بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 36
Kesinambungan “Penampakan Baru” Sifat-sifat
Allah Swt. & Ketidak-terbatasan Khazanah
Ciptaan Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai qasidah (syair) ungkapan kecintaan Al-Masih Mau’ud a.s. kepada
Allah Swt. dalam bahasa Urdu:
Ya Allah, Maha Pencipta, Yang Menyembunyikan
segala kelemahan, Yang Maha Kuasa;
segala kelemahan, Yang Maha Kuasa;
Wahai Kekasih-ku, Maha Pelindung, Maha Pemelihara!
Bagaimana caraku bersyukur kepada Engkau?
Wahai Pengarunia
segala berkat yang akbar.
Dimana ‘kan kuperoleh bahasa guna menyatakan syukurku?
Semata berkat dan karunia Engkau maka Engkau memilih aku,
Karena tak berkekurangan hamba-hamba yang ikhlas di
hadirat Engkau.
Mereka yang berjanji menjadi sahabat, kini menjadi musuh,
Namun Engkau tidak meninggalkan diriku,
Wahai Sang Pemenuh segala hajatku.
Wahai Sahabat Yang Maha Esa, wahai Pelindung diriku;
Engkau semata cukup bagiku, aku tak berdaya tanpa Diri
Engkau;
Jika bukan karena Berkat Engkau, maka lama sudah aku jadi
debu,
Hanya Allah yang tahu kemana ditebarkan ini debu.
Semoga hati, jiwa dan wujudku dikurbankan di Jalan Engkau;
Tak ada lagi wujud yang mencintai laiknya Engkau.
Sejak awal aku tumbuh dalam naungan perlindungan Engkau yang berberkat
Laiknya bayi menyusu, aku telah Engkau pelihara.
Tidak ada anak manusia memiliki kesetiaan seperti Engkau;
Selain Engkau, tak ada aku berjumpa sahabat yang
mengasihi.
Orang bilang bahwa ia yang tidak berarti tidak akan
diridhai;
Namun meski tak berarti, aku telah Engkau terima di
hadirat Engkau;
Demikian banyak berkat dan karunia Engkau atas diriku;
Akan tetap tidak terbilang sampai Hari Kiamat nanti.
Dua Bentuk Sifat Ilahi: Tanzihiyyah
dan Tasybihiyyah
Kemudian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dua
macam Sifat Allah Swt. yang
utama, yakni:
(1) Sifat Tasybihiyyah,
yaitu Sifat-sifat Allah Swt. yang sampai batas tertentu dapat pula
dimiliki atau diperagakan oleh makhluk-Nya, terutama oleh manusia, contohnya
4 Sifat utama Allah Swt. dalam Surah
Al-Fatihah: Rabubiyyat, Rahmāniyyat,
Rahīmiyat dan Mālikiyat.
(2)
Sifat Tanzihiyyah, yaitu Sifat-sifat khusus yang hanya dimiliki
oleh Allah Swt., contohnya adalah Sifat-sifat-Nya dalam Surah Al-Ikhlash
dan ayat Kursiy (QS.2:256).
Sehubungan dengan kedua macam Sifat utama Allah Swt. tersebut Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Allah
Yang Maha Kuasa, dengan tujuan agar makhluk
ciptaan-Nya yang lemah ini bisa memahami
dengan sempurna maka Dia telah menguraikan Sifat-sifat-Nya di dalam Al-Quran
dalam dua aspek. Pertama, Dia menguraikan Sifat-sifat-Nya secara metaphorika
(misal/Tasybihiyah) menyamai beberapa sifat
manusia, seperti bahwa Dia itu Agung,
Pengasih, Penyayang, bisa murka,
memiliki rasa sayang dan sepertinya Dia itu memiliki tangan, mata, kaki dan telinga.
Meskipun Dia menciptakan segala spesi
(jenis makhluk) tetapi tidak berarti Dia butuh teman dalam suatu eksistensi
bersama, karena meskipun Sifat penciptaan merupakan salah satu Sifat-Nya, namun manifestasi dari Ketauhidan dan Ke-Esa-an-Nya
juga menjadi bagian dari Sifat-Nya. Tidak ada dari Sifat-Nya yang lalu menjadi usang secara tetap, meskipun bisa saja dihentikan
untuk sementara waktu.
Dengan cara demikian itulah Allah
Swt. memanifestasikan Sifat-sifat-Nya yang diselaraskan
dengan sifat manusia. Sebagai contoh, Tuhan itu adalah Maha
Pencipta, tetapi sampai suatu
tingkat tertentu yang namanya manusia juga mencipta atau membentuk.
Seorang manusia bisa disebut bersifat agung sampai suatu tingkat
tertentu, atau juga dikatakan bersifat pengasih,
pemarah, mempunyai mata serta telinga dan sebagainya.
Keadaan seperti itu bisa menimbulkan kecurigaan anggapan bahwa manusia menyamai
Tuhan dalam Sifat-sifat
tersebut, dan Tuhan menyerupai
manusia. Guna menolak pandangan demikian maka Allah Swt. dalam Al-Quran
menjelaskan bahwa Sifat-sifat-Nya
bersifat transendental (berada di
atas atau melampaui), sehingga manusia tidak bisa menyamai-Nya dalam Wujud
maupun Sifat.
Ciptaan Tuhan tidak sama dengan ciptaan manusia, begitu juga dengan rahmat-Nya berbeda
dengan sifat pengasih manusia. Kemurkaan-Nya tidak sama dengan kemarahan
manusia, begitu juga dengan kasih-sayang-Nya,
tambah lagi Dia tidak membutuhkan ruang
sebagaimana manusia. Kitab Suci Al-Quran mengemukakan secara jelas bahwa Sifat-sifat Tuhan itu amat berbeda dengan manusia. Sebagai contoh, dikatakan bahwa:
لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
“Tidak
ada yang menyerupai-Nya. Dia itu Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy-Syūrā [42]:12).
Pada tempat lain dikatakan:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ
الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ عِنۡدَہٗۤ اِلَّا
بِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ
عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ
وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
“ Allah, tiada yang patut disembah
selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyerang-Nya dan tidak
pula tidur. Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberikan syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya? Dia mengetahui
apa yang ada di hadapan mereka dan
di belakang mereka, dan mereka tidak meliputi barang sesuatu dari
ilmu-Nya kecuali apa yang
dikehendaki-Nya. Ilmu-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, dan tidaklah memberatkan-Nya menjaga keduanya,
dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar” (Al-Baqarah [2]:256).
Berarti bahwa Wujud dan eksistensi Yang Maha Benar
serta segala Sifat yang benar itu
adalah milik Tuhan, dan tidak ada siapa
pun yang menjadi sekutu-Nya dalam
hal ini. Hanya Dia Sendiri yang hidup melalui Wujud-Nya Sendiri, sedangkan yang
lainnya memperoleh kehidupan
melalui Dia. Hanya Dia sendiri yang eksis (ada) melalui Wujud-Nya Sendiri, sedangkan yang lainnya memperoleh eksistensi melalui Dia. Dia itu tidak terpengaruh oleh maut (kematian) dan tidak ada sesuatu
yang akan memaksa-Nya berhenti
sesaat karena harus tidur atau istirahat, sebagaimana makhluk lainnya yang harus mengalami
kematian, tidur dan istirahat.
Semua yang kalian saksikan ada di langit dan di bumi
adalah milik-Nya dan tampil atau eksis melalui Wujud-Nya.
Tidak ada seseorang pun yang bisa menjadi perantara
bagi-Nya tanpa perkenan-Nya. Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan atau di belakang manusia, atau dengan kata lain Dia mengetahui segala yang nyata dan yang tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang akan mampu menduga kedalaman pengetahuan-Nya kecuali sebanyak yang memang diizinkan-Nya.
Kekuasaan dan Pengetahuan-Nya
mencakup keseluruhan langit dan bumi. Dia menjadi Penegak bagi semuanya sedangkan Dia tidak ada yang menegakkan. Dia
tidak menjadi lelah karena harus menopang langit dan bumi. Dia berada di atas segala kelemahan, kepikunan dan ketidakberdayaan.”
Makna ‘Arasy Ilahi
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
arti ‘Arsy Ilahi yang mengenainyai banyak kekeliruan memaknainya:
“Di tempat lain dikatakan:
اِنَّ رَبَّکُمُ اللّٰہُ
الَّذِیۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ فِیۡ سِتَّۃِ اَیَّامٍ ثُمَّ اسۡتَوٰی
عَلَی الۡعَرۡشِ
“Sesungguhnya
Rabb (Tuhan) kamu ialah Allah Yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia
bersemayam teguh di atas ‘Arasy”
(Yunus [10]:4).
Berarti,
setelah menciptakan langit dan bumi berikut semua isinya serta sudah
memanifestasikan Sifat-sifat-Nya yang serupa, maka Dia menempatkan Wujud-Nya pada posisi kesendirian
dan transendental (Tanzihiyah) guna menunjukkan Sifat transendental-Nya yang jauh dari sifat penciptaan. Posisi tertinggi itu disebut sebagai ‘Arasy.
Penjelasan hal ini adalah sebagai berikut, pada awalnya
semua makhluk itu tidak ada, dan Tuhan memanifestasikan Wujud-Nya di “tempat” yang amat jauh di
balik jauh yang diberi nama ‘Arasy sebagai “tempat” yang berada di atas semua alam semesta. Tidak ada sesuatu apa pun kecuali Wujud-Nya semata. Kemudian Dia menciptakan langit dan bumi berikut segala isinya. Ketika
semua makhluk sudah tercipta lalu Dia menyembunyikan
Wujud-Nya dan menginginkan agar para makhluk-Nya menemukan Diri-Nya.
Harus diingat bahwa Sifat-sifat Ilahi tidak akan
pernah usang atau hilang selamanya. Selain dari Tuhan Sendiri maka semua spesi makhluk memerlukan saling keterkaitan eksistensi. Tidak ada Sifat
Tuhan yang menjadi usang walaupun mungkin bisa berhenti sesaat. Sebagaimana Sifat
penciptaan dan penghancuran tidak konsisten
satu sama lainnya, maka ketika Sifat
penghancuran sedang berjalan, dengan sendirinya Sifat penciptaan akan berhenti sesaat.
Singkat kata, pada awalnya yang berjalan (berlangsung) adalah Sifat Kesendirian dan kita tidak bisa mengatakan berapa seringnya keadaan seperti itu berulang, yang
pasti adalah atribut itu bersifat abadi dan tanpa batas. Sifat Kesendirian itu pernah pada
saatnya mempunyai prioritas di atas Sifat-sifat
lainnya. Sebab itulah dikatakan bahwa pada awalnya Tuhan itu Sendiri dan
tidak ada sesuatu pun beserta-Nya. Lalu Dia menciptakan langit dan bumi beserta isinya, dimana dalam konteks tersebut Dia memanifestasikan Sifat-sifat-Nya sebagai Yang Maha Agung, Maha Pemurah,
Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobat.
Namun barangsiapa yang degil
dalam dosa dan tidak berhenti dalam dosanya itu ia tidak akan
dibiarkan saja. Dia juga memanifestasikan Sifat-sifat-Nya sebagai Yang Maha Penyayang kepada mereka yang bertobat, dimana kemurkaan-Nya hanya ditujukan kepada yang tidak mau berhenti
melakukan dosa dan pelanggaran.”
Tidak Ada yang Menyamai Sifat Ilahi
“Semua Sifat-Nya itu cocok bagi-Nya. Sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat manusia. Dia
tidak memerlukan mata jasmani dan
tidak ada Sifat-Nya yang mirip dengan
sifat manusia. Sebagai contoh, jika
seorang manusia sedang marah maka ia
menderita karena kemarahan itu sendiri dimana hatinya tidak lagi merasa nyaman dan terasa seperti terbakar, demikian juga otaknya merasa tertekan dan ia mengalami proses perubahan.
Adapun Tuhan bebas sama
sekali dari perubahan-perubahan
demikian. Kemurkaan-Nya mengambil
bentuk sebagai mencabut dukungan-Nya kepada mereka yang tidak mau berhenti melakukan dosa. Sejalan dengan kaidah-Nya yang bersifat abadi, Dia akan membalas (menghukum) yang bersangkutan sebagaimana manusia memperlakukan yang lainnya jika
ia sedang marah. Secara metaforika (kiasan) hal itu disebut
sebagai kemurkaan Allah.
Begitu juga kecintaan-Nya tidak sama dengan kecintaan
seorang manusia, karena manusia akan mengalami nyeri jika ia harus dipisahkan
dari yang dicintainya, sedangkan Dia tidak akan mengalami kenyerian tersebut. Kedekatan-Nya
juga tidak sama dengan kedekatan antar manusia, karena jika
seseorang mendekati seorang lainnya
maka ia akan meninggalkan ruang yang
sebelumnya ia tempati. Namun Tuhan
meskipun dikatakan dekat sebenarnya jauh
dan meskipun jauh tetapi sebenarnya dekat. Pendek kata,
semua Sifat Ilahi itu berbeda
dengan sifat manusia, yang ada hanyalah kemiripan verbal (persamaan
istilah) saja, tidak lebih. Karena itulah dalam Al-Quran dinyatakan:
لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ ۚ
“Tiada sesuatu
apa pun seperti Dia” (Asy-Syūrā [42]:12).
Dengan kata lain, tidak ada sesuatu apa pun yang mendekati Allah Swt. dalam Wujud atau pun Sifat-sifat-Nya.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.23, hlm.
272-276, London, 1984).
Demikianlah penjelasan
Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai Sifat
Tasybihiyah Allah Swt. – yakni Sifat-sifat-Nya
yang sampai batas tertentu dapat dimiliki dan diperagakan oleh makhluk-Nya
-- dan Sifat Tanzihiyah-Nya, yaitu Sifat-sifat-Nya
yang khusus hanya milik Allah Swt..
Keabadian Sifat-sifat Ilahi
Dalam membantah kepercayaaan salah satu agama mengenai adanya Sifat-sifat Tuhan yang berhenti berfungsi, selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai
keabadian Sifat-sifat Allah Swt.:
“Tuhan tidak pernah berhenti berkarya. Dia adalah Maha Pencipta, Maha Menghidupkan, Maha Pemurah,
Maha Penyayang dan akan selamanya demikian. Menuruh hematku, adalah
berdosa untuk memperdebatkan salah satu dari keagungan-Nya
itu. Allah Swt. tidak akan memaksakan keimanan pada sesuatu Sifat yang belum
diperlihatkan-Nya.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 347).
Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi
berkenaan dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt.:
“Sebagaimana bintang-bintang
mewujud setahap demi setahap, begitu juga dengan Sifat-sifat Tuhan akan terlihat
setahap demi setahap. Manusia terkadang berada di bawah bayangan dari Sifat-sifat Ilahi yang bermakna Keagungan
dan Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum), dan terkadang berada di bawah
bayangan Sifat Keindahan-Nya. Hal ini dikemukakan dalam ayat:
کُلُّ مَنۡ
عَلَیۡہَا فَانٍ ﴿ۚۖ﴾
Setiap
hari Dia menampakkan Wujud-Nya dalam keadaan yang berlainan
(Al-Rahmān [55]:30).
Adalah pandangan
yang bodoh yang menganggap bahwa
setelah para manusia yang berdosa
itu dimasukkan ke neraka lalu Sifat-sifat
Ilahi sebagai Maha Pengasih
dan Maha Penyayang akan tidak lagi berfungsi dan tidak lagi mewujud, karena harus diingat bahwa fungsi dari Sifat-sifat Ilahi
tidak akan pernah berhenti sepenuhnya.
Sifat dasar Allah Yang Maha Kuasa adalah Kasih
dan Sayang, dimana Sifat ini merupakan induk dari semua Sifat-sifat lainnya. Sifat ini juga yang muncul ketika berlaku
Sifat
Keagungan dan Kemurkaan yang ditujukan untuk perbaikan manusia, dimana setelah
perbaikan itu telah mewujud maka
Sifat Kasih-Nya akan muncul
kembali dalam wujud yang haqiqi dan
akan ada terus sebagai karunia.
Tuhan tidak sama dengan seseorang yang bersifat pemarah yang senang menyiksa.
Dia tidak ada merugikan manusia, tetapi manusia
yang merugikan dirinya sendiri.
Semua keselamatan ada pada Sifat Kasih-Nya, sedangkan semua siksaan muncul karena menjauh
dari Wujud-Nya.” (Chasmai Masihi, Qadian
Magazine- 55 - Press,
1906; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 20, hlm. 369-370, London, 1984).
Penjelasan Al-Masih Mau’ud a.s. tersebut
sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
کُلُّ مَنۡ
عَلَیۡہَا فَانٍ ﴿ۚۖ﴾ وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ
رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya
akan binasa, وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ -- dan yang kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua
yang manakah yang kamu kamu dustakan?
کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ -- kepada-Nya
memohon segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ
شَاۡنٍ -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan)
kamu berdua yang manakah yang ka-mu
berdua dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-31).
Seluruh alam semesta ini tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian,
dan oleh sebab itu alam semesta ini ditakdirkan akan binasa. Hanya Tuhan
(Allah Swt.) sajalah Yang kekal,
sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu.
Wajh dalam ayat وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ antara lain berarti: apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang,
yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu
sendiri; karunia, wajah (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Karena bumi
ini akan dilenyapkan dan benda-benda
langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilangsirnakan, tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada suatu Wujud Yang
tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan.
Wujud demikian adalah Tuhan Yang
menciptakan seluruh alam semesta.
Ayat yang sekarang dan
ayat-ayat sebelumnya (27-30) menunjuk kepada dua hukum alam, yang tidak akan berubah
dan bekerja secara serempak, ialah
(1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan
kematian; dan (2) sesuai dengan hukum
Ilahi menjamin kesinambungan hidup.
Penampakan-penampakan Baru Sifat-sifat Allah Swt.
Makna ayat کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ
شَاۡنٍ – “Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan”, untuk mempertahankan
hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara
mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak
mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat
itu menjelmakan diri dalam berbagai cara
di sepanjang masa.
Sehubungan dengan penjelasan
ayat tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ مَا
نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang
tidak terbatas, dan Kami sama sekali tidak menurunkannya
melainkan dalam ukuran yang tertentu.
(Al-Hijr [15]:22).
Allah Swt.
memiliki persediaan (khazanah) segala
sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai
dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga,
Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana
timbul suatu keperluan yang
sesungguhnya akan benda itu.
Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian juga Al-Quran pun nmerupakan alam semesta keruhanian, di mana
tersembunyi khazanah-khazanah ilmu
keruhanian yang dibukakan kepada
manusia sesuai dengan keperluan zaman.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ لَّوۡ
کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ
الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ
لَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah:
"'Seandainya lautan menjadi tinta
untuk menuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku
(Tuhan-ku), niscaya lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku) habis
dituliskan, sekalipun Kami
datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya (Al-Kahf [18]:110)
Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan
diri atas penemuan-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan duniawi dan nampaknya
mereka dikuasai anggapan keliru bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia
takhliq (penciptaan) itu sendiri.
Hal itu
hanya pembualan yang sia-sia belaka. Rahasia-rahasia Tuhan tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami
sehingga apa yang telah mereka temukan
sampai sekarang -- dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah -- jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah belumlah merupakan
setitik pun air dalam samudera.
Sesuai dengan ayat tersebut dalam Surah
lain Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ
اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ
اَقۡلَامٌ وَّ الۡبَحۡرُ
یَمُدُّہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
سَبۡعَۃُ اَبۡحُرٍ مَّا نَفِدَتۡ
کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan seandainya pohon-pohon di bumi ini
menjadi pena dan laut
ditambahkan kepadanya sesudahnya tujuh laut menjadi tinta, kalimat
Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana (Luqman [31]:28).
Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa
Arab adalah menyatakan jumlah besar,
dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan
lazim.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 11 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar