بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 45
Akibat Buruk Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Pengkhianatan Bani Israil Terhadap Tauhid
Ilahi yang Diamanatkan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ya’qub a.s. Kepada
Seluruh Keturunannya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
ucapan Nabi Yehezkiel a.s. dalam Bible mengenai perumpamaan “perempuan yang selingkuh” (Yehezkiel 16:1-43) – yang
berdasarkan firman Allah Swt. tersebut
bukan sekedar peringatan dan celaan keras, tetapi juga merupakan nubuatan yang pasti
terjadi di kalangan Bani Israil sebagaimana
dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran, sekali gus sebagai peringatan dan nubuatan
pula bagi umat Islam (Bani Isma’il),
firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ
اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ
عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا
جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya
kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- Apabila datang saat sempurnanya janji
yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan
untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat,
فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- dan mereka
menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan itu merupakan
suatu janji yang pasti terlaksana. ثُمَّ
رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا -- Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepadamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
keadaan kamu sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri, وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat
buruk maka itu untuk diri kamu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan
lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka
mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ -- Boleh jadi kini Rabb (Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا -- tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah,
وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا --
Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang kafir. (Bani Israil [17]:5-9).
Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s.
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran
bahwa kedua azab Ilahi tersebut pada
hakikatnya merupakan kutukan Nabi
Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ
ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ
النَّبِیِّ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا
اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari
kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
ذٰلِکَ
بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ -- hal
demikian itu karena mereka
senantiasa durhaka dan melampaui
batas. کَانُوۡا لَا
یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ -- Mereka tidak
pernah saling mencegah
dari kemungkaran yang dikerjakannya,
لَبِئۡسَ
مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- benar-benar
sangat buruk apa yang senantiasa
mereka kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا -- Engkau
melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung, لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ -- dan benar-benar sangat buruk apa yang
telah mereka dahulukan bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ -- Dan seandainya mereka
beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini, وَ مَاۤ
اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ -- dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, مَا
اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ -- mereka sekali-kali tidak akan mengambil orang-orang itu sebagai
pelindung-pelindungnya, وَ لٰکِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- tetapi kebanyakan
mereka adalah orang-orang fasiq.
(Al-Māidah
[5]:79-82).
Dari
antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong
paling menderita di tangan
orang-orang Yahudi. Walau pun sebenarnya
terhadap Nabi Musa a.s., Nabi Harun a.s. dan para nabi Allah yang diutus sesudah
keduanya Bani Israil senantiasa bersikap
buruk dan cenderung berlaku durhaka
kepada Allah Swt. dan para rasul Allah (QS.2:54-56 & 88-89;
QS.7:151; QS.20:84-100; QS.33:70; QS.61:6).
Penzaliman
orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mencapai puncaknya, ketika beliau
dipakukan pada kayu salib (QS.4:158-159), dan penderitaan
serta kepapaan yang dialami oleh Nabi
Daud a.s.. dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu, tercermin
di dalam Mazmur beliau yang
sangat merawankan hati. Dari lubuk hati
yang penuh kepedihan, Nabi Daud a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengutuk
mereka.
Yerusalem Dua Kali Dihancur-luluhkan
Orang-orang Kafir & Maksud “An-Nabi” (Nabi Itu)
Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab
sebelumnya, kutukan Nabi Daud a.s.
mengakibatkan orang-orang Bani
Israil dihukum oleh Nebukadnezar,
yang menghancurluluhkan Yerusalem dan
membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi,
sedangkan akibat kutukan Nabi Isa
a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus
yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai
rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi
— binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah
itu.
Salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan amarah Tuhan atas kaum Yahudi
ialah mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang begitu merajalela
di tengah-tengah mereka, serta menjadi bangsa-bangsa
musyrik non Bani Israil sebagai pelindung
serta mengikuti kemusyrikan yang
mereka lakukan.
Perbuatan buruk itulah yang di maksud dengan “perbuatan selingkuh” yang dilakukan Bani Israil dengan orang-orang musyrik yang menyerang
mereka, sebagaimana dikemukakan oleh Nabi
Yehezkiel a.s. (Yehezkiel
16:1-43), firman-Nya: اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. وَ لَوۡ کَانُوۡا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ -- Dan seandainya mereka
beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini, وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ -- dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ -- mereka
sekali-kali tidak akan mengambil orang-orang
itu sebagai pelindung-pelindungnya, وَ لٰکِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- tetapi kebanyakan
mereka adalah orang-orang fasiq.
(Al-Māidah
[5]:81-82).
Nabi Besar Muhammad saw. Adalah “Nabi Itu” Dalam Taurat
Nabi
Allah yang dimaksudkan di dalam ayat:
وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ
النَّبِیِّ -- Dan seandainya mereka
beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini, وَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡہِ -- dan kepada apa yang diturunkan kepadanya” adalah Nabi Besar Muhammad saw., sebab
manakala dalam Al-Quran kata An-Nabi dipergunakan, kata itu selalu
merujuk kepada beliau saw.. Bahkan Injil
pun menunjuk kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “Nabi itu” (Yahya 1:21 & 25), yakni, Nabi yang kedatangannya telah dikabarkan dalam Ulangan 18:18, yakni Nabi
yang seperti Musa, firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran
ini dari Allah dan kamu tidak
percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ -- dan
seorang saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya lalu ia
beriman وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- tetapi kamu
berlaku sombong?" اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Al-Ahqāf 46:11).
Ayat ini yang didukung oleh Ulangan
18:18 menunjuk kepada kedatangan seorang nabi
Allah dari antara Bani Isma’il -- yang merupakan saudara Bani Israil -- yang menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat turunnya nabi Allah, yang akan mempunyai persamaan
dengan Nabi Musa a.s. itu, dan juga merujuk kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya.
Nubuatan yang bersangkutan adalah sebagai
berikut: "Bahwa inilah firman akan
hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang
Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang
isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).
Amanat Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi
Ya’qub a.s. Kepada Keturunannya
Pendek kata mengisyaratkan kepada akibat buruk “perselingkuhan” dengan orang-orang
musyrik non Bani Israil yang
digambarkan oleh Nabi Yehezkiel
a.s. (Yehezkiel 16:1-43), maka di kalangan Bani Israil pun telah timbul berbagai bentuk kemusyrikan yang benar-benar
bertentangan dengan Tauhid
Ilahi yang diwasiyatkan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Yaq’ub a.s. kepada semua keturunannya termasuk Bani
Israil, firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ اِبۡرٰہٖمَ اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ
اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی
الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾ اِذۡ قَالَ
لَہٗ رَبُّہٗۤ اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan siapakah yang berpaling dari agama Ibrahim
selain orang yang memperbodoh dirinya
sendiri? Dan sungguh Kami benar-benar telah me-milihnya di dunia dan
sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk
orang-orang yang saleh. اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ اَسۡلِمۡ -- Ingatlah ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”, قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- ia
berkata: ”Aku telah berserah diri kepada Rabb
(Tuhan) seluruh alam.” وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ -- Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian
kepada anak-anaknya dan demikian
pula Ya’qub seraya
berkata: یٰبَنِیَّ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ
الدِّیۡنَ -- “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kamu,
فَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- maka janganlah kamu mati kecuali dalam
keadaan berserah diri.” (Al-Baqarah [2]:131-133).
Berbagai bentuk dari kata safiha, safaha
dan safuha dalam ayat: وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ اِبۡرٰہٖمَ اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ -- “Dan siapakah
yang berpaling dari agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri” mempunyai arti yang
berbeda, safiha berarti: ia jahil, bodoh atau kurang akal. Jika kata itu
dipakai bersama dengan nafsahu, seolah-olah sebagai pelengkapnya seperti
dalam ayat ini, kata itu tidak sungguh-sungguh menjadi transitif
(berpelengkap), hanya nampaknya saja demikian (Lisan-ul-‘Arab dan Al- Mufradat). Kata-kata itu berarti juga “yang
telah membinasakan jiwanya sendiri.”
Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa karena tidak ada saat ditentukan untuk mati,
maka orang hendaknya setiap saat
menjalani kehidupannya dengan berserah
diri sepenuhnya kepada Allah Swt.
Ayat ini dapat pula berarti
bahwa orang beriman sejati hendaknya
begitu sepenuhnya berserah diri
kepada kehendak Ilahi dan meraih keridhaan-Nya begitu sempurna, sehingga
Allah Swt. dengan Sifat Rahīmiyat-Nya (kasih-sayang-Nya) yang tidak terbatas, akan mengatur demikian rupa sehingga kematian
akan datang kepadanya pada saat ketika ia berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.
Keraguan Nabi Ya’qub a.s. Terhadap Keteguhan
Janji Keturunannya
Itulah makna amanat Nabi Ibrahim a.s. dan juga Nabi Ya’qub a.s.: یٰبَنِیَّ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ
الدِّیۡنَ -- “Hai anak-anakku,
sesungguhnya Allah telah memilih agama
ini bagi kamu, فَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- maka janganlah kamu mati kecuali dalam
keadaan berserah diri.” (Al-Baqarah [2]:133).
Dalam ayat selanjutnya nampak
bahwa dalam diri Nabi Ya’qub a.s. ada kegelisahan mengenai kepercayaan keturunan beliau kepada
Tauhid Ilahi -- kecuali terhadap Nabi Yusuf a.s. (QS.12:4-7;
QS.40:35-36) -- itulah sebabnya ketika
Nabi Ya’qub a.s. akan wafat di Mesir
beliau telah menegaskan kembali
pentingnya memegang teguh amanat dari Nabi Ibrahim a.s. tersebut, firman-Nya:
اَمۡ کُنۡتُمۡ شُہَدَآءَ اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ
الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ
اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ
خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا
کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا
کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا
تُسۡـَٔلُوۡنَ
عَمَّا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah kamu hadir
saat kematian menjelang Ya’qub
ketika ia berkata kepada anak-anaknya:
مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ -- “Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?”
قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ اِلٰـہًا وَّاحِدًا -- Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim,
Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa,
وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ -- dan hanya
kepada-Nya kami berserah diri.” تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا
کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ -- Itulah umat yang telah berlalu, baginya apa yang mereka usahakan dan bagi kamu
apa yang kamu usahakan, وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ
عَمَّا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ -- dan kamu tidak akan dimintai tanggungjawab
mengenai apa yang senantiasa mereka
kerjakan. (Al-Baqarah [2]:134-135).
Nabi
Isma’il a.s. itu uwa (pakde
- jw.) Nabi Ya’qub a.s. , namun demikian di sini anak-anak Nabi Ya’qub a.s. mencakupkan
juga Nabi Isma’il a.s. di
antara “bapak-bapak” mereka, hal itu
menunjukkan bahwa kata ab kadang-kadang berarti pula uwa (paman). Anak-anak Nabi Ya’qub a.s.. — kaum
Bani Isra’il — sangat menghormati Nabi Isma’il a.s..:
“Pada waktu ayah kami Ya’qub meninggal dunia, beliau memanggil kepada
duabelas putranya, dan berkata kepada mereka: Dengarlah akan perkataan bapakmu
Israil” (Kejadian 49:2).
“Apakah kamu masih mempunyai
suatu keraguan dalam hatimu mengenai Yang Suci? Mubaraklah Dia”. Mereka berkata: “Dengarlah hai Israil, ayah kami, sebagaimana tiada keraguan di dalam hati Anda, demikian pula tiada dalam hati kami. Sebab Junjungan itu Tuhan kami dan Dia Tunggal.” (Mider Rabbah on Gen. par. 98 & on Deut.
par.2). Bandingkan pula Targ. Jer. on
Deut. 6:4.
Masuknya Kemusyrikan di
Kalangan Bani Israil (Ahli Kitab)
Kedua belas putra Nabi Ya’qub a.s. adalah: Rubin, Simeon,
Levi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, Yusuf,
Benyamin, Dan, Naftali, Gad dan Asyer (Kejadian
35:23-26, 49: 28). Namun dalam
kenyataannya amanat Nabi Ibrahim a.s.
dan Nabi Yaqub a.s. tersebut benar-benar dilupakan
oleh mereka, firman-Nya:
وَ قَالُوۡا کُوۡنُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ
نَصٰرٰی تَہۡتَدُوۡا ؕ قُلۡ بَلۡ
مِلَّۃَ اِبۡرٰہٖمَ حَنِیۡفًا ؕ وَ مَا
کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾
Dan mereka
berkata: “Jadilah kamu Yahudi atau Nasrani, barulah kamu akan mendapat petunjuk.” قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ اِبۡرٰہٖمَ حَنِیۡفًا -- Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah
agama Ibrahim yang lurus, وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan ia
sekali-kali bukan dari golongan orang-orang musyrik.” (Al-Baqarah
[2]:136).
Hanīf dalam ayat قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ اِبۡرٰہٖمَ حَنِیۡفًا -- Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah
agama Ibrahim yang lurus”, berarti:
(1) orang yang berpaling dari kesesatan
lalu memilih petunjuk (Al-Mufradat); (2) orang yang
dengan tetapnya mengikuti agama yang
benar dan tidak pernah menyimpang
darinya; (3) orang yang hatinya condong
kepada Islam dengan sempurna dan tetap teguh di dalamnya (Lexicon
Lane); (4) orang yang mengikuti
agama Nabi Ibrahim a.s. (Al-Aqrab-ul-Mawarid);
(5) orang yang beriman kepada semua nabi (Tafsir Ibnu Katsir).
Kemudian mengenai akibat buruk “perselingkuhan” orang-orang kafir dari
kalangan Bani Israil dengan orang-orang
musyrik tersebut, Allah Swt
berfirman:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ -- “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ اللّٰہِ -- “Al-Masih
adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.
ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ -- Allah
membinasakan mereka, bagaimana mereka
sampai dipalingkan dari Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah,
dan begitu juga Al-Masih ibnu
Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- padahal
mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada
Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ -- Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ – walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
Upaya Sia-sia Memadamkan “Nur
Ilahi” Paling Sempurna yang
Dinyalakan Allah Swt.
‘Uzair
atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan
Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam
Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai
pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi.
Beliau mendapat kehormatan khas
di antara nabi-nabi Bani Israil. Orang-orang Yahudi di Medinah dan
suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi
(pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa
lembaga-lembaga penting.
Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap
berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat
itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s... Beliau bekerjasama dengan
Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia & Encyclopaedia Biblica).
Ahbar dalam ayat اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- “Mereka telah menjadikan ulama-ulama
mereka dan rahib-rahib mereka sebagai
tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu
juga Al-Masih ibnu Maryam,” adalah ulama-ulama Yahudi dan ruhban
adalah para rahib agama Nasrani.
Makna ayat
یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- “Mereka berkehendak
memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka” orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt. melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di
tanah Arab.
Orang-orang Yahudi pun pernah
berupaya semacam itu, dengan menghasut
orang-orang penguasa kerajaan Parsi (Kisra) untuk bangkit melawan Nabi
Besar Muhammad saw.. Selanjutnya Allah
Swt. berfirman: ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ -- Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ – walau pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya” (At-Taubah [9]:30-33), lihat pula QS.61:10.
Para mufassir
(ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa,
seperti dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw., kemenangan
Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s. (Tafsir Ibnu Jarir), manakala semua
agama yang beraneka ragam akan
bangkit dan akan berusaha
sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran
mereka sendiri.
Cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam
akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan
masuk ke dalam haribaan Islam dalam
jumlah besar (QS.110:1-4).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 20 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar