Sabtu, 03 Oktober 2015

Makna Ucapan Kiasan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) Sebutan "Bapak" dan "Anak Allah" & Kekuasaan dan Kehendak Allah Swt. Kepada Para Sahabat-Nya


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 56

Makna Ucapan Kiasan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) Sebutan Bapa dan Anak Allah  &  Kekuasaan dan Kehendak Allah Swt. Kepada Para Sahabat-Nya

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih  Mau’ud a.s.  mengenai empat Sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah, sebelumnya dikemukakan mengenai Hizbullāh” (golongan Allah) yang kemunculannya dijanjikan Allah Swt. di Akhir Zaman, yakni orang-orang yang beriman kepada Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt., firman-Nya:

یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,  کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ     -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Mar-yam berkata kepada  pengikut-pengikutnya, مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّ --  “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ --  Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Ka-milah penolong-penolong Allah.”  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- Maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafir,  فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ  -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang  (Ash-Shaf [61]:15).
   Dari ketiga golongan agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyampaikan tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  termasuk golongan  Essenes sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
   Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum  Essenes inilah berasal bagian besar dari para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. masa permulaan (“The Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para Penolong” oleh Eusephus.

Keunggulan Duniawi Para Pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas Orang-orang  Yahudi Penentang Mereka

    Kata-kata penutup Surah ini sungguh sarat dengan nubuatan. Sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   telah menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi, yang telah berusaha membunuh beliau melalui penyaliban (QS.4:158-159). Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum yang cerai-berai – dan senantiasa dikejar-kejar oleh  kaum-kaum yang membenci mereka  -- sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”), firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۚۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  وَ قَطَّعۡنٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اُمَمًا ۚ مِنۡہُمُ الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنۡہُمۡ دُوۡنَ ذٰلِکَ ۫ وَ بَلَوۡنٰہُمۡ بِالۡحَسَنٰتِ وَ السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya  Dia akan mengutus  kepada mereka  orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka  azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat. اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ  -- Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --  dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.  وَ قَطَّعۡنٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اُمَمًا  --  Dan Kami membagi mereka menjadi berbagai bangsa yang terpisah-pisah  di bumi. مِنۡہُمُ الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنۡہُمۡ دُوۡنَ ذٰلِکَ  -- Di antara mereka ada orang-orang yang saleh, dan di antara mereka ada yang tidak demikian.  وَ بَلَوۡنٰہُمۡ بِالۡحَسَنٰتِ وَ السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan  Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan supaya mereka kembali kepada yang haq  (Al-A’rāf [7]:168-169).
   Ayat  168 ini dan juga beberapa ayat berikutnya menunjukkan bahwa kaum yang melanggar Hari Sabat yang dikatakan sebagai “kera-kera yang hina” dalam ayat sebelumnya QS.7:164-167) itu tidak sungguh-sungguh berubah menjadi kera, melainkan mereka itu tetap makhluk manusia walaupun mereka menjalani peri kehidupan yang hina dan dipandang rendah oleh orang-orang lain juga, yakni yang mengejar-ngejar mereka, contohnya yang dilakukan oleh Adolf  Hitler, pemimpin Nazi Jerman.
     Jelas dari beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah Swt.   sangat lambat dalam menghukum orang-orang durhaka. Dia berkali-kali memberi tenggang waktu kepada mereka. Kata-kata اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ  -- “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum”  dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman ditetapkan menimpa satu kaum, hukuman itu datangnya cepat serta mengerikan dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat  dan menghambat kedatangannya.
        Sehubungan pernyataan Allah Swt. dalam Surah Ash-Shaf ayat 15 sebelumnya  -- mengenai keunggulan para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari kaum Yahudi  yang sebelumnya mengejar-ngejar dan menganiaya beliau dan para pengikut beliau,  termasuk Paulus (Kis 9:1-9; Gal 1:11-24)   -- Dia berfirman:  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- Maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafirفَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ  -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang.”  

Generasi Pengganti Pecinta Duniawi dan Meninggalkan Tauhid Ilahi
      
     Keunggulan para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut bukan dari segi ruhani melainkan dari segi duniawi, sebab ketika itu mereka bukan saja telah menyimpang dari Tauhid Ilahi yang diajarkan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  – dan mengikuti ajaran Paulus  yang mengajarkan “Injil”  versinya (Gal 1:1-11; QS.5:117-119)   -- mereka pun telah menyadi para pecinta kehidupan duniawi, terutama setelah Kaisar Constantin (280-337 Masehi),  penguasa kerajaan Romawi  memeluk ajaran Kristen dan menjadikan agama Kristen sebagai agama kerajaan, sebagaimana firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka, suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی    -- mereka mengambil harta dunia  yang rendah ini  وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا    -- dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ -- Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya.  اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ  -- Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar),   وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ   -- dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya?   وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ      -- Padahal  kampung  akhirat itu  benar-benar  lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa,  اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ  -- apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’rāf [7]:170).
        'Aradha dalam ayat   یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی    -- “mereka mengambil harta dunia  yang rendah ini”  artinya:  barang yang tidak kekal; barang-barang duniawi yang rendah nilainya; barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi duniawi; benda atau sesuatu  (Lexicon Lane).
         Sedang ucapan mereka: وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا    -- dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni”, adalah mengisyaratkan kepada ajaran Paulus mengenai “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam di atas salib, sebagaimana diperingatkan Allah Swt. selanjutnya: اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ  -- Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar),   وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ   -- dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya?”  

Makna Bapa dan Anak Allah

  Darasa berarti: (1) ia  membaca atau menelaah buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).  Ucapamn-ucapan Nabi isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil yang sering menggunakan kiasan (perumpamaan) – contoh sebutan Bapa bagi Allah Swt. dan  sebutan anak Allah bagi orang-orang yang bertakwa  (Matius 5:9) untuk menggambarkan kedekatan (keakraban) hubungan ruhani, bukan hubungan jasmani, berikut keterangan Bible mengenai  hal tersebut:
 5:1   Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin  di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.   5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.   5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.    5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran , karena mereka akan dipuaskan. 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya , karena mereka akan beroleh kemurahan.   5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya , karena mereka akan melihat Allah. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai ,  karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran ,   karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.  5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku    kamu dicela   dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 5:12 Bersukacita dan bergembiralah,    karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.  5:13  Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 5:14 Kamu adalah terang dunia.   Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah   itu. 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,  supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik   dan memuliakan   Bapamu yang di sorga."  (Matius 5:1-16).
         Kalimat “Kamu adalah garam dunia . Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Matius 5:13),  walau pun ditujukan kepada murid-murid Yesus tetapi telah terjadi berkenaan dengan dua kali  “pembuangan” yang telah dialami oleh  Bani Israil akibat kedurhakaan mereka terhadap Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-80; QS.17:5-9), sebagaimana firman-Nya:  وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ -- Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya  Dia akan mengutus  kepada mereka  orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka  azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat” (Al-A’rāf [7]:168).

 Kekuasaan dan Kehendak Allah Swt. Kepada Para Sahabat-Nya

       Sehubungan istilah-istilah kiasan yang digunakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. seperti Bapa dan anak Allah  (Matius 5:1-16) – yang menggambarkan  “kedekatan hubungan” antara Allah Swt. dengan  hamba-hamba pilihan-Nya  -- tersebut, Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bersabda:
      “Allah Yang Maha Kuasa berfungsi di dunia ini dalam tiga kapasitas, pertama dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan, kedua dalam kapasitas sebagai seorang sahabat dan ketiga dalam kapasitas sebagai musuh. Perlakuan-Nya terhadap rata-rata (umumnya)  makhluk ciptaan-Nya adalah dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan, sedangkan perlakuan-Nya terhadap mereka yang mencintai-Nya dan yang dicintai-Nya, juga dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan namun diwarnai dengan corak kapasitas sebagai sahabat. Dunia jadinya menyadari bahwa Tuhan mendukung manusia (orang)  bersangkutan sebagaimana layaknya seorang sahabat.
     Adapun perlakuan-Nya kepada para musuh-Nya dinyatakan dalam bentuk penghukuman yang pedih dan tanda-tanda lainnya yang menggambarkan secara tegas bahwa Tuhan memusuhi bangsa atau orang bersangkutan.
    Kadang-kadang Tuhan mencobai sahabat-Nya dengan menjadikan seluruh dunia memusuhi dirinya dan membiarkan yang bersangkutan untuk sementara waktu sebagai korban aniaya lidah atau tangan mereka. Hanya saja hal itu dilakukan-Nya bukan karena Dia ingin menghancurkan sahabat-Nya itu, atau akan mempermalukan atau pun sebagai bentuk perendahan harkat. Dia melakukan hal itu agar Dia bisa memperlihatkan tanda-tanda-Nya kepada seluruh dunia bahwa para musuh-Nya tidak akan dapat menyakiti Sahabat-Nya tersebut meskipun mereka telah melakukan segala upaya habis-habisan.”  (Nuzulul Masih, Qadian, Ziaul Islam Press, 1909; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 18, hlm. 517-518, London, 1984).
       Dalam  salah satu buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kebersertaan Allah Swt. dengan hamba-Nya yang hakiki tersebut:
      “Seorang hamba memperlihatkan kecintaannya yang suci kepada Allah  Swt. melalui perilakunya yang baik, tetapi tanggapan Allah sungguh luar biasa. Melihat kemajuan hambanya yang cepat maka Tuhan akan bergegas bergerak ke arahnya seperti kilat dan memperlihatkan Tanda-tanda bagi dirinya baik di langit mau pun di bumi. Dia akan menjadi Sahabat bagi para sahabat hamba tersebut dan menjadi musuh bagi para musuhnya. Misalnya pun berjuta-juta manusia menentang hamba itu, Tuhan akan melumatkan mereka dan menjadikan mereka tidak berdaya sebagaimana laiknya serangga mati. Bisa saja Dia menghancurkan seluruh dunia demi hamba-Nya tersebut dan menjadikan bumi dan langit tunduk kepadanya.
     Dia akan memberkati kata-kata yang diucapkannya dan menurunkan hujan nur di atas kediamannya. Dia akan memberkati pakaian yang dikenakan, pangan yang disantap dan bahkan debu   yang diinjaknya. Dia tidak akan membiarkan hamba itu mati dalam keadaan gagal dan Dia sendiri yang akan menjawab mereka yang menentangnya. Dia menjadi mata yang dengannya  ia melihat, menjadi telinga yang dengannya   ia mendengar, menjadi lidah yang dengannya ia berbicara, menjadi kaki yang dengannya ia berjalan dan menjadi tangan yang dengannya ia menangani musuh-musuhnya.
       Dia Sendiri akan maju mengedepankan Wujud-Nya untuk menangani musuh-musuh hamba-Nya itu. Dia akan mencabut pedang terhadap para musuh yang jahat yang menganiayanya serta menjadikan yang bersangkutan berjaya (sukses) di semua bidang. Dia akan membukakan rahasia-rahasia takdir-Nya kepada hamba-Nya itu.
    Yang pertama sekali yang akan menghargai keindahan keruhanian yang muncul setelah perilaku dan amal  saleh serta kecintaannya kepada Tuhan,  adalah Allah Swt. Sendiri. Alangkah sialnya manusia yang hidup pada masa itu dimana ada matahari bersinar terang bagi mereka tetapi mereka memilih termangu di tempat kegelapan.” (Zamimah Brahin-i-Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm. 225, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 30 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar