Rabu, 07 Oktober 2015

Hubungan Kesuksesan Pemerintahan Nabi Sulaiman a.s. Dengan Pengamalan "Sifat Rabubiyat" Allah Swt. & Keunikan "Istana Khusus" Nabi Sulaiman a.s. Telah Menyadarkan Ratu Saba dari Kemusyrikan



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 60

Hubungan Kesuksesan  Pemerintahan Nabi Sulaiman a.a. Dengan Pengamalan Sifat Rabubiyat Allah Swt.  &  Keunikan “Istana Khusus” Nabi Sulaiman a.s.  Menyadarkan Ratu Saba dari Kemusyrikan

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai “pribadi-pribadi surgawipewaris Al-Quran, sehubungan dengan firman-Nya:  
وَ الَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ  مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ  لَخَبِیۡرٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾  جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ ﴿﴾  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan apa yang Kami wahyukan kepada engkau dari Kitab, ini adalah haq (kebenaran) menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hamba-Nya benar-benar Maha Waspada, Maha Melihat.  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ  -- Kemudian Kitab itu Kami   wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami,  maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya,    dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah,   dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah,    itu adalah  karunia yang sangat besar.  Ganjaran mereka  Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasukinya, di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara,  dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُ --  Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami.  Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargaiالَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ --  Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya”  (Al-Fāthir [35]:32-35).

Suasana Surgawi” yang Dialami Hamba-hamba Hakiki Allah Swt.

     Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt.  merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh ayat-ayat berikut ini,   firman-Nya:  “Ganjaran mereka  جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا  --   Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasukinya, یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا  -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara,  وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ -- dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ  --  Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami.  اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ   -- Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ   --   Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ --  kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya”  (Al-Fāthir [35]:34-35).
     Mengisyaratkan kepada keadaan “pribadi-pribadi surgawi”  pewaris Al-Quran itu pulalah firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram!    ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً  -- Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau. فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ   --  Maka masuklah dalam golong-an hamba-hamba-Ku, وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِی  -- Dan masuklah ke dalam surga-Ku  (Al-Fajr [89]:28-31).
 Gambaran dalam ayat-ayat iIni merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup tanpa Dia.
   Di dunia inilah dan bukan sesudah mati  perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surge, firman-Nya: 
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai insan  (manusia), sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka  engkau akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).
    Menurut Allah Swt. meraih “kehidupan  surgawi” seperti itu di dunia ini  hanya mungkin dengan cara beriman serta patuh-taat kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  Allah Swt. (QS.7:35-37), firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَاۤ ۫ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ  الۡجَنَّۃِ ۚ ہُمۡ   فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ ۚ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ ہَدٰىنَا لِہٰذَا ۟ وَ مَا کُنَّا لِنَہۡتَدِیَ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ ۚ لَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِالۡحَقِّ ؕ وَ نُوۡدُوۡۤا اَنۡ تِلۡکُمُ الۡجَنَّۃُ  اُوۡرِثۡتُمُوۡہَا بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Kami tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, mereka inilah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.  وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ -- Dan Kami mencabut segala dendam yang ada di dalam dada mereka. Di bawah mereka  mengalir sungai-sungai  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ ہَدٰىنَا لِہٰذَا  -- dan mereka berkata: ”Segala puji bagi Allah Yang telah menunjuki kami kepada surga ini, وَ مَا کُنَّا لِنَہۡتَدِیَ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ  -- dan kami  sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk seandainya  Allah tidak memberi kami petunjuk. لَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِالۡحَقِّ -- Sungguh benar-benar  telah datang rasul-rasul Rabb (Tuhan) kami dengan haq.”  وَ نُوۡدُوۡۤا اَنۡ تِلۡکُمُ الۡجَنَّۃُ  اُوۡرِثۡتُمُوۡہَا بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ  -- Dan akan diserukan kepada mereka: “Inilah surga yang diwariskan kepada kamu sebagai ganjaran atas apa yang senantiasa kamu kerjakan” (Al-‘Arāf [7]:43-44).
 Anak kalimat sisipan  لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَاۤ  -- “Kami tidak membebani sesuatu jiwa di luar kemampuannya”, bertolak belakang dengan paham agama Kristen yang menyatakan bahwa dosa itu terpendam dalam fitrat manusia, maka upaya menghilangkan dosa itu berada di luar jangkauan kekuasaan manusia, kecuali jika beriman kepada kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di atas salib guna menebus dosa-dosa manusia.
  Pada hakikatnya, kehidupan surgawi dimulai sejak dari dunia ini juga  (QS.55:47) dan seseorang dikatakan sedang menikmati kehidupan surgawi apabila    --   karena beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya  --  hatinya bebas dari rasa permusuhan, irihati, dendam-kesumat, dan kegelisahan mental.

Cara Bijaksana  Nabi Sulaiman a.s. Menyadarkan Ratu Saba dari Kebanggaan  Kekuasaan dan   SDA dan SDM   yang Dimilikinya

     Masalah musykil serta halus lainnya yang dijelaskan oleh Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini  adalah    hubungan Allah Swt. sebagai Al-Khāliq  (Maha Pencipta) dengan makhluq-Nya (ciptaan-Nya), yang keliru difahami di kalangan para penganut agama, hal tersebut  telah dijelaskan Allah Swt. melalui Nabi Besar Muhammad saw. dalam Al-Quran  berupa  kiasan (perumpamaan) istana khusus yang dibuat Nabi Sulaiman a.s..
     Yakni, dalam rangka menyambut kedatangan Ratu Saba – yang secara bijaksana  memutuskan untuk memilih   perdamaian  dengan  Nabi Sulaiman a.s. daripada melakukan perlawanan (QS.27:16-41) --  Allah Swt. berfirman mengenai kesiapan penyambutan Ratu Saba yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s.:
قَالَ نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ  صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا  کَانَتۡ مِنۡ  قَوۡمٍ  کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman,  berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana hadiahnya itu,  kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.” فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ --    Maka tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya, “Serupa inikah keindahan singgasana engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ --  Ia menjawab, “Singgasana ini seolah-olah sama seperti singgasana itu, وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ  -- dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”  وَ  صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا  کَانَتۡ مِنۡ  قَوۡمٍ  کٰفِرِیۡنَ  -- Tetapi  apa yang senantiasa disembahnya  selain Allah  telah menghalanginya beriman,  sesungguhnya ia termasuk  kaum kafir   (An-Naml [27]:42-44).
   Makkara-hu berarti: ia mengganti atau mengubah bentuk sesuatu agar tidak dikenal; ia membuatnya nampak biasa saja (Lexicon Lane). Oleh karena itu ungkapan yang tercantum dalam terjemahan ayat 42 berarti: “Buatlah singgasana ini lebih baik daripada singgasananya, sehingga singgasana sendiri nampak biasa saja.”
    Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s. telah memerintahkan pembesarnya yang dipercayakan tugas menyiapkan singgasana bagi Ratu Saba, supaya membuatnya demikian cantik (indah), sehingga Ratu itu akan mengakui keunggulan dalam seni pembuatannya sehingga menjadi tidak menyukai lagi singgasananya sendiri, dan dengan demikian dapat mengerti  bahwa kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan  atau  yakni SDM dan SDA   milik  Nabi Sulaiman a.s jauh lebih besar dan lebih unggul dari kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan milik Ratu Saba   sendiri.
    Itulah rupa-rupanya arti kalimat نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ -- “apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.”   Yakni dengan pembuatan singgasana tersebut  Nabi Sulaiman a.s. berusaha menjelaskan kepada Ratu Saba sia-sianya berusaha menentang atau melawan beliau.
     Ratu Saba dengan pembesar-pembesar dan kaum bangsawan istana nampaknya berbesar kepala (sangat bangga) oleh kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan mereka (QS.27:34), dan Nabi Sulaiman a.s.  berkehendak menyadarkan mereka dari anggapan keliru itu (QS.27:37).
     Seandainya kata “singgasananya” diambil dalam artian singgasana  yang konon telah dikirim oleh Ratu Saba kepada Nabi Sulaiman a.s. sebagai hadiah, maka kata nakkiru  dalam ayat: نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا  -- “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana hadiahnya itu,” akan berarti bahwa singgasana itu demikian dihiasi dan diperindah  serta gambar-gambar patung yang dilukis padanya —jika memang ada— dihapus begitu sempurna, sehingga Ratu Saba tidak dapat mengenalinya lagi.
      Ucapan   Ratu Saba: “kami telah diberi pengetahuan sebelumnya” dalam ayat وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ  -- “dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri,   maknanya ialah bahwa melalui  singgasana yang direnovasi oleh  Nabi Sulaiman a.s. tersebut Ratu Saba telah menjadi maklum (mengetahui) akan kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s., dan telah mengambil keputusan menyerah kepada beliau.

Kesuksesan Pengamalan Sifat Rabubiyat Allah Swt. oleh Nabi Sulaiman a.s. & Makna Ditundukkan-Nya Angin dan Jin Kepada Nabi Sulaiman a.s.

   Pendek kata,  pengamalan Sifat Rabubiyat Allah Swt.  yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. telah membuat beliau sukses dalam mengelola pemerintahan beliau,  termasuk dalam berbagai bidang  pembangunan  yang   benar-benar memiliki nilai-nilai seni  yang sangat tinggi (QS.34:13-14) melebihi kemampuan  yang dimiliki ahli-ahli  (SDM)   Ratu Saba, firman-Nya:
وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ غُدُوُّہَا شَہۡرٌ وَّ رَوَاحُہَا شَہۡرٌ ۚ وَ اَسَلۡنَا لَہٗ  عَیۡنَ الۡقِطۡرِ ؕ وَ مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ  بِاِذۡنِ رَبِّہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّزِغۡ مِنۡہُمۡ عَنۡ اَمۡرِنَا نُذِقۡہُ  مِنۡ عَذَابِ السَّعِیۡرِ ﴿﴾ یَعۡمَلُوۡنَ لَہٗ  مَا یَشَآءُ  مِنۡ مَّحَارِیۡبَ وَ تَمَاثِیۡلَ وَ جِفَانٍ کَالۡجَوَابِ وَ قُدُوۡرٍ رّٰسِیٰتٍ ؕ اِعۡمَلُوۡۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُکۡرًا ؕ وَ قَلِیۡلٌ  مِّنۡ عِبَادِیَ  الشَّکُوۡرُ ﴿﴾
Dan kepada Sulaiman Kami  menundukkan angin, perjalanan paginya sama dengan sebulan perjalanan darat dan perjalanan petangnya sama dengan sebulanوَ اَسَلۡنَا لَہٗ  عَیۡنَ الۡقِطۡرِ --  Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga untuk dia.  وَ مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ  بِاِذۡنِ رَبِّہٖ   -- Dan dari jin-jin ada yang bekerja di bawah perintahnya dengan izin Rabb-nya (Tuhan-nya),  dan   barangsiapa dari mereka menyimpang dari perintah Kami, Kami membuat dia merasakan azab Api yang menyala-nyala. یَعۡمَلُوۡنَ لَہٗ  مَا یَشَآءُ  مِنۡ مَّحَارِیۡبَ وَ تَمَاثِیۡلَ وَ جِفَانٍ کَالۡجَوَابِ وَ قُدُوۡرٍ رّٰسِیٰتٍ --  Mereka mengerjakan untuknya apa yang dia kehendaki berupa  tempat-tempat ibadah, patung-patung, kolam-kolam bagaikan bendungan  dan periuk-periuk besar yang tetap pada tungkunya. اِعۡمَلُوۡۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُکۡرًا --  “Hai keluarga Daud,  beramallah sambil bersyukur.”  وَ قَلِیۡلٌ  مِّنۡ عِبَادِیَ  الشَّکُوۡرُ -- Tetapi sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (As-Sabā [34]:13-14).
    Wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s.  terbentang dari Siria Utara sepanjang pantai Laut Tengah sebelah timur sampai Laut Merah, sepanjang Laut Arab sampai Teluk Persia. Pada hakikatnya di zaman Nabi Sulaiman a.s.   kerajaan Bani Israil telah mencapai puncak kejayaan dalam kekayaan harta, kekuasaan, dan pengaruh, sebagaimana ditampakkan oleh kata rīh, yang di antara lain artinya kekuasaan dan penaklukan-penaklukan (Lexicon Lane) seperti digunakan dalam ayat 13.
     Ayat ini pun menunjukkan, bahwa Nabi Sulaiman a.s.  memiliki suatu armada niaga laut yang besar (I  Raja-raja 9:26-28 & Jewish Encyclopaedia Jilid XI hlm. 437) dan bahwa perindustrian dan kerajinan telah berkembang pesat di bawah pemerintahan beliau, dan bahwa beliau telah menaklukkan serta memanfaatkan tenaga suku-suku bangsa pegunungan yang liar lagi suka   memberontak (II Tawarikh 2:18 & 4:1-2), yang dalam Al-Quran disebut jin atau syaitan, baik sebagai tentara mau pun sebagai pekerja-pekerja khusus (QS. 34:13-15; QS.21-83; QS.27:16-18 & 40; QS.38:37-40).
      Kecuali itu, selaku seorang raja yang kaya-raya, sangat berkuasa dan beradab, Nabi Sulaiman a.s.  merupakan tokoh di antara raja-raja bangsa Bani Israil, yang mendirikan bangunan-bangunan. Beliau mempunyai selera yang istimewa mengenai seni bangunan yang telah berkembang pesat di masa kekuasaan beliau. Baitulmuqadas di Yerusalem memberi bukti yang nyata tentang selera halus beliau berkenaan dengan seni bangunan.

Tujuan Pembangunan Istana Berlantai Kaca Bening yang di Bawahnya Mengalir Air yang Deras

    Demikian juga pembangunan istana yang dirancang khusus  berlantaikan kaca bening  yang di bawahnya dialirkan air  --  sehingga   lantai istana tersebut tampak seperti bentangan air  --  dimaksudkan untuk tujuan da’wah Tauhid Ilahi, bukan untuk  mencari kesenangan duniawi  atau pun untuk membanggakan diri,  dan bukan pula   sebagaimana menurut penafsir yang berpikiran kotor  bahwa  istana tersebut dibuat untuk membuktikan kebenaran isu (kabar) yang beredar  mengenai  Ratu Saba  yang  sangat cantik tersebut betisnya berbulu lebat.
     Nabi Sulaiman a.s. mengundang Ratu Saba untuk memasuki istana khusus tersebut sangat erat kaitannya dengan ayat sebelumnya, yakni  walau pun singgasana kehormatan yang dibuat khusus untuk  menerima Ratu Saba tersebut  berhasil  membuat Ratu Saba mengakui keunggulan  Nabi Sulaiman a.s. dalam  bidang duniawi, firman-Nya: فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ --    “maka tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya, “Serupa inikah keindahan singgasana engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ --  Ia (Ratu Saba) menjawab, “Singgasana ini seolah-olah sama seperti singgasana itu, وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ  -- dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri  (An-Naml [27]:43),  tetapi  keindahan singgasana   tersebut tidak berhasil menyadarkan Ratu Saba dari kemusyrikannya, firman-Nya: وَ  صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا  کَانَتۡ مِنۡ  قَوۡمٍ  کٰفِرِیۡنَ  -- Tetapi  apa yang senantiasa disembahnya  selain Allah  telah menghalanginya beriman,  sesungguhnya ia termasuk  kaum kafir   (An-Naml [27]:44).
   Pernyataan “penyerahan diri”  Ratu Saba  secara duniawi  tersebut tidak memuaskan Nabi Sulaiman a.s., sebab  beliau  bukan  hanya  seorang raja duniawi   tetapi juga seorang Rasul Allah   yang berkewajiban  menablighkan Tauhid Ilahi  terhadap orang-orang musyrik, termasuk kepada Ratu Saba dan kaumnya.  Itulah sebabnya setelah itu Nabi Sulaiman a.s. mengundang Ratu Saba untuk memasuki istana khusus yang dirancang untuk tujuan tersebut, firman-Nya:
قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا --  Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya. قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ  --  Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan  ubin dari kaca.”  قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ – Ia (Ratu Saba) ber-kata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah  Rabb (Tuhan) seluruh alam” (An-Naml [27]:42-45). 
    Kasyāfa’an sāqihi adalah muhawarah (idiom) yang terkenal dalam bahasa Arab, yang berarti “menjadi siap untuk menghadapi kesukaran” atau “pikirannya menjadi kacau-balau” atau “kebingungan”. Kasyāfat ’an sāāqaiha berarti: (1) ia (perempuan)  menyingkapkan kain dari betisnya; (2) ia  bersiap-sedia menghadapi keadaan itu; ia  menjadi kacau-balau pikiran atau kebingungan atau keheran-heranan (Laxicon Lane & Lisan-ul-‘Arab).
    Nabi Sulaiman a.s. menginginkan  agar Ratu Saba meninggalkan kemusyrikan dan menerima agama yang hakiki. Untuk maksud itu beliau secara bijaksana sekali memakai cara demikian  yang niscaya menyebabkan perempuan  yang mulia lagi cerdas itu dapat melihat kesalahan di dalam jalan hidupnya, yakni melakukan  kemusyrikan.

Tugas Semua Rasul Allah Menablighkan Tauhid Ilahi

    Jadi,  pada hakikatnya pembuatan singgasana yang Nabi Sulaiman a.s.   telah perintahkan untuk disiapkan bagi Ratu Saba itu pun dimaksudkan guna tujuan itu. Singgasana itu dibuat jauh lebih indah dan dalam segala seginya lebih unggul daripada singgasana Ratu Saba  sendiri yang sangat dibanggakannya. Nabi Sulaiman a.s. berbuat demikian, agar supaya   Ratu Saba dapat menyadari  bahwa Nabi Sulaiman a.s.   itu pilihan Tuhan, dan karunia ruhani  milik beliau  jauh lebih berlimpah-limpah daripada yang telah dianugerahkan kepada   Ratu Saba.
    Demikian pula istana berlantai kaca bening yang disinggung dalam ayat ini pun dibangun dengan tujuan yang sama. Sebagaimana diperlihatkan dalam ayat ini, jalan masuk ke istana itu berlantaikan  ubin terbuat dari kaca bening  yang di bawahnya mengalir air yang jernih sekali. Tatkala Ratu Saba memasuki istana itu ia menyangka bahwa kaca bening itu air, lalu ia menyingkapkan kain sehingga nampak betisnya, yakni  pemandangan air itu membingungkannya  dan ia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.
    Dengan siasat ini Nabi Sulaiman va.s.  perhatian   Ratu Saba kepada hakikat, bahwa seperti halnya Ratu Saba telah salah duga  bahwa  ubin kaca bening itu air, seperti itu pula matahari dan benda-benda langit lain yang disembahnya itu bukan Sumber Cahaya sebenarnya. Benda-benda langit itu hanyalah memancarkan cahaya tetapi mereka itu benda-benda mati belaka.  
  Allah Swt. -- Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri  -- itulah Yang telah menganugerahkan kepada benda-benda langit itu cahaya yang dipancarkannya. Dengan jalan itu Nabi Sulaiman a.s.  berhasil dalam tujuan yang beliau ingin capai. Perempuan yang mulia itu membuat pengakuan atas kesalahannya, dan dari seorang penyembah berhala-berhala kayu dan batu  serta benda-benda langit lainnya lainnya Ratu Saba menjadi seorang hamba  mukhlis Tuhan Yang Maha Esa.
    Berimannya Ratu Saba kepada Allah Swt. melalui upaya Nabi Sulaiman a.s. tersebut membuktikan akuratnya laporan intelijen  Jenderal Hud-hud kepada Nabi Sulaiman a.s.   berkenaan kemusyrikan yang dilakukan Ratu Saba dan  kaum Saba ketika Nabi Sulaiman a.s.  sedang melakukan persiapan terakhir untuk melakukan tindakan terhadap  penguasa kerajaan Saba (QS.27:21-32) yang telah  melakukan infiltrasi (penyusupan) ke wilayah kerajaan Nabi Sulaiman a.s., yang diumpamakan sebagai “kambing-kambing yang berkeliaran  di suatu ladang” (QS.21:79-83).

 Hubungan Penciptaan dan Firman Tuhan

     Sehubungan dengan dengan  hakikat pembuatan istana  berlantai kaca bening yang di bawahnya  dialirkan  air yang deras itu pulalah sabda Masih Mau’ud a.s. berikut ini berkenaan kekeliruan paham para pelaku kemusyrikan yang telah mempertuhankan benda-benda mati ciptaan Allah Swt., termasuk mempertuhankan benda-benda langit:
     “Merupakan suatu misteri dari Sifat Rabubiyat bahwa ciptaan mewujud  (eksis) melalui firman Tuhan. Kita bisa memahaminya sebagai pengertian bahwa fungsi ciptaan merupakan refleksi dari firman Tuhan,  atau firman Tuhan itu sendiri yang mengambil bentuk ciptaan berdasarkan Kekuasaan Ilahi.   Kata-kata yang ada di dalam Al-Quran bisa ditafsirkan menurut kedua pengertian tersebut.
    Di beberapa tempat dalam Kitab Suci Al-Quran dikatakan bahwa apa yang telah diciptakan itu disebut sebagai firman Tuhan,  yang melalui manifestasi  Sifat Rabubiyat telah memperoleh bentuk dan sifat karakteristik sebagai benda ciptaan. Hal ini merupakan salah satu misteri Sifat penciptaan yang tidak terlalu mudah dicerna oleh penalaran. Bagi rata-rata orang kiranya cukup untuk memahami bahwa apa pun yang diinginkan oleh Allah Yang Maha Kuasa akan mewujud, dan bahwa semuanya ini merupakan hasil ciptaan-Nya yang bersumber pada Kekuasaan-Nya.
      Bagi orang-orang yang mengerti,  yang telah melalui proses pendisiplinan diri serta dengan bantuan kasyaf  (penglihatan ruhani),  misteri penciptaan tersebut menjadi lebih jelas. Mereka menyadari bahwa semua ruhani dan jasmani merupakan firman Tuhan, yang melalui Kebijakan Ilahi telah diberi jubah sebagai benda ciptaan. Namun prinsip dasar yang harus dipatuhi adalah faktor yang berlaku --  baik bagi penalaran atau pun kasyaf -- bahwa Tuhan adalah Pencipta segalanya dimana ruhani dan jasmani tidak bisa mewujud tanpa Dia.
       Istilah yang digunakan dalam Kitab Suci Al-Quran dalam konteks ini bersifat multifaset (beragam makna)  namun secara konklusif (kesimpulan/keputusan)   dan pasti menjelaskan bahwa semuanya mewujud melalui Allah Yang Maha Kuasa dan tidak ada apa pun yang bisa eksis (ada)  tanpa Dia atau berdasar kemampuannya sendiri. Cukuplah pandangan ini untuk tahapan awal. Setelah itu, mereka yang kemudian berkelana melalui berbagai tingkat pemahaman, misterinya akan dibukakan secara bertahap setelah mereka berupaya sebagaimana firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Tentang orang-orang yang berjuang untuk bertemu dengan Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami (Al-Ankabūt [29]:70)”   (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 42-43, catatan kaki, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 5  Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar