Kamis, 17 September 2015

Perwujudan Sifat "Maaliki Yaumid-Diin" di Dunia Bagi Orang-orang Beriman yang "Telah Mati Sebelum Mati" Demi Allah Swt.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 42

    Perwujudan Sifat Māliki Yaumid-Dīn     di Dunia Bagi  Orang-orang Beriman yang Telah  “Mati Sebelum Mati” Demi Allah Swt.  

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai Sifat Mālikit Yaumid-dīn Allah Swt. yakni  Sifat  Allah Swt. berlaku sangat  khusus,  beliau a.s. bersabda:
       “Agar bisa menjadi penerima berkat yang lengkap dan sempurna serta abadi demikian, diperlukan adanya transportasi yang bersangkutan dari dunia yang cacat, sempit, guram dan fana ini, karena rahmat tersebut merupakan pengalaman manifestasi akbar (penampakan besar),  dimana keindahan Sang Maha Penyayang (Al-Rahīm) akan terlihat secara jelas dan dialami secara pasti tanpa ada tahap-tahapan manifestasi (penampakkan) dan pemastian serta tidak ada tabir sarana material yang menghalanginya.  
      Segenap rincian dari pemahaman  (makrifat) yang lengkap harus mewujud dengan kekuatan penuh. Manifestasi  (penampakan) itu harus demikian jernih dan pasti sehingga Allah Sendiri yang nantinya akan menyatakan bahwa mereka itu terbebas dari ujian atau cobaan apa pun. Manifestasi tersebut akan membawa kegembiraan tinggi yang sempurna bagi hati, jiwa serta semua indera jasmani dan ruhani pada tingkatnya yang paling tinggi yang tidak mungkin bisa lebih baik lagi.
     Dunia yang tidak sempurna pada intinya, berkabut dalam penampilannya, fana (tidak kekal) dalam wujudnya serta sempit dalam ruang lingkupnya, tidak akan mampu menampung manifestasi (penampakkan) akbar demikian, dimana cahaya yang suci dan karunia yang abadi serta nur sempurna yang kekal menjadi bagian darinya. Untuk manifestasi demikian itu dibutuhkan dunia lain yang sepenuhnya bebas dari kegelapan oleh sarana material serta harus berwujud manifestasi sempurna dari kekuasaan Yang Maha Kuasa.”

Orang-orang yang “Mati Sebelum Mati

      Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan masalah keruhanian dan maktifat Ilahi yang sangat halus tersebut:
     “Rahmat yang amat khusus ini sampai suatu tingkat tertentu dinikmati dalam kehidupan sekarang oleh mereka yang memiliki kepribadian sempurna yang melangkah di jalan kebenaran, dengan sepenuhnya bergantung kepada Allah Swt.  dengan meninggalkan nafsu dan keinginan dirinya sendiri. Mereka sudah mengalami kematian sebelum kematian yang sebenarnya.
       Meskipun mereka hidup di dunia ini tetapi hatinya bermukim di dunia lain. Sebagaimana mereka mengunci hati mereka dari kehidupan jasmani dunia ini serta meninggalkan kebiasaan kemanusiaan dan menjauh dari segala hal yang tidak berasal dari Allah  Swt.,  maka sebenarnya mereka mengikuti jalan yang tidak biasa sehingga Tuhan pun akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama (yang khusus).
     Dengan cara yang luar biasa Dia akan memanifestasikan (menampakan) bagi mereka nur yang hanya bisa dilihat manusia lainnya setelah kematian mereka. Mereka ini mengalami rahmat yang bersifat sangat khusus itu sampai suatu tingkat tertentu di dalam kehidupan sekarang. Rahmat ini bersifat sangat khusus dan menjadi pamungkas dari semua rahmat lainnya.
     Barangsiapa yang berhasil mencapainya berarti telah berhasil memperoleh keberuntungan yang paling besar dan akan menikmati kesejahteraan abadi yang menjadi sumber dari semua kegembiraan. Barangsiapa yang dikucilkan dari rahmat ini berarti telah dikutuk selamanya masuk neraka. Menurut Sifat-Nya ini maka Allah Yang Maha Perkasa menyebut diri-Nya dalam Al-Quran sebagai Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari pembalasan).
      Ganjaran yang dikemukakan dalam hal ini adalah  ganjaran yang sempurna sebagaimana rinciannya diuraikan dalam Al-Quran. Ganjaran sempurna itu tidak bisa dimanifestasikan tanpa manifestasi  (penampakan) Kedaulatan yang sempurna. Hal ini diungkapkan antara lain dalam ayat Al-Quran:
لِمَنِ  الۡمُلۡکُ الۡیَوۡمَ ؕ لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِ الۡقَہَّارِ ﴿﴾
 Kepunyaan siapakah Kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah, Yang Maha Esa dan Yang Maha Unggul.  (Al-Mu’mīn [40]:17).
       Berarti pada hari itu Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt.  akan memanifestasikan wujudnya tanpa intervensi (campur-tangan) dari sarana jasmaniah lainnya, dan manusia akan menyaksikan dan merasakannya secara penuh bahwa apa pun selain kekuatan dan kekuasaan Allah Swt.  tidak ada sama sekali. Pada saat itu semua kesenangan dan kegembiraan serta ganjaran dan penghukuman akan muncul secara nyata datang dari Tuhan, tanpa ada tabir yang menghalangi dan tak ada lagi ruang bagi keraguan.
     Pada saat itu, mereka yang telah melepaskan dirinya dari kehidupan duniawi demi Tuhan-nya akan menemukan diri mereka berada dalam keadaan kebahagiaan sempurna yang meliputi seluruh jiwa dan raga mereka, baik bagian luar atau pun dalam wujud mereka,  sehingga tidak ada satu noktah pun dari diri mereka yang tidak menikmati karunia akbar tersebut.
         Sifat Māliki Yaumiddīn juga mengindikasikan bahwa pada Hari itu semua perasaan senang dan susah, kenyamanan atau kesakitan, apa pun yang dirasakan oleh manusia, akan datang secara langsung dari Allah Yang Maha Kuasa dan Dia itulah Penguasa dari segala kondisi. Dengan kata lain, pertemuan dengan Wujud-Nya akan menjadi kebahagiaan abadi, atau penjauhan dari Diri-Nya menjadi kesialan abadi.
    Mereka yang beriman kepada-Nya dan menganut Ketauhidan-Nya serta mewarnai hati mereka dengan kecintaan murni terhadap Wujud-Nya, akan mengalami dan menerima Nur Rahmat-Nya secara jelas dan terbuka. Adapun mereka yang tidak beriman dan tidak mengenal kecintaan kepada Allah Swt.  akan kehilangan kegembiraan serta keselesaan (ketentraman)  ini dan karena itu akan mengalami siksaan yang amat pedih.”
     Nampaknya penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai orang-orang beriman  yang “sudah mati sebelum mati”, yang  dalam kehidupan di dunia ini mengalami hal menakjubkan seperti itu  erat hubungannya dengan firman Allah Swt. berikut ini:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram!   Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.   maka masuklah dalam golong-an hamba-hamba-Ku,   Dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-31).
    Ayat-ayat ini merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dalam Sifat  dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan sesudah mati  perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga. 

Urutan  Alami Empat Kebenaran Akbar Sesuai Hukum Alam

       Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai urutan alami keempat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah:
      “Dengan demikian bisa dimengerti mengapa  Sifat Rahmān (Maha Pemurah)  diberikan prioritas sebelum sifat Rahīm (Maha Penyayang),  karena memang sudah seharusnya demikian urutannya. Jika seseorang menelaah hukum alam maka Sifat Ilahi yang pertama dikenalinya adalah Rabubiyat, lalu disusul Rahmāniyat dan Rahīmiyat sampai akhirnya kepada Sifat Mālikiyat. Pengaturan yang sempurna mengharuskan bahwa urutan yang ada dalam hukum alam adalah yang juga dikemukakan dalam Kitab yang Diwahyukan. Membalikkan urutan alamiah demikian berarti memutarbalikkan hukum alam.
    Untuk pengaturan yang sempurna diperlukan agar urutan demikian sejalan dengan hukum alam, mana yang dahulu harus didahulukan. Demikian itulah yang dikemukakan dalam ayat-ayat surah Al-Fatihah tersebut dimana urutan alamiah sangat diperhatikan.
     Ayat-ayat tersebut mengikuti urutan yang oleh seorang yang memiliki wawasan akan melihatnya ada berwujud di dalam alam semesta. Tidakkah sepantasnya urutan dari karunia Ilahi sebagaimana muncul di alam, begitu juga digambarkan dalam Kitab Allah? Mereka yang mengingkari urutan alamiah yang sempurna itu sama saja dengan seorang buta yang kehilangan baik penglihatan mau pun juga wawasannya (pengetahuannya).
      Apa yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah dari Sifat Rabbul ‘Alamiin sampai Māliki Yaumiddīn adalah empat kebenaran akbar yang akan dijelaskan berikut ini:
       Kebenaran yang pertama ialah Allah Yang Maha Perkasa itu bersifat Rabbul ‘ālamīn,  yang berarti bahwa Tuhan itu adalah Rabb dan Penguasa segala sesuatu yang ada di alam semesta,  dan bahwa segala yang muncul, nampak, dirasakan atau disadari oleh logika, semuanya adalah ciptaan-Nya, dan eksistensi  (keberadaan) yang haqiqi hanya milik Allah Yang Maha Kuasa dan tidak kepada apa pun selain Wujud-Nya.
     Dengan kata lain, alam semesta berikut semua isinya diciptakan oleh dan merupakan ciptaan  Allah  Swt.. Tidak ada suatu apa pun di alam ini yang bukan ciptaan Tuhan. Melalui Sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna, Allah Yang Maha Kuasa mengatur dan mengendalikan setiap noktah yang ada di alam. Sifat Rabubiyat-Nya berfungsi sepanjang waktu.
      Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa setelah Dia menciptakan alam ini  lalu Dia mengundurkan diri dan menyerahkan kendalinya kepada hukum alam. Tidak benar jika dikatakan bahwa sebagai seorang pencipta mesin maka  ia lalu tidak lagi peduli setelah mesin tersebut selesai diciptakan (dibuat).
     Ciptaan dari Maha Pencipta tetap selalu terkait dengan Wujud-Nya. Wujud Rabbul ‘ālamīn melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna sepanjang waktu di seluruh alam semesta, dan hujan rahmat Rabubiyat-Nya itu tetap selalu dicurahkan ke seluruh alam. Tidak pernah sekali pun alam ini dikucilkan dari manfaat Sifat rahmat-Nya. Bahkan setelah selesai penciptaan alam semesta ini kebutuhan akan Sumber rahmat itu akan tetap diperlukan setiap saat seolah-olah Dia belum menciptakan apa-apa.
        Sebagaimana dunia ini bergantung kepada Sifat Rabubiyat-Nya untuk mewujud, maka dunia ini tetap bergantung kepada Sifat itu untuk kelangsungan dan pemeliharaannya. Adalah Dia Yang menopang dunia ini setiap saat dan setiap noktah di alam ini terpelihara dan berkembang karena Dia. Dia melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya atas segala hal menurut kehendak- Nya
      Singkat kata, kebenaran ini bermakna bahwa segala sesuatu di alam diciptakan dan tergantung kepada Sifat Rabubiyat Allah  Swt.,  baik dalam kesempurnaan, kondisi maupun masanya. Tidak ada keunggulan ruhani atau jasmani yang bisa dicapai makhluk dari dirinya sendiri tanpa ketergantungan pada pengaturan dari Sang Maha Pengatur.
    Adalah suatu hal yang latent (tersembunyi) dari Sifat ini dan kebenaran-kebenaran lainnya bahwa Sifat Rabbul ‘ālamīn merupakan  Sifat yang khusus hanya bagi Diri-Nya dan tidak ada suatu apa pun yang menjadi sekutu-Nya. Ayat pembuka dari Surah yaitu Alhamdulillāh   (segala puji bagi Allah)  menjelaskan secara tegas bahwa segala puji hanyalah bagi Allah  Swt. semata.
      Kebenaran akbar yang kedua adalah Sifat Rahmān (Maha Pemurah)  yang menempati urutan berikutnya setelah Sifat Rabbul ‘ālamīn. Sudah dijelaskan  sebelumnya bahwa semua makhluk hidup, yang berakal maupun yang tidak, baik atau jahat, telah dibantu dan akan selalu ditopang oleh rahmat umum Allah Yang Maha Perkasa,  dengan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupan dan kelanjutan spesi mereka. Semuanya itu merupakan karunia mutlak yang tidak tergantung kepada amalan atau upaya siapa pun.
    Kebenaran akbar yang ketiga setelah Sifat Rahmān adalah Sifat Rahīm (Maha Penyayang). Hal ini berarti bahwa sesuai kehendak-Nya maka Allah Swt. akan memberikan imbalan hasil baik atas dasar permohonan makhluk-Nya. Dia mengampuni dosa mereka yang bertobat. Dia menganugrahkan karunia kepada mereka yang memohon. Dia membukakan pintu kepada mereka yang mengetuknya.
   Kebenaran akbar keempat adalah Māliki Yaumiddīn (Pemilik hari Pembalasan). Berarti Allah Yang Maha Kuasa adalah Penguasa segala ganjaran yang sempurna yang bebas dari ujian dan  cobaan serta intervensi dari segala yang merancukan, suci dari segala yang tidak bersih, bebas dari keraguan dan cacat dan merupakan manifestasi (penampakan) kekuasaan-Nya yang akbar. Dia tidak kekurangan kekuatan untuk memanifestasikan pengganjaran-Nya yang sempurna,  yang secerah siang hari. Manifestasi kebenaran akbar ini bertujuan untuk mencerahkan hal-hal berikut ini agar menjadi jelas bagi setiap orang sebagai suatu kepastian.

Tiga Alasan Pelaksanaan Sifat Māliki Yaumid-dīn Terjadi di Akhirat

      Pertama, bahwa ganjaran dan penghukuman adalah suatu hal yang pasti yang dikenakan kepada semua makhluk oleh Sang Maha Penguasa sebagai bagian dari kehendak-Nya. Hal ini tidak mungkin ditunjukkan di dunia ini karena merupakan hal-hal yang tidak jelas bagi rata-rata orang, yang tidak mengerti mengapa mereka akan mengalami kemaslahatan atau kemudharatan, kesenangan atau kesakitan.
     Tidak akan ada orang yang mendengar suara dari mana pun yang menjelaskan bahwa apa yang dialaminya itu adalah ganjaran (balasan) dari amal perbuatannya, dan juga tidak akan ada yang menyadari atau merasa bahwa apa yang sedang dialaminya adalah sebagai akibat dari tindakannya.
   Kedua, penampakan itu ditujukan untuk memperlihatkan bahwa sarana duniawi itu tidak mempunyai arti dan bahwa Sang Maha Wujud atau Allah Swt.  adalah Sumber dari semua berkat dan Penguasa dari segala ganjaran.
     Ketiga, perlu adanya penegasan apa itu karunia yang baik dan apa yang namanya kemudharatan besar. Keberuntungan akbar adalah keadaan kemenangan tertinggi dimana nur, kebahagiaan, kesenangan dan keselesaan (ketentraman) merasuk di dalam dan di luar dari tubuh dan jiwa seseorang dimana tidak ada bagian tubuhnya yang terlewat.  Kemudharatan besar adalah siksaan yang berasal dari akibat ketidak-patuhan, kekotoran jiwa, menjauhkan diri dari Tuhan-nya, yang akan membakar hati dan meliputi seluruh tubuh sehingga seluruh dirinya terasa bagai berada dalam api di neraka.
     Manifestasi seperti ini tidak bisa dilihat di dunia karena dunia yang sempit dan picik yang terselaput oleh segala keduniawian dan yang kondisinya tidak sempurna, tidak akan tahan menanggung (memikul) manifestasi (penampakkan) demikian. Dunia ini adalah ajang ujian dan cobaan dimana kesenangan dan kesakitan yang ada hanya bersifat sementara dan tidak sempurna. Apa pun yang dialami seseorang dalam hidupnya berada di bawah  (di balik) tabir sarana jasmani yang menyembunyikan Wujud  Sang Penguasa Pemberi ganjaran.
     Dengan demikian dunia ini bukan wadah ganjaran yang benar dan sempurna. Yang menjadi hari ganjaran yang sempurna dan terbuka adalah dunia yang akan datang (akhirat) setelah dunia sekarang ini. Dunia yang akan datang itu akan menjadi wadah manifestasi akbar dan penampakan dari keagungan dan keindahan yang sempurna.
       Kesulitan hidup atau kemudahan, kesenangan atau kesakitan, kesedihan atau pun kegembiraan,  semua yang dialami manusia di dunia yang sekarang tidak selalu menggambarkan atau merupakan akibat dari karunia Ilahi atau pun kemurkaan-Nya.
       Sebagai contoh, seorang yang kaya bukanlah merupakan bukti bahwa Tuhan berkenan atas dirinya, begitu pula kemiskinan atau kesulitan dianggap menjadi tanda bahwa Allah  Swt. memusuhi dirinya. Bisa jadi keadaan mereka itu menjadi cobaan agar yang kaya diuji karena kekayaannya sedangkan yang miskin dicoba karena kemiskinannya. Semua kebenaran akbar ini dijelaskan secara rinci di dalam Al-Quran.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 444-461, London, 1984).

Hanya  Wujud Allah  Swt. Yang Kekal  & Makna Ayat Kursi: Sifat Al-Hayyul- Qayyum Allah Swt.

       Kemudian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai “ketidak-kekalan”  ciptaan  (makhluk) Allah Swt.   --  Wujud Maha Pencipta Yang Maha Kekal:
      “Umum diyakini bahwa segala yang tampak di alam semesta ini tidak ada yang mutlak atau bersifat tidak bisa diganti. Sebagai contoh, bumi ini berbentuk bulat dan berdasarkan estimasi (taksiran) beberapa orang diperkirakan mempunyai garis tengah sepanjang kurang lebih 8.000  mil[1] , tetapi tidak ada alasan yang kuat yang menyatakan bahwa bentuk dan dimensinya memang harus demikian, dan mengapa bentuk atau dimensinya tidak bisa berwujud lain. Dari sini bisa disimpulkan bahwa bentuk dan dimensi yang kombinasinya menggambarkan eksistensi (keberadaan)  bukanlah suatu hal yang pokok bagi bumi.
    Begitu juga dengan bentuk dan dimensi segala benda jadinya bisa saja berubah. Di samping itu dalam banyak kejadian telah terjadi ancaman kelangsungan hidup bagi beberapa makhluk tetapi nyatanya mereka tidak musnah sama sekali. Sebagai contoh, meskipun telah terjadi bencana kelaparan dan wabah penyakit dari sejak awal sejarah dunia, nyatanya benih semua makhluk tetap selamat. Padahal logika mengatakan dengan adanya berbagai kesulitan dan bencana yang menimpa bumi seperti kelaparan dahsyat mestinya telah menghabiskan bibit gandum sehingga tidak tersisa untuk tanaman berikutnya, atau karena wabah penyakit yang hebat mestinya manusia atau hewan sudah punah semua.
        Bisa saja mekanisme (sistem kerja) matahari dan bulan menjadi terganggu, begitu pula dengan segala hal yang selama ini berfungsi ikut mengatur kinerja alam. Menurut logika saja, tidak ada dari berjuta-juta benda itu yang bisa lolos dari kekacauan atau tidak menjadi korban suatu bencana. Namun bahwa semuanya tetap selamat tanpa penurunan kualitas hidup melanjutkan kelangsungan spesinya merupakan bukti bahwa ada Wujud Yang menjadi Pemberi kehidupan, Penjaga dan Pemelihara, Yang menghimpun dalam Wujud-Nya Sifat-sifat yang sempurna sebagai Maha Pengendali, Maha Bijaksana, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Abadi dan Maha Hidup, bebas dari segala cela, tidak tunduk kepada maut (kematian) atau kehancuran, bahkan bebas dari rasa kantuk dan tidur.
       Dia adalah Wujud Yang menggabung dalam Diri-Nya semua Sifat-sifat yang sempurna, Dia Yang menciptakan alam dengan kebijakan dan ketepatan yang sempurna serta  memilih eksistensi (keberadaan) di atas non-eksistensi (ketiadaan).  Hanya Dia Sendiri Yang patut disembah  berdasarkan kesempurnaan-Nya, hasil ciptaan-Nya, sifat Rahīmiyat dan Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum). Inilah makna dari ayat:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
 Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyerang-Nya dan tidak pula tidur. Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. (Al-Baqarah [2]:256).

Segala Sesuatu di Alam Semesta Milik Allah Swt., Rabb Seluruh Alam

    Betapa indah dan anggunnya Al-Quran mengemukakan pandangan yang mendukung eksistensi (keberadaan) Pencipta alam semesta ini dalam ayat Kursi, dalam pengertian yang mendalam dan pokok pandangan yang bijak. Bagi semua hal yang ada di langit dan di bumi, telah dinyatakan secara lugas adanya eksistensi sosok Pencipta Yang memiliki Sifat-sifat yang sempurna, dalam kata-kata yang kedalaman maknanya dan lingkupannya tidak pernah bisa ditandingi oleh para ahli filosofi.
    Para filosof yang pengetahuannya dangkal, tidak mampu melihat bahwa jasmani dan ruhani ini merupakan hasil ciptaan (makhluk) dan tidak bersifat abadi, tetapi mereka tetap saja tidak menyadari bahwa kehidupan, eksistensi dan pemeliharaan yang sempurna hanya ada pada Allah Swt..
      Pemahaman yang mendalam ini hanya bisa dipelajari dari ayat tersebut dimana diungkapkan bahwa kehidupan yang sempurna dan keabadian eksistensi hanyalah milik Allah  Swt. Yang menggabung dalam Diri-Nya semua Sifat yang sempurna. Selain Dia tidak ada lagi yang memiliki eksistensi dan pemeliharaan yang sempurna. Hal ini menjadi dasar pemikiran harus adanya sosok Pencipta dari alam semesta dan dikatakan selanjutnya:
 لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi (Al-Baqarah [2]:256).
         Dengan kata lain, karena alam tidak memiliki eksistensi atau pemeliharaan yang sempurna dari dirinya sendiri maka alam membutuhkan suatu kausa (penyebab) agar ia bisa hidup dan terpelihara. Kausa tersebut dengan sendirinya harus bersifat komprehensif (lengkap) dengan Sifat-sifat yang sempurna, Yang mengendalikan alam ini menurut kehendak-Nya Yang bersifat Bijak dan Melihat segala hal yang tersembunyi, dan Kausa (penyebab) itu bernama Allah.
       Dalam istilah Kitab Suci Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud Yang bersifat komprehensif (lengkap) dengan segala kesempurnaan. Itulah sebabnya nama Allah selalu dikaitkan dengan segala yang bersifat Maha,  dan di berbagai tempat dinyatakan bahwa Allah Swt. adalah   Rabb (Tuhan) seluruh alam, Ar-Rahmān, Ar-Rahīm, Yang mengendalikan alam berdasar kehendak-Nya, Maha Bijak, Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, Maha Kuasa, Maha Abadi dan lain-lainnya. Itulah sebabnya maka ayat tersebut dimulai dengan nama Allah dan selanjutnya:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ  
 Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu.  (Al-Baqarah [2]:256).

(Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 515-517, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 17 September 2015






[1] Garis radius bumi sebenarnya adalah 3.963 mil (6.378 km) yang dihitung pada posisi ekuator, berarti garis tengah bumi adalah 7.926 mil (12.756 km), jadi mendekati angka 8.000 diatas. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar