Jumat, 09 Oktober 2015

Hubungan "Kehendak" Allah Swt. Dengan "Aktivitas" Alam Semesta & Apa pun di Alam Semesta Bertasbih dan Bertaqdis Kepada Allah Swt. Dengan Puji-pujian-Nya



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 61

Hubungan Kehendak Allah Swt. Dengan Aktivitas Alam Semesta &  Apa  pun di Alam Semesta   Senantiasa Bertasbih dan Bertaqdis Kepada Allah Swt. Dengan Puji-pujian-Nya

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai hakikat pembuatan istana  berlantai kaca bening yang di bawahnya  dialirkan  air yang deras, firman-Nya:
قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا --  Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya. قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ  --  Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan  ubin dari kaca.”  قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ – Ia (Ratu Saba) ber-kata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah  Rabb (Tuhan) seluruh alam” (An-Naml [27]:42-45). 
      Sehubungan dengan keunikan  perumpamaan yang terkandung dalam “istana khusus” yang dibangun Nabi Sulaiman a.s. tersebut, berikut ini sabda Masih Mau’ud a.s.  berkenaan kekeliruan paham para pelaku kemusyrikan yang telah mempertuhankan benda-benda langit   serta mempertuhankan  benda-benda mati lainnya ciptaan Allah Swt., Wujud Yang  “berada di balik” tatanan alam semesta jasmani yang sempurna in:i 
     “Merupakan suatu misteri dari Sifat Rabubiyat bahwa ciptaan mewujud  (eksis) melalui firman Tuhan. Kita bisa memahaminya sebagai pengertian bahwa fungsi ciptaan merupakan refleksi dari firman Tuhan,  atau firman Tuhan itu sendiri yang mengambil bentuk ciptaan berdasarkan Kekuasaan Ilahi.   Kata-kata yang ada di dalam Al-Quran bisa ditafsirkan menurut kedua pengertian tersebut.
    Di beberapa tempat dalam Kitab Suci Al-Quran dikatakan bahwa apa yang telah diciptakan itu disebut sebagai firman Tuhan,  yang melalui manifestasi  Sifat Rabubiyat telah memperoleh bentuk dan sifat karakteristik sebagai benda ciptaan. Hal ini merupakan salah satu misteri Sifat penciptaan yang tidak terlalu mudah dicerna oleh penalaran. Bagi rata-rata orang kiranya cukup untuk memahami bahwa apa pun yang diinginkan oleh Allah Yang Maha Kuasa akan mewujud, dan bahwa semuanya ini merupakan hasil ciptaan-Nya yang bersumber pada Kekuasaan-Nya.
     Bagi orang-orang yang mengerti,  yang telah melalui proses pendisiplinan diri serta dengan bantuan kasyaf  (penglihatan ruhani),  misteri penciptaan tersebut menjadi lebih jelas. Mereka menyadari bahwa semua ruhani dan jasmani merupakan firman Tuhan, yang melalui Kebijakan Ilahi telah diberi jubah sebagai benda ciptaan. Namun prinsip dasar yang harus dipatuhi adalah faktor yang berlaku --  baik bagi penalaran atau pun kasyaf -- bahwa Tuhan adalah Pencipta segalanya dimana ruhani dan jasmani tidak bisa mewujud tanpa Dia.
       Istilah yang digunakan dalam Kitab Suci Al-Quran dalam konteks ini bersifat multifaset (beragam makna)  namun secara konklusif (kesimpulan/keputusan)   dan pasti menjelaskan bahwa semuanya mewujud melalui Allah Yang Maha Kuasa dan tidak ada apa pun yang bisa eksis (ada)  tanpa Dia atau berdasar kemampuannya sendiri. Cukuplah pandangan ini untuk tahapan awal. Setelah itu, mereka yang kemudian berkelana melalui berbagai tingkat pemahaman, misterinya akan dibukakan secara bertahap setelah mereka berupaya sebagaimana firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Tentang orang-orang yang berjuang untuk bertemu dengan Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami (Al-Ankabūt [29]:70)”   (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 42-43, catatan kaki, London, 1984).

Bagaikan Hubungan Antara Ruhani dan Jasmani    

      Sehubungan dengan masalah yang  musykil dan halus tersebut dalam buku lainnya   Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
    “Perlu untuk menjelaskan, bahwa ketika Tuhan Yang menjadi Sumber dari segala kausa (penyebab) dan terhadap Wujud-Nya segala bentuk ciptaan ini terkait, jika Dia melakukan gerakan ke arah penciptaan sesuatu dimana gerakan itu dalam skala penuh maka semua ciptaan-Nya akan merasakan gerakan tersebut.
    Kalau gerakan tersebut bersifat partial (sebagian) maka gerakannya hanya kepada suatu sektor tertentu di alam ini. Hubungan antara keseluruhan ciptaan dan alam kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Terpuji, mirip dengan hubungan yang ada di antara ruhani dan jasmani.  
    Sebagaimana semua anggota tubuh mengikuti arahan dari ruhani dan bergerak ke arah mana ruhani bergerak, demikian pula  hubungan yang sama   antara Allah Yang Maha Perkasa dengan ciptaan-Nya. Meskipun aku tidak menyatakannya sebagaimana dikatakan pengarang Fusus[1] tentang Wujud Utama bahwa Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia adalah juga menjadi segala sesuatu ciptaan-Nya tersebut, namun aku akan mengatakan bahwa:  Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mirip dengan segala sesuatu ciptaan-Nya tersebut. 
   Alam semesta ini seperti ruangan amat besar yang dilandasi dengan lempengan kaca yang bening (tembus pandang). Sebuah Kekuatan yang Maha Akbar mengalir di bawah permukaannya dan melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya. Dalam pandangan seorang yang cupat, semua hal di alam ini dikiranya mewujud dengan sendirinya. Mereka menganggap bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang mewujud dengan sendirinya, padahal semua bentuk eksistensi adalah milik-Nya semata.
   Yang Maha Bijaksana telah mengungkapkan misteri ini kepadaku bahwa keseluruhan alam semesta berikut semua partikelnya dirancang untuk melaksanakan apa pun yang diniatkan oleh Maha Sumber Kausa,  sebagaimana anggota tubuh yang tidak bisa bergerak dengan sendirinya tanpa pasokan kekuatan sepanjang waktu oleh Ruh Yang Maha Akbar, karena semua fungsi tubuh hanya bisa beroperasi di bawah kendali ruhani atau jiwa.

Tatanan Alam Semesta Bagaikan Anggota “Tubuh” Allah Swt. & Hukum Alam

    Alam semesta ini merupakan substitusi  (bagian) dari  anggota “Tubuh” Sang Maha Wujud. Ada beberapa hal di alam ini yang seolah menjadi Nur dari Wujud-Nya, baik Nur yang bersifat langsung atau pun yang tersembunyi, tergantung keinginan-Nya (kehendak-Nya).
    Sebagian di antaranya seolah tangan-Nya, sebagian lagi seperti sayap-Nya dan ada pula yang seperti tiupan nafas-Nya. Singkat kata, alam semesta ini secara kolektif adalah mirip dengan tubuh bagi Allah Yang Maha Kuasa, dimana semua kehidupan dan keagungan tubuh ini bersumber pada Ruh Yang Maha Akbar tersebut Yang menjadi Pemeliharanya.
      Apa pun gerakan yang diniatkan (dikehendaki)  oleh Sang Maha Pemelihara akan mewujud di seluruh bagian atau pun pada beberapa bagian tubuh tertentu tersebut,  sebagaimana diniatkan oleh-Nya. Untuk mengilustrasikan keadaan ini, kita bisa membayangkan Sang Pemelihara alam semesta ini sebagai Wujud Akbar Yang memiliki tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang tidak terbilang dengan panjang dan lebar yang tidak terbatas. Sebagaimana laiknya gurita, demikian juga Wujud Yang Maha Akbar ini seakan-akan  memiliki tentakel yang menyebar ke seluruh pelosok dunia kehidupan yang menarik keseluruhannya kepada tentakel tersebut.
    Anggota tubuh ini disebut sebagai alam semesta. Ketika Sang Pemelihara alam semesta melakukan gerakan – baik penuh atau pun partial -- maka gerakan itu akan menimbulkan gerakan di anggota-anggota tubuh-Nya dan Dia memanifestasikan rencana-Nya melalui anggota tubuh tersebut dan tidak melalui sarana lain lagi.
    Demikian itulah realitas keruhanian dimana semua bagian dari ciptaan tunduk kepada rencana Allah Swt.,  yang melaluinya Dia mengungkapkan rancangan rahasia-Nya dalam perwujudannya dan melaksanakannya dengan kepatuhan yang sempurna.
   Kepatuhan tersebut sama sekali tidak berdasarkan paksaan atau pun pengaturan. Segala sesuatunya tertarik ke arah Allah Yang Maha Kuasa seolah-olah ditarik oleh daya magnit dimana semua partikel cenderung kepada-Nya, sebagaimana anggota-anggota tubuh yang berbeda cenderung kepada tubuhnya itu sendiri.
      Dengan demikian benarlah adanya bahwa keseluruhan alam semesta adalah mirip anggota tubuh Sang Wujud Maha Akbar dan karena itu juga Dia disebut sebagai Pemelihara alam semesta (Rabb-al-‘ālamīn). Sebagaimana ruhani menjadi pemelihara dari jasmani, maka Dia itu menjadi Pemelihara (Rabb) seluruh ciptaan. Jika tidak demikian adanya maka keseluruhan sistem akan ambruk.
      Segala sesuatu yang diniatkan (dikehendaki) oleh Sang Pemelihara (Rabb) -- baik yang nyata atau pun tersembunyi, baik yang berkaitan dengan keimanan atau pun duniawi  -- dimanifestasikan (diwujudkan) melalui ciptaan-Nya dan tidak ada rancangan-Nya yang dimanifestasikan di dunia ini kecuali melalui sarana tersebut. Inilah yang disebut sebagai hukum alam yang abadi yang telah berfungsi sejak awalnya.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyaz Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 3, hlm. 88-91, London, 1984).

Segala Sesuatu di Alam Semesta Menyanjung Kesucian dan kekudusan Allah Swt.  Dengan Puji-pujian-Nya

     Kepatuh-taatan semua komponen alam semesta kepada kehendak Allah Swt.  – mulai yang paling kecil sampai yang paling besar – disebut bertasbihnya segala sesuatu kepada Allah Swt. dengan puji-pujian-Nya, sebagaimana perkataan malaikat berikut ini:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman  kepada Malaikat-malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ  --  padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?” قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui  (Al-Baqarah [2]:31).
     Sementara tasbih dipakai bertalian dengan Sifat-sifat Allah Swt.  maka taqdis dipergunakan mengenai tindakan-tindakan-Nya. Firman-Nya lagi:
تُسَبِّحُ  لَہُ  السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ  اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ  وَ لٰکِنۡ لَّا تَفۡقَہُوۡنَ تَسۡبِیۡحَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ حَلِیۡمًا غَفُوۡرًا ﴿﴾
Kepada-Nya bertasbih ketujuh langit dan bumi dan apa yang ada di dalam keduanya,  وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ  اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ   -- dan tidak ada suatu benda pun melainkan  menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya, وَ لٰکِنۡ لَّا تَفۡقَہُوۡنَ تَسۡبِیۡحَہُمۡ  --   akan tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka itu. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun   (Bani Israil [17]:45). Lihat pula  QS.24:42; QS.59:25; QS.61:2; QS.62:2;  QS.64:2.
       Jika kata-kata  “Kepada-Nya bertasbih ketujuh  langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, menunjuk kepada kesaksian bersama yang dikandung oleh seluruh alam mengenai ke-Esa-an Allah Swt.,  maka kata-kata  “dan tidak ada suatu benda pun, melainkan menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya” menunjuk kepada kesaksian yang diberikan oleh segala sesuatu secara perorangan dan secara terpisah mengenai ke-Esa-an Dzat Ilahi.
       Kata-kata  “Kepada-Nya bertasbih ketujuh  langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya”,  berarti  bahwa pengaturan  dan tatanan indah yang ada di seluruh alam tidak ayal lagi menunjukkan bahwa Penciptanya adalah Wujud Tunggal  yakni Allah Swt., sedang kata-kata yang tersebut belakangan: وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ  اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ   -- “dan tidak ada suatu benda pun melainkan  menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya, وَ لٰکِنۡ لَّا تَفۡقَہُوۡنَ تَسۡبِیۡحَہُمۡ  --   akan tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.”     berarti bahwa segala sesuatu di seluruh alam  ini, dalam ruangannya sendiri yang terbatas itu, dan dengan caranya sendiri yang tidak dapat ditiru itu  menampakkan berbagai macam Sifat  Allah Swt..
      Seandainya ada tuhan-tuhan lain selain Allah Swt. maka   tatanan alam semesta ini akan kacau-balau, firman-Nya:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾  لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka Maha Suci Allah   Rabb (Tuhan) ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkanلَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ      -- Dia tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan,  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ  --  sedangkan mereka  akan ditanya   (Al-Anbiyā [21]:23-24).
      Ayat 23   merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak  bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam semesta. Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan ke-Esa-an Rabb (Tuhan Pencipta dan Pengatur) alam semesta.
       Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam tersendiri — sebab adalah perlu bagi suatu wujud tuhan untuk menciptakan alam-semesta dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur berantakan. Karena itu sungguh janggal  kepercayaan “Trinitas” yang mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi, bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi alam semesta.
       Ayat selanjutnya:  لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ      -- Dia tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan,  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ  --  sedangkan mereka  akan ditanya,”   menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya tata-tertib alam semesta, sebab hal tersebut mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya, dan mengisyaratkan pula kepada ke-Esa-an-Nya.
      Ayat ini pun berarti bahwa kekuasaan Allah Swt. mengatasi segala sesuatu, sedang semua wujud dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan.

Pada Hakikatnya Alam Semesta Merupakan “Benda-benda Mati” & Makna Segala Ciptaan Allah Swt. Berasal dari Firman-Nya

       Sehubungan dengan  penjelasan Nabi Sulaiman a.s.  mengenai makna  lantai kaca bening  Istana   yang di bawahnya dialirkan air     yang telah menyadarkan Ratu Saba dari kemusyrikannya, lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan tentang hubungan Allah Swt. dengan aktivitas alam semesta:  
      “Tidak bisa dibantah bahwa apa pun sifat-sifat yang terdapat secara jasmani dan fana (terkandung/tersembunyi) dalam benda-benda langit dan segenap unsur, secara keruhanian dan abadi ada di dalam Wujud Allah Yang Maha Kuasa. Jelas bagi kita bahwa matahari, bulan dan lain-lainnya tidak mempunyai arti sama sekali dalam dirinya sendiri. Yang menjadikannya berarti adalah Kekuasaan Akbar Allah Swt. yang beroperasi di belakang layar. Adalah Dia Yang telah menggunakan bulan sebagai tabir dari Wujud-Nya ketika mengaruniakan cahaya di malam yang gelap, sebagaimana juga ketika Dia masuk ke dalam hati yang gelap membawa pencerahan dan Dia Sendiri lalu berbicara di dalam diri orang bersangkutan.
   Adalah Dia Yang menyelimuti Kekuasaan-Nya dengan matahari yang menjadikan siang hari sebagai manifestasi (penampakan) nur akbar dimana Dia memanifestasikan karya-Nya dalam berbagai musim di bumi. Adalah Kekuasaan-Nya Yang turun dari langit dengan nama hujan yang menghijaukan tanah yang kering dan memberi minum mereka yang kehausan. Adalah Kekuasaan-Nya Yang menyala dalam bentuk api, menyegarkan pernafasan dalam bentuk udara, menjadikan bunga mekar, mengangkat awan ke atas dan menyampaikan suara ke telinga.
   Adalah Kekuasaan-Nya Yang muncul dalam bentuk bumi yang memikul di punggungnya berbagai bentuk spesi (jenis) seperti manusia dan hewan. Namun semua hal itu bukanlah Tuhan. Semuanya itu adalah ciptaan-Nya (makhluk-Nya). Kekuasaan Tuhan bergerak sebagaimana tangan menggerakkan pena. Kita bisa mengatakan bahwa pena itu menghasilkan tulisan, namun bukan pena itu sendiri yang menulis, adalah tangan yang memegangnya yang melakukan penulisan.
    Kita bisa mengatakan bahwa sebongkah besi yang dipanggang di dalam api  terlihat sebagai api karena bisa membakar dan bercahaya, tetapi semua itu bukan sifat-sifat dari besi melainkan sifat dari api. Begitu pula, memang benar bahwa semua benda di langit dan di bumi serta semua partikel dari dunia bawah atau atas yang bisa terlihat dan dirasa, karena sifat-sifatnya lalu dianggap sebagai Sifat Tuhan. Adalah Kekuasaan Allah Swt. yang tersembunyi di dalam ciptaan tersebut dan memanifestasikan  Diri-Nya.
      Semua itu pada awalnya adalah firman Allah Swt. yang melalui Kekuasaan-Nya dimanifestasikan dalam berbagai bentuk. Seorang yang bodoh akan bertanya, bagaimana firman Tuhan diwujudkan. Apakah Tuhan tidak menjadi berkurang karena perwujudan itu memisah dari Diri-Nya?
   Ia harus menyadari bahwa api yang diperoleh dari matahari melalui suryakanta (kaca pembesar) sama sekali tidak akan mengurangi sosok matahari tersebut. Begitu pula buah-buahan yang berkembang akibat pengaruh sinar bulan tidak akan mengurangi sosok bulan itu sama sekali. Inilah rahasia pemahaman  mengenai  Tuhan Yang menjadi sentra (pusat) dari segala masalah keruhanian bahwa dunia diciptakan melalui firman Tuhan” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 19, hlm. 423-424, London, 1984). 
      Dalam buku lainnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keagungan kekuasaan Allah Swt. dan  keajaiban  karya-cipta-Nya:
    “Ketika aku memperhatikan semua benda-benda langit yang besar itu dan merenungi keajaiban mereka masing-masing, dan aku menyadari bahwa semua itu diciptakan dalam rancangan dan niat Allah Swt. maka   tanpa sadar batinku berseru:  “Wahai Allah Yang Maha Kuasa, betapa agung kekuasaan Engkau. Betapa ajaibnya dan di luar kemampuan nalar semua karya Engkau. Alangkah bodohnya ia yang menyangkal Kekuasaan Engkau, dan alangkah tololnya ia yang bertanya: “Dari bahan apakah Dia itu membuat semua ini?”  (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 425, catatan kaki, London, 1984).
    Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai alasan mengapa Allah Swt. telah  menetapkan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada-Nya (QS.1:5; QS.51:57):
       “Realitas  Ketuhanan Allah Yang Maha Kuasa ialah Dia itu merupakan Wujud Yang menjadi Sumber dari semua berkat dimana semua makhluk mengandalkan eksistensinya  (keberadaannya) kepada-Nya. Karena itulah maka Dia itulah satu-satunya Yang patut disembah dan kita bersuka hati jika Dia memiliki hati, jiwa dan raga kita,  karena kita ini tidak ada artinya apa-apa jika bukan karena Dia  Yang mewujudkan kita. Dia Yang telah mewujudkan kita dari ketiadaan adalah yang sebenar-benarnya Tuhan kita.” (Shahnah Haq, Riadh Hind Press, N.D.; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 428-429, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 6  Oktober  2015



[1] Sebelum teori biologi modern mengemukakannya, 1400 tahun yang lalu Al-Quran telah  menjelaskan bahwa semua mahluk hidup dari ordo fauna bermula dari air . Melalui p erkembangan evolusi, mah luk air lalu berkembang menjadi mah luk yang berjalan di darat. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar