بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 60
Hubungan Kesuksesan Pemerintahan
Nabi Sulaiman a.a. Dengan Pengamalan Sifat Rabubiyat
Allah Swt. & Keunikan “Istana
Khusus” Nabi Sulaiman a.s. Menyadarkan Ratu Saba dari Kemusyrikan
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai “pribadi-pribadi surgawi”
pewaris Al-Quran, sehubungan dengan
firman-Nya:
وَ
الَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ
مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ لَخَبِیۡرٌۢ بَصِیۡرٌ ﴿﴾ ثُمَّ
اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ
فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ
بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا
مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا
ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ
ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan apa yang Kami wahyukan kepada engkau
dari Kitab, ini adalah haq (kebenaran) menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hamba-Nya
benar-benar Maha Waspada, Maha Melihat. ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ
الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ
مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ
ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ -- Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka
ada yang unggul dalam kebaikan dengan izin
Allah, itu
adalah karunia yang sangat besar. Ganjaran mereka Kebun-kebun abadi, mereka
akan memasukinya, di dalamnya mereka
dihiasi dengan gelang-gelang emas
dan mutiara, dan pakaian
mereka di dalamnya adalah sutera.
وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُ -- Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah
menjauhkan kesedihan dari kami.
Sesungguhnya Rabb (Tuhan)
kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ
ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ -- Yang menempatkan
kami di rumah abadi dari karunia-Nya,
kesulitan tidak menyentuh kami di dalamnya dan tidak
pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya” (Al-Fāthir [35]:32-35).
“Suasana Surgawi” yang Dialami Hamba-hamba
Hakiki Allah Swt.
Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai
yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt. merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan
Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia
ini dan di akhirat, sebagaimana
diperlihatkan oleh ayat-ayat berikut ini, firman-Nya: “Ganjaran mereka جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا -- Kebun-kebun
abadi, mereka akan memasukinya, یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ
اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, وَ
لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ -- dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ
اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ -- Dan
mereka berkata: “Segala puji bagi Allah,
Yang telah menjauhkan kesedihan dari
kami. اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ -- Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha
Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Yang menempatkan
kami di rumah abadi dari karunia-Nya,
لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا
فِیۡہَا لُغُوۡبٌ -- kesulitan tidak menyentuh kami di dalamnya dan tidak
pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya” (Al-Fāthir [35]:34-35).
Mengisyaratkan kepada keadaan “pribadi-pribadi
surgawi” pewaris Al-Quran itu pulalah firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ
اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ
فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی
رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً -- Kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau. فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ -- Maka masuklah
dalam golong-an hamba-hamba-Ku,
وَ
ادۡخُلِیۡ جَنَّتِی -- Dan masuklah ke dalam surga-Ku (Al-Fajr [89]:28-31).
Gambaran dalam ayat-ayat iIni merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika
manusia ridha kepada Rabb-nya
(Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat
ini yang disebut pula tingkat surgawi,
ia menjadi kebal terhadap segala
macam kelemahan akhlak, diperkuat
dengan kekuatan ruhani yang khusus.
Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup tanpa Dia.
Di dunia
inilah dan bukan sesudah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam
dirinya, dan di dunia inilah dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surge, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ
کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai insan (manusia),
sesungguhnya engkau bekerja keras dengan
sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka engkau
akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).
Menurut Allah Swt. meraih “kehidupan
surgawi” seperti itu di dunia ini
hanya mungkin dengan cara beriman
serta patuh-taat kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. (QS.7:35-37), firman-Nya:
وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا
وُسۡعَہَاۤ ۫ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
الۡجَنَّۃِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ ۚ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ
ہَدٰىنَا لِہٰذَا ۟ وَ مَا کُنَّا لِنَہۡتَدِیَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ ۚ لَقَدۡ جَآءَتۡ
رُسُلُ رَبِّنَا بِالۡحَقِّ ؕ وَ نُوۡدُوۡۤا اَنۡ تِلۡکُمُ الۡجَنَّۃُ اُوۡرِثۡتُمُوۡہَا بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
﴿﴾
Dan
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Kami tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, mereka
inilah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. وَ نَزَعۡنَا مَا
فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ -- Dan Kami mencabut
segala dendam yang ada di dalam dada
mereka. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ
ہَدٰىنَا لِہٰذَا -- dan mereka berkata: ”Segala puji bagi Allah Yang telah
menunjuki kami kepada surga ini,
وَ مَا
کُنَّا لِنَہۡتَدِیَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ
ہَدٰىنَا اللّٰہُ -- dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk
seandainya Allah tidak memberi kami petunjuk. لَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا
بِالۡحَقِّ -- Sungguh benar-benar telah
datang rasul-rasul Rabb (Tuhan)
kami dengan haq.” وَ نُوۡدُوۡۤا اَنۡ تِلۡکُمُ
الۡجَنَّۃُ اُوۡرِثۡتُمُوۡہَا بِمَا
کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan akan
diserukan kepada mereka: “Inilah surga
yang diwariskan kepada kamu sebagai ganjaran atas apa yang senantiasa kamu kerjakan” (Al-‘Arāf [7]:43-44).
Anak kalimat
sisipan لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَاۤ -- “Kami tidak
membebani sesuatu jiwa di luar kemampuannya”, bertolak belakang dengan
paham agama Kristen yang menyatakan
bahwa dosa itu terpendam dalam fitrat
manusia, maka upaya menghilangkan dosa
itu berada di luar jangkauan kekuasaan
manusia, kecuali jika beriman
kepada kematian terkutuk Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. di atas salib guna menebus dosa-dosa
manusia.
Pada hakikatnya, kehidupan surgawi dimulai sejak dari dunia ini juga (QS.55:47) dan seseorang dikatakan sedang
menikmati kehidupan surgawi apabila -- karena beriman
kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya -- hatinya
bebas dari rasa permusuhan, irihati,
dendam-kesumat, dan kegelisahan mental.
Cara Bijaksana Nabi Sulaiman a.s. Menyadarkan Ratu Saba dari Kebanggaan Kekuasaan dan SDA dan SDM
yang Dimilikinya
Masalah
musykil serta halus lainnya yang dijelaskan oleh Masih Mau’ud a.s. di Akhir
Zaman ini adalah hubungan
Allah Swt. sebagai Al-Khāliq (Maha Pencipta) dengan makhluq-Nya (ciptaan-Nya), yang keliru
difahami di kalangan para penganut agama, hal tersebut telah dijelaskan Allah Swt. melalui Nabi Besar
Muhammad saw. dalam Al-Quran berupa kiasan (perumpamaan) istana khusus yang dibuat Nabi Sulaiman
a.s..
Yakni, dalam rangka menyambut kedatangan Ratu Saba – yang secara bijaksana memutuskan untuk memilih perdamaian dengan
Nabi Sulaiman a.s. daripada melakukan perlawanan (QS.27:16-41) --
Allah Swt. berfirman mengenai kesiapan penyambutan Ratu Saba yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s.:
قَالَ
نَکِّرُوۡا لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ
اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ
الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡ
قِیۡلَ اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ
کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ
مِنۡ قَبۡلِہَا وَ کُنَّا
مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ صَدَّہَا
مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا کَانَتۡ مِنۡ
قَوۡمٍ کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman, berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana
hadiahnya itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.”
فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ -- Maka
tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya, “Serupa inikah keindahan singgasana
engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ -- Ia menjawab, “Singgasana ini seolah-olah sama seperti singgasana itu, وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ
قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ -- dan kami telah diberi pengetahuan
sebelumnya dan kami adalah orang-orang
yang berserah diri.” وَ صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ
مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا کَانَتۡ
مِنۡ قَوۡمٍ کٰفِرِیۡنَ -- Tetapi apa
yang senantiasa disembahnya selain Allah
telah menghalanginya beriman, sesungguhnya ia termasuk kaum kafir (An-Naml
[27]:42-44).
Makkara-hu
berarti: ia mengganti atau mengubah bentuk sesuatu agar tidak dikenal; ia
membuatnya nampak biasa saja (Lexicon
Lane). Oleh karena itu ungkapan yang tercantum dalam terjemahan ayat 42
berarti: “Buatlah singgasana ini lebih
baik daripada singgasananya, sehingga singgasana sendiri nampak biasa saja.”
Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s. telah
memerintahkan pembesarnya yang dipercayakan tugas menyiapkan singgasana bagi Ratu Saba, supaya
membuatnya demikian cantik (indah), sehingga Ratu itu akan mengakui keunggulan dalam seni pembuatannya sehingga menjadi tidak menyukai lagi singgasananya sendiri, dan dengan
demikian dapat mengerti bahwa kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan atau
yakni SDM dan SDA milik Nabi Sulaiman a.s jauh lebih besar dan lebih unggul dari kekuasaan dan sumber-sumber
kekayaan milik Ratu Saba sendiri.
Itulah rupa-rupanya arti kalimat نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ
تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ -- “apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.”
Yakni dengan pembuatan
singgasana tersebut Nabi
Sulaiman a.s. berusaha menjelaskan kepada Ratu Saba sia-sianya berusaha menentang atau melawan
beliau.
Ratu Saba dengan pembesar-pembesar dan kaum
bangsawan istana nampaknya berbesar
kepala (sangat bangga) oleh kekuasaan
dan sumber-sumber kekayaan mereka
(QS.27:34), dan Nabi Sulaiman a.s. berkehendak
menyadarkan mereka dari anggapan keliru itu (QS.27:37).
Seandainya kata “singgasananya”
diambil dalam artian singgasana yang konon telah dikirim oleh Ratu Saba kepada Nabi Sulaiman a.s. sebagai
hadiah, maka kata nakkiru dalam
ayat: نَکِّرُوۡا لَہَا عَرۡشَہَا -- “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana
hadiahnya itu,” akan berarti bahwa singgasana
itu demikian dihiasi dan diperindah serta gambar-gambar patung yang dilukis
padanya —jika memang ada— dihapus
begitu sempurna, sehingga Ratu Saba
tidak dapat mengenalinya lagi.
Ucapan Ratu
Saba: “kami telah diberi pengetahuan sebelumnya” dalam ayat وَ
اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ
قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ -- “dan kami telah diberi pengetahuan
sebelumnya dan kami adalah orang-orang
yang berserah diri,” maknanya ialah bahwa melalui singgasana
yang direnovasi oleh Nabi Sulaiman a.s. tersebut
Ratu Saba telah menjadi maklum (mengetahui)
akan kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman
a.s., dan telah mengambil keputusan menyerah
kepada beliau.
Kesuksesan Pengamalan Sifat Rabubiyat Allah Swt. oleh Nabi Sulaiman a.s. & Makna Ditundukkan-Nya Angin
dan Jin Kepada Nabi Sulaiman a.s.
Pendek kata, pengamalan Sifat Rabubiyat Allah Swt. yang dilakukan
Nabi Sulaiman a.s. telah membuat beliau sukses
dalam mengelola pemerintahan
beliau, termasuk dalam berbagai bidang pembangunan
yang
benar-benar memiliki nilai-nilai seni yang sangat tinggi (QS.34:13-14) melebihi kemampuan yang dimiliki ahli-ahli (SDM) Ratu Saba, firman-Nya:
وَ
لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ غُدُوُّہَا شَہۡرٌ وَّ رَوَاحُہَا شَہۡرٌ ۚ وَ اَسَلۡنَا
لَہٗ عَیۡنَ الۡقِطۡرِ ؕ وَ مِنَ الۡجِنِّ
مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ بِاِذۡنِ
رَبِّہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّزِغۡ مِنۡہُمۡ عَنۡ اَمۡرِنَا نُذِقۡہُ مِنۡ عَذَابِ السَّعِیۡرِ ﴿﴾ یَعۡمَلُوۡنَ
لَہٗ مَا یَشَآءُ مِنۡ مَّحَارِیۡبَ وَ تَمَاثِیۡلَ وَ جِفَانٍ کَالۡجَوَابِ
وَ قُدُوۡرٍ رّٰسِیٰتٍ ؕ اِعۡمَلُوۡۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُکۡرًا ؕ وَ قَلِیۡلٌ مِّنۡ عِبَادِیَ الشَّکُوۡرُ ﴿﴾
Dan kepada Sulaiman Kami menundukkan angin, perjalanan paginya
sama dengan sebulan perjalanan
darat dan perjalanan petangnya
sama dengan sebulan. وَ اَسَلۡنَا
لَہٗ عَیۡنَ الۡقِطۡرِ -- Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga
untuk dia. وَ مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ -- Dan dari jin-jin ada yang bekerja di
bawah perintahnya dengan izin Rabb-nya (Tuhan-nya), dan barangsiapa
dari mereka menyimpang dari perintah
Kami, Kami membuat dia merasakan
azab Api yang menyala-nyala. یَعۡمَلُوۡنَ
لَہٗ مَا یَشَآءُ مِنۡ مَّحَارِیۡبَ وَ تَمَاثِیۡلَ وَ جِفَانٍ
کَالۡجَوَابِ وَ قُدُوۡرٍ رّٰسِیٰتٍ -- Mereka mengerjakan
untuknya apa yang dia kehendaki
berupa tempat-tempat ibadah, patung-patung,
kolam-kolam bagaikan bendungan dan periuk-periuk
besar yang tetap pada tungkunya.
اِعۡمَلُوۡۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُکۡرًا -- “Hai keluarga
Daud, beramallah sambil bersyukur.” وَ
قَلِیۡلٌ مِّنۡ عِبَادِیَ الشَّکُوۡرُ -- Tetapi sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku
yang bersyukur. (As-Sabā
[34]:13-14).
Wilayah kekuasaan
Nabi Sulaiman a.s. terbentang
dari Siria Utara sepanjang pantai
Laut Tengah sebelah timur sampai Laut Merah, sepanjang Laut Arab sampai Teluk Persia.
Pada hakikatnya di zaman Nabi Sulaiman a.s. kerajaan
Bani Israil telah mencapai puncak
kejayaan dalam kekayaan harta, kekuasaan, dan pengaruh, sebagaimana
ditampakkan oleh kata rīh, yang di antara lain artinya kekuasaan dan penaklukan-penaklukan (Lexicon
Lane) seperti digunakan dalam ayat 13.
Ayat ini pun menunjukkan, bahwa Nabi Sulaiman
a.s. memiliki suatu armada niaga laut yang besar (I Raja-raja
9:26-28 & Jewish Encyclopaedia
Jilid XI hlm. 437) dan bahwa perindustrian
dan kerajinan telah berkembang pesat
di bawah pemerintahan beliau, dan bahwa beliau telah menaklukkan serta memanfaatkan
tenaga suku-suku bangsa pegunungan
yang liar lagi suka memberontak (II Tawarikh 2:18 & 4:1-2), yang dalam Al-Quran disebut jin atau syaitan, baik sebagai tentara
mau pun sebagai pekerja-pekerja khusus
(QS. 34:13-15; QS.21-83; QS.27:16-18 & 40; QS.38:37-40).
Kecuali
itu, selaku seorang raja yang kaya-raya, sangat berkuasa dan beradab, Nabi
Sulaiman a.s. merupakan tokoh
di antara raja-raja bangsa Bani Israil, yang mendirikan bangunan-bangunan. Beliau mempunyai selera yang istimewa mengenai seni
bangunan yang telah berkembang pesat di masa kekuasaan beliau. Baitulmuqadas di Yerusalem memberi bukti
yang nyata tentang selera halus beliau berkenaan dengan seni bangunan.
Tujuan Pembangunan Istana
Berlantai Kaca Bening yang di Bawahnya Mengalir Air yang Deras
Demikian juga pembangunan istana yang dirancang khusus
berlantaikan kaca bening yang di bawahnya dialirkan air -- sehingga
lantai istana tersebut tampak seperti
bentangan air -- dimaksudkan untuk tujuan da’wah Tauhid Ilahi, bukan untuk mencari kesenangan
duniawi atau pun untuk membanggakan diri, dan bukan pula sebagaimana menurut penafsir yang berpikiran kotor bahwa istana tersebut dibuat untuk membuktikan kebenaran isu (kabar) yang beredar mengenai
Ratu Saba yang
sangat cantik tersebut betisnya berbulu lebat.
Nabi Sulaiman a.s. mengundang Ratu Saba untuk memasuki istana khusus tersebut sangat erat kaitannya dengan ayat
sebelumnya, yakni walau pun singgasana kehormatan yang dibuat khusus untuk
menerima Ratu Saba
tersebut berhasil membuat Ratu Saba mengakui keunggulan Nabi Sulaiman
a.s. dalam bidang duniawi, firman-Nya: فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ اَہٰکَذَا
عَرۡشُکِ -- “maka tatkala ia, ratu, datang
dikatakan kepadanya, “Serupa
inikah keindahan singgasana engkau?” قَالَتۡ
کَاَنَّہٗ ہُوَ -- Ia (Ratu Saba) menjawab, “Singgasana ini seolah-olah sama
seperti singgasana itu, وَ
اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ
قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ -- dan kami telah diberi pengetahuan
sebelumnya dan kami adalah orang-orang
yang berserah diri” (An-Naml [27]:43), tetapi
keindahan singgasana tersebut tidak berhasil menyadarkan Ratu Saba dari kemusyrikannya,
firman-Nya: وَ صَدَّہَا
مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا کَانَتۡ مِنۡ
قَوۡمٍ کٰفِرِیۡنَ -- Tetapi apa
yang senantiasa disembahnya selain Allah
telah menghalanginya beriman, sesungguhnya ia termasuk kaum kafir (An-Naml
[27]:44).
Pernyataan “penyerahan diri” Ratu
Saba secara duniawi tersebut tidak memuaskan Nabi Sulaiman a.s., sebab beliau
bukan hanya seorang raja
duniawi tetapi juga seorang Rasul Allah
yang berkewajiban menablighkan Tauhid Ilahi terhadap orang-orang
musyrik, termasuk kepada Ratu Saba
dan kaumnya. Itulah sebabnya setelah itu Nabi Sulaiman
a.s. mengundang Ratu Saba untuk
memasuki istana khusus yang dirancang
untuk tujuan tersebut, firman-Nya:
قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ
حَسِبَتۡہُ لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ اِنَّہٗ
صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ
سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan
kepada dia: “Masuklah ke istana.” فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ
لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ
سَاقَیۡہَا -- Maka
tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya. قَالَ اِنَّہٗ صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ -- Ia, Sulaiman, berkata:
“Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan ubin dari kaca.” قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ
نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ – Ia (Ratu Saba) ber-kata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam”
(An-Naml
[27]:42-45).
Kasyāfa’an
sāqihi adalah muhawarah (idiom) yang terkenal dalam bahasa Arab, yang
berarti “menjadi siap untuk menghadapi kesukaran” atau “pikirannya menjadi
kacau-balau” atau “kebingungan”. Kasyāfat ’an sāāqaiha berarti: (1) ia
(perempuan) menyingkapkan kain dari
betisnya; (2) ia bersiap-sedia
menghadapi keadaan itu; ia menjadi
kacau-balau pikiran atau kebingungan atau keheran-heranan (Laxicon Lane & Lisan-ul-‘Arab).
Nabi Sulaiman a.s. menginginkan agar Ratu
Saba meninggalkan kemusyrikan dan
menerima agama yang hakiki. Untuk
maksud itu beliau secara bijaksana sekali memakai cara demikian yang niscaya menyebabkan perempuan yang mulia lagi cerdas itu dapat melihat kesalahan
di dalam jalan hidupnya, yakni
melakukan kemusyrikan.
Tugas Semua Rasul Allah
Menablighkan Tauhid Ilahi
Jadi, pada hakikatnya pembuatan singgasana yang Nabi Sulaiman a.s. telah perintahkan untuk disiapkan bagi Ratu Saba itu pun dimaksudkan guna tujuan itu. Singgasana
itu dibuat jauh lebih indah dan dalam segala seginya lebih unggul daripada singgasana Ratu Saba sendiri yang sangat dibanggakannya. Nabi Sulaiman a.s. berbuat demikian,
agar supaya Ratu Saba dapat menyadari bahwa Nabi
Sulaiman a.s. itu pilihan Tuhan, dan karunia ruhani milik beliau jauh lebih berlimpah-limpah daripada yang
telah dianugerahkan kepada Ratu
Saba.
Demikian pula istana berlantai kaca bening
yang disinggung dalam ayat ini pun dibangun dengan tujuan yang sama. Sebagaimana diperlihatkan dalam ayat ini, jalan
masuk ke istana itu berlantaikan ubin
terbuat dari kaca bening yang di bawahnya mengalir air yang jernih sekali. Tatkala Ratu Saba memasuki istana itu ia menyangka bahwa kaca bening itu air, lalu ia menyingkapkan kain sehingga nampak betisnya, yakni pemandangan
air itu membingungkannya dan ia
tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.
Dengan siasat ini Nabi Sulaiman va.s. perhatian Ratu Saba kepada hakikat, bahwa seperti halnya Ratu
Saba telah salah duga bahwa ubin kaca
bening itu air, seperti itu pula matahari
dan benda-benda langit lain yang disembahnya itu bukan Sumber Cahaya sebenarnya. Benda-benda langit itu hanyalah memancarkan cahaya tetapi mereka itu benda-benda mati belaka.
Allah Swt. -- Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri -- itulah Yang telah menganugerahkan kepada benda-benda
langit itu cahaya yang
dipancarkannya. Dengan jalan itu Nabi
Sulaiman a.s. berhasil dalam tujuan yang beliau ingin capai. Perempuan yang mulia itu membuat pengakuan atas kesalahannya, dan dari seorang penyembah
berhala-berhala kayu dan batu serta benda-benda
langit lainnya lainnya Ratu Saba
menjadi seorang hamba mukhlis Tuhan
Yang Maha Esa.
Berimannya
Ratu Saba kepada Allah Swt. melalui upaya Nabi Sulaiman a.s. tersebut
membuktikan akuratnya laporan intelijen Jenderal Hud-hud
kepada Nabi Sulaiman a.s. berkenaan kemusyrikan
yang dilakukan Ratu Saba dan kaum
Saba ketika Nabi Sulaiman a.s. sedang melakukan persiapan terakhir untuk
melakukan tindakan terhadap penguasa
kerajaan Saba (QS.27:21-32) yang
telah melakukan infiltrasi (penyusupan) ke wilayah kerajaan Nabi Sulaiman a.s., yang diumpamakan sebagai “kambing-kambing
yang berkeliaran di suatu ladang” (QS.21:79-83).
Hubungan
Penciptaan dan Firman Tuhan
Sehubungan
dengan dengan hakikat pembuatan istana berlantai kaca
bening yang di bawahnya
dialirkan air yang deras itu pulalah sabda Masih Mau’ud a.s. berikut ini berkenaan kekeliruan paham para pelaku kemusyrikan
yang telah mempertuhankan benda-benda
mati ciptaan Allah Swt., termasuk mempertuhankan
benda-benda langit:
“Merupakan suatu misteri
dari Sifat Rabubiyat bahwa
ciptaan mewujud (eksis) melalui firman Tuhan. Kita
bisa memahaminya sebagai pengertian bahwa fungsi ciptaan merupakan refleksi
dari firman Tuhan, atau firman
Tuhan itu sendiri yang mengambil
bentuk ciptaan berdasarkan Kekuasaan
Ilahi. Kata-kata yang ada di
dalam Al-Quran bisa ditafsirkan
menurut kedua pengertian tersebut.
Di beberapa tempat dalam Kitab Suci Al-Quran dikatakan bahwa apa yang
telah diciptakan itu disebut sebagai firman Tuhan, yang melalui manifestasi Sifat Rabubiyat telah memperoleh bentuk
dan sifat karakteristik
sebagai benda ciptaan. Hal ini merupakan salah satu misteri
Sifat penciptaan yang tidak terlalu mudah dicerna oleh penalaran.
Bagi rata-rata orang kiranya cukup untuk memahami bahwa apa pun yang diinginkan
oleh Allah Yang Maha Kuasa akan mewujud,
dan bahwa semuanya ini merupakan hasil
ciptaan-Nya yang bersumber pada Kekuasaan-Nya.
Bagi orang-orang yang mengerti, yang telah melalui proses pendisiplinan diri
serta dengan bantuan kasyaf (penglihatan ruhani), misteri penciptaan tersebut
menjadi lebih jelas. Mereka menyadari bahwa semua ruhani dan jasmani
merupakan firman Tuhan, yang melalui Kebijakan Ilahi
telah diberi jubah sebagai benda ciptaan. Namun prinsip
dasar yang harus dipatuhi adalah faktor yang berlaku --
baik bagi penalaran atau pun kasyaf -- bahwa Tuhan adalah Pencipta segalanya dimana
ruhani
dan jasmani tidak bisa mewujud tanpa Dia.
Istilah yang digunakan dalam Kitab Suci Al-Quran dalam konteks ini
bersifat multifaset (beragam makna)
namun secara konklusif (kesimpulan/keputusan) dan pasti menjelaskan bahwa semuanya mewujud melalui Allah Yang Maha Kuasa dan tidak ada apa pun yang bisa eksis
(ada) tanpa Dia atau berdasar kemampuannya sendiri. Cukuplah
pandangan ini untuk tahapan awal.
Setelah itu, mereka yang kemudian berkelana
melalui berbagai tingkat pemahaman, misterinya
akan dibukakan secara bertahap setelah mereka berupaya sebagaimana firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا
فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Tentang orang-orang
yang berjuang untuk bertemu dengan
Kami, sesungguhnya Kami akan memberi
petunjuk kepada mereka pada jalan
Kami’ (Al-Ankabūt [29]:70)” (Surma
Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 42-43, catatan kaki, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 5 Oktober
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar