Rabu, 30 September 2015

Perumpamaan "Istri Fir'aun" dan Hubungannya Dengan Nafs-al- Lawwaamah (Jiwa yang Mencela Diri) & Perumpamaan "Pribadi-pribadi Surgawi" yang Meraih "Nafs-al-Muthmainnah" (Jiwa yang Tentram)



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 54

Perumpamaan Istri Fir’aun dan  Hubungannya dengan Keadaan  Nafs Lawwamah (Jiwa yang Mencela Diri) &   Perumpamaan   Pribadi-pribadi Surgawi  yang Meraih Keadaan “Nafs-al-Muthmainnah” (Jiwa yang Tentram)


  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai  hakikat penyelamatan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya (Maryam binti ‘Imran) oleh Allah Swt. dari makar buruk para pemuka  kaum Yahudi  ke sebuah tempat yang tinggi (rabwah)  yang subur dan penuh dengan sumber mata air yang mengalir, bahwa hal tersebut bukan sekedar menggambarkan tempat secara jasmani tetapi juga menggambarkan martabat  ruhani,  sebagaimana firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan  sumber-sumber mata air yang  mengalir   (Al-Mu’minūn [23]:51).
      Jika  ayat tersebut dibandingkan dengan firman-Nya berikut ini  --  mengenai tingkat ruhani Maryam binti ‘Imran dan tingkat ruhani Isa Ibnu Maryam a.s.  -- maka akan nampak keterkaitan kedua firman Allah Swt. tersebut:
وَ مَرۡیَمَ  ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ  الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا  فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ  مِنۡ  رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran   yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami,  dan ia menggenapi firman  Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ  -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh  (At-Tahrim [66]:13).

Pengembaraan Jauh dan Lama  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Kuburannya  di Srinagar - Kasymir

     Dalam kenyataannya,  karena dalam pengembaraan panjang  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai Al-Masih   -- mencari sepuluh  “domba-domba Israel” yang hilang (tercerai-berai) yang berada di luar Palestina (Kanaan – Yohanes 10:1-14)    -- tersebut ibu beliau, Maryam binti ‘Imran, lebih dulu meninggal maka beliau dikuburkan di Murree (Mari)  --   sesuai dengan nama beliau, di wilayah Pakistan sekarang  -- sedangkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melanjutkan perjalanan ke Kasymir yang penduduknya adalah keturunan “domba-domba” (suku-suku)  Bani Israil yang hilang, beliau  wafat di sana   dalam usia 120 tahun dan dimakamkan di desa Khan Yar, Srinagar – Kashmir, dengan penuh kehormatan.
     Sebaliknya,  kaum  Yahudi di Yerusalem sepeninggal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. – setelah peristiwa penyaliban (QS.54:157-159)   -- mereka bukan saja harus  menyaksikan penghancuran kota Yerusalem oleh serbuan Titus dari kerajaan Romawi (Matius 23:37-39 & 24:1-22), bahkan mereka telah kehilangan tanah air serta menjadi bangsa pengembara  di berbagai pelosok dunia  selama 2000 tahun serta kehilangan nikmat kenabian dan kerajaan  (QS.5:21) karena selanjutnya dipindahkan kepada bani Isma’il (Ulangan 15-19), sebagaimana nubuatan dalam Injil:
23:37 "Yerusalem, Yerusalem , engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!   Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,   tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. 23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hinggakamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"
     Lebih lanjut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) menggambarkan kehancuran mengerikan yang menimpa Yerusalem tersebut:
24:1 Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. 24:2 Ia berkata kepada mereka: "Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain;   semuanya akan diruntuhkan."
       Jadi, walau pun benar bahwa  Maryam binti ‘Imran dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kedua ibu dan anak tersebut    diselamatkan Allah Swt.  di sebuah wilayah yang  tinggi yakni wilayah pegunungan Himalaya, tetapi  keduanya dimakamkan di dua tempat yang berbeda yakni di kota Murree dan di Srinagar – Kasymir, dan  kota Srinagar letaknya lebih tinggi daripada kota Murree, hal ini bukan peristiwa kebetulan melainkan merupakan takdir Ilahi, seakan-akan mengisyaratkan kelebihan tingkat ruhani  Isa Ibnu Maryam  daripada tingkatan ruhani Maryam binti ‘Imran (QS.66:13).

Kematian Tragis Para Penentang Rasul Allah  yang Takabbur Tidak  “Ditangisi Langit dan Bumi” & Istri-istri Durhaka Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s.

      Contoh lainnya lagi adalah para pemuka kaum Nabi Nuh a.s., mereka  dengan penuh ketakaburan telah  menghina  Nabi Nuh a.s.  dan  merendahkan status sosial orang-orang yang beriman  kepada beliau (QS.11:28; QS.26:112), demikian juga mereka telah memperolok-olok Nabi Nuh a.s. ketika beliau -- atas  perintah Allah Swt -- beserta para pengikutnya sedang membuat perahu, firman-Nya:
 وَ اُوۡحِیَ  اِلٰی نُوۡحٍ اَنَّہٗ  لَنۡ یُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِکَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾  وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا وَ لَا تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾  وَ یَصۡنَعُ الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا مَرَّ عَلَیۡہِ مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ  سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ قَالَ  اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا نَسۡخَرُ  مِنۡکُمۡ کَمَا  تَسۡخَرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  فَسَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ عَذَابٌ یُّخۡزِیۡہِ  وَ یَحِلُّ  عَلَیۡہِ  عَذَابٌ  مُّقِیۡمٌ﴿﴾
Dan telah diwahyukan kepada Nuh: “Tidak akan pernah beriman seorang pun dari kaum engkau selain orang yang telah beriman sebelumnya maka janganlah engkau bersedih mengenai apa yang senantiasa mereka kerjakan.  Dan  buatlah bahtera itu di hadapan pengawasan mata  Kami dan  sesuai dengan wahyu Kami. Dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku mengenai orang yang zalim, se-sungguhnya mereka itu  akan ditenggelamkan.”  وَ یَصۡنَعُ الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا مَرَّ عَلَیۡہِ مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ  سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ  --  Dan ia mulai membuat bahtera itu, dan setiap kali pemuka-pemuka kaumnya sedang melewatinya, mereka itu menertawakannya. قَالَ  اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا نَسۡخَرُ  مِنۡکُمۡ کَمَا  تَسۡخَرُوۡنَ  -- Ia, Nuh, berkata:  “Jika kini kamu mentertawakan kami  maka saat itu akan datang ketika kami pun akan mentertawakan kamu, seperti kamu mentertawakan kami. فَسَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ عَذَابٌ یُّخۡزِیۡہِ  وَ یَحِلُّ  عَلَیۡہِ  عَذَابٌ  مُّقِیۡمٌ  -- Maka segera kamu  akan mengetahui siapa yang kepadanya akan datang azab yang akan menistakannya, dan kepada siapa akan menimpa azab yang tetap.”  (Hūd [11]:37-40).
     Kenyataan membuktikan  bahwa setelah azab Ilahi  selesai  menghancurkan kaum  Nabi Nuh a.s. yang takabbur, perahu Nabi Nuh a.s. berlabuh di sebuah puncak gunung  Al-Judi (QS.11:45),    sedangkan para penentang beliau – dan d demikian juga para penentang rasul-rasul Allah lainnya  di berbagai zaman kenabian      yang takabbur   -- mati terkapar penuh kehinaan, berikut ini firman-Nya mengenai kehinaan yang menimpa Fir’aun:
کَمۡ  تَرَکُوۡا مِنۡ جَنّٰتٍ  وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  وَّ  زُرُوۡعٍ  وَّ  مَقَامٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  وَّ  نَعۡمَۃٍ  کَانُوۡا فِیۡہَا  فٰکِہِیۡنَ ﴿ۙ﴾  کَذٰلِکَ ۟ وَ  اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا  اٰخَرِیۡنَ ﴿﴾  فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ ﴿٪﴾
Berapa banyaknya   kebun-kebun yang mereka tinggalkan dan sumber-sumber mata air,    dan ladang-ladang serta tempat-tempat mulia,    dan nikmat-nikmat yang da-hulu mereka di dalamnya bersenang-senang. Demikianlah,  dan Kami mewariskannya kepada kaum lain. فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ  --   Maka sekali-kali tidak  menangisi mereka langit dan bumi, dan  mereka sekali-kali tidak pula   diberi tangguh.    (Ad-Dukhan [44]:26-30).  
 Mereka menjumpai nasib malang mereka dalam keaiban dan kehinaan, tidak diratapi, tanpa penghormatan dan tanpa sanjungan. Raja bernasib malang yang dalam kesombongannya menyebut dirinya "tuhan" itu tenggelam ke dalam laut (10:91) dengan mengucapkan kata-kata yang terkenangkan, "Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Yang kepada-Nya Bani Israil beriman." 
  Jadi,  mengapa orang-orang kafir dalam QS.66:11 diumpamakan seperti istri-istri durhaka  Nabi Nuh a.s.  dan istri Nabi Luth a.s.,    untuk menunjukkan bahwa persahabatan dengan orang bertakwa,   -- bahkan nabi Allah sekalipun  -- tidak berfaedah bagi orang yang mempunyai kecenderungan buruk menolak kebenaran, sehingga akibatnya  dua istri durhaka tersebut menjadi penghuni ap[I neraka bersama-sama dengan kaumnya  yang mendustakan dan menentang Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s., firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوا امۡرَاَتَ  نُوۡحٍ وَّ امۡرَاَتَ  لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
AllAh mengemukakan istri Nuh  dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat  kepada kedua suami mere-ka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ   --dan dikatakan kepada mereka:   -- Masuklah kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk” (At-Tahrīm [66]:11).

Misal Istri  Fir’aun  yang Shalihah dan Misal Maryam binti ‘Imran serta Isa Ibnu Maryam

   Istri Fir’aun dalam ayat selanjutnya (QS.66:12) menggambarkan keadaan orang-orang beriman, yang meskipun berkeinginan dan berdoa terus-menerus agar bebas dari dosa, tidak sepenuhnya dapat melepaskan diri dari pengaruh buruk yang dilukiskan dalam wujud Fir’aun,  -- yakni gejolak  nafs-al-Ammarah (QS.12:54) -- dan setelah sampai kepada tingkat “jiwa yang meyesali diri sendiri” (nafsu lawwamah – QS.75:3) kadang-kadang gagal dan kadang-kadang tergelincir, firman-Nya:
وَ ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوا امۡرَاَتَ  فِرۡعَوۡنَ ۘ اِذۡ  قَالَتۡ رَبِّ ابۡنِ  لِیۡ عِنۡدَکَ  بَیۡتًا فِی الۡجَنَّۃِ  وَ نَجِّنِیۡ  مِنۡ فِرۡعَوۡنَ  وَ عَمَلِہٖ وَ نَجِّنِیۡ  مِنَ الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Allah mengemukakan istri Fir’aun sebagai  misal bagi orang-orang beriman,  ketika ia berkata: “Hai Rabb (Tuhan), buatkanlah bagiku di sisi Engkau sebuah rumah di surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim  (At-Tahrīm [66]:12).
    Ada pun perumpamaan berikutnya,  Maryam binti ‘Imran, ibunda Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melambangkan hamba-hamba Allah yang bertakwa, yang karena telah menutup segala jalan dosa dan karena telah berdamai dengan Allah Swt., mereka dikaruniai ilham Ilahi    -- yang digambarkan sebagai “peniupan ruh” dari Allah Swt.   --  kata pengganti hi dalam fīhi  dalam ayat 13  menunjuk kepada orang-orang beriman yang bernasib baik serupa itu. Atau, kata pengganti itu dapat pula menggantikan kata farj, yang secara harfiah berarti celah atau sela, artinya lubang yang dengan melaluinya dosa dapat masuk, firman-Nya:
وَ مَرۡیَمَ  ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ  الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا  فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ  مِنۡ  رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga Maryam putri ‘Imran,  yang telah memelihara kesuciannya, فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ  مِنۡ  رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ  --  maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami, dan ia menggenapi firman Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, dan ia termasuk orang-orang yang patuh. (At-Tahrīm [66]:13).
    Jadi, betapa penuh hikmahnya firman Allah Swt.  mengenai tempat penyelamatan terhormat  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bersama ibu  beliau, Maryam binti ‘Imran:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan  sumber-sumber mata air yang  mengalir   (Al-Mu’minūn [23]:51).
        Satu syair yang telah diucapkan dalam bahasa Persia mengenai  keindahan  wilayah Kasymir:
“Jika ada surga di bumi, maka di sinilah, di sinilah, di sinilah.”

Martabat Ruhani Nafs-al-Muthmainnah (Jiwa yang Tentram) atau “Pribadi Surgawi

    Orang-orang bertakwa yang dengan karunia Allah Swt.  memperoleh martabat ruhani Maryam binti ‘Imran atau martabat ruhani Isa Ibnu Maryam a.s.   adalah  hamba-hamba Allah yang meraih keadaan nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ﴿ۙ﴾    وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾     
Hai jiwa yang tenteram!     ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً --   Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau,     engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkauفَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ﴿ --   Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku, وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ   --  dan masuklah ke dalam surga-Ku  (Al-Fajr [89]:28-31).
  Ayat-ayat ini merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus.
    Ia “manunggal” dengan Allah Swt.  dalam Sifat, dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan sesudah mati  perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga, firman-Nya:  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ﴿ --   Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku, وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ   --  dan masuklah ke dalam surga-Ku.” 
   Demikianlah tiga misal (perumpamaan) yang dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai  baik-buruknya  sikap manusia  terhadap Rasul Allah yang dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37).
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ  --  mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.   کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ   --  Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.”  اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --  Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa  (Al-Mujadalah [58]:21-22).
 Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan, bagaimana pun hebatnya keadaan duniawi para pendukung kebathilan (kepalsuan) tersebut, sebagaimana yang terjadi dengan kaum-kaum  purbakala yang menentang para rasul Allah yang diutus kepada mereka (QS.7:35-37).

Hizbullāh” (Golongan Allah) yang Hakiki

 Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.  mengenai “Hizbullāh” (golongan Allah) yang hakiki, yakni para pengikut Rasul Allah yang diutus kepada mereka: 
لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir, tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya,   وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ  --  walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka.   اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal  di dalamnya, رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ  --   Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya, mereka itulah golongan Allah.  اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil  (Al-Mujadalah [58]:23).
Sudah nyata bahwa tidak mungkin terdapat persahabatan atau perhubungan cinta sejati atau sungguh-sungguh di antara orang-orang   yang beriman  kepada Rasul Allah dengan  orang-orang kafir, sebab  cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain, dan karena adanya kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada, maka orang-orang beriman  diminta jangan mempunyai persahabatan yang erat lagi mesra dengan orang-orang kafir.
  Ikatan agama harus mengatasi segala perhubungan lainnya, bahkan mengatasi pertalian darah yang amat dekat sekalipun, jika dalam kenyataannya mereka itu    merupakan para penentang Allah Swt. Dan Rasul-Nya.  Ayat ini nampaknya merupakan seruan umum. Tetapi secara khusus seruan itu tertuju kepada orang-orang kafir yang ada dalam berperang dengan kaum Muslim.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 28 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar