Jumat, 23 Oktober 2015

Perbedaan Kemaha-Kesempurnaan Tuhan Yang Hakiki (Allah Swt.) Dengan "Tuhan-tuhan" Tak Berdaya Rekaan Manusia




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 74

Perbedaan Kemaha-Sempurnaan Tuhan Yang Hakiki (Allah Swt.) dengan “Tuhan-tuhan” Tak Berdaya  Rekayasa Manusia & Qadama shidqin (Derajat Mulia) di Hadirat Allah Swt.   

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna ungkapan “yang menutupi” (menyelubungi) dalam ayat  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- “Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi”, maknanya ialah penjelmaan Ilahi  (Tajali Ilahiyat). Itulah makna ayat-ayat mengenai peristiwa mikraj (kenaikan ruhani)  Nabi Besar Muhammad saw. dalam firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾ اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾ اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  -- Demi bintang  apabila  jatuh.  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی --    Sahabat kamu tidak  sesat dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  --   Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,   ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی     -- Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy,  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی  -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi, ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  --   Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta mengenai apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی    -- Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی    -- Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی  -- dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  --  Yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی  -- penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی  -- Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya). (An-Najm [53]:1-19).
 
Perbedaan “Tuhan yang Hakiki” Dalam Islam (Al-Quran) dengan “Tuhan-tuhan Palsu

    Sehubungan peristiwa ruhani yang sangat halus dan rumit   berkenaan dengan “perpaduan” atau “pertemuan” antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt.  -- yang digambarkan seperti “seutas tali dua bulah busur” tersebut  -- Masih Mau’ud a.s. bersabda berkenaan pentingnya memiliki makrifat Ilahi yang hakiki:     
  “Pengetahuan seutuhnya mengenai Tuhan tergantung pada upaya kita menggapai Tuhan Yang Maha Hidup,  Yang berbicara jelas kepada para kekasih-Nya,  dimana Dia mengaruniakan kepuasan dan kesenangan atas mereka melalui bicara-Nya (kalam-Nya)  yang agung dan nikmat di kalbu. Dia berbicara kepada mereka sebagaimana seseorang bercakap-cakap dengan orang lainnya dengan suatu kepastian yang bebas dari segala keraguan atau kecurigaan.
    Dia mendengar mereka serta menanggapi mereka,  dan ketika mendengar permohonan mereka Dia akan memberitahukan mengenai pengabulan doa mereka. Dia membuktikan kepada mereka bahwa Dia itulah Tuhan karena firman-Nya yang agung dan karena mukjizat yang ditunjukkan-Nya serta melalui berbagai tanda-tanda-Nya yang agung dan perkasa
    Melalui nubuatan (kabar gaib) Dia menjanjikan pertolongan dan bantuan kepada mereka beserta bimbingan yang sempurna, tetapi pada sisi lain guna mengagungkan kebesaran dari janji-janji-Nya maka Dia akan menjadikan seluruh dunia ini memusuhi mereka. Manusia lalu menggunakan segala kemampuan, sarana dan tipu-daya mereka untuk menggagalkan janji Tuhan akan bantuan dan pertolongan bagi para kekasih-Nya tersebut, namun usaha mereka akan sia-sia saja.
      Mereka menebarkan benih kejahilan dan Tuhan akan mencerabutnya. Mereka akan menyulut api untuk membakar dan Tuhan akan memadamkannya. Mereka mengeluarkan segala kemampuan mereka dan Tuhan akan membalikkan rencana mereka ke diri mereka sendiri.
   Para muttaqi (orang-orang bertakwa) pengikut Allah  Swt. adalah orang-orang sederhana serta lurus dan di hadapan Allah mereka itu seperti anak-anak kecil di pangkuan ibunya. Dunia memusuhi karena mereka itu jauh dari sifat duniawi. Semua bentuk rencana dan sarana digunakan manusia untuk menghancurkan mereka.
    Semua orang bergabung untuk menyusahkan mereka,  dan orang-orang yang berakhlak rendah akan menembakkan anak panah mereka dari busur permusuhan yang sama. Segala bentuk fitnah dan tuduhan ditimpakan terhadap para muttaqi (orang-orang bertakwa) tersebut agar mereka ini hancur dan tanda-tanda yang diperlihatkannya sirna, namun Allah Yang Maha Kuasa akan memenuhi firman-Nya (janji-Nya) sepanjang hidup mereka.
    Mereka mendapat kehormatan dengan menerima firman Tuhan yang sejati dan jernih serta bersifat konklusif  (memutuskan).  Begitu pula mereka diberikan pengetahuan akan hal-hal yang tersembunyi (gaib) dari pengetahuan manusia umumnya melalui firman Tuhan yang jelas.
     Di sisi lain, melalui berbagai mukjizat yang meneguhkan kebenaran dari apa yang telah disampaikan, maka keimanan mereka malah menjadi lebih cerah dan bertambah kuat. Apa pun yang didambakan manusia demi pengenalan Tuhan-nya  (makrifat Ilahi) akan dipenuhi melalui manifestasi (pernyataan) lisan maupun faktual  (kenyataan),  agar tidak ada lagi kegelapan tersisa meski pun hanya sebesar zarah.
    Inilah Tuhan Yang melalui manifestasi verbal (pernyataan lisan) dan faktual  (kenyataan) dari beribu-ribu karunia yang menyejukkan hati,  sehingga manusia memperoleh keimanan yang hidup. Melalui keimanan demikian ia memperoleh hubungan suci dengan Tuhan-nya yang akan menghapus segala noda dalam dirinya, mengangkat kelemahan dirinya, menerangi kegelapan batin berkat Nur samawi serta menghasilkan perubahan yang luar biasa.
   Karena itu agama yang tidak mampu mempresentasikan (memaparkan) Tuhan sebagai Wujud Yang memiliki Sifat-sifat tersebut  -- dan malah membekukan keimanan manusia dalam dongeng-dongeng kuno yang tidak masuk akal -- jelaslah bukan agama yang benar.
    Menganut tuhan fiktif demikian sama saja dengan mengharapkan sebuah bangkai mati berkarya sebagaimana layaknya manusia hidup. Tuhan yang tidak bisa membuktikan eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya setiap saat sama saja dengan tidak ada sama sekali. Dia lebih menyerupai berhala yang tidak berbicara, tidak mendengar dan tidak menjawab pertanyaan umat manusia. Tidak juga ia akan mampu memanifestasikan (menampakkan) kekuatannya sedemikian rupa sehingga seorang atheis pun tidak akan meragukannya.”  (Brahin-i-Ahmadiyah, jld. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 21, hlm. 31-32, London, 1984).

Menjawab Keberatan  (Sangkalan) Tentang  Kemustahilan Tuhan Berkomunikasi  Dengan Manusia

    Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjawab   keberatan  atau sangkalan  dari kalangan Hindu bahwa:   “Merupakan suatu hal yang tidak patut untuk menyatakan bahwa Tuhan berbicara kepada manusia. Hubungan apa yang mungkin ada di antara manusia yang fana (tidak kekal) dengan Wujud Yang Maha Abadi dan Maha Hidup? Apakah mungkin ada kesetaraan di antara segenggam debu dengan Nur itu Sendiri?”  Beliau memberikan jawaban:  
     “Keberatan demikian tidak ada dasarnya sama sekali. Perlu dipahami bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyayang malah menanamkan hasrat di hati manusia yang saleh untuk mencari pemahaman (makrifat) akan Wujud-Nya dan Dia menarik mereka dengan kuat ke arah kasih-sayang dan pengabdian kepada-Nya sedemikian rupa sehingga mereka kehilangan dirinya sendiri (fana).
    Mengatakan dalam keadaan demikian (fana)  bahwa Tuhan tidak mau berbicara dengan mereka, sama saja dengan mengatakan bahwa semua kecintaan dan ibadah mereka adalah suatu kesia-siaan, dan kerinduan mereka hanya seperti orang bertepuk sebelah tangan. Pandangan seperti itu salah sekali. Mungkinkah seorang pencahari Wujud Tuhan Yang telah mengaruniakan kemampuan kepada manusia untuk mengakrabi Wujud-Nya dan Yang telah menjadikannya gelisah karena kecintaan kepada-Nya  lalu meluputkan ia itu dari rahmat berbicara kepada-Nya?
    Benarkah bahwa seseorang dimungkinkan untuk larut (fana) dalam kecintaan kepada Allah  Swt.  tetapi turunnya wahyu ke hati si pencinta Allah itu malah dikatakan tidak mungkin atau dianggap tidak patut dan akan mengurangi harkat-Nya?
    Manusia yang menenggelamkan dirinya dalam samudra kecintaan Allah yang tidak bertepi dan tidak pernah berhenti dalam pencahariannya, merupakan bukti konklusif  (pasti) bahwa batin manusia memang telah dirancang untuk mencoba memahami Tuhan.  Karena itu jika kepada manusia itu lalu tidak diberikan pemahaman sempurna melalui wahyu, sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak bermaksud mencipta manusia untuk mengenali Wujud-Nya.
    Bahkan kaum Brahmo Samaj[1] juga tidak menyangkal bahwa batin manusia yang sempurna selalu haus dan lapar akan pemahaman Tuhan (makrifat Ilahi). Kalau sudah sependapat bahwa seorang manusia yang sempurna secara alamiah akan mencari pemahaman  (makrifat) mengenai Tuhan --  dan disepakati bahwa cara yang terbaik untuk memahami Ilahi adalah melalui wahyu Ilahi -- lalu dikatakan bahwa cara pencapaian itu tidak mungkin atau dianggap tidak patut,  maka perlu dipertanyakan kebijakan Tuhan, mengapa Dia menanamkan kecenderungan di hati manusia untuk mencari Tuhan tetapi  Dia tidak memberikan sarana guna mencapai pemahaman tersebut?
    Dengan kata lain, Dia telah menyebabkan timbulnya rasa lapar pada manusia tetapi tidak mau memberikan roti secukupnya guna memuaskan rasa lapar itu; atau Dia telah menimbulkan rasa haus tetapi tidak mau memberi air sebagai pemuas dahaga. Orang yang bijak akan memahami bahwa pandangan demikian akan menyebabkan manusia tidak mampu menghargai rahmat-rahmat akbar dari Tuhan-nya.
      Kaum Brahmo Samaj mempunyai pandangan aneh yang menyatakan bahwa Tuhan tidak menginginkan manusia untuk memperoleh karunia demikian, padahal Allah Yang Maha Bijaksana telah mengaruniakan rahmat kepada manusia agar mereka bisa menyaksikan Nur Ketuhanan dalam hidup ini juga agar mereka tertarik kepada-Nya.”  (Brahini Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 230-232, London, 1984).

Kabar Gembira Melalui Rasul Allah  Mengenai Tersedianya “Qadama shidqin” (Derajat Mulia) di  Hadirat Allah Swt.

     Sehubungan dengan disediakan-Nya berbagai derajat “kedekatan” manusia kepada Allah Swt. yang tidak terbatas tersebut Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ الٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ  الۡحَکِیۡمِ ﴿﴾  اَکَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا اَنۡ اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی رَجُلٍ مِّنۡہُمۡ  اَنۡ اَنۡذِرِ النَّاسَ وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنَّ لَہُمۡ قَدَمَ صِدۡقٍ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ ؕؔ قَالَ الۡکٰفِرُوۡنَ  اِنَّ ہٰذَا لَسٰحِرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. الٓرٰ --   Aku Allah Yang Maha Melihat. تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ  الۡحَکِیۡمِ  --     Inilah  Ayat-ayat Kitab yang penuh hikmah.    اَکَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا اَنۡ اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی رَجُلٍ مِّنۡہُمۡ  --     Apakah  senantiasa menjadi hal yang mengherankan bagi manusia, bahwa Kami telah mewahyukan kepada seorang lelaki di antara mereka: اَنۡ اَنۡذِرِ النَّاسَ وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  --  “Peringatkanlah manusia dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman اَنَّ لَہُمۡ قَدَمَ صِدۡقٍ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ --  bahwa sesungguhnya untuk mereka ada martabat yang  sempurna  di sisi Rabb (Tuhan) mereka?” قَالَ الۡکٰفِرُوۡنَ  اِنَّ ہٰذَا لَسٰحِرٌ  مُّبِیۡنٌ  -- Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini tukang sihir    yang nyata.”   (Yunus [10]:1-3).
 Kata  tilka  dalam ayat تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ  الۡحَکِیۡمِ  --     Inilah  Ayat-ayat Kitab yang penuh hikmah”,   adalah   kata petunjuk yang dipakai untuk menunjuk kepada sesuatu yang jauh. Kata ini menurut beberapa sumber telah dipakai untuk mengisyaratkan kepada ayat-ayat pada Kitab-kitab suci terdahulu, yang mengandung nubuatan-nubuatan mengenai Al-Quran dan telah menjadi sempurna dengan diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw..
      Menurut beberapa ahli tafsir, Allah Swt.   mempunyai kitab lengkap yang telah tertulis sebelumnya (di lauh-mahfuzh) dan dari Kitab itulah Allah Swt.  menurunkan ayat-ayat dari waktu ke waktu, dan kata penunjuk  tilka itu menunjuk kepada Kitab asli yang ada pada Allah Swt. tersebut, sedang menurut ahli-ahli tafsir lainnya, kata itu menunjuk kepada jauhnya Al-Quran dari segi kedudukannya yang luhur itu dan dimaksudkan untuk menyatakan  bahwa ayat-ayat Al-Quran itu sangat mulia.
   Itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan bahwa hanya “orang-orang yang disucikan” yang dapat menyentuh kedalaman khazanah ruhani Al-Quran (QS.56:78-83), bahkan Al-Quran pun bukan saja merupakan petunjuk paling sempurna bagi “orang-orang yang bertakwa” (QS.2:3), tetapi juga mampu menggelincirkan orang-orang berhati bengkok dan berpenyakit (QS.2:27-28; QS.3:8-9).
 Kata alhakīm (yang penuh hikmah) menunjuk kepada tiga sifat Al-Quran yang menonjol:
      (a) Ia penuh dengan hikmah; oleh karena ia meliputi dasar-dasar segala ilmu ruhani dan mengandung segala kebenaran;
      (b) Ia mengandung ajaran-ajaran yang cocok untuk segala keadaan dan suasana;  
     (c) memberikan  putusan yang tepat dalam segala perselisihan mengenai keagamaan.
       Makna kata  qadam dalam ayat اَنَّ لَہُمۡ قَدَمَ صِدۡقٍ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ --  bahwa sesungguhnya untuk mereka ada martabat yang  sempurna  di sisi Rabb (Tuhan) mereka?” berarti: pengutamaan; martabat yang sempurna, kedudukan. Orang mengatakan lahu ‘indi qadamun, artinya “ia di sisiku  mempunyai kekuatan atau martabat” (Lexicon Lane).

Kemerosotan Akhlak dan Ruhani Orang-orang Kafir

       Ayat  قَالَ الۡکٰفِرُوۡنَ  اِنَّ ہٰذَا لَسٰحِرٌ  مُّبِیۡنٌ  --  ”orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini tukang sihir    yang nyata”    membukakan satu kenyataan penting, bahwa orang-orang yang sudah rusak budi pekertinya, mereka itu telah kehilangan segala rasa harga diri, pula kehilangan segala kepercayaan kepada diri sendiri, sebab di sini orang-orang kafir dilukiskan telah begitu merosot keadaannya, sehingga mereka tidak dapat membayangkan bahwa seseorang dari antara mereka atau yang sebangsa dengan mereka dapat bangkit dan menyelamatkan mereka dari lumpur kemunduran, yang ke dalamnya mereka telah terjerumus, dan bahwa – menurut mereka  -- hanya seseorang dari luar saja yang dapat memperbaiki nasib mereka, sebagaimana sabda Masih Mau’ud a.s. sebelumnya:
“….Kaum Brahmo Samaj mempunyai pandangan aneh yang menyatakan bahwa Tuhan tidak menginginkan manusia untuk memperoleh karunia demikian, padahal Allah Yang Maha Bijaksana telah mengaruniakan rahmat kepada manusia agar mereka bisa menyaksikan Nur Ketuhanan dalam hidup ini juga agar mereka tertarik kepada-Nya.” 

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 19 Oktober  2015





[1] Kaum Brahm o Samaj merupakan aliran di dalam agama Hindu yang didir ikan oleh Ram  Mohun Roy di Kalkuta dalam tahun 1828. Terpengaruh oleh agama Islam dan Kristen, aliran ini menjauhi polytheisme, penyembahan berhala dan sistem kasta. Sekarang ini pengaruhnya hanya tinggal sebatas wacana teori saja. (Penterjemah/A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar