Selasa, 06 Oktober 2015

'Ulama (Orang-orang Berilmu) Hakiki yang Beriman Kepada Rasul Allah yang Dijanjikan & "Pribadi-pribadi Surgawi" Pewaris Al-Quran



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 59

 ‘Ulama (Orang-orang Berilmu) Hakiki  yang Beriman Kepada Rasul Allah yang Dijanjikan & “Pribadi-pribadi Surgawi” Pewaris Al-Quran

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan   penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai seorang pemuda Moghul yang menjinakkan kalajengking beracun dengan terlebih dulu membaca ayat Al-Quran:
     “Dr. Bernier dalam jurnalnya ketika menguraikan[1] pendakian gunung Pir Panjal di Kashmir, menceritakan kejadian aneh di halaman 80 dari bukunya. Di suatu tempat mereka melihat seekor kalajengking hitam yang besar keluar dari bawah sebuah batu yang kemudian ditangkap oleh seorang pemuda Moghul kenalannya.
    Pemuda ini memberikan kalajengking itu kepada Dr. Bernier dan pelayannya tetapi kala itu tidak menyengat mereka.   Pemuda Moghul itu menyatakan bahwa sebelumnya ia telah membaca sebuah ayat   Al-Quran dan dengan cara itu ia telah sering menangkap kalajengking tanpa cedera.
     Pengarang dari kitab Futuhat wa Fusus yang adalah seorang filosof dan ahli tasauf terkenal dan terpelajar, ada mencatat dalam bukunya bahwa suatu ketika di rumahnya terjadi diskusi di antara seorang filosof dengan seorang lainnya mengenai sifat membakar dari  api. Orang itu memegang tangan sang filosof lalu bersama tangannya sendiri, memasukkannya ke dalam api menyala di atas dapur arang serta menahannya di sana untuk suatu jangka waktu. Ternyata api tidak membakar kedua tangan itu.   
    Aku sendiri pernah melihat seorang darwis pada suatu hari yang amat panas telah membaca ayat:
وَ  اِذَا  بَطَشۡتُمۡ  بَطَشۡتُمۡ  جَبَّارِیۡنَ ﴿﴾ۚ
 “Dan apabila kamu menangkap seseorang, kamu menangkap seperti orang-orang yang kejam”   (Asy-Syu’arā [26]:131),  lalu ia menangkap seekor tabuhan dan ia tidak disengat. Aku sendiri telah menyaksikan beberapa efek ajaib dari ayat-ayat Al-Quran yang menggambarkan keagungan kekuasaan Allah Swt..
   Singkat kata, dunia ini bagai museum yang penuh dengan keajaiban-keajaiban yang amat banyak. Para filosof yang bijak dan agung  -- yang biasanya membanggakan pengetahuan mereka yang terbatas -- menganggapnya sebagai suatu kepongahan untuk menyebut pengetahuan mereka itu sebagai hukum alam dari Allah  Swt..
     pakah mungkin manusia memberi batasan kepada kekuasaan Yang Maha Esa Yang telah menciptakan langit berhiaskan matahari, bulan dan bintang-bintang serta mencipta bumi yang seperti taman ini berisikan berbagai macam makhluk, tanpa suatu upaya khusus kecuali hanya Keinginan-Nya  (Kehendak-Nya)  saja? (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 101, London, 1984).

Ulama (Ilmuwan/Filosof) Hakiki

       Sehubungan dengan berbagai  peristiwa ajaib yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. tersebut (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 101, London, 1984),  berikut pernyataan Allah Swt. mengenai ciri khas ilmuwan (filosof) yang hakiki yang  masuk dalam kriteria  ’ulama (orang-orang yang berilmu) hakiki, sebagaimana  firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّ اللّٰہَ  اَنۡزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ  مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ  مُّخۡتَلِفًا  اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ  بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ  مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak? وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ  -- Dan demikian juga di antara manusia, hewan berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya.  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ  -- Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama.  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun  (Al-Fathīr [35]:28-29). 
      Ayat  28 bermaksud mengatakan, bahwa bila hujan turun di atas tanah yang kering dan gersang, maka air hujan itu menimbulkan aneka ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang warna warni serta aneka cita rasa, dan bentuk serta corak yang berlainan.
      Air hujannya sama tetapi tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang dihasilkan sangat berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali dikarenakan sifat yang dimiliki tanah dan benih. Demikian pula manakala wahyu Ilahi — yang pada beberapa tempat dalam Al-Quran telah diibaratkan air — turun kepada suatu kaum, maka wahyu Ilahi  itu menimbulkan berbagai-bagai akibat pada bermacam-macam manusia menurut keadaan “tanah” (hati) mereka dan cara mereka menerimanya.
      Makna ayat 29 bahwa keragaman yang indah sekali dalam bentuk, warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya terdapat pada bunga, buah, dan batu karang, akan tetapi juga pada manusia, binatang buas dan ternak. Kata an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak) dapat juga melukiskan manusia dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan, dan kecenderungan alami.
    Ungkapan  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya dsari antara hamba-hambanya yang takut kepada Allah dari  adalah para ulama” memberikan bobot arti kepada pandangan bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu saja yang takut kepada Allah Swt..

Ulil-albāb (Orang-orang yang Berakal) Sebutan Lain ‘Ulama Hakiki

      Akan tetapi di sini ilmu itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu keruhanian atau ilmu agama saja akan tetapi juga pengetahuan  hukum alam. Sebab penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya niscaya membawa orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Allah Ta’ala, dan sebagai akibatnya mereka merasa kagum dan takzim terhadap Allah Swt., Rabb (Tuhan pencipta dan Pemelihara seluruh alam), firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾   
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ -- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,    yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka,  وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  -- dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا --  seraya berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami,   Engkau  sekali-kali tidak  menciptakan  semua ini sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ --  Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ   -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau ma-sukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ -- dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Āli ‘Imrān [3]:191-193).
       Pelajaran yang terkandung dalam penciptaan seluruh  langit dan bumi dan dalam pergantian malam dan siang ialah: manusia diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani dan jasmani. Bila ia berbuat amal saleh maka masa kegelapannya dan masa kesedihannya pasti akan diikuti oleh masa terang benderang dan kebahagiaan.
   Tatanan agung yang dibayangkan pada ayat-ayat sebelumnya tidak mungkin terwujud tanpa suatu tujuan tertentu, dan karena seluruh alam ini telah dijadikan untuk menghidmati manusia, tentu saja kejadian manusia sendiri mempunyai tujuan yang agung dan mulia pula, yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57) dan menjadi khalifah (wakil) Allah di muka bumi.
    Bila orang merenungkan tentang kandungan arti keruhanian yang diserap dari gejala-gejala fisik di dalam penciptaan seluruh alam dengan tatanan sempurna yang melingkupinya itu, ia akan begitu terkesan dengan mendalam oleh kebijakan luhur Sang Al-Khāliq-nya (Maha Pencipta-nya) lalu dengan serta-merta terlontar dari dasar lubuk hatinya seruan:  رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- “Ya  Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini sia-sia.”
     Jadi,   mengisyaratkan kepada   orang-orang berakal (ulil-albāb)  itulah  ‘ulama yang hakiki dalam firman Allah sebelumnya. firman-Nya:
اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّ اللّٰہَ  اَنۡزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ  مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ  مُّخۡتَلِفًا  اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ  بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ  مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak? وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ  -- Dan demikian juga di antara manusia, hewan berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya.  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ  -- Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama.  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun  (Al-Fathīr [35]:28-29). 

Makrifat  ‘Ulama Hakiki  Mengenalkannya Kepada Rasul Allah yang Dijanjikan

       Ayat  berikut ini  memberi gambaran mengenai   ‘ulama (mereka yang dilimpahi ilmu)  atau ulul albāb (orang-orang berakal) tersebut dalam ayat sebelumnya, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یَتۡلُوۡنَ  کِتٰبَ اللّٰہِ  وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اَنۡفَقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً  یَّرۡجُوۡنَ  تِجَارَۃً  لَّنۡ تَبُوۡرَ ﴿ۙ﴾  لِیُوَفِّیَہُمۡ  اُجُوۡرَہُمۡ وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ  اِنَّہٗ  غَفُوۡرٌ  شَکُوۡرٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah,   mendirikan shalat,  dan membelanjakan sebagian dari apa yang telah Kami rezeki-kan kepada mereka dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, یَّرۡجُوۡنَ  تِجَارَۃً  لَّنۡ تَبُوۡرَ  --     mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah  gagalلِیُوَفِّیَہُمۡ  اُجُوۡرَہُمۡ وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ  اِنَّہٗ  غَفُوۡرٌ  شَکُوۡرٌ --     Supaya Dia menyempurnakan kepada mereka ganjaran mereka sepenuhnya dan Dia menambahkan kepada mereka dari karunia-Nya. Se-sungguhnya  Dia Maha Pengampun, Maha Menghargai (Al-Fathīr [35]:30-31). 
     Makrifat Ilahi yang dimiliki para ‘ulama hakiki atau  ulul albāb (orang-orang berakal) tersebut lebih jauh membimbing mereka kepada pengenalan akan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka, yaitu setelah mereka menyaksikan tanda-tanda zaman dan tanda-tanda alam berupa maraknya berbagai bentuk kobaran api  (QS.3:191-193), firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾

“Wahai Rabb (Tuhan) kami, اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا -- sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" فَاٰمَنَّا -- maka kami telah beriman.  رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا     -- Wahai  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,   dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,  وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan (mabrūr).”  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat,  اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- se-sungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji” (Āli ‘Imrān [3]:194-195). 
      Dzunub dalam ayat رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا     -- Wahai  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,   dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami”,   yang umumnya menunjuk kepada kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaan yang biasa melekat pada diri manusia, dapat melukiskan relung-relung gelap dalam hati, ke tempat itu Nur Ilahi tidak dapat sampai dengan sebaik-baiknya, sedangkan sayyi’at yang secara relatif  merupakan kata yang bobotnya lebih keras, dapat berarti gumpalan-gumpalan awan debu yang menyembunyikan cahaya matahari ruhani dari pemandangan kita. Lihat pula ayat-ayat QS.2:82 dan QS.3:17.

Para “Pewaris” Al-Quran

   Para ‘ulama hakiki  atau ulil albāb itulah yang kemudian akan menjadi para  “pewaris” Al-Quran yang hakiki, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ  مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ  لَخَبِیۡرٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾  جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ ﴿﴾  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan  Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau adalah  kebenaran untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat.  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا   -- Kemudian Kitab itu Kami   wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami, فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ    -- maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ   --  dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allahذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ --  itu adalah  karunia yang sangat besar.  Ganjaran mereka  جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا  --   Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasukinya, یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا  -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara,  وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ -- dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ  --  Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami.  اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ   -- Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ   --   Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ --  kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya”  (Al-Fāthir [35]:32-35).
   Menurut  Allah Swt. dalam firman-Nya tersebut bahwa seorang beriman melampaui berbagai tingkat disiplin keruhanian yang ketat. Pada tingkat pertama, yaitu pada tingkat  nafs-al-Ammarah (QS.12:54), ia melancarkan peperangan yang sungguh-sungguh terhadap keinginan dan nafsu rendahnya serta mengamalkan peniadaan diri secara mutlak. Itulah makna ayat: فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ    -- “maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya.”
     Pada tingkat selanjutnya,  وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ   --  “dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah,” bahwa kemajuan ke arah tujuannya  hanya sebagian saja, yakni ketika ia berhasil  keluar dari keadaan nafs-al-Ammarah lalu memasuki tingkatan nafs-al-Lawwāmah (jiwa yang mencela diri sendiri – QS.75:3),  sedangkan pada tingkat   terakhir  وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- “dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah”,    ia mencapai taraf akhlak sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata: وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah, ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ --  itu adalah  karunia yang sangat besar.” 

Pribadi-pribadi Surgawi” Pewaris Al-Quran

    Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt.  merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh ayat ini dan ayat sebelumnya,  firman-Nya:  “Ganjaran mereka  جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا  --   Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasukinya, یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا  -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara,  وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ -- dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ  --  Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami.  اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ   -- Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ   --   Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ --  kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya”  (Al-Fāthir [35]:34-35).
  Mengisyaratkan kepada keadaan “pribadi-pribadi surgawi”  pewaris Al-Quran itu pulalah firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram!    ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً  -- Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau. فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ   --  Maka masuklah dalam golong-an hamba-hamba-Ku, وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِی  -- Dan masuklah ke dalam surga-Ku  (Al-Fajr [89]:28-31).
 Gambaran dalam ayat-ayat iIni merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup tanpa Dia.
   Di dunia inilah dan bukan sesudah mati  perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surge, firman-Nya: 
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai insan  (manusia), sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka  engkau akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 4 Oktober  2015




[1] Dr . Francois Bernier , salah satu bukunya mengenai bangsa Kashmir sebagai keturunan Bani Israil adalah Travels in the Moghul Empire A.D. 1656-1668. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar