بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 69
Nabi Besar Muhammad Saw. “Suami Ruhani” Paling Sempurna yang
Melahirkan "Umat Terbaik" & Tidak Ada Pertentangan Dalam Sifat-sifat
Sempurna (Al-Asmā-ul Husna) Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. tentang kesempurnaan
dan menyeluruhnya pengetahuan
Allah Swt. mengenai semua ciptaannya-Nya (makhluk-Nya):
“Begitu jugalah pengetahuan Allah Swt. mengenai keseluruhan alam
semesta. Disini menjadi lebih jelas bahwa tidak ada perbedaan atau tidak
ada jarak di antara Yang Maha Mengetahui dengan segala hal yang perlu diketahui.
Semua ini merupakan pengetahuan tingkat tinggi dalam pemahaman mengenai Ketuhanan dan Sifat-sifat-Nya,
dimana kita menyadari betapa dekat dan akrabnya hubungan antara Wujud-Nya dengan subyek
pengetahuan-Nya.
Hubungan
sempurna dengan subyek pengetahuan-Nya
tersebut hanya bisa ada jika semuanya
itu bersumber dari Wujud-Nya dan merupakan hasil ciptaan-Nya. Perwujudan (eksistensi) mereka itu
harus tergantung kepada Wujud-Nya. Dengan kata lain, perwujudan
yang sempurna hanyalah milik-Nya, sedangkan yang lainnya bersumber dan bertumpu
kepada bantuan-Nya.
Ketergantungan Makhluk Kepada Allah Swt.
Bahkan setelah diciptakan pun semua makhluk itu tidak bisa merdeka
atau terpisah dari Wujud-Nya, karena eksistensi
mereka sepenuhnya tergantung kepada perlindungan-Nya.
Hanya Dia saja Yang tidak mengenal batasan
apa pun sedangkan yang lainnya --
baik jasmani atau pun ruhani -- terkurung
dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh Wujud-Nya.
Dia itu melingkupi keseluruhan dan semuanya tercakup dalam Sifat Rabubiyat-Nya. Tidak ada apa pun yang tidak berasal dari Tangan-Nya dan tidak termasuk dalam lingkupan Sifat Rabubiyat-Nya, dan tidak ada juga yang bisa eksis
(ada) tanpa bantuan-Nya. Hanya dalam
keadaan seperti itulah Allah Yang Maha Kuasa akan memiliki hubungan yang sempurna dengan subyek
dari pengetahuan-Nya. Hubungan ini dalam Kitab Suci Al-Quran
dikemukakan sebagai:
وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾
Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya
(Qāf [50]:17).
Begitu pula di tempat lain
dikemukakan bahwa:
اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ
Dia-lah
Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:256).
Atau dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa hanya Dia saja Yang
menopang seluruh kehidupan
dimana segala sesuatu bersumber dari-Nya dan
memiliki nyawa (jiwa) karena Dia.
Sesungguhnya Dia itulah nyawa (jiwa) dari semua kehidupan dan
inti kekuatan dari semua kekuatan yang ada.
Kalau kita tidak bisa menerima jiwa sebagai suatu yang diciptakan, maka tidak ada alasan untuk mengasumsikan bahwa suatu wujud
yang bernama fiktif sebagai Permesywar
akan mempunyai pengetahuan tentang realitas jiwa atau ruh
makhluk hidup. Seseorang yang memiliki pengetahuan lengkap tentang sesuatu bisa dikatakan bahwa ia juga
bisa membuatnya, sehingga kalau ternyata ia memang tidak
mampu maka pasti ada kekurangan di dalam salah satu aspeknya.
Tanpa adanya suatu pengetahuan yang lengkap maka akan sulit
untuk membedakan di antara benda-benda
yang sama, apalagi kemampuan untuk menciptakannya.
Dalam hal Allah Yang Maha Kuasa jika bukan
merupakan Sang Pencipta dari segalanya
maka tidak saja Dia itu dikatakan mengalami defisiensi atau cacat
dalam kelengkapan pengetahuan-Nya, tetapi juga
dengan sendirinya akan muncul kerancuan karena Dia tidak akan mampu membedakan di
antara berjuta-juta jiwa atau ruh sehingga akan
sering salah menganggap ruh
X sebagai ruh Y. Pengetahuan
partial (tidak lengkap) akan selalu membawa kerancuan demikian.” (Surma Chasm Arya, Qadian,
1886; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 221-226, London, 1984).
Kesempurnaan Pengetahuan Allah Swt.
Mengenai Semua Ciptaan-Nya
(Makhluk-Nya)
Sehubungan dengan “pengetahuan”
(ilmu) Allah Swt. yang menyeluruh dan terinci mengenai semua ciptaan-Nya tersebut Allah Swt. berfirman:
ہُوَ اللّٰہُ الَّذِیۡ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ
الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ الرَّحۡمٰنُ
الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Allah,
Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ -- Mengetahui
yang gaib dan yang nampak, Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang (Al-Hasyr
[59]:23).
Allah Swt itulah Wujud Tuhan Pencipta Yang menciptakan seluruh alam serta berbagai macam komponennya, baik yang paling
besar mau pun yang paling kecil sehingga tidak nampak
secara langsung oleh mata jasmani (gaib), sehingga Allah Swt. disebut Al-‘Ālim dan Al-Khabīr firman-Nya:
وَ ہُوَ
الَّذِیۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ کُنۡ فَیَکُوۡنُ ۬ؕ قَوۡلُہُ الۡحَقُّ ؕ وَ لَہُ الۡمُلۡکُ یَوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ ؕ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ؕ وَ ہُوَ
الۡحَکِیۡمُ الۡخَبِیۡرُ ﴿﴾
Dan Dia-lah
Yang menciptakan seluruh langit dan bumi
dengan haq, dan pada hari Dia
ber-firman: “Jadilah” maka terjadilah
ia. Firman-Nya itu benar, dan milik-Nya-lah kerajaan pada hari ketika nafiri ditiup, عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ؕ وَ ہُوَ
الۡحَکِیۡمُ الۡخَبِیۡرُ -- Dia Mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan Dia Maha Bijaksana, Maha
Mengetahui segala kabar (Al-An’ām
[6]:74).
Firman-Nya
lagi:
اَللّٰہُ
یَعۡلَمُ مَا تَحۡمِلُ کُلُّ اُنۡثٰی وَ مَا تَغِیۡضُ الۡاَرۡحَامُ وَ مَا تَزۡدَادُ ؕ وَ کُلُّ شَیۡءٍ عِنۡدَہٗ بِمِقۡدَارٍ ﴿﴾ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ الۡکَبِیۡرُ الۡمُتَعَالِ ﴿﴾ سَوَآءٌ
مِّنۡکُمۡ مَّنۡ اَسَرَّ الۡقَوۡلَ وَ مَنۡ جَہَرَ بِہٖ وَ مَنۡ ہُوَ
مُسۡتَخۡفٍۭ بِالَّیۡلِ وَ سَارِبٌۢ
بِالنَّہَارِ ﴿﴾
Allah
mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan apa
yang kurang sempurna dalam rahim
serta apa yang dikembangkan, dan segala sesuatu mempunyai kadar di sisi-Nya. عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ
الۡکَبِیۡرُ الۡمُتَعَالِ -- Dia-lah Yang
mengetahui yang tersembunyi dan yang
nampak, Dia Maha Besar, Maha Luhur. سَوَآءٌ مِّنۡکُمۡ مَّنۡ اَسَرَّ الۡقَوۡلَ وَ مَنۡ
جَہَرَ بِہٖ -- Sama
saja dari antara kamu siapa yang merahasiakan
perkataannya dan siapa yang menzahirkannya, وَ مَنۡ ہُوَ
مُسۡتَخۡفٍۭ بِالَّیۡلِ وَ سَارِبٌۢ
بِالنَّہَارِ -- dan begitu pula siapa yang
bersembunyi pada waktu malam, dan
siapa yang berjalan pada siang hari.
(Ar-Rā’d [13]:9-11).
“Laki-laki Ruhani” Paling Sempurna dan “Keturunan Ruhaninya”
Dalam Surah
Ar-Rā’d ayat ke-4 kita diberitahu, bahwa semua benda di alam semesta mempunyai pasangannya, dan bahwa di dalam alam
ruhani pun terdapat beberapa perorangan
yang bertindak sebagai laki-laki dan
yang lainnya sebagai perempuan, yang pertama memberi pengaruh dan yang
lain menerima pengaruh.
Ayat ini menegaskan, bahwa dalam
diri Nabi Besar Muhammad saw. telah muncul suatu wujud yang merupakan jenis jantan
ruhani paing sempurna, dan tidak ada seorang pun dapat mencapai tingkat keruhanian apa pun tanpa
menerima cap beliau saw. (QS.3:32;
QS.4:70).
Seterusnya ayat ini mengatakan, bahwa Allah Swt.
mengetahui benar kemampuan dan pembawaan alami pada kaum
Nabi Besar Muhammad saw. – yakni
Bani Isma’il -- apakah mereka akan menerima pengaruh Ilahi atau pengaruh
syaitan, dan pengaruh yang
manakah akan tumbuh serta pengaruh yang manakah akan surut. Mereka yang menerima Nabi Besar Muhammad saw. dan mendapatkan cap beliau saw.,
akan tumbuh dan bertambah dalam kekuasaan,
pengaruh dan jumlah, sedang penentang-penentang
beliau saw. akan mundur dan berkurang. Itulah makna ayat: اَللّٰہُ
یَعۡلَمُ مَا تَحۡمِلُ کُلُّ اُنۡثٰی وَ مَا تَغِیۡضُ الۡاَرۡحَامُ وَ مَا تَزۡدَادُ ؕ وَ کُلُّ شَیۡءٍ عِنۡدَہٗ بِمِقۡدَارٍ -- “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan apa
yang kurang sempurna dalam rahim
serta apa yang dikembangkan, dan segala sesuatu mempunyai kadar di sisi-Nya.”
Makna
ayat selanjutnya bahwa rencana atau makar buruk musuh-musuh Nabi Besar
Muhammad saw. -- baik yang terang-terangan maupun yang rahasia tidak dapat berhasil, sebab Allah
Swt. Yang benar-benar mengetahui
rencana-rencana itu, adalah Penolong
dan Pelindung beliau saw.: عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ الۡکَبِیۡرُ
الۡمُتَعَالِ -- Dia-lah
Yang mengetahui yang tersembunyi dan yang nampak, Dia Maha
Besar, Maha Luhur. سَوَآءٌ مِّنۡکُمۡ مَّنۡ اَسَرَّ الۡقَوۡلَ وَ مَنۡ
جَہَرَ بِہٖ -- Sama
saja dari antara kamu siapa yang merahasiakan
perkataannya dan siapa yang menzahirkannya, وَ مَنۡ ہُوَ
مُسۡتَخۡفٍۭ بِالَّیۡلِ وَ سَارِبٌۢ
بِالنَّہَارِ -- dan begitu pula siapa
yang bersembunyi pada waktu malam,
dan siapa yang berjalan pada siang hari.”
Makna Sirr dan Akhfa
Bahkan pengetahuan
(ilmu) Allah Swt. meliputi hal-hal yang masih
tersembunyi dalam pikiran atau jiwa
manusia, sebagaimana firman-Nya:
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا وَ
مَا تَحۡتَ الثَّرٰی ﴿﴾ وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ
بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی ﴿﴾ اَللّٰہُ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ﴿﴾
Kepunyaan-Nya apa pun yang ada di
seluruh langit, dan apa pun
yang ada di bumi, dan apa pun yang ada di antara keduanya,
dan apa pun yang ada di bawah tanah yang
lembab. وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ
بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی -- Dan jika engkau berkata dengan
suara keras maka sesungguhnya Dia
mengetahui yang rahasia dan yang sangat tersembunyi. اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- Allah
tidak ada tuhan kecuali Dia. ؕ
لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- Kepunyaan-Nya
semua nama yang terindah. (Thā Hā[20]:7-9).
Kata sirr (pikiran-pikiran rahasia) dalam
ayat: وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ
یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی -- “dan jika engkau berkata dengan
suara keras maka sesungguhnya Dia
mengetahui yang rahasia dan yang sangat tersembunyi” maksudnya pikiran-pikiran yang tersembunyi di dalam benak manusia yang diketahui hanya oleh dirinya sendiri,
sedang akhfa bermakna yang lebih
tersembunyi lagi meliputi semua cita-cita, gagasan,
dan ambisi seseorang yang tersembunyi dalam kandungan masa depan dan yang belum pernah terlintas dalam pikirannya.
Ayat اَللّٰہُ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- Allah
tidak ada tuhan kecuali Dia. ؕ
لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- Kepunyaan-Nya
semua nama yang terindah” ini
berisikan pati dan intisari wahyu Al-Quran yang telah disinggung dalam ayat 3. Allah Swt.
itu berWujud, Dia Maha Esa, Dia memiliki semua Sifat sempurna dan sama sekali bersih
dari segala cacat dan kelemahan yang dapat dijangkau oleh khayal, dan oleh sebab itu hanya Dia Sendiri Yang layak kita sembah dan kita puja, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ طٰہٰ ۚ﴿﴾ مَاۤ
اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ
الۡقُرۡاٰنَ لِتَشۡقٰۤی ۙ﴿﴾ اِلَّا
تَذۡکِرَۃً لِّمَنۡ یَّخۡشٰی ۙ﴿﴾ تَنۡزِیۡلًا مِّمَّنۡ
خَلَقَ الۡاَرۡضَ وَ السَّمٰوٰتِ الۡعُلٰی ؕ﴿﴾ اَلرَّحۡمٰنُ عَلَی الۡعَرۡشِ اسۡتَوٰی ﴿﴾ لَہٗ مَا فِی
السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا
بَیۡنَہُمَا وَ مَا تَحۡتَ الثَّرٰی ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah. Maha Pemurah,
Maha Penyayang. طٰہٰ -- Thā Hā.
Kami sekali-kali tidak menurunkan Al-Quran kepada engkau supaya engkau menjadi susah, اِلَّا
تَذۡکِرَۃً لِّمَنۡ یَّخۡشٰی -- melainkan sebagai suatu peringatan
bagi siapa yang takut. تَنۡزِیۡلًا مِّمَّنۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ وَ السَّمٰوٰتِ
الۡعُلٰی -- Diturunkan dari Dia Yang men-ciptakan bumi dan seluruh
langit yang tinggi. اَلرَّحۡمٰنُ عَلَی الۡعَرۡشِ اسۡتَوٰی -- Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah Yang bersemayam teguh di atas 'Arasy.
(Thā Hā [20]:1-6).
Makna
Sebutan Thā Hā
Thā Hā adalah gabungan dari tha dan ha.
Dalam dialek 'Akh sebuah kabilah Arab,
kata thā hā berarti “Hai
kekasihku." atau “Hai manusia
sempurna." Pengarang tafsir “'Kasysyaf” mengartikannya
"Wahai engkau." Sebagian ahli mengartikan sebagai "Semoga engkau ada dalam
ketenangan" (Ruh-ul-Bayan
dan Lisan-ul-‘Arab).
Ungkapan ini
menunjuk kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah dianugerahi semua kemampuan, kualitas, dan sifat fitri
dengan sepenuh-penuh ukuran, yang
membantu seseorang untuk membangun struktur
(bangunan) akhlak yang sempurna. Nabi Besar Muhammad saw. memang seorang manusia yang lengkap lagi paripurna serta satu contoh dan teladan yang sempurna
bagi manusia dalam arti kata yang sepenuh-sepenuhnya (QS.33:22), sehingga
menjadi satu-satunya Rasul Allah yang harus diikuti suri teladannya (QS.3:32) yang merupakan
“jalan yang lurus” (QS.1:6) yang
dapat menyebabkan para pelakukan meraih derajat
nikmat ruhani yang dijanjikan
Allah Swt. (QS.1:7; QS.4:70).
Ayat: مَاۤ
اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ
الۡقُرۡاٰنَ لِتَشۡقٰۤی -- “Kami sekali-kali tidak menurunkan Al-Quran kepada engkau supaya engkau menjadi susah” berisikan pesan hiburan dan harapan bagi
Nabi Besar Muhammad saw. dan orang-orang Muslim. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa tidak sejalan dengan wahyu
Al-Quran yang sempurna lagi tidak bercacat itu kalau sang pengemban amanatnya akan gagal dalam tujuannya.
Perjuangan Nabi Besar Muhammad saw. pasti
akan berhasil. Ayat ini membantah pula 'itikad Kristen bahwa peraturan
syariat itu merupakan laknat.
Tidak ada sesuatu dalam Al-Quran yang bertentangan
dengan fitrat insani, dan tidak ada
sesuatu yang apabila dilaksanakan
akan mendatangkan kesusahan bagi
manusia, bahkan sebaliknya.
Dengan singkat
'Arasy dalam ayat اَلرَّحۡمٰنُ عَلَی الۡعَرۡشِ اسۡتَوٰی -- Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah Yang bersemayam teguh di atas 'Arasy,”
mencerminkan Sifat-sifat Allah Swt. yang sempurna, yaitu Sifat-sifat yang
secara istilah disebut Sifat-sifat Tanzihiyah. Sifat-sifat tersebut kekal-abadi dan tidak dapat berubah
serta merupakan hak istimewa bagi Tuhan Sendiri, contohnya dalam QS.2:256; QS.112:1-5.
Sifat-sifat Tanzihiyah itu ditampakkan
melalui Sifat-sifat lain yang dikenal
sebagai Sifat-sifat Tasybihiyah, yaitu sifat-sifat yang sedikit atau
banyak terdapat pula pada wujud makhluk manusia.
Sifat-sifat yang disebut pertama, yaitu Sifat-sifat Tanzihiyah itu disebut sebagai 'Arasy llahi,
sedang Sifat-sifat Tasybihiyah adalah
pendukung ‘Arasy-Nya, yang paling utama adalah 4 Sifat Tasybihiyah dalam Surah Al-Fatihah.
Tidak Ada Pertentangan
Dalam Sifat-sifat Allah Swt.
Sehubungan kesempurnaan kekuasaan
dan pengetahuan (ilmu) Allah Swt.
tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Mungkin akan ada yang mempertanyakan
bahwa pemahaman sepenuhnya tentang sesuatu akan mengimplikasikan (mengandung
pengertian) adanya kekuasaan untuk menciptakannya.
Karena pengetahuan Tuhan mengenai Wujud-Nya Sendiri
bersifat sempurna, lalu apakah Dia itu Yang menciptakan
Wujud-Nya Sendiri, atau apakah Dia
mempunyai kekuasaan untuk menciptakan
padanan Diri-Nya?
Jawaban atas pertanyaan bagian pertama adalah, jika Allah
Yang Maha Kuasa itu adalah Pencipta dari Wujud-Nya Sendiri maka hal itu mengandung arti bahwa Dia sudah ada sebelum Dia itu eksis
(berwujud), dimana hal ini merupakan
suatu kemustahilan.
Allah Yang Maha Perkasa, karena memiliki pengetahuan
yang lengkap atas Wujud-Nya
Sendiri jadinya mengandung arti, bahwa dalam hal ini Yang Maha Mengetahui
dan apa yang diketahui-Nya adalah sama
dan tidak dapat dipisahkan, dengan demikian dalam hal ini tidak ada yang
bisa dianggap sebagai hasil ciptaan.
Pengetahuan Tuhan akan Wujud-Nya
Sendiri tidak bisa dibandingkan
dengan apa pun lainnya. Dalam keadaan ini Yang
Maha Mengetahui bukanlah sesuatu
yang terpisah dari apa yang diketahui dan karena itu tidak
ada yang dipilah-pilah sebagai Sang
Pencipta dan yang lainnya
sebagai yang diciptakan.
Cara yang pantas untuk mengemukakannya
adalah Wujud-Nya tersebut bukanlah hasil ciptaan melainkan secara abadi dan berkesinambungan Tegak dengan Dzat-Nya
Sendiri (Al-Qayyum) dan demikian itulah yang dimaksud dengan pengertian (pengetahuan) Tuhan.
Bagian kedua dari bantahan di atas mengemukakan, bahwa jika Tuhan memiliki pengetahuan sempurna atas Wujud-Nya Sendiri, apakah berarti bahwa
Dia mempunyai kekuasaan untuk menciptakan padanan Diri-Nya?
Jawaban yang bisa diberikan mengenai hal ini adalah, bahwa kekuasaan
Tuhan selalu mengarah
kepada hal-hal yang konsisten dengan Sifat-sifat
abadi-Nya. Memang benar bahwa Allah Swt. jika memang menginginkan bisa menciptakan apa pun dalam lingkup pengetahuan-Nya,
namun tidak masuk akal bahwa Dia
akan melakukan apa pun yang bertentangan dengan Sifat-sifat-Nya
yang sempurna.
Dalam semua pelaksanaan dari Kekuasaan-Nya
itu Dia selalu memperhatikan Sifat-sifat-Nya yang sempurna, dan tidak akan melakukan
sesuatu yang menyimpang. Sebagai contoh, Dia memiliki kekuasaan
untuk membakar orang-orang yang saleh dan bertakwa di dalam api neraka,
namun sifat Rahmān (Maha Pemurah), Keadilan serta Pemberian
Ganjaran akan menghalangi
hal itu sehingga Dia tidak akan pernah
melakukan-Nya. Begitu pula bahwa kekuasaan-Nya itu tidak akan pernah condong kepada penghancuran Wujud-
Nya Sendiri karena hal ini akan bertentangan dengan Sifat
keabadian Diri-Nya.
Dia tidak akan pernah menciptakan
padanan Wujud-Nya karena
akan bertentangan dengan Sifat
Ketauhidan dan Ke-Esa-an yang bersifat abadi.
Yang harus dipahami adalah bahwa ketidakmampuan
melakukan sesuatu adalah suatu hal tersendiri, sedangkan memiliki
kemampuan tetapi tidak melakukan sesuatu karena tidak sejalan dengan Sifat-sifat-Nya
adalah hal yang lain lagi.”
(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm.
230-233, London, 1984).
Tidak Ada Sesuatu
Pun yang Seperti Allah Swt.
Allah Swt. berfirman
mengenai kesia-siaan berbagai dugaan atau khayalan yang bertentangan dengan kesempurnaan Wujud dan Sifat-sifat-Nya:
فَاطِرُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا ۚ
یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ ؕ لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ
شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Dia
Pencipta seluruh langit dan bumi.
Dia menjadikan pasangan-pasangan bagi kamu
dari jenismu, dan dari binatang ternak pun
pasangan-pasangan, Dia mengembangbiakkan
kamu di dalamnya. لَیۡسَ
کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ -- Tidak ada sesuatu pun semisal-Nya وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ -- dan Dia
Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy
Syūrā [42]:12).
Kata-kata, لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ -- "Tidak
ada semisal-Nya sesuatu pun" melenyapkan kesalahfahaman yang mungkin
timbul disebabkan kalimat "Tuhan
telah membuat segala sesuatu berpasangan," yaitu bahwa Allah Swt. juga memerlukan istri untuk dijadikan pasangan. Kata-kata itu berarti bahwa tidaklah mungkin mengkhayalkan sesuatu sebagai Allah Swt.
karena Tuhan itu jauh di atas pengamatan dan pengertian manusia.
Karena itu sungguh bodohlah mencoba menemukan kesamaan
antara Sifat-sifat Ilahi dengan sifat-sifat manusia, meskipun
kedua-duanya mungkin mempunyai suatu persamaan
yang jauh dan tidak sempurna,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ
۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
قُلۡ
ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ -- Katakanlah: “Dia-lah
Allah Yang
Maha Esa. اَللّٰہُ الصَّمَدُ
-- Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan, وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 16 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar