بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 31
Makrifat
Ilahi Paling Sempurna Dalam Al-Quran & “Intan Permata” Hakiki yang Harus Dimiliki Manusia
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai Masih
Mau’ud a.s. – Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah -- yang
menjelaskan keyakinannya -- berdasarkan pengalamannya sendiri -- tentang
Wujud Allah Swt., Tuhan Yang Maha Gaib:
“Manusia tidak memiliki kemampuan guna memahami keseluruhan aktivitas (kegiatan) Ilahi. Semuanya berada di luar
jangkauan intelektual, penalaran dan khayalan mereka. Karena itu tidak seharusnya manusia berbangga hati atas sekelumit pengetahuan yang dimilikinya bahwa ia sedikit memahami sistem
dari sebab dan akibat, padahal pengetahuannya itu masih amat sangat terbatas, tak ubahnya satu per sejuta bagian dari satu titik air di samudra.
Pada hakikatnya karena Allah Yang Maha Perkasa itu tidak
ada batasnya maka aktivitas-Nya
pun tanpa batas juga. Sama sekali di
luar dan di atas kemampuan manusia
untuk mengetahui realitas dari
setiap kegiatan Tuhan. Jika
kita renungi Sifat-sifat-Nya Yang Maha Abadi, sekurang-kurangnya kita
bisa meyakini bahwa sebagaimana Sifat-sifat
Ilahi itu tidak pernah usang
maka dalam ciptaan Tuhan pun ada beberapa spesi makhluk yang selalu mewujud,
tetapi mengatakan bahwa mereka eksis (ada) dengan sendirinya adalah suatu hal tidak benar. Juga harus diingat
bahwa sebagaimana Sifat penciptaan-Nya, maka Sifat
menghancurkan-Nya juga
selalu berlaku sepanjang waktu dan Sifat ini tidak akan pernah
menjadi usang.
Para filosof telah berupaya
dengan segala daya untuk merangkum
penciptaan unsur-unsur langit dan bumi
ke dalam lingkup pengetahuan hukum fisika mereka dan dari sana
mencoba menentukan bagaimana Sumber dari semua penciptaan, namun nyatanya mereka tidak pernah berhasil.
Apa pun yang telah berhasil mereka kumpulkan dari telaah dan riset fisika
mereka, masih saja tidak akan sempurna
dan mengandung cacat, itulah
sebabnya mereka tidak pernah bisa bertahan
pada satu teori sepanjang masa dan selalu
saja terjadi perubahan pandangan. Dan karena telaah yang mereka lakukan semata-mata didasarkan pada kemampuan penalaran mereka dan dengan cara menduga-duga serta
tidak mendapat bantuan dari Allah
Swt., maka mereka tidak pernah berhasil keluar dari kungkungan kegelapan
yang meliputi mereka.
Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengenali
Tuhan-nya sampai ia memahami
bahwa tidak terbilang kegiatan Ilahi yang sama sekali
berada di luar kemampuan penalaran dan dugaan
manusia. Sebelum mencapai tahapan pemahaman
demikian, maka orang tersebut kalau bukan seorang
atheis -- yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan -- atau ia itu percaya kepada Tuhan, tetapi
dalam Wujud yang merupakan hasil
rekaan fikirannya sendiri, bukan Tuhan yang memanifestasikan
Wujud-Nya beserta segala rahasia Diri-Nya yang demikian
banyak, sehingga berada di luar
kemampuan manusia untuk meresapinya.
Karena Allah Swt. sudah menganugrahkan kepada diriku pengetahuan mengenai kekuasaan-Nya yang memiliki kedalaman berlapis-lapis dan berada
di luar kemampuan pemikiran,
maka aku selalu menganggap para filosof
tersebut sebagai orang-orang yang tidak
beriman dan atheis yang tersembunyi. Adalah dari hasil pengamatanku
sendiri dan aku memang ada menyaksikan perwujudan kekuasaan Ilahi yang demikian luar biasa, sehingga hanya bisa
dikatakan bahwa semuanya itu merupakan sesuatu yang eksis (nyata) yang dihasilkan oleh suatu keadaan
yang non-eksis.
Aku sudah menguraikan beberapa mukjizat tersebut di tempat lain.
Mereka yang tidak memperhatikan keajaiban Ilahi tersebut sama saja dengan orang yang
tidak memperhatikan apa pun. Kami tidak
percaya kepada sosok Tuhan yang
kemampuan-Nya dibatasi oleh logika
dan spekulasi kita sendiri. Kami
beriman kepada Allah Yang kekuasaan-Nya
-- sebagaimana juga Wujud-Nya -- sebagai sesuatu yang tanpa batas, tanpa bisa disekat atau dikotak-kotakkan
dan tanpa akhir.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm.
280-282, London, 1984).
Pembukaan Rahasia
Gaib Allah Swt. Kepada Para
Rasul-Nya
Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut merupakan bukti kebenaran firman Allah
Swt. berikut ini:
عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ
اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ
بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ
عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya barisan pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
supaya Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan
Dia meliputi semua yang ada pada mereka
dan Dia membuat perhitungan mengenai
segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti: diberi
pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang
sangat penting. Contohnya pemberitahuan
rahasia Al-Asmā Allah Swt. kepada Adam – Khalifah Allah (QS.2:31-35),
yakni rasul Allah (QS.3:180).
Ayat-ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna
membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada orang-orang
bertakwa lainnya. Perbedaan itu
letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul
Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib
yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang
bertakwa dan orang-orang suci
lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan
oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak
begitu terpelihara.
Hubungan Makrifat Ilahi dengan Upaya Pensucian
Akhlak dan Ruhani
Mengenai pentingnya
memiliki makrifat Ilahi yang
memadai guna meraih kehidupan suci, yang untuk tujuan
tersebut Allah Swt. mengutus para Rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.62L3-4) -- selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Kehidupan suci yang bebas dari dosa
adalah intan permata yang tidak ada dimiliki manusia sekarang. Allah Yang Maha Perkasa telah
menganugrahkan intan permata itu kepadaku dan Dia telah mengutus aku untuk menyampaikan kepada dunia mengenai cara-cara untuk memperoleh intan
permata tersebut.
Aku bersumpah dengan penuh keyakinan bahwa dengan menempuh jalan ini maka setiap orang akan bisa mendapatkannya. Satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan mengenali Tuhan secara benar,
namun hal ini merupakan hal yang sulit dan rumit. Sebagaimana telah aku kemukakan, seorang filosof yang merenungi langit dan bumi serta menyadari keteraturan yang sempurna alam semesta, hanya akan mengatakan bahwa kemungkinan
ada sosok Pencipta. Tetapi aku melangkah ke tingkat yang lebih tinggi
dan menyatakan berdasarkan pengalaman
pribadiku bahwa Tuhan itu
benar-benar ada.”
(Malfuzat, jld. III, hlm. 16).
Lebih lanjut beliau a.s. menjelaskan:
“Tuhan kami adalah surga
kami. Kesenangan yang tertinggi
adalah bersama Allah Swt.
karena kami telah berjumpa dengan Dia
dan telah melihat semua kecantikan dalam
Wujud-Nya. Ini adalah khazanah kekayaan yang layak dicari meski harus menyerahkan nyawa untuk memperolehnya. Ini adalah intan
permata yang patut dibeli
walaupun harus melepas nyawa guna menebusnya.
Wahai kalian yang kehilangan harapan, marilah ke Sumber mata air ini dan kalian
akan dipuaskan. Dia merupakan Sumber
mata air kehidupan yang akan menyelamatkan
kalian. Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana aku bisa mengesankan kepada hati
kalian bahwa ini adalah kabar
gembira?
Genderang apakah
yang harus aku tabuh untuk mengumumkan agar
manusia mau mendengar bahwa inilah
Tuhan kita? Obat apakah yang harus aku gunakan untuk membuka telinga manusia agar mereka mau mendengar?”
(Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 19, hlm. 21-22, London, 1984).
Mengisyaratkan kepada pengalaman pribadi seperti itu pulalah jawaban Nabi Nuh a.s.
berikut ini kepada para pemuka kaum beliau yang mendustakan
dan menentang pendakwaan beliau, firman-Nya:
فَقَالَ
الۡمَلَاُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَوۡمِہٖ مَا نَرٰىکَ اِلَّا بَشَرًا
مِّثۡلَنَا وَ مَا نَرٰىکَ اتَّبَعَکَ اِلَّا الَّذِیۡنَ ہُمۡ اَرَاذِلُنَا
بَادِیَ الرَّاۡیِ ۚ وَ مَا نَرٰی لَکُمۡ
عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍۭ بَلۡ نَظُنُّکُمۡ
کٰذِبِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ یٰقَوۡمِ
اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کُنۡتُ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّیۡ وَ اٰتٰىنِیۡ رَحۡمَۃً مِّنۡ عِنۡدِہٖ
فَعُمِّیَتۡ عَلَیۡکُمۡ ؕ اَنُلۡزِمُکُمُوۡہَا وَ اَنۡتُمۡ لَہَا کٰرِہُوۡنَ ﴿﴾
Maka pemuka-pemuka
yang kafir dari kalangan kaumnya
berkata: مَا نَرٰىکَ اِلَّا بَشَرًا مِّثۡلَنَا وَ مَا نَرٰىکَ
اتَّبَعَکَ اِلَّا الَّذِیۡنَ ہُمۡ اَرَاذِلُنَا بَادِیَ الرَّاۡیِ -- “Kami
sama sekali tidak memandang engkau melainkan seorang manusia seperti kami, dan kami
sama sekali tidak melihat mereka yang mengikuti engkau melainkan orang-orang yang keadaan lahirnya paling hina di antara kami. وَ مَا نَرٰی لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ
فَضۡلٍۭ بَلۡ نَظُنُّکُمۡ
کٰذِبِیۡنَ -- Dan
tidak kami lihat pada kamu suatu pun
kelebihan atas kami, bahkan kami
yakin bahwa kamu adalah pendusta.” قَالَ یٰقَوۡمِ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کُنۡتُ
عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّیۡ -- Ia (Nuh) berkata: “Hai kaumku, bagaimana pandangan kamu, jika aku berdiri atas suatu Tanda
yang nyata dari Rabb-ku (Tuhan-ku), وَ اٰتٰىنِیۡ رَحۡمَۃً مِّنۡ عِنۡدِہٖ
فَعُمِّیَتۡ عَلَیۡکُمۡ ؕ -- dan
Dia telah menganugerahkan kepadaku rahmat dari sisi-Nya tetapi itu tetap saja tidak jelas (samar) bagi kamu? اَنُلۡزِمُکُمُوۡہَا
وَ اَنۡتُمۡ لَہَا کٰرِہُوۡنَ -- Apakah kami akan memaksakannya kepada kamu, sedangkan kamu
tidak menyukainya?” (Hūd [11]:28-29).
Seperti jawaban Nabi Nuh a.s. demikian pula
Nabi Shalih a.s. dan Nabi Syu’aib a.s. pun mengucapkan jawaban
yang sama kepada para pemuka kaumnya (QS.11:64 & 89),
yaitu bahwa makrifat Ilahi yang
dimiliki oleh para Rasul Allah tersebut
bukanlah sekedar dugaan atau hipotesa yang tidak pasti kebenarannya seperti para filosof, melainkan berdasarkan pengalaman pribadi dalam tingkatan haqqul-yaqin,
bukan tingkatan ‘ilmul-yaqin seperti halnya para filosof yang menduga
adanya nyala api karena melihat asap
yang mengepul.
Ketauhidan Tuhan Menurut Ajaran Al-Quran
Dari seluruh Kitab syariat yang diwahyukan
Allah Swt. kepada para Rasul Allah
pembawa syariat, Kitab yang paling
sempurna yang menelaskan makrifat
Ilahi adalah Al-Quran. Mengenai hal
tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Kitab Suci Al-Quran terdiri dari petunjuk-petunjuk
yang mengarah kepada kasih Allah Swt.. Firman-firman
itu menggambarkan keindahan Wujud-Nya dan
mengingatkan akan kerahiman-Nya, dimana kecintaan kepada Tuhan tercipta melalui penghayatan
keindahan itu atau karena
menyadari kerahiman tersebut.
Al-Quran mengajarkan bahwa dengan memperhatikan segala kemuliaan-Nya
maka disimpulkan kalau Tuhan itu Maha Esa tanpa sekutu.
Dia tidak memiliki cacat apa pun.
Dia merangkum segala Sifat
yang baik dan memanifestasikan semua kekuatan
suci-Nya. Dia adalah Sumber segala ciptaan dan Mata air berkat.
Dia adalah Pemilik semua ganjaran
dan segala-galanya akan kembali kepada-Nya.
Dia itu dekat tetapi juga jauh, Dia itu jauh tetapi juga dekat.
Dia berada di atas segalanya, tetapi
tidak bisa dikatakan bahwa ada seseorang
di bawah-Nya. Dia itu lebih
tersembunyi dari segalanya tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada yang lebih mewujud dari sosok-Nya.
Dia itu ada dengan Sendiri-Nya dan segala sesuatu hidup karena-Nya.
Dia itu eksis (ada) dengan Sendiri-Nya
dan segala sesuatu eksis
melalui-Nya. Dia itu tegak dengan Sendiri-Nya dan tak ada satu pun yang menopang-Nya. Tidak ada apa pun yang mewujud atas dirinya sendiri atau bisa hidup sendiri tanpa Dia.
Dia meliputi keseluruhan tetapi tidak bisa dikatakan apakah Sifat peliputan itu. Dia adalah Nur bagi semua yang ada di langit
dan di bumi, setiap sinar memancar keluar dari Tangan-Nya
dan menjadi refleksi (pantulan) dari
Wujud-Nya. Dia adalah yang menghidupi alam semesta. Tidak ada jiwa yang tidak dihidupi oleh-Nya dan
eksis dengan sendirinya. Tidak ada jiwa
yang memiliki kekuatan bukan dari
Wujud-Nya dan yang eksis dari dirinya sendiri.”
Dua jenis Rahmat Ilahi
& Allah itu Bersih dari Segala
Cacat
Selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan Sifat Rahmāniyat
(Maha Pemurah) dan Sifat Rahīmiyat
(Maha Penyayang) Allah Swt.
“Sifat kasih-Nya terdiri dari dua macam jenis. Pertama, adalah Sifat Rahmaan (Pemurah) yang secara abadi dimanifestasikan tanpa tergantung pada tindakan atau amalan
siapa pun. Sebagai contoh, langit dan bumi, matahari, bulan dan
bintang-bintang, air, udara dan api serta semua partikel di alam ini yang
diciptakan bagi keselesaan dan kebutuhan kita, yang seluruhnya telah tersedia sebelum kita sendiri mewujud. Semuanya itu sudah ada sebelum
kita hadir.
Tidak ada amalan apa pun yang
berasal dari kita. Siapa yang bisa mengatakan bahwa matahari itu diciptakan
karena hasil kerja seseorang, atau
bumi terhampar sebagai akibat dari amal
baik dirinya? Ini adalah Sifat Rahmaan (Pemurah) yang sudah
berjalan (berlangsung) sebelum
terciptanya manusia dan bukan merupakan hasil
kerja manusia. Adapun Sifat kasih Ilahi yang kedua yaitu Kerahiman
(Penyayang) akan berjalan (berlangsung) sebagai akibat dari tindakan
atau amalan manusia. Hal-hal seperti ini tidak memerlukan
ilustrasi.
Kitab Suci Al-Quran mengemukakan bahwa Allah Swt itu bebas dari segala cacat dan tidak memiliki kecenderungan
merugi. Dia menginginkan agar manusia mensucikan
dirinya dari segala kekotoran
melalui ketaatan kepada petunjuk yang telah diberikan-Nya. Dia
telah berfirman:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ
ہٰذِہٖۤ اَعۡمٰی فَہُوَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ اَعۡمٰی وَ اَضَلُّ
سَبِیۡلًا ﴿﴾
‘Barangsiapa buta
di dunia ini maka di akhirat pun ia akan buta juga’ (Bani Israil [17]:73).
Berarti barangsiapa yang tidak memiliki wawasan (makrifat Ilahi) di dunia ini dan tidak mampu melihat Wujud Tuhan Yang tanpa
banding tersebut, akan buta juga setelah matinya dan
terkungkung dalam kegelapan. Begitu
juga dengan manusia yang dikaruniai wawasan (makrifat Ilahi) dalam
kehidupan ini untuk menyaksikan Tuhan dan ia tidak
membawa wawasan tersebut dari dunia ini bersama dirinya maka ia pun tidak akan dapat melihat
Allah Swt. di akhirat.
Tidak Mempersekutukan Sesuatu dengan Allah Swt.
Allah Yang Maha Kuasa telah menjelaskan dalam ayat di atas, kemajuan seperti apa yang diinginkan
dari manusia dan berapa jauh yang dapat dicapai manusia jika mengikuti petunjuk-Nya. Allah Swt.
mengemukakan petunjuk dalam
Al-Quran yang jika diikuti akan memungkinkan manusia melihat Wujud-Nya bahkan dalam kehidupan sekarang ini. Kita diajarkan
untuk:
فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ
عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ
اَحَدًا ﴿﴾٪
“Barangsiapa mengharap
akan bertemu dengan Rabb-nya (Tuhan-nya), hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)” (Al-Kahf [18]:111).
Berarti barangsiapa yang menginginkan
bertemu dengan Tuhan Yang Maha Pencipta dalam
kehidupan sekarang ini, haruslah berlaku
saleh, atau dengan kata lain perilakunya bersih dari segala cacat dan tindakannya itu tidak untuk menyombongkan
diri atau pun untuk dibanggakan. Amalannya tidak boleh cacat atau kurang sempurna, tidak juga berbau apa pun yang tidak konsisten dengan kecintaan pribadinya kepada Allah Swt..
Semua kegiatannya harus bernafaskan ketulusan dan keimanan.
Ia tidak akan menyekutukan apa pun kepada Allah Swt. dan tidak
akan menyembah matahari atau bulan,
atau air atau api, pokoknya tidak ada apa
pun yang disembahnya selain Tuhan. Ia tidak boleh mengagungkan sarana
duniawi sedemikian rupa sehingga ia tergantung kepadanya
dan menjadikannya sebagai sekutu Tuhan. Tidak juga
semata-mata bergantung kepada usaha
dan upayanya sendiri karena ini juga
merupakan bentuk menyekutukan Tuhan.
Walaupun ia telah melakukan
segala-galanya, ia harus menganggapnya
sebagai belum melakukan apa pun. Ia
tidak akan membanggakan diri atas pengetahuan yang dimilikinya, tidak
juga bergantung kepada amalannya. Ia harus menganggap dirinya sangat bodoh dan malas, dimana jiwanya selalu bersujud
di hadapan Allah Yang Maha Perkasa.
Ia akan menarik rahmat
Tuhan kepada dirinya melalui doanya. Ia harus seperti orang
yang kehausan dan tanpa daya yang menemukan mata air di depannya yang berair jernih
dan manis, dimana ia merangkak ke
arah mata air itu serta mencucupkan
bibirnya dan minum sepuasnya dari
mata air itu sehingga ia benar-benar kenyang.
Dalam Al-Quran, Allah Swt.
menguraikan sifat-sifat-Nya sebagai:
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Katakanlah:
“Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan
segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang pun menyamai Dia” (Al-Ikhlash [112]:2-5).
Berarti bahwa Tuhan kita adalah Maha Esa dalam Wujud-Nya
dan dalam Sifat-sifat-Nya. Tidak ada wujud lainnya yang bersifat abadi dan tegak dengan sendirinya seperti Wujud-Nya. Begitu juga tidak ada
sifat-sifat dari wujud lain yang menyamai Sifat-sifat-Nya.
Pengetahuan seseorang membutuhkan
seorang guru dan itu pun tetap terbatas.
Pengetahuan Tuhan tidak memerlukan guru dan tanpa batas. Kemampuan pendengaran seseorang tergantung kepada
udara
dan bersifat terbatas, tetapi Sifat mendengar Allah Swt. bersifat inheren
(melekat) dan tanpa batas. Kemampuan penglihatan
manusia tergantung kepada adanya sinar matahari atau sumber sinar lainnya serta bersifat terbatas, sedangkan penglihatan
Tuhan adalah berasal dari Nur yang inheren dalam Wujud-Nya
dan tanpa batasan apa pun.
Kemampuan manusia untuk mencipta
tergantung pada sarana dan waktu serta bersifat terbatas.
Kemampuan Allah mencipta tidak
bergantung pada apa pun, tidak juga pada waktu dan bersifat tanpa batas. Semua Sifat-sifat-Nya tanpa banding dan tidak ada apa pun yang sepadan dengan Wujud-Nya atau pun Sifat-sifat-Nya.
Jika ada Sifat-Nya yang dianggap cacat maka keseluruhan Sifat-Nya juga pasti akan cacat dan karena itu ke-Esa-an-Nya
tidak bisa ditegakkan sepanjang belum
menyadari bahwa Dia itu tidak ada
yang menyamai dalam Wujud-Nya.
Dia bukan putra siapa pun dan tidak
ada siapa pun yang menjadi putra-Nya.
Dia itu tegak
dengan sendiri-Nya dan tidak membutuhkan ayah atau pun anak.
Inilah Ketauhidan yang diajarkan Al-Quran dan menjadi dasar
dari agama kita.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi
Aam Steam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 152-155, London, 1984).
* * *
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 7 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar