بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 61
Hubungan Kehendak
Allah Swt. Dengan Aktivitas Alam
Semesta & Apa pun di Alam
Semesta Senantiasa Bertasbih
dan Bertaqdis Kepada Allah Swt. Dengan
Puji-pujian-Nya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai hakikat pembuatan istana berlantai kaca
bening yang di bawahnya
dialirkan air yang deras, firman-Nya:
قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ
حَسِبَتۡہُ لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ اِنَّہٗ
صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ
سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan
kepada dia: “Masuklah ke istana.” فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ
لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ
سَاقَیۡہَا -- Maka
tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya. قَالَ اِنَّہٗ صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ -- Ia, Sulaiman, berkata:
“Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan ubin dari kaca.” قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ
نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ – Ia (Ratu Saba) ber-kata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam”
(An-Naml
[27]:42-45).
Sehubungan dengan keunikan perumpamaan yang terkandung dalam “istana khusus” yang dibangun Nabi
Sulaiman a.s. tersebut, berikut ini sabda Masih
Mau’ud a.s. berkenaan kekeliruan paham para pelaku kemusyrikan yang telah mempertuhankan benda-benda langit serta
mempertuhankan benda-benda mati lainnya ciptaan Allah Swt., Wujud Yang “berada di balik” tatanan alam semesta jasmani yang sempurna
in:i
“Merupakan suatu misteri
dari Sifat Rabubiyat bahwa
ciptaan mewujud (eksis) melalui firman Tuhan. Kita
bisa memahaminya sebagai pengertian bahwa fungsi ciptaan merupakan refleksi
dari firman Tuhan, atau firman
Tuhan itu sendiri yang mengambil
bentuk ciptaan berdasarkan Kekuasaan
Ilahi. Kata-kata yang ada di
dalam Al-Quran bisa ditafsirkan
menurut kedua pengertian tersebut.
Di beberapa tempat dalam Kitab Suci Al-Quran
dikatakan bahwa apa yang telah diciptakan itu disebut sebagai firman
Tuhan, yang melalui manifestasi
Sifat Rabubiyat
telah memperoleh bentuk dan sifat karakteristik sebagai benda ciptaan. Hal ini merupakan
salah satu misteri Sifat penciptaan
yang tidak terlalu mudah dicerna
oleh penalaran. Bagi rata-rata orang kiranya cukup untuk memahami
bahwa apa pun yang diinginkan oleh Allah Yang Maha Kuasa akan mewujud,
dan bahwa semuanya ini merupakan hasil
ciptaan-Nya yang bersumber pada Kekuasaan-Nya.
Bagi orang-orang yang mengerti, yang telah melalui proses pendisiplinan diri
serta dengan bantuan kasyaf (penglihatan ruhani), misteri penciptaan tersebut
menjadi lebih jelas. Mereka menyadari bahwa semua ruhani dan jasmani
merupakan firman Tuhan, yang melalui Kebijakan Ilahi
telah diberi jubah sebagai benda ciptaan. Namun prinsip
dasar yang harus dipatuhi adalah faktor yang berlaku --
baik bagi penalaran atau pun kasyaf -- bahwa Tuhan adalah Pencipta segalanya dimana
ruhani
dan jasmani tidak bisa mewujud tanpa Dia.
Istilah yang digunakan dalam Kitab Suci Al-Quran dalam konteks ini
bersifat multifaset (beragam makna)
namun secara konklusif (kesimpulan/keputusan) dan pasti menjelaskan bahwa semuanya mewujud melalui Allah Yang Maha Kuasa dan tidak ada apa pun yang bisa eksis
(ada) tanpa Dia atau berdasar kemampuannya sendiri. Cukuplah
pandangan ini untuk tahapan awal.
Setelah itu, mereka yang kemudian berkelana
melalui berbagai tingkat pemahaman, misterinya
akan dibukakan secara bertahap setelah mereka berupaya sebagaimana firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا
فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Tentang orang-orang
yang berjuang untuk bertemu dengan
Kami, sesungguhnya Kami akan memberi
petunjuk kepada mereka pada jalan
Kami’ (Al-Ankabūt [29]:70)” (Surma
Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 42-43, catatan kaki, London, 1984).
Bagaikan Hubungan Antara Ruhani
dan Jasmani
Sehubungan dengan masalah
yang musykil
dan halus tersebut dalam buku lainnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Perlu untuk menjelaskan, bahwa ketika Tuhan Yang menjadi Sumber dari segala kausa
(penyebab) dan terhadap Wujud-Nya segala bentuk ciptaan ini terkait, jika Dia melakukan
gerakan ke arah penciptaan sesuatu
dimana gerakan itu dalam skala
penuh maka semua ciptaan-Nya akan merasakan gerakan tersebut.
Kalau gerakan
tersebut bersifat partial (sebagian) maka gerakannya
hanya kepada suatu sektor tertentu di alam ini. Hubungan
antara keseluruhan ciptaan dan alam kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Terpuji, mirip dengan hubungan
yang ada di antara ruhani dan jasmani.
Sebagaimana semua anggota tubuh
mengikuti arahan dari ruhani
dan bergerak ke arah mana ruhani
bergerak, demikian pula hubungan
yang sama antara Allah
Yang Maha Perkasa dengan ciptaan-Nya. Meskipun aku
tidak menyatakannya sebagaimana dikatakan pengarang Fusus[1] tentang Wujud Utama bahwa Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia
adalah juga menjadi segala sesuatu
ciptaan-Nya tersebut, namun aku akan mengatakan bahwa: Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mirip dengan segala sesuatu ciptaan-Nya tersebut.
Alam semesta ini seperti ruangan amat besar yang dilandasi dengan lempengan kaca yang bening
(tembus pandang). Sebuah Kekuatan yang
Maha Akbar mengalir di bawah
permukaannya dan melakukan apa
pun yang dikehendaki-Nya. Dalam pandangan seorang yang cupat, semua hal di alam ini dikiranya mewujud dengan sendirinya. Mereka menganggap bahwa matahari, bulan dan
bintang-bintang mewujud dengan sendirinya, padahal semua bentuk eksistensi adalah milik-Nya semata.
Yang Maha Bijaksana telah
mengungkapkan misteri ini kepadaku bahwa keseluruhan alam semesta
berikut semua partikelnya dirancang untuk melaksanakan apa
pun yang diniatkan oleh Maha Sumber Kausa, sebagaimana anggota tubuh yang
tidak bisa bergerak dengan
sendirinya tanpa pasokan kekuatan sepanjang waktu oleh Ruh
Yang Maha Akbar, karena semua fungsi tubuh hanya bisa beroperasi di bawah kendali ruhani atau jiwa.
Tatanan Alam Semesta Bagaikan Anggota “Tubuh”
Allah Swt. & Hukum Alam
Alam
semesta ini merupakan substitusi (bagian) dari
anggota “Tubuh” Sang Maha
Wujud. Ada beberapa hal
di alam ini yang seolah menjadi Nur
dari Wujud-Nya, baik Nur
yang bersifat langsung atau pun yang
tersembunyi, tergantung keinginan-Nya (kehendak-Nya).
Sebagian di antaranya seolah tangan-Nya,
sebagian lagi seperti sayap-Nya dan ada pula yang seperti tiupan nafas-Nya. Singkat kata, alam semesta ini secara kolektif adalah mirip dengan tubuh bagi Allah Yang Maha Kuasa, dimana
semua kehidupan dan keagungan tubuh ini bersumber pada Ruh Yang Maha Akbar tersebut Yang menjadi Pemeliharanya.
Apa pun gerakan yang diniatkan (dikehendaki) oleh Sang
Maha Pemelihara akan mewujud di seluruh bagian atau pun
pada beberapa bagian tubuh
tertentu tersebut, sebagaimana diniatkan
oleh-Nya. Untuk mengilustrasikan
keadaan ini, kita bisa membayangkan Sang Pemelihara alam semesta ini
sebagai Wujud Akbar Yang memiliki tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang tidak terbilang dengan panjang dan lebar yang tidak terbatas.
Sebagaimana laiknya gurita, demikian
juga Wujud Yang Maha Akbar ini seakan-akan memiliki tentakel yang menyebar ke seluruh pelosok dunia kehidupan yang menarik keseluruhannya kepada tentakel
tersebut.
Anggota tubuh ini disebut sebagai alam semesta. Ketika Sang Pemelihara alam
semesta melakukan gerakan – baik penuh atau pun partial -- maka gerakan itu akan menimbulkan gerakan di anggota-anggota
tubuh-Nya
dan Dia memanifestasikan rencana-Nya melalui anggota
tubuh tersebut dan tidak
melalui sarana lain lagi.
Demikian itulah realitas keruhanian dimana semua
bagian dari ciptaan tunduk kepada rencana
Allah Swt., yang melaluinya Dia mengungkapkan
rancangan rahasia-Nya dalam
perwujudannya
dan melaksanakannya dengan kepatuhan yang sempurna.
Kepatuhan tersebut sama sekali tidak berdasarkan paksaan
atau pun pengaturan. Segala sesuatunya tertarik ke arah Allah Yang Maha Kuasa seolah-olah ditarik oleh daya magnit dimana semua partikel cenderung kepada-Nya,
sebagaimana anggota-anggota tubuh yang berbeda cenderung kepada tubuhnya itu sendiri.
Dengan demikian benarlah adanya
bahwa keseluruhan alam semesta
adalah mirip anggota tubuh Sang Wujud Maha Akbar dan karena itu juga Dia disebut sebagai Pemelihara
alam semesta (Rabb-al-‘ālamīn). Sebagaimana ruhani menjadi pemelihara dari jasmani, maka Dia
itu menjadi Pemelihara (Rabb) seluruh ciptaan. Jika tidak demikian adanya maka keseluruhan sistem akan ambruk.
Segala sesuatu yang diniatkan (dikehendaki) oleh Sang Pemelihara
(Rabb) -- baik yang nyata atau pun tersembunyi, baik yang berkaitan dengan
keimanan
atau pun duniawi -- dimanifestasikan (diwujudkan) melalui ciptaan-Nya
dan tidak ada rancangan-Nya yang dimanifestasikan
di dunia ini kecuali melalui sarana tersebut. Inilah yang
disebut sebagai hukum alam yang abadi yang telah berfungsi sejak awalnya.” (Tauzih
Maram, Amritsar, Riyaz Hind Press; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 3, hlm. 88-91, London, 1984).
Segala Sesuatu di Alam Semesta Menyanjung Kesucian dan kekudusan Allah Swt. Dengan Puji-pujian-Nya
Kepatuh-taatan semua komponen alam semesta kepada kehendak Allah Swt. – mulai yang paling kecil sampai yang paling besar
– disebut bertasbihnya segala sesuatu
kepada Allah Swt. dengan puji-pujian-Nya, sebagaimana perkataan malaikat berikut ini:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ
فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ
فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ
الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ
نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا
لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman
kepada Malaikat-malaikat: “Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah
di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau
akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan
di dalamnya dan akan menumpahkan
darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan Engkau?” قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Al-Baqarah
[2]:31).
Sementara tasbih
dipakai bertalian dengan Sifat-sifat
Allah Swt. maka taqdis
dipergunakan mengenai tindakan-tindakan-Nya.
Firman-Nya lagi:
تُسَبِّحُ لَہُ
السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ وَ
الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ وَ لٰکِنۡ لَّا تَفۡقَہُوۡنَ تَسۡبِیۡحَہُمۡ ؕ
اِنَّہٗ کَانَ حَلِیۡمًا غَفُوۡرًا ﴿﴾
Kepada-Nya
bertasbih ketujuh langit dan bumi dan apa yang ada di dalam keduanya, وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ -- dan tidak
ada suatu benda pun melainkan menyanjung
Dia dengan puji-pujian-Nya, وَ لٰکِنۡ لَّا تَفۡقَہُوۡنَ
تَسۡبِیۡحَہُمۡ -- akan tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka itu. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun (Bani
Israil [17]:45). Lihat pula QS.24:42; QS.59:25; QS.61:2;
QS.62:2; QS.64:2.
Jika kata-kata
“Kepada-Nya bertasbih ketujuh
langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, menunjuk kepada kesaksian bersama yang dikandung oleh seluruh alam mengenai ke-Esa-an Allah Swt., maka kata-kata “dan tidak ada suatu benda pun, melainkan
menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya” menunjuk kepada kesaksian yang diberikan oleh segala
sesuatu secara perorangan dan secara terpisah mengenai ke-Esa-an
Dzat Ilahi.
Kata-kata “Kepada-Nya
bertasbih ketujuh langit dan bumi dan
apa yang ada di dalamnya”, berarti
bahwa pengaturan dan tatanan
indah yang ada di seluruh alam
tidak ayal lagi menunjukkan bahwa Penciptanya
adalah Wujud Tunggal yakni Allah
Swt., sedang kata-kata yang tersebut belakangan: وَ اِنۡ مِّنۡ
شَیۡءٍ اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ -- “dan tidak
ada suatu benda pun melainkan menyanjung
Dia dengan puji-pujian-Nya, وَ لٰکِنۡ لَّا تَفۡقَہُوۡنَ
تَسۡبِیۡحَہُمۡ -- akan tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.” berarti bahwa segala sesuatu di seluruh alam ini, dalam ruangannya sendiri yang terbatas
itu, dan dengan caranya sendiri yang
tidak dapat ditiru itu menampakkan berbagai macam Sifat
Allah Swt..
Seandainya ada tuhan-tuhan lain selain Allah
Swt. maka tatanan alam semesta ini akan kacau-balau,
firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ لَا یُسۡـَٔلُ
عَمَّا یَفۡعَلُ وَ
ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit
dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah
pasti binasalah kedua-duanya, maka
Maha Suci Allah Rabb (Tuhan) ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. لَا یُسۡـَٔلُ
عَمَّا یَفۡعَلُ -- Dia
tidak akan ditanya mengenai apa yang
Dia kerjakan, وَ ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ -- sedangkan mereka akan ditanya (Al-Anbiyā
[21]:23-24).
Ayat 23 merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk
menolak kemusyrikan. Bahkan mereka
yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam semesta. Tertib
ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman
hukum-hukum membuktikan ke-Esa-an
Rabb
(Tuhan Pencipta dan Pengatur) alam semesta.
Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam tersendiri — sebab adalah perlu bagi
suatu wujud tuhan untuk menciptakan alam-semesta dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai
akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang
tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam
akan menjadi hancur berantakan.
Karena itu sungguh janggal kepercayaan “Trinitas” yang mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam
segala segi, bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi alam semesta.
Ayat
selanjutnya: لَا یُسۡـَٔلُ عَمَّا
یَفۡعَلُ -- Dia
tidak akan ditanya mengenai apa yang
Dia kerjakan, وَ ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ -- sedangkan mereka akan ditanya,” menunjuk
kepada sempurnanya dan lengkapnya tata-tertib alam semesta,
sebab hal tersebut mengisyaratkan kepada kesempurnaan
Pencipta dan Pengaturnya, dan
mengisyaratkan pula kepada ke-Esa-an-Nya.
Ayat ini pun berarti bahwa kekuasaan Allah Swt. mengatasi
segala sesuatu, sedang semua wujud
dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan.
Pada Hakikatnya Alam
Semesta Merupakan “Benda-benda Mati”
& Makna Segala Ciptaan Allah Swt.
Berasal dari Firman-Nya
Sehubungan dengan penjelasan Nabi Sulaiman a.s. mengenai makna lantai
kaca bening Istana yang di bawahnya dialirkan air yang telah menyadarkan Ratu Saba dari kemusyrikannya, lebih lanjut Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan tentang hubungan
Allah Swt. dengan aktivitas alam
semesta:
“Tidak bisa dibantah bahwa apa pun
sifat-sifat yang terdapat
secara jasmani dan fana (terkandung/tersembunyi) dalam benda-benda langit dan segenap unsur, secara keruhanian dan abadi
ada di dalam Wujud Allah Yang Maha
Kuasa. Jelas bagi kita bahwa matahari,
bulan dan lain-lainnya tidak mempunyai arti sama sekali dalam dirinya
sendiri. Yang menjadikannya berarti
adalah Kekuasaan Akbar Allah Swt. yang beroperasi di belakang layar. Adalah Dia Yang telah
menggunakan bulan sebagai tabir
dari Wujud-Nya ketika mengaruniakan cahaya
di malam yang gelap, sebagaimana juga ketika Dia masuk ke dalam hati yang gelap membawa pencerahan dan Dia Sendiri lalu berbicara di dalam diri orang bersangkutan.
Adalah Dia Yang menyelimuti Kekuasaan-Nya dengan matahari yang menjadikan siang hari sebagai manifestasi
(penampakan) nur akbar dimana Dia memanifestasikan
karya-Nya dalam berbagai musim
di bumi. Adalah Kekuasaan-Nya Yang
turun dari langit dengan nama hujan
yang menghijaukan tanah yang kering
dan memberi minum mereka yang kehausan. Adalah Kekuasaan-Nya Yang menyala dalam bentuk api,
menyegarkan pernafasan dalam bentuk udara,
menjadikan bunga mekar, mengangkat awan ke atas dan menyampaikan suara ke telinga.
Adalah Kekuasaan-Nya Yang muncul dalam bentuk bumi yang memikul
di punggungnya berbagai bentuk spesi
(jenis) seperti manusia dan hewan. Namun semua hal itu bukanlah Tuhan. Semuanya itu adalah ciptaan-Nya (makhluk-Nya). Kekuasaan Tuhan bergerak
sebagaimana tangan menggerakkan pena. Kita bisa mengatakan bahwa pena
itu menghasilkan tulisan, namun bukan
pena itu sendiri yang menulis, adalah tangan yang
memegangnya yang melakukan penulisan.
Kita bisa mengatakan bahwa sebongkah besi yang dipanggang di dalam api terlihat sebagai api karena bisa membakar
dan bercahaya, tetapi semua itu
bukan sifat-sifat dari besi melainkan sifat dari api. Begitu pula, memang benar bahwa semua benda di langit dan di bumi serta semua partikel dari dunia bawah atau atas yang bisa terlihat dan dirasa,
karena sifat-sifatnya lalu dianggap
sebagai Sifat Tuhan. Adalah Kekuasaan
Allah Swt. yang tersembunyi di dalam ciptaan
tersebut dan memanifestasikan Diri-Nya.
Semua itu pada awalnya adalah firman Allah Swt. yang melalui Kekuasaan-Nya dimanifestasikan
dalam berbagai bentuk. Seorang yang bodoh akan bertanya, bagaimana firman Tuhan diwujudkan. Apakah Tuhan
tidak menjadi berkurang karena perwujudan itu memisah dari Diri-Nya?
Ia harus menyadari bahwa api
yang diperoleh dari matahari melalui suryakanta (kaca pembesar) sama sekali tidak akan mengurangi sosok matahari
tersebut. Begitu pula buah-buahan yang berkembang
akibat pengaruh sinar bulan tidak akan mengurangi sosok bulan itu
sama sekali. Inilah rahasia pemahaman mengenai
Tuhan Yang menjadi sentra (pusat) dari segala masalah keruhanian bahwa dunia
diciptakan melalui firman Tuhan” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 423-424, London, 1984).
Dalam buku lainnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keagungan kekuasaan Allah Swt. dan keajaiban
karya-cipta-Nya:
“Ketika aku memperhatikan semua
benda-benda langit yang besar itu dan merenungi keajaiban mereka
masing-masing, dan aku menyadari
bahwa semua itu diciptakan dalam rancangan
dan niat Allah Swt. maka tanpa sadar batinku berseru: “Wahai Allah Yang Maha Kuasa, betapa agung kekuasaan Engkau. Betapa ajaibnya
dan di luar kemampuan nalar semua karya Engkau. Alangkah bodohnya ia yang menyangkal Kekuasaan Engkau, dan alangkah tololnya ia yang bertanya: “Dari bahan apakah Dia itu membuat semua ini?” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 19, hlm. 425, catatan kaki, London,
1984).
Masih Mau’ud a.s. bersabda
lagi mengenai alasan mengapa Allah
Swt. telah menetapkan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada-Nya (QS.1:5; QS.51:57):
“Realitas Ketuhanan Allah Yang Maha
Kuasa ialah Dia itu merupakan Wujud
Yang menjadi Sumber dari semua berkat dimana semua makhluk mengandalkan eksistensinya (keberadaannya) kepada-Nya. Karena itulah maka Dia
itulah satu-satunya Yang patut disembah dan kita bersuka hati
jika Dia memiliki hati, jiwa dan
raga kita, karena kita ini tidak ada artinya apa-apa jika bukan
karena Dia Yang mewujudkan kita. Dia Yang telah mewujudkan kita dari ketiadaan adalah yang
sebenar-benarnya Tuhan kita.” (Shahnah Haq, Riadh Hind
Press, N.D.; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 428-429, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 6 Oktober
2015
[1]
Sebelum teori biologi modern mengemukakannya, 1400 tahun
yang lalu Al-Quran telah menjelaskan
bahwa semua mahluk hidup dari ordo fauna bermula dari air . Melalui p
erkembangan evolusi, mah luk air lalu berkembang menjadi mah luk yang berjalan
di darat. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar