بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 30
Berbeda Dengan “Kesimpulan Berdasarkan Dugaan” Para Filosof, Para Rasul Allah -- Terutama Nabi Besar Muhammad Saw. -- Memperkenalkan Tuhan
Yang Hakiki yakni Allah Swt. Kepada Umat Manusia Sebagai Suatu Kenyataan (Realita)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna kata dhālla berkenaan
dengan Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat: وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی -- Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau
lalu Dia memberi engkau petunjuk”
(Adh-Dhuhā
[93]:8), adalah “hilang sirna dalam kecintaan”, berarti: ia bingung dan tidak mampu melihat arah
tujuan; ia sama sekali tenggelam atau hilang dalam kecintaan, atau berkelana
mencari sesuatu dan gigih dalam pencariannya (Lexicon Lane).
Berbagai Arti Kata Dhālla
Mengingat berbagai arti kata dhālla itu,
ayat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut:
(1) Nabi Besar Muhammad saw. berkelana mencari jalan dan sarana untuk
mencapai Allah Swt., lalu Dia mewahyukan kepada beliau saw. syariat yang membimbing beliau saw. ke
arah tujuan yang didambakan;
(2) Beliau saw. bingung dan tidak mengetahui
betapa cara menemukan jalan yang menjurus ke arah tercapainya
apa yang dicari beliau saw. lalu Allah Swt. membimbing beliau saw. ke jalan
itu;
(3) Seluruh wujud beliau saw. telah hilang atau tenggelam dalam kecintaan
kepada kaum beliau lalu Allah Swt. membekali
beliau saw. dengan petunjuk sempurna
bagi mereka;
(4)
Beliau saw. tersembunyi dari mata
dunia dan Allah Swt. menemukan beliau saw.
lalu memilih beliau saw. untuk
mengemban tugas membimbing umat manusia sampai kepada-Nya.
Dengan demikian kata dhālla tidak
dipakai sebagai celaan, bahkan
sebagai pujian terhadap Nabi Besar
Muhammad saw.. Kata ini tidak mengena dan tidak pula dapat dikenakan kepada
beliau saw. dalam arti “telah tersesat,” sebab menurut ayat
Al-Quran lain (QS.53:3) beliau saw. kebal
terhadap kesalahan atau kesesatan.
Lebih-lebih 6 ayat terakhir dalam Surah Adh-Dhuha ini menunjukkan suatu urutan tertentu
ayat-ayat 7, 8, dan 9 masing-masing mempunyai hubungan erat dan bersesuaian
dengan ayat-ayat 10, 11, dan 12. Dhālla dalam ayat 8, yang digantikan
oleh kata sā’il dalam ayat 11, menjelaskan arti dhālla, yaitu “orang yang mencari pertolongan Ilahi supaya
dibimbing kepada-Nya atau supaya diberi petunjuk.”
Ayat: وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی -- Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau
lalu Dia memberi engkau petunjuk”
dapat pula berarti “Allah mendapatkan diri engkau hilang dalam keasyikan mencari Dia dan
membimbing engkau ke hadirat-Nya.”
Makna ayat selanjutnya: وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی -- Dan
Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau”, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengawali
hidup beliau sebagai seorang anak yatim
lagi prihatin tetapi mengakhiri hayat
beliau saw. sebagai seorang penguasa tanpa tanding di seluruh negeri
Arab.
Ayat-ayat 7, 8, dan 9 membicarakan karunia-karunia Allah Swt. atas Nabi Besar Muhammad saw., dan dalam 10, 11,
dan 12 beliau saw. diperintahkan supaya menunjukkan rasa syukur beliau saw. dengan jalan melakukan kebajikan serupa terhadap sesama manusia. Perintah ini berlaku
sama pula bagi para pengikut beliau saw..
Itulah makna ayat: فَاَمَّا
الۡیَتِیۡمَ فَلَا تَقۡہَرۡ -- Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah
engkau berlaku sewenang-wenang. وَ اَمَّا السَّآئِلَ فَلَا تَنۡہَرۡ --
Dan terhadap orang yang
meminta-minta janganlah engkau
menghardik. وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ فَحَدِّثۡ -- dan terhadap nikmat Rabb (Tuhan)
engkau hendaknya menyatakannya. (Adh-Dhuhā [93]:1-12).
Rahmat Allah Swt. Meliput Segalanya
Di
Akhir Zaman ini salah satu dari
sekian banyak rahmat dan karunia Allah Swt. yang
dianugerahkan-Nya kepada Masih Mau’ud a.s. – yang merupakan
kedatangan kedua kali secara ruhani
Nabi Besar Muham ad saw. (QS.62:3-4) -- adalah
pembukaan khazanah ruhani Al-Quran atau makrifat Ilahi yang melimpah-ruah.
Mengenai hal tersebut selanjutnya Al-Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai rahmat Sifat Rabubiyat Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah ayat 2: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --
“Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam”:
“Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi. Setiap sinar
yang tampak di dataran tinggi mau pun di lembah, apakah di dalam kalbu atau
jasmani, apakah bersifat pribadi atau impersonal, apakah kelihatan atau
tersembunyi, apakah di dalam fikiran manusia atau di luarnya, semuanya
merupakan berkat dari Rahmat-Nya.
Hal ini menjadi tanda bahwa rahmat umum dari Rabb (Tuhan) seluruh alam menyelimuti keseluruhan dan tidak ada
yang dikecualikan dari rahmat tersebut. Dia adalah Sumber
dari semua rahmat dan menjadi Sumber utama dari semua nur dan menjadi Sumber mata air dari semua kerahiman (kasih-sayang).
Wujud-Nya
adalah penyangga alam ini dan menjadi tempat berlindung segalanya. Dia itulah Yang
telah membawa keluar segala hal dari kegelapan
ketiadaan dan mengaruniakan
atas semuanya jubah perwujudan. Tidak ada yang
mewujud dan abadi di luar Wujud-Nya, dan
tidak ada yang tidak menerima Rahmat-Nya. Bumi dan langit,
manusia dan hewan, batu dan pepohonan, ruh dan jasmani, semua mewujud berkat Rahmat-Nya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 1, hlm. 191-192, London, 1984).
Sabda Masih mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan
firman Allah Swt. mengenai “Nur di atas
nur” yang telah dibahas dalam Bab 23
dan 27 sebelum ini, firman-Nya:
اَللّٰہُ
نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ
زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ
مُّبٰرَکَۃٍ زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا
یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی
اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi.
Perumpamaan nur-Nya seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca.
Kaca itu seperti bintang yang
gemerlapan. Pelita itu dinyalakan
dengan minyak dari sebatang pohon
kayu yang diberkati, yaitu pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, minyaknya
hampir-hampir bercahaya walaupun api
tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- Nur di atas nur. یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- Allah memberi bimbingan
menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia
kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ -- dan Allah
mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia,
وَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).
Tuhan Islam Nyata di Alam
Semesta dan Disadari Hati Manusia
Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda
mengenai kesaksian seluruh partikel
alam semesta dan fitrat manusia
mengenai Wujud Allah Swt.:
“Tuhan di dalam agama Islam adalah Tuhan Yang sama
dengan Yang ada dalam cermin dari hukum alam, dan sebagaimana diuraikan dalam kitab sejarah alam. Islam tidak ada
mempersembahkan Tuhan yang baru, tetapi mengemukakan Tuhan yang sama
sebagaimana dikemukakan oleh nur dari kalbu manusia, oleh
hati
nurani umat manusia serta oleh langit dan bumi.” (Majmua Ishtiharat, jld. 2,
hlm. 310-311).
Selanjutnya beliau a.s.
bersabda:
“Ruh kami dan setiap partikel dzarah dari wujud kami sujud di hadapan Allah
Yang Maha Perkasa, Maha Benar dan Maha Sempurna, Yang dari Tangan-Nya setiap ruh dan setiap partikel
penciptaan lengkap berikut semua inderanya jadi mewujud, dan yang melalui dukungan-Nya setiap makhluk dipelihara. Tidak ada yang berada di
luar jangkauan pengetahuan-Nya
atau pengendalian-Nya atau pun
di luar ciptaan-Nya.
Kami memanjatkan ribuan berkat dan shalawat
bagi Nabi Suci Muhammad saw. yang melaluinya kami telah menemukan Tuhan Yang hidup, Yang telah membuktikan kepada kami eksistensi-Nya (keberadaan-Nya)
melalui firman-Nya. Dia telah memperlihatkan kepada kami -- melalui Tanda-tanda yang luar biasa -- Wujud-Nya Yang
cemerlang dan Memiliki kekuasaan yang sempurna serta abadi.
Kami telah menemukan Rasul yang telah memanifestasikan (menyatakan) Tuhan kepada kami, dan karena itu menemukan Tuhan Yang menciptakan segala sesuatu melalui kekuasaan-Nya yang sempurna. Betapa
agung kekuasaan-Nya dimana
tidak ada yang mewujud tanpa-Nya dan
tidak ada yang bisa terus eksis
(ada) tanpa bantuan-Nya. Tuhan kami Yang
Maha Benar itu memiliki berkat yang tidak terbilang, kekuasaan
yang tidak terhitung, keindahan dan karunia yang tidak terkira. Tidak ada tuhan lain di sisi-Nya.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 19, hlm. 363, London, 1984).
Ajaran Nabi Besar Muhammad
Saw. Mengenai Keimanan pada Ketauhidan
Ilahi
Kemudian mengenai peran Nabi
Besar Muhammad saw. dalam memperkenalkan kesempurnaan Wujud dan Sifat-sifat Allah Swt. Yang
Maha Gaib kepada umat manusia Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Wujud Allah amatlah tersembunyi dan jauh dari jangkauan,
sangat rahasia dan tidak akan
bisa ditemukan melalui penalaran manusia semata, dan tidak
ada argumentasi yang dapat
membuktikan eksistensi-Nya
secara konklusif (pasti). Masalahnya karena logika hanya bisa mengantar manusia sampai kepada tahapan perasaan bahwa kemungkinan ada yang namanya sosok Pencipta.
Hanya saja perasaan mungkin tidak sama dengan kepastian bahwa benar-benar eksis (ada).
Mengingat jalannya logika
manusia itu tidak sempurna, tidak lengkap dan diragukan maka seorang ahli filosofi tidak akan dapat menemukan
Tuhan semata-mata hanya melalui penalaran. Kebanyakan manusia yang berusaha menemukan eksistensi (keberadaan) Tuhan melalui logika
pada akhirnya akan menjadi atheis.
Perenungan atas penciptaan langit dan bumi saja tidak akan memberikan manfaat banyak, sehingga pada akhirnya mereka kemudian mencemoohkan dan menertawakan orang-orang yang menyembah Tuhan. Salah satu argumentasi adalah karena mereka
berpendapat ada beribu-ribu hal di
dunia ini yang tidak ada gunanya,
dan adanya hal tersebut tidak menjadi indikasi
adanya sesosok perancang. Hal-hal tersebut ada di dunia hanya semata-mata
sebagai barang yang mubazir dan tidak berguna.
Orang-orang seperti ini tidak
menyadari bahwa kurangnya pengetahuan mereka mengenai sesuatu tidak harus menjadikan hal itu sebagai hal yang tidak berguna.
Ada berjuta-juta manusia di dunia ini yang merasa dirinya sebagai seorang filosof yang amat bijak dan menyangkal eksistensi
(keberadaan) Tuhan.
Sebenarnya jika mereka memang bisa
menemukan dasar pemikiran yang kuat
yang mendasari eksistensi Tuhan, pasti mereka juga tidak akan menyangkal Wujud
tersebut. Kalau saja mereka berhasil menemukan argumentasi yang konklusif (pasti) yang mendukung keberadaan Tuhan,
mereka juga pasti tidak akan menolaknya mentah-mentah. Dengan demikian jelas
bahwa mereka yang mengikuti jejak
langkah masuk dalam bahtera para
filosof semata tidak akan memperoleh pencerahan
dari badai keraguan, dengan akibat mereka akan tenggelam dan mereka tidak akan sempat menyaksikan mukjizat
Ketauhidan.
Adalah pendapat yang salah sama
sekali mengharapkan bisa beriman kepada Ke-Esa-an Allah Swt.. tanpa melalui bimbingan
Yang mulia Rasulullah saw., dan juga tak akan mungkin memperoleh keselamatan
(najat) tanpa hal tersebut. Bagaimana mungkin bisa muncul keimanan kepada Ketauhidan
Ilahi jika tidak yakin sepenuhnya akan eksistensi-Nya
(keberadaan-Nya)?
Percaya dan yakinlah, bahwa keimanan
kepada Ketauhidan Ilahi hanya dapat dicapai melalui seorang nabi,
sebagaimana Nabi suci Rasulullah saw.
telah meyakinkan para atheis dan umat pagan (penyembah berhala) di Arabia mengenai eksistensi Allah
Yang Maha Kuasa dengan memperlihatkan
kepada mereka beribu-ribu Tanda-tanda samawi. Sampai dengan hari ini, para pengikut
yang benar dan sejati Hadhrat
Rasulullah saw. bisa memperlihatkan Tanda-tanda
itu kepada para atheis.
Sesungguhnya sepanjang manusia belum menyadari kekuatan yang hidup dari Tuhan
Yang hidup maka syaitan tidak akan meninggalkan kalbunya,
tidak juga Ketauhidan akan masuk ke dalam kalbu itu, begitu
pula ia tidak akan pernah meyakini sepenuhnya eksistensi (keberadaan)
Tuhan. Ketauhidan yang suci dan sempurna ini hanya bisa dimengerti
melalui Nabi suci Rasulullah saw..” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 22, hlm. 120-121, London, 1984).
Pernyataan Masih Mau’ud
a.s.: “…Percaya dan yakinlah, bahwa keimanan
kepada Ketauhidan Ilahi hanya dapat dicapai melalui seorang nabi,
sebagaimana Nabi suci Rasulullah saw.
telah meyakinkan para atheis dan umat pagan (penyembah berhala) di Arabia mengenai eksistensi Allah
Yang Maha Kuasa dengan memperlihatkan
kepada mereka beribu-ribu Tanda-tanda samawi. Sampai dengan hari ini, para pengikut
yang benar dan sejati Hadhrat
Rasulullah saw. bisa memperlihatkan Tanda-tanda
itu kepada para atheis,“ sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ یُسَبِّحُ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ فِی
الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا
مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
یُسَبِّحُ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ -- Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, Yang Maha Berdaulat, Maha Suci,
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ہُوَ الَّذِیۡ
بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- Dia-lah
Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang
rasul dari antara
mereka, yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya
mereka benar-benar berada dalam
kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar (Al-Jumu’ah
[62]:2-5).
Rasul Allah Membuat Allah Swt. – “Tuhan
Yang Maha Gaib” -- Menjadi “Nyata”
Selanjutnya Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan keyakinannya --
berdasarkan pengalamannya sendiri -- tentang
Wujud Allah Swt., Tuhan Yang Maha Gaib:
“Manusia tidak memiliki kemampuan
guna memahami keseluruhan aktivitas (kegiatan) Ilahi.
Semuanya berada di luar jangkauan intelektual,
penalaran dan khayalan mereka. Karena itu tidak seharusnya manusia berbangga hati atas sekelumit pengetahuan yang dimilikinya bahwa ia sedikit memahami sistem
dari sebab dan akibat, padahal pengetahuannya
itu masih amat sangat terbatas, tak
ubahnya satu per sejuta bagian dari
satu titik air di samudra.
Pada hakikatnya karena Allah Yang
Maha Perkasa itu tidak ada batasnya maka aktivitas-Nya
pun tanpa batas juga. Sama sekali di
luar dan di atas kemampuan manusia untuk mengetahui realitas dari setiap kegiatan Tuhan. Jika kita renungi Sifat-sifat-Nya Yang Maha
Abadi, sekurang-kurangnya kita bisa meyakini bahwa sebagaimana Sifat-sifat
Ilahi itu tidak pernah usang
maka dalam ciptaan Tuhan pun ada
beberapa spesi makhluk yang selalu mewujud, tetapi mengatakan bahwa mereka eksis
(ada) dengan sendirinya adalah suatu
hal tidak benar. Juga harus diingat bahwa sebagaimana Sifat penciptaan-Nya,
maka Sifat menghancurkan-Nya juga selalu berlaku sepanjang waktu dan Sifat ini tidak
akan pernah menjadi usang.
Para filosof telah berupaya dengan segala daya untuk merangkum penciptaan unsur-unsur
langit dan bumi ke dalam lingkup
pengetahuan hukum fisika mereka dan dari sana mencoba menentukan
bagaimana Sumber dari
semua penciptaan, namun
nyatanya mereka tidak pernah berhasil.
Apa pun yang telah berhasil mereka kumpulkan dari telaah dan riset fisika
mereka, masih saja tidak akan sempurna dan mengandung cacat, itulah sebabnya
mereka tidak pernah bisa bertahan
pada satu teori sepanjang masa dan selalu saja terjadi perubahan
pandangan. Dan karena telaah yang mereka lakukan semata-mata didasarkan
pada kemampuan penalaran mereka dan dengan cara menduga-duga serta
tidak mendapat bantuan dari Allah
Swt. maka mereka tidak pernah
berhasil keluar dari kungkungan kegelapan
yang meliputi mereka.
Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengenali
Tuhan-nya sampai ia memahami
bahwa tidak terbilang kegiatan Ilahi yang sama sekali
berada di luar kemampuan penalaran dan dugaan
manusia. Sebelum mencapai tahapan pemahaman
demikian maka orang tersebut kalau bukan seorang
atheis -- yang sama sekali tidak percaya adanya
Tuhan -- atau ia itu percaya kepada Tuhan tetapi dalam Wujud yang
merupakan hasil rekaan fikirannya sendiri, dan bukan Tuhan yang memanifestasikan Wujud-Nya
beserta segala rahasia Diri-Nya yang demikian banyak, sehingga berada di luar kemampuan manusia untuk
meresapinya.
Karena Allah Swt. sudah menganugrahkan kepada diriku pengetahuan mengenai kekuasaan-Nya yang memiliki kedalaman berlapis-lapis dan berada
di luar kemampuan pemikiran,
maka aku selalu menganggap para filosof
tersebut sebagai orang-orang yang tidak
beriman dan atheis yang tersembunyi. Adalah dari hasil pengamatanku
sendiri dan aku memang ada menyaksikan perwujudan kekuasaan Ilahi yang demikian luar biasa, sehingga hanya bisa dikatakan
bahwa semuanya itu merupakan sesuatu yang eksis (nyata) yang dihasilkan oleh suatu keadaan
yang non-eksis.
Aku sudah menguraikan beberapa mukjizat tersebut di tempat lain.
Mereka yang tidak memperhatikan keajaiban Ilahi tersebut sama saja dengan orang yang
tidak memperhatikan apa pun. Kami tidak
percaya kepada sosok Tuhan yang
kemampuan-Nya dibatasi oleh logika
dan spekulasi kita sendiri. Kami
beriman kepada Allah Yang kekuasaan-Nya
-- sebagaimana juga Wujud-Nya -- sebagai sesuatu yang tanpa batas, tanpa bisa disekat atau dikotak-kotakkan
dan tanpa akhir.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm.
280-282, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 7 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar