بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 59
‘Ulama (Orang-orang Berilmu)
Hakiki yang Beriman Kepada Rasul Allah
yang Dijanjikan & “Pribadi-pribadi Surgawi” Pewaris Al-Quran
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai seorang pemuda Moghul yang menjinakkan kalajengking beracun dengan terlebih
dulu membaca ayat Al-Quran:
“Dr. Bernier dalam jurnalnya ketika menguraikan[1] pendakian gunung Pir Panjal di
Kashmir, menceritakan kejadian aneh di halaman 80 dari bukunya. Di suatu tempat
mereka melihat seekor kalajengking hitam
yang besar keluar dari bawah sebuah batu yang kemudian ditangkap oleh seorang pemuda
Moghul kenalannya.
Pemuda ini memberikan kalajengking itu kepada Dr. Bernier dan
pelayannya tetapi kala itu tidak
menyengat mereka. Pemuda Moghul itu
menyatakan bahwa sebelumnya ia telah
membaca sebuah ayat Al-Quran
dan dengan cara itu ia telah sering menangkap
kalajengking tanpa cedera.
Pengarang dari kitab Futuhat wa Fusus
yang adalah
seorang filosof dan ahli tasauf terkenal dan terpelajar,
ada mencatat dalam bukunya bahwa suatu ketika di rumahnya terjadi diskusi di
antara seorang filosof dengan
seorang lainnya mengenai sifat membakar
dari api. Orang itu memegang tangan sang filosof lalu bersama tangannya
sendiri, memasukkannya ke dalam api
menyala di atas dapur arang serta menahannya di sana untuk suatu jangka
waktu. Ternyata api tidak membakar kedua tangan itu.
Aku sendiri pernah melihat seorang darwis pada suatu hari yang amat
panas telah membaca ayat:
وَ اِذَا
بَطَشۡتُمۡ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِیۡنَ ﴿﴾ۚ
“Dan
apabila kamu menangkap seseorang, kamu menangkap seperti orang-orang yang kejam”
(Asy-Syu’arā [26]:131), lalu ia menangkap seekor tabuhan dan ia tidak disengat.
Aku sendiri telah menyaksikan beberapa efek ajaib dari ayat-ayat
Al-Quran yang menggambarkan
keagungan
kekuasaan Allah Swt..
Singkat kata, dunia ini bagai
museum
yang penuh dengan keajaiban-keajaiban yang amat
banyak. Para filosof yang bijak dan
agung -- yang biasanya membanggakan pengetahuan mereka yang terbatas -- menganggapnya sebagai
suatu kepongahan untuk menyebut pengetahuan mereka itu sebagai hukum alam dari Allah Swt..
pakah mungkin manusia memberi
batasan kepada kekuasaan Yang Maha Esa Yang
telah menciptakan langit berhiaskan matahari, bulan dan bintang-bintang serta mencipta bumi yang seperti taman
ini berisikan berbagai macam makhluk,
tanpa suatu upaya khusus kecuali
hanya Keinginan-Nya (Kehendak-Nya) saja? (Surma Chasm Arya, Qadian,
1886; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 101, London, 1984).
‘Ulama (Ilmuwan/Filosof) Hakiki
Sehubungan dengan
berbagai peristiwa ajaib yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. tersebut (Surma
Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 101, London, 1984), berikut pernyataan Allah Swt. mengenai ciri khas ilmuwan (filosof) yang hakiki yang masuk dalam kriteria ’ulama
(orang-orang yang berilmu) hakiki, sebagaimana firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ
سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ
مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ
اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ
الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah dengan beraneka macam
warnanya, dan ada yang sehitam
burung gagak? وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ
اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ -- Dan demikian juga di
antara manusia, hewan berkaki empat dan binatang
ternak bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun (Al-Fathīr
[35]:28-29).
Ayat 28 bermaksud mengatakan,
bahwa bila hujan turun di atas tanah yang kering dan gersang, maka air hujan itu menimbulkan aneka
ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang warna warni serta aneka cita rasa, dan bentuk serta corak yang berlainan.
Air hujannya sama tetapi
tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang dihasilkan sangat berbeda satu sama lain.
Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali dikarenakan sifat yang dimiliki tanah
dan benih. Demikian pula manakala wahyu Ilahi — yang pada beberapa tempat
dalam Al-Quran telah diibaratkan air
— turun kepada suatu kaum, maka wahyu Ilahi itu menimbulkan berbagai-bagai akibat pada bermacam-macam manusia menurut keadaan “tanah” (hati) mereka dan cara
mereka menerimanya.
Makna ayat 29 bahwa keragaman yang indah sekali dalam bentuk, warna, dan corak, yang
telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya terdapat pada bunga, buah,
dan batu karang, akan tetapi juga pada manusia,
binatang buas dan ternak. Kata an-nās (manusia), ad-dawāb
(binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak) dapat juga melukiskan manusia dengan bermacam-macam
kesanggupan, pembawaan, dan kecenderungan alami.
Ungkapan اِنَّمَا یَخۡشَی
اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya dsari antara hamba-hambanya yang takut
kepada Allah dari adalah para ulama”
memberikan bobot arti kepada
pandangan bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu saja yang takut kepada Allah Swt..
Ulil-albāb (Orang-orang yang Berakal) Sebutan Lain ‘Ulama Hakiki
Akan tetapi di sini ilmu itu
tidak seharusnya selalu berarti ilmu
keruhanian atau ilmu agama saja akan
tetapi juga pengetahuan hukum alam. Sebab penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya
niscaya membawa orang kepada makrifat
mengenai kekuasaan Maha Besar Allah
Ta’ala, dan sebagai akibatnya mereka merasa kagum dan takzim terhadap
Allah Swt., Rabb (Tuhan pencipta dan Pemelihara seluruh alam), firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ
وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ
ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ
اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran
malam dan siang لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ -- benar-benar terdapat Tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil
berbaring atas rusuk mereka,
وَ
یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- dan mereka
memikirkan mengenai penciptaan
seluruh langit dan bumi رَبَّنَا مَا
خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- seraya berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, Engkau
sekali-kali tidak menciptakan semua ini sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Maha
Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api. رَبَّنَاۤ
اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa
yang Engkau ma-sukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ
مِنۡ اَنۡصَارٍ -- dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Āli ‘Imrān [3]:191-193).
Pelajaran yang terkandung dalam penciptaan
seluruh langit dan bumi dan dalam
pergantian malam dan siang ialah: manusia diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani dan jasmani. Bila ia berbuat amal
saleh maka masa kegelapannya dan masa kesedihannya pasti akan diikuti
oleh masa terang benderang dan kebahagiaan.
Tatanan
agung yang dibayangkan pada ayat-ayat sebelumnya tidak mungkin terwujud tanpa
suatu tujuan tertentu, dan karena seluruh alam ini telah dijadikan untuk menghidmati manusia, tentu saja kejadian
manusia sendiri mempunyai tujuan yang
agung dan mulia pula, yaitu untuk
beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57) dan menjadi khalifah (wakil) Allah di
muka bumi.
Bila orang merenungkan
tentang kandungan arti keruhanian
yang diserap dari gejala-gejala fisik
di dalam penciptaan seluruh alam dengan tatanan sempurna yang melingkupinya
itu, ia akan begitu terkesan dengan mendalam oleh kebijakan luhur Sang Al-Khāliq-nya
(Maha Pencipta-nya) lalu dengan serta-merta terlontar dari dasar lubuk hatinya
seruan: رَبَّنَا مَا
خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- “Ya
Rabb (Tuhan) kami,
sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan
semua ini sia-sia.”
Jadi, mengisyaratkan kepada orang-orang
berakal (ulil-albāb) itulah ‘ulama yang
hakiki dalam firman Allah sebelumnya.
firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ
غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ مِنَ النَّاسِ وَ
الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah
engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu
buah-buahan yang beraneka warnanya.
Dan di gunung-gunung ada garis-garis
putih, merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak? وَ مِنَ النَّاسِ وَ
الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ -- Dan demikian juga di
antara manusia, hewan berkaki empat dan binatang
ternak bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun (Al-Fathīr
[35]:28-29).
Makrifat ‘Ulama
Hakiki Mengenalkannya Kepada Rasul Allah yang Dijanjikan
Ayat berikut
ini memberi gambaran mengenai ‘ulama
(mereka yang dilimpahi ilmu) atau ulul albāb (orang-orang berakal) tersebut
dalam ayat sebelumnya, firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یَتۡلُوۡنَ کِتٰبَ
اللّٰہِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اَنۡفَقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ
عَلَانِیَۃً یَّرۡجُوۡنَ تِجَارَۃً
لَّنۡ تَبُوۡرَ ﴿ۙ﴾ لِیُوَفِّیَہُمۡ اُجُوۡرَہُمۡ وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ
ؕ اِنَّہٗ غَفُوۡرٌ
شَکُوۡرٌ ﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan
membelanjakan sebagian dari apa yang telah Kami rezeki-kan kepada
mereka dengan sembunyi-sembunyi
dan terang-terangan, یَّرۡجُوۡنَ تِجَارَۃً لَّنۡ تَبُوۡرَ -- mereka
itu mengharapkan perniagaan yang
tidak akan pernah gagal. لِیُوَفِّیَہُمۡ اُجُوۡرَہُمۡ وَ
یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ
اِنَّہٗ غَفُوۡرٌ شَکُوۡرٌ -- Supaya Dia menyempurnakan kepada mereka ganjaran mereka sepenuhnya dan Dia
menambahkan kepada mereka dari karunia-Nya.
Se-sungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha
Menghargai (Al-Fathīr [35]:30-31).
Makrifat
Ilahi yang dimiliki para ‘ulama
hakiki atau ulul albāb (orang-orang berakal) tersebut lebih jauh membimbing mereka kepada pengenalan akan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
Allah Swt. kepada mereka, yaitu setelah mereka menyaksikan tanda-tanda zaman dan tanda-tanda
alam berupa maraknya berbagai
bentuk kobaran api (QS.3:191-193), firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا
سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا
ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ
وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
“Wahai Rabb (Tuhan) kami, اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا
بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا -- sesungguhnya kami
telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada keimanan
seraya berkata: "Berimanlah
kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" فَاٰمَنَّا -- maka kami
telah beriman. رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami, وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- dan wafatkanlah kami
bersama orang-orang yang berbuat kebajikan (mabrūr).” رَبَّنَا وَ
اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Engkau, dan janganlah
Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, اِنَّکَ لَا
تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- se-sungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji” (Āli ‘Imrān [3]:194-195).
Dzunub
dalam ayat رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami”, yang umumnya menunjuk kepada kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaan yang biasa melekat
pada diri manusia, dapat melukiskan relung-relung
gelap dalam hati, ke tempat itu Nur Ilahi tidak dapat sampai dengan
sebaik-baiknya, sedangkan sayyi’at yang secara relatif merupakan kata yang bobotnya lebih keras,
dapat berarti gumpalan-gumpalan awan debu
yang menyembunyikan cahaya matahari
ruhani dari pemandangan kita. Lihat pula ayat-ayat QS.2:82 dan QS.3:17.
Para “Pewaris” Al-Quran
Para ‘ulama
hakiki atau ulil albāb itulah yang kemudian akan menjadi para “pewaris” Al-Quran
yang hakiki, firman-Nya:
وَ
الَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ
مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ لَخَبِیۡرٌۢ بَصِیۡرٌ ﴿﴾ ثُمَّ
اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ
فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ
بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا
مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا
ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ
ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan Kitab
yang Kami wahyukan kepada engkau adalah kebenaran
untuk menggenapi apa yang
sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap
hamba-hambanya benar-benar Maha
Mengetahui, Maha Melihat. ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا
مِنۡ عِبَادِنَا -- Kemudian Kitab itu Kami wariskan
kepada orang-orang yang telah Kami pilih
dari antara hamba-hamba Kami, فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ -- maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ -- dari
antara mereka ada yang mengambil jalan
tengah, وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- dan dari antara
mereka ada yang unggul dalam kebaikan dengan izin
Allah, ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ -- itu adalah karunia
yang sangat besar. Ganjaran
mereka جَنّٰتُ
عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا -- Kebun-kebun abadi, mereka
akan memasukinya, یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ
مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, وَ لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ -- dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ
اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ -- Dan
mereka berkata: “Segala puji bagi Allah,
Yang telah menjauhkan kesedihan dari
kami. اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ -- Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha
Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Yang menempatkan
kami di rumah abadi dari karunia-Nya,
لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا
فِیۡہَا لُغُوۡبٌ -- kesulitan tidak menyentuh kami di dalamnya dan tidak
pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya” (Al-Fāthir [35]:32-35).
Menurut
Allah Swt. dalam firman-Nya tersebut bahwa seorang beriman melampaui berbagai tingkat
disiplin keruhanian yang ketat. Pada tingkat pertama, yaitu pada
tingkat nafs-al-Ammarah (QS.12:54), ia melancarkan peperangan yang sungguh-sungguh terhadap keinginan dan nafsu rendahnya
serta mengamalkan peniadaan diri secara
mutlak. Itulah makna ayat: فَمِنۡہُمۡ
ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ -- “maka
dari antara mereka sangat zalim terhadap
dirinya.”
Pada tingkat selanjutnya, وَ مِنۡہُمۡ
مُّقۡتَصِدٌ -- “dari
antara mereka ada yang mengambil jalan
tengah,” bahwa kemajuan ke arah tujuannya hanya sebagian
saja, yakni ketika ia berhasil keluar
dari keadaan nafs-al-Ammarah lalu
memasuki tingkatan nafs-al-Lawwāmah
(jiwa yang mencela diri sendiri – QS.75:3),
sedangkan pada tingkat terakhir
وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- “dan dari antara
mereka ada yang unggul dalam kebaikan dengan izin
Allah”, ia mencapai taraf akhlak sempurna, dan kemajuan
ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata: وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- dan dari antara mereka ada yang unggul
dalam kebaikan dengan izin Allah, ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ -- itu adalah karunia
yang sangat besar.”
“Pribadi-pribadi Surgawi” Pewaris Al-Quran
Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai
yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt. merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan
Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia
ini dan di akhirat, sebagaimana
diperlihatkan oleh ayat ini dan ayat sebelumnya, firman-Nya:
“Ganjaran mereka جَنّٰتُ
عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا -- Kebun-kebun abadi, mereka
akan memasukinya, یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ
مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, وَ لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ -- dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ
اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ -- Dan
mereka berkata: “Segala puji bagi Allah,
Yang telah menjauhkan kesedihan dari
kami. اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ -- Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha
Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Yang menempatkan
kami di rumah abadi dari karunia-Nya,
لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ -- kesulitan tidak menyentuh kami di dalamnya dan tidak
pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya” (Al-Fāthir [35]:34-35).
Mengisyaratkan kepada keadaan “pribadi-pribadi surgawi” pewaris
Al-Quran itu pulalah firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ
اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ
فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی
رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً -- Kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau. فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ -- Maka masuklah
dalam golong-an hamba-hamba-Ku,
وَ
ادۡخُلِیۡ جَنَّتِی -- Dan masuklah ke dalam surga-Ku (Al-Fajr [89]:28-31).
Gambaran dalam ayat-ayat iIni merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika
manusia ridha kepada Rabb-nya
(Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat
ini yang disebut pula tingkat surgawi,
ia menjadi kebal terhadap segala macam
kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia
“manunggal” dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup tanpa Dia.
Di dunia
inilah dan bukan sesudah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam
dirinya, dan di dunia inilah dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surge, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ
کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai insan (manusia),
sesungguhnya engkau bekerja keras dengan
sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka engkau
akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 4 Oktober 2015
[1]
Dr . Francois Bernier , salah satu bukunya mengenai bangsa
Kashmir sebagai keturunan Bani Israil adalah Travels in the Moghul Empire A.D. 1656-1668. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar