بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 71
Ketertarikan Alamiah Manusia
Terhadap Segala Sesuatu yang Indah Merupakan Bukti Kerinduannya
Kepada Allah Swt. -- Sumber Semua Kesempurnaan dan Keindahan
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
sabda Masih Mau’ud a.s. tentang pemberitahuan yang gaib dari Allah Swt. kepada para rasul Allah (QS.3:180), terutama Nabi Besar Muhammad saw.. -- dengan tiga
cara berkomunikasi,
karena pada hakikatnya tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui hal-hal gaib kecuali mendapat pemberitahuan melalui wahyu
Ilahi, firman-Nya:
وَ مَا
کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ
اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ
وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ
اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ
مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ﴾ صِرَاطِ اللّٰہِ
الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ اِلَی
اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya,
kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan
dengan seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki, sesungguhnya, Dia Maha
Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ
تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman
itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی
صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya
engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang
ada di bumi. اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ
تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali. (Asy-Syūrā
[42]:52-54).
Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi dengan Manusia & Pengalaman Rutin Masih Mau’ud a.s. Berkomunikasi dengan Allah Swt.
Ayat 52
menyebut tiga cara Allah Swt. berbicara
atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a) Allah Swt. berfirman secara langsung kepada mereka tanpa
perantara.
(b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau
kadang-kadang membuat mereka mendengar
kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak
melihat wujud yang berbicara
kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari
belakang tabir,"
(c)
Allah Swt. menurunkan
seorang utusan (rasul) atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
Dalam ayat selanjutnya Al-Quran disebut ruh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan
perantaraannya bangsa yang telah mati
keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru: وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- “Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami.”
Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt. dan menyadarkan
manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya (QS.51:57), itulah
makna ayat: وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.”
Makna ayat اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ
تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- “ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali” bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di Tangan Allah Swt.. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa beliau
saw. adalah manusia biasa seperti manusia
lainnya, ada pun perbedaannya
adalah Allah Swt. senantiasa berkomunikasi dengan beliau saw., karena
beliau saw. adalah rasul Allah, firman-Nya:
قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ
عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:
”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti
kamu, tetapi telah diwahyukan
kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu
adalah Rabb (Tuhan) Yang Maha Esa, فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ -- maka barangsiapa mengharap akan bertemu
dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا -- maka hendaklah ia beramal saleh dan ia
jangan mempersekutukan siapa pun dalam
beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)." (Al-Kahf
[18]:111).
Masih Mau’ud a.s. Senantiasa Berkomunikasi dengan Allah Swt. & Kesaksian
Ruh Manusia Mengenai Tauhid Ilahi
Sehubungan dengan tiga cara berkomunikasi
yang dilakukan Allah Swt. dengan para rasul
Allah -- terutama dengan Nabi Besar
Muhammad saw. -- tersebut
Masih Mau’ud a.s. bersabda
mengenai pengalaman pribadi beliau tentang
hal itu:
“Tuhan kita Yang Maha Hidup
dan Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri
(Al-Hayyul-Qayyum) telah bercakap-cakap dengan diriku
sebagaimana dua orang berbicara satu
dengan lainnya. Aku biasa bertanya kepada-Nya serta memohon kepada-Nya
dan Dia akan menjawab dengan firman
yang penuh kekuatan. Meskipun aku bertanya seribu kali namun Dia tidak pernah tidak menjawab.
Dengan firman-Nya Dia telah membukakan hal-hal ajaib yang tersembunyi
dan memperlihatkan penampakan kekuasaan yang luar biasa hingga jelas sekali bahwa hanya
Dia-lah satu-satunya yang patut disebut
Allah. Dia menerima doa-doa dan memberitahukan pengabulannya. Dia memecahkan masalah-masalah yang sulit
dan melalui permohonan yang berulang-ulang
telah menghidupkan kembali
mereka yang sakit yang sudah hampir
mati.
Dia terlebih dulu mengemukakan rencana-Nya dalam kata-kata yang berkaitan dengan masa depan. Dia membuktikan bahwa hanya Dia
itulah Tuhan seluruh alam. Dia berbicara kepadaku dan memberitahukan bahwa Dia akan menjaga diriku terhadap kematian karena wabah pes beserta mereka yang saleh dan bertakwa yang berdiam
di dalam rumahku. Kecuali diriku,
siapakah lagi dalam abad ini yang telah
mempublikasikan wahyu seperti
itu, yang mengemukakan janji Tuhan berkenaan dengan anggota keluargaku dan orang-orang saleh lainnya yang tinggal di dalam rumah ini?” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm.
448-449, London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kebenaran Tauhid Ilahi yang telah Allah Swt. tanamkan pada setiap ruh
(jiwa) manusia sebagaimana firman-Nya:
وَ اِذۡ
اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ
اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا
عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ
تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil kesaksian dari Bani
Adam yakni dari sulbi keturunan mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?”
Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ
-- Hal itu
supaya kamu tidak berkata pada Hari
Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا
غٰفِلِیۡنَ -- “Sesungguhnya
kami
benar-benar lengah dari hal
ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا
اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
-- Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh
orang-orang yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda
itu dan supaya mereka kembali kepada yang
haq. (Al-A’rāf
[7]:173-175).
Ayat 173 menunjukkan
kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan
seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk
kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. dan ungkapan “dari sulbi bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah dari kalangan Bani
Adam diutus (QS.7:35-37).
Pada
hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul baru
itulah yang mendorong timbulnya
pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- “Bukankah Aku Rabb
(Tuhan) kamu?” Sebab pengutusan setiap Rasul
Allah adalah untuk menegakkan
kembali Tauhid Ilahi yang telah “terkubur” dalam kemusyrikan pada zaman tersebut, dan orang-orang yang beriman kepada rasul Allah tersebut menjawab: قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”
Makna “Pertanyaan” Allah Swt. kepada “Ruh” Manusia & Kecenderungan Manusia Mencari
Wujud Yang Maha Agung
Pertanyaan
Allah Swt. itu berarti pula, bahwa jika
Allah Swt. telah menyediakan perbekalan
untuk keperluan jasmani manusia dan
demikian pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian
maka betapa manusia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
Sesungguhnya
karena menolak nabi Allah maka
manusia menjadi saksi terhadap
diri mereka sendiri, sebab jika demikian
mereka tidak dapat berlindung di balik dalih
bahwa mereka tidak mengetahui Allah Swt. atau syariat-Nya atau Hari Pembalasan,
firman-Nya: اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ -- Hal itu
supaya kamu tidak berkata pada Hari
Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا
غٰفِلِیۡنَ -- “Sesungguhnya kami
benar-benar lengah dari hal
ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- Atau
kamu mengatakan: ”Sesungguhnya
bapak-bapak kami dahulu yang berbuat
syirik, sedangkan kami hanyalah
keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ
الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerja-kan oleh orang-orang yang berbuat batil
itu?”
Jadi, kemunculan seorang nabi Allah juga menghambat kaumnya
dari mengemukakan dalih seperti dalam
ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah
haq (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan terang
benderang dicela.
Sehubungan
dengan telah ditanamkan-Nya Tauhid Ilahi dalam ruh
atau jiwa
atau dalam fitrat manusia tersebut Masih Mau’ud
a.s. bersabda:
“Salah satu kondisi alamiah
dari seseorang adalah ketertarikan
untuk mencari suatu Wujud yang lebih agung dari
dirinya. Pencaharian demikian sudah dimulai sejak seorang anak dilahirkan. Begitu lahir
maka akan muncul kecenderungan dalam dirinya untuk mendekat (melekat) kepada ibunya,
dan secara alamiah ia akan mencintai diri ibunya itu.
Sejalan dengan perkembangan indera dan sifat-sifatnya maka
rasa kecintaan tersebut akan menjadi suatu hal yang mantap tertanam di dalam batinnya.
Ia tidak akan dapat menemukan kenyamanan lain selain di pangkuan ibunya. Jika ia dipisahkan dari ibunya maka hidup baginya menjadi terasa
pahit. Tak peduli betapa banyak hadiah
ditumpukkan di hadapannya, ia hanya akan menemukan
kedamaian di pangkuan ibunya. Lalu apa bentuk ketertarikan
sang anak itu terhadap ibunya
tersebut?
Gejolak Kerinduan
Ruh
Manusia Kepada Allah Swt. & Penyebab Terjerumus
Ke Dalam Kemusyrikan
Sesungguhnya bentuk ketertarikan yang sama juga yang
ada dalam fitrat manusia dalam mencari
Tuhan-Nya. Semua bentuk kecintaan
yang diperlihatkan seseorang
sebenarnya bersumber dari ketertarikan tersebut. Kegelisahan yang dialami seorang pencinta
sebenarnya juga merupakan cerminan
dari bentuk kecintaan demikian.
Dalam kegelisahannya itu ia memperhatikan segala hal dan mencari
sesuatu yang telah hilang
yang namanya telah hilang
dari ingatan.
Kecintaan seseorang kepada harta benda, anak, isteri atau suara merdu nyanyian seorang biduan,
pada kenyataannya merupakan bentuk pencaharian kecintaan yang hilang.
Karena manusia tidak bisa melihat Wujud [Allah Swt.] Yang Tidak Kelihatan
dengan mata fisiknya atau pun menemukan
Diri-Nya melalui penalarannya
yang tidak sempurna, padahal keingin-tahuan itu merupakan
suatu yang latent (tersembunyi) di dalam diri tiap orang bagai api dalam sekam, maka manusia cenderung
melakukan berbagai kesalahan dalam pemahaman
mengenai Tuhan. Bahkan dalam kesalahan pandangannya itu
manusia cenderung mengatributkan Sifat-sifat-Nya kepada wujud lain.
Allah Yang Maha Kuasa telah
memberikan tamsil (perumpamaan)
yang indah di dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa dunia ini adalah sebagai (bagaikan) suatu istana besar yang
berlantaikan ubin
kaca bening dengan bentangan air yang mengalir cepat di bawahnya. Seseorang yang melihat ubin kaca itu mengira bahwa ubin [istana] itu adalah air sehingga ia takut
berjalan di atasnya, padahal nyatanya adalah kaca yang bening dan tembus pandang.
Begitulah, benda-benda langit
seperti matahari dan bulan yang terlihat jelas kemudian
menjadi sembahan. Di belakang
semuanya itu ada Maha Kekuataan yang mengalir deras seperti air.
Adalah kekeliruan dari mereka yang menyembah barang ciptaan tersebut dengan mengatribusikan (menisbahkan) kekuatan tersebut
kepada kacanya. Inilah tafsir dari ayat:
قَالَ اِنَّہٗ
صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ
‘Ini istana yang berlantaikan ubin dari kaca’ (An-Naml
[27]:45).
Perlunya Wahyu Ilahi untuk Mencapai Kepastian Mutlak
Mengingat Wujud Allah Yang Maha Kuasa meskipun demikian cemerlang
namun tersembunyi dari pandangan mata, dan alam
jasmani ini tidak cukup mampu mengenali-Nya, karena itulah maka
mereka yang bertumpu pada system
phisikal (sistim jasmani) yang tertata rapi, dalam usahanya memahami segala keajaiban melalui ilmu perbintangan
(astronomi), fisika maupun filosofi, yang telah menembus ke langit dan bumi,
semua itu tidak bisa menghilangkan
keraguan dan kecurigaan
mereka sehingga mereka menjadi hanyut
dalam berbagai bentuk kesalahan dan tersesat
jauh mengejar bayangan fikiran
mereka sendiri.
Kalau mereka memandang alam
semesta ini dan memperhatikan keteraturan di dalamnya, mereka
baru sampai pada kesimpulan bahwa mungkin memang ada
sesosok Wujud Pencipta.
Jelas bahwa pandangan demikian belum
lengkap dan pemahaman seperti itu tidak
sempurna, karena mengatakan bahwa sistem ini memerlukan adanya Tuhan, tidak sama dengan
menyatakan bahwa Tuhan memang eksis (ada). Ini hanyalah duga-dugaan mereka yang tidak bisa memberikan kepuasan
dan keselesaan (ketentraman)
batin,
serta juga tidak bisa menghilangkan keraguan.
Semuanya itu belum merupakan cawan (minuman) yang bisa menghilangkan dahaga
manusia akan pemahaman seutuhnya yang sudah inheren (melekat) dalam tabiat manusia.
Bahkan pemahaman mentah seperti itu membawa bahaya, karena
setelah menimbulkan kegalauan sesaat lalu berakhir
dengan kehampaan.
Sepanjang Allah Yang Maha Kuasa
tidak mengukuhkan eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) melalui firman-Nya maka penelaahan
atas hasil kinerja-Nya (ciptaan-Nya) semata tidak akan memberikan kepuasan. Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah kamar yang terkunci dari dalam,
reaksi pertama kita adalah mengatakan bahwa ada seseorang di dalam
kamar yang telah menguncinya dari
dalam karena mengunci dari luar
jelas tidak mungkin.
Namun jika setelah suatu jangka waktu lama tidak juga ada
yang menanggapi dari dalam kamar -- meskipun berulangkali telah diseru -- maka
kita harus menanggalkan asumsi yang menyatakan bahwa ada
seseorang di dalam, dan kita
mulai membayangkan bahwa sebenarnya kamar itu kosong, sedangkan terkuncinya
kamar melalui suatu cara yang canggih (ajaib).
Pentingnya Respons (Tanggapan)
dari Tuhan Sendiri Mengenai “Keberadaan-Nya”
Hal seperti inilah yang terjadi pada diri para filosof (ahli filsafat)
yang pandangannya tidak
melampaui batas semata hanya menelaah
hasil kinerja Tuhan. Adalah
suatu kekeliruan besar untuk
membayangkan bahwa Tuhan itu seperti mayat
yang harus dikeluarkan manusia dari kuburnya. Jika Tuhan harus ditemukan melalui upaya
manusia maka semua harapan kita atas Tuhan tersebut menjadi tidak ada artinya.
Sesungguhnya Tuhan
adalah Wujud Yang selalu memanggil manusia ke arah-Nya
dengan menyatakan: “Aku ini ada.” Merupakan suatu kekonyolan
untuk membayangkan bahwa Tuhan harus sejalan dengan pemahaman
manusia dan menganggap bahwa jika tidak karena para filosof maka Dia tidak akan dikenal.
Juga merupakan kekurangajaran untuk menanyakan apakah Tuhan memiliki lidah untuk berbicara?
Bukankah Dia telah menciptakan
semua benda di langit dan di bumi tanpa bantuan tangan jasmani?
Bukankah Dia memandang ke seluruhan
alam ini tanpa mata jasmani? Tidakkah Dia itu mendengar tanpa telinga jasmani? Dengan
sendirinya juga maka Dia bisa berbicara. Adalah keliru mengatakan bahwa Tuhan hanya berbicara di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi yang tersisa di masa depan. Kita tidak akan
pernah bisa mematok firman atau kata-kata-Nya hanya
pada suatu periode tertentu saja.
Tidak diragukan lagi bahwa Dia akan memperkaya para pencari-Nya
dari sumber mata air wahyu
sebagaimana yang telah dilakukan-Nya sejak dulu. Gerbang keridhaan-Nya
tetap terbuka sekarang sebagaimana
juga terbuka sejak sebelumnya. Yang
benar adalah, setelah kebutuhan akan kaidah (hukum) dan petunjuk
telah dipenuhi, maka semua kenabian dan kerasulan mencapai kulminasi
(puncak) kesempurnaannya pada titik akhir dalam diri Junjungan dan Penghulu kita, Rasulullah
Muhammad saw.“ (Islami Usul ki Philosophy (Falsafah Ajaran Islam) sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 10, hlm.
363-367, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 18 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar