Jumat, 11 September 2015

Kesinambungan "Penampakan Baru" Sifat-sifat Allah Swt. & Ketidak-terbatasan Khazanah Ciptaan Allah Swt.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 36

Kesinambungan  “Penampakan  Baru” Sifat-sifat Allah Swt.   & Ketidak-terbatasan  Khazanah Ciptaan Allah Swt.

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai qasidah (syair) ungkapan kecintaan Al-Masih Mau’ud a.s. kepada Allah Swt. dalam bahasa Urdu:

Ya Allah, Maha Pencipta, Yang Menyembunyikan
segala kelemahan, Yang Maha Kuasa;
Wahai Kekasih-ku, Maha Pelindung, Maha Pemelihara!
Bagaimana caraku bersyukur kepada Engkau?

Wahai Pengarunia segala berkat yang akbar.
Dimana ‘kan kuperoleh bahasa guna menyatakan syukurku?
Semata berkat dan karunia Engkau maka Engkau memilih aku,
Karena tak berkekurangan hamba-hamba yang ikhlas di hadirat Engkau.

Mereka yang berjanji menjadi sahabat, kini menjadi musuh,
Namun Engkau tidak meninggalkan diriku,
Wahai Sang Pemenuh segala hajatku.

Wahai Sahabat Yang Maha Esa, wahai Pelindung diriku;
Engkau semata cukup bagiku, aku tak berdaya tanpa Diri Engkau;
Jika bukan karena Berkat Engkau, maka lama sudah aku jadi debu,
Hanya Allah yang tahu kemana ditebarkan ini debu.

Semoga hati, jiwa dan wujudku dikurbankan di Jalan Engkau;
Tak ada lagi wujud yang mencintai laiknya Engkau.
Sejak awal aku tumbuh dalam naungan perlindungan Engkau yang berberkat
Laiknya bayi menyusu, aku telah Engkau pelihara.

Tidak ada anak manusia memiliki kesetiaan seperti Engkau;
Selain Engkau, tak ada aku berjumpa sahabat yang mengasihi.
Orang bilang bahwa ia yang tidak berarti tidak akan diridhai;
Namun meski tak berarti, aku telah Engkau terima di hadirat Engkau;

Demikian banyak berkat dan karunia Engkau atas diriku;
Akan tetap tidak terbilang sampai Hari Kiamat nanti.

Dua Bentuk Sifat Ilahi: Tanzihiyyah dan Tasybihiyyah

        Kemudian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan   dua  macam  Sifat Allah Swt.    yang utama, yakni:
      (1) Sifat Tasybihiyyah, yaitu Sifat-sifat Allah Swt. yang sampai batas tertentu dapat pula dimiliki atau diperagakan oleh makhluk-Nya, terutama oleh manusia, contohnya 4 Sifat utama Allah Swt.  dalam Surah Al-Fatihah:  Rabubiyyat, Rahmāniyyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat.    
      (2) Sifat Tanzihiyyah, yaitu Sifat-sifat khusus yang hanya dimiliki oleh Allah Swt., contohnya adalah Sifat-sifat-Nya dalam Surah Al-Ikhlash dan ayat Kursiy   (QS.2:256). 
       Sehubungan dengan kedua macam Sifat  utama Allah Swt. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Allah Yang Maha Kuasa, dengan tujuan agar makhluk ciptaan-Nya yang lemah ini bisa memahami dengan sempurna maka Dia telah menguraikan Sifat-sifat-Nya di dalam Al-Quran dalam dua aspek. Pertama, Dia menguraikan Sifat-sifat-Nya secara metaphorika (misal/Tasybihiyah) menyamai beberapa sifat manusia, seperti bahwa Dia itu Agung, Pengasih, Penyayang, bisa murka, memiliki rasa sayang dan sepertinya Dia itu memiliki tangan, mata, kaki dan telinga.
       Meskipun Dia menciptakan segala spesi (jenis makhluk) tetapi tidak berarti Dia butuh teman dalam suatu eksistensi bersama, karena meskipun Sifat penciptaan merupakan salah satu Sifat-Nya, namun manifestasi dari Ketauhidan dan Ke-Esa-an-Nya juga menjadi bagian dari  Sifat-Nya. Tidak ada dari Sifat-Nya yang lalu menjadi usang secara tetap, meskipun bisa saja dihentikan untuk sementara waktu.
        Dengan cara demikian itulah Allah Swt.  memanifestasikan Sifat-sifat-Nya yang diselaraskan dengan sifat manusia. Sebagai contoh, Tuhan itu adalah Maha Pencipta, tetapi sampai suatu tingkat tertentu yang namanya manusia juga mencipta atau membentuk. Seorang manusia bisa disebut bersifat agung sampai suatu tingkat tertentu, atau juga dikatakan bersifat pengasih, pemarah, mempunyai mata serta telinga dan sebagainya.
      Keadaan seperti itu bisa menimbulkan kecurigaan anggapan bahwa manusia menyamai Tuhan dalam Sifat-sifat tersebut, dan Tuhan menyerupai manusia. Guna menolak pandangan demikian maka Allah Swt. dalam Al-Quran menjelaskan bahwa Sifat-sifat-Nya bersifat transendental (berada di atas atau melampaui), sehingga manusia tidak bisa menyamai-Nya dalam Wujud maupun Sifat.
     Ciptaan Tuhan tidak sama dengan ciptaan manusia, begitu juga dengan rahmat-Nya berbeda dengan sifat pengasih manusia. Kemurkaan-Nya tidak sama dengan kemarahan manusia, begitu juga dengan kasih-sayang-Nya, tambah lagi Dia tidak membutuhkan ruang sebagaimana manusia. Kitab Suci Al-Quran mengemukakan secara jelas bahwa Sifat-sifat Tuhan itu amat berbeda dengan manusia. Sebagai contoh, dikatakan bahwa:
لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
 “Tidak ada yang menyerupai-Nya. Dia itu Maha Mendengar, Maha Melihat.   (Asy-Syūrā [42]:12).
 Pada tempat lain dikatakan:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyerang-Nya dan tidak pula tidur. Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberikan syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya? Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak meliputi barang sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Ilmu-Nya meliputi  seluruh langit dan bumi, dan tidaklah memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar” (Al-Baqarah [2]:256).
      Berarti  bahwa Wujud dan eksistensi Yang Maha Benar serta segala Sifat yang benar itu adalah milik Tuhan, dan tidak ada siapa pun yang menjadi sekutu-Nya dalam hal ini. Hanya Dia Sendiri yang hidup melalui Wujud-Nya Sendiri, sedangkan yang lainnya memperoleh kehidupan melalui Dia. Hanya Dia sendiri yang eksis (ada) melalui Wujud-Nya Sendiri, sedangkan yang lainnya memperoleh eksistensi melalui Dia.   Dia itu tidak terpengaruh oleh maut (kematian) dan tidak ada sesuatu yang akan memaksa-Nya berhenti sesaat karena harus tidur atau istirahat, sebagaimana makhluk lainnya yang harus mengalami kematian, tidur dan istirahat. 
       Semua yang kalian saksikan ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya dan tampil atau eksis melalui Wujud-Nya. Tidak ada seseorang pun yang bisa menjadi perantara bagi-Nya tanpa perkenan-Nya. Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan atau di belakang manusia, atau dengan kata lain Dia mengetahui segala yang nyata dan yang tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang akan mampu menduga kedalaman pengetahuan-Nya kecuali sebanyak yang memang diizinkan-Nya.
        Kekuasaan dan Pengetahuan-Nya mencakup keseluruhan langit dan bumi. Dia menjadi Penegak bagi semuanya sedangkan Dia tidak ada yang menegakkan. Dia tidak menjadi lelah karena harus menopang langit dan bumi. Dia berada di atas segala kelemahan, kepikunan dan ketidakberdayaan.”

Makna ‘Arasy Ilahi

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan arti ‘Arsy Ilahi  yang   mengenainyai banyak kekeliruan  memaknainya:
        “Di tempat lain dikatakan:
اِنَّ رَبَّکُمُ اللّٰہُ الَّذِیۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ فِیۡ سِتَّۃِ اَیَّامٍ ثُمَّ اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ
 “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kamu ialah Allah Yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam teguh di atas ‘Arasy”  (Yunus [10]:4).
        Berarti,  setelah menciptakan langit dan bumi berikut semua isinya serta sudah memanifestasikan Sifat-sifat-Nya yang serupa, maka Dia menempatkan Wujud-Nya pada posisi kesendirian dan transendental (Tanzihiyah) guna menunjukkan Sifat transendental-Nya yang jauh dari sifat penciptaan. Posisi tertinggi itu disebut sebagai ‘Arasy.
       Penjelasan  hal ini adalah sebagai berikut, pada awalnya semua makhluk itu tidak ada, dan Tuhan memanifestasikan Wujud-Nya di “tempat” yang amat jauh di balik jauh yang diberi nama ‘Arasy  sebagai “tempat” yang berada di atas semua alam semesta. Tidak ada sesuatu apa pun kecuali Wujud-Nya semata. Kemudian Dia menciptakan langit dan bumi berikut segala isinya. Ketika semua makhluk sudah tercipta lalu Dia menyembunyikan Wujud-Nya dan menginginkan agar para makhluk-Nya menemukan Diri-Nya.
       Harus diingat bahwa Sifat-sifat Ilahi tidak akan pernah usang atau hilang selamanya. Selain dari Tuhan Sendiri maka semua spesi makhluk memerlukan saling keterkaitan eksistensi. Tidak ada Sifat Tuhan yang menjadi usang  walaupun mungkin bisa berhenti sesaat. Sebagaimana Sifat penciptaan dan penghancuran tidak konsisten satu sama lainnya, maka ketika Sifat penghancuran sedang berjalan, dengan sendirinya Sifat penciptaan akan berhenti sesaat.
      Singkat kata, pada awalnya yang berjalan (berlangsung) adalah Sifat Kesendirian dan kita tidak bisa mengatakan berapa seringnya keadaan seperti itu berulang, yang pasti adalah atribut itu bersifat abadi dan tanpa batas. Sifat Kesendirian itu pernah pada saatnya mempunyai prioritas di atas Sifat-sifat lainnya. Sebab itulah dikatakan bahwa pada awalnya Tuhan itu Sendiri dan tidak ada sesuatu pun beserta-Nya. Lalu Dia menciptakan langit dan bumi beserta isinya, dimana dalam konteks tersebut Dia memanifestasikan Sifat-sifat-Nya sebagai Yang Maha Agung, Maha Pemurah, Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobat.   
       Namun barangsiapa yang degil dalam dosa dan tidak berhenti dalam dosanya itu ia  tidak akan dibiarkan saja. Dia juga memanifestasikan Sifat-sifat-Nya sebagai Yang Maha Penyayang kepada mereka yang bertobat, dimana kemurkaan-Nya hanya ditujukan kepada yang tidak mau berhenti melakukan dosa dan pelanggaran.”

Tidak Ada yang Menyamai Sifat Ilahi

       “Semua Sifat-Nya itu cocok bagi-Nya. Sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat manusia. Dia tidak memerlukan mata jasmani dan tidak ada Sifat-Nya yang mirip dengan sifat manusia. Sebagai contoh, jika seorang manusia sedang marah maka ia menderita karena kemarahan itu sendiri dimana hatinya tidak lagi merasa nyaman dan terasa seperti terbakar, demikian juga otaknya merasa tertekan dan ia mengalami proses perubahan.
       Adapun Tuhan bebas sama sekali dari perubahan-perubahan demikian. Kemurkaan-Nya mengambil bentuk sebagai mencabut dukungan-Nya  kepada mereka yang tidak mau berhenti melakukan dosa.  Sejalan dengan kaidah-Nya yang bersifat abadi, Dia akan membalas (menghukum) yang bersangkutan sebagaimana manusia memperlakukan yang lainnya jika ia sedang marah. Secara metaforika (kiasan) hal itu disebut sebagai kemurkaan Allah.
       Begitu juga kecintaan-Nya tidak sama dengan kecintaan seorang manusia, karena manusia akan mengalami nyeri jika ia harus dipisahkan dari yang dicintainya, sedangkan Dia tidak akan mengalami kenyerian tersebut. Kedekatan-Nya juga tidak sama dengan kedekatan antar manusia, karena jika seseorang mendekati seorang lainnya maka ia akan meninggalkan ruang yang sebelumnya ia tempati. Namun Tuhan meskipun dikatakan dekat sebenarnya jauh dan meskipun jauh tetapi sebenarnya dekat. Pendek kata, semua Sifat Ilahi itu berbeda dengan sifat manusia, yang ada hanyalah kemiripan verbal (persamaan istilah) saja, tidak lebih. Karena itulah dalam Al-Quran dinyatakan:
لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ  
“Tiada sesuatu apa pun seperti Dia  (Asy-Syūrā [42]:12).
       Dengan kata lain, tidak ada sesuatu apa pun yang mendekati Allah Swt. dalam Wujud atau pun Sifat-sifat-Nya.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.23, hlm. 272-276, London, 1984).
       Demikianlah penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai Sifat Tasybihiyah Allah Swt.  – yakni Sifat-sifat-Nya yang sampai batas tertentu dapat dimiliki dan diperagakan oleh makhluk-Nya --  dan Sifat Tanzihiyah-Nya,  yaitu Sifat-sifat-Nya  yang khusus hanya milik Allah Swt..

Keabadian Sifat-sifat Ilahi

      Dalam membantah kepercayaaan salah satu agama mengenai adanya Sifat-sifat Tuhan yang berhenti berfungsi, selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai keabadian Sifat-sifat Allah Swt.:
       “Tuhan tidak pernah berhenti berkarya. Dia adalah Maha Pencipta, Maha Menghidupkan, Maha Pemurah, Maha Penyayang dan akan selamanya demikian. Menuruh hematku, adalah berdosa untuk memperdebatkan salah satu dari keagungan-Nya itu. Allah Swt.  tidak akan memaksakan keimanan pada sesuatu Sifat yang belum diperlihatkan-Nya.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 347).
       Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi berkenaan dengan  Sifat Rabubiyat Allah Swt.:   
       “Sebagaimana bintang-bintang mewujud setahap demi setahap, begitu juga dengan Sifat-sifat Tuhan akan terlihat setahap demi setahap. Manusia terkadang berada di bawah bayangan dari Sifat-sifat Ilahi yang bermakna Keagungan dan Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum), dan terkadang berada di bawah bayangan Sifat Keindahan-Nya. Hal ini dikemukakan dalam ayat:
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾
 Setiap hari Dia menampakkan Wujud-Nya dalam keadaan yang berlainan  (Al-Rahmān [55]:30).
        Adalah pandangan yang bodoh yang menganggap bahwa setelah para manusia yang berdosa itu dimasukkan ke neraka lalu Sifat-sifat Ilahi sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan tidak lagi berfungsi dan tidak lagi mewujud, karena harus diingat bahwa fungsi dari Sifat-sifat Ilahi tidak akan pernah berhenti sepenuhnya.
      Sifat dasar   Allah Yang Maha Kuasa adalah Kasih dan Sayang, dimana Sifat ini merupakan induk dari semua Sifat-sifat lainnya. Sifat ini juga yang muncul ketika berlaku Sifat Keagungan dan Kemurkaan yang ditujukan untuk perbaikan manusia, dimana setelah perbaikan itu telah mewujud maka Sifat Kasih-Nya akan muncul kembali dalam wujud yang haqiqi dan akan ada terus sebagai karunia.
      Tuhan tidak sama dengan seseorang yang bersifat pemarah yang senang menyiksa. Dia tidak ada merugikan manusia, tetapi manusia yang merugikan dirinya sendiri. Semua keselamatan ada pada Sifat Kasih-Nya, sedangkan semua siksaan muncul karena menjauh dari Wujud-Nya.”  (Chasmai Masihi, Qadian Magazine- 55 - Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 369-370, London, 1984).
        Penjelasan Al-Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾  وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa,    وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ -- dan yang   kekal hanyalah Wujud   Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan?  کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ --  kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainanفَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --  Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang ka-mu berdua dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-31).
   Seluruh alam semesta ini  tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, dan oleh sebab itu alam semesta ini    ditakdirkan akan binasa. Hanya Tuhan (Allah Swt.) sajalah Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu.
    Wajh  dalam ayat  وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ antara lain berarti:  apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu sendiri; karunia, wajah (Al-Aqrab-ul-Mawarid).   Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilangsirnakan, tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta.
   Ayat yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya (27-30) menunjuk kepada dua hukum alam, yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, ialah (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.

Penampakan-penampakan Baru Sifat-sifat Allah Swt.

     Makna ayat کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ – “Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan”,  untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat itu menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa.
   Sehubungan dengan penjelasan ayat tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman: 
وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, dan  Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu. (Al-Hijr [15]:22).
        Allah Swt. memiliki persediaan (khazanah) segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga, Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang sesungguhnya akan benda itu.
     Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian juga Al-Quran pun nmerupakan alam semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian yang dibukakan kepada manusia sesuai dengan keperluan zaman. Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ  قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ لَوۡ  جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ  مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah: "'Seandainya lautan menjadi tinta untuk me­nuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku), niscaya  lautan itu akan habis se­belum kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku) habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya  (Al-Kahf [18]:110)
  Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan diri atas penemuan­-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan duniawi dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru  bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq (penciptaan) itu sendiri.
    Hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka. Rahasia-rahasia Tuhan tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang   --  dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah  -- jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera. Sesuai dengan ayat  tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ  اَقۡلَامٌ  وَّ  الۡبَحۡرُ  یَمُدُّہٗ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ  اَبۡحُرٍ  مَّا نَفِدَتۡ  کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  seandainya pohon-pohon  di bumi ini menjadi pena dan laut    ditambahkan kepadanya  sesudahnya tujuh laut menjadi tinta,  kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Luqman [31]:28).
Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan lazim.

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 11 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar