بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 77
“Kerajaan Tuhan” (Allah Swt.) Meliputi
Seluruh Langit dan Bumi & Hikmah Penangguhan Hukuman Ilahi Pemberian Kesempatan Kepada Manusia Untuk Bertaubat
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai makna “Kemurkaan” Allah Swt. yang sama sekali
berbeda dengan yang terjadi di kalangan manusia. Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan berkenaan dengan kekuasaan Allah Swt. dalam “kerajaan seluruh langit dan bumi yang membuktikan eksistensi-Nya yang sempurna. Beliau
bersabda:
Kitab
Injil mengajarkan untuk berdoa: “Bapak kami yang di sorga,
dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan
kami yang secukupnya dan ampunilah
kami akan kesalahan kami seperti juga kami
mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat,
karena Engkau-lah yang empunya kerajaan
dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya[1].”
Tetapi Kitab Suci Al-Quran
mengajarkan bahwa bumi ini tidak
luput dari Kesucian Allah Swt. yang tidak saja dinyatakan di langit tetapi juga di bumi. Sebagaimana dinyatakan:
تُسَبِّحُ لَہُ
السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ وَ
الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ ......﴿ ﴾
Kepada-Nya bertasbih
ketujuh petala langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan
tiada suatu benda pun melainkan menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya (Bani Israil [17]:45).
Apa pun yang berada di langit atau pun di bumi semuanya mengagungkan
Asmā (Sifat-sifat) Allah Swt., berarti semua partikel seluruh langit
dan bumi mengagungkan dan menyerukan Kesucian Allah, dan semua
yang berada di antaranya sibuk dengan pujian serta penghormatan.
Demikian pula gunung-gunung berdzikir mengingat-Nya, sungai-sungai berdzikir mengingat-Nya, pohon-pohon berdzikir
mengingat-Nya sebagaimana juga para muttaqi (orang-orang bertakwa) sibuk dengan pengkudusan-Nya.
Barangsiapa alpa (lalai) mengingat-Nya
dalam kalbu atau di lidahnya masing-masing serta tidak merendahkan dirinya di hadapan Allah Swt. maka ia akan direndahkan melalui berbagai bentuk siksaan
berdasarkan takdir Ilahi. Kepatuhan
para malaikat kepada Tuhan mereka -- seperti yang
dikemukakan dalam Kitab Allah
(Al-Quran) -- berlaku juga kepada setiap
lembar daun atau dzarah (partikel) di bumi ini. Semuanya patuh kepada-Nya,
tidak ada selembar daun pun akan gugur
tanpa kehendak-Nya, tidak ada obat
yang bisa menyembuhkan tanpa perkenan-Nya, begitu juga tidak
ada makanan yang bermanfaat
tanpa izin-Nya. Semuanya sujud dengan rendah hati dan hasrat
pengabdian di hadirat
Allah Swt.
Setiap dzarah dari bumi dan pegunungan, setiap tetes air dari
sungai dan samudra, setiap lembar daun pepohonan, semua partikel
dari tubuh manusia dan hewan semuanya mengakui dan patuh
kepada Allah Swt. dan sibuk dengan pengagungan dan pujian
bagi-Nya. Karena itulah maka Allah
Yang Maha Kuasa berfirman bahwa یُسَبِّحُ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ -- Apa jua pun yang ada di
seluruh langit dan apa jua pun
yang ada di bumi senantiasa menyanjung Allah
(Al-Jumu’ah [62]:2), dengan pengertian. bahwa semua yang ada di bumi mengkuduskan Kesucian Allah Swt.,
sebagaimana juga segala benda yang ada di langit. Lalu bagaimana mungkin
mengatakan bahwa Tuhan tidak dikuduskan
di bumi ini?
Ungkapan demikian tidak patut
keluar dari seorang yang dianggap
memiliki pemahaman sempurna. Dari semua benda yang ada di bumi,
sebagian mematuhi kaidah
(peraturan) hukum alam,
sebagian lagi mengikuti takdir Ilahi dan lainnya disibukkan dengan mematuhi kedua hal
tersebut. Awan, udara, api dan bumi semuanya mengabdi dan mengagungkan
Tuhan.”
Dua Kaidah yang Berlaku Bagi Manusia: Hukum Allah Swt. dan Takdir-Nya & Perbedaan
Fitrat Malaikat dan Fitrat Manusia
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai dua kaidah Allah Swt. yang berlaku bagi
manusia serta perbedaan fitrat malaikat
dengan Fitrat manusia:
“Jika ada manusia
yang tidak mematuhi kaidah dari hukum Ilahi maka ia
akan terbawa kepada takdir dari Ilahi. Tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari ruang lingkup kedua
kaidah tersebut.
Setiap orang sujud kepada kerajaan langit dalam suatu bentuk atau lainnya. Memang benar bahwa
berkenaan dengan kesucian dan kekotoran kalbu manusia, sikap ketidak-acuhan
dan kepatuhan kepada Allah
silih berganti muncul di muka bumi, namun pasang
naik dan surut ini tidak terjadi dengan sendirinya
melainkan karena mematuhi keinginan Samawi.
Terjadilah apa pun yang diinginkan
oleh Allah Swt.. Silih ganti antara
periode adanya petunjuk (dzikir Ilahi) dan kealpaan atau kelalaian
manusia berlangsung sama seperti peralihan
malam dengan siang,
sejalan dengan nur dan perintah Allah Swt. dan tidak terjadi dengan
sendirinya. Walaupun demikian, semuanya tetap mendengar suara-Nya dan mengagungkan nama-Nya.
Adapun kitab Injil menyatakan
bahwa bumi ini sepi dari pengkudusan Tuhan dan yang
dijadikan alasan adalah karena katanya kerajaan Tuhan belum mewujud di bumi.
Karena itulah keinginan Ilahi belum berfungsi di bumi sebagaimana telah berlaku di sorga. Ajaran Al-Quran menolak pandangan seperti itu.
Kitab Al-Quran secara tegas
menyatakan bahwa tidak ada pencuri, pembunuh, pezinah atau para perusuh
yang akan melakukan kekejian di muka
bumi kecuali memang diizinkan oleh Samawi. Lalu bagaimana akan mengatakan
bahwa kerajaan langit tidak berfungsi di bumi?
Apakah ada wujud yang berdiri
menghalangi pelaksanaan keinginan Tuhan di bumi? Jelas tidak. Allah Swt. Sendirilah
yang menciptakan sebentuk kaidah bagi para malaikat di langit dan kaidah lainnya bagi
manusia
di bumi. Dalam kerajaan langit-Nya Tuhan tidak memberikan hak memilih kepada
para malaikat. Kepatuhan sudah
merupakan bagian yang inheren
(melekat) dalam fitrat mereka. Mereka tidak
memiliki kemampuan untuk membantah. Mereka tidak bisa melakukan kesalahan atau kealpaan
(kelalaian).
Adapun bagi fitrat manusia diberikan
kesempatan untuk memilih atau membantah. Karena kesempatan memilih ini berasal dari langit
(Tuhan) maka tidak bisa dikatakan bahwa akibat ketidakpatuhan manusia
lalu kerajaan Tuhan diluputkan di muka bumi. Sesungguhnya Kerajaan Tuhan beroperasi
setiap saat dan dengan segala cara.
Memang benar bahwa terdapat dua sistem kaidah. Yang satu
adalah untuk para malaikat di langit berbentuk takdir Ilahi yang harus dipatuhi
oleh para malaikat, dan kaidah lainnya adalah yang berfungsi di bumi dimana manusia
diberikan kesempatan untuk memilih
di antara kebaikan dan kejahatan. Hanya saja jika manusia mau memohon kepada
Tuhan-nya agar diberi kekuatan mengalahkan kebathilan
maka dengan bantuan Ruhulkudus ia akan bisa mengatasi kelemahan dirinya dan memelihara
dirinya dari dosa sebagaimana halnya para rasul dan nabi
Allah Swt..
Jika mereka yang berdosa mau
mengajukan permohonan pengampunan kepada Tuhan-nya maka mereka akan dipelihara
dari konsekwensi (akibat) kejahatan mereka dan mereka tidak akan lagi dihukum karenanya,
sebab jika sudah datang terang maka gelap pun akan menghilang. Adapun para pendosa yang tidak memohon pengampunan maka mereka akan dihukum
karena dosa-dosa mereka.
Sekarang ini telah datang wabah pes ke muka bumi sebagai bentuk penghukuman, dan mereka yang durhaka
telah dimusnahkan karenanya. Lalu bagaimana bisa mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan belum berfungsi di muka bumi? Jangan lalu berpendapat bahwa
jika sudah ada kerajaan Tuhan di muka bumi, lalu mengapa masih saja ada dosa yang dilakukan manusia. Yang namanya dosa
juga tunduk kepada kaidah takdir
Ilahi. Meskipun si pelaku dosa itu bisa menempatkan
dirinya di luar lingkup hukum syariat, mereka tetap saja tidak terbebas dari hukum
takdir. Karena itu bagaimana mengatakan bahwa para pendosa
tidak harus tunduk kepada gandar
(ketentuan) kerajaan Ilahi?”
Penangguhan Hukuman Agar Manusia Mendapat Kesempatan
Bertobat dan Meraih Kemajuan Dalam Kebaikan
Kemudian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan hikmah diberikan-Nya penangguhan
hukuman Allah Swt. terhadap
dosa-dosa manusia:
"Bila kaidah Ilahi dibentuk
berupa penghukuman yang amat
keras dimana setiap pezina misalnya dihantam dengan petir atau setiap pencuri
tangannya dijangkiti penyakit yang akan membusukkan dan merontokkan tangannya,
sedangkan mereka yang durhaka terhadap Tuhan akan mati karena wabah maka dalam
waktu seminggu saja seluruh dunia
ini akan berubah menjadi orang-orang
saleh yang bertakwa.
Memang lalu langsung terbentuk kerajaan
Tuhan di bumi ini, tetapi
nyatanya kaidah samawi telah memberikan kemerdekaan
sehingga para pendurhaka tidak langsung dihukum. Namun
demikian azab penghukuman ini juga berlangsung terus. Gempa bumi bisa muncul di mana saja, petir bisa
menyambar, gunung bisa meletus yang membunuh ribuan nyawa, kapal-kapal bisa
tenggelam, kereta api bisa celaka, badai bisa muncul, rumah bisa rubuh, ular
bisa mematuk, hewan buas bisa mencabik dan penyakit bisa mewabah yang semuanya
atau masing-masing merupakan sarana penghukuman dan mengganjar
mereka yang berdosa. Karena itu bagaimana bisa mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan tidak berfungsi di bumi?
Kenyataannya kerajaan itu memang ada di sini. Setiap pendosa mempunyai belenggu
di tangan dan rantai di kakinya, namun takdir Ilahi sudah dilunakkan sedemikian rupa, sehingga belenggu dan rantai itu tidak langsung berfungsi. Namun jika si pendosa
itu terus saja dalam kesalahannya maka rantai itu akan membawanya ke neraka
dimana ia akan mati pun tidak dan hidup pun tidak.
Pendek kata, dalam hal ini ada dua sistem kaidah, dimana yang
satu berkaitan dengan para malaikat yang memang diciptakan
untuk selalu taat sehingga kepatuhan
itu menjadi ciri dari kecemerlangan
wujud mereka. Mereka tidak
mampu melakukan dosa tetapi
mereka juga tidak bisa mencapai kemajuan
dalam kebajikan. Sistem kaidah atau fitrat yang kedua
berkaitan dengan manusia dimana menurut fitratnya mereka itu bisa
melakukan dosa, tetapi mereka juga bisa memperoleh kemajuan dalam kebajikan.
Kedua sistem kaidah
ini tidak akan berubah, sebagaimana malaikat
tidak bisa menjadi manusia,
begitu juga manusia tidak akan bisa menjadi malaikat. Sistem kaidah ini bersifat abadi dan tidak akan berubah. Kaidah yang berlaku di langit tidak akan berfungsi di bumi, begitu juga kaidah
bumi tidak akan berlaku di
antara para malaikat. Dalam hal manusia pendosa kemudian bertobat
maka manusia bisa menjadi lebih baik daripada malaikat, sedangkan malaikat sendiri tidak bisa memperoleh kemajuan dalam kebajikan.
Dosa manusia bisa diampuni
melalui pertobatan. Hikmah
Ilahi terkadang membiarkan beberapa
orang bebas melakukan dosa-dosa
agar mereka kemudian menyadari kelemahan mereka dan memperoleh pengampunan
karena pertobatan. Demikian itulah kaidah yang
ditetapkan dan sesuai dengan fitrat manusia. Alpa (lalai) dan lupa merupakan ciri fitrat manusia dan ciri ini tidak ada pada malaikat, karena itu kaidah
yang mengatur para malaikat tidak bisa diterapkan
kepada manusia.”
Sehubungan dengan hikmah diberikan-Nya penangguhan hukuman atas dosa-dosa manusia Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ
یُعَجِّلُ اللّٰہُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسۡتِعۡجَالَہُمۡ بِالۡخَیۡرِ لَقُضِیَ
اِلَیۡہِمۡ اَجَلُہُمۡ ؕ فَنَذَرُ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا
فِیۡ طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ﴿﴾
Dan seandainya
Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti keinginan mereka untuk segera memperoleh yang baik, لَقُضِیَ اِلَیۡہِمۡ اَجَلُہُمۡ -- niscaya
jangka waktu mereka akan diputuskan, فَنَذَرُ الَّذِیۡنَ
لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا فِیۡ
طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ -- tetapi Kami membiarkan orang-orang yang tidak
mengharapkan pertemuan dengan Kami berkelana bingung dalam kedurhakaan mereka. (Yunus
[10]:12). Lihat pula QS.17:12.
Berhubung kata khair
berarti pula kekayaan (Lexicon Lane),
maka ayat ini berarti, bahwa orang mencurahkan segala kekuatannya untuk memperoleh kekayaan
dan mereka mengabaikan Allah Swt.
sama sekali. Kelakuan mereka seperti itu solah-olah menuntut agar mereka segera ditimpa kemalangan, sebagaim,ana
kelakuan buruk kaum Saba (QS.34:16-20).
Tetapi
Allah Swt. sangat lambat dalam menjatuhkan hukuman. Jika Allah Swt. menghukum manusia secepat
kelayakan perilaku buruk mereka untuk
dihukum, niscaya mereka telah lama binasa, sehingga jika demikian maka
semua makhluk lainnya pun akan segera
punah sebab keberadaannya
sudah tidak diperlukan lagi.
Berbagai Macam Perubahan Melalui Sifat Rabubiyat-Nya Senantiasa Berlaku di Seluruh Langit dan Bumi
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menerangkan bahwa sejak awal
penciptaan alam semesta (QS.21:31) Sifat Rabubiyat Allah Swt. senantiasa bekerja:
“Adalah suatu kesalahan untuk mengalamatkan suatu kelemahan
kepada Wujud Allah Yang Maha Kuasa. Akibat dari berfungsinya kaidah itulah yang dimanifestasikan (dilaksanakan) di bumi. Apakah Tuhan itu memang sedemikian lemahnya sehingga kerajaan, kekuasaan dan keagungan-Nya
hanya dibatasi di langit saja, ataukah ada sosok lainnya yang
memang menguasai bumi?”
Sepatutnya umat Kristiani tidak menekankan bahwa kerajaan Tuhan hanya
berfungsi di langit dan belum
berlaku di bumi, sedangkan mereka menganggap
bahwa langit tidak ada wujudnya.
Kalau langit memang tidak ada wujudnya
untuk tempat berfungsinya kerajaan
Tuhan sedangkan kerajaan itu belum ada di bumi, berarti kerajaan Tuhan
tidak ada dimana-mana. Padahal kita menyaksikan bagaimana kerajaan Tuhan
beroperasi di bumi ini.
Sejalan dengan kaidah-Nya maka hidup kita suatu
waktu akan berakhir dan keadaan kita selalu berubah terus
menerus. Kita mengalami beratus
macam bentuk kenikmatan dan kepedihan. Ribuan manusia yang mati
karena takdir Ilahi dan beribu-ribu lagi yang dilahirkan. Doa-doa mendapat pengabulan, tanda-tanda
samawi diperlihatkan dan bumi
ini menumbuhkan beribu macam
sayuran, buah dan bunga karena takdir-Nya.
Apakah semua ini terjadi tanpa
berdaulatnya kerajaan Allah?
Benda-benda langit mengalami perubahan tetapi kita tidak
menyadarinya, dan hal ini menunjukkan bahwa ada Wujud Yang membawa perubahan.
Adapun bumi selalu mengalami perubahan dari hari ke hari. Setiap
hari berjuta manusia meninggalkan dunia
dan berjuta lagi yang dilahirkan dan
dalam semuanya itu pengendalian kuat
dari Sang Maha Pencipta amat terasa.
Apakah masih saja tidak diakui bahwa
ada kerajaan Tuhan di bumi?
Kitab Injil tidak menjelaskan alasan
mengapa kerajaan Tuhan belum tiba di
dunia. Memang benar bahwa Nabi Isa a.s. berdoa memohonkan kelepasan diri beliau di taman Gethsemane sepanjang malam dan
sebagaimana tercatat dalam Surat Kepada Orang Iberani pasal 5 ayat 7 dinyatakan
bahwa doa itu dikabulkan namun Tuhan (dianggap)
tidak
mempunyai kekuasaan untuk menolong beliau.”
Pengalaman Pribadi Masih Mau’ud a.s. dan
Dalil-dalil Al-Quran Menolak Alasan Kepercayaan Umat Kristen
Lebih lanjut atas dasar
pengalaman pribadinya Masih Mau’ud a.s.
membantah kekaliruan pendapat umat Krsiten mengenai belum eksisnya “Kerajaan Tuhan” di bumi:
“Hal ini menurut umat Kristiani merupakan alasan
yang menguatkan bahwa pada saat itu tidak
ada kerajaan Tuhan di bumi. Aku sendiri sudah banyak mengalami cobaan yang lebih berat, tetapi nyatanya aku
telah diselamatkan. Bagaimana mungkin aku
menyangkal kerajaan Tuhan? Apakah perkara
yang diadili oleh hakim Captain Douglas
menyangkut perkara yang dituduhkan oleh Martyn
Clarke bahwa aku dituduh
merencanakan pembunuhan, adalah lebih ringan daripada tuduhan yang dibawa umat
Yahudi kepada hakim Pilatus terhadap
Yesus yang hanya berkaitan dengan perbedaan
pandangan keagamaan?
Nyatanya Allah Swt. sebagai Raja bumi
ini sebagaimana Dia juga Raja di langit
telah memberitahukan di awal
(sebelumnya) bahwa akan ada kasus perkara seperti itu dan bahwa pada akhirnya aku akan dibebaskan. Hal ini telah diberitahukan sebelumnya kepada beratus-ratus orang dan nyatanya aku kemudian dibebaskan.
Adalah kerajaan
Tuhan yang telah menyelamatkan aku
dari perkara tuntutan yang merupakan
usaha bersama orang-orang Muslim, Hindu dan Kristen yang
memusuhi aku. Tidak hanya sekali, bahkan berpuluh
kali aku menyaksikan kerajaan Tuhan
beroperasi di bumi dan aku sewajarnya mengimani ayat:
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ ۚ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۚ
‘Kepunyaan Dia-lah kerajaan seluruh langit dan bumi’ ( Al-Hadīd [57]:3)
dan aku meyakini ayat:
اِنَّمَاۤ اَمۡرُہٗۤ
اِذَاۤ اَرَادَ شَیۡئًا اَنۡ یَّقُوۡلَ لَہٗ کُنۡ
فَیَکُوۡنُ
‘Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki
sesuatu, ialah Dia hanya berfrman mengenai itu “Jadilah” maka jadilah ia’ (Yā Sīn [36]:83).
Berarti bahwa langit dan bumi tunduk
kepada-Nya dan bila Dia bermaksud mengadakan sesuatu maka Dia cukup mengatakan
‘Jadilah!’ maka terjadilah ia. Dikatakan juga bahwa:
وَ اللّٰہُ
غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ
‘Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya akan tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahuinya’ (Yusuf [12]:22),
Yang berarti bahwa Allah Swt. berkuasa
penuh atas segala rancangan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak menyadari
keagungan dan kekuasaan-Nya tersebut.
Hanya sedemikian itulah cara doa yang diajarkan dalam Kitab Injil yang telah memupuskan harapan manusia akan rahmat Tuhan dan menjadikan umat
Kristiani melupakan Sifat Rabubiyat,
Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya,
karena mereka beranggapan bahwa Tuhan baru akan mampu memberikan pertolongan
di bumi sampai nanti jika
kerajaan-Nya telah tiba di dunia.
Doa
yang Memberikan Harapan Dalam Surah Al-Fatihah
Sebaliknya dengan doa yang diajarkan Allah Swt. kepada umat Muslim melalui Al-Quran, bahwa Tuhan
mereka bukanlah sosok yang tidak berdaya
di bumi dan bahwa Sifat-sifat Rabubiyat,
Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya
selalu berfungsi di bumi ini, dan
bahwa Dia berkuasa menolong para penyembah-Nya dan menghancurkan para pendosa dengan kemurkaan-Nya. Doa tersebut berbunyi:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪ ﴿﴾
‘Segala puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) semesta alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang
mempunyai Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah
yang kami sembah dan hanya kepada
Engkau kami memohon pertolongan. Tuntunlah kami kepada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat’ (Al-Fatihah [1]2-7).
Berarti hanya Allah saja yang
patut menerima semua pujian. Tidak
ada cacat cela dalam kerajaan-Nya.
Tidak ada yang masih harus ditunggu dari
Sifat-sifat luhur-Nya yang dianggap
belum ada sekarang. Tidak ada
kesia-siaan dalam tata kerajaan-Nya.
Dia telah memelihara seluruh alam.
Dia mengaruniakan rahmat-Nya
sepenuhnya tanpa harus ada tindakan dari manusia atau sebagai imbalan bagi kinerja manusia. Dia menyampaikan ganjaran dan penghukuman
pada saatnya yang tepat. Kita
menyembah-Nya dan memohon kepada-Nya
agar ditunjuki jalan yang membawa rahmat dan menjauhkan kita dari jalan yang akan membawa kemurkaan-Nya
serta jalan yang salah.
Doa yang dikemukakan dalam Surah
Fatihah ini sama sekali berlawanan
dengan doa yang diajarkan dalam Kitab Injil, karena Injil tidak mengakui bahwa kerajaan Tuhan
sudah ada di muka bumi ini. Menurut Injil
tidak ada dari Sifat-sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat
dan Mālikiyat Allah Swt. yang
berfungsi di dunia karena kerajaan Tuhan belum datang.
Empat Syarat Utama yang Harus Dimiliki Seorang Raja
(Penguasa) yang Hakiki
Adapun Surah Fatihah memastikan
bahwa kerajaan Tuhan sudah ada di dunia
dan semua sendi pokok kerajaan itu
dikemukakan dalam Surah tersebut. Dari sana bisa diteladani bahwa seorang penguasa
atau raja harus memiliki
sifat-sifat:
Sifat pertama, ia harus memiliki kekuasaan memelihara rakyatnya sebagaimana dinyatakan Surah Fatihah
bahwa Tuhan adalah (Rabb) Pemelihara alam semesta.
Sifat kedua dari seorang penguasa
adalah bisa menyediakan apa pun yang
dibutuhkan rakyatnya dari kekayaannya
sendiri, semuanya itu bukan sebagai ganjaran
kepada rakyatnya tersebut. Surah Fatihah menyebut Tuhan sebagai Ar-Rahmān (Maha Pemurah) karena sifat-Nya ini.
Sifat ketiga yang harus
dimiliki seorang raja atau penguasa adalah menolong rakyatnya mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan kekuatan
mereka sendiri. Surah Fatihah menegaskan sifat ini sebagai Rahīm (Maha Penyayang).
Sifat
keempat yang harus dimiliki seorang penguasa
adalah kekuasaan memberikan ganjaran
dan penghukuman demi tertibnya kondisi sosial. Surah Fatihah
mengemukakan sifat ini sebagai Māliki
Yaumiddin (Pemilik Hari pembalasan).
Singkat kata, Surah ini mencerminkan
semua pokok-pokok kepemimpinan yang
membuktikan bahwa kerajaan Tuhan dan
pengendalian kerajaan sudah berfungsi selama ini di dunia. Perhatikanlah, yang harus
dipahami sepenuhnya adalah setiap zarah
di muka bumi tunduk kepada pengendalian
Tuhan (Rabubiyat), dan setiap partikel
di alam semesta ini merupakan bagian dari kerajaan-Nya.
Sebagaimana terdapat manifestasi
akbar di langit, akan begitu
juga di muka bumi. Manifestasi di langit menyangkut masalah keruhanian. Umumnya manusia belum pernah naik ke langit dan
menyaksikan manifestasi demikian,
tetapi manifestasi kerajaan Tuhan di
bumi ini jelas bisa dilihat mata
semua manusia. Setiap makhluk hidup,
betapa pun kayanya yang bersangkutan dan walau bertentangan dengan keinginannya
sendiri, pasti akan mengalami maut
(mati).
Perhatikanlah bagaimana manifestasi sabda sang Raja menjadi nyata di bumi ini yaitu ketika perintah-Nya datang maka tidak ada seorang pun akan mampu menunda
kematiannya walaupun sedetik. Jika seseorang menderita penyakit yang fatal maka tidak akan ada dokter yang mampu
menyembuhkannya.
Renungkanlah bagaimana manifestasi kerajaan Tuhan di bumi
dalam bentuk bahwa perintah-Nya
tidak mungkin dibantah. Lalu bagaimana
akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di
bumi ini belum berwujud dan baru akan datang di kemudian hari?
Merebaknya Wabah Pes yang Sangat
Dahsyat & Manifestasi “Kerajaan Tuhan”
di Seluruh Langit dan Bumi
Pada masa kini, perintah Tuhan
dari langit telah mengguncangkan bumi dengan telah
datangnya wabah pes, agar hal ini
menjadi tanda bagi kebenaran Al-Masih yang telah dijanjikan-Nya. Siapakah yang
mampu mengatasinya tanpa perkenan-Nya? Karena itu bagaimana
mungkin kita akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan belum ada di muka bumi?
Para pendosa hidup di dunia ini laiknya seorang tahanan bumi dan mengharapkan akan hidup
selamanya, namun kerajaan Tuhan akan
menghancurkannya dengan mengirim malaikat maut untuk menjemputnya.
Bagaimanakah akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan belum ada di dunia?
Setiap harinya melalui perintah Tuhan, berjuta manusia mati dan berjuta pula yang dilahirkan, berjuta manusia yang miskin menjadi kaya dan berjuta juga manusia kaya
yang menjadi miskin. Lalu bagaimana
akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di
bumi ini belum berwujud dan baru
akan datang di kemudian hari?
Di langit
hanya ada para malaikat, sedangkan
di bumi ini terdapat manusia disamping juga para malaikat yang menjadi abdi dan pelayan kerajaan-Nya. Para malaikat
ini yang mengawasi berbagai kelakuan manusia, patuh kepada Tuhan
sepanjang waktu, serta mengirimkan
laporan mereka kepada-Nya. Jadi, bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada kerajaan Tuhan di muka bumi?
Tuhan terutama sekali dikenal melalui kerajaan-Nya di bumi
karena semua orang menganggap bahwa misteri
langit merupakan rahasia yang tidak bisa dibuktikan. Belum lama ini umat Kristen beserta para ahli filosofi mereka telah menyangkal adanya langit yang oleh Kitab Injil dijadikan sebagai dasar dari kerajaan Tuhan.
Adapun di bumi yang berada di
bawah tapak kaki kita bisa dilihat
berbagai manifestasi beribu-ribu takdir
Ilahi dan semua itu menyadarkan
kita bahwa semua perubahan, kelahiran dan kematian adalah berdasar
pengaturan dari suatu Wujud Penguasa.
Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan
Tuhan di bumi ini belum berwujud?
Allah
Yang Maha Luhur dan Maha Agung tidak ada menyebut kata langit atau bumi dalam Surah Fatihah,
namun Dia mengemukakan realitasnya
kepada kita bahwa Tuhan itu bersifat
Rabbul ‘Alamīn. Dengan kata lain,
melalui semua ciptaan, baik jiwa atau pun raganya, disimpulkan bahwa Tuhan
itulah Pencipta dan Pemelihara (Rabb) semuanya serta yang menghidupi dan mengurus mereka.
Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi
setiap saat di seluruh alam semesta.
Perlu diperhatikan bahwa dengan istilah Māliki
Yaumiddin dalam Surah Fatihah
tidak berarti bahwa ganjaran dan penghukuman hanya akan dilakukan pada Hari Penghisaban saja. Kitab suci Al-Quran telah berulangkali menjelaskan
bahwa Hari Penghisaban memang
merupakan saat pengganjaran akbar,
hanya saja ada bentuk pengganjaran
yang sudah dimulai di dunia ini
sebagaimana diungkapkan dalam ayat:
اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ
یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا ﴿﴾
‘Jika kamu bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagimu suatu pembeda’ (Al-Anfāl [6]:30).” (Kisyti
Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal.
29-39, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 22 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar