Sabtu, 05 September 2015

Pengulangan Kepedulian Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. di Akhir Zaman Melalui Masih Mau'ud a.s. & Makna Lain Kata "Dhaallan" Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 29

Pengulangan Kepedulian Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. di Akhir Zaman Melalui Masih Mau’ud a.s. &  Makna Lain Kata Dhāllan Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw.

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai keterangan-  bahwa bila Nabi Besar Muhammad saw.  itu pendusta, maka Tangan perkasa – yakni Ke-Mahakuasaan-Nya -- Allah Swt. pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau saw. dan pasti beliau saw.  telah menemui kematian  pedih, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu, firman-Nya:
اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾  لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia,   dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai.          Dan Al-Quran ini bukanlah  perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat.  تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  --         Ini adalah wahyu yang diturunkan dari  Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ --    Dan seandainya ia mengada-adakan sebagaian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --  niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kananثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ -- kemudian niscaya Kami me-motong urat nadinya,  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ  --           maka tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu da-rinya.  (Al-Hāqqah [69]:41-47).
       Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20:
“Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.”

Ancaman Bagi Penentang Rasul Allah    

  Dalam firman-Nya berikut ini  diketahui bahwa ancaman Allah Swt. yang mengerikan  tersebut bukan hanya berlaku bagi para pendakwa palsu, tetapi juga  berlaku bagi para penentang pendakwaan   Rasul Allah, firman-Nya:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  
Maka   siapakah yang lebih zalim مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا --  daripada    orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah  اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ  --  atau mendustakan Ayat-ayat-Nya?  اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ -- Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  --  hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawa-nya seraya berkata:   Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?”  قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ -- Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka   memberi kesaksian terhadap diri me-reka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir. (Al-A’rāf [7]:38).
   Kata-kata: اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ – “Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan”,    berarti bahwa mereka yang menolak (mendustakan) Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt..
 Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya keberadaan Hizbullāh  atau jemaat  Ilahi  yang merupakan  tatanan “langit baru dan bumi baru” yang dibentuk oleh Rasul Allah, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ ﴿﴾  فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾  سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ ﴿ۙ﴾  لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾  ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Dan  sungguh  mereka telah melakukan makar mereka, tetapi makar mereka ada di sisi Allah,  dan  jika sekali pun  makar mereka dapat me-mindahkan gunung-gunung, maka janganlah engkau sama sekali menyangka  bahwa  Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ    --   Pada hari ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula seluruh langit, وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ --    dan mereka akan tampil menghadap Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa.  وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ  -- Dan  engkau akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat dengan rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ  --  Baju mereka dari pelangkin (ter), dan wajah mereka akan tertutup  api. لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ --  Supaya Allah membalas setiap jiwa  apa yang telah diusahakannya, sesungguhnya penghisaban Allah sangat cepat. ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ  -- Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya dengannya mereka mendapat peringatan, dan supaya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, dan supaya orang-orang yang berakal memberi-kan perhatian. (Ibrahim [14]:47-53).

Ciri-ciri Hizbullāh (Golongan Allah) yang Hakiki

         Selanjutnya Allah Swt. berfirman  mengenai Sunnah-Nya  yang tidak akan pernah berubah, termasuk di Akhir Zaman ini:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  ﴿﴾  لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.    کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ    - Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.  لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ   --           Engkau tidak akan men-dapatkan suatu kaum yang menya-takan beriman kepada Allah dan Hari Akhir namun demikian  mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,  walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ  -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri,  وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal  di dalamnya.  رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ --  Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya.  ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ --  mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allāh  itulah orang-orang yang berhasil. (Al-Mujadilah [58]:21-23).
 Ayat 21-22 menyatakan bahwa  telah  tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran  yang dibawa para Rasul Allah senantiasa menang terhadap kepalsuan para penentangnya, sekali pun mereka itu merupakan golongan mayoritas.
 Ayat 23 menjelaskan bahwa  dalam upaya mewujudkan “bumi baru dan langit  baru” untuk menggantikan tananan lama yang sudah rusak,   bahwa tidak mungkin terdapat persahabatan atau perhubungan cinta sejati atau sungguh-sungguh di antara orang-orang beriman  dengan  orang-orang kafir. Sebab cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain, dan karena kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada, maka orang-orang beriman  diminta jangan mempunyai persahabatan yang erat lagi mesra dengan orang-orang kafir. Ikatan agama harus mengatasi segala perhubungan lainnya, malahan mengatasi pertalian darah yang amat dekat sekalipun.
   Itulah ciri-ciri utama Hizbullāh yang hakiki, sehingga : رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ --  Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya.  ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ --  mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil.”

Kesedihan Hati Rasul Akhir Zaman Menyaksikan Kemunduran Umat Islam

   Pendek kata, lebih dari 23 tahun sejak Mirza Ghulam Ahmad a.s. – atas perintah Allah Swt. -- mendakwakan diri sebagai Masih Mau’ud a.s.  dan juga Imam Mahdi a.s., bukan sekedar terhindar dari Sunnatullah yang menimpa  para  pendakwa dusta,  bahkan sekali pun kesehatan beliau sering kali membuat beliau sangat menderita, tetapi dalam keadaan itu pun beliau  sering kali melancarkan tantangan mubahalah (QS.3:62) terhadap para penentang  missi beliau yang zalim dan bermulut kotor untuk meminta keputusan Allah Swt..
 Keberanian tersebut karena Masih Mau’ud a.s. meyakini   bahwa tugas yang beliau emban tidak ada hubungannya dengan  kepentingan pribadi beliau melainkan sepenuhnya untuk membukti kesempurnaan  agama Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani  Nabi Besar Muhammad saw. yang di masa kemunduran umat Islam selama 1000 tahun sejak 3 abad masa kejayaannya  yang pertama (QS.32:6) mendapat  serangan yang hebat dari berbagai pihak, karena keadaan umumnya umat Islam sendiri pun telah menjadikan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ وَ نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾  اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ  یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی  یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾  یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا ﴿﴾  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾ 
Dan pada hari   ketika langit akan terpecah-belah dengan awan-awan  dan malaikat-malaikat akan diturunkan   bergelombang-gelombangاَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ  --     Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا  --  dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.   Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata:   یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا    --  ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا  -- Wahai celakalah aku, alang-kah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ  --   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat ke-pada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- Dan syaitan selalu menelantarkan manusia.  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.” وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  --  Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا  -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong  (Al-Furqān [25]:26-32).
      Ayat 31   dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
     Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa  di Akhir Zaman sekarang  inilah saat yang dimaksudkan itu.

Pengulangan Kesedihan dan Kepedulian   Nabi Besar Muhammad Saw.

       Kesedihan hati Masih Mau’ud a.s. menyaksikan berbagai bentuk  kemunduran yang dialami oleh umat Islam dalam masa 1000 tahun setelah   3 abad kejayaan mereka yang pertama  tersebut  (QS.32:6), pada hakikatnya merupakan pengulangan kembali kesedihan dan  kegelisahan yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw. ketika menyaksikan keadaan jahiliyah yang meliputi kaum beliau saw.  (QS.62:3-4), sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ وَ الضُّحٰی ۙ﴿﴾ وَ الَّیۡلِ  اِذَا سَجٰی ۙ﴿﴾  مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی ؕ﴿﴾  وَ  لَلۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ الۡاُوۡلٰی ؕ﴿﴾  وَ  لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی ؕ﴿﴾  اَلَمۡ  یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿﴾  وَ  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿﴾  وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی ؕ﴿﴾  فَاَمَّا  الۡیَتِیۡمَ  فَلَا تَقۡہَرۡ ؕ﴿﴾  وَ اَمَّا السَّآئِلَ  فَلَا تَنۡہَرۡ ﴿ؕ﴾  وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ  رَبِّکَ  فَحَدِّثۡ ﴿٪﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi terangnya sinar pagi ketika sedang naik,   dan demi malam apabila ke-gelapannya menyebar, مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی --    Sekali-kali Rabb (Tuhan) engkau tidak meninggalkan engkau  dan tidak pula Dia murka atas engkau. وَ  لَلۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ الۡاُوۡلٰی --   Dan sesungguhnya keadaan  kemudian lebih baik bagi engkau daripada keadaan permulaan. وَ  لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی --  dan Rabb (Tuhan) engkau   segera akan  memberikan kepada engkau hingga engkau menjadi puas. اَلَمۡ  یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی  --    Tidakkah Dia  mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan perlindungan?  وَ  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی  -- Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk. وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی   --  Dan Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau. فَاَمَّا  الۡیَتِیۡمَ  فَلَا تَقۡہَرۡ  --   Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewe-nang-wenang. وَ اَمَّا السَّآئِلَ  فَلَا تَنۡہَرۡ    --  Dan terhadap orang yang meminta-minta  janganlah engkau meng-hardik.  وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ  رَبِّکَ  فَحَدِّثۡ   --  Dan terhadap nikmat Rabb (Tuhan) engkau hendaknya menyatakannya.  (Adh-Dhuhā [93]:1-12). 
   Al-Dhuhā  (terangnya sinar pagi ketika sedang naik) dapat berarti kebangkitan dan kemajuan Islam. Ungkapan ini dapat pula menunjuk kepada waktu “dhuhā” tertentu -- saat peristiwa Fatah Mekkah  -- ketika Nabi Besar Muhammad saw. masuk ke Mekkah mengepalai suatu lasykar terdiri dari 10.000 prajurit kudus, dan Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala.
 Kata  “Malam” dapat berarti masa-panjang kemunduran Islam (QS.32:6). “Malam” itu dapat menunjuk kepada malam tertentu, ketika sesudah kegelapan malam tiba – guna menyelamatkan diri dari makar buruk yang dirancang oleh Abu Jahal  dan kawan-kawannya (QS.8:31)   -- Nabi Besar Muhammad saw.  keluar dari rumah beliau saw. di Mekkah dan mencari perlindungan di Gua Tsaur  bersama-sama Hadhrat Abu Bakar r.a. (QS.9:40) dan  akhirnya  keduanya sampai di Madinah.
 Pada hakikatnya “malam” ialah  ketika  Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan Mekkah, dan “siang”  yaitu ketika  Nabi Besar Muhammad sawa. kembali ke Mekkah pada peristiwa Fatah Mekkah;  kedua-duanya (malam dan siang) itu, melukiskan berbagai keadaan turun-naiknya seluruh perjuangan Nabi Besar Muhammad saw..

Bukti Kebersertaan Allah Swt. dengan Nabi Besar Muhammad Saw.

   Makna ayat: مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی –    “Sekali-kali Rabb (Tuhan) engkau tidak meninggalkan engkau  dan tidak pula Dia murka atas engkau,”    bahwa tiap siang dan malam Nabi Besar Muhammad saw.; kemenangan-kemenangan besar beliau sa. dan masa-masa kemunduran yang bersifat sementara, kegembiraan dan kesedihan beliau saw., ibadah-ibadah beliau saw. di waktu malam dan kegiatan beliau saw. pada siang hari, kesemuanya menjadi saksi bahwa Allah Swt. ada beserta beliau saw..
    Bahkan, tiap saat di dalam kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. adalah lebih baik daripada saat sebelumnya: وَ  لَلۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ الۡاُوۡلٰی --   Dan sesungguhnya keadaan  kemudian lebih baik bagi engkau daripada keadaan permulaan.” Lebih lanjut Dia berfirman: وَ  لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی --  dan Rabb (Tuhan) engkau   segera akan  memberikan kepada engkau hingga engkau menjadi puas.”
  Untuk lebih meyakinkan benarnya kebesertaan Allah Swt. dengan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman: اَلَمۡ  یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی  --    Tidakkah Dia  mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan perlindungan?”  Beliau saw.  adalah seorang anak yatim, baik menurut arti kata sebenarnya maupun dalam arti kiasan. Keadaan yatim-piatu beliau saw. termasuk macam yatim-piatu yang luar biasa.
     Ayahanda Nabi Besar Muhammad saw.   -- yakni  'Abdullah bin Abdul Muthalib   -- wafat ketika beliau saw. belum lahir, dan ibunda wafat ketika beliau saw. baru berusia 6 tahun, dan kakek beliau saw., Abdul Muththalib  -- yang menjadi wali beliau saw. sesudah ibunda wafat   -- telah wafat pula dua tahun kemudian dan meninggalkan beliau saw. di bawah asuhan Abu Thalib, paman beliau saw. yang mempunyai mata pencaharian kurang mencukupi,   karena itu Nabi Besar Muhammad saw. hanya sebentar mengenyam belaian dan kasih-sayang orangtua, ketika beliau saw. masih kanak-kanak.
  Namun kenyataan membuktikan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. beliau saw. menerima kecintaan dan kasih-sayang dari orang-orang di bawah maupun di atas usia beliau saw. – para sahabat dan teman sebangsa beliau saw., dari para pengikut beliau saw. pada abad-abad kemudian, dalam kadar begitu tinggi, sehingga tidak ada seorang pun yang dilahirkan oleh seorang perempuan pernah menerima kecintaan semacam itu sebelum atau pun kelak kemudian hari. Demikianlah makna ayat: اَلَمۡ  یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی  --    “Tidakkah Dia  mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan perlindungan?”.

Makna Lain Kata “Dhāllan” Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw.

    Makna kata dhālla  dalam ayat selanjutnya:   وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی  -- Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk” adalah  “hilang sirna dalam kecintaan”, berarti:   ia bingung dan tidak mampu melihat arah tujuan; ia sama sekali tenggelam atau hilang dalam kecintaan, atau berkelana mencari sesuatu dan gigih dalam pencariannya (Lexicon Lane).
   Mengingat berbagai arti kata dhālla itu, ayat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut:
 (1) Nabi Besar Muhammad saw.  berkelana mencari jalan dan sarana untuk mencapai Allah Swt., lalu Dia mewahyukan kepada beliau saw. syariat yang membimbing beliau ke arah tujuan yang didambakan;
 (2) Beliau saw. bingung dan tidak mengetahui betapa cara menemukan jalan yang menjurus ke arah tercapainya apa yang dicari beliau saw. lalu  Allah Swt. membimbing beliau saw. ke jalan itu;
 (3) Seluruh wujud beliau saw. telah hilang dalam kecintaan kepada kaum beliau lalu Allah Swt. membekali beliau saw. dengan petunjuk sempurna bagi mereka;
  (4) Beliau saw. tersembunyi dari mata dunia dan Allah Swt.  menemukan beliau saw. lalu memilih beliau saw. untuk mengemban tugas membimbing umat manusia sampai kepada-Nya.
Dengan demikian kata dhālla tidak dipakai sebagai celaan, bahkan sebagai pujian terhadap Nabi Besar Muhammad saw.. Kata ini tidak mengena dan tidak pula dapat dikenakan kepada beliau  saw. dalam arti “telah tersesat,” sebab menurut ayat Al-Quran lain (QS.53:3) beliau saw. kebal terhadap kesalahan atau kesesatan.
   Lebih-lebih 6 ayat terakhir dalam Surah Adh-Dhuha  ini menunjukkan suatu urutan tertentu ayat-ayat 7, 8, dan 9 masing-masing mempunyai hubungan erat dan bersesuaian dengan ayat-ayat 10, 11, dan 12. Dhālla dalam ayat 8, yang digantikan oleh kata sā’il dalam ayat 11, menjelaskan arti dhālla, yaitu “orang yang mencari pertolongan Ilahi supaya dibimbing kepada-Nya atau supaya diberi petunjuk.”
   Ayat:  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی  -- Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk”   dapat pula berarti  “Allah mendapatkan diri engkau hilang dalam keasyikan mencari Dia dan membimbing engkau ke hadirat-Nya.”
 Makna ayat selanjutnya: وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی   --  Dan Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau”, bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  mengawali hidup beliau sebagai seorang anak yatim lagi prihatin tetapi mengakhiri hayat beliau  saw. sebagai seorang penguasa tanpa tanding di seluruh negeri Arab.
   Ayat-ayat 7, 8, dan 9 membicarakan karunia-karunia Allah  Swt. atas  Nabi Besar Muhammad saw., dan dalam 10, 11, dan 12 beliau saw. diperintahkan supaya menunjukkan rasa terima kasih beliau saw. dengan jalan melakukan kebajikan serupa terhadap sesama manusia. Perintah ini berlaku sama pula bagi para pengikut beliau saw..
   Itulah makna ayat:  فَاَمَّا  الۡیَتِیۡمَ  فَلَا تَقۡہَرۡ  --   Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. وَ اَمَّا السَّآئِلَ  فَلَا تَنۡہَرۡ    --  Dan terhadap orang yang meminta-minta  janganlah engkau menghardik.  وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ  رَبِّکَ  فَحَدِّثۡ   --  dan terhadap nikmat Rabb (Tuhan) engkau hendaknya menyatakannya.  (Adh-Dhuhā [93]:1-12). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 6 September 2015




Pajajaran Anyar, 6 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar