بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani
Surah Al-Fatihah
Bab 72
Allah Swt.
Senantiasa Berkomunikasi Dengan
Para Hamba
Kekasih-Nya & Perumpamaan Kedekatan
Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt. Bagaikan “Seutas
Tali Dua Busur”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. tentang pentingnya respons (tanggapan) dari Allah Swt. mengenai “Keberadaan-Nya”
yang gaib, sehingga akan menimbulkan keyakinan dan kecintaan manusia kepada-Nya:
“Sepanjang Allah Yang Maha Kuasa tidak mengukuhkan
eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) melalui firman-Nya maka penelaahan
atas hasil kinerja-Nya (ciptaan-Nya) semata tidak akan memberikan kepuasan. Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah kamar yang terkunci dari dalam,
reaksi pertama kita adalah mengatakan bahwa ada seseorang di dalam
kamar yang telah menguncinya dari
dalam karena mengunci dari luar
jelas tidak mungkin.
Namun jika setelah suatu jangka waktu lama tidak juga ada
yang menanggapi dari dalam kamar -- meskipun berulangkali telah diseru -- maka
kita harus menanggalkan asumsi yang menyatakan bahwa ada
seseorang di dalam, dan kita
mulai membayangkan bahwa sebenarnya kamar itu kosong, sedangkan terkuncinya
kamar melalui suatu cara yang canggih (ajaib).
Hal seperti inilah yang terjadi pada diri para filosof (ahli filsafat)
yang pandangannya tidak
melampaui batas semata hanya menelaah
hasil kinerja Tuhan. Adalah
suatu kekeliruan besar untuk
membayangkan bahwa Tuhan itu seperti mayat
yang harus dikeluarkan manusia dari kuburnya. Jika Tuhan harus ditemukan melalui upaya
manusia maka semua harapan kita atas Tuhan tersebut menjadi tidak ada artinya.
Sesungguhnya Tuhan adalah Wujud Yang selalu memanggil
manusia ke arah-Nya dengan menyatakan:
Anal-maujud -- “Aku
ini ada.” Merupakan suatu kekonyolan untuk membayangkan bahwa Tuhan
harus sejalan dengan pemahaman manusia dan menganggap bahwa jika tidak karena para filosof
maka Dia tidak akan dikenal. Juga merupakan kekurangajaran untuk menanyakan
apakah Tuhan memiliki lidah
untuk berbicara?
Bukankah Dia telah menciptakan semua benda di langit dan di bumi tanpa
bantuan tangan jasmani? Bukankah Dia memandang ke seluruhan alam ini tanpa mata jasmani?
Tidakkah Dia itu mendengar tanpa telinga
jasmani? Dengan sendirinya juga maka Dia
bisa berbicara. Adalah keliru mengatakan bahwa Tuhan hanya berbicara di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi yang tersisa di masa depan. Kita tidak akan
pernah bisa mematok firman atau kata-kata-Nya hanya
pada suatu periode tertentu saja.
Tidak diragukan lagi bahwa Dia akan memperkaya para pencari-Nya
dari sumber mata air wahyu
sebagaimana yang telah dilakukan-Nya sejak dulu. Gerbang keridhaan-Nya
tetap terbuka sekarang sebagaimana
juga terbuka sejak sebelumnya. Yang
benar adalah, setelah kebutuhan akan kaidah (hukum) dan petunjuk
telah dipenuhi, maka semua kenabian dan kerasulan mencapai kulminasi
(puncak) kesempurnaannya pada titik akhir dalam diri Junjungan dan Penghulu kita, Rasulullah
Muhammad saw.“ (Islami Usul ki Philosophy (Falsafah Ajaran Islam) sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 10, hlm.
365-367, London, 1984).
Allah Swt. Senantiasa Berkomunikasi
dengan Para “Kekasih-Nya” & Kedekatan Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. dengan
Allah Swt.
Allah Swt. berfirman
dalam Al-Quran mengenai cara meraih “kedekatan” dengan-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ
اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka
pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan (Al-Ankabūt
[29]:70).
Jihad
sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban
pembunuhan, melainkan harus berjuang
keras guna memperoleh keridhaan Ilahi,
sebab kata fīnā berarti “untuk
menjumpai Kami.” Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya engkau
bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka engkau
akan bertemu dengan-Nya (Al-Insyiqāq
[84]:7).
Mengenai “kedekatan” sempurna dengan Allah Swt. yang diraih oleh Nabi Besar
Muhammad saw. Dia berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ وَ النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ
صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ
الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا
فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾ عِنۡدَہَا جَنَّۃُ
الۡمَاۡوٰی ﴿ؕ﴾ اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ
الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی ﴿﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. وَ النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی -- Demi bintang apabila
jatuh. مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- Sahabat kamu tidak sesat dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی -- Perkataannya
itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- Tuhan Yang
Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik Kekuatan, lalu Dia
bersemayam di atas
‘Arasy, وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی
-- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi, ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati
Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,
فَکَانَ
قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی
-- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,
atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی -- Lalu Dia
mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang
telah Dia wahyukan. مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta mengenai apa yang dia lihat.
اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی -- Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa
yang telah dia lihat? وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی -- Dan
sungguh dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- dekat pohon
Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی -- Yang di dekatnya ada surga, tempat
tinggal. اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- Ketika pohon
Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang
menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی
-- penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang
dan tidak pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی
-- Sungguh ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya). (An-Najm [53]:1-19).
Berbagai Makna An-Najm
An-najm
berarti bintang atau tumbuhan yang tidak berbatang. Tetapi bila dikenakan sebagai kata pengganti nama kata itu berarti “Bintang Tujuh“ (Bintang Kartika atau
Pleiades). Kata an-najm itu dianggap
juga oleh beberapa ‘ulama sebagai
mengandung arti penurunan Al-Quran
secara berangsur-angsur, dan oleh beberapa sumber lainnya dianggap
mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. sendiri. Kata
jamaknya an-nujum, berarti juga para kepala
kaum atau kepala negara-negara kecil
atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil (Al-Kasysyaf ’an Ghawamidh al-Tanzil; Taj-ul’Arus
& Ghara’ib-al-Quran).
Mengingat akan arti
yang berbeda-beda maka kata an-najm dalam ayat ini dapat diterangkan:
(1) Menurut sebuah
hadits yang masyhur, -- sehubungan nubuatan
kemunduran umat Islam yang diisyaratkan dalam dalam QS.17:87-88; QS.32:6; QS.62:3-4 --
Nabi Besar Muhammad saw. pernah
mengatakan: “Manakala kegelapan ruhani meliputi seluruh
permukaan bumi dan tidak ada yang tinggal dari Islam kecuali namanya,
dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hurufnya dan iman terbang ke Bintang
Tsuraya, maka seorang laki-laki
dari keturunan Parsi akan membawanya
kembali ke bumi” (Bukhari).
(2) Kata itu dapat
berarti bahwa Al-Quran memberi kesaksian
atas kebenarannya sendiri, sebab
mendapat jaminan pemeliharaan dari
Allah Swt. (QS.15:10).
(3) Pohon Islam yang masih lemah, yang di awalnya seperti akan tumbang oleh angin perlawanan
kuat lagi tidak bersahabat yang
bertiup kencang dan sengit ke arahnya, tidak lama lagi akan bangkit dan berkembang menjadi pohon megah, dan di bawah naungannya yang sejuk bangsa-bangsa besar akan berteduh (QS.48:30).
(4) Karena orang-orang Arab sudah biasa menetapkan arah dan tujuan serta dibimbing
dalam perjalanan mereka di padang pasir
Arabia oleh peredaran bintang-bintang
(QS.16:17), demikianlah mereka sekarang akan dibimbing ke tujuan ruhani
mereka oleh bintang yang paling cemerlang, yaitu Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.33: 46-48).
(5) Ayat ini dapat juga
mengandung sebuah nubuatan tentang
jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok, suatu nubuatan yang lebih jelas lagi diterangkan dalam QS.54:2 mengenai “terbelahnya bulan”, yang merupakan lambang bangsa Arab.
Makna ayat مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- “Sahabat
kamu tidak sesat dan tidak pula keliru”.
Cita-cita dan asas-asas
yang dikemukakan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. tidak
salah lagi pula beliau saw. ekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas
itu (yakni beliau saw. juga tidak tersesat).
Dengan demikian mengingat cita-cita luhur dan mulia Nabi Besar Muhammad
saw., dan mengingat pula cara beliau saw.
menjalani hidup sesuai dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin dan aman.
Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat berikut-nya.
Makna “Ufuq”
Tertinggi
Kalau ayat اِنۡ ہُوَ
اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی -- ‘”perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan” membicarakan sumber asal wahyu Nabi Besar Muhammad saw.
yang adalah dari Allah Swt.,
maka dua ayat sebelumnya مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- “Sahabat kamu tidak sesat dan tidak pula keliru, وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia sekali-kali
tidak berkata-kata menuruti keinginannya”
mengisyaratkan kepada khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahat.
Makna ayat عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- “Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya”, Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar
artinya. Sedangkan maka kata mirrah dalam ayat ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- “Pemilik Kekuatan, lalu
Dia bersemayam di atas ‘Arasy”, berarti: kekuatan karya atau kecerdasan;
pertimbangan sehat; keteguhan (Aqrab-ul-Mawarid).
Dzū mirrah dapat juga
berarti “orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari” yakni Nabi
Besar Muhammad saw..
Ungkapan istawā
‘alā asy-syai-i sehubungan ayat فَاسۡتَوٰی – “lalu Dia bersemayam di
atas ‘Arasy,” berarti bahwa ia memperoleh atau memiliki hak
penguasaan atau pengaruh penuh
atas barang itu. Jika diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., ungkapan itu akan
berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani
dan intelek beliau saw. telah
mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya.
Makna
ayat وَ ہُوَ
بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی
-- “dan Dia
mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk
tertinggi”, Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj beliau saw. yang mungkin dicapai
para rasul Allah, ketika Allah Swt. menampakkan Wujud-Nya kepada beliau saw.
dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna. Itulah sebabnya
agama terakhir dan tersempurna telah diwahyukan Allah Swt. kepada beliau saw. (QS.5:4;) karena hanya
beliau saw. yang sanggup “mengemban Amanat
Allah Swt. tersebut secara sempurna (QS.33:73)
Atau, ayat ini dapat
berarti bahwa cahaya Islam
ditempatkan pada suatu tempat yang sangat
tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa
dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Lihat juga ayat 10.
Makna ungkapan dalla al-dalwa sehubungan ayat ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- “kemudian ia, Rasulullah,
mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya”, berarti: ia menurunkan ember ke
dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi. Tadalla berarti:
ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau
kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-al-’Arab).
Jadi ayat ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- “kemudian ia, Rasulullah,
mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya”, berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mendekati Allah Swt. dan Allah Swt. condong
kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mencapai
kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt., lalu setelah minum dengan sepuas-puasnya di Sumber
mata air ilmu-keruhanian Ilahi,
beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat
manusia.
Makna “Seutas
Tali Dua Buah Busur” & “Perpaduan”
Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt.
Qāb
dalam ayat فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ
اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,” berarti:
(1)
bagian busur
antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan;
(2)
dari satu
ujung busur ke ujung busur yang lain;
(3)
ukuran atau
ruang.
Orang Arab berkata bainahumā qāba qausaini, yakni “di antara mereka
berdua adalah seukuran busur”, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat
akrab. Peribahasa Arab yang mengatakan
ramaunā ‘an qausin wāhidin, yakni “mereka
memanah kami dari satu busur”, yaitu
bahwa “mereka seia-sekata melawan
kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon
Lane, Lisan-al-‘Arab,
dan Zamakhsyari).
Apa pun kandungan arti
kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa Nabi Besar Muhammad saw. terus
menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj dan menghampiri
Allah Swt. sehingga jarak antara
keduanya hilang sirna dan Nabi Besar Muhammad saw. seolah-olah
menjadi “seutas tali dari dua busur”.
Peribahasa ini
mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan
orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka
dengan cara demikian, sehingga busur-busur
itu nampak seperti satu dan kemudian
mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
Bila kata tadalla dianggap
mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. naik
menuju Allah Swt. dan Allah Swt. turun
kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu
menjadi satu wujud.
Ungkapan فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ
اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,” tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus,
yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi
Besar Muhammad saw. menjadi sama sekali fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri, maka di
pihak lain beliau saw. turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa
kasih serta merasa prihatin akan
mereka, sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw. dan
beliau saw. menjadi titik-pusat tali
kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan. Kata-kata اَوۡ اَدۡنٰی -- “atau lebih dekat
lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan
antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan
Allah Swt. menjadi kian dekat dan
kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
Mikraj dan Isra Nabi Besar Muhammad
Saw. Dua Peristiwa Ruhani yang Berbeda Waktunya dan Kejadiannya
Ayat-ayat 8 sampai 18
menggambarkan mikraj Nabi Besar
Muhammad saw. ketika beliau saw. secara
ruhani dibawa ke langit dan
dianugerahi pemandangan suatu penjelmaan ruhani Allah Swt., dan secara ruhani beliau saw. naik
sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya. Pada hakikatnya, mikraj
merupakan dua pengalaman ruhani; yaitu
kenaikan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dan turunnya tajalli (penampakan
kebesaran) Allah Swt. kepada beliau saw..
Dalam pikiran umum, mikraj
telah dicampurbaurkan dengan isra’ (perjalanan Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu
malam ke Yerusalem), sedangkan
masing-masing berlainan dan terpisah waktu terjadinya. Isra yang
diisyaratkan dalam Surah Bani Israil
ayat 2 -- terjadi pada tahun ke-11 atau
ke-12 tahun Nabawi (Zurqani),
padahal Nabi Besar Muhammad saw. telah lebih dahulu mengalami mikraj pada tahun ke-5, tidak lama
sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6
atau 7 tahun sebelum terjadi isra’.
Penelaahan saksama dan
teliti mengenai rincian kedua peristiwa itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam
hadits juga mendukung pendapat ini.
Untuk keterangan lebih terinci mengenai kedua peristiwa mikraj dan isra’ keduanya merupakan kejadian yang terpisah
dan berbeda satu sama lain.
Mā dalam ayat فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی -- “Lalu Dia mewahyukan kepada
hamba-Nya apa yang telah Dia
wahyukan,” kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan
(keta’juban) atau untuk memberikan tekanan
arti (Aqrab-al-Mawarid).
Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. menurunkan wahyu kepada hamba-Nya,
dan “alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!”
Makna ayat selanjutnya مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- “Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta mengenai apa yang dia lihat.” Hakikatnya
ialah apa yang telah dilihat oleh adalah pengalaman hakiki, pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan
khayal beliau saw.. Sedangkan makna ayat
وَ لَقَدۡ رَاٰہُ
نَزۡلَۃً اُخۡرٰی -- “Dan sungguh dia benar-benar
melihat-Nya kedua kali,” bahwa kasyaf
Nabi Besar Muhammad saw. itu
suatu pengalaman ruhani berganda.
Makna “Pohon Sidrah” Tertinggi
Makna ayat عِنۡدَ
سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی
-- “dekat pohon Sidrah tertinggi”, pada waktu mikraj, Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan
kepada Allah) demikian tinggi,
sehingga sungguh berada di luar jangkauan
otak manusia untuk memahaminya;
atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat
itu terbentang di hadapan beliau saw. samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat
Ilahi, hakikat-hakikat serta
kebenaran-kebenaran abadi.
Kata sadir sehubungan dengan “Sidratul
muntaha” (Sidrah tertinggi) yang diambil dari akar kata yang sama, berarti
bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. akan
seperti halnya pohon Sidrah
memberikan kesenangan dan naungan
kepada para musafir ruhani yang
merasa kakinya letih dan payah.
Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat berarti bahwa ajaran
Islam (Al-Quran) yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., tidak hanya kebal terhadap bahaya
kerusakan -- karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt.
(QS.15:10) -- bahkan juga baik sekali
guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan akhlak dan ruhani.
Atau, ayat ini mengandung kabar gaib yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. mengikat
janji setia kepada beliau pada peristiwa Perjanjian
Hudaibiyah, firman-Nya:
لَقَدۡ
رَضِیَ اللّٰہُ عَنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اِذۡ یُبَایِعُوۡنَکَ تَحۡتَ الشَّجَرَۃِ فَعَلِمَ
مَا فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ فَاَنۡزَلَ السَّکِیۡنَۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَثَابَہُمۡ فَتۡحًا
قَرِیۡبًا ﴿ۙ﴾
Sungguh
Allah benar-benar telah ridha
terhadap orang-orang beriman ketika mereka baiat kepada engkau di bawah pohon
itu, maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati
mereka, lalu Dia menurunkan ketenteraman kepada mereka,
dan Dia mengganjar mereka dengan keme-nangan yang dekat (Al-Fath [48]:19).
Kata-kata “yang menutupi” (menyelubungi)
dalam ayat اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- “Ketika pohon Sidrah
diselubungi oleh sesuatu yang
menyelubungi”, maknanya ialah penjelmaan
Ilahi (Tajali Ilahiyat).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 18 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar