بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 62
Allah Swt. Satu-satunya Tuhan Yang Hakiki, Pencipta Segala Sesuatu
& Proses Penciptaan Ruh Manusia
Dalam Rahim Ibu
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan mengenai sabda Masih Mau’ud
as. penjelasan Nabi
Sulaiman a.s. tentang makna lantai
kaca bening Istana yang di bawahnya dialirkan air yang telah menyadarkan Ratu Saba dari kemusyrikannya, lebih lanjut Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan tentang hubungan
Allah Swt. dengan aktivitas alam
semesta, firman-Nya:
قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ
حَسِبَتۡہُ لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ اِنَّہٗ
صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ
سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan
kepada dia: “Masuklah ke istana.” فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ
لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ
سَاقَیۡہَا -- Maka
tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya. قَالَ اِنَّہٗ صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ -- Ia, Sulaiman, berkata:
“Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan ubin dari kaca.” قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ
نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ – Ia (Ratu Saba) berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam”
(An-Naml
[27]:42-45).
Perbedaan Allah Swt. Sebagai Al-Khāliq (Maha Pencipta) dengan Alam Semesta Ciptaan-Nya
Sebagai Makhluk (Yang Diciptakan)
Sehubungan dengan perumpamaan
yang terdapat dalam “istana khusus” karya ciptaa Nabi Sulaiman a.s. tersebut
Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Tidak bisa dibantah bahwa apa pun
sifat-sifat yang terdapat
secara jasmani dan fana (terkandung/tersembunyi) dalam benda-benda langit dan segenap unsur, secara keruhanian dan abadi
ada di dalam Wujud Allah Yang Maha
Kuasa. Jelas bagi kita bahwa matahari,
bulan dan lain-lainnya tidak mempunyai arti sama sekali dalam dirinya
sendiri. Yang menjadikannya berarti
adalah Kekuasaan Akbar Allah Swt. yang beroperasi di belakang layar. Adalah Dia Yang telah
menggunakan bulan sebagai tabir
dari Wujud-Nya ketika mengaruniakan cahaya
di malam yang gelap, sebagaimana juga ketika Dia masuk ke dalam hati yang gelap membawa pencerahan dan Dia Sendiri lalu berbicara di dalam diri orang bersangkutan.
Adalah Dia Yang menyelimuti Kekuasaan-Nya dengan matahari yang menjadikan siang hari sebagai manifestasi (penampakan)
nur
akbar dimana Dia memanifestasikan
karya-Nya dalam berbagai musim
di bumi. Adalah Kekuasaan-Nya Yang
turun dari langit dengan nama hujan
yang menghijaukan tanah yang kering
dan memberi minum mereka yang kehausan. Adalah Kekuasaan-Nya Yang menyala dalam bentuk api,
menyegarkan pernafasan dalam bentuk udara,
menjadikan bunga mekar, mengangkat awan ke atas dan menyampaikan suara ke telinga.
Adalah Kekuasaan-Nya Yang muncul dalam bentuk bumi yang memikul
di punggungnya berbagai bentuk spesi
(jenis) seperti manusia dan hewan. Namun semua hal itu bukanlah Tuhan. Semuanya itu adalah ciptaan-Nya (makhluk-Nya). Kekuasaan Tuhan bergerak
sebagaimana tangan menggerakkan pena. Kita bisa mengatakan bahwa pena
itu menghasilkan tulisan, namun bukan
pena itu sendiri yang menulis, adalah tangan yang
memegangnya yang melakukan penulisan.
Kita bisa mengatakan bahwa sebongkah besi yang dipanggang di dalam api terlihat sebagai api karena bisa membakar
dan bercahaya, tetapi semua itu
bukan sifat-sifat dari besi melainkan sifat dari api. Begitu pula, memang benar bahwa semua benda di langit dan di bumi serta semua partikel dari dunia bawah atau atas yang bisa terlihat dan dirasa,
karena sifat-sifatnya lalu dianggap
sebagai Sifat Tuhan. Adalah Kekuasaan
Allah Swt. yang tersembunyi di dalam ciptaan
tersebut dan memanifestasikan Diri-Nya.
Semua itu pada awalnya adalah firman Allah Swt. yang melalui Kekuasaan-Nya dimanifestasikan
dalam berbagai bentuk. Seorang yang bodoh akan bertanya, bagaimana firman Tuhan diwujudkan. Apakah Tuhan
tidak menjadi berkurang karena perwujudan itu memisah dari Diri-Nya?
Ia harus menyadari bahwa api yang diperoleh dari matahari
melalui suryakanta (kaca pembesar)
sama sekali tidak akan mengurangi
sosok matahari tersebut. Begitu pula buah-buahan yang
berkembang akibat pengaruh sinar bulan tidak akan mengurangi
sosok bulan itu sama sekali. Inilah rahasia pemahaman
mengenai Tuhan Yang menjadi sentra
(pusat) dari segala masalah keruhanian bahwa dunia diciptakan melalui firman
Tuhan” (Nasimi
Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 423-424, London,
1984).
Dalam buku lainnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keagungan kekuasaan Allah Swt. dan keajaiban karya-cipta-Nya:
“Ketika aku memperhatikan semua
benda-benda langit yang besar itu dan merenungi keajaiban mereka
masing-masing, dan aku menyadari
bahwa semua itu diciptakan dalam rancangan
dan niat Allah Swt. maka tanpa sadar batinku berseru: “Wahai Allah Yang Maha Kuasa, betapa agung kekuasaan Engkau. Betapa ajaibnya
dan di luar kemampuan nalar semua karya Engkau. Alangkah bodohnya ia yang menyangkal Kekuasaan Engkau, dan alangkah tololnya ia yang bertanya: “Dari bahan apakah Dia itu membuat semua ini?” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 19, hlm. 425, catatan kaki, London,
1984).
Manusia Diciptakan Untuk Menyembah Allah Swt.
Masih Mau’ud a.s. bersabda
lagi mengenai alasan mengapa Allah
Swt. telah menetapkan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada-Nya (QS.1:5; QS.51:57):
“Realitas Ketuhanan Allah Yang Maha
Kuasa ialah Dia itu merupakan Wujud
Yang menjadi Sumber dari semua berkat dimana semua makhluk mengandalkan eksistensinya (keberadaannya) kepada-Nya. Karena itulah maka Dia
itulah satu-satunya Yang patut disembah dan kita bersuka hati
jika Dia memiliki hati, jiwa dan
raga kita, karena kita ini tidak ada artinya apa-apa jika bukan
karena Dia Yang mewujudkan kita. Dia Yang telah mewujudkan kita dari ketiadaan adalah yang
sebenar-benarnya Tuhan kita.” (Shahnah Haq, Riadh Hind
Press, N.D.; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 428-429, London, 1984).
Sehubungan dengan hal
tersebut Allah Swt. berfirman mengenai
dua aktivitas utama ibadah kepada Allah Swt, yakni menyembah Allah Swt. berupa shalat dan mengorbankan rezeki
di jalan Allah:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ مَاۤ اُرِیۡدُ
مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan ins (manusia)
melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Aku tidak menghendaki rezeki
dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan
kepada-Ku. Sesungguhnya
Allah Dia-lah Pemberi rezeki,
Pemiliki
Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyat [51]:57-58).
Arti yang utama untuk kata ‘ibadah adalah
menundukkan diri sendiri
kepada disiplin keruhanian yang ketat
– yakni menyesuaikan diri dengan Kehendak
Allah Swt. – yang merupakan hukum-hukum syariat dan hukum alam -- yang harus ditaat manusia, lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai
sepenuh jangkauannya (QS.29:70),
sepenuhnya serasi dengan dan taat
kepada perintah-perintah Ilahi agar
menerima meterai pengesahan Allah Swt. dan
mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt..
Sebagaimana tersebut dalam ayat ini itulah
maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia
lahir dan batin yang terdapat
pada sifat manusia memberikan dengan
jelas pengertian kepada kita, bahwa diantara sekian banyak kemampuan manusia ada yang membangunkan
pada dirinya dorongan untuk mencari
Allah Swt. dan yang meresapkan
kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt., firman-Nya:.
Makna ayat مَاۤ اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ
رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ
یُّطۡعِمُوۡنِ -- “Aku tidak
menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak
pula Aku menghendaki supaya
mereka memberi makan kepada-Ku,” jika sang musafir (kelana) keruhanian menempuh perjalanan
menuju tujuan hidupnya yang mulia itu dengan sabar dan tawakkal, ia tidak berbuat bajik kepada Allah Swt. atau
kepada siapa pun dengan pengorbanannya tersebut melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan perjuangannya.
Hanya Allah Swt. Satu-satunya “Tuhan”
Yang Hakiki
Selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai
mengapa Allah Swt. merupakan satu-satunya Wujud yang mustahak (wajib) disebut
“Tuhan” serta harus disembah:
“Salah satu Sifat khusus kekuasaan Allah Swt. yang menjadi dasar mengapa Dia disebut sebagai Tuhan
adalah yang berkaitan dengan penciptaan kemampuan
atau kapasitas jasmani dan ruhani.
Sebagai contoh, ketika Dia memberkati
makhluk-Nya dengan mata untuk penglihatan maka Keagungan-Nya yang utama bukan hanya
pada penciptaan mata saja tetapi pada adanya kemampuan tersembunyi
partikel-partikel di dalam tubuh makhluk (ciptaan) itu yang
memiliki kemampuan atau mendukung
kinerja penglihatan. Jika semua kekuatan
(kemampuan) itu ada dengan sendirinya
maka Tuhan tidak mempunyai arti apa-apa.
Jelas keliru menganggap bahwa
kemampuan penglihatan ada dengan sendirinya
dan Tuhan tidak memiliki saham dalam penciptaannya. Jika partikel-partikel
alam semesta ini tidak memiliki kemampuan tersebut maka Sifat Ketuhanan dari
Allah Swt. menjadi tidak berarti. Kenyataannya adalah bahwa Dia Sendirilah Yang telah menciptakan semua kapasitas
(kemampuan) dari jiwa serta partikel-partikel alam semesta ini, dan Dia terus saja mencipta mereka beserta dengan sifat-sifatnya.
Ketika sifat-sifat ini dipertemukan
maka akan muncul keajaiban-keajaiban, karena itulah tidak ada seorang penemu
(inventor) pun yang bisa menyamai Tuhan. Seorang penemu
mesin lokomotif, telegram, fotografi, percetakan atau alat apa pun tidak akan
pernah mengaku (mengklaim) bahwa tenaga
yang menggerakkan hasil temuannya
itu berasal dari dirinya sendiri. Semua penemu selalu memanfaatkan kapasitas (kemampuan) yang ada di
alam, seperti lokomotif yang bekerja karena memanfaatkan tenaga uap. Perbedaannya adalah karena Tuhan Sendirilah Yang telah menciptakan kapasitas (kemampuan) tersebut di dalam unsur-unsurnya,
sedangkan seorang penemu tidak akan
mampu mencipta kekuatan dan kapasitas tersebut.
Selama Allah Swt. tidak diyakini sebagai Pencipta semua kekuatan
dan kapasitas dari semua partikel di alam semesta ini beserta jiwa makhluk-Nya maka Sifat
Ketuhanan-Nya [sebagai Pencipta]
belum akan dimengerti, karena Dia
hanya akan dipahami sebagai kuli bangunan, tukang kayu, pandai besi
atau tukang gerabah, tidak lebih.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 19, hlm. 383-384, London, 1984).
Jawaban Nabi Musa a.s. Membungkam Kelicikan Taktik
Pertanyaan Fir’aun
Mengisyaratkan kepada
kenyataan itu pulalah jawaban Nabi
Musa a.s. ketika Fir’aun mempertanyakan “Tuhan” yang diimani oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi
Harun a.s.:
قَالَ فَمَنۡ
رَّبُّکُمَا یٰمُوۡسٰی ﴿﴾ قَالَ رَبُّنَا الَّذِیۡۤ اَعۡطٰی کُلَّ شَیۡءٍ
خَلۡقَہٗ ثُمَّ ہَدٰی ﴿﴾ قَالَ
فَمَا بَالُ الۡقُرُوۡنِ
الۡاُوۡلٰی ﴿﴾ قَالَ عِلۡمُہَا
عِنۡدَ رَبِّیۡ فِیۡ کِتٰبٍ ۚ لَا یَضِلُّ
رَبِّیۡ وَ لَا یَنۡسَی ﴿۫﴾
Ia,
Fir’aun, berkata, "Maka
siapakah Rabb (Tuhan) kamu berdua,
hai Musa?" قَالَ رَبُّنَا
الَّذِیۡۤ اَعۡطٰی کُلَّ شَیۡءٍ خَلۡقَہٗ
ثُمَّ ہَدٰی
-- Musa berkata: "Rabb (Tuhan)
kami Dia-lah Yang menganugerahi setiap sesuatu bentuk
penciptaannya dan kemudian Dia
memberi petunjuk.” قَالَ فَمَا
بَالُ الۡقُرُوۡنِ الۡاُوۡلٰی -- la, Fir’aun, berkata: "Bagaimanakah keadaan generasi-generasi terdahulu?” قَالَ عِلۡمُہَا
عِنۡدَ رَبِّیۡ فِیۡ کِتٰبٍ ۚ لَا یَضِلُّ
رَبِّیۡ وَ لَا یَنۡسَی
-- la, Musa, berkata: "Ilmu
mengenai itu di sisi Rabb-ku (Tuhan-ku)
dalam sebuah Kitab. Rabb-ku
(Tuhan-ku) tidak akan keliru dan tidak
lupa.” (Thā Hā [20]:50-53).
Makna ayat قَالَ رَبُّنَا الَّذِیۡۤ اَعۡطٰی کُلَّ
شَیۡءٍ خَلۡقَہٗ ثُمَّ ہَدٰی
-- “Musa berkata: "Rabb
(Tuhan) kami Dia-lah Yang menganugerahi setiap sesuatu bentuk
penciptaannya dan kemudian Dia
memberi petunjuk,” berarti bahwa di dunia nampak ada suatu tata-tertib yang sempurna, dan bahwa
kepada segala sesuatu itu Allah Swt.
telah menganugerahkan kemampuan-kemampuan
yang paling cocok dengan keperluan-keperluan
dan kepentingan-kepentingannya, dan
bahwa dengan mempergunakan kemampuan-kemampuan
dengan cara yang sebaik-baiknya ia dapat mencapai perkembangan yang sesempurna-sempurnanya.
Jawaban Musa a.s. terhadap pertanyaan Fir’aun yang tersebut dalam ayat terdahulu nampaknya
telah sangat membingungkan Fir’aun, lalu ia dengan tangkas berbelok dari
pokok pembahasan yang dimulainya
sendiri, sambil mengajukan suatu pertanyaan
baru kepada Musa a.s., dan menanyakan kepada beliau apakah Tuhan beliau mengetahui sesuatu tentang generasi-generasi
terdahulu yang telah mati dan berlalu dari dunia: فَمَا بَالُ
الۡقُرُوۡنِ الۡاُوۡلٰی -- “Bagaimanakah keadaan generasi-generasi
terdahulu?”
Maksudnya, bagaimana nasib mereka bila mereka itu tidak pernah mengenyam manfaat dalam menerima petunjuk dari beliau (Musa a.s.). Dengan
demikian secara halus Fir’aun berusaha menghasut kaumnya terhadap Musa a.s.
dengan mengemukakan suatu isyarat tidak langsung bahwa beliau (Musa a.s.) telah
menuduh nenek-moyang mereka jauh dari
petunjuk Ilahi dan oleh karenanya layak menerima hukuman Tuhan.
Nabi Musa a.s. memberikan jawaban yang mematahkan taktik-taktik
Fir’aun yang berusaha mengelak.
Beliau memberitahu Fir’aun bahwa ia
tidak perlu menghiraukan generasi-generasi
yang telah lampau. Allah Swt. mengetahui
segala sesuatu mengenai mereka; dan
segala sesuatu sampai sekecil-kecilnya
mengenai mereka telah tersimpan
baik-baik dalam ilmu-Nya, dan pada
hari kebangkitan Dia akan membalas semuanya sesuai dengan perbuatan dan amal mereka, dengan menimbang
tiap keadaan dan suasana mereka masing-masing: قَالَ عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ فِیۡ کِتٰبٍ ۚ
لَا یَضِلُّ رَبِّیۡ وَ لَا
یَنۡسَی -- la, Musa, berkata: "Ilmu mengenai itu di sisi Rabb-ku
(Tuhan-ku) dalam sebuah Kitab. Rabb-ku
(Tuhan-ku) tidak akan keliru dan tidak
lupa.”
Dua Macam Cara Allah Swt. Menciptakan
Selanjutnya Maish Mau’ud a.s. menjawab kekeliruan faham kaum Arya Samaj
berkenaan dengan keabadian ruh dan partikel alam semesta seperti halnya Tuhan:
“Kami bersaksi bahwa keimanan dan pemahaman kami bertentangan
sama sekali dengan pandangan dari
kaum Arya Samaj, yang menyatakan
bahwa ruh dan semua partikel
di alam berikut segala kapasitasnya (kemampuannya)
adalah suatu yang bersifat abadi dan mewujud (eksis) dengan sendirinya serta tidak diciptakan.
Sudut pandangan demikian itu bersifat merusak bagi hubungan antara Tuhan
dengan segenap makhluk-Nya.
Pandangan menjijikkan ini merupakan suatu hal yang baru, yang
diperkenalkan Pandit Dayanand[1]. Kami belum tahu seberapa jauh pandangan
tersebut bisa dikatakan bersumber
dari kitab Veda mereka.
Apa yang kami pahami setelah
melakukan penelitian dan perenungan yang mendalam adalah menyimpulkan bahwa prinsip pandangan kaum Arya
Samaj tersebut sulit diterima akal sehat. Pandangan yang dikemukakan
oleh kaum Sanatan Dharm walaupun
telah dirusak oleh dongeng-dongeng
dalam kitab Veda yang menjadikan
orang meragukannya, tetapi
sebenarnya masih memiliki kejernihan kebenaran di dalamnya.
Jika doktrin mereka ini disederhanakan maka akan berbunyi bahwa semua ini diciptakan oleh Wujud Tuhan. Dengan demikian bisa
dipastikan bahwa dari pandangan kaum Sanatan
Dharm kita bisa meyakini bahwa kitab Veda
juga sebenarnya menyatakan jika semua ruh dan partikel jasmani
serta kemampuan dan
sifat-sifatnya
itu semuanya berasal dari Tuhan.” (Nasimi
Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 387, London, 1984).
Nampaknya masalah ruh
senantiasa menjadi pembahasan
semua umat beragama dan
masing-masing pemeluk agama
memiliki pendapat yang berlainan tentang “ruh” , mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ -- katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku),
وَ
مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ
اِلَّا قَلِیۡلًا -- dan kamu
sama sekali tidak diberi ilmu mengenai itu melainkan
sedikit” (Bani Israil [17]:86).
Dalam masa kemunduran
dan kejatuhan ruhani mereka,
nampaknya orang-orang Yahudi asyik
berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult) atau kebatinan, seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu.
Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw. pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah
sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik
Mekkah mencari bantuan orang-orang Yahudi
untuk membungkam da’wah Nabi
Besar Muhammad saw., mereka memberi
saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu menanyakan kepada beliau saw. hakikat ruh manusia.
Dalam ayat yang sedang dibahas
ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan bahwa ruh
memperoleh daya kekuatannya dari perintah (‘amr) Ilahi, dan apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh
dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan
batin dan ilmu sihir, adalah
semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.
Menurut riwayat pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada
Nabi Besar Muhammad saw. di
kota Mekkah oleh orang-orang Quraisy dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud
r.a. — oleh orang-orang
Yahudi di Medinah.
Cara Allah Swt. Menciptaan
Ruh Manusia Dalam Rahim
Di sini ruh
disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah
(‘amr) langsung dari Tuhan: قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ
اَمۡرِ رَبِّیۡ -- katakanlah:
“Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku)”. Menurut Al-Quran semua penciptaan terdiri dari dua jenis:
(1) Kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa
mempergunakan zat atau benda yang
telah diciptakan sebelumnya.
(2) Kejadian selanjutnya yang dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan sebelumnya.
Kejadian macam pertama termasuk jenis amr
(arti harfiahnya ialah perintah), yang untuk itu lihat QS.2:118, dan yang
terakhir disebut khalq (arti harfiahnya ialah menciptakan). Ruh manusia termasuk jenis penciptaan
pertama. Kata ruh itu berarti wahyu Ilahi (Lexicon). Letaknya
kata ini di sini agaknya mendukung arti demikian.
Mengenai jenis penciptaan ruh dengan perantaraan ‘amr (perintah) langsung Allah Swt. –
yakni tanpa melalui proses hukum sebab
akibat -- Dia berfirman:
بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿﴾
Dia-lah Yang memulai penciptaan seluruh langit
dan bumi, وَ اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا
یَقُوۡلُ لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ -- dan apabila Dia menetapkan sesuatu
urusan maka Dia
hanya berfirman kepadanya: “Jadilah”
maka terjadilah ia (Al-Baqarah [2]:118).
Sifat Allah Swt. Al-Badī (Yang Maha Memulai)
mengisaratkan kepada kepada penciptaan segala sesuatu dari ketiadaan,
bukan melalui proses rangkaian hukum “sebab-akibat” di bawah Sifat Rabubiyat-Nya.
Dengan demikian Sifat Allah Swt. Al-Badī (Yang Maha Memulai) dalam ayat tersebut menolak faham keliru bahwa ruh dan partikel-partikal alam semesta sama abadinya dengan Allah Swt., yakni tidak diciptakan oleh Allah Swt..
Tetapi ada pula jenis ruh lainnya -- baik di kalangan manusia mau pun binatang --
yang diciptakan melalui hukum
“sebab-akibat”, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ مِّنۡ طِیۡنٍ
﴿ۚ ﴾ ثُمَّ جَعَلۡنٰہُ نُطۡفَۃً
فِیۡ قَرَارٍ مَّکِیۡنٍ ﴿۪ ﴾ ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَۃَ عَلَقَۃً فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَۃَ مُضۡغَۃً فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا
الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ٭ ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ ؕ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ اَحۡسَنُ الۡخٰلِقِیۡنَ ﴿ؕ ﴾
Dan
sungguh Kami benar-benar telah menciptakan insan (manusia) dari sari tanah liat, kemudian Kami menjadikannya air mani di dalam tempat penyimpanan yang
kokoh. Kemudian Kami menciptakan air mani menjadi segumpal
darah, maka Kami menciptakan segumpal darah itu menjadi segumpal daging, maka Kami menciptakan dari segumpal daging itu tulang-tulang, kemu-dian Kami membungkus tulang-tulang itu
dengan daging ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ -- kemudian
Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain, الۡخٰلِقِیۡنَ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ اَحۡسَنُ -- maka Maha Berkat Allah, Sebaik-baik
Pencipta (Al-Mu’minūn [23]:13-15).
Kesejajaran Pertumbuhan Jasmani dan Ruhani
Manusia
Sesudah mengemukakan berbagai tingkat evolusi ruhani manusia dalam sepuluh ayat pertama Surah ini
(QS.23:2-12), selanjutnya Al-Quran menjelaskan dalam ayat ini dan dalam beberapa
ayat berikutnya berbagai tingkat perkembangan
fisiknya, dan dengan demikian membuktikan adanya kesejajaran ajaib di antara kelahiran
dan pertumbuhan jasmani manusia dengan
ruhaninya.
Dengan menyampingkan
istilah-istilah ilmu hayat Surah ini
memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Ilmu hayat tidak menemukan sesuatu yang bertentangan sedikit pun dengan lukisan
Al-Quran. Kata-kata, خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ
سُلٰلَۃٍ مِّنۡ طِیۡنٍ -- “Kami
menciptakan manusia dari inti sari tanah
liat” menyebutkan proses kejadian
manusia mulai dari tingkat paling awal
sekali ketika ia masih dalam keadaan tidak
bernyawa dalam bentuk debu, dan
berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus
-- di bawah pengaturan Sifat Rabubiyat
Allah Swt. -- berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia. Pada tingkat فَخَلَقۡنَا
الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا -- “kemudian Kami membungkus tulang-tulang
itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan fisik mudigah (janin) menjadi sempurna.
Kata-kata ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ – “kemudian
Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain” menunjukkan, bahwa ruh
manusia tidak dimasukkan ke dalam wujud manusia dari luar, melainkan tumbuh dalam badan janin ketika ia
berkembang dalam rahim. Mula-pertama ruh
tidak mempunyai wujud terpisah dari
badan, tetapi proses-proses yang dilalui oleh badan selama berlangsung perkembangannya
dalam rahim ibu menyuling
dari badan itu sari
halus yang disebut ruh.
Segera sesudah hubungan di antara ruh
dan badan bayi dalam rahim menjadi pas benar-benar, maka jantung pun mulailah bekerja. Sesudah
itu ruh mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya badan
jasmani itu berperan sebagai wadah
bagi ruh itu.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 7 Oktober
2015
[1]
Dayanand Sarasvati (nama aslinya M ula Sankara), lahir
1824, meninggal 30 Okt. 1883, diduga karena diracun. Sosok asketik agama Hindu
yang mencoba menafsirkan kembali a jaran kitab suci Hindu yaitu Veda.
Mendirikan gerakan Arya Samaj pada tahun 1875. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar