Senin, 19 Oktober 2015

Ketergantungan Seluruh Makhluk (Ciptaan) Allah Swt. Kepada-Nya & Tidak Ada Sesuatu pun yang Seperti Allah Swt.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 70

Ketergantungan Seluruh Makhluk (Ciptaan) Allah Swt. Kepada-Nya  &  Tidak Ada Sesuatu pun yang Seperti Allah Swt.


  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  sabda  Masih Mau’ud a.s. mengenai kesia-siaan berbagai dugaan atau khayalan yang bertentangan dengan kesempurnaan Wujud dan Sifat-sifat-Nya yakni Al-Asmā-ul-Husna:
فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ  اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا ۚ یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ ؕ لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Dia  Pencipta seluruh langit dan bumi. Dia menjadikan pasangan-pasangan  bagi kamu dari jenismu,  dan dari binatang ternak pun pasangan-pasangan, Dia mengembangbiakkan kamu di dalamnya.  لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ -- Tidak  ada sesuatu pun semisal-Nya وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ  --   dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy Syūrā [42]:12).
   Kata-kata, لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ --  "Tidak ada semisal-Nya sesuatu pun" melenyapkan kesalahfahaman yang mungkin timbul disebabkan kalimat "Tuhan telah membuat segala sesuatu berpasangan," yaitu  bahwa Allah Swt. juga memerlukan istri untuk dijadikan pasangan. Kata-kata itu berarti bahwa tidaklah mungkin mengkhayalkan sesuatu sebagai Allah Swt.  karena Tuhan itu jauh di atas pengamatan dan pengertian manusia.
   Karena itu sungguh bodohlah mencoba menemukan kesamaan antara Sifat-sifat Ilahi dengan sifat-sifat manusia, meskipun kedua-duanya mungkin mempunyai suatu persamaan yang jauh dan tidak sempurna, yakni  persamaan dari segi  istilah  contohnya mendengar, melihat, berbicara dan lain-lain. firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ     --   Katakanlah:  Dia-lah  Allah   Yang Maha Esa. اَللّٰہُ  الصَّمَدُ   --      Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya. لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ  --    Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ --   dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).

Kemandirian Allah Swt. dalam Segala Hal

   Kata qul (katakan) dalam ayat 2  mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa”.  Kata     Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan  - Pent.) dan berarti  “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia mengenai adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173-174).
    Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.  
   Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam Wujud-Nya (Lexicon Lane).
    Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wāhid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wāhidun akan berarti, bahwa Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
   Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun: لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ --  "Tidak ada semisal-Nya sesuatu pun" (QS.42:12), Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.
   Shamad  dalam ayat اَللّٰہُ  الصَّمَدُ   --      “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya”,  berarti: Wujud  yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia  tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya. Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu Sifat Tuhan, berarti:
(1)    Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan;
(2)    Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya;
(3)    Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi;
(4)    Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
   Dalam ayat yang mendahuluinya telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat sekarang ini mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan dari Allah Swt.  tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya.    Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun. Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya.
   Pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya.  Allah Swt sajalah   satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.

Tidak Beranak dan Tidak Berbapak

     Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat ini sifat “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan), sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran bahwa Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, sebab semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain  tunduk kepada hukum kematian. Allah Swt. tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak. Itulah makna ayat: لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ  --    “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”
     Ayat   وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ   “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.” ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah  Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia, yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
     Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah Swt.  Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu  Rabb  yakni Pencipta dan Pengawas   seluruh alam raya. Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan ke-Esa-an Sang Pencipta (QS.21:23), firman-Nya:  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- “Segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam” (Al-Fatihah [1]:2).  
 Dengan demikian Surah Al-Ikhlash   mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain – yaitu kepercayaan kepada dua atau tiga atau lebih banyak Tuhan, dan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
    Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi – yakni Allah Swt. -- seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh Al-Quran.

Kecuali Allah Swt.  Tidak Ada Seorang pun yang Mengetahui yang Gaib

        Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda   mengenai ketidak-mampuan manusia mengetahui yang gaib:
      “Adalah karakteristik  Allah Yang Maha Kuasa -- berdasarkan kekuasaan dan kondisi Wujud-Nya -- bahwa hanya Dia saja Yang mengetahui segala hal yang tersembunyi. Dari sejak zaman purba, mereka yang berada di jalan kebenaran meyakini bahwa adalah sepatutnya bagi Allah  Swt. untuk mengetahui segala yang tersembunyi. Hal ini merupakan kekhususan pribadi Wujud-Nya.
       Dia tidak mempunyai sekutu dalam Sifat ini sebagaimana juga Dia tidak ada yang menyamai dalam Sifat-sifat lainnya. Karena itu adalah mustahil bagi siapa pun untuk mengetahui dengan kemampuan dirinya sendiri mengenai hal-hal yang tersembunyi, walaupun ia itu seorang nabi, muhaddats atau pun wali.
   Memang benar bahwa mereka yang menjadi kekasih-Nya diberikan pengetahuan tentang misteri-misteri yang tersembunyi tersebut melalui wahyu atau ilham. Keadaan ini sudah berlaku sejak zaman purba dan tetap berlaku sampai masa kini, hanya saja sekarang ini pengalaman tersebut terbatas hanya bagi para pengikut  Nabi Suci Muhammad saw. saja.”  (Tasdiqin Nabi, hlm. 26-27 atau Maktubati Ahmadiyya, jld.  3, hlm. 57).
      Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai pemberitahuan yang kegaiban-Nya  kepada para Rasul Allah:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿ ﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya   hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik.  وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ ُ -- Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu,  وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآء -- tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ  -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,  وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ -- dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Āli ‘Imran [3]:180).

Makna “Izhhar ‘Alā al-Ghaib” (Penzahiran yang Gaib)

     Kemudian mengenai alasan pemilihan Rasul Allah guna menampakkan kegaiban-Nya Allah Swt. berfirman:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾  
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya baris-an pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
   Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
   Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
 Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  yakni  penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
 Tambahan pula wahyu Ilahi  yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa  lainnya tidak begitu terpelihara.
     Demikian juga halnya dengan Nabi Besar Muhammad saw. pun beliau saw.   – kecuali mendapat pemberitahuan melalui wahyu Ilahi   -- beliau saw. tidak mengetahui hal-hal yang gaib, firman-Nya:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا --  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami.  مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.  وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus,  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ  --  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ  -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Asy-Syūrā [42]:52-54).
  Ayat 52  menyebut tiga cara Allah Swt.      berbicara atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a)  Allah Swt.  berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara.
(b)  Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir,"
(c)   Allah Swt.  menurunkan seorang utusan (rasul) atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
  Dalam ayat selanjutnya  Al-Quran disebut di sini ruh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya  bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baruوَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا --  “Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami.”  
    Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt.  dan menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya (QS.51:57), itulah makna ayat: وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.”  
  Makna ayat اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ  -- “ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali”  bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di Tangan Allah Swt.., Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa beliau saw. adalah manusia seperti manusia  lainnya, ada pun perbedaannya adalah  Allah Swt. senantiasa berkomunikasi dengan beliau saw., karena beliau saw. adalah seorang rasul Allah,  firman-Nya:
قُلۡ اِنَّمَاۤ  اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:  ”Sesungguh­nya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) Yang Maha Esa, فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ  --  maka barangsiapa mengharap akan bertemu  dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا --  maka hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan  memper­sekutukan siapa pun dalam ber­ibadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)."  (Al-Kahf [18]:111).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 17 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar