بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 58
Berbagai Penampakan Baru Sifat-sifat
Allah Swt. & Kekeliruan Dugaan Para Filosof Mengenai Kesempurnaan
Tatanan Alam Semesta
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan mengenai masalah terjadinya mukjizat yang dialami sendiri oleh Masih Mau’ud a.s., antara lain berupa
pernyataan Allah Swt. yang
akan memelihara beliau dan para
pengikut hakiki beliau -- dan kampung Qadian
-- dari dahsyatnya amukan “wabah tha’un”
(pes) yang menelan korban ratusan ribu
orang non-Ahmadi di Hindustan.
Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai hakikat pengabulan doa tentang hal-hal yang
nampaknya mustahil terjadi:
“Jika kita tidak meyakini
bahwa Tuhan bersifat Maha Perkasa maka semua harapan
kita akan menjadi tidak ada artinya. Pengabulan
doa-doa kita bergantung kepada keyakinan
bahwa jika Tuhan berkenan maka Dia
akan menciptakan kekuatan di
dalam tubuh jasmani atau
pun ruhani yang tadinya sudah tidak dimiliki.
Sebagai contoh adalah saat kita mendoakan kesembuhan seseorang dari
sakitnya yang terlihat sudah parah dan yang bersangkutan sudah sekarat. Lalu kita berdoa kepada Allah
Swt. agar Dia menciptakan kekuatan dalam partikel-partikel
jasmani orang bersangkutan, yang bisa menyelamatkannya dari maut
(kematian). Kita mengalami bahwa banyak dari doa-doa seperti itu
ternyata dikabulkan.
Pada awalnya kita merasakan bahwa orang tersebut sudah di ambang ajalnya dan seluruh kekuatan hidupnya telah mencapai suatu
akhir, namun ketika doa kita mencapai klimaks
karena kekhusyukan doa -- dimana seolah kita sendiri yang merasa
akan mati -- lalu Tuhan memberitahukan bahwa kekuatan hidup
sudah dipulihkan dalam diri yang
bersangkutan. Orang itu lalu menunjukkan gejala-gejala
kepulihan seolah-olah orang
mati yang bangkit kembali.
Aku teringat ketika saat wabah pes melanda, aku berdoa: “Ya Allah Yang
Maha Kuasa dan Maha Perkasa, peliharalah kami dari bencana ini dan ciptakan
dalam diri kami penangkal yang akan menyelamatkan diri kami dari racun bawaan wabah ini.” Kemudian Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan penangkal
dalam diri kita dan berfirman: “Aku akan menjaga mereka yang tinggal di dalam rumah ini kecuali mereka yang merasa
dirinya tinggi karena sifat takaburnya” yang maksudnya adalah bahwa mereka
yang tidak mengingkari Tuhan dan berlaku takwa akan
diselamatkan. Allah Swt. juga menyatakan
bahwa kota Qadian akan dipelihara dengan pengertian bahwa kota ini tidak akan hancur akibat wabah tersebut sebagaimana kota-kota lainnya.
Hal-hal seperti itulah yang telah kita lihat dan saksikan
sebagai pemenuhan nubuatan tersebut. Demikian itu caranya Tuhan menciptakan kekuatan dan daya
baru dalam partikel-partikel
diri kita. Karena meyakini janji Allah Swt.
tersebut maka kami menghindari tindak
penjagaan yang dilakukan manusia berupa vaksinasi terhadap wabah
tersebut.
Banyak dari mereka yang divaksin
nyatanya malah mati, sedangkan kita
-- berkat rahmat Allah Swt.
-- masih tetap selamat. Allah Swt..
telah menciptakan partikel-partikel penangkal dalam
diri kita. Dia juga menciptakan ruh
sebagaimana Dia telah meniupkan ke dalam diriku sebuah ruh yang suci yang
menjadikan aku hidup.
Kita tidak saja mengharapkan
bahwa Dia menciptakan ruh dan menghidupkan kembali jasmani
kita, tetapi ruh kita pun membutuhkan ruh lain untuk menjadikannya hidup.
Semuanya itu diciptakan oleh Allah
Swt.. Barangsiapa yang belum memahami misteri
ini maka ia belum menyadari kekuatan
Tuhan dan belum mengindahkan Tuhan.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain,
jld.. 19, hlm. 390-391, London, 1984).
Pengalaman Sehari-hari Masih Mau’ud a.s. Mengalami Pangabulan
Doa
Jadi, pernyataan Allah Swt. mengenai pengabulan
doa dalam firman-Nya berikut ini
bagi Masih Mau’ud a.s. merupakan pengalaman beliau yang tidak jumlahnya
tak terhitung:
وَ قَالَ رَبُّکُمُ
ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ ؕ
اِنَّ الَّذِیۡنَ یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ عَنۡ
عِبَادَتِیۡ سَیَدۡخُلُوۡنَ جَہَنَّمَ دٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Rabb (Tuhan) kamu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku Aku
akan me-ngabulkan bagi kamu.” Sesungguh-ya orang-orang yang menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Ku, mereka segera
akan masuk ke dalam Jahannam
dalam keadaan terhina” (Al-Mu’min
[40]:61)
Demikian juga kebenaran pernyataan
Allah Swt. dalam firman-Nya berikut
ini yang secara khusus tertuju kepada
Nabi Besar Muhammad saw. pun menjadi pengalaman
sehari-hari Masih Mau’ud a.s.:
وَ اِذَا سَاَلَکَ
عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ
الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau
mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ -- maka sesungguhnya Aku dekat.
اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ -- Aku
mengabulkan doa-doa orang yang berdoa
apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk (Al-Baqarah
[2]:187).
Ayat tersebut merupakan bagian dari ayat-ayat
tentang puasa Ramadhan. Ketika orang-orang beriman menyadari keberkatan bulan Ramadhan dan berpuasa di
dalamnya, mereka tentu saja berhasrat
memproleh sebanyak mungkin faedah ruhani
darinya. Kepada kerinduan jiwa orang
yang beriman itulah ayat ini
memberikan jawaban.
Kata-kata beriman kepada-Ku dalam ayat فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- “karena
itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku
dan beriman kepada-Ku
supaya mereka mendapat petunjuk” tidak mengacu kepada beriman kepada Wujud Allah
Swt.. -- sebab hal itu telah termasuk
dalam anak kalimat sebelumnya: فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ -- “hendaklah mereka menyambut seruan-Ku”,
karena mustahil orang akan menyambut seruan Allah Swt. dan
menaati perintah-Nya tanpa percaya (beriman) akan adanya Wujud Tuhan.
Jadi kata-kata beriman kepada-Ku dalam
ayat وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- “dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk” tertuju kepada kepercayaan bahwa Allah Swt. mendengar
dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Manifestasi Sifat Ilahi Tanpa
Batas
Selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai tanpa batasnya Sifat-sifat
Allah Swt. serta dampak-dampak yang ditimbulkannya berupa hukum-hukum
alam, yang juga tidak terbatas,
sebagaimana firman Allah Swt. dalam
Al-Quran:
کُلُّ مَنۡ
عَلَیۡہَا فَانٍ ﴿ۚۖ﴾ وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ
رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya
akan binasa, وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ -- dan yang kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua
yang manakah yang kamu kamu dustakan?
کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ -- kepada-Nya
memohon segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ
شَاۡنٍ -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan)
kamu berdua yang manakah yang ka-mu
berdua dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-31).
Seluruh alam semesta ini tunduk
kepada hukum kerusakan dan kematian, dan oleh sebab itu alam semesta ini ditakdirkan
akan binasa. Hanya Tuhan (Allah Swt.) sajalah Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara
segala sesuatu dan Diperlukan oleh
segala sesuatu.
Wajh dalam ayat وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ antara lain berarti: apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang,
yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu
sendiri; karunia, wajah (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
Karena bumi
ini akan dilenyapkan dan benda-benda
langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilangsirnakan, tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada suatu Wujud Yang
tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan.
Wujud demikian adalah Allah Swt., Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta.
Ayat yang sekarang dan
ayat-ayat sebelumnya (27-30) menunjuk kepada dua hukum alam, yang tidak akan berubah
dan bekerja secara serempak, ialah
(1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan
kematian; dan (2) sesuai dengan hukum
Ilahi menjamin kesinambungan hidup.
Makna ayat کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ
شَاۡنٍ – “Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam
keadaan yang berlainan”, untuk mempertahankan hidup dan memenuhi
segala keperluannya, sekalian makhluk
bergantung pada Allah Swt., Yang
adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat
Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat itu menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa.
Penampakan-penampakan Baru Sifat-sifat Allah Swt.
Sehubungan dengan
penjelasan ayat tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ مَا
نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang
tidak terbatas, dan Kami sama sekali tidak menurunkannya
melainkan dalam ukuran yang tertentu.
(Al-Hijr [15]:22).
Allah Swt.
memiliki persediaan (khazanah) segala
sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai
dengan rahmat-Nya yang tidak
berhingga, Dia mengarahkan pikiran
atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana
timbul suatu keperluan yang
sesungguhnya akan benda itu.
Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian juga Al-Quran pun nmerupakan alam semesta keruhanian, di mana
tersembunyi khazanah-khazanah ilmu
keruhanian yang dibukakan kepada
manusia sesuai dengan keperluan zaman.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ لَّوۡ
کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ
الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ
لَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah:
"'Seandainya lautan menjadi tinta
untuk menuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku
(Tuhan-ku), niscaya lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku) habis
dituliskan, sekalipun Kami
datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya (Al-Kahf [18]:110)
Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan
diri atas penemuan-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan duniawi dan nampaknya
mereka dikuasai anggapan keliru bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia
takhliq (penciptaan) itu sendiri.
Hal itu
hanya pembualan yang sia-sia belaka. Rahasia-rahasia Tuhan tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami
sehingga apa yang telah mereka temukan
sampai sekarang -- dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah -- jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah belumlah merupakan
setitik pun air dalam samudera.
Sesuai dengan ayat tersebut dalam Surah
lain Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ
اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ
اَقۡلَامٌ وَّ الۡبَحۡرُ
یَمُدُّہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
سَبۡعَۃُ اَبۡحُرٍ مَّا نَفِدَتۡ
کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan seandainya pohon-pohon di bumi ini
menjadi pena dan laut
ditambahkan kepadanya sesudahnya tujuh laut menjadi tinta, kalimat
Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana (Luqman [31]:28).
Bilangan “7” dan “70”
digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh”
sebagai angka-angka bilangan lazim.
Ketidakterbatasan Kebijakan
Tuhan Yang Maha Agung
Sehubungan dengan tidak terbatasnya rahasia-rahasia khazanah yang terkandung alam semesta yang dikemukakan firman Allah Swt.
tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Ketuhanan Allah terkait
dengan misteri yang bilangannya tidak terbatas dan tidak
bisa ditampung dalam batas-batas norma manusia. Untuk bisa mengakui
Allah Swt. maka menjadi prinsip
mendasar bahwa Kekuatan dan Kebijakan Tuhan Yang Maha Agung
itu adalah suatu yang tidak ada batasnya. Dengan memahami prinsip tersebut
dan merenunginya secara mendalam maka segala sesuatu akan
menjadi jelas, sehingga manusia akan
mampu melihat jalan yang lurus untuk mengakui dan menyembah Kebenaran.
Kami mengimani bahwa Allah Yang Maha Perkasa selalu
bertindak sejalan dengan Sifat-sifat
abadi-Nya, juga mengakui bahwa Sifat-sifat abadi tersebut diberi nama kaidah Ilahi.
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan bertindak sejalan dengan hukum tersebut lalu menjadikan Sifat
Tuhan itu menjadi
terbatas? Kami meyakini bahwa dampak
dari Sifat-sifat yang
menjadi bagian yang tidak terbatas dari Wujud Tuhan tersebut akan dimanifestasikan
(diwujudkan) pada saatnya
yang tepat, dimana Sifat-sifat tersebut mempengaruhi
semua ciptaan yang ada di langit dan di bumi.
Dampak dari Sifat-sifat tersebut disebut
sebagai cara Allah Swt. atau hukum
alam. Hanya saja karena Allah
Swt. bersifat Tanpa Batas dan Tanpa
Akhir, rasanya tolol
kalau kita menganggap bahwa dampak dari Sifat-sifat yang
tidak terbatas tersebut (yaitu hukum alam) tidak akan melampaui batas kemampuan observasi (pengamatan), pengalaman
dan penalaran kita.
Kekeliruan Para Filosof
Adalah suatu kesalahan besar
dari para filosof yang menganggap hukum
alam sebagai suatu yang pasti
dan tetap [yakni tidak mengalami
perubahan] dimana mereka lalu menolak segala sesuatu hal
baru yang mereka temui. Jelas bahwa sikap demikian itu tidak memiliki dasar yang kuat.
Jika memang demikian keadaannya maka tidak akan ada hal baru
lagi di dunia ini dan mustahil bisa
menemukan sesuatu yang baru, karena dianggap bertentangan dengan hukum alam yang ada, meskipun hal itu berarti juga menentang suatu kebenaran baru.
Jika kita renungi riwayat hidup para filosof, kita akan melihat bagaimana perubahan lintasan cara berfikir mereka dan betapa seringnya mereka dengan rasa malu harus meninggalkan suatu pandangan dan menganut pandangan lain
yang baru. Kita melihat orang-orang
yang sudah sekian lama menganggap
suatu hal sebagai bertentangan dengan hukum
alam, akhirnya harus mengubah pendapat dan menerimanya sebagai suatu kebenaran.
Apa yang mendasari perubahan demikian? Mengapa suatu hal yang selama ini mereka anggap
sebagai suatu kebenaran lalu harus dianggap salah karena adanya pengalaman baru? Dengan adanya pengalaman
baru tersebut maka sejalan
dengan itu cara berfikir mereka itu pun mengalami perubahan.
Cara berfikir mereka telah dibimbing
oleh pengalaman baru tersebut dan hal ini berlanjut terus karena masih banyak sekali yang tersembunyi
dari pandangan mereka. Setelah
terantuk-antuk melalui berbagai rintangan dan keadaan memalukan, barulah pada akhirnya mereka menerimanya sebagai kebenaran.
Hukum alam belum sepenuhnya kokoh dalam ruang lingkup penalaran manusia sehingga mereka
bisa mengabaikan penelitian baru. Apakah ada manusia waras yang menganggap bahwa umat manusia yang umurnya
singkat tersebut bisa menguasai
keseluruhan misteri keabadian,
dan pengalamannya mengenai keajaiban
Ilahi sudah sedemikian komprehensif
(lengkap), sehingga apa pun yang tidak
sejalan dengan pengalaman mereka bisa dianggap
sebagai bukan Kekuasaan Allah Yang Maha
Perkasa?
Keterbatasan Kemampuan Manusia Tidak Bisa Dijadikan Tolok Ukur Ketidak-terbatasan Sifat-sifat Allah Swt.
Hanya mereka yang bodoh dan tidak bermalu yang
mempunyai anggapan demikian. Para filosof yang baik dan bijak dengan cara berfikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keruhanian,
pada umumnya mengakui bahwa daya fikir mereka yang terbatas tidak bisa digunakan sebagai sarana untuk menemukan dan memahami
Allah Swt. dengan segala kebijakan
dan misteri-Nya.
Adalah suatu kebenaran baku
bahwa setiap hal mengandung dalam
dirinya sifat-sifat yang terus saja terpengaruhi oleh kekuasaan Allah Swt. yang tidak
terbatas. Dengan demikian maka sifat dan karakteristik
benda-benda yang kita kenal atau pun tidak, juga menjadi tidak
terbatas.
Jika semua pemikir dari zaman purba sampai modern menggunakan semua kemampuan
mereka berfikir sampai dengan Hari Kiamat hanya untuk mencari tahu sifat-sifat
dari sebutir biji gandum, tidak akan
ada orang waras yang bisa mengatakan
bahwa mereka telah sepenuhnya memahami sifat-sifat dari biji
tersebut. Tidak ada yang lebih tolol dari orang yang mengatakan
bahwa para ahli astronomi dan fisika telah memahami semua sifat dari benda-benda di langit dan di bumi.
Singkat kata, hukum alam yang dikenal manusia tidak mampu bertahan
dari kebenaran yang mapan. Hukum alam yang dikenal manusia keadaannya
terbatas hanya pada tindakan-tindakan
Ilahi yang telah dimanifestasikan
(diwujudkan), atau mungkin akan dimanifestasikan secara alamiah, namun Allah Yang Maha Perkasa tidak ada merasa lelah
memperlihatkan kekuasaan-Nya, tidak juga Dia menjadi tidak mampu lagi melakukannya.
Tidak ada Dia telah tertidur, atau menyingkir
ke suatu pojok atau pun telah dikalahkan sehingga harus menghentikan manifestasi
keajaiban-keajaiban-Nya
dimana kita harus cukup puas dengan cerita-cerita
lama tentang bagaimana dahulu
Dia itu amat berkuasa.
Logika, kebijakan, filosofi, literatur dan pendidikan semuanya mengharuskan
kita untuk tidak membatasi norma-norma hukum alam sebatas apa yang kita ketahui saja, karena masih ribuan rincian yang belum
kita pelajari, sehingga merupakan suatu ketololan jika kita
menganggap bahwa tindakan Allah Swt. tidak
akan melampaui dari apa yang telah kita
pelajari.
Aku sering merenungi bagaimana segala hal tersebut bisa menjadi tolok
ukur kebenaran atau sebagai neraca untuk menimbang kebenaran,
padahal mereka sendiri belum sepenuhnya
diketahui secara mendalam. Masalah kompleks
ini telah merancukan jalan fikiran para filosof, sehingga sebagian dari mereka yang disebut
aliran Sophist[1]
malah menyangkal sama sekali sifat-sifat kebendaan, sedangkan
yang lainnya berpendapat bahwa meskipun sifat-sifat itu diakui ada namun tidak mempunyai ketetapan yang permanen.
Kejadian Langka yang Tidak Mustahil Terjadi
Air memang bisa memadamkan api, tetapi bisa saja akibat karena pengaruh bumi
atau langit secara tertentu maka air suatu mata sumber kehilangan
kemampuan demikian. Api
bisa membakar kayu, namun bisa saja ada jenis
api yang -- karena pengaruh internal (dari dalam) atau eksternal (dari
luar) -- malah tidak bisa melakukan
hal itu. Keajaiban-keajaiban seperti itu terus saja berlanjut dari waktu ke waktu.
Para filosof juga berpendapat bahwa beberapa sifat-sifat
langit atau bumi baru tampak
setelah ribuan atau ratusan ribu tahun, dimana hal ini lalu
menjadi suatu yang bersifat supranatural (di luar kebiasaan) bagi mereka yang awam. Kadang-kadang terjadi keajaiban
di langit atau di bumi yang mencengangkan para filosof akbar. Akibat dari
itu mereka cenderung mencipta beberapa hukum fisika atau astronomi untuk mengakomodasi keajaiban
tadi agar kaidah hukum alam hasil rekaan
mereka tidak menjadi batal dengan sendirinya.
Selama mereka belum pernah melihat ikan
yang bisa terbang,
maka para filosof itu akan menyangkal keberadaannya. Sepanjang
proses pemotongan ekor anjing tidak otomatis
melahirkan anjing baru (anak anjing)
yang tidak berekor, maka mereka tidak akan mau menerima pandangan
demikian.
Sepanjang tidak ada yang melihat
bahwa sebagai akibat dari gempa
bumi dahsyat bisa muncul api tanah yang mencairkan batu-batu -- tetapi tidak membakar pepohonan -- maka para filosof akan menganggap sifat demikian bertentangan dengan
hukum
alam.
Ketika alat aspirator (pompa)
belum ditemukan, mana ada filosof
yang mempercayai bahwa transfusi darah merupakan bagian
dari hukum alam? Siapakah yang bisa menyebutkan nama seorang filosof yang mengakui kemungkinan menggerakkan mesin dengan tenaga
listrik ketika listrik belum ditemukan?
Keunikan di Kalangan Manusia
Allamah Shareh Qanun yang
adalah seorang tabib ahli medikal ternama
dan filosof yang terpelajar, telah
mencatat dalam bukunya bahwa di
antara bangsa Yunani, sudah umum diketahui adanya perempuan-perempuan perawan dan saleh yang melahirkan anak tanpa berhubungan dengan seorang laki-laki.
Ia mengemukakan pandangan
pribadinya, bahwa kejadian-kejadian demikian tidak bisa ditolak
sebagai suatu kedustaan, karena adanya kisah-kisah tersebut tentunya dilandasi
suatu fakta.
Ia mencatat dalam bukunya bahwa
meskipun manusia itu merupakan satu spesi
(jenis) tersendiri sehingga mirip satu dengan lainnya, namun beberapa dari antara manusia ini
memiliki karakteristik yang amat
khusus yang tidak terdapat pada manusia lainnya. Pada zaman modern ini ada berita yang mengatakan
adanya manusia yang berumur 300 tahun. Ada pula orang-orang yang
diberi kemampuan ingatan atau daya penglihatan yang amat
sempurna.
Orang-orang seperti ini memang jarang sekali dan munculnya juga mungkin
setelah selang waktu ratusan atau ribuan tahun. Karena orang awam hanya memperhatikan segala hal
yang terjadi dalam skala umum yang kemudian dianggap
sebagai hukum alam, maka suatu
hal yang jarang terjadi lalu dianggap sebagai suatu yang diragukan
atau kedustaan.
Kesalahan yang dilakukan para filosof adalah kegagalan mereka meneliti hal-hal yang jarang terjadi. Adalah menjadi cara
abadi Allah
Swt. untuk kadang-kadang memperlihatkan
keajaiban
yang jarang terjadi. Banyak sekali
contoh-contoh seperti ini dan tidak bisa diuraikan semuanya satu per satu.
Hippocrates[2] dalam salah satu buku medikalnya mengemukakan beberapa kasus tentang orang-orang yang
menderita suatu penyakit, yang
menurut kaidah kedokteran dan pengalaman
ketabiban tidak akan bisa diobati, tetapi nyatanya kemudian sembuh kembali.
Menyangkut kasus-kasus tersebut, ia mengemukakan bahwa kesembuhan
mereka adalah berkat (akibat) dari pengaruh
langit atau bumi yang jarang terjadi. Kami ingin menambahkan, bahwa fenomena
kejadian yang jarang seperti itu
tidak terbatas pada dunia manusia saja, karena bisa ditemui juga pada spesi
(jenis) lain. Sebagai contoh, pohon
kaktus umumnya terasa pahit dan beracun, tetapi setelah suatu jangka waktu tertentu akan menghasilkan
bagian
segar yang terasa manis
dan lezat.
Orang yang tidak pernah melihatnya dan
selalu mengasosiasikan kaktus dengan
sesuatu yang pahit akan menganggap bagian tersebut sebagai hal yang bertentangan
dengan hukum alam. Begitu juga dalam spesi lain dimana kadang-kadang muncul karakteristik khusus setelah selang waktu yang lama.
Belum lama ini di daerah Muzaffargarh ada seekor kambing jantan
yang menghasilkan susu sebagaimana laiknya kambing betina. Ketika berita ini
tersiar di kota tersebut, tuan Macauliffe, deputi komisioner dari Muzaffargarh,
meminta agar kambing jantan itu
dikirimkan kepadanya. Kambing itu menghasilkan sekitar tiga pint (1.700 cc)
susu ketika kemudian diperah susunya
di hadapannya.
Ada tiga orang terhormat yang bisa dipercaya menyatakan kepadaku bahwa
mereka pernah melihat beberapa pria
yang menghasilkan susu seperti perempuan.
Beberapa orang lainnya mengatakan bahwa mereka mengenal ada jenis ulat sutra yang bertelur tanpa bantuan yang jantan
dimana telur itu kemudian menetas dengan cara yang normal.
Tabib Qarshi mencatat dalam bukunya tentang seorang pasien yang karena
cedera lalu telinganya menjadi tuli.
Tak lama kemudian muncul bisul di
bawah telinganya yang kemudian berlubang dan melalui lubang
tersebut orang itu mendengar kembali. Dengan cara
demikian Allah Swt. telah mengaruniakan telinga baru kepadanya.
Galen[3] pernah bertanya: “Bisakah manusia mendengar melalui matanya?”
Dia menjawab sendiri: “Pengalaman saat ini tidak mendukung kemungkinan seperti
itu, namun bisa jadi ada hubungan tersembunyi di antara mata dan telinga sebagai akibat dari bedah operasi atau karena intervensi samawi sehingga memungkinkan
hal tersebut, karena pengetahuan
mengenai sifat-sifat tubuh manusia belum lagi sempurna.”
Menjinakan Kalajengking Beracun dan Tawon
dengan Membaca Ayat Al-Quran
Dr. Bernier dalam jurnalnya ketika menguraikan[4] pendakian gunung Pir Panjal di
Kashmir, menceritakan kejadian aneh di halaman 80 dari bukunya. Di suatu tempat
mereka melihat seekor kalajengking hitam
yang besar keluar dari bawah sebuah batu yang kemudian ditangkap oleh seorang pemuda
Moghul kenalannya.
Pemuda ini memberikan kalajengking itu kepada Dr. Bernier dan
pelayannya tetapi kala itu tidak
menyengat mereka. Pemuda Moghul itu
menyatakan bahwa sebelumnya ia telah
membaca sebuah ayat Al-Quran
dan dengan cara itu ia telah sering menangkap
kalajengking tanpa cedera.
Pengarang dari kitab Futuhat wa Fusus
yang adalah
seorang filosof dan ahli tasauf terkenal dan terpelajar,
ada mencatat dalam bukunya bahwa suatu ketika di rumahnya terjadi diskusi di
antara seorang filosof dengan
seorang lainnya mengenai sifat membakar
dari api. Orang itu memegang tangan sang filosof lalu bersama tangannya
sendiri, memasukkannya ke dalam api
menyala di atas dapur arang serta menahannya di sana untuk suatu jangka
waktu. Ternyata api tidak membakar kedua tangan itu.
Aku sendiri pernah melihat seorang darwis pada suatu hari yang amat
panas telah membaca ayat:
وَ اِذَا
بَطَشۡتُمۡ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِیۡنَ ﴿﴾ۚ
“Dan
apabila kamu menangkap seseorang, kamu menangkap seperti orang-orang yang kejam”
(Asy-Syu’arā [26]:131), lalu ia menangkap seekor tabuhan dan ia tidak disengat.
Aku sendiri telah menyaksikan beberapa efek ajaib dari ayat-ayat
Al-Quran yang menggambarkan
keagungan
kekuasaan Allah Swt..
Singkat kata, dunia ini bagai
museum
yang penuh dengan keajaiban-keajaiban yang amat
banyak. Para filosof yang bijak dan
agung -- yang biasanya membanggakan pengetahuan mereka yang terbatas -- menganggapnya sebagai
suatu kepongahan untuk menyebut pengetahuan mereka itu sebagai hukum alam dari Allah Swt..
Apakah mungkin manusia memberi
batasan kepada kekuasaan Yang Maha Esa Yang
telah menciptakan langit berhiaskan matahari, bulan dan bintang-bintang serta mencipta bumi yang seperti taman
ini berisikan berbagai macam makhluk,
tanpa suatu upaya khusus kecuali
hanya Keinginan-Nya (Kehendak-Nya) saja? (Surma Chasm Arya, Qadian,
1886; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 90-101, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 3
Oktober 2015
[1]
Aliran filosofi yang berkembang sekitar 500 s.M. yang
antara lain ditandai dengan nama-nama besar seperti Socrates, Plato,
Aristoteles dan lain-lain. Sudut pandang mereka terutama diarahkan kepada unsur
alam yang utama seperti air, api, bumi dan angin beserta transisi
sifatsifatnya. (Penterjemah)
[2]
Filosof Yunani yang dianggap sebagai bapak dunia
kedokteran, lahir di Cos 460 s.M. dan meninggal di Thesally 377 s.M.
(Penterjemah)
[3]
Dikenal sebagai Galen dari Pergamum, lahir 129 M. dan
meninggal 216 M . Seorang tabib, penulis dan filosof yang jalan fikirannya
banyak mempengaruhi dunia kedokteran pada Abad Menengah sampai dengan abad ke
17, baik di Eropah maupun di dunia Muslim. (Penterjemah)
[4]
Dr . Francois Bernier , salah satu bukunya mengenai bangsa
Kashmir sebagai keturunan Bani Israil adalah Travels in the Moghul Empire A.D. 1656-1668. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar