بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 64
Kesejajaran
Proses Perkembangan Jasmani Manusia
Dengan Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Ibadah yang Dilakukan
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai makna “peniupan ruh”
dari Allah Swt. berkenaan dengan
penciptaan Adam dari “tanah liat” (thīn)
, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian Kami
memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ -- - lalu Kami berfirman kepada para malaikat: ”Sujudlah
yakni patuhlah sepenuhnya kamu
kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ -- maka mereka bersujud kecuali iblis,
-- لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.
(Al-A’rāf
[7]:12)
Makna kalimat
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ -- “Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan kamu”, bahwa manusia dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah liat (thīn) mudah
diberi bentuk apa pun.
Makna Perintah
Allah Swt. Kepada Para Malaikat Untuk “Sujud”
Kepada Adam
Sebagaimana ketika mudigah dalam rahim
ibu keadaan pertumbuhannya telah
menjadi janin yang sempurna segala
sesuatunya, maka akan lahir ruh
(QS.23:13-15), demikian pula jika perkembangan akhlak dan ruhani manusia
telah sempurna keadaannya maka menerima wahyu Ilahi merupakan keniscayaan yang akan dialaminya, itulah
makna ayat: ثُمَّ سَوّٰىہُ وَ نَفَخَ فِیۡہِ
مِنۡ رُّوۡحِہٖ -- “kemudian Dia
menyempurnakannya dan Dia meniupkan
ke dalamnya ruh-Nya” (QS.32:10).
Namun
demikian Allah Swt. tidak memerintahkan
kepada para malaikat untuk “sujud” (patuh-taat) kepada mereka,
melainkan hanya kepada orang yang paling sempurna perkembangan akhlak dan ruhaninya
yaitu yang telah dianugerahi martabat ruhani
sebagai nabi (rasul) Allah, sebagaimana halnya Adam, firman-Nya: ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ
اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- lalu Kami berfirman kepada para
malaikat: ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu kepada Adam" (QS.7:12).
Karena perintah supaya sujud kepada Adam a.s. itu ditujukan kepada malaikat-malaikat, maka perintah itu
berlaku untuk semua makhluk, sebab para malaikat adalah "tangan-tangan" atau instrument Allah Swt. yang bertugas
melaksanakan perintah-perintah-Nya
atau kehendak-kehendak-Nya: فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ -- maka mereka bersujud kecuali iblis,
-- لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.”
Iblis
itu bukan dari kalangan malaikat melainkan dari
golongan jin (QS.18:51). Iblis adalah gembong ruh-ruh jahat, sedangkan Malaikat
Jibril a.s. adalah pemimpin malaikat-malaikat.
Kejadian yang disebutkan di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan nenek-moyang pertama umat manusia yang dapat disebut Adam
pertama.
Kejadian itu hanya berhubungan dengan Nabi Adam a.s. (yang tinggal di bumi ini kira-kira 6.000
tahun yang lalu dan menurunkan Nabi Nuh
a.s., dan Nabi Ibrahim a.s.
serta keturunan beliau-beliau yang
dibahas dalam kisah ini.
Ciri-ciri Orang-orang
Beriman yang Akan Menjadi Pewaris
Surga Firdaus
Jadi, kembali kepada adanya kesejajaran antara perkembangan tubuh jasmani manusia dalam rahim
ibu dengan perkembangan ruhani manusia -- yang kemudian sama-sama melahirkan
“ruh” -- Allah Swt. berfirman mengenai tingkat-tingkat perkembangan
ruhani manusia:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ ۙ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِلزَّکٰوۃِ فٰعِلُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ
ۙ﴿﴾ اِلَّا عَلٰۤی
اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ ۚ﴿﴾ فَمَنِ ابۡتَغٰی
وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ
یُحَافِظُوۡنَ ۘ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ
یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sungguh
telah berhasil orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia, dan orang-orang
yang membayar zakat, dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka
sesungguhnya mereka tidak tercela, tetapi barangsiapa
mencari selain dari itu maka mereka itu orang-orang
yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka, dan orang-orang
yang memelihara shalat-shalat mereka.
اُولٰٓئِکَ
ہُمُ الۡوٰرِثُوۡنَ -- Mereka itulah pewaris,
الَّذِیۡنَ
یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ -- yaitu orang-orang
yang akan mewarisi surga Firdaus, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka akan kekal
di dalamnya. (Al-Mu’minūn [23]:1-12).
Ayat الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اَفۡلَحَ قَدۡ -- “Sungguh
telah berhasil orang-orang yang beriman” menunjuk kepada orang-orang beriman yang mempunyai tingkat keruhanian yang amat tinggi. Sifat-sifat istimewa dan ciri-ciri
khususnya disebutkan dalam ayat-ayat berikutnya. Orang-orang beriman semacam
itu akan memperoleh falah (sukses) dan bukan hanya najat (keselamatan),
sebab mencapai falah menandakan tingkat
ruhani yang jauh lebih tinggi dari hanya mencapai najat.
Shalat yang Khusyuk
Dengan ayat: فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ -- “orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya”
mulai pelukisan mengenai kondisi-kondisi atau prasyarat-prasyarat
yang seorang beriman harus penuhi
sebelum dapat menaruh harapan untuk
memperoleh falah (sukses) dalam kehidupan dan mencapai tujuan utama, yang untuk itu Allah Swt..
telah menciptakan dia, yaitu untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57).
Syarat-syarat tersebut dapat dianggap sekian
banyak tingkat perkembangan ruhani
manusia. Tingkat atau pal pertama dalam perjalanan ruh manusia ialah bahwa seorang beriman harus
menghadap kepada Allah Swt. dengan
penuh kerendahan diri, merasa gentar
oleh keagungan Ilahi, dan dengan hati yang menyesal dan merendahkan diri.
Tingkat
kedua terletak dalam berpaling dari
segala macam percakapan dan khayalan tidak berguna, dan dari amal perbuatan
sia-sia, percuma serta tidak
membawa manfaat. Kehidupan merupakan
suatu kenyataan yang suram dan serius, dan seorang beriman harus menanggapinya demikian. Ia harus mempergunakan setiap saat dalam
kehidupannya dengan cara yang bermanfaat
dan menjauhi semua kesibukan sia-sia yang tidak berguna: الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَ وَ َ-- “dan orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia”.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: فٰعِلُوۡنَ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ لِلزَّکٰوۃِ وَ -- “dan orang-orang yang membayar zakat” Tujuan zakat bukan hanya menyediakan sarana-sarana
untuk meringankan beban orang-orang yang keadaannya menyedihkan, atau untuk
memajukan kesejahteraan golongan masyarakat yang secara ekonomis kurang
beruntung, melainkan mencegah juga penimbunan uang dan bahan-bahan keperluan
dan dengan demikian menjamin kelancaran perputaran kedua-duanya, agar
mengakibatkan terciptanya keseimbangan ekonomi yang sehat.
Tingkat selanjutnya adalah لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ وَ -- “dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ
غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ -- kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka
sesungguhnya mereka tidak tercela.” فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ -- “tetapi
barangsiapa mencari selain dari itu maka mereka
itu orang-orang yang melampaui batas.”
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai ciri khas mereka: وَ وَ
الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِاَمٰنٰتِہِمۡ
عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ -- “Dan orang-orang yang
memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian
mereka.”
Shalat Berjama’ah & Ciri Surga
Firdaus
Ayat
selanjutnya: وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی
صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ -- “dan orang-orang
yang memelihara shalat-shalat mereka”
menandai
tingkat perkembangan ruhani yang terakhir dan tertinggi, di mana zikir Ilahi menjadi fitrat kedua bagi seorang beriman
dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wujudnya serta penghibur bagi ruhnya.
Pada tingkat ini ia menaruh
perhatian khusus kepada amal ibadah
yang dilakukan bersama-sama
(berjamaah), yang menunjukkan bahwa perasaan dan kesadaran berkaum menjadi sangat kuat dalam dirinya dan ia
membelakangkan kepentingan-kepentingan
diri pribadi serta mendahulukan kebaikan
bersama dan kepentingan kaum.
Kemudian
Allah Swt. berfirman: اُولٰٓئِکَ
ہُمُ الۡوٰرِثُوۡنَ -- Mereka itulah pewaris, الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ -- yaitu orang-orang
yang akan mewarisi surga Firdaus, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka akan kekal
di dalamnya.” Karena orang-orang beriman yang ciri-cirinya disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya menghimpun dalam diri mereka segala
macam sifat mulia maka mereka akan
disuruh bermukim di surga Firdaus yang berisikan segala sesuatu yang terdapat dalam kebun mana pun (Lexicon Lane).
Karena mereka mendatangkan kematian
terhadap keinginan-keinginan mereka
sendiri, maka sebagai imbalannya Allah
Swt. akan memberi mereka kehidupan kekal
dan mereka akan memperoleh segala
yang mereka inginkan, firman-Nya:
وَ اُزۡلِفَتِ
الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ ہٰذَا مَا
تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾ مَنۡ خَشِیَ
الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾ ادۡخُلُوۡہَا
بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾ لَہُمۡ مَّا یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Dan surga akan didekatkan kepada
orang-orang bertakwa, tidak jauh lagi. Inilah yang telah
dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan
memelihara amalnya. مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ
جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ -- Yaitu
orang yang takut kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat, ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ -- “Masuklah ke dalamnya dengan selamat
sejahtera. Inilah Hari yang kekal
abadi.” لَہُمۡ مَّا یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan dan di
sisi Kami ada tambahan
lagi (Qāf [50]:32-36).
Nikmat-nikmat
Surgawi dan Tingkatan Surga yang Tidak Terbatas
Makna ayat لَہُمۡ مَّا یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya
tersedia apa yang mereka inginkan
dan di sisi Kami ada tambahan lagi”, bahwa di surga orang-orang bertakwa akan memperoleh dengan sepuas
hati apa saja yang diinginkan
mereka, tetapi karena keinginan
manusia itu terbatas, mereka paling-paling diberi jauh lebih
banyak daripada apa yang diinginkan
mereka atau layak diterima mereka,
bahkan lebih banyak daripada apa yang
diangankan atau dikhayalkan mereka, karena pada hakikatnya nikmat-nikmat dalam surga
tidak terbatas, sebagaimana diisyaratkan dengan kata permohonan maghfirah oleh para penghuni surga, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا -- bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُم -- Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan
menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu
وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ -- dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun
yang mengalir di ba-wahnya sungai-sungai,
یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang ber-iman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di sebelah
kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا -- mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami, dan maafkanlah kami,
اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
Keinginan
tidak kunjung padam bagi kesempurnaan
pada pihak orang-orang yang beriman di surga
sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا --“Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi
kami cahaya kami“ menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah
kehidupan menganggur.” Demikian juga kemajuan
ruhani di surga tiada berhingga,
sebab jika orang-orang beriman akan mencapai kesempurnaan -- yang menjadi ciri tingkat surgawi tertentu -- mereka
tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya
ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi
dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa
berakhir.
Makna Permohonan “Maghfirah” Ahli Surga & Makna “Yang
Dimiliki Tangan Kanan”
Selanjutnya dari ayat وَ اغۡفِرۡ لَنَا -- “dan maafkanlah
kami” tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman akan mencapai maghfirah yakni penutupan kekurangan (Lexicon Lane). Mereka akan
terus-menerus berdoa kepada Allah
Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam
dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas serta memandang tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan
dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi
yang didambakan oleh mereka, karena
itu mereka akan berdoa kepada Allah Swt.
supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya
sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat
lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar,
yang secara harfiah berarti “mohon
ampunan atas segala kealpaan” dalam ayat: یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا -- mereka
akan berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami
cahaya kami, dan maafkanlah
kami.”
Kembali kepada tingkatan-tingkatan
kesempurnaan kuantitas dan kualitas ibadah orang-orang yang berhalk mewarisi “surga Firdaus”
sebelumnya (QS.23:2-12), ada ayat yang perlu dijelaskan yakni: لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ وَ -- “dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, اِلَّا عَلٰۤی
اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ -- kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka
sesungguhnya mereka tidak tercela.” فَمَنِ ابۡتَغٰی
وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ -- “tetapi barangsiapa
mencari selain dari itu maka mereka itu orang-orang
yang melampaui batas.” (Al-Mu’minūn [23]:6-8).
Ungkapan, ayat
مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ – “yang dimiliki tangan kanan mereka”
secara umum berarti perempuan-perempuan berstatus tawanan
perang yang tidak ditebus dan
berada dalam tahanan serta jatuh ke
dalam kuasa orang-orang Islam, karena
mereka telah ikut secara aktif dalam peperangan yang dilancarkan dengan maksud menghancurkan Islam, maka dengan demikian secara
hukum mencabut hak diri mereka sendiri untuk memperoleh kemerdekaan. Istilah itu digunakan dalam Al-Quran sebagai
pengganti sebutan ‘ibad dan ima (budak laki-laki dan budak
perempuan) untuk mengisyaratkan kepada pemilikan
yang sah dan benar menurut hukum
(QS.2:222).
Ungkapan, milk yamin dalam ayat
مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ – “yang dimiliki tangan kanan mereka”
berarti milik penuh dan sah menurut
hukum (Lisan-ul-‘Arab).
Istilah itu mencakup budak-budak
laki-laki dan perempuan, dan
hanya letaknya dalam kalimat saja yang menetapkan apa yang dimaksud oleh
ungkapan itu pada satu tempat tertentu.
Islam Menghapuskan “Perbudakan” di Dunia
Banyak sekali terjadi kesalahpahaman,
mengenai ungkapan “yang dimiliki tangan kanan kamu” dalam QS.4:4 dan apa
hak dan kedudukan orang-orang yang
menjadi tujuan pernyataan itu. Islam telah mengutuk
perbudakan dengan kata-kata yang tidak samar-samar, firman-Nya:
وَ اِنۡ
خِفۡتُمۡ اَلَّا تُقۡسِطُوۡا فِی الۡیَتٰمٰی
فَانۡکِحُوۡا مَا طَابَ
لَکُمۡ مِّنَ
النِّسَآءِ مَثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ۚ فَاِنۡ
خِفۡتُمۡ اَلَّا تَعۡدِلُوۡا
فَوَاحِدَۃً اَوۡ مَا
مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ ؕ ذٰلِکَ اَدۡنٰۤی اَلَّا تَعُوۡلُوۡا ؕ﴿﴾
Tetapi jika kamu takut bahwa kamu
tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak
yatim, maka nikahilah perempuan-perempuan lainnya yang
kamu sukai: dua atau tiga atau empat, فَاِنۡ خِفۡتُمۡ اَلَّا تَعۡدِلُوۡا فَوَاحِدَۃً اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ -- akan tetapi jika
kamu takut kamu tidak akan dapat berlaku adil maka nikahilah seorang perempuan saja, atau nikahi
yang dimiliki tangan kanan kamu,
yang demikian itu lebih dekat bagi kamu dari berbuat tidak adil. (An-Nisā
[4]:4).
Menurut Islam, memahrumkan
(meluputkan) seseorang dari kemerdekaannya merupakan dosa
yang amat besar kecuali, tentu saja
ia — baik laki-laki maupun perem-puan — membuat dirinya layak dirampas kemerdekaannya, karena keikutsertaannya dalam peperangan yang dilancarkan dengan
maksud menghancurkan agama Islam atau
negara Islam.
Memperjualbelikan budak-budak itu merupakan dosa besar pula. Ajaran Islam dalam hal ini, lugas, tegas, dan tidak
samar-samar. Menurut Islam, seseorang yang membuat orang lain menjadi budaknya, berbuat dosa besar terhadap Tuhan
dan terhadap manusia (Bukhari, Kitab-ul-Bai’,
dan Dawud, seperti ditukil
oleh Fath al-Bari).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 8 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar