بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 29
Pengulangan Kepedulian Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. di Akhir Zaman Melalui Masih Mau’ud a.s. & Makna
Lain Kata Dhāllan Berkenaan Nabi
Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai keterangan- bahwa bila Nabi Besar Muhammad saw. itu pendusta,
maka Tangan perkasa – yakni Ke-Mahakuasaan-Nya -- Allah Swt. pasti menangkap
dan memutuskan urat pada leher beliau
saw. dan pasti beliau saw. telah menemui
kematian
pedih, dan seluruh pekerjaan
dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang
demikianlah nasib seorang nabi palsu, firman-Nya:
اِنَّہٗ لَقَوۡلُ
رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ تَقَوَّلَ
عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ
بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ
مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang
disampaikan seorang Rasul mulia,
dan bukanlah Al-Quran itu perkataan
seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai. Dan Al-Quran ini bukanlah perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Ini
adalah wahyu yang diturunkan dari
Rabb
(Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ
عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagaian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا
مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ
لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian
niscaya Kami me-motong urat nadinya,
فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ -- maka
tidak ada seorang pun di antara kamu
dapat mencegah itu da-rinya. (Al-Hāqqah
[69]:41-47).
Dakwa dan keterangan yang tercantum
dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi
yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20:
“Tetapi
seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang
tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah
lain, nabi itu harus mati.”
Ancaman Bagi Penentang Rasul Allah
Dalam firman-Nya
berikut ini diketahui bahwa ancaman Allah Swt. yang mengerikan tersebut bukan hanya berlaku bagi para pendakwa palsu, tetapi juga berlaku bagi para penentang pendakwaan Rasul Allah, firman-Nya:
فَمَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ
مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا
جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ
ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ
تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی
اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Maka siapakah
yang lebih zalim مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا -- daripada orang yang mengada-adakan kedustaan
terhadap Allah اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ -- atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ
مِّنَ الۡکِتٰبِ -- Mereka akan
memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا
اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ -- hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawa-nya seraya
berkata: ”Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا
عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ -- Mereka
berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.”
Dan mereka memberi kesaksian terhadap diri
me-reka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah
orang-orang kafir. (Al-A’rāf [7]:38).
Kata-kata: اُولٰٓئِکَ
یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ – “Mereka akan
memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan”, berarti bahwa mereka yang menolak (mendustakan) Utusan-utusan Allah
akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan
mereka. Mereka akan merasakan hukuman
yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt..
Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman mengenai pentingnya keberadaan Hizbullāh atau jemaat Ilahi yang merupakan
tatanan “langit baru dan bumi baru” yang dibentuk oleh Rasul Allah, firman-Nya:
وَ قَدۡ
مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ
لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾ یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ
السَّمٰوٰتُ وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ
الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ
فِی الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾ سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی
وُجُوۡہَہُمُ النَّارُ ﴿ۙ﴾ لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ
کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾ ہٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا
اَنَّمَا ہُوَ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ
وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا
الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Dan sungguh mereka
telah melakukan makar mereka, tetapi makar
mereka ada di sisi Allah, dan jika sekali pun makar
mereka dapat me-mindahkan gunung-gunung, maka janganlah engkau sama sekali menyangka bahwa Allah
akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya Allah
Maha Perkasa, Yang memiliki
pembalasan. یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ
الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ -- Pada hari
ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula seluruh langit, وَ بَرَزُوۡا
لِلّٰہِ الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ -- dan
mereka akan tampil menghadap Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa. وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی الۡاَصۡفَادِ -- Dan engkau
akan melihat orang-orang yang berdosa
pada hari itu diikat dengan rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ
مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ
النَّارُ -- Baju
mereka dari pelangkin (ter), dan wajah mereka akan tertutup api. لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Supaya
Allah membalas setiap jiwa apa yang telah diusahakannya, sesungguhnya
penghisaban Allah sangat cepat. ہٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ
لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ اِلٰہٌ
وَّاحِدٌ وَّ لِیَذَّکَّرَ
اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya dengannya mereka mendapat peringatan, dan supaya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, dan supaya
orang-orang yang berakal memberi-kan
perhatian. (Ibrahim [14]:47-53).
Ciri-ciri Hizbullāh (Golongan Allah) yang Hakiki
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Sunnah-Nya yang tidak akan pernah berubah, termasuk di Akhir Zaman ini:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی
الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ
الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ
حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ لَوۡ
کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ
اِخۡوَانَہُمۡ اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ
ؕ اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ
الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ
مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ
حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ
ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang
yang sangat hina. کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ - Allah
telah menetapkan: “Aku dan
rasul-rasul-Ku pasti
akan menang.” Sesungguhnya Allah
Maha Kuat, Maha Perkasa. لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ
بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ
یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ -- Engkau tidak akan men-dapatkan suatu
kaum yang menya-takan beriman kepada Allah dan Hari Akhir namun demikian mereka
mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, walau
pun mereka itu bapak-bapak mereka atau anak-anak
mereka atau saudara-saudara mereka
ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam
hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam
kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
Mereka kekal di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka ridha
kepada-Nya. ؕ
اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ
حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- mereka
Itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allāh itulah orang-orang yang berhasil. (Al-Mujadilah
[58]:21-23).
Ayat 21-22 menyatakan bahwa
telah tersurat nyata pada
lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran yang dibawa para Rasul Allah senantiasa menang
terhadap kepalsuan para penentangnya, sekali pun mereka itu
merupakan golongan mayoritas.
Ayat 23 menjelaskan bahwa
dalam upaya mewujudkan “bumi baru
dan langit baru” untuk menggantikan tananan lama yang sudah rusak, bahwa tidak mungkin terdapat persahabatan atau perhubungan cinta sejati atau sungguh-sungguh
di antara orang-orang beriman dengan
orang-orang kafir. Sebab cita-cita,
pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain, dan karena kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan
yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada, maka orang-orang beriman diminta
jangan mempunyai persahabatan yang erat
lagi mesra dengan orang-orang kafir. Ikatan agama harus mengatasi segala perhubungan lainnya, malahan mengatasi pertalian darah yang amat dekat
sekalipun.
Itulah ciri-ciri utama Hizbullāh yang hakiki, sehingga : رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- Allah ridha kepada mereka dan mereka
ridha kepada-Nya. ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- mereka
Itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang berhasil.”
Kesedihan Hati Rasul Akhir Zaman Menyaksikan Kemunduran Umat Islam
Pendek kata, lebih dari 23
tahun sejak Mirza Ghulam Ahmad a.s. – atas perintah Allah Swt. -- mendakwakan
diri sebagai Masih Mau’ud a.s. dan juga Imam
Mahdi a.s., bukan sekedar terhindar dari Sunnatullah yang menimpa
para pendakwa dusta, bahkan
sekali pun kesehatan beliau sering
kali membuat beliau sangat menderita,
tetapi dalam keadaan itu pun beliau
sering kali melancarkan tantangan mubahalah
(QS.3:62) terhadap para penentang missi beliau yang zalim dan bermulut kotor untuk
meminta keputusan Allah Swt..
Keberanian tersebut karena
Masih Mau’ud a.s. meyakini bahwa tugas
yang beliau emban tidak ada hubungannya dengan
kepentingan pribadi beliau melainkan
sepenuhnya untuk membukti kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad
saw. yang di masa kemunduran umat Islam
selama 1000 tahun sejak 3 abad masa
kejayaannya yang pertama (QS.32:6) mendapat serangan
yang hebat dari berbagai pihak, karena keadaan umumnya umat Islam sendiri pun telah menjadikan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ
تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ وَ نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾ اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ
کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ
یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ
یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا
خَلِیۡلًا ﴿﴾ لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ
عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ
لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾ وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan pada hari
ketika langit
akan terpecah-belah dengan awan-awan
dan malaikat-malaikat akan diturunkan
bergelombang-gelombang. اَلۡمُلۡکُ
یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ -- Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang
Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا -- dan
azab pada hari itu atas orang-orang
kafir sangat keras. Dan
pada hari itu orang zalim akan
menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata: یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ
سَبِیۡلًا -- ”Wahai alangkah baiknya jika aku
mengambil jalan bersama dengan Rasul
itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- Wahai celakalah aku, alang-kah baiknya seandainya aku tidak menjadikan
si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ
اِذۡ جَآءَنِیۡ -- Sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat
ke-pada Allah sesudah ia
datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- Dan syaitan
selalu menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ
قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا -- Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah
ditinggalkan.” وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ
نَصِیۡرًا -- dan
cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai
Pemberi petunjuk dan Penolong (Al-Furqān [25]:26-32).
Ayat 31 dengan
sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri
orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali
belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan
dan dilupakan oleh orang-orang Muslim
seperti dewasa ini.
Ada
sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari
Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa di Akhir
Zaman sekarang inilah saat yang
dimaksudkan itu.
Pengulangan Kesedihan dan
Kepedulian Nabi Besar Muhammad Saw.
Kesedihan hati Masih Mau’ud a.s. menyaksikan berbagai bentuk kemunduran
yang dialami oleh umat Islam dalam
masa 1000 tahun setelah 3 abad kejayaan mereka yang pertama tersebut
(QS.32:6), pada hakikatnya merupakan pengulangan
kembali kesedihan dan kegelisahan
yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw. ketika menyaksikan keadaan jahiliyah yang meliputi kaum
beliau saw. (QS.62:3-4), sebagaimana
dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ وَ الضُّحٰی ۙ﴿﴾ وَ الَّیۡلِ
اِذَا سَجٰی ۙ﴿﴾ مَا وَدَّعَکَ
رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی ؕ﴿﴾ وَ لَلۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ الۡاُوۡلٰی ؕ﴿﴾ وَ لَسَوۡفَ
یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی ؕ﴿﴾ اَلَمۡ
یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿﴾ وَ وَجَدَکَ
ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿﴾ وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا
فَاَغۡنٰی ؕ﴿﴾ فَاَمَّا
الۡیَتِیۡمَ فَلَا تَقۡہَرۡ ؕ﴿﴾ وَ اَمَّا السَّآئِلَ فَلَا تَنۡہَرۡ ﴿ؕ﴾ وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ
رَبِّکَ فَحَدِّثۡ ﴿٪﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Demi terangnya sinar pagi ketika sedang naik, dan demi
malam apabila ke-gelapannya
menyebar, مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی -- Sekali-kali Rabb (Tuhan) engkau tidak
meninggalkan engkau dan tidak pula Dia murka atas engkau.
وَ لَلۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ الۡاُوۡلٰی -- Dan sesungguhnya keadaan kemudian lebih baik bagi
engkau daripada keadaan permulaan. وَ
لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی -- dan Rabb (Tuhan) engkau segera
akan memberikan kepada engkau hingga
engkau menjadi puas. اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی -- Tidakkah
Dia
mendapati engkau yatim lalu Dia
memberikan perlindungan? وَ وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی -- Dan Dia
mendapati engkau larut dalam kecintaan
kepada kaum engkau lalu Dia
memberi engkau petunjuk. وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی -- Dan
Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau. فَاَمَّا
الۡیَتِیۡمَ فَلَا تَقۡہَرۡ -- Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah
engkau berlaku sewe-nang-wenang. وَ اَمَّا السَّآئِلَ فَلَا تَنۡہَرۡ -- Dan
terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau meng-hardik. وَ اَمَّا
بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ فَحَدِّثۡ -- Dan
terhadap nikmat Rabb (Tuhan) engkau hendaknya
menyatakannya. (Adh-Dhuhā
[93]:1-12).
Al-Dhuhā
(terangnya sinar pagi ketika sedang naik) dapat berarti kebangkitan dan kemajuan Islam. Ungkapan ini dapat pula menunjuk kepada waktu “dhuhā” tertentu -- saat peristiwa Fatah Mekkah -- ketika Nabi Besar Muhammad saw. masuk ke
Mekkah mengepalai suatu lasykar terdiri dari 10.000 prajurit kudus, dan Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala.
Kata “Malam” dapat berarti masa-panjang kemunduran Islam (QS.32:6). “Malam” itu
dapat menunjuk kepada malam tertentu,
ketika sesudah kegelapan malam tiba – guna menyelamatkan diri
dari makar buruk yang dirancang oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya (QS.8:31) -- Nabi Besar Muhammad saw. keluar
dari rumah beliau saw. di Mekkah dan mencari perlindungan di Gua Tsaur bersama-sama Hadhrat Abu Bakar r.a. (QS.9:40)
dan akhirnya keduanya sampai di Madinah.
Pada hakikatnya “malam”
ialah ketika Nabi Besar Muhammad saw. meninggalkan Mekkah, dan “siang” yaitu ketika Nabi Besar Muhammad sawa. kembali ke Mekkah pada peristiwa Fatah Mekkah; kedua-duanya (malam dan siang) itu, melukiskan
berbagai keadaan turun-naiknya
seluruh perjuangan Nabi Besar Muhammad saw..
Bukti Kebersertaan Allah Swt. dengan Nabi Besar Muhammad Saw.
Makna ayat: مَا
وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی – “Sekali-kali Rabb
(Tuhan) engkau tidak meninggalkan engkau dan tidak
pula Dia murka atas engkau,” bahwa tiap siang dan malam Nabi Besar Muhammad saw.; kemenangan-kemenangan besar beliau sa.
dan masa-masa kemunduran yang
bersifat sementara, kegembiraan dan kesedihan beliau saw., ibadah-ibadah beliau saw. di waktu malam dan kegiatan beliau saw. pada siang
hari, kesemuanya menjadi saksi
bahwa Allah Swt. ada beserta beliau
saw..
Bahkan,
tiap saat di dalam kehidupan Nabi
Besar Muhammad saw. adalah lebih baik
daripada saat sebelumnya: وَ لَلۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ الۡاُوۡلٰی -- Dan sesungguhnya keadaan kemudian lebih baik bagi
engkau daripada keadaan permulaan.” Lebih lanjut Dia berfirman: وَ لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ
فَتَرۡضٰی -- dan Rabb (Tuhan)
engkau segera akan memberikan kepada
engkau hingga engkau menjadi puas.”
Untuk lebih meyakinkan benarnya kebesertaan
Allah Swt. dengan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut selanjutnya Allah Swt.
berfirman: اَلَمۡ
یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی --
Tidakkah Dia mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan perlindungan?” Beliau saw. adalah seorang anak yatim, baik menurut arti kata sebenarnya maupun dalam arti kiasan. Keadaan yatim-piatu beliau saw. termasuk macam yatim-piatu yang luar biasa.
Ayahanda Nabi Besar Muhammad saw. -- yakni 'Abdullah bin Abdul Muthalib -- wafat ketika beliau saw. belum
lahir, dan ibunda wafat ketika beliau saw. baru berusia 6 tahun, dan kakek
beliau saw., Abdul Muththalib -- yang
menjadi wali beliau saw. sesudah
ibunda wafat -- telah wafat pula dua
tahun kemudian dan meninggalkan beliau saw. di bawah asuhan Abu Thalib, paman
beliau saw. yang mempunyai mata pencaharian kurang mencukupi, karena itu Nabi Besar Muhammad saw. hanya
sebentar mengenyam belaian dan kasih-sayang orangtua, ketika beliau saw.
masih kanak-kanak.
Namun kenyataan membuktikan bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. beliau saw. menerima kecintaan
dan kasih-sayang dari orang-orang di
bawah maupun di atas usia beliau saw. – para sahabat dan teman sebangsa beliau
saw., dari para pengikut beliau saw. pada abad-abad kemudian, dalam kadar begitu tinggi, sehingga tidak ada
seorang pun yang dilahirkan oleh seorang perempuan pernah menerima kecintaan semacam itu sebelum atau pun
kelak kemudian hari. Demikianlah makna ayat: اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی -- “Tidakkah
Dia
mendapati engkau yatim lalu Dia
memberikan perlindungan?”.
Makna Lain Kata “Dhāllan” Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw.
Makna kata dhālla dalam
ayat selanjutnya: وَجَدَکَ ضَآلًّا
فَہَدٰی --
Dan Dia mendapati engkau larut dalam
kecintaan kepada kaum engkau
lalu Dia memberi engkau petunjuk”
adalah “hilang sirna dalam kecintaan”,
berarti: ia bingung dan tidak mampu
melihat arah tujuan; ia sama sekali tenggelam atau hilang dalam kecintaan, atau
berkelana mencari sesuatu dan gigih dalam pencariannya (Lexicon Lane).
Mengingat berbagai arti kata dhālla itu,
ayat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut:
(1) Nabi Besar Muhammad saw. berkelana mencari jalan dan sarana untuk mencapai Allah Swt., lalu Dia mewahyukan kepada beliau saw. syariat yang membimbing beliau ke arah tujuan yang didambakan;
(2) Beliau saw. bingung dan tidak mengetahui
betapa cara menemukan jalan yang
menjurus ke arah tercapainya apa yang dicari
beliau saw. lalu Allah Swt. membimbing beliau saw. ke jalan itu;
(3) Seluruh wujud beliau saw. telah hilang dalam kecintaan kepada kaum
beliau lalu Allah Swt. membekali beliau saw. dengan petunjuk sempurna bagi mereka;
(4)
Beliau saw. tersembunyi dari mata
dunia dan Allah Swt. menemukan beliau saw.
lalu memilih beliau saw. untuk mengemban tugas
membimbing umat manusia sampai
kepada-Nya.
Dengan
demikian kata dhālla tidak dipakai sebagai celaan, bahkan sebagai pujian
terhadap Nabi Besar Muhammad saw.. Kata ini tidak mengena dan tidak pula dapat
dikenakan kepada beliau saw. dalam arti
“telah tersesat,” sebab menurut ayat
Al-Quran lain (QS.53:3) beliau saw. kebal
terhadap kesalahan atau kesesatan.
Lebih-lebih 6 ayat terakhir dalam Surah Adh-Dhuha ini menunjukkan suatu urutan tertentu
ayat-ayat 7, 8, dan 9 masing-masing mempunyai hubungan erat dan bersesuaian
dengan ayat-ayat 10, 11, dan 12. Dhālla dalam ayat 8, yang digantikan
oleh kata sā’il dalam ayat 11, menjelaskan arti dhālla, yaitu “orang yang mencari pertolongan Ilahi supaya
dibimbing kepada-Nya atau supaya diberi petunjuk.”
Ayat: وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی -- Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau
lalu Dia memberi engkau petunjuk” dapat
pula berarti “Allah mendapatkan diri engkau hilang dalam keasyikan mencari Dia dan
membimbing engkau ke hadirat-Nya.”
Makna ayat selanjutnya: وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی -- Dan
Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau”, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengawali hidup beliau sebagai seorang anak yatim lagi prihatin tetapi mengakhiri hayat beliau saw. sebagai seorang penguasa tanpa tanding di seluruh negeri Arab.
Ayat-ayat 7, 8, dan 9 membicarakan
karunia-karunia Allah Swt. atas
Nabi Besar Muhammad saw., dan dalam 10,
11, dan 12 beliau saw. diperintahkan supaya menunjukkan rasa terima kasih beliau saw. dengan jalan melakukan kebajikan serupa terhadap sesama manusia. Perintah ini berlaku
sama pula bagi para pengikut beliau saw..
Itulah
makna ayat: فَاَمَّا الۡیَتِیۡمَ
فَلَا تَقۡہَرۡ -- Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah
engkau berlaku sewenang-wenang. وَ اَمَّا السَّآئِلَ فَلَا تَنۡہَرۡ --
Dan terhadap orang yang
meminta-minta janganlah engkau
menghardik. وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ فَحَدِّثۡ -- dan terhadap nikmat Rabb (Tuhan)
engkau hendaknya menyatakannya. (Adh-Dhuhā [93]:1-12).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 6 September 2015
Pajajaran
Anyar, 6 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar