Senin, 12 Oktober 2015

Kesejajaran Proses "Perkembangan Jasmani" Manusia Dengan Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Ibadah yang Dilakukan



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 64

Kesejajaran  Proses  Perkembangan Jasmani  Manusia Dengan Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Ibadah yang Dilakukan 

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai makna “peniupan ruh” dari Allah Swt.  berkenaan dengan penciptaan Adam dari “tanah liat” (thīn) , firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ --     - lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ --     maka mereka bersujud kecuali iblis,  --  لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ  -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. (Al-A’rāf [7]:12)
 Makna kalimat  وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ  -- “Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu”, bahwa manusia    dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah liat (thīn)  mudah diberi bentuk apa pun.

Makna Perintah  Allah Swt. Kepada Para Malaikat  Untuk “Sujud” Kepada Adam

 Sebagaimana ketika mudigah dalam rahim ibu  keadaan pertumbuhannya telah menjadi   janin  yang sempurna segala sesuatunya, maka akan lahir ruh (QS.23:13-15), demikian pula jika perkembangan akhlak dan ruhani manusia telah sempurna keadaannya maka  menerima wahyu Ilahi merupakan keniscayaan yang akan dialaminya, itulah makna ayat: ثُمَّ سَوّٰىہُ  وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ -- “kemudian Dia menyempurnakannya dan Dia meniupkan ke dalamnya ruh-Nya” (QS.32:10).
 Namun   demikian Allah Swt. tidak memerintahkan kepada para malaikat untuk “sujud” (patuh-taat) kepada mereka, melainkan hanya kepada orang yang paling sempurna perkembangan akhlak dan ruhaninya yaitu yang telah dianugerahi martabat ruhani sebagai nabi (rasul) Allah, sebagaimana halnya Adam, firman-Nya:   ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ --     lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam" (QS.7:12).
  Karena perintah supaya sujud  kepada Adam a.s.  itu ditujukan kepada malaikat-malaikat, maka perintah itu berlaku untuk semua makhluk,  sebab para malaikat adalah "tangan-tangan" atau instrument Allah Swt.  yang bertugas melaksanakan perintah-perintah-Nya atau kehendak-kehendak-Nya: فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ --     maka mereka bersujud kecuali iblis,  --  لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ  -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.”
  Iblis itu bukan dari kalangan  malaikat  melainkan dari  golongan jin (QS.18:51). Iblis adalah gembong ruh-ruh jahat,  sedangkan Malaikat Jibril a.s. adalah pemimpin malaikat-malaikat. Kejadian yang disebutkan di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan nenek-moyang pertama umat manusia yang dapat disebut Adam pertama.
  Kejadian itu hanya berhubungan dengan Nabi Adam  a.s. (yang tinggal di bumi ini kira-kira 6.000 tahun yang lalu dan menurunkan Nabi  Nuh a.s., dan  Nabi Ibrahim a.s.  serta keturunan beliau-beliau yang dibahas dalam kisah ini.

Ciri-ciri  Orang-orang Beriman yang Akan Menjadi Pewaris Surga Firdaus

Jadi, kembali kepada adanya kesejajaran antara  perkembangan tubuh jasmani  manusia  dalam rahim ibu  dengan perkembangan ruhani manusia --  yang kemudian sama-sama  melahirkan  “ruh”  --  Allah Swt. berfirman mengenai  tingkat-tingkat  perkembangan ruhani manusia:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ ۙ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ  مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِلزَّکٰوۃِ  فٰعِلُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ ۙ﴿﴾  اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ   مَلُوۡمِیۡنَ ۚ﴿﴾  فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ  ۘ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sungguh  telah berhasil   orang-orang yang beriman,  yaitu orang-orang yang khusyuk  dalam shalatnya,    dan  orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia,   dan  orang-orang yang membayar zakat,  dan  orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela,     tetapi barangsiapa mencari selain dari itu  maka mereka itu  orang-orang yang melampaui batas.     Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka,   dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka.  اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡوٰرِثُوۡنَ -- Mereka itulah pewaris,  الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ --   yaitu  orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka akan   kekal di dalamnya. (Al-Mu’minūn [23]:1-12).
       Ayat الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اَفۡلَحَ  قَدۡ   --  “Sungguh  telah berhasil   orang-orang yang beriman”  menunjuk kepada orang-orang beriman yang mempunyai tingkat keruhanian yang amat tinggi. Sifat-sifat istimewa dan ciri-ciri khususnya disebutkan dalam ayat-ayat berikutnya. Orang-orang beriman semacam itu akan memperoleh falah (sukses) dan bukan hanya najat (keselamatan), sebab mencapai falah menandakan tingkat ruhani yang jauh lebih tinggi dari hanya mencapai najat.

Shalat yang Khusyuk

     Dengan ayat: فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ   -- “orang-orang yang khusyuk  dalam shalatnya”    mulai pelukisan mengenai kondisi-kondisi atau prasyarat-prasyarat yang seorang beriman harus penuhi sebelum dapat menaruh harapan untuk memperoleh falah (sukses)  dalam kehidupan dan mencapai tujuan utama, yang untuk itu Allah  Swt.telah menciptakan dia, yaitu untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57).
     Syarat-syarat tersebut dapat dianggap sekian banyak tingkat perkembangan ruhani manusia. Tingkat atau pal pertama dalam perjalanan ruh manusia ialah bahwa seorang  beriman harus menghadap kepada Allah Swt. dengan penuh kerendahan diri, merasa gentar oleh keagungan Ilahi, dan dengan hati yang menyesal dan merendahkan diri.
    Tingkat kedua terletak dalam berpaling dari segala macam percakapan dan khayalan tidak berguna, dan dari amal perbuatan sia-sia, percuma serta tidak membawa manfaat. Kehidupan merupakan suatu kenyataan yang suram dan serius, dan seorang beriman harus menanggapinya demikian. Ia harus mempergunakan setiap saat dalam kehidupannya dengan cara yang bermanfaat dan menjauhi semua kesibukan sia-sia yang tidak berguna: الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ   مُعۡرِضُوۡنَ     وَ    َ-- “dan  orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia”.
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman: فٰعِلُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِلزَّکٰوۃِ   وَ -- “dan  orang-orang yang membayar zakat” Tujuan zakat bukan hanya menyediakan sarana-sarana untuk meringankan beban orang-orang yang keadaannya menyedihkan, atau untuk memajukan kesejahteraan golongan masyarakat yang secara ekonomis kurang beruntung, melainkan mencegah juga penimbunan uang dan bahan-bahan keperluan dan dengan demikian menjamin kelancaran perputaran kedua-duanya, agar mengakibatkan terciptanya keseimbangan ekonomi yang sehat.
     Tingkat selanjutnya adalah لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ  الَّذِیۡنَ ہُمۡ وَ --   “dan  orang-orang yang menjaga kemaluannya, اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ    --   kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ  --  “tetapi barangsiapa mencari selain dari itu  maka mereka itu  orang-orang yang melampaui batas.
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai ciri khas mereka:  وَ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِاَمٰنٰتِہِمۡ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ -- “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka.

Shalat Berjama’ah &  Ciri Surga Firdaus

       Ayat selanjutnya: وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ   -- “dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka”   menandai tingkat perkembangan ruhani yang terakhir dan tertinggi, di mana zikir Ilahi menjadi fitrat kedua bagi seorang beriman dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wujudnya serta penghibur bagi ruhnya.
Pada tingkat ini ia menaruh perhatian khusus kepada amal ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjamaah), yang menunjukkan  bahwa perasaan dan kesadaran berkaum menjadi sangat kuat dalam dirinya dan ia membelakangkan kepentingan-kepentingan diri pribadi serta mendahulukan kebaikan bersama dan kepentingan kaum.
       Kemudian Allah Swt.  berfirman:  اُولٰٓئِکَ ہُمُ   الۡوٰرِثُوۡنَ -- Mereka itulah pewaris,  الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ --   yaitu  orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka akan   kekal di dalamnya.”  Karena orang-orang beriman yang ciri-cirinya  disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya menghimpun dalam diri mereka segala macam sifat mulia maka mereka akan disuruh bermukim di surga Firdaus yang berisikan segala sesuatu yang terdapat dalam kebun mana pun (Lexicon Lane).
      Karena mereka mendatangkan kematian terhadap keinginan-keinginan mereka sendiri, maka sebagai imbalannya Allah Swt. akan memberi mereka kehidupan kekal dan mereka akan memperoleh segala yang mereka inginkan, firman-Nya:
وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ ﴿﴾  ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾  ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾  لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa,  tidak jauh lagi.             Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya.   مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ  --          Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati  yang kembali bertaubat,  ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ  --    Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.” لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ --  Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi   (Qāf [50]:32-36).

Nikmat-nikmat Surgawi  dan Tingkatan Surga yang Tidak Terbatas

   Makna ayat لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ --  Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi”, bahwa di surga orang-orang bertakwa akan memperoleh dengan sepuas hati apa saja yang diinginkan mereka, tetapi karena keinginan manusia itu terbatas, mereka paling-paling diberi jauh lebih banyak daripada apa yang diinginkan mereka atau layak diterima mereka, bahkan lebih banyak daripada apa yang diangankan atau dikhayalkan mereka, karena pada hakikatnya nikmat-nikmat dalam surga tidak terbatas, sebagaimana diisyaratkan dengan kata permohonan maghfirah oleh para penghuni surga, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا  -- bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat.  عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُم -- Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu  وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ -- dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di ba-wahnya sungai-sungai,  یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang ber-iman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ --   sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  (At-Tahrīm [66]:9).
  Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا   --“Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami“ menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur.” Demikian juga kemajuan ruhani di surga tiada berhingga, sebab jika orang-orang beriman  akan mencapai kesempurnaan  --  yang menjadi ciri tingkat surgawi tertentu  -- mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir.

Makna Permohonan “Maghfirah”   Ahli Surga &  Makna “Yang Dimiliki Tangan Kanan

  Selanjutnya dari ayat وَ اغۡفِرۡ لَنَا --  “dan maafkanlah kami”  tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirah yakni penutupan kekurangan (Lexicon Lane). Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas serta  memandang tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka,   karena itu mereka akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan” dalam ayat: یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami.”
      Kembali kepada tingkatan-tingkatan kesempurnaan kuantitas dan kualitas ibadah orang-orang yang berhalk mewarisi  “surga Firdaus” sebelumnya (QS.23:2-12), ada ayat yang perlu dijelaskan yakni:    لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ  الَّذِیۡنَ ہُمۡ وَ --   “dan  orang-orang yang menjaga kemaluannya, اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ    --   kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ  --  “tetapi barangsiapa mencari selain dari itu  maka mereka itu  orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu’minūn [23]:6-8).
        Ungkapan,  ayat  مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ – “yang dimiliki tangan kanan mereka   secara umum berarti perempuan-perempuan berstatus tawanan perang yang tidak ditebus dan berada dalam tahanan serta jatuh ke dalam kuasa orang-orang Islam, karena mereka telah ikut secara aktif dalam peperangan yang dilancarkan dengan maksud menghancurkan Islam, maka dengan demikian  secara hukum  mencabut hak diri mereka sendiri untuk memperoleh kemerdekaan.   Istilah itu digunakan dalam Al-Quran sebagai pengganti sebutan ‘ibad dan ima (budak laki-laki dan budak perempuan) untuk mengisyaratkan kepada pemilikan yang sah dan benar menurut hukum (QS.2:222).
      Ungkapan, milk yamin dalam ayat  مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ – “yang dimiliki tangan kanan mereka” berarti milik penuh dan sah menurut hukum (Lisan-ul-‘Arab). Istilah itu mencakup budak-budak laki-laki dan perempuan, dan hanya letaknya dalam kalimat saja yang menetapkan apa yang dimaksud oleh ungkapan itu pada satu tempat tertentu.

Islam    Menghapuskan “Perbudakan” di Dunia

       Banyak sekali terjadi kesalahpahaman, mengenai ungkapan “yang dimiliki tangan kanan kamu” dalam QS.4:4 dan apa hak dan kedudukan orang-orang yang menjadi tujuan pernyataan itu. Islam telah mengutuk perbudakan dengan kata-kata yang tidak samar-samar, firman-Nya:
وَ اِنۡ خِفۡتُمۡ اَلَّا تُقۡسِطُوۡا فِی الۡیَتٰمٰی فَانۡکِحُوۡا مَا طَابَ لَکُمۡ مِّنَ النِّسَآءِ مَثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ۚ فَاِنۡ خِفۡتُمۡ اَلَّا تَعۡدِلُوۡا فَوَاحِدَۃً اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ ؕ ذٰلِکَ اَدۡنٰۤی اَلَّا تَعُوۡلُوۡا ؕ﴿﴾
Tetapi jika kamu takut  bahwa kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka nikahilah  perempuan-perempuan lainnya yang kamu sukai: dua atau tiga atau empat, فَاِنۡ خِفۡتُمۡ اَلَّا تَعۡدِلُوۡا فَوَاحِدَۃً اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ  --  akan tetapi   jika kamu takut kamu tidak akan dapat berlaku adil maka nikahilah seorang perempuan saja, atau nikahi yang dimiliki tangan kanan kamu,  yang demikian itu lebih dekat bagi kamu dari berbuat tidak adil. (An-Nisā [4]:4). 
      Menurut Islam, memahrumkan (meluputkan)  seseorang dari kemerdekaannya  merupakan dosa yang amat besar kecuali, tentu saja ia — baik laki-laki maupun perem-puan — membuat dirinya layak dirampas kemerdekaannya, karena keikutsertaannya dalam peperangan yang dilancarkan dengan maksud menghancurkan agama Islam atau negara Islam.
      Memperjualbelikan budak-budak itu merupakan dosa besar pula. Ajaran Islam  dalam hal ini, lugas, tegas, dan tidak samar-samar. Menurut Islam, seseorang yang membuat orang lain menjadi budaknya, berbuat dosa besar terhadap Tuhan dan terhadap manusia (Bukhari, Kitab-ul-Bai’, dan Dawud, seperti ditukil oleh Fath al-Bari).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 8 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar