بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 40
Empat Pokok Kepemimpinan Hakiki Dalam Surah Al-Fatihah & Kecaman Keras Yesus Kepada Para "Penyembahnya"
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya – sehubungan dengan berlakunya pemerintahan “kerajaan Ilahi” di seluruh langit
dan bumi -- telah dikemukakan sabda
Masih Mau’ud a.s. mengenai kaidah Ilahi bagi malaikat di langit yang berbeda dengan kaidah Ilahi bagi manusia
di bumi:
“Kedua system kaidah ini tidak akan berubah, sebagaimana malaikat
tidak bisa menjadi manusia, begitu juga manusia
tidak akan bisa menjadi malaikat. Sistem kaidah
ini bersifat abadi dan tidak akan berubah. Kaidah yang berlaku di langit tidak akan berfungsi di bumi, begitu juga kaidah bumi tidak akan berlaku di antara para malaikat. Dalam hal
manusia pendosa kemudian bertobat maka manusia bisa
menjadi lebih baik daripada malaikat, sedangkan malaikat
sendiri tidak bisa memperoleh kemajuan
dalam kebajikan.
Dosa manusia bisa diampuni
melalui pertobatan. Hikmah Ilahi terkadang membiarkan beberapa orang bebas melakukan dosa-dosa agar
mereka kemudian menyadari kelemahan mereka dan memperoleh pengampunan
karena pertobatan. Demikian itulah kaidah yang
ditetapkan dan sesuai dengan fitrat manusia. Alpa (lalai) dan lupa merupakan ciri
fitrat manusia dan ciri ini
tidak ada pada malaikat, karena itu kaidah yang mengatur para malaikat
tidak bisa diterapkan kepada manusia.
Adalah suatu kesalahan untuk mengalamatkan suatu kelemahan
kepada Wujud Allah Yang Maha Kuasa. Akibat dari berfungsinya kaidah itulah yang dimanifestasikan (dilaksanakan) di bumi. Apakah Tuhan itu memang
sedemikian lemahnya sehingga kerajaan,
kekuasaan dan keagungan-Nya hanya dibatasi
di langit saja, ataukah
ada sosok lainnya
yang memang menguasai bumi?
Sepatutnya umat Kristiani
tidak menekankan bahwa kerajaan Tuhan hanya berfungsi di langit dan belum berlaku di bumi, sedangkan mereka menganggap bahwa langit tidak ada wujudnya. Kalau langit
memang tidak ada wujudnya untuk tempat berfungsinya
kerajaan Tuhan sedangkan kerajaan
itu belum ada di bumi, berarti kerajaan
Tuhan tidak ada dimana-mana. Padahal kita menyaksikan bagaimana kerajaan
Tuhan beroperasi di bumi
ini.
Sejalan dengan kaidah-Nya
maka hidup kita suatu waktu akan berakhir
dan keadaan kita selalu berubah
terus menerus. Kita mengalami
beratus macam bentuk kenikmatan dan kepedihan.
Ribuan manusia yang mati karena takdir Ilahi dan beribu-ribu lagi yang dilahirkan.
Doa-doa mendapat pengabulan, tanda-tanda samawi diperlihatkan
dan bumi ini menumbuhkan beribu
macam sayuran, buah dan bunga karena takdir-Nya.
Apakah semua ini terjadi tanpa berdaulatnya kerajaan Allah?
Benda-benda langit mengalami perubahan
tetapi kita tidak menyadarinya, dan hal ini menunjukkan bahwa ada Wujud Yang membawa perubahan. Adapun bumi selalu mengalami perubahan
dari hari ke hari.
Setiap hari berjuta manusia meninggalkan
dunia dan berjuta lagi yang dilahirkan dan dalam semuanya itu pengendalian kuat dari Sang Maha Pencipta
amat terasa. Apakah masih saja tidak diakui bahwa ada kerajaan Tuhan di bumi? Kitab Injil tidak menjelaskan alasan mengapa kerajaan Tuhan belum tiba di dunia….
(Kishti Nuh, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 29-34, London, 1984).
Berbagai Pengalaman Masih Mau’ud a.s. Menyaksikan Berlakunya
“Kerajaan Ilahi” di Bumi
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan salah satu bukti mengenai berdaulatnya “kerajaan
Tuhan” di bumi, berupa keputusan
hakim pengadilan yang membebaskan
beliau dalam kasus tuduhan dusta --
berupa fitnah merencanakan pembunuhan terhadap Dr.
Martin Clarke, seorang pendeta Kristen:
“Memang benar bahwa Nabi Isa a.s.
berdoa memohonkan kelepasan diri beliau di taman Gethsemane sepanjang malam dan
sebagaimana tercatat dalam Surat Kepada Orang Iberani pasal 5 ayat 7 dinyatakan
bahwa doa itu dikabulkan namun (dianggap) Tuhan
tidak mempunyai kekuasaan untuk menolong beliau [dari penyaliban]. Hal
ini menurut umat Kristiani merupakan
alasan yang menguatkan bahwa pada saat itu tidak ada kerajaan Tuhan di bumi.
Aku sendiri sudah banyak mengalami cobaan
yang lebih berat, tetapi nyatanya aku telah diselamatkan. Bagaimana mungkin aku menyangkal kerajaan Tuhan?
Apakah perkara yang diadili oleh hakim Captain Douglas menyangkut
perkara yang dituduhkan oleh
[pendeta] Martyn Clarke bahwa aku
dituduh merencanakan pembunuhan, adalah lebih ringan daripada tuduhan yang dibawa umat Yahudi kepada hakim Pilatus terhadap Yesus
yang hanya berkaitan dengan perbedaan
pandangan keagamaan?
Nyatanya Allah Swt. sebagai Raja bumi ini sebagaimana Dia
juga raja di langit telah memberitahukan di awal bahwa akan ada kasus perkara seperti itu dan bahwa
pada akhirnya aku akan dibebaskan.
Hal ini telah diberitahukan sebelumnya olehku kepada beratus-ratus orang dan nyatanya aku
kemudian dibebaskan.
Adalah kerajaan Tuhan yang
telah menyelamatkan aku dari perkara tuntutan yang merupakan usaha bersama (konspirasi) orang-orang Muslim, Hindu dan Kristen yang memusuhi aku. Tidak hanya sekali,
bahkan berpuluh kali aku menyaksikan
kerajaan Tuhan beroperasi (berdaulat)
di bumi dan aku sewajarnya mengimani ayat:
لَہٗ مُلۡکُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
‘Kepunyaan Dia-lah kerajaan
seluruh langit dan bumi’ (Al-Hadīd [57]:3)
dan aku meyakini ayat:
اِنَّمَاۤ اَمۡرُہٗۤ اِذَاۤ
اَرَادَ شَیۡئًا اَنۡ
یَّقُوۡلَ لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿﴾
‘Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia
menghendaki sesuatu, ialah Dia hanya berfirman mengenai itu “Jadilah” maka jadilah ia’ (Yā Sīn [36]:83).
Berarti bahwa langit dan bumi tunduk kepada-Nya dan bila Dia bermaksud mengadakan sesuatu maka Dia cukup mengatakan ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia. Dikatakan juga bahwa:
وَ اللّٰہُ غَالِبٌ
عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ
‘Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya
akan tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya’ (Yusuf [12]:22).
Yang berarti bahwa Allah Swt. berkuasa penuh atas segala rancangan-Nya, namun kebanyakan manusia
tidak menyadari keagungan dan kekuasaan-Nya tersebut.
Doa Dalam Surah Al-Fatihah Bertentangan
dengan Doa Dalam Injil
Hanya sedemikian itulah cara doa
yang diajarkan dalam Kitab Injil
yang telah memupuskan harapan manusia
akan rahmat Tuhan dan menjadikan umat Kristiani melupakan Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat
dan Mālikiyat-Nya karena mereka beranggapan
bahwa Tuhan baru akan mampu
memberikan pertolongan di bumi
sampai nanti jika kerajaan-Nya telah
tiba di dunia --
“Bapak
kami yang di sorga,
dikuduskanlah nama-Mu, datanglah
kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di
bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti juga kami mengampuni orang
yang bersalah kepada kami; dan janganlah
membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat, karena Engkau-lah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai
selama-lamanya.” (Injil Matius 6:9-13).
Sebaliknya dengan doa yang diajarkan Allah Swt.
kepada umat Muslim melalui Al-Quran bahwa Tuhan
mereka bukanlah sosok yang tidak berdaya di bumi dan bahwa Sifat-sifat Rabubiyat,
Rāhmaniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi di bumi ini dan bahwa Dia berkuasa menolong para penyembah-Nya
dan menghancurkan para pendosa dengan kemurkaan-Nya. Doa tersebut berbunyi:
اَلۡحَمۡدُ
لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ
الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ
نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ
الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
‘Segala puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) semesta alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang
mempunyai Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya
kepada Engkau kami memohon pertolongan. Tuntunlah
kami kepada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat’ (Al-Fatihah [1]:2-7).
Berarti hanya Allah saja yang patut menerima semua pujian. Tidak ada cela dan cacat dalam
kerajaan-Nya. Tidak ada yang masih harus ditunggu dari Sifat-sifat luhur-Nya yang dianggap
belum ada sekarang. Tidak ada kesia-siaan
dalam tata kerajaan-Nya. Dia telah memelihara seluruh alam. Dia mengaruniakan rahmat-Nya sepenuhnya
tanpa harus ada tindakan dari
manusia atau sebagai imbalan bagi
kinerja manusia. Dia menyampaikan ganjaran
dan penghukuman pada saatnya yang
tepat. Kita menyembah-Nya dan memohon kepada-Nya agar ditunjuki jalan yang membawa rahmat dan menjauhkan kita dari jalan yang akan membawa kemurkaan-Nya serta jalan yang salah.
Doa yang dikemukakan dalam Surah Fatihah ini sama sekali berlawanan dengan doa yang diajarkan dalam Kitab Injil
karena Injil tidak mengakui bahwa kerajaan Tuhan sudah ada di muka bumi ini. Menurut Injil tidak ada dari Sifat-sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat
dan Mālikiyat Allah Swt. yang berfungsi di dunia karena kerajaan Tuhan belum datang.
Pokok-pokok Kepemimpinan yang
Hakiki Dalam Surah Al-Fatihah
Adapun Surah Fatihah memastikan
bahwa kerajaan Tuhan sudah ada di dunia dan semua sendi pokok kerajaan itu dikemukakan dalam Surah
tersebut. Dari sana bisa diteladani
bahwa seorang penguasa atau raja harus memiliki sifat-sifat:
Sifat pertama, ia harus memiliki kekuasaan memelihara rakyatnya
sebagaimana dinyatakan Surah Fatihah bahwa Tuhan
adalah Rabb (pemelihara) alam semesta. Sifat kedua dari seorang penguasa
adalah bisa menyediakan apa pun yang
dibutuhkan rakyatnya dari kekayaannya
sendiri, semuanya itu bukan sebagai ganjaran
kepada rakyatnya tersebut. Surah
Fatihah menyebut Tuhan sebagai Ar-Rahmān
(Maha Pemurah) karena Sifat-Nya ini.
Sifat ketiga yang harus dimiliki seorang
raja atau penguasa adalah menolong rakyatnya mencapai sesuatu
yang tidak bisa dicapai dengan kekuatan mereka sendiri. Surah Fatihah
menegaskan sifat ini sebagai Rahīm
(Maha Penyayang).
Sifat keempat yang harus dimiliki
seorang penguasa adalah kekuasaan memberikan ganjaran dan penghukuman demi tertibnya
kondisi sosial. Surah Fatihah mengemukakan sifat ini sebagai Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari
Pembalasan).
Singkat kata, Surah ini mencerminkan semua pokok-pokok kepemimpinan yang membuktikan bahwa kerajaan Tuhan dan pengendalian kerajaan sudah berfungsi
selama ini di dunia. Perhatikanlah,
yang harus dipahami sepenuhnya adalah setiap zarah (partikel) di muka
bumi tunduk kepada pengendalian
Tuhan dan setiap partikel di
alam semesta ini merupakan bagian
dari kerajaan-Nya.
Sebagaimana terdapat manifestasi akbar di langit, akan begitu juga di muka bumi. Manifestasi di langit menyangkut masalah keruhanian. Umumnya manusia belum
pernah naik ke langit dan
menyaksikan manifestasi demikian,
tetapi manifestasi kerajaan Tuhan di
bumi ini jelas bisa dilihat mata semua manusia.
Setiap mahluk hidup, betapa pun kayanya yang bersangkutan dan walau bertentangan dengan keinginannya sendiri pasti akan mengalami maut (mati). Perhatikanlah bagaimana manifestasi sabda sang raja
menjadi nyata di bumi ini yaitu
ketika perintah-Nya datang maka
tidak ada seorang pun akan mampu menunda
kematiannya walaupun sedetik.
Jika seseorang menderita penyakit yang fatal maka tidak akan ada
dokter yang mampu menyembuhkannya. Renungkanlah bagaimana
manifestasi kerajaan Tuhan di bumi
dalam bentuk bahwa perintah-Nya
tidak mungkin dibantah. Lalu
bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan di bumi ini belum berwujud dan baru akan datang di kemudian hari?
Pada masa kini, perintah Tuhan
dari langit telah mengguncangkan bumi dengan telah
datangnya wabah pes, agar hal ini
menjadi tanda bagi kebenaran Al-Masih yang telah dijanjikan-Nya. Siapakah yang mampu
mengatasinya tanpa perkenan-Nya?
Karena itu bagaimana mungkin kita akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum ada di muka
bumi?
Para pendosa hidup di dunia
ini laiknya seorang tahanan bumi dan
mengharapkan akan hidup selamanya,
namun kerajaan Tuhan akan menghancurkannya dengan mengirim malaikat maut untuk menjemputnya.
Bagaimanakah akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan belum ada di dunia?
Setiap harinya melalui perintah Tuhan, berjuta manusia mati dan berjuta pula yang dilahirkan, berjuta manusia yang miskin menjadi kaya dan berjuta juga manusia kaya
yang menjadi miskin. Lalu bagaimana
akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan
di bumi ini belum berwujud dan baru
akan datang di kemudian hari?
Di langit hanya ada para malaikat, sedangkan di bumi ini terdapat manusia disamping juga para malaikat
yang menjadi abdi dan pelayan kerajaan-Nya. Para malaikat ini yang mengawasi berbagai kelakuan
manusia, patuh kepada Tuhan
sepanjang waktu, serta mengirimkan
laporan mereka kepada-Nya. Jadi,
bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada kerajaan
Tuhan di muka bumi?
Eksistensi Allah Swt. Lebih Mudah Dikenal Melalui Berdaulatnya “Kerajaan-Nya
di Bumi” & Kecaman Keras Yesus Kepada Para “Penyembahnya”
Tuhan
terutama sekali dikenal melalui kerajaan-Nya di bumi karena semua orang
menganggap bahwa misteri langit
merupakan rahasia yang tidak bisa dibuktikan. Belum lama ini umat Kristen beserta para ahli filosofi mereka telah menyangkal adanya langit yang oleh Kitab Injil dijadikan sebagai dasar dari kerajaan Tuhan.
Adapun di bumi yang berada di
bawah tapak kaki kita bisa dilihat berbagai manifestasi beribu-ribu
takdir Ilahi dan semua itu menyadarkan
kita bahwa semua perubahan, kelahiran dan kematian adalah berdasar pengaturan
dari suatu Wujud Penguasa. Lalu
bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan di bumi ini belum berwujud.
Allah Yang Maha Luhur dan Maha
Agung tidak ada menyebut kata langit
atau bumi dalam Surah Fatihah, namun Dia mengemukakan realitasnya kepada kita bahwa
Tuhan itu bersifat Rabbul ‘Alamīn (Pencipta dan Pemelihara
seluruh alam). Dengan kata lain, melalui
semua ciptaan, baik jiwa atau pun raganya, disimpulkan bahwa Tuhan
itulah Pencipta dan Pemelihara semuanya serta Yang menghidupi dan mengurus
mereka.
Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi setiap saat di seluruh
alam semesta. Perlu diperhatikan bahwa dengan istilah Māliki Yaumiddīn dalam Surah Fatihah
tidak berarti bahwa ganjaran dan penghukuman hanya akan dilakukan pada Hari Penghisaban saja. Kitab suci
Al-Quran telah berulangkali menjelaskan bahwa Hari Penghisaban memang merupakan saat pengganjaran akbar, hanya saja ada bentuk pengganjaran yang sudah dimulai
di dunia ini sebagaimana diungkapkan dalam ayat:
اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا
‘Jika kamu bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi kamu suatu pembeda’ (Al-Anfāl [8]:30). (Kishti
Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 34-39,
London, 1984).
Demikianlah
penjelasan Masih Mau’ud a.s. -- yang juga merupakan penggenapan nubuatan
kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. di Akhir Zaman ini (Matius 24: 23-36) -- dalam rangka menegakkan kembali Tauhid
Ilahi yang sudah jauh menyimpang dari ajaran asli dalam Injil
yang diwahyukan kepada beliau,
sebagaimana kecaman keras beliau
berikut ini:
7:21 Bukan setiap orang yang
berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku
yang di sorga. 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami
bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir
setan demi nama-Mu, dan mengadakan
banyak mujizat demi nama-Mu juga? 7:23 Pada waktu itulah Aku akan
berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23).
Kecaman keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
tersebut sejalan dengan jawaban beliau kepada Allah Swt. dalam
firman-Nya berikut ini mengenai “penyembahan”
para pengikutnya setelah beliau wafat:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ
تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada
manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang
sekali-kali bukan hakku.
Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau
mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. مَا قُلۡتُ لَہُمۡ
اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ -- Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang telah
Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah ke-pada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala cEngkau telah
mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. اِنۡ
تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba Engkau,
dan kalau Engkau mengampuni mereka,
maka sesungguhnya Engkau benar-benar
Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah
[5]:117-119).
Urutan Alamiah Empat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. Dalam Surah
Al-Fatihah: (1) Māliki Yaumid-Dīn
Selanjutnya Al-Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan hikmah urutan keempat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah:
“Dalam
Surah Al-Fatihah, Allah Yang Maha
Perkasa mengemukakan 4 dari Sifat-sifat-Nya yaitu Rabbul ‘ālamīn, Rahmān, Rahīm dan Māliki Yaumiddīn. Urutan penyampaian Sifat-sifat itu merupakan urutan alamiah perwujudannya. Rahmat Ilahi dimanifestasikan di
dunia dalam 4 bentuk. Yang pertama (Rabubiyat) adalah rahmat yang berlaku sangat umum. Ini adalah Sifat yang merupakan rahmat
mutlak yang melingkupi semua hal di langit dan di bumi tanpa
membedakan mahluk hidup dengan benda mati.
Perwujudan
segala hal dari keadaan ketiadaan yang kemudian berkembang menuju kesempurnaannya adalah
berkat dari rahmat (Rabubiyat) ini. Tidak ada yang berada di luar ruang
lingkup rahmat ini. Semua jasmani
dan ruhani dimanifestasikan (diwujudkan) oleh dan melalui rahmat
ini dan semuanya berkembang atau dikembangkan melalui rahmat
tersebut.
Rahmat (Rabubiyat) ini adalah inti
kehidupan dari alam semesta. Jika rahmat ini
dihentikan sesaat saja maka alam semesta
ini akan berakhir, dan jika bukan
karena rahmat ini maka tidak akan ada penciptaan. Dalam Al-Quran, sifat ini disebut sebagai Rabubiyat dan karena itu Allah disebut Rabbul ‘ālamīn sebagaimana dikatakan:
ہُوَ
رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ
Dia adalah
Rabb (Tuhan) bagi segala sesuatu
(Al-An’ām [6]:165).
Tidak ada suatu pun di alam ini yang
berada di luar rangkuman Sifat Rabubiyat-Nya.
Jadi Sifat Rabbul ālamīn disebutkan dalam Surah Al-Fatihah sebagai yang pertama dari
semua Sifat rahmat Allah Swt.. Sifat ini memiliki prioritas alamiah,
baik karena mewujud mendahului Sifat-sifat
yang lain dan karena bersifat yang paling
umum dalam ruang lingkupnya mengingat mencakup baik makhluk hidup
maupun benda mati." (Brahin-i-Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. 14, hlm. 444-461, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 15 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar