Minggu, 25 Oktober 2015

Makna "Persumpahan" Allah Swt. Dalam Al-Quran & Berbagai Khasiat (Kemampuan) Manusia Sebagai "Micro Cosmos" (Alam Semesta Kecil) Seperti "Macro Cosmos" (Alam Semesta Jasmani)




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 75

Makna Persumpahan Allah Swt. Dalam Al-Quran &  Manusia Sebagai  Micro Cosmos (Alam Semesta Kecil)  Memiliki  Berbagai Khasiat (Kemampuan) Seperti Macro Cosmos (Alam Semesta Jasmani)
  Oleh

 Ki Langlang Buana Kusuma


D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  sabda  Masih Mau’ud a.s.   menjawab   keberatan  atau sangkalan  bahwa:   “Merupakan suatu hal yang tidak patut untuk menyatakan bahwa Tuhan berbicara kepada manusia. Hubungan apa yang mungkin ada di antara manusia yang fana (tidak kekal) dengan Wujud Yang Maha Abadi dan Maha Hidup? Apakah mungkin ada kesetaraan di antara segenggam debu dengan Nur itu Sendiri?”  Beliau memberikan jawaban:  
     “Keberatan demikian tidak ada dasarnya sama sekali. Perlu dipahami bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyayang malah menanamkan hasrat di hati manusia yang saleh untuk mencari pemahaman (makrifat) akan Wujud-Nya dan Dia menarik mereka dengan kuat ke arah kasih-sayang dan pengabdian kepada-Nya sedemikian rupa sehingga mereka kehilangan dirinya sendiri (fana).
         Mengatakan dalam keadaan demikian (fana)  bahwa Tuhan tidak mau berbicara dengan mereka, sama saja dengan mengatakan bahwa semua kecintaan dan ibadah mereka adalah suatu kesia-siaan, dan kerinduan mereka hanya seperti orang bertepuk sebelah tangan. Pandangan seperti itu salah sekali. Mungkinkah seorang pencahari Wujud Tuhan Yang telah mengaruniakan kemampuan kepada manusia untuk mengakrabi Wujud-Nya dan Yang telah menjadikannya gelisah karena kecintaan kepada-Nya  lalu meluputkan ia itu dari rahmat berbicara kepada-Nya?
    Benarkah bahwa seseorang dimungkinkan untuk larut (fana) dalam kecintaan kepada Allah  Swt.  tetapi turunnya wahyu ke hati si pencinta Allah itu malah dikatakan tidak mungkin atau dianggap tidak patut dan akan mengurangi harkat-Nya?
    Manusia yang menenggelamkan dirinya dalam samudra kecintaan Allah yang tidak bertepi dan tidak pernah berhenti dalam pencahariannya, merupakan bukti konklusif  (pasti) bahwa batin manusia memang telah dirancang untuk mencoba memahami Tuhan.  Karena itu jika kepada manusia itu lalu tidak diberikan pemahaman sempurna melalui wahyu, sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak bermaksud mencipta manusia untuk mengenali Wujud-Nya.
     Bahkan kaum Brahmo Samaj[1] juga tidak menyangkal bahwa batin manusia yang sempurna selalu haus dan lapar akan pemahaman Tuhan (makrifat Ilahi). Kalau sudah sependapat bahwa seorang manusia yang sempurna secara alamiah akan mencari pemahaman  (makrifat) mengenai Tuhan --  dan disepakati bahwa cara yang terbaik untuk memahami Ilahi adalah melalui wahyu Ilahi -- lalu dikatakan bahwa cara pencapaian itu tidak mungkin atau dianggap tidak patut,  maka perlu dipertanyakan kebijakan Tuhan, mengapa Dia menanamkan kecenderungan di hati manusia untuk mencari Tuhan tetapi  Dia tidak memberikan sarana guna mencapai pemahaman tersebut?
     Dengan kata lain, Dia telah menyebabkan timbulnya rasa lapar pada manusia tetapi tidak mau memberikan roti secukupnya guna memuaskan rasa lapar itu; atau Dia telah menimbulkan rasa haus tetapi tidak mau memberi air sebagai pemuas dahaga. Orang yang bijak akan memahami bahwa pandangan demikian akan menyebabkan manusia tidak mampu menghargai rahmat-rahmat akbar dari Tuhan-nya.
   Kaum Brahmo Samaj mempunyai pandangan aneh yang menyatakan bahwa Tuhan tidak menginginkan manusia untuk memperoleh karunia demikian, padahal Allah Yang Maha Bijaksana telah mengaruniakan rahmat kepada manusia agar mereka bisa menyaksikan Nur Ketuhanan dalam hidup ini juga agar mereka tertarik kepada-Nya.”  (Brahini Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 230-232, London, 1984).

Pentingnya Melakukan  Upaya Pensucian Jiwa

    Dalam rangka mewujudkan kerinduan  manusia agar menghasilkan kedekatan dengan Allah Swt.  serta memperoleh kecintaan-Nya, lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan pentingnya manusia berusaha mensucikan jiwanya, karena guna meraih perjumpaan dengan Wujud Yang Maha Suci  diperlukan upaya pensucian jiwa dari pihak manusia. Masih Mau’ud a.s. bersabda:
قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿ ﴾
 Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya  (Asy-Syams [91]:10).
       “Ia yang mencintai Yang Maha Suci, harus mensucikan dirinya sendiri agar dapat bertemu dengan Wujud-Nya. Banyak sekali orang yang mengaku bahwa mereka mencintai Allah Yang Maha Kuasa, namun yang perlu diketahui apakah Dia juga mencintai mereka?
      Bukti dari kecintaan Allah  Swt. adalah sejak awal Dia akan membuang tabir yang menghalangi seseorang mengimani secara pasti eksistensi (keberadaan)  Tuhan. Tabir inilah yang terkadang menimbulkan pengakuan secara samar-samar terhadap Wujud-Nya dan bahkan pada saat ada cobaan, menjadikan manusia menyangkal eksistensi-Nya sama sekali. Membuang tabir tersebut hanya bisa dilakukan melalui percakapan Tuhan dengan hamba-Nya.
       Seorang manusia minum dari sumber mata air pemahaman haqiqi pada saat Tuhan berbicara kepadanya dan menyampaikan kabar baik bahwa:  “Anal-maujud -- Aku ini ada.”  Pada saat itulah pemahaman manusia tidak lagi terkungkung oleh dugaan atau argumentasi semata. Ia menjadi demikian dekat kepada Tuhan seolah-olah ia bisa melihat-Nya. Sesungguhnyalah bahwa keimanan yang sempurna kepada Tuhan hanya bisa dicapai ketika Dia memberitahukan eksistensi-Nya kepada seseorang.
    Tanda kedua dari kecintaan Allah Swt. ialah, tidak saja Dia memberitahukan kepada manusia yang menjadi kekasih-Nya mengenai eksistensi Diri-Nya, tetapi juga memanifestasikan khusus bagi mereka tanda-tanda rahmat dan rahim-Nya  (kasih-sayang-Nya) dengan cara mengabulkan doa mereka menyangkut hal-hal yang tampaknya mustahil dan tidak mempunyai harapan, serta memberitahukan hal itu kepada mereka melalui wahyu dan firman-Nya.
    Hal itu akan menenteramkan hati mereka karena mengetahui bahwa Allah Yang Maha Perkasa telah mendengar permohonan mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan. Dari sana mereka akan memahami misteri keselamatan dan menjadi yakin sepenuhnya akan eksistensi  (keberadaan) Tuhan.
   Sebagai peringatan kadang-kadang orang lain juga bisa mendapat rukya (penglihatan ruhani) atau mimpi yang benar, namun pengalaman dari orang yang biasa bercakap-cakap dengan Tuhan adalah suatu hal yang berbeda sama sekali. Rukya demikian hanya diturunkan kepada mereka yang menjadi kekasih-Nya.
  Ketika mereka ini memohon kepada Tuhan-nya maka Dia akan memanifestasikan Wujud-Nya kepada mereka dengan segenap keagungan serta mengirimkan Ruh kepada mereka untuk memberitahukan secara lemah-lembut bahwa doa mereka telah dikabulkan.
    Seseorang yang mengalami kejadian seperti itu secara sangat sering disebut sebagai seorang nabi atau muhaddats.”  (Hujjatul Islam, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 6, hlm. 42-43, London, 1984).

Makna Persumpahan Allah Swt. Dalam Al-Quran

    Sehubungan dengan pentingnya upaya melakukan pensucian jiwa yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. tersebut  sebagaimana firman-Nya:  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا  -- “Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya,” Allah swt. berfirman  dalam Surah Asy-Syams mengenai kesempurnaan berbagai kemampuan yang telah ditanamkan-Nya  dalam jiwa manusia:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ الۡقَمَرِ  اِذَا  تَلٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ النَّہَارِ  اِذَا  جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   وَ الَّیۡلِ  اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا طَحٰہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Demi  matahari  dan sinarnya di pagi hari.       Dan demi bulan  apabila ia mengikutinya,     dan demi siang  apabila ia menzahirkan kemegahannya,  dan demi malam apabila ia menutupinya, dan demi langit dan pembinaannya,  dan demi bumi dan penghamparannya, وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا --   dan demi jiwa dan penyempurnaannyaفَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا  --  maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya.  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا --  Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannyaوَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا  --  dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya  (Asy-Syams  [91]:1-11) .
  Huruf wau – yang  pada umumnya diterjemahkan dan  -- berarti:  juga; maka; sedangkan; sementara itu; pada waktu itu juga; bersama-sama; dengan; namun; tetapi. Huruf itu mempunyai arti yang sama dengan kata rubba, yaitu seringkali; kadang-kadang; barangkali.
 Huruf wau itu pun merupakan huruf persumpahan, yang berarti “demi” atau “aku bersumpah” atau “aku kemukakan sebagai saksi” (Aqrab-ul-Mawarid  dan Lexicon Lane). Wau telah dipakai dalam ayat ini dan dalam dua ayat berikutnya dalam arti “demi,” atau “aku bersumpah,” atau “aku kemukakan sebagai saksi.”
  Dalam Al-Quran Allah Ta’ala telah bersumpah atas nama wujud-wujud atau benda-benda tertentu, atau telah menyebut wujud-wujud dan benda-benda itu sebagai saksi. Biasanya, bila seseorang mengambil sumpah dan bersumpah dengan nama Allah maka tujuannya ialah mengisi kelemahan persaksian yang kurang cukup atau menambah bobot atau meyakinkan pernyataannya.
 Dengan berbuat demikian ia memanggil Allah Swt. sebagai saksi bahwa ia mengucapkan hal yang benar bila tidak ada orang lain dapat memberikan persaksian atas kebenaran pernyataannya. Tetapi tidaklah demikian halnya dengan sumpah-sumpah Al-Quran. Bilamana Al-Quran mempergunakan bentuk demikian maka kebenaran pernyataan yang dibuatnya itu tidak diusahakan dibuktikan dengan suatu pernyataan belaka melainkan dengan dalil kuat yang terkandung dalam sumpah itu sendiri.
 Kadang-kadang sumpah-sumpah itu menunjuk kepada hukum alam yang nyata dan dengan sendirinya menarik perhatian kepada apa yang dapat diambil arti  yaitu hukum-hukum ruhani dari apa yang nyata. Tujuan sumpah Al-Quran lainnya ialah menyatakan suatu nubuatan yang dengan menjadi sempurnanya membuktikan kebenaran Al-Quran. Demikianlah halnya di sini.
 Jadi, sumpah-sumpah dalam Al-Quran mengandung makna yang mendalam. Hukum Allah menampakkan dua segi perbuatan-Nya,  yaitu yang nyata dan yang tersirat. Segi pertama dapat diketahui dengan mudah, tetapi dalam memahami yang terakhir (yang tersirat)  ada kemungkinan bisa keliru.
    Dalam sumpah-sumpah-Nya, Allah Swt. menarik perhatian kita kepada apa yang dapat disimpulkan dari benda yang nyata. Dalam sumpah-sumpah tersebut pada ayat-ayat 2-7  -- matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi  -- termasuk “yang nyata”,   karena khasiat-khasiat benda-benda tersebut pada ayat-ayat ini telah dimaklumi (diketahui) serta diakui secara umum.

Berbagai Kemampuan Luar Biasa Jiwa Manusia & Miniatur Alam Semesta (Micro Cosmos)

   Namun khasiat-khasiat serupa yang terdapat pada ruh (jiwa) manusia “tidak nyata”. Untuk membawa kepada kesimpulan mengenal adanya khasiat-khasiat dalam ruh manusia, Allah Swt. telah menyebut perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata itu sebagai saksi.  
  “Matahari” dalam ayat: وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا -- “Demi  matahari  dan sinarnya di pagi hari”   dapat menunjuk kepada matahari alam ruhani – Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:46-48)  – yang merupakan sumber seluruh cahaya ruhani dan yang akan terus-menerus menyinari dunia sampai Akhir Zaman, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ  نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾  وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ   --   Dan  sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya, وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا  -- dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya.  وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا  -- Dan berilah kabar gembira  kepada orang-orang beriman  bahwa sesungguhnya bagi mereka ada karu-nia yang besar dari Allah. (Al-Ahzāb [33]:46-48).
     Sebagaimana matahari merupakan titik-pusat alam semesta lahiriah, begitulah pribadi Nabi Besar Muhammad saw. pun merupakan titik-pusat alam keruhanian. Beliau saw. merupakan matahari dalam jumantara nabi-nabi dan mujaddid-mujaddid, yang seperti sekalian banyak bintang dan bulan berkeliling di sekitar beliau saw. dan meminjam cahaya dari beliau saw. Nabi Besar Muhammad Saw.  diriwayatkan pernah bersabda: “Sahabat-sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang yang begitu banyak; siapa pun di antara mereka kamu ikut, kamu akan mendapat petunjuk” (Tafsir Shaghir). 
  Makna  “bulan” dalam ayat:  وَ الۡقَمَرِ  اِذَا  تَلٰىہَا --  “Dan demi bulan  apabila ia mengikutinya” dapat juga menunjuk kepada  Nabi Besar Muhammad saw.,  sebab beliau saw. menerima cahaya dari Allah Swt. dan menyebarkan cahaya itu ke persada alam ruhani yang gelap.
  Atau kata “bulan” itu dapat pula menunjuk kepada para Wali Allah dan para Imam Zaman  yakni para Mujaddid (Pembaharu) – khususnya kepada wakil agung  Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini, yaitu   Masih Mau’ud a.s.   – yang akan menerima cahaya kebenaran atau cahaya kenabian dari  beliau saw.  (QS.4:70-71) dan menyebarkannya ke dunia untuk menghilangkan kegelapan akhlak dan ruhani  (QS.61:10; QS.62:3-4).
 Makna  “siang”   dalam ayat وَ النَّہَارِ  اِذَا  جَلّٰىہَا   --    “ dan demi siang  apabila ia menzahirkan kemegahannya,” dapat menunjuk kepada masa tatkala Amanat Islam serta kebenaran pendirinya ditegakkan serta dasar-dasar telah ditegakkan untuk  penyebarluasannya di dunia. Isyarat yang terkandung di dalam ayat ini mungkin tertuju kepada masa Khulafaur-Rasyidin r.a., ketika cahaya Islam memancar dengan segala kemegahan dan kejayaannya  setelah  Nabi Besar Muhammad saw. wafat.
 Makna  “malam”  dalam ayat: وَ الَّیۡلِ  اِذَا یَغۡشٰىہَا -- “demi malam apabila ia menutupinya” dapat menunjuk kepada masa kemunduran dan kemerosotan orang-orang Islam ketika cahaya Islam telah tersembunyi dari mata dunia (QS.32:6).

Empat Periode yang Dilalui Umat Islam & Kesuksesan Orang-orang yang “Mensucikan Jiwanya

   Keempat ayat ini (QS.91:2-5) menunjuk kepada empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa itu, yaitu:
(1)    Masa  Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri, ketika “matahari ruhani” sedang memancar dengan sangat megahnya di cakrawala ruhani;
(2)          Masa wakil agung beliau saw. di Akhir Zaman ini, yaitu   Masih Mau’ud a.s.(QS.62:3-4), ketika nur (cahaya) yang diperoleh dari  Nabi Besar Muhammad saw.    dipantulkan ke suatu dunia yang gelap;
(3)      Masa para khalifah  Nabi Besar Muhammad saw.   ketika cahaya Islam masih tetap berkilau-kilauan,  
(4)  Masa ketika kegelapan ruhani selama 1000 tahun telah meluas ke seluruh dunia yang terjadi sesudah lewat 3  abad pertama kejayaan Islam (QS.32:6).
    Huruf mā  dalam ayat  وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا  --  “demi langit dan pembinaannya” dan dalam dua ayat berikutnya adalah masdariyah atau berarti alladzi, yakni  “ia yang”. Dengan demikian dalam ayat-ayat ini perhatian telah dipusatkan pada Sang Perencana dan Sang Arsitek Agung  yakni Rabb alam semesta ini, atau pada penyempurnaan alam semesta serta kebebasannya yang penuh dari setiap macam cacat dan kekurangan (QS.67:1-5).
  Makna ayat  وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا --   dan demi jiwa dan penyempurnaannya”,   berarti  bahwa semua khasiat yang dipersembahkan benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (mengkhidmati)  makhluk-makhluk Allah dan yang mengenai kenyataan itu telah disebutkan dalam ayat 10, memberi kesaksian bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi.
    Pada hakikatnya, manusia adalah alam semesta ukuran kecil (micro cosmos) dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil (miniatur) segala sesuatu yang terwujud di alam semesta.
(1)   Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan kilauan cahaya hikmah dan ilmu.
(2)         Bagaikan  bulan ia memancarkan kembali  cahaya kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Sumber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
(3)             Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan.
(4)          Bagaikan malam ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban mereka, dan memberikan istirahat kepada si lelah dan si letih.
(5)       Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang member kesegaran.
(6)       Laksana  bumi ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki orang-orang,   sebagai  cobaan (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu  tumbuhlah dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon  ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, serta dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
   Demikianlah orang-orang kudus dan para mushlih rabbani, di antaranya yang terbesar dan paling sempurna ialah  Nabi Besar Muhammad, Rasulullah saw., sehingga menjadi suri  teladan terbaik  bagi orang-orang yang menginginkan kedekatan bahkan “perjumpaan” dengan Allah Swt. di dalam kehidupan dunia ini juga, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:22).
     Kemudian makna ayat   فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا  --  maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya, Allah Swt.  telah menanamkan  dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik, sehingga akan memperoleh kesuksesan dalam kehidupannya, baik di dunia mau pun di akhirat: قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا --  Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannyaوَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا  --  dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya  (Asy-Syams  [91]:10-11) .

(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 19 Oktober  2015





[1] Kaum Brahm o Samaj merupakan aliran di dalam agama Hindu yang didir ikan oleh Ram  Mohun Roy di Kalkuta dalam tahun 1828. Terpengaruh oleh agama Islam dan Kristen, aliran ini menjauhi polytheisme, penyembahan berhala dan sistem kasta. Sekarang ini pengaruhnya hanya tinggal sebatas wacana teori saja. (Penterjemah/A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar