بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 74
Perbedaan Kemaha-Sempurnaan Tuhan Yang Hakiki (Allah Swt.) dengan
“Tuhan-tuhan” Tak Berdaya Rekayasa Manusia & Qadama
shidqin (Derajat Mulia) di Hadirat Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna ungkapan “yang
menutupi” (menyelubungi) dalam ayat اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- “Ketika pohon Sidrah
diselubungi oleh sesuatu yang
menyelubungi”, maknanya ialah penjelmaan
Ilahi (Tajali Ilahiyat). Itulah
makna ayat-ayat mengenai peristiwa mikraj
(kenaikan ruhani) Nabi Besar Muhammad
saw. dalam firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ وَ النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ
الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا
فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾ عِنۡدَہَا جَنَّۃُ
الۡمَاۡوٰی ﴿ؕ﴾ اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ
الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی ﴿﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. وَ النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی -- Demi bintang apabila
jatuh. مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- Sahabat
kamu tidak sesat dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ
عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی -- Perkataannya
itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- Tuhan Yang
Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik Kekuatan, lalu Dia
bersemayam di atas
‘Arasy, وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی
-- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi, ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati
Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,
فَکَانَ
قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی
-- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,
atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی -- Lalu Dia
mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang
telah Dia wahyukan. مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta mengenai apa yang dia lihat.
اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی -- Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa
yang telah dia lihat? وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی -- Dan
sungguh dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ
سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی
-- dekat
pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا
جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی -- Yang di dekatnya ada surga, tempat
tinggal. اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu
yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی
-- penglihatannya
sekali-kali tidak menyimpang dan tidak
pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ
اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی -- Sungguh
ia benar-benar melihat Tanda
paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya
(Tuhan-nya). (An-Najm [53]:1-19).
Perbedaan “Tuhan
yang Hakiki” Dalam Islam (Al-Quran) dengan “Tuhan-tuhan Palsu”
Sehubungan peristiwa ruhani yang sangat halus
dan rumit berkenaan dengan “perpaduan” atau “pertemuan”
antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah
Swt. -- yang digambarkan seperti “seutas tali dua bulah busur” tersebut -- Masih
Mau’ud a.s. bersabda berkenaan pentingnya memiliki makrifat Ilahi yang hakiki:
“Pengetahuan seutuhnya mengenai Tuhan
tergantung pada upaya kita menggapai
Tuhan Yang Maha Hidup, Yang berbicara jelas kepada para kekasih-Nya, dimana Dia
mengaruniakan kepuasan dan kesenangan
atas mereka melalui bicara-Nya (kalam-Nya) yang agung
dan nikmat di kalbu. Dia berbicara kepada mereka
sebagaimana seseorang bercakap-cakap
dengan orang lainnya dengan suatu kepastian yang bebas dari segala keraguan atau kecurigaan.
Dia mendengar mereka serta menanggapi mereka, dan ketika mendengar permohonan mereka Dia akan memberitahukan
mengenai pengabulan doa mereka. Dia membuktikan kepada mereka bahwa Dia itulah Tuhan
karena firman-Nya yang agung dan karena mukjizat yang ditunjukkan-Nya serta melalui berbagai tanda-tanda-Nya
yang agung dan perkasa.
Melalui nubuatan (kabar
gaib) Dia menjanjikan pertolongan dan bantuan
kepada mereka beserta bimbingan yang sempurna, tetapi
pada sisi lain guna mengagungkan
kebesaran dari janji-janji-Nya maka Dia akan menjadikan seluruh dunia ini memusuhi mereka. Manusia lalu
menggunakan segala kemampuan, sarana dan tipu-daya mereka untuk menggagalkan janji
Tuhan akan bantuan dan pertolongan bagi para kekasih-Nya
tersebut, namun usaha mereka akan sia-sia saja.
Mereka menebarkan benih
kejahilan dan Tuhan akan mencerabutnya.
Mereka akan menyulut api untuk membakar dan Tuhan akan memadamkannya. Mereka mengeluarkan segala kemampuan mereka dan Tuhan akan membalikkan
rencana mereka ke diri mereka sendiri.
Para muttaqi
(orang-orang bertakwa) pengikut
Allah Swt. adalah orang-orang sederhana serta lurus
dan di hadapan Allah mereka itu seperti anak-anak kecil di pangkuan
ibunya. Dunia memusuhi karena mereka itu jauh dari sifat duniawi. Semua bentuk rencana dan sarana
digunakan manusia untuk menghancurkan mereka.
Semua orang bergabung untuk menyusahkan mereka, dan orang-orang yang berakhlak rendah
akan menembakkan anak panah mereka
dari busur permusuhan yang sama. Segala bentuk fitnah
dan tuduhan ditimpakan terhadap para muttaqi (orang-orang bertakwa) tersebut agar mereka ini hancur dan tanda-tanda yang
diperlihatkannya sirna, namun Allah Yang Maha Kuasa akan memenuhi firman-Nya (janji-Nya) sepanjang hidup mereka.
Mereka mendapat kehormatan dengan menerima firman
Tuhan yang sejati dan jernih serta bersifat konklusif (memutuskan).
Begitu pula mereka diberikan pengetahuan akan hal-hal yang tersembunyi (gaib) dari pengetahuan
manusia umumnya melalui firman Tuhan yang jelas.
Di sisi lain, melalui berbagai mukjizat
yang meneguhkan kebenaran dari apa yang telah disampaikan, maka keimanan
mereka malah menjadi lebih cerah dan bertambah
kuat. Apa pun yang didambakan
manusia demi pengenalan Tuhan-nya
(makrifat Ilahi) akan dipenuhi
melalui manifestasi
(pernyataan) lisan maupun faktual
(kenyataan), agar tidak ada lagi kegelapan
tersisa meski pun hanya sebesar zarah.
Inilah Tuhan Yang melalui manifestasi
verbal (pernyataan lisan) dan faktual (kenyataan) dari beribu-ribu karunia
yang menyejukkan hati, sehingga manusia memperoleh keimanan
yang hidup. Melalui keimanan demikian ia memperoleh hubungan
suci dengan Tuhan-nya yang akan menghapus segala noda dalam dirinya, mengangkat kelemahan
dirinya, menerangi kegelapan batin
berkat Nur samawi serta menghasilkan perubahan yang luar
biasa.
Karena itu agama yang tidak mampu mempresentasikan (memaparkan) Tuhan sebagai Wujud Yang memiliki Sifat-sifat tersebut -- dan malah membekukan keimanan
manusia dalam dongeng-dongeng kuno
yang tidak masuk akal -- jelaslah bukan agama yang benar.
Menganut tuhan fiktif demikian sama saja dengan mengharapkan sebuah bangkai
mati berkarya sebagaimana layaknya manusia hidup.
Tuhan yang tidak bisa membuktikan
eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya
setiap saat sama saja dengan tidak ada
sama sekali. Dia lebih menyerupai berhala yang tidak berbicara, tidak mendengar dan
tidak menjawab pertanyaan umat manusia. Tidak juga ia akan mampu memanifestasikan
(menampakkan) kekuatannya sedemikian rupa sehingga seorang atheis pun tidak akan meragukannya.” (Brahin-i-Ahmadiyah, jld. V,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm. 31-32, London,
1984).
Menjawab Keberatan (Sangkalan) Tentang Kemustahilan
Tuhan Berkomunikasi Dengan Manusia
Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjawab keberatan atau sangkalan dari kalangan Hindu bahwa: “Merupakan suatu hal yang tidak patut untuk menyatakan bahwa
Tuhan berbicara kepada manusia. Hubungan apa yang mungkin ada di antara manusia yang fana (tidak
kekal) dengan Wujud Yang Maha Abadi
dan Maha Hidup? Apakah mungkin ada kesetaraan
di antara segenggam debu dengan Nur itu Sendiri?”
Beliau memberikan jawaban:
“Keberatan demikian tidak ada dasarnya sama sekali. Perlu dipahami bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyayang malah menanamkan
hasrat
di hati manusia yang saleh untuk
mencari pemahaman (makrifat) akan Wujud-Nya dan Dia menarik mereka dengan kuat ke arah kasih-sayang dan pengabdian kepada-Nya sedemikian rupa
sehingga mereka kehilangan dirinya
sendiri (fana).
Mengatakan dalam keadaan demikian (fana)
bahwa Tuhan tidak mau berbicara
dengan mereka, sama saja dengan
mengatakan bahwa semua kecintaan dan ibadah
mereka adalah suatu kesia-siaan, dan kerinduan
mereka hanya seperti orang bertepuk
sebelah tangan. Pandangan seperti itu salah
sekali. Mungkinkah seorang pencahari Wujud Tuhan Yang telah mengaruniakan kemampuan kepada manusia untuk mengakrabi Wujud-Nya
dan Yang telah menjadikannya gelisah karena kecintaan
kepada-Nya lalu meluputkan ia itu
dari rahmat berbicara kepada-Nya?
Benarkah bahwa seseorang dimungkinkan untuk larut (fana) dalam kecintaan kepada Allah Swt.
tetapi turunnya wahyu ke hati si pencinta Allah itu malah
dikatakan tidak mungkin atau
dianggap tidak patut dan akan mengurangi harkat-Nya?
Manusia yang menenggelamkan dirinya dalam samudra
kecintaan Allah yang
tidak bertepi dan tidak pernah berhenti
dalam pencahariannya, merupakan bukti konklusif (pasti)
bahwa batin manusia memang telah dirancang untuk mencoba memahami Tuhan. Karena itu jika kepada manusia itu lalu tidak diberikan pemahaman sempurna
melalui wahyu, sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak bermaksud
mencipta manusia untuk mengenali Wujud-Nya.
Bahkan kaum Brahmo Samaj[1] juga tidak menyangkal bahwa batin manusia yang sempurna selalu haus dan lapar
akan pemahaman Tuhan (makrifat Ilahi). Kalau sudah sependapat bahwa seorang manusia yang sempurna
secara alamiah akan mencari
pemahaman (makrifat) mengenai
Tuhan
-- dan disepakati bahwa cara yang terbaik untuk memahami
Ilahi adalah melalui wahyu Ilahi -- lalu dikatakan
bahwa cara pencapaian itu tidak
mungkin atau dianggap tidak patut, maka perlu dipertanyakan kebijakan Tuhan, mengapa Dia
menanamkan kecenderungan di
hati manusia untuk mencari Tuhan tetapi Dia
tidak memberikan sarana
guna mencapai pemahaman tersebut?
Dengan kata lain, Dia telah menyebabkan
timbulnya rasa lapar pada
manusia tetapi tidak mau memberikan roti secukupnya guna memuaskan rasa lapar itu; atau Dia telah menimbulkan rasa haus
tetapi tidak mau memberi air sebagai pemuas dahaga.
Orang yang bijak akan memahami bahwa pandangan demikian akan
menyebabkan manusia tidak mampu
menghargai rahmat-rahmat akbar dari
Tuhan-nya.
Kaum Brahmo Samaj mempunyai pandangan aneh yang menyatakan bahwa Tuhan tidak menginginkan manusia untuk
memperoleh karunia demikian, padahal Allah Yang Maha Bijaksana telah mengaruniakan rahmat
kepada manusia agar mereka bisa menyaksikan
Nur Ketuhanan dalam hidup
ini juga agar mereka tertarik kepada-Nya.” (Brahini Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 230-232, London, 1984).
Kabar Gembira Melalui Rasul Allah Mengenai Tersedianya “Qadama shidqin” (Derajat Mulia) di
Hadirat Allah Swt.
Sehubungan dengan disediakan-Nya berbagai derajat “kedekatan” manusia kepada Allah Swt. yang tidak terbatas tersebut Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ الٓرٰ ۟
تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ الۡحَکِیۡمِ ﴿﴾ اَکَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا اَنۡ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی رَجُلٍ مِّنۡہُمۡ اَنۡ اَنۡذِرِ النَّاسَ وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡۤا اَنَّ لَہُمۡ قَدَمَ صِدۡقٍ عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ ؕؔ قَالَ الۡکٰفِرُوۡنَ
اِنَّ ہٰذَا لَسٰحِرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. الٓرٰ -- Aku Allah Yang Maha Melihat. تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ الۡحَکِیۡمِ -- Inilah Ayat-ayat Kitab yang penuh hikmah. اَکَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا اَنۡ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی رَجُلٍ مِّنۡہُمۡ -- Apakah senantiasa menjadi hal yang mengherankan bagi manusia, bahwa Kami telah
mewahyukan kepada seorang lelaki di antara mereka: اَنۡ اَنۡذِرِ
النَّاسَ وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا -- “Peringatkanlah manusia dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman اَنَّ لَہُمۡ قَدَمَ
صِدۡقٍ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ -- bahwa sesungguhnya untuk mereka ada martabat yang sempurna di sisi Rabb
(Tuhan) mereka?” قَالَ الۡکٰفِرُوۡنَ اِنَّ ہٰذَا لَسٰحِرٌ مُّبِیۡنٌ -- Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini tukang sihir yang nyata.” (Yunus
[10]:1-3).
Kata tilka
dalam ayat تِلۡکَ اٰیٰتُ
الۡکِتٰبِ الۡحَکِیۡمِ -- Inilah Ayat-ayat Kitab yang penuh hikmah”, adalah kata
petunjuk yang dipakai untuk menunjuk
kepada sesuatu yang jauh. Kata ini menurut beberapa sumber
telah dipakai untuk mengisyaratkan kepada ayat-ayat
pada Kitab-kitab suci terdahulu, yang
mengandung nubuatan-nubuatan mengenai
Al-Quran dan telah menjadi sempurna
dengan diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw..
Menurut
beberapa ahli tafsir, Allah Swt. mempunyai
kitab lengkap yang telah tertulis sebelumnya (di lauh-mahfuzh)
dan dari Kitab itulah Allah Swt.
menurunkan ayat-ayat dari waktu ke waktu, dan kata penunjuk tilka
itu menunjuk kepada Kitab asli yang
ada pada Allah Swt. tersebut, sedang menurut ahli-ahli tafsir
lainnya, kata itu menunjuk kepada jauhnya
Al-Quran dari segi kedudukannya
yang luhur itu dan dimaksudkan untuk
menyatakan bahwa ayat-ayat Al-Quran itu sangat mulia.
Itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan bahwa hanya “orang-orang yang disucikan” yang dapat menyentuh kedalaman khazanah
ruhani Al-Quran (QS.56:78-83), bahkan Al-Quran
pun bukan saja merupakan petunjuk
paling sempurna bagi “orang-orang yang
bertakwa” (QS.2:3), tetapi juga mampu menggelincirkan orang-orang berhati bengkok dan berpenyakit
(QS.2:27-28; QS.3:8-9).
Kata alhakīm (yang penuh hikmah)
menunjuk kepada tiga sifat Al-Quran
yang menonjol:
(a) Ia penuh dengan hikmah; oleh karena ia meliputi dasar-dasar segala ilmu ruhani dan mengandung segala kebenaran;
(b) Ia mengandung ajaran-ajaran yang cocok untuk segala
keadaan dan suasana;
(c) memberikan putusan yang tepat dalam segala perselisihan mengenai keagamaan.
Makna kata qadam dalam ayat اَنَّ لَہُمۡ قَدَمَ
صِدۡقٍ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ -- bahwa sesungguhnya untuk mereka ada martabat yang sempurna di sisi Rabb
(Tuhan) mereka?” berarti: pengutamaan; martabat yang sempurna, kedudukan. Orang
mengatakan lahu ‘indi qadamun, artinya “ia di sisiku mempunyai kekuatan atau martabat” (Lexicon Lane).
Kemerosotan Akhlak dan Ruhani Orang-orang Kafir
Ayat قَالَ
الۡکٰفِرُوۡنَ اِنَّ ہٰذَا لَسٰحِرٌ مُّبِیۡنٌ -- ”orang-orang
kafir berkata: “Sesungguhnya orang
ini tukang sihir yang nyata” membukakan
satu kenyataan penting, bahwa
orang-orang yang sudah rusak budi
pekertinya, mereka itu telah kehilangan
segala rasa harga diri, pula kehilangan segala kepercayaan kepada diri
sendiri, sebab di sini orang-orang
kafir dilukiskan telah begitu merosot
keadaannya, sehingga mereka tidak dapat
membayangkan bahwa seseorang dari
antara mereka atau yang sebangsa
dengan mereka dapat bangkit dan menyelamatkan mereka dari lumpur kemunduran, yang ke dalamnya
mereka telah terjerumus, dan bahwa –
menurut mereka -- hanya seseorang dari luar saja yang dapat memperbaiki nasib mereka, sebagaimana
sabda Masih Mau’ud a.s. sebelumnya:
“….Kaum Brahmo Samaj mempunyai pandangan
aneh yang menyatakan bahwa Tuhan
tidak menginginkan manusia untuk memperoleh karunia demikian,
padahal Allah Yang Maha Bijaksana
telah mengaruniakan rahmat kepada manusia agar mereka
bisa menyaksikan Nur Ketuhanan dalam hidup
ini juga agar mereka tertarik kepada-Nya.”
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 19 Oktober 2015
[1]
Kaum Brahm o Samaj merupakan aliran di dalam agama Hindu
yang didir ikan oleh Ram Mohun
Roy di Kalkuta dalam tahun 1828. Terpengaruh oleh agama Islam dan Kristen,
aliran ini menjauhi polytheisme, penyembahan berhala dan sistem kasta. Sekarang
ini pengaruhnya hanya tinggal sebatas wacana teori saja. (Penterjemah/A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar