بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 75
Makna Persumpahan
Allah Swt. Dalam Al-Quran & Manusia Sebagai Micro
Cosmos (Alam Semesta Kecil)
Memiliki Berbagai Khasiat (Kemampuan) Seperti Macro Cosmos (Alam Semesta Jasmani)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. menjawab keberatan atau sangkalan bahwa: “Merupakan suatu hal yang tidak patut
untuk menyatakan bahwa Tuhan berbicara kepada manusia. Hubungan apa yang mungkin ada di antara
manusia yang fana (tidak kekal)
dengan Wujud Yang Maha Abadi dan Maha Hidup? Apakah mungkin ada kesetaraan
di antara segenggam debu
dengan Nur itu Sendiri?” Beliau
memberikan jawaban:
“Keberatan demikian tidak ada dasarnya
sama sekali. Perlu dipahami bahwa Allah
Yang Maha Agung dan Maha Penyayang
malah menanamkan hasrat di hati manusia yang saleh untuk mencari pemahaman
(makrifat) akan Wujud-Nya dan Dia
menarik mereka dengan kuat ke
arah kasih-sayang dan pengabdian
kepada-Nya sedemikian rupa sehingga mereka kehilangan dirinya sendiri (fana).
Mengatakan dalam keadaan demikian (fana)
bahwa Tuhan tidak mau berbicara
dengan mereka, sama saja dengan
mengatakan bahwa semua kecintaan dan ibadah
mereka adalah suatu kesia-siaan, dan kerinduan
mereka hanya seperti orang bertepuk
sebelah tangan. Pandangan seperti itu salah
sekali. Mungkinkah seorang pencahari Wujud Tuhan Yang telah mengaruniakan kemampuan kepada manusia untuk mengakrabi Wujud-Nya
dan Yang telah menjadikannya gelisah karena kecintaan
kepada-Nya lalu meluputkan ia itu
dari rahmat berbicara kepada-Nya?
Benarkah bahwa seseorang dimungkinkan untuk larut (fana) dalam kecintaan kepada Allah Swt.
tetapi turunnya wahyu ke hati si pencinta Allah itu malah
dikatakan tidak mungkin atau dianggap
tidak patut dan akan mengurangi harkat-Nya?
Manusia yang menenggelamkan dirinya dalam samudra
kecintaan Allah yang
tidak bertepi dan tidak pernah berhenti
dalam pencahariannya, merupakan bukti konklusif (pasti)
bahwa batin manusia memang telah dirancang untuk mencoba memahami Tuhan. Karena itu jika kepada manusia itu lalu tidak diberikan pemahaman sempurna
melalui wahyu, sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak bermaksud
mencipta manusia untuk mengenali Wujud-Nya.
Bahkan kaum Brahmo Samaj[1] juga tidak menyangkal bahwa batin manusia yang sempurna selalu haus dan lapar
akan pemahaman Tuhan (makrifat Ilahi). Kalau sudah sependapat bahwa seorang manusia yang sempurna
secara alamiah akan mencari
pemahaman (makrifat) mengenai
Tuhan
-- dan disepakati bahwa cara yang terbaik untuk memahami
Ilahi adalah melalui wahyu Ilahi -- lalu dikatakan
bahwa cara pencapaian itu tidak
mungkin atau dianggap tidak patut, maka perlu dipertanyakan kebijakan Tuhan, mengapa Dia
menanamkan kecenderungan di
hati manusia untuk mencari Tuhan tetapi Dia
tidak memberikan sarana
guna mencapai pemahaman tersebut?
Dengan kata lain, Dia telah menyebabkan
timbulnya rasa lapar pada
manusia tetapi tidak mau memberikan roti secukupnya guna memuaskan rasa lapar itu; atau Dia telah menimbulkan rasa haus
tetapi tidak mau memberi air sebagai pemuas dahaga.
Orang yang bijak akan memahami bahwa pandangan demikian akan
menyebabkan manusia tidak mampu
menghargai rahmat-rahmat akbar dari
Tuhan-nya.
Kaum Brahmo Samaj mempunyai
pandangan aneh yang menyatakan bahwa Tuhan
tidak menginginkan manusia untuk memperoleh karunia demikian,
padahal Allah Yang Maha Bijaksana
telah mengaruniakan rahmat kepada manusia agar mereka
bisa menyaksikan Nur Ketuhanan dalam hidup ini juga agar mereka tertarik
kepada-Nya.”
(Brahini Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 1, hlm. 230-232, London, 1984).
Pentingnya Melakukan Upaya Pensucian Jiwa
Dalam rangka
mewujudkan kerinduan manusia agar
menghasilkan kedekatan dengan Allah Swt.
serta memperoleh kecintaan-Nya, lebih lanjut Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan pentingnya manusia berusaha mensucikan jiwanya,
karena guna meraih perjumpaan dengan Wujud Yang Maha Suci diperlukan upaya pensucian jiwa dari
pihak manusia. Masih Mau’ud a.s. bersabda:
قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ
زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿ ﴾
Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya (Asy-Syams [91]:10).
“Ia yang mencintai Yang Maha Suci, harus mensucikan dirinya
sendiri agar dapat bertemu dengan Wujud-Nya. Banyak sekali orang yang mengaku bahwa mereka mencintai
Allah Yang Maha Kuasa, namun yang perlu diketahui apakah Dia juga mencintai
mereka?
Bukti
dari kecintaan Allah Swt.
adalah sejak awal Dia akan membuang tabir yang menghalangi seseorang mengimani secara pasti eksistensi (keberadaan) Tuhan.
Tabir
inilah yang terkadang menimbulkan pengakuan secara samar-samar terhadap Wujud-Nya
dan bahkan pada saat ada cobaan,
menjadikan manusia menyangkal eksistensi-Nya sama
sekali. Membuang tabir tersebut hanya bisa dilakukan melalui percakapan
Tuhan dengan hamba-Nya.
Seorang manusia minum dari
sumber mata air pemahaman haqiqi pada saat Tuhan berbicara kepadanya dan
menyampaikan kabar baik bahwa: “Anal-maujud
-- Aku ini ada.” Pada saat
itulah pemahaman manusia tidak lagi terkungkung oleh dugaan
atau argumentasi semata.
Ia menjadi demikian dekat kepada Tuhan seolah-olah ia
bisa melihat-Nya. Sesungguhnyalah bahwa keimanan yang sempurna kepada Tuhan hanya bisa dicapai ketika Dia memberitahukan
eksistensi-Nya kepada seseorang.
Tanda kedua dari kecintaan Allah Swt. ialah, tidak saja Dia memberitahukan
kepada manusia yang menjadi kekasih-Nya mengenai eksistensi
Diri-Nya, tetapi juga memanifestasikan khusus bagi
mereka tanda-tanda rahmat dan rahim-Nya (kasih-sayang-Nya) dengan cara mengabulkan doa mereka menyangkut hal-hal yang tampaknya mustahil
dan tidak mempunyai harapan, serta memberitahukan hal itu kepada mereka
melalui wahyu dan firman-Nya.
Hal itu akan menenteramkan hati
mereka karena mengetahui bahwa Allah Yang Maha Perkasa telah mendengar
permohonan mereka dan menyelamatkan mereka dari
kesulitan. Dari sana mereka akan memahami
misteri keselamatan dan menjadi yakin sepenuhnya akan eksistensi (keberadaan) Tuhan.
Sebagai peringatan kadang-kadang orang lain juga bisa mendapat rukya (penglihatan ruhani) atau mimpi yang benar,
namun pengalaman dari orang yang biasa bercakap-cakap
dengan Tuhan adalah suatu hal yang
berbeda sama sekali. Rukya demikian hanya diturunkan kepada mereka yang menjadi kekasih-Nya.
Ketika mereka ini memohon kepada Tuhan-nya
maka Dia akan memanifestasikan Wujud-Nya kepada mereka dengan segenap keagungan serta mengirimkan
Ruh kepada mereka untuk memberitahukan
secara lemah-lembut bahwa doa mereka telah dikabulkan.
Seseorang
yang mengalami kejadian seperti itu secara sangat
sering disebut sebagai seorang nabi atau muhaddats.” (Hujjatul Islam, Amritsar,
Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 6, hlm. 42-43, London, 1984).
Makna Persumpahan Allah Swt. Dalam Al-Quran
Sehubungan dengan
pentingnya upaya melakukan pensucian jiwa
yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s.
tersebut sebagaimana firman-Nya: قَدۡ
اَفۡلَحَ مَنۡ زَکّٰىہَا -- “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikannya,” Allah swt. berfirman dalam Surah
Asy-Syams mengenai kesempurnaan
berbagai kemampuan yang telah
ditanamkan-Nya dalam jiwa manusia:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الۡقَمَرِ
اِذَا تَلٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ النَّہَارِ
اِذَا جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الَّیۡلِ اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا
طَحٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ
اَفۡلَحَ مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi
matahari dan sinarnya di pagi hari. Dan demi bulan apabila
ia mengikutinya, dan demi
siang apabila ia menzahirkan kemegahannya, dan demi
malam apabila ia
menutupinya, dan demi langit
dan pembinaannya, dan demi
bumi dan penghamparannya, وَ نَفۡسٍ وَّ مَا
سَوّٰىہَا -- dan demi jiwa dan penyempurnaannya, فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا -- maka
Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya. قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا -- Sungguh
beruntunglah orang yang mensucikannya, وَ
قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا -- dan
sungguh binasalah orang yang mengotorinya (Asy-Syams [91]:1-11) .
Huruf wau – yang pada umumnya diterjemahkan dan
-- berarti: juga; maka;
sedangkan; sementara itu; pada waktu itu juga; bersama-sama; dengan; namun;
tetapi. Huruf itu mempunyai arti yang sama dengan kata rubba, yaitu
seringkali; kadang-kadang; barangkali.
Huruf wau
itu pun merupakan huruf persumpahan,
yang berarti “demi” atau “aku bersumpah” atau “aku kemukakan sebagai saksi” (Aqrab-ul-Mawarid dan Lexicon
Lane). Wau telah dipakai dalam ayat ini dan dalam dua ayat
berikutnya dalam arti “demi,” atau “aku bersumpah,” atau “aku kemukakan sebagai saksi.”
Dalam Al-Quran Allah Ta’ala telah bersumpah atas nama wujud-wujud atau benda-benda
tertentu, atau telah menyebut wujud-wujud
dan benda-benda itu sebagai saksi. Biasanya, bila seseorang
mengambil sumpah dan bersumpah dengan nama Allah maka tujuannya
ialah mengisi kelemahan persaksian
yang kurang cukup atau menambah bobot
atau meyakinkan pernyataannya.
Dengan
berbuat demikian ia memanggil Allah Swt.
sebagai saksi bahwa ia mengucapkan hal yang benar bila tidak ada orang lain dapat memberikan persaksian atas kebenaran pernyataannya. Tetapi tidaklah demikian halnya dengan sumpah-sumpah Al-Quran. Bilamana
Al-Quran mempergunakan bentuk demikian maka kebenaran
pernyataan yang dibuatnya itu tidak diusahakan
dibuktikan dengan suatu pernyataan
belaka melainkan dengan dalil kuat
yang terkandung dalam sumpah itu
sendiri.
Kadang-kadang sumpah-sumpah itu menunjuk kepada hukum alam yang nyata dan
dengan sendirinya menarik perhatian
kepada apa yang dapat diambil arti yaitu hukum-hukum
ruhani dari apa yang nyata.
Tujuan sumpah Al-Quran lainnya ialah
menyatakan suatu nubuatan yang dengan
menjadi sempurnanya membuktikan kebenaran Al-Quran. Demikianlah halnya
di sini.
Jadi, sumpah-sumpah
dalam Al-Quran mengandung makna yang
mendalam. Hukum Allah menampakkan dua
segi perbuatan-Nya, yaitu yang nyata dan yang tersirat.
Segi pertama dapat diketahui dengan mudah, tetapi dalam memahami yang terakhir
(yang tersirat) ada kemungkinan bisa
keliru.
Dalam sumpah-sumpah-Nya,
Allah Swt. menarik perhatian kita
kepada apa yang dapat disimpulkan dari
benda yang nyata. Dalam sumpah-sumpah tersebut pada ayat-ayat
2-7 -- matahari dan bulan, siang dan
malam, langit dan bumi -- termasuk “yang nyata”, karena khasiat-khasiat benda-benda tersebut
pada ayat-ayat ini telah dimaklumi (diketahui)
serta diakui secara umum.
Berbagai Kemampuan Luar Biasa Jiwa
Manusia & Miniatur Alam Semesta
(Micro Cosmos)
Namun khasiat-khasiat serupa yang terdapat
pada ruh (jiwa) manusia “tidak nyata”. Untuk membawa kepada kesimpulan mengenal adanya khasiat-khasiat
dalam ruh manusia, Allah Swt. telah
menyebut perbuatan-perbuatan-Nya yang
nyata itu sebagai saksi.
“Matahari” dalam ayat: وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا -- “Demi matahari
dan sinarnya di pagi hari” dapat menunjuk kepada matahari alam ruhani – Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:46-48) – yang merupakan sumber seluruh cahaya ruhani
dan yang akan terus-menerus menyinari
dunia sampai Akhir Zaman,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّبِیُّ اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾ وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ
اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi
dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. وَّ دَاعِیًا اِلَی
اللّٰہِ بِاِذۡنِہٖ -- Dan
sebagai penyeru kepada Allah
dengan perintah-Nya, وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا -- dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya. وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ
لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا -- Dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang beriman bahwa sesungguhnya
bagi mereka ada karu-nia yang besar dari Allah. (Al-Ahzāb [33]:46-48).
Sebagaimana matahari merupakan titik-pusat alam semesta lahiriah,
begitulah pribadi Nabi Besar Muhammad
saw. pun merupakan titik-pusat alam
keruhanian. Beliau saw. merupakan matahari
dalam jumantara nabi-nabi dan mujaddid-mujaddid, yang seperti sekalian
banyak bintang dan bulan berkeliling di sekitar beliau saw.
dan meminjam cahaya dari beliau saw.
Nabi Besar Muhammad Saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Sahabat-sahabatku
adalah bagaikan bintang-bintang yang
begitu banyak; siapa pun di antara mereka kamu ikut, kamu akan mendapat
petunjuk” (Tafsir Shaghir).
Makna “bulan”
dalam ayat: وَ الۡقَمَرِ اِذَا تَلٰىہَا -- “Dan demi bulan apabila
ia mengikutinya” dapat juga menunjuk
kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebab beliau saw. menerima cahaya dari Allah Swt. dan menyebarkan cahaya itu ke persada alam ruhani yang gelap.
Atau kata “bulan” itu dapat pula menunjuk kepada
para Wali Allah dan para Imam Zaman
yakni para Mujaddid (Pembaharu) – khususnya kepada wakil agung Nabi Besar
Muhammad saw. di Akhir Zaman ini,
yaitu Masih Mau’ud a.s. –
yang akan menerima cahaya kebenaran atau
cahaya kenabian dari beliau saw.
(QS.4:70-71) dan menyebarkannya ke dunia untuk menghilangkan kegelapan akhlak dan ruhani (QS.61:10; QS.62:3-4).
Makna “siang” dalam ayat وَ النَّہَارِ اِذَا جَلّٰىہَا -- “ dan demi siang apabila ia menzahirkan kemegahannya,” dapat menunjuk kepada masa tatkala Amanat Islam serta kebenaran
pendirinya ditegakkan serta dasar-dasar
telah ditegakkan untuk penyebarluasannya di dunia. Isyarat yang
terkandung di dalam ayat ini mungkin tertuju kepada masa Khulafaur-Rasyidin r.a., ketika cahaya
Islam memancar dengan segala kemegahan
dan kejayaannya setelah
Nabi Besar Muhammad saw. wafat.
Makna “malam” dalam ayat: وَ الَّیۡلِ اِذَا
یَغۡشٰىہَا -- “demi malam apabila ia menutupinya” dapat menunjuk kepada masa kemunduran dan kemerosotan orang-orang Islam
ketika cahaya Islam telah tersembunyi
dari mata dunia (QS.32:6).
Empat Periode yang Dilalui Umat
Islam & Kesuksesan Orang-orang
yang “Mensucikan Jiwanya”
Keempat ayat ini (QS.91:2-5)
menunjuk kepada empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa
itu, yaitu:
(1) Masa Nabi Besar Muhammad saw. sendiri,
ketika “matahari ruhani” sedang memancar
dengan sangat megahnya di cakrawala ruhani;
(2) Masa wakil agung beliau saw. di Akhir Zaman ini, yaitu Masih Mau’ud a.s.(QS.62:3-4),
ketika nur (cahaya) yang diperoleh
dari Nabi Besar Muhammad saw. dipantulkan ke suatu dunia yang gelap;
(3) Masa para khalifah Nabi Besar Muhammad saw. ketika
cahaya Islam masih tetap
berkilau-kilauan,
(4) Masa ketika kegelapan ruhani selama 1000 tahun telah
meluas ke seluruh dunia yang terjadi sesudah lewat 3 abad pertama kejayaan
Islam (QS.32:6).
Huruf mā
dalam ayat وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا -- “demi langit dan pembinaannya” dan dalam dua ayat berikutnya adalah masdariyah atau
berarti alladzi, yakni “ia yang”.
Dengan demikian dalam ayat-ayat ini perhatian telah dipusatkan pada Sang Perencana dan Sang Arsitek Agung yakni Rabb alam semesta ini, atau pada penyempurnaan alam semesta serta kebebasannya yang penuh dari setiap
macam cacat dan kekurangan (QS.67:1-5).
Makna ayat وَ نَفۡسٍ
وَّ مَا سَوّٰىہَا -- “dan demi jiwa
dan penyempurnaannya”, berarti
bahwa semua khasiat yang
dipersembahkan benda-benda langit
seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (mengkhidmati) makhluk-makhluk
Allah dan yang mengenai kenyataan itu telah disebutkan dalam ayat 10,
memberi kesaksian bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi.
Pada hakikatnya, manusia adalah alam semesta
ukuran kecil (micro cosmos) dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil (miniatur) segala sesuatu yang terwujud di alam semesta.
(1) Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan kilauan
cahaya hikmah dan ilmu.
(2) Bagaikan bulan
ia memancarkan kembali cahaya
kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Sumber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
(3) Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan.
(4) Bagaikan malam ia menutupi keaiban dan kesalahan
amal orang-orang lain, meringankan
beban mereka, dan memberikan istirahat
kepada si lelah dan si letih.
(5) Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang bersusah
hati dan menghidupkan bumi yang
telah mati dengan hujan yang member kesegaran.
(6) Laksana bumi
ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan untuk diinjak-injak di bawah telapak
kaki orang-orang, sebagai cobaan (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu tumbuhlah
dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon
ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, serta dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
Demikianlah orang-orang kudus dan para mushlih
rabbani, di antaranya yang terbesar
dan paling sempurna ialah Nabi
Besar Muhammad, Rasulullah saw., sehingga menjadi suri teladan terbaik bagi orang-orang yang menginginkan kedekatan bahkan “perjumpaan” dengan Allah Swt. di dalam kehidupan dunia ini juga,
firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat
suri teladan yang
sebaik-baiknya bagi kamu,
yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang
banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb
[33]:22).
Kemudian makna ayat فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا -- maka Dia
mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya
dan ketakwaannya,” Allah Swt. telah menanamkan dalam fitrat
manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan
kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan
ruhani dengan menjauhi apa yang buruk
dan salah dan menerima apa yang benar dan baik, sehingga akan memperoleh kesuksesan
dalam kehidupannya, baik di dunia mau
pun di akhirat: قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا -- Sungguh beruntunglah
orang yang mensucikannya, وَ
قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا -- dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya (Asy-Syams [91]:10-11) .
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 19 Oktober 2015
[1]
Kaum Brahm o Samaj merupakan aliran di dalam agama Hindu
yang didir ikan oleh Ram Mohun
Roy di Kalkuta dalam tahun 1828. Terpengaruh oleh agama Islam dan Kristen,
aliran ini menjauhi polytheisme, penyembahan berhala dan sistem kasta. Sekarang
ini pengaruhnya hanya tinggal sebatas wacana teori saja. (Penterjemah/A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar