بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 42
Perwujudan Sifat Māliki Yaumid-Dīn di Dunia Bagi
Orang-orang Beriman yang
Telah “Mati Sebelum Mati” Demi Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda
Masih Mau’ud a.s. mengenai Sifat Mālikit Yaumid-dīn Allah
Swt. yakni Sifat Allah Swt. berlaku sangat khusus, beliau a.s.
bersabda:
“Agar bisa menjadi penerima berkat yang lengkap
dan sempurna serta abadi demikian, diperlukan adanya transportasi
yang bersangkutan dari dunia yang
cacat, sempit, guram dan fana ini, karena rahmat
tersebut merupakan pengalaman
manifestasi akbar (penampakan besar),
dimana keindahan Sang Maha Penyayang (Al-Rahīm) akan terlihat secara jelas dan dialami
secara pasti tanpa ada tahap-tahapan
manifestasi (penampakkan) dan pemastian
serta tidak ada tabir sarana material
yang menghalanginya.
Segenap rincian dari pemahaman (makrifat) yang lengkap harus mewujud dengan kekuatan penuh. Manifestasi (penampakan)
itu harus demikian jernih dan pasti sehingga Allah Sendiri yang nantinya akan menyatakan bahwa mereka itu terbebas dari ujian atau cobaan
apa pun. Manifestasi tersebut akan membawa kegembiraan tinggi
yang sempurna bagi hati, jiwa serta semua indera jasmani dan ruhani
pada tingkatnya yang paling tinggi
yang tidak mungkin bisa lebih baik lagi.
Dunia yang tidak sempurna pada intinya, berkabut dalam penampilannya, fana (tidak kekal) dalam wujudnya serta
sempit dalam ruang lingkupnya, tidak
akan mampu menampung manifestasi (penampakkan) akbar demikian, dimana cahaya
yang suci dan karunia yang abadi serta nur
sempurna yang kekal menjadi bagian darinya.
Untuk manifestasi demikian itu dibutuhkan dunia lain yang
sepenuhnya bebas dari kegelapan
oleh sarana material serta harus berwujud manifestasi sempurna
dari kekuasaan Yang Maha Kuasa.”
Orang-orang yang “Mati Sebelum Mati”
Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan masalah keruhanian dan maktifat Ilahi yang sangat halus
tersebut:
“Rahmat yang amat khusus ini
sampai suatu tingkat tertentu
dinikmati dalam kehidupan sekarang
oleh mereka yang memiliki kepribadian sempurna yang melangkah di jalan kebenaran,
dengan sepenuhnya bergantung kepada Allah Swt. dengan meninggalkan
nafsu dan keinginan
dirinya sendiri. Mereka sudah mengalami
kematian sebelum kematian yang
sebenarnya.
Meskipun mereka hidup di dunia ini tetapi hatinya bermukim di dunia lain.
Sebagaimana mereka mengunci hati mereka dari kehidupan
jasmani dunia ini serta meninggalkan
kebiasaan kemanusiaan dan menjauh
dari segala hal yang tidak berasal dari Allah Swt., maka sebenarnya mereka mengikuti jalan yang tidak
biasa sehingga Tuhan pun
akan memperlakukan mereka dengan cara
yang sama (yang khusus).
Dengan cara yang luar biasa Dia akan memanifestasikan (menampakan) bagi mereka nur yang hanya bisa dilihat manusia lainnya setelah kematian mereka. Mereka ini mengalami rahmat
yang bersifat sangat khusus itu sampai suatu tingkat tertentu di
dalam kehidupan sekarang. Rahmat ini bersifat sangat
khusus dan menjadi pamungkas dari semua rahmat
lainnya.
Barangsiapa yang berhasil mencapainya
berarti telah berhasil memperoleh keberuntungan
yang paling besar dan akan menikmati
kesejahteraan
abadi yang menjadi sumber
dari semua kegembiraan. Barangsiapa
yang dikucilkan dari rahmat
ini berarti telah dikutuk selamanya masuk neraka. Menurut Sifat-Nya ini maka Allah Yang Maha Perkasa menyebut diri-Nya
dalam Al-Quran sebagai Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari
pembalasan).
Ganjaran yang dikemukakan
dalam hal ini adalah ganjaran yang
sempurna sebagaimana rinciannya diuraikan dalam Al-Quran. Ganjaran sempurna itu
tidak bisa dimanifestasikan tanpa manifestasi (penampakan) Kedaulatan yang sempurna. Hal ini diungkapkan antara
lain dalam ayat Al-Quran:
لِمَنِ الۡمُلۡکُ الۡیَوۡمَ ؕ لِلّٰہِ الۡوَاحِدِ الۡقَہَّارِ ﴿﴾
Kepunyaan siapakah Kerajaan
pada hari ini? Kepunyaan Allah, Yang
Maha Esa dan Yang Maha Unggul.
(Al-Mu’mīn [40]:17).
Berarti pada hari itu Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt. akan memanifestasikan
wujudnya tanpa intervensi
(campur-tangan) dari sarana jasmaniah lainnya, dan manusia akan menyaksikan dan merasakannya
secara penuh bahwa apa pun selain kekuatan dan kekuasaan
Allah Swt. tidak ada sama sekali. Pada
saat itu semua kesenangan dan kegembiraan serta ganjaran
dan penghukuman akan muncul secara nyata datang dari Tuhan,
tanpa ada tabir yang menghalangi dan
tak ada lagi ruang bagi keraguan.
Pada saat
itu, mereka yang telah melepaskan dirinya dari kehidupan
duniawi demi Tuhan-nya
akan menemukan diri mereka berada
dalam keadaan kebahagiaan sempurna yang meliputi seluruh jiwa dan raga
mereka, baik bagian luar atau pun dalam wujud mereka, sehingga tidak ada satu noktah pun dari
diri mereka yang tidak menikmati karunia
akbar tersebut.
Sifat Māliki Yaumiddīn juga mengindikasikan bahwa pada Hari itu semua perasaan senang dan susah, kenyamanan atau kesakitan, apa pun yang dirasakan oleh manusia, akan datang secara langsung dari Allah Yang Maha Kuasa dan Dia itulah Penguasa dari segala kondisi. Dengan kata lain, pertemuan
dengan Wujud-Nya akan menjadi kebahagiaan
abadi, atau penjauhan dari Diri-Nya menjadi kesialan abadi.
Mereka yang beriman kepada-Nya
dan menganut Ketauhidan-Nya serta mewarnai
hati mereka dengan kecintaan murni terhadap Wujud-Nya,
akan mengalami dan menerima Nur Rahmat-Nya secara jelas
dan terbuka. Adapun mereka yang tidak
beriman dan tidak mengenal kecintaan kepada Allah Swt. akan kehilangan
kegembiraan serta keselesaan (ketentraman) ini dan karena itu akan mengalami siksaan
yang amat pedih.”
Nampaknya penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai orang-orang beriman
yang “sudah mati sebelum mati”,
yang dalam kehidupan di dunia ini mengalami hal menakjubkan seperti itu erat
hubungannya dengan firman Allah Swt. berikut ini:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ
اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ
فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang
tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau. maka masuklah
dalam golong-an hamba-hamba-Ku,
Dan masuklah ke dalam surga-Ku.
(Al-Fajr
[89]:27-31).
Ayat-ayat ini merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya
dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dalam Sifat dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan sesudah mati perubahan
ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan bukan di
tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga.
Urutan Alami
Empat Kebenaran Akbar Sesuai Hukum Alam
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai urutan alami keempat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah:
“Dengan demikian bisa dimengerti mengapa
Sifat Rahmān (Maha Pemurah) diberikan
prioritas sebelum sifat Rahīm (Maha Penyayang), karena memang sudah seharusnya demikian urutannya. Jika seseorang menelaah hukum alam maka Sifat Ilahi yang pertama dikenalinya adalah Rabubiyat, lalu
disusul Rahmāniyat dan Rahīmiyat sampai akhirnya kepada Sifat Mālikiyat. Pengaturan yang sempurna mengharuskan bahwa urutan yang ada dalam hukum alam adalah yang juga
dikemukakan dalam Kitab yang Diwahyukan.
Membalikkan urutan alamiah demikian berarti memutarbalikkan hukum alam.
Untuk pengaturan yang sempurna diperlukan agar urutan demikian sejalan dengan hukum alam, mana yang dahulu
harus didahulukan. Demikian itulah yang dikemukakan dalam ayat-ayat surah Al-Fatihah tersebut dimana urutan alamiah sangat diperhatikan.
Ayat-ayat tersebut mengikuti urutan yang oleh seorang yang memiliki wawasan akan melihatnya ada berwujud di
dalam alam semesta. Tidakkah sepantasnya urutan
dari karunia Ilahi sebagaimana muncul di alam, begitu juga digambarkan dalam Kitab Allah? Mereka yang mengingkari urutan alamiah yang sempurna itu sama saja dengan seorang buta yang kehilangan
baik penglihatan mau pun juga wawasannya
(pengetahuannya).
Apa yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah
dari Sifat Rabbul ‘Alamiin
sampai Māliki
Yaumiddīn adalah empat kebenaran akbar
yang akan dijelaskan berikut ini:
Kebenaran yang pertama ialah Allah
Yang Maha Perkasa itu bersifat Rabbul ‘ālamīn, yang berarti bahwa Tuhan itu adalah Rabb dan Penguasa segala sesuatu
yang ada di alam semesta, dan bahwa
segala yang muncul, nampak, dirasakan atau disadari oleh logika, semuanya adalah ciptaan-Nya, dan eksistensi (keberadaan) yang haqiqi hanya milik Allah Yang Maha Kuasa dan tidak
kepada apa pun selain Wujud-Nya.
Dengan kata lain, alam semesta berikut semua isinya diciptakan oleh dan merupakan ciptaan Allah
Swt.. Tidak ada suatu apa pun di alam ini yang bukan ciptaan Tuhan. Melalui Sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna, Allah Yang Maha Kuasa mengatur
dan mengendalikan setiap noktah yang ada di alam. Sifat Rabubiyat-Nya berfungsi sepanjang waktu.
Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa setelah Dia menciptakan alam ini lalu Dia
mengundurkan diri dan menyerahkan kendalinya
kepada hukum alam. Tidak benar jika dikatakan bahwa sebagai seorang pencipta mesin maka ia lalu tidak
lagi peduli setelah mesin
tersebut selesai diciptakan (dibuat).
Ciptaan dari Maha
Pencipta tetap selalu terkait
dengan Wujud-Nya. Wujud Rabbul
‘ālamīn melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya
yang sempurna sepanjang waktu di
seluruh alam semesta, dan hujan rahmat Rabubiyat-Nya itu tetap selalu dicurahkan ke seluruh alam. Tidak
pernah sekali pun alam ini dikucilkan dari manfaat Sifat rahmat-Nya. Bahkan
setelah selesai penciptaan alam semesta ini kebutuhan akan Sumber rahmat itu akan tetap diperlukan setiap saat seolah-olah Dia belum menciptakan
apa-apa.
Sebagaimana dunia ini bergantung kepada Sifat
Rabubiyat-Nya untuk mewujud, maka dunia ini tetap bergantung kepada Sifat itu untuk kelangsungan
dan pemeliharaannya. Adalah Dia Yang
menopang dunia ini setiap saat dan setiap noktah di alam ini terpelihara
dan berkembang karena Dia. Dia
melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya atas segala hal
menurut kehendak- Nya.
Singkat kata, kebenaran ini
bermakna bahwa segala sesuatu di alam diciptakan dan tergantung kepada Sifat Rabubiyat Allah Swt., baik dalam kesempurnaan, kondisi maupun
masanya. Tidak ada keunggulan ruhani atau jasmani yang bisa
dicapai makhluk dari dirinya sendiri
tanpa ketergantungan pada pengaturan
dari Sang Maha Pengatur.
Adalah suatu hal yang latent (tersembunyi) dari Sifat ini dan kebenaran-kebenaran
lainnya bahwa Sifat Rabbul ‘ālamīn merupakan Sifat yang khusus hanya bagi Diri-Nya dan tidak ada suatu apa
pun yang menjadi sekutu-Nya. Ayat pembuka dari Surah yaitu Alhamdulillāh (segala puji bagi
Allah) menjelaskan secara tegas bahwa segala puji hanyalah bagi Allah
Swt. semata.
Kebenaran akbar yang kedua
adalah Sifat Rahmān (Maha Pemurah) yang menempati urutan berikutnya
setelah Sifat Rabbul ‘ālamīn. Sudah dijelaskan sebelumnya
bahwa semua makhluk hidup, yang berakal maupun yang tidak, baik atau jahat,
telah dibantu dan akan selalu ditopang oleh rahmat umum Allah
Yang Maha Perkasa, dengan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupan dan kelanjutan
spesi mereka. Semuanya itu merupakan karunia mutlak yang tidak
tergantung kepada amalan atau upaya siapa pun.
Kebenaran akbar yang ketiga
setelah Sifat Rahmān adalah Sifat Rahīm (Maha Penyayang). Hal ini berarti
bahwa sesuai kehendak-Nya maka Allah
Swt. akan memberikan imbalan hasil baik atas dasar permohonan makhluk-Nya. Dia mengampuni dosa mereka yang bertobat.
Dia menganugrahkan karunia kepada
mereka yang memohon. Dia membukakan pintu kepada mereka yang mengetuknya.
Kebenaran akbar keempat
adalah Māliki Yaumiddīn (Pemilik hari
Pembalasan). Berarti Allah Yang Maha Kuasa adalah Penguasa segala ganjaran yang sempurna yang bebas dari ujian dan cobaan serta intervensi dari
segala yang merancukan, suci dari segala yang tidak bersih, bebas dari keraguan
dan cacat dan merupakan manifestasi (penampakan) kekuasaan-Nya
yang akbar. Dia tidak kekurangan
kekuatan untuk memanifestasikan pengganjaran-Nya
yang sempurna, yang secerah siang hari.
Manifestasi kebenaran akbar ini
bertujuan untuk mencerahkan hal-hal
berikut ini agar menjadi jelas bagi
setiap orang sebagai suatu kepastian.
Tiga Alasan Pelaksanaan Sifat Māliki Yaumid-dīn Terjadi di Akhirat
Pertama, bahwa ganjaran dan penghukuman
adalah suatu hal yang pasti yang
dikenakan kepada semua makhluk oleh Sang Maha Penguasa sebagai bagian dari kehendak-Nya. Hal
ini tidak mungkin ditunjukkan di dunia
ini karena merupakan hal-hal yang tidak
jelas bagi rata-rata orang, yang tidak
mengerti mengapa mereka akan mengalami kemaslahatan
atau kemudharatan, kesenangan atau kesakitan.
Tidak akan ada orang yang mendengar suara dari mana pun yang menjelaskan bahwa apa yang dialaminya itu adalah ganjaran
(balasan) dari amal perbuatannya, dan juga tidak akan ada
yang menyadari atau merasa bahwa apa yang sedang dialaminya adalah sebagai akibat
dari tindakannya.
Kedua, penampakan itu ditujukan untuk memperlihatkan bahwa sarana
duniawi itu tidak mempunyai arti
dan bahwa Sang Maha Wujud atau Allah Swt. adalah Sumber
dari semua berkat dan Penguasa dari segala ganjaran.
Ketiga, perlu adanya penegasan
apa itu karunia yang baik dan apa yang namanya kemudharatan
besar. Keberuntungan akbar adalah keadaan kemenangan tertinggi
dimana nur, kebahagiaan, kesenangan dan keselesaan (ketentraman) merasuk di dalam dan di luar dari tubuh
dan jiwa seseorang dimana tidak ada bagian tubuhnya yang terlewat.
Kemudharatan besar adalah siksaan yang
berasal dari akibat ketidak-patuhan, kekotoran
jiwa, menjauhkan diri dari Tuhan-nya, yang akan membakar
hati dan meliputi seluruh tubuh sehingga seluruh dirinya terasa bagai berada
dalam api di neraka.
Manifestasi seperti ini tidak
bisa dilihat di dunia karena dunia
yang sempit dan picik yang terselaput oleh segala keduniawian dan yang kondisinya tidak sempurna, tidak akan tahan menanggung (memikul) manifestasi
(penampakkan) demikian. Dunia ini
adalah ajang ujian dan cobaan dimana kesenangan
dan kesakitan yang ada hanya bersifat sementara
dan tidak sempurna. Apa pun yang dialami seseorang dalam hidupnya
berada di bawah (di balik) tabir sarana jasmani yang
menyembunyikan Wujud Sang
Penguasa Pemberi ganjaran.
Dengan demikian dunia ini
bukan wadah ganjaran yang benar
dan sempurna. Yang menjadi hari
ganjaran yang sempurna dan terbuka adalah dunia yang akan datang (akhirat) setelah
dunia sekarang ini. Dunia yang akan
datang itu akan menjadi wadah manifestasi akbar dan penampakan
dari keagungan dan keindahan yang sempurna.
Kesulitan hidup atau kemudahan, kesenangan atau kesakitan,
kesedihan atau pun kegembiraan, semua
yang dialami manusia di dunia yang
sekarang tidak selalu menggambarkan
atau merupakan akibat dari karunia Ilahi atau pun kemurkaan-Nya.
Sebagai contoh, seorang yang kaya
bukanlah merupakan bukti bahwa Tuhan
berkenan atas dirinya, begitu pula kemiskinan atau kesulitan
dianggap menjadi tanda bahwa Allah Swt. memusuhi
dirinya. Bisa jadi keadaan mereka itu menjadi cobaan agar yang kaya diuji karena kekayaannya
sedangkan yang miskin dicoba karena kemiskinannya. Semua kebenaran akbar ini dijelaskan
secara rinci di dalam Al-Quran.” (Brahin-i-Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 444-461, London, 1984).
Hanya
Wujud Allah Swt. Yang Kekal
& Makna Ayat Kursi: Sifat Al-Hayyul-
Qayyum Allah Swt.
Kemudian Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai “ketidak-kekalan” ciptaan
(makhluk) Allah Swt. -- Wujud Maha
Pencipta Yang Maha Kekal:
“Umum diyakini bahwa segala yang tampak di alam semesta ini tidak ada
yang mutlak atau bersifat tidak bisa diganti. Sebagai contoh, bumi ini berbentuk bulat dan
berdasarkan estimasi (taksiran) beberapa orang diperkirakan mempunyai garis
tengah sepanjang kurang lebih 8.000 mil[1] , tetapi tidak ada alasan yang kuat
yang menyatakan bahwa bentuk dan dimensinya memang
harus demikian, dan mengapa bentuk
atau dimensinya tidak bisa berwujud lain. Dari sini bisa
disimpulkan bahwa bentuk dan dimensi yang
kombinasinya menggambarkan eksistensi (keberadaan) bukanlah suatu hal yang pokok bagi bumi.
Begitu juga dengan bentuk dan dimensi segala
benda jadinya bisa saja berubah. Di
samping itu dalam banyak kejadian telah terjadi ancaman kelangsungan hidup
bagi beberapa makhluk tetapi
nyatanya mereka tidak musnah sama
sekali. Sebagai contoh, meskipun telah terjadi bencana kelaparan dan wabah penyakit
dari sejak awal sejarah dunia, nyatanya benih semua makhluk tetap
selamat. Padahal logika mengatakan
dengan adanya berbagai kesulitan dan
bencana yang menimpa bumi seperti kelaparan dahsyat mestinya
telah menghabiskan bibit gandum sehingga tidak tersisa untuk tanaman berikutnya, atau
karena wabah penyakit yang hebat
mestinya manusia atau hewan sudah punah semua.
Bisa saja mekanisme (sistem
kerja) matahari dan bulan menjadi terganggu, begitu pula dengan segala
hal yang selama ini berfungsi ikut mengatur
kinerja alam. Menurut logika saja, tidak ada dari berjuta-juta benda itu yang
bisa lolos dari kekacauan atau tidak
menjadi korban suatu bencana. Namun
bahwa semuanya tetap selamat
tanpa penurunan kualitas hidup
melanjutkan kelangsungan spesinya
merupakan bukti bahwa ada
Wujud Yang menjadi Pemberi
kehidupan, Penjaga dan Pemelihara, Yang menghimpun dalam Wujud-Nya Sifat-sifat
yang sempurna sebagai Maha Pengendali,
Maha Bijaksana, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Abadi
dan Maha Hidup, bebas dari segala cela, tidak tunduk kepada maut (kematian) atau kehancuran, bahkan bebas dari rasa kantuk dan tidur.
Dia adalah Wujud Yang menggabung dalam Diri-Nya
semua Sifat-sifat yang sempurna, Dia
Yang menciptakan alam dengan kebijakan dan ketepatan yang sempurna serta memilih eksistensi (keberadaan) di atas non-eksistensi
(ketiadaan). Hanya Dia Sendiri Yang patut disembah berdasarkan kesempurnaan-Nya, hasil ciptaan-Nya,
sifat Rahīmiyat dan Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri
(Al-Qayyum). Inilah makna dari ayat:
اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ
لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
Allah,
tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya
Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyerang-Nya dan tidak pula
tidur. Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di
bumi. (Al-Baqarah [2]:256).
Segala Sesuatu di Alam Semesta Milik Allah Swt., Rabb Seluruh Alam
Betapa indah dan anggunnya Al-Quran mengemukakan pandangan yang
mendukung eksistensi (keberadaan) Pencipta
alam semesta ini dalam ayat Kursi,
dalam pengertian yang mendalam dan pokok pandangan yang bijak. Bagi semua hal
yang ada di langit dan di bumi, telah dinyatakan secara lugas adanya eksistensi sosok Pencipta Yang
memiliki Sifat-sifat yang sempurna,
dalam kata-kata yang kedalaman maknanya
dan lingkupannya tidak pernah bisa ditandingi oleh para ahli filosofi.
Para filosof yang
pengetahuannya dangkal, tidak mampu melihat bahwa jasmani dan ruhani ini
merupakan hasil ciptaan (makhluk) dan tidak bersifat abadi, tetapi
mereka tetap saja tidak menyadari
bahwa kehidupan, eksistensi dan pemeliharaan yang sempurna
hanya ada pada Allah Swt..
Pemahaman yang mendalam ini
hanya bisa dipelajari dari ayat tersebut dimana diungkapkan bahwa kehidupan yang sempurna dan keabadian eksistensi hanyalah milik Allah Swt. Yang menggabung dalam Diri-Nya semua Sifat yang
sempurna. Selain Dia tidak ada
lagi yang memiliki eksistensi dan pemeliharaan
yang sempurna. Hal ini menjadi dasar
pemikiran harus adanya sosok Pencipta dari alam semesta dan
dikatakan selanjutnya:
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
‘Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi’ (Al-Baqarah [2]:256).
Dengan kata lain, karena alam tidak memiliki eksistensi atau pemeliharaan
yang sempurna dari dirinya sendiri
maka alam membutuhkan suatu kausa
(penyebab) agar ia bisa hidup dan
terpelihara. Kausa tersebut dengan sendirinya harus bersifat komprehensif
(lengkap) dengan Sifat-sifat yang sempurna, Yang mengendalikan alam ini menurut kehendak-Nya
Yang bersifat Bijak dan Melihat segala hal yang tersembunyi, dan Kausa (penyebab)
itu bernama Allah.
Dalam istilah Kitab Suci Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud Yang bersifat komprehensif (lengkap) dengan segala kesempurnaan.
Itulah sebabnya nama Allah selalu dikaitkan dengan
segala yang bersifat Maha, dan di berbagai tempat dinyatakan bahwa Allah Swt. adalah Rabb (Tuhan) seluruh alam, Ar-Rahmān, Ar-Rahīm, Yang mengendalikan
alam berdasar kehendak-Nya, Maha Bijak, Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, Maha Kuasa, Maha Abadi dan
lain-lainnya. Itulah sebabnya maka ayat tersebut dimulai dengan nama Allah
dan selanjutnya:
اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ
Allah, tiada yang patut disembah
selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. (Al-Baqarah [2]:256).
(Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 1, hlm. 515-517, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 17 September 2015
[1]
Garis radius bumi sebenarnya adalah 3.963 mil (6.378 km)
yang dihitung pada posisi ekuator, berarti garis tengah bumi adalah 7.926 mil
(12.756 km), jadi mendekati angka 8.000 diatas. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar