonya dari kegelapan ruhani, atau pun sengaja berupaya guna memperolehnya. Berkat Allah Swt.  dari rahmat yang bersifat umum adalah berupa karunia kepada semua makhluk hidup menurut apa yang dibutuhkannya tanpa perlu ada upaya khusus dari pihak yang bersangkutan.
     Adapun untuk rahmat yang bersifat khusus (Rahīmiyat), diperlukan adanya usaha dan upaya untuk mensucikan hati, bersujud, memperhatikan perintah Allah Swt.  dan semua tindakan lainnya yang dipersyaratkan. Hanya yang melaksanakan hal-hal tersebut yang akan memperoleh rahmat tersebut. Eksistensi (penampakkan) dari Sifat ini juga ditunjukkan melalui telaah hukum alam. Jelas bahwa mereka yang berupaya di jalan Allah dan mereka yang tidak acuh, tidak akan bisa sama statusnya. Tanpa diragukan, berkat khusus hanya turun bagi mereka yang berjuang di jalan Allah, serta menjauh dari segala kegelapan dan kekacauan.
     Berkat rahmat ini maka dalam Al-Quran nama Tuhan disebut sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang). Karena Sifat Rahīmiyat bersifat khusus dan terwujud karena pemenuhan beberapa persyaratan tertentu, makanya disebut setelah Sifat Rahmāniyat karena sifat Rahmāniyat dimanifestasikan sebelum Sifat Rahīmiyat muncul. Itulah sebabnya Sifat Rahīmiyat dalam Surah Al-Fatihah disebutkan setelah Sifat Rahmāniyat. Sifat Rahīmiyat disebut di beberapa tempat dalam Al-Quran. Sebagai contoh, dinyatakan:
وَ کَانَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَحِیۡمًا ﴿﴾
Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.  (Al-Ahzāb [33]:44).
Berarti Sifat Rahīmiyat Allah Swt.  terbatas hanya bagi mereka yang beriman saja, sedangkan orang kafir dan penyangkal tidak mendapat bagian.
       Perlu diingatkan lagi bahwa pemberlakuan Sifat Rahīmiyat terbatas hanya bagi  orang-orang beriman saja, sedangkan Sifat Rahmāniyat tidak terbatas. Tidak ada disebutkan bahwa Tuhan bersifat Rahmān hanya untuk orang-orang beriman,  karena bagi mereka ini yang berlaku adalah Sifat Rahīm.   Di tempat lain dikemukakan:
اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
 Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.  (Al-A’rāf [7]:57).
     Begitu juga dikatakan:
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ الَّذِیۡنَ  ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ  ۙ اُولٰٓئِکَ یَرۡجُوۡنَ  رَحۡمَتَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’ (Al-Baqarah [2]:219).
      Dengan kata lain, Sifat Rahīmiyat-Nya hanya dikaruniakan kepada mereka yang berhak saja. Tidak ada seorang pun yang tidak akan menemukan-Nya jika memang mau mencari. Pencinta macam apakah ia itu jika Yang Maha Penyayang  tidak menyukainya?
“Wahai Junjungan-ku, apa yang masih kurang adalah penyakitnya,
karena Sang Maha Penyembuh selalu ada”.

Sifat Mālikiyat Yaumid-dīn Allah Swt.  Allah Swt. Berlaku Sangat  Khusus  dan Menjelma Sepenuhnya di Alam Akhirat

     Rahmat yang keempat (Mālikiyat) bersifat sangat khusus. Rahmat ini tidak bisa dicapai semata-mata dengan upaya dan usaha saja. Syarat pertama dari manifestasi  (penampakkan) Sifat ini adalah dihancurkannya terlebih dahulu dunia ini, dimana kekuasaan Allah Swt.  dalam keagungan-Nya yang sempurna akan mewujud “telanjang”  tanpa intrusi (gangguan/halangan) sarana apa pun. Rahmat terakhir ini mewujud setelah rahmat-rahmat lainnya berakhir.
     Rahmat ini berbeda dengan sifat rahmat lainnya dalam kesempurnaannya karena bersifat terbuka, jelas, nyata, tanpa ada yang ditutupi atau pun ada kekurangan. Tidak ada apa pun yang bisa diragukan mengenai pengenaan rahmat ini, begitu juga dengan realitas, kesucian dan kesempurnaan sifat rahmat tersebut.
   Kemurahan dan pengganjaran yang dilakukan Yang Maha Abadi, Pengarunia segala berkat, akan muncul terang seperti siang hari dimana si penerima berkat akan mengetahui dan merasakan secara pasti karunia dan kegembiraan serta perhatian yang dilimpahkan-Nya, dan bahwa ia menerima ganjaran tersebut sebagai imbalan dari perilakunya yang benar dan sempurna. Karunia yang diterimanya bersifat amat jelas dan agung tanpa ada ujian atau cobaan lagi yang harus ditempuhnya.
        Agar bisa menjadi penerima berkat yang lengkap dan sempurna serta abadi demikian, diperlukan adanya transportasi yang bersangkutan dari dunia yang cacat, sempit, guram dan fana ini, karena rahmat tersebut merupakan pengalaman manifestasi akbar (penampakan besar)  dimana keindahan Sang Maha Penyayang (Al-Rahīm) akan terlihat secara jelas dan dialami secara pasti tanpa ada tahap-tahapan manifestasi (penampakkan) dan pemastian serta tidak ada tabir sarana material yang menghalanginya.  
       Segenap rincian dari pemahaman  (makrifat) yang lengkap harus mewujud dengan kekuatan penuh. Manifestasi  (penampakan) itu harus demikian jernih dan pasti sehingga Allah Sendiri yang nantinya akan menyatakan bahwa mereka itu terbebas dari ujian atau cobaan apa pun. Manifestasi tersebut akan membawa kegembiraan tinggi yang sempurna bagi hati, jiwa serta semua indera jasmani dan ruhani pada tingkatnya yang paling tinggi yang tidak mungkin bisa lebih baik lagi.
      Dunia yang tidak sempurna pada intinya, berkabut dalam penampilannya, fana (tidak kekal) dalam wujudnya serta sempit dalam ruang lingkupnya, tidak akan mampu menampung manifestasi (penampakkan) akbar demikian dimana cahaya yang suci dan karunia yang abadi serta nur sempurna yang kekal menjadi bagian darinya. Untuk manifestasi demikian itu dibutuhkan dunia lain yang sepenuhnya bebas dari kegelapan oleh sarana material serta harus berwujud manifestasi sempurna dari kekuasaan Yang Maha Kuasa.

Orang-orang yang “Mati Sebelum Mati

        Rahmat yang amat khusus ini sampai suatu tingkat tertentu dinikmati dalam kehidupan sekarang oleh mereka yang memiliki kepribadian sempurna yang melangkah di jalan kebenaran, dengan sepenuhnya bergantung kepada Allah Swt.  dengan meninggalkan nafsu dan keinginan dirinya sendiri. Mereka sudah mengalami kematian sebelum kematian yang sebenarnya.
       Meskipun mereka hidup di dunia ini tetapi hatinya bermukim di dunia lain. Sebagaimana mereka mengunci hati mereka dari kehidupan jasmani dunia ini serta meninggalkan kebiasaan kemanusiaan dan menjauh dari segala hal yang tidak berasal dari Allah  Swt.,  maka sebenarnya mereka mengikuti jalan yang tidak biasa sehingga Tuhan pun akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama (yang khusus).
     Dengan cara yang luar biasa Dia akan memanifestasikan (menampakan) bagi mereka nur yang hanya bisa dilihat manusia lainnya setelah kematian mereka. Mereka ini mengalami rahmat yang bersifat sangat khusus itu sampai suatu tingkat tertentu di dalam kehidupan sekarang. Rahmat ini bersifat sangat khusus dan menjadi pamungkas dari semua rahmat lainnya.
     Barangsiapa yang berhasil mencapainya berarti telah berhasil memperoleh keberuntungan yang paling besar dan akan menikmati kesejahteraan abadi yang menjadi sumber dari semua kegembiraan. Barangsiapa yang dikucilkan dari rahmat ini berarti telah dikutuk selamanya masuk neraka. Menurut Sifat-Nya ini maka Allah Yang Maha Perkasa menyebut diri-Nya dalam Al-Quran sebagai Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari pembalasan).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 16 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar