Selasa, 15 September 2015

Empat Pokok Kepemimpinan Dalam Surah Al-Fatihah & Kecaman Keras Yesus Kepada Para "Penyembahnya"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 40

Empat Pokok Kepemimpinan Hakiki Dalam Surah Al-Fatihah & Kecaman Keras Yesus Kepada Para "Penyembahnya 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya – sehubungan dengan berlakunya pemerintahan “kerajaan Ilahi” di seluruh langit  dan bumi -- telah dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai kaidah Ilahi bagi malaikat di langit yang berbeda dengan kaidah Ilahi  bagi manusia di bumi:
    “Kedua system kaidah ini tidak akan berubah, sebagaimana malaikat tidak bisa menjadi manusia, begitu juga manusia tidak akan bisa menjadi malaikat. Sistem kaidah ini bersifat abadi dan tidak akan berubah. Kaidah yang berlaku di langit tidak akan berfungsi di bumi, begitu juga kaidah bumi tidak akan berlaku di antara para malaikat. Dalam hal manusia pendosa kemudian bertobat maka manusia bisa menjadi lebih baik daripada malaikat,  sedangkan malaikat sendiri tidak bisa memperoleh kemajuan dalam kebajikan.
    Dosa manusia bisa diampuni melalui pertobatanHikmah Ilahi terkadang membiarkan beberapa orang bebas melakukan dosa-dosa agar mereka kemudian menyadari kelemahan mereka dan memperoleh pengampunan karena pertobatan. Demikian itulah kaidah yang ditetapkan dan sesuai dengan fitrat manusia. Alpa (lalai) dan  lupa  merupakan ciri fitrat manusia dan ciri ini tidak ada pada malaikat, karena itu kaidah yang mengatur para malaikat tidak bisa diterapkan kepada manusia.
     Adalah suatu kesalahan untuk mengalamatkan suatu kelemahan kepada Wujud Allah Yang Maha Kuasa.  Akibat dari berfungsinya kaidah itulah yang dimanifestasikan (dilaksanakan) di bumi. Apakah Tuhan itu memang sedemikian lemahnya sehingga kerajaan, kekuasaan dan keagungan-Nya hanya dibatasi di langit saja,  ataukah ada sosok lainnya yang memang menguasai bumi?
      Sepatutnya umat Kristiani tidak menekankan bahwa kerajaan Tuhan hanya berfungsi di langit dan belum berlaku di bumi, sedangkan mereka menganggap bahwa langit tidak ada wujudnya. Kalau langit memang tidak ada wujudnya untuk tempat berfungsinya kerajaan Tuhan sedangkan kerajaan itu belum ada di bumi, berarti kerajaan Tuhan tidak ada dimana-mana. Padahal kita menyaksikan bagaimana kerajaan Tuhan beroperasi di bumi ini.
     Sejalan dengan kaidah-Nya maka hidup kita suatu waktu akan berakhir dan keadaan kita selalu berubah terus menerus. Kita mengalami beratus macam bentuk kenikmatan dan kepedihan. Ribuan manusia yang mati karena takdir Ilahi dan beribu-ribu lagi yang dilahirkan. Doa-doa mendapat pengabulan, tanda-tanda samawi diperlihatkan dan bumi ini menumbuhkan beribu macam sayuran, buah dan bunga karena takdir-Nya.
    Apakah semua ini terjadi tanpa berdaulatnya kerajaan Allah? Benda-benda langit mengalami perubahan tetapi kita tidak menyadarinya, dan hal ini menunjukkan bahwa ada Wujud Yang membawa perubahan. Adapun bumi selalu mengalami perubahan dari hari ke hari.
   Setiap hari berjuta manusia meninggalkan dunia dan berjuta lagi yang dilahirkan dan dalam semuanya itu pengendalian kuat dari Sang Maha Pencipta amat terasa. Apakah masih saja tidak diakui bahwa ada kerajaan Tuhan di bumi? Kitab Injil tidak menjelaskan alasan mengapa kerajaan Tuhan belum tiba di dunia…. (Kishti Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 29-34, London, 1984).

Berbagai Pengalaman Masih Mau’ud a.s. Menyaksikan Berlakunya “Kerajaan Ilahi” di Bumi

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan   salah satu bukti  mengenai berdaulatnya “kerajaan Tuhan” di bumi,  berupa keputusan hakim  pengadilan yang membebaskan beliau dalam kasus  tuduhan dusta   -- berupa  fitnah  merencanakan  pembunuhan  terhadap Dr. Martin Clarke, seorang pendeta Kristen:
    “Memang benar bahwa Nabi Isa a.s. berdoa memohonkan kelepasan diri beliau di taman Gethsemane sepanjang malam dan sebagaimana tercatat dalam Surat Kepada Orang Iberani pasal 5 ayat 7 dinyatakan bahwa doa itu dikabulkan namun (dianggap) Tuhan tidak mempunyai kekuasaan untuk menolong beliau [dari penyaliban]. Hal ini menurut umat Kristiani merupakan alasan yang menguatkan bahwa pada saat itu tidak ada kerajaan Tuhan di bumi.
     Aku sendiri sudah banyak mengalami cobaan yang lebih berat, tetapi nyatanya aku telah diselamatkan. Bagaimana mungkin aku menyangkal kerajaan Tuhan? Apakah perkara yang diadili oleh hakim Captain Douglas menyangkut perkara yang dituduhkan oleh [pendeta]  Martyn Clarke bahwa aku dituduh merencanakan pembunuhan, adalah lebih ringan daripada tuduhan yang dibawa umat Yahudi kepada hakim Pilatus terhadap Yesus yang hanya berkaitan dengan perbedaan pandangan keagamaan?
      Nyatanya Allah Swt.  sebagai Raja bumi ini sebagaimana  Dia juga raja di langit telah memberitahukan di awal bahwa akan ada kasus perkara seperti itu dan bahwa pada akhirnya aku akan dibebaskan. Hal ini telah diberitahukan sebelumnya  olehku  kepada beratus-ratus orang dan nyatanya aku kemudian dibebaskan.
     Adalah kerajaan Tuhan yang telah menyelamatkan aku dari perkara tuntutan yang merupakan usaha bersama (konspirasi) orang-orang Muslim, Hindu dan Kristen yang memusuhi aku. Tidak hanya sekali, bahkan berpuluh kali aku menyaksikan kerajaan Tuhan beroperasi (berdaulat) di bumi dan aku sewajarnya mengimani ayat:
لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
Kepunyaan Dia-lah kerajaan seluruh langit dan bumi (Al-Hadīd [57]:3)
dan aku meyakini ayat:
اِنَّمَاۤ  اَمۡرُہٗۤ   اِذَاۤ   اَرَادَ  شَیۡئًا اَنۡ یَّقُوۡلَ  لَہٗ کُنۡ  فَیَکُوۡنُ ﴿﴾
Sesungguhnya  perintah-Nya  apabila Dia menghendaki sesuatu, ialah Dia hanya berfirman mengenai itu “Jadilah” maka jadilah ia’ (Yā Sīn [36]:83).
      Berarti bahwa langit dan bumi tunduk kepada-Nya dan bila Dia bermaksud mengadakan sesuatu maka Dia cukup mengatakan ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia. Dikatakan juga bahwa:
وَ اللّٰہُ غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ
Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya’ (Yusuf [12]:22).
       Yang berarti bahwa Allah Swt.  berkuasa penuh atas segala rancangan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak menyadari keagungan dan kekuasaan-Nya tersebut.

Doa Dalam Surah Al-Fatihah Bertentangan dengan Doa Dalam Injil

       Hanya sedemikian itulah cara doa yang diajarkan dalam Kitab Injil yang telah memupuskan harapan manusia akan rahmat Tuhan dan menjadikan umat Kristiani melupakan Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya karena mereka beranggapan bahwa Tuhan baru akan mampu memberikan pertolongan di bumi sampai nanti jika kerajaan-Nya telah tiba di dunia  --
Bapak kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti juga kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat, karena Engkau-lah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Injil Matius 6:9-13).
         Sebaliknya dengan doa yang diajarkan Allah Swt. kepada umat Muslim melalui Al-Quran  bahwa Tuhan mereka bukanlah sosok yang tidak berdaya di bumi dan bahwa Sifat-sifat Rabubiyat, Rāhmaniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi di bumi ini dan bahwa Dia berkuasa menolong para penyembah-Nya dan menghancurkan para pendosa dengan kemurkaan-Nya. Doa tersebut berbunyi:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾  الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                             
Segala puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) semesta alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang mempunyai Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Tuntunlah kami kepada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat (Al-Fatihah [1]:2-7).
       Berarti hanya Allah saja yang patut menerima semua pujian. Tidak ada cela dan cacat   dalam kerajaan-Nya. Tidak ada yang masih harus ditunggu dari Sifat-sifat luhur-Nya yang dianggap belum ada sekarang. Tidak ada kesia-siaan dalam tata kerajaan-Nya. Dia telah memelihara seluruh alam. Dia mengaruniakan rahmat-Nya sepenuhnya tanpa harus ada tindakan dari manusia atau sebagai imbalan bagi kinerja manusia. Dia menyampaikan ganjaran dan penghukuman pada saatnya yang tepat. Kita menyembah-Nya dan memohon kepada-Nya agar ditunjuki jalan yang membawa rahmat dan menjauhkan kita dari jalan yang akan membawa kemurkaan-Nya serta jalan yang salah.
    Doa yang dikemukakan dalam Surah Fatihah ini sama sekali berlawanan dengan doa yang diajarkan dalam Kitab Injil karena Injil tidak mengakui bahwa kerajaan Tuhan sudah ada di muka bumi ini. Menurut Injil tidak ada dari Sifat-sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat Allah Swt. yang berfungsi di dunia karena kerajaan Tuhan belum datang.

Pokok-pokok Kepemimpinan  yang Hakiki  Dalam Surah Al-Fatihah

     Adapun Surah Fatihah memastikan bahwa kerajaan Tuhan sudah ada di dunia dan semua sendi pokok kerajaan itu dikemukakan dalam Surah tersebut. Dari sana bisa diteladani bahwa seorang penguasa atau raja harus memiliki sifat-sifat:
   Sifat pertama, ia harus memiliki kekuasaan memelihara rakyatnya sebagaimana dinyatakan Surah Fatihah bahwa Tuhan adalah Rabb (pemelihara) alam semesta.     Sifat kedua dari seorang penguasa adalah bisa menyediakan apa pun yang dibutuhkan rakyatnya dari kekayaannya sendiri, semuanya itu bukan sebagai ganjaran kepada rakyatnya tersebut. Surah Fatihah menyebut Tuhan sebagai Ar-Rahmān (Maha Pemurah) karena Sifat-Nya ini.
       Sifat ketiga yang harus dimiliki seorang raja atau penguasa adalah menolong rakyatnya mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan kekuatan mereka sendiri. Surah Fatihah menegaskan sifat ini sebagai Rahīm (Maha Penyayang).
   Sifat keempat yang harus dimiliki seorang penguasa adalah kekuasaan memberikan ganjaran dan penghukuman demi tertibnya kondisi sosial. Surah Fatihah mengemukakan sifat ini sebagai Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari Pembalasan).
     Singkat kata, Surah ini mencerminkan semua pokok-pokok kepemimpinan yang membuktikan bahwa kerajaan Tuhan dan pengendalian kerajaan sudah berfungsi selama ini di dunia. Perhatikanlah, yang harus dipahami sepenuhnya adalah setiap zarah (partikel) di muka  bumi tunduk kepada pengendalian Tuhan dan setiap partikel di alam semesta ini merupakan bagian dari kerajaan-Nya.   
     Sebagaimana terdapat manifestasi akbar di langit, akan begitu juga di muka bumi. Manifestasi di langit menyangkut masalah keruhanian. Umumnya manusia belum pernah naik ke langit dan menyaksikan manifestasi demikian, tetapi manifestasi kerajaan Tuhan di bumi ini jelas bisa dilihat mata semua manusia.
    Setiap mahluk hidup, betapa pun kayanya yang bersangkutan dan walau bertentangan dengan keinginannya sendiri  pasti akan mengalami maut (mati). Perhatikanlah bagaimana manifestasi sabda sang raja menjadi nyata di bumi ini yaitu ketika perintah-Nya datang maka tidak ada seorang pun akan mampu menunda kematiannya walaupun sedetik.
       Jika seseorang menderita penyakit yang fatal maka tidak akan ada dokter yang mampu menyembuhkannya. Renungkanlah bagaimana manifestasi kerajaan Tuhan di bumi dalam bentuk bahwa perintah-Nya tidak mungkin dibantah. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di bumi ini belum berwujud dan baru akan datang di kemudian hari?
     Pada masa kini, perintah Tuhan dari langit telah mengguncangkan bumi dengan telah datangnya wabah pes, agar hal ini menjadi tanda bagi kebenaran Al-Masih yang telah dijanjikan-Nya. Siapakah yang mampu mengatasinya tanpa perkenan-Nya? Karena itu bagaimana mungkin kita akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum ada di muka bumi?
   Para pendosa hidup di dunia ini laiknya seorang tahanan bumi dan mengharapkan akan hidup selamanya, namun kerajaan Tuhan akan menghancurkannya dengan mengirim malaikat maut untuk menjemputnya. Bagaimanakah akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum ada di dunia?  
      Setiap harinya melalui perintah Tuhan, berjuta manusia mati dan berjuta pula yang dilahirkan, berjuta manusia yang miskin menjadi kaya dan berjuta juga manusia kaya yang menjadi miskin. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di bumi ini belum berwujud dan baru akan datang di kemudian hari?
        Di langit hanya ada para malaikat, sedangkan di bumi ini terdapat manusia disamping juga para malaikat yang menjadi abdi dan pelayan kerajaan-Nya. Para malaikat ini yang mengawasi berbagai kelakuan manusia, patuh kepada Tuhan sepanjang waktu, serta mengirimkan laporan mereka kepada-Nya. Jadi, bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada kerajaan Tuhan di muka bumi?

Eksistensi Allah Swt.  Lebih Mudah Dikenal  Melalui  Berdaulatnya  “Kerajaan-Nya di  Bumi” & Kecaman Keras Yesus Kepada Para “Penyembahnya

      Tuhan terutama sekali dikenal melalui kerajaan-Nya di bumi karena semua orang menganggap bahwa misteri langit merupakan rahasia yang tidak bisa dibuktikan. Belum lama ini umat Kristen beserta para ahli filosofi mereka telah menyangkal adanya langit yang oleh Kitab Injil dijadikan sebagai dasar dari kerajaan Tuhan.
      Adapun di bumi yang berada di bawah tapak kaki kita bisa dilihat berbagai manifestasi beribu-ribu takdir Ilahi dan semua itu menyadarkan kita bahwa semua perubahan, kelahiran dan kematian adalah berdasar pengaturan dari suatu Wujud Penguasa. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di bumi ini belum berwujud.
       Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung tidak ada menyebut kata langit atau bumi dalam Surah Fatihah, namun Dia mengemukakan realitasnya kepada kita bahwa Tuhan itu bersifat Rabbul ‘Alamīn (Pencipta dan Pemelihara seluruh alam).  Dengan kata lain, melalui semua ciptaan, baik jiwa atau pun raganya, disimpulkan bahwa Tuhan itulah Pencipta dan Pemelihara semuanya serta Yang menghidupi dan mengurus mereka.
       Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi setiap saat di seluruh alam semesta. Perlu diperhatikan bahwa dengan istilah Māliki Yaumiddīn dalam Surah Fatihah tidak berarti bahwa ganjaran dan penghukuman hanya akan dilakukan pada Hari Penghisaban saja. Kitab suci Al-Quran telah berulangkali menjelaskan bahwa Hari Penghisaban memang merupakan saat pengganjaran akbar, hanya saja ada bentuk pengganjaran yang sudah dimulai di dunia ini sebagaimana diungkapkan dalam ayat:
اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا
Jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi kamu suatu pembeda (Al-Anfāl [8]:30).  (Kishti Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 34-39, London, 1984).
       Demikianlah penjelasan  Masih Mau’ud a.s.  --  yang juga merupakan penggenapan  nubuatan kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman ini  (Matius 24: 23-36) --  dalam rangka menegakkan kembali Tauhid Ilahi   yang sudah jauh menyimpang dari ajaran asli dalam Injil yang diwahyukan kepada beliau, sebagaimana kecaman keras beliau berikut ini:
7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,  melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku    yang di sorga.   7:22 Pada hari terakhir   banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23).
      Kecaman keras  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut sejalan dengan   jawaban beliau kepada Allah Swt.  dalam  firman-Nya berikut ini mengenai “penyembahan” para pengikutnya setelah beliau wafat:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾     
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya.    Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ --    Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah ke-pada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan  Rabb (Tuhan) kamu.”   Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala cEngkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.    اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  --  Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Māidah [5]:117-119).

Urutan Alamiah  Empat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah: (1) Māliki Yaumid-Dīn
   
     Selanjutnya Al-Masih Mau’ud a.s. menjelaskan hikmah urutan  keempat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah:
         “Dalam Surah Al-Fatihah, Allah Yang Maha Perkasa mengemukakan 4 dari Sifat-sifat-Nya yaitu Rabbul ‘ālamīn, Rahmān, Rahīm dan Māliki Yaumiddīn. Urutan  penyampaian Sifat-sifat itu merupakan urutan alamiah perwujudannya. Rahmat Ilahi dimanifestasikan di dunia dalam 4 bentuk. Yang pertama (Rabubiyat)  adalah rahmat yang berlaku sangat umum. Ini adalah Sifat yang merupakan rahmat mutlak yang melingkupi semua hal di langit dan di bumi tanpa membedakan mahluk hidup dengan benda mati.   
         Perwujudan segala hal dari keadaan ketiadaan yang kemudian berkembang menuju kesempurnaannya  adalah berkat dari rahmat (Rabubiyat) ini. Tidak ada yang berada di luar ruang lingkup rahmat ini. Semua jasmani dan ruhani dimanifestasikan  (diwujudkan) oleh dan melalui rahmat ini dan semuanya berkembang atau dikembangkan melalui rahmat tersebut.
      Rahmat (Rabubiyat) ini adalah inti kehidupan dari alam semesta. Jika rahmat ini dihentikan sesaat saja maka alam semesta ini akan berakhir, dan jika bukan karena rahmat ini maka tidak akan ada penciptaan. Dalam Al-Quran, sifat ini disebut sebagai Rabubiyat dan karena itu Allah disebut Rabbul ‘ālamīn sebagaimana dikatakan:
ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ
 Dia adalah Rabb (Tuhan) bagi segala sesuatu  (Al-An’ām [6]:165).
Tidak ada suatu pun di alam ini yang berada di luar rangkuman Sifat Rabubiyat-Nya.
       Jadi Sifat Rabbul ālamīn disebutkan dalam Surah Al-Fatihah sebagai yang pertama dari semua Sifat rahmat  Allah Swt.. Sifat ini memiliki prioritas alamiah, baik karena mewujud mendahului Sifat-sifat yang lain dan karena bersifat yang paling umum dalam ruang lingkupnya mengingat mencakup baik makhluk hidup maupun benda mati." (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 444-461, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 15 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar