Jumat, 02 Oktober 2015

Persamaan Pernyataan Yesus Dalam Bible Dengan Firman Allah Swt. Dalam Al-Quran Mengenai Pentingnya "Pemisahan" & Munculnya "Hizbullaah" (Golongan Allah) yang Dijanjikan di Akhir Zaman



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 55

Persamaan Pernyataan Yesus Dalam Bible Dengan Firman Allah Swt. Dalam Al-Quran Mengenai Pentingnya “Pemisahan”  & Munculnya “Hizbullāh” (Golongan Allah) yang Dijanjikan di Akhir Zaman

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai  Hizbullāh” (golongan Allah) yang hakiki yakni para pengikut Rasul Allah yang diutus kepada mereka, terutama para sahabah Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya: 
لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ -- tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ    --  walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka.   اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal  di dalamnya, رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ  --   Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya, mereka itulah golongan Allah.  اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil  (Al-Mujadalah [58]:23).

Kesamaan Pernyataan Yesus Dalam Bible dengan Firman Allah Swt. Dalam Al-Quran

   Sudah nyata bahwa tidak mungkin terdapat persahabatan atau perhubungan cinta sejati atau sungguh-sungguh di antara orang-orang   yang beriman  kepada Rasul Allah dengan  orang-orang kafir, sebab  cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain, dan karena adanya kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada, maka orang-orang beriman  diminta jangan mempunyai persahabatan yang erat lagi mesra dengan orang-orang kafir.
   Ikatan agama harus mengatasi segala perhubungan lainnya, bahkan mengatasi pertalian darah yang amat dekat sekalipun, jika dalam kenyataannya mereka itu    merupakan para penentang Allah Swt. Dan Rasul-Nya.  Ayat ini nampaknya merupakan seruan umum. Tetapi secara khusus seruan itu tertuju kepada orang-orang kafir yang ada dalam berperang dengan kaum Muslim.
Sejalan dengan pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran  pernyataan  Yesus berikut ini dalam Bible mengisyaratkan kepada topic yang sama, yakni pentingnya   dilakukan “pemisahan”   di kalangan umat  manusia atau umat beragama melalui pengutusan rasul Allah yang dijanjikan (QS.3:180)   -- yang merupakan the Big Bang  (ledakan besar QS.21:31)  alam ruhani  -- sehingga akan tampak nyata perbedaan antara orang-orang benar-benar mencintai Allah Swt. dan rasul Allah  dari orang-orang lainnya:
10:34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai , melainkan pedang. 10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,  10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.  10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.   10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya   dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.   10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.   10:40  Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku,   dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  10:41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar   sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. 10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya   dari padanya.” (Matius 10:34-42).
 Firman-Nya lagi:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ ہُمۡ  لَا یُفۡتَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ  الۡکٰذِبِیۡنَ  ﴿﴾  اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ  یَّسۡبِقُوۡنَا ؕ سَآءَ  مَا یَحۡکُمُوۡنَ  ﴿﴾ مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ  فَاِنَّ  اَجَلَ اللّٰہِ  لَاٰتٍ ؕ وَ ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾  وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَنِیٌّ  عَنِ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Apakah manusia menyangka  bahwa mereka akan dibiarkan berkata: اٰمَنَّا    -- “Kami telah beriman,” وَ ہُمۡ  لَا یُفۡتَنُوۡنَ  -- padahal  mereka tidak akan diuji?  وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ  الۡکٰذِبِیۡنَ     --  Dan  sungguh Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka    Allah   benar-benar mengetahui orang-orang yang berkata benar dan   Dia  benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta. اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ  یَّسۡبِقُوۡنَا --  Ataukah orang-orang yang berbuat keburukan menyangka bahwa mereka akan dapat melepaskan diri dari azab Kami? سَآءَ  مَا یَحۡکُمُوۡنَ    -- Sangat buruk  apa yang mereka putuskan! مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ  فَاِنَّ  اَجَلَ اللّٰہِ  لَاٰتٍ  --   Barangsiapa mengharapkan  pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang ditetapkan Allah pasti tiba, وَ ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡعَلِیۡمُ  --  dan   Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ   --  Barangsiapa  berjihad  maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri, اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَنِیٌّ  عَنِ  الۡعٰلَمِیۡنَ  -- sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari yakni ti-dak memerlukan seluruh  alam. (Al-Ankabūt [29]:3-7).

Yesus Menolak Paham “Penebusan Dosa

    Makna ‘ilm (ilmu)  dalam ayat 2 bahwa ilmu (pengetahuan) itu ada dua macam:
  (a) Ilmu berupa pengetahuan mengenai sesuatu sebelum sesuatu itu mengambil wujud. Ilmu semacam itu tidak dimaksudkan dalam ayat ini,  sebab Allah Swt. adalah  Wujud Yang paling mengetahui segala yang nampak maupun yang gaib (QS.59:23).
   (b) Ilmu berupa pengetahuan mengenai peristiwa yang benar-benar terjadi. Ilmu semacam itulah yang dimaksud di sini, sebab dengan melalui ujian-ujian keimanan itulah maka  benar-tidaknya pengakuan iman seseorang akan diketahui.
  Ayat ini berarti bahwa makrifat Ilahi yang sederhana dan bertaraf rendah akan mengambil bentuk ilmu lahiriah (yang nyata). Atau ayat itu mengandung arti  bahwa Allah Swt. akan memisahkan pendusta-pendusta dari orang-orang jujur dalam keimanannya, sebagaimana kata ‘ilm memiliki juga pengertian membedakan antara dua benda, terutama bila kata itu disusul oleh kata perangkai min (dari). Lihat juga QS.2:144 dan QS.3:141.
   Orang-orang yang beriman ditakdirkan untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan mereka mendapat ujian yang berat (QS.2:156-158) dan sesudah mereka keluar dari percobaan-percobaan itu dengan berhasil, barulah kenyataan akan menjadi terbukti, bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang sejati dan tulus-ikhlas. Dengan jalan inilah mereka nyang benar-benar beriman  dipisahkan dari orang-orang munafik, yakni palsu dalam pengakuan iman mereka.
  Yarju (harapan-harapan) dalam ayat  مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ  فَاِنَّ  اَجَلَ اللّٰہِ  لَاٰتٍ  --   “Barangsiapa mengharapkan  pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang ditetapkan Allah pasti tiba”, berasal dari kata raja yakni  ia berharap memperoleh barang itu, atau ia khawatir akan itu. Dalam pengertian khawatir kata itu dipergunakan pada peristiwa-peristiwa bila barang-barang yang diharapkan itu mungkin dapat memberi kepuasan (Al-Mufradat).
  Ayat  وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ   --  barangsiapa  berjihad  maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri” memberikan gambaran singkat tetapi tepat mengenai seseorang mujahid — seorang pejuang sejati di jalan Allah Swt. Cita-cita yang tinggi serta mulia, dan usaha yang gigih dan dawam dalam pengamalannya, itulah yang dalam istilah Islam disebut jihad; dan barangsiapa memiliki cita-cita semulia itu dan hidup sesuai dengan cita-cita itu ia adalah seorang muhajid dalam arti kata yang sebenarnya. Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah pernyataan Yesus sebelumnya:
Barangsiapa tidak memikul salibnya   dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku (Matius 10:38).
      Pernyataan  Yesus tersebut  menolak  paham sesat penebusan dosa  manusia melalui kematian terkutuk beliau di atas tiang salib, sebagaimana yang dikemukakan Paulus dalam Surat-surat kirimannya (Roma 3:21-26). Benarlah firman Allah Swt.:     اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ  یَّسۡبِقُوۡنَا --  Ataukah orang-orang yang berbuat keburukan menyangka bahwa mereka akan dapat melepaskan diri dari azab Kami? سَآءَ  مَا یَحۡکُمُوۡنَ    -- Sangat buruk  apa yang mereka putuskan! (Al-Ankabūt [29]:4).

Munculnya “Hizbullāh” (Golongan Allah) yang Dijanjikan di Akhir Zaman

   Sehubungan akan berlanjutnya Sunnatullāh mengenai “pemisahan"  melalui pengutusan Rasul Allah (QS.21:31; QS.3:180) di kalangan umat beragama tersebut,  dalam Surah  berikut  ini Allah Swt. berfirman bahwa munculnya Hizbullah (golongan Allah) yang hakiki   di Akhir Zaman ini,  yaitu mereka yang  bgeriman kepada  Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), firman-Nya:
 یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,  مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ -- barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ   -- maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ --  mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap  orang-orang beriman  dan keras terhadap orang-orang kafir. یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ    -- Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ  -- Itulah karunia Allah, Dia mem-berikannya kepada siapa yang Dia kehendaki  وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ -- dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.  اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ --   Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah dan Rasul-Nya وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ  -- dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا   --  Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang  yang beriman sebagai pelindung (sahabat),  فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ  -- maka  sesungguhnya   golongan  Allah pasti menang (Al-Māidah [5]:55-57).
      Menurut Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini  bahwa Hizbullāh (golongan Allah) adalah dari kalangan   umat Islam  di Akhir Zaman:  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka”, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada me-reka Kitab dan Hikmah وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --     walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allāah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-50).

Karunia Ilahi Besar Pengutusan  Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman

      Salah satu bentuk  karunia besar  Allah Swt. berupa pengutusan Rasul Akhir Zaman di kalangan umat Islam adalah dibukakan-Nya rahasia gaib  makrifat Ilahi   dalam Al-Quran kepada Masih Mau’ud a.s. untuk kepentingan perkembangan akhlak dan ruhani umat manusia di Akhir Zaman ini (QS.72:27-29).
       Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya beliau bersabda mengenai khazanah ruhani Surah Al-Fatihah yang berhubungan dengan empat Sifat utama Tasybihiyah Allah Swt.: Rabubiyat (Pencipta dan Pemelihara); Rahmāniyat (Pemurah); Rahīmiyat (Penyayang) dan Mālikiyat (Pemilik):
        “Pujian yang sempurna disampaikan bagi dua bentuk Sifat keagungan yaitu Maha Indah dan Maha Penyayang. Jika manusia pernah mengalami kedua keagungan tersebut maka hatinya akan jatuh cinta kepada Wujud-Nya. Tugas utama dari Kitab Suci Al-Quran adalah memperlihatkan kedua bentuk keagungan Ilahi tersebut agar manusia tertarik kepada Wujud Yang Tunggal dan tanpa sekutu tersebut serta menyembah-Nya dengan hati yang gembira.
       Untuk tujuan itu maka di awal Surah [Al-Fatihah] dikemukakan keagungan Allah Swt. yang mengundang manusia yaitu dengan ungkapan Alhamdulillāh yang berarti bahwa semua puji-pujian adalah bagi Wujud yang bernama Allah. Dalam istilah Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud Yang Keagungan-Nya telah mencapai kesempurnaan keindahan dan Sifat Penyayang serta tidak mempunyai cacat dan cela. Kitab Suci Al-Quran mengemukakan nama Allah beserta semua Sifat-sifat-Nya dan hal ini merupakan indikasi bahwa Allah merangkum segala Sifat sempurna dalam Wujud-Nya.
      Karena Dia mencakup seluruh keagungan maka Sifat Maha Indah-Nya menjadi jelas dengan sendirinya, dan karena keindahan-Nya itulah maka Dia diberi nama Nūr (Cahaya) di dalam Al-Quran sebagaimana dikatakan:
اَللّٰہُ  نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi (An-Nūr [24]:36).
Sinar (cahaya) lainnya merupakan refleksi  (pantulan) dari Nur-Nya tersebut.

Sifat  Rabubiyat dan Maha Penyayang Allah Swt.

  Allah Yang Maha Kuasa memiliki berbagai Sifat keagungan yang menggambarkan kasih sayang, dimana yang pokok ada empat. Dalam urutan alamiahnya, Sifat yang pertama sebagaimana dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah adalah Rabbul ‘ālamīn (Pencipta dan Pemelihara seluruh alam), yang dimaksud adalah Sifat Rabubiyat Allah Swt.. yang berkaitan dengan penciptaan dan penyempurnaan alam dan Sifat ini berfungsi sepanjang waktu.
    Dunia langit, dunia bumi, dunia jasmani, dunia ruhani, dunia flora dan fauna, dunia mineral dan berbagai dunia lainnya, dihidupkan oleh Sifat Rabubiyat tersebut. Dunia yang dilalui manusia sebelum ia berbentuk sperma, sampai dengan ajalnya nanti atau sampai ia tiba pada kehidupan kedua, semuanya itu dihidupkan oleh sumber mata air Rabubiyat.
      Sifat Rabubiyat Ilahi karena mencakup seluruh ruhani, jasmani, fauna, flora, mineral dan lain-lain itu maka disebut sebagai Sifat yang berlaku sangat umum sebab semua hal menerima rahmat-Nya dan bisa berwujud karena Sifat tersebut. Meskipun Sifat Rabubiyat Ilahi menjadi asal muasal dari segala hal  yang mewujud serta menghidupi dan memeliharanya, namun yang paling menikmati manfaatnya adalah manusia, karena manusia bisa mengambil manfaat dari seluruh ciptaan yang ada. Karena itu manusia diingatkan bahwa Tuhan-nya adalah Rabbul ‘ālamīn (Rabb seluruh alam) agar ia menyadari bahwa kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa itu amatlah luas dan bagi kepentingan manusia,  karena itu Dia mewujudkan segala hal yang diperlukan sebagai sumber-daya.
      Keagungan yang kedua dari Allah Yang Maha Kuasa adalah Sifat Pemurah-Nya yang juga bersifat umum dan diberi nama Rahmāniyat, dan karena itu maka Allah disebut sebagai Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah) dalam Surah Al-Fatihah. Dalam istilah Kitab Suci Al-Quran, Tuhan Yang Maha Perkasa disebut sebagai Al-Rahmān karena Dia menganugrahi karunia berupa bentuk tubuh dan sifat-sifat yang sesuai kepada segala makhluk hidup, termasuk manusia.
       Dengan kata lain, manusia telah dikaruniai semua kemampuan dan kekuatan serta bentuk dan anggota tubuh yang diperlukan untuk kehidupan yang akan ditempuhnya. Apa pun  yang diperlukan bagi kelangsungan hidupnya telah disediakan. Burung, hewan dan manusia telah diberikan kekuasaan yang cocok bagi spesinya masing-masing.
       Beribu tahun sebelum mereka itu mewujud[1] di muka bumi, Allah Swt. dengan Sifat Rahmāniyat-Nya telah menciptakan benda-benda langit dan bumi agar nanti semua mahluk hidup bisa terpelihara. Tidak ada tindakan atau amalan siapa pun yang diperlukan atau dikaitkan dengan Sifat Rahmāniyat Allah Swt..  Semua itu semata-mata merupakan rahmat yang sudah ada sebelum makhluk hidup muncul di muka bumi. Manusia merupakan penerima berkat paling utama dari Sifat Rahmāniyat ini sebab semuanya memang disediakan baginya, karena itulah manusia selalu diingatkan bahwa Allah itu adalah Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah).

Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang)

    Keagungan yang ketiga dari Allah Yang Maha Perkasa adalah Sifat Rahīmiyat dan karena itu Allah disebut sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang) dalam Surah Al-Fatihah. Dalam istilah Al-Quran, Tuhan disebut sebagai Al-Rahīm karena Sifat-Nya yang mendengar permohonan doa, dan sujud serta amal ibadah orang-orang bertakwa  dimana Dia akan menjaga mereka dari bencana, petaka dan kesia-siaan usaha.
      Rahmat ini dianggap sebagai rahmat yang bersifat khusus dan hanya terbatas bagi umat manusia saja karena makhluk dan benda lainnya tidak mempunyai kemampuan ibadah dan berdoa serta melakukan amal saleh. Manusia adalah hewan yang bisa berartikulasi (berkata) dan karena itu bisa menjadi penerima rahmat Ilahi melalui kemampuannya berbicara. Karena itu kelihatannya beribadah merupakan kemampuan khusus manusia yang menjadi bagian yang inheren (melekat) dalam sifat alamiah manusia.
    Manusia memperoleh rahmat dari Sifat-sifat Rahīmiyat Ilahi sebagaimana juga ia mendapat rahmat dari Sifat Rabubiyat dan Rahmāniyat-Nya. Bedanya hanyalah karena untuk Sifat Rabubiyat dan Rahmāniyat  ia tidak perlu memohon secara khusus karena Sifat-sifat tersebut tidak terbatas hanya bagi manusia. Sifat Rahmāniyat bahkan mencakup semua makhluk hidup selain  manusia, sedangkan Sifat Rabubiyat juga mencakup ciptaan benda-benda tidak bernyawa tanpa ada yang dikecualikan.
    Adapun Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) merupakan hal yang hanya berkaitan dengan manusia layaknya jubah kehormatan yang bersifat khusus. Kalau manusia tidak bisa memanfaatkan rahmat dari Sifat ini maka sama seperti ia itu menurunkan harkat dirinya ke tingkat hewan atau bahkan benda mati.
       Karena fungsi Sifat Rahīmiyat terbatas hanya bagi manusia dan diperlukan ibadah persujudan untuk menggerakkannya, disini menjadi jelas bahwa ada jenis rahmat Ilahi yang tergantung kepada ibadah dan tak mungkin tanpa ibadah. Inilah jalan Allah Swt. dan merupakan kaidah yang pasti yang tidak bisa ditawar. Karena itulah semua nabi berdoa bagi umatnya. Kitab Taurat menjelaskan betapa seringnya Bani Israil membuat murka Allah Swt. sehingga mereka akan dihukum tetapi kemudian dihindarkan berkat doa dan persujudan Nabi Musa a.s. meskipun berapa kali   Tuhan  sudah menyatakan akan menghancurkan bangsa itu.
       Semua itu menunjukkan bahwa tidak ada doa yang akan sia-sia dan ini adalah ibadah yang pasti menghasilkan berkat. Jika ada yang meragukan adalah karena mereka tidak bisa memahami Tuhan sebagaimana harusnya, karena tidak merenungi firman-firman Allah  Swt.  dan juga karena mereka tidak memahami hukum alam. Sesungguhnya rahmat itu pasti turun untuk memenuhi permohonan manusia dan mengaruniakan keselamatan atas kita.
      Adalah berkat Sifat Rahīmiyat maka manusia mengalami kemajuan. Melalui Sifat inilah manusia mencapai tingkatan wilayat (kewalian) dimana ia meyakini Allah Yang Maha Kuasa seolah bisa melihat Wujud-Nya secara langsung. Bantuan doa juga tergantung pada Sifat Rahīmiyat. Adalah Sifat Rahīmiyat Ilahi itulah yang menuntut orang-orang yang saleh untuk mendoakan orang-orang jahat.

Sifat Mālikiyat (Pemilik)

       Sifat keempat   Allah Yang Maha Perkasa yang sepatutnya dianggap sebagai Sifat yang amat khusus yaitu Mālikiyat Yaumiddīn (Pemilik Hari Pembalasan), sehingga karenanya Allah disebut juga di Surah Al-Fatihah sebagai Māliki Yaumiddīn. Perbedaan Sifat ini dengan Sifat Rahīmiyat (Maha Pemurah) ialah dengan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang)   manusia memperoleh harkat nilai sebagai hasil dari doa dan ibadahnya, sedangkan melalui Sifat Mālikiyat maka orang itu memperoleh ganjarannya.
      Melalui  Sifat Rahīmiyat, seseorang bisa berhasil dalam suatu masalah seperti misalnya lulus ujian bagi seorang siswa, namun untuk mendapatkan tingkatan atau jabatan menurut materi ujian tersebut ditentukan melalui  Sifat Mālikiyat. Kedua sifat ini mengindikasikan bahwa  Sifat Rahīmiyat  bisa dicapai karena kasih Allah sedangkan karunia Mālikiyat dicapai berkat keridhaan Allah Yang Maha Kuasa.  Sifat Mālikiyat akan mewujud secara sempurna dan dalam skala besar nanti di akhirat, walau pun di dunia ini keempat Sifat Ilahi tersebut bisa mewujud juga.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 247-251, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 29 September 2015






[1] Menurut para ahli, umur bumi diperkirakan 5 milyar tahun (bahkan ada yang menghitung sampai 18 milyar tahun), dan mahluk hidup yang berjalan di daratan baru muncul sekitar 500 ju ta tahun yang lalu sedangkan wujud manusia seperti sekarang ini baru muncul sekitar 1 (satu) juta
tahun yang lalu. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar