بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 76
Hubungan Azab Ilahi Dengan “Sujudnya” Para Malaikat Kepada Adam
(Khalifah Allah) & Tertariknya Partikel Alam Semesta Kepada Hamba-hamba Allah yang Hakiki
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna
ayat وَ نَفۡسٍ وَّ مَا
سَوّٰىہَا -- “dan demi jiwa dan penyempurnaannya”, berarti
bahwa semua khasiat yang
dipersembahkan benda-benda langit
seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (mengkhidmati) makhluk-makhluk
Allah dan yang mengenai kenyataan itu telah disebutkan dalam ayat 10,
memberi kesaksian bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi.
Berbagai Kemampuan Manusia Sebagai “Micro
Cosmos”
Pada hakikatnya, manusia adalah alam semesta
ukuran kecil (micro cosmos) dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil (miniatur) segala sesuatu yang terwujud di alam semesta, yakni:
(1) Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya
ke alam dunia serta meneranginya
dengan kilauan cahaya hikmah dan ilmu.
(2) Bagaikan
bulan ia memancarkan kembali cahaya kasyaf, ilham, dan wahyu yang
dipinjamnya dari Surber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka yang
bermukim di dalam kegelapan.
(3) Ia terang
benderang bagaikan siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan.
(4) Bagaikan malam ia menutupi keaiban
dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban mereka, dan memberikan
istirahat kepada si lelah dan si
letih.
(5) Seperti langit ia menaungi setiap
jiwa yang bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang member kesegaran.
(6) Bagaikan
bumi ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan
untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki orang-orang, sebagai cobaan (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu tumbuhlah
dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon
ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, serta dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
Demikianlah orang-orang kudus dan para mushlih
rabbani, di antaranya yang terbesar
dan paling sempurna ialah Nabi
Besar Muhammad, Rasulullah saw., sehingga menjadi suri teladan terbaik bagi orang-orang yang menginginkan kedekatan bahkan “perjumpaan” dengan Allah Swt. di dalam kehidupan dunia ini juga,
firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ
وَ ذَکَرَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat
suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang
yang mengharapkan Allah dan Hari
Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb
[33]:22).
Firman-Nya
lagi kepada Nabi besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu be-nar-benar mencintai Allāh maka ikuti-lah398 aku, Allāh pun akan mencin-taimu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. Dan Allāh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali
‘Imran [3]:32).
Kemudian sesuai dengan doa dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7 mengenai permohonan
memperoleh nikmat ruhani sebagaimana
yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada orang-orang sebelumnya (mun’am
‘alayhi) Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini فَاُولٰٓئِکَ
مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ
الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah sahabat
yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ
کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha
Mengetahui. (An-Nisa [4]:70-71).
Firman Allah Swt. Mengenai Mukjizat
Nabi Besar Muhammad Saw.
Kembali
kepada Surah Asy-Syams, makna
ayat فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا -- maka
Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya” (ayat 9), Allah Swt. telah menanamkan dalam fitrat
manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan
kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan
ruhani dengan menjauhi apa yang buruk
dan salah dan menerima apa yang benar dan baik, sehingga akan memperoleh kesuksesan
dalam kehidupannya, baik di dunia mau
pun di akhirat: قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا -- Sungguh
beruntunglah orang yang mensucikannya, وَ
قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا -- dan
sungguh binasalah orang yang mengotorinya (Asy-Syams [91]:10-11) .
Sehubungan pentingnya upaya pensucian diri melalui ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya --
terutama Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32) -- berupa iman dan amal shaleh, lebih lanjut Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Seorang hamba memperlihatkan kecintaannya yang suci kepada Allah
Swt. melalui perilakunya yang baik, tetapi tanggapan
Allah sungguh luar biasa.
Melihat kemajuan hambanya
yang cepat maka Tuhan akan bergegas bergerak
ke arahnya seperti kilat dan memperlihatkan Tanda-tanda
bagi dirinya, baik di langit mau pun
di bumi. Dia akan menjadi Sahabat
bagi para sahabat hamba tersebut dan menjadi musuh bagi para musuhnya.
Misalnya pun berjuta-juta manusia
menentang hamba itu, Tuhan akan melumatkan mereka dan menjadikan
mereka tidak berdaya sebagaimana laiknya serangga mati. Bisa
saja Dia menghancurkan seluruh dunia
demi hamba-Nya tersebut dan menjadikan bumi dan langit tunduk
kepadanya.
Dia akan memberkati kata-kata yang diucapkannya dan menurunkan hujan nur di atas kediamannya. Dia akan memberkati
pakaian yang dikenakan, pangan
yang disantap dan bahkan debu yang diinjaknya. Dia tidak akan membiarkan hamba itu mati dalam keadaan gagal dan Dia Sendiri Yang akan menjawab
mereka yang menentangnya. Dia menjadi mata yang
dengannya ia melihat, menjadi telinga yang dengannya ia mendengar,
menjadi lidah yang dengannya ia berbicara,
menjadi kaki yang dengannya ia berjalan
dan menjadi tangan yang dengannya ia menangani musuh-musuhnya.
Dia Sendiri akan maju mengedepankan Wujud-Nya untuk menangani
musuh-musuh hamba-Nya itu.
Dia akan mencabut pedang terhadap
para musuh yang jahat yang menganiayanya serta menjadikan
yang bersangkutan berjaya (sukses) di semua bidang.
Dia akan membukakan rahasia-rahasia takdir-Nya kepada
hamba-Nya
itu.
Yang pertama sekali yang akan menghargai keindahan keruhanian yang muncul setelah perilaku dan amal saleh serta kecintaannya kepada
Tuhan, adalah Allah
Swt. Sendiri. Alangkah sialnya manusia yang hidup pada masa itu dimana ada matahari
bersinar terang bagi mereka tetapi mereka
memilih termangu di tempat kegelapan.” (Zamimah Brahin-i-i
Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm.
225, London, 1984).
Sabda Masih
Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits qudsi berikut ini:
فَلَمۡ
تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ
لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ رَمٰی -- dan
bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ بَلَآءً
حَسَنًا --
dan supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
Hadits
Qudsi Nabi Besar
Muhammad Saw. Mengenai Para Wali Allah & Mewujudnya “Keindahan Ruhani” Para Hamba Allah yang Hakiki
Sesuai dengan pernyataan Allah Swt.
tersebut Dari
Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa
Rasulullah Shallallāhu 'Alaihi Wasallam
bersabda:
Sesungguhnya
Allah Ta'ala berfirman, "Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya.
Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku
dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri
kepadaKu dengan amalan-amalan Sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku
mencintainya maka Aku menjadi
pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar,
sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya
yang ia gunakan untuk berbuat, dan
sebagai kakinya yang ia gunakan
untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku
pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku
pasti Aku akan melindunginya.”
(HR. Al-Bukhari).
Lebih
jauh Masih Mau’ud a.s. bersabda
mengenai hakikat kedekatan atau “perjumpaan”
-- bahkan “perpaduan” -- kehendak
“hamba-hamba” Allah Swt. dengan kehendak Allah Swt. tersebut:
“Setelah sempurnanya kerangka
(struktur) keruhanian maka nyala api kecintaan insan
kepada Tuhan-nya akan turun di dalam batin manusia
berupa ruh dan mengaruniakan
kepadanya perasaan bahwa ia
selalu berada di hadirat Allah
Swt.. Dengan tercapainya tingkat kesempurnaan demikian maka keindahan ruhani
yang bersangkutan pada saat itu akan mewujud sepenuhnya.
Keindahan ruhaniah yang bisa disebut sebagai amal saleh tersebut
-- karena daya tariknya -- akan jauh
lebih cantik daripada keindahan penampakan lahiriah. Kecantikan lahiriah hanya bisa menarik hati satu atau dua orang dan
segera akan pupus dimakan usia. Daya tariknya amat lemah. Sedangkan keindahan
ruhaniah yang disebut amal saleh itu memiliki daya
tarik yang kuat, yang mampu menarik
seluruh dunia berikut isinya kepada dirinya. Hal inilah yang menjadi landasan falsafah dari pengabulan
doa.
Jika seseorang yang memiliki kecantikan ruhaniah yang
dilambari oleh ruh dari kecintaan Ilahi, kemudian mengajukan permohonan doa atas
suatu hal yang tidak mungkin atau amat sulit dan ia memohonnya dengan amat khusyuk,
maka berkat dari keindahan ruhaniahnya itu
Allah Swt. akan memerintahkan
semua partikel dari alam semesta ini menjadi tertarik
kepadanya, guna memberikan bantuan
dan sarana bagi keberhasilan
tujuannya.
Baik pengalaman mau pun Kitab
Allah menegaskan bahwa segenap
partikel dunia ini mempunyai afinitas atau kecintaan
alamiah kepada manusia
seperti itu dimana doa-doanya menarik semua partikel ke arah dirinya, sebagaimana magnit menarik besi. Dari keadaan daya
tarik demikian akan muncul hal-hal
luar biasa yang tidak ada
disebut dalam buku-buku fisika atau filsafat.
Dari sejak diciptakan-Nya
setiap benda dari kumpulan partikel oleh Sang Maha Pencipta, Dia telah menanamkan daya tarik tersebut di dalam setiap partikel, sehingga partikel-partikel
ini menjadi pencinta keindahan ruhaniah. Begitu juga
halnya dengan jiwa yang saleh karena keindahan merupakan manifestasi (perwujudan) dari kebenaran. Adalah keindahan demikian itulah yang
dimaksud ketika Allah Swt. memerintahkan para malaikat “menyembah” (bersujud kepada) Adam
dan mereka mematuhinya kecuali sang iblis.
Sekarang ini pun banyak manusia
yang mirip iblis karena tidak
mau mengakui keindahan
demikian, padahal keindahan demikian
telah mengemukakan berbagai hal yang akbar
(besar). Keindahan yang sama terdapat pada diri Nabi Nuh a.s. dimana berdasarkan hal itu maka Allah Yang Maha Agung telah menghancurkan semua
musuhnya melalui siksaan
air bah.
Kemudian muncul Nabi Musa a.s. dengan keindahan keruhanian yang sama
dan ia -- setelah sebelumnya menderita beberapa hari -- telah menjadi sebab kejatuhan Fir’aun. Yang
terakhir adalah Penghulu para nabi
dan insan kamil (manusia sempurna), Penghulu dan Junjungan kita Muhammad saw., muncul dengan keindahan keruhanian
yang akbar yang juga dipuji
dalam ayat Al-Quran:
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿۹﴾ فَکَانَ
قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
Kemudian ia
mendekati Allah, lalu turun
mendekati umat manusia, maka jadilah
ia seakan-akan seutas tali dua busur
atau lebih dekat lagi
(Al-Najm [53]:9-10).
Berarti bahwa Rasulullah saw. telah mendekat rapat kepada Allah Swt., kemudian beliau saw. mendekati umat manusia, dan dengan cara demikian beliau telah
memenuhi kewajiban beliau kepada Tuhan dan kepada manusia.
Dengan begitu melalui beliau telah
diperlihatkan kedua jenis keindahan keruhanian.” (Zamimah
Brahin-i-Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm.
219-221, London, 1984).
Mengisyaratkan kepada Sunnatullah itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini mengenai akibat
buruk yang pasti menimpa para penentang
Rasul Allah, jika mereka tidak segera bertaubat
dari kezalimannya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ
﴿﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya
mereka itu termasuk orang-orang yang
sangat hina. Allah
telah menetapkan: “Aku dan
rasul-rasul-Ku pasti
akan me-nang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat,
Maha Perkasa. (Al-Mujādalah
[58]:21-22).
Ada tersurat nyata
pada lembaran-lembaran sejarah, bahwa kebenaran
senantiasa menang terhadap kepalsuan. Inilah sebabnya kaum-kaum
purbakala yang menentang para Rasul Allah dengan zalim telah dibinasakan dengan azab Ilahi yang diperingatkan Rasul
Allah kepada mereka (QS.17:16; QS.20:135-136; QS.22:46; QS.28:59).
“Kemurkaan”
Allah Swt. Tidak sama dengan Kemurkaan Manusia
Azab-azab
Ilahi yang menimpa kaum-kaum
purbakala para penentang Rasul Allah
disebut sebagai “kemurkaan” Allah
Swt., tetapi menurut Masih Mau’ud a.s. kemurkaan
atau kemarahan atau kebencian Allah Swt.
tidak sama dengan yang manusia
lakukan, sebab apa pun yang dilakukan manusia
-- baik melakukan ketaatan mau
pun kedurhakaan kepada Allah Swt. --
sama sekali tidak ada pengaruhnya
(untung atau rugi) bagi Allah Swt., melainkan akibat baik mau pun akibat
buruknya manusia sendiri yang akan mengalaminya.
Itulah sebabnya Allah Swt.
berfirman ketika manusia mengalami akibat
buruk dari perbuatannya bahwa “bukan
Kami yang berbuat zalim kepadanya melainkan mereka berbuat zalim atas dirinya sendiri” (QS.2:58; QS.3:118; 9:70; QS.10:45; QS.29:41;
QS.30:10). Sehubungan dengan hal
tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Dalam artikel yang dibacakan
dalam pertemuan tersebut dinyatakan,
bahwa yang namanya Permesywar adalah wujud yang bebas dari rasa amarah,
benci, dendam dan kecemburuan.
Mungkin yang dimaksud si pembicara ingin mengatakan bahwa kata amarah
dalam Al-Quran pernah digunakan berkaitan dengan Wujud Allah Swt.. Sebagai perbandingan ia ingin mengemukakan
bahwa dalam kitab Veda tidak ada
istilah Tuhan menjadi marah.
Jelas dalam hal ini yang bersangkutan melakukan kesalahan. Perlu dipahami bahwa dalam Al-Quran tidak ada dikatakan kalau Tuhan itu bisa angkara murka
tanpa alasan. Yang
dikemukakan dalam Al-Quran adalah karena Sifat Suci-Nya maka Allah
Swt. memiliki Sifat yang mirip dengan amarah
dan Sifat itu menuntut agar mereka
yang tidak patuh, yang tetap saja melawan petunjuk Tuhan perlu dihukum.
Tuhan juga memiliki Sifat lain yang mirip
dengan kecintaan, yang menuntut bahwa mereka yang saleh
dan patuh akan mendapat ganjaran yang baik. Sifat yang pertama diberi nama amarah
hanya untuk tujuan ilustrasi, namun yang jelas
baik itu Sifat amarah mau
pun kecintaan-Nya tersebut tidak sama dengan sifat yang ada pada manusia. Allah Yang Maha Kuasa telah
berfirman dalam Al-Quran bahwa:
لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ
Tiada
sesuatu apa pun seperti Dia (Al-Syurā
[42]:12),
yang berarti bahwa tiada apa pun yang
menyamai
Wujud atau pun Sifat Tuhan. Kami
ingin bertanya kepada si pembicara, mengapa Permesywar
sebagaimana diuraikan dalam kitab Veda, menghukum para pendosa, bahkan
sedemikian rupa menurunkan status kemanusiaan mereka
sehingga menjadi hewan anjing, babi, kera dan lain-lain?
Tentunya wujud itu mempunyai suatu sifat
yang menuntut adanya penghukuman
demikian. Sifat demikian dalam
Al-Quran dikatakan sebagai amarah Tuhan.
Jika Permesywar tidak
mempunyai sifat yang menjadikan wujud
tersebut menghukum para pendosa, lalu mengapa Dia cenderung
kepada proses penghukuman? Dia
pasti memiliki sifat yang menuntut imbalan
dan sifat itu disebut amarah, hanya saja sifat
amarah itu setara dengan amarah dari Tuhan dan tidak sama dengan sifat amarah pada manusia. Hal seperti itulah yang
dimaksud dengan amarah dalam Al-Quran.
Ketika Allah Swt. mengaruniakan rahmat-Nya kepada mereka yang bertakwa, dikatakan
bahwa Dia mencintai mereka. Saat Dia
menghukum mereka yang berlaku keji, dikatakan bahwa Dia
murka kepada mereka. Dengan
demikian amarah yang dikemukakan dalam kitab Veda adalah juga sama dengan yang disampaikan oleh
Al-Quran. Perbedaannya hanyalah,
bahwa berdasarkan kitab Veda, kemurkaan Tuhan atas para pendosa tak ada batasnya dan
bisa mengutuk mereka menjadi hewan atau serangga, sedangkan
Al-Quran tidak ada mengemukakan amarah
Tuhan yang demikian ekstrim.
Kitab Suci Al-Quran
menyatakan bahwa walaupun manusia bisa saja dihukum tetapi Tuhan tidak akan mengubah fitrat
kemanusiaan yang bersangkutan untuk diubah menjadi bentuk
lain. Hal ini menggambarkan bahwa dalam Al-Quran digambarkan bahwa kasih
dan rahmat Tuhan masih lebih besar daripada amarah-Nya,
sedangkan menurut kitab Veda penghukuman
para pendosa tidak ada batasnya dan sang Permesywar
digambarkan sebagai pemarah yang tidak mempunyai rasa belas
kasihan. Bahkan dalam Al-Quran dikatakan bahwa Allah Swt. pun akan mengasihi para penghuni neraka.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm.
46-50, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 20 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar