بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 28
Makna “Hancurnya
Gunung-gunung” Oleh Al-Quran &
Sabda Masih Mau’ud a.s. Mengenai Kesempurnaan Wujud (Dzat) dan Sifat-sifat
Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai kemustahilan orang buta akan dapat
menuntun orang-orang yang buta lainnya untuk menempuh jalan-jalan keselamatan, sebagaimana
jika dituntun oleh orang-orang yang pencainderanya normal, firman-Nya:
وَ مَا
یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ﴿ۙ﴾ وَ لَا الظُّلُمٰتُ
وَ لَا النُّوۡرُ ﴿ۙ﴾ وَ لَا
الظِّلُّ وَ لَا الۡحَرُوۡرُ ﴿ۚ﴾ وَ مَا
یَسۡتَوِی الۡاَحۡیَآءُ وَ لَا الۡاَمۡوَاتُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُسۡمِعُ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَاۤ اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ ﴿﴾ اِنۡ اَنۡتَ
اِلَّا نَذِیۡرٌ ﴿﴾
Dan
sekali-kali tidak sama orang buta dengan orang
yang melihat. Dan tidak sama kegelapan dengan cahaya. Dan
tidak sama teduh dengan panas. وَ مَا یَسۡتَوِی الۡاَحۡیَآءُ
وَ لَا الۡاَمۡوَاتُ -- Dan sekali-kali tidak sama yang hidup
dengan yang mati. اِنَّ اللّٰہَ یُسۡمِعُ مَنۡ یَّشَآءُ -- Sesungguhnya Allah membuat mendengar siapa yang dikehendaki-Nya, وَ مَاۤ اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ -- dan engkau
sekali-kali tidak dapat membuat mendengar orang yang ada dalam kubur. اِنۡ اَنۡتَ
اِلَّا نَذِیۡرٌ -- Engkau
tidak lain melainkan seorang pemberi
peringatan (Al-Fāthir [35]:20-24).
Orang-orang beriman telah disebut orang-orang “yang hidup,” sebab dengan menerima kebenaran yang diajarkan Rasul
Allah mereka memperoleh suatu kehidupan baru (QS.8:25), sedangkan orang-orang
kafir disebut orang-orang “yang mati,”
sebab dengan menolak kebenaran -- yang merupakan air kehidupan abadi -- mereka mendatangkan kematian ruhani atas diri mereka sendiri
Tidak Mampu Membedakan Tuhan
Yang Hakiki dengan Tuhan-tuhan Palsu
Tidaklah mungkin bagi seorang nabi Allah membuat orang-orang yang sengaja
menutup hati dan telinga mereka mendengar dan menerima seruan Ilahi (QS’2:7-8;QS.6:26; QS.17:46-48; QS.18:58;
QS.41:6; QS.71-8). Orang-orang semacam itu secara
ruhani telah mati dan bagaikan orang-orang yang terpendam dalam kuburan, Allah Swt. berfirman: وَ مَاۤ
اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ مَّنۡ فِی
الۡقُبُوۡرِ -- “dan engkau sekali-kali tidak dapat membuat
mendengar orang yang ada dalam kubur.” Selanjutnya Dia berfirman:
مَثَلُ الۡفَرِیۡقَیۡنِ کَالۡاَعۡمٰی وَ الۡاَصَمِّ وَ الۡبَصِیۡرِ وَ
السَّمِیۡعِ ؕ ہَلۡ یَسۡتَوِیٰنِ مَثَلًا ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿٪﴾
Keadaan kedua golongan itu adalah semisal keadaan orang buta lagi tuli dengan orang melihat lagi mendengar. Apakah
sama misal kedua orang itu?
Tidakkah kamu mau
mengerti? (Hūd [11]:25).
Suatu perumpamaan yang indah telah dikemukakan dalam ayat tersebut untuk menjelaskan perbedaan antara keimanan
dan kekafiran. Orang mukmin digambarkan sebagai orang yang
mempunyai daya melihat dan mendengar yang sempurna, sedang orang kafir diibaratkan sebagai orang buta dan tuli, bahkan sampai-sampai mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan yang hakiki, yaitu Allah
Swt., dengan tuhan-tuhan
palsu, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ
اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ
لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ
الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb
(Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak
memiliki kekuasaan untuk kemanfaatan
ataupun kemudaratan, meskipun
bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی
الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ -- Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan orang-orang
yang melihat? اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی
الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ -- Atau samakah gelap
dan terang? َمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ -- Atau
apakah mereka itu menjadikan bagi
Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ
کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu,
dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
Makna “Hancurnya Gunung” Oleh Al-Quran
Mengenai
contoh ketidak-samaan tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰہَ وَ لۡتَنۡظُرۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ ۚ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ خَبِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ نَسُوا اللّٰہَ
فَاَنۡسٰہُمۡ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ
ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ لَا یَسۡتَوِیۡۤ اَصۡحٰبُ النَّارِ وَ اَصۡحٰبُ
الۡجَنَّۃِ ؕ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah, وَ لۡتَنۡظُرۡ نَفۡسٌ مَّا
قَدَّمَتۡ لِغَدٍ -- dan hendaklah
setiap jiwa memperhatikan apa yang didahulukan untuk esok hari, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ نَسُوا اللّٰہَ -- Dan janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang
yang telah melupakan Allah فَاَنۡسٰہُمۡ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ -- maka
Dia pun menjadikan mereka lupa terhadap
diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang
yang fasik. لَا یَسۡتَوِیۡۤ اَصۡحٰبُ النَّارِ وَ
اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ -- Tidak sama penghuni neraka dengan penghuni surga, اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ -- penghuni
surgalah yang akan memperoleh
kemenangan. (Al-Hasyr [59]:19-21).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai mukjizat Al-Quran yang luar biasa –
sekali gus merupakan nubuatan mengenai keunggulan
umat Islam atas para penentangnya
di kalangan orang-orang musyrik dan golongan Ahli KItab – firman-Nya:
لَوۡ
اَنۡزَلۡنَا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ عَلٰی جَبَلٍ لَّرَاَیۡتَہٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنۡ خَشۡیَۃِ اللّٰہِ
ؕ وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ الَّذِیۡ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ
الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ الرَّحۡمٰنُ
الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Seandainya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada gunung,
niscaya engkau akan melihatnya tunduk
dan menjadi berkeping-keping karena
takut kepada Allah. Dan inilah tamsil-tamsil yang Kami kemukakan
untuk manusia supaya mereka berpikir (Hasyr
[59]:22).
Ayat ini dapat mengandung arti bahwa orang-orang musyrik Mekkah yang congkak itu – yang sebelum Islam tiada ajaran yang dapat menghentikan mereka dari itikad dan amal musyrik
atau dari kejahiliyahan mereka, yang laksana batu karang kokoh kuat mereka tetap tidak
tergoyahkan dan gigih berpegang dengan kuat pada adat istiadat Badui, mereka tidak tersentuh oleh pengaruh kegemilangan dan kecermelangan
peradaban Kristen di negeri sebelah –
tetapi
melalui pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. hanya dalam waktu 23
tahun saja mereka ditundukkan oleh ajaran Islam yang sempurna
dan perkasa, dan dari hati mereka yang mula-mula laksana batu karang itu, akhimya akan terbit sumber-sumber cahaya dan ilmu yang memancar dengan derasnya
(QS.62:3).
Kaum yang telah meletakkan 360 berhala di Ka’bah (Baitullah)
tersebut – yang keadaannya bagaikan tulang-belulang berserakan --
melalui pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw.. hanya dalam waktu 23 tahun saja mereka
menjadi “satu tubuh” yang utuh
dan hidup serta menjadi para penyanjung
kesucian dan kesempurnaan Sifat-sifat
Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
وَ
قَالُوۡۤاءَ اِذَا کُنَّا عِظَامًا
وَّ رُفَاتًاءَ اِنَّا لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ خَلۡقًا جَدِیۡدًا ﴿﴾ قُلۡ کُوۡنُوۡا
حِجَارَۃً اَوۡ حَدِیۡدًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ خَلۡقًا مِّمَّا
یَکۡبُرُ فِیۡ صُدُوۡرِکُمۡ ۚ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ مَنۡ یُّعِیۡدُنَا ؕ قُلِ الَّذِیۡ
فَطَرَکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ ۚ
فَسَیُنۡغِضُوۡنَ اِلَیۡکَ رُءُوۡسَہُمۡ وَ یَقُوۡلُوۡنَ مَتٰی ہُوَ ؕ قُلۡ
عَسٰۤی اَنۡ یَّکُوۡنَ
قَرِیۡبًا ﴿﴾ یَوۡمَ
یَدۡعُوۡکُمۡ فَتَسۡتَجِیۡبُوۡنَ بِحَمۡدِہٖ وَ تَظُنُّوۡنَ
اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا
قَلِیۡلًا
﴿٪﴾
Dan mereka
berkata: ”Apakah apabila kami telah menjadi tulang-belulang
dan benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali
sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah: “Jadilah kamu batu atau besi,
atau makhluk yang nampaknya
terkeras dalam pikiran kamu, kamu pasti akan
dibangkitkan lagi.” فَسَیَقُوۡلُوۡنَ مَنۡ یُّعِیۡدُنَا -- Maka pasti mereka akan mengatakan: -- “Siapakah yang akan menghidupkan kami
kembali?” قُلِ الَّذِیۡ فَطَرَکُمۡ اَوَّلَ
مَرَّۃٍ --
Katakanlah: “Dia Yang telah menjadikan kamu pertama kali.” فَسَیُنۡغِضُوۡنَ
اِلَیۡکَ رُءُوۡسَہُمۡ وَ یَقُوۡلُوۡنَ مَتٰی ہُوَ -- Maka pasti
mereka akan menggelengkan kepalanya
terhadap engkau dan berkata: ”Kapankah itu akan terjadi?” قُلۡ عَسٰۤی
اَنۡ یَّکُوۡنَ قَرِیۡبًا -- Katakanlah:
“Boleh jadi itu dekat. یَوۡمَ یَدۡعُوۡکُمۡ
فَتَسۡتَجِیۡبُوۡنَ بِحَمۡدِہٖ وَ
تَظُنُّوۡنَ اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ
اِلَّا قَلِیۡلًا -- “Yaitu pada hari ketika Dia memanggil kamu lalu kamu menyambut dengan memuji-Nya dan kamu akan beranggapan bahwa kamu
tidak tinggal di dunia kecuali hanya
sebentar” (Bani Israil [17]:50-53).
Jadi, betapa
Bani Ismail yang selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma’il a.s. mengalami
masa fatrah yaitu masa jeda pengutusan Rasul Allah pun (QS.5:20), tetapi dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad
saw. hanya dalam waktu 23 tahun saja bangsa
yang jahiliyah tersebut telah berubah
menjadi “manusia-manusia malaikat”
(QS.62:3) yang memiliki makrifat Ilahi sangat menakjubkan, sebagaimana firman-Nya:
ہُوَ
اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ
الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ
الَّذِیۡ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ الۡجَبَّارُ
الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا
یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
ہُوَ
اللّٰہُ الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,
Mengetahui yang gaib dan yang nampak,
ہُوَ الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ -- Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang. ہُوَ اللّٰہُ الَّذِیۡ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ
-- Dia-lah Allah Yang tidak ada tuhan
kecuali Dia; Maha Berdaulat,
Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpahan
keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung.
سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha Suci Allah dari apa
yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat
segala sesuatu, Pemberi bentuk, لَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- milik
Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Bertasbih kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Hasyr [59]:23-25).
Sabda-sabda Al-Masih Mau’ud a.s. Mengenai Wujud
(Dzat) ALLAH SWT.
Revolusi
ruhani seperti itu akan kembali
terjadi di Akhir Zaman in, walau pun
tidak secepat yang pernah dilakukan Nabi Besar Muhammad saw. di lingkungan
bangsa Arab jahiliyah, tetapi insya
Allah akan lebih cepat jika dibandingkan
dengan masa menunggu yang dialami
oleh kaum Nashrani selama
3
abad sampai dengan masuknya Kaisar Constantine – penguasa kerajaan
Romawi -- menjadi penganut agama
Kristen dan bahkan menjadikan agama
Kristen sebagai agama Kerajaan Romawi (QS.18:10-27).
Dalam 2 ayat pertama Surah Al-Fatihah disebut nama Dzat Tuhan Yang Hakiki yaitu ALLAH,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
اَلۡحَمۡدُ
لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam.
Sehubungan dengan Dzat ALLAH Tuhan Pemilik
Sifat-sifat yang paling sempurna yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah mau pun
dalam seluruh Al-Quran, selanjutnya akan dikemukakan berbagai penjelasan Masih
Mau’ud a.s. -- yakni Ath-Thāriq (Bintang Fajar) di Akhir zaman ini -- dengan harapan semoga para pembaca artikel dalam Blog ini mendapat pencerahan berkenaan kesempurnaan
Allah
Swt. -- Obyek
Sembahan hakiki -- dalam melakukan peribadahan kepada-Nya (QS.51:57), sebagaimana yang telah diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.,
sehingga dengan memperoleh makrifat Ilahi yang hakiki dari
penjelasan beliau a.s. maka kecintaan kepada Allah Swt. akan semakin
sempurna lagi, serta akan memperoleh rahmat serta fadhilah yang telah disediakan oleh Allah Swt. bagi para pecinta sejati Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32; QS.4:70-71), sesuai dengan doa
yang diajarkan Allah Swt. dalam Surah
Al-Fatihah ayat 6-7 yang wajib dibaca
dalam setiap kali melaksanakan shalat, firman-Nya:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Tunjukilah kami jalan
yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- yaitu
jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka, لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ -- bukan
jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
Sesuai dengan doa tersebut All;ah Swt. berfirman mengenai makna الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ --
“orang-orang yang mendapat nikmat”
dari Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
الَّذِیۡنَ
اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ
الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- orang-orang yang
Allah memberi nikmat kepada mereka yakni:
nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka
itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah
Allāh Yang Maha Mengetahui (An-Nisā
[4]:70-71).
Di Akhir
Zaman ini, berkat menjadi pengikut dan pencinta sejati Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32),
Al-Masih Mau’ud a.s.
adalah orang yang mendapat karunia
memperoleh nikmat kenabian yang dijanjikan
Allah Swt. tersebut (QS.4:70-71), sehubungan dengan kenyataan tersebut beliau a.s. memperoleh anugerah pengetahuan mengenai rahasia-rahasia gaib Allah Swt. yang
hanya dibukakan hanya kepada para Rasul Allah (QS.72:27-29; QS.3:180).
ALLAH
YANG MAHA AGUNG[1]
Pengalaman Pribadi Tentang Tuhan
Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Tuhan Yang telah memanifestasikan
(menampakkan) Wujud-Nya kepada semua nabi-nabi, Yang telah muncul kepada
Musa a.s. di Gunung Sinai dan kepada Isa a.s. di Gunung Seir serta bersinar
bagi Hadhrat Muhammad saw. di Gunung Paran, Yang Maha Perkasa dan Maha Suci
Tuhan yang sama telah memanifestasikan Wujud-Nya kepadaku. Dia telah berbicara
kepadaku dan berfirman: “Aku
adalah Yang Maha Luhur yang untuk menyembah-Nya telah diutus semua nabi-nabi.
Aku sendirilah Pencipta dan Penguasa dan Aku tidak mempunyai sekutu. Aku tidak
tunduk pada kudrat kelahiran dan kematian.” (Government Angrezi aur Jihad, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.
17, hal. 29, London, 1984).
Beliau bersabda lagi:
“Kehidupan suci yang bebas dari dosa adalah intan permata yang
tidak ada dimiliki manusia sekarang. Allah
Yang Maha Perkasa telah menganugrahkan intan permata itu kepadaku dan Dia telah mengutus aku untuk menyampaikan kepada dunia mengenai cara-cara untuk memperoleh intan permata tersebut.
Aku bersumpah dengan penuh keyakinan, bahwa dengan menempuh jalan ini maka setiap
orang akan bisa mendapatkannya. Satu-satunya
cara untuk mendapatkannya adalah dengan mengenali Tuhan secara
benar, namun hal ini merupakan hal yang sulit dan rumit.
Sebagaimana telah aku kemukakan, seorang filosof yang merenungi langit dan bumi
dan menyadari keteraturan yang sempurna
alam semesta, hanya akan mengatakan bahwa kemungkinan ada sosok Pencipta.
Tetapi aku melangkah ke tingkat yang lebih
tinggi dan menyatakan berdasarkan pengalaman pribadiku bahwa Tuhan
itu benar-benar ada.”
(Malfuzat, jld. III, hlm. 16).
Selanjutnya beliau a.s. bersabda lagi:
“Tuhan kami adalah surga
kami. Kesenangan yang tertinggi adalah bersama Allah Swt.. karena kami telah berjumpa dengan Dia dan telah melihat semua kecantikan dalam Wujud-Nya.
Ini adalah khazanah kekayaan yang layak dicari meski harus menyerahkan
nyawa untuk memperolehnya. Ini adalah intan permata yang
patut dibeli walaupun harus melepas nyawa guna menebusnya.
Wahai kalian yang kehilangan harapan, marilah
ke Sumber mata air ini dan kalian akan dipuaskan. Dia merupakan Sumber mata air kehidupan
Yang akan menyelamatkan kalian. Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana aku
bisa mengesankan kepada hati kalian bahwa ini adalah kabar gembira? Genderang
apakah yang harus aku tabuh untuk mengumumkan agar manusia mau mendengar bahwa
inilah Tuhan kita? Obat apakah yang
harus aku gunakan untuk membuka telinga manusia agar mereka mau mendengar?” (Kishti Nuh, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 21-22, London, 1984).
Ancaman Allah Swt. yang Mengerikan
Bagi Para Pendusta dan yang Mendustakan Kebenaran
Dari Al-Quran
diketahui, bahwa pengakuan seperti itu bukan hal yang sepele, bahkan sangat berbahaya
sebab taruhannya adalah jiwa, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai pendakwaan
beliau saw., yang juga berlaku bagi semua pendakwa lainnya:
اِنَّہٗ لَقَوۡلُ
رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ
بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ
﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾
لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang
disampaikan seorang Rasul mulia,
dan bukanlah Al-Quran itu perkataan
seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai. Dan Al-Quran ini bukanlah perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagaian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا
مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- niscaya
Kami akan menangkap dia dengan tangan
kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian niscaya Kami
me-motong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ -- maka tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu da-rinya.
(Al-Hāqqah [69]:41-47).
Dalam ayat 48 dan dalam tiga ayat sebelumnya
keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila Nabi Besar Muhammad saw. itu pendusta,
maka Tangan perkasa – yakni
Ke-Mahakuasaan-Nya -- Allah Swt. pasti
menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau saw. dan pasti beliau saw. telah menemui kematian pedih, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur
berantakan, sebab memang demikianlah nasib
seorang nabi palsu. Dakwa dan
keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi
yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20.
Dalam firman-Nya
berikut ini diketahui bahwa ancaman Allah Swt. yang mengerikan tersebut bukan hanya berlaku bagi para pendakwa palsu, tetapi juga berlaku bagi para penentang pendakwaan Rasul Allah, firman-Nya:
فَمَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ
مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا
جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ
ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ
تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی
اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Maka siapakah
yang lebih zalim مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا -- daripada orang yang mengada-adakan kedustaan
terhadap Allah اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ -- atau mendustakan
Ayat-ayat-Nya? اُولٰٓئِکَ
یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ -- Mereka
akan memperoleh bagian mereka
sebagaimana telah ditetapkan, حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا
اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ -- hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawa-nya seraya
berkata: ”Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا
عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ -- Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka memberi kesaksian terhadap diri
me-reka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah
orang-orang kafir. (Al-A’rāf [7]:38).
Kata-kata: اُولٰٓئِکَ
یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ – “Mereka
akan memperoleh bagian mereka
sebagaimana telah ditetapkan”, berarti bahwa mereka yang menolak (mendustakan) Utusan-utusan
Allah akan melihat dengan mata
kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar
gaib yang meramalkan kekalahan
dan kegagalan mereka. Mereka akan
merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt..
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 5 September 2015
[1]
Sumber kutipan The Essence of Islam (Inti Pokok ajaran
Islam), kumpulan kutipan dari tulisan, khutbah, fatwa dan ceramah Masih
Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah. Rangkuman ke dalam bahasa Inggris oleh:
Choudry Muhammad Zafrullah Khan. Edisi pertama (1979) : The London Mosque.
Diterjemahkan oleh Ir. Abdul Qoyum
Khalid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar