Jumat, 09 Oktober 2015

Allah Swt. Satu-satunya "Tuhan" Yang Hakiki, Pencipta Segala Sesuatu & Proses Penciptaan "Ruh" Dalam "Rahim" Ibu



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 62

  Allah Swt. Satu-satunya  Tuhan   Yang Hakiki, Pencipta Segala Sesuatu & Proses Penciptaan Ruh Manusia Dalam Rahim Ibu 

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai sabda Masih Mau’ud as. penjelasan Nabi Sulaiman a.s.  tentang makna  lantai kaca bening  Istana   yang di bawahnya dialirkan air   yang telah menyadarkan Ratu Saba dari kemusyrikannya, lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan tentang hubungan Allah Swt. dengan aktivitas alam semesta, firman-Nya:
قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا --  Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya. قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ  --  Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan  ubin dari kaca.”  قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ – Ia (Ratu Saba) berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah  Rabb (Tuhan) seluruh alam” (An-Naml [27]:42-45). 

Perbedaan  Allah Swt. Sebagai  Al-Khāliq (Maha Pencipta)  dengan Alam Semesta  Ciptaan-Nya Sebagai  Makhluk (Yang Diciptakan)

      Sehubungan dengan  perumpamaan yang terdapat dalam “istana khusus”  karya ciptaa Nabi Sulaiman a.s. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Tidak bisa dibantah bahwa apa pun sifat-sifat yang terdapat secara jasmani dan fana (terkandung/tersembunyi) dalam benda-benda langit dan segenap unsur, secara keruhanian dan abadi ada di dalam Wujud Allah Yang Maha Kuasa. Jelas bagi kita bahwa matahari, bulan dan lain-lainnya tidak mempunyai arti sama sekali dalam dirinya sendiri. Yang menjadikannya berarti adalah Kekuasaan Akbar Allah Swt. yang beroperasi di belakang layar. Adalah Dia Yang telah menggunakan bulan sebagai tabir dari Wujud-Nya ketika mengaruniakan cahaya di malam yang gelap, sebagaimana juga ketika Dia masuk ke dalam hati yang gelap membawa pencerahan dan Dia Sendiri lalu berbicara di dalam diri orang bersangkutan.
   Adalah Dia Yang menyelimuti Kekuasaan-Nya dengan matahari yang menjadikan siang hari sebagai manifestasi (penampakan) nur akbar dimana Dia memanifestasikan karya-Nya dalam berbagai musim di bumi. Adalah Kekuasaan-Nya Yang turun dari langit dengan nama hujan yang menghijaukan tanah yang kering dan memberi minum mereka yang kehausan. Adalah Kekuasaan-Nya Yang menyala dalam bentuk api, menyegarkan pernafasan dalam bentuk udara, menjadikan bunga mekar, mengangkat awan ke atas dan menyampaikan suara ke telinga.
    Adalah Kekuasaan-Nya Yang muncul dalam bentuk bumi yang memikul di punggungnya berbagai bentuk spesi (jenis) seperti manusia dan hewan. Namun semua hal itu bukanlah Tuhan. Semuanya itu adalah ciptaan-Nya (makhluk-Nya). Kekuasaan Tuhan bergerak sebagaimana tangan menggerakkan pena. Kita bisa mengatakan bahwa pena itu menghasilkan tulisan, namun bukan pena itu sendiri yang menulis, adalah tangan yang memegangnya yang melakukan penulisan.
    Kita bisa mengatakan bahwa sebongkah besi yang dipanggang di dalam api  terlihat sebagai api karena bisa membakar dan bercahaya, tetapi semua itu bukan sifat-sifat dari besi melainkan sifat dari api. Begitu pula, memang benar bahwa semua benda di langit dan di bumi serta semua partikel dari dunia bawah atau atas yang bisa terlihat dan dirasa, karena sifat-sifatnya lalu dianggap sebagai Sifat Tuhan. Adalah Kekuasaan Allah Swt. yang tersembunyi di dalam ciptaan tersebut dan memanifestasikan  Diri-Nya.
      Semua itu pada awalnya adalah firman Allah Swt. yang melalui Kekuasaan-Nya dimanifestasikan dalam berbagai bentuk. Seorang yang bodoh akan bertanya, bagaimana firman Tuhan diwujudkan. Apakah Tuhan tidak menjadi berkurang karena perwujudan itu memisah dari Diri-Nya?
    Ia harus menyadari bahwa api yang diperoleh dari matahari melalui suryakanta (kaca pembesar) sama sekali tidak akan mengurangi sosok matahari tersebut. Begitu pula buah-buahan yang berkembang akibat pengaruh sinar bulan tidak akan mengurangi sosok bulan itu sama sekali. Inilah rahasia pemahaman  mengenai  Tuhan Yang menjadi sentra (pusat) dari segala masalah keruhanian bahwa dunia diciptakan melalui firman Tuhan” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 19, hlm. 423-424, London, 1984).
     Dalam buku lainnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keagungan kekuasaan Allah Swt. dan  keajaiban  karya-cipta-Nya:
   “Ketika aku memperhatikan semua benda-benda langit yang besar itu dan merenungi keajaiban mereka masing-masing, dan aku menyadari bahwa semua itu diciptakan dalam rancangan dan niat Allah Swt. maka   tanpa sadar batinku berseru:  “Wahai Allah Yang Maha Kuasa, betapa agung kekuasaan Engkau. Betapa ajaibnya dan di luar kemampuan nalar semua karya Engkau. Alangkah bodohnya ia yang menyangkal Kekuasaan Engkau, dan alangkah tololnya ia yang bertanya: “Dari bahan apakah Dia itu membuat semua ini?”  (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 425, catatan kaki, London, 1984).

Manusia Diciptakan Untuk Menyembah Allah Swt.

   Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai alasan mengapa Allah Swt. telah  menetapkan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada-Nya (QS.1:5; QS.51:57):
    “Realitas  Ketuhanan Allah Yang Maha Kuasa ialah Dia itu merupakan Wujud Yang menjadi Sumber dari semua berkat dimana semua makhluk mengandalkan eksistensinya  (keberadaannya) kepada-Nya. Karena itulah maka Dia itulah satu-satunya Yang patut disembah dan kita bersuka hati jika Dia memiliki hati, jiwa dan raga kita,  karena kita ini tidak ada artinya apa-apa jika bukan karena Dia  Yang mewujudkan kita. Dia Yang telah mewujudkan kita dari ketiadaan adalah yang sebenar-benarnya Tuhan kita.” (Shahnah Haq, Riadh Hind Press, N.D.; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 428-429, London, 1984).
     Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai  dua aktivitas utama ibadah  kepada Allah Swt, yakni  menyembah  Allah Swt.  berupa shalat  dan mengorbankan  rezeki di jalan Allah:
 وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾  مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh.  (Adz-Dzāriyat [51]:57-58).
    Arti yang utama untuk kata ‘ibadah  adalah  menundukkan diri sendiri kepada disiplin keruhanian yang ketat – yakni menyesuaikan diri dengan Kehendak Allah Swt.  – yang merupakan hukum-hukum syariat dan hukum alam  -- yang harus ditaat manusia, lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai  sepenuh jangkauannya  (QS.29:70), sepenuhnya serasi dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah  Swt. dan  mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt..
    Sebagaimana tersebut dalam ayat ini itulah maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia lahir dan batin yang terdapat pada sifat manusia memberikan dengan jelas pengertian kepada kita, bahwa diantara sekian banyak   kemampuan manusia ada yang membangunkan pada dirinya dorongan untuk mencari Allah Swt. dan yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada  Allah Swt., firman-Nya:.
 Makna ayat مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ -- “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku,”  jika   sang musafir (kelana) keruhanian menempuh perjalanan menuju tujuan hidupnya yang mulia itu dengan sabar dan tawakkal,  ia tidak berbuat bajik kepada Allah Swt. atau kepada siapa pun  dengan pengorbanannya tersebut melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan perjuangannya.

Hanya Allah Swt. Satu-satunya  “Tuhan”  Yang Hakiki

    Selanjutnya  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai  mengapa Allah Swt. merupakan satu-satunya Wujud yang mustahak (wajib) disebut  “Tuhan” serta harus disembah:
       “Salah satu Sifat khusus  kekuasaan Allah  Swt. yang menjadi dasar mengapa Dia disebut sebagai Tuhan adalah yang berkaitan dengan penciptaan  kemampuan atau kapasitas jasmani dan ruhani. Sebagai contoh, ketika Dia memberkati makhluk-Nya dengan mata untuk penglihatan maka Keagungan-Nya yang utama bukan hanya pada penciptaan mata saja tetapi pada adanya kemampuan tersembunyi partikel-partikel di dalam tubuh makhluk (ciptaan) itu yang memiliki kemampuan atau mendukung kinerja penglihatan. Jika semua kekuatan (kemampuan) itu ada dengan sendirinya maka Tuhan tidak mempunyai arti apa-apa.
   Jelas keliru menganggap bahwa kemampuan penglihatan ada dengan sendirinya dan Tuhan tidak memiliki saham dalam penciptaannya. Jika partikel-partikel alam semesta ini tidak memiliki kemampuan tersebut maka Sifat Ketuhanan dari Allah Swt.  menjadi tidak berarti. Kenyataannya adalah bahwa Dia Sendirilah Yang telah menciptakan semua kapasitas (kemampuan) dari  jiwa serta partikel-partikel alam semesta ini, dan Dia terus saja mencipta mereka beserta dengan sifat-sifatnya.
   Ketika sifat-sifat ini dipertemukan maka akan muncul keajaiban-keajaiban, karena itulah tidak ada seorang  penemu (inventor)   pun yang bisa menyamai Tuhan. Seorang penemu mesin lokomotif, telegram, fotografi, percetakan atau alat apa pun tidak akan pernah mengaku (mengklaim) bahwa tenaga yang menggerakkan hasil temuannya itu berasal dari dirinya  sendiri. Semua penemu selalu memanfaatkan kapasitas (kemampuan) yang ada di alam, seperti lokomotif yang bekerja karena memanfaatkan tenaga uap.  Perbedaannya adalah karena Tuhan Sendirilah Yang telah menciptakan kapasitas (kemampuan) tersebut di dalam unsur-unsurnya, sedangkan seorang penemu tidak akan mampu mencipta kekuatan dan kapasitas tersebut.
   Selama Allah Swt. tidak diyakini sebagai Pencipta semua kekuatan dan kapasitas dari semua   partikel di alam semesta ini beserta jiwa makhluk-Nya maka Sifat Ketuhanan-Nya [sebagai Pencipta] belum akan dimengerti,  karena Dia   hanya akan dipahami sebagai kuli bangunan, tukang kayu, pandai besi atau tukang gerabah, tidak lebih.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 383-384, London, 1984).

Jawaban Nabi Musa a.s. Membungkam Kelicikan  Taktik Pertanyaan Fir’aun

    Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah jawaban Nabi Musa a.s. ketika Fir’aun  mempertanyakan “Tuhan” yang diimani oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.:
قَالَ  فَمَنۡ  رَّبُّکُمَا  یٰمُوۡسٰی ﴿﴾  قَالَ رَبُّنَا الَّذِیۡۤ اَعۡطٰی کُلَّ شَیۡءٍ خَلۡقَہٗ  ثُمَّ  ہَدٰی ﴿﴾  قَالَ  فَمَا  بَالُ  الۡقُرُوۡنِ  الۡاُوۡلٰی ﴿﴾  قَالَ عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ فِیۡ  کِتٰبٍ ۚ  لَا یَضِلُّ  رَبِّیۡ  وَ لَا  یَنۡسَی ﴿۫﴾ 
Ia, Fir’aun, berkata,  "Maka siapakah Rabb (Tuhan) kamu berdua, hai Musa?"  قَالَ رَبُّنَا الَّذِیۡۤ اَعۡطٰی کُلَّ شَیۡءٍ خَلۡقَہٗ  ثُمَّ  ہَدٰی  -- Musa berkata: "Rabb (Tuhan) kami Dia-lah  Yang menganugerahi setiap sesuatu bentuk penciptaannya  dan kemudian  Dia memberi petunjuk.”  قَالَ  فَمَا  بَالُ  الۡقُرُوۡنِ  الۡاُوۡلٰی   --  la, Fir’aun, berkata: "Bagai­manakah keadaan generasi-generasi terdahulu?” قَالَ عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ فِیۡ  کِتٰبٍ ۚ  لَا یَضِلُّ  رَبِّیۡ  وَ لَا  یَنۡسَی  -- la, Musa, berkata: "Ilmu mengenai itu di sisi Rabb-ku (Tuhan-ku) dalam sebuah Kitab.  Rabb-ku (Tuhan-ku) tidak akan keliru dan  tidak lupa.”  (Thā Hā [20]:50-53).
  Makna ayat  قَالَ رَبُّنَا الَّذِیۡۤ اَعۡطٰی کُلَّ شَیۡءٍ خَلۡقَہٗ  ثُمَّ  ہَدٰی  -- “Musa berkata: "Rabb (Tuhan) kami Dia-lah  Yang menganugerahi setiap sesuatu bentuk penciptaannya  dan kemudian  Dia memberi petunjuk,” berarti bahwa di dunia nampak ada suatu tata-tertib yang sempurna, dan bahwa kepada segala sesuatu itu Allah Swt. telah menganugerahkan kemampuan-kemampuan yang paling cocok dengan keperluan-keperluan dan kepentingan-kepentingannya, dan bahwa dengan mempergunakan kemampuan-­kemampuan dengan cara yang sebaik-baiknya ia dapat mencapai perkembangan yang sesempurna-sempurnanya.
  Jawaban Musa a.s. terhadap pertanyaan Fir’aun  yang tersebut dalam ayat terdahulu nampaknya telah sangat membingungkan  Fir’aun, lalu ia dengan tangkas berbelok dari pokok pembahasan yang dimulainya sendiri, sambil mengajukan suatu pertanyaan baru kepada Musa a.s., dan menanyakan kepada beliau apakah Tuhan beliau mengetahui sesuatu tentang generasi-generasi terdahulu yang telah mati dan berlalu dari dunia: فَمَا  بَالُ  الۡقُرُوۡنِ  الۡاُوۡلٰی  -- “Bagai­manakah keadaan generasi-generasi terdahulu?”
Maksudnya, bagaimana nasib mereka bila mereka itu tidak pernah mengenyam manfaat dalam menerima petunjuk dari beliau (Musa a.s.). Dengan demikian secara halus Fir’aun berusaha menghasut kaumnya terhadap Musa a.s. dengan mengemukakan suatu isyarat tidak langsung bahwa beliau (Musa a.s.) telah menuduh nenek-moyang mereka jauh dari petunjuk Ilahi dan oleh karenanya layak menerima hukuman Tuhan.
  Nabi Musa a.s. memberikan jawaban yang mematahkan taktik-taktik Fir’aun yang berusaha mengelak. Beliau memberitahu Fir’aun  bahwa ia tidak perlu menghiraukan generasi-generasi yang telah lampau. Allah Swt. mengetahui segala­ sesuatu  mengenai mereka; dan segala sesuatu sampai sekecil-kecilnya mengenai mereka telah tersimpan baik-baik dalam ilmu-Nya, dan pada hari kebangkitan Dia akan membalas semuanya sesuai dengan perbuatan dan amal mereka, dengan menimbang tiap keadaan dan suasana mereka masing-masing:  قَالَ عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ فِیۡ  کِتٰبٍ ۚ  لَا یَضِلُّ  رَبِّیۡ  وَ لَا  یَنۡسَی -- la, Musa, berkata: "Ilmu mengenai itu di sisi Rabb-ku (Tuhan-ku) dalam sebuah Kitab.  Rabb-ku (Tuhan-ku) tidak akan keliru dan  tidak lupa.”

Dua Macam Cara  Allah Swt. Menciptakan  

    Selanjutnya Maish Mau’ud a.s. menjawab kekeliruan faham kaum Arya Samaj berkenaan dengan keabadian ruh dan partikel  alam semesta seperti halnya Tuhan:
     “Kami bersaksi bahwa keimanan dan pemahaman kami bertentangan sama sekali dengan pandangan dari kaum Arya Samaj, yang menyatakan bahwa ruh dan semua partikel di alam berikut segala kapasitasnya (kemampuannya) adalah suatu yang bersifat abadi dan mewujud (eksis) dengan sendirinya serta tidak diciptakan.
    Sudut pandangan demikian itu bersifat merusak bagi hubungan  antara Tuhan dengan segenap makhluk-Nya. Pandangan menjijikkan ini merupakan suatu hal yang baru, yang diperkenalkan Pandit Dayanand[1]. Kami belum tahu seberapa jauh pandangan tersebut bisa dikatakan bersumber dari kitab Veda mereka.
    Apa yang kami pahami setelah melakukan penelitian dan perenungan yang mendalam adalah menyimpulkan bahwa prinsip pandangan kaum Arya Samaj tersebut sulit diterima akal sehat. Pandangan yang dikemukakan oleh kaum Sanatan Dharm walaupun telah dirusak oleh dongeng-dongeng dalam kitab Veda yang menjadikan orang meragukannya, tetapi sebenarnya masih memiliki kejernihan kebenaran di dalamnya.
     Jika doktrin mereka ini disederhanakan maka akan berbunyi bahwa semua ini diciptakan oleh Wujud Tuhan. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa dari pandangan kaum Sanatan Dharm kita bisa meyakini bahwa kitab Veda juga sebenarnya menyatakan jika semua ruh dan partikel jasmani serta kemampuan dan sifat-sifatnya itu semuanya berasal dari Tuhan.”  (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 387, London, 1984).
     Nampaknya masalah ruh  senantiasa menjadi  pembahasan semua umat beragama dan  masing-masing  pemeluk agama memiliki pendapat yang berlainan tentang “ruh” , mengenai hal tersebut  Allah Swt. berfirman:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ  -- katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا  -- dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit” (Bani Israil [17]:86).
      Dalam masa kemunduran dan kejatuhan ruhani mereka, nampaknya orang-orang Yahudi asyik berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult) atau kebatinan, seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu.
       Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw. pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik Mekkah mencari bantuan orang-orang Yahudi untuk membungkam da’wah Nabi Besar Muhammad saw.,  mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu menanyakan kepada beliau saw.   hakikat ruh manusia.
     Dalam ayat yang sedang dibahas ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan  bahwa ruh memperoleh daya kekuatannya dari perintah (‘amr) Ilahi, dan apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir, adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.
     Menurut riwayat pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  di kota Mekkah oleh orang-orang Quraisy dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.  — oleh orang-orang Yahudi di Medinah.

Cara Allah Swt. Menciptaan Ruh Manusia Dalam Rahim

     Di sini ruh disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah (‘amr) langsung dari Tuhan: قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ  -- katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku)”. Menurut Al-Quran semua penciptaan terdiri dari dua jenis:
      (1) Kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya.
     (2) Kejadian selanjutnya yang dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan sebelumnya.
     Kejadian macam pertama termasuk jenis amr (arti harfiahnya ialah perintah), yang untuk itu lihat QS.2:118, dan yang terakhir disebut khalq (arti harfiahnya ialah menciptakan). Ruh manusia termasuk jenis penciptaan pertama. Kata ruh itu berarti wahyu Ilahi (Lexicon). Letaknya kata ini di sini agaknya mendukung arti demikian.
Mengenai jenis penciptaan ruh dengan perantaraan ‘amr (perintah) langsung Allah Swt. – yakni tanpa melalui proses hukum sebab akibat   -- Dia berfirman:
بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿﴾
Dia-lah  Yang memulai penciptaan  seluruh langit dan bumi, وَ  اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ  -- dan apabila Dia menetapkan   sesuatu urusan maka  Dia hanya berfirman kepadanya: “Jadilah” maka terjadilah ia  (Al-Baqarah [2]:118).
      Sifat Allah Swt. Al-Badī  (Yang Maha Memulai) mengisaratkan kepada kepada penciptaan segala sesuatu dari ketiadaan, bukan  melalui proses rangkaian hukumsebab-akibat” di bawah Sifat Rabubiyat-Nya. Dengan demikian  Sifat Allah Swt. Al-Badī  (Yang Maha Memulai) dalam ayat tersebut menolak faham keliru bahwa ruh dan partikel-partikal alam semesta sama abadinya dengan Allah Swt., yakni tidak diciptakan oleh Allah Swt..
         Tetapi ada pula jenis ruh lainnya  -- baik di kalangan manusia mau pun binatang  --  yang  diciptakan   melalui hukumsebab-akibat”, firman-Nya:
 وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ  مِّنۡ طِیۡنٍ ﴿ۚ ﴾  ثُمَّ  جَعَلۡنٰہُ  نُطۡفَۃً  فِیۡ قَرَارٍ مَّکِیۡنٍ ﴿۪ ﴾  ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَۃَ عَلَقَۃً  فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَۃَ مُضۡغَۃً         فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ٭ ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ ؕ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ  اَحۡسَنُ  الۡخٰلِقِیۡنَ ﴿ؕ ﴾  
Dan sungguh  Kami benar-benar  telah menciptakan  insan  (manusia) dari sari tanah liat,     kemudian  Kami menjadikannya air mani di dalam tempat penyimpanan yang kokoh.   Kemudian Kami menciptakan air mani menjadi segumpal darah, maka Kami menciptakan  segumpal darah itu menjadi segumpal daging, maka Kami menciptakan dari segumpal daging itu tulang-tulang, kemu-dian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ -- kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain,    الۡخٰلِقِیۡنَ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ  اَحۡسَنُ --   maka Maha Berkat AllahSebaik-baik Pencipta (Al-Mu’minūn [23]:13-15).

Kesejajaran Pertumbuhan Jasmani dan Ruhani Manusia

       Sesudah mengemukakan berbagai tingkat evolusi ruhani manusia dalam sepuluh ayat pertama Surah ini (QS.23:2-12), selanjutnya Al-Quran menjelaskan dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya berbagai tingkat perkembangan fisiknya, dan dengan demikian membuktikan adanya kesejajaran ajaib di antara kelahiran dan pertumbuhan jasmani manusia dengan ruhaninya.
    Dengan menyampingkan istilah-istilah ilmu hayat Surah ini memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Ilmu hayat tidak menemukan sesuatu yang bertentangan sedikit pun dengan lukisan Al-Quran. Kata-kata, خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ  مِّنۡ طِیۡنٍ  -- “Kami menciptakan  manusia dari inti sari tanah liat” menyebutkan proses kejadian manusia mulai dari tingkat paling awal sekali ketika ia masih dalam keadaan tidak bernyawa dalam bentuk debu, dan berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus  --    di bawah pengaturan  Sifat Rabubiyat Allah Swt. --  berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia.   Pada tingkat  فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا  -- “kemudian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan fisik mudigah (janin) menjadi sempurna.
     Kata-kata ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ – “kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain” menunjukkan, bahwa ruh manusia tidak dimasukkan ke dalam wujud manusia dari luar, melainkan tumbuh dalam badan janin ketika ia berkembang dalam rahim. Mula-pertama ruh tidak mempunyai wujud terpisah dari badan, tetapi proses-proses yang dilalui oleh badan selama berlangsung perkembangannya dalam rahim ibu  menyuling dari badan itu  sari halus yang disebut ruh.
     Segera sesudah hubungan di antara ruh dan badan bayi dalam rahim menjadi pas benar-benar, maka jantung pun mulailah bekerja. Sesudah itu ruh mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya badan jasmani itu berperan sebagai wadah bagi ruh itu.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 7  Oktober  2015





[1] Dayanand Sarasvati (nama aslinya M ula Sankara), lahir 1824, meninggal 30 Okt. 1883, diduga karena diracun. Sosok asketik agama Hindu yang mencoba menafsirkan kembali a jaran kitab suci Hindu yaitu Veda. Mendirikan gerakan Arya Samaj pada tahun 1875. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar