Senin, 05 Oktober 2015

Berbagai Penampakan Baru Sifat-sifat Allah Swt. & Kekeliruan Dugaan Para Filosof Mengenai Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 58

Berbagai Penampakan  Baru Sifat-sifat Allah Swt.   & Kekeliruan Dugaan Para Filosof Mengenai Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai masalah terjadinya mukjizat yang dialami sendiri oleh Masih Mau’ud a.s., antara lain  berupa   pernyataan Allah Swt. yang akan memelihara beliau dan para pengikut hakiki beliau   -- dan kampung  Qadian -- dari dahsyatnya amukan “wabah tha’un” (pes) yang menelan korban ratusan ribu orang  non-Ahmadi di Hindustan.
      Masih Mau’ud a.s.  bersabda mengenai hakikat pengabulan doa tentang hal-hal yang nampaknya mustahil terjadi:
       “Jika kita tidak meyakini bahwa Tuhan bersifat Maha Perkasa maka semua harapan kita akan menjadi tidak ada artinya. Pengabulan doa-doa kita bergantung kepada keyakinan bahwa jika Tuhan berkenan maka Dia akan menciptakan kekuatan di dalam tubuh jasmani atau pun ruhani yang tadinya sudah tidak dimiliki.
   Sebagai contoh adalah saat kita mendoakan kesembuhan seseorang dari sakitnya yang terlihat sudah parah dan yang bersangkutan sudah sekarat. Lalu kita berdoa kepada Allah Swt. agar Dia menciptakan kekuatan dalam partikel-partikel jasmani orang bersangkutan, yang bisa menyelamatkannya dari maut (kematian). Kita mengalami bahwa banyak dari doa-doa seperti itu ternyata dikabulkan.
     Pada awalnya kita merasakan bahwa orang tersebut sudah di ambang ajalnya dan seluruh kekuatan hidupnya telah mencapai suatu akhir, namun ketika doa kita mencapai klimaks karena kekhusyukan doa -- dimana seolah kita sendiri yang merasa akan mati -- lalu Tuhan memberitahukan bahwa kekuatan hidup sudah dipulihkan dalam diri yang bersangkutan. Orang itu lalu menunjukkan gejala-gejala kepulihan seolah-olah orang mati yang bangkit kembali.
     Aku teringat ketika saat wabah pes melanda, aku berdoa: “Ya Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, peliharalah kami dari bencana ini dan ciptakan dalam diri kami penangkal yang akan menyelamatkan diri kami dari racun bawaan wabah ini.” Kemudian Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan penangkal dalam diri kita dan berfirman: “Aku akan menjaga mereka yang tinggal di dalam rumah ini kecuali mereka yang merasa dirinya tinggi karena sifat takaburnya” yang maksudnya adalah bahwa mereka yang tidak mengingkari Tuhan dan berlaku takwa akan diselamatkan. Allah Swt.  juga menyatakan bahwa kota Qadian akan dipelihara  dengan pengertian bahwa kota ini tidak akan hancur akibat wabah tersebut sebagaimana kota-kota lainnya.
    Hal-hal seperti itulah yang telah kita lihat dan saksikan sebagai pemenuhan nubuatan tersebut. Demikian itu caranya Tuhan menciptakan kekuatan dan daya baru dalam partikel-partikel diri kita. Karena meyakini janji Allah Swt. tersebut maka kami menghindari tindak penjagaan yang dilakukan manusia berupa vaksinasi terhadap wabah tersebut.
    Banyak dari mereka yang divaksin nyatanya malah mati, sedangkan kita --  berkat rahmat Allah Swt. -- masih tetap selamat. Allah Swt.. telah menciptakan partikel-partikel penangkal dalam diri kita. Dia juga menciptakan ruh sebagaimana Dia telah meniupkan ke dalam diriku sebuah ruh yang suci yang menjadikan aku hidup.
  Kita tidak saja mengharapkan bahwa Dia menciptakan ruh dan menghidupkan kembali jasmani kita, tetapi ruh kita pun membutuhkan ruh lain untuk menjadikannya hidup. Semuanya itu diciptakan oleh Allah Swt..  Barangsiapa yang belum memahami misteri ini maka ia belum menyadari kekuatan Tuhan dan belum mengindahkan Tuhan.”  (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld.. 19, hlm. 390-391, London, 1984).

Pengalaman Sehari-hari  Masih Mau’ud a.s. Mengalami   Pangabulan Doa

       Jadi,  pernyataan Allah Swt.  mengenai pengabulan doa dalam firman-Nya  berikut ini bagi Masih Mau’ud a.s. merupakan pengalaman beliau yang tidak jumlahnya tak terhitung:
وَ قَالَ رَبُّکُمُ  ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ ؕ اِنَّ  الَّذِیۡنَ یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِیۡ سَیَدۡخُلُوۡنَ جَہَنَّمَ دٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Rabb (Tuhan) kamu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku  Aku akan me-ngabulkan bagi kamu.” Sesungguh-ya orang-orang yang menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Ku, mereka segera  akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan terhina” (Al-Mu’min [40]:61)
       Demikian juga kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam firman-Nya  berikut ini  yang secara khusus tertuju kepada Nabi Besar Muhammad saw. pun menjadi pengalaman sehari-hari Masih Mau’ud a.s.:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku  فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ --  maka sesungguhnya Aku dekat. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    -- Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk  (Al-Baqarah [2]:187).
        Ayat tersebut merupakan bagian dari ayat-ayat tentang puasa Ramadhan. Ketika orang-orang beriman menyadari keberkatan bulan Ramadhan dan berpuasa di dalamnya, mereka tentu saja berhasrat memproleh sebanyak mungkin faedah ruhani darinya. Kepada kerinduan jiwa orang yang beriman itulah ayat ini memberikan jawaban.
       Kata-kata beriman kepada-Ku dalam ayat فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ --  “karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk”  tidak mengacu kepada beriman kepada Wujud Allah Swt.. --  sebab hal itu telah termasuk dalam anak kalimat sebelumnya: فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ    -- “hendaklah mereka menyambut seruan-Ku”, karena mustahil orang akan menyambut seruan Allah Swt.  dan menaati perintah-Nya tanpa percaya  (beriman) akan adanya Wujud Tuhan.
       Jadi kata-kata     beriman kepada-Ku  dalam ayat وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ   -- “dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk”  tertuju kepada kepercayaan bahwa Allah Swt.   mendengar dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.

Manifestasi Sifat Ilahi Tanpa Batas

        Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai tanpa batasnya Sifat-sifat Allah Swt. serta dampak-dampak yang ditimbulkannya berupa hukum-hukum alam, yang juga  tidak terbatas, sebagaimana firman  Allah Swt. dalam Al-Quran:
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾  وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa,    وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ -- dan yang kekal hanyalah Wujud   Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan?  کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ --  kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainanفَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --  Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang ka-mu berdua dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-31).
  Seluruh alam semesta ini  tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, dan oleh sebab itu alam semesta ini    ditakdirkan akan binasa. Hanya Tuhan (Allah Swt.) sajalah Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu.
   Wajh  dalam ayat  وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ antara lain berarti:  apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu sendiri; karunia, wajah (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
    Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilangsirnakan, tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Allah Swt., Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta.
   Ayat yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya (27-30) menunjuk kepada dua hukum alam, yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, ialah (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.
     Makna ayat کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ – “Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan”,  untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat itu menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa.

Penampakan-penampakan Baru Sifat-sifat Allah Swt.

 Sehubungan dengan penjelasan ayat tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman: 
وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, dan  Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu. (Al-Hijr [15]:22).
      Allah Swt. memiliki persediaan (khazanah) segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga, Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang sesungguhnya akan benda itu.
     Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian juga Al-Quran pun nmerupakan alam semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian yang dibukakan kepada manusia sesuai dengan keperluan zaman. Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ  قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ لَوۡ  جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ  مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah: "'Seandainya lautan menjadi tinta untuk me­nuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku), niscaya  lautan itu akan habis se­belum kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku) habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya  (Al-Kahf [18]:110)
  Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan diri atas penemuan­-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan duniawi dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru  bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq (penciptaan) itu sendiri.
    Hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka. Rahasia-rahasia Tuhan tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang   --  dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah  -- jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera. Sesuai dengan ayat  tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ  اَقۡلَامٌ  وَّ  الۡبَحۡرُ  یَمُدُّہٗ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ  اَبۡحُرٍ  مَّا نَفِدَتۡ  کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  seandainya pohon-pohon  di bumi ini menjadi pena dan laut    ditambahkan kepadanya  sesudahnya tujuh laut menjadi tinta,  kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Luqman [31]:28).
      Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan lazim.

Ketidakterbatasan Kebijakan Tuhan Yang Maha Agung

   Sehubungan  dengan  tidak terbatasnya rahasia-rahasia khazanah yang terkandung alam semesta  yang dikemukakan firman Allah Swt. tersebut  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
      “Ketuhanan Allah terkait dengan misteri yang bilangannya tidak terbatas dan tidak bisa ditampung dalam batas-batas norma manusia. Untuk bisa mengakui Allah  Swt. maka menjadi prinsip mendasar bahwa Kekuatan dan Kebijakan Tuhan Yang Maha Agung itu adalah suatu yang tidak ada batasnya. Dengan memahami prinsip tersebut dan merenunginya secara mendalam maka segala sesuatu akan menjadi jelas, sehingga manusia akan mampu melihat jalan yang lurus untuk mengakui dan menyembah Kebenaran. Kami mengimani bahwa Allah Yang Maha Perkasa selalu bertindak sejalan dengan Sifat-sifat abadi-Nya, juga mengakui bahwa Sifat-sifat abadi tersebut  diberi nama kaidah Ilahi.
    Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan bertindak sejalan dengan hukum tersebut lalu menjadikan Sifat Tuhan itu  menjadi  terbatas? Kami meyakini  bahwa dampak dari  Sifat-sifat yang menjadi bagian yang tidak terbatas dari Wujud Tuhan  tersebut akan dimanifestasikan  (diwujudkan) pada saatnya yang tepat, dimana Sifat-sifat tersebut mempengaruhi semua ciptaan yang ada di langit dan di bumi.
      Dampak dari Sifat-sifat tersebut disebut sebagai cara Allah Swt.  atau hukum alam. Hanya saja karena Allah Swt. bersifat Tanpa Batas dan Tanpa Akhir, rasanya tolol kalau kita  menganggap bahwa dampak dari  Sifat-sifat  yang tidak terbatas tersebut (yaitu hukum alam) tidak akan melampaui batas kemampuan observasi (pengamatan), pengalaman dan penalaran kita.

Kekeliruan  Para Filosof

    Adalah suatu kesalahan besar dari para filosof yang menganggap hukum alam sebagai suatu yang pasti dan tetap [yakni tidak mengalami perubahan]  dimana mereka lalu menolak segala sesuatu hal baru yang mereka temui. Jelas bahwa sikap demikian itu tidak memiliki dasar yang kuat.
    Jika memang demikian keadaannya maka tidak akan ada hal baru lagi di dunia ini dan mustahil bisa menemukan sesuatu yang baru, karena dianggap bertentangan dengan hukum alam yang ada,  meskipun hal itu berarti juga menentang suatu kebenaran baru.
  Jika kita renungi riwayat hidup para filosof, kita akan melihat bagaimana perubahan lintasan cara berfikir mereka dan betapa seringnya mereka dengan rasa malu harus meninggalkan suatu pandangan dan menganut pandangan lain yang baru. Kita melihat orang-orang yang sudah sekian lama menganggap suatu hal sebagai bertentangan dengan hukum alam, akhirnya harus mengubah pendapat dan menerimanya sebagai suatu kebenaran.
   Apa yang mendasari perubahan demikian? Mengapa suatu hal yang selama ini mereka anggap sebagai suatu kebenaran  lalu harus dianggap salah karena adanya pengalaman baru? Dengan adanya pengalaman baru tersebut maka sejalan dengan itu cara berfikir mereka itu pun mengalami perubahan.
       Cara berfikir mereka telah dibimbing oleh pengalaman baru tersebut dan hal ini berlanjut terus karena masih banyak sekali yang tersembunyi dari pandangan mereka.  Setelah terantuk-antuk melalui berbagai rintangan dan keadaan memalukan, barulah pada akhirnya mereka menerimanya sebagai kebenaran.
  Hukum alam belum sepenuhnya kokoh dalam ruang lingkup penalaran manusia sehingga mereka bisa mengabaikan penelitian baru. Apakah ada manusia waras yang menganggap bahwa umat manusia yang umurnya singkat tersebut bisa menguasai keseluruhan misteri keabadian, dan pengalamannya mengenai keajaiban Ilahi sudah sedemikian komprehensif (lengkap), sehingga apa pun yang tidak sejalan dengan pengalaman mereka bisa dianggap sebagai bukan Kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa?  

Keterbatasan Kemampuan  Manusia Tidak Bisa Dijadikan Tolok Ukur Ketidak-terbatasan Sifat-sifat Allah Swt.

   Hanya mereka yang bodoh dan tidak bermalu yang mempunyai anggapan demikian. Para filosof yang baik dan bijak dengan cara berfikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keruhanian, pada umumnya mengakui bahwa daya fikir mereka yang terbatas tidak bisa digunakan sebagai sarana untuk menemukan dan memahami Allah  Swt. dengan segala kebijakan dan misteri-Nya.
    Adalah suatu kebenaran baku bahwa setiap hal mengandung dalam dirinya sifat-sifat yang terus saja terpengaruhi oleh kekuasaan Allah Swt. yang tidak terbatas. Dengan demikian maka sifat dan karakteristik benda-benda yang kita kenal atau pun tidak, juga menjadi tidak terbatas.
   Jika semua pemikir dari zaman purba sampai modern menggunakan semua kemampuan mereka berfikir sampai dengan Hari Kiamat hanya untuk mencari tahu sifat-sifat dari sebutir biji gandum, tidak akan ada orang waras yang bisa mengatakan bahwa mereka telah sepenuhnya memahami sifat-sifat dari biji tersebut. Tidak ada  yang lebih tolol dari orang yang mengatakan bahwa para ahli astronomi dan fisika telah memahami semua sifat dari benda-benda di langit dan di bumi.
       Singkat kata, hukum alam yang dikenal manusia tidak mampu bertahan dari kebenaran yang mapan. Hukum alam yang dikenal manusia keadaannya  terbatas hanya pada tindakan-tindakan Ilahi yang telah dimanifestasikan (diwujudkan), atau mungkin akan dimanifestasikan secara alamiah, namun Allah Yang Maha Perkasa tidak ada merasa lelah memperlihatkan kekuasaan-Nya, tidak juga Dia menjadi tidak mampu lagi melakukannya.
    Tidak ada Dia telah tertidur, atau menyingkir ke suatu pojok atau pun telah dikalahkan sehingga harus menghentikan manifestasi keajaiban-keajaiban-Nya dimana kita harus cukup puas dengan cerita-cerita lama tentang bagaimana dahulu Dia itu amat berkuasa.
    Logika, kebijakan, filosofi, literatur dan pendidikan semuanya mengharuskan kita untuk tidak membatasi norma-norma hukum alam sebatas apa yang kita ketahui saja,  karena masih ribuan rincian  yang belum kita pelajari, sehingga merupakan suatu ketololan jika kita menganggap bahwa tindakan Allah Swt. tidak akan melampaui dari apa yang telah kita pelajari.
    Aku sering merenungi bagaimana segala hal tersebut bisa menjadi tolok ukur kebenaran atau sebagai neraca untuk menimbang kebenaran, padahal mereka sendiri belum sepenuhnya diketahui secara mendalam. Masalah kompleks ini telah merancukan jalan fikiran para filosof,  sehingga sebagian dari mereka yang disebut aliran Sophist[1]     malah menyangkal sama sekali sifat-sifat kebendaan, sedangkan yang lainnya berpendapat bahwa meskipun sifat-sifat itu diakui ada namun tidak mempunyai ketetapan yang permanen.

Kejadian Langka yang Tidak Mustahil Terjadi

      Air memang bisa memadamkan api,  tetapi bisa saja akibat karena pengaruh bumi atau langit secara tertentu maka air suatu mata sumber kehilangan kemampuan demikian. Api bisa membakar kayu, namun bisa saja ada jenis api yang  -- karena pengaruh internal (dari dalam) atau eksternal (dari luar) -- malah tidak bisa melakukan hal itu. Keajaiban-keajaiban seperti itu terus saja berlanjut dari waktu ke waktu.
   Para filosof juga berpendapat bahwa beberapa sifat-sifat langit atau bumi baru tampak setelah ribuan atau ratusan ribu tahun, dimana hal ini lalu menjadi suatu yang bersifat supranatural  (di luar kebiasaan) bagi mereka yang awam. Kadang-kadang terjadi keajaiban di langit atau di bumi yang mencengangkan para filosof akbar. Akibat dari  itu mereka cenderung mencipta beberapa hukum fisika atau astronomi untuk mengakomodasi keajaiban tadi agar kaidah hukum alam hasil rekaan mereka tidak menjadi batal dengan sendirinya.
      Selama mereka belum pernah melihat ikan yang bisa terbang, maka para filosof itu akan menyangkal keberadaannya. Sepanjang proses pemotongan ekor anjing tidak otomatis melahirkan anjing baru (anak anjing)  yang tidak berekor, maka mereka tidak akan mau menerima pandangan demikian.
      Sepanjang tidak ada yang melihat bahwa sebagai akibat dari gempa bumi dahsyat bisa muncul api tanah yang mencairkan batu-batu -- tetapi tidak membakar pepohonan --  maka para filosof akan menganggap sifat demikian bertentangan dengan hukum alam
   Ketika alat aspirator (pompa) belum ditemukan, mana ada filosof yang mempercayai bahwa transfusi darah merupakan bagian dari hukum alam? Siapakah yang bisa menyebutkan nama seorang filosof yang mengakui kemungkinan menggerakkan mesin dengan tenaga listrik ketika listrik belum ditemukan?

Keunikan  di Kalangan  Manusia

     Allamah Shareh Qanun yang adalah seorang tabib ahli medikal ternama dan filosof yang terpelajar, telah mencatat dalam bukunya bahwa di antara bangsa Yunani, sudah  umum diketahui adanya perempuan-perempuan  perawan dan saleh yang melahirkan anak tanpa berhubungan dengan seorang laki-laki.
      Ia mengemukakan pandangan pribadinya, bahwa kejadian-kejadian demikian tidak bisa ditolak sebagai suatu kedustaan, karena adanya kisah-kisah tersebut tentunya dilandasi suatu fakta.
     Ia mencatat dalam bukunya bahwa meskipun manusia itu merupakan satu spesi (jenis) tersendiri sehingga mirip satu dengan lainnya, namun beberapa dari antara manusia ini memiliki karakteristik yang amat khusus yang tidak terdapat pada manusia lainnya. Pada zaman modern ini ada berita yang mengatakan adanya manusia yang berumur 300 tahun. Ada pula orang-orang yang diberi kemampuan ingatan atau daya penglihatan yang amat sempurna.
    Orang-orang seperti ini memang jarang sekali dan munculnya juga mungkin setelah selang waktu ratusan atau ribuan tahun. Karena orang awam hanya memperhatikan segala hal yang terjadi dalam skala umum yang kemudian dianggap sebagai hukum alam, maka suatu hal yang jarang terjadi lalu dianggap sebagai suatu yang diragukan atau kedustaan.
     Kesalahan yang dilakukan para filosof adalah kegagalan mereka meneliti hal-hal yang jarang terjadi. Adalah menjadi cara abadi   Allah  Swt.  untuk kadang-kadang memperlihatkan keajaiban yang jarang terjadi. Banyak sekali contoh-contoh seperti ini dan tidak bisa diuraikan semuanya satu per satu.
     Hippocrates[2] dalam salah satu buku medikalnya mengemukakan beberapa kasus tentang orang-orang yang menderita suatu penyakit,  yang menurut kaidah kedokteran dan pengalaman ketabiban tidak akan bisa diobati,  tetapi nyatanya kemudian sembuh kembali.
    Menyangkut kasus-kasus tersebut, ia mengemukakan bahwa kesembuhan mereka adalah berkat (akibat) dari pengaruh langit atau bumi yang jarang terjadi. Kami ingin menambahkan,  bahwa fenomena kejadian yang jarang  seperti itu tidak terbatas pada dunia manusia saja,  karena bisa ditemui juga pada spesi  (jenis) lain. Sebagai contoh, pohon kaktus umumnya terasa pahit dan beracun, tetapi setelah suatu jangka waktu tertentu akan menghasilkan bagian segar yang terasa manis dan lezat.
    Orang yang tidak pernah melihatnya dan selalu mengasosiasikan kaktus dengan sesuatu yang pahit akan menganggap bagian tersebut sebagai hal yang bertentangan dengan hukum alam. Begitu juga dalam spesi lain dimana kadang-kadang muncul karakteristik khusus setelah selang waktu yang lama.
   Belum lama ini di daerah Muzaffargarh ada seekor kambing jantan yang menghasilkan susu sebagaimana laiknya kambing betina. Ketika berita ini tersiar di kota tersebut, tuan Macauliffe, deputi komisioner dari Muzaffargarh, meminta agar kambing jantan itu dikirimkan kepadanya. Kambing itu menghasilkan sekitar tiga pint (1.700 cc) susu ketika kemudian diperah susunya di hadapannya.
    Ada tiga orang terhormat yang bisa dipercaya menyatakan kepadaku bahwa mereka pernah melihat beberapa pria yang menghasilkan susu seperti perempuan. Beberapa orang lainnya mengatakan bahwa mereka mengenal ada jenis ulat sutra yang bertelur tanpa bantuan yang jantan dimana telur itu kemudian menetas dengan cara yang normal.
   Tabib Qarshi mencatat dalam bukunya tentang seorang pasien yang karena cedera lalu telinganya menjadi tuli. Tak lama kemudian muncul bisul di bawah telinganya yang kemudian berlubang dan melalui lubang tersebut orang itu mendengar kembali. Dengan cara demikian Allah  Swt.  telah mengaruniakan telinga baru kepadanya.
      Galen[3] pernah bertanya:  “Bisakah manusia mendengar melalui matanya?” Dia menjawab sendiri: “Pengalaman saat ini tidak mendukung kemungkinan seperti itu, namun bisa jadi ada hubungan tersembunyi di antara mata dan   telinga sebagai akibat dari bedah operasi atau karena intervensi samawi sehingga memungkinkan hal tersebut, karena pengetahuan mengenai sifat-sifat tubuh manusia belum lagi sempurna.”

Menjinakan Kalajengking Beracun dan Tawon dengan Membaca Ayat Al-Quran

   Dr. Bernier dalam jurnalnya ketika menguraikan[4] pendakian gunung Pir Panjal di Kashmir, menceritakan kejadian aneh di halaman 80 dari bukunya. Di suatu tempat mereka melihat seekor kalajengking hitam yang besar keluar dari bawah sebuah batu yang kemudian ditangkap oleh seorang pemuda Moghul kenalannya.
      Pemuda ini memberikan kalajengking itu kepada Dr. Bernier dan pelayannya tetapi kala itu tidak menyengat mereka.   Pemuda Moghul itu menyatakan bahwa sebelumnya ia telah membaca sebuah ayat   Al-Quran dan dengan cara itu ia telah sering menangkap kalajengking tanpa cedera.
       Pengarang dari kitab Futuhat wa Fusus yang adalah seorang filosof dan ahli tasauf terkenal dan terpelajar, ada mencatat dalam bukunya bahwa suatu ketika di rumahnya terjadi diskusi di antara seorang filosof dengan seorang lainnya mengenai sifat membakar dari  api. Orang itu memegang tangan sang filosof lalu bersama tangannya sendiri, memasukkannya ke dalam api menyala di atas dapur arang serta menahannya di sana untuk suatu jangka waktu. Ternyata api tidak membakar kedua tangan itu.   
      Aku sendiri pernah melihat seorang darwis pada suatu hari yang amat panas telah membaca ayat:
وَ  اِذَا  بَطَشۡتُمۡ  بَطَشۡتُمۡ  جَبَّارِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Dan apabila kamu menangkap seseorang, kamu menangkap seperti orang-orang yang kejam”   (Asy-Syu’arā [26]:131),  lalu ia menangkap seekor tabuhan dan ia tidak disengat. Aku sendiri telah menyaksikan beberapa efek ajaib dari ayat-ayat Al-Quran yang menggambarkan keagungan kekuasaan Allah Swt..
   Singkat kata, dunia ini bagai museum yang penuh dengan keajaiban-keajaiban yang amat banyak. Para filosof yang bijak dan agung  -- yang biasanya membanggakan pengetahuan mereka yang terbatas -- menganggapnya sebagai suatu kepongahan untuk menyebut pengetahuan mereka itu sebagai hukum alam dari Allah  Swt..
    Apakah mungkin manusia memberi batasan kepada kekuasaan Yang Maha Esa Yang telah menciptakan langit berhiaskan matahari, bulan dan bintang-bintang serta mencipta bumi yang seperti taman ini berisikan berbagai macam makhluk, tanpa suatu upaya khusus kecuali hanya Keinginan-Nya  (Kehendak-Nya)  saja? (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 90-101, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 3 Oktober  2015


[1] Aliran filosofi yang berkembang sekitar 500 s.M. yang antara lain ditandai dengan nama-nama besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles dan lain-lain. Sudut pandang mereka terutama diarahkan kepada unsur alam yang utama seperti air, api, bumi dan angin beserta transisi sifatsifatnya. (Penterjemah)

[2] Filosof Yunani yang dianggap sebagai bapak dunia kedokteran, lahir di Cos 460 s.M. dan meninggal di Thesally 377 s.M. (Penterjemah)

[3] Dikenal sebagai Galen dari Pergamum, lahir 129 M. dan meninggal 216 M . Seorang tabib, penulis dan filosof yang jalan fikirannya banyak mempengaruhi dunia kedokteran pada Abad Menengah sampai dengan abad ke 17, baik di Eropah maupun di dunia Muslim. (Penterjemah)

[4] Dr . Francois Bernier , salah satu bukunya mengenai bangsa Kashmir sebagai keturunan Bani Israil adalah Travels in the Moghul Empire A.D. 1656-1668. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar