Minggu, 06 September 2015

Berbeda Dengan "Kesimpulan Berdasarkan Dugaan" Para Filosof, Para Rasul Allah -- Terutama Nabi Besar Muhammad Saw. -- Memperkenalkan "Tuhan Yang Hakiki" Yakni Allah Swt. Kepada Umat Manusia Sebagai Suatu Kenyataan (Realita)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 30

    Berbeda Dengan “Kesimpulan Berdasarkan  Dugaan” Para Filosof,  Para Rasul Allah -- Terutama  Nabi Besar Muhammad Saw. --  Memperkenalkan Tuhan  Yang Hakiki yakni  Allah Swt.   Kepada Umat Manusia Sebagai Suatu Kenyataan (Realita)

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna kata dhālla  berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat:   وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی  -- Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk” (Adh-Dhuhā [93]:8), adalah  “hilang sirna dalam kecintaan”, berarti:   ia bingung dan tidak mampu melihat arah tujuan; ia sama sekali tenggelam atau hilang dalam kecintaan, atau berkelana mencari sesuatu dan gigih dalam pencariannya (Lexicon Lane).

Berbagai Arti Kata Dhālla

   Mengingat berbagai arti kata dhālla itu, ayat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut:
 (1) Nabi Besar Muhammad saw.  berkelana mencari jalan dan sarana untuk mencapai Allah Swt., lalu Dia mewahyukan kepada beliau saw. syariat yang membimbing beliau saw. ke arah tujuan yang didambakan;
 (2) Beliau saw. bingung dan tidak mengetahui betapa cara menemukan jalan yang menjurus ke arah tercapainya apa yang dicari beliau saw. lalu  Allah Swt. membimbing beliau saw. ke jalan itu;
 (3) Seluruh wujud beliau saw. telah hilang atau tenggelam dalam kecintaan kepada kaum beliau lalu Allah Swt. membekali beliau saw. dengan petunjuk sempurna bagi mereka;
  (4) Beliau saw. tersembunyi dari mata dunia dan Allah Swt.  menemukan beliau saw. lalu memilih beliau saw. untuk mengemban tugas membimbing umat manusia sampai kepada-Nya.
 Dengan demikian kata dhālla tidak dipakai sebagai celaan, bahkan sebagai pujian terhadap Nabi Besar Muhammad saw.. Kata ini tidak mengena dan tidak pula dapat dikenakan kepada beliau  saw. dalam arti “telah tersesat,” sebab menurut ayat Al-Quran lain (QS.53:3) beliau saw. kebal terhadap kesalahan atau kesesatan.
   Lebih-lebih 6 ayat terakhir dalam Surah Adh-Dhuha  ini menunjukkan suatu urutan tertentu ayat-ayat 7, 8, dan 9 masing-masing mempunyai hubungan erat dan bersesuaian dengan ayat-ayat 10, 11, dan 12. Dhālla dalam ayat 8, yang digantikan oleh kata sā’il dalam ayat 11, menjelaskan arti dhālla, yaitu “orang yang mencari pertolongan Ilahi supaya dibimbing kepada-Nya atau supaya diberi petunjuk.”
   Ayat:  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی  -- Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk” dapat pula berarti  “Allah mendapatkan diri engkau hilang dalam keasyikan mencari Dia dan membimbing engkau ke hadirat-Nya.”
 Makna ayat selanjutnya: وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی   --  Dan Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau”, bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  mengawali hidup beliau sebagai seorang anak yatim lagi prihatin tetapi mengakhiri hayat beliau  saw. sebagai seorang penguasa tanpa tanding di seluruh negeri Arab.
   Ayat-ayat 7, 8, dan 9 membicarakan karunia-karunia Allah  Swt. atas  Nabi Besar Muhammad saw., dan dalam 10, 11, dan 12 beliau saw. diperintahkan supaya menunjukkan rasa   syukur  beliau saw. dengan jalan melakukan kebajikan serupa terhadap sesama manusia. Perintah ini berlaku sama pula bagi para pengikut beliau saw..
   Itulah makna ayat:  فَاَمَّا  الۡیَتِیۡمَ  فَلَا تَقۡہَرۡ  --   Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. وَ اَمَّا السَّآئِلَ  فَلَا تَنۡہَرۡ    --  Dan terhadap orang yang meminta-minta  janganlah engkau menghardik.  وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ  رَبِّکَ  فَحَدِّثۡ   --  dan terhadap nikmat Rabb (Tuhan) engkau hendaknya menyatakannya.  (Adh-Dhuhā [93]:1-12). 

Rahmat Allah Swt. Meliput Segalanya

         Di Akhir Zaman ini salah satu dari sekian banyak rahmat dan karunia Allah Swt. yang dianugerahkan-Nya  kepada Masih Mau’ud a.s. – yang merupakan kedatangan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muham ad saw. (QS.62:3-4)  -- adalah pembukaan khazanah ruhani Al-Quran  atau makrifat Ilahi yang melimpah-ruah.
     Mengenai hal tersebut selanjutnya Al-Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai rahmat Sifat Rabubiyat Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah ayat 2:  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  “Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam”:
      “Allah adalah Nur   seluruh langit dan bumi. Setiap sinar yang tampak di dataran tinggi mau pun di lembah, apakah di dalam kalbu atau jasmani, apakah bersifat pribadi atau impersonal, apakah kelihatan atau tersembunyi, apakah di dalam fikiran manusia atau di luarnya, semuanya merupakan berkat dari Rahmat-Nya. Hal ini menjadi tanda bahwa rahmat umum dari Rabb (Tuhan) seluruh  alam menyelimuti keseluruhan dan tidak ada yang dikecualikan dari rahmat tersebut. Dia adalah Sumber dari semua rahmat dan menjadi Sumber utama dari semua nur dan menjadi Sumber mata air dari semua kerahiman (kasih-sayang).
    Wujud-Nya adalah penyangga alam ini dan menjadi tempat berlindung segalanya. Dia itulah Yang telah membawa keluar segala hal dari kegelapan ketiadaan dan mengaruniakan atas semuanya jubah perwujudan. Tidak ada yang mewujud dan abadi di luar Wujud-Nya,  dan tidak ada yang tidak menerima Rahmat-Nya. Bumi dan langit, manusia dan hewan, batu dan pepohonan, ruh dan jasmani, semua mewujud berkat Rahmat-Nya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 191-192, London, 1984).
       Sabda  Masih mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. mengenai “Nur di atas nur” yang telah dibahas dalam   Bab 23 dan 27 sebelum ini, firman-Nya:
 اَللّٰہُ  نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ  فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ  زَیۡتُوۡنَۃٍ  لَّا شَرۡقِیَّۃٍ  وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur  seluruh langit dan bumi. Perumpamaan nur-Nya   seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca.   Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu  pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- Nur di atas nur.  یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ  -- Allah memberi bimbingan menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ --  dan Allah mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  -- dan Allah Maha  Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).

Tuhan Islam Nyata di Alam Semesta dan Disadari Hati Manusia

       Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kesaksian seluruh  partikel alam semesta dan fitrat manusia mengenai Wujud Allah Swt.:
        “Tuhan di dalam agama Islam adalah Tuhan Yang sama dengan Yang ada dalam cermin dari hukum alam,  dan sebagaimana diuraikan dalam kitab sejarah alam. Islam tidak ada mempersembahkan Tuhan yang baru, tetapi mengemukakan Tuhan yang sama sebagaimana dikemukakan oleh nur dari kalbu manusia, oleh hati nurani umat manusia serta oleh langit dan bumi.” (Majmua Ishtiharat, jld. 2, hlm. 310-311).
 Selanjutnya beliau a.s. bersabda:
       “Ruh kami dan setiap partikel dzarah dari wujud kami  sujud di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Benar dan Maha Sempurna,  Yang dari Tangan-Nya  setiap ruh dan setiap partikel penciptaan lengkap berikut semua inderanya jadi mewujud, dan yang melalui dukungan-Nya setiap makhluk dipelihara. Tidak ada yang berada di luar jangkauan pengetahuan-Nya atau pengendalian-Nya atau pun di luar ciptaan-Nya.
       Kami memanjatkan ribuan berkat dan shalawat bagi Nabi Suci Muhammad saw.  yang melaluinya  kami telah menemukan Tuhan Yang hidup,  Yang telah membuktikan kepada kami eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) melalui firman-Nya. Dia telah memperlihatkan kepada kami  -- melalui Tanda-tanda yang luar biasa -- Wujud-Nya Yang cemerlang dan Memiliki kekuasaan yang sempurna serta abadi.
       Kami telah menemukan Rasul yang telah memanifestasikan (menyatakan) Tuhan kepada kami, dan karena itu menemukan Tuhan Yang menciptakan segala sesuatu melalui kekuasaan-Nya yang sempurna. Betapa agung kekuasaan-Nya dimana tidak ada yang mewujud tanpa-Nya dan tidak ada yang bisa terus eksis (ada)  tanpa bantuan-Nya. Tuhan kami Yang Maha Benar itu memiliki berkat yang tidak terbilang, kekuasaan yang tidak terhitung, keindahan dan karunia yang tidak terkira.  Tidak ada tuhan lain di sisi-Nya.”  (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 363, London, 1984).

Ajaran Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai  Keimanan pada Ketauhidan Ilahi

      Kemudian mengenai peran Nabi Besar Muhammad saw. dalam memperkenalkan kesempurnaan Wujud dan Sifat-sifat  Allah Swt. Yang Maha Gaib  kepada umat manusia Masih Mau’ud a.s. bersabda:
       “Wujud   Allah amatlah tersembunyi dan jauh dari jangkauan, sangat rahasia dan tidak akan bisa ditemukan melalui penalaran manusia semata, dan tidak ada argumentasi yang dapat membuktikan eksistensi-Nya secara konklusif (pasti). Masalahnya karena logika hanya bisa mengantar manusia sampai kepada tahapan perasaan bahwa kemungkinan ada yang namanya sosok Pencipta. Hanya saja perasaan mungkin tidak sama dengan kepastian bahwa benar-benar eksis (ada). 
      Mengingat jalannya logika manusia itu tidak sempurna, tidak lengkap dan diragukan maka seorang ahli filosofi tidak akan dapat menemukan Tuhan semata-mata hanya melalui penalaran.  Kebanyakan manusia yang berusaha menemukan eksistensi  (keberadaan) Tuhan melalui logika pada akhirnya akan menjadi atheis.
      Perenungan atas penciptaan langit dan bumi saja tidak akan memberikan manfaat banyak, sehingga pada akhirnya mereka kemudian mencemoohkan dan menertawakan orang-orang yang menyembah Tuhan.  Salah satu argumentasi adalah karena mereka berpendapat ada beribu-ribu hal di dunia ini yang tidak ada gunanya, dan adanya hal tersebut tidak menjadi indikasi adanya sesosok perancang. Hal-hal tersebut ada di dunia hanya semata-mata sebagai barang yang mubazir dan tidak berguna.
      Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa kurangnya pengetahuan mereka mengenai sesuatu tidak harus menjadikan hal itu sebagai hal yang tidak berguna. Ada berjuta-juta manusia di dunia ini yang merasa dirinya sebagai seorang filosof yang amat bijak dan menyangkal eksistensi  (keberadaan)  Tuhan.
        Sebenarnya jika mereka memang bisa menemukan dasar pemikiran yang kuat yang mendasari eksistensi Tuhan, pasti mereka juga tidak akan menyangkal Wujud tersebut. Kalau saja mereka berhasil menemukan argumentasi yang konklusif (pasti)  yang mendukung keberadaan Tuhan, mereka juga pasti tidak akan menolaknya mentah-mentah. Dengan demikian jelas bahwa mereka yang mengikuti jejak langkah masuk dalam bahtera para filosof semata  tidak akan memperoleh pencerahan dari badai keraguan, dengan akibat mereka akan tenggelam dan mereka tidak akan sempat menyaksikan mukjizat Ketauhidan.
       Adalah pendapat yang salah sama sekali mengharapkan bisa beriman kepada  Ke-Esa-an Allah Swt.. tanpa melalui bimbingan Yang mulia Rasulullah saw.,  dan juga tak akan mungkin memperoleh keselamatan (najat) tanpa hal tersebut. Bagaimana mungkin bisa muncul keimanan kepada Ketauhidan Ilahi jika tidak yakin sepenuhnya akan eksistensi-Nya (keberadaan-Nya)?
      Percaya dan yakinlah, bahwa keimanan kepada Ketauhidan Ilahi hanya dapat dicapai melalui seorang nabi, sebagaimana Nabi suci Rasulullah saw. telah meyakinkan para atheis dan umat pagan (penyembah berhala) di Arabia mengenai eksistensi Allah Yang Maha Kuasa dengan memperlihatkan kepada mereka beribu-ribu Tanda-tanda samawi.    Sampai dengan hari ini, para pengikut yang benar dan sejati   Hadhrat Rasulullah saw. bisa memperlihatkan Tanda-tanda itu kepada para atheis.
       Sesungguhnya sepanjang manusia belum menyadari kekuatan yang hidup dari Tuhan Yang hidup maka syaitan tidak akan meninggalkan kalbunya, tidak juga Ketauhidan akan masuk ke dalam kalbu itu, begitu pula ia tidak akan pernah meyakini sepenuhnya eksistensi  (keberadaan)  Tuhan. Ketauhidan yang suci dan sempurna ini hanya bisa dimengerti melalui Nabi suci Rasulullah saw..” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam  Ruhani Khazain, jld. 22, hlm. 120-121, London, 1984).
        Pernyataan Masih Mau’ud a.s.: “…Percaya dan yakinlah, bahwa keimanan kepada Ketauhidan Ilahi hanya dapat dicapai melalui seorang nabi, sebagaimana Nabi suci Rasulullah saw. telah meyakinkan para atheis dan umat pagan (penyembah berhala) di Arabia mengenai eksistensi Allah Yang Maha Kuasa dengan memperlihatkan kepada mereka beribu-ribu Tanda-tanda samawi.    Sampai dengan hari ini, para pengikut yang benar dan sejati   Hadhrat Rasulullah saw. bisa memperlihatkan Tanda-tanda itu kepada para atheis, sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  یُسَبِّحُ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ ﴿﴾   ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. یُسَبِّحُ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ --     Menyanjung kesucian  Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, Yang Maha Berdaulat, Maha Suci, Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ --  Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --  walaupun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan merekaوَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksanaذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --   Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar  (Al-Jumu’ah [62]:2-5).

Rasul Allah Membuat Allah Swt.   – “Tuhan Yang Maha Gaib”   -- Menjadi “Nyata
 
     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan keyakinannya  -- berdasarkan pengalamannya sendiri -- tentang  Wujud Allah Swt., Tuhan Yang Maha Gaib:
     “Manusia tidak memiliki kemampuan guna memahami keseluruhan   aktivitas (kegiatan) Ilahi. Semuanya berada di luar jangkauan intelektual, penalaran dan khayalan mereka. Karena itu tidak seharusnya manusia berbangga hati atas sekelumit pengetahuan yang dimilikinya bahwa ia sedikit memahami sistem dari sebab dan akibat, padahal pengetahuannya itu masih amat sangat terbatas, tak ubahnya satu per sejuta bagian dari satu titik air di samudra.
      Pada hakikatnya karena Allah Yang Maha Perkasa itu tidak ada batasnya maka aktivitas-Nya pun tanpa batas juga. Sama sekali di luar dan di atas kemampuan manusia untuk mengetahui realitas dari setiap kegiatan Tuhan.   Jika kita renungi Sifat-sifat-Nya Yang Maha Abadi, sekurang-kurangnya kita bisa meyakini bahwa sebagaimana Sifat-sifat Ilahi itu tidak pernah usang maka dalam ciptaan Tuhan  pun ada beberapa spesi makhluk yang selalu mewujud, tetapi mengatakan bahwa mereka eksis (ada) dengan sendirinya adalah suatu hal tidak benar. Juga harus diingat bahwa sebagaimana Sifat penciptaan-Nya, maka Sifat menghancurkan-Nya juga selalu berlaku sepanjang waktu dan Sifat ini tidak akan pernah menjadi usang.
      Para filosof telah berupaya dengan segala daya untuk merangkum penciptaan  unsur-unsur langit dan bumi ke dalam lingkup pengetahuan hukum fisika mereka dan dari sana mencoba menentukan bagaimana Sumber dari semua penciptaan, namun nyatanya mereka tidak pernah berhasil.
      Apa pun yang telah berhasil mereka kumpulkan dari telaah dan riset fisika mereka, masih saja tidak akan sempurna dan mengandung cacat, itulah sebabnya mereka tidak pernah bisa bertahan pada satu teori sepanjang masa dan selalu saja terjadi perubahan pandangan. Dan karena telaah yang mereka lakukan semata-mata didasarkan pada kemampuan penalaran mereka dan dengan cara menduga-duga serta tidak mendapat bantuan dari Allah Swt.   maka mereka tidak pernah berhasil keluar dari kungkungan kegelapan yang meliputi mereka.
        Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengenali Tuhan-nya sampai ia memahami bahwa tidak terbilang kegiatan Ilahi yang sama sekali berada di luar kemampuan penalaran dan dugaan manusia. Sebelum mencapai tahapan pemahaman demikian maka orang tersebut kalau bukan seorang atheis  -- yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan -- atau ia itu percaya kepada Tuhan tetapi dalam Wujud yang merupakan hasil rekaan fikirannya sendiri, dan bukan Tuhan yang memanifestasikan Wujud-Nya beserta segala rahasia Diri-Nya yang demikian banyak, sehingga berada di luar kemampuan manusia untuk meresapinya.   
       Karena Allah  Swt. sudah menganugrahkan kepada diriku pengetahuan mengenai kekuasaan-Nya yang memiliki kedalaman berlapis-lapis dan berada di luar kemampuan pemikiran, maka aku selalu menganggap para filosof tersebut sebagai orang-orang yang tidak beriman dan atheis yang tersembunyi.       Adalah dari hasil pengamatanku sendiri dan aku memang ada menyaksikan perwujudan kekuasaan Ilahi yang demikian luar biasa, sehingga hanya bisa dikatakan bahwa semuanya itu merupakan sesuatu yang eksis (nyata) yang dihasilkan oleh suatu keadaan yang non-eksis.
       Aku sudah menguraikan beberapa mukjizat tersebut di tempat lain. Mereka yang tidak memperhatikan keajaiban Ilahi tersebut sama saja dengan orang yang tidak memperhatikan apa pun. Kami tidak percaya kepada sosok Tuhan yang kemampuan-Nya dibatasi oleh logika dan spekulasi kita sendiri. Kami beriman kepada Allah Yang kekuasaan-Nya -- sebagaimana juga Wujud-Nya --  sebagai sesuatu yang tanpa batas, tanpa bisa disekat atau dikotak-kotakkan dan tanpa akhir.”  (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm. 280-282, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 7 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar