بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 66
Alam Semesta dan Seluruh Partikelnya Merupakan Ciptaan
(Makhluk) Allah Swt. Termasuk Ruh Manusia dan Semua Kemampuannya & Hikmah
Adanya Perbedaan di Kalangan Makhluk-Nya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai makna ayat: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا
فَوۡقَکُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ -- “Dan sungguh
Kami benar-benar telah menciptakan di atas kamu tujuh jalan ruhani,
وَ مَا کُنَّا عَنِ الۡخَلۡقِ
غٰفِلِیۡنَ -- dan
Kami sekali-kali tidak lalai dari penciptaan.”
Enam tingkat kemajuan ruhani yang dilukiskan dalam sepuluh ayat pertama Surah Al-Mu’minūn menjadi tujuh
jika “surga” (ayat 12) dihitung sebagai tingkat terakhir bagi perkembangan ruhani manusia. Demikian
pula, bila tingkat persiapan sebelum
pembentukan air mani وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ
مِّنۡ طِیۡنٍ
-- “dan sungguh Kami
benar-benar telah
menciptakan insan (manusia) dari sari tanah liat” ditambahkan kepada enam tingkat perkembangan mudigah,
maka angka ini pun menjadi tujuh pula, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾
الَّذِیۡنَ ہُمۡ فِیۡ صَلَاتِہِمۡ
خٰشِعُوۡنَ ۙ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِلزَّکٰوۃِ فٰعِلُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ
ۙ﴿﴾ اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ
اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ ۚ﴿﴾ فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ
لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ
یُحَافِظُوۡنَ ۘ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sungguh
telah berhasil orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia, dan orang-orang
yang membayar zakat, لِفُرُوۡجِہِمۡ
حٰفِظُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ وَ -- dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, ۙ مَلُوۡمِیۡنَ اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ
غَیۡرُ -- kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka
sesungguhnya mereka tidak tercela, فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ -- tetapi barangsiapa
mencari selain dari itu maka mereka itu orang-orang
yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka, dan orang-orang
yang memelihara shalat-shalat mereka.
اُولٰٓئِکَ
ہُمُ الۡوٰرِثُوۡنَ -- Mereka itulah pewaris, الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ -- yaitu
orang-orang yang akan
mewarisi surga Firdaus, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka akan kekal
di dalamnya. (Al-Mu’minūn [23]:1-12).
Dengan
demikian “tujuh jalan dalam langit ruhani”
yang telah disinggung dalam firman-Nya tersebut bersesuaian dengan tujuh tingkat perkembangan jasmani manusia yang telah disebut dalam
Surah Al-Mu’minūn ayat 13-15. firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ مِّنۡ طِیۡنٍ
﴿ۚ ﴾ ثُمَّ جَعَلۡنٰہُ نُطۡفَۃً
فِیۡ قَرَارٍ مَّکِیۡنٍ ﴿۪ ﴾ ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَۃَ عَلَقَۃً فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَۃَ مُضۡغَۃً فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا
فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ٭ ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ ؕ فَتَبٰرَکَ
اللّٰہُ اَحۡسَنُ الۡخٰلِقِیۡنَ ﴿ؕ ﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menciptakan insan
(manusia) dari sari tanah liat, kemudian Kami menjadikannya
air mani di dalam tempat penyimpanan yang kokoh. Kemudian Kami menciptakan air
mani menjadi segumpal darah, maka Kami menciptakan segumpal darah itu menjadi segumpal daging,
maka Kami menciptakan dari segumpal daging itu tulang-tulang, kemu-dian Kami
membungkus tulang-tulang itu dengan daging ثُمَّ
اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ -- kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain, الۡخٰلِقِیۡنَ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ اَحۡسَنُ --
maka Maha Berkat Allah,
Sebaik-baik Pencipta (Al-Mu’minūn
[23]:13-15).
Ruh Manusia
dengan Semua Partikel Tubuhnya serta
Seluruh Kemampuannya Merupakan Ciptaan
Allah Swt. dan Milik-Nya
Sehubungan dengan keberlangsungan
kehidupan ruh manusia yang tidak
terbatas di alam akhirat -- yakni
di dalam surga – tersebut Masih
mau’ud a.s. bersabda:
“Kitab suci Al-Quran
mengajarkan kepada kita bahwa manusia bersama ruh
dan seluruh kapasitas (kemampuan) serta segenap partikel dari
dirinya adalah ciptaan Allah Swt..
Karena itu berdasarkan petunjuk
arahan Al-Quran, kita ini sepenuhnya
adalah milik Allah Swt.
dimana kita tidak mempunyai hak menggugat
apa pun atas Wujud-Nya karena menganggap Dia tidak memberikan hal-hal yang dianggap sebagai tanggungjawab-Nya.
Jika demikian adanya maka kita tidak bisa menganggap-Nya sebagai Yang
Maha Adil. Mengingat kita ini pada dasarnya memang bertangan hampa, karena itu kita menyebut Diri-Nya sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang). Jika kita merasa mempunyai hak atas
Tuhan agar melakukan apa yang kita
inginkan, kita tidak bisa menyebut-Nya lagi sebagai Yang Maha Adil
karena jika Dia tidak melakukan apa yang kita
inginkan maka Dia bisa dianggap sebagai telah melakukan kesalahan.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm.
36, London, 1984).
Masih dalam buku yang sama
selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan argumentasi bahwa segala
sesuatu di alam semesta ini --
termasuk manusia dengan segala kemampuannya serta ruhnya
-- adalah ciptaan Allah Swt. dan milik-Nya:
“Bukannya tanpa alasan jika Kitab Suci Al-Quran menyebut Yang Maha Agung sebagai Penguasa dari semua ruh dan semua partikel jasmani yang bukan hanya semata-mata karena kekuasaan-Nya saja sebagaimana
dikemukakan dalam kitab Veda. Kitab
Al-Quran mengemukakan alasannya sebagai:
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ......﴿ ﴾
Kepunyaan-Nya Dia-lah kerajaan seluruh langit dan
bumi (Al-Hadīd [57]:3).
خَلَقَ
کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا ﴿﴾
Dia telah menciptakan
segala sesuatu dan telah menetapkan
ukurannya yang tepat (Al-Furqān [25]:3).
Berarti bahwa langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya adalah milik
Tuhan karena Dia-lah Yang telah menciptakan
semua itu. Dia telah menetapkan
suatu batasan pada kemampuan
dan kinerja dari semua makhluk
ciptaan-Nya agar yang merasakan segala keterbatasan tersebut akan mengarah
atau cenderung kepada Sang Pembatas yang adalah Allah Yang Maha Kuasa itu sendiri.
Jika kita perhatikan, jasmani dibatasi oleh keterbatasannya
sendiri dan tidak bisa melampauinya, begitu juga dengan ruhani yang
bersifat terbatas dan tidak
mampu menciptakan kekuatan atau kemampuan tambahan melebihi dari yang telah ditanamkan dalam diri mereka. Sebagai
contoh, bulan menyelesaikan orbitnya dalam jangka waktu satu bulan
sedangkan matahari menyelesaikannya
dalam jangka waktu 365 hari. Matahari tidak bisa mengurangi orbitnya
menjadi sebesar orbit bulan, begitu juga bulan tidak bisa mengembangkan orbitnya
menjadi sebesar matahari.
Walaupun seluruh isi dunia bersepakat mencoba mengubah orbit kedua benda langit itu,
nyatanya hal itu merupakan suatu yang tidak
mungkin. Begitu juga bulan dan matahari itu tidak dapat merubah orbitnya dengan kekuatan atau maunya
sendiri. Wujud Yang membatasi benda-benda langit ini pada orbitnya masing-masing adalah Allah Yang Maha Kuasa.
Begitu juga dengan adanya perbedaan yang besar di antara tubuh manusia dengan tubuh gajah. Misalnya pun semua dokter bekerja sama mencoba merubah kapasitas manusia dalam wujudnya menjadi sebesar gajah, tidak akan mungkin mereka bisa melakukannya.
Sama halnya jika mereka mencoba membatasi
dimensi gajah menjadi sebesar manusia,
akan menjadi sama mustahilnya. Dalam hal ini pun terdapat pembatasan seperti
halnya pada matahari dan bulan dan pembatasan itu mengindikasikan adanya Wujud
Sang Pembatas.
Wujud inilah yang
mengaruniakan dimensi besar kepada gajah dan dimensi yang lain
bagi manusia. Kalau saja manusia mau merenungi maka akan disadari adanya sistem pengendalian
tersembunyi yang amat mengagumkan dari Allah Yang Maha
Kuasa atas semua benda fisik
(jasmani) yang ada.
Kita bisa melihat bukti adanya pembatasan tersebut pada serangga yang demikian kecil sehingga
harus dilihat di bawah mikroskop
sampai hewan laut yang demikian besar yang bisa menelan perahu. Dari sini kita
menyadari bahwa tidak ada hewan yang bisa melewati
batas dari dimensi
dirinya, sebagaimana juga dengan benda-benda langit.
Semua bentuk pembatasan demikian menunjukkan bahwa
di belakang layar ada Wujud Yang
menentukan batasannya. Hal inilah
yang dimaksud dalam ayat:
خَلَقَ
کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا ﴿﴾
Dia telah menciptakan
segala sesuatu dan telah menetapkan
ukurannya yang tepat (Al-Furqān [25]:3).
Bentuk pembatasan yang
sama selain pada dimensi fisik, juga berlaku di bidang ruhani.
Kita memahami sepenuhnya bahwa bentuk keluhuran ruhani manusia dan kemampuan
pengembangannya
tidak terdapat pada jiwa seekor gajah meski badannya demikian besar.
Begitu juga ruh dari setiap hewan yang terbatas hanya pada batasan
spesinya (jenisnya) masing-masing di bidang sifat dan kapasitasnya.
Semua pembatasan pada segala benda fisik mau pun pada kapasitas keruhanian ini mengindikasikan adanya Wujud Sang Pembatas
dan Sang Pencipta.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm.
17-19, London, 1984).
Hikmah Penciptaan Makhluk dan Adanya Perbedaan Derajat
Selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan hikmah mengapa Allah Swt. menciptakan berbagai makhluk-Nya (ciptaan-Nya) berbeda-beda
dalam bentuk serta sifat-sifatnya:
“Akan
menjadi suatu pencerobohan bagi kinerja Allah Swt. jika kita mempertanyakan mengapa Tuhan
menciptakan perbedaan kemampuan di antara makhluk, dan mengapa setiap
orang tidak diberikan saja kemampuan
yang memungkinkan baginya mencapai
tingkat pemahaman dan kecintaan Tuhan yang sempurna.
Setiap orang yang berfikir tentunya mampu memahami, bahwa tidak ada seorang pun
yang berhak menggugat Tuhan agar memberikan derajat yang sama
dan sifat-sifat yang sempurna kepada setiap orang. Adalah
menjadi bagian dari berkat-Nya untuk mengkaruniakan apa pun yang diinginkan-Nya.
Sebagai contoh, Tuhan telah menjadikan kalian sebagai manusia
dan bukan sebagai keledai. Kalian diberikan kemampuan berfikir dan keledai tidak demikian. Kalian bisa memperoleh pengetahuan
dan keledai tidak. Hal ini adalah karena keinginan dari Yang Maha Kuasa dan tidak ada kaitannya
dengan hak kalian atau pun hak keledai tersebut.
Di antara makhluk ciptaan Tuhan
terdapat pembedaan derajat yang tidak bisa dibantah
oleh seorang yang waras. Lalu bisakah makhluk
yang sebenarnya tidak mempunyai hak untuk eksis
(ada/mewujud) apalagi hak
untuk menuntut derajat yang lebih
tinggi, lalu mengajukan gugatan keberatan terhadap Yang Maha Berkuasa?
Adalah berkat Sifat Rahmān (Maha Pemurah) dan Rahīm-Nya (Maha Penyayang) itulah maka Allah Yang Maha Kuasa mengaruniakan kewujudan
atas segala makhluk-Nya dimana sebagai Sang
Dermawan tentunya memiliki kewenangan untuk mengatur karunia dan rahmat-Nya. Kalau Dia tidak mempunyai kewenangan untuk
mengaruniakan dalam volume (isi) yang lebih sedikit, dengan sendirinya juga Dia
tidak mempunyai kewenangan memberikan lebih, dan hal seperti itu akan menjadikan
pelaksanaan Sifat ke-Tuhan-Nya
itu menjadi terkendala.
Jika yang namanya makhluk mempunyai hak yang bisa digugatkan kepada Pencipta-Nya maka hal itu akan menimbulkan rangkaian tuntutan
yang tidak ada habisnya, karena apa pun derajat yang diberikan Sang
Pencipta tetap saja akan digugat
oleh makhluk ciptaan tersebut, yang merasa
bahwa dia patut memperoleh lebih.
Demikian pula bila diyakini bahwa Allah Yang Maha Kuasa bisa menciptakan
tingkatan derajat yang tidak
ada batasnya, sedangkan kesempurnaan ciptaan tidak berhenti hanya pada
wujud manusia, maka rangkaian tuntutan hak demikian itu akan menjadi tidak ada akhirnya.
Tiga Macam Kebijaksanaan Allah Swt. & Adanya Perbedaan Dalam Kecenderungan
dan Kemampuan Makhluk-Nya Agar
Terjalin Kerja-sama yang Baik
Kalau ada yang ingin mendalami apa yang menjadi dasar kebijakan
dari pembedaan derajat tersebut, kiranya patut dipahami bahwa Kitab Suci
Al-Quran telah mengemukakan tiga bentuk kebijaksanaan dalam konteks
tersebut secara jelas dan tidak bisa dibantah oleh orang yang waras.
Yang pertama adalah agar permasalahan
di dunia ini bisa diatur sebaik
mungkin sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنُ
عَلٰی رَجُلٍ مِّنَ الۡقَرۡیَتَیۡنِ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ ؕ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ
رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا
سُخۡرِیًّا ؕ وَ رَحۡمَتُ رَبِّکَ خَیۡرٌ
مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
‘Mereka berkata: “Mengapakah Al-Quran ini tidak diturunkan
kepada seorang orang besar dari kedua kota itu?” Adakah mereka waktu itu yang
membagi-bagikan rahmat Rabb
(Tuhan) kamu? Kami-lah Yang
membagi-bagikan di antara mereka bekal
hidup mereka dalam kehidupan duniawi
ini, dan Kami mengangkat sebagian
mereka di atas sebagian yang lain dalam derajat,
supaya sebagian dari mereka membuat
yang lainnya tunduk patuh kepada
mereka sendiri. Dan rahmat Rabb (Tuhan)
engkau adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan’ (Az-Zukhruf [43]:32-33).
Orang-orang kafir mempertanyakan mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada
beberapa kepala suku atau orang-orang kaya di Makkah atau Thaif
sehingga akan menjadi sepadan dengan
ketinggian derajat mereka, dimana melalui nama besar, kekayaan
serta kepemimpinan mereka maka agama
ini akan bisa berkembang lebih
cepat. Mengapa yang dipilih untuk
tugas seperti itu justru adalah seorang
yang miskin yang tidak
mempunyai kekayaan?
Kepada mereka itulah diarahkan sergahan
Tuhan, yaitu apakah memang menjadi tugas
mereka untuk mengarahkan pembagian rahmat dari Allah Yang Maha Kekal. Adalah menjadi kebijaksanaan-Nya
untuk membatasi kemampuan dan sifat-sifat dari mereka yang
hanya tertarik kepada hal-hal yang
bersifat duniawi dan membanggakan
dirinya sebagai kepala suku atau
orang kaya, sehingga melupakan tujuan
utama eksistensi (keberadaan) mereka. Adapun kepada yang lainnya
Dia mengkaruniakan rahmat dan kesucian keruhanian
dimana mereka lalu menjadi kekasih Allah Yang Maha Penyayang
karena pengabdian mereka kepada-Nya.
Berikutnya dijelaskan bagaimana Tuhan
menjadikan sebagian dari manusia menjadi kaya-raya dan yang lainnya miskin,
ada yang diberkati dengan sifat-sifat yang baik dan yang
lainnya dengan sifat yang tumpul, ada yang cenderung kepada suatu jenis kegiatan
mencari nafkah dan yang lainnya pada kegiatan
yang lain, sehingga yang satu akan melayani yang lainnya atau membagi kerja sama dalam liku-liku kehidupan manusia, agar urusan-urusan dapat dilaksanakan dengan
mudah. Ayat di atas diakhiri dengan
ungkapan bahwa Kitab Ilahi
(Al-Quran) ini jauh lebih bermanfaat daripada kekayaan dan harta benda duniawi.
Manusia adalah makhluk sosial
dan tidak ada urusannya yang bisa diselesaikan dengan baik tanpa kerja
sama di antara mereka. Sebagai contoh adalah roti yang menjadi bahan pokok kehidupan manusia. Betapa banyak kerja
sama sosial yang diperlukan untuk menghasilkannya.
Dari sejak tahapan kultivasi (pengolahan) tanah ladang untuk menanam
gandum sampai kepada tingkatan sebongkah
roti siap untuk dihidangkan
sebagai pangan, ratusan pekerja yang
harus bekerja sama satu dengan yang
lainnya guna memproduksinya.
Semua itu menunjukkan bahwa selalu
dibutuhkan kerja sama dan saling
tolong menolong pada berbagai sektor dari kehidupan sosial. Guna memenuhi kebutuhan itu maka Yang Maha
Bijaksana telah menciptakan manusia yang dilengkapi dengan berbagai sifat
dan kemampuan yang berbeda
agar masing-masing dari mereka dapat memberikan
kinerjanya secara sukarela sejalan dengan kemampuan dan kecenderungannya.
Sebagian ada yang berkiprah di
bidang pertanian, sebagian lagi
memproduksi sarana pertanian, ada yang kebagian kerja menggiling biji gandum, yang lainnya memikul air, ada pula yang membakar
roti, yang lainnya menganyam bahan
pakaian, ada juga yang berusaha di bidang perdagangan,
ada pula yang menjadi pelayan, semuanya
itu merupakan kerja sama dan tolong menolong antara satu dengan yang
lainnya.
Kerja sama menyangkut penanganan manusia yang satu
dengan yang lain, dan penanganan ini menimbulkan
permasalahan perlakuan yang menyangkut kompensasi (imbal
balik), dan mereka yang melalaikan tugasnya dimana hal itu
akan menimbulkan kebutuhan adanya sistem
hukum guna mencegah mereka dari
melakukan kesalahan dan pelanggaran serta pengabaian
Tuhan sedemikian rupa sehingga tatanan
alam ini tidak terganggu.
Pentingnya Adanya Sistim Hukum yang Mengatur
Cara manusia mencari hidup dan bagaimana melaksanakan tugas-tugas
sosial tergantung kepada keadilan dan pengakuan adanya Tuhan, dimana semua itu menuntut adanya suatu sistem hukum
yang mengatur penataan pelaksanaan keadilan
dan pemahaman yang sempurna atas Tuhan Yang bersih dari segala kesalahan
dan kekeliruan.
Sistem hukum seperti itu hanya
bisa dirumuskan oleh Wujud Yang bersih dari segala kekhilafan, kesalahan, pelanggaran serta yang patut
menjadi obyek sembahan dan kepatuhan.
Suatu hukum bisa saja dikatakan baik, tetapi jika perumus
hukum tersebut tidak memiliki derajat kelebihan serta mempunyai
hak
mengatur di atas semuanya, atau perumus
itu di mata manusia tidak luput (bersih)
dari kemurkaan, kejahatan, kesalahan dan kekeliruan, maka hukum
yang dihasilkannya tidak akan bisa berfungsi, atau kalau pun bekerja maka hanya akan
menghasilkan segala bentuk kekacauan. Alih-alih memberikan kemaslahatan, hukum demikian hanya akan menghasilkan bencana. Semua hal
ini mengharuskan adanya sebuah Kitab
Ilahi karena semua sifat-sifat
yang baik dan keluhuran hanya ada
dalam Kitab tersebut.
Kedua, kebijakan yang
mendasari perbedaan derajat adalah agar keluhuran
dari orang-orang yang saleh akan menjadi nyata, karena sifat-sifat baik demikian hanya
bisa dilihat dalam suatu perbandingan
baik dan buruk. Sebagaimana dinyatakan:
اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ
عَمَلًا ﴿۸﴾
‘Sesungguhnya telah Kami
jadikan yang ada di bumi sebagai perhiasan
baginya, supaya Kami menguji mereka
siapakah di antara mereka yang terbaik
dalam amal perbuatannya’ (Al-Kahf [18]:8).
Dengan kata lain, Allah Swt.
menciptakan segala sesuatu di bumi ini sebagai perhiasan agar kesalehan
mereka yang bertakwa bisa dibandingkan
dengan mereka yang keji, dengan demikian mereka yang
bodoh bisa mengamati apa yang baik secara jelas.
Bentuk-bentuk yang berbeda
dapat dikenal jika dibandingkan dengan bentuk lainnya, sebagaimana kita
menyadari sesuatu sebagai suatu hal
yang baik jika dibandingkan dengan sesuatu yang buruk.
Mengenal Kesempurnaan Sang Pencipta
dan Pengatur Alam Semesta
Ketiga, pembedaan derajat tersebut diperlukan untuk
mempertunjukkan berbagai bentuk kekuasaan dan menarik minat manusia kepada Kebesaran Allah Swt. sebagaimana dinyatakan:
مَا لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ وَقَارًا ﴿ۚ﴾ وَ قَدۡ خَلَقَکُمۡ اَطۡوَارًا ﴿﴾
‘Apakah yang terjadi pada diri kamu, bahwa kamu tidak
mengharapkan kebesaran dan hikmah dari Allah? Dan sesungguhnya Dia telah menciptakan kamu dengan pelbagai
bentuk dan keadaan berbeda-beda’ (Nuh [71]:14-15).
Berarti pembedaan kapasitas dan temperamen
diciptakan oleh Yang Maha Bijaksana
agar Keagungan dan Kekuasaan-Nya bisa dikenali sebagaimana juga dinyatakan di
tempat lain:
وَ اللّٰہُ خَلَقَ کُلَّ دَآبَّۃٍ مِّنۡ مَّآءٍ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ
عَلٰی بَطۡنِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی رِجۡلَیۡنِ ۚ
وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰۤی اَرۡبَعٍ ؕ یَخۡلُقُ اللّٰہُ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿۴۶﴾
Allah telah menciptakan
segala hewan dari air[1] maka dari antaranya sebagian yang merayap pada perutnya dan sebagian lagi dari antaranya ada yang berjalan pada dua kaki dan dari
antaranya ada sebagian lagi yang berjalan
pada empat kaki. Allah menciptakan
apa yang dikehendaki- Nya’ (Al-Nūr [24]:46).
Hal ini menjadi indikasi
bahwa berbagai bentuk spesi yang ada
di bumi ini diciptakan agar berbagai
kekuasaan Ilahi bisa dipertunjukkan. Karena itulah ada pembedaan dalam temperamen dan sifat
dari makhluk ciptaan yang didasarkan
pada pertimbangan sebagaimana yang
dikemukakan Allah Swt. dalam ayat di atas. (Brahini Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 203-207, London, 1984).
Jadi, betapa keberagaman jenis dan kemampuan makhluk (ciptaan) Allah Swt.
berdasarkan dengan Kehendak-Nya merupakan bukti tak terbantahkan mengenai
Tauhid Ilahi, bukannya
sebagai bukti bahwa banyaknya tuhan-tuhan
selain Allah Swt., firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ لَا
یُسۡـَٔلُ عَمَّا یَفۡعَلُ
وَ ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi ada tuhan-tuhan
selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka Maha
Suci Allah Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. لَا یُسۡـَٔلُ
عَمَّا یَفۡعَلُ وَ
ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ -- Dia
tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan, sedangkan mereka akan ditanya. (Al-Al-Anbiya
[21]:23-24).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 11 Oktober 2015
[1]
Sebelum teori biologi modern mengemukakannya, 1400 tahun
yang lalu Al-Quran telah menjelaskan
bahwa semua mahluk hidup dari ordo fauna bermula dari air . Melalui p
erkembangan evolusi, mah luk air lalu berkembang menjadi mah luk yang berjalan
di darat. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar