Senin, 21 September 2015

Akibat Buruk "Kutukan" Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Pengkhianatan Bani Israil Terhadap "Tauhid Ilahi" yang Diamanatkan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ya'qub a.s. Kepada Seluruh Keturunannya


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 45

Akibat Buruk Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Pengkhianatan Bani Israil Terhadap   Tauhid Ilahi yang Diamanatkan  Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ya’qub a.s. Kepada Seluruh Keturunannya
  
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai ucapan Nabi Yehezkiel a.s.   dalam Bible  mengenai perumpamaan “perempuan yang selingkuh” (Yehezkiel 16:1-43)   – yang berdasarkan firman Allah Swt.    tersebut bukan sekedar peringatan dan celaan keras, tetapi juga merupakan nubuatan  yang pasti terjadi di kalangan Bani Israil sebagaimana dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran, sekali gus sebagai peringatan dan nubuatan pula bagi umat Islam (Bani Isma’il), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ  --   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ --  dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,  وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا -- dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا  --    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepadamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar  dari keadaan kamu sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ   --    Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri.  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ    --   Boleh jadi kini Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا  -- tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا  -- Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang kafir.  (Bani Israil [17]:5-9).

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

     Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa kedua azab Ilahi tersebut pada hakikatnya merupakan kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ  --   hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ --  Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ --  benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  --    Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ     -- dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ  --  yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal.  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ     -- Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi iniوَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ --   dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ     -- mereka sekali-kali  tidak akan mengambil  orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya, وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ    --  tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq. (Al-Māidah [5]:79-82).
        Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s.   dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi. Walau pun sebenarnya  terhadap Nabi Musa a.s., Nabi Harun a.s. dan para nabi Allah yang diutus sesudah keduanya  Bani Israil senantiasa bersikap buruk dan cenderung berlaku durhaka kepada Allah Swt. dan para rasul Allah (QS.2:54-56 & 88-89; QS.7:151; QS.20:84-100; QS.33:70; QS.61:6). 
       Penzaliman orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mencapai puncaknya, ketika beliau dipakukan pada  kayu salib (QS.4:158-159), dan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s.. dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu, tercermin di dalam Mazmur  beliau yang sangat merawankan hati. Dari lubuk hati yang penuh kepedihan, Nabi Daud  a.s.  dan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.  mengutuk mereka.

Yerusalem Dua Kali Dihancur-luluhkan Orang-orang Kafir & Maksud  “An-Nabi” (Nabi Itu)

      Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya, kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar, yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi, sedangkan akibat kutukan Nabi Isa a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu.
      Salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan amarah Tuhan atas kaum Yahudi ialah  mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang begitu merajalela di tengah-tengah mereka, serta menjadi bangsa-bangsa musyrik non  Bani Israil sebagai pelindung serta mengikuti kemusyrikan yang mereka lakukan.
     Perbuatan buruk itulah  yang di maksud dengan “perbuatan selingkuh” yang dilakukan Bani Israil dengan   orang-orang musyrik yang menyerang mereka, sebagaimana dikemukakan oleh Nabi  Yehezkiel a.s.   (Yehezkiel 16:1-43), firman-Nya: اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ  --  yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal.  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ     -- Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi iniوَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ --   dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ     -- mereka sekali-kali  tidak akan mengambil  orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya, وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ    --  tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq. (Al-Māidah [5]:81-82).

Nabi Besar Muhammad saw. Adalah “Nabi Itu” Dalam Taurat

       Nabi Allah  yang dimaksudkan di dalam ayat: وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ     -- Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi iniوَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ --   dan kepada apa yang diturunkan kepadanya”    adalah Nabi Besar Muhammad saw., sebab manakala dalam Al-Quran kata An-Nabi dipergunakan, kata itu selalu merujuk kepada beliau saw.. Bahkan Injil pun menunjuk kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “Nabi itu” (Yahya 1:21 & 25), yakni, Nabi yang kedatangannya telah dikabarkan dalam Ulangan 18:18,  yakni Nabi yang seperti Musa, firman-Nya:
قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ  وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya  وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ  -- dan   seorang saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia beriman  وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ --  tetapi kamu berlaku sombong?" اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ   -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim  (Al-Ahqāf 46:11).
   Ayat ini yang didukung oleh Ulangan 18:18 menunjuk kepada kedatangan seorang nabi Allah dari antara Bani Isma’il   -- yang merupakan saudara Bani Israil -- yang   menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat turunnya nabi Allah, yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa a.s. itu, dan juga  merujuk kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya.
   Nubuatan yang bersangkutan adalah sebagai berikut: "Bahwa inilah firman akan hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).

Amanat Nabi Ibrahim  a.s. dan Nabi Ya’qub a.s. Kepada Keturunannya

  Pendek kata mengisyaratkan  kepada akibat buruk “perselingkuhan” dengan orang-orang musyrik non Bani Israil  yang  digambarkan  oleh Nabi Yehezkiel a.s. (Yehezkiel 16:1-43),   maka di kalangan Bani Israil pun telah timbul berbagai bentuk kemusyrikan  yang benar-benar bertentangan dengan Tauhid Ilahi yang diwasiyatkan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Yaq’ub a.s. kepada semua keturunannya  termasuk Bani Israil, firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ  اِبۡرٰہٖمَ  اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾ اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ  اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ  بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ  اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan siapakah yang berpaling dari agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri?  Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah me-milihnya di dunia dan sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk orang-orang yang saleh. اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ  اَسۡلِمۡ   --   Ingatlah ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”, قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  --  ia berkata:  Aku telah berserah diri kepada Rabb (Tuhan) seluruh  alam.” وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ  بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ  --  Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub  seraya  berkata: یٰبَنِیَّ  اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ   --  “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kamu, فَلَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ --   maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.” (Al-Baqarah [2]:131-133).
         Berbagai bentuk dari kata safiha, safaha dan safuha dalam ayat:  وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ  اِبۡرٰہٖمَ  اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ   -- “Dan siapakah yang berpaling dari agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri” mempunyai arti yang berbeda, safiha berarti: ia jahil, bodoh atau kurang akal. Jika kata itu dipakai bersama dengan nafsahu, seolah-olah sebagai pelengkapnya seperti dalam ayat ini, kata itu tidak sungguh-sungguh menjadi transitif (berpelengkap), hanya nampaknya saja demikian (Lisan-ul-‘Arab dan Al- Mufradat). Kata-kata itu berarti juga  “yang telah membinasakan jiwanya sendiri.”
        Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa karena tidak ada saat ditentukan untuk mati, maka orang hendaknya setiap saat menjalani kehidupannya dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt.   Ayat ini dapat pula berarti bahwa orang beriman sejati hendaknya begitu sepenuhnya berserah diri kepada kehendak Ilahi dan meraih keridhaan-Nya begitu sempurna, sehingga Allah Swt.  dengan Sifat Rahīmiyat-Nya (kasih-sayang-Nya)  yang tidak terbatas, akan mengatur demikian rupa sehingga kematian akan datang kepadanya pada saat ketika ia berserah  diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.

Keraguan Nabi Ya’qub a.s. Terhadap Keteguhan Janji   Keturunannya

        Itulah makna amanat  Nabi Ibrahim a.s. dan juga Nabi Ya’qub a.s.: یٰبَنِیَّ  اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ   --  “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kamu, فَلَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ --   maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.”   (Al-Baqarah [2]:133).
      Dalam ayat selanjutnya  nampak bahwa dalam diri  Nabi Ya’qub a.s. ada kegelisahan   mengenai kepercayaan keturunan beliau  kepada  Tauhid Ilahi  -- kecuali terhadap Nabi Yusuf a.s.   (QS.12:4-7; QS.40:35-36)   -- itulah sebabnya ketika Nabi Ya’qub a.s. akan wafat di Mesir  beliau  telah menegaskan kembali pentingnya  memegang teguh amanat dari Nabi Ibrahim a.s. tersebut, firman-Nya:
اَمۡ کُنۡتُمۡ  شُہَدَآءَ  اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ  قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ  وَ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ  اِسۡحٰقَ  اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah  kamu hadir  saat kematian menjelang Ya’qub ketika ia berkata kepada anak-anaknya: مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ   -- “Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?”  قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ  وَ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ  اِسۡحٰقَ  اِلٰـہًا وَّاحِدًا --  Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau:  Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa, وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ --  dan hanya  kepada-Nya kami berserah  diri.” تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ   --  Itulah umat yang telah berlalu, baginya apa yang mereka usahakan dan bagi kamu apa yang kamu usahakan, وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ  -- dan kamu tidak akan dimintai tanggungjawab mengenai apa yang senantiasa mereka kerjakan. (Al-Baqarah [2]:134-135).
       Nabi Isma’il a.s.   itu uwa (pakde - jw.) Nabi Ya’qub a.s. , namun demikian di sini anak-anak Nabi Ya’qub a.s.   mencakupkan juga Nabi Isma’il a.s.  di antara “bapak-bapak” mereka, hal itu menunjukkan bahwa kata ab kadang-kadang berarti pula uwa (paman).  Anak-anak Nabi Ya’qub a.s.. — kaum Bani Isra’il — sangat menghormati Nabi Isma’il a.s..:  
Pada waktu ayah kami Ya’qub meninggal dunia, beliau memanggil kepada duabelas putranya, dan berkata kepada mereka: Dengarlah akan perkataan bapakmu Israil” (Kejadian 49:2).
Apakah kamu masih mempunyai suatu keraguan dalam hatimu mengenai Yang Suci? Mubaraklah Dia”. Mereka berkata: “Dengarlah hai Israil, ayah kami, sebagaimana tiada keraguan di dalam hati Anda, demikian pula tiada dalam hati kami. Sebab Junjungan itu Tuhan kami dan Dia Tunggal.” (Mider Rabbah on Gen. par. 98 & on Deut. par.2). Bandingkan pula Targ. Jer. on Deut. 6:4.

Masuknya Kemusyrikan di Kalangan  Bani Israil  (Ahli Kitab)

     Kedua belas putra Nabi Ya’qub a.s. adalah: Rubin, Simeon, Levi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, Yusuf, Benyamin, Dan, Naftali, Gad dan Asyer (Kejadian 35:23-26, 49: 28).  Namun dalam kenyataannya amanat Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Yaqub a.s. tersebut benar-benar dilupakan oleh mereka,  firman-Nya:
وَ قَالُوۡا کُوۡنُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی تَہۡتَدُوۡا ؕ قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ  اِبۡرٰہٖمَ  حَنِیۡفًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾
Dan mereka berkata:  Jadilah kamu Yahudi atau Nasrani, barulah kamu akan mendapat petunjuk.” قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ  اِبۡرٰہٖمَ  حَنِیۡفًا -- Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah agama Ibrahim yang lurusوَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ --   dan  ia sekali-kali bukan dari golongan  orang-orang musyrik.” (Al-Baqarah [2]:136).
        Hanīf dalam ayat قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ  اِبۡرٰہٖمَ  حَنِیۡفًا -- Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah agama Ibrahim yang lurus berarti: (1) orang yang berpaling dari kesesatan lalu memilih petunjuk (Al-Mufradat); (2) orang yang dengan tetapnya mengikuti agama yang benar dan tidak pernah menyimpang darinya; (3) orang yang hatinya condong kepada Islam dengan sempurna dan tetap teguh di dalamnya (Lexicon Lane); (4) orang yang mengikuti agama Nabi Ibrahim a.s. (Al-Aqrab-ul-Mawarid); (5) orang yang beriman kepada semua nabi (Tafsir Ibnu Katsir).
     Kemudian mengenai  akibat buruk “perselingkuhan” orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil  dengan orang-orang musyrik tersebut,  Allah Swt berfirman: 
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ  --  “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata:  الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ --  “Al-Masih adalah  anak  Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ   -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ  -- mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.  ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ --  Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ  -- padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Diaسُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ --  Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukanیُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ    --   Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ   --      Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ – walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya.   (At-Taubah  [9]:30-33).

Upaya Sia-sia Memadamkan    “Nur Ilahi”  Paling Sempurna yang Dinyalakan Allah Swt.

     ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi.
       Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Bani  Israil. Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting.
   Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s... Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia & Encyclopaedia Biblica).
       Ahbar dalam ayat اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ   -- “Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,”  adalah ulama-ulama Yahudi dan ruhban adalah para rahib agama Nasrani.
     Makna ayat  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ    --   Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka”  orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka  mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt. melalui  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.    di tanah Arab.
      Orang-orang Yahudi pun pernah berupaya semacam itu, dengan menghasut orang-orang penguasa kerajaan  Parsi (Kisra) untuk bangkit melawan Nabi Besar Muhammad saw..  Selanjutnya Allah Swt. berfirman: ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ   --      Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ – walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya” (At-Taubah  [9]:30-33), lihat pula QS.61:10.
       Para mufassir (ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.,  kemenangan Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s. (Tafsir Ibnu Jarir), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bangkit dan akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
       Cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan masuk ke dalam haribaan Islam dalam jumlah besar (QS.110:1-4).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 20  September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar