Rabu, 28 Oktober 2015

Kemiripan Keajaiban "Bunga Mawar" Dengan Surah Al-Fatihah dan Berbagai Khasiatnya yang Luar Biasa




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 78 

Keajaiban Bunga Mawar dan  Surah Al-Fatihah  dan Berbagai Khasiatnya yang Luar Biasa

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab  sebelumnya telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai  bukti-bukti bahwa “kerajaan Tuhan”  tidak hanya  mewujud   di “langit” tetapi juga di “bumi”, antara lain beliau menjelaskan   mengenai  merebaknya wabah pes yang  sangat dahsyat  pada zaman beliau di Hindustan   -- sebagai salah satu tanda kebenaran Masih Mau’ud a.s.  --  dan mengenai  manifestasi “Kerajaan Tuhan” di seluruh langit  dan bumi:
   “Pada masa kini, perintah Tuhan dari langit telah mengguncangkan bumi dengan telah datangnya wabah pes, agar hal ini menjadi tanda bagi kebenaran Al-Masih yang telah dijanjikan-Nya. Siapakah yang mampu mengatasinya tanpa perkenan-Nya? Karena itu bagaimana mungkin kita akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum ada di muka bumi?
  Para pendosa hidup di dunia ini laiknya seorang tahanan bumi dan mengharapkan akan hidup selamanya, namun kerajaan Tuhan akan menghancurkannya dengan mengirim malaikat maut untuk menjemputnya. Bagaimanakah akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum ada di dunia?
    Setiap harinya melalui perintah Tuhan, berjuta manusia mati dan berjuta pula yang dilahirkan, berjuta manusia yang miskin menjadi kaya dan berjuta juga manusia kaya yang menjadi miskin. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di bumi ini belum berwujud dan baru akan datang di kemudian hari?
    Di langit hanya ada para malaikat, sedangkan di bumi ini terdapat manusia disamping juga para malaikat yang menjadi abdi dan pelayan kerajaan-Nya. Para malaikat ini yang mengawasi berbagai kelakuan manusia, patuh kepada Tuhan sepanjang waktu, serta mengirimkan laporan mereka kepada-Nya. Jadi, bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada kerajaan Tuhan di muka bumi?
   Tuhan terutama sekali dikenal melalui kerajaan-Nya di bumi karena semua orang menganggap bahwa misteri langit merupakan rahasia yang tidak bisa dibuktikan. Belum lama ini umat Kristen beserta para ahli filosofi mereka telah menyangkal adanya langit yang oleh Kitab Injil dijadikan sebagai dasar dari kerajaan Tuhan.
    Adapun di bumi yang berada di bawah tapak kaki kita bisa dilihat berbagai manifestasi beribu-ribu takdir Ilahi dan semua itu menyadarkan kita bahwa semua perubahan, kelahiran dan kematian adalah berdasar pengaturan dari suatu Wujud Penguasa. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di bumi ini belum berwujud?
    Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung tidak ada menyebut kata langit atau bumi dalam Surah Fatihah, namun Dia mengemukakan realitasnya kepada kita bahwa Tuhan itu bersifat Rabbul ‘Alamīn. Dengan kata lain, melalui semua ciptaan, baik jiwa atau pun raganya, disimpulkan bahwa Tuhan itulah Pencipta dan Pemelihara (Rabb) semuanya serta yang menghidupi dan mengurus mereka.
    Sifat  Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi setiap saat di seluruh alam semesta. Perlu diperhatikan bahwa dengan istilah Māliki Yaumiddin dalam Surah Fatihah tidak berarti bahwa ganjaran dan penghukuman hanya akan dilakukan pada Hari Penghisaban saja.
     Kitab suci Al-Quran telah berulangkali menjelaskan bahwa Hari Penghisaban memang merupakan saat pengganjaran akbar, hanya saja ada bentuk pengganjaran yang sudah dimulai di dunia ini sebagaimana diungkapkan dalam ayat:
اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا  ﴿﴾
Jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagimu suatu pembeda (Al-Anfāl [6]:30).”  (Kisyti Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 29-39, London, 1984).

Keunggulan Al-Quran Berdasar Al-FatihahBunga Mawar Merupakan Keajaiban Ciptaan Tuhan

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan  keajaiban bunga mawar sebagai contoh keajaiban Surah Al-Fatihah, baik dari segi penampilan lahiriahnya mau pun dari segi  ruhaniahnya atau khasiatnya:
    “Untuk diketahui secara umum, kami akan mengemukakan karakteristik apa saja yang menjadikan suatu tulisan atau khutbah menjadi suatu karya tanpa banding dan berasal dari Allah Swt.. Kemudian kami akan memilih salah satu Surah dalam Kitab Suci Al-Quran, lalu membuktikan bahwa Surah itu memiliki kesempurnaan secara lengkap semua karakteristik unggulan dimaksud.
   Jika kemudian masih ada orang yang menolak sifat-sifat tanpa banding demikian maka bebannya terletak di bahu yang bersangkutan untuk memberikan karya lain sebagai padanannya. Kalau bentuk suatu tulisan atau khutbah sepenuhnya menyerupai sesuatu yang datang dari Allah Swt.. dan merupakan hasil karya-Nya   --  dengan pengertian bahwa karya itu bersifat komprehensif dengan ciri-ciri keajaiban internal atau pun eksternal sebagaimana buatan Tuhan lainnya   -- maka bisa dikatakan kalau tulisan atau khutbah tersebut memang merupakan suatu hal yang tidak mungkin ditiru atau disetarakan dengan karya manusia lainnya. Bila kita mengakui suatu hal sebagai tanpa tara dan berasal dari Tuhan maka segala sesuatu yang berbagi sifat-sifat ketiadaan tara seperti itu dengan sendirinya menjadi tanpa tara juga.
      Mari kita pilih salah satu hasil ciptaan Allah Swt.. yang halus dan indah yaitu bunga mawar, lalu kita akan bahas keajaiban internal dan eksternalnya yang menjadikan bunga ini sebagai suatu ciptaan tanpa padanan. Kemudian kami akan membuktikan bahwa keindahan dan keunggulan Surah Al-Fatihah tidak saja menyamai keindahan bunga mawar, bahkan melampauinya.
     Alasan mengapa saya memilih ilustrasi ini ialah karena dalam salah satu kasyaf aku melihat Surah Al-Fatihah dituliskan pada selembar kertas dengan sangat indah dan menarik hati, dan aku melihat kertas itu bertabur mawar merah halus yang tidak terbilang banyaknya. Ketika aku mentilawatkan ayat-ayat dari Surah itu, bunga-bunga mawar itu terbang ke udara dengan mengeluarkan suara yang indah. Bunga-bunga mawar itu amat besar, halus, segar, harum dan indah dimana ketika bunga-bunga itu melayang ke atas maka hati dan kepalaku terasa diharumkan sehingga aku merasa luluh dan menjauh dari dunia beserta isinya.   
    Berdasarkan kasyaf tersebut aku menyimpulkan bahwa bunga mawar ada kaitan keruhanian dengan Surah Al-Fatihah sehingga aku memilihnya sebagai bahan ilustrasi. Di awal aku akan mengemukakan sebaga ilustrasi tentang keajaiban internal dan eksternal yang ditemukan di dalam bunga mawar untuk kemudian dibandingkan dengan keindahan keajaiban internal dan eksternal dari Surah Al-Fatihah sehingga sifat-sifat bunga mawar yang tidak mungkin ditiru itu nyatanya ada dalam Surah Al-Fatihah dalam kadar yang lebih tinggi.
    Dengan cara demikian aku juga telah memenuhi indikasi yang disampaikan kepadaku dalam kasyaf tersebut. Haruslah diakui tanpa diragukan lagi bahwa bunga mawar seperti juga ciptaan Tuhan lainnya  memiliki sifat-sifat yang tidak mungkin ditiru. Sifat-sifat tersebut ada dua macam:
    Pertama, adalah sifat yang dimanifestasikan oleh penampakannya, warna bunga ini amat menarik dan harumnya menyenangkan hati, sedangkan kuntumnya itu halus, segar, cantik dan bersih.
       Kedua, adalah sifat-sifat internal yang dibekali oleh Tuhan sebagai sifat yang inheren. Sifat-sifat tersebut adalah kemampuannya untuk menyenangkan dan menguatkan hati, merangsang kalbu, bisa menjadi laksatif (pencahar), menguatkan lambung, ginjal, urat-urat darah, rahim, paru-paru dan hati serta sangat menolong bagi orang yang sedang koma atau mengalami kelayuan jantung, disamping kegunaan bagi penyakit-penyakit  phisik lainnya.
      Berdasarkan kedua bentuk sifat itu maka diyakini bahwa bunga mawar bersifat amat sempurna, sehingga tidak mungkin bagi manusia menciptakan padanannya yang sama menarik dalam warna dan keharuman atau halus dan cantik serta memiliki semua sifat-sifat bunga mawar.
     Kenyataan demikian diperoleh melalui pembuktian secara praktek dimana tidak ada filosof atau dokter yang mampu meramu obat ataupun resep yang bisa menghasilkan bunga dengan tampilan dan sifat-sifat bunga mawar.

Sifat Surah Al-Fatihah Dibanding Bunga Bawar

     Unsur-unsur ketiadaan tara demikian ditemukan juga dalam Surah Al-Fatihah meskipun Surah ini merupakan bagian kecil dari Al-Quran:
   Pertama, perhatikanlah bentuk eksternalnya, lalu lihat cara pengucapannya yang indah, kemudian ungkapan, urutan dan sifat-sifat lainnya yang cantik yang merupakan persyaratan keindahan suatu komposisi. Semua itu mengemuka di dalam Surah Al-Fatihah sebagai suatu manifestasi tiada tara yang bersih dari kekasaran dan keliaran cara pengungkapan.
   Pengungkapan setiap kalimatnya amat jelas, setiap bentuk ekspresi sesuai dengan tempatnya, dan semua bentuk sifat yang menonjolkan keindahan komposisinya ada di dalam Surah itu.  Elokuensi yang paling tinggi yang mungkin dibayangkan manusia ada terdapat di dalamnya secara sempurna berikut segala hal yang diperlukan untuk menjelaskan maknanya.
    Dengan segala sifat indah demikian, Surah ini dipenuhi keharuman kebenaran tanpa ada sezarah pun kedustaan di dalamnya. Keindahannya tidak sama dengan karya para penyair yang cenderung berbau kedustaan dan bualan kosong.
   Berbeda dengan syair-syair demikian, Surah ini penuh dengan keharuman halus dari apa yang namanya kebenaran. Keharuman tersebut diikuti dengan keindahan pengungkapan, kepantasan dan kehalusan dalam pengucapan, sebagaimana keharuman bunga mawar yang diikuti dengan keindahan warna dan kejernihannya. Semuanya itu menggambarkan sifat-sifat eksternalnya.
   Dari sudut pandang sifat-sifat internalnya, Surah Fatihah merupakan obat penawar bagi penyakit-penyakit keruhanian yang teruk (kronis), serta memberikan pedoman guna kesempurnaan kekuatan intelektual dan tindakan. Surah ini akan memperbaiki kekacauan serta mengemukakan wawasan-wawasan akbar dan mutiara-mutiara hikmah yang tersembunyi dari mata para pemikir dan ahli filosofi. Hati seorang pencari kebenaran akan menjadi kuat dengan membacanya dan ia akan disembuhkan dari segala penyakit karena keraguan, kesalahan dan kecurigaan.

Di Luar Kemampuan Manusia

    Kedua,   isi Surah ini mengemukakan kebenaran tingkat tinggi dan realitas indah yang diperlukan bagi kesempurnaan kalbu. Jelas kiranya bahwa semua keagungan demikian tidak mungkin diungkapkan seluruhnya dalam hasil karya tulisan atau khutbah manusia biasa. Kemustahilan membuat padanan demikian itu bukanlah semata-mata basa-basi saja tetapi merupakan suatu hal yang nyata.
    Allah Yang Maha Agung telah memanifestasikan kesempurnaan sifat-sifat internal dan eksternal Kitab (Al-Quran) ini dengan mengemukakan dalam kata-kata yang indah segala mutiara hikmah dan wawasan luhur menurut kebutuhan dan sejalan dengan persyaratan kebenaran.
  Dia telah menampakkan kedua bentuk sifat-sifat tersebut pada tingkat kesempurnaannya yang paling tinggi. Pertama, Kitab ini mengemukakan wawasan luhur yang tanda-tandanya telah menghilang dari ajaran agama-agama terdahulu tetapi juga belum pernah ditampilkan oleh para pemikir dan filosof.
   Bukannya tanpa guna untuk mengemukakan sifat-sifat tersebut karena pada waktu diturunkannya memang amat dibutuhkan guna perbaikan kondisi manusia pada zaman bersangkutan, karena kalau tidak maka manusia akan menghadapi malapetaka kehancuran.
     Sifat-sifat ini dikemukakan tanpa cacat cela dan sempurna dengan sendirinya. Dengan cara demikian maka keraguan yang menghantui fikiran seorang penganut akan kemungkinan adanya kedustaan telah ditenangkan. Bagaimana mengemukakan semua kebenaran dan mutiara hikmah demikian dengan cara yang indah  merupakan suatu hasil karya yang jelas berada di luar kemampuan manusia.
   Manusia itu sesungguhnya tidak berdaya apa-apa dalam hal mengemukakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran luhur dengan cara yang indah sambil tetap berpegang pada kejujuran dan ketepatan perkataan. Sebagai contoh, adalah mustahil bagi seorang pemilik toko  --  yang kebetulan juga seorang penyair yang baik -- untuk berbicara dengan berbagai macam pelanggan secara fasih dengan kata-kata yang indah tetapi sambil tetap membatasi dirinya pada hal-hal yang dianggap pantas setiap saat.
     Ketika ia harusnya cukup dengan kata-kata yang sedikit maka ia akan menahan dirinya berbicara banyak, sedangkan apabila ada yang harus dijelaskan lengkap ia harus berbicara panjang lebar. Dalam pembicaraan dengan para pelanggannya ia harus menggunakan metoda yang sesuai guna mendukung pandangannya.
    Atau contoh lainnya adalah tentang seorang hakim pengadilan yang bertugas untuk mencatat secara akurat semua pernyataan dari pihak-pihak yang bertikai dan para saksi, serta menyusun pertanyaan dan mencatat jawabannya  atas segala hal yang berkaitan dengan perkara yang sedang disidangkan. Ia harus menata argumentasi hukum secara akurat sesuai dengan undang-undang dan mengemukakan fakta-fakta dalam urutannya yang benar berikut pandangannya sendiri disertai argumentasi yang mendukung.

Kelemahan Karya Manusia

     Mustahil baginya untuk melakukan semua hal itu pada tingkat kefasihan yang tidak mungkin dilampaui oleh orang lain, karena selalu ada saja orang yang lebih baik dari dirinya. Yang namanya karangan manusia itu meskipun kalis (bebas) dari maksud penyombongan diri atau hal-hal yang tidak relevan, masih saja tidak akan bisa membebaskan diri sepenuhnya dari kedustaan dan omong kosong.
    Kalau mereka mencoba menyajikannya secara sempurna, hasilnya akan cacat laiknya sebuah lukisan yang bermaksud menyempurnakan bentuk hidung akan melupakan kesempurnaan telinga, atau berusaha menyempurnakan telinga maka yang dikorbankan adalah kesempurnaan mata. Jika yang bersangkutan berniat berpegang pada kebenaran, ia harus mengorbankan kefasihan. Adapun bila mengarah kepada kefasihan maka muncul kedustaan dan omong kosong yang menumpuk seperti kulit sebuah bawang yang hanya merupakan lembaran tipis tanpa substansi.
     Karena itu fikiran waras menyatakan bahwa adalah suatu hal yang mustahil untuk mengemukakan suatu permasalahan secara fasih dengan kata berbunga tetapi tetap berpegang pada kebenaran dan persyaratan kondisi saat itu. Dengan demikian mudah memahami bahwa untuk mengemukakan suatu wawasan yang luhur sesuai persyaratan kebenaran dengan bahasa yang fasih dan indah adalah suatu pekerjaan bersifat supra natural yang berada di luar kemampuan manusia.
    Kerja demikian sama mustahilnya dengan menciptakan sebuah bunga yang sifat-sifatnya secara internal maupun eksternal mirip sekali dengan bunga mawar. Pengalaman menyatakan dan alam juga menentukan bahwa mengenai permasalahan umum adalah mustahil bagi seseorang untuk mengemukakan sesuatu yang perlu dan benar  -- apakah itu berkaitan dengan masalah jual beli atau pun prosedur hukum  --  untuk melakukannya secara sempurna dengan menggunakan bahasa yang tepat dan dengan tingkat kefasihan tertinggi.
     Dengan demikian bagaimana mungkin manusia mengemukakan dalam bentuk karya tertulis secara benar dan akurat semua wawasan dan kebenaran yang luhur segala hal yang berkaitan dengan kebenaran Ilahi tanpa meninggalkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna perbaikan zaman, sebagai argumentasi yang konklusif dan sebagai penangkal bantahan mereka yang melawan, tetapi juga sambil juga tetap memperhatikan semua persyaratan ketentuan debat dan diskusi serta merangkum seluruh argumentasi dan bukti-bukti kebenaran suatu ajaran? Apa lagi jika ditambah lagi bahwa keindahan komposisinya haruslah tanpa banding dengan kefasihan pengungkapan yang tanpa tara.
    Semua sifat-sifat ini dapat ditemui dalam Surah Al-Fatihah dan Al-Quran yang nyatanya setara atau lebih tinggi dari sifat-sifat tanpa tanding dari bunga mawar tersebut. Ada lagi sebuah sifat luhur di dalam Surah Al-Fatihah dan Kitab Suci Al-Quran yang bersifat khusus, dimana jika manusia membacanya secara tekun dan tulus maka hal itu akan mensucikan hatinya, menepis kabut kegelapan dari kalbunya, mengembangkan daya fikir yang bersangkutan serta membawa para pencari kebenaran kepada Tuhan.
   Sifat itu menzahirkan Nur dan pengaruh atas dirinya sebagaimana yang ditemukan hanya pada mereka yang dekat dengan Allah Yang Maha Luhur dan hal itu tidak mungkin diperoleh dengan cara lainnya. Dalam buku ini kami telah menyampaikan bukti-bukti tentang efek keruhanian demikian dan jika ada pencari kebenaran yang menginginkan maka kami bisa memuaskannya disamping memberikan bukti-bukti yang baru.

Sifat Internal dan Eksternal Surah Al-Fatihah

     Perlu pula diingat bahwa karakteristik Kitab Suci Al-Quran sebagai suatu yang tanpa tanding dan tanpa banding tidak hanya didukung oleh argumentasi saja tetapi juga dikonfirmasi oleh pengalaman jangka panjang. Selama 1300 tahun sudah Al-Quran mengemukakan sifat-sifatnya sebagai tantangan bagi seluruh dunia bahwa dalam sifat-sifat internal dan eksternalnya Kitab ini adalah tanpa tanding dimana tidak ada manusia yang mampu membuat kitab lain yang sejenis, namun nyatanya tidak ada seorang pun manusia yang sanggup memenuhi walaupun hanya misalnya satu Surah kecil seperti Al-Fatihah.
     Mukjizat apa lagi yang lebih jelas yang menunjukkan bahwa Firman Tuhan ini sepenuhnya berada di luar batas kemampuan manusia, baik berdasarkan argumentasi atau pun pengalaman jangka panjang yang telah membuktikan sifat keagungannya.
     Jika masih ada manusia yang tidak puas dengan kedua macam pembuktian tersebut dan lebih membanggakan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya, atau menganggap bahwa masih ada penulis lain yang mampu mencipta tulisan seperti Al-Quran, maka kami sekarang akan mengemukakan contoh sebagaimana yang telah kami janjikan yaitu memberikan contoh dari kebenaran dan mutiara hikmah yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah. Orang itu silakan mengajukan karangannya sendiri untuk menandingi sifat-sifat internal dan eksternal dari Surah Al-Fatihah. (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 394- 403, London, 1984).

(Bersambung)
                                                                              
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 23 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar