Selasa, 20 Oktober 2015

Ketertarikan Alamiah Manusia Terhadap Semua yang Indah Merupakan Bukti "Kerinduannya" Kepada Allah Swt. -- Sumber Semua Kesempurnaan dan Keindahan



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 71

  Ketertarikan  Alamiah   Manusia  Terhadap Segala Sesuatu yang Indah  Merupakan Bukti Kerinduannya Kepada Allah Swt. --  Sumber Semua Kesempurnaan   dan Keindahan

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  sabda  Masih Mau’ud a.s.  tentang pemberitahuan yang gaib dari Allah Swt. kepada para rasul Allah (QS.3:180), terutama  Nabi Besar Muhammad saw.. --  dengan tiga cara   berkomunikasi, karena pada hakikatnya tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui hal-hal gaib  kecuali mendapat pemberitahuan melalui wahyu Ilahi, firman-Nya:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا --  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami.  مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.  وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus,  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ  --  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ  -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Asy-Syūrā [42]:52-54).

Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi dengan Manusia & Pengalaman Rutin Masih Mau’ud a.s. Berkomunikasi dengan Allah Swt.

  Ayat 52  menyebut tiga cara Allah Swt.      berbicara atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a)  Allah Swt.  berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara.
(b)  Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud   yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir,"
(c)   Allah Swt.  menurunkan seorang utusan (rasul) atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
  Dalam ayat selanjutnya  Al-Quran disebut  ruh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya  bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baruوَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا --  “Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami.”  
    Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt.  dan menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya (QS.51:57), itulah makna ayat: وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.”  
  Makna ayat اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ  -- “ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali”  bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di Tangan Allah Swt.. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa beliau saw. adalah manusia biasa seperti manusia  lainnya, ada pun perbedaannya adalah  Allah Swt. senantiasa berkomunikasi dengan beliau saw., karena beliau saw. adalah rasul Allah,  firman-Nya:
قُلۡ اِنَّمَاۤ  اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:  ”Sesungguh­nya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) Yang Maha Esa, فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ  --  maka barangsiapa mengharap akan bertemu  dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا -- maka hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan  memper­sekutukan siapa pun dalam ber­ibadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)."  (Al-Kahf [18]:111).

Masih Mau’ud a.s. Senantiasa Berkomunikasi  dengan Allah Swt. &  Kesaksian Ruh Manusia Mengenai Tauhid Ilahi

   Sehubungan dengan  tiga cara berkomunikasi yang dilakukan   Allah Swt. dengan  para rasul Allah   -- terutama dengan Nabi Besar Muhammad saw.    --  tersebut  Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pengalaman pribadi beliau tentang hal itu:
    “Tuhan kita Yang Maha Hidup dan Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Hayyul-Qayyum) telah bercakap-cakap dengan diriku sebagaimana dua orang berbicara satu dengan lainnya. Aku biasa bertanya kepada-Nya serta memohon kepada-Nya dan Dia akan menjawab dengan firman yang penuh kekuatan. Meskipun aku bertanya seribu kali namun Dia tidak pernah tidak menjawab.
     Dengan firman-Nya Dia telah membukakan hal-hal ajaib yang tersembunyi dan memperlihatkan penampakan kekuasaan yang luar biasa hingga jelas sekali bahwa hanya Dia-lah satu-satunya yang patut disebut Allah. Dia menerima doa-doa dan memberitahukan pengabulannya. Dia memecahkan masalah-masalah yang sulit dan melalui permohonan yang berulang-ulang telah menghidupkan kembali mereka yang sakit yang sudah hampir mati.
    Dia  terlebih dulu mengemukakan   rencana-Nya   dalam kata-kata yang berkaitan dengan masa depan. Dia membuktikan bahwa hanya Dia itulah Tuhan seluruh alam.  Dia berbicara kepadaku dan memberitahukan bahwa Dia akan menjaga diriku terhadap kematian karena wabah pes beserta mereka yang saleh dan bertakwa  yang berdiam di dalam rumahku. Kecuali diriku, siapakah lagi dalam abad ini yang telah mempublikasikan wahyu seperti itu, yang mengemukakan janji Tuhan berkenaan dengan anggota keluargaku dan orang-orang saleh lainnya yang tinggal di dalam rumah ini?” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 448-449, London, 1984).
      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kebenaran Tauhid Ilahi yang telah Allah Swt. tanamkan pada setiap ruh (jiwa) manusia  sebagaimana   firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  Bani Adam  yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri  sambil berfirman اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا --  ”Bukankah Aku  Rabb (Tuhan) kamu?” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”  اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ     --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  -- “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ  --  Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka.  اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ  --   Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu  dan supaya mereka kembali kepada yang haq.  (Al-A’rāf [7]:173-175).
  Ayat  173  menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. dan ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah dari kalangan Bani Adam diutus (QS.7:35-37).
  Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul baru itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan Ilahi:  اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ  -- “Bukankah  Aku Rabb (Tuhan) kamu?” Sebab pengutusan setiap Rasul Allah  adalah untuk menegakkan kembali Tauhid Ilahi  yang telah “terkubur” dalam kemusyrikan  pada zaman tersebut, dan orang-orang yang beriman kepada rasul Allah tersebut menjawab: قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا --  Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”  

Makna “Pertanyaan” Allah Swt. kepada “Ruh” Manusia &  Kecenderungan Manusia  Mencari Wujud Yang Maha Agung

  Pertanyaan Allah Swt.  itu berarti pula, bahwa jika Allah Swt. telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian  pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian maka  betapa manusia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
  Sesungguhnya karena menolak nabi Allah maka manusia menjadi saksi terhadap diri  mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih bahwa  mereka tidak mengetahui Allah Swt. atau syariat-Nya atau Hari Pembalasan, firman-Nya: اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ     --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  -- “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ  --  Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka.  اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerja-kan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”
 Jadi, kemunculan seorang nabi Allah juga menghambat kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah  haq   (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan  terang benderang dicela.
 Sehubungan dengan  telah ditanamkan-Nya Tauhid Ilahi dalam  ruh atau  jiwa atau dalam fitrat  manusia tersebut  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Salah satu kondisi alamiah dari seseorang adalah ketertarikan untuk mencari suatu Wujud yang lebih agung dari dirinya. Pencaharian demikian sudah dimulai sejak seorang anak dilahirkan. Begitu lahir maka akan muncul kecenderungan dalam dirinya untuk mendekat (melekat) kepada ibunya, dan secara alamiah ia akan mencintai diri ibunya itu.
      Sejalan dengan perkembangan indera dan sifat-sifatnya maka rasa kecintaan tersebut akan menjadi suatu hal yang mantap tertanam di dalam batinnya. Ia tidak akan dapat menemukan kenyamanan lain selain di pangkuan ibunya. Jika ia dipisahkan dari ibunya maka hidup baginya menjadi terasa pahit. Tak peduli betapa banyak hadiah ditumpukkan di hadapannya, ia hanya akan menemukan kedamaian di pangkuan ibunya. Lalu apa bentuk ketertarikan sang anak itu terhadap ibunya tersebut?

 Gejolak Kerinduan  Ruh Manusia Kepada Allah Swt. & Penyebab Terjerumus Ke Dalam Kemusyrikan

     Sesungguhnya bentuk ketertarikan yang sama juga yang ada dalam fitrat manusia dalam mencari Tuhan-Nya. Semua bentuk kecintaan yang diperlihatkan seseorang sebenarnya bersumber dari ketertarikan tersebut. Kegelisahan yang dialami seorang pencinta sebenarnya juga merupakan cerminan dari  bentuk kecintaan demikian. Dalam kegelisahannya itu ia memperhatikan segala hal dan mencari sesuatu yang telah hilang yang namanya telah hilang dari ingatan.
    Kecintaan seseorang kepada harta benda, anak, isteri atau suara merdu nyanyian seorang biduan, pada kenyataannya merupakan bentuk pencaharian kecintaan yang hilang. Karena manusia tidak bisa melihat Wujud [Allah Swt.] Yang Tidak Kelihatan dengan mata fisiknya atau pun menemukan Diri-Nya melalui penalarannya yang tidak sempurna, padahal keingin-tahuan itu merupakan suatu yang latent  (tersembunyi) di dalam diri tiap orang bagai api dalam sekam, maka manusia cenderung melakukan berbagai kesalahan dalam pemahaman mengenai Tuhan. Bahkan dalam kesalahan pandangannya itu manusia cenderung mengatributkan Sifat-sifat-Nya kepada wujud lain.
     Allah Yang Maha Kuasa telah memberikan tamsil (perumpamaan)  yang indah di dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa dunia ini adalah sebagai (bagaikan) suatu istana besar yang berlantaikan  ubin kaca bening dengan bentangan air yang mengalir cepat di bawahnya. Seseorang yang melihat  ubin kaca itu mengira bahwa  ubin [istana]  itu adalah air sehingga ia takut berjalan di atasnya, padahal nyatanya adalah kaca yang bening dan tembus pandang.
     Begitulah,    benda-benda langit seperti matahari dan bulan yang terlihat jelas  kemudian menjadi sembahan. Di belakang semuanya itu ada Maha Kekuataan yang mengalir deras seperti air. Adalah kekeliruan dari mereka yang menyembah barang ciptaan tersebut dengan mengatribusikan  (menisbahkan) kekuatan tersebut kepada kacanya. Inilah tafsir dari ayat:
قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ
Ini istana yang berlantaikan  ubin dari kaca’ (An-Naml [27]:45).

Perlunya Wahyu Ilahi  untuk Mencapai Kepastian Mutlak

     Mengingat Wujud   Allah Yang Maha Kuasa meskipun demikian cemerlang namun tersembunyi dari pandangan mata,  dan alam jasmani ini tidak cukup mampu mengenali-Nya, karena itulah maka mereka yang bertumpu pada system phisikal  (sistim jasmani) yang tertata rapi,  dalam usahanya memahami segala keajaiban melalui ilmu perbintangan (astronomi), fisika maupun filosofi, yang telah menembus ke langit dan bumi,   semua itu tidak bisa menghilangkan keraguan dan kecurigaan mereka sehingga mereka menjadi hanyut dalam berbagai bentuk kesalahan dan tersesat jauh mengejar bayangan fikiran mereka sendiri.
       Kalau mereka memandang alam semesta ini dan memperhatikan keteraturan di dalamnya, mereka baru sampai pada kesimpulan bahwa mungkin memang ada sesosok Wujud Pencipta. Jelas bahwa pandangan demikian belum lengkap dan pemahaman seperti itu tidak sempurna,  karena mengatakan bahwa sistem ini memerlukan adanya Tuhan, tidak sama dengan menyatakan bahwa Tuhan memang eksis (ada). Ini hanyalah duga-dugaan mereka yang tidak bisa memberikan kepuasan dan keselesaan (ketentraman) batin, serta juga tidak bisa menghilangkan keraguan.
       Semuanya itu belum merupakan cawan  (minuman) yang bisa menghilangkan dahaga manusia akan pemahaman seutuhnya yang sudah inheren  (melekat) dalam tabiat manusia. Bahkan pemahaman mentah seperti itu membawa bahaya,  karena setelah menimbulkan kegalauan sesaat lalu berakhir dengan kehampaan.
    Sepanjang Allah Yang Maha Kuasa tidak mengukuhkan eksistensi-Nya  (keberadaan-Nya) melalui firman-Nya maka penelaahan atas hasil kinerja-Nya (ciptaan-Nya) semata tidak akan memberikan kepuasan. Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah kamar yang terkunci dari dalam, reaksi pertama kita adalah mengatakan bahwa ada seseorang di dalam kamar yang telah menguncinya dari dalam karena mengunci dari luar jelas tidak mungkin.
    Namun jika setelah suatu jangka waktu lama tidak juga ada yang menanggapi dari dalam kamar  -- meskipun berulangkali telah diseru -- maka kita harus menanggalkan asumsi yang menyatakan bahwa ada seseorang di dalam,  dan kita mulai membayangkan bahwa sebenarnya kamar itu kosong, sedangkan terkuncinya kamar   melalui suatu cara yang canggih (ajaib).

Pentingnya Respons  (Tanggapan) dari  Tuhan Sendiri Mengenai “Keberadaan-Nya

    Hal seperti inilah yang terjadi pada diri para filosof  (ahli filsafat) yang pandangannya tidak melampaui batas semata hanya menelaah hasil kinerja Tuhan. Adalah suatu kekeliruan besar untuk membayangkan bahwa Tuhan itu seperti mayat yang harus dikeluarkan manusia dari kuburnya. Jika Tuhan harus ditemukan melalui upaya manusia maka semua harapan kita atas Tuhan tersebut menjadi tidak ada artinya.
    Sesungguhnya Tuhan adalah Wujud Yang selalu memanggil manusia ke arah-Nya dengan menyatakan: “Aku ini ada.” Merupakan suatu kekonyolan untuk membayangkan bahwa Tuhan harus sejalan dengan pemahaman manusia dan menganggap bahwa jika tidak karena para filosof maka Dia tidak akan dikenal. Juga merupakan kekurangajaran untuk menanyakan apakah Tuhan memiliki lidah untuk berbicara?
     Bukankah Dia telah menciptakan semua benda di langit dan di bumi tanpa bantuan tangan jasmani? Bukankah Dia memandang ke seluruhan alam ini tanpa mata jasmani? Tidakkah Dia itu mendengar tanpa telinga jasmani? Dengan sendirinya juga maka Dia bisa berbicara. Adalah keliru mengatakan bahwa Tuhan hanya berbicara di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi yang tersisa di masa depan. Kita tidak akan pernah bisa mematok firman atau kata-kata-Nya hanya pada suatu periode tertentu saja.
    Tidak diragukan lagi bahwa Dia akan memperkaya para pencari-Nya dari sumber mata air wahyu sebagaimana yang telah dilakukan-Nya sejak dulu. Gerbang keridhaan-Nya tetap terbuka sekarang sebagaimana juga terbuka sejak sebelumnya. Yang benar adalah, setelah kebutuhan akan kaidah (hukum) dan petunjuk telah dipenuhi, maka semua kenabian dan kerasulan mencapai kulminasi (puncak) kesempurnaannya pada titik akhir dalam diri Junjungan dan Penghulu kita, Rasulullah Muhammad saw.“ (Islami Usul ki Philosophy (Falsafah Ajaran Islam) sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 10, hlm. 363-367, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 18 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar