بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 56
Makna Ucapan Kiasan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) Sebutan Bapa dan Anak Allah & Kekuasaan
dan Kehendak Allah Swt. Kepada Para Sahabat-Nya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai empat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah, sebelumnya dikemukakan mengenai “Hizbullāh” (golongan
Allah) yang kemunculannya dijanjikan
Allah Swt. di Akhir Zaman, yakni orang-orang
yang beriman kepada Masih Mau’ud a.s.
atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58), sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ
اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ
قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ
اللّٰہِ فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی
عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی
ابۡنُ مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ -- jadilah
kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Mar-yam berkata kepada pengikut-pengikutnya,
مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ
اِلَی اللّ -- “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ
اَنۡصَارُ اللّٰہِ -- Pengikut-pengikut yang setia itu
berkata: “Ka-milah penolong-penolong Allah.”
فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- Maka segolongan dari
Bani Israil beriman sedangkan segolongan
lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ
فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ
-- kemudian Kami membantu
orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh
mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang menang (Ash-Shaf [61]:15).
Dari ketiga golongan
agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
menyampaikan tablighnya – kaum Parisi,
kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
termasuk golongan Essenes
sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan
dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan
berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum Essenes
inilah berasal bagian besar dari para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. masa
permulaan (“The Dead Sea Community,”
oleh Kurt Schubert, dan “The
Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para Penolong” oleh Eusephus.
Keunggulan Duniawi Para Pengikut
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas Orang-orang Yahudi Penentang Mereka
Kata-kata penutup Surah ini
sungguh sarat dengan nubuatan.
Sepanjang zaman para pengikut Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. telah menikmati kekuatan dan kekuasaan
atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi,
yang telah berusaha membunuh beliau melalui penyaliban
(QS.4:158-159). Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum
yang cerai-berai – dan senantiasa dikejar-kejar
oleh kaum-kaum
yang membenci mereka -- sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”),
firman-Nya:
وَ اِذۡ
تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ
یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ
رَبَّکَ لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ ۚۖ وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ وَ قَطَّعۡنٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اُمَمًا ۚ مِنۡہُمُ
الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنۡہُمۡ دُوۡنَ ذٰلِکَ ۫ وَ بَلَوۡنٰہُمۡ بِالۡحَسَنٰتِ وَ
السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan
bahwa niscaya Dia akan mengutus kepada mereka
orang-orang yang akan
menimpakan kepada mereka azab yang
sangat buruk hingga Hari Kiamat.
اِنَّ
رَبَّکَ لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ -- Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar
sangat cepat dalam menghukum وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- dan sesungguhnya Dia
benar-benar Maha Pengampun, Maha
Penyayang. وَ قَطَّعۡنٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اُمَمًا -- Dan
Kami membagi mereka menjadi berbagai
bangsa yang terpisah-pisah di
bumi. مِنۡہُمُ الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنۡہُمۡ دُوۡنَ ذٰلِکَ -- Di
antara mereka ada orang-orang yang
saleh, dan di antara mereka ada yang
tidak demikian. وَ بَلَوۡنٰہُمۡ بِالۡحَسَنٰتِ وَ السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan Kami menguji mereka dengan berbagai
kebaikan dan keburukan supaya mereka kembali kepada yang haq (Al-A’rāf [7]:168-169).
Ayat 168 ini dan juga beberapa ayat berikutnya
menunjukkan bahwa kaum yang melanggar
Hari Sabat yang dikatakan sebagai “kera-kera
yang hina” dalam ayat sebelumnya QS.7:164-167) itu tidak sungguh-sungguh berubah menjadi kera, melainkan mereka itu tetap makhluk manusia walaupun mereka menjalani peri kehidupan yang hina dan dipandang rendah oleh orang-orang lain
juga, yakni yang mengejar-ngejar mereka, contohnya yang dilakukan oleh Adolf
Hitler, pemimpin Nazi
Jerman.
Jelas dari
beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah Swt. sangat lambat dalam menghukum orang-orang durhaka.
Dia berkali-kali memberi tenggang waktu
kepada mereka. Kata-kata اِنَّ رَبَّکَ
لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ -- “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum”
dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman ditetapkan menimpa satu kaum, hukuman itu datangnya cepat serta mengerikan dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat dan menghambat kedatangannya.
Sehubungan pernyataan Allah Swt. dalam Surah Ash-Shaf ayat 15 sebelumnya --
mengenai keunggulan para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari kaum Yahudi yang sebelumnya mengejar-ngejar dan menganiaya beliau dan para pengikut beliau, termasuk Paulus
(Kis
9:1-9; Gal 1:11-24) -- Dia berfirman:
فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- Maka segolongan
dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan
lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ
فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.”
Generasi Pengganti Pecinta
Duniawi dan Meninggalkan Tauhid Ilahi
Keunggulan para pengikut Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. tersebut bukan dari segi ruhani
melainkan dari segi duniawi, sebab
ketika itu mereka bukan saja telah menyimpang
dari Tauhid Ilahi yang diajarkan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. – dan mengikuti ajaran Paulus
yang mengajarkan “Injil” versinya (Gal 1:1-11; QS.5:117-119) -- mereka pun telah menyadi para pecinta kehidupan duniawi, terutama setelah
Kaisar Constantin (280-337 Masehi), penguasa kerajaan Romawi memeluk ajaran Kristen dan menjadikan agama Kristen sebagai agama kerajaan, sebagaimana firman-Nya:
فَخَلَفَ
مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا
الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ
مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ
لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا
الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ ؕ وَ
الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka,
suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat
itu, یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی -- mereka mengambil harta dunia yang rendah
ini وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا -- dan mereka mengatakan:
“Pasti kami akan diampuni.” وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ
عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ -- Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya.
اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ
الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ
اِلَّا الۡحَقَّ -- Bukankah
telah diambil perjanjian dari mereka
dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu
terhadap Allah kecuali yang haq
(benar), وَ دَرَسُوۡا مَا
فِیۡہِ -- dan mereka
telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya? وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ
-- Padahal kampung akhirat itu
benar-benar lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, اَفَلَا
تَعۡقِلُوۡنَ -- apakah
kamu tidak mau mengerti? (Al-A’rāf [7]:170).
'Aradha dalam ayat یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی -- “mereka mengambil harta dunia yang rendah
ini” artinya: barang yang tidak kekal; barang-barang duniawi
yang rendah nilainya; barang-barang
dagangan atau komoditi-komoditi
duniawi; benda atau sesuatu (Lexicon
Lane).
Sedang ucapan mereka: وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا --
dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan
diampuni”, adalah mengisyaratkan kepada ajaran Paulus mengenai “penebusan
dosa” melalui kematian terkutuk
Nabi Isa Ibnu Maryam di atas salib,
sebagaimana diperingatkan Allah Swt.
selanjutnya: اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا
عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ -- Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam
Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar), وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ -- dan mereka
telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya?”
Makna Bapa dan Anak Allah
Darasa
berarti: (1) ia membaca atau menelaah
buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane). Ucapamn-ucapan Nabi isa Ibnu Maryam a.s.
dalam Injil yang sering menggunakan kiasan (perumpamaan) – contoh sebutan Bapa bagi Allah Swt. dan sebutan anak
Allah bagi orang-orang yang bertakwa (Matius 5:9) untuk menggambarkan kedekatan (keakraban) hubungan ruhani, bukan hubungan jasmani, berikut keterangan Bible mengenai hal tersebut:
5:1 Ketika
Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk,
datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka,
kata-Nya: 5:3 "Berbahagialah orang yang
miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:4 Berbahagialah orang yang
berdukacita, karena mereka akan
dihibur. 5:5 Berbahagialah orang yang lemah
lembut, karena mereka akan memiliki
bumi. 5:6 Berbahagialah orang yang lapar
dan haus akan kebenaran , karena mereka akan dipuaskan. 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya , karena mereka akan beroleh kemurahan.
5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya , karena mereka akan melihat Allah. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai , karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran , karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:11 Berbahagialah kamu, jika
karena Aku kamu dicela dan dianiaya
dan kepadamu difitnahkan segala yang
jahat. 5:12 Bersukacita dan bergembiralah,
karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang
sebelum kamu. 5:13 Kamu adalah garam dunia. Jika garam
itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 5:14 Kamu adalah terang dunia.
Kota yang terletak
di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 5:15 Lagipula orang tidak
menyalakan pelita lalu meletakkannya
di bawah gantang, melainkan di atas
kaki dian sehingga menerangi semua
orang di dalam rumah itu. 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu
bercahaya di depan orang, supaya mereka
melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:1-16).
Kalimat “Kamu adalah garam dunia .
Jika garam itu menjadi tawar, dengan
apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Matius
5:13), walau pun ditujukan kepada murid-murid Yesus tetapi telah terjadi berkenaan dengan dua kali “pembuangan”
yang telah dialami oleh Bani Israil akibat kedurhakaan mereka terhadap Nabi
Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-80; QS.17:5-9), sebagaimana
firman-Nya: وَ اِذۡ تَاَذَّنَ
رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ
سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ -- Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan
bahwa niscaya Dia akan mengutus kepada mereka
orang-orang yang akan
menimpakan kepada mereka azab yang
sangat buruk hingga Hari Kiamat” (Al-A’rāf
[7]:168).
Kekuasaan dan Kehendak Allah
Swt. Kepada Para Sahabat-Nya
Sehubungan
istilah-istilah kiasan yang digunakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. seperti Bapa
dan anak Allah (Matius
5:1-16) – yang menggambarkan “kedekatan
hubungan” antara Allah Swt. dengan
hamba-hamba pilihan-Nya --
tersebut, Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
bersabda:
“Allah Yang Maha Kuasa berfungsi
di dunia ini dalam tiga kapasitas,
pertama dalam kapasitas-Nya sebagai
Tuhan, kedua dalam kapasitas sebagai
seorang sahabat dan ketiga dalam kapasitas sebagai musuh.
Perlakuan-Nya terhadap rata-rata (umumnya) makhluk
ciptaan-Nya adalah dalam kapasitas-Nya
sebagai Tuhan, sedangkan perlakuan-Nya terhadap mereka yang mencintai-Nya dan yang
dicintai-Nya, juga dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan namun diwarnai dengan corak
kapasitas sebagai sahabat. Dunia jadinya menyadari
bahwa Tuhan mendukung manusia (orang) bersangkutan sebagaimana layaknya seorang sahabat.
Adapun perlakuan-Nya kepada
para musuh-Nya dinyatakan dalam bentuk penghukuman yang pedih dan tanda-tanda lainnya yang menggambarkan secara tegas bahwa Tuhan memusuhi bangsa atau orang
bersangkutan.
Kadang-kadang Tuhan mencobai sahabat-Nya
dengan menjadikan seluruh dunia memusuhi
dirinya dan membiarkan yang bersangkutan untuk sementara waktu sebagai korban
aniaya lidah atau tangan mereka.
Hanya saja hal itu dilakukan-Nya bukan
karena Dia ingin menghancurkan sahabat-Nya itu, atau akan mempermalukan atau pun sebagai bentuk perendahan harkat. Dia melakukan hal
itu agar Dia bisa memperlihatkan tanda-tanda-Nya kepada seluruh
dunia bahwa para musuh-Nya tidak
akan dapat menyakiti Sahabat-Nya tersebut meskipun
mereka telah melakukan segala upaya
habis-habisan.”
(Nuzulul Masih, Qadian, Ziaul Islam Press, 1909; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 18, hlm. 517-518, London, 1984).
Dalam salah satu buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kebersertaan Allah Swt. dengan hamba-Nya yang hakiki tersebut:
“Seorang hamba memperlihatkan kecintaannya yang suci kepada
Allah Swt. melalui perilakunya yang baik, tetapi tanggapan
Allah sungguh luar biasa. Melihat kemajuan hambanya yang cepat
maka Tuhan akan bergegas bergerak ke arahnya seperti kilat dan memperlihatkan Tanda-tanda bagi dirinya baik di langit mau pun di bumi.
Dia akan menjadi Sahabat bagi para sahabat hamba tersebut dan menjadi musuh bagi para musuhnya. Misalnya pun
berjuta-juta manusia menentang hamba itu, Tuhan akan melumatkan
mereka dan menjadikan mereka tidak berdaya sebagaimana laiknya
serangga
mati. Bisa saja Dia
menghancurkan seluruh dunia demi hamba-Nya tersebut dan menjadikan
bumi dan langit tunduk
kepadanya.
Dia akan memberkati kata-kata yang diucapkannya dan menurunkan
hujan nur di atas
kediamannya. Dia akan memberkati pakaian yang dikenakan, pangan yang disantap dan bahkan debu yang diinjaknya. Dia tidak akan membiarkan hamba
itu mati dalam keadaan gagal dan Dia sendiri yang akan menjawab
mereka yang menentangnya.
Dia menjadi mata yang dengannya ia melihat, menjadi telinga
yang dengannya ia mendengar, menjadi lidah yang dengannya ia berbicara, menjadi kaki
yang dengannya ia berjalan dan
menjadi tangan yang dengannya ia
menangani musuh-musuhnya.
Dia Sendiri akan maju mengedepankan
Wujud-Nya untuk menangani
musuh-musuh hamba-Nya itu. Dia akan mencabut pedang terhadap para musuh
yang jahat yang menganiayanya serta menjadikan yang bersangkutan berjaya (sukses) di semua bidang.
Dia akan membukakan rahasia-rahasia takdir-Nya kepada
hamba-Nya
itu.
Yang pertama sekali yang akan menghargai
keindahan
keruhanian yang muncul setelah perilaku dan amal
saleh serta kecintaannya kepada Tuhan,
adalah Allah Swt. Sendiri.
Alangkah sialnya manusia yang hidup pada masa itu dimana ada matahari
bersinar terang bagi mereka tetapi mereka
memilih termangu di tempat kegelapan.” (Zamimah Brahin-i-Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 21, hlm. 225, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 30 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar