بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 57
Rahasia Terjadinya Mukjizat Para Rasul
Allah & Pentingnya Memiliki Keyakinan Penuh Mengenai Kekuasaan Tak Terbatas Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan mengenai istilah-istilah
kiasan yang digunakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. seperti Bapa dan anak
Allah (Matius 5:1-16),
sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. bersabda:
“Allah
Yang Maha Kuasa berfungsi di dunia
ini dalam tiga kapasitas, pertama
dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan,
kedua dalam kapasitas sebagai seorang sahabat dan ketiga dalam kapasitas sebagai musuh.
Perlakuan-Nya terhadap rata-rata (umumnya) makhluk
ciptaan-Nya adalah dalam kapasitas-Nya
sebagai Tuhan, sedangkan perlakuan-Nya terhadap mereka yang mencintai-Nya dan yang
dicintai-Nya, juga dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan namun diwarnai dengan corak
kapasitas sebagai sahabat. Dunia jadinya menyadari
bahwa Tuhan mendukung manusia (orang) bersangkutan sebagaimana layaknya seorang sahabat.
Adapun perlakuan-Nya kepada
para musuh-Nya dinyatakan dalam bentuk penghukuman yang pedih dan tanda-tanda lainnya yang menggambarkan secara tegas bahwa Tuhan memusuhi bangsa atau orang
bersangkutan.
Kadang-kadang Tuhan mencobai sahabat-Nya
dengan menjadikan seluruh dunia memusuhi
dirinya dan membiarkan yang bersangkutan untuk sementara waktu sebagai korban
aniaya lidah atau tangan mereka.
Hanya saja hal itu dilakukan-Nya bukan
karena Dia ingin menghancurkan sahabat-Nya itu, atau akan mempermalukan atau pun sebagai bentuk perendahan harkat. Dia melakukan hal
itu agar Dia bisa memperlihatkan tanda-tanda-Nya kepada seluruh
dunia bahwa para musuh-Nya tidak
akan dapat menyakiti Sahabat-Nya tersebut meskipun
mereka telah melakukan segala upaya
habis-habisan.”
(Nuzulul Masih, Qadian, Ziaul Islam Press, 1909; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 18, hlm. 517-518, London, 1984).
Kebesertaan Allah Swt. Dengan Hamba-hamba
Pilihan-Nya
Dalam salah satu buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kebersertaan Allah Swt. dengan hamba-Nya yang hakiki tersebut:
“Seorang hamba memperlihatkan kecintaannya yang suci kepada
Allah Swt. melalui perilakunya yang baik, tetapi tanggapan
Allah sungguh luar biasa. Melihat kemajuan hambanya yang cepat
maka Tuhan akan bergegas bergerak ke arahnya seperti kilat dan memperlihatkan Tanda-tanda bagi dirinya baik di langit mau pun di bumi.
Dia akan menjadi Sahabat bagi para sahabat hamba tersebut dan menjadi musuh bagi para musuhnya. Misalnya pun
berjuta-juta manusia menentang hamba itu, Tuhan akan melumatkan
mereka dan menjadikan mereka tidak berdaya sebagaimana laiknya
serangga
mati. Bisa saja Dia
menghancurkan seluruh dunia demi hamba-Nya tersebut dan menjadikan
bumi dan langit tunduk
kepadanya.
Dia akan memberkati kata-kata yang diucapkannya dan menurunkan
hujan nur di atas
kediamannya. Dia akan memberkati pakaian yang dikenakan, pangan yang disantap dan bahkan debu yang diinjaknya. Dia tidak akan membiarkan hamba
itu mati dalam keadaan gagal dan Dia sendiri yang akan menjawab
mereka yang menentangnya.
Dia menjadi mata yang dengannya ia melihat, menjadi telinga
yang dengannya ia mendengar, menjadi lidah yang dengannya ia berbicara, menjadi kaki
yang dengannya ia berjalan dan
menjadi tangan yang dengannya ia
menangani musuh-musuhnya.
Dia Sendiri akan maju mengedepankan
Wujud-Nya untuk menangani musuh-musuh hamba-Nya itu. Dia akan
mencabut pedang terhadap para musuh yang jahat yang menganiayanya
serta menjadikan yang bersangkutan berjaya (sukses) di semua bidang.
Dia akan membukakan rahasia-rahasia takdir-Nya kepada
hamba-Nya
itu.
Yang pertama sekali akan menghargai keindahan keruhanian
yang muncul setelah perilaku dan amal
saleh serta kecintaannya kepada Tuhan,
adalah Allah Swt. Sendiri.
Alangkah sialnya manusia yang hidup
pada masa itu dimana ada matahari bersinar terang bagi
mereka tetapi mereka memilih termangu
di tempat kegelapan.” (Zamimah Brahin-i-Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 21, hlm. 225, London, 1984).
Rahasia Terjadinya Karamat dan Mukjizat
Dalam buku “Kisyti
Nuh” (Bahtera Nuh), Masih Mau’ud
a.s. pada topic “Ajaranku” menjelaskan mengenai “perlakuan
khusus” (istimewa) Allah Swt. terhadap hamba-hamba-Nya
yang juga bersikap khusus kepada-Nya,
sehingga terjadi kejadian-kejadian khusus
pada hamba-hamba-Nya yang khusus
tersebut yang disebut karamah atau mukjijat:
“Hendaknya
hal ini difahami dengan jelas bahwa baiat hanya berupa ikrar di lidah saja tidaklah punya arti
apa-apa, jika tidak ditunjang oleh suatu kebulatan tekad
hendak melaksanakan janji itu sepenuh-penuhnya. Oleh karena itu
barangsiapa yang mengamalkan ajaranku
selengkapnya ia masuk rumah ini,
perihal rumah tersebut ada janji dari Allah Ta’ala:
Inniy
uhafizhu kulla man fī dār
“Tiap-tiap orang yang berada di dalam dinding pagar rumah engkau akan
Kuselamatkan”
Tetapi dalam hal ini hendaknya jangan
diartikan bahwa perlindungan Ilahi ini hanya diberikan kepada mereka yang berdiam di dalam rumah saya
yang terbuat dari tanah dan batu-bata ini, melainkan janji itu meliputi pula
mereka yang mentaati ajaranku
selengkap-lengkapnya, dan yang
karenanya benar-benar dapat dikatakan sebagai penghuni rumah-ruhani
saya.
Untuk mengikuti ajaranku secara
seksama dikehendaki bahwa mereka harus berkeyakinan bahwa mereka mempunyai satu Tuhan Yang Qadir (Maha Kuasa), Qayyum
(Yang Maha Mandiri), dan Khaliqul Kul (Pencipta segala sesuatu),
yang Sifat-sifat-Nya tak pernah
berubah serta kekal dan abadi. Dia tidak mempunyai
anak. Dia suci dari jejak
penderitaan, dari dinaikkan ke tiang
salib dan dari mengalami suatu
kematian.
Dia
sedemikian rupa, bahwa meski pun dekat
namun jauh, walau pun Tunggal
tapi penjelmaan-Nya nampak dalam bermacam-ragam corak. Manakala
ada terjadi suatu perubahan di dalam diri seorang manusia, bagi orang itu Dia menjadi Tuhan yang baru, dan Dia memperlakukannya dengan penjelmaan-Nya
yang baru. Orang itu melihat
suatu perubahan di dalam Wujud
Tuhan menurut proporsi dan perubahan yang ada
pada dirinya – tetapi hal ini bukanlah
seakan-akan terjadi suatu perubahan di dalam Wujud Tuhan, karena sesungguhnya Dia tidak akan pernah mengalami perubahan,
dan Wujud-Nya memang paripurna.
Tetapi dengan tiap-tiap perubahan yang berlaku di dalam diri manusia yang menjurus ke
arah kebaikan, Tuhan pun menjelmakan Diri-Nya terhadap
orang itu di dalam bentuk penjelmaan baru. Dengan tiap-tiap
usaha
kemajuan pada diri manusia Tuhan
pun memperlihatkan diri-Nya dengan penjelmaan yang lebih agung lagi perkasa.
Dia
menampakkan sesuatu penjelmaan
dari Kudrat-Nya yang luar biasa hanya apabila manusia memperlihatkan suatu perubahan di dalam dirinya secara luar biasa pula. Inilah akar dan landasan dari keajaiban dan mukjizat-mukjizat
yang disaksikan (dialami) hamba-hamba Allah.
Beriman kepada Allah Ta’ala serta kepada segala
kekuatan-kekuatan tersebut
merupakan syarat yang penting bagi Jemaat kita. Resapkanlah keimanan ini ke dalam kalbu kamu sekalian. Berikanlah tempat yang utama kepada keimanan itu lebih daripada kepada urusan pribadi, kesenangan-kesenangan
kamu dan segala hubungan-hubungan
kamu. Dengan perbuatan-perbuatan nyata disertai keberanian yang tak kenal menyerah perlihatkanlah kesetiaan dengan
sejujur-jujurnya.
Orang-orang lain di dunia ini tidak menganggap Tuhan sebagai suatu Zat
yang lebih penting daripada harta-benda mereka dan sanak-saudara
serta karib-kerabat mereka. Akan
tetapi kamu harus memberikan kepada-Nya
tempat yang paling utama, supaya di langit kamu dituliskan di dalam daftar Jemaat-Nya.
Memperlihatkan tanda-tanda karunia
adalah cara kebiasaan
Tuhan semenjak zaman bihari. Tetapi kamu
sekalian dapat mengambil bagian dalam hikmah cara kebiasaan ini hanya apabila tidak ada sesuatu sebab yang memisahkan
kamu dari Dia, apabila kamu mempunyai keinginan
menjadi keinginan-Nya, apabila kamu mempunyai sesuatu hasrat dan kedambaan akan sesuatu, itu pun merupakan hasrat dan kedambaan-Nya,
dan hanya apabila sepanjang masa – baik dalam keadaan
berhasil mau pun dalam
menghadapi kegagalan, biar pun dalam
keadaan yang memberikan harapan-harapan
atau pun pada saat kamu dihadapkan
kepada keputus-asaan – kepala kamu sujud
mencium duli Telapak-kaki-Nya, menyerah kepada segala kehendak-Nya.
Jika kamu berbuat serupa itu maka di dalam diri kamu akan nampak Wujud Tuhan itu yang sudah lama menyembunyikan Wajah-Nya dari permukaan
bumi ini. Apakah ada di antara kamu sekalian yang mengamalkan ajaran ini dan hanya mencari keridhaan-Nya, tanpa menampakkan rasa ketidak-puasan atas qadha dan qadar-Nya, atas cara Dia bekerja? Bahkan apabila kamu dihadapkan kepada suatu musibah,
kamu harus melangkahkan kaki kamu terus
ke depan, sebab itu adalah rahasia bagi keberhasilan kamu, dan
hendaklah kamu menyebar-luaskan itikad Keesaan Tuhan ke seluruh penjuru dunia.”
Kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt.
Kemudian sehubungan kesempurnaan
Al-Asmā-ul-Husna
(Sifat-sifat terindah) Allah Swt. Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Dalam Kitab Suci Al-Quran Sifat-sifat Allah
Yang Maha Perkasa dikemukakan dalam
bentuk subyektif (pokok) dan bukan sebagai obyektif (tujuan).
Sebagai contoh, Dia itu Maha Suci, tetapi tidak ada
dikemukakan bahwa Dia itu memang dipelihara
agar tetap suci, karena hal
itu akan menimbulkan dugaan adanya sosok
lain yang memelihara Dia.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 119).
Oleh karena itu
sebutan Bapa dan Anak Allah yang sering dikemukakan Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) dalam Injil bukan dalam arti harfiah
melainkan dalam makna kiasan, sebab
jika diartikan secara harfiah berarti
Allah Swt. akan seperti seorang ayah
di kalangan manusia yang membutuhkan
kehadiran anak sebagai pewarisnya,
sedangkan Allah Swt. adalah Al-Ghaniy – Yang Maha Berkecukupan
(Mahakaya), jadi Dia tidak membutuhkan
apa pun dan siapa pun untuk
membantu-Nya. Yesus berkata:
5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka
akan dihibur. 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran , karena mereka akan dipuaskan. 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya , karena mereka akan beroleh kemurahan.
5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya , karena mereka akan melihat Allah. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai , karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran , karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya
dan kepadamu difitnahkan segala yang
jahat. 5:12 Bersukacita
dan bergembiralah,
karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang
sebelum kamu. 5:13 Kamu adalah garam dunia.
Jika garam itu menjadi tawar, dengan
apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak
di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi
semua orang di dalam rumah itu. 5:16 Demikianlah
hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka
melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:3-16).
Sabda Sri
Krisyna yang Dijanjikan
Kemudian sehubungan dengan kepercayaan di kalangan kalangan salah
satu sekte Hindu yang mempercayai
bahwa ruh manusia tidak diciptakan Allah Swt. dan sudah berwujud bersama dengan keberadaan Allah Swt., Mirza
Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah, bersabda dalam kapasitas beliau sebagai Sri Krisyna yang dijanjikan bagi umat Hindu:
“Tuhan kami memiliki kekuasaan di atas segala hal.
Mereka berdusta jika mereka
mengatakan bahwa Dia tidak menciptakan ruh atau pun partikel dari tubuh
jasmani. Mereka itu tidak mengenal
yang namanya Tuhan. Kami menyaksikan ciptaan-ciptaan-Nya
yang baru pada setiap hari dan Dia selalu meniupkan ruh kemajuan
yang baru ke dalam kalbu kami.
Jika Dia tidak memiliki kemampuan
untuk menciptakan sesuatu dari keadaan ketiadaan menjadi ada maka hal itu akan berarti kematian bagi kami. Alangkah indahnya Dia Yang menjadi Tuhan kami.
Siapakah yang dapat dipadankan
dengan Wujud-Nya? Alangkah ajaib hasil ciptaan-Nya. Siapakah yang
mempunyai kemampuan mencipta seperti Diri-Nya? Dia itulah kekuasaan
yang mutlak.”
(Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 435, London, 1984).
Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah selanjutnya
bersabda mengenai munculnya kepercayaan
tentang reinkarnasi atau tumibal:
“Yang menjadi dasar utama
dari penyembahan dewa-dewa dan mengenai akidah tentang transmigrasi
jiwa (reinkarnasi) merupakan pengingkaran terhadap Sifat-sifat Ilahi, yaitu
sepertinya menggambarkan Allah Yang Maha
Kuasa sebagai Wujud Yang tidak
berdaya melaksanakan pengendalian
sepenuhnya atas alam ini.
Akidah tersebut melahirkan
lagi bentuk penyembahan lain kepada dewa-dewa lainnya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan manusia dimana adanya
suatu perubahan [kelahiran] dianggap sebagai akibat perilaku
dalam eksistensi (keberadaan) sebelumnya
[yakni hukum karma]. Jadi transmigrasi
jiwa dan penyembahan dewa-dewa bersumber
pada satu kesalahan yang mendasar.” (Shahnah Haq, Riadh Hind
Press, N.D.; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 407-408, London, 1984).
Beliau bersabda lagi
mengenai kekuasaan tak terbatas Allah Swt. sebagai Rabb (Tuhan Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam jasmani mau pun ruhani serta alam akhirat:
“Melalui Kekuasaan-Nya Tuhan mencitrakan eksistensi-Nya
(keberadaan-Nya). Demikian itu Dia
membuka selubung rona Wujud-Nya. Apa pun yang ditakdirkan dan berkenan Dia kemukakan tidak mungkin
dihindari karena demikianlah kuasa Allah.” (Pengumuman 5
Agustus 1885, Majmua Ishtiharat, jld. 1, hlm. 143).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai
rahasia cara menyaksikan
berbagai “Keajaiban-Nya”, beliau bersabda:
“Tuhan kami memiliki berbagai keajaiban namun hanya bisa dilihat oleh mereka yang secara tulus dan ikhlas menjadi hamba-Nya.
Dia tidak akan memperlihatkan keajaiban-Nya kepada mereka yang tidak
beriman kepada kekuasaan-Nya dan tidak tulus dan ikhlas
mengikuti-Nya. Alangkah sialnya manusia yang tidak menyadari bahwa ia
mempunyai Tuhan Yang berkuasa atas segala
hal.” (Kishti
Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 21, London,
1984).
Kekuasaan Allah Swt. Tidak Terbatas
Dalam buku lainnya Pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah menjelaskan mengenai hakikat mukjizat yang terjadi pada para rasul
Allah, sebagaimana yang Masih Mau’ud
a.s. alami sendiri:
“Kekuasaan-Nya tidak
mempunyai batas dan keajaiban-Nya tidak mengenal akhir. Bagi hamba-Nya yang istimewa
bahkan Dia akan mengubah hukum-Nya, tetapi perubahan
itu sendiri memang menjadi bagian dari hukum-Nya juga. Ketika seseorang menyungkurkan diri di hadirat-Nya
dengan ruh yang baru dimana ia melakukan perubahan
dalam dirinya sendiri demi memperoleh keridhaan-Nya, maka Tuhan juga akan membuat perubahan
baginya dimana Wujud Tuhan yang muncul kepadanya
sama sekali berbeda dengan Sosok yang diketahui orang awam.
Allah Swt. akan muncul lemah kepada
seorang yang keimanannya lemah, adapun kepada mereka yang maju ke
hadirat-Nya dengan keimanan yang kuat maka Dia akan memperlihatkan bahwa Dia itu bersifat Maha Perkasa. Jadi
pada setiap perubahan dalam diri seorang
manusia akan diikuti dengan perubahan pada perwujudan Sifat-sifat Ilahi bagi yang bersangkutan.
Kepada mereka yang keimanannya sama sekali
lemah seperti yang sudah mati maka Tuhan juga akan menarik Diri dan pertolongan-Nya,
seolah-olah Dia itu (na’ūdzubillāh) juga telah mati. Semua perubahan tersebut terjadi
berdasar hukum-Nya dan sejalan
dengan Kesucian-Nya. Tidak
ada siapa pun yang bisa membatasi
hukum-Nya.
Dengan demikian, jika ada yang
mengatakan bahwa ada suatu hal yang bertentangan dengan hukum
alam tanpa diikuti penalaran
yang konklusif (lengkap), jelas dan tegas, maka pandangan demikian
itu bodoh karena tidak ada yang bisa
membantah berdasarkan sesuatu yang belum jelas dan tidak masuk akal.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm.
104-105, London, 1984).
Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai hakikat pengabulan doa tentang hal-hal yang
nampaknya mustahil terjadi:
“Jika kita tidak meyakini
bahwa Tuhan bersifat Maha Perkasa maka semua harapan
kita akan menjadi tidak ada artinya. Pengabulan
doa-doa kita bergantung kepada keyakinan
bahwa jika Tuhan berkenan maka Dia
akan menciptakan kekuatan di
dalam tubuh jasmani atau
pun ruhani yang tadinya sudah tidak dimiliki.
Sebagai contoh adalah saat kita mendoakan kesembuhan seseorang
dari sakitnya yang terlihat sudah parah dan yang bersangkutan sudah sekarat. Lalu kita berdoa kepada Allah
Swt. agar Dia menciptakan kekuatan dalam partikel-partikel
jasmani orang bersangkutan, yang bisa menyelamatkannya dari maut
(kematian). Kita mengalami bahwa banyak dari doa-doa seperti itu
ternyata dikabulkan.
Pada awalnya kita merasakan bahwa orang tersebut sudah di ambang ajalnya dan seluruh kekuatan hidupnya telah mencapai suatu
akhir, namun ketika doa kita mencapai klimaks
karena kekhusyukan doa -- dimana seolah kita sendiri yang merasa
akan mati -- lalu Tuhan memberitahukan bahwa kekuatan hidup
sudah dipulihkan dalam diri yang
bersangkutan. Orang itu lalu menunjukkan gejala-gejala
kepulihan seolah-olah orang
mati yang bangkit kembali.
Aku teringat ketika saat wabah pes melanda, aku berdoa: “Ya Allah Yang
Maha Kuasa dan Maha Perkasa, peliharalah kami dari bencana ini dan ciptakan
dalam diri kami penangkal yang akan menyelamatkan diri kami dari racun bawaan wabah ini.” Kemudian Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan penangkal
dalam diri kita dan berfirman: “Aku akan menjaga mereka yang tinggal di dalam rumah ini kecuali mereka yang merasa
dirinya tinggi karena sifat takaburnya” yang maksudnya adalah bahwa mereka
yang tidak mengingkari Tuhan dan berlaku takwa akan
diselamatkan. Allah Swt. juga menyatakan
bahwa kota Qadian akan dipelihara dengan pengertian bahwa kota ini tidak akan hancur akibat wabah tersebut sebagaimana kota-kota lainnya.
Hal-hal seperti itulah yang telah kita lihat dan saksikan
sebagai pemenuhan nubuatan tersebut. Demikian itu caranya Tuhan menciptakan kekuatan dan daya
baru dalam partikel-partikel
diri kita. Karena meyakini janji Allah Swt.
tersebut maka kami menghindari tindak
penjagaan yang dilakukan manusia berupa vaksinasi terhadap wabah
tersebut.
Banyak dari mereka yang divaksin
nyatanya malah mati, sedangkan kita
-- berkat rahmat Allah Swt.
-- masih tetap selamat. Allah Swt..
telah menciptakan partikel-partikel penangkal dalam
diri kita. Dia juga menciptakan ruh
sebagaimana Dia telah meniupkan ke dalam diriku sebuah ruh yang suci yang
menjadikan aku hidup.
Kita tidak saja mengharapkan
bahwa Dia menciptakan ruh dan menghidupkan kembali jasmani
kita, tetapi ruh kita pun membutuhkan ruh lain untuk menjadikannya hidup.
Semuanya itu diciptakan oleh Allah
Swt.. Barangsiapa yang belum memahami misteri
ini maka ia belum menyadari kekuatan
Tuhan dan belum mengindahkan Tuhan.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld..
19, hlm. 390-391, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 1 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar