بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 70
Ketergantungan Seluruh Makhluk
(Ciptaan) Allah Swt. Kepada-Nya
& Tidak Ada Sesuatu pun yang Seperti Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai kesia-siaan berbagai dugaan atau khayalan yang
bertentangan dengan kesempurnaan Wujud dan Sifat-sifat-Nya yakni Al-Asmā-ul-Husna:
فَاطِرُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا ۚ
یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ ؕ لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ
شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Dia
Pencipta seluruh langit dan bumi.
Dia menjadikan pasangan-pasangan bagi kamu
dari jenismu, dan dari binatang ternak pun
pasangan-pasangan, Dia mengembangbiakkan kamu di
dalamnya. لَیۡسَ
کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ -- Tidak ada sesuatu pun semisal-Nya وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ -- dan Dia
Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy
Syūrā [42]:12).
Kata-kata, لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ -- "Tidak
ada semisal-Nya sesuatu pun" melenyapkan kesalahfahaman yang mungkin timbul disebabkan kalimat "Tuhan telah membuat segala sesuatu
berpasangan," yaitu bahwa Allah
Swt. juga memerlukan istri untuk
dijadikan pasangan. Kata-kata itu
berarti bahwa tidaklah mungkin mengkhayalkan
sesuatu sebagai Allah Swt. karena Tuhan itu jauh di atas pengamatan dan pengertian manusia.
Karena itu sungguh bodohlah mencoba menemukan kesamaan
antara Sifat-sifat Ilahi dengan sifat-sifat manusia, meskipun
kedua-duanya mungkin mempunyai suatu persamaan
yang jauh dan tidak sempurna, yakni persamaan dari segi istilah contohnya mendengar, melihat, berbicara dan
lain-lain. firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
قُلۡ
ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ -- Katakanlah:
“Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan, وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).
Kemandirian Allah Swt.
dalam Segala Hal
Kata qul (katakan) dalam ayat 2 mengandung perintah
kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu
Maha Esa”. Kata Huwa
(Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama
yang menunjukkan keadaan - Pent.) dan
berarti “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia mengenai adanya
Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173-174).
Allah
adalah nama khas, dipergunakan
dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa.
Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama
mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.
Ahad
adalah sebutan yang dikenakan
hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang
tiada wujud lainnya sebagai mitra
dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula
dalam Wujud-Nya (Lexicon Lane).
Sementara Ahad berarti ke-Esa-an
Tuhan dalam Wujud-Nya – gagasan
adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wāhid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya. Dengan demikian
ungkapan, Allāhu Wāhidun akan berarti, bahwa Tuhan itu Wujud Tertinggi
dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang
Esa dan Tunggal dalam arti, bahwa
bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia,
Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian
mata rantai, dan bukan pula mata rantai
terakhir. Tidak ada sesuatu seperti
Dia dan Dia pun tidak seperti benda
apapun: لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ -- "Tidak
ada semisal-Nya sesuatu pun" (QS.42:12), Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan
oleh Al-Quran.
Shamad
dalam ayat اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- “Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya”, berarti: Wujud yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan;
atau yang kepadanya ditujukan ketaatan;
yang tanpa dia tidak ada perkara dapat
diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di
atasnya. Karena Ash-Shamad merupakan salah satu Sifat Tuhan, berarti:
(1)
Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi
segala keperluan;
(2)
Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang
kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan
dalam kebutuhan dan keperluannya;
(3)
Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak
berwujud lagi;
(4)
Yang tiada
wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
Dalam ayat yang mendahuluinya telah
dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal,
dan Mandiri. Ayat sekarang ini
mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud
mempunyai ketergantungan dari Allah
Swt. tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan
Dia, tetapi Dia tidak memerlukan
siapapun. Dia tidak memerlukan wujud
atau zat apapun guna menciptakan alam raya.
Pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri
sendiri); tiap sesuatu bergantung
pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya.
Allah Swt sajalah satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung
pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya
tidak mengenal batas.
Tidak Beranak dan Tidak Berbapak
Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan
tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk
mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah
itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam
ayat ini sifat “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna
menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala
keperluan), sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari
pikiran bahwa Dia memerlukan bantuan
dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang
harus melanjutkan pekerjaan-Nya
sesudah Dia mati, sebab semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan
wujud lain tunduk kepada hukum kematian. Allah Swt. tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak. Itulah
makna ayat: لَمۡ یَلِدۡ
۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- “Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan.”
Ayat
وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ – “dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” ini menghilangkan suatu keraguan
yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya,
bahwa taruhlah Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud
lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia, yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti
Allah Swt. Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Rabb yakni Pencipta
dan Pengawas seluruh
alam raya. Tata kerja sempurna yang
melingkupi dan meliputi alam raya pun
menuntun kepada kesimpulan yang tidak
dapat dielakkan, bahwa satu hukum
yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya
membuktikan serta menyatakan ke-Esa-an Sang Pencipta (QS.21:23), firman-Nya:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --
“Segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam” (Al-Fatihah [1]:2).
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar
semua itikad kemusyrikan yang
terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama
lain – yaitu kepercayaan kepada dua atau tiga atau lebih banyak Tuhan,
dan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat
Yang Maha Tinggi – yakni Allah Swt.
-- seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab
Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai
keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh
Al-Quran.
Kecuali Allah Swt. Tidak Ada Seorang
pun yang Mengetahui yang Gaib
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai ketidak-mampuan
manusia mengetahui yang gaib:
“Adalah karakteristik
Allah Yang Maha Kuasa -- berdasarkan kekuasaan
dan kondisi Wujud-Nya -- bahwa hanya Dia saja Yang mengetahui segala hal yang tersembunyi. Dari sejak zaman purba,
mereka yang berada di jalan kebenaran meyakini bahwa
adalah sepatutnya bagi Allah
Swt. untuk mengetahui segala yang tersembunyi. Hal ini merupakan kekhususan pribadi Wujud-Nya.
Dia tidak mempunyai sekutu
dalam Sifat ini sebagaimana juga Dia tidak ada yang menyamai dalam Sifat-sifat lainnya. Karena itu
adalah mustahil bagi siapa pun untuk mengetahui dengan kemampuan dirinya sendiri
mengenai hal-hal yang tersembunyi,
walaupun ia itu seorang nabi, muhaddats atau pun wali.
Memang benar bahwa mereka yang menjadi kekasih-Nya
diberikan pengetahuan tentang misteri-misteri yang tersembunyi tersebut melalui wahyu
atau ilham. Keadaan ini sudah berlaku sejak zaman purba dan tetap
berlaku sampai masa kini, hanya saja sekarang ini pengalaman tersebut terbatas hanya bagi para pengikut Nabi
Suci Muhammad saw. saja.” (Tasdiqin Nabi, hlm. 26-27
atau Maktubati Ahmadiyya, jld. 3, hlm. 57).
Sehubungan dengan hal
tersebut Allah Swt. berfirman mengenai pemberitahuan
yang kegaiban-Nya kepada para Rasul Allah:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی
مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی
یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ
وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ
وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا
فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿ ﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang
yang beriman di dalam keadaan kamu berada
di dalamnya hingga Dia
memisahkan yang buruk dari yang baik.
وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ ُ -- Dan Allah sekali-kali tidak akan
memperlihatkan yang gaib kepada kamu, وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآء -- tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- karena
itu berimanlah kamu kepada Allah
dan rasul-rasul-Nya, وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ -- dan jika kamu beriman
dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Āli
‘Imran [3]:180).
Makna “Izhhar ‘Alā al-Ghaib” (Penzahiran yang Gaib)
Kemudian
mengenai alasan pemilihan Rasul Allah
guna menampakkan kegaiban-Nya Allah
Swt. berfirman:
عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ
ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ
وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ
شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia
tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya baris-an pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
supaya Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan
Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar
‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara
berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib
bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna
membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada seorang rasul
Allah dan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada orang-orang mukmin
bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa,
kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib yakni penguasaan
atas yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang
bertakwa dan orang-orang suci
lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau
pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa
lainnya tidak begitu terpelihara.
Demikian juga halnya dengan Nabi Besar
Muhammad saw. pun beliau saw. – kecuali
mendapat pemberitahuan melalui wahyu Ilahi -- beliau saw. tidak mengetahui hal-hal yang
gaib, firman-Nya:
وَ مَا
کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ
عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ
اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya,
kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan
dengan seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki, sesungguhnya, Dia Maha
Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah
Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ -- Engkau sekali-kali tidak
mengetahui apa Kitab itu, dan tidak
pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا
نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur,
yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada
siapa yang Kami kehendaki dari
antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi
petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit
dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah,
kepada Allah segala perkara kembali.
(Asy-Syūrā [42]:52-54).
Ayat 52
menyebut tiga cara Allah Swt. berbicara
atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a) Allah Swt. berfirman secara langsung kepada mereka tanpa
perantara.
(b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat
ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam
keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang
berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir,"
(c)
Allah Swt. menurunkan
seorang utusan (rasul) atau seorang malaikat
yang menyampaikan Amanat Ilahi.
Dalam ayat selanjutnya Al-Quran disebut di sini ruh (nafas
hidup — Lexicon Lane), sebab
dengan perantaraannya bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru: وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- “Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah
Kami.”
Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt. dan menyadarkan
manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya (QS.51:57), itulah
makna ayat: وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur,
yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada
siapa yang Kami kehendaki dari antara
hamba-hamba Kami.”
Makna ayat اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ
تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- “ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali” bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di Tangan Allah Swt.., Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa beliau
saw. adalah manusia seperti manusia lainnya, ada pun perbedaannya adalah Allah Swt.
senantiasa berkomunikasi dengan beliau
saw., karena beliau saw. adalah seorang rasul
Allah, firman-Nya:
قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ
عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:
”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti
kamu, tetapi telah diwahyukan
kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu
adalah Rabb (Tuhan) Yang Maha Esa, فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ -- maka barangsiapa mengharap akan bertemu
dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا -- maka
hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan
mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)."
(Al-Kahf [18]:111).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 17 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar