Sabtu, 12 September 2015

Penjelasan Masih Mau'ud a.s. Mengenai "Makrifat Ilahi" Dalam Al-Quran dan "Empat Sifat Tasybihiyah" Allah Swt. Dalam Al-Fatihah



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 37

  Penjelasan Masih Mau’ud a.s. Mengenai Makrifat Ilahi  Dalam Al-Quran dan Empat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. Dalam Al-Fatihah   

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna ayat کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ – “Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan” (QS.55:30)  untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat itu menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa.
    Sehubungan dengan penjelasan ayat tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman: 
وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, dan  Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu. (Al-Hijr [15]:22).
       Allah Swt. memiliki persediaan (khazanah) segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga, Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang sesungguhnya akan benda itu.
     Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian juga Al-Quran pun nmerupakan alam semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian yang dibukakan kepada manusia sesuai dengan keperluan zaman. Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ  قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ لَوۡ  جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ  مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah: "'Seandainya lautan menjadi tinta untuk me­nuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku), niscaya  lautan itu akan habis se­belum kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku) habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya  (Al-Kahf [18]:110)
  Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan diri atas penemuan­-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan duniawi dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru  bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq (penciptaan) itu sendiri.
    Hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka. Rahasia-rahasia Tuhan tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang   --  dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah  -- jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera. Sesuai dengan ayat  tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ  اَقۡلَامٌ  وَّ  الۡبَحۡرُ  یَمُدُّہٗ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ  اَبۡحُرٍ  مَّا نَفِدَتۡ  کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  seandainya pohon-pohon  di bumi ini menjadi pena dan laut    ditambahkan kepadanya  sesudahnya tujuh laut menjadi tinta,  kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Luqman [31]:28).
       Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan lazim.

Sifat-sifat Umum Allah Swt. Menurut Al-Quran

       Selanjutnya Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah menjelaskan mengenai Sifat-sifat umum Allah Swt.  lainnya yang dikemukakan dalam Al-Quran:
        “Sifat-sifat Tuhan sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran adalah:
ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ  الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ  الۡجَبَّارُ  الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ  الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah dan tiada tuhan selain Dia, Yang mengetahui segala yang ghaib dan segala yang nampak. Dia-lah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpah keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung, Maha Suci Allah, jauh di atas apa yang mereka persekutukan dengan Dia. Dia-lah Allah Yang Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi segala bentuk. لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی  -- Kepunyaan Dia-lah segala nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --  Segala sesuatu di seluruh langit dan bumi menyanjung Dia وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Al-Hasyr [59]:23-25).
         Dia memiliki semua kekuasaan melakukan apa pun yang diinginkan-Nya.
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ     ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۳  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿﴾
 Dia adalah Rabb (Tuhan) seluruh alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang Mempunyai Hari Pembalasan (Al-Fatihah [1]:2-4).
 اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ
 Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada-Ku  (Al-Baqarah[2]:187).
                                                                                                                             قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
 Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang (sesuatu) pun menyamai Dia (Al-Ikhlash [112]:2-5).
      Berarti Tuhan itu adalah Satu   dan tidak mempunyai sekutu, bahwa tidak ada satu pun wujud lain yang patut disembah dan dipatuhi. Dia itu dinyatakan sebagai Yang Maha Esa karena kalau ada sekutu-Nya maka sekutu itu bisa saja suatu waktu mengalahkan diri-Nya dan dengan demikian maka Sifat Ketuhanan-Nya menjadi limbung. Tidak ada wujud lain yang patut disembah adalah karena Dia itu Maha Sempurna dengan Sifat-sifat yang demikian luhur dan tidak ada satu pun yang akan mampu melebihi-Nya. Jika ada yang menyekutukan sosok siapa pun yang kualifikasinya  (kualitasnya) lebih rendah dari Wujud-Nya itu sebagai tujuan penyembahan adalah suatu hal yang salah sama sekali.
       Dia Maha Mengetahui apa yang tersembunyi, yang berarti bahwa hanya Dia sendiri Yang memahami secara penuh atas Wujud-Nya Sendiri dan tidak ada lainnya yang akan mampu membayangkan Keberadaan-Nya secara sempurna. Kita masih mungkin memahami secara mendalam apa yang namanya matahari, bulan dan semua makhluk ciptaan, tetapi kita tidak mungkin memahami Tuhan secara penuh.      
     Dia adalah Yang Maha Mengetahui dan tidak ada suatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Sebagai Tuhan maka tidak bisa dikatakan bahwa ada yang tidak diketahui-Nya. Dia mengetahui setiap noktah yang ada di alam, suatu hal yang tidak mungkin dikuasai manusia. Hanya Dia Yang mengetahui kapan sistem ini akan dihancurkan dan menegakkan Penghisaban. Tidak ada seorang pun yang mengetahui saatnya kecuali Dia.
      Dia adalah Yang Maha Pemurah, yang berarti dengan Rahmat-Nya telah menyediakan sarana pendukung tanpa ada yang memohon, sebelum semua makhluk diciptakan. Contohnya adalah Dia telah menciptakan matahari, bulan dan bumi beserta segala isinya bagi pemanfaatan manusia sebelum ada permohonan dari kita. Karunia ini dalam Kitab Allah disebut sebagai Sifat Rahmāniyat dan karena itu Allah yang Maha Kuasa disebut sebagai Al-Rahmān (Maha Pemurah).
       Dia mengganjar dengan murah hati amal yang baik dengan imbalan yang melimpah serta tidak akan mensia-siakan upaya siapa pun. Untuk itu Dia disebut sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang) dan Sifat-Nya itu dikenal sebagai Rahīmiyat. Dia-lah yang memiliki di Tangan-Nya ganjaran bagi semua orang. Dia tidak mempunyai perwakilan yang ditugaskan untuk mengatur langit dan bumi, atau dikatakan Dia menarik diri dari keseluruhan dan menyerahkan fungsi pemberian ganjaran atau hukuman kepada wakil tersebut.
       Dia itu adalah Yang Maha Kuasa, Maha Suci dan kekuasaan-Nya tanpa cela apa pun, sedangkan kekuasaan manusia tidak terbebas dari cela. Sebagai contoh, jika rakyat dari seorang raja meninggalkan negerinya untuk berpindah ke tempat lain, maka kekuasaannya itu tidak lagi mempunyai arti. Begitu juga jika rakyatnya terkena bencana kelaparan maka sebagai raja, ia tidak akan bisa lagi memperoleh pendapatan. Atau jika rakyat itu mempertanyakan dasar dari kekuasaannya maka sifat apa dari kekuasaan raja itu yang bisa dikemukakan?
      Adapun kekuasaan Allah Swt. tidak tunduk pada hal-hal seperti itu. Dia dalam sekejap mata bisa menghancurkan seluruh kerajaan dan menciptakan kerajaan yang baru. Kalau Dia bukan Sang Maha Kuasa dan Maha Pencipta maka kekuasaan-Nya tidak akan dapat dilaksanakan tanpa kekerasan (paksaan), karena misalnya pernah harus memaafkan sekali dan menyelamatkan dunia itu, lalu dari mana Dia akan memperolah dunia lain untuk diperintah? Apakah Dia akan mencengkeram mereka yang telah diselamatkan, lalu membatalkan penyelamatan-Nya secara semena-mena? Kalau demikian keadaannya maka Sifat Ketuhanan-Nya akan dipertanyakan,  dan sebagaimana kekuasaan duniawi maka kekuasaan-Nya itu cacat adanya.
      Manusia yang membuat hukum di dunia ini selalu berubah seleranya dan seringkali  terjerumus kepada tindakan sewenang-wenang jika mereka tidak berhasil mencapai tujuan yang dimaksudnya. Sebagai contoh, misalnya ada undang-undang yang membolehkan bahwa untuk menyelamatkan sebuah kapal, penumpangnya boleh dikorbankan. Tetapi Tuhan tidak akan pernah perlu mengambil tindakan darurat seperti itu.
      Jika Allah Swt.  tidak bersifat Maha Kuasa Yang mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan, maka Dia akan terpaksa untuk memilih untuk beralih kepada tindakan sewenang-wenang atau sepenuhnya tetap berlaku adil, dan karena harus memilih demikian maka Dia kehilangan sifat Ketuhanan-Nya. Padahal bahtera Tuhan akan tetap berjalan dengan segala kekuatan dan keadilan-Nya.
       Allah Swt.  juga merupakan Sumber dari keselamatan, dengan pengertian bahwa Dia Sendiri bebas dari semua aib, kesialan dan kesulitan serta berkuasa menganugrahkan keselamatan kepada makhluk ciptaan-Nya. Bila Dia bisa mengalami kesialan, misalnya bisa dibunuh oleh manusia atau digagalkan rencana-Nya, bagaimana mungkin hati manusia bisa merasa aman dan yakin bahwa Tuhan-nya akan mampu menyelamatkan dirinya dari mara bahaya?
        Tuhan-tuhan palsu [seperti itu] diuraikan dalam Al-Quran sebagai:
   اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾   مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya, mereka yang kamu seru selain Allah, mereka tidak sekali-kali dapat membuat lalat walaupun mereka bergabung menjadi satu untuk itu. Dan jika lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, niscaya mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sungguh sangat lemah kedua-duanya, yang mencari dan yang dicari. Mereka tidak dapat memahami Sifat-sifat Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa  (Al-Hājj [22]:74-75).
       Allah Swt.  memiliki kekuasaan di atas segala kekuasaan dan Dia mengatasi segala-galanya. Tidak ada satu pun yang mampu menangkap atau mencederai-Nya. Mereka yang berpandangan cupat demikian tidak mempunyai perkiraan atas Wujud Tuhan dan tidak bisa membayangkan bagaimana dimensi Dia seharusnya.
   Selain itu Allah adalah penganugrah kedamaian dan Wujud Yang memanifestasikan (menampakkan) alasan-alasan yang mendukung Keagungan dan Ketauhidan-Nya. Semua ini merupakan indikasi bahwa seorang yang beriman kepada Tuhan yang benar, tidak akan dipermalukan di lingkungan siapa pun atau pun di hadirat Allah Swt. Sendiri, karena ia memiliki argumentasi yang kuat yang mendukungnya. Berbeda dengan mereka yang beriman kepada dewa-dewa palsu karena mereka ini selalu dalam keadaan risau. Bukannya memakai logika dengan benar, untuk menghindari ditertawakan orang, ia itu cenderung akan menganggap benda-benda mati sebagai suatu yang misterius, dan dengan demikian ia mencoba menutupi kesalahannya.
     Kemudian Dia berfirman:
ہُوَ اللّٰہُ  الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ  الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ؕ
Dia-lah Allah Yang Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi segala bentuk. Kepunyaan Dia-lah segala nama yang terindah.’ (Al-Hasyr [59]:24).
        Allah Swt. adalah Penjaga atas segalanya dan Berkuasa di atas semua. Dia yang menata segala sesuatu dengan sempurna dan diagungkan di atas segalanya. Dia adalah Pencipta jasmani dan ruhani. Dia memberikan bentuk pada jasmani sejak masih dari dalam rahim. Segala sebutan yang mulia yang bisa dibayangkan manusia adalah menjadi hak-Nya.
      Kemudian Dia berfirman:
یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Segala sesuatu di seluruh langit dan bumi menyanjung Dia dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Hasyr [59]:25).
   Semua yang di langit dan di bumi mengagungkan Wujud-Nya, yang mengindikasikan bahwa ada kehidupan di planet-planet lain  dan bahwa para penghuni planet-planet itu hidup mengikuti petunjuk Ilahi.[1]
       Kemudian firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
 Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:21).
     Dia berkuasa melakukan apa pun yang diinginkan-Nya, dimana hal ini merupakan suatu yang memberikan ketenteraman bagi para penyembah-Nya, karena jika tidak demikian maka tidak ada sesuatu yang bisa diharapkan dari-Nya. Dia adalah Pendukung   dunia-dunia, Maha Pemurah, Maha Penyayang dan Tuhan dari Hari Penghisaban. Dia melayani panggilan makhluk yang mencari-Nya, dengan pengertian bahwa Dia mengabulkan doa-doa.
        Dia adalah Yang Maha Abadi dan Maha Pengasuh. Jika Dia tidak bersifat Maha Hidup maka akan ada kekhawatiran bahwa Dia akan mendahului mati sebelum kita. Dia itu Sendiri, tidak memiliki bapak dan tidak juga putra, tidak mempunyai sekutu atau pun yang menyamai-Nya.” (Islami Usulki Philosophy, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 10, hlm. 372-376, London, 1984).

Empat Sifat Utama  Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah

         Sesuai dengan pokok bahasan dalam Blok ini mengenai khazanah ruhani Surah Al-Fatihah,  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai empat Sifat utama Tasybihiyah Allah Swt.:
   “Allah Swt.  memiliki 4 Sifat utama yang dapat dianggap sebagai induk   semua Sifat-sifat lainnya.  Setiap jenisnya merupakan kewajiban untuk dipahami bagi  peragaan sifat kemanusiaan kita. Keempat Sifat itu adalah Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat dari hari penghisaban. Sifat Rabubiyat untuk manifestasinya memerlukan ketiadaan atau keadaan yang mendekati ketiadaan sama sekali.  Semua bentuk ciptaan -- baik yang bernyawa mau pun benda mati -- mewujud melalui Sifat tersebut.
       Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah)  untuk manifestasinya  (menampakannya) menuntut ketiadaan eksistensi  (keberadaan) dan pelaksanaan fungsinya hanya berkait dengan mahluk hidup dan tidak dengan benda mati. Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) bagi manifestasinya (menampakkannya) mempersyaratkan ketiadaan dan tidak eksisnya Sifat ini dari bagian penciptaan (makhluk) yang memiliki daya nalar,   karena itu hanya berkaitan dengan manusia saja.
      Adapun sifat Mālikiyat dari hari penghisaban mensyaratkan permohonan dan kesujudan dengan merendahkan diri agar Sifat ini bermanifestasi. Karena itu Sifat ini berkaitan dengan kelompok manusia yang menjatuhkan diri bagaikan pengemis di hadirat Yang Maha Esa, dengan mengembangkan jubah ketulusan mereka agar dapat menampung rahmat Ilahi, karena mereka menyadari kekosongan tangan mereka dan hanya mengharapkan Mālikiyat Ilahi.
      Keempat Sifat ini beroperasi sepanjang masa. Sifat Rahīmiyat membawa manusia kepada persujudan (ibadah). Adapun Sifat Mālikiyat menyebabkan manusia merasa diselimuti api ketakutan dan kejerihan luar biasa yang melahirkan rasa rendah hati yang haqiqi, karena Sifat ini menegaskan bahwa Allah  Swt. adalah Tuhan dari pengganjaran dimana tidak ada seorang pun mempunyai hak untuk menuntut  (protes) apa pun. Pengampunan dan keselamatan bisa diperoleh hanya karena karunia rahmat.”  (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 242-243, London, 1984).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 September 2015







[1] Betapa agungnya wawasan Hazrat Masih Mau’ud a.s. jika diperhatikan bahwa manusia baru pada tanggal 25 April 1990 mampu meletakkan Hubble Space Telescope di orbit bumi yang merupakan teleskop alam sejagat yang paling canggih. Teleskop ini mampu melihat kedalaman alam sampai dengan jarak berjuta tahun perjalanan cahaya dan mendeteksi bilangan benda langit yang di luar kemampuan manusia untuk membayangkan jumlahnya. Menyadari jumlahnya, para ahli menyimpulkan bahwa pasti ada kehidupan lain di planet-planet itu selain yang ada di bumi. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar