Minggu, 04 Oktober 2015

Rahasia Terjadinya "Mukjizat" Para Rasul Allah & Pentingnya Memiliki Keyakinan Penuh Mengenai Kekuasaan Tak Terbatas Allah Swt.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 57

Rahasia Terjadinya Mukjizat  Para Rasul Allah  & Pentingnya Memiliki Keyakinan Penuh Mengenai Kekuasaan Tak Terbatas Allah Swt.

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai istilah-istilah kiasan yang digunakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. seperti Bapa dan anak Allah  (Matius 5:1-16), sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bersabda:
      “Allah Yang Maha Kuasa berfungsi di dunia ini dalam tiga kapasitas, pertama dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan, kedua dalam kapasitas sebagai seorang sahabat dan ketiga dalam kapasitas sebagai musuh. Perlakuan-Nya terhadap rata-rata (umumnya)  makhluk ciptaan-Nya adalah dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan, sedangkan perlakuan-Nya terhadap mereka yang mencintai-Nya dan yang dicintai-Nya, juga dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan namun diwarnai dengan corak kapasitas sebagai sahabat. Dunia jadinya menyadari bahwa Tuhan mendukung manusia (orang)  bersangkutan sebagaimana layaknya seorang sahabat.
  Adapun perlakuan-Nya kepada para musuh-Nya dinyatakan dalam bentuk penghukuman yang pedih dan tanda-tanda lainnya yang menggambarkan secara tegas bahwa Tuhan memusuhi bangsa atau orang bersangkutan.
   Kadang-kadang Tuhan mencobai sahabat-Nya dengan menjadikan seluruh dunia memusuhi dirinya dan membiarkan yang bersangkutan untuk sementara waktu sebagai korban aniaya lidah atau tangan mereka. Hanya saja hal itu dilakukan-Nya bukan karena Dia ingin menghancurkan sahabat-Nya itu, atau akan mempermalukan atau pun sebagai bentuk perendahan harkat. Dia melakukan hal itu agar Dia bisa memperlihatkan tanda-tanda-Nya kepada seluruh dunia bahwa para musuh-Nya tidak akan dapat menyakiti Sahabat-Nya tersebut meskipun mereka telah melakukan segala upaya habis-habisan.”  (Nuzulul Masih, Qadian, Ziaul Islam Press, 1909; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 18, hlm. 517-518, London, 1984).

Kebesertaan Allah Swt. Dengan Hamba-hamba Pilihan-Nya
  
    Dalam  salah satu buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kebersertaan Allah Swt. dengan hamba-Nya yang hakiki tersebut:
    “Seorang hamba memperlihatkan kecintaannya yang suci kepada Allah  Swt. melalui perilakunya yang baik, tetapi tanggapan Allah sungguh luar biasa. Melihat kemajuan hambanya yang cepat maka Tuhan akan bergegas bergerak ke arahnya seperti kilat dan memperlihatkan Tanda-tanda bagi dirinya baik di langit mau pun di bumi. Dia akan menjadi Sahabat bagi para sahabat hamba tersebut dan menjadi musuh bagi para musuhnya. Misalnya pun berjuta-juta manusia menentang hamba itu, Tuhan akan melumatkan mereka dan menjadikan mereka tidak berdaya sebagaimana laiknya serangga mati. Bisa saja Dia menghancurkan seluruh dunia demi hamba-Nya tersebut dan menjadikan bumi dan langit tunduk kepadanya.
   Dia akan memberkati kata-kata yang diucapkannya dan menurunkan hujan nur di atas kediamannya. Dia akan memberkati pakaian yang dikenakan, pangan yang disantap dan bahkan debu   yang diinjaknya. Dia tidak akan membiarkan hamba itu mati dalam keadaan gagal dan Dia sendiri yang akan menjawab mereka yang menentangnya. Dia menjadi mata yang dengannya  ia melihat, menjadi telinga yang dengannya   ia mendengar, menjadi lidah yang dengannya ia berbicara, menjadi kaki yang dengannya ia berjalan dan menjadi tangan yang dengannya ia menangani musuh-musuhnya.
    Dia Sendiri akan maju mengedepankan Wujud-Nya untuk menangani musuh-musuh hamba-Nya itu. Dia akan mencabut pedang terhadap para musuh yang jahat yang menganiayanya serta menjadikan yang bersangkutan berjaya (sukses) di semua bidang. Dia akan membukakan rahasia-rahasia takdir-Nya kepada hamba-Nya itu.
   Yang pertama sekali akan menghargai keindahan keruhanian yang muncul setelah perilaku dan amal  saleh serta kecintaannya kepada Tuhan,  adalah Allah Swt. Sendiri. Alangkah sialnya manusia yang hidup pada masa itu dimana ada matahari bersinar terang bagi mereka tetapi mereka memilih termangu di tempat kegelapan.” (Zamimah Brahin-i-Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm. 225, London, 1984).

Rahasia Terjadinya Karamat dan Mukjizat

    Dalam buku “Kisyti Nuh” (Bahtera Nuh), Masih Mau’ud a.s. pada topic “Ajaranku” menjelaskan  mengenai “perlakuan khusus” (istimewa) Allah Swt. terhadap hamba-hamba-Nya yang juga bersikap khusus kepada-Nya, sehingga terjadi kejadian-kejadian khusus pada hamba-hamba-Nya yang khusus tersebut    yang disebut karamah atau mukjijat:
       “Hendaknya hal ini difahami dengan jelas bahwa baiat hanya berupa ikrar  di lidah saja tidaklah punya arti apa-apa, jika tidak ditunjang oleh suatu kebulatan tekad hendak melaksanakan janji itu sepenuh-penuhnya. Oleh karena itu barangsiapa yang mengamalkan ajaranku selengkapnya ia masuk rumah ini, perihal rumah tersebut ada janji dari Allah Ta’ala:
Inniy uhafizhu kulla man fī dār
“Tiap-tiap orang yang berada  di dalam dinding pagar rumah engkau akan Kuselamatkan”
    Tetapi dalam hal ini hendaknya jangan diartikan bahwa perlindungan Ilahi ini hanya diberikan kepada mereka yang berdiam di dalam rumah saya yang terbuat dari tanah dan batu-bata ini, melainkan janji itu meliputi pula mereka yang mentaati ajaranku   selengkap-lengkapnya, dan yang karenanya benar-benar dapat dikatakan sebagai penghuni rumah-ruhani saya.
       Untuk mengikuti ajaranku   secara seksama  dikehendaki bahwa mereka harus berkeyakinan bahwa mereka mempunyai satu Tuhan Yang Qadir (Maha Kuasa), Qayyum (Yang Maha Mandiri), dan Khaliqul Kul (Pencipta segala sesuatu), yang Sifat-sifat-Nya tak pernah  berubah serta  kekal dan abadi. Dia tidak mempunyai anak. Dia  suci  dari jejak penderitaan, dari dinaikkan ke tiang salib dan dari mengalami suatu kematian.
   Dia sedemikian rupa, bahwa meski pun dekat namun  jauh, walau pun  Tunggal tapi penjelmaan-Nya nampak dalam bermacam-ragam corak. Manakala ada terjadi suatu perubahan di dalam diri seorang manusia, bagi  orang itu Dia menjadi Tuhan yang  baru, dan Dia memperlakukannya dengan penjelmaan-Nya yang baru. Orang itu melihat suatu perubahan di dalam Wujud Tuhan menurut proporsi dan perubahan yang ada pada dirinya – tetapi hal ini  bukanlah seakan-akan terjadi suatu perubahan di dalam Wujud Tuhan, karena sesungguhnya Dia tidak akan pernah mengalami perubahan, dan Wujud-Nya memang paripurna. Tetapi dengan tiap-tiap perubahan yang berlaku di dalam diri manusia yang menjurus ke arah kebaikan, Tuhan pun menjelmakan Diri-Nya terhadap orang itu di dalam bentuk penjelmaan baru. Dengan tiap-tiap usaha  kemajuan pada diri manusia Tuhan pun memperlihatkan diri-Nya dengan penjelmaan yang lebih agung lagi perkasa.
    Dia menampakkan sesuatu  penjelmaan dari Kudrat-Nya yang luar biasa hanya apabila manusia memperlihatkan suatu perubahan di dalam dirinya secara luar biasa pula. Inilah akar dan landasan dari keajaiban dan mukjizat-mukjizat yang disaksikan  (dialami) hamba-hamba Allah.
    Beriman kepada Allah Ta’ala serta kepada segala kekuatan-kekuatan tersebut merupakan syarat yang penting bagi Jemaat kita. Resapkanlah keimanan ini ke dalam kalbu kamu sekalian. Berikanlah tempat yang utama kepada keimanan  itu lebih daripada kepada urusan pribadi, kesenangan-kesenangan kamu dan segala hubungan-hubungan kamu. Dengan perbuatan-perbuatan nyata disertai keberanian yang tak kenal menyerah perlihatkanlah kesetiaan dengan sejujur-jujurnya.
    Orang-orang lain di dunia ini tidak menganggap Tuhan sebagai suatu Zat  yang lebih penting daripada harta-benda mereka dan sanak-saudara serta karib-kerabat mereka. Akan tetapi kamu harus memberikan kepada-Nya tempat yang paling utama, supaya di langit kamu dituliskan di dalam daftar Jemaat-Nya.
    Memperlihatkan tanda-tanda karunia adalah cara kebiasaan Tuhan semenjak zaman bihari. Tetapi kamu sekalian dapat mengambil bagian dalam hikmah cara kebiasaan ini hanya apabila tidak ada sesuatu sebab yang memisahkan kamu dari Dia, apabila kamu mempunyai keinginan menjadi keinginan-Nya, apabila kamu mempunyai sesuatu hasrat dan kedambaan akan sesuatu, itu pun merupakan hasrat dan kedambaan-Nya, dan hanya  apabila sepanjang masa – baik dalam keadaan  berhasil mau pun dalam menghadapi kegagalan, biar pun dalam keadaan yang memberikan harapan-harapan atau pun pada saat  kamu dihadapkan kepada keputus-asaan – kepala kamu sujud mencium duli  Telapak-kaki-Nya, menyerah kepada segala kehendak-Nya.
     Jika kamu berbuat serupa itu maka di dalam diri kamu akan nampak Wujud Tuhan itu yang sudah lama menyembunyikan Wajah-Nya dari permukaan bumi ini. Apakah ada di antara kamu sekalian yang mengamalkan ajaran ini dan hanya mencari keridhaan-Nya, tanpa menampakkan rasa ketidak-puasan atas qadha dan qadar-Nya, atas cara  Dia bekerja? Bahkan apabila kamu dihadapkan kepada suatu musibah, kamu harus melangkahkan kaki kamu terus ke depan, sebab itu adalah rahasia bagi keberhasilan kamu, dan  hendaklah  kamu menyebar-luaskan itikad Keesaan Tuhan ke seluruh penjuru dunia.”

Kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt.

     Kemudian sehubungan kesempurnaan  Al-Asmā-ul-Husna (Sifat-sifat terindah) Allah Swt. Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Dalam Kitab Suci Al-Quran Sifat-sifat  Allah Yang Maha Perkasa dikemukakan dalam bentuk subyektif (pokok) dan bukan sebagai obyektif (tujuan). Sebagai contoh, Dia itu Maha Suci, tetapi tidak ada dikemukakan bahwa Dia itu memang dipelihara agar tetap suci, karena hal itu akan menimbulkan dugaan adanya sosok lain yang memelihara Dia.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 119).
    Oleh karena itu sebutan    Bapa dan Anak Allah  yang sering dikemukakan Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) dalam Injil bukan dalam arti harfiah melainkan dalam makna kiasan, sebab jika diartikan secara harfiah berarti Allah Swt. akan seperti seorang ayah di kalangan manusia  yang membutuhkan kehadiran anak  sebagai pewarisnya, sedangkan Allah Swt.  adalah Al-Ghaniy – Yang Maha Berkecukupan (Mahakaya), jadi Dia tidak membutuhkan apa pun dan siapa pun untuk membantu-Nya. Yesus berkata:
5:3 "Berbahagialah orang yang miskin  di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.   5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.   5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.    5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran , karena mereka akan dipuaskan. 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya , karena mereka akan beroleh kemurahan.   5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya , karena mereka akan melihat Allah. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai ,  karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran ,   karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.  5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku    kamu dicela   dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 5:12 Bersukacita dan bergembiralah,    karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.  5:13  Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 5:14 Kamu adalah terang dunia.   Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah   itu. 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,  supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik   dan memuliakan   Bapamu yang di sorga."  (Matius 5:3-16).

Sabda  Sri Krisyna yang Dijanjikan

      Kemudian sehubungan dengan kepercayaan di kalangan kalangan salah satu sekte Hindu yang mempercayai bahwa ruh manusia tidak diciptakan Allah Swt. dan sudah berwujud bersama dengan keberadaan Allah Swt.,  Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah,  bersabda dalam kapasitas beliau sebagai Sri Krisyna yang dijanjikan bagi umat Hindu:
    “Tuhan kami memiliki kekuasaan di atas segala hal. Mereka berdusta jika mereka mengatakan bahwa Dia tidak menciptakan ruh atau pun partikel dari tubuh jasmani. Mereka itu tidak mengenal yang namanya Tuhan. Kami menyaksikan ciptaan-ciptaan-Nya yang baru pada setiap hari dan Dia selalu meniupkan ruh kemajuan yang baru ke dalam kalbu kami.
    Jika Dia tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari keadaan ketiadaan menjadi ada maka hal itu akan berarti kematian bagi kami. Alangkah indahnya Dia Yang menjadi Tuhan kami. Siapakah yang dapat dipadankan dengan Wujud-Nya? Alangkah ajaib hasil ciptaan-Nya. Siapakah yang mempunyai kemampuan mencipta seperti Diri-Nya? Dia itulah kekuasaan yang mutlak.”  (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 19, hlm. 435, London, 1984).
    Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah selanjutnya bersabda mengenai  munculnya kepercayaan tentang  reinkarnasi atau tumibal:
    “Yang menjadi dasar utama dari penyembahan dewa-dewa dan mengenai akidah tentang transmigrasi jiwa (reinkarnasi) merupakan pengingkaran terhadap Sifat-sifat Ilahi, yaitu sepertinya menggambarkan Allah Yang Maha Kuasa sebagai Wujud Yang tidak berdaya melaksanakan pengendalian sepenuhnya atas alam ini.
     Akidah tersebut melahirkan lagi bentuk penyembahan lain kepada dewa-dewa lainnya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan manusia dimana adanya suatu perubahan [kelahiran] dianggap sebagai akibat perilaku dalam eksistensi (keberadaan) sebelumnya [yakni hukum karma]. Jadi transmigrasi jiwa dan penyembahan dewa-dewa bersumber pada satu kesalahan yang mendasar.”  (Shahnah Haq, Riadh Hind Press, N.D.; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 407-408, London, 1984).
     Beliau  bersabda lagi  mengenai kekuasaan  tak terbatas Allah Swt.  sebagai Rabb (Tuhan Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam  jasmani mau pun   ruhani  serta alam akhirat:
     “Melalui Kekuasaan-Nya  Tuhan mencitrakan eksistensi-Nya (keberadaan-Nya). Demikian itu Dia membuka selubung rona Wujud-Nya. Apa pun yang ditakdirkan dan berkenan Dia kemukakan tidak mungkin dihindari karena demikianlah kuasa Allah.” (Pengumuman 5 Agustus 1885, Majmua Ishtiharat, jld. 1, hlm. 143).
    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai  rahasia cara menyaksikan berbagai “Keajaiban-Nya”, beliau bersabda:
   “Tuhan kami memiliki berbagai keajaiban namun hanya bisa dilihat oleh mereka yang secara tulus dan ikhlas menjadi hamba-Nya. Dia tidak akan memperlihatkan keajaiban-Nya kepada mereka yang tidak beriman kepada kekuasaan-Nya dan tidak tulus dan ikhlas mengikuti-Nya. Alangkah sialnya manusia yang tidak menyadari bahwa ia mempunyai Tuhan Yang berkuasa atas segala hal.”  (Kishti Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 19, hlm. 21, London, 1984).

Kekuasaan Allah Swt. Tidak Terbatas

    Dalam buku lainnya Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah menjelaskan mengenai hakikat  mukjizat  yang terjadi pada para  rasul Allah, sebagaimana yang Masih Mau’ud a.s. alami sendiri:
  “Kekuasaan-Nya tidak mempunyai batas dan keajaiban-Nya tidak mengenal akhir. Bagi hamba-Nya yang istimewa bahkan Dia akan mengubah hukum-Nya, tetapi perubahan itu sendiri memang menjadi bagian dari  hukum-Nya juga. Ketika seseorang menyungkurkan diri di hadirat-Nya dengan ruh yang baru dimana ia melakukan perubahan dalam dirinya sendiri demi memperoleh keridhaan-Nya, maka Tuhan juga akan membuat perubahan baginya dimana Wujud Tuhan yang muncul kepadanya sama sekali berbeda dengan Sosok yang diketahui orang awam.
   Allah  Swt.  akan muncul lemah kepada seorang yang keimanannya lemah, adapun kepada mereka yang maju ke hadirat-Nya dengan keimanan yang kuat maka Dia akan memperlihatkan bahwa Dia itu bersifat Maha Perkasa.   Jadi pada setiap perubahan dalam diri seorang manusia akan diikuti dengan perubahan pada perwujudan Sifat-sifat Ilahi bagi yang bersangkutan.
    Kepada mereka yang keimanannya sama sekali lemah seperti yang sudah mati maka Tuhan juga akan menarik Diri dan pertolongan-Nya, seolah-olah Dia itu (na’ūdzubillāh) juga telah mati. Semua perubahan tersebut terjadi berdasar hukum-Nya dan sejalan dengan Kesucian-Nya.  Tidak ada siapa pun yang bisa membatasi hukum-Nya.
   Dengan demikian,  jika ada yang mengatakan bahwa ada suatu hal yang bertentangan dengan hukum alam tanpa diikuti penalaran yang konklusif (lengkap), jelas dan tegas, maka pandangan demikian itu bodoh karena tidak ada yang bisa membantah berdasarkan sesuatu yang belum jelas dan tidak masuk akal.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm. 104-105, London, 1984).
      Masih Mau’ud a.s.  bersabda lagi mengenai hakikat pengabulan doa tentang hal-hal yang nampaknya mustahil terjadi:
      “Jika kita tidak meyakini bahwa Tuhan bersifat Maha Perkasa maka semua harapan kita akan menjadi tidak ada artinya. Pengabulan   doa-doa kita bergantung kepada keyakinan bahwa jika Tuhan berkenan maka Dia akan menciptakan kekuatan di dalam tubuh jasmani atau pun ruhani yang tadinya sudah tidak dimiliki.
   Sebagai contoh adalah saat kita mendoakan kesembuhan seseorang dari sakitnya yang terlihat sudah parah dan yang bersangkutan sudah sekarat. Lalu kita berdoa kepada Allah Swt. agar Dia menciptakan kekuatan dalam partikel-partikel jasmani orang bersangkutan, yang bisa menyelamatkannya dari maut (kematian). Kita mengalami bahwa banyak dari doa-doa seperti itu ternyata dikabulkan.
    Pada awalnya kita merasakan bahwa orang tersebut sudah di ambang ajalnya dan seluruh kekuatan hidupnya telah mencapai suatu akhir, namun ketika doa kita mencapai klimaks karena kekhusyukan doa -- dimana seolah kita sendiri yang merasa akan mati -- lalu Tuhan memberitahukan bahwa kekuatan hidup sudah dipulihkan dalam diri yang bersangkutan. Orang itu lalu menunjukkan gejala-gejala kepulihan seolah-olah orang mati yang bangkit kembali.
     Aku teringat ketika saat wabah pes melanda, aku berdoa: “Ya Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, peliharalah kami dari bencana ini dan ciptakan dalam diri kami penangkal yang akan menyelamatkan diri kami dari racun bawaan wabah ini.” Kemudian Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan penangkal dalam diri kita dan berfirman: “Aku akan menjaga mereka yang tinggal di dalam rumah ini kecuali mereka yang merasa dirinya tinggi karena sifat takaburnya” yang maksudnya adalah bahwa mereka yang tidak mengingkari Tuhan dan berlaku takwa akan diselamatkan. Allah Swt.  juga menyatakan bahwa kota Qadian akan dipelihara  dengan pengertian bahwa kota ini tidak akan hancur akibat wabah tersebut sebagaimana kota-kota lainnya.
     Hal-hal seperti itulah yang telah kita lihat dan saksikan sebagai pemenuhan nubuatan tersebut. Demikian itu caranya Tuhan menciptakan kekuatan dan daya baru dalam partikel-partikel diri kita. Karena meyakini janji Allah Swt. tersebut maka kami menghindari tindak penjagaan yang dilakukan manusia berupa vaksinasi terhadap wabah tersebut.
    Banyak dari mereka yang divaksin nyatanya malah mati, sedangkan kita --  berkat rahmat Allah Swt. -- masih tetap selamat. Allah Swt.. telah menciptakan partikel-partikel penangkal dalam diri kita. Dia juga menciptakan ruh sebagaimana Dia telah meniupkan ke dalam diriku sebuah ruh yang suci yang menjadikan aku hidup.
   Kita tidak saja mengharapkan bahwa Dia menciptakan ruh dan menghidupkan kembali jasmani kita, tetapi ruh kita pun membutuhkan ruh lain untuk menjadikannya hidup. Semuanya itu diciptakan oleh Allah Swt..  Barangsiapa yang belum memahami misteri ini maka ia belum menyadari kekuatan Tuhan dan belum mengindahkan Tuhan.”  (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld.. 19, hlm. 390-391, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 1 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar