Senin, 26 Oktober 2015

Hubungan Azab Ilahi Dengan "Sujudnya" Para Malaikat Kepada Adam (Khalifah Allah) & Tertariknya Partikel Alam Semesta Kepada "Hamba-hamba Allah" yang Hakiki



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 76

  Hubungan Azab Ilahi Dengan    “Sujudnya” Para Malaikat Kepada Adam (Khalifah Allah)  & Tertariknya Partikel Alam Semesta Kepada Hamba-hamba Allah yang Hakiki

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai makna  ayat  وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا --   dan demi jiwa dan penyempurnaannya”,    berarti  bahwa semua khasiat yang dipersembahkan benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (mengkhidmati)  makhluk-makhluk Allah dan yang mengenai kenyataan itu telah disebutkan dalam ayat 10, memberi kesaksian bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi.

Berbagai Kemampuan Manusia Sebagai “Micro Cosmos

    Pada hakikatnya, manusia adalah alam semesta ukuran kecil (micro cosmos) dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil (miniatur) segala sesuatu yang terwujud di alam semesta, yakni:
 (1) Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan kilauan cahaya hikmah dan ilmu.
   (2) Bagaikan  bulan ia memancarkan kembali  cahaya kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Surber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
   (3) Ia terang benderang  bagaikan siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan.
   (4) Bagaikan malam ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban mereka, dan memberikan istirahat kepada si lelah dan si letih.
   (5) Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang member kesegaran.
  (6)  Bagaikan  bumi ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki orang-orang,   sebagai  cobaan (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu  tumbuhlah dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon  ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, serta dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
   Demikianlah orang-orang kudus dan para mushlih rabbani, di antaranya yang terbesar dan paling sempurna ialah  Nabi Besar Muhammad, Rasulullah saw., sehingga menjadi suri  teladan terbaik  bagi orang-orang yang menginginkan kedekatan bahkan “perjumpaan” dengan Allah Swt. di dalam kehidupan dunia ini juga, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:22).
Firman-Nya lagi  kepada Nabi besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah:  ”Jika kamu be-nar-benar mencintai Allāh maka ikuti-lah398 aku,  Allāh pun akan mencin-taimu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allāh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran [3]:32). 
   Kemudian sesuai dengan doa dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7 mengenai permohonan memperoleh nikmat ruhani sebagaimana yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada orang-orang sebelumnya (mun’am ‘alayhi)  Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini  فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا  --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:70-71).


Firman Allah Swt.  Mengenai  Mukjizat  Nabi Besar Muhammad Saw.  

     Kembali kepada Surah Asy-Syams, makna ayat   فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا  --  maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya” (ayat 9), Allah Swt.  telah menanamkan  dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik, sehingga akan memperoleh kesuksesan dalam kehidupannya, baik di dunia mau pun di akhirat: قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا --  Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannyaوَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا  --  dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya  (Asy-Syams  [91]:10-11) .
         Sehubungan pentingnya upaya pensucian diri melalui ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya  --    terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32)   -- berupa iman dan amal shaleh, lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. bersabda:  
       “Seorang hamba memperlihatkan kecintaannya yang suci kepada Allah  Swt. melalui perilakunya yang baik, tetapi tanggapan Allah sungguh luar biasa. Melihat kemajuan hambanya yang cepat maka Tuhan akan bergegas bergerak ke arahnya seperti kilat dan memperlihatkan Tanda-tanda bagi dirinya, baik di langit mau pun di bumi. Dia akan menjadi Sahabat bagi para sahabat hamba tersebut dan menjadi musuh bagi para musuhnya.
    Misalnya pun berjuta-juta manusia menentang hamba itu, Tuhan akan melumatkan mereka dan menjadikan mereka tidak berdaya sebagaimana laiknya serangga mati. Bisa saja Dia menghancurkan seluruh dunia demi hamba-Nya tersebut dan menjadikan bumi dan langit tunduk kepadanya.
       Dia akan memberkati kata-kata yang diucapkannya dan menurunkan hujan nur di atas kediamannya. Dia akan memberkati pakaian yang dikenakan, pangan yang disantap dan bahkan debu   yang diinjaknya. Dia tidak akan membiarkan hamba itu mati dalam keadaan gagal dan Dia Sendiri Yang akan menjawab mereka yang menentangnya. Dia menjadi mata yang dengannya  ia melihat, menjadi telinga yang dengannya   ia mendengar, menjadi lidah yang dengannya ia berbicara, menjadi kaki yang dengannya ia berjalan dan menjadi tangan yang dengannya ia menangani musuh-musuhnya.
    Dia Sendiri akan maju mengedepankan Wujud-Nya untuk menangani musuh-musuh hamba-Nya itu. Dia akan mencabut pedang terhadap para musuh yang jahat yang menganiayanya serta menjadikan yang bersangkutan berjaya (sukses) di semua bidang. Dia akan membukakan rahasia-rahasia takdir-Nya kepada hamba-Nya itu.
    Yang pertama sekali yang akan menghargai keindahan keruhanian yang muncul setelah perilaku dan amal  saleh serta kecintaannya kepada Tuhan,  adalah Allah Swt. Sendiri. Alangkah sialnya manusia yang hidup pada masa itu dimana ada matahari bersinar terang bagi mereka tetapi mereka memilih termangu di tempat kegelapan.” (Zamimah Brahin-i-i Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm. 225, London, 1984).
      Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt.  dan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits qudsi berikut ini:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  -- dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا --     dan supaya Dia  menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya, اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ --  sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).

Hadits Qudsi  Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Para Wali Allah  &  Mewujudnya “Keindahan Ruhani” Para Hamba Allah yang Hakiki

      Sesuai dengan pernyataan Allah Swt. tersebut   Dari Abu Hurairah r.a.  ia berkata bahwa Rasulullah Shallallāhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
        Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman,  "Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai  penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Al-Bukhari).
     Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai  hakikat  kedekatan  atau “perjumpaan” --  bahkan “perpaduan”  -- kehendak “hamba-hamba” Allah Swt.  dengan kehendak Allah Swt. tersebut:
    “Setelah sempurnanya kerangka (struktur)  keruhanian maka nyala api kecintaan insan kepada Tuhan-nya akan turun di dalam batin manusia berupa ruh dan mengaruniakan kepadanya perasaan bahwa ia selalu berada di hadirat Allah Swt..  Dengan tercapainya tingkat kesempurnaan demikian maka keindahan ruhani yang bersangkutan pada saat itu akan mewujud sepenuhnya.
      Keindahan ruhaniah yang bisa disebut sebagai amal saleh tersebut -- karena daya tariknya -- akan jauh lebih cantik daripada keindahan penampakan lahiriah. Kecantikan lahiriah hanya bisa menarik hati satu atau dua orang dan segera akan pupus dimakan usia. Daya tariknya amat lemah. Sedangkan keindahan ruhaniah yang disebut amal saleh itu memiliki daya tarik yang kuat,  yang mampu menarik seluruh dunia berikut isinya kepada dirinya. Hal inilah yang menjadi landasan falsafah dari pengabulan doa.
     Jika seseorang yang memiliki kecantikan ruhaniah yang dilambari oleh ruh dari kecintaan Ilahi,  kemudian mengajukan permohonan doa atas suatu hal yang tidak mungkin atau amat sulit dan ia memohonnya dengan amat khusyuk, maka berkat dari keindahan ruhaniahnya itu  Allah  Swt. akan memerintahkan semua partikel dari alam semesta ini menjadi tertarik kepadanya,  guna memberikan bantuan dan sarana bagi keberhasilan tujuannya.
     Baik pengalaman mau pun Kitab Allah menegaskan bahwa segenap partikel  dunia ini mempunyai afinitas atau kecintaan alamiah kepada manusia seperti itu dimana doa-doanya menarik semua partikel ke arah dirinya,  sebagaimana magnit menarik besi. Dari keadaan daya tarik demikian akan muncul hal-hal luar biasa yang tidak ada disebut dalam buku-buku fisika atau filsafat.
    Dari sejak diciptakan-Nya setiap benda dari kumpulan partikel  oleh Sang Maha Pencipta, Dia telah menanamkan daya tarik tersebut di dalam setiap partikel, sehingga partikel-partikel ini menjadi pencinta keindahan ruhaniah. Begitu juga halnya dengan jiwa yang saleh karena keindahan merupakan manifestasi (perwujudan) dari kebenaran.  Adalah keindahan demikian itulah yang dimaksud ketika Allah  Swt. memerintahkan para malaikat “menyembah” (bersujud kepada) Adam dan mereka mematuhinya kecuali sang iblis.
   Sekarang ini pun banyak manusia yang mirip iblis karena tidak mau mengakui keindahan demikian,  padahal keindahan demikian telah mengemukakan berbagai hal yang akbar (besar). Keindahan yang sama terdapat pada diri Nabi Nuh a.s. dimana berdasarkan hal itu maka Allah Yang Maha Agung telah menghancurkan semua musuhnya melalui siksaan air bah.
     Kemudian muncul Nabi Musa a.s. dengan keindahan keruhanian yang sama dan ia -- setelah sebelumnya menderita beberapa hari -- telah menjadi sebab kejatuhan Fir’aun. Yang terakhir adalah Penghulu para nabi dan insan kamil (manusia sempurna), Penghulu dan Junjungan kita Muhammad saw.,  muncul dengan keindahan keruhanian yang akbar yang juga dipuji dalam ayat Al-Quran:
ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿۹   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾
Kemudian ia mendekati Allah, lalu turun mendekati umat manusia, maka jadilah ia seakan-akan seutas tali dua busur atau lebih dekat lagi  (Al-Najm [53]:9-10).
    Berarti bahwa Rasulullah saw. telah mendekat rapat kepada Allah Swt., kemudian beliau  saw. mendekati umat manusia,  dan dengan cara demikian beliau telah memenuhi kewajiban beliau kepada Tuhan dan kepada manusia. Dengan begitu melalui beliau telah diperlihatkan kedua jenis keindahan keruhanian.”  (Zamimah Brahin-i-Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm. 219-221, London, 1984).
       Mengisyaratkan kepada Sunnatullah  itu pulalah firman Allah Swt.  berikut ini mengenai  akibat buruk yang pasti menimpa para penentang Rasul Allah, jika mereka tidak segera bertaubat dari kezalimannya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.   Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan me-nang.”  Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujādalah [58]:21-22).
   Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah, bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan. Inilah sebabnya kaum-kaum purbakala yang menentang para Rasul Allah dengan zalim  telah dibinasakan dengan azab Ilahi yang diperingatkan Rasul Allah kepada mereka (QS.17:16; QS.20:135-136; QS.22:46; QS.28:59).

Kemurkaan” Allah Swt. Tidak sama dengan   Kemurkaan  Manusia

    Azab-azab Ilahi yang menimpa kaum-kaum purbakala para penentang Rasul Allah disebut sebagai “kemurkaan” Allah Swt., tetapi menurut Masih Mau’ud a.s. kemurkaan atau kemarahan  atau  kebencian  Allah Swt.   tidak sama dengan yang manusia lakukan, sebab apa pun yang dilakukan manusia  -- baik melakukan ketaatan mau pun kedurhakaan kepada Allah Swt. -- sama sekali tidak ada pengaruhnya (untung atau rugi) bagi Allah Swt., melainkan akibat baik mau pun akibat buruknya  manusia sendiri yang akan mengalaminya.
      Itulah sebabnya Allah Swt. berfirman ketika manusia mengalami akibat buruk dari perbuatannya bahwa “bukan  Kami yang berbuat zalim kepadanya melainkan mereka berbuat zalim atas dirinya sendiri”  (QS.2:58; QS.3:118; 9:70; QS.10:45; QS.29:41; QS.30:10).  Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Dalam artikel yang dibacakan dalam pertemuan tersebut dinyatakan,  bahwa yang namanya Permesywar adalah wujud yang bebas dari rasa amarah, benci, dendam dan kecemburuan. Mungkin yang dimaksud si pembicara ingin mengatakan bahwa kata amarah dalam Al-Quran pernah digunakan berkaitan dengan Wujud Allah Swt..  Sebagai perbandingan ia ingin mengemukakan bahwa dalam kitab Veda tidak ada istilah Tuhan menjadi marah.
    Jelas dalam hal ini yang bersangkutan melakukan kesalahan. Perlu dipahami bahwa dalam Al-Quran tidak ada dikatakan kalau Tuhan itu bisa angkara murka tanpa alasan. Yang dikemukakan dalam Al-Quran adalah karena Sifat Suci-Nya maka Allah  Swt.  memiliki Sifat yang mirip dengan amarah dan Sifat itu menuntut agar mereka yang tidak patuh, yang tetap saja melawan petunjuk Tuhan perlu dihukum.
     Tuhan juga memiliki Sifat lain yang mirip dengan kecintaan, yang menuntut bahwa mereka yang saleh dan patuh akan mendapat ganjaran yang baik. Sifat yang pertama diberi nama amarah hanya untuk tujuan ilustrasi, namun yang jelas baik  itu Sifat amarah mau pun kecintaan-Nya tersebut tidak sama dengan sifat yang ada pada manusia. Allah Yang Maha Kuasa telah berfirman dalam Al-Quran bahwa:
لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ
 Tiada sesuatu apa pun seperti Dia  (Al-Syurā  [42]:12),
yang berarti bahwa tiada apa pun yang menyamai Wujud atau pun Sifat Tuhan. Kami ingin bertanya kepada si pembicara, mengapa Permesywar sebagaimana diuraikan dalam kitab Veda, menghukum para pendosa, bahkan sedemikian rupa menurunkan status kemanusiaan mereka sehingga menjadi hewan anjing, babi, kera dan lain-lain? Tentunya wujud itu mempunyai suatu sifat yang menuntut adanya penghukuman demikian. Sifat demikian dalam Al-Quran dikatakan sebagai amarah Tuhan.
   Jika Permesywar tidak mempunyai sifat yang menjadikan wujud tersebut menghukum para pendosa, lalu mengapa Dia cenderung kepada proses  penghukuman? Dia pasti memiliki sifat yang menuntut imbalan dan sifat itu disebut amarah, hanya saja sifat amarah itu setara dengan amarah dari Tuhan dan tidak sama dengan sifat amarah pada manusia. Hal seperti itulah yang dimaksud dengan amarah dalam Al-Quran.
    Ketika Allah  Swt. mengaruniakan rahmat-Nya kepada mereka yang bertakwa, dikatakan bahwa Dia mencintai mereka. Saat Dia menghukum mereka yang berlaku keji, dikatakan bahwa Dia murka kepada mereka. Dengan demikian amarah yang dikemukakan dalam kitab Veda adalah juga sama dengan yang disampaikan oleh Al-Quran. Perbedaannya hanyalah, bahwa berdasarkan kitab Veda, kemurkaan Tuhan atas para pendosa tak ada batasnya dan bisa mengutuk mereka menjadi hewan atau serangga, sedangkan Al-Quran tidak ada mengemukakan amarah Tuhan yang demikian ekstrim.
    Kitab Suci Al-Quran menyatakan bahwa walaupun manusia bisa saja dihukum tetapi Tuhan tidak akan mengubah fitrat kemanusiaan yang bersangkutan untuk diubah menjadi bentuk lain. Hal ini menggambarkan bahwa dalam Al-Quran digambarkan bahwa kasih dan rahmat Tuhan masih lebih besar daripada amarah-Nya, sedangkan menurut kitab Veda penghukuman para pendosa tidak ada batasnya dan sang Permesywar digambarkan sebagai pemarah yang tidak mempunyai rasa belas kasihan. Bahkan dalam Al-Quran dikatakan bahwa Allah Swt. pun akan mengasihi para penghuni neraka.”  (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm. 46-50, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 20 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar