Rabu, 14 Oktober 2015

Alam Semesta dan Seluruh Partikelnya Merupakan Ciptaan (Makhluk) Allah Swt., Termasuk Ruh Manusia dan Semua Kemampuannya & Hikmah Adanya Perbedaan di Kalangan Makhluk-Nya



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 66

Alam Semesta dan Seluruh Partikelnya  Merupakan Ciptaan (Makhluk) Allah Swt. Termasuk Ruh  Manusia dan Semua Kemampuannya   & Hikmah Adanya Perbedaan  di Kalangan Makhluk-Nya

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai  makna ayat:   وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَکُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ  -- “Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menciptakan di atas kamu tujuh jalan ruhani,  وَ  مَا کُنَّا عَنِ  الۡخَلۡقِ غٰفِلِیۡنَ  -- dan Kami sekali-kali tidak   lalai dari penciptaan.”  
     Enam tingkat kemajuan ruhani yang dilukiskan dalam sepuluh ayat pertama Surah Al-Mu’minūn  menjadi tujuh  jika “surga” (ayat 12) dihitung sebagai tingkat terakhir bagi perkembangan ruhani manusia. Demikian pula, bila tingkat persiapan sebelum pembentukan air mani  وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ  مِّنۡ طِیۡنٍ  --  “dan sungguh  Kami benar-benar  telah menciptakan  insan  (manusia) dari sari tanah liat”   ditambahkan kepada enam tingkat perkembangan mudigah,  maka angka ini pun menjadi tujuh pula, firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ ۙ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ  مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِلزَّکٰوۃِ  فٰعِلُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ ۙ﴿﴾  اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ   مَلُوۡمِیۡنَ ۚ﴿﴾  فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ  ۘ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sungguh  telah berhasil   orang-orang yang beriman,  yaitu orang-orang yang khusyuk  dalam shalatnya,    dan  orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia,   dan  orang-orang yang membayar zakat,   لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ  الَّذِیۡنَ ہُمۡ وَ -- dan  orang-orang yang menjaga kemaluannya,  ۙ  مَلُوۡمِیۡنَ اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ     --  kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela, فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ --    tetapi barangsiapa mencari selain dari itu  maka mereka itu  orang-orang yang melampaui batas.     Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka,   dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka.  اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡوٰرِثُوۡنَ -- Mereka itulah pewaris,  الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ --   yaitu  orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka akan   kekal di dalamnya. (Al-Mu’minūn [23]:1-12).
       Dengan demikian “tujuh jalan dalam langit ruhani” yang telah disinggung dalam firman-Nya tersebut   bersesuaian dengan tujuh tingkat perkembangan jasmani manusia yang telah disebut dalam Surah Al-Mu’minūn  ayat 13-15. firman-Nya: 
 وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ  مِّنۡ طِیۡنٍ ﴿ۚ ﴾  ثُمَّ  جَعَلۡنٰہُ  نُطۡفَۃً  فِیۡ قَرَارٍ مَّکِیۡنٍ ﴿۪ ﴾  ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَۃَ عَلَقَۃً  فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَۃَ مُضۡغَۃً         فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ٭ ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ ؕ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ  اَحۡسَنُ  الۡخٰلِقِیۡنَ ﴿ؕ ﴾  
Dan sungguh  Kami benar-benar  telah menciptakan  insan  (manusia) dari sari tanah liat, kemudian Kami menjadikannya air mani di dalam tempat penyimpanan yang kokoh. Kemudian Kami menciptakan air mani menjadi segumpal darah, maka Kami menciptakan  segumpal darah itu menjadi segumpal daging, maka Kami menciptakan dari segumpal daging itu tulang-tulang, kemu-dian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ -- kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain,    الۡخٰلِقِیۡنَ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ  اَحۡسَنُ --   maka Maha Berkat Allah,  Sebaik-baik Pencipta (Al-Mu’minūn [23]:13-15).
  
Ruh Manusia dengan Semua Partikel Tubuhnya serta Seluruh Kemampuannya Merupakan Ciptaan Allah Swt. dan Milik-Nya

     Sehubungan dengan  keberlangsungan kehidupan  ruh manusia yang tidak terbatas di alam akhirat   -- yakni di dalam surga – tersebut Masih mau’ud a.s. bersabda:
    “Kitab suci Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa manusia bersama ruh dan seluruh kapasitas (kemampuan) serta segenap partikel dari dirinya adalah ciptaan  Allah Swt..  Karena itu berdasarkan petunjuk arahan Al-Quran, kita ini sepenuhnya adalah milik Allah Swt. dimana kita tidak mempunyai hak menggugat apa pun atas Wujud-Nya karena menganggap Dia tidak memberikan hal-hal yang dianggap sebagai tanggungjawab-Nya.
    Jika demikian adanya maka kita tidak bisa menganggap-Nya sebagai Yang Maha Adil. Mengingat kita ini pada dasarnya memang bertangan hampa, karena itu kita menyebut Diri-Nya sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang).  Jika kita merasa mempunyai hak atas Tuhan agar melakukan apa yang kita inginkan, kita tidak bisa menyebut-Nya lagi sebagai Yang Maha Adil karena jika Dia tidak melakukan apa yang kita inginkan maka Dia bisa dianggap sebagai telah melakukan kesalahan.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm. 36, London, 1984).
    Masih dalam buku yang sama selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  mengemukakan argumentasi bahwa segala sesuatu di alam semesta ini   -- termasuk manusia dengan segala kemampuannya  serta ruhnya  -- adalah ciptaan  Allah Swt. dan milik-Nya:
    “Bukannya tanpa alasan jika Kitab Suci Al-Quran menyebut Yang Maha Agung sebagai Penguasa dari semua ruh dan semua partikel jasmani yang bukan hanya semata-mata karena kekuasaan-Nya saja sebagaimana dikemukakan dalam kitab Veda. Kitab Al-Quran mengemukakan alasannya sebagai:
لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  ......﴿ ﴾
  Kepunyaan-Nya Dia-lah kerajaan seluruh langit dan bumi (Al-Hadīd [57]:3).
خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا ﴿﴾
Dia telah menciptakan segala sesuatu dan telah menetapkan ukurannya yang tepat (Al-Furqān [25]:3).
    Berarti bahwa langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya adalah milik Tuhan karena Dia-lah Yang telah menciptakan semua itu. Dia telah menetapkan suatu batasan pada kemampuan dan kinerja dari semua makhluk ciptaan-Nya agar yang merasakan segala keterbatasan tersebut akan mengarah atau cenderung kepada Sang Pembatas yang adalah Allah Yang Maha Kuasa itu  sendiri.
     Jika kita perhatikan, jasmani dibatasi oleh keterbatasannya sendiri dan tidak bisa melampauinya, begitu juga dengan ruhani yang bersifat terbatas dan tidak mampu menciptakan kekuatan atau kemampuan tambahan melebihi dari yang telah ditanamkan dalam diri mereka. Sebagai contoh, bulan menyelesaikan orbitnya dalam jangka waktu satu bulan sedangkan matahari menyelesaikannya dalam jangka waktu 365 hari. Matahari tidak bisa mengurangi orbitnya menjadi sebesar orbit bulan, begitu juga bulan tidak bisa mengembangkan orbitnya menjadi sebesar matahari.
     Walaupun seluruh isi dunia bersepakat mencoba mengubah orbit kedua benda langit itu, nyatanya hal itu merupakan suatu yang tidak mungkin. Begitu juga bulan dan matahari itu tidak dapat merubah orbitnya dengan kekuatan atau maunya sendiri. Wujud Yang membatasi benda-benda langit ini pada orbitnya masing-masing adalah Allah Yang Maha Kuasa.
    Begitu juga dengan adanya perbedaan yang besar di antara tubuh manusia dengan tubuh gajah. Misalnya pun semua dokter bekerja sama mencoba merubah kapasitas manusia dalam wujudnya menjadi sebesar gajah, tidak akan mungkin mereka bisa melakukannya.
    Sama halnya jika mereka mencoba membatasi dimensi gajah menjadi sebesar manusia, akan menjadi sama mustahilnya. Dalam hal ini pun terdapat pembatasan seperti halnya pada matahari dan bulan dan pembatasan itu mengindikasikan adanya Wujud Sang Pembatas.
   Wujud inilah yang mengaruniakan dimensi besar kepada gajah dan dimensi yang lain bagi manusia. Kalau saja manusia mau merenungi maka akan disadari adanya sistem pengendalian tersembunyi yang amat mengagumkan dari Allah Yang Maha Kuasa atas semua benda  fisik (jasmani) yang ada.
   Kita bisa melihat bukti adanya pembatasan tersebut pada serangga yang demikian kecil sehingga harus dilihat di bawah mikroskop sampai hewan laut yang demikian besar yang bisa menelan perahu. Dari sini kita menyadari bahwa tidak ada hewan yang bisa melewati batas dari dimensi dirinya, sebagaimana juga dengan benda-benda langit.
     Semua bentuk pembatasan demikian menunjukkan bahwa di belakang layar ada Wujud Yang menentukan batasannya. Hal inilah yang dimaksud dalam ayat:
خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا ﴿
Dia telah menciptakan segala sesuatu dan telah menetapkan ukurannya yang tepat (Al-Furqān [25]:3).
    Bentuk pembatasan yang sama selain pada dimensi fisik, juga berlaku di bidang ruhani. Kita memahami sepenuhnya bahwa bentuk keluhuran ruhani manusia dan kemampuan pengembangannya  tidak terdapat pada jiwa seekor gajah meski badannya demikian besar. Begitu juga ruh dari setiap hewan yang terbatas hanya pada batasan spesinya (jenisnya) masing-masing di bidang sifat dan kapasitasnya. Semua pembatasan pada segala benda fisik mau pun pada kapasitas keruhanian ini mengindikasikan adanya Wujud Sang Pembatas dan Sang Pencipta.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm. 17-19, London, 1984).

Hikmah Penciptaan Makhluk  dan Adanya Perbedaan Derajat

  Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan hikmah mengapa Allah Swt. menciptakan  berbagai makhluk-Nya (ciptaan-Nya) berbeda-beda dalam bentuk serta sifat-sifatnya:  
  “Akan menjadi suatu pencerobohan bagi kinerja Allah Swt. jika kita mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakan perbedaan kemampuan di antara makhluk, dan mengapa setiap orang tidak diberikan saja kemampuan yang memungkinkan baginya mencapai tingkat pemahaman dan kecintaan Tuhan yang sempurna
    Setiap orang yang berfikir tentunya mampu memahami, bahwa tidak ada seorang pun yang berhak menggugat Tuhan agar memberikan derajat yang sama dan sifat-sifat yang sempurna kepada setiap orang. Adalah menjadi bagian dari berkat-Nya untuk mengkaruniakan apa pun yang diinginkan-Nya.
     Sebagai contoh, Tuhan telah menjadikan kalian sebagai manusia dan bukan sebagai keledai. Kalian diberikan kemampuan berfikir dan keledai tidak demikian. Kalian bisa memperoleh pengetahuan dan keledai tidak. Hal ini adalah karena keinginan dari Yang Maha Kuasa dan tidak ada kaitannya dengan hak kalian atau pun hak keledai tersebut.
     Di antara makhluk ciptaan Tuhan terdapat pembedaan derajat yang tidak bisa dibantah oleh seorang yang waras. Lalu bisakah makhluk yang sebenarnya tidak mempunyai hak untuk eksis (ada/mewujud)  apalagi hak untuk menuntut derajat yang lebih tinggi, lalu mengajukan gugatan keberatan terhadap Yang Maha Berkuasa?
   Adalah berkat Sifat Rahmān (Maha Pemurah) dan Rahīm-Nya (Maha Penyayang) itulah maka Allah Yang Maha Kuasa mengaruniakan kewujudan atas segala makhluk-Nya dimana sebagai Sang Dermawan tentunya memiliki kewenangan untuk mengatur karunia dan rahmat-Nya. Kalau Dia tidak mempunyai kewenangan untuk mengaruniakan dalam volume (isi) yang lebih sedikit, dengan sendirinya juga Dia tidak mempunyai kewenangan memberikan lebih,  dan hal seperti itu akan menjadikan pelaksanaan Sifat ke-Tuhan-Nya itu menjadi terkendala.
    Jika yang namanya makhluk mempunyai hak yang bisa digugatkan kepada Pencipta-Nya maka hal itu akan menimbulkan rangkaian tuntutan yang tidak ada habisnya, karena apa pun derajat yang diberikan  Sang Pencipta tetap saja akan digugat oleh makhluk ciptaan tersebut,  yang merasa bahwa dia patut memperoleh lebih.
    Demikian pula bila diyakini bahwa Allah Yang Maha Kuasa bisa menciptakan tingkatan derajat yang tidak ada batasnya, sedangkan kesempurnaan ciptaan tidak berhenti hanya pada wujud manusia, maka rangkaian tuntutan hak demikian itu akan menjadi tidak ada akhirnya.

Tiga Macam Kebijaksanaan Allah Swt. & Adanya Perbedaan Dalam Kecenderungan dan Kemampuan Makhluk-Nya Agar Terjalin Kerja-sama yang Baik

   Kalau ada yang ingin mendalami apa yang menjadi dasar kebijakan dari pembedaan derajat tersebut, kiranya patut dipahami bahwa Kitab Suci Al-Quran telah mengemukakan tiga bentuk kebijaksanaan dalam konteks tersebut secara jelas dan tidak bisa dibantah oleh orang yang waras.
    Yang pertama adalah agar permasalahan di dunia ini bisa diatur sebaik mungkin sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنُ عَلٰی رَجُلٍ مِّنَ الۡقَرۡیَتَیۡنِ  عَظِیۡمٍ ﴿   اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ ؕ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا سُخۡرِیًّا ؕ وَ رَحۡمَتُ رَبِّکَ خَیۡرٌ  مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ ﴿
Mereka berkata: “Mengapakah Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang orang besar dari kedua kota itu?” Adakah mereka waktu itu yang membagi-bagikan rahmat Rabb (Tuhan)  kamu?  Kami-lah Yang membagi-bagikan di antara mereka bekal hidup mereka dalam kehidupan duniawi ini, dan Kami mengangkat sebagian mereka di atas sebagian yang lain dalam derajat, supaya sebagian dari mereka membuat yang lainnya tunduk patuh kepada mereka sendiri. Dan rahmat Rabb (Tuhan) engkau adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan’ (Az-Zukhruf [43]:32-33).
      Orang-orang kafir mempertanyakan mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada beberapa kepala suku atau orang-orang kaya di Makkah atau Thaif sehingga akan menjadi sepadan dengan ketinggian derajat mereka, dimana melalui nama besar, kekayaan serta kepemimpinan mereka maka agama ini akan bisa berkembang lebih cepat. Mengapa yang dipilih untuk tugas seperti itu justru adalah seorang yang miskin yang tidak mempunyai kekayaan?
   Kepada mereka itulah diarahkan sergahan Tuhan, yaitu apakah memang menjadi tugas mereka untuk mengarahkan pembagian rahmat dari Allah Yang Maha Kekal. Adalah menjadi kebijaksanaan-Nya untuk membatasi kemampuan dan sifat-sifat dari mereka yang hanya tertarik kepada hal-hal yang bersifat duniawi dan membanggakan dirinya sebagai kepala suku atau orang kaya, sehingga melupakan tujuan utama eksistensi (keberadaan) mereka. Adapun kepada yang lainnya Dia mengkaruniakan rahmat dan kesucian keruhanian dimana mereka lalu menjadi kekasih Allah Yang Maha Penyayang karena pengabdian mereka kepada-Nya.
   Berikutnya dijelaskan bagaimana Tuhan menjadikan sebagian dari manusia menjadi kaya-raya dan yang lainnya miskin, ada yang diberkati dengan sifat-sifat yang baik dan yang lainnya dengan sifat yang tumpul, ada yang cenderung kepada suatu jenis kegiatan mencari nafkah dan yang lainnya pada kegiatan yang lain,  sehingga yang satu akan melayani yang lainnya atau membagi kerja sama dalam liku-liku kehidupan manusia, agar urusan-urusan dapat dilaksanakan dengan mudah.   Ayat di atas diakhiri dengan ungkapan bahwa Kitab Ilahi  (Al-Quran) ini jauh lebih bermanfaat daripada kekayaan dan harta benda duniawi.
  Manusia adalah makhluk sosial dan tidak ada urusannya yang bisa diselesaikan dengan baik tanpa kerja sama di antara mereka. Sebagai contoh adalah roti yang menjadi bahan pokok kehidupan manusia. Betapa banyak kerja sama sosial yang diperlukan untuk menghasilkannya.
   Dari sejak tahapan kultivasi  (pengolahan) tanah ladang untuk menanam gandum sampai kepada tingkatan sebongkah roti siap untuk dihidangkan sebagai pangan, ratusan pekerja yang harus bekerja sama satu dengan yang lainnya guna memproduksinya.
     Semua itu menunjukkan bahwa selalu dibutuhkan kerja sama dan saling tolong menolong pada berbagai sektor dari kehidupan sosial. Guna memenuhi kebutuhan itu maka Yang Maha Bijaksana telah menciptakan manusia yang dilengkapi dengan berbagai sifat dan kemampuan yang berbeda agar masing-masing dari mereka dapat memberikan kinerjanya secara sukarela sejalan dengan kemampuan dan kecenderungannya.
     Sebagian ada yang berkiprah di bidang pertanian, sebagian lagi memproduksi sarana pertanian, ada yang kebagian kerja menggiling biji gandum, yang lainnya memikul air, ada pula yang membakar roti, yang lainnya menganyam bahan pakaian, ada juga yang berusaha di bidang perdagangan, ada pula yang menjadi pelayan, semuanya itu merupakan kerja sama dan tolong menolong antara satu dengan yang lainnya.
    Kerja sama menyangkut penanganan manusia yang satu dengan yang lain, dan penanganan ini menimbulkan permasalahan perlakuan yang menyangkut kompensasi (imbal balik),  dan mereka yang melalaikan tugasnya dimana hal itu akan menimbulkan kebutuhan adanya sistem hukum guna mencegah  mereka dari melakukan kesalahan dan pelanggaran serta pengabaian Tuhan  sedemikian rupa sehingga tatanan alam ini tidak terganggu.

Pentingnya Adanya Sistim Hukum yang Mengatur

    Cara manusia mencari hidup dan bagaimana melaksanakan tugas-tugas sosial tergantung kepada keadilan dan pengakuan adanya Tuhan, dimana semua itu menuntut adanya suatu sistem hukum yang mengatur penataan pelaksanaan keadilan dan pemahaman yang sempurna atas Tuhan Yang bersih dari segala kesalahan dan kekeliruan.
     Sistem hukum seperti itu hanya bisa dirumuskan oleh Wujud Yang bersih dari segala kekhilafan, kesalahan, pelanggaran serta  yang patut  menjadi obyek sembahan dan kepatuhan.
    Suatu hukum bisa saja dikatakan baik, tetapi jika perumus hukum tersebut tidak memiliki derajat kelebihan serta mempunyai hak mengatur di atas semuanya,  atau perumus itu di mata manusia tidak luput (bersih)  dari kemurkaan, kejahatan, kesalahan dan kekeliruan, maka hukum yang dihasilkannya tidak akan bisa berfungsi,  atau kalau pun bekerja maka hanya akan menghasilkan segala bentuk kekacauan. Alih-alih memberikan kemaslahatan, hukum demikian hanya akan menghasilkan bencana. Semua hal ini mengharuskan adanya sebuah Kitab Ilahi karena semua sifat-sifat yang baik dan keluhuran hanya ada dalam Kitab tersebut.
     Kedua, kebijakan yang mendasari perbedaan derajat adalah agar keluhuran dari orang-orang yang saleh akan menjadi nyata,  karena sifat-sifat baik demikian hanya bisa dilihat dalam suatu perbandingan baik dan buruk. Sebagaimana dinyatakan:
اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿۸
Sesungguhnya telah Kami jadikan yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, supaya Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik dalam amal perbuatannya (Al-Kahf [18]:8).
    Dengan kata lain, Allah Swt.  menciptakan segala sesuatu di bumi ini sebagai perhiasan agar kesalehan mereka yang bertakwa bisa dibandingkan dengan mereka yang keji, dengan demikian mereka yang bodoh bisa mengamati apa yang baik secara jelas.
     Bentuk-bentuk yang berbeda dapat dikenal jika dibandingkan dengan bentuk lainnya, sebagaimana kita menyadari sesuatu sebagai suatu hal yang baik jika dibandingkan dengan sesuatu yang buruk.

Mengenal Kesempurnaan Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta

       Ketiga, pembedaan derajat tersebut diperlukan untuk mempertunjukkan berbagai bentuk kekuasaan dan menarik minat manusia kepada Kebesaran Allah Swt.  sebagaimana dinyatakan:
مَا  لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ  وَقَارًا  ﴿ۚ وَ  قَدۡ خَلَقَکُمۡ   اَطۡوَارًا ﴿
Apakah yang terjadi pada diri kamu, bahwa kamu tidak mengharapkan kebesaran dan hikmah dari Allah? Dan sesungguhnya Dia telah menciptakan kamu dengan pelbagai bentuk dan keadaan berbeda-beda (Nuh [71]:14-15).
    Berarti pembedaan kapasitas dan temperamen diciptakan oleh Yang Maha Bijaksana agar Keagungan dan Kekuasaan-Nya bisa dikenali sebagaimana juga dinyatakan di tempat lain:
وَ اللّٰہُ خَلَقَ کُلَّ دَآبَّۃٍ  مِّنۡ مَّآءٍ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی بَطۡنِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی  رِجۡلَیۡنِ ۚ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰۤی اَرۡبَعٍ ؕ یَخۡلُقُ اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿۴۶
Allah telah menciptakan segala hewan dari air[1] maka dari antaranya sebagian yang merayap pada perutnya dan sebagian lagi dari antaranya ada yang berjalan pada dua kaki dan dari antaranya ada sebagian lagi yang berjalan pada empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki- Nya (Al-Nūr [24]:46).
   Hal ini menjadi indikasi bahwa berbagai bentuk spesi yang ada di bumi ini diciptakan agar berbagai kekuasaan Ilahi bisa dipertunjukkan. Karena itulah ada pembedaan dalam temperamen dan sifat dari makhluk ciptaan yang didasarkan pada pertimbangan sebagaimana yang dikemukakan Allah Swt. dalam ayat di atas. (Brahini Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 203-207, London, 1984).
    Jadi, betapa keberagaman jenis dan kemampuan makhluk (ciptaan) Allah Swt.  berdasarkan  dengan Kehendak-Nya merupakan bukti tak terbantahkan  mengenai  Tauhid Ilahi, bukannya  sebagai bukti bahwa banyaknya tuhan-tuhan selain Allah Swt., firman-Nya:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya,  maka Maha Suci Allah  Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ   -- Dia tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan,  sedangkan mereka  akan ditanya. (Al-Al-Anbiya [21]:23-24).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 11 Oktober  2015



[1] Sebelum teori biologi modern mengemukakannya, 1400 tahun yang lalu Al-Quran telah  menjelaskan bahwa semua mahluk hidup dari ordo fauna bermula dari air . Melalui p erkembangan evolusi, mah luk air lalu berkembang menjadi mah luk yang berjalan di darat. (Penterjemah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar