Selasa, 27 Oktober 2015

"Kerajaan Tuhan" (Allah Swt.) Meliputi Seluruh Langit dan Bumi & Hikmah Penangguhan "Hukuman Ilahi" Pemberian Kesempatan Kepada Manusia Untuk Bertaubat



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 77  

  Kerajaan Tuhan” (Allah Swt.) Meliputi Seluruh Langit dan Bumi    & Hikmah Penangguhan Hukuman Ilahi  Pemberian Kesempatan  Kepada Manusia Untuk Bertaubat

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab  sebelumnya telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai  makna “Kemurkaan” Allah Swt. yang sama sekali berbeda dengan yang terjadi di kalangan manusia.  Selanjutnya    Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan  berkenaan dengan   kekuasaan   Allah Swt. dalam “kerajaan  seluruh langit dan bumi   yang membuktikan eksistensi-Nya yang sempurna. Beliau bersabda:
   Kitab Injil mengajarkan untuk berdoa: “Bapak kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti juga kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat, karena Engkau-lah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya[1].”
     Tetapi Kitab Suci Al-Quran mengajarkan bahwa bumi ini tidak luput dari Kesucian Allah Swt. yang tidak saja dinyatakan di langit tetapi juga di bumi. Sebagaimana dinyatakan:
تُسَبِّحُ  لَہُ  السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ  اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ  ......﴿ ﴾
Kepada-Nya bertasbih ketujuh petala langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan tiada suatu benda pun melainkan menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya (Bani Israil [17]:45).
       Apa pun yang berada di langit atau pun di bumi semuanya mengagungkan Asmā (Sifat-sifat) Allah Swt., berarti semua partikel  seluruh  langit dan bumi mengagungkan dan menyerukan Kesucian Allah,  dan semua yang berada di antaranya sibuk dengan pujian serta penghormatan. Demikian pula gunung-gunung berdzikir mengingat-Nya, sungai-sungai berdzikir mengingat-Nya, pohon-pohon berdzikir mengingat-Nya sebagaimana juga para muttaqi  (orang-orang bertakwa) sibuk dengan pengkudusan-Nya.  
    Barangsiapa alpa (lalai) mengingat-Nya dalam kalbu atau di lidahnya masing-masing serta tidak merendahkan dirinya di hadapan Allah  Swt. maka ia akan direndahkan melalui berbagai bentuk siksaan berdasarkan takdir Ilahi. Kepatuhan para malaikat kepada Tuhan mereka -- seperti yang dikemukakan dalam Kitab Allah (Al-Quran)  -- berlaku juga kepada setiap lembar daun atau dzarah (partikel) di bumi ini. Semuanya patuh kepada-Nya, tidak ada selembar daun pun akan gugur tanpa kehendak-Nya, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan tanpa perkenan-Nya, begitu juga tidak ada makanan yang bermanfaat tanpa izin-Nya. Semuanya sujud dengan rendah hati dan hasrat pengabdian di hadirat Allah  Swt
    Setiap dzarah dari bumi dan pegunungan, setiap tetes air dari sungai dan samudra, setiap lembar daun pepohonan, semua partikel dari tubuh manusia dan hewan semuanya mengakui dan patuh kepada Allah Swt. dan sibuk dengan pengagungan dan pujian bagi-Nya. Karena itulah maka Allah Yang Maha Kuasa berfirman bahwa  یُسَبِّحُ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ   --  Apa jua pun yang ada di seluruh langit dan apa jua pun yang ada di bumi senantiasa menyanjung Allah  (Al-Jumu’ah [62]:2),  dengan pengertian. bahwa semua yang ada di bumi mengkuduskan Kesucian Allah  Swt.,  sebagaimana juga segala benda yang ada di langit. Lalu bagaimana mungkin mengatakan bahwa Tuhan tidak dikuduskan di bumi ini?     
    Ungkapan demikian tidak patut keluar dari seorang yang dianggap memiliki pemahaman sempurna. Dari semua benda yang ada di bumi, sebagian mematuhi kaidah (peraturan)  hukum alam, sebagian lagi mengikuti takdir Ilahi dan lainnya disibukkan dengan mematuhi kedua hal tersebut. Awan, udara, api dan bumi semuanya mengabdi dan mengagungkan Tuhan.”

Dua Kaidah yang Berlaku Bagi Manusia: Hukum Allah Swt. dan   Takdir-Nya & Perbedaan Fitrat Malaikat dan Fitrat Manusia

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai dua kaidah Allah Swt. yang berlaku bagi manusia serta perbedaan fitrat malaikat dengan  Fitrat manusia:    
    “Jika ada manusia yang tidak mematuhi kaidah dari hukum Ilahi maka ia akan terbawa kepada takdir dari Ilahi. Tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari ruang lingkup kedua kaidah tersebut. Setiap orang sujud kepada kerajaan langit dalam suatu bentuk atau lainnya. Memang benar bahwa berkenaan dengan kesucian dan kekotoran kalbu manusia, sikap ketidak-acuhan dan kepatuhan kepada Allah silih berganti muncul di muka bumi, namun pasang naik dan surut ini tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena mematuhi keinginan Samawi.
    Terjadilah apa pun yang diinginkan oleh Allah Swt.. Silih ganti antara periode adanya petunjuk (dzikir Ilahi) dan kealpaan atau kelalaian manusia berlangsung sama seperti peralihan malam dengan siang, sejalan dengan nur dan perintah Allah  Swt. dan tidak terjadi dengan sendirinya.  Walaupun demikian, semuanya tetap mendengar suara-Nya dan mengagungkan nama-Nya.
     Adapun kitab Injil menyatakan bahwa bumi ini sepi dari pengkudusan Tuhan dan yang dijadikan alasan adalah karena katanya kerajaan Tuhan belum mewujud di bumi. Karena itulah keinginan Ilahi belum berfungsi di bumi sebagaimana telah berlaku di sorga. Ajaran Al-Quran menolak pandangan seperti itu.
    Kitab Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa tidak ada pencuri, pembunuh, pezinah atau para perusuh yang akan melakukan kekejian di muka bumi kecuali memang diizinkan oleh Samawi. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan langit tidak berfungsi di bumi?
       Apakah ada wujud yang berdiri menghalangi pelaksanaan keinginan Tuhan di bumi? Jelas tidak. Allah  Swt.  Sendirilah yang menciptakan sebentuk kaidah bagi para malaikat di langit dan kaidah lainnya bagi manusia di bumi. Dalam kerajaan langit-Nya  Tuhan tidak memberikan hak memilih kepada para malaikat. Kepatuhan sudah merupakan bagian yang inheren (melekat) dalam fitrat mereka. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk membantah. Mereka tidak bisa melakukan kesalahan atau kealpaan (kelalaian).
   Adapun bagi fitrat manusia diberikan kesempatan untuk memilih atau membantah. Karena kesempatan memilih ini berasal dari langit (Tuhan)  maka tidak bisa dikatakan bahwa akibat ketidakpatuhan manusia lalu kerajaan Tuhan diluputkan di muka bumi. Sesungguhnya Kerajaan Tuhan  beroperasi setiap saat dan dengan segala cara.
    Memang benar bahwa terdapat dua sistem kaidah. Yang satu adalah untuk para malaikat di langit berbentuk takdir Ilahi yang harus dipatuhi oleh para malaikat, dan kaidah lainnya adalah yang berfungsi di bumi dimana manusia diberikan kesempatan untuk memilih di antara kebaikan dan kejahatan. Hanya saja jika manusia mau memohon kepada Tuhan-nya agar diberi kekuatan mengalahkan kebathilan maka dengan bantuan Ruhulkudus ia akan bisa mengatasi kelemahan dirinya dan memelihara dirinya dari dosa sebagaimana halnya para rasul dan nabi Allah Swt..
    Jika mereka yang berdosa mau mengajukan permohonan pengampunan kepada Tuhan-nya maka mereka akan dipelihara  dari konsekwensi (akibat) kejahatan mereka dan mereka tidak akan lagi dihukum karenanya, sebab jika sudah datang terang maka gelap pun akan menghilang. Adapun para pendosa yang tidak memohon pengampunan maka mereka akan dihukum karena dosa-dosa mereka.  
  Sekarang ini telah datang wabah pes ke muka bumi sebagai bentuk penghukuman, dan mereka yang durhaka telah dimusnahkan karenanya. Lalu bagaimana bisa mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum berfungsi di muka bumi? Jangan lalu berpendapat bahwa jika sudah ada kerajaan Tuhan di muka bumi, lalu mengapa masih saja ada dosa yang dilakukan manusia. Yang namanya dosa juga tunduk kepada kaidah takdir Ilahi. Meskipun si pelaku dosa itu bisa menempatkan dirinya di luar lingkup hukum syariat, mereka tetap saja tidak terbebas dari hukum takdir. Karena itu bagaimana mengatakan bahwa para pendosa tidak harus tunduk kepada gandar  (ketentuan) kerajaan Ilahi?”

Penangguhan   Hukuman  Agar Manusia  Mendapat Kesempatan Bertobat dan Meraih Kemajuan  Dalam Kebaikan

     Kemudian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan hikmah diberikan-Nya  penangguhan hukuman  Allah Swt.  terhadap   dosa-dosa   manusia:
    "Bila kaidah Ilahi dibentuk berupa penghukuman yang amat keras dimana setiap pezina  misalnya dihantam dengan petir atau setiap pencuri tangannya dijangkiti penyakit yang akan membusukkan dan merontokkan tangannya,   sedangkan mereka yang durhaka terhadap Tuhan akan mati karena wabah maka dalam waktu seminggu saja seluruh dunia ini akan berubah menjadi orang-orang saleh yang  bertakwa.
      Memang lalu langsung terbentuk kerajaan Tuhan di bumi ini, tetapi nyatanya kaidah samawi telah memberikan kemerdekaan sehingga para pendurhaka tidak langsung dihukum. Namun demikian azab penghukuman ini juga berlangsung terus. Gempa bumi bisa muncul di mana saja, petir bisa menyambar, gunung bisa meletus yang membunuh ribuan nyawa, kapal-kapal bisa tenggelam, kereta api bisa celaka, badai bisa muncul, rumah bisa rubuh, ular bisa mematuk, hewan buas bisa mencabik dan penyakit bisa mewabah yang semuanya atau masing-masing merupakan sarana penghukuman dan mengganjar mereka yang berdosa. Karena itu bagaimana bisa mengatakan bahwa kerajaan Tuhan tidak berfungsi di bumi?
     Kenyataannya kerajaan itu memang ada di sini. Setiap pendosa mempunyai belenggu di tangan dan rantai di kakinya, namun takdir Ilahi sudah dilunakkan sedemikian rupa,  sehingga belenggu dan rantai itu tidak  langsung berfungsi. Namun jika si pendosa itu terus saja dalam kesalahannya maka rantai itu akan membawanya ke neraka dimana ia akan mati pun tidak dan hidup pun tidak.
      Pendek kata, dalam hal ini ada dua sistem kaidah, dimana yang satu berkaitan dengan para malaikat yang memang diciptakan untuk selalu taat sehingga kepatuhan itu menjadi ciri dari kecemerlangan wujud mereka. Mereka tidak mampu melakukan dosa tetapi mereka juga tidak bisa mencapai kemajuan dalam kebajikan.   Sistem kaidah atau fitrat yang kedua berkaitan dengan manusia dimana menurut fitratnya mereka itu bisa melakukan dosa, tetapi mereka juga bisa memperoleh kemajuan dalam kebajikan.
    Kedua sistem kaidah ini tidak akan berubah, sebagaimana malaikat tidak bisa menjadi manusia, begitu juga manusia tidak akan bisa menjadi malaikat. Sistem kaidah ini bersifat abadi dan tidak akan berubah. Kaidah yang berlaku di langit tidak akan berfungsi di bumi, begitu juga kaidah bumi tidak akan berlaku di antara para malaikat. Dalam hal manusia pendosa kemudian bertobat maka manusia bisa menjadi lebih baik daripada malaikat,  sedangkan malaikat sendiri tidak bisa memperoleh kemajuan dalam kebajikan.
    Dosa manusia bisa diampuni melalui pertobatan.  Hikmah Ilahi terkadang membiarkan beberapa orang bebas melakukan dosa-dosa agar mereka kemudian menyadari kelemahan mereka dan memperoleh pengampunan karena pertobatan. Demikian itulah kaidah yang ditetapkan dan sesuai dengan fitrat manusia. Alpa (lalai) dan  lupa  merupakan ciri fitrat manusia dan ciri ini tidak ada pada malaikat, karena itu kaidah yang mengatur para malaikat tidak bisa diterapkan kepada manusia.”
     Sehubungan dengan hikmah diberikan-Nya penangguhan hukuman atas dosa-dosa manusia Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ یُعَجِّلُ اللّٰہُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسۡتِعۡجَالَہُمۡ بِالۡخَیۡرِ لَقُضِیَ اِلَیۡہِمۡ اَجَلُہُمۡ ؕ فَنَذَرُ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا فِیۡ  طُغۡیَانِہِمۡ  یَعۡمَہُوۡنَ﴿﴾
Dan  seandainya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti keinginan mereka untuk segera memperoleh yang baikلَقُضِیَ اِلَیۡہِمۡ اَجَلُہُمۡ  --     niscaya  jangka waktu  mereka akan diputuskan, فَنَذَرُ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا فِیۡ  طُغۡیَانِہِمۡ  یَعۡمَہُوۡنَ -- tetapi Kami membiarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkelana bingung dalam kedurhakaan mereka. (Yunus [10]:12). Lihat pula QS.17:12.
       Berhubung kata khair berarti pula kekayaan (Lexicon Lane), maka ayat ini berarti, bahwa orang mencurahkan segala kekuatannya untuk memperoleh kekayaan dan mereka mengabaikan Allah Swt. sama sekali. Kelakuan mereka  seperti itu solah-olah menuntut agar mereka segera  ditimpa kemalangan, sebagaim,ana kelakuan buruk kaum Saba (QS.34:16-20).
      Tetapi Allah  Swt.    sangat lambat dalam menjatuhkan hukuman. Jika  Allah Swt. menghukum manusia secepat kelayakan perilaku buruk mereka untuk dihukum, niscaya mereka telah lama binasa, sehingga jika demikian maka semua makhluk lainnya pun akan segera punah sebab  keberadaannya sudah tidak diperlukan lagi.

Berbagai Macam  Perubahan  Melalui Sifat Rabubiyat-Nya Senantiasa Berlaku di Seluruh Langit dan Bumi

       Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menerangkan bahwa  sejak awal penciptaan alam semesta (QS.21:31) Sifat Rabubiyat Allah Swt. senantiasa bekerja:
    “Adalah suatu kesalahan untuk mengalamatkan suatu kelemahan kepada Wujud Allah Yang Maha Kuasa.  Akibat dari berfungsinya kaidah itulah yang dimanifestasikan (dilaksanakan) di bumi. Apakah Tuhan itu memang sedemikian lemahnya sehingga kerajaan, kekuasaan dan keagungan-Nya hanya dibatasi di langit saja,  ataukah ada sosok lainnya yang memang menguasai bumi?”         
     Sepatutnya umat Kristiani tidak menekankan bahwa kerajaan Tuhan hanya berfungsi di langit dan belum berlaku di bumi, sedangkan mereka menganggap bahwa langit tidak ada wujudnya. Kalau langit memang tidak ada wujudnya untuk tempat berfungsinya kerajaan Tuhan sedangkan kerajaan itu belum ada di bumi, berarti kerajaan Tuhan tidak ada dimana-mana. Padahal kita menyaksikan bagaimana kerajaan Tuhan beroperasi di bumi ini.
     Sejalan dengan kaidah-Nya maka hidup kita suatu waktu akan berakhir dan keadaan kita selalu berubah terus menerus. Kita mengalami beratus macam bentuk kenikmatan dan kepedihan. Ribuan manusia yang mati karena takdir Ilahi dan beribu-ribu lagi yang dilahirkan. Doa-doa mendapat pengabulan, tanda-tanda samawi diperlihatkan dan bumi ini menumbuhkan beribu macam sayuran, buah dan bunga karena takdir-Nya. Apakah semua ini terjadi tanpa berdaulatnya kerajaan Allah?
     Benda-benda langit mengalami perubahan tetapi kita tidak menyadarinya, dan hal ini menunjukkan bahwa ada Wujud Yang membawa perubahan. Adapun bumi selalu mengalami perubahan dari hari ke hari. Setiap hari berjuta manusia meninggalkan dunia dan berjuta lagi yang dilahirkan dan dalam semuanya itu pengendalian kuat dari Sang Maha Pencipta amat terasa. Apakah masih saja tidak diakui bahwa ada kerajaan Tuhan di bumi?
     Kitab Injil tidak menjelaskan alasan mengapa kerajaan Tuhan belum tiba di dunia. Memang benar bahwa Nabi Isa a.s. berdoa memohonkan kelepasan diri beliau di taman Gethsemane sepanjang malam dan sebagaimana tercatat dalam Surat Kepada Orang Iberani pasal 5 ayat 7 dinyatakan bahwa doa itu dikabulkan namun Tuhan (dianggap)  tidak mempunyai kekuasaan untuk menolong beliau.”

Pengalaman Pribadi Masih Mau’ud a.s. dan  Dalil-dalil Al-Quran Menolak Alasan Kepercayaan Umat Kristen 

   Lebih lanjut atas dasar pengalaman pribadinya Masih Mau’ud a.s. membantah kekaliruan pendapat umat Krsiten mengenai  belum eksisnya “Kerajaan Tuhan” di bumi:  
     “Hal ini menurut umat Kristiani merupakan alasan yang menguatkan bahwa pada saat itu tidak ada kerajaan Tuhan di bumi. Aku sendiri sudah banyak mengalami cobaan yang lebih berat, tetapi nyatanya aku telah diselamatkan. Bagaimana mungkin aku menyangkal kerajaan Tuhan? Apakah perkara yang diadili oleh hakim Captain Douglas menyangkut perkara yang dituduhkan oleh Martyn Clarke bahwa aku dituduh merencanakan pembunuhan, adalah lebih ringan daripada tuduhan yang dibawa umat Yahudi kepada hakim Pilatus terhadap Yesus yang hanya berkaitan dengan perbedaan pandangan keagamaan?
     Nyatanya Allah Swt. sebagai Raja bumi ini sebagaimana  Dia juga Raja di langit telah memberitahukan di awal (sebelumnya)  bahwa akan ada kasus perkara seperti itu dan bahwa pada akhirnya aku akan dibebaskan. Hal ini telah diberitahukan   sebelumnya kepada beratus-ratus orang dan nyatanya aku kemudian dibebaskan.
    Adalah kerajaan Tuhan yang telah menyelamatkan aku dari perkara tuntutan yang merupakan usaha bersama orang-orang Muslim, Hindu dan Kristen yang memusuhi aku. Tidak hanya sekali, bahkan berpuluh kali aku menyaksikan kerajaan Tuhan beroperasi di bumi dan aku sewajarnya mengimani ayat:
لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۚ
Kepunyaan Dia-lah kerajaan seluruh langit dan bumi’ ( Al-Hadīd [57]:3)
dan aku meyakini ayat:
اِنَّمَاۤ  اَمۡرُہٗۤ   اِذَاۤ   اَرَادَ  شَیۡئًا اَنۡ یَّقُوۡلَ  لَہٗ کُنۡ  فَیَکُوۡنُ
Sesungguhnya  perintah-Nya  apabila Dia menghendaki sesuatu, ialah Dia hanya berfrman mengenai itu “Jadilah” maka jadilah ia’ (Yā Sīn [36]:83).
     Berarti bahwa langit dan bumi tunduk kepada-Nya dan bila Dia bermaksud mengadakan sesuatu maka Dia cukup mengatakan ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia. Dikatakan juga bahwa:
وَ اللّٰہُ غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ
Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya’ (Yusuf [12]:22),
       Yang berarti bahwa Allah Swt. berkuasa penuh atas segala rancangan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak menyadari keagungan dan kekuasaan-Nya tersebut.
        Hanya sedemikian itulah cara doa yang diajarkan dalam Kitab Injil yang telah memupuskan harapan manusia akan rahmat Tuhan dan menjadikan umat Kristiani melupakan Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya, karena mereka beranggapan bahwa Tuhan baru akan mampu memberikan pertolongan di bumi sampai nanti jika kerajaan-Nya telah tiba di dunia.

Doa  yang Memberikan  Harapan Dalam Surah Al-Fatihah

     Sebaliknya dengan doa yang diajarkan Allah Swt.  kepada umat Muslim melalui Al-Quran, bahwa Tuhan mereka bukanlah sosok yang tidak berdaya di bumi dan bahwa Sifat-sifat  Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi di bumi ini, dan bahwa Dia berkuasa menolong para penyembah-Nya dan menghancurkan para pendosa dengan kemurkaan-Nya. Doa tersebut berbunyi:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾  الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪ ﴿﴾
Segala puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) semesta alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang mempunyai Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Tuntunlah kami kepada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat’ (Al-Fatihah [1]2-7).
      Berarti hanya Allah saja yang patut menerima semua pujian. Tidak ada cacat  cela dalam kerajaan-Nya. Tidak ada yang masih harus ditunggu dari Sifat-sifat luhur-Nya yang dianggap belum ada sekarang. Tidak ada kesia-siaan dalam tata kerajaan-Nya. Dia telah memelihara seluruh alam. Dia mengaruniakan rahmat-Nya sepenuhnya tanpa harus ada tindakan dari manusia atau sebagai imbalan bagi kinerja manusia. Dia menyampaikan ganjaran dan penghukuman pada saatnya yang tepat. Kita menyembah-Nya dan memohon kepada-Nya agar ditunjuki jalan yang membawa rahmat dan menjauhkan kita dari jalan yang akan membawa kemurkaan-Nya serta jalan yang salah.
   Doa yang dikemukakan dalam Surah Fatihah ini sama sekali berlawanan dengan doa yang diajarkan dalam Kitab Injil, karena Injil tidak mengakui bahwa kerajaan Tuhan sudah ada di muka bumi ini. Menurut Injil tidak ada dari Sifat-sifat  Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat Allah Swt. yang berfungsi di dunia karena kerajaan Tuhan belum datang.

Empat Syarat Utama yang Harus Dimiliki Seorang Raja (Penguasa) yang Hakiki

    Adapun Surah Fatihah memastikan bahwa kerajaan Tuhan sudah ada di dunia dan semua sendi pokok kerajaan itu dikemukakan dalam Surah tersebut. Dari sana bisa diteladani bahwa seorang penguasa atau raja harus memiliki sifat-sifat:
   Sifat pertama, ia harus memiliki kekuasaan memelihara rakyatnya sebagaimana dinyatakan Surah Fatihah bahwa Tuhan adalah (Rabb) Pemelihara alam semesta.
       Sifat kedua dari seorang penguasa adalah bisa menyediakan apa pun yang dibutuhkan rakyatnya dari kekayaannya sendiri, semuanya itu bukan sebagai ganjaran kepada rakyatnya tersebut. Surah Fatihah menyebut Tuhan sebagai Ar-Rahmān (Maha Pemurah) karena sifat-Nya ini.
       Sifat ketiga yang harus dimiliki seorang raja atau penguasa adalah menolong rakyatnya mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan kekuatan mereka sendiri. Surah Fatihah menegaskan sifat ini sebagai Rahīm (Maha Penyayang).
   Sifat keempat yang harus dimiliki seorang penguasa adalah kekuasaan memberikan ganjaran dan penghukuman demi tertibnya kondisi sosial. Surah Fatihah mengemukakan sifat ini sebagai Māliki Yaumiddin (Pemilik Hari pembalasan).
      Singkat kata, Surah ini mencerminkan semua pokok-pokok kepemimpinan yang membuktikan bahwa kerajaan Tuhan dan pengendalian kerajaan sudah berfungsi selama ini di dunia. Perhatikanlah, yang harus dipahami sepenuhnya adalah setiap zarah di muka  bumi tunduk kepada pengendalian Tuhan (Rabubiyat), dan setiap partikel di alam semesta ini merupakan bagian dari kerajaan-Nya.
      Sebagaimana terdapat manifestasi akbar di langit, akan begitu juga di muka bumi. Manifestasi di langit menyangkut masalah keruhanian. Umumnya manusia belum pernah naik ke langit dan menyaksikan manifestasi demikian, tetapi manifestasi kerajaan Tuhan di bumi ini jelas bisa dilihat mata semua manusia. Setiap makhluk hidup, betapa pun kayanya yang bersangkutan dan walau bertentangan dengan keinginannya sendiri, pasti akan mengalami maut (mati).
     Perhatikanlah bagaimana manifestasi sabda sang Raja menjadi nyata di bumi ini yaitu ketika perintah-Nya datang maka tidak ada seorang pun akan mampu menunda kematiannya walaupun sedetik. Jika seseorang menderita penyakit yang fatal maka tidak akan ada dokter yang mampu menyembuhkannya.
    Renungkanlah bagaimana manifestasi kerajaan Tuhan di bumi dalam bentuk bahwa perintah-Nya tidak mungkin dibantah. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di bumi ini belum berwujud dan baru akan datang di kemudian hari?

Merebaknya Wabah Pes yang  Sangat Dahsyat & Manifestasi “Kerajaan Tuhan” di Seluruh Langit  dan Bumi

    Pada masa kini, perintah Tuhan dari langit telah mengguncangkan bumi dengan telah datangnya wabah pes, agar hal ini menjadi tanda bagi kebenaran Al-Masih yang telah dijanjikan-Nya. Siapakah yang mampu mengatasinya tanpa perkenan-Nya? Karena itu bagaimana mungkin kita akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum ada di muka bumi?
  Para pendosa hidup di dunia ini laiknya seorang tahanan bumi dan mengharapkan akan hidup selamanya, namun kerajaan Tuhan akan menghancurkannya dengan mengirim malaikat maut untuk menjemputnya. Bagaimanakah akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan belum ada di dunia?
     Setiap harinya melalui perintah Tuhan, berjuta manusia mati dan berjuta pula yang dilahirkan, berjuta manusia yang miskin menjadi kaya dan berjuta juga manusia kaya yang menjadi miskin. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di bumi ini belum berwujud dan baru akan datang di kemudian hari?
     Di langit hanya ada para malaikat, sedangkan di bumi ini terdapat manusia disamping juga para malaikat yang menjadi abdi dan pelayan kerajaan-Nya. Para malaikat ini yang mengawasi berbagai kelakuan manusia, patuh kepada Tuhan sepanjang waktu, serta mengirimkan laporan mereka kepada-Nya. Jadi, bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada kerajaan Tuhan di muka bumi?
   Tuhan terutama sekali dikenal melalui kerajaan-Nya di bumi karena semua orang menganggap bahwa misteri langit merupakan rahasia yang tidak bisa dibuktikan. Belum lama ini umat Kristen beserta para ahli filosofi mereka telah menyangkal adanya langit yang oleh Kitab Injil dijadikan sebagai dasar dari kerajaan Tuhan.
     Adapun di bumi yang berada di bawah tapak kaki kita bisa dilihat berbagai manifestasi beribu-ribu takdir Ilahi dan semua itu menyadarkan kita bahwa semua perubahan, kelahiran dan kematian adalah berdasar pengaturan dari suatu Wujud Penguasa. Lalu bagaimana akan mengatakan bahwa kerajaan Tuhan di bumi ini belum berwujud?
    Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung tidak ada menyebut kata langit atau bumi dalam Surah Fatihah, namun Dia mengemukakan realitasnya kepada kita bahwa Tuhan itu bersifat Rabbul ‘Alamīn. Dengan kata lain, melalui semua ciptaan, baik jiwa atau pun raganya, disimpulkan bahwa Tuhan itulah Pencipta dan Pemelihara (Rabb) semuanya serta yang menghidupi dan mengurus mereka.
      Sifat  Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat-Nya selalu berfungsi setiap saat di seluruh alam semesta. Perlu diperhatikan bahwa dengan istilah Māliki Yaumiddin dalam Surah Fatihah tidak berarti bahwa ganjaran dan penghukuman hanya akan dilakukan pada Hari Penghisaban saja. Kitab suci Al-Quran telah berulangkali menjelaskan bahwa Hari Penghisaban memang merupakan saat pengganjaran akbar, hanya saja ada bentuk pengganjaran yang sudah dimulai di dunia ini sebagaimana diungkapkan dalam ayat:
اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا  ﴿﴾
Jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagimu suatu pembeda (Al-Anfāl [6]:30).”  (Kisyti Nuh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 29-39, London, 1984).

(Bersambung)
                                                                              
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 22 Oktober  2015



[1] Injil Matius 6:9-13. (Penterjemah/ Khalid  A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar