Minggu, 18 Oktober 2015

Nabi Besar Muhammad Saw. "Suami Ruhani" Paling Sempurna yang Melahirkan "Umat Terbaik" & Tidak Ada Pertentangan Dalam Sifat-sifat Sempurna (Al-Asmaa-ul-Husna) Allah Swt.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 69

  Nabi Besar Muhammad Saw. “Suami Ruhani” Paling Sempurna yang Melahirkan    "Umat Terbaik"   &  Tidak   Ada Pertentangan Dalam Sifat-sifat Sempurna (Al-Asmā-ul Husna) Allah Swt.

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  sabda  Masih Mau’ud a.s.  tentang  kesempurnaan  dan menyeluruhnya pengetahuan Allah Swt.  mengenai semua ciptaannya-Nya (makhluk-Nya):
    “Begitu jugalah pengetahuan Allah  Swt. mengenai keseluruhan alam semesta. Disini menjadi lebih jelas bahwa tidak ada perbedaan atau tidak ada jarak di antara Yang Maha Mengetahui dengan segala hal yang perlu diketahui. Semua ini merupakan pengetahuan tingkat tinggi dalam pemahaman mengenai Ketuhanan dan Sifat-sifat-Nya, dimana kita menyadari betapa dekat dan akrabnya hubungan antara Wujud-Nya dengan subyek  pengetahuan-Nya.
     Hubungan sempurna dengan subyek   pengetahuan-Nya tersebut hanya bisa ada jika semuanya itu bersumber dari Wujud-Nya dan merupakan hasil ciptaan-NyaPerwujudan (eksistensi) mereka itu harus tergantung kepada Wujud-Nya. Dengan kata lain, perwujudan yang sempurna hanyalah milik-Nya,  sedangkan yang lainnya bersumber dan bertumpu kepada bantuan-Nya.

Ketergantungan Makhluk Kepada Allah Swt.

    Bahkan setelah diciptakan pun  semua makhluk itu tidak bisa merdeka atau terpisah dari Wujud-Nya, karena eksistensi mereka sepenuhnya tergantung kepada perlindungan-Nya. Hanya Dia saja Yang tidak mengenal batasan apa pun sedangkan yang lainnya -- baik jasmani atau pun ruhani -- terkurung dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh Wujud-Nya.
   Dia itu melingkupi keseluruhan dan semuanya tercakup dalam Sifat Rabubiyat-Nya. Tidak ada apa pun yang tidak berasal dari Tangan-Nya dan tidak termasuk dalam lingkupan Sifat Rabubiyat-Nya, dan tidak ada juga yang bisa eksis (ada) tanpa bantuan-Nya. Hanya dalam keadaan seperti itulah Allah Yang Maha Kuasa akan memiliki hubungan yang sempurna dengan subyek dari pengetahuan-Nya. Hubungan ini dalam Kitab Suci Al-Quran dikemukakan sebagai:
وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾
Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya  (Qāf [50]:17).
Begitu pula di tempat lain dikemukakan bahwa:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ  
 Dia-lah Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu  (Al-Baqarah [2]:256).
        Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hanya Dia saja Yang menopang seluruh kehidupan dimana segala sesuatu bersumber dari-Nya dan memiliki nyawa (jiwa) karena Dia. Sesungguhnya Dia itulah nyawa  (jiwa) dari semua kehidupan dan inti kekuatan dari semua kekuatan yang ada.
    Kalau kita tidak bisa menerima  jiwa sebagai suatu yang diciptakan, maka tidak ada alasan untuk mengasumsikan bahwa suatu wujud yang bernama fiktif sebagai Permesywar akan mempunyai pengetahuan tentang realitas jiwa atau ruh makhluk hidup. Seseorang yang memiliki pengetahuan lengkap tentang sesuatu bisa dikatakan bahwa ia juga bisa membuatnya, sehingga kalau ternyata ia memang tidak mampu maka pasti ada kekurangan di dalam salah satu aspeknya.
   Tanpa adanya suatu pengetahuan yang lengkap maka akan sulit untuk membedakan di antara benda-benda yang sama, apalagi kemampuan untuk menciptakannya. Dalam hal Allah Yang Maha Kuasa  jika bukan merupakan Sang Pencipta dari segalanya maka tidak saja Dia itu dikatakan mengalami defisiensi atau cacat dalam kelengkapan pengetahuan-Nya, tetapi juga dengan sendirinya akan muncul kerancuan karena Dia tidak akan mampu membedakan di antara berjuta-juta jiwa atau ruh sehingga akan sering salah menganggap ruh X sebagai ruh Y.  Pengetahuan partial (tidak lengkap) akan selalu membawa kerancuan demikian.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 221-226, London, 1984).

Kesempurnaan Pengetahuan  Allah Swt. Mengenai Semua Ciptaan-Nya (Makhluk-Nya)

      Sehubungan  dengan “pengetahuan” (ilmu) Allah Swt. yang menyeluruh dan terinci mengenai semua ciptaan-Nya  tersebut Allah Swt. berfirman:
ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ --   Mengetahui yang gaib dan yang nampak, Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang  (Al-Hasyr [59]:23).
    Allah Swt itulah Wujud Tuhan Pencipta Yang menciptakan seluruh alam  serta berbagai macam komponennya, baik yang paling besar mau pun yang  paling kecil sehingga tidak nampak secara langsung oleh mata jasmani (gaib), sehingga Allah Swt. disebut Al-‘Ālim dan Al-Khabīr firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ ۬ؕ قَوۡلُہُ  الۡحَقُّ ؕ وَ لَہُ  الۡمُلۡکُ یَوۡمَ  یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ ؕ عٰلِمُ  الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ؕ وَ ہُوَ الۡحَکِیۡمُ  الۡخَبِیۡرُ ﴿﴾
Dan   Dia-lah Yang  menciptakan seluruh langit dan bumi dengan haq, dan pada hari Dia ber-firman: “Jadilah”  maka terjadilah ia. Firman-Nya itu benar, dan milik-Nya-lah kerajaan pada hari ketika  nafiri ditiup, عٰلِمُ  الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ؕ وَ ہُوَ الۡحَکِیۡمُ  الۡخَبِیۡرُ -- Dia Mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui segala kabar  (Al-An’ām [6]:74).
Firman-Nya lagi:
اَللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَحۡمِلُ کُلُّ اُنۡثٰی وَ مَا تَغِیۡضُ الۡاَرۡحَامُ وَ  مَا تَزۡدَادُ ؕ وَ کُلُّ شَیۡءٍ عِنۡدَہٗ  بِمِقۡدَارٍ ﴿﴾  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡکَبِیۡرُ الۡمُتَعَالِ ﴿﴾  سَوَآءٌ  مِّنۡکُمۡ مَّنۡ اَسَرَّ الۡقَوۡلَ وَ مَنۡ جَہَرَ بِہٖ وَ مَنۡ ہُوَ مُسۡتَخۡفٍۭ بِالَّیۡلِ وَ سَارِبٌۢ  بِالنَّہَارِ ﴿﴾
Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan apa yang kurang sempurna dalam rahim serta apa yang dikembangkan,  dan segala sesuatu mempunyai kadar di sisi-Nya. عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡکَبِیۡرُ الۡمُتَعَالِ  -- Dia-lah  Yang mengetahui yang tersembunyi dan yang nampak, Dia Maha Besar, Maha Luhurسَوَآءٌ  مِّنۡکُمۡ مَّنۡ اَسَرَّ الۡقَوۡلَ وَ مَنۡ جَہَرَ بِہٖ   --  Sama saja dari antara kamu  siapa  yang merahasiakan perkataannya dan siapa yang menzahirkannyaوَ مَنۡ ہُوَ مُسۡتَخۡفٍۭ بِالَّیۡلِ وَ سَارِبٌۢ  بِالنَّہَارِ -- dan begitu pula siapa yang bersembunyi pada waktu malam, dan siapa yang berjalan pada siang hari.  (Ar-Rā’d [13]:9-11).

Laki-laki Ruhani” Paling Sempurna dan “Keturunan Ruhaninya

    Dalam Surah Ar-Rā’d ayat ke-4 kita diberitahu, bahwa semua benda di alam semesta mempunyai pasangannya, dan bahwa di dalam alam ruhani pun terdapat beberapa perorangan yang bertindak sebagai laki-laki dan yang lainnya sebagai perempuan,  yang pertama memberi pengaruh dan yang lain menerima pengaruh.
Ayat ini menegaskan, bahwa dalam diri Nabi Besar Muhammad  saw.   telah muncul suatu wujud yang merupakan jenis jantan ruhani paing sempurna, dan tidak ada seorang pun dapat mencapai tingkat keruhanian apa pun tanpa menerima cap beliau saw. (QS.3:32; QS.4:70).
     Seterusnya ayat ini mengatakan, bahwa Allah Swt. mengetahui benar kemampuan dan pembawaan alami pada   kaum  Nabi Besar Muhammad saw.   – yakni Bani Isma’il   -- apakah mereka akan menerima pengaruh Ilahi atau pengaruh syaitan, dan pengaruh yang manakah akan tumbuh serta pengaruh yang manakah akan surut. Mereka yang menerima Nabi Besar Muhammad saw. dan mendapatkan cap beliau  saw., akan tumbuh dan bertambah dalam kekuasaan, pengaruh dan jumlah, sedang penentang-penentang beliau saw. akan mundur dan berkurang. Itulah makna ayat:  اَللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَحۡمِلُ کُلُّ اُنۡثٰی وَ مَا تَغِیۡضُ الۡاَرۡحَامُ وَ  مَا تَزۡدَادُ ؕ وَ کُلُّ شَیۡءٍ عِنۡدَہٗ  بِمِقۡدَارٍ -- “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan apa yang kurang sempurna dalam rahim serta apa yang dikembangkan,  dan segala sesuatu mempunyai kadar di sisi-Nya.”
    Makna ayat selanjutnya bahwa rencana atau makar buruk musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. --   baik yang terang-terangan maupun yang rahasia tidak dapat berhasil, sebab Allah Swt. Yang benar-benar mengetahui rencana-rencana itu, adalah Penolong dan Pelindung beliau saw.: عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡکَبِیۡرُ الۡمُتَعَالِ  -- Dia-lah Yang mengetahui yang tersembunyi dan yang nampak, Dia Maha Besar, Maha Luhurسَوَآءٌ  مِّنۡکُمۡ مَّنۡ اَسَرَّ الۡقَوۡلَ وَ مَنۡ جَہَرَ بِہٖ   --  Sama saja dari antara kamu  siapa  yang merahasiakan perkataannya dan siapa yang menzahirkannyaوَ مَنۡ ہُوَ مُسۡتَخۡفٍۭ بِالَّیۡلِ وَ سَارِبٌۢ  بِالنَّہَارِ -- dan begitu pula siapa yang bersembunyi pada waktu malam, dan siapa yang berjalan pada siang hari.”  

Makna Sirr dan Akhfa

     Bahkan pengetahuan (ilmu) Allah Swt. meliputi hal-hal yang masih tersembunyi dalam pikiran  atau jiwa manusia,  sebagaimana firman-Nya:
 لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ  وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا وَ مَا  تَحۡتَ الثَّرٰی  ﴿﴾ وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی  ﴿﴾ اَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ لَہُ  الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ﴿﴾
Kepunyaan-Nya apa pun yang ada di seluruh langit, dan apa­ pun  yang ada di bumi, dan  apa pun yang ada di antara keduanya, dan apa pun yang ada di bawah tanah yang lembabوَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی  -- Dan jika engkau berkata  dengan suara keras maka sesung­guhnya Dia mengetahui yang rahasia dan   yang sangat ter­sembunyiاَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ        -- Allah tidak ada tuhan kecuali Diaؕ لَہُ  الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی --   Kepunyaan-Nya semua nama yang terindah.   (Thā Hā[20]:7-9).
  Kata sirr (pikiran-pikiran rahasia) dalam ayat:  وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی  -- “dan jika engkau berkata  dengan suara keras maka sesung­guhnya Dia mengetahui yang rahasia dan   yang sangat ter­sembunyi” maksudnya pikiran-pikiran yang tersembunyi di dalam benak manusia  yang diketahui hanya oleh dirinya sendiri, sedang akhfa   bermakna yang  lebih tersembunyi lagi  meliputi semua cita-citagagasan, dan ambisi seseorang yang tersembunyi dalam kandungan masa depan dan yang belum pernah terlintas dalam pikirannya.
  Ayat  اَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ        -- Allah tidak ada tuhan kecuali Diaؕ لَہُ  الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی --  Kepunyaan-Nya semua nama yang terindah   ini berisikan pati dan intisari wahyu Al-Quran yang  telah disinggung dalam ayat 3. Allah Swt.   itu berWujud, Dia Maha Esa,  Dia memiliki semua Sifat sempurna dan sama sekali bersih dari segala cacat dan kelemahan yang dapat dijangkau oleh khayal, dan oleh sebab itu hanya Dia Sendiri Yang layak kita sembah dan kita puja, firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ طٰہٰ ۚ﴿﴾  مَاۤ   اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ  الۡقُرۡاٰنَ  لِتَشۡقٰۤی ۙ﴿﴾  اِلَّا  تَذۡکِرَۃً   لِّمَنۡ  یَّخۡشٰی  ۙ﴿﴾ تَنۡزِیۡلًا مِّمَّنۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ وَ السَّمٰوٰتِ الۡعُلٰی  ؕ﴿﴾ اَلرَّحۡمٰنُ  عَلَی الۡعَرۡشِ  اسۡتَوٰی  ﴿﴾ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ  وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا وَ مَا  تَحۡتَ الثَّرٰی  ﴿﴾  
Aku baca  dengan nama Allah. Maha Pemurah, Maha Penyayang.  طٰہٰ  --    Thā Hā.    Kami sekali-kali tidak menurunkan Al-Quran kepada engkau supaya engkau menjadi susah, اِلَّا  تَذۡکِرَۃً   لِّمَنۡ  یَّخۡشٰی  --    melainkan sebagai suatu  peringatan bagi siapa yang takut. تَنۡزِیۡلًا مِّمَّنۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ وَ السَّمٰوٰتِ الۡعُلٰی  --    Diturunkan dari Dia Yang men-ciptakan bumi dan seluruh langit yang tinggiاَلرَّحۡمٰنُ  عَلَی الۡعَرۡشِ  اسۡتَوٰی    --  Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah Yang ber­semayam teguh di atas 'Arasy.  (Thā Hā [20]:1-6).

Makna  Sebutan Thā Hā 

 Thā Hā  adalah gabungan dari tha dan ha. Dalam dialek 'Akh sebuah kabilah Arab,  kata thā hā berarti “Hai kekasihku." atau “Hai manusia sempurna." Pengarang tafsir “'Kasysyaf” mengartikannya "Wahai engkau." Sebagian ahli mengartikan sebagai  "Semoga engkau ada dalam ketenangan" (Ruh-ul-Bayan dan Lisan-ul-‘Arab).
  Ungkapan ini menunjuk kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah dianugerahi semua kemampuan, kualitas, dan sifat fitri dengan sepenuh-penuh ukuran, yang membantu seseorang untuk membangun struktur (bangunan) akhlak yang sempurna.  Nabi Besar Muhammad saw.  memang seorang manusia yang  lengkap lagi paripurna serta satu contoh dan teladan yang sempurna bagi manusia dalam arti kata yang sepenuh-sepenuhnya (QS.33:22), sehingga menjadi satu-satunya  Rasul Allah yang harus diikuti suri teladannya (QS.3:32) yang merupakan “jalan yang lurus” (QS.1:6) yang dapat menyebabkan para pelakukan meraih derajat  nikmat ruhani  yang dijanjikan Allah Swt. (QS.1:7; QS.4:70).
  Ayat: مَاۤ   اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ  الۡقُرۡاٰنَ  لِتَشۡقٰۤی  -- “Kami sekali-kali tidak menurunkan Al-Quran kepada engkau supaya engkau menjadi susah”  berisikan pesan hiburan dan harapan bagi  Nabi Besar Muhammad saw.    dan orang-orang Muslim. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa tidak sejalan dengan wahyu Al-Quran yang sempurna lagi tidak bercacat itu kalau sang pengemban amanatnya akan gagal dalam tujuannya.
   Perjuangan Nabi Besar Muhammad saw. pasti akan berhasil. Ayat ini membantah pula 'itikad Kristen bahwa peraturan syariat itu merupakan laknat. Tidak ada sesuatu dalam Al-Quran yang bertentangan dengan fitrat insani, dan tidak ada sesuatu yang apabila dilaksanakan akan mendatangkan kesusahan bagi manusia, bahkan sebaliknya.
     Dengan singkat  'Arasy dalam ayat اَلرَّحۡمٰنُ  عَلَی الۡعَرۡشِ  اسۡتَوٰی    --  Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah Yang ber­semayam teguh di atas 'Arasy,”   mencerminkan Sifat-sifat Allah  Swt.  yang sempurna, yaitu Sifat-sifat yang secara istilah disebut Sifat-sifat Tanzihiyah. Sifat-sifat tersebut kekal-abadi dan tidak dapat berubah serta merupakan hak istimewa bagi Tuhan Sendiri, contohnya  dalam QS.2:256; QS.112:1-5.
      Sifat-sifat Tanzihiyah itu ditampakkan melalui Sifat-sifat lain yang dikenal sebagai Sifat-sifat Tasybihiyah, yaitu sifat-sifat yang sedikit atau banyak terdapat pula pada wujud makhluk manusia. Sifat-sifat yang disebut pertama, yaitu Sifat-sifat Tanzihiyah  itu disebut sebagai 'Arasy llahi,  sedang Sifat-sifat Tasybihiyah adalah pendukung ‘Arasy-Nya, yang paling utama adalah 4 Sifat Tasybihiyah dalam Surah Al-Fatihah.

 Tidak   Ada Pertentangan Dalam Sifat-sifat Allah Swt

     Sehubungan kesempurnaan  kekuasaan dan pengetahuan (ilmu) Allah Swt. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Mungkin akan ada yang mempertanyakan bahwa pemahaman sepenuhnya tentang sesuatu akan mengimplikasikan (mengandung pengertian) adanya kekuasaan untuk menciptakannya. Karena pengetahuan Tuhan mengenai Wujud-Nya Sendiri bersifat sempurna, lalu apakah Dia itu Yang menciptakan Wujud-Nya Sendiri, atau apakah Dia mempunyai kekuasaan untuk menciptakan padanan Diri-Nya?
    Jawaban atas pertanyaan bagian pertama adalah,  jika Allah Yang Maha Kuasa itu adalah Pencipta dari Wujud-Nya Sendiri maka hal itu mengandung arti bahwa Dia sudah ada sebelum Dia itu eksis (berwujud),  dimana hal ini merupakan suatu kemustahilan.
     Allah Yang Maha Perkasa, karena memiliki pengetahuan yang lengkap atas Wujud-Nya Sendiri jadinya mengandung arti, bahwa dalam hal ini Yang Maha Mengetahui dan apa yang diketahui-Nya adalah sama dan tidak dapat dipisahkan, dengan demikian dalam hal ini tidak ada yang bisa dianggap sebagai hasil ciptaan.
    Pengetahuan Tuhan akan Wujud-Nya Sendiri tidak bisa dibandingkan dengan apa pun lainnya. Dalam keadaan ini Yang Maha Mengetahui bukanlah sesuatu yang terpisah dari apa yang diketahui dan karena itu tidak ada yang dipilah-pilah sebagai Sang Pencipta dan yang lainnya sebagai yang diciptakan.
   Cara yang pantas untuk mengemukakannya adalah Wujud-Nya tersebut bukanlah hasil ciptaan melainkan secara abadi dan berkesinambungan Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum) dan demikian itulah yang dimaksud dengan pengertian (pengetahuan)  Tuhan.
    Bagian kedua dari bantahan di atas mengemukakan, bahwa jika Tuhan memiliki pengetahuan sempurna atas Wujud-Nya Sendiri, apakah berarti bahwa Dia mempunyai kekuasaan untuk menciptakan padanan Diri-Nya?
    Jawaban yang bisa diberikan mengenai hal ini adalah, bahwa kekuasaan Tuhan selalu mengarah kepada hal-hal yang konsisten dengan Sifat-sifat abadi-Nya. Memang benar bahwa Allah  Swt. jika memang menginginkan bisa menciptakan apa pun dalam lingkup pengetahuan-Nya, namun tidak masuk akal bahwa Dia akan melakukan apa pun yang bertentangan dengan Sifat-sifat-Nya yang sempurna.   
    Dalam semua pelaksanaan dari Kekuasaan-Nya itu Dia selalu memperhatikan Sifat-sifat-Nya yang sempurna, dan tidak akan melakukan sesuatu yang menyimpang. Sebagai contoh, Dia memiliki kekuasaan untuk membakar orang-orang yang saleh dan bertakwa di dalam api neraka, namun sifat Rahmān (Maha Pemurah), Keadilan serta Pemberian Ganjaran akan menghalangi hal itu sehingga Dia tidak akan pernah melakukan-Nya. Begitu pula bahwa kekuasaan-Nya itu tidak akan pernah condong kepada penghancuran Wujud- Nya  Sendiri karena hal ini akan bertentangan dengan Sifat keabadian Diri-Nya.
   Dia tidak akan pernah menciptakan padanan Wujud-Nya karena akan bertentangan dengan Sifat Ketauhidan dan Ke-Esa-an yang bersifat abadi. Yang harus dipahami adalah bahwa ketidakmampuan melakukan sesuatu adalah suatu hal tersendiri, sedangkan memiliki kemampuan tetapi tidak melakukan sesuatu karena tidak sejalan dengan Sifat-sifat-Nya adalah hal yang lain lagi.”  (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 230-233, London, 1984).

Tidak  Ada Sesuatu Pun  yang Seperti Allah Swt.

     Allah Swt. berfirman mengenai kesia-siaan berbagai dugaan atau khayalan yang bertentangan dengan kesempurnaan Wujud dan Sifat-sifat-Nya:
فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ  اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا ۚ یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ ؕ لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Dia  Pencipta seluruh langit dan bumi. Dia menjadikan pasangan-pasangan  bagi kamu dari jenismu,  dan dari binatang ternak pun pasangan-pasangan, Dia mengembangbiakkan kamu di dalamnya.  لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ -- Tidak  ada sesuatu pun semisal-Nya وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ  --   dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy Syūrā [42]:12).
 Kata-kata, لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ --  "Tidak ada semisal-Nya sesuatu pun" melenyapkan kesalahfahaman yang mungkin timbul disebabkan kalimat "Tuhan telah membuat segala sesuatu berpasangan," yaitu  bahwa Allah Swt. juga memerlukan istri untuk dijadikan pasangan. Kata-kata itu berarti bahwa tidaklah mungkin mengkhayalkan sesuatu sebagai Allah Swt.  karena Tuhan itu jauh di atas pengamatan dan pengertian manusia.
  Karena itu sungguh bodohlah mencoba menemukan kesamaan antara Sifat-sifat Ilahi dengan sifat-sifat manusia, meskipun kedua-duanya mungkin mempunyai suatu persamaan yang jauh dan tidak sempurna, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ     --   Katakanlah:  Dia-lah  Allah   Yang Maha Esa. اَللّٰہُ  الصَّمَدُ   --      Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya. لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ  --    Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ --   dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 16 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar