Senin, 07 September 2015

"Makrifat Ilahi" Paling Sempurna Dalam Al-Quran & "Intan Permata" Hakiki yangHarus Dimiliki Manusia


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 31

Makrifat Ilahi  Paling Sempurna     Dalam Al-Quran & “Intan Permata” Hakiki   yang Harus Dimiliki Manusia

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai Masih Mau’ud a.s. – Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah   -- yang menjelaskan keyakinannya  -- berdasarkan pengalamannya sendiri -- tentang  Wujud Allah Swt., Tuhan Yang Maha Gaib:
       “Manusia tidak memiliki kemampuan guna memahami keseluruhan   aktivitas (kegiatan) Ilahi. Semuanya berada di luar jangkauan intelektual, penalaran dan khayalan mereka. Karena itu tidak seharusnya manusia berbangga hati atas sekelumit pengetahuan yang dimilikinya bahwa ia sedikit memahami sistem dari sebab dan akibat, padahal pengetahuannya itu masih amat sangat terbatas, tak ubahnya satu per sejuta bagian dari satu titik air di samudra.
       Pada hakikatnya karena Allah Yang Maha Perkasa itu tidak ada batasnya maka aktivitas-Nya pun tanpa batas juga. Sama sekali di luar dan di atas kemampuan manusia untuk mengetahui realitas dari setiap kegiatan Tuhan.   Jika kita renungi Sifat-sifat-Nya Yang Maha Abadi, sekurang-kurangnya kita bisa meyakini bahwa sebagaimana Sifat-sifat Ilahi itu tidak pernah usang maka dalam ciptaan Tuhan  pun ada beberapa spesi makhluk yang selalu mewujud, tetapi mengatakan bahwa mereka eksis (ada) dengan sendirinya adalah suatu hal tidak benar. Juga harus diingat bahwa sebagaimana Sifat penciptaan-Nya, maka Sifat menghancurkan-Nya juga selalu berlaku sepanjang waktu dan Sifat ini tidak akan pernah menjadi usang.
      Para filosof telah berupaya dengan segala daya untuk merangkum penciptaan  unsur-unsur langit dan bumi ke dalam lingkup pengetahuan hukum fisika mereka dan dari sana mencoba menentukan bagaimana Sumber dari semua penciptaan, namun nyatanya mereka tidak pernah berhasil.
      Apa pun yang telah berhasil mereka kumpulkan dari telaah dan riset fisika mereka, masih saja tidak akan sempurna dan mengandung cacat, itulah sebabnya mereka tidak pernah bisa bertahan pada satu teori sepanjang masa dan selalu saja terjadi perubahan pandangan. Dan karena telaah yang mereka lakukan semata-mata didasarkan pada kemampuan penalaran mereka dan dengan cara menduga-duga serta tidak mendapat bantuan dari Allah Swt.,   maka mereka tidak pernah berhasil keluar dari kungkungan kegelapan yang meliputi mereka.
        Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengenali Tuhan-nya sampai ia memahami bahwa tidak terbilang kegiatan Ilahi yang sama sekali berada di luar kemampuan penalaran dan dugaan manusia. Sebelum mencapai tahapan pemahaman demikian, maka orang tersebut kalau bukan seorang atheis  -- yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan -- atau ia itu percaya kepada Tuhan, tetapi dalam Wujud yang merupakan hasil rekaan fikirannya sendiri,   bukan Tuhan yang memanifestasikan Wujud-Nya beserta segala rahasia Diri-Nya yang demikian banyak, sehingga berada di luar kemampuan manusia untuk meresapinya.   
       Karena Allah  Swt. sudah menganugrahkan kepada diriku pengetahuan mengenai kekuasaan-Nya yang memiliki kedalaman berlapis-lapis dan berada di luar kemampuan pemikiran, maka aku selalu menganggap para filosof tersebut sebagai orang-orang yang tidak beriman dan atheis yang tersembunyi.       Adalah dari hasil pengamatanku sendiri dan aku memang ada menyaksikan perwujudan kekuasaan Ilahi yang demikian luar biasa, sehingga hanya bisa dikatakan bahwa semuanya itu merupakan sesuatu yang eksis (nyata) yang dihasilkan oleh suatu keadaan yang non-eksis.
       Aku sudah menguraikan beberapa mukjizat tersebut di tempat lain. Mereka yang tidak memperhatikan keajaiban Ilahi tersebut sama saja dengan orang yang tidak memperhatikan apa pun. Kami tidak percaya kepada sosok Tuhan yang kemampuan-Nya dibatasi oleh logika dan spekulasi kita sendiri. Kami beriman kepada Allah Yang kekuasaan-Nya -- sebagaimana juga Wujud-Nya --  sebagai sesuatu yang tanpa batas, tanpa bisa disekat atau dikotak-kotakkan dan tanpa akhir.”  (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm. 280-282, London, 1984).

Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. Kepada Para  Rasul-Nya

        Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut merupakan bukti kebenaran firman Allah Swt. berikut ini:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti: diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting. Contohnya pemberitahuan rahasia Al-Asmā Allah Swt. kepada Adam – Khalifah Allah (QS.2:31-35), yakni rasul Allah (QS.3:180).
 Ayat-ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah  dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa  lainnya. Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah  dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.

Hubungan Makrifat Ilahi dengan Upaya Pensucian Akhlak dan Ruhani

  Mengenai pentingnya memiliki makrifat Ilahi yang memadai  guna meraih kehidupan suci, yang untuk tujuan tersebut Allah Swt. mengutus  para Rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62L3-4)  --  selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
       “Kehidupan suci yang bebas dari dosa adalah intan permata yang tidak ada dimiliki manusia sekarang. Allah Yang Maha Perkasa telah menganugrahkan intan permata itu kepadaku dan Dia telah mengutus aku untuk menyampaikan kepada dunia mengenai cara-cara untuk memperoleh intan permata tersebut.
      Aku bersumpah dengan penuh keyakinan bahwa dengan menempuh jalan ini maka setiap orang akan bisa mendapatkannya. Satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan mengenali Tuhan secara benar, namun hal ini merupakan hal yang sulit dan rumit. Sebagaimana telah aku kemukakan, seorang filosof yang merenungi langit dan bumi serta menyadari keteraturan yang sempurna   alam semesta, hanya akan mengatakan bahwa kemungkinan ada sosok Pencipta. Tetapi aku melangkah ke tingkat yang lebih  tinggi dan menyatakan berdasarkan pengalaman pribadiku bahwa Tuhan itu benar-benar  ada.”  (Malfuzat, jld. III, hlm. 16).
Lebih lanjut beliau a.s. menjelaskan:
       “Tuhan kami adalah surga kami. Kesenangan yang tertinggi adalah bersama Allah  Swt. karena kami telah berjumpa  dengan Dia dan telah melihat semua kecantikan dalam Wujud-Nya. Ini adalah khazanah kekayaan yang layak dicari meski harus menyerahkan nyawa untuk memperolehnya. Ini adalah intan permata yang patut dibeli walaupun harus melepas nyawa guna menebusnya.
        Wahai kalian yang kehilangan harapan, marilah ke Sumber mata air ini dan kalian akan dipuaskan. Dia merupakan Sumber mata air kehidupan yang akan menyelamatkan kalian. Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana aku bisa mengesankan kepada hati kalian bahwa ini adalah kabar gembira
       Genderang apakah yang harus aku tabuh untuk mengumumkan agar manusia mau mendengar bahwa inilah Tuhan kita? Obat apakah yang harus aku gunakan untuk membuka telinga manusia agar mereka mau mendengar?”  (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 21-22, London, 1984).
      Mengisyaratkan kepada pengalaman pribadi seperti itu pulalah jawaban Nabi  Nuh a.s. berikut ini kepada  para pemuka kaum beliau yang  mendustakan dan menentang  pendakwaan beliau, firman-Nya:
فَقَالَ الۡمَلَاُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَوۡمِہٖ مَا نَرٰىکَ اِلَّا بَشَرًا مِّثۡلَنَا وَ مَا نَرٰىکَ اتَّبَعَکَ اِلَّا الَّذِیۡنَ ہُمۡ اَرَاذِلُنَا بَادِیَ الرَّاۡیِ ۚ وَ مَا نَرٰی لَکُمۡ  عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍۭ  بَلۡ  نَظُنُّکُمۡ  کٰذِبِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ یٰقَوۡمِ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کُنۡتُ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّیۡ  وَ اٰتٰىنِیۡ رَحۡمَۃً مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَعُمِّیَتۡ عَلَیۡکُمۡ ؕ اَنُلۡزِمُکُمُوۡہَا وَ اَنۡتُمۡ لَہَا کٰرِہُوۡنَ ﴿﴾ 
Maka   pemuka-pemuka yang kafir dari kalangan kaumnya berkata: مَا نَرٰىکَ اِلَّا بَشَرًا مِّثۡلَنَا وَ مَا نَرٰىکَ اتَّبَعَکَ اِلَّا الَّذِیۡنَ ہُمۡ اَرَاذِلُنَا بَادِیَ الرَّاۡیِ  --  “Kami sama sekali tidak memandang engkau melainkan seorang manusia seperti kami, dan  kami sama sekali tidak melihat mereka yang mengikuti engkau melainkan orang-orang yang keadaan lahirnya paling hina di antara kami. وَ مَا نَرٰی لَکُمۡ  عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍۭ  بَلۡ  نَظُنُّکُمۡ  کٰذِبِیۡنَ  -- Dan tidak kami lihat pada kamu suatu pun kelebihan atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah pendusta.” قَالَ یٰقَوۡمِ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کُنۡتُ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّیۡ    --  Ia (Nuh) berkata: “Hai kaumku, bagaimana pandangan kamu, jika aku berdiri atas suatu Tanda yang nyata dari Rabb-ku (Tuhan-ku), وَ اٰتٰىنِیۡ رَحۡمَۃً مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَعُمِّیَتۡ عَلَیۡکُمۡ ؕ   --  dan Dia telah menganugerahkan  kepadaku rahmat dari sisi-Nya tetapi itu tetap saja tidak jelas (samar)  bagi kamu? اَنُلۡزِمُکُمُوۡہَا وَ اَنۡتُمۡ لَہَا کٰرِہُوۡنَ --  Apakah  kami akan memaksakannya  kepada kamu, sedangkan  kamu tidak menyukainya?”    (Hūd [11]:28-29).
       Seperti jawaban Nabi Nuh a.s.  demikian pula  Nabi Shalih a.s. dan Nabi Syu’aib a.s. pun mengucapkan  jawaban  yang sama  kepada  para pemuka kaumnya (QS.11:64 & 89), yaitu  bahwa makrifat Ilahi   yang dimiliki oleh para Rasul Allah tersebut bukanlah sekedar dugaan atau hipotesa yang tidak pasti  kebenarannya seperti para filosof, melainkan berdasarkan pengalaman pribadi  dalam tingkatan haqqul-yaqin, bukan tingkatan ‘ilmul-yaqin  seperti halnya para filosof yang menduga adanya  nyala api karena melihat asap yang mengepul.
  
Ketauhidan Tuhan Menurut Ajaran Al-Quran

        Dari seluruh Kitab syariat  yang diwahyukan Allah Swt. kepada para Rasul Allah pembawa syariat, Kitab yang paling sempurna  yang menelaskan  makrifat Ilahi adalah  Al-Quran. Mengenai hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
        “Kitab Suci Al-Quran terdiri dari petunjuk-petunjuk yang mengarah kepada kasih Allah Swt.. Firman-firman itu menggambarkan keindahan Wujud-Nya dan mengingatkan akan kerahiman-Nya, dimana kecintaan kepada Tuhan tercipta melalui penghayatan keindahan itu atau karena menyadari kerahiman tersebut.
       Al-Quran mengajarkan bahwa dengan memperhatikan segala kemuliaan-Nya maka disimpulkan kalau Tuhan itu Maha Esa tanpa sekutu. Dia tidak memiliki cacat apa pun. Dia merangkum segala Sifat yang baik dan memanifestasikan semua kekuatan suci-Nya. Dia adalah Sumber   segala ciptaan dan Mata air  berkat. Dia adalah Pemilik   semua ganjaran dan segala-galanya akan kembali kepada-Nya.
       Dia itu dekat tetapi juga jauh, Dia itu jauh tetapi juga dekat. Dia berada di atas segalanya, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada seseorang di bawah-Nya. Dia itu lebih tersembunyi dari segalanya tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada yang lebih mewujud dari sosok-Nya. Dia itu ada dengan Sendiri-Nya dan segala sesuatu  hidup karena-Nya.
      Dia itu eksis (ada) dengan Sendiri-Nya dan   segala sesuatu   eksis melalui-Nya. Dia itu tegak dengan Sendiri-Nya dan tak ada satu pun yang menopang-Nya. Tidak ada apa pun yang mewujud atas dirinya sendiri atau bisa hidup sendiri tanpa Dia. Dia meliputi keseluruhan tetapi tidak bisa dikatakan apakah Sifat peliputan itu. Dia adalah Nur bagi semua yang ada di langit dan di bumi, setiap sinar memancar keluar dari Tangan-Nya dan menjadi refleksi (pantulan) dari Wujud-Nya. Dia adalah yang menghidupi alam semesta. Tidak ada jiwa yang tidak dihidupi oleh-Nya dan eksis dengan sendirinya. Tidak ada jiwa yang memiliki kekuatan bukan dari Wujud-Nya dan yang eksis dari dirinya sendiri.”

Dua jenis Rahmat Ilahi &  Allah itu Bersih dari Segala Cacat

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) dan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt.
      “Sifat kasih-Nya terdiri dari dua macam jenis. Pertama, adalah Sifat Rahmaan (Pemurah) yang secara abadi dimanifestasikan tanpa tergantung pada tindakan atau amalan siapa pun. Sebagai contoh, langit dan bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang, air, udara dan api serta semua partikel di alam ini yang diciptakan bagi keselesaan dan kebutuhan kita, yang seluruhnya telah tersedia sebelum kita sendiri mewujud. Semuanya itu sudah ada sebelum kita hadir.
     Tidak ada amalan apa pun yang berasal dari kita. Siapa yang bisa mengatakan bahwa matahari itu diciptakan karena hasil kerja seseorang, atau bumi terhampar sebagai akibat dari amal baik dirinya? Ini adalah Sifat Rahmaan (Pemurah) yang sudah berjalan (berlangsung)  sebelum terciptanya manusia dan bukan merupakan hasil kerja manusia. Adapun Sifat kasih Ilahi yang kedua yaitu Kerahiman (Penyayang) akan berjalan (berlangsung) sebagai akibat dari tindakan atau amalan manusia. Hal-hal seperti ini tidak memerlukan ilustrasi.
      Kitab Suci Al-Quran mengemukakan bahwa Allah Swt itu bebas dari segala cacat dan tidak memiliki kecenderungan merugi. Dia menginginkan agar manusia mensucikan dirinya dari segala kekotoran melalui ketaatan kepada petunjuk yang telah diberikan-Nya. Dia telah berfirman:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat pun ia akan buta juga’ (Bani Israil [17]:73).
         Berarti barangsiapa yang tidak memiliki wawasan (makrifat Ilahi)  di dunia ini dan tidak mampu melihat Wujud Tuhan Yang tanpa banding tersebut, akan buta juga setelah matinya dan terkungkung dalam kegelapan. Begitu juga dengan manusia yang dikaruniai wawasan (makrifat Ilahi)  dalam kehidupan ini untuk menyaksikan Tuhan dan ia tidak membawa wawasan tersebut dari dunia ini bersama dirinya  maka ia pun tidak akan dapat melihat Allah Swt.  di akhirat.

Tidak Mempersekutukan Sesuatu dengan Allah Swt.

     Allah Yang Maha Kuasa telah menjelaskan dalam ayat di atas, kemajuan seperti apa yang diinginkan dari manusia dan berapa jauh yang dapat dicapai manusia jika mengikuti petunjuk-Nya. Allah  Swt.  mengemukakan petunjuk dalam Al-Quran yang jika diikuti akan memungkinkan manusia melihat Wujud-Nya bahkan dalam kehidupan sekarang ini. Kita diajarkan untuk:
فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿﴾٪  
Barangsiapa mengharap akan bertemu dengan Rabb-nya (Tuhan-nya), hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan siapa  pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)” (Al-Kahf [18]:111).
      Berarti barangsiapa yang menginginkan bertemu dengan Tuhan Yang Maha Pencipta  dalam kehidupan sekarang ini, haruslah berlaku saleh, atau dengan kata lain  perilakunya bersih dari segala cacat dan tindakannya itu tidak untuk menyombongkan  diri atau pun untuk dibanggakan. Amalannya tidak boleh cacat atau kurang sempurna, tidak juga berbau apa pun yang tidak konsisten dengan kecintaan pribadinya kepada Allah Swt..
         Semua kegiatannya harus bernafaskan ketulusan dan keimanan. Ia tidak akan menyekutukan apa pun kepada Allah  Swt. dan tidak akan menyembah matahari atau bulan, atau air atau api, pokoknya tidak ada apa pun yang disembahnya selain Tuhan. Ia tidak boleh mengagungkan sarana duniawi sedemikian rupa sehingga ia tergantung kepadanya dan menjadikannya sebagai sekutu Tuhan. Tidak juga semata-mata bergantung kepada usaha dan upayanya sendiri karena ini juga merupakan bentuk menyekutukan  Tuhan.
      Walaupun ia telah melakukan segala-galanya, ia harus menganggapnya sebagai belum melakukan apa pun. Ia tidak akan membanggakan diri atas pengetahuan yang dimilikinya, tidak juga bergantung kepada amalannya. Ia harus menganggap dirinya sangat bodoh dan malas, dimana jiwanya selalu bersujud di hadapan Allah Yang Maha Perkasa.
      Ia akan menarik rahmat Tuhan kepada dirinya melalui doanya. Ia harus seperti orang yang kehausan dan tanpa daya yang menemukan mata air di depannya yang berair jernih dan manis, dimana ia merangkak ke arah mata air itu serta mencucupkan bibirnya dan minum sepuasnya dari mata air itu sehingga ia benar-benar kenyang.
      Dalam Al-Quran, Allah Swt.  menguraikan sifat-sifat-Nya sebagai:
قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾   وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
 Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang pun menyamai Dia”  (Al-Ikhlash [112]:2-5).
       Berarti bahwa Tuhan kita adalah Maha Esa dalam Wujud-Nya dan dalam Sifat-sifat-Nya. Tidak ada wujud lainnya yang bersifat abadi dan tegak dengan sendirinya seperti Wujud-Nya. Begitu juga tidak ada sifat-sifat dari wujud lain yang menyamai Sifat-sifat-Nya.
       Pengetahuan seseorang membutuhkan seorang guru dan itu pun tetap terbatas. Pengetahuan Tuhan tidak memerlukan guru dan tanpa batas. Kemampuan pendengaran seseorang tergantung kepada udara dan bersifat terbatas, tetapi Sifat mendengar Allah Swt. bersifat inheren (melekat) dan tanpa batas. Kemampuan penglihatan manusia tergantung kepada adanya sinar matahari atau sumber sinar lainnya serta bersifat terbatas, sedangkan penglihatan Tuhan adalah berasal dari Nur yang inheren dalam Wujud-Nya dan tanpa batasan apa pun.    
       Kemampuan manusia untuk mencipta tergantung pada sarana dan waktu serta bersifat terbatas. Kemampuan Allah mencipta tidak bergantung pada apa pun, tidak juga pada waktu dan bersifat tanpa batas. Semua Sifat-sifat-Nya tanpa banding dan tidak ada apa pun yang sepadan dengan Wujud-Nya atau pun Sifat-sifat-Nya.
     Jika ada Sifat-Nya yang dianggap cacat maka keseluruhan Sifat-Nya juga pasti akan cacat dan karena itu ke-Esa-an-Nya tidak bisa ditegakkan sepanjang belum menyadari bahwa Dia itu tidak ada yang menyamai dalam Wujud-Nya. Dia bukan putra siapa pun dan tidak ada siapa pun yang menjadi putra-Nya.
      Dia itu tegak dengan sendiri-Nya dan tidak membutuhkan ayah atau pun anak. Inilah Ketauhidan yang diajarkan Al-Quran dan menjadi dasar dari agama kita.”  (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 20, hlm. 152-155, London, 1984).

* * *
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 7 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar