Sabtu, 10 Oktober 2015

Proses Kelahiran (Kemunculan) "Ruh" Dalam Janin Bayi & Tubuh Jasmani Merupakan "Wadah" Bagi "Ruh" dan Saling Mempengaruhi



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 63

Proses Kelahiran (Kemunculan) Ruh   Dalam Janin  Bayi & Tubuh Jasmani  Merupakan “Wadah” Bagi  Ruh  dan Saling Mempengaruhi

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai kesejajaran pertumbuhan jasmani dan ruhani manusia, yakni  sesudah mengemukakan berbagai tingkat evolusi ruhani manusia dalam sepuluh ayat pertama Surah Al-Mu’minun   (QS.23:2-12), selanjutnya Al-Quran menjelaskan dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya berbagai tingkat perkembangan fisiknya, dan dengan demikian membuktikan adanya kesejajaran ajaib di antara kelahiran dan pertumbuhan jasmani manusia dengan ruhaninya,  firman-Nya:
 وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ  مِّنۡ طِیۡنٍ ﴿ۚ ﴾  ثُمَّ  جَعَلۡنٰہُ  نُطۡفَۃً  فِیۡ قَرَارٍ مَّکِیۡنٍ ﴿۪ ﴾  ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَۃَ عَلَقَۃً  فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَۃَ مُضۡغَۃً         فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ٭ ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ ؕ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ  اَحۡسَنُ  الۡخٰلِقِیۡنَ ﴿ؕ ﴾  
Dan sungguh  Kami benar-benar  telah menciptakan  insan  (manusia) dari sari tanah liat, kemudian Kami menjadikannya air mani di dalam tempat penyimpanan yang kokoh. Kemudian Kami menciptakan air mani menjadi segumpal darah, maka Kami menciptakan  segumpal darah itu menjadi segumpal daging, maka Kami menciptakan dari segumpal daging itu tulang-tulang, kemu-dian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ -- kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain,    الۡخٰلِقِیۡنَ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ  اَحۡسَنُ --   maka Maha Berkat AllahSebaik-baik Pencipta (Al-Mu’minūn [23]:13-15).

Proses Terciptanya “Ruh” Manusia Dalam Rahim Ibu

    Dengan menyampingkan istilah-istilah ilmu hayat Surah ini memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Ilmu hayat tidak menemukan sesuatu yang bertentangan sedikit pun dengan lukisan Al-Quran. Kata-kata, خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ  مِّنۡ طِیۡنٍ  -- “Kami menciptakan  manusia dari inti sari tanah liat” menyebutkan proses kejadian manusia mulai dari tingkat paling awal sekali ketika ia masih dalam keadaan tidak bernyawa dalam bentuk debu, dan berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus  --    di bawah pengaturan  Sifat Rabubiyat Allah Swt. --  berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia.   Pada tingkat  فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا  -- “kemudian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan fisik mudigah (janin) menjadi sempurna.
     Kata-kata ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ – “kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain” menunjukkan, bahwa ruh manusia tidak dimasukkan ke dalam wujud manusia dari luar -- sebagaimana banyak yang salah tafsir mengenai makna “peniupan ruh”  oleh Allah Swt. (QS.15:30;  QS.32:7-10; QS,38:72-73) -- melainkan tumbuh dalam badan janin ketika ia berkembang dalam rahim.
      Mula-pertama ruh tidak mempunyai wujud terpisah dari badan (tubuh  janin), tetapi proses-proses yang dilalui oleh badan selama berlangsung perkembangannya dalam rahim ibu  menyuling dari badan itu  sari halus yang disebut ruh.
     Segera sesudah hubungan di antara ruh dan tubuh (janin)  dalam rahim menjadi pas benar-benar, maka jantung pun mulailah bekerja. Sesudah itu ruh mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya tubuh jasmani itu berperan sebagai wadah bagi ruh itu, dan keduanya saling mempengaruhi.

Proses Terciptanya  “Ruh” Dalam Janin

      Dalam buku “Islami Ushul Ki Filasafi “ (Falsafah Ajaran Islam)  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan masalah yang halus tersebut:
   “Ringkasnya, penderitaan jasmani juga memperlihatkan pemandangan menakjubkan, yang dengan itu terbukti bahwa antara ruh dan tubuh terdapat suatu pertalian (hubungan) demikian rupa, di luar kemampuan manusia untuk menyingkapkan rahasianya.
    Selanjutnya dalil mengenai adanya pertalian (hubungan) itu  ialah apabila kita renungkan dengan seksama, kita akan mengetahui bahwa induk  ruh  justru tubuh itu juga. Sesungguhnya ruh tidak jatuh dari atas dan masuk ke dalam kandungan perempuan hamil, melainkan ruh adalah suatu nur (cahaya) yang justru terkandung dalam nutfah (sperma/mani) secara tersembunyi dan semakin bercahaya seiring perkembangan tubuh (embrio).
     Kalam Suci Allah Ta'ala menjelaskan kepada kita bahwa ruh berasal dari struktur yang memang sudah terbentuk dari nutfah di dalam rahim. Sebagaimana Dia berfirman   dalam  Quran Syarif:
ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Yakni, “Kemudian Kami jadikan tubuh yang berwujud dalam rahim ibu dalam bentuk lain serta menzahirkan lagi satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Dan Maha Beberkat-lah Tuhan dan tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya (Al-Mu’minūn, 15).
      Di dalam firman-Nya bahwa: "Kami menzahirkan  lagi satu ciptaan lain di dalam tubuh itu juga", di situ terkandung rahasia yang sangat dalam tentang hakikat ruh, dan juga mengisyaratkan adanya pertalian (hubungan) yang sangat erat antara ruh dan tubuh manusia.
    Isyarat itu mengajarkan  kepada kita  bahwa perbuatan-perbuatan jasmani manusia, ucapan-ucapan, dan segala perbuatan thabi'i (alami) manusia, apabila semuanya dikerjakan untuk Allah dan mulai nampak di  jalan-Nya  maka hal itu berkaitan dengan falsafah  Ilahi ini juga. Yakni di dalam amal perbuatan yang ikhlas pun  sejak semula sudah tersembunyi suatu ruh, sebagaimana tersembunyinya ruh dalam nutfah.
     Semakin berkembang amal-amal tersebut maka ruh pun semakin cemerlang. Dan tatkala amal-amal tersebut sudah sempurna maka serta-merta ruh itu memancar dengan penampakannya yang sempurna serta  memperlihatkan wujudnya sendiri dari sisi ke-ruh-annya, dan mulailah gerak kehidupan  yang jelas.
   Manakala struktur amal-amal itu sudah sempurna perkembangannya, segeralah bagaikan cahaya kilat ia  mulai  menampakkan sinarnya yang nyata.  Itulah tahap yang mengenainya Allah Ta'ala secara kiasan berfirman dalam Quran Syarif:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Yakni, “Tatkala Aku telah siap membuat struktur  dan telah menyelaraskan segala penzahiran manifestasinya dan Aku telah meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka rebahkanlah diri di atas tanah seraya bersujud kepada-Nya (Al-Hijr, 30).

Makna “Sujudnya” Para Malaikat Kepada “Adam”

        Jadi, di dalam ayat tersebut terkandung isyarat bahwa apabila struktur  amal-amal itu telah sempurna maka di dalam struktur tersebut bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh Allah Ta'ala sebagai datang dari Zat-Nya Sendiri. Dan karena struktur  tersebut baru siap  sesudah kehidupan duniawi mengalami kemusnahan maka cahaya Ilahi yang tadinya redup serta-merta menyala berkilauan.
    Dengan melihat keagungan Tuhan serupa ini wajib bagi segala sesuatu untuk bersujud dan tertarik kepadanya, maka segala sesuatu bersujud ketika melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak ke  arah itu, kecuali iblis yang bersahabat dengan kegelapan.
       Saya kembali lagi kepada pembicaraan semua, saya jelaskan, sangatlah benar dan tepat bahwa ruh adalah suatu cahaya yang lathif (halus), tumbuh dari tubuh itu  serta dibesarkan di dalam rahim. Yang dimaksud dengan terciptanya itu ialah bahwa pada taraf permulaan ia tersembunyi dan tidak diketahui, kemudian menjadi nampak nyata.
       Pada taraf permulaan intinya sudah terkandung dalam nutfah (sperma/mani). Tidak ragu lagi -- sesuai dengan kehendak, izin serta keinginan Tuhan Samawi -- ruh memiliki pertalian yang menakjubkan dengan nutfah. Dan ruh merupakan sebuah permata cahaya ruhani yang dimiliki nutfah.
       Tidaklah dapat dikatakan bahwa ruh merupakan bagian dari nutfah, seperti halnya bagian-bagian badan yang dimiliki tubuh. Akan tetapi tidak pula dapat dikatakan bahwa ruh datang dari  luar atau jatuh ke bumi lalu bercampur dengan bahan nutfah, melainkan ia (ruh) tersembunyi di dalam nutfah seperti halnya api tersembunyi di dalam batu api. Dan yang dimaksud oleh Kitab Allah, ruh tidak turun  dari langit secara terpisah atau jatuh ke bumi dari angkasa, kemudian secara kebetulan berpadu dengan nutfah  lalu masuk ke dalam rahim.
     Betapa pun pendapat demikian tidak dapat dibenarkan. Jika kita berpendapat seperti itu maka hukum alam menyalahkan kita. Sebab setiap hari kita menyaksikan  bahwa di dalam makanan yang kotor dan basi  serta di dalam borok yang kotor terdapat ribuan kuman. Pada pakaian yang kotor melekat ratusan bakteri. Di dalam perut manusia pun berkembang-biak cacing-cacing kermi dan sebagainya. Sekarang, dapatkah kita mengatakan bahwa mereka itu terlihat oleh seseorang datang dari luar atau turun dari langit? Jadi, yang benar ialah ruh muncul dari dalam tubuh juga. Dan berdasarkan dalil ini terbukti juga bahwa ruh adalah suatu makhluk (yang diciptakan).
         Maksud kami melalui uraian ini adalah, bahwa Yang Maha Kuasa -- yang dengan kekuasaan sempurna telah memunculkan  ruh dari tubuh juga -- Dia berkehendak agar kelahiran kedua bagi ruh  pun diwujudkan melalui tubuh juga. Gerak-gerik ruh bergantung kepada gerak-gerik tubuh kita. Kejurusan mana kita membawa tubuh pastilah ruh pun akan ikut serta. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi Kitab Suci Allah Ta’ala untuk memperhatikan keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia.
     Itulah sebabnya maka Al-Quran Syarif sangat menaruh perhatian terhadap perbaikan keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia dan  mencantumkan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan: tertawa, menangis, makan-minum, berpakaian, tidur, berbicara, diam, nikah, membujang, berjalan, menetap, serta mensyaratkan mandi dan sebagainya untuk kebersihan lahiriah.
       Begitu pula ketentuan-ketentuan khusus dalam keadaan  sakit dan dalam keadaan sehat. Dan Quran Syarif menegaskan bahwa keadaan-keadaan jasmani manusia berpengaruh pada keadaan-keadaan ruhani. Seandainya semua petunjuk itu ditulis secara terinci, tidak dapat saya bayangkan apakah waktu mengizinkan untuk menguraikan masalah itu.” (Falsafah Ajaran Islam).

Tubuh Jasmani Merupakan “Wadah”  bagi Ruh

     Demikianlah penjelasan Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan hakikat ruh  manusia, yang bukan pekerjaan manusia biasa untuk mengungkapkan misterinya, firman-Nya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ  -- katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا  -- dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit” (Bani Israil [17]:86).
    Sesudah mengemukakan berbagai tingkat evolusi ruhani manusia dalam sepuluh ayat pertama Surah ini (QS.23:2-12), selanjutnya Al-Quran menjelaskan dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya berbagai tingkat perkembangan fisiknya (QS,23:13-15) dan dengan demikian membuktikan adanya kesejajaran ajaib di antara kelahiran dan pertumbuhan jasmani manusia dengan ruhaninya.
     Dengan menyampingkan istilah-istilah ilmu hayat Surah ini memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Ilmu hayat tidak menemukan sesuatu yang bertentangan sedikit pun dengan lukisan Al-Quran. Kata-kata, خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ  مِّنۡ طِیۡنٍ  -- “Kami menciptakan  manusia dari inti sari tanah liat” menyebutkan proses kejadian manusia mulai dari tingkat paling awal sekali ketika ia masih dalam keadaan tidak bernyawa dalam bentuk debu, dan berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus  --    di bawah pengaturan  Sifat Rabubiyat Allah Swt. --  berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia.  
     Pada tingkat  فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا  -- “kemudian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan fisik mudigah (janin) menjadi sempurna. Selanjutnya Allah Swt. berrfirman: ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ“kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain” menunjukkan, bahwa ruh manusia tidak dimasukkan ke dalam wujud manusia dari luar, melainkan tumbuh dalam badan janin ketika ia berkembang dalam rahim. Mula-pertama ruh tidak mempunyai wujud terpisah dari badan, tetapi proses-proses yang dilalui oleh badan selama berlangsung perkembangannya dalam rahim ibu  menyuling dari badan itu  sari halus yang disebut ruh.
       Segera sesudah hubungan di antara ruh dan badan bayi dalam rahim menjadi pas benar-benar, maka jantung pun mulailah bekerja. Sesudah itu ruh mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya badan jasmani itu berperan sebagai wadah bagi ruh itu.

Peran Sifat Rabubiyat Allah Swt. Dalam  Proses Terciptanya Bayi Dalam Rahim Ibu

     Jadi, dengan menyampingkan istilah-istilah ilmu hayat Surah Al-Mu’minun 13-15 memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Ilmu hayat tidak menemukan sesuatu yang bertentangan sedikit pun dengan lukisan Al-Quran. Kata-kata, خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ  مِّنۡ طِیۡنٍ  -- “Kami menciptakan  manusia dari inti sari tanah liat” menyebutkan proses kejadian manusia mulai dari tingkat paling awal sekali ketika ia masih dalam keadaan tidak bernyawa dalam bentuk debu, dan berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus  --    di bawah pengaturan  Sifat Rabubiyat Allah Swt. --  berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia.   Pada tingkat  فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا  -- “kemudian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan fisik mudigah (janin) menjadi sempurna.
     Kata-kata ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ – “kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain” menunjukkan, bahwa ruh manusia tidak dimasukkan ke dalam wujud manusia dari luar, melainkan tumbuh dalam badan janin ketika ia berkembang dalam rahim. Mula-pertama ruh tidak mempunyai wujud terpisah dari badan, tetapi proses-proses yang dilalui oleh badan selama berlangsung perkembangannya dalam rahim ibu  menyuling dari badan itu  sari halus yang disebut ruh.
      Segera sesudah hubungan di antara ruh dan badan bayi dalam rahim menjadi pas benar-benar, maka jantung pun mulailah bekerja. Sesudah itu ruh mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya badan jasmani itu berperan sebagai wadah bagi ruh itu.
    Ruh jenis inilah   -- yang  diciptakan Allah Swt. melalui hukum “sebab akibat” dalam  rahim ibu  --  yang akan melanjutkan kehidupannya di alam akhirat setelah mengalami kematian tubuh jasmaninya. Pertumbuhan ruh manusia tersebut sangat erat  hubungannya  dengan kepatuh-taatan manusia terhadap hukum-hukum syariat – yakni dengan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt.  --  sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat sebelumnya.
      Dengan demikian penyebutan rahim ibu dengan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) penuh dengan hikmah yang sangat halus, sehingga Nabi Besar Muhammad saw.  dalam khutbah nikah  bagi pasangan pengantin selalu menyinggung masalah ketakwaan dan pentingnya menjaga hubungan kekerabatan (silaturahim  -- QS.4:2),  firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ مِنَ الۡمَآءِ بَشَرًا فَجَعَلَہٗ  نَسَبًا وَّ صِہۡرًا ؕ وَ کَانَ رَبُّکَ قَدِیۡرًا ﴿﴾
Dan Dia-lah Yang menciptakan manusia dari air, dan menjadikannya keluarga melalui pertalian darah dan keluarga melalui pernikah-an, dan Rabb (Tuhan) engkau Maha Kuasa (Al-Furqān [25]:55).
Firman-Nya lagi:
ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿۶﴾  الَّذِیۡۤ  اَحۡسَنَ کُلَّ شَیۡءٍ خَلَقَہٗ  وَ بَدَاَ خَلۡقَ الۡاِنۡسَانِ مِنۡ طِیۡنٍ ۚ﴿﴾  ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَہٗ  مِنۡ سُلٰلَۃٍ مِّنۡ مَّآءٍ مَّہِیۡنٍ ۚ﴿﴾  ثُمَّ سَوّٰىہُ  وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ وَ جَعَلَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا  تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤا ءَ اِذَا ضَلَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ ءَ اِنَّا لَفِیۡ خَلۡقٍ جَدِیۡدٍ ۬ؕ بَلۡ ہُمۡ بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ مَّلَکُ الۡمَوۡتِ الَّذِیۡ وُکِّلَ بِکُمۡ  ثُمَّ   اِلٰی رَبِّکُمۡ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Demikian itulah  Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang,   Yang telah menciptakan  segala sesuatu sebaik-baiknya,  dan وَ بَدَاَ خَلۡقَ الۡاِنۡسَانِ مِنۡ طِیۡنٍ -- Dia memulai penciptaan manusia dari tanah liat, ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَہٗ  مِنۡ سُلٰلَۃٍ مِّنۡ مَّآءٍ مَّہِیۡنٍ --  Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari  cairan nutfah yang hina, ثُمَّ سَوّٰىہُ  وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ -- Kemudian Dia menyempur-nakannya dan Dia meniupkan ke dalamnya ruh-Nya, وَ جَعَلَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ --  dan Dia  menjadikan bagi kamu telinga,   mata, dan hati. قَلِیۡلًا  مَّا  تَشۡکُرُوۡنَ  -- Sedikit sekali kamu bersyukur. وَ قَالُوۡۤا ءَ اِذَا ضَلَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ ءَ اِنَّا لَفِیۡ خَلۡقٍ جَدِیۡ --   Dan mereka berkata: “Apakah jika kami telah hilang di bumi, apakah kami benar-benar akan menjadi ciptaan baru?” بَلۡ ہُمۡ بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ کٰفِرُوۡنَ --   Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Rabb-nya (Tuhan-nya).  قُلۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ مَّلَکُ الۡمَوۡتِ الَّذِیۡ وُکِّلَ بِکُمۡ  ثُمَّ   اِلٰی رَبِّکُمۡ تُرۡجَعُوۡنَ -- Katakanlah: “Malaikat maut yang ditugaskan kepada kamu akan mematikanmu, kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu, kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah [32]:7-12).

 Turunnya Wahyu Ilahi Merupakan Keniscayaan

      Makna ayat ثُمَّ سَوّٰىہُ  وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ -- “kemudian Dia menyempurnakannya dan Dia meniupkan ke dalamnya ruh-Nya”,  karena ruh berarti jiwa manusia dan juga wahyu Ilahi (Lexicon Lane), maka ayat ini berarti, bahwa sesudah perkembangan-jasmani mudigah (janin) di dalam rahim ibu menjadi sempurna maka  mudigah Ijanin) itu mulai bernyawa; atau berarti juga bahwa sesudah perkembangan ruhani manusia menjadi sempurna   maka ia menerima wahyu Ilahi, sebagaimana yang terjadi dengan Nabi Adam a.s., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ --     - lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ --     maka mereka bersujud kecuali iblis,  --  لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ  -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. (Al-A’rāf [7]:12)
 Makna kalimat  وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ  -- “Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu”, bahwa manusia    dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah liat (thīn)  mudah diberi bentuk apa pun.
  Sebagaimana ketika mudigah dalam rahim ibu  keadaan pertumbuhannya telah menjadi   janin  yang sempurna segala sesuatunya, maka akan lahir ruh (QS.23:13-15), demikian pula jika perkembangan akhlak dan ruhani manusia telah sempurna keadaannya maka  menerima wahyu Ilahi merupakan keniscayaan yang akan dialaminya, itulah makna ayat: ثُمَّ سَوّٰىہُ  وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ -- “kemudian Dia menyempurnakannya dan Dia meniupkan ke dalamnya ruh-Nya” (QS.32:10).
    Namun   demikian Allah Swt. tidak memerintahkan kepada para malaikat untuk “sujud” (patuh-taat) kepada mereka, melainkan hanya kepada orang yang paling sempurna perkembangan akhlak dan ruhaninya yaitu yang telah dianugerahi martabat ruhani sebagai nabi (rasul) Allah, sebagaimana halnya Adam, firman-Nya:   ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ --     lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam" (QS.7:12).

Makna Perintah  Kepada Para Malaikat  Untuk “Sujud” Kepada Adam

  Karena perintah supaya sujud  kepada Adam a.s.  itu ditujukan kepada malaikat-malaikat, maka perintah itu berlaku untuk semua makhluk,  sebab para malaikat adalah "tangan-tangan" atau instrument Allah Swt.  yang bertugas melaksanakan perintah-perintah-Nya atau kehendak-kehendak-Nya: فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ --     maka mereka bersujud kecuali iblis,  --  لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ  -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.”
  Iblis itu bukan dari kalangan  malaikat  melainkan dari  golongan jin (QS.18:51). Iblis adalah gembong ruh-ruh jahat,  sedangkan Malaikat Jibril a.s. adalah pemimpin malaikat-malaikat. Kejadian yang disebutkan di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan nenek-moyang pertama umat manusia yang dapat disebut Adam pertama. Kejadian itu hanya berhubungan dengan Nabi Adam  a.s. (yang tinggal di bumi ini kira-kira 6.000 tahun yang lalu dan menurunkan Nabi  Nuh a.s., dan  Nabi Ibrahim a.s.  serta keturunan beliau-beliau yang dibahas dalam kisah ini.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 7  Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar