Rabu, 09 September 2015

Tindak Kekerasan Merupakan Ciri Khas Para Penentang Rasul Allah Ketika Mereka Tidak berdaya Menghadapi Argumentasinya & Hakikat Mukjizat "Dinginnya Api" Bagi Nabi Ibrahim a.s.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 33

Tidak Kekerasan Merupakan Ciri Khas  Para Penentang Rasul Allah   Ketika  Mereka Tidak Berdaya Menghadapi   Argumentasinya yang Sulit Dibantah  & Hakikat Mukjizat “Dinginnya Api” Bagi Nabi Ibrahim a.s. 

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya yang tetap bertahan pada kemusyrikan mereka, sekali pun Nabi Ibrahim a.s. telah memberitahukan kesia-siaan  kaumnya melakukan penyembahan terhadap berhala mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ  اِبۡرٰہِیۡمَ  رُشۡدَہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا  بِہٖ  عٰلِمِیۡنَ  ﴿ۚ﴾ اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ  اَنۡتُمۡ  وَ اٰبَآؤُکُمۡ  فِیۡ  ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan  sungguh sebelumnya  Kami  benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim petunjuknya  dan Kami mengetahui benar tentang dia.    Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ  --  “Patung-patung apakah ini yang kamu duduk tekun menyembah  kepadanya?” قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ   --  Mereka berkata:  “Kami  dapati bapak-bapak kami menyembahnya.”   قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ  اَنۡتُمۡ  وَ اٰبَآؤُکُمۡ  فِیۡ  ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ --   Ia, Ibrahim,  berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu  benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Anbiya [21]:52-55).
       Selanjutnya Nabi Ibrahim a.s. berkata mengenai langkah-langkah yang akan beliau lakukan untuk menyadarkan kaumnya  dari kemusyrikan yang mereka lakukan, firman-Nya:
وَ تَاللّٰہِ لَاَکِیۡدَنَّ  اَصۡنَامَکُمۡ بَعۡدَ اَنۡ تُوَلُّوۡا مُدۡبِرِیۡنَ ﴿﴾  فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا  اِلَّا کَبِیۡرًا  لَّہُمۡ  لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
 “Dan demi Allah, niscaya  aku akan membuat rencana melawan berhala-berhala kamu, setelah kamu berlalu membalikkan punggungmu.” فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا  اِلَّا کَبِیۡرًا  لَّہُمۡ  لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ  یَرۡجِعُوۡنَ  --   Maka ia membuat berhala-hala itu pecah berkeping-keping, ke-cuali yang terbesar dari berhala mereka, supaya mereka kembali kepadanya” (Al-Anbiya [21]:59).

Bukan Perbuatan Seorang Penakut

        Kata pengganti hi dalam ungkapan ilaihi, dapat mengisyarakatkan kepada (1) Tuhan (Allah Swt.), atau (2) kepada berhala yang paling besar,  atau (3) kepada Nabi Ibrahim a.s.   sendiri, dengan makna:
        (1)  Mudah-mudahan setelah melihat kedaan berhala-berhala sembahan mereka yang hancur, kecuali berhala yang paling besar,   mereka akan menyadari kesesatannya dan   mereka akan  kembali  (bertaubat) serta  menyadi penyembah   Allah Swt..
      (2)  Mereka akan menanyakan kepada   berhala  paling besar yang tersisa, apa gerangan  yang terjadi dengan rekan-rekannya yang hancur berantakan.
      (3) Mereka akan kembali dan mencari Nabi Ibrahim a.s. untuk menanyakan alasan mengapa beliau melakukan perbuatan tersebut kepada berhala-berhala mereka, sehingga Nabi Ibrahim a.s. mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk menjelaskan kesesatan  mereka itu.
        Perlu diketahui, bahwa perbuatan Nabi Ibrahim a.s. menghancurkan berhala-berhala mereka di tempat pemujaan kaumnya tidak dilakukan secara sembunyi sembunyi dan ketika tidak ada  orang lain  --   seperti perbuatan seorang penakut atau pengecut  --  melainkan telah dirancang  sedemikian rupa agar ada orang yang  melihat dan mendengar  apa yang beliau lakukan dan   ucapkan kepada berhala-berhala tersebut lalu memberitahu para pemuka kaum mereka (QS.37:84-99), firman-Nya:  
فَرَاغَ  اِلٰۤی  اٰلِہَتِہِمۡ  فَقَالَ  اَلَا  تَاۡکُلُوۡنَ ﴿ۚ﴾  مَا  لَکُمۡ  لَا تَنۡطِقُوۡنَ ﴿﴾  فَرَاغَ  عَلَیۡہِمۡ  ضَرۡبًۢا بِالۡیَمِیۡنِ ﴿﴾
Maka ia (Ibrahim) pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka   فَقَالَ  اَلَا  تَاۡکُلُوۡنَ -- lalu ia berkata:   “Mengapakah kamu tidak makan?  مَا  لَکُمۡ  لَا تَنۡطِقُوۡنَ --  Apa yang terjadi atas kamu hingga kamu tidak bicara?”    Lalu secara diam-diam ia memukul mereka dengan tangan kanan.  (Ash-Shāffāt [37]:92-94).
       Nabi Ibrahim a.s. mengetahui bahwa patung-patung sembahan kaumnya tersebut adalah benda-benda mati, ada pun pertanyaan yang beliau kemukakan kepada patung-patung tersebut maksudnya adalah agar didengar oleh orang-orang yang ada di tempat penyembahan patung-patung   tersebut. Orang-orang inilah yang kemudian melaporkan perbuatan Nabi Ibrahim a.s. tersebut kepada para pemuka kaumnya yang datang ke tempat pemujaan tersebut.
      Sifat paling menonjol  Tuhan Yang Hidup adalah Dia bercakap-cakap dengan abdi-Nya yang terpilih dan mendengar doa-doanya serta mengabulkannya (QS.2:187; QS.40:61). Hanya tuhan yang mati dan tidak hidup sajalah yang tidak memiliki kemampuan berbicara atau mendengar dan mengabulkan doa-doa para penyembahnya, sebagaimana yang dikatakan Nabi Ibrahim a.s. kepada patung-patung sembahan kaumnya tersebut.

Kehinaan di Atas Kehinaan Orang-orang Musyrik

        Karena tangan kanan itu perlambang kekuatan dan kekuasaan, maka ayat:  فَرَاغَ  عَلَیۡہِمۡ  ضَرۡبًۢا بِالۡیَمِیۡنِ --    “lalu secara diam-diam ia memukul mereka dengan tangan kanan,” ini mengandung arti bahwa Nabi Ibrahim a.s.   memukul berhala-berhala itu dengan kekuatan penuh sampai pecah berkeping-keping. Yamīn berarti pula sumpah,  maka ayat ini dapat pula berarti bahwa Nabi Ibrahim a.s.  memecahkan berhala-berhala itu dalam memenuhi sumpahnya (QS.21:58).
       Rencana (siasat) Nabi Ibrahim a.s. berhasil dengan baik   ketika perbuatan yang beliau lakukan sampai pula beritanya kepada para pemuka kaumnya, firman-Nya:
قَالُوۡا مَنۡ فَعَلَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَاۤ  اِنَّہٗ  لَمِنَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا سَمِعۡنَا فَتًی یَّذۡکُرُہُمۡ یُقَالُ لَہٗۤ اِبۡرٰہِیۡمُ ﴿ؕ﴾
Mereka berkata: “Siapakah yang telah berbuat demikian terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya ia benar-benar  orang yang zalim!”   Mereka berkata: “Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka,  ia disebut Ibrahim”   (Al-Anbiya [21]:60-61).
    Dzakara-hu berarti: (1) ia membicarakan hal-hal yang baik atau tidak baik mengenai dia; (2)  ia menyebutkan kesalahan-kesalahannya (Lexicon Lane),  mengenai kedua arti kata dzikr (yadzkuru) yang bertentangan tersebut Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا رَاٰکَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اِنۡ یَّتَّخِذُوۡنَکَ  اِلَّا ہُزُوًا ؕ اَہٰذَا  الَّذِیۡ  یَذۡکُرُ   اٰلِہَتَکُمۡ ۚ وَ ہُمۡ   بِذِکۡرِ  الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila  orang-orang yang kafir itu melihat kepada engkau  mereka menjadikan engkau tidak  melainkan  hanya  perolokan belaka  dan berkata:  اَہٰذَا  الَّذِیۡ  یَذۡکُرُ   اٰلِہَتَکُمۡ  -- “Inikah orangnya yang menyebutkan keburukan  tuhan-tuhan kamu?” وَ ہُمۡ   بِذِکۡرِ  الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ --  Padahal mereka sendirilah  yang menolak untuk mengingat Tuhan Yang Maha Pemurah. (Al-Anbiya [21]:37).
        Jika  seorang orang Arab berkata  “la’in dzakartani la-tanda-manna,” mak-sudnya ialah “jika engkau berkata tidak baik mengenai diriku, engkau pasti akan menyesal. (Lexicon Lane).
         Sebenarnya perkataan   para pemuka mengenai patung-patung sembahan  mereka  yang  hancur berantakan, secara tanpa mereka sadari merupakan  kehinaan  bagi mereka mau pun bagi “tuhan-tuhan sembahan merela” yang tidak berdaya tersebut: قَالُوۡا مَنۡ فَعَلَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَاۤ  اِنَّہٗ  لَمِنَ  الظّٰلِمِیۡنَ -- “Mereka berkata: “Siapakah yang telah berbuat demikian terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya ia benar-benar  orang yang zalim!”   (Al-Anbiya [21]:60).

Pihak yang Mau Menghina Menjadi Terhina di Hadapan Kaumnya Sendiri

      Keberhasilan siasat  Nabi Ibrahim a.s. tersebut  dijelaskan dalam ayat selanjutnya, Allah Swt. berfirman:
قَالُوۡا فَاۡتُوۡا بِہٖ عَلٰۤی اَعۡیُنِ النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ  یَشۡہَدُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡۤا ءَاَنۡتَ فَعَلۡتَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَا یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ ﴿ؕ﴾  قَالَ بَلۡ  فَعَلَہٗ ٭ۖ   کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ  اِنۡ  کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ﴿﴾  فَرَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ فَقَالُوۡۤا اِنَّکُمۡ اَنۡتُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ ﴿ۙ﴾ 
Mereka berkata: “Maka bawalah dia ke hadapan mata manusia supaya mereka dapat menjadi saksi.” قَالُوۡۤا ءَاَنۡتَ فَعَلۡتَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَا یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ  --   Mereka berkata: “Apakah eng-kau yang telah berbuat seperti  ini terhadap tuhan-tuhan kami, ya Ibra-him?”    قَالَ بَلۡ  فَعَلَہٗ ٭ۖ   کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ  اِنۡ  کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ  --  Ia menjawab: “Bahkan, sese-orang telah berbuat itu. Di antara mereka yang besar ini  maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berkata-kata.” فَرَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ فَقَالُوۡۤا اِنَّکُمۡ اَنۡتُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ --   Maka mereka kembali kepada pemimpin mereka lalu berkata: “Se-sungguhnya kamu sendiri orang-orang  yang zalim.”  (Al-Anbiya [21]:62-65).
    Alasan mengapa Nabi Ibrahim a.s.   dipanggil untuk menghadap orang-orang banyak, ialah supaya  orang-orang  yang telah mendengar beliau memburuk-burukkan berhala-berhala harus memberi penyaksian terhadap beliau, atau, bahwa sesudah mendengar kesaksian yang memberatkan  Nabi Ibrahim a.s.  dapat diputuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan terhadap beliau dan supaya mereka dapat menyaksikan hukuman yang akan dilaksanakan itu, sebagai peringatan  atau ancaman  terhadap siapa pun yang menghina “sembahan-sembahan” mereka.
        Selain arti yang diberikan dalam teks, ungkapan dalam bahasa Arab itu boleh jadi telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim a.s.  secara sindiran seperti telah menjadi kebiasaan beliau bila berbicara dengan kaum beliau, penyembah berhala-berhala. Dalam hal demikian kata-kata itu kira-kira akan berarti sebagai berikut: “Mengapa aku harus melakukan itu, barangkali berhala yang paling besar telah melakukan itu.”  
      Maksudnya,   kenyataan itu jelas sekali sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi atau diperjelas lagi bahwa beliaulah yang melakukan itu. Sekiranya bukan beliau yang mengerjakannya, dapatkah sebongkah batu yang tidak bernyawa mengerjakannya?

Dengan Kehendak Allah Swt. Kobaran Api Menjadi Dingin Bagi Nabi Ibrahim a.s.

      Nabi Ibrahim a.s.  nampaknya mencela kaumnya dan menjelaskan kepada mereka kesia-siaan perbuatan-perbuatan syirik mereka; pertama-tama dengan memecahkan berhala-berhala itu dan kemudian dengan menantang penyembah-penyembahnya supaya bertanya kepada berhala-berhala itu, sekiranya berhala-berhala itu dapat berbicara untuk memberitahukan kepada mereka siapa yang telah memecahkan berhala-berhala itu.
     Jawaban telak Nabi Ibrahim a.s. atas pertanyaan yang mereka  terperangah dengan penuh rasa  malu karena dialog  tersebut  terjadi di hadapan banyak orang, firman-Nya:
ثُمَّ  نُکِسُوۡا عَلٰی  رُءُوۡسِہِمۡ ۚ لَقَدۡ  عَلِمۡتَ مَا ہٰۤؤُلَآءِ  یَنۡطِقُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ اَفَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا یَنۡفَعُکُمۡ  شَیۡئًا وَّ لَا  یَضُرُّکُمۡ ﴿ؕ﴾  اُفٍّ لَّکُمۡ وَ لِمَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ 
Kemudian mereka sambil  menundukkan kepala mereka berkata: لَقَدۡ  عَلِمۡتَ مَا ہٰۤؤُلَآءِ  یَنۡطِقُوۡنَ  --  “Sungguh engkau benar-benar telah mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berkata-kata.” قَالَ اَفَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا یَنۡفَعُکُمۡ  شَیۡئًا وَّ لَا  یَضُرُّکُمۡ   --  Ia, Ibrahim,  berkata:  ”Apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepada kamu sedikit pun dan tidak memudaratkanmu? اُفٍّ لَّکُمۡ وَ لِمَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ  --  “Ah celakalah atas kamu dan atas apa yang kamu sembah selain Allah! Apakah kamu tidak mengerti?” (Al-Anbiya [21]:66-68).
       Ungkapan bahasa Arab: ثُمَّ  نُکِسُوۡا عَلٰی  رُءُوۡسِہِمۡ   dapat berarti, (a) mereka kembali kepada keadaan kekafiran seperti semula, atau tingkah-laku yang buruk; (b) mereka kembali kepada perbantahan sesudah mereka mengikuti jalan yang benar; (c) mereka menundukkan kepala karena malu dan menjadi bungkam sama sekali – QS.2:259 (Lexicon Lane & Ruh-ul Ma’ani).
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai sikap zalim para penentang Rasul Allah ketika mereka mengalami kekalahan telak dalam beradu argumentasi dengan Rasul Allah:
قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۙ﴾  وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ ﴿ۚ﴾  وَ نَجَّیۡنٰہُ  وَ لُوۡطًا  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا  فِیۡہَا  لِلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”      قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ    -- Kami berfirman: “Hai api, ja-dilah kamu dingin dan keselamatan  atas Ibrahim!” وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ   -- Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi.   Dan Kami telah menyelamat-kan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati  di dalamnya untuk seluruh umat manusia. (Al-Anbiya [21]:69-72). 
       Perkataan mereka yang penuh kemarahan terhadap nabi Ibrahim a.s. semakin mempermalukan diri mereka sendiri berkenaan dengan “tuhan-tuhan sembahan” mereka: قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  فٰعِلِیۡنَ  -- “Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”    

Hakikat Terjadinya Mukjizat   & Melakukan HIjrah Adalah Sunnah Para Rasul Allah
  
      Bagaimana caranya api itu menjadi dingin sehingga tidak membakar Nabi Ibrahim a.s., hal tersebut kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt. memang menimbulkan keadaan yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s.  dari bahaya.
      Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar. Bahwa Nabi Ibrahim a.s.  telah dilemparkan ke dalam kobaran api diakui bukan saja orang-orang Yahudi, tetapi juga oleh orang-orang Kristen   dari Timur, buktinya ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari dikhususkan dalam penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa tersebut (Hyde, De Rel. Vet Per. p. 73). Lihat pula Mdr. Rabbah on Gen. Per. 17; Schalacheleth Hakabala, 2; Maimon de Idol, Ch. I; dan Jad Hachazakah Vet, 6).
     Makna ayat:   وَ نَجَّیۡنٰہُ  وَ لُوۡطًا  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا  فِیۡہَا  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  -- Dan Kami telah menyelamatkan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati  di dalamnya untuk seluruh umat manusia. (Al-Anbiya [21]:72),  Nabi Ibrahim a.s.  bepergian dari Ur (Mesopotamia) ke Harran dan dari sana atas perintah Ilahi  - ke Kanaan yang  Allah Swt. telah tetapkan akan diberikan kepada keturunan beliau (QS.5:22; QS.21-27;106-107).
       Perjalanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Luth a.s. itu mempunyai tujuan dan maksud yang tepat. Semua nabi Allah yang besar atau para pengikut mereka  -- sesuai dengan maksud dan rencana Ilahi  -- pada suatu waktu harus  hijrah, meninggalkan kampung halaman mereka, termasuk Nabi Adam a.s. dan para pengikutnya, yang telah disalah-tafsirkan sebagai “diusir dari surga” (QS.2:36-40; QS.7:25; QS.20:124).
        Dalam  firman Allah Swt. berikut ini  dikemukakan bahwa sebelum Nabi Ibrahim a.s. menghancurkan berhala-berhala sembahan kaumnya terlebih dulu telah terjadi dialog yang berkepanjangan antara beliau dengan para pemuka kaumnya,  sebagaimana yang dilakukan Nabi Nuh a.s. sebelumnya (QS.71:1-29), firman-Nya:
وَ  اِنَّ مِنۡ شِیۡعَتِہٖ  لَاِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۘ﴾  اِذۡ  جَآءَ  رَبَّہٗ  بِقَلۡبٍ  سَلِیۡمٍ ﴿﴾  اِذۡ قَالَ  لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَاذَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿ۚ﴾  اَئِفۡکًا  اٰلِہَۃً  دُوۡنَ اللّٰہِ  تُرِیۡدُوۡنَ ﴿ؕ﴾  فَمَا ظَنُّکُمۡ  بِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk  golongannya.   Ketika ia datang menghadap Rabb-Nya (Tuhan-nya) dengan hati yang suci.    Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya:  مَاذَا تَعۡبُدُوۡنَ  --  “Apakah yang kamu sembahاَئِفۡکًا  اٰلِہَۃً  دُوۡنَ اللّٰہِ  تُرِیۡدُوۡنَ  -- Apakah kamu menghendaki kebohongan sembahan-sembahan  selain Allah? فَمَا ظَنُّکُمۡ  بِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  --   “Maka bagaimanakah pendapat kamu mengenai Rabb (Tuhan) seluruh alam?” (Ash-Shāffāt [37]:84-87).
     Manusia cenderung menyembah tuhan-tuhan palsu dalam wujud manusia-manusia yang kepada mereka dinisbahkan  kekuatan-kekuatan ketuhanan, atau benda-benda alam seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang, atau benda-benda tidak berjiwa, seperti berhala-berhala pahatan dari kayu dan batu, atau adat kuno sendiri, kebiasaan-kebiasaan, purbasangka-purbasangka, dan ketakhayulan-ketakhayulannya sendiri yang sudah lama bercokol, keinginan-keinginannya, nafsu-nafsunya  dan sebagainya.
      Selanjutnya   Allah Swt. berfirman mengenai “sindiran” Nabi Ibrahim a.s.   mengenai kemusyrikan kaumnya:
فَنَظَرَ  نَظۡرَۃً  فِی النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾  فَقَالَ  اِنِّیۡ سَقِیۡمٌ ﴿﴾  فَتَوَلَّوۡا عَنۡہُ  مُدۡبِرِیۡنَ ﴿﴾  فَرَاغَ  اِلٰۤی  اٰلِہَتِہِمۡ  فَقَالَ  اَلَا  تَاۡکُلُوۡنَ ﴿ۚ﴾  مَا  لَکُمۡ  لَا تَنۡطِقُوۡنَ ﴿﴾  فَرَاغَ  عَلَیۡہِمۡ  ضَرۡبًۢا بِالۡیَمِیۡنِ ﴿﴾  فَاَقۡبَلُوۡۤا  اِلَیۡہِ  یَزِفُّوۡنَ ﴿﴾   قَالَ  اَتَعۡبُدُوۡنَ  مَا تَنۡحِتُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ اللّٰہُ خَلَقَکُمۡ  وَ مَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوا ابۡنُوۡا لَہٗ  بُنۡیَانًا فَاَلۡقُوۡہُ  فِی الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾  فَاَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ  الۡاَسۡفَلِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian ia mengarahkan pandangan ke bintang-bintang.  Lalu berkata: “Sesungguhnya aku merasa sakit.” Maka mereka berpaling darinya meninggalkannya.  (Ash-Shāffāt [37]:84-91).
       Agaknya perbantahan antara Nabi Ibrahim a.s.   .  dan kaumnya mengenai Sifat-sifat Ilahi itu berlarut-larut sampai jauh malam, dan setelah melihat bahwa percakapan itu tidak ada manfaatnya, maka Nabi Ibrahim a.s.  berniat mempersingkatnya, karena itu beliau melayangkan pandangan ke bintang-bintang, yang dengan perbuatan itu memberi isyarat (sugesti) bahwa pembicaraan telah berlarut-larut sampai jauh malam dan lebih baik diakhiri.
  Mengingat akan kesia-siaan percakapan  dengan kaumnya tersebut, Nabi Ibrahim a.s.   memberitahukan kepada mereka bahwa sebaiknya mereka meninggalkan beliau seorang diri, karena beliau merasa tidak enak badan. Atau, kata-kata  “inni saqīm” dapat berarti  “Aku sakit melihat kamu menyembah berhala-berhala” atau “Aku benci akan persembahan kamu kepada tuhan-tuhan palsu itu.”

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 9 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar