بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 33
Tidak
Kekerasan Merupakan Ciri
Khas Para Penentang Rasul Allah Ketika
Mereka Tidak Berdaya
Menghadapi Argumentasinya yang Sulit Dibantah & Hakikat Mukjizat “Dinginnya Api” Bagi Nabi Ibrahim a.s.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya yang tetap bertahan pada kemusyrikan mereka, sekali pun Nabi
Ibrahim a.s. telah memberitahukan kesia-siaan kaumnya melakukan penyembahan terhadap berhala
mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
اٰتَیۡنَاۤ اِبۡرٰہِیۡمَ رُشۡدَہٗ مِنۡ
قَبۡلُ وَ کُنَّا بِہٖ عٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ﴾ اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ
وَ قَوۡمِہٖ مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ
الَّتِیۡۤ اَنۡتُمۡ لَہَا
عٰکِفُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا لَہَا
عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ
وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan sungguh sebelumnya Kami benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim
petunjuknya dan Kami mengetahui benar tentang dia. Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ الَّتِیۡۤ
اَنۡتُمۡ لَہَا عٰکِفُوۡنَ -- “Patung-patung apakah ini yang kamu
duduk tekun menyembah kepadanya?” قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ -- Mereka berkata: “Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.” قَالَ لَقَدۡ
کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ
ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- Ia, Ibrahim, berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Anbiya [21]:52-55).
Selanjutnya Nabi Ibrahim a.s. berkata
mengenai langkah-langkah yang akan
beliau lakukan untuk menyadarkan
kaumnya dari kemusyrikan yang mereka lakukan, firman-Nya:
وَ تَاللّٰہِ لَاَکِیۡدَنَّ
اَصۡنَامَکُمۡ بَعۡدَ اَنۡ تُوَلُّوۡا مُدۡبِرِیۡنَ ﴿﴾ فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا
اِلَّا کَبِیۡرًا لَّہُمۡ لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
“Dan demi
Allah, niscaya aku akan membuat rencana melawan berhala-berhala kamu, setelah kamu berlalu membalikkan punggungmu.” فَجَعَلَہُمۡ
جُذٰذًا اِلَّا کَبِیۡرًا لَّہُمۡ
لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ یَرۡجِعُوۡنَ -- Maka ia membuat berhala-hala
itu pecah berkeping-keping, ke-cuali
yang terbesar dari berhala
mereka, supaya mereka kembali
kepadanya” (Al-Anbiya [21]:59).
Bukan Perbuatan Seorang Penakut
Kata
pengganti hi dalam ungkapan ilaihi, dapat mengisyarakatkan kepada
(1) Tuhan (Allah Swt.), atau (2) kepada
berhala yang paling besar, atau (3) kepada Nabi Ibrahim a.s. sendiri, dengan makna:
(1)
Mudah-mudahan setelah melihat kedaan berhala-berhala
sembahan mereka yang hancur, kecuali berhala yang paling besar, mereka akan menyadari kesesatannya
dan mereka akan kembali (bertaubat) serta menyadi penyembah Allah Swt..
(2) Mereka akan menanyakan kepada berhala paling besar yang tersisa, apa gerangan yang terjadi dengan rekan-rekannya yang hancur berantakan.
(3) Mereka akan kembali dan mencari Nabi Ibrahim a.s. untuk menanyakan
alasan mengapa beliau melakukan perbuatan tersebut kepada berhala-berhala
mereka, sehingga Nabi Ibrahim a.s. mendapat kesempatan
yang lebih banyak untuk menjelaskan kesesatan mereka itu.
Perlu diketahui, bahwa perbuatan Nabi Ibrahim a.s. menghancurkan berhala-berhala mereka di
tempat pemujaan kaumnya tidak
dilakukan secara sembunyi sembunyi
dan ketika tidak ada orang lain -- seperti perbuatan seorang penakut atau pengecut -- melainkan telah dirancang sedemikian rupa
agar ada orang yang melihat dan mendengar apa yang beliau lakukan dan ucapkan
kepada berhala-berhala tersebut lalu memberitahu
para pemuka kaum mereka (QS.37:84-99),
firman-Nya:
فَرَاغَ اِلٰۤی اٰلِہَتِہِمۡ
فَقَالَ اَلَا تَاۡکُلُوۡنَ ﴿ۚ﴾ مَا
لَکُمۡ لَا تَنۡطِقُوۡنَ ﴿﴾ فَرَاغَ
عَلَیۡہِمۡ ضَرۡبًۢا بِالۡیَمِیۡنِ
﴿﴾
Maka ia (Ibrahim) pergi dengan diam-diam
kepada berhala-berhala mereka فَقَالَ
اَلَا تَاۡکُلُوۡنَ -- lalu ia berkata: “Mengapakah
kamu tidak makan? مَا لَکُمۡ
لَا تَنۡطِقُوۡنَ -- Apa yang terjadi atas kamu hingga kamu tidak bicara?” Lalu secara diam-diam ia memukul mereka dengan tangan kanan.
(Ash-Shāffāt [37]:92-94).
Nabi Ibrahim a.s. mengetahui bahwa patung-patung sembahan kaumnya tersebut
adalah benda-benda mati, ada pun pertanyaan yang beliau kemukakan kepada patung-patung tersebut maksudnya adalah agar didengar oleh orang-orang yang ada
di tempat penyembahan
patung-patung tersebut. Orang-orang
inilah yang kemudian melaporkan
perbuatan Nabi Ibrahim a.s. tersebut kepada para pemuka kaumnya yang datang ke
tempat pemujaan tersebut.
Sifat
paling menonjol Tuhan Yang Hidup adalah Dia bercakap-cakap
dengan abdi-Nya yang terpilih dan mendengar doa-doanya serta mengabulkannya
(QS.2:187; QS.40:61). Hanya tuhan yang
mati dan tidak hidup sajalah yang
tidak memiliki kemampuan berbicara
atau mendengar dan mengabulkan doa-doa para penyembahnya,
sebagaimana yang dikatakan Nabi Ibrahim a.s. kepada patung-patung sembahan kaumnya tersebut.
Kehinaan di Atas Kehinaan Orang-orang
Musyrik
Karena tangan kanan itu perlambang kekuatan dan kekuasaan, maka ayat: فَرَاغَ عَلَیۡہِمۡ ضَرۡبًۢا بِالۡیَمِیۡنِ -- “lalu
secara diam-diam ia memukul mereka
dengan tangan kanan,” ini mengandung arti bahwa Nabi Ibrahim a.s. memukul
berhala-berhala itu dengan kekuatan penuh
sampai pecah berkeping-keping. Yamīn
berarti pula sumpah, maka ayat ini dapat pula berarti bahwa Nabi
Ibrahim a.s. memecahkan berhala-berhala itu dalam
memenuhi sumpahnya (QS.21:58).
Rencana (siasat) Nabi
Ibrahim a.s. berhasil dengan baik
ketika perbuatan yang beliau lakukan
sampai pula beritanya kepada para
pemuka kaumnya, firman-Nya:
قَالُوۡا مَنۡ فَعَلَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَاۤ
اِنَّہٗ لَمِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا سَمِعۡنَا فَتًی یَّذۡکُرُہُمۡ یُقَالُ لَہٗۤ
اِبۡرٰہِیۡمُ ﴿ؕ﴾
Mereka
berkata: “Siapakah yang telah berbuat
demikian terhadap tuhan-tuhan kami?
Sesungguhnya ia benar-benar orang yang zalim!” Mereka
berkata: “Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka, ia disebut Ibrahim” (Al-Anbiya [21]:60-61).
Dzakara-hu berarti: (1) ia
membicarakan hal-hal yang baik atau tidak baik mengenai dia; (2) ia menyebutkan kesalahan-kesalahannya (Lexicon
Lane), mengenai kedua arti kata dzikr (yadzkuru) yang bertentangan
tersebut Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا رَاٰکَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡۤا اِنۡ
یَّتَّخِذُوۡنَکَ اِلَّا ہُزُوًا ؕ
اَہٰذَا الَّذِیۡ یَذۡکُرُ
اٰلِہَتَکُمۡ ۚ وَ ہُمۡ
بِذِکۡرِ الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ
کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
apabila orang-orang yang kafir itu melihat kepada engkau mereka menjadikan
engkau tidak melainkan hanya perolokan belaka dan berkata: اَہٰذَا
الَّذِیۡ یَذۡکُرُ اٰلِہَتَکُمۡ -- “Inikah orangnya yang menyebutkan
keburukan tuhan-tuhan kamu?”
وَ ہُمۡ
بِذِکۡرِ الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ -- Padahal mereka sendirilah yang menolak untuk mengingat Tuhan Yang Maha Pemurah. (Al-Anbiya [21]:37).
Jika seorang orang Arab berkata “la’in dzakartani la-tanda-manna,”
mak-sudnya ialah “jika engkau berkata
tidak baik mengenai diriku, engkau pasti akan menyesal. (Lexicon Lane).
Sebenarnya perkataan para pemuka mengenai patung-patung sembahan
mereka yang hancur
berantakan, secara tanpa mereka sadari merupakan kehinaan
bagi mereka mau pun bagi “tuhan-tuhan sembahan merela” yang tidak berdaya tersebut: قَالُوۡا مَنۡ فَعَلَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَاۤ
اِنَّہٗ لَمِنَ الظّٰلِمِیۡنَ -- “Mereka
berkata: “Siapakah yang telah berbuat
demikian terhadap tuhan-tuhan kami?
Sesungguhnya ia benar-benar orang yang zalim!” (Al-Anbiya [21]:60).
Pihak yang Mau Menghina Menjadi
Terhina di Hadapan Kaumnya Sendiri
Keberhasilan siasat Nabi Ibrahim a.s.
tersebut dijelaskan dalam ayat
selanjutnya, Allah Swt. berfirman:
قَالُوۡا
فَاۡتُوۡا بِہٖ عَلٰۤی اَعۡیُنِ النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَشۡہَدُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡۤا ءَاَنۡتَ فَعَلۡتَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَا
یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ ﴿ؕ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَہٗ ٭ۖ
کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ
اِنۡ کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ﴿﴾ فَرَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ فَقَالُوۡۤا
اِنَّکُمۡ اَنۡتُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Mereka berkata:
“Maka bawalah dia ke hadapan mata
manusia supaya mereka dapat menjadi
saksi.” قَالُوۡۤا ءَاَنۡتَ فَعَلۡتَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَا یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ -- Mereka berkata: “Apakah eng-kau yang telah berbuat seperti ini terhadap tuhan-tuhan kami, ya Ibra-him?”
قَالَ بَلۡ فَعَلَہٗ ٭ۖ
کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ
اِنۡ کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ -- Ia menjawab: “Bahkan, sese-orang telah berbuat itu. Di antara mereka yang besar ini maka tanyakanlah
kepada mereka jika mereka dapat
berkata-kata.” فَرَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ فَقَالُوۡۤا اِنَّکُمۡ اَنۡتُمُ الظّٰلِمُوۡنَ -- Maka mereka
kembali kepada pemimpin mereka lalu berkata: “Se-sungguhnya kamu sendiri orang-orang yang zalim.”
(Al-Anbiya [21]:62-65).
Alasan mengapa Nabi Ibrahim a.s.
dipanggil untuk menghadap
orang-orang banyak, ialah supaya orang-orang yang telah mendengar
beliau memburuk-burukkan berhala-berhala
harus memberi penyaksian terhadap
beliau, atau, bahwa sesudah mendengar
kesaksian yang memberatkan Nabi Ibrahim a.s. dapat diputuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan
terhadap beliau dan supaya mereka dapat menyaksikan
hukuman yang akan dilaksanakan itu, sebagai peringatan atau ancaman
terhadap siapa pun yang menghina
“sembahan-sembahan” mereka.
Selain
arti yang diberikan dalam teks, ungkapan dalam bahasa Arab itu boleh jadi telah
diucapkan oleh Nabi Ibrahim a.s. secara
sindiran seperti telah menjadi
kebiasaan beliau bila berbicara dengan kaum beliau, penyembah berhala-berhala.
Dalam hal demikian kata-kata itu kira-kira akan berarti sebagai berikut: “Mengapa aku harus melakukan itu, barangkali
berhala yang paling besar telah melakukan itu.”
Maksudnya, kenyataan itu jelas sekali sehingga
tidak perlu dipertanyakan lagi atau diperjelas lagi bahwa beliaulah yang
melakukan itu. Sekiranya bukan beliau yang mengerjakannya, dapatkah sebongkah batu yang tidak bernyawa
mengerjakannya?
Dengan Kehendak Allah Swt. Kobaran
Api Menjadi Dingin Bagi Nabi
Ibrahim a.s.
Nabi Ibrahim a.s. nampaknya mencela kaumnya dan menjelaskan
kepada mereka kesia-siaan
perbuatan-perbuatan syirik mereka; pertama-tama dengan memecahkan berhala-berhala itu dan kemudian dengan menantang penyembah-penyembahnya supaya bertanya kepada berhala-berhala itu, sekiranya berhala-berhala itu dapat berbicara untuk memberitahukan kepada mereka siapa yang telah memecahkan berhala-berhala itu.
Jawaban
telak Nabi Ibrahim a.s. atas pertanyaan
yang mereka terperangah dengan penuh rasa malu karena dialog tersebut terjadi di hadapan banyak orang, firman-Nya:
ثُمَّ نُکِسُوۡا عَلٰی رُءُوۡسِہِمۡ ۚ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا ہٰۤؤُلَآءِ یَنۡطِقُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ اَفَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا
یَنۡفَعُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَا یَضُرُّکُمۡ ﴿ؕ﴾ اُفٍّ لَّکُمۡ وَ لِمَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Kemudian mereka sambil menundukkan
kepala mereka berkata: لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا ہٰۤؤُلَآءِ یَنۡطِقُوۡنَ -- “Sungguh engkau benar-benar telah mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berkata-kata.” قَالَ اَفَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا یَنۡفَعُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَا یَضُرُّکُمۡ -- Ia,
Ibrahim, berkata: ”Apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepada kamu sedikit pun dan tidak
memudaratkanmu? اُفٍّ لَّکُمۡ وَ لِمَا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا
تَعۡقِلُوۡنَ -- “Ah celakalah atas kamu dan atas apa yang
kamu sembah selain Allah! Apakah
kamu tidak mengerti?” (Al-Anbiya [21]:66-68).
Ungkapan bahasa Arab: ثُمَّ نُکِسُوۡا عَلٰی رُءُوۡسِہِمۡ dapat berarti, (a) mereka kembali kepada
keadaan kekafiran seperti semula,
atau tingkah-laku yang buruk; (b) mereka kembali kepada perbantahan
sesudah mereka mengikuti jalan yang benar;
(c) mereka menundukkan kepala
karena malu dan menjadi bungkam sama sekali – QS.2:259 (Lexicon Lane & Ruh-ul
Ma’ani).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai sikap zalim para penentang Rasul Allah ketika mereka mengalami kekalahan telak dalam beradu argumentasi
dengan Rasul Allah:
قَالُوۡا
حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ
اِنۡ کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی
اِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۙ﴾ وَ اَرَادُوۡا بِہٖ
کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ نَجَّیۡنٰہُ
وَ لُوۡطًا اِلَی الۡاَرۡضِ
الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا لِلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah
tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.” قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ -- Kami berfirman: “Hai api, ja-dilah kamu dingin dan
keselamatan atas Ibrahim!”
وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ
الۡاَخۡسَرِیۡنَ -- Dan
mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami
menjadikan mereka orang-orang yang
paling rugi. Dan Kami
telah menyelamat-kan dia dan Luth
ke negeri yang telah Kami berkati di dalamnya untuk seluruh umat manusia. (Al-Anbiya [21]:69-72).
Perkataan mereka yang penuh kemarahan terhadap nabi Ibrahim a.s. semakin
mempermalukan diri mereka sendiri
berkenaan dengan “tuhan-tuhan sembahan”
mereka: قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا
اٰلِہَتَکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ -- “Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah
tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau
melakukan sesuatu.”
Hakikat Terjadinya Mukjizat & Melakukan HIjrah Adalah Sunnah Para Rasul Allah
Bagaimana caranya api itu menjadi dingin
sehingga tidak membakar Nabi Ibrahim
a.s., hal tersebut kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu
atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt.
memang menimbulkan keadaan yang
membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim
a.s. dari bahaya.
Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu
sungguh merupakan mukjizat besar.
Bahwa Nabi Ibrahim a.s. telah
dilemparkan ke dalam kobaran api
diakui bukan saja orang-orang Yahudi,
tetapi juga oleh orang-orang Kristen dari
Timur, buktinya ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari
dikhususkan dalam penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa
tersebut (Hyde, De Rel. Vet Per. p. 73). Lihat pula
Mdr. Rabbah on Gen. Per. 17; Schalacheleth Hakabala, 2; Maimon de Idol, Ch. I; dan Jad Hachazakah Vet, 6).
Makna ayat: وَ نَجَّیۡنٰہُ وَ لُوۡطًا اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا
لِلۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan
Kami telah menyelamatkan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati di dalamnya untuk seluruh umat manusia. (Al-Anbiya [21]:72), Nabi
Ibrahim a.s. bepergian dari Ur (Mesopotamia) ke Harran dan dari sana atas perintah Ilahi - ke Kanaan
yang Allah Swt. telah tetapkan akan diberikan
kepada keturunan beliau (QS.5:22; QS.21-27;106-107).
Perjalanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Luth a.s. itu mempunyai tujuan dan
maksud yang tepat. Semua nabi Allah yang
besar atau para pengikut mereka --
sesuai dengan maksud dan rencana Ilahi -- pada suatu waktu harus hijrah,
meninggalkan kampung halaman mereka,
termasuk Nabi Adam a.s. dan para
pengikutnya, yang telah disalah-tafsirkan
sebagai “diusir dari surga” (QS.2:36-40;
QS.7:25; QS.20:124).
Dalam
firman Allah Swt. berikut ini
dikemukakan bahwa sebelum Nabi Ibrahim a.s. menghancurkan berhala-berhala sembahan kaumnya
terlebih dulu telah terjadi dialog yang
berkepanjangan antara beliau dengan para pemuka kaumnya, sebagaimana yang dilakukan Nabi Nuh a.s. sebelumnya (QS.71:1-29), firman-Nya:
وَ اِنَّ مِنۡ شِیۡعَتِہٖ لَاِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۘ﴾ اِذۡ
جَآءَ رَبَّہٗ بِقَلۡبٍ
سَلِیۡمٍ ﴿﴾ اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَاذَا تَعۡبُدُوۡنَ
﴿ۚ﴾ اَئِفۡکًا
اٰلِہَۃً دُوۡنَ اللّٰہِ تُرِیۡدُوۡنَ ﴿ؕ﴾ فَمَا ظَنُّکُمۡ
بِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan
sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk
golongannya. Ketika ia datang menghadap Rabb-Nya (Tuhan-nya)
dengan hati yang suci. Ketika ia berkata kepada ayahnya dan
kaumnya: مَاذَا تَعۡبُدُوۡنَ -- “Apakah
yang kamu sembah? اَئِفۡکًا اٰلِہَۃً
دُوۡنَ اللّٰہِ تُرِیۡدُوۡنَ -- Apakah kamu
menghendaki kebohongan sembahan-sembahan selain Allah?
فَمَا ظَنُّکُمۡ
بِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Maka bagaimanakah
pendapat kamu mengenai Rabb (Tuhan)
seluruh alam?” (Ash-Shāffāt [37]:84-87).
Manusia
cenderung menyembah tuhan-tuhan palsu dalam wujud manusia-manusia yang kepada mereka
dinisbahkan kekuatan-kekuatan ketuhanan, atau benda-benda alam seperti matahari,
bulan, dan bintang-bintang, atau benda-benda
tidak berjiwa, seperti berhala-berhala
pahatan dari kayu dan batu, atau adat kuno sendiri, kebiasaan-kebiasaan,
purbasangka-purbasangka, dan ketakhayulan-ketakhayulannya sendiri
yang sudah lama bercokol, keinginan-keinginannya, nafsu-nafsunya dan
sebagainya.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai “sindiran” Nabi Ibrahim a.s. mengenai kemusyrikan
kaumnya:
فَنَظَرَ نَظۡرَۃً
فِی النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾ فَقَالَ اِنِّیۡ سَقِیۡمٌ ﴿﴾ فَتَوَلَّوۡا عَنۡہُ
مُدۡبِرِیۡنَ ﴿﴾ فَرَاغَ اِلٰۤی
اٰلِہَتِہِمۡ فَقَالَ اَلَا
تَاۡکُلُوۡنَ ﴿ۚ﴾ مَا لَکُمۡ
لَا تَنۡطِقُوۡنَ ﴿﴾ فَرَاغَ عَلَیۡہِمۡ
ضَرۡبًۢا بِالۡیَمِیۡنِ ﴿﴾ فَاَقۡبَلُوۡۤا
اِلَیۡہِ یَزِفُّوۡنَ ﴿﴾ قَالَ
اَتَعۡبُدُوۡنَ مَا تَنۡحِتُوۡنَ
﴿ۙ﴾ وَ اللّٰہُ خَلَقَکُمۡ وَ مَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوا ابۡنُوۡا لَہٗ بُنۡیَانًا فَاَلۡقُوۡہُ فِی الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ فَاَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَسۡفَلِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian ia
mengarahkan pandangan ke bintang-bintang.
Lalu berkata: “Sesungguhnya aku merasa
sakit.” Maka mereka berpaling
darinya meninggalkannya. (Ash-Shāffāt
[37]:84-91).
Agaknya perbantahan antara Nabi Ibrahim a.s. . dan
kaumnya mengenai Sifat-sifat Ilahi itu
berlarut-larut sampai jauh malam, dan setelah melihat bahwa percakapan itu tidak ada manfaatnya,
maka Nabi Ibrahim a.s. berniat
mempersingkatnya, karena itu beliau melayangkan pandangan ke bintang-bintang, yang dengan perbuatan itu memberi isyarat (sugesti)
bahwa pembicaraan telah berlarut-larut sampai jauh malam dan lebih baik
diakhiri.
Mengingat akan kesia-siaan percakapan dengan kaumnya tersebut, Nabi Ibrahim a.s.
memberitahukan
kepada mereka bahwa sebaiknya mereka meninggalkan beliau seorang diri, karena
beliau merasa tidak enak badan. Atau,
kata-kata “inni saqīm” dapat
berarti “Aku sakit melihat kamu menyembah berhala-berhala” atau “Aku benci akan persembahan kamu kepada
tuhan-tuhan palsu itu.”
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 9 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar