Sabtu, 17 Oktober 2015

Akibat Buruk "Ketidak-bersyukuran" Manusia & Faham "Penebusan Dosa" Versi "Injil" Paulus Bertentangan Dengan Hukum Syariat, Hukum Alam, dan Hukum Nagara




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 68

Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Manusia   &  Faham  Penebusan Dosa  Versi “Injil” Paulus Bertentangan Dengan  Hukum Syariat, Hukum Alam dan Hukum Negara

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai  makna penghakiman Allah Swt. terhadap manusia  sama sekali tidak berkaitan dengan kepentingan-Nya, sehubungan dengan firman-Nya dalam Surah At-Tīn:      لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ  --   “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik  bentuk,” (QS.95:5).
       Yakni semata-mata karena rahmat-Nya manusia dilahirkan dengan fitrat suci dan tidak bernoda (QS.7:173; QS.30:31), dengan kecondongan alami untuk berbuat baik, tetapi manusia  pun telah diberi pula cukup banyak kebebasan berkemauan dan berbuat untuk membentuk dirinya menurut pilihannya sendiri, firman-Nya:
وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ  مُرۡتَفَقًا ﴿﴾  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا  لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا ﴿ۚ﴾
Dan katakanlah:  ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan) kamu  فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ  -- karena itu barang­siapa menghendaki  maka beriman­lah, dan barangsiapa menghendaki  maka kafirlah”,   sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu api yang dinding-dindingnya me­ngepung mereka, dan jika mereka berteriak meminta tolong, mereka akan ditolong dengan air seperti leburan timah, yang akan menghanguskan wajah-wajah, وَ سَآءَتۡ  مُرۡتَفَقًا -- sangat buruk minum­an itu dan sangat buruk tempat tinggal itu! اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ --  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh,  اِنَّا  لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا -- sesungguhnya  Kami tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang mengerjakan amal  baik. (Al-Kahf [18]:30-31).
    Jadi, tidak benar bahwa seluruh manusia yang dilahirkan Adam dan Hawa menanggung “dosa warisan” keduanya, akibat pelanggaran  terhadap larangan Allah Swt. agar keduanya  tidak mendekati “pohon terlarang” (Kejadian 3:1-24), dan bahwa  “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di atas salib  adalah untuk menebus “dosa warisan” tersebut.

 Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Manusia

 Manusia telah dianugerahi Allah Swt. kemampuan-kemampuan alami besar dan kecakapan-kecakapan kreatif guna mencapai kemajuan akhlak yang tidak terhingga dan menaiki puncak keruhanian demikian tingginya, sehingga ia menjadi cermin yang memantulkan Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt., terutama yang terdapat dalam Surah Al-Fatihah yakni Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat.
Tetapi jika dalam kebebasannya tersebut manusia menyalahgunakan kemampuan-kemampuan dan sifat-sifatnya yang dianugerahkan Allah Swt. maka akibatnya ia jatuh ke martabat rendah yang rendah yang bahkan lebih rendah daripada martabat binatang buas dan binatang jalang, dan menjadi penjelmaan syaitan seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikutnya.
Singkatnya,  manusia  telah dianugerahi kemampuan-kemampuan besar guna berbuat baik atau pun jahat: ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ --  “Kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling rendah” ”  (At-Tīn [95]:6). 
 Jika manusia telah diciptakan untuk mencapai tujuan ruhani yang amat tinggi itu dan Allah Swt. telah mengutus nabi-nabi-Nya   --  seperti Nabi Adam a.s.,   Nabi Nuh a.s.,  Nabi Musa a.s., dan Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.7:35-37) -- untuk menolong manusia mencapai tujuannya yang agung itu, dan jika ia tidak mempergunakan kemampuan-kemampuannya dengan cara tepat dan menolak Amanat Ilahi serta menentang para utusan Allah lalu dia dihukum, kemudian siapakah dapat menolak  berdasarkan akal sehat bahwa ada Hari Pembalasan di dunia ini dan juga di akhirat dan bahwa perintah-perintah Allah Swt.  -- Yang adalah Hakim terbaik  -- tidak dapat dilawan dan bahwa perbuatan-perbuatan manusia tidak akan dibiarkan bebas tanpa berbalas? Firman-Nya: فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ --  Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan hari pembalasan sesudah itu?   اَلَیۡسَ اللّٰہُ  بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ -- Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim? (At-Tīn [95]:8-9). 

Kekeliruan Pandangan Umat Kristen

    Dalam topik bahasan yang sama, Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah dalam kapasitasnya sebagai Al-Masih yang Dijanjikan  (Masih Mau’ud a.s.) menjawab kekeliruan pandangan dari umat Kristen:
    “Umat Kristiani yang berpandangan cupat (sempit) karena kurangnya perenungan yang benar, telah beranggapan salah bahwa keadilan dan rahmat tidak bisa muncul berdampingan dalam Wujud Allah  Swt.,  karena keadilan menuntut adanya penghukuman sedangkan rahmat mengharuskan adanya pengampunan.
     Mereka tidak bisa mempertimbangkan bahwa keadilan Allah Swt. adalah juga rahmat, karena semuanya itu adalah bagi kemaslahatan umat manusia. Sebagai contoh, jika Allah Yang Maha Kuasa menetapkan bahwa seorang pembunuh harus dihukum mati maka hal ini tidak ada pengaruhnya pada Sifat Ke-Tuhan-an Wujud-Nya. Dia menetapkan demikian atas dasar pertimbangan agar umat manusia tidak musnah karena saling membunuh di antara mereka.
    Hal ini menjadi rahmat bagi umat manusia dan Allah Yang Maha Perkasa menetapkan sistem kesamaan hak di antara para makhluk-Nya, agar bisa tercipta perdamaian dimana tidak ada kelompok yang satu mencerobohi (menzalimi) kelompok lainnya yang hanya akan menimbulkan kekacauan. Dengan demikian semua hukuman yang ditentukan dalam ruang lingkup kehidupan, harta benda dan kehormatan merupakan rahmat bagi umat manusia, karena itu tidak ada konflik di antara keadilan dan rahmat.
    Keduanya itu seperti arus sungai yang berjalan paralel (sejajar) dimana yang satu tidak mencampuri yang lain. Kita bisa menemukan prinsip yang sama berfungsi pada kerajaan duniawi, seorang yang melakukan kesalahan akan dihukum, sedangkan mereka yang berperilaku baik dan menyenangkan pemerintah akan mendapat karunia dan penghargaan.
    Yang perlu selalu diingat bahwa atribut dasar dari Allah  Swt.  adalah rahmat, sedangkan wacana keadilan baru dikenal setelah hukum dan daya nalar berkembang. Hal itu pun sebenarnya juga termasuk rahmat. Ketika daya nalar dikaruniakan kepada manusia dan melalui itu ia menyadari batasan yang ditetapkan oleh Tuhan dan kaidah-kaidah-Nya, maka ia menjadi subyek (pelaku) dari proses keadilan, sedangkan penalaran dan kaidah hukum tidak menjadi persyaratan untuk berlakunya rahmat.   
     Sebagaimana Allah Swt. karena Sifat kasih-Nya ingin mengangkat derajat manusia di atas semua makhluk ciptaan lainnya, maka Dia menetapkan batasan dan kaidah keadilan di antara mereka. Adalah suatu kebodohan untuk membayangkan adanya kontradiksi di antara keadilan dan rahmat.”  (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 13, hlm. 73-74, London, 1984).

Pentingnya Mentaati Peraturan Perlombaan & Surat-surat Kiriman Paulus yang  Bertentangan Dengan Ajaran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

    Perlombaan kejuaraan  dalam bidang apa pun diperlukan adanya batasan dan peraturan  perlombaan yang akan dijadikan rujukan yang sah guna menentukan sah atau tidak sahnya para peserta lomba dalam pelaksanaan perlombaan yang diikutinya, sehingga akan menghasilkan juara perlombaan yang sah pula.
      Demikian pula halnya tujuan utama Allah Swt. menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya dalam rangka berlomba-lomba memperagakan  Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya dalam kehidupan ini, sehingga manusia layak disebut sebagai “khalifah (wakil)  Allah  di muka bumi.”
     Ada pun batasan  dan  peraturan  yang ditetapkan Allah Swt. bagi hal tersebut adalah  hukum-hukum agama (syariat). Oleh karena itu jika muncul   faham bahwa  hukum syariat yang dibawa  oleh para Rasul Allah pembawa syariat itu merupakan kutuk  -- karena mengakibatkan manusia  yang melanggarnya jadi berdosa --  pendapat seperti itu pasti didasari oleh kebodohan.  
    Sehubungan dengan hal tersebut berikut pendapat Paulus dalam salah satu surat kirimannya ke Jemaat di Roma:
 3:19 Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat  ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat,   supaya tersumbat   setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.   3:20 Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat,    karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.  
Manusia dibenarkan karena iman
3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah    telah dinyatakan, seperti yang disaksikan   dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, 3:22 yaitu kebenaran Allah   karena iman    dalam Yesus Kristus  bagi semua orang yang percaya.   Sebab tidak ada perbedaan.   3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa  dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 3:24 dan oleh kasih karunia   telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan    dalam Kristus Yesus. 3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian  karena iman, dalam darah-Nya.    Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan   dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. 3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. 3:27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah?   Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! 3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.   3:29 Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!   3:30 Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.   3:31 Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya (Roma 3:19-31) .

Penghuni Surga Adalah Para “Juara Perlombaan”  Iman dan Amal Shaleh

      Ajaran Allah Swt. dalam Al-Quran  di  berbagai Surah di dalamnya dengan tegas menyatakan, bahwa manusia  akan menjadi  para “juara ruhani”  --  yakni menjadi  orang-orang yang berhasil menjadi para “penghuni surga”  baik di dunia mau pun di akhirat  -- adalah hanya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا  -- Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki,  قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata:    “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا --  akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya,  وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci,  dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:26).
    Di negara beradab dan berbudaya mana pun di dunia ini – termasuk  negara-negara  Kristen    --   piala dan medali kejuaraan dalam  perlombaan di bidang apa pun hanya diberikan kepada orang-orang yang  secara sah berhasil meraih prestasi dalam kejuaraan (perlombaan) yang diikutinya.
      Demikian pula hanya dengan pemberian allowance (gaji) hanya diberikan   kepada para pekerja (karyawan),  tidak diberikan kepada para penghayal dan pengangguran  (tuna karya). Semakin meningkat prestasi kerja  seorang  pekerja (karyawan) maka kesempatan untuk meraih hadiah penghargaan dari pemerintah atau dari perusahaannya akan semakin besar pula.
     Pendek kata, tidak mungkin ada kontradiksi antara  ketentuan Allah Swt. dalam syariat  dengan hukum alam ciptaan-Nya mau pun dengan hukum negara yang beradab  dan berbudaya tinggi, berkenaan dengan pentingnya kepatuhan kepada hukum-hukum syariat,    hukum alam mau pun hukum negara.

Pernyataan  Keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Kepada Para  PenyembahnyaKehendak Allah Swt. Merupakan Hukum

     Dikarenakan hukum-hukum syariat yang diturunkan sebelum  diutus-Nya  Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran (ajaran Islam) terbatas untuk bangsa tertentu dan masa tertentu   -- termasuk ajaran Taurat dan Injil hanya  untuk Bani Israil, demikian juga kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun bukan untuk menghapus hukum Taurat dan kitab para nabi melainkan untuk menggenapinya  agar lebih sempurna lagi (Matius  5:17-20; QS.61:6-7) --  karena itu  pendapat Paulus  dalam surat-surat kirimannya benar-benar bertolak belakang  dengan   ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Bahkan beliau bersabda dengan tegas:
7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!   akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,  melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku   yang di sorga.   7:22 Pada hari terakhir   banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan , bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat  demi nama-Mu juga? 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan. (Matius 7:21-23).
       Pada hakikatnya Kehendak Allah Swt.  adalah hukum – baik hukum syariat mau pun hukum alam  --  sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda kesempurnaan pengetahuan-Nya mengenai semua ciptaan-Nya: 
   “Bagaimanakah bentuk fitrat pengetahuan Allah Swt. yang demikian sempurna,  sehingga Dia mengetahui segala hal yang terbuka maupun tersembunyi dari segenap partikel di alam semesta ini? Sesungguhnya kemampuan penalaran manusia tidak mampu memahami keseluruhan kondisi pengetahuan tersebut, hanya saja dibanding dengan pemahaman tentang Sifat Tuhan yang lainnya, sekurang-kurangnya penalaran mengenai hal ini masih lebih penuh dan lengkap.
   Jika kita perhatikan bagaimana kita sendiri memperoleh pengetahuan dan memahami berbagai jenisnya maka dari segala bentuk pengetahuan yang paling lengkap kita kuasai adalah hal-hal yang berkaitan dengan eksistensi (keberadaan) kita sendiri. Tidak ada orang yang dalam kondisi apa pun melupakan atau meragukan eksistensi dirinya.
     Menurut penalaran, kita memahami bahwa bentuk pengetahuan seperti inilah yang paling nyata dan lengkap. Kami berkeyakinan bahwa adalah suatu inkonsistensi  (tidak sesuai/bertentangan) terhadap kesempurnaan Allah Yang Maha Kuasa untuk menganggap bahwa pengetahuan-Nya tentang para makhluk-Nya dianggap kalah sempurna dibanding yang dimiliki manusia.
      Adalah suatu hal yang bertentangan dengan kesempurnaan Sifat Allah  Swt. untuk mengatakan bahwa pengetahuan Tuhan kalah canggih. Tidak ada dalam Wujud Tuhan kemungkinan adanya cacat kekurangan dalam Sifat-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Kuasa Yang mencintai Kesempurnaan bisa mengizinkan adanya cacat dalam Wujud-Nya Sendiri?
   Kalau ada yang mengatakan bahwa hal demikian itu karena keadaan terpaksa, maka secara logika akan berarti bahwa yang memaksakan itu lebih berkuasa dibanding Allah Yang Maha Perkasa, baik dalam kekuasaan maupun kekuatan-Nya, sehingga si pemaksa tersebut bisa mengatur Tuhan dalam kinerja-Nya. Hal seperti itu jelas tidak mungkin sama sekali karena tidak ada wujud apa pun yang lebih tinggi daripada Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu bisa dipastikan bahwa pengetahuan Tuhan itu bersifat sempurna.
     Kita telah mengemukakan di atas bahwa dari semua bentuk pengetahuan, yang paling sempurna adalah yang berkaitan dengan eksistensi diri sendiri. Karena itu kita harus mengakui bahwa pengetahuan Tuhan berkaitan dengan ciptaan-Nya  (makhluk-Nya)  sendiri adalah seperti itu juga,  meskipun kita tidak akan pernah bisa memahami secara penuh fitratnya tersebut.
      Penalaran kita mengemukakan bahwa yang jelas merupakan kepastian mutlak adalah tidak adanya halangan atau barier di antara Wujud Yang harus mengetahui dengan hal-hal yang perlu diketahui. Sebagaimana manusia tidak terlalu tergantung pada sumber pengetahuan lain untuk meyakini eksistensi dirinya sendiri, maka untuk hidup dan menganggap dirinya sebagai makhluk hidup  merupakan pengertian yang demikian saling berdekatan sehingga bisa dikatakan sama saja (identik).

Kesempurnaan  Pengetahuan Allah Swt.  Mengenai Semua Ciptaannya-Nya (Makhluk-Nya)

     Begitu jugalah pengetahuan Allah  Swt. mengenai keseluruhan alam semesta. Disini menjadi lebih jelas bahwa tidak ada perbedaan atau tidak ada jarak di antara Yang Maha Mengetahui dengan segala hal yang perlu diketahui. Semua ini merupakan pengetahuan tingkat tinggi dalam pemahaman mengenai Ketuhanan dan Sifat-sifat-Nya, dimana kita menyadari betapa dekat dan akrabnya hubungan antara Wujud-Nya dengan subyek  pengetahuan-Nya.
    Hubungan sempurna dengan subyek   pengetahuan-Nya tersebut hanya bisa ada jika semuanya itu bersumber dari Wujud-Nya dan merupakan hasil ciptaan-NyaPerwujudan (eksistensi) mereka itu harus tergantung kepada Wujud-Nya. Dengan kata lain, perwujudan yang sempurna hanyalah milik-Nya,  sedangkan yang lainnya bersumber dan bertumpu kepada bantuan-Nya.
    Bahkan setelah diciptakan pun  semua makhluk itu tidak bisa merdeka atau terpisah dari Wujud-Nya, karena eksistensi mereka sepenuhnya tergantung kepada perlindungan-Nya. Hanya Dia saja Yang tidak mengenal batasan apa pun sedangkan yang lainnya -- baik jasmani atau pun ruhani -- terkurung dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh Wujud-Nya.
   Dia itu melingkupi keseluruhan dan semuanya tercakup dalam Sifat Rabubiyat-Nya. Tidak ada apa pun yang tidak berasal dari Tangan-Nya dan tidak termasuk dalam lingkupan Sifat Rabubiyat-Nya, dan tidak ada juga yang bisa eksis (ada) tanpa bantuan-Nya. Hanya dalam keadaan seperti itulah Allah Yang Maha Kuasa akan memiliki hubungan yang sempurna dengan subyek dari pengetahuan-Nya. Hubungan ini dalam Kitab Suci Al-Quran dikemukakan sebagai:
وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾
Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya  (Qāf [50]:17).
Begitu pula di tempat lain dikemukakan bahwa:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ  
Dia-lah Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu  (Al-Baqarah [2]:256).
     Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hanya Dia saja Yang menopang seluruh kehidupan dimana segala sesuatu bersumber dari-Nya dan memiliki nyawa (jiwa) karena Dia. Sesungguhnya Dia itulah nyawa  (jiwa) dari semua kehidupan dan inti kekuatan dari semua kekuatan yang ada.
    Kalau kita tidak bisa menerima  jiwa sebagai suatu yang diciptakan, maka tidak ada alasan untuk mengasumsikan bahwa suatu wujud yang bernama fiktif sebagai Permesywar akan mempunyai pengetahuan tentang realitas jiwa atau ruh makhluk hidup. Seseorang yang memiliki pengetahuan lengkap tentang sesuatu bisa dikatakan bahwa ia juga bisa membuatnya, sehingga kalau ternyata ia memang tidak mampu maka pasti ada kekurangan di dalam salah satu aspeknya.
  Tanpa adanya suatu pengetahuan yang lengkap maka akan sulit untuk membedakan di antara benda-benda yang sama, apalagi kemampuan untuk menciptakannya. Dalam hal Allah Yang Maha Kuasa  jika bukan merupakan Sang Pencipta dari segalanya maka tidak saja Dia itu dikatakan mengalami defisiensi atau cacat dalam kelengkapan pengetahuan-Nya, tetapi juga dengan sendirinya akan muncul kerancuan karena Dia tidak akan mampu membedakan di antara berjuta-juta jiwa atau ruh sehingga akan sering salah menganggap ruh X sebagai ruh Y.  Pengetahuan partial (tidak lengkap) akan selalu membawa kerancuan demikian.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 221-226, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 14 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar