Sabtu, 26 September 2015

Berbagai Makna "Isra" Nabi Besar Muhammad Saw. & Manfaat Luarbiasa "Shalat Tahajjud" Dalam Upaya Meraih "Firman yang Berbobot" Bagi Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 50

Berbagai Makna   Isra Nabi Besar Muhammad Saw.  & Manfaat Luarbiasa Shalat Tahajjud Dalam Upaya Meraih “Firman yang Berbobot” Bagi Para   Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.  

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai komentar Bosworth Smith, seorang pemulis non-Muslim,   sehubungan dengan  firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah (Al-Ahzāb [33]:22).
Ia menulis:
  “Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muhammadanism”).
     Pendek kata,  Nabi Besar Muhammad saw. bukan saja  membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. mengenai pentingnya melaksanakan berbagai  ibadah fardu dan nafal (tambahan) – termasuk shalat tahajjud  --  dalam firman-Nya: عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا  -- “boleh jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.”  (Bani Israil [17]:80), tetapi juga sebagai bukti nyata mengenai makna yang sebenarnya  dari orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt. – yang disalah-artikan sebagai  banyaknya  jumlah (hitungan)   wirid  (dzikr) dengan menggunakan  untaian biji tasbih   -- sebab nama lain dari Al-Quran adalah adz-Dzikir  (QS.15:10).
      Itulah sebabnya ketika Ummul-mukminin ‘Aisyah r.a. ditanya mengenai bagaimana  akhlak Nabi Besar Muhammad  saw.. beliau menjawab bahwa akhlak Nabi Besar Muhammad saw. adalah Al-Quran, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya   mengenai Surah Al-Ahzab ayat 22.
       Nabi Besar Muhammad saw. adalah satu-satunya Rasul Allah yang telah membuat seluruh aktifitas manusia   bernilai ibadah kepada Allah Swt., yang  kemudian disebut sebagai Sunnah yang terekam dalam berbagai buku Hadits, terutama shihah sittah. Itulah sebabnya sebutan nur mau pun dzikr  dapat dikenakan kepada wujud Nabi Besar Muhmmad saw. mau pun  kepada Al-Quran, (QS.15:10; QS.36:70; QS.65:11-12).

Kemakbulan Doa-doa Nabi Besar Muhammad Saw. Berkenaan Hijrah  & Duel  Makar

      Sebagai bukti kemakbulan doa-doa dan permohonan-permohonan  Nabi Besar Muhammad saw.,  dalam ayat selanjutnya beliau saw.  diberi kabar gembira  oleh Allah Swt. bahwa untuk menggenapi nubuatan  hijrah beliau saw, dari Mekkah ke Madinah, yang diisyaratkan dalam firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾   
Maha Suci Dia Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa yang di sekelilingnya telah Kami berkati, supaya Kami perlihatkan sebagian dari Tanda-tanda Kami, Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS.17:2).
      Maka  untuk mendahului dan menyambut penyempurnaan nubuatan tersebut Nabi Besar Muhammad saw.  diperintahkan berdoa, supaya ketika beliau saw. masuk   ke Medinah dan begitu pula ketika  keberangkatan beliau saw. dari kota Mekkah   akan dianugerahi keberkatan yang berlimpah-limpah, firman-Nya:  وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ    -- dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --    dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.”  (QS.17:81).
      Firman Allah Swt. tersebut menjelaskan hakikat peristiwa Isra     --  yakni diperjalankan-Nya Nabi Besar Muhammad saw.  pada malam hari   --  ketika pada malam itu  dilakukan makar buruk  berupa upaya terakhir  menghentikan da’wah beliau saw. berupa pembunuhan, yang dirancang oleh Abu Jahal dan para pemimpin kafir Mekkah lainnya, firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿ ﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ    --    Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,   وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  -- dan Allah sebaik-baik  Perancang makar.  (Al-Anfāl [8]:31) 
       Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru (ajaran Islam) gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Mekkah telah  hijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.

Sembilan Orang Pembuat Kerusakan di Masa Kerasulan

       Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap  Nabi Besar Muhammad saw.  pada waktu malam lalu membunuh beliau saw., sebagaimana makar buruk yang dilakukan terhadapo Nabi Shalih a.s.,  firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾  فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada  sembilan orang yang  berbuat kerusakan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan.   Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganyaثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ   -- kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya: مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ --   “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.” وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ --   Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari. فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ  --    Maka perhatikanlah bagai-mana buruknya akibat makar buruk mereka,  اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ -- sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua. فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا  --  Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim.  اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui.  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ --  Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertakwa. (An-Naml [27]:49-54).
        Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat  وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ   --  “Dan dalam kota itu ada  sembilan orang yang  berbuat kerusakan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan”     adalah kesembilan musuh  terkemuka Nabi Besar Muhammad saw..  Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar termasuk Abu Jahal, dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya kabar tentang kekalahan tragis  di Badar.
      Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah  bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith. Mereka bersekongkol untuk membunuh  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.8:31) . Rencana sebenarnya ialah memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau  saw., sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau  saw. itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.

Makna Isra (Diperjalankan Pada Malam Hari)  Nabi Besar Muhammad Saw.  & Menjadi Imam Shalat Berjamaan Bersama Para Rasul Allah

     Namun makar buruk mereka tersebut malah mengakibatkan  Nabi Besar Muhammad saw. hijrah dari Mekkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa beliau saw.  hijrah dari Mekkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri, sebab selama  ada rasul Allah di suatu tempat maka selama itu pula tempat tersebut akan aman (terhindar) dari azab Ilahi  (QS.8:33-35).
        Tetapi tanpa setahu orang,  Nabi Besar Muhammad saw.   meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, lalu beliau saw. berlindung di Gua Tsur bersama-sama   Abubakar shiddiq r.a.,  sahabat beliau saw. yang setia (QS.9:40), dan akhirnya sampai di Medinah dengan selamat.
    Dari segi jasmani, mengisyaratkan pada peristiwa penyelamatan Nabi Besar Muhammad saw. dari makar buruk Abu Jahal dkk    itulah makna kalimat  “Dia-lah Yang memperjalankan hamba-Nya pada  waktu malam” dalam firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾   
Maha Suci Dia Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa yang di sekelilingnya telah Kami berkati, supaya Kami perlihatkan sebagian dari Tanda-tanda Kami, Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS.17:2).
        Sedang dari segi ruhani  makna ayat tersebut adalah, bahwa  sebagai akibat dari kegagalan makar buruk yang dirancang Abu Jahal dkk tersebut – yang menyebabkan Nabi Besar Muhammad saw. hijrah dari Mekkah ke Madinah   --  maka misi kerasulan beliau saw. bukan saja hanya akan semakin kokoh  setelah  hijrah ke Madinah, bahkan misi kerasulan  beliau saw. atau tabligh Islam  pun akan merasuk ke pusat peribadahan golongan Ahli Kitab, yakni Yerusalem,   yang dalam ayat tersebit diisyaratkan dengan masjidil-aqsha (masjid yang jauh).
       Kabar gembira mengena hal tersebut digambarkan dalam  pengalaman ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa Isra berupa  mengimani shalat berjamaah di Yerusalem bersama para rasul Allah,  itulah makna lainnya dari  ayat   سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا    -- “Maha Suci Dia Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa yang di sekelilingnya telah Kami berkati,”  dengan demikian sebutan masjidil aqsha  dalam ayat tersebut dapat mengisyaratkan kota Madinah  yang di kota tersebut beliau saw, mendirikan mesjid nabawi, atau kepada kota  Yerusalem   yang pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab r.a. di sana didirikan mesjid Al-Aqsha (masjidil-aqsha), sehingga sempurnalah nubuatan dalam firman Allah tersebut (QS.17:2).

Kemaqbulan Doa yang Diajarkan Allah Swt. &  Penghancuran Berhala yang Mengotori Baitullah di Mekkah

       Dengan demikian terbukti kemaqbulan doa yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebelum peristiwa hijrah  tersebut:     وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ    -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --    dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.”   --    firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ  لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ  الَّیۡلِ وَ  قُرۡاٰنَ  الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ  قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ  کَانَ  مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾  وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾  وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh disaksikan secara istimewa oleh Allah.    وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ  -- Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan  bagi engkau, عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا  -- boleh jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.   وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ    -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --    dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.” وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا --  Dan katakanlah:  Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap   (Bani Israil [17]:79-82).
        Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا --  Dan katakanlah:  Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap”  (QS.17:82) inilah salah satu mukjizat gaya bahasa Al-Quran  bahwa untuk  ini mengemukakan salah satu contoh semacam itu.
       Sesudah takluknya kota Mekkah, ketika  Nabi Besar Muhammad saw.  selagi membersihkan Ka’bah dari 360 buah  berhala-berhala yang telah mengotorinya, beliau saw. berulang-ulang mengucapkan ayat tersebut sementara beliau memukuli berhala-berhala (Bukhari). 

Penganugerahan “Firman yang Berbobot

      Kembali kepada masalah  pentingnya mendirikan shalat tahajjud, berikut firman-Nya lagi kepada Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan pentingnya melaksanakan shalat tahajjud  dalam menghadapi tugas kerasulan beliau saw. yang sangat  berat (QS.33:73) tersebut:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾  قُمِ  الَّیۡلَ   اِلَّا  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾  نِّصۡفَہٗۤ  اَوِ انۡقُصۡ  مِنۡہُ  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾  اَوۡ زِدۡ  عَلَیۡہِ  وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ  تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾  اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا ﴿﴾  اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾  وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ  -- Wahai orang yang berselimut, قُمِ  الَّیۡلَ   اِلَّا  قَلِیۡلًا  --  berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit,  نِّصۡفَہٗۤ  اَوِ انۡقُصۡ  مِنۡہُ  قَلِیۡلًا --  setengahnya atau kurangilah sedikit darinya,  اَوۡ زِدۡ  عَلَیۡہِ  وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ  تَرۡتِیۡلًا ؕ  --  atau tambahkan atasnya dan  bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang teratur.  اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا --  Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada engkau  firman yang berbobot.  اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا  -- Sesungguhnya bangun di waktu malam  itu merupakan sarana untuk menguasai diri dan meneguhkan per-kataan.  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا  --  Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjangوَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ --   Maka ingatlah selalu nama Rabb (Tuhan) engkau وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا  --  dan baktikanlah diri engkau  kepada-Nya dengan sepenuh kebaktian  (Muzzammil [73]:1-9).
    Ungkapan “firman yang berbobot” dalam ayat اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada engkau  firman yang berbobot”  dapat berarti  “ajaran Al-Quran itu padat dengan ajaran mahapenting. Ajaran itu terlalu penting untuk digantikan atau disisihkan.” Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang dapat diubah, diganti atau diperbaiki.
   Menurut hadits yang kerap kali dikutip, manakala ada wahyu Al-Quran turun kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. jadi hening terpaku dan merasakan ada suatu keharuan istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun tetes-tetes besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari). Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan Nabi Besar Muhammad saw. itu disebabkan oleh keharuan tadi.
    Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajjud  merupakan wahana yang kuat untuk menguasai diri dan dengan ampuh mengendalikan kecenderungan dan hasrat jahat seseorang. Merupakan pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tidak ada yang begitu banyak memberi manfaat bagi perkembangan ruhani seseorang selain tahajjud atau shalat malam.
   Di dalam kesunyian dan keheningan malam, semacam kedamaian yang ajaib mengungguli segala sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri bersama Sang Khāliq-nya – menikmati perhubungan istimewa dengan Dia dan menjadi terang benderang oleh cahaya samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang lain.
   Saat itu luar biasa cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan kekuatan watak dan membuat pembicaraannya sehat, bernas, dan dapat diandalkan. Ucapan yang jitu dan kemampuan yang tiada terhingga untuk bekerja keras merupakan dua syarat yang perlu bagi seorang Pembaharu agar berhasil di dalam tugasnya. Tahajjud membantu memperkembangkan dua syarat itu. Karena telah dapat menguasai pikiran dan ucapannya, orang menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 24  September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar