بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 50
Berbagai Makna Isra
Nabi Besar Muhammad Saw. & Manfaat
Luarbiasa Shalat Tahajjud Dalam Upaya
Meraih “Firman yang Berbobot” Bagi
Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai komentar Bosworth Smith, seorang pemulis non-Muslim, sehubungan dengan firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat
suri teladan yang
sebaik-baiknya bagi kamu,
yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang
banyak mengingat Allah (Al-Ahzāb
[33]:22).
Ia menulis:
“Kepala negara merangkap Penghulu Agama,
beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak
berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara
tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan
tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak
ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan
tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan
pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas
sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau
roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau
biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua
belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan
suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muhammadanism”).
Pendek kata, Nabi Besar Muhammad saw. bukan saja membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. mengenai pentingnya melaksanakan
berbagai ibadah fardu dan nafal
(tambahan) – termasuk shalat tahajjud --
dalam firman-Nya: عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ
مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا -- “boleh jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang
sangat terpuji.” (Bani Israil [17]:80), tetapi juga
sebagai bukti nyata mengenai makna yang sebenarnya dari orang yang paling banyak berdzikir
kepada Allah Swt. – yang disalah-artikan
sebagai banyaknya jumlah
(hitungan) wirid (dzikr) dengan
menggunakan untaian biji tasbih -- sebab nama
lain dari Al-Quran adalah adz-Dzikir (QS.15:10).
Itulah sebabnya ketika Ummul-mukminin
‘Aisyah r.a. ditanya mengenai bagaimana akhlak Nabi Besar Muhammad saw.. beliau menjawab bahwa akhlak Nabi Besar Muhammad saw. adalah Al-Quran, sebagaimana telah dijelaskan
sebelumnya mengenai Surah Al-Ahzab ayat 22.
Nabi Besar Muhammad saw. adalah
satu-satunya Rasul Allah yang telah
membuat seluruh aktifitas
manusia bernilai ibadah kepada Allah Swt., yang
kemudian disebut sebagai Sunnah
yang terekam dalam berbagai buku Hadits,
terutama shihah sittah. Itulah
sebabnya sebutan nur mau pun dzikr dapat dikenakan kepada wujud Nabi Besar Muhmmad saw. mau pun kepada Al-Quran,
(QS.15:10; QS.36:70; QS.65:11-12).
Kemakbulan Doa-doa Nabi Besar Muhammad Saw. Berkenaan Hijrah & Duel Makar
Sebagai
bukti kemakbulan doa-doa dan
permohonan-permohonan Nabi Besar
Muhammad saw., dalam ayat selanjutnya beliau
saw. diberi kabar gembira oleh Allah
Swt. bahwa untuk menggenapi nubuatan hijrah
beliau saw, dari Mekkah ke Madinah, yang diisyaratkan dalam firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
“Maha Suci Dia Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram
ke Masjid Aqsa yang di sekelilingnya telah Kami berkati,
supaya Kami perlihatkan sebagian dari Tanda-tanda Kami, Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS.17:2).
Maka untuk mendahului dan
menyambut penyempurnaan nubuatan tersebut
Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan berdoa, supaya ketika beliau saw. masuk ke Medinah
dan begitu pula ketika keberangkatan beliau saw. dari kota Mekkah
akan dianugerahi keberkatan yang berlimpah-limpah, firman-Nya: وَ قُلۡ
رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ -- dan katakanlah: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan
cara masuk yang baik serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ
لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا -- dan jadikanlah bagiku dari hadirat
Engkau kekuatan yang menolong.” (QS.17:81).
Firman Allah Swt. tersebut menjelaskan hakikat
peristiwa Isra --
yakni diperjalankan-Nya Nabi
Besar Muhammad saw. pada malam hari --
ketika pada malam itu dilakukan makar
buruk berupa upaya terakhir menghentikan
da’wah beliau saw. berupa pembunuhan, yang dirancang oleh Abu
Jahal dan para pemimpin kafir
Mekkah lainnya, firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ
یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ
ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿ ﴾
Dan ingatlah
ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka dapat
menangkap engkau atau membunuh engkau
atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ
اللّٰہُ -- Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang makar tandingan, وَ اللّٰہُ
خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- dan Allah
sebaik-baik Perancang makar. (Al-Anfāl [8]:31)
Ayat
ini mengisyaratkan kepada musyawarah
rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di
Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua
usaha mereka mencegah berkembangnya
aliran kepercayaan baru (ajaran
Islam) gagal, dan bahwa kebanyakan
orang-orang Muslim yang mampu
meninggalkan Mekkah telah hijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh
dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota
berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
Sembilan Orang Pembuat
Kerusakan di Masa Kerasulan
Sesudah diadakan pertimbangan
mendalam, terpikir oleh mereka satu
rencana, ialah sejumlah orang-orang muda
dari berbagai kabilah Quraisy harus
secara serempak menyergap Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu malam lalu membunuh beliau saw., sebagaimana makar buruk yang dilakukan terhadapo Nabi Shalih a.s., firman-Nya:
وَ کَانَ
فِی الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا
یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ
اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ
وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا
دَمَّرۡنٰہُمۡ وَ قَوۡمَہُمۡ
اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾ فَتِلۡکَ
بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ
یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَنۡجَیۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada sembilan orang yang berbuat
kerusakan di bumi dan tidak mau mengadakan perbaikan. Mereka
berkata: “Hendaklah kamu sekalian
bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami akan menyerbu pada
malam hari kepada dia dan keluarganya, ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ -- kemudian kami niscaya
akan berkata kepada pelindungnya: مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ
وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ -- “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.” وَ مَکَرُوۡا
مَکۡرًا وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ -- Dan mereka membuat makar buruk
dan Kami pun membuat makar
tandingan, tetapi mereka tidak
menyadari. فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ -- Maka perhatikanlah bagai-mana buruknya akibat makar buruk mereka,
اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ وَ
قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- sesungguhnya Kami
memusnahkan mereka dan kaumnya semua.
فَتِلۡکَ
بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا -- Maka
itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh karena mereka
berbuat zalim. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ -- Sesungguhnya
dalam yang demikian itu benar-benar ada
Tanda untuk kaum yang mengetahui.
وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan Kami
menyelamatkan orang-orang yang beriman
dan bertakwa. (An-Naml [27]:49-54).
Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ
رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ -- “Dan dalam
kota itu ada sembilan orang
yang berbuat kerusakan di bumi
dan tidak mau mengadakan
perbaikan” adalah kesembilan
musuh terkemuka Nabi Besar Muhammad
saw.. Delapan di antaranya terbunuh
dalam pertempuran Badar termasuk Abu
Jahal, dan yang kesembilan, Abu Lahab,
yang terkenal keburukannya itu, mati
di Mekkah ketika sampai ke telinganya kabar tentang kekalahan tragis di Badar.
Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal,
Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah,
Umayah bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan
Aqbah bin Abi Mu’aith. Mereka bersekongkol untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.8:31) .
Rencana sebenarnya ialah memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy,
dan kemudian mengadakan serangan
pembunuhan yang berencana atas beliau
saw., sehingga tidak ada kabilah
tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab
atas pembunuhan terhadap beliau saw. itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.
Makna Isra
(Diperjalankan Pada Malam Hari) Nabi
Besar Muhammad Saw. & Menjadi Imam Shalat Berjamaan Bersama Para Rasul Allah
Namun makar buruk mereka
tersebut malah mengakibatkan Nabi Besar Muhammad saw. hijrah dari Mekkah, tetapi hijrahnya
itu akhirnya mengakibatkan kehancuran
kekuatan kaum Quraisy yang tidak
menyadari, bahwa dengan memaksa beliau saw. hijrah
dari Mekkah, mereka meletakkan dasar
kehancuran bagi mereka sendiri, sebab selama ada rasul
Allah di suatu tempat maka selama itu pula tempat tersebut akan aman (terhindar) dari azab Ilahi (QS.8:33-35).
Tetapi tanpa setahu orang, Nabi
Besar Muhammad saw. meninggalkan rumah tengah malam buta,
ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, lalu beliau saw. berlindung di Gua Tsur bersama-sama Abubakar shiddiq r.a., sahabat beliau saw. yang setia (QS.9:40),
dan akhirnya sampai di Medinah dengan
selamat.
Dari segi
jasmani, mengisyaratkan pada peristiwa
penyelamatan Nabi Besar Muhammad saw.
dari makar buruk Abu Jahal dkk itulah makna
kalimat “Dia-lah Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam” dalam firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی
بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ
الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا
الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
“Maha Suci Dia Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram
ke Masjid Aqsa yang di sekelilingnya telah Kami berkati,
supaya Kami perlihatkan sebagian dari Tanda-tanda Kami, Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS.17:2).
Sedang dari segi ruhani makna ayat tersebut adalah, bahwa sebagai akibat
dari kegagalan makar buruk yang
dirancang Abu Jahal dkk tersebut –
yang menyebabkan Nabi Besar Muhammad
saw. hijrah dari Mekkah ke
Madinah -- maka misi
kerasulan beliau saw. bukan saja hanya akan semakin kokoh setelah hijrah
ke Madinah, bahkan misi kerasulan beliau saw. atau tabligh Islam pun akan
merasuk ke pusat peribadahan golongan
Ahli Kitab, yakni Yerusalem,
yang dalam ayat tersebit
diisyaratkan dengan masjidil-aqsha
(masjid yang jauh).
Kabar
gembira mengena hal tersebut digambarkan dalam pengalaman
ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa Isra berupa mengimani shalat berjamaah di Yerusalem bersama para rasul Allah, itulah makna
lainnya dari ayat سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا -- ““Maha Suci Dia Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram
ke Masjid Aqsa yang di sekelilingnya telah Kami berkati,” dengan demikian sebutan masjidil aqsha dalam ayat
tersebut dapat mengisyaratkan kota Madinah
yang di kota tersebut beliau saw,
mendirikan mesjid nabawi, atau kepada
kota Yerusalem yang pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab r.a. di sana didirikan
mesjid Al-Aqsha (masjidil-aqsha),
sehingga sempurnalah nubuatan dalam
firman Allah tersebut (QS.17:2).
Kemaqbulan Doa yang
Diajarkan Allah Swt. & Penghancuran Berhala yang Mengotori Baitullah di Mekkah
Dengan demikian terbukti kemaqbulan doa yang diajarkan Allah Swt.
kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebelum peristiwa hijrah tersebut: وَ قُلۡ
رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan
cara masuk yang baik serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ
لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا -- dan jadikanlah bagiku dari hadirat
Engkau kekuatan yang menolong.” --
firman-Nya:
اَقِمِ
الصَّلٰوۃَ لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی
غَسَقِ الَّیۡلِ وَ قُرۡاٰنَ
الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ قُرۡاٰنَ
الۡفَجۡرِ کَانَ مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾ وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾ وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ
مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾ وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ
الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan
malam dan bacalah Al-Quran
pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh
disaksikan secara istimewa oleh Allah. وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ -- Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya,
suatu ibadah tambahan bagi engkau, عَسٰۤی
اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا
مَّحۡمُوۡدًا -- boleh
jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang
sangat terpuji. وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ
صِدۡقٍ -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan
cara masuk yang baik serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ
لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا -- dan jadikanlah bagiku dari hadirat
Engkau kekuatan yang menolong.” وَ قُلۡ
جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ
زَہُوۡقًا -- Dan katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah
datang dan kebatilan telah lenyap,
sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap (Bani Israil [17]:79-82).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ
کَانَ زَہُوۡقًا -- Dan katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah
datang dan kebatilan telah lenyap,
sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap” (QS.17:82) inilah salah satu mukjizat gaya bahasa Al-Quran bahwa untuk
ini mengemukakan salah satu contoh semacam itu.
Sesudah takluknya kota Mekkah, ketika Nabi Besar Muhammad saw. selagi membersihkan
Ka’bah dari 360 buah berhala-berhala yang telah mengotorinya,
beliau saw. berulang-ulang mengucapkan ayat tersebut sementara beliau memukuli berhala-berhala (Bukhari).
Penganugerahan “Firman yang Berbobot”
Kembali kepada masalah pentingnya mendirikan shalat tahajjud, berikut firman-Nya lagi kepada Nabi Besar Muhammad
saw. berkenaan dengan pentingnya melaksanakan shalat tahajjud dalam
menghadapi tugas kerasulan beliau
saw. yang sangat berat (QS.33:73)
tersebut:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾ قُمِ
الَّیۡلَ اِلَّا قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ نِّصۡفَہٗۤ
اَوِ انۡقُصۡ مِنۡہُ قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ اَوۡ زِدۡ
عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ
الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ قَوۡلًا
ثَقِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّ نَاشِئَۃَ
الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً وَّ
اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾ وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. یٰۤاَیُّہَا
الۡمُزَّمِّلُ -- Wahai orang
yang berselimut, قُمِ الَّیۡلَ
اِلَّا قَلِیۡلًا -- berdirilah
untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit, نِّصۡفَہٗۤ اَوِ انۡقُصۡ
مِنۡہُ قَلِیۡلًا -- setengahnya atau kurangilah
sedikit darinya, اَوۡ زِدۡ عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا ؕ -- atau
tambahkan atasnya dan bacalah
Al-Quran dengan pembacaan yang
teratur. اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ
قَوۡلًا ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada
engkau firman yang berbobot. اِنَّ
نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ
وَطۡاً وَّ اَقۡوَمُ قِیۡلًا -- Sesungguhnya bangun di waktu malam itu
merupakan sarana untuk menguasai
diri dan meneguhkan
per-kataan. اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا
طَوِیۡلًا -- Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan
yang panjang. وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ -- Maka ingatlah selalu nama Rabb (Tuhan) engkau وَ تَبَتَّلۡ اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا -- dan baktikanlah
diri engkau kepada-Nya dengan sepenuh kebaktian (Muzzammil
[73]:1-9).
Ungkapan “firman yang
berbobot” dalam ayat اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ قَوۡلًا
ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada engkau firman
yang berbobot” dapat berarti “ajaran
Al-Quran itu padat dengan ajaran mahapenting. Ajaran itu terlalu penting untuk
digantikan atau disisihkan.” Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang
dapat diubah, diganti atau diperbaiki.
Menurut hadits yang kerap
kali dikutip, manakala ada wahyu Al-Quran
turun kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. jadi hening terpaku dan
merasakan ada suatu keharuan
istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun
tetes-tetes besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan
bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari).
Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang
berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan Nabi Besar Muhammad
saw. itu disebabkan oleh keharuan
tadi.
Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajjud merupakan wahana yang kuat untuk menguasai diri dan dengan ampuh mengendalikan kecenderungan dan hasrat jahat seseorang. Merupakan
pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tidak ada yang begitu banyak memberi
manfaat bagi perkembangan ruhani
seseorang selain tahajjud atau shalat malam.
Di dalam kesunyian dan
keheningan malam, semacam kedamaian
yang ajaib mengungguli segala
sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri
bersama Sang Khāliq-nya – menikmati perhubungan istimewa dengan Dia dan
menjadi terang benderang oleh cahaya
samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang lain.
Saat itu luar biasa cocoknya
bagi seseorang guna mengembangkan
kekuatan watak dan membuat pembicaraannya
sehat, bernas, dan dapat diandalkan. Ucapan
yang jitu dan kemampuan yang tiada terhingga untuk bekerja keras merupakan dua syarat yang perlu bagi seorang Pembaharu agar berhasil di dalam
tugasnya. Tahajjud membantu memperkembangkan dua syarat itu. Karena
telah dapat menguasai pikiran dan ucapannya, orang menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 24 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar