بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 63
Proses Kelahiran
(Kemunculan) Ruh Dalam Janin Bayi & Tubuh Jasmani Merupakan “Wadah”
Bagi Ruh
dan Saling Mempengaruhi
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai kesejajaran pertumbuhan jasmani
dan ruhani manusia, yakni sesudah mengemukakan berbagai tingkat evolusi ruhani manusia dalam sepuluh
ayat pertama Surah Al-Mu’minun (QS.23:2-12), selanjutnya Al-Quran
menjelaskan dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya berbagai tingkat perkembangan fisiknya, dan dengan
demikian membuktikan adanya kesejajaran
ajaib di antara kelahiran dan pertumbuhan jasmani manusia dengan ruhaninya, firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ
مِّنۡ طِیۡنٍ ﴿ۚ ﴾ ثُمَّ
جَعَلۡنٰہُ
نُطۡفَۃً فِیۡ قَرَارٍ مَّکِیۡنٍ
﴿۪ ﴾ ثُمَّ خَلَقۡنَا
النُّطۡفَۃَ عَلَقَۃً فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَۃَ
مُضۡغَۃً فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا
الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ٭ ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ ؕ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ اَحۡسَنُ الۡخٰلِقِیۡنَ ﴿ؕ ﴾
Dan
sungguh Kami benar-benar telah
menciptakan insan (manusia) dari sari tanah liat, kemudian Kami menjadikannya air mani di dalam tempat
penyimpanan yang kokoh. Kemudian Kami menciptakan air mani menjadi segumpal
darah, maka Kami menciptakan segumpal darah itu menjadi segumpal daging, maka Kami menciptakan dari segumpal daging itu tulang-tulang, kemu-dian Kami membungkus tulang-tulang itu
dengan daging ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ -- kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk
lain, الۡخٰلِقِیۡنَ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ اَحۡسَنُ --
maka Maha Berkat Allah, Sebaik-baik
Pencipta (Al-Mu’minūn [23]:13-15).
Proses Terciptanya “Ruh”
Manusia Dalam Rahim Ibu
Dengan menyampingkan istilah-istilah ilmu
hayat Surah ini memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas dan mudah
dipahami. Ilmu hayat tidak menemukan
sesuatu yang bertentangan sedikit pun
dengan lukisan Al-Quran. Kata-kata, خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ مِّنۡ طِیۡنٍ -- “Kami menciptakan manusia dari inti sari tanah liat”
menyebutkan proses kejadian manusia
mulai dari tingkat paling awal sekali
ketika ia masih dalam keadaan tidak
bernyawa dalam bentuk debu, dan
berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus
-- di bawah pengaturan Sifat Rabubiyat
Allah Swt. -- berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia. Pada tingkat فَخَلَقۡنَا
الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا -- “kemudian
Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan
fisik mudigah (janin) menjadi
sempurna.
Kata-kata ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ
خَلۡقًا اٰخَرَ – “kemudian
Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain” menunjukkan, bahwa ruh
manusia tidak dimasukkan ke dalam wujud manusia dari luar -- sebagaimana
banyak yang salah tafsir mengenai
makna “peniupan ruh” oleh Allah Swt.
(QS.15:30; QS.32:7-10; QS,38:72-73) -- melainkan
tumbuh dalam badan janin ketika ia
berkembang dalam rahim.
Mula-pertama ruh tidak mempunyai wujud terpisah dari badan (tubuh janin), tetapi proses-proses yang dilalui oleh badan selama berlangsung perkembangannya dalam rahim ibu menyuling
dari badan itu sari
halus yang disebut ruh.
Segera sesudah hubungan di antara ruh
dan tubuh (janin) dalam rahim menjadi pas
benar-benar, maka jantung pun
mulailah bekerja. Sesudah itu ruh
mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya tubuh
jasmani itu berperan sebagai wadah
bagi ruh itu, dan keduanya saling
mempengaruhi.
Proses Terciptanya “Ruh” Dalam Janin
Dalam buku “Islami Ushul Ki Filasafi
“ (Falsafah Ajaran Islam) Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan masalah yang halus tersebut:
“Ringkasnya, penderitaan jasmani juga
memperlihatkan pemandangan menakjubkan, yang dengan itu terbukti bahwa antara ruh
dan tubuh terdapat suatu pertalian (hubungan) demikian rupa, di
luar kemampuan manusia untuk menyingkapkan rahasianya.
Selanjutnya dalil mengenai adanya pertalian
(hubungan) itu ialah apabila kita
renungkan dengan seksama, kita akan mengetahui bahwa induk ruh
justru tubuh itu juga. Sesungguhnya ruh tidak jatuh dari
atas dan masuk ke dalam kandungan perempuan hamil, melainkan ruh adalah
suatu nur (cahaya) yang justru terkandung dalam nutfah
(sperma/mani) secara tersembunyi dan semakin bercahaya seiring perkembangan
tubuh (embrio).
Kalam Suci Allah Ta'ala menjelaskan kepada
kita bahwa ruh berasal dari struktur yang memang sudah terbentuk dari
nutfah di dalam rahim. Sebagaimana Dia berfirman dalam
Quran Syarif:
ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا
ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Yakni, “Kemudian Kami jadikan tubuh yang berwujud dalam rahim ibu
dalam bentuk lain serta
menzahirkan lagi satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Dan Maha Beberkat-lah Tuhan
dan tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya” (Al-Mu’minūn,
15).
Di
dalam firman-Nya bahwa: "Kami menzahirkan lagi satu ciptaan lain di dalam tubuh itu
juga", di situ terkandung rahasia yang sangat dalam tentang
hakikat ruh, dan juga mengisyaratkan adanya pertalian (hubungan)
yang sangat erat antara ruh dan tubuh manusia.
Isyarat itu mengajarkan kepada kita
bahwa perbuatan-perbuatan jasmani manusia, ucapan-ucapan,
dan segala perbuatan thabi'i (alami) manusia, apabila semuanya
dikerjakan untuk Allah dan mulai nampak di jalan-Nya
maka hal itu berkaitan dengan falsafah Ilahi ini juga. Yakni di dalam amal
perbuatan yang ikhlas pun sejak
semula sudah tersembunyi suatu ruh, sebagaimana tersembunyinya ruh
dalam nutfah.
Semakin berkembang amal-amal
tersebut maka ruh pun semakin cemerlang. Dan tatkala amal-amal
tersebut sudah sempurna maka serta-merta ruh itu memancar dengan penampakannya
yang sempurna serta memperlihatkan wujudnya
sendiri dari sisi ke-ruh-annya, dan mulailah gerak kehidupan yang jelas.
Manakala struktur amal-amal
itu sudah sempurna perkembangannya, segeralah bagaikan cahaya kilat
ia mulai
menampakkan sinarnya yang nyata.
Itulah tahap yang mengenainya Allah Ta'ala secara kiasan berfirman dalam Quran Syarif:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ
فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Yakni, “Tatkala Aku telah siap membuat struktur dan telah menyelaraskan segala penzahiran
manifestasinya dan Aku telah meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka rebahkanlah diri di atas tanah seraya bersujud kepada-Nya” (Al-Hijr, 30).
Makna “Sujudnya”
Para Malaikat Kepada “Adam”
Jadi, di dalam ayat tersebut terkandung
isyarat bahwa apabila struktur
amal-amal itu telah sempurna maka di dalam struktur tersebut
bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh Allah Ta'ala sebagai datang dari
Zat-Nya Sendiri. Dan karena struktur tersebut baru siap sesudah kehidupan duniawi mengalami kemusnahan maka cahaya Ilahi yang
tadinya redup serta-merta menyala berkilauan.
Dengan melihat keagungan Tuhan serupa
ini wajib bagi segala sesuatu untuk bersujud
dan tertarik kepadanya, maka segala sesuatu bersujud ketika
melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak ke arah itu, kecuali iblis yang
bersahabat dengan kegelapan.
Saya kembali lagi kepada pembicaraan semua,
saya jelaskan, sangatlah benar dan tepat bahwa ruh adalah suatu cahaya
yang lathif (halus), tumbuh dari tubuh itu serta dibesarkan di dalam rahim. Yang
dimaksud dengan terciptanya itu ialah bahwa pada taraf permulaan ia tersembunyi
dan tidak diketahui, kemudian menjadi nampak nyata.
Pada taraf permulaan intinya
sudah terkandung dalam nutfah (sperma/mani). Tidak ragu lagi -- sesuai
dengan kehendak, izin serta keinginan Tuhan Samawi -- ruh memiliki
pertalian yang menakjubkan dengan nutfah. Dan ruh merupakan
sebuah permata cahaya ruhani yang dimiliki nutfah.
Tidaklah dapat dikatakan bahwa ruh
merupakan bagian dari nutfah, seperti halnya bagian-bagian badan
yang dimiliki tubuh. Akan tetapi tidak pula dapat dikatakan bahwa ruh
datang dari luar atau jatuh ke
bumi lalu bercampur dengan bahan nutfah, melainkan ia (ruh)
tersembunyi di dalam nutfah seperti halnya api tersembunyi di
dalam batu api. Dan yang dimaksud oleh Kitab Allah, ruh tidak
turun dari langit secara terpisah
atau jatuh ke bumi dari angkasa, kemudian secara kebetulan berpadu dengan
nutfah lalu masuk ke dalam rahim.
Betapa pun pendapat demikian tidak dapat
dibenarkan. Jika kita berpendapat seperti itu maka hukum alam menyalahkan
kita. Sebab setiap hari kita menyaksikan
bahwa di dalam makanan yang kotor dan basi serta di dalam borok yang kotor
terdapat ribuan kuman. Pada pakaian yang kotor melekat ratusan
bakteri. Di dalam perut manusia pun berkembang-biak cacing-cacing
kermi dan sebagainya. Sekarang, dapatkah kita mengatakan bahwa mereka itu
terlihat oleh seseorang datang dari luar atau turun dari langit? Jadi, yang
benar ialah ruh muncul dari dalam tubuh juga. Dan berdasarkan dalil
ini terbukti juga bahwa ruh adalah suatu makhluk (yang
diciptakan).
Maksud kami melalui uraian ini
adalah, bahwa Yang Maha Kuasa -- yang dengan kekuasaan sempurna telah
memunculkan ruh dari tubuh juga
-- Dia berkehendak agar kelahiran kedua bagi ruh pun diwujudkan melalui tubuh juga.
Gerak-gerik ruh bergantung kepada gerak-gerik tubuh kita.
Kejurusan mana kita membawa tubuh pastilah ruh pun akan ikut
serta. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi Kitab Suci Allah
Ta’ala untuk memperhatikan keadaan-keadaan thabi'i (alami)
manusia.
Itulah sebabnya maka Al-Quran Syarif sangat menaruh perhatian terhadap perbaikan keadaan-keadaan
thabi'i (alami) manusia dan
mencantumkan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan: tertawa,
menangis, makan-minum, berpakaian, tidur, berbicara, diam, nikah, membujang,
berjalan, menetap, serta mensyaratkan mandi dan sebagainya untuk kebersihan
lahiriah.
Begitu pula ketentuan-ketentuan khusus
dalam keadaan sakit dan dalam keadaan
sehat. Dan Quran Syarif menegaskan bahwa keadaan-keadaan jasmani
manusia berpengaruh pada keadaan-keadaan
ruhani. Seandainya semua petunjuk itu ditulis secara terinci,
tidak dapat saya bayangkan apakah waktu mengizinkan untuk menguraikan masalah
itu.” (Falsafah Ajaran Islam).
Tubuh
Jasmani Merupakan “Wadah” bagi Ruh
Demikianlah penjelasan Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan
hakikat ruh manusia, yang bukan pekerjaan manusia biasa untuk mengungkapkan misterinya, firman-Nya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ -- katakanlah:
“Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), وَ مَاۤ
اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا
قَلِیۡلًا -- dan kamu sama sekali tidak
diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit” (Bani Israil [17]:86).
Sesudah mengemukakan berbagai tingkat evolusi ruhani manusia dalam sepuluh ayat pertama Surah ini (QS.23:2-12),
selanjutnya Al-Quran menjelaskan dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat
berikutnya berbagai tingkat perkembangan
fisiknya (QS,23:13-15) dan dengan demikian membuktikan adanya kesejajaran ajaib di antara kelahiran dan pertumbuhan jasmani manusia dengan ruhaninya.
Dengan menyampingkan
istilah-istilah ilmu hayat Surah ini
memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Ilmu hayat tidak menemukan sesuatu yang bertentangan sedikit pun dengan lukisan
Al-Quran. Kata-kata, خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ
سُلٰلَۃٍ مِّنۡ طِیۡنٍ -- “Kami menciptakan manusia dari inti sari tanah liat”
menyebutkan proses kejadian manusia
mulai dari tingkat paling awal sekali
ketika ia masih dalam keadaan tidak
bernyawa dalam bentuk debu, dan
berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus
-- di bawah pengaturan Sifat Rabubiyat
Allah Swt. -- berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia.
Pada tingkat فَخَلَقۡنَا
الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا -- “kemudian
Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan
fisik mudigah (janin) menjadi
sempurna. Selanjutnya Allah Swt. berrfirman:
ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ – “kemudian Kami
menumbuhkannya menjadi makhluk
lain” menunjukkan, bahwa ruh manusia tidak
dimasukkan ke dalam wujud manusia
dari luar, melainkan tumbuh dalam badan janin ketika ia berkembang dalam rahim. Mula-pertama ruh tidak mempunyai wujud terpisah dari badan,
tetapi proses-proses yang dilalui oleh badan
selama berlangsung perkembangannya
dalam rahim ibu menyuling
dari badan itu sari
halus yang disebut ruh.
Segera sesudah hubungan di antara ruh
dan badan bayi dalam rahim menjadi pas benar-benar, maka jantung pun mulailah bekerja. Sesudah
itu ruh mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya badan
jasmani itu berperan sebagai wadah
bagi ruh itu.
Peran Sifat Rabubiyat Allah Swt. Dalam
Proses Terciptanya Bayi Dalam Rahim
Ibu
Jadi, dengan menyampingkan istilah-istilah ilmu hayat Surah Al-Mu’minun 13-15 memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas
dan mudah dipahami. Ilmu hayat tidak
menemukan sesuatu yang bertentangan
sedikit pun dengan lukisan Al-Quran. Kata-kata, خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ
مِّنۡ طِیۡنٍ -- “Kami
menciptakan manusia dari inti sari tanah
liat” menyebutkan proses kejadian
manusia mulai dari tingkat paling awal
sekali ketika ia masih dalam keadaan tidak
bernyawa dalam bentuk debu, dan
berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus
-- di bawah pengaturan Sifat Rabubiyat
Allah Swt. -- berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia. Pada tingkat فَخَلَقۡنَا
الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا -- “kemudian
Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan
fisik mudigah (janin) menjadi sempurna.
Kata-kata
ثُمَّ
اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ – “kemudian
Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain” menunjukkan, bahwa ruh
manusia tidak dimasukkan ke dalam wujud manusia dari luar, melainkan tumbuh dalam badan janin ketika ia
berkembang dalam rahim. Mula-pertama ruh
tidak mempunyai wujud terpisah dari
badan, tetapi proses-proses yang dilalui oleh badan selama berlangsung perkembangannya
dalam rahim ibu menyuling
dari badan itu sari
halus yang disebut ruh.
Segera sesudah hubungan di antara ruh
dan badan bayi dalam rahim menjadi pas benar-benar, maka jantung pun mulailah bekerja. Sesudah
itu ruh mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya badan
jasmani itu berperan sebagai wadah
bagi ruh itu.
Ruh
jenis inilah -- yang diciptakan Allah Swt. melalui hukum “sebab akibat” dalam rahim
ibu --
yang akan melanjutkan kehidupannya
di alam akhirat setelah mengalami
kematian tubuh jasmaninya. Pertumbuhan ruh
manusia tersebut sangat erat hubungannya dengan kepatuh-taatan
manusia terhadap hukum-hukum syariat
– yakni dengan Sifat Rahīmiyat (Maha
Penyayang) Allah Swt. -- sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat
sebelumnya.
Dengan demikian penyebutan rahim ibu dengan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) penuh dengan hikmah yang sangat halus, sehingga Nabi
Besar Muhammad saw. dalam khutbah nikah bagi pasangan pengantin selalu menyinggung masalah
ketakwaan dan pentingnya menjaga
hubungan kekerabatan
(silaturahim -- QS.4:2), firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ مِنَ الۡمَآءِ بَشَرًا فَجَعَلَہٗ نَسَبًا وَّ صِہۡرًا ؕ وَ کَانَ رَبُّکَ
قَدِیۡرًا ﴿﴾
Dan Dia-lah Yang menciptakan manusia dari air,
dan menjadikannya keluarga melalui pertalian darah dan keluarga melalui pernikah-an, dan Rabb (Tuhan) engkau Maha Kuasa (Al-Furqān [25]:55).
Firman-Nya lagi:
ذٰلِکَ
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ
الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿۶﴾ الَّذِیۡۤ
اَحۡسَنَ کُلَّ شَیۡءٍ خَلَقَہٗ وَ
بَدَاَ خَلۡقَ الۡاِنۡسَانِ مِنۡ طِیۡنٍ ۚ﴿﴾ ثُمَّ جَعَلَ
نَسۡلَہٗ مِنۡ سُلٰلَۃٍ مِّنۡ مَّآءٍ
مَّہِیۡنٍ ۚ﴿﴾ ثُمَّ سَوّٰىہُ
وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ وَ جَعَلَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ
الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ قَلِیۡلًا
مَّا تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤا ءَ
اِذَا ضَلَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ ءَ اِنَّا لَفِیۡ خَلۡقٍ جَدِیۡدٍ ۬ؕ بَلۡ ہُمۡ
بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ مَّلَکُ الۡمَوۡتِ الَّذِیۡ
وُکِّلَ بِکُمۡ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Demikian itulah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang,
Yang telah menciptakan segala sesuatu
sebaik-baiknya, dan
وَ بَدَاَ
خَلۡقَ الۡاِنۡسَانِ مِنۡ طِیۡنٍ -- Dia memulai penciptaan manusia dari tanah liat, ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَہٗ مِنۡ
سُلٰلَۃٍ مِّنۡ مَّآءٍ مَّہِیۡنٍ -- Kemudian Dia
menjadikan keturunannya dari sari cairan nutfah yang hina, ثُمَّ سَوّٰىہُ وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ
-- Kemudian Dia menyempur-nakannya
dan Dia meniupkan ke dalamnya ruh-Nya,
وَ جَعَلَ
لَکُمُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ -- dan Dia menjadikan bagi kamu telinga, mata,
dan hati. قَلِیۡلًا مَّا
تَشۡکُرُوۡنَ -- Sedikit sekali kamu bersyukur. وَ قَالُوۡۤا ءَ
اِذَا ضَلَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ ءَ اِنَّا لَفِیۡ خَلۡقٍ جَدِیۡ
-- Dan mereka berkata: “Apakah jika kami telah hilang di bumi, apakah kami benar-benar akan menjadi ciptaan baru?”
بَلۡ ہُمۡ
بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ کٰفِرُوۡنَ -- Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Rabb-nya (Tuhan-nya). قُلۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ
مَّلَکُ الۡمَوۡتِ الَّذِیۡ وُکِّلَ بِکُمۡ
ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ
تُرۡجَعُوۡنَ -- Katakanlah: “Malaikat maut yang ditugaskan
kepada kamu akan mematikanmu, kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu, kamu akan
dikembalikan.” (As-Sajdah [32]:7-12).
Turunnya Wahyu Ilahi
Merupakan Keniscayaan
Makna ayat ثُمَّ سَوّٰىہُ وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ
-- “kemudian Dia menyempurnakannya dan
Dia meniupkan ke dalamnya ruh-Nya”, karena ruh berarti jiwa manusia dan juga wahyu
Ilahi (Lexicon Lane),
maka ayat ini berarti, bahwa sesudah perkembangan-jasmani
mudigah (janin) di dalam rahim
ibu menjadi sempurna maka mudigah Ijanin) itu mulai bernyawa; atau berarti juga bahwa
sesudah perkembangan ruhani manusia menjadi
sempurna maka ia menerima wahyu Ilahi, sebagaimana yang terjadi dengan Nabi Adam a.s.,
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian Kami
memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ -- - lalu Kami berfirman kepada para malaikat: ”Sujudlah
yakni patuhlah sepenuhnya kamu
kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ -- maka mereka bersujud kecuali iblis,
-- لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.
(Al-A’rāf
[7]:12)
Makna kalimat
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ -- “Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan kamu”, bahwa manusia dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah liat (thīn) mudah
diberi bentuk apa pun.
Sebagaimana ketika mudigah dalam rahim
ibu keadaan pertumbuhannya telah
menjadi janin yang sempurna segala
sesuatunya, maka akan lahir ruh
(QS.23:13-15), demikian pula jika perkembangan akhlak dan ruhani manusia
telah sempurna keadaannya maka menerima wahyu Ilahi merupakan keniscayaan yang akan dialaminya, itulah
makna ayat: ثُمَّ سَوّٰىہُ وَ نَفَخَ فِیۡہِ
مِنۡ رُّوۡحِہٖ -- “kemudian Dia
menyempurnakannya dan Dia meniupkan
ke dalamnya ruh-Nya” (QS.32:10).
Namun
demikian Allah Swt. tidak memerintahkan
kepada para malaikat untuk “sujud” (patuh-taat) kepada mereka,
melainkan hanya kepada orang yang paling sempurna perkembangan akhlak dan ruhaninya
yaitu yang telah dianugerahi martabat ruhani
sebagai nabi (rasul) Allah, sebagaimana halnya Adam, firman-Nya: ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ
اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- lalu Kami berfirman kepada para
malaikat: ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu kepada Adam" (QS.7:12).
Makna
Perintah Kepada Para Malaikat Untuk “Sujud”
Kepada Adam
Karena perintah supaya sujud kepada Adam a.s. itu ditujukan kepada malaikat-malaikat, maka perintah itu
berlaku untuk semua makhluk, sebab para malaikat adalah "tangan-tangan" atau instrument Allah Swt. yang bertugas
melaksanakan perintah-perintah-Nya
atau kehendak-kehendak-Nya: فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ -- maka mereka bersujud kecuali iblis,
-- لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.”
Iblis
itu bukan dari kalangan malaikat melainkan dari
golongan jin (QS.18:51). Iblis adalah gembong ruh-ruh jahat, sedangkan Malaikat
Jibril a.s. adalah pemimpin malaikat-malaikat.
Kejadian yang disebutkan di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan nenek-moyang pertama umat manusia yang dapat disebut Adam
pertama. Kejadian itu hanya berhubungan dengan Nabi Adam a.s. (yang tinggal
di bumi ini kira-kira 6.000 tahun yang lalu dan menurunkan Nabi Nuh a.s., dan Nabi Ibrahim a.s. serta keturunan beliau-beliau yang
dibahas dalam kisah ini.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 7 Oktober
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar