بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 54
Perumpamaan Istri Fir’aun dan Hubungannya dengan Keadaan Nafs
Lawwamah (Jiwa yang Mencela Diri) &
Perumpamaan Pribadi-pribadi
Surgawi yang Meraih Keadaan “Nafs-al-Muthmainnah” (Jiwa yang Tentram)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan mengenai hakikat penyelamatan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya (Maryam
binti ‘Imran) oleh Allah Swt. dari makar
buruk para pemuka kaum Yahudi ke sebuah tempat
yang tinggi (rabwah) yang subur dan penuh dengan sumber mata air yang mengalir, bahwa hal
tersebut bukan sekedar menggambarkan tempat
secara jasmani tetapi juga
menggambarkan martabat ruhani,
sebagaimana firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran
yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir (Al-Mu’minūn [23]:51).
Jika
ayat tersebut dibandingkan dengan firman-Nya berikut ini --
mengenai tingkat ruhani Maryam
binti ‘Imran dan tingkat ruhani Isa
Ibnu Maryam a.s. -- maka akan nampak
keterkaitan kedua firman Allah Swt. tersebut:
وَ
مَرۡیَمَ ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ الَّتِیۡۤ
اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا
فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا
وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami, dan ia
menggenapi firman Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, وَ کَانَتۡ مِنَ
الۡقٰنِتِیۡنَ -- dan ia
termasuk orang-orang yang patuh (At-Tahrim
[66]:13).
Pengembaraan Jauh dan Lama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Kuburannya di Srinagar - Kasymir
Dalam kenyataannya, karena dalam pengembaraan panjang Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai Al-Masih
-- mencari sepuluh “domba-domba Israel” yang hilang (tercerai-berai) yang berada di
luar Palestina (Kanaan – Yohanes 10:1-14) -- tersebut
ibu beliau, Maryam binti ‘Imran, lebih dulu meninggal maka beliau dikuburkan di
Murree (Mari) --
sesuai dengan nama beliau, di wilayah Pakistan sekarang -- sedangkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
melanjutkan perjalanan ke Kasymir yang penduduknya adalah keturunan “domba-domba” (suku-suku) Bani
Israil yang hilang, beliau wafat di sana dalam
usia 120 tahun dan dimakamkan di desa Khan
Yar, Srinagar – Kashmir, dengan penuh kehormatan.
Sebaliknya, kaum
Yahudi di Yerusalem
sepeninggal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. – setelah peristiwa penyaliban (QS.54:157-159)
-- mereka bukan saja harus
menyaksikan penghancuran kota Yerusalem oleh serbuan Titus dari kerajaan Romawi (Matius 23:37-39 & 24:1-22), bahkan
mereka telah kehilangan tanah air serta menjadi bangsa pengembara di berbagai pelosok dunia selama 2000 tahun serta kehilangan nikmat kenabian dan kerajaan (QS.5:21) karena
selanjutnya dipindahkan kepada bani Isma’il (Ulangan 15-19), sebagaimana nubuatan dalam Injil:
23:37
"Yerusalem, Yerusalem , engkau yang
membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang
diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,
tetapi kamu tidak mau.
23:38
Lihatlah rumahmu ini
akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. 23:39
Dan Aku berkata kepadamu: Mulai
sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hinggakamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama
Tuhan!"
Lebih lanjut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) menggambarkan kehancuran
mengerikan yang menimpa Yerusalem
tersebut:
24:1 Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah
murid-murid-Nya dan menunjuk kepada
bangunan-bangunan Bait Allah. 24:2 Ia berkata kepada mereka: "Kamu
melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas
batu yang lain; semuanya
akan diruntuhkan."
Jadi, walau pun benar bahwa Maryam
binti ‘Imran dan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. kedua ibu dan anak tersebut diselamatkan Allah Swt. di sebuah wilayah
yang tinggi yakni wilayah pegunungan Himalaya, tetapi keduanya dimakamkan di dua tempat yang
berbeda yakni di kota Murree dan di
Srinagar – Kasymir, dan kota Srinagar letaknya lebih tinggi daripada kota Murree,
hal ini bukan peristiwa kebetulan
melainkan merupakan takdir Ilahi,
seakan-akan mengisyaratkan kelebihan tingkat
ruhani Isa Ibnu Maryam daripada tingkatan
ruhani Maryam binti ‘Imran (QS.66:13).
Kematian Tragis
Para Penentang Rasul Allah yang Takabbur Tidak “Ditangisi Langit dan Bumi” & Istri-istri Durhaka Nabi Nuh a.s. dan
Nabi Luth a.s.
Contoh
lainnya lagi adalah para pemuka kaum Nabi Nuh a.s., mereka dengan penuh ketakaburan telah menghina
Nabi Nuh a.s. dan merendahkan status sosial orang-orang yang beriman kepada beliau (QS.11:28; QS.26:112), demikian
juga mereka telah memperolok-olok
Nabi Nuh a.s. ketika beliau -- atas perintah Allah Swt -- beserta para pengikutnya sedang membuat perahu, firman-Nya:
وَ اُوۡحِیَ
اِلٰی نُوۡحٍ اَنَّہٗ لَنۡ
یُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِکَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا کَانُوۡا
یَفۡعَلُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾ وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا وَ لَا
تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَصۡنَعُ
الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا مَرَّ عَلَیۡہِ مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ قَالَ اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا
نَسۡخَرُ مِنۡکُمۡ کَمَا تَسۡخَرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ فَسَوۡفَ
تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ عَذَابٌ یُّخۡزِیۡہِ وَ یَحِلُّ
عَلَیۡہِ عَذَابٌ مُّقِیۡمٌ﴿﴾
Dan telah diwahyukan kepada Nuh: “Tidak akan pernah beriman seorang pun dari
kaum engkau selain orang yang telah
beriman sebelumnya maka janganlah
engkau bersedih mengenai apa yang
senantiasa mereka kerjakan. Dan buatlah
bahtera itu di hadapan pengawasan mata Kami dan sesuai dengan wahyu Kami. Dan janganlah
engkau bicarakan dengan Aku mengenai orang
yang zalim, se-sungguhnya mereka
itu akan ditenggelamkan.” وَ یَصۡنَعُ الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا
مَرَّ عَلَیۡہِ مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ
سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ -- Dan ia
mulai membuat bahtera itu, dan setiap
kali pemuka-pemuka kaumnya sedang melewatinya, mereka itu menertawakannya. قَالَ اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا
نَسۡخَرُ مِنۡکُمۡ کَمَا تَسۡخَرُوۡنَ -- Ia,
Nuh, berkata: “Jika kini kamu mentertawakan kami maka
saat itu akan datang ketika kami
pun akan mentertawakan kamu, seperti kamu
mentertawakan kami. فَسَوۡفَ
تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ عَذَابٌ یُّخۡزِیۡہِ وَ یَحِلُّ
عَلَیۡہِ عَذَابٌ مُّقِیۡمٌ -- Maka
segera kamu akan mengetahui siapa yang kepadanya akan datang azab yang akan
menistakannya, dan kepada siapa akan
menimpa azab yang tetap.” (Hūd
[11]:37-40).
Kenyataan membuktikan bahwa setelah azab Ilahi selesai menghancurkan
kaum Nabi Nuh a.s. yang takabbur, perahu Nabi Nuh a.s. berlabuh
di sebuah puncak gunung Al-Judi (QS.11:45), sedangkan para penentang beliau – dan d demikian juga para penentang rasul-rasul Allah lainnya di berbagai zaman kenabian yang takabbur -- mati terkapar
penuh kehinaan, berikut ini firman-Nya
mengenai kehinaan yang menimpa
Fir’aun:
کَمۡ تَرَکُوۡا مِنۡ جَنّٰتٍ وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ وَّ زُرُوۡعٍ
وَّ مَقَامٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ وَّ نَعۡمَۃٍ
کَانُوۡا فِیۡہَا فٰکِہِیۡنَ ﴿ۙ﴾ کَذٰلِکَ ۟ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا اٰخَرِیۡنَ ﴿﴾ فَمَا بَکَتۡ
عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ
مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ ﴿٪﴾
Berapa
banyaknya kebun-kebun yang mereka tinggalkan dan sumber-sumber mata air, dan
ladang-ladang serta tempat-tempat mulia, dan nikmat-nikmat
yang da-hulu mereka di dalamnya
bersenang-senang. Demikianlah, dan Kami mewariskannya kepada kaum lain. فَمَا بَکَتۡ
عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ
مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ -- Maka sekali-kali tidak menangisi mereka langit dan bumi, dan mereka
sekali-kali tidak pula diberi tangguh. (Ad-Dukhan [44]:26-30).
Mereka menjumpai nasib malang mereka dalam keaiban
dan kehinaan, tidak diratapi, tanpa penghormatan dan tanpa sanjungan.
Raja bernasib malang yang dalam kesombongannya menyebut dirinya "tuhan" itu tenggelam ke dalam laut (10:91) dengan mengucapkan kata-kata yang
terkenangkan, "Aku percaya bahwa
tidak ada Tuhan selain Dia, Yang kepada-Nya Bani Israil beriman."
Jadi, mengapa orang-orang
kafir dalam QS.66:11 diumpamakan seperti istri-istri durhaka Nabi Nuh
a.s. dan istri Nabi Luth a.s., untuk
menunjukkan bahwa persahabatan dengan
orang bertakwa, -- bahkan nabi
Allah sekalipun -- tidak berfaedah
bagi orang yang mempunyai kecenderungan
buruk menolak kebenaran, sehingga
akibatnya dua istri durhaka tersebut menjadi penghuni ap[I neraka
bersama-sama dengan kaumnya yang mendustakan
dan menentang Nabi Nuh a.s. dan Nabi
Luth a.s., firman-Nya:
ضَرَبَ
اللّٰہُ مَثَلًا لِّلَّذِیۡنَ
کَفَرُوا امۡرَاَتَ نُوۡحٍ وَّ
امۡرَاَتَ لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ
عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا
عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
AllAh mengemukakan istri Nuh dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada kedua suami mere-ka, maka
mereka berdua sedikit pun tidak dapat
membela kedua istri mereka itu di
hadapan Allah, وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ
الدّٰخِلِیۡنَ --dan dikatakan kepada mereka: -- “Masuklah
kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang
yang masuk” (At-Tahrīm [66]:11).
Misal Istri Fir’aun
yang Shalihah dan Misal Maryam
binti ‘Imran serta Isa Ibnu Maryam
Istri
Fir’aun dalam ayat selanjutnya (QS.66:12) menggambarkan keadaan orang-orang beriman, yang meskipun berkeinginan dan berdoa terus-menerus agar bebas
dari dosa, tidak sepenuhnya dapat
melepaskan diri dari pengaruh buruk
yang dilukiskan dalam wujud Fir’aun, -- yakni gejolak nafs-al-Ammarah
(QS.12:54) -- dan setelah sampai kepada tingkat “jiwa yang meyesali diri sendiri” (nafsu lawwamah – QS.75:3) kadang-kadang gagal dan kadang-kadang tergelincir, firman-Nya:
وَ ضَرَبَ
اللّٰہُ مَثَلًا لِّلَّذِیۡنَ
اٰمَنُوا امۡرَاَتَ فِرۡعَوۡنَ ۘ
اِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ابۡنِ لِیۡ عِنۡدَکَ
بَیۡتًا فِی الۡجَنَّۃِ وَ
نَجِّنِیۡ مِنۡ فِرۡعَوۡنَ وَ عَمَلِہٖ وَ نَجِّنِیۡ مِنَ الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Allah mengemukakan istri Fir’aun sebagai misal bagi orang-orang beriman, ketika
ia berkata: “Hai Rabb (Tuhan), buatkanlah bagiku di sisi Engkau sebuah
rumah di surga, dan selamatkanlah
aku dari Fir’aun dan perbuatannya,
dan selamatkanlah aku dari kaum yang
zalim (At-Tahrīm [66]:12).
Ada pun
perumpamaan berikutnya, Maryam binti ‘Imran, ibunda Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melambangkan
hamba-hamba Allah yang bertakwa, yang karena telah menutup segala jalan dosa dan karena telah berdamai
dengan Allah Swt., mereka dikaruniai ilham
Ilahi -- yang digambarkan sebagai “peniupan ruh” dari Allah Swt. -- kata pengganti hi dalam fīhi dalam ayat 13 menunjuk kepada orang-orang beriman yang bernasib
baik serupa itu. Atau, kata pengganti itu dapat pula menggantikan kata farj,
yang secara harfiah berarti celah
atau sela, artinya lubang yang dengan melaluinya dosa dapat masuk, firman-Nya:
وَ
مَرۡیَمَ ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ الَّتِیۡۤ
اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا
فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا
وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga Maryam putri ‘Imran, yang telah memelihara kesuciannya, فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ مِنۡ
رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ -- maka Kami
meniupkan ke dalamnya Ruh Kami, dan ia menggenapi firman Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, dan ia termasuk orang-orang yang patuh. (At-Tahrīm [66]:13).
Jadi, betapa penuh hikmahnya firman Allah
Swt. mengenai tempat penyelamatan
terhormat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
bersama ibu beliau, Maryam binti ‘Imran:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran
yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir (Al-Mu’minūn [23]:51).
Satu syair yang telah diucapkan dalam bahasa Persia mengenai keindahan
wilayah Kasymir:
“Jika ada surga di bumi, maka di
sinilah, di sinilah, di sinilah.”
Martabat Ruhani Nafs-al-Muthmainnah (Jiwa yang Tentram) atau “Pribadi Surgawi”
Orang-orang bertakwa yang dengan karunia
Allah Swt. memperoleh martabat ruhani Maryam binti ‘Imran atau martabat ruhani Isa Ibnu Maryam a.s. adalah hamba-hamba Allah yang meraih keadaan nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang tentram),
firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا
النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ
اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی
رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً -- Kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau
ridha kepada-Nya dan Dia pun
ridha kepada engkau. فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ﴿ -- Maka masuklah
dalam golongan hamba-hamba-Ku, وَ ادۡخُلِیۡ
جَنَّتِیۡ -- dan
masuklah ke dalam surga-Ku (Al-Fajr [89]:28-31).
Ayat-ayat ini merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal
terhadap segala macam kelemahan akhlak,
diperkuat dengan kekuatan ruhani yang
khusus.
Ia “manunggal”
dengan Allah Swt. dalam Sifat, dan tidak dapat hidup tanpa Dia.
Di dunia inilah dan bukan sesudah
mati perubahan
ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan bukan di
tempat lain jalan dibukakan baginya
untuk masuk ke surga,
firman-Nya: فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ﴿ -- Maka masuklah
dalam golongan hamba-hamba-Ku, وَ ادۡخُلِیۡ
جَنَّتِیۡ -- dan masuklah
ke dalam surga-Ku.”
Demikianlah tiga misal (perumpamaan) yang dikemukakan
Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai baik-buruknya sikap manusia
terhadap Rasul Allah yang
dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37).
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ
اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ -- mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ -- Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.” اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Sesungguhnya
Allah Maha Kuat, Maha Perkasa (Al-Mujadalah [58]:21-22).
Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan, bagaimana pun hebatnya keadaan duniawi para pendukung kebathilan (kepalsuan)
tersebut, sebagaimana yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala yang menentang para rasul Allah yang diutus kepada mereka
(QS.7:35-37).
“Hizbullāh” (Golongan Allah) yang Hakiki
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai “Hizbullāh”
(golongan Allah) yang hakiki, yakni para pengikut Rasul Allah yang diutus kepada mereka:
لَا تَجِدُ
قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗ وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ
کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ
وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan
suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir, tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ -- walau pun mereka itu bapak-bapak
mereka atau anak-anak mereka
atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam
hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا
الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya, رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ
حِزۡبُ اللّٰہِ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka ridha
kepada-Nya, mereka itulah golongan
Allah. اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Ketahuilah,
sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang
yang berhasil (Al-Mujadalah [58]:23).
Sudah nyata bahwa
tidak mungkin terdapat persahabatan
atau perhubungan cinta sejati atau
sungguh-sungguh di antara orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah dengan orang-orang
kafir, sebab cita-cita,
pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain, dan karena adanya
kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan
yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada, maka orang-orang beriman diminta
jangan mempunyai persahabatan yang erat
lagi mesra dengan orang-orang kafir.
Ikatan agama harus mengatasi
segala perhubungan lainnya, bahkan mengatasi
pertalian darah yang amat dekat sekalipun, jika dalam kenyataannya
mereka itu merupakan para penentang
Allah Swt. Dan Rasul-Nya. Ayat ini
nampaknya merupakan seruan umum.
Tetapi secara khusus seruan itu
tertuju kepada orang-orang kafir yang
ada dalam berperang dengan kaum Muslim.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 28 September 2015