بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 55
Persamaan Pernyataan Yesus Dalam Bible Dengan
Firman Allah Swt. Dalam Al-Quran Mengenai Pentingnya “Pemisahan” & Munculnya “Hizbullāh” (Golongan Allah) yang Dijanjikan di Akhir Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai “Hizbullāh” (golongan
Allah) yang hakiki yakni para pengikut Rasul
Allah yang diutus kepada mereka, terutama para sahabah Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
لَا تَجِدُ
قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗ وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ
کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ
وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ
حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ -- tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, وَ لَوۡ
کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ
اِخۡوَانَہُمۡ اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ -- walau pun mereka itu bapak-bapak
mereka atau anak-anak mereka
atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ -- Mereka
itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah
menanamkan iman dan Dia telah
meneguhkan mereka dengan ilham dari
Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya, رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ
حِزۡبُ اللّٰہِ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka ridha
kepada-Nya, mereka itulah golongan
Allah. اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang
yang berhasil (Al-Mujadalah [58]:23).
Kesamaan Pernyataan
Yesus Dalam Bible dengan Firman
Allah Swt. Dalam Al-Quran
Sudah nyata bahwa
tidak mungkin terdapat persahabatan
atau perhubungan cinta sejati atau
sungguh-sungguh di antara orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah dengan orang-orang
kafir, sebab cita-cita,
pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain, dan karena adanya
kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan
yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada, maka orang-orang beriman diminta
jangan mempunyai persahabatan yang erat
lagi mesra dengan orang-orang kafir.
Ikatan agama harus mengatasi
segala perhubungan lainnya, bahkan mengatasi
pertalian darah yang amat dekat sekalipun, jika dalam kenyataannya
mereka itu merupakan para penentang
Allah Swt. Dan Rasul-Nya. Ayat ini
nampaknya merupakan seruan umum.
Tetapi secara khusus seruan itu
tertuju kepada orang-orang kafir yang
ada dalam berperang dengan kaum Muslim.
Sejalan dengan pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran pernyataan
Yesus berikut ini dalam Bible
mengisyaratkan kepada topic yang sama, yakni pentingnya dilakukan “pemisahan” di kalangan
umat manusia
atau umat beragama melalui pengutusan
rasul Allah yang dijanjikan (QS.3:180) --
yang merupakan the Big Bang (ledakan besar QS.21:31) alam
ruhani -- sehingga akan tampak nyata
perbedaan antara orang-orang
benar-benar mencintai Allah Swt. dan rasul Allah dari orang-orang lainnya:
10:34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai ,
melainkan pedang. 10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan
dari ibunya, menantu perempuan dari ibu
mertuanya, 10:36 dan musuh orang ialah orang-orang
seisi rumahnya. 10:37
Barangsiapa mengasihi
bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa
mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak
bagi-Ku. 10:38
Barangsiapa tidak
memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39
Barangsiapa mempertahankan
nyawanya, ia akan kehilangan
nyawanya, dan barangsiapa kehilangan
nyawanya karena Aku, ia akan
memperolehnya. 10:40 Barangsiapa menyambut kamu,
ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia
yang mengutus Aku. 10:41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar
sebagai orang benar, ia akan menerima
upah orang benar. 10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang
yang kecil ini, karena ia murid-Ku,
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia
tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Matius 10:34-42).
Firman-Nya lagi:
اَحَسِبَ
النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ ہُمۡ لَا یُفۡتَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ
فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ
صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ
الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾ اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ
اَنۡ یَّسۡبِقُوۡنَا ؕ سَآءَ مَا یَحۡکُمُوۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا
لِقَآءَ اللّٰہِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰہِ لَاٰتٍ ؕ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ
الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ وَ مَنۡ جَاہَدَ
فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَغَنِیٌّ عَنِ
الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Apakah manusia menyangka bahwa mereka
akan dibiarkan berkata: اٰمَنَّا -- “Kami telah beriman,” وَ ہُمۡ لَا یُفۡتَنُوۡنَ -- padahal mereka
tidak akan diuji? وَ لَقَدۡ فَتَنَّا
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ الۡکٰذِبِیۡنَ
-- Dan sungguh Kami benar-benar telah menguji
orang-orang sebelum mereka, maka Allah benar-benar mengetahui orang-orang
yang berkata benar dan Dia benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta.
اَمۡ حَسِبَ
الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ
یَّسۡبِقُوۡنَا -- Ataukah orang-orang
yang berbuat keburukan menyangka bahwa mereka
akan dapat melepaskan diri dari azab Kami? سَآءَ مَا یَحۡکُمُوۡنَ -- Sangat buruk apa yang mereka putuskan! مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ
فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰہِ لَاٰتٍ -- Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang ditetapkan Allah
pasti tiba, وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. وَ مَنۡ جَاہَدَ
فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ -- Barangsiapa berjihad maka sesungguhnya
ia berjihad untuk dirinya sendiri, اِنَّ
اللّٰہَ لَغَنِیٌّ عَنِ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- sesungguhnya
Allah benar-benar Maha Kaya dari yakni
ti-dak memerlukan seluruh alam. (Al-Ankabūt
[29]:3-7).
Yesus Menolak
Paham “Penebusan Dosa”
Makna ‘ilm (ilmu) dalam ayat 2 bahwa ilmu (pengetahuan) itu ada
dua macam:
(a)
Ilmu berupa pengetahuan mengenai sesuatu sebelum sesuatu itu mengambil wujud. Ilmu semacam itu tidak dimaksudkan dalam
ayat ini, sebab Allah Swt. adalah Wujud
Yang paling mengetahui segala yang nampak maupun yang gaib (QS.59:23).
(b) Ilmu berupa pengetahuan
mengenai peristiwa yang benar-benar terjadi. Ilmu semacam itulah yang dimaksud di sini, sebab dengan melalui ujian-ujian keimanan itulah maka benar-tidaknya pengakuan iman seseorang akan diketahui.
Ayat ini berarti bahwa makrifat Ilahi yang sederhana
dan bertaraf rendah akan mengambil
bentuk ilmu lahiriah (yang nyata).
Atau ayat itu mengandung arti bahwa Allah
Swt. akan memisahkan pendusta-pendusta
dari orang-orang jujur dalam keimanannya, sebagaimana kata ‘ilm
memiliki juga pengertian membedakan
antara dua benda, terutama bila kata
itu disusul oleh kata perangkai min (dari). Lihat juga QS.2:144 dan
QS.3:141.
Orang-orang yang beriman ditakdirkan untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan mereka mendapat ujian
yang berat (QS.2:156-158) dan sesudah mereka keluar dari percobaan-percobaan itu dengan berhasil, barulah kenyataan akan menjadi terbukti,
bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah
yang sejati dan tulus-ikhlas.
Dengan jalan inilah mereka nyang
benar-benar beriman dipisahkan
dari orang-orang munafik, yakni palsu dalam pengakuan iman mereka.
Yarju
(harapan-harapan) dalam ayat مَنۡ کَانَ
یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰہِ لَاٰتٍ -- “Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang ditetapkan Allah
pasti tiba”, berasal dari kata raja yakni ia berharap
memperoleh barang itu, atau ia khawatir
akan itu. Dalam pengertian khawatir
kata itu dipergunakan pada peristiwa-peristiwa bila barang-barang yang diharapkan itu mungkin dapat memberi kepuasan (Al-Mufradat).
Ayat وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ
لِنَفۡسِہٖ -- barangsiapa
berjihad maka sesungguhnya
ia berjihad untuk dirinya sendiri” memberikan gambaran singkat tetapi tepat
mengenai seseorang mujahid — seorang pejuang sejati di jalan Allah Swt. Cita-cita
yang tinggi serta mulia, dan usaha
yang gigih dan dawam dalam pengamalannya,
itulah yang dalam istilah Islam disebut jihad; dan barangsiapa memiliki cita-cita semulia itu dan hidup sesuai dengan cita-cita itu ia adalah seorang muhajid dalam arti kata yang
sebenarnya. Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah pernyataan Yesus sebelumnya:
Pernyataan
Yesus tersebut menolak
paham sesat penebusan dosa manusia
melalui kematian terkutuk beliau di
atas tiang salib, sebagaimana yang
dikemukakan Paulus dalam Surat-surat kirimannya (Roma
3:21-26). Benarlah firman Allah Swt.: اَمۡ حَسِبَ
الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ
یَّسۡبِقُوۡنَا -- Ataukah orang-orang
yang berbuat keburukan menyangka bahwa mereka
akan dapat melepaskan diri dari azab Kami? سَآءَ مَا یَحۡکُمُوۡنَ -- Sangat buruk apa yang mereka putuskan! (Al-Ankabūt [29]:4).
Munculnya “Hizbullāh” (Golongan Allah) yang Dijanjikan di Akhir Zaman
Sehubungan akan berlanjutnya Sunnatullāh
mengenai “pemisahan" melalui pengutusan Rasul Allah (QS.21:31; QS.3:180) di kalangan umat beragama tersebut, dalam
Surah berikut ini Allah Swt. berfirman bahwa munculnya Hizbullah (golongan Allah) yang hakiki di Akhir Zaman ini, yaitu mereka yang bgeriman kepada Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ
فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ
عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ
لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا
وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ
یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ
الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai
orang-orang yang beriman, مَنۡ یَّرۡتَدَّ
مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ -- barangsiapa
di antara kamu murtad
dari agamanya فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum,
Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ -- mereka
akan bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang beriman dan keras
terhadap orang-orang kafir. یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ
لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ -- Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela.
ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ -- Itulah karunia Allah, Dia mem-berikannya kepada siapa yang Dia kehendaki وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ -- dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, Maha
Mengetahui. اِنَّمَا
وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ -- Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah dan Rasul-Nya وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ
یُؤۡتُوۡنَ الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ
رٰکِعُوۡنَ -- dan
orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- Dan
barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman
sebagai pelindung (sahabat), فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ
الۡغٰلِبُوۡنَ --
maka sesungguhnya golongan
Allah pasti menang (Al-Māidah [5]:55-57).
Menurut Allah Swt. dalam firman-Nya berikut
ini bahwa Hizbullāh (golongan Allah) adalah dari kalangan umat Islam di Akhir
Zaman: وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka”, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang
telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
me-reka Kitab dan Hikmah وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya
mereka berada dalam kesesatan yang
nyata,
وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan juga
akan membangkitkan-nya pada kaum
lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allāah mempunyai karunia yang besar.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-50).
Karunia Ilahi Besar
Pengutusan Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman
Salah satu bentuk karunia
besar Allah Swt. berupa pengutusan Rasul Akhir Zaman di kalangan umat Islam adalah dibukakan-Nya rahasia
gaib makrifat
Ilahi dalam Al-Quran kepada Masih Mau’ud a.s. untuk kepentingan perkembangan akhlak dan ruhani
umat manusia di Akhir Zaman ini
(QS.72:27-29).
Sehubungan dengan hal tersebut
selanjutnya beliau bersabda mengenai khazanah
ruhani Surah Al-Fatihah yang
berhubungan dengan empat Sifat utama Tasybihiyah
Allah Swt.: Rabubiyat (Pencipta dan
Pemelihara); Rahmāniyat (Pemurah); Rahīmiyat (Penyayang) dan Mālikiyat (Pemilik):
“Pujian yang sempurna disampaikan bagi dua bentuk Sifat keagungan yaitu Maha Indah dan Maha
Penyayang. Jika manusia pernah mengalami kedua keagungan
tersebut maka hatinya akan jatuh cinta kepada Wujud-Nya.
Tugas utama dari Kitab Suci Al-Quran
adalah memperlihatkan kedua bentuk keagungan Ilahi tersebut agar
manusia tertarik kepada Wujud
Yang Tunggal dan tanpa sekutu tersebut serta menyembah-Nya
dengan hati yang gembira.
Untuk tujuan itu maka di awal Surah [Al-Fatihah] dikemukakan keagungan Allah Swt. yang mengundang
manusia yaitu dengan ungkapan Alhamdulillāh
yang berarti
bahwa semua puji-pujian adalah bagi Wujud yang bernama Allah.
Dalam istilah Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud Yang Keagungan-Nya telah mencapai kesempurnaan keindahan dan Sifat Penyayang serta tidak mempunyai cacat dan cela. Kitab
Suci Al-Quran mengemukakan nama Allah
beserta semua Sifat-sifat-Nya dan hal ini merupakan indikasi bahwa Allah
merangkum segala Sifat sempurna dalam Wujud-Nya.
Karena Dia mencakup seluruh keagungan maka Sifat
Maha Indah-Nya menjadi jelas dengan sendirinya, dan karena keindahan-Nya
itulah maka Dia diberi nama Nūr (Cahaya) di dalam Al-Quran sebagaimana dikatakan:
اَللّٰہُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
‘Allah adalah Nur
seluruh langit dan bumi’ (An-Nūr [24]:36).
Sinar (cahaya) lainnya merupakan refleksi (pantulan) dari Nur-Nya tersebut.
Sifat Rabubiyat dan Maha Penyayang Allah
Swt.
Allah Yang Maha Kuasa memiliki berbagai Sifat keagungan yang menggambarkan kasih sayang, dimana yang pokok ada
empat. Dalam urutan alamiahnya, Sifat
yang pertama sebagaimana dikemukakan
dalam Surah Al-Fatihah adalah Rabbul
‘ālamīn (Pencipta dan Pemelihara seluruh alam), yang dimaksud adalah Sifat
Rabubiyat Allah Swt.. yang berkaitan dengan penciptaan dan penyempurnaan
alam dan Sifat ini berfungsi
sepanjang waktu.
Dunia langit, dunia bumi, dunia jasmani, dunia ruhani,
dunia flora dan fauna, dunia mineral dan
berbagai dunia lainnya, dihidupkan oleh Sifat Rabubiyat
tersebut. Dunia yang dilalui manusia sebelum ia berbentuk sperma, sampai dengan ajalnya nanti atau sampai ia tiba pada kehidupan kedua, semuanya itu dihidupkan oleh sumber mata air Rabubiyat.
Sifat Rabubiyat Ilahi
karena mencakup seluruh ruhani,
jasmani, fauna, flora, mineral dan lain-lain itu maka disebut sebagai Sifat yang berlaku sangat umum sebab semua hal menerima rahmat-Nya dan bisa
berwujud karena Sifat tersebut. Meskipun Sifat Rabubiyat Ilahi menjadi asal
muasal dari segala hal yang mewujud serta menghidupi dan memeliharanya,
namun yang paling menikmati manfaatnya
adalah manusia, karena manusia bisa mengambil manfaat dari seluruh ciptaan
yang ada. Karena itu manusia diingatkan bahwa Tuhan-nya adalah Rabbul ‘ālamīn (Rabb seluruh alam) agar ia menyadari bahwa kekuasaan Allah Yang Maha
Perkasa itu amatlah luas dan bagi kepentingan manusia, karena itu Dia mewujudkan segala hal yang diperlukan
sebagai sumber-daya.
Keagungan yang kedua dari Allah Yang Maha Kuasa adalah Sifat Pemurah-Nya yang juga bersifat umum dan diberi nama Rahmāniyat, dan karena itu maka Allah disebut
sebagai Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah) dalam Surah Al-Fatihah.
Dalam istilah Kitab Suci Al-Quran, Tuhan
Yang Maha Perkasa disebut sebagai Al-Rahmān karena Dia menganugrahi karunia
berupa bentuk tubuh dan sifat-sifat yang sesuai kepada segala makhluk hidup, termasuk manusia.
Dengan kata lain, manusia telah dikaruniai semua kemampuan
dan kekuatan serta bentuk dan anggota tubuh yang diperlukan untuk kehidupan yang akan ditempuhnya. Apa pun yang diperlukan bagi kelangsungan hidupnya telah disediakan. Burung,
hewan dan manusia telah diberikan kekuasaan yang cocok bagi spesinya
masing-masing.
Beribu tahun sebelum mereka itu mewujud[1] di muka bumi, Allah Swt. dengan
Sifat Rahmāniyat-Nya telah menciptakan benda-benda langit
dan bumi agar nanti semua mahluk hidup bisa terpelihara. Tidak ada tindakan
atau amalan siapa pun yang diperlukan atau dikaitkan dengan Sifat
Rahmāniyat Allah Swt.. Semua itu semata-mata merupakan rahmat
yang sudah ada sebelum makhluk hidup
muncul di muka bumi. Manusia
merupakan penerima berkat paling utama dari Sifat Rahmāniyat ini sebab semuanya memang disediakan baginya, karena itulah
manusia selalu diingatkan bahwa Allah itu adalah Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah).
Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang)
Keagungan yang ketiga dari Allah Yang Maha Perkasa
adalah Sifat Rahīmiyat dan karena itu Allah disebut sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang) dalam Surah Al-Fatihah. Dalam istilah Al-Quran, Tuhan disebut sebagai Al-Rahīm karena Sifat-Nya yang mendengar
permohonan doa, dan sujud serta amal ibadah orang-orang bertakwa dimana Dia akan menjaga mereka dari
bencana, petaka dan kesia-siaan usaha.
Rahmat ini dianggap sebagai rahmat yang bersifat khusus dan hanya terbatas
bagi umat manusia saja karena makhluk dan benda
lainnya tidak mempunyai kemampuan ibadah dan berdoa serta
melakukan amal saleh. Manusia
adalah hewan yang bisa berartikulasi
(berkata) dan karena itu bisa menjadi penerima
rahmat Ilahi melalui
kemampuannya berbicara. Karena itu kelihatannya beribadah merupakan
kemampuan khusus manusia yang
menjadi bagian yang inheren (melekat)
dalam sifat alamiah manusia.
Manusia memperoleh rahmat dari Sifat-sifat Rahīmiyat Ilahi sebagaimana juga ia mendapat rahmat
dari Sifat Rabubiyat dan Rahmāniyat-Nya. Bedanya hanyalah karena untuk Sifat
Rabubiyat
dan Rahmāniyat ia tidak perlu memohon
secara khusus karena Sifat-sifat
tersebut tidak terbatas hanya bagi manusia. Sifat Rahmāniyat bahkan mencakup semua makhluk hidup selain manusia, sedangkan Sifat Rabubiyat
juga mencakup ciptaan benda-benda tidak bernyawa tanpa ada yang
dikecualikan.
Adapun Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) merupakan hal yang
hanya berkaitan dengan manusia layaknya jubah
kehormatan yang bersifat khusus.
Kalau manusia tidak bisa memanfaatkan rahmat dari Sifat ini maka sama seperti ia itu menurunkan harkat
dirinya ke tingkat hewan atau bahkan benda
mati.
Karena fungsi Sifat Rahīmiyat terbatas hanya bagi manusia
dan diperlukan ibadah persujudan
untuk menggerakkannya, disini menjadi jelas bahwa ada jenis rahmat
Ilahi yang tergantung kepada ibadah dan tak mungkin tanpa ibadah. Inilah jalan Allah Swt. dan merupakan kaidah yang pasti yang tidak bisa ditawar. Karena itulah semua nabi berdoa
bagi umatnya. Kitab Taurat menjelaskan betapa seringnya Bani Israil membuat murka Allah Swt. sehingga mereka akan dihukum tetapi kemudian dihindarkan berkat doa dan persujudan
Nabi Musa a.s. meskipun berapa kali Tuhan
sudah menyatakan akan menghancurkan bangsa itu.
Semua itu menunjukkan bahwa tidak ada doa yang akan sia-sia dan ini adalah ibadah
yang pasti menghasilkan berkat. Jika ada yang meragukan
adalah karena mereka tidak bisa memahami Tuhan sebagaimana
harusnya, karena tidak merenungi
firman-firman Allah Swt. dan juga karena mereka tidak memahami hukum alam.
Sesungguhnya rahmat itu pasti turun untuk memenuhi permohonan
manusia dan mengaruniakan keselamatan
atas kita.
Adalah berkat Sifat Rahīmiyat maka manusia mengalami kemajuan. Melalui Sifat inilah manusia mencapai tingkatan wilayat (kewalian) dimana ia meyakini
Allah Yang Maha Kuasa seolah bisa melihat Wujud-Nya secara
langsung. Bantuan doa juga tergantung pada Sifat Rahīmiyat. Adalah Sifat Rahīmiyat Ilahi itulah yang menuntut orang-orang yang saleh untuk mendoakan
orang-orang jahat.
Sifat Mālikiyat (Pemilik)
Sifat keempat Allah
Yang Maha Perkasa yang sepatutnya
dianggap sebagai Sifat yang amat khusus yaitu Mālikiyat Yaumiddīn (Pemilik Hari Pembalasan), sehingga
karenanya Allah disebut juga di
Surah Al-Fatihah sebagai Māliki Yaumiddīn. Perbedaan Sifat ini dengan Sifat Rahīmiyat (Maha Pemurah) ialah dengan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) manusia memperoleh harkat nilai
sebagai hasil dari doa
dan ibadahnya, sedangkan melalui Sifat Mālikiyat maka orang itu memperoleh ganjarannya.
Melalui Sifat Rahīmiyat, seseorang bisa berhasil dalam suatu masalah seperti misalnya lulus ujian bagi seorang siswa, namun untuk mendapatkan tingkatan atau jabatan menurut materi ujian
tersebut ditentukan melalui Sifat Mālikiyat. Kedua sifat ini mengindikasikan
bahwa Sifat Rahīmiyat bisa dicapai karena kasih Allah
sedangkan karunia Mālikiyat dicapai berkat keridhaan Allah Yang Maha Kuasa. Sifat Mālikiyat akan mewujud secara sempurna dan dalam skala besar nanti
di akhirat, walau pun di dunia
ini keempat Sifat Ilahi tersebut bisa mewujud juga.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm.
247-251, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 29 September 2015
[1]
Menurut para ahli, umur bumi diperkirakan 5 milyar tahun
(bahkan ada yang menghitung sampai 18 milyar tahun), dan mahluk hidup yang
berjalan di daratan baru muncul sekitar 500 ju ta tahun yang lalu sedangkan
wujud manusia seperti sekarang ini baru muncul sekitar 1 (satu) juta
tahun yang lalu. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar