بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 78
Keajaiban
Bunga Mawar dan Surah Al-Fatihah dan Berbagai Khasiatnya yang Luar Biasa
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai bukti-bukti
bahwa “kerajaan Tuhan” tidak hanya
mewujud di “langit”
tetapi juga di “bumi”, antara lain
beliau menjelaskan mengenai merebaknya wabah pes yang sangat dahsyat pada zaman beliau di Hindustan -- sebagai salah satu tanda kebenaran Masih Mau’ud
a.s. -- dan mengenai
manifestasi “Kerajaan Tuhan”
di seluruh langit dan bumi:
“Pada masa kini, perintah Tuhan
dari langit telah mengguncangkan bumi dengan telah
datangnya wabah pes, agar hal ini
menjadi tanda bagi kebenaran Al-Masih yang telah dijanjikan-Nya. Siapakah yang
mampu mengatasinya tanpa perkenan-Nya? Karena itu bagaimana
mungkin kita akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan belum ada di muka bumi?
Para pendosa hidup di dunia ini laiknya seorang tahanan bumi dan mengharapkan akan hidup
selamanya, namun kerajaan Tuhan akan
menghancurkannya dengan mengirim malaikat maut untuk menjemputnya.
Bagaimanakah akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan belum ada di dunia?
Setiap harinya melalui perintah Tuhan, berjuta manusia mati dan berjuta pula yang dilahirkan, berjuta manusia yang miskin menjadi kaya dan berjuta juga manusia kaya
yang menjadi miskin. Lalu bagaimana
akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di
bumi ini belum berwujud dan baru
akan datang di kemudian hari?
Di langit
hanya ada para malaikat, sedangkan
di bumi ini terdapat manusia disamping juga para malaikat yang menjadi abdi dan pelayan kerajaan-Nya. Para malaikat
ini yang mengawasi berbagai kelakuan manusia, patuh kepada Tuhan
sepanjang waktu, serta mengirimkan
laporan mereka kepada-Nya. Jadi, bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada kerajaan Tuhan di muka bumi?
Tuhan terutama sekali dikenal melalui kerajaan-Nya di bumi
karena semua orang menganggap bahwa misteri
langit merupakan rahasia yang tidak bisa dibuktikan. Belum lama ini umat Kristen beserta para ahli filosofi mereka telah menyangkal adanya langit yang oleh Kitab Injil dijadikan sebagai dasar dari kerajaan Tuhan.
Adapun di bumi yang berada di
bawah tapak kaki kita bisa dilihat
berbagai manifestasi beribu-ribu takdir
Ilahi dan semua itu menyadarkan
kita bahwa semua perubahan, kelahiran dan kematian adalah berdasar
pengaturan dari suatu Wujud Penguasa.
Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan di bumi ini belum berwujud?
Allah
Yang Maha Luhur dan Maha Agung tidak ada menyebut kata langit atau bumi dalam Surah Fatihah,
namun Dia mengemukakan realitasnya
kepada kita bahwa Tuhan itu bersifat
Rabbul ‘Alamīn. Dengan kata lain,
melalui semua ciptaan, baik jiwa atau pun raganya, disimpulkan bahwa Tuhan
itulah Pencipta dan Pemelihara (Rabb) semuanya serta yang menghidupi dan mengurus mereka.
Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi
setiap saat di seluruh alam semesta.
Perlu diperhatikan bahwa dengan istilah Māliki
Yaumiddin dalam Surah Fatihah
tidak berarti bahwa ganjaran dan penghukuman hanya akan dilakukan pada Hari Penghisaban saja.
Kitab suci Al-Quran telah berulangkali menjelaskan bahwa Hari Penghisaban memang merupakan saat pengganjaran akbar, hanya saja ada bentuk pengganjaran yang sudah
dimulai di dunia ini sebagaimana diungkapkan dalam ayat:
اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ
یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا ﴿﴾
‘Jika kamu bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagimu suatu pembeda’ (Al-Anfāl [6]:30).” (Kisyti
Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal.
29-39, London, 1984).
Keunggulan
Al-Quran Berdasar Al-Fatihah & Bunga Mawar Merupakan Keajaiban Ciptaan Tuhan
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
mengemukakan keajaiban bunga mawar sebagai contoh keajaiban Surah Al-Fatihah, baik dari segi penampilan
lahiriahnya mau pun dari segi ruhaniahnya atau khasiatnya:
“Untuk
diketahui secara umum, kami akan mengemukakan karakteristik apa saja yang menjadikan suatu tulisan atau khutbah
menjadi suatu karya tanpa banding
dan berasal dari Allah Swt..
Kemudian kami akan memilih salah satu Surah
dalam Kitab Suci Al-Quran, lalu membuktikan bahwa Surah itu memiliki kesempurnaan
secara lengkap semua karakteristik
unggulan dimaksud.
Jika kemudian masih ada orang yang menolak sifat-sifat tanpa banding demikian maka
bebannya terletak di bahu yang
bersangkutan untuk memberikan karya lain
sebagai padanannya. Kalau bentuk
suatu tulisan atau khutbah sepenuhnya menyerupai sesuatu
yang datang dari Allah Swt.. dan merupakan hasil karya-Nya -- dengan pengertian bahwa karya itu bersifat komprehensif
dengan ciri-ciri keajaiban internal
atau pun eksternal sebagaimana buatan Tuhan lainnya -- maka bisa dikatakan kalau tulisan atau khutbah
tersebut memang merupakan suatu hal yang tidak
mungkin ditiru atau disetarakan
dengan karya manusia lainnya. Bila
kita mengakui suatu hal sebagai tanpa
tara dan berasal dari Tuhan maka segala sesuatu yang berbagi sifat-sifat ketiadaan tara seperti itu
dengan sendirinya menjadi tanpa tara
juga.
Mari kita pilih salah satu hasil ciptaan
Allah Swt.. yang halus dan indah yaitu bunga
mawar, lalu kita akan bahas keajaiban
internal dan eksternalnya yang
menjadikan bunga ini sebagai suatu ciptaan tanpa padanan. Kemudian kami
akan membuktikan bahwa keindahan dan
keunggulan Surah Al-Fatihah tidak
saja menyamai keindahan bunga mawar,
bahkan melampauinya.
Alasan mengapa saya memilih ilustrasi ini ialah karena dalam salah
satu kasyaf aku melihat Surah Al-Fatihah dituliskan pada
selembar kertas dengan sangat indah
dan menarik hati, dan aku melihat kertas
itu bertabur mawar merah halus yang
tidak terbilang banyaknya. Ketika aku mentilawatkan
ayat-ayat dari Surah itu, bunga-bunga
mawar itu terbang ke udara dengan mengeluarkan suara yang indah. Bunga-bunga mawar itu amat besar,
halus, segar, harum dan indah dimana ketika bunga-bunga itu melayang ke atas maka
hati dan kepalaku terasa diharumkan
sehingga aku merasa luluh dan menjauh dari dunia beserta isinya.
Berdasarkan
kasyaf tersebut aku menyimpulkan
bahwa bunga mawar ada kaitan keruhanian dengan Surah Al-Fatihah sehingga aku memilihnya sebagai bahan ilustrasi. Di awal aku akan
mengemukakan sebaga ilustrasi
tentang keajaiban internal dan eksternal yang ditemukan di dalam bunga mawar untuk kemudian dibandingkan
dengan keindahan keajaiban internal dan eksternal dari Surah Al-Fatihah sehingga sifat-sifat bunga mawar yang tidak mungkin ditiru itu nyatanya ada dalam Surah Al-Fatihah dalam kadar yang lebih tinggi.
Dengan cara
demikian aku juga telah memenuhi indikasi
yang disampaikan kepadaku dalam kasyaf
tersebut. Haruslah diakui tanpa diragukan lagi bahwa bunga mawar seperti juga ciptaan
Tuhan lainnya memiliki sifat-sifat yang tidak mungkin ditiru. Sifat-sifat tersebut ada dua
macam:
Pertama,
adalah sifat yang dimanifestasikan
oleh penampakannya, warna bunga ini amat menarik dan harumnya menyenangkan hati, sedangkan kuntumnya itu halus, segar, cantik dan
bersih.
Kedua,
adalah sifat-sifat internal yang
dibekali oleh Tuhan sebagai sifat
yang inheren. Sifat-sifat tersebut
adalah kemampuannya untuk menyenangkan dan menguatkan hati, merangsang kalbu, bisa menjadi laksatif
(pencahar), menguatkan lambung, ginjal, urat-urat darah, rahim, paru-paru dan hati serta sangat menolong bagi orang yang sedang koma atau mengalami kelayuan jantung, disamping kegunaan bagi penyakit-penyakit phisik lainnya.
Berdasarkan
kedua bentuk sifat itu maka diyakini
bahwa bunga mawar bersifat amat sempurna, sehingga tidak mungkin bagi
manusia menciptakan padanannya yang
sama menarik dalam warna dan keharuman atau halus dan cantik serta
memiliki semua sifat-sifat bunga mawar.
Kenyataan demikian diperoleh melalui
pembuktian secara praktek dimana tidak
ada filosof atau dokter yang mampu meramu obat ataupun resep
yang bisa menghasilkan bunga dengan tampilan dan sifat-sifat bunga mawar.
Sifat Surah Al-Fatihah Dibanding Bunga Bawar
Unsur-unsur
ketiadaan tara demikian ditemukan
juga dalam Surah Al-Fatihah meskipun
Surah ini merupakan bagian kecil dari Al-Quran:
Pertama, perhatikanlah bentuk eksternalnya, lalu lihat cara pengucapannya yang indah, kemudian ungkapan, urutan dan sifat-sifat lainnya yang cantik yang merupakan persyaratan keindahan suatu komposisi. Semua itu mengemuka di dalam
Surah Al-Fatihah sebagai suatu manifestasi tiada tara yang bersih dari
kekasaran dan keliaran cara pengungkapan.
Pengungkapan
setiap kalimatnya amat jelas, setiap bentuk ekspresi sesuai dengan tempatnya, dan semua bentuk sifat yang menonjolkan keindahan komposisinya ada di dalam Surah itu. Elokuensi
yang paling tinggi yang mungkin dibayangkan manusia ada terdapat di dalamnya
secara sempurna berikut segala hal yang diperlukan untuk menjelaskan maknanya.
Dengan segala sifat indah demikian, Surah ini dipenuhi keharuman kebenaran tanpa ada sezarah pun kedustaan di dalamnya. Keindahannya
tidak sama dengan karya para penyair
yang cenderung berbau kedustaan dan bualan kosong.
Berbeda
dengan syair-syair demikian, Surah ini penuh dengan keharuman halus dari apa yang namanya kebenaran. Keharuman tersebut diikuti dengan keindahan pengungkapan, kepantasan dan kehalusan dalam pengucapan,
sebagaimana keharuman bunga mawar
yang diikuti dengan keindahan warna
dan kejernihannya. Semuanya itu menggambarkan
sifat-sifat eksternalnya.
Dari sudut
pandang sifat-sifat internalnya, Surah Fatihah merupakan obat penawar bagi penyakit-penyakit keruhanian yang teruk (kronis), serta memberikan pedoman guna kesempurnaan kekuatan intelektual dan tindakan. Surah ini akan memperbaiki kekacauan serta
mengemukakan wawasan-wawasan akbar dan
mutiara-mutiara hikmah yang tersembunyi dari mata para pemikir dan ahli filosofi. Hati seorang pencari kebenaran akan menjadi kuat dengan membacanya dan ia akan disembuhkan dari segala penyakit karena keraguan, kesalahan dan
kecurigaan.
Di Luar Kemampuan
Manusia
Kedua, isi Surah ini mengemukakan kebenaran tingkat tinggi dan realitas indah yang diperlukan bagi kesempurnaan kalbu. Jelas kiranya bahwa
semua keagungan demikian tidak
mungkin diungkapkan seluruhnya dalam
hasil karya tulisan atau khutbah manusia biasa. Kemustahilan
membuat padanan demikian itu
bukanlah semata-mata basa-basi saja
tetapi merupakan suatu hal yang nyata.
Allah Yang Maha Agung telah memanifestasikan
kesempurnaan sifat-sifat internal dan
eksternal Kitab (Al-Quran) ini dengan
mengemukakan dalam kata-kata yang indah segala mutiara hikmah dan wawasan
luhur menurut kebutuhan dan sejalan dengan persyaratan kebenaran.
Dia telah menampakkan kedua bentuk sifat-sifat
tersebut pada tingkat kesempurnaannya
yang paling tinggi. Pertama, Kitab ini mengemukakan wawasan luhur yang tanda-tandanya telah menghilang dari ajaran agama-agama terdahulu tetapi juga belum pernah ditampilkan oleh para pemikir dan filosof.
Bukannya tanpa guna untuk mengemukakan sifat-sifat tersebut karena pada waktu
diturunkannya memang amat dibutuhkan guna perbaikan
kondisi manusia pada zaman
bersangkutan, karena kalau tidak maka manusia akan menghadapi malapetaka kehancuran.
Sifat-sifat
ini dikemukakan tanpa cacat cela dan
sempurna dengan sendirinya. Dengan
cara demikian maka keraguan yang
menghantui fikiran seorang penganut akan kemungkinan adanya kedustaan telah ditenangkan. Bagaimana mengemukakan
semua kebenaran dan mutiara hikmah demikian dengan cara yang indah merupakan suatu hasil karya yang jelas berada di
luar kemampuan manusia.
Manusia itu sesungguhnya tidak berdaya apa-apa dalam hal mengemukakan segala sesuatu yang
berkaitan dengan kebenaran luhur
dengan cara yang indah sambil tetap
berpegang pada kejujuran dan ketepatan perkataan. Sebagai contoh,
adalah mustahil bagi seorang pemilik toko -- yang kebetulan juga seorang penyair yang baik -- untuk berbicara
dengan berbagai macam pelanggan
secara fasih dengan kata-kata yang indah
tetapi sambil tetap membatasi dirinya
pada hal-hal yang dianggap pantas
setiap saat.
Ketika ia harusnya cukup dengan kata-kata yang
sedikit maka ia akan menahan dirinya berbicara banyak, sedangkan apabila ada
yang harus dijelaskan lengkap ia harus berbicara panjang lebar. Dalam
pembicaraan dengan para pelanggannya ia harus menggunakan metoda yang sesuai guna mendukung pandangannya.
Atau contoh
lainnya adalah tentang seorang hakim
pengadilan yang bertugas untuk mencatat
secara akurat semua pernyataan dari pihak-pihak
yang bertikai dan para saksi, serta menyusun pertanyaan dan mencatat
jawabannya atas segala hal yang
berkaitan dengan perkara yang sedang
disidangkan. Ia harus menata argumentasi
hukum secara akurat sesuai dengan undang-undang
dan mengemukakan fakta-fakta dalam
urutannya yang benar berikut pandangannya sendiri disertai argumentasi yang mendukung.
Kelemahan Karya
Manusia
Mustahil baginya untuk melakukan semua
hal itu pada tingkat kefasihan yang tidak
mungkin dilampaui oleh orang lain, karena selalu ada saja orang yang lebih baik dari dirinya. Yang namanya karangan manusia itu meskipun kalis
(bebas) dari maksud penyombongan diri
atau hal-hal yang tidak relevan,
masih saja tidak akan bisa membebaskan
diri sepenuhnya dari kedustaan
dan omong kosong.
Kalau mereka
mencoba menyajikannya secara sempurna, hasilnya
akan cacat laiknya sebuah lukisan yang bermaksud menyempurnakan
bentuk hidung akan melupakan
kesempurnaan telinga, atau berusaha
menyempurnakan telinga maka yang
dikorbankan adalah kesempurnaan mata.
Jika yang bersangkutan berniat berpegang pada kebenaran, ia harus mengorbankan kefasihan. Adapun bila mengarah kepada kefasihan maka muncul kedustaan
dan omong kosong yang menumpuk
seperti kulit sebuah bawang yang
hanya merupakan lembaran tipis tanpa substansi.
Karena itu
fikiran waras menyatakan bahwa
adalah suatu hal yang mustahil untuk
mengemukakan suatu permasalahan secara
fasih dengan kata berbunga tetapi
tetap berpegang pada kebenaran dan persyaratan kondisi saat itu. Dengan
demikian mudah memahami bahwa untuk mengemukakan suatu wawasan yang luhur sesuai persyaratan kebenaran dengan bahasa yang
fasih dan indah adalah suatu pekerjaan bersifat supra natural yang berada di
luar kemampuan manusia.
Kerja demikian sama mustahilnya dengan menciptakan sebuah bunga yang sifat-sifatnya secara internal maupun eksternal
mirip sekali dengan bunga mawar.
Pengalaman menyatakan dan alam juga menentukan bahwa mengenai permasalahan umum
adalah mustahil bagi seseorang untuk
mengemukakan sesuatu yang perlu dan benar
-- apakah itu berkaitan dengan masalah jual beli atau pun prosedur hukum
-- untuk melakukannya secara
sempurna dengan menggunakan bahasa yang
tepat dan dengan tingkat kefasihan
tertinggi.
Dengan
demikian bagaimana mungkin manusia mengemukakan dalam bentuk karya tertulis secara benar dan akurat semua wawasan dan kebenaran yang luhur segala hal yang berkaitan dengan kebenaran Ilahi tanpa meninggalkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna perbaikan zaman, sebagai argumentasi
yang konklusif dan sebagai penangkal
bantahan mereka yang melawan, tetapi juga sambil juga tetap memperhatikan semua persyaratan
ketentuan debat dan diskusi
serta merangkum seluruh argumentasi dan bukti-bukti kebenaran suatu ajaran? Apa lagi jika ditambah lagi
bahwa keindahan komposisinya haruslah
tanpa banding dengan kefasihan pengungkapan yang tanpa tara.
Semua sifat-sifat ini dapat ditemui dalam Surah Al-Fatihah dan Al-Quran yang nyatanya setara atau lebih tinggi dari sifat-sifat
tanpa tanding dari bunga mawar tersebut.
Ada lagi sebuah sifat luhur di dalam
Surah Al-Fatihah dan Kitab Suci Al-Quran yang bersifat
khusus, dimana jika manusia membacanya secara
tekun dan tulus maka hal itu
akan mensucikan hatinya, menepis kabut kegelapan dari kalbunya, mengembangkan daya fikir yang bersangkutan serta membawa
para pencari kebenaran kepada Tuhan.
Sifat
itu menzahirkan Nur dan pengaruh atas dirinya sebagaimana yang
ditemukan hanya pada mereka yang dekat dengan
Allah Yang Maha Luhur dan hal itu
tidak mungkin diperoleh dengan cara
lainnya. Dalam buku ini kami telah menyampaikan bukti-bukti tentang efek
keruhanian demikian dan jika ada pencari
kebenaran yang menginginkan maka kami
bisa memuaskannya disamping memberikan bukti-bukti
yang baru.
Sifat Internal dan Eksternal Surah Al-Fatihah
Perlu pula
diingat bahwa karakteristik Kitab Suci Al-Quran sebagai suatu yang tanpa tanding dan tanpa banding tidak hanya didukung oleh argumentasi saja tetapi juga dikonfirmasi
oleh pengalaman jangka panjang.
Selama 1300 tahun sudah Al-Quran mengemukakan sifat-sifatnya sebagai tantangan
bagi seluruh dunia bahwa dalam sifat-sifat internal dan eksternalnya Kitab ini adalah tanpa tanding dimana tidak ada manusia
yang mampu membuat kitab lain yang sejenis,
namun nyatanya tidak ada seorang pun manusia yang sanggup memenuhi walaupun
hanya misalnya satu Surah kecil
seperti Al-Fatihah.
Mukjizat apa lagi yang lebih jelas yang
menunjukkan bahwa Firman Tuhan ini sepenuhnya
berada di luar batas kemampuan manusia,
baik berdasarkan argumentasi atau
pun pengalaman jangka panjang yang
telah membuktikan sifat keagungannya.
Jika masih ada
manusia yang tidak puas dengan kedua macam
pembuktian tersebut dan lebih membanggakan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya, atau
menganggap bahwa masih ada penulis
lain yang mampu mencipta tulisan
seperti Al-Quran, maka kami sekarang
akan mengemukakan contoh sebagaimana
yang telah kami janjikan yaitu memberikan
contoh dari kebenaran dan mutiara hikmah
yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah.
Orang itu silakan mengajukan karangannya
sendiri untuk menandingi sifat-sifat
internal dan eksternal dari Surah Al-Fatihah. (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang
dicetak dalam Ruhani
Khazain, vol. 1, hal. 394- 403, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 23 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar