Jumat, 04 September 2015

Makna "Hancurnya Gunung-gunung" Oleh Al-Quran & Sabda Masih Mau'ud a.s. Mengenai Kesempurnaan Wujud (Dzat) dan Sifat-sifat Allah Swt.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 28

Makna “Hancurnya Gunung-gunung” Oleh Al-Quran  & Sabda Masih Mau’ud a.s.  Mengenai  Kesempurnaan Wujud (Dzat) dan Sifat-sifat Allah Swt.

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai kemustahilan orang   buta   akan dapat  menuntun orang-orang yang buta lainnya untuk menempuh jalan-jalan keselamatan, sebagaimana jika dituntun oleh orang-orang yang pencainderanya normal, firman-Nya:
وَ مَا یَسۡتَوِی  الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ﴿ۙ﴾  وَ لَا الظُّلُمٰتُ وَ لَا  النُّوۡرُ ﴿ۙ﴾ وَ لَا الظِّلُّ  وَ لَا  الۡحَرُوۡرُ ﴿ۚ﴾  وَ مَا یَسۡتَوِی  الۡاَحۡیَآءُ  وَ لَا الۡاَمۡوَاتُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  یُسۡمِعُ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَاۤ  اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ  مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ ﴿﴾  اِنۡ  اَنۡتَ  اِلَّا  نَذِیۡرٌ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak sama  orang buta dengan  orang yang melihat.   Dan  tidak sama kegelapan dengan cahaya.   Dan tidak  sama teduh dengan panas.  وَ مَا یَسۡتَوِی  الۡاَحۡیَآءُ  وَ لَا الۡاَمۡوَاتُ  --   Dan sekali-kali tidak sama yang hidup dengan yang mati. اِنَّ اللّٰہَ  یُسۡمِعُ مَنۡ یَّشَآءُ --   Sesungguhnya Allah membuat mendengar siapa yang dikehendaki-Nya, وَ مَاۤ  اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ  مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ --  dan engkau sekali-kali tidak dapat membuat mendengar  orang yang ada dalam kubur.  اِنۡ  اَنۡتَ  اِلَّا  نَذِیۡرٌ --   Engkau tidak lain melainkan seorang pemberi peringatan  (Al-Fāthir [35]:20-24).
      Orang-orang beriman telah disebut orang-orang “yang hidup,” sebab dengan menerima kebenaran yang diajarkan Rasul Allah  mereka memperoleh suatu kehidupan baru (QS.8:25), sedangkan  orang-orang kafir disebut orang-orang “yang mati,” sebab dengan menolak kebenaran  -- yang merupakan air kehidupan abadi  --  mereka mendatangkan kematian ruhani atas diri mereka sendiri

Tidak Mampu Membedakan Tuhan Yang Hakiki dengan Tuhan-tuhan Palsu

       Tidaklah mungkin bagi seorang nabi Allah membuat orang-orang  yang sengaja menutup hati dan telinga mereka mendengar dan menerima seruan Ilahi (QS’2:7-8;QS.6:26; QS.17:46-48; QS.18:58; QS.41:6; QS.71-8). Orang-orang semacam itu secara ruhani telah mati   dan bagaikan orang-orang yang terpendam dalam kuburan, Allah Swt. berfirman: وَ مَاۤ  اَنۡتَ بِمُسۡمِعٍ  مَّنۡ فِی الۡقُبُوۡرِ --  “dan engkau sekali-kali tidak dapat membuat mendengar  orang yang ada dalam kubur.” Selanjutnya Dia berfirman:
مَثَلُ الۡفَرِیۡقَیۡنِ کَالۡاَعۡمٰی وَ الۡاَصَمِّ وَ الۡبَصِیۡرِ وَ السَّمِیۡعِ ؕ ہَلۡ یَسۡتَوِیٰنِ مَثَلًا ؕ اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿٪﴾
Keadaan kedua golongan itu adalah semisal keadaan orang buta lagi tuli dengan orang melihat lagi mendengar. Apakah sama misal kedua orang itu? Tidakkah  kamu  mau mengerti? (Hūd [11]:25).
          Suatu perumpamaan yang indah telah dikemukakan dalam ayat tersebut  untuk menjelaskan perbedaan antara keimanan dan kekafiran. Orang mukmin digambarkan sebagai orang yang mempunyai daya melihat dan mendengar yang sempurna, sedang orang kafir diibaratkan sebagai orang buta dan tuli, bahkan sampai-sampai mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan yang hakiki, yaitu Allah Swt.,  dengan tuhan-tuhan  palsu,  firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah  Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung  yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ --  Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan  orang-orang yang melihat?  اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ -- Atau samakah gelap dan terang? َمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ  -- Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).

Makna “Hancurnya Gunung” Oleh Al-Quran

        Mengenai  contoh  ketidak-samaan tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai:
  یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ  وَ لۡتَنۡظُرۡ  نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ ۚ وَ اتَّقُوا  اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  خَبِیۡرٌۢ   بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾   وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ نَسُوا اللّٰہَ فَاَنۡسٰہُمۡ  اَنۡفُسَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  لَا یَسۡتَوِیۡۤ اَصۡحٰبُ النَّارِ وَ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ؕ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, وَ لۡتَنۡظُرۡ  نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ --  dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang didahulukan untuk esok hari, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ نَسُوا اللّٰہَ  -- Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang telah   melupakan Allah  فَاَنۡسٰہُمۡ  اَنۡفُسَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ  -- maka Dia pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik.  لَا یَسۡتَوِیۡۤ اَصۡحٰبُ النَّارِ وَ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ  -- Tidak sama penghuni neraka dengan penghuni surga,  اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ  -- penghuni   surgalah yang akan memperoleh kemenangan. (Al-Hasyr [59]:19-21).
    Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai mukjizat Al-Quran yang luar biasa – sekali gus merupakan nubuatan   mengenai keunggulan umat Islam atas para penentangnya di kalangan orang-orang musyrik dan golongan Ahli KItab – firman-Nya:
لَوۡ اَنۡزَلۡنَا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ عَلٰی جَبَلٍ لَّرَاَیۡتَہٗ  خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنۡ خَشۡیَۃِ اللّٰہِ ؕ وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Seandainya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan menjadi berkeping-keping karena takut kepada Allah. Dan inilah tamsil-tamsil yang Kami kemukakan untuk manusia  supaya mereka berpikir   (Hasyr [59]:22).
   Ayat ini dapat mengandung arti bahwa orang-orang musyrik Mekkah yang congkak itu – yang sebelum Islam tiada ajaran yang dapat menghentikan mereka dari itikad dan amal musyrik atau dari kejahiliyahan mereka,    yang laksana batu karang kokoh kuat mereka  tetap tidak tergoyahkan dan gigih berpegang dengan kuat pada adat istiadat Badui, mereka tidak tersentuh oleh pengaruh kegemilangan dan kecermelangan peradaban Kristen di negeri sebelah –  tetapi  melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. hanya dalam waktu 23 tahun saja  mereka ditundukkan oleh ajaran Islam yang sempurna dan perkasa, dan dari hati mereka yang mula-mula laksana batu karang itu, akhimya akan terbit sumber-sumber cahaya dan ilmu yang memancar dengan derasnya (QS.62:3).
    Kaum yang  telah meletakkan 360 berhala di Ka’bah (Baitullah) tersebut – yang keadaannya bagaikan  tulang-belulang berserakan   --  melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw..  hanya dalam waktu 23 tahun saja   mereka menjadi “satu tubuh” yang utuh  dan  hidup  serta  menjadi para  penyanjung kesucian dan kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
وَ قَالُوۡۤاءَ اِذَا کُنَّا عِظَامًا  وَّ  رُفَاتًاءَ اِنَّا  لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ  خَلۡقًا جَدِیۡدًا ﴿﴾  قُلۡ  کُوۡنُوۡا  حِجَارَۃً   اَوۡ  حَدِیۡدًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ خَلۡقًا مِّمَّا یَکۡبُرُ فِیۡ صُدُوۡرِکُمۡ ۚ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ مَنۡ یُّعِیۡدُنَا ؕ قُلِ الَّذِیۡ فَطَرَکُمۡ   اَوَّلَ مَرَّۃٍ ۚ فَسَیُنۡغِضُوۡنَ اِلَیۡکَ رُءُوۡسَہُمۡ وَ یَقُوۡلُوۡنَ مَتٰی ہُوَ ؕ  قُلۡ  عَسٰۤی  اَنۡ  یَّکُوۡنَ  قَرِیۡبًا ﴿﴾  یَوۡمَ  یَدۡعُوۡکُمۡ فَتَسۡتَجِیۡبُوۡنَ بِحَمۡدِہٖ وَ  تَظُنُّوۡنَ   اِنۡ   لَّبِثۡتُمۡ   اِلَّا   قَلِیۡلًا  ﴿٪﴾
Dan mereka berkata:  ”Apakah apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”   Katakanlah: “Jadilah kamu batu atau besi,  atau makhluk yang nampaknya terkeras  dalam pikiran kamu, kamu pasti akan dibangkitkan lagi.”  فَسَیَقُوۡلُوۡنَ مَنۡ یُّعِیۡدُنَا  --      Maka pasti mereka akan mengatakan:   --  “Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?”  قُلِ الَّذِیۡ فَطَرَکُمۡ   اَوَّلَ مَرَّۃٍ -- Katakanlah: “Dia Yang telah menjadikan kamu pertama kali.” فَسَیُنۡغِضُوۡنَ اِلَیۡکَ رُءُوۡسَہُمۡ وَ یَقُوۡلُوۡنَ مَتٰی ہُوَ  --  Maka pasti mereka akan menggelengkan kepalanya terhadap engkau dan berkata: ”Kapankah itu akan terjadi?” قُلۡ  عَسٰۤی  اَنۡ  یَّکُوۡنَ  قَرِیۡبًا  -- Katakanlah: “Boleh jadi itu dekat. یَوۡمَ  یَدۡعُوۡکُمۡ فَتَسۡتَجِیۡبُوۡنَ بِحَمۡدِہٖ وَ  تَظُنُّوۡنَ   اِنۡ   لَّبِثۡتُمۡ   اِلَّا   قَلِیۡلًا  --  “Yaitu pada hari ketika Dia   memanggil kamu lalu kamu menyambut dengan memuji-Nya dan kamu akan beranggapan bahwa  kamu tidak tinggal di dunia kecuali hanya sebentar” (Bani Israil [17]:50-53).
           Jadi, betapa   Bani Ismail  yang selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim  a.s. dan Nabi Isma’il a.s.  mengalami masa fatrah  yaitu masa jeda  pengutusan Rasul Allah  pun (QS.5:20),   tetapi dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. hanya dalam waktu 23 tahun saja bangsa  yang jahiliyah tersebut telah berubah menjadi “manusia-manusia malaikat” (QS.62:3)  yang memiliki makrifat Ilahi  sangat menakjubkan, sebagaimana firman-Nya:
ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ  الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ  الۡجَبَّارُ  الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ  الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ  الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,  Mengetahui yang gaib dan yang nampak, ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ  -- Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang.  ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ    --   Dia-lah Allah Yang tidak ada tuhan kecuali Dia; Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung.  سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha Suci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.  Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi bentuk, لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی  --   milik Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ   --  Bertasbih  kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Hasyr [59]:23-25).

Sabda-sabda Al-Masih Mau’ud a.s.  Mengenai Wujud (Dzat) ALLAH SWT.

       Revolusi ruhani seperti itu  akan kembali terjadi di Akhir Zaman in, walau pun tidak secepat yang pernah dilakukan Nabi Besar Muhammad saw.  di lingkungan  bangsa Arab jahiliyah, tetapi insya Allah  akan lebih cepat  jika dibandingkan dengan masa menunggu yang dialami oleh kaum Nashrani  selama  3   abad sampai dengan  masuknya Kaisar Constantine – penguasa kerajaan Romawi   -- menjadi penganut agama  Kristen dan bahkan menjadikan agama Kristen sebagai agama Kerajaan Romawi (QS.18:10-27).
       Dalam 2 ayat  pertama Surah Al-Fatihah  disebut nama Dzat   Tuhan Yang Hakiki yaitu  ALLAH, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. 
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾
Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam. 
        Sehubungan dengan Dzat ALLAH Tuhan  Pemilik Sifat-sifat yang paling sempurna yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah  mau pun dalam seluruh Al-Quran, selanjutnya akan dikemukakan berbagai penjelasan Masih Mau’ud a.s. --  yakni Ath-Thāriq (Bintang Fajar) di Akhir zaman ini  --    dengan harapan semoga para pembaca artikel dalam Blog ini mendapat pencerahan berkenaan kesempurnaan Allah Swt. -- Obyek Sembahan hakiki -- dalam melakukan  peribadahan  kepada-Nya (QS.51:57), sebagaimana yang telah diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., sehingga dengan memperoleh makrifat Ilahi yang hakiki dari penjelasan beliau a.s. maka  kecintaan kepada Allah Swt.  akan semakin sempurna lagi, serta akan memperoleh  rahmat serta fadhilah  yang telah disediakan oleh Allah Swt. bagi para pecinta sejati Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70-71), sesuai dengan doa yang diajarkan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7 yang wajib dibaca dalam setiap  kali melaksanakan shalat,   firman-Nya:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾  صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Tunjukilah kami   jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ  --   yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ --      bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat.” 
       Sesuai dengan doa tersebut All;ah Swt. berfirman mengenai makna  الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ  --  “orang-orang yang mendapat nikmat” dari  Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  --  dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui  (An-Nisā [4]:70-71).
        Di Akhir Zaman ini, berkat  menjadi pengikut dan pencinta sejati Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.3:32),   Al-Masih Mau’ud a.s.  adalah orang yang mendapat karunia memperoleh nikmat  kenabian  yang dijanjikan Allah Swt. tersebut  (QS.4:70-71),  sehubungan dengan kenyataan tersebut   beliau a.s.  memperoleh anugerah pengetahuan mengenai   rahasia-rahasia gaib Allah Swt. yang hanya dibukakan hanya kepada  para Rasul Allah (QS.72:27-29; QS.3:180).

 ALLAH
YANG MAHA AGUNG[1]

Pengalaman Pribadi Tentang Tuhan

Masih Mau’ud a.s. bersabda:
       “Tuhan Yang telah memanifestasikan  (menampakkan) Wujud-Nya kepada semua nabi-nabi, Yang telah muncul kepada Musa a.s. di Gunung Sinai dan kepada Isa a.s. di Gunung Seir serta bersinar bagi Hadhrat Muhammad saw. di Gunung Paran, Yang Maha Perkasa dan Maha Suci Tuhan yang sama telah memanifestasikan Wujud-Nya kepadaku. Dia telah berbicara kepadaku dan berfirman:  “Aku adalah Yang Maha Luhur yang untuk menyembah-Nya telah diutus semua nabi-nabi. Aku sendirilah Pencipta dan Penguasa dan Aku tidak mempunyai sekutu. Aku tidak tunduk pada kudrat kelahiran dan kematian.” (Government Angrezi aur Jihad, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 17, hal. 29, London, 1984).
Beliau bersabda lagi:
       “Kehidupan suci yang bebas dari dosa adalah intan permata yang tidak ada dimiliki manusia sekarang. Allah Yang Maha Perkasa telah menganugrahkan intan permata itu kepadaku dan Dia telah mengutus aku untuk menyampaikan kepada dunia mengenai cara-cara untuk memperoleh intan permata tersebut.
       Aku bersumpah dengan penuh keyakinan, bahwa dengan menempuh jalan ini maka setiap orang akan bisa mendapatkannya. Satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan mengenali Tuhan secara benar, namun hal ini merupakan hal yang sulit dan rumit. Sebagaimana telah aku kemukakan, seorang filosof yang merenungi langit dan bumi dan menyadari keteraturan yang sempurna   alam semesta, hanya akan mengatakan bahwa kemungkinan ada sosok Pencipta. Tetapi aku melangkah ke tingkat yang lebih  tinggi dan menyatakan berdasarkan pengalaman pribadiku bahwa Tuhan itu benar-benar  ada.”  (Malfuzat, jld. III, hlm. 16).
Selanjutnya beliau a.s. bersabda lagi:
      “Tuhan kami adalah surga kami. Kesenangan yang tertinggi adalah bersama Allah  Swt.. karena kami telah berjumpa  dengan Dia dan telah melihat semua kecantikan  dalam Wujud-Nya. Ini adalah khazanah kekayaan yang layak dicari meski harus menyerahkan nyawa untuk memperolehnya. Ini adalah intan permata yang patut dibeli walaupun harus melepas nyawa guna menebusnya.
        Wahai kalian yang kehilangan harapan, marilah ke Sumber mata air ini dan kalian akan dipuaskan. Dia merupakan Sumber mata air kehidupan Yang akan menyelamatkan kalian. Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana aku bisa mengesankan kepada hati kalian bahwa ini adalah kabar gembira? Genderang apakah yang harus aku tabuh untuk mengumumkan agar manusia mau mendengar bahwa inilah Tuhan kita? Obat apakah yang harus aku gunakan untuk membuka telinga manusia agar mereka mau mendengar?”  (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 21-22, London, 1984).

Ancaman Allah Swt. yang Mengerikan Bagi Para Pendusta dan yang Mendustakan Kebenaran

        Dari Al-Quran diketahui,  bahwa pengakuan seperti itu bukan hal yang sepele, bahkan sangat berbahaya sebab taruhannya adalah jiwa, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pendakwaan beliau saw., yang juga berlaku bagi semua pendakwa    lainnya:
اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾  لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia,   dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai.          Dan Al-Quran ini bukanlah  perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat.  تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  --         Ini adalah wahyu yang diturunkan dari  Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ --    Dan seandainya ia mengada-adakan sebagaian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --  niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kananثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ -- kemudian niscaya Kami me-motong urat nadinya,  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ  --           maka tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu da-rinya.  (Al-Hāqqah [69]:41-47).
  Dalam ayat 48  dan dalam tiga ayat sebelumnya keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila Nabi Besar Muhammad saw.  itu pendusta, maka Tangan perkasa – yakni Ke-Mahakuasaan-Nya -- Allah Swt. pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau saw. dan pasti beliau saw.  telah menemui kematian  pedih, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu. Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20.
    Dalam firman-Nya berikut ini  diketahui bahwa ancaman Allah Swt. yang mengerikan  tersebut bukan hanya berlaku bagi para pendakwa palsu, tetapi juga  berlaku bagi para penentang pendakwaan   Rasul Allah, firman-Nya:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  
Maka   siapakah yang lebih zalim مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا --  daripada    orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah  اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ  --  atau mendustakan Ayat-ayat-Nya?  اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ -- Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  --  hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawa-nya seraya berkata:   Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?”  قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ -- Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka   memberi kesaksian terhadap diri me-reka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir. (Al-A’rāf [7]:38).
   Kata-kata: اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ – “Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan”,    berarti bahwa mereka yang menolak (mendustakan) Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt..

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 5 September 2015






[1] Sumber kutipan   The Essence of Islam (Inti Pokok ajaran Islam),    kumpulan kutipan dari tulisan, khutbah, fatwa dan ceramah Masih Mau’ud dan Imam Mahdi,  Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah.  Rangkuman ke dalam bahasa Inggris oleh: Choudry Muhammad Zafrullah Khan. Edisi pertama (1979) : The London Mosque. Diterjemahkan oleh Ir. Abdul Qoyum Khalid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar