بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 68
Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Manusia & Faham Penebusan
Dosa Versi “Injil” Paulus Bertentangan
Dengan Hukum Syariat, Hukum Alam dan Hukum Negara
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan
mengenai makna penghakiman Allah Swt. terhadap manusia
sama sekali tidak berkaitan
dengan kepentingan-Nya, sehubungan
dengan firman-Nya dalam Surah At-Tīn:
لَقَدۡ خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ --
“Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam sebaik-baik
bentuk,” (QS.95:5).
Yakni semata-mata karena rahmat-Nya manusia dilahirkan
dengan fitrat suci dan tidak bernoda (QS.7:173; QS.30:31), dengan
kecondongan alami untuk berbuat baik, tetapi manusia pun telah diberi
pula cukup banyak kebebasan berkemauan
dan berbuat untuk membentuk dirinya menurut pilihannya sendiri, firman-Nya:
وَ قُلِ
الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ
سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی
الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ
الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ
عَمَلًا ﴿ۚ﴾
Dan
katakanlah: ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan) kamu فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ -- karena itu barangsiapa menghendaki maka berimanlah,
dan barangsiapa menghendaki maka kafirlah”,
sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu api yang dinding-dindingnya mengepung mereka,
dan jika mereka berteriak meminta tolong,
mereka akan ditolong dengan air seperti
leburan timah, yang akan menghanguskan
wajah-wajah, وَ سَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا -- sangat buruk minuman itu dan sangat
buruk tempat tinggal itu! اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, اِنَّا لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا -- sesungguhnya Kami
tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang mengerjakan amal
baik. (Al-Kahf [18]:30-31).
Jadi, tidak benar bahwa seluruh manusia yang dilahirkan Adam dan Hawa menanggung “dosa warisan”
keduanya, akibat pelanggaran terhadap larangan
Allah Swt. agar keduanya tidak mendekati
“pohon terlarang” (Kejadian
3:1-24), dan bahwa “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di atas salib
adalah untuk menebus “dosa warisan”
tersebut.
Akibat
Buruk Ketidak-bersyukuran Manusia
Manusia telah dianugerahi Allah Swt. kemampuan-kemampuan
alami besar dan kecakapan-kecakapan kreatif guna mencapai kemajuan akhlak yang tidak
terhingga dan menaiki puncak keruhanian demikian tingginya,
sehingga ia menjadi cermin yang
memantulkan Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt., terutama yang
terdapat dalam Surah Al-Fatihah yakni
Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan
Mālikiyat.
Tetapi jika dalam kebebasannya tersebut manusia menyalahgunakan
kemampuan-kemampuan dan sifat-sifatnya yang dianugerahkan Allah
Swt. maka akibatnya ia jatuh ke martabat rendah yang rendah yang bahkan lebih rendah daripada martabat
binatang buas dan binatang jalang,
dan menjadi penjelmaan syaitan
seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikutnya.
Singkatnya, manusia
telah dianugerahi kemampuan-kemampuan
besar guna berbuat baik atau pun jahat: ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ
اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ -- “Kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat
paling rendah” ” (At-Tīn
[95]:6).
Jika manusia telah diciptakan untuk mencapai tujuan
ruhani yang amat tinggi itu dan
Allah Swt. telah mengutus nabi-nabi-Nya -- seperti Nabi Adam a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s., dan Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.7:35-37) -- untuk menolong manusia mencapai tujuannya yang agung itu, dan jika ia tidak mempergunakan kemampuan-kemampuannya dengan cara tepat dan menolak Amanat Ilahi
serta menentang para utusan Allah lalu dia dihukum, kemudian siapakah dapat menolak berdasarkan akal sehat bahwa ada Hari
Pembalasan di dunia ini dan juga
di akhirat dan bahwa perintah-perintah Allah Swt. -- Yang adalah Hakim terbaik -- tidak dapat
dilawan dan bahwa perbuatan-perbuatan manusia tidak akan dibiarkan bebas tanpa berbalas? Firman-Nya: فَمَا یُکَذِّبُکَ
بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ --
Maka apakah yang menyebabkan
engkau mendustakan hari pembalasan sesudah itu? اَلَیۡسَ اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ -- Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim? (At-Tīn [95]:8-9).
Kekeliruan Pandangan
Umat Kristen
Dalam topik bahasan yang sama,
Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah dalam
kapasitasnya sebagai Al-Masih yang Dijanjikan
(Masih Mau’ud a.s.) menjawab kekeliruan pandangan dari umat Kristen:
“Umat Kristiani yang
berpandangan cupat (sempit) karena
kurangnya perenungan yang benar, telah beranggapan salah bahwa keadilan dan rahmat tidak bisa muncul berdampingan dalam Wujud Allah
Swt., karena keadilan
menuntut adanya penghukuman sedangkan rahmat mengharuskan adanya pengampunan.
Mereka tidak bisa mempertimbangkan bahwa keadilan
Allah Swt. adalah juga rahmat, karena semuanya itu adalah bagi kemaslahatan umat
manusia. Sebagai contoh, jika Allah Yang
Maha Kuasa menetapkan bahwa seorang pembunuh harus dihukum
mati maka hal ini tidak ada pengaruhnya pada Sifat Ke-Tuhan-an Wujud-Nya. Dia menetapkan demikian atas dasar pertimbangan agar umat manusia tidak musnah karena saling membunuh di antara mereka.
Hal ini menjadi rahmat bagi umat manusia dan Allah Yang Maha Perkasa menetapkan sistem kesamaan hak di
antara para makhluk-Nya, agar bisa tercipta perdamaian dimana
tidak ada kelompok yang satu mencerobohi (menzalimi) kelompok lainnya yang hanya akan
menimbulkan kekacauan. Dengan demikian semua hukuman yang
ditentukan dalam ruang lingkup kehidupan,
harta benda dan kehormatan merupakan rahmat bagi umat manusia, karena
itu tidak ada konflik di antara keadilan
dan rahmat.
Keduanya itu seperti arus sungai yang berjalan paralel (sejajar) dimana yang
satu tidak mencampuri yang lain. Kita bisa menemukan prinsip yang sama berfungsi pada kerajaan
duniawi, seorang yang melakukan kesalahan
akan dihukum, sedangkan mereka yang berperilaku baik
dan menyenangkan pemerintah akan mendapat karunia dan penghargaan.
Yang perlu selalu diingat bahwa atribut
dasar dari Allah Swt. adalah rahmat, sedangkan wacana keadilan
baru dikenal setelah hukum dan daya nalar
berkembang. Hal itu pun sebenarnya juga termasuk rahmat. Ketika daya
nalar dikaruniakan kepada manusia dan melalui itu ia menyadari batasan yang ditetapkan
oleh Tuhan dan kaidah-kaidah-Nya, maka ia menjadi subyek (pelaku) dari proses keadilan,
sedangkan penalaran dan kaidah hukum tidak menjadi
persyaratan untuk berlakunya rahmat.
Sebagaimana Allah Swt. karena Sifat
kasih-Nya ingin mengangkat derajat manusia di atas semua makhluk ciptaan lainnya, maka Dia
menetapkan batasan dan kaidah keadilan di antara
mereka. Adalah suatu kebodohan untuk
membayangkan adanya kontradiksi di antara keadilan
dan rahmat.”
(Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 13, hlm. 73-74, London, 1984).
Pentingnya Mentaati Peraturan Perlombaan & Surat-surat Kiriman Paulus yang Bertentangan Dengan Ajaran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Perlombaan kejuaraan dalam
bidang apa pun diperlukan adanya batasan
dan peraturan perlombaan yang akan dijadikan rujukan yang sah guna menentukan sah
atau tidak sahnya para peserta lomba dalam pelaksanaan perlombaan yang diikutinya, sehingga
akan menghasilkan juara perlombaan yang
sah pula.
Demikian pula halnya tujuan utama Allah Swt. menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya dalam rangka berlomba-lomba memperagakan Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya dalam kehidupan
ini, sehingga manusia layak disebut
sebagai “khalifah (wakil) Allah di muka bumi.”
Ada pun batasan
dan peraturan yang ditetapkan
Allah Swt. bagi hal tersebut adalah hukum-hukum agama (syariat). Oleh karena
itu jika muncul faham bahwa hukum
syariat yang dibawa oleh para Rasul Allah pembawa syariat itu merupakan kutuk -- karena mengakibatkan manusia yang melanggarnya
jadi berdosa -- pendapat seperti itu pasti didasari oleh kebodohan.
Sehubungan dengan hal
tersebut berikut pendapat Paulus
dalam salah satu surat kirimannya ke
Jemaat di Roma:
3:19 Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab
Taurat ditujukan kepada
mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. 3:20 Sebab tidak
seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum
Taurat, karena justru oleh hukum Taurat
orang mengenal dosa.
Manusia
dibenarkan karena iman
3:21 Tetapi sekarang, tanpa
hukum Taurat kebenaran Allah
telah dinyatakan, seperti yang
disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, 3:22 yaitu kebenaran
Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak
ada perbedaan. 3:23 Karena semua
orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 3:24 dan oleh
kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma
karena penebusan dalam
Kristus Yesus. 3:25 Kristus
Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.
Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya,
karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa
kesabaran-Nya. 3:26 Maksud-Nya
ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya
pada masa ini, supaya nyata,
bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada
Yesus. 3:27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan
perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! 3:28 Karena kami
yakin, bahwa manusia dibenarkan
karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
3:29 Atau adakah
Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah
bangsa-bangsa lain! 3:30 Artinya, kalau
ada satu Allah, yang akan membenarkan
baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena
iman. 3:31 Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak!
Sebaliknya, kami meneguhkannya (Roma
3:19-31) .
Penghuni Surga Adalah Para “Juara Perlombaan” Iman
dan Amal Shaleh
Ajaran Allah Swt. dalam Al-Quran di berbagai Surah di dalamnya dengan tegas menyatakan, bahwa manusia akan menjadi
para “juara ruhani” -- yakni menjadi
orang-orang yang berhasil
menjadi para “penghuni surga” baik di dunia
mau pun di akhirat -- adalah hanya orang-orang yang beriman dan beramal
shaleh, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ
مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا
مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا -- Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ
قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah
yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”,
وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- dan bagi mereka di
dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, dan mereka
akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:26).
Di
negara beradab dan berbudaya mana pun di dunia ini –
termasuk negara-negara Kristen -- piala dan medali kejuaraan dalam perlombaan di bidang apa pun hanya
diberikan kepada orang-orang
yang secara sah berhasil meraih prestasi
dalam kejuaraan (perlombaan) yang diikutinya.
Demikian pula hanya dengan
pemberian allowance (gaji) hanya
diberikan kepada para pekerja (karyawan), tidak
diberikan kepada para penghayal dan pengangguran
(tuna karya). Semakin meningkat prestasi
kerja seorang pekerja (karyawan) maka kesempatan untuk meraih hadiah
penghargaan dari pemerintah atau
dari perusahaannya akan semakin besar
pula.
Pendek kata, tidak mungkin
ada kontradiksi antara ketentuan
Allah Swt. dalam syariat dengan hukum
alam ciptaan-Nya mau pun dengan hukum
negara yang beradab dan berbudaya tinggi, berkenaan dengan
pentingnya kepatuhan kepada hukum-hukum syariat, hukum
alam mau pun hukum negara.
Pernyataan Keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Kepada
Para Penyembahnya
& Kehendak Allah Swt. Merupakan Hukum
Dikarenakan hukum-hukum syariat yang diturunkan sebelum diutus-Nya
Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran (ajaran Islam) terbatas untuk bangsa tertentu dan masa
tertentu -- termasuk ajaran Taurat dan Injil hanya untuk Bani Israil, demikian juga kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun bukan untuk menghapus hukum Taurat
dan kitab para nabi melainkan untuk menggenapinya agar lebih sempurna lagi (Matius 5:17-20; QS.61:6-7) -- karena itu
pendapat Paulus dalam surat-surat
kirimannya benar-benar bertolak
belakang dengan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Bahkan beliau bersabda dengan tegas:
7:21 Bukan
setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan,
Tuhan! akan masuk
ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan
dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku
yang di
sorga. 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan ,
bukankah kami bernubuat demi nama-Mu,
dan mengusir setan demi nama-Mu, dan
mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 7:23 Pada
waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah
dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan. (Matius
7:21-23).
Pada hakikatnya Kehendak Allah Swt. adalah hukum
– baik hukum syariat mau pun hukum alam
-- sehubungan dengan
kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda
kesempurnaan pengetahuan-Nya mengenai
semua ciptaan-Nya:
“Bagaimanakah bentuk fitrat pengetahuan Allah Swt. yang
demikian sempurna, sehingga Dia mengetahui segala
hal yang terbuka maupun tersembunyi dari segenap partikel di alam semesta ini? Sesungguhnya kemampuan
penalaran manusia tidak
mampu memahami keseluruhan kondisi pengetahuan
tersebut, hanya saja dibanding dengan pemahaman
tentang Sifat Tuhan yang lainnya, sekurang-kurangnya penalaran
mengenai hal ini masih lebih penuh dan
lengkap.
Jika kita perhatikan bagaimana kita sendiri memperoleh pengetahuan
dan memahami berbagai jenisnya maka dari segala bentuk pengetahuan
yang paling lengkap kita kuasai
adalah hal-hal yang berkaitan dengan eksistensi (keberadaan) kita sendiri. Tidak ada orang yang
dalam kondisi apa pun melupakan atau
meragukan eksistensi dirinya.
Menurut penalaran, kita memahami bahwa bentuk pengetahuan seperti
inilah yang paling nyata dan lengkap. Kami berkeyakinan bahwa adalah suatu inkonsistensi (tidak sesuai/bertentangan) terhadap kesempurnaan
Allah Yang Maha Kuasa untuk menganggap bahwa pengetahuan-Nya
tentang para makhluk-Nya dianggap kalah sempurna dibanding yang dimiliki manusia.
Adalah suatu hal yang bertentangan dengan kesempurnaan Sifat Allah Swt. untuk mengatakan bahwa pengetahuan
Tuhan kalah canggih. Tidak ada dalam Wujud Tuhan kemungkinan adanya cacat kekurangan dalam Sifat-Nya
sendiri. Bagaimana mungkin Allah Yang
Maha Kuasa Yang mencintai Kesempurnaan bisa mengizinkan adanya cacat dalam Wujud-Nya
Sendiri?
Kalau ada yang mengatakan bahwa hal
demikian itu karena keadaan terpaksa, maka
secara logika akan berarti bahwa yang memaksakan
itu lebih berkuasa dibanding Allah Yang
Maha Perkasa, baik dalam kekuasaan maupun kekuatan-Nya,
sehingga si pemaksa tersebut bisa mengatur Tuhan dalam kinerja-Nya.
Hal seperti itu jelas tidak mungkin sama sekali karena
tidak ada wujud apa pun yang lebih
tinggi daripada Allah Yang
Maha Kuasa. Karena itu bisa dipastikan bahwa pengetahuan Tuhan
itu bersifat sempurna.
Kita telah mengemukakan di atas bahwa
dari semua bentuk pengetahuan, yang paling sempurna adalah yang berkaitan dengan eksistensi
diri sendiri. Karena itu kita harus mengakui
bahwa pengetahuan Tuhan berkaitan dengan ciptaan-Nya (makhluk-Nya)
sendiri adalah seperti itu
juga, meskipun kita tidak akan pernah bisa memahami
secara penuh fitratnya
tersebut.
Penalaran kita mengemukakan
bahwa yang jelas merupakan kepastian mutlak adalah tidak
adanya halangan atau barier di antara Wujud Yang harus mengetahui
dengan hal-hal yang perlu diketahui.
Sebagaimana manusia tidak terlalu tergantung pada sumber pengetahuan
lain untuk meyakini eksistensi dirinya sendiri, maka
untuk hidup dan menganggap
dirinya sebagai makhluk hidup merupakan pengertian yang demikian saling berdekatan sehingga bisa
dikatakan sama saja (identik).
Kesempurnaan Pengetahuan
Allah Swt. Mengenai Semua Ciptaannya-Nya (Makhluk-Nya)
Begitu jugalah pengetahuan Allah Swt. mengenai keseluruhan alam
semesta. Disini menjadi lebih jelas bahwa tidak ada perbedaan atau tidak
ada jarak di antara Yang Maha Mengetahui dengan segala hal yang perlu diketahui.
Semua ini merupakan pengetahuan tingkat tinggi dalam pemahaman mengenai Ketuhanan dan Sifat-sifat-Nya,
dimana kita menyadari betapa dekat dan akrabnya hubungan antara Wujud-Nya dengan subyek
pengetahuan-Nya.
Hubungan
sempurna dengan subyek pengetahuan-Nya
tersebut hanya bisa ada jika semuanya
itu bersumber dari Wujud-Nya dan merupakan hasil ciptaan-Nya. Perwujudan (eksistensi) mereka itu
harus tergantung kepada Wujud-Nya. Dengan kata lain, perwujudan
yang sempurna hanyalah milik-Nya, sedangkan yang lainnya bersumber dan bertumpu
kepada bantuan-Nya.
Bahkan setelah diciptakan pun semua makhluk itu tidak bisa merdeka
atau terpisah dari Wujud-Nya, karena eksistensi
mereka sepenuhnya tergantung kepada perlindungan-Nya.
Hanya Dia saja Yang tidak mengenal batasan
apa pun sedangkan yang lainnya --
baik jasmani atau pun ruhani -- terkurung
dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh Wujud-Nya.
Dia itu melingkupi keseluruhan dan semuanya tercakup dalam Sifat Rabubiyat-Nya. Tidak ada apa pun yang tidak berasal dari Tangan-Nya dan tidak termasuk dalam lingkupan Sifat Rabubiyat-Nya, dan tidak ada juga yang bisa eksis
(ada) tanpa bantuan-Nya. Hanya dalam
keadaan seperti itulah Allah Yang Maha Kuasa akan memiliki hubungan yang sempurna dengan subyek
dari pengetahuan-Nya. Hubungan ini dalam Kitab Suci Al-Quran
dikemukakan sebagai:
وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾
Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya
(Qāf [50]:17).
Begitu pula di tempat lain
dikemukakan bahwa:
اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ
Dia-lah
Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:256).
Atau dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa hanya Dia saja Yang
menopang seluruh kehidupan
dimana segala sesuatu bersumber dari-Nya dan
memiliki nyawa (jiwa) karena Dia.
Sesungguhnya Dia itulah nyawa (jiwa) dari semua kehidupan dan
inti kekuatan dari semua kekuatan yang ada.
Kalau kita tidak bisa menerima jiwa sebagai suatu yang diciptakan, maka tidak ada alasan untuk mengasumsikan bahwa suatu wujud
yang bernama fiktif sebagai Permesywar
akan mempunyai pengetahuan tentang realitas jiwa atau ruh
makhluk hidup. Seseorang yang memiliki pengetahuan lengkap tentang sesuatu bisa dikatakan bahwa ia juga
bisa membuatnya, sehingga kalau ternyata ia memang tidak
mampu maka pasti ada kekurangan di dalam salah satu aspeknya.
Tanpa adanya suatu pengetahuan yang lengkap maka akan sulit
untuk membedakan di antara benda-benda
yang sama, apalagi kemampuan untuk menciptakannya.
Dalam hal Allah Yang Maha Kuasa jika bukan
merupakan Sang Pencipta dari segalanya
maka tidak saja Dia itu dikatakan mengalami defisiensi atau cacat
dalam kelengkapan pengetahuan-Nya, tetapi juga
dengan sendirinya akan muncul kerancuan karena Dia tidak akan mampu membedakan di
antara berjuta-juta jiwa atau ruh sehingga akan
sering salah menganggap ruh
X sebagai ruh Y. Pengetahuan
partial (tidak lengkap) akan selalu membawa kerancuan demikian.” (Surma Chasm Arya, Qadian,
1886; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 221-226, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 14 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar