Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 37
Penjelasan Masih
Mau’ud a.s. Mengenai Makrifat Ilahi Dalam Al-Quran dan Empat
Sifat Tasybihiyah Allah Swt. Dalam Al-Fatihah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna ayat کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ – “Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan” (QS.55:30) untuk mempertahankan
hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara
mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak
mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat
itu menjelmakan diri dalam berbagai cara
di sepanjang masa.
Sehubungan dengan
penjelasan ayat tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ مَا
نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang
tidak terbatas, dan Kami sama sekali tidak menurunkannya
melainkan dalam ukuran yang tertentu.
(Al-Hijr [15]:22).
Allah Swt.
memiliki persediaan (khazanah) segala
sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai
dengan rahmat-Nya yang tidak
berhingga, Dia mengarahkan pikiran
atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana
timbul suatu keperluan yang
sesungguhnya akan benda itu.
Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian juga Al-Quran pun nmerupakan alam semesta keruhanian, di mana
tersembunyi khazanah-khazanah ilmu
keruhanian yang dibukakan kepada
manusia sesuai dengan keperluan zaman.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ لَّوۡ
کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ
الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ
لَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah:
"'Seandainya lautan menjadi tinta
untuk menuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku
(Tuhan-ku), niscaya lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku) habis
dituliskan, sekalipun Kami
datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya (Al-Kahf [18]:110)
Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan
diri atas penemuan-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan duniawi dan nampaknya
mereka dikuasai anggapan keliru bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia
takhliq (penciptaan) itu sendiri.
Hal itu
hanya pembualan yang sia-sia belaka. Rahasia-rahasia Tuhan tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami
sehingga apa yang telah mereka temukan
sampai sekarang -- dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah -- jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah belumlah merupakan
setitik pun air dalam samudera.
Sesuai dengan ayat tersebut dalam Surah
lain Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ
اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ
اَقۡلَامٌ وَّ الۡبَحۡرُ
یَمُدُّہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
سَبۡعَۃُ اَبۡحُرٍ مَّا نَفِدَتۡ
کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan seandainya pohon-pohon di bumi ini
menjadi pena dan laut
ditambahkan kepadanya sesudahnya tujuh laut menjadi tinta, kalimat
Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana (Luqman [31]:28).
Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa
Arab adalah menyatakan jumlah besar,
dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan
lazim.
Sifat-sifat Umum Allah Swt.
Menurut Al-Quran
Selanjutnya Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah menjelaskan mengenai Sifat-sifat umum Allah Swt. lainnya yang dikemukakan dalam Al-Quran:
“Sifat-sifat Tuhan sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran adalah:
ہُوَ
اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ
الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ ہُوَ
اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ
الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ الۡمُؤۡمِنُ
الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ
الۡجَبَّارُ الۡمُتَکَبِّرُ ؕ
سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ
الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ
الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ
الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
‘Dia-lah Allah dan tiada tuhan selain Dia, Yang mengetahui segala yang ghaib dan segala yang nampak. Dia-lah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Dia-lah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpah
keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung,
Maha Suci Allah, jauh di atas apa yang mereka persekutukan
dengan Dia. Dia-lah Allah Yang Maha Pencipta, Pembuat
segala sesuatu, Pemberi segala
bentuk. لَہُ الۡاَسۡمَآءُ
الۡحُسۡنٰی -- Kepunyaan Dia-lah segala nama
yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Segala
sesuatu di seluruh langit dan bumi menyanjung
Dia وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan Dia-lah Yang Maha Perkasa,
Maha Bijaksana (Al-Hasyr [59]:23-25).
Dia memiliki semua kekuasaan
melakukan apa pun yang diinginkan-Nya.
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ﴿۳﴾ مٰلِکِ
یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿﴾
Dia
adalah Rabb (Tuhan) seluruh alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang Mempunyai
Hari Pembalasan (Al-Fatihah [1]:2-4).
اُجِیۡبُ
دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا
دَعَانِ
Aku
mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada-Ku (Al-Baqarah[2]:187).
قُلۡ
ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾
لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾
وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Dia-lah
Allah Yang Maha Esa, Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia
tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang (sesuatu) pun menyamai Dia’ (Al-Ikhlash
[112]:2-5).
Berarti Tuhan itu adalah Satu dan tidak mempunyai sekutu, bahwa tidak ada satu pun wujud lain yang patut disembah
dan dipatuhi. Dia itu dinyatakan
sebagai Yang Maha Esa karena kalau ada sekutu-Nya maka sekutu itu bisa saja suatu waktu mengalahkan
diri-Nya dan dengan demikian maka Sifat Ketuhanan-Nya menjadi
limbung. Tidak ada wujud lain yang patut disembah adalah karena Dia itu Maha Sempurna dengan Sifat-sifat
yang demikian luhur dan tidak
ada satu pun yang akan mampu melebihi-Nya.
Jika ada yang menyekutukan sosok
siapa pun yang kualifikasinya (kualitasnya) lebih rendah dari Wujud-Nya
itu sebagai tujuan penyembahan adalah suatu hal yang
salah sama sekali.
Dia Maha Mengetahui apa yang tersembunyi, yang berarti bahwa hanya
Dia sendiri Yang memahami secara
penuh atas Wujud-Nya Sendiri dan
tidak ada lainnya yang akan mampu membayangkan Keberadaan-Nya
secara sempurna. Kita masih mungkin memahami secara mendalam apa yang namanya matahari,
bulan dan semua makhluk ciptaan, tetapi kita
tidak mungkin memahami Tuhan secara penuh.
Dia adalah Yang Maha Mengetahui
dan tidak ada suatu pun yang tersembunyi
dari-Nya. Sebagai Tuhan maka tidak bisa dikatakan bahwa ada yang tidak
diketahui-Nya. Dia mengetahui setiap
noktah yang ada di alam, suatu hal yang tidak mungkin dikuasai manusia.
Hanya Dia Yang mengetahui kapan sistem
ini akan dihancurkan dan menegakkan Penghisaban. Tidak ada seorang
pun yang mengetahui saatnya kecuali Dia.
Dia adalah Yang Maha Pemurah, yang berarti dengan
Rahmat-Nya
telah menyediakan sarana pendukung
tanpa ada yang memohon, sebelum
semua makhluk diciptakan. Contohnya adalah Dia telah menciptakan matahari,
bulan dan bumi beserta segala isinya bagi pemanfaatan
manusia sebelum ada permohonan
dari kita. Karunia ini dalam Kitab
Allah disebut sebagai Sifat Rahmāniyat dan karena itu Allah yang Maha Kuasa
disebut sebagai Al-Rahmān (Maha Pemurah).
Dia mengganjar dengan murah hati amal yang baik dengan imbalan yang melimpah serta tidak akan
mensia-siakan upaya siapa pun. Untuk itu Dia disebut sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang) dan Sifat-Nya itu dikenal sebagai Rahīmiyat. Dia-lah yang memiliki di Tangan-Nya ganjaran bagi semua
orang. Dia tidak mempunyai perwakilan
yang ditugaskan untuk mengatur langit
dan bumi, atau dikatakan Dia menarik diri dari keseluruhan dan
menyerahkan fungsi pemberian ganjaran atau hukuman kepada wakil tersebut.
Dia itu adalah Yang Maha Kuasa,
Maha Suci dan kekuasaan-Nya tanpa
cela apa pun, sedangkan kekuasaan
manusia tidak terbebas dari cela.
Sebagai contoh, jika rakyat dari seorang raja meninggalkan negerinya untuk
berpindah ke tempat lain, maka kekuasaannya itu tidak lagi mempunyai arti.
Begitu juga jika rakyatnya terkena bencana kelaparan maka sebagai raja, ia
tidak akan bisa lagi memperoleh pendapatan. Atau jika rakyat itu mempertanyakan
dasar dari kekuasaannya maka sifat apa dari kekuasaan raja itu yang bisa
dikemukakan?
Adapun kekuasaan Allah Swt.
tidak tunduk pada hal-hal seperti itu. Dia dalam sekejap mata bisa menghancurkan seluruh kerajaan dan menciptakan
kerajaan yang baru. Kalau Dia bukan Sang
Maha Kuasa dan Maha
Pencipta maka kekuasaan-Nya
tidak akan dapat dilaksanakan tanpa
kekerasan (paksaan), karena misalnya pernah harus memaafkan sekali dan
menyelamatkan dunia itu, lalu dari mana Dia akan memperolah dunia lain untuk
diperintah? Apakah Dia akan mencengkeram
mereka yang telah diselamatkan, lalu
membatalkan penyelamatan-Nya
secara semena-mena? Kalau demikian keadaannya maka Sifat Ketuhanan-Nya
akan dipertanyakan, dan sebagaimana
kekuasaan duniawi maka kekuasaan-Nya itu cacat adanya.
Manusia yang membuat hukum di
dunia ini selalu berubah seleranya
dan seringkali terjerumus kepada tindakan sewenang-wenang jika mereka
tidak berhasil mencapai tujuan yang
dimaksudnya. Sebagai contoh, misalnya ada undang-undang
yang membolehkan bahwa untuk menyelamatkan
sebuah kapal, penumpangnya boleh
dikorbankan. Tetapi Tuhan tidak akan pernah perlu mengambil tindakan darurat seperti itu.
Jika Allah Swt. tidak bersifat Maha
Kuasa Yang mampu menciptakan
sesuatu dari ketiadaan,
maka Dia akan terpaksa untuk memilih
untuk beralih kepada tindakan sewenang-wenang atau sepenuhnya
tetap berlaku adil, dan karena harus
memilih demikian maka Dia kehilangan sifat Ketuhanan-Nya. Padahal bahtera Tuhan akan tetap berjalan
dengan segala kekuatan dan keadilan-Nya.
Allah Swt. juga merupakan Sumber
dari keselamatan, dengan pengertian
bahwa Dia Sendiri bebas dari semua aib, kesialan dan kesulitan
serta berkuasa menganugrahkan keselamatan kepada makhluk ciptaan-Nya. Bila Dia bisa
mengalami kesialan, misalnya bisa dibunuh oleh manusia atau digagalkan rencana-Nya, bagaimana
mungkin hati manusia bisa merasa aman dan yakin bahwa Tuhan-nya
akan mampu menyelamatkan dirinya
dari mara bahaya?
Tuhan-tuhan palsu [seperti itu] diuraikan dalam Al-Quran sebagai:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ
اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ
یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ
﴿﴾
مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya,
mereka yang kamu seru selain Allah, mereka tidak sekali-kali dapat membuat lalat walaupun mereka
bergabung menjadi satu untuk
itu. Dan jika lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, niscaya mereka tidak dapat merebutnya kembali
dari lalat itu. Sungguh sangat lemah kedua-duanya, yang mencari dan yang dicari. Mereka tidak
dapat memahami Sifat-sifat Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah
Maha Kuat, Maha Perkasa
(Al-Hājj [22]:74-75).
Allah Swt. memiliki kekuasaan di atas segala kekuasaan dan Dia mengatasi
segala-galanya. Tidak ada satu pun yang mampu menangkap atau mencederai-Nya.
Mereka yang berpandangan cupat
demikian tidak mempunyai perkiraan
atas Wujud Tuhan dan tidak bisa membayangkan bagaimana dimensi
Dia seharusnya.
Selain itu Allah adalah penganugrah
kedamaian dan Wujud
Yang memanifestasikan (menampakkan)
alasan-alasan yang mendukung Keagungan dan Ketauhidan-Nya.
Semua ini merupakan indikasi bahwa
seorang yang beriman kepada Tuhan yang benar, tidak akan dipermalukan di lingkungan siapa pun
atau pun di hadirat Allah Swt. Sendiri,
karena ia memiliki argumentasi yang kuat yang
mendukungnya. Berbeda dengan mereka yang beriman
kepada dewa-dewa palsu karena mereka ini selalu dalam keadaan risau. Bukannya memakai logika
dengan benar, untuk menghindari ditertawakan
orang, ia itu cenderung akan menganggap benda-benda
mati sebagai suatu yang misterius, dan dengan demikian ia
mencoba menutupi kesalahannya.
Kemudian Dia berfirman:
ہُوَ اللّٰہُ الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ؕ
‘Dia-lah Allah Yang Maha Pencipta, Pembuat
segala sesuatu, Pemberi segala
bentuk. Kepunyaan Dia-lah segala
nama yang terindah.’ (Al-Hasyr [59]:24).
Allah Swt. adalah Penjaga atas segalanya dan Berkuasa
di atas semua. Dia yang menata
segala sesuatu dengan sempurna dan diagungkan di atas segalanya. Dia
adalah Pencipta jasmani dan ruhani. Dia memberikan bentuk
pada jasmani sejak masih dari dalam
rahim. Segala sebutan yang mulia
yang bisa dibayangkan manusia adalah menjadi hak-Nya.
Kemudian Dia berfirman:
یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Segala sesuatu di seluruh langit
dan bumi menyanjung Dia dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Hasyr [59]:25).
Semua yang di langit dan di bumi mengagungkan Wujud-Nya, yang
mengindikasikan bahwa ada kehidupan di
planet-planet lain dan bahwa para penghuni planet-planet itu hidup
mengikuti petunjuk Ilahi.[1]
Kemudian firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
Allah berkuasa atas segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:21).
Dia berkuasa melakukan apa pun yang diinginkan-Nya,
dimana hal ini merupakan suatu yang memberikan ketenteraman bagi para penyembah-Nya,
karena jika tidak demikian maka tidak ada sesuatu yang bisa diharapkan dari-Nya. Dia adalah Pendukung dunia-dunia, Maha Pemurah, Maha Penyayang
dan Tuhan dari Hari Penghisaban. Dia melayani panggilan makhluk yang mencari-Nya, dengan pengertian bahwa
Dia mengabulkan doa-doa.
Dia adalah Yang Maha Abadi dan Maha
Pengasuh. Jika Dia tidak bersifat Maha Hidup maka akan ada
kekhawatiran bahwa Dia akan mendahului
mati sebelum kita. Dia itu Sendiri, tidak memiliki bapak dan tidak juga putra,
tidak mempunyai sekutu atau pun yang menyamai-Nya.” (Islami Usulki Philosophy, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 10, hlm. 372-376, London, 1984).
Empat Sifat Utama Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah
Sesuai dengan pokok bahasan dalam Blok
ini mengenai khazanah ruhani Surah Al-Fatihah, Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai empat
Sifat utama Tasybihiyah Allah Swt.:
“Allah Swt. memiliki 4 Sifat utama yang dapat dianggap
sebagai induk semua Sifat-sifat lainnya. Setiap jenisnya merupakan kewajiban untuk
dipahami bagi peragaan sifat
kemanusiaan kita. Keempat Sifat itu adalah Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat dari hari penghisaban. Sifat Rabubiyat untuk manifestasinya memerlukan ketiadaan atau keadaan yang mendekati ketiadaan
sama sekali. Semua bentuk ciptaan -- baik yang bernyawa mau pun
benda mati -- mewujud melalui Sifat
tersebut.
Sifat Rahmāniyat (Maha
Pemurah) untuk manifestasinya (menampakannya) menuntut ketiadaan eksistensi (keberadaan)
dan pelaksanaan fungsinya hanya
berkait dengan mahluk hidup dan tidak dengan benda mati. Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) bagi manifestasinya
(menampakkannya) mempersyaratkan ketiadaan dan tidak eksisnya Sifat ini dari bagian penciptaan
(makhluk) yang memiliki daya nalar, karena itu hanya berkaitan dengan manusia
saja.
Adapun sifat Mālikiyat dari hari penghisaban
mensyaratkan permohonan dan kesujudan dengan merendahkan
diri agar Sifat ini bermanifestasi. Karena itu Sifat ini berkaitan dengan kelompok manusia yang menjatuhkan diri bagaikan pengemis di hadirat Yang Maha Esa,
dengan mengembangkan jubah ketulusan mereka agar dapat
menampung rahmat Ilahi, karena mereka menyadari kekosongan tangan
mereka dan hanya mengharapkan Mālikiyat Ilahi.
Keempat Sifat ini beroperasi
sepanjang masa. Sifat Rahīmiyat membawa manusia kepada persujudan
(ibadah). Adapun Sifat Mālikiyat menyebabkan manusia merasa diselimuti api ketakutan dan kejerihan luar biasa yang melahirkan rasa rendah
hati yang haqiqi, karena Sifat
ini menegaskan bahwa Allah Swt. adalah Tuhan dari pengganjaran dimana
tidak ada seorang pun mempunyai hak untuk menuntut (protes) apa pun. Pengampunan dan keselamatan
bisa diperoleh hanya karena karunia rahmat.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 14, hlm. 242-243, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 12 September 2015
[1]
Betapa agungnya wawasan Hazrat Masih Mau’ud a.s. jika
diperhatikan bahwa manusia baru pada tanggal 25 April 1990 mampu meletakkan
Hubble Space Telescope di orbit bumi yang merupakan teleskop alam sejagat yang
paling canggih. Teleskop ini mampu melihat kedalaman alam sampai dengan jarak
berjuta tahun perjalanan cahaya dan mendeteksi bilangan benda langit yang di
luar kemampuan manusia untuk membayangkan jumlahnya. Menyadari jumlahnya, para ahli
menyimpulkan bahwa pasti ada kehidupan lain di planet-planet itu selain yang
ada di bumi. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar