Sabtu, 31 Oktober 2015

Keajaiban Sifat-sifat Internal Surah Al-Fatihah & Tantangan Allah Swt. Untuk Membuat Tandingan Kesempurnaan Al-Quran






بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 80

   Keajaiban Sifat-sifat Internal Surah Al-Fatihah  &  Tantangan Allah Swt. Untuk Membuat Tandingan Kesempurnaan Al-Quran

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab  sebelumnya telah dikemukakan  tantangan Allah Swt.  kepada para penentang Al-Quran untuk  membuat tandingan  yang dapat menyamai kesempurnaan Al-Quran dalam segala seginya.  Tuntutan terbesar telah dibuat pada QS.17:89 yang di dalamnya orang-orang kafir diminta untuk membuat kitab seperti Al-Quran seutuhnya dengan segala sifatnya yang beraneka-ragam itu, firman-Nya:
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Katakanlah: “Jika  ins (manusia) dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup men-datangkan yang sama seperti ini,  walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
       Tantangan ini pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan klenik (kebatinan)   -- yang dalam ayat sebelumnya)  mereka menanyakan masalah “ruh” kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.17:86),   kemudian dalam ayat 87-88  diisyaratkan (dinubuatkan) mengenai  penarikanruh” Al-Quran oleh Allah Swt. secara berangsur-angsur  selama 1000 tahun setelah masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad (QS.32:6)  --  supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib, yang darinya orang-orang ahli kebatinan itu  yang  menurut pengakuannya sendiri   menerima ilmu ruhani.

Pencabutan “Ruh” Al-Quran Secara Bertahap

       Tantangan ini berlaku pula untuk semua orang yang menolak Alquran bersumber pada  Allah Swt.  dan untuk sepanjang masa,  karena itu ketika setelah  mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad kemudian umat Islam mengalami kemunduran secara bertahap dalan berbagai bidang kehidupan selama 1000 tahun, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung  (As-Sajdah [32]:6). 
        Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya. Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
     Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ   -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
       Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa iman akan terbang ke Bintang Tsurayya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir Surah Jum’ah). Dengan kedatangan  Masih Mau’ud a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,   dan   mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --   Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.     ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [63]:3-5).

Pengembalian “Ruh” Al-Quran   oleh Masih Mau’ud a.s.

     Mengisyaratkan kepada masa kemunduran yang melanda  Islam selama 1000 tahun itu pulalah makna firman-Nya berikut ini:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا ﴿﴾  
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا --    katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu    tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.     وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ -- Dan jika Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا  -- kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا  -- Kecuali karena rahmat dari  Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya kepada engkau sangat besar (Bani Israil [17]:86-88).
     Untuk lebih meyakinkan mengenai ketidak-mampuan manusia membuat tandingan kesempurnaan Al-Quran selanjutnya Allah Swt. berfirman: 
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Katakanlah: “Jika  ins (manusia) dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup men-datangkan yang sama seperti ini,  walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
      Jadi, pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Masih Mau’ud a.s. datang  di Akhir Zaman ini  bukan untuk membuat tandingan Al-Quran, melainkan  mengembalikan “ruh    Al-Quran yang telah “terbang ke bintang Tsurayya” atau telah “yang  ditarik kembali” oleh Allah Swt. akibat  berbagai bentuk kedurhakaan yang dilakukan oleh umat Islam setelah masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6).

Tantangan Allah Swt. Kepada Para Pencela Al-Quran & Hakikat Perbedaan Jumlah  Tandingan Surah Al-Quran

   Kembali kepada tantangan Allah Swt. kepada para pencela Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam firman-Nya:
اَمۡ یَقُوۡلُوۡنَ افۡتَرٰىہُ ؕ قُلۡ فَاۡتُوۡا بِعَشۡرِ سُوَرٍ مِّثۡلِہٖ مُفۡتَرَیٰتٍ وَّ ادۡعُوۡا مَنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  فَاِلَّمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَکُمۡ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اُنۡزِلَ بِعِلۡمِ اللّٰہِ وَ اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ فَہَلۡ  اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah mereka mengatakan:  افۡتَرٰىہُ --  ”Ia telah membuat-buatnya!” قُلۡ فَاۡتُوۡا بِعَشۡرِ سُوَرٍ مِّثۡلِہٖ مُفۡتَرَیٰتٍ --  Katakanlah: “Datangkanlah sepuluh surah  yang dibuat-buat semisal itu,   وَّ ادۡعُوۡا مَنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ     -- dan panggillah siapa saja yang dapat kamu panggil selain Allah, jika   kamu sungguh orang-orang  yang benar.” فَاِلَّمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَکُمۡ  --  Tetapi jika mereka tidak menerima tantangan kamu فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اُنۡزِلَ بِعِلۡمِ اللّٰہِ وَ اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ  --    maka ketahuilah, bahwa Al-Quran itu telah diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwa tidak ada Tuhan kecuali  Dia, فَہَلۡ  اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ --  maka maukah kamu menjadi orang yang berserah diri?  (Hud [11]:14-15).
     Dalam ayat itu orang-orang kafir telah diminta mengemukakan buatan mereka seperti Kalamullāh. Mereka boleh mengajukannya sebagai gubahannya sendiri, dan menyatakannya sama atau lebih baik daripada Al-Quran. Tetapi oleh karena pada waktu tantangan itu dibuat Al-Quran belum seluruhnya diwahyukan maka orang-orang kafir tidak diminta untuk mendatangkan tandingan  seluruh Al-Quran pada waktu itu juga, sehingga  dengan demikian tantangan tersebut berisikan nubuatan bahwa mereka tidak akan mampu membuat yang serupanya, tidak dalam bentuk yang ada pada waktu itu dan tidak pula sesudah Al-Quran menjadi lengkap. Lagi pula tantangan itu tidak terbatas kepada orang-orang kafir di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  saja, tetapi meluas kepada semua orang yang ragu-ragu dan menaruh keberatan di setiap zaman, termasuk di Akhir Zaman ini.
     Alasan mengapa orang-orang kafir dalam QS.11:14 diminta membuat hanya 10 Surah  saja  dan bukan seluruh Al-Quran  adalah karena persoalan dalam ayat itu tidak bertalian dengan kesempurnaan Al-Quran seutuhnya dalam segala segi, melainkan hanya dengan sebagian saja.
    Orang-orang kafir telah menuduh bahwa beberapa bagiannya cacat. Oleh karena itu mereka tidak diminta membuat kitab yang lengkap seperti Al-Quran seutuhnya melainkan hanya 10 Surah sebagai ganti bagian-bagian Al-Quran yang dianggap mereka cacat agar kebenaran dari pernyataan mereka dapat diuji.
      Adapun mengenai pemilihan jumlah khusus 10 untuk tujuan itu, baik diperhatikan di sini, bahwa oleh karena dalam QS.17:89 Al-Quran seutuhnya didakwakan Kitab yang sempurna, maka para penentangnya diminta membuat yang serupa seutuhnya, tetapi  karena dalam QS.11:14 pokok persoalannya ialah bagian-bagiannya yang tertentu dicela, maka mereka diminta memilih sepuluh bagian demikian yang nampaknya kepada mereka sangat cacat dan kemudian membuat suatu gubahan yang seperti bagian-bagian yang dicela itu.
      Dalam QS.10:39 orang-orang kafir diminta membuat yang serupa dengan hanya satu Surah Al-Quran. Hal itu disebabkan bahwa berlainan dengan dua ayat tersebut di atas, tantangan dalam ayat itu berupa dukungan pada pengakuan Al-Quran sendiri dan bukan sebagai bantahan terhadap suatu tuduhan dari orang-orang kafir.

Penolakan Terhadap Kesempurnaan Al-Quran Berakibat Berkobarnya  Api Neraka” di Dunia Ini Juga

     Dalam QS.10:38 Al-Quran mendakwakan memiliki 5 sifat yang menonjol. Sebagai dukungan kepada pengakuan tersebut  ayat QS.10:39 mengajukan tantangan kepada mereka yang menolak atau meragukannya untuk membuat satu Surah saja, yang mengandung sifat-sifat itu sama sempurnanya seperti yang ada dalam Surah ke-10, firman-Nya:
اَمۡ یَقُوۡلُوۡنَ افۡتَرٰىہُ ؕ قُلۡ فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّثۡلِہٖ وَ ادۡعُوۡا مَنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ  صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Ataukah mereka mengatakan: “Ia, Rasulullah,  telah mengada-adakannya?” Katakanlah:  “Datangkanlah sebuah surah yang semisalnya, dan panggillah siapa saja selain Allah yang dapat menolong kamu  jika  kamu sungguh orang yang benar. (Yunus [10]:39).
      Tantangan kelima ialah agar membuat tandingan Al-Quran seperti terkandung dalam ayat ini (QS.2:24), firman-Nya:
وَ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ ۪ وَ ادۡعُوۡا شُہَدَآءَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ  ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika kamu  dalam keraguan mengenai apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ  -- maka  buatlah satu Surah yang semisalnya, dan panggillah penolong-penolong kamu selain Allah jika kamu  adalah orang-orang yang benar. فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا   --  Tetapi jika kamu  tidak mampu melakukannya, dan kamu tidak akan pernah mampu melakukannya, فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ  ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  -- maka peliharalah diri kamu dari Api  yang bahan bakarnya  manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:24-25).
      Dalam Surah ini  pun seperti dalam QS.10:39 orang-orang kafir diminta mengemukakan satu Surah yang serupa sempurnanya  dengan salah satu Surah Al-Quran. Tantangan ini didahului oleh pengakuan bahwa Al-Quran membimbing orang-orang bertakwa  ke tingkat-tingkat tertinggi kemajuan ruhani.
      Orang-orang kafir diseru bahwa bila mereka ada dalam keraguan mengenai berasalnya Al-Quran dari Allah SWt.   maka mereka hendaknya menampilkan satu Surah yang kiranya dapat menandinginya dalam pengaruh ruhani terhadap para pengikutnya.  
       Keterangan-keterangan di atas memperlihatkan bahwa semua tantangan yang menyeru orang-orang kafir membuat buku sebagai tandingan Al-Quran itu berbeda sekali dan terpisah dari satu sama lain, dan semuanya berlaku untuk sepanjang zaman, tidak ada yang melebihi atau membatalkan yang lain.
     Tetapi karena Al-Quran itu mengandung gagasan-gagasan yang mulia dan agung, maka tidak dapat tidak sudah seharusnya dipilih kata-kata yang sangat indah dan tepat serta gaya bahasa yang paling murni, sebagai wahana untuk membawakan gagasan-gagasan itu, sebab  jika tidak demikian maka pokok pembahasannya mungkin akan tetap gelap dan penuh keragu-raguan, dan keindahan paripurna Al-Quran niscaya akan ternoda.
       Jadi, dalam bentuk dan segi apa pun orang-orang kafir telah ditantang untuk mengemukakan suatu gubahan seperti Al-Quran, tuntutan akan keindahan gaya bahasa dan kecantikan pilihan kata-katanya yang setanding dengan Al-Quran, merupakan pula bagian tantangan itu.

Makna An- Nās dan Jin Sebagai “Bahan Bakar” Api Neraka &  Penjelasan  Masih Mau’ud a.s. Mengenai  Keistimewaan   Surah Al-Fatihah Lainnya

       Kata “bahan bakar” dalam ayat selanjutnya:  فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا   --  Tetapi jika kamu  tidak mampu melakukannya, dan kamu tidak akan pernah mampu melakukannya, فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ  ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  -- maka peliharalah diri kamu dari Api  yang bahan bakarnya  manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir (QS.2:25)  dapat diambil dalam arti  kiasan dan berarti bahwa siksaan api (neraka) itu disebabkan oleh menyembah berhala.
      Jadi berhala-berhala itu bagaikan “bahan bakar” untuk api (neraka), karena menjadi sarana untuk menghidupkan api (neraka), atau “batu” berarti berhala-berhala yang dipuja orang-orang musyrik sebagai dewa-dewa, maksudnya ialah orang-orang musyrik akan dihinakan dengan menyaksikan sendiri dewa-dewa mereka  dilemparkan ke dalam api.
       Kata-kata an-nās (manusia) dan al-hijārah (batu) dapat pula dianggap menunjuk kepada dua golongan penghuni neraka; an-nās dapat menunjuk kepada orang-orang kafir yang masih mempunyai semacam kecintaan kepada Allah Swt. dan al-hijārah (batu), mereka yang di dalam hati mereka  sama sekali tidak ada kecintaan kepada Allah Swt..   Orang-orang semacam itu memang tidak lebih dari batu. Kata hijārah itu jamak dari hajar yang berarti, batu, karang, emas, dan juga seseorang tanpa tanding, yaitu  orang besar, pemimpin (Lexicon Lane).
       Masih Mau’ud a.s. menjelaskan keistimewaan  Surah Al-Fatihah  dari sudut-pandang lainnya, beliau bersabda:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾  الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾  اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾  اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah, Maha Penyayang. Yang mempunyai Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Tuntunlah kami kepada jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang kemudian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.’
     Berikut ini beberapa hikmah dan kebenaran dalam tafsir Surah ini sebagai suatu ilustrasi.
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang
Ayat ini merupakan ayat pertama dari Surah ini dan semua Surah lainnya di dalam Al-Quran serta disebutkan juga di beberapa tempat lain dalam Al-Quran. Ayat ini lebih sering diulang-ulang di dalam Al-Quran dibanding ayat-ayat lainnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Muslim untuk memulai setiap tindakan yang diharapkan akan membawa kebaikan dengan membaca ayat tersebut sebagai tanda pemberkatan dan permohonan akan pertolongan Tuhan. Karena itu ayat ini dikenal luas di antara lawan dan kawan, dan di antara yang tua dan yang muda, sehingga misalnya pun seseorang tidak mengetahui ayat-ayat lain dari Al-Quran, biasanya ia akan mengenal ayat ini.
      Salah satu kebenaran sempurna yang dikandung adalah tujuan ayat tersebut untuk mengajarkan kepada hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak menyadari, bahwa terdapat banyak sekali atribut-atribut atau Sifat dari Tuhan yang disebut dengan nama Allah, dimana dalam istilah Al-Quran Sifat-sifat tersebut menggambarkan komprehensifitas segala hal yang sempurna, bebas dari segala cela dan hanya digunakan atau ditujukan bagi Tuhan Yang Maha Benar, Maha Esa, serta Sumber  semua rahmat, dimana ada dua Sifat yang disebut dalam ayat ini yaitu Rahmāniyat dan Rahīmiyat mensyaratkan diturunkannya firman Tuhan serta penebaran dari Nur dan berkat dari firman-firman tersebut.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 414, London, 1984).

(Bersambung)
                                                                              
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 25 Oktober  2015