Rabu, 21 Oktober 2015

Allah Swt. Senantiasa "Berkomunikasi" Dengan Para "Hamba Kekasih-Nya" & Perumpamaan "Kedekatan" Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. Dengan Allah Swt. Bagaikan "Seutas Tali Dua Busur"



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 72

Allah Swt. Senantiasa Berkomunikasi Dengan Para  Hamba Kekasih-Nya & Perumpamaan Kedekatan Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt.  Bagaikan “Seutas Tali Dua Busur

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  sabda  Masih Mau’ud a.s.  tentang pentingnya respons  (tanggapan) dari  Allah Swt. mengenai  “Keberadaan-Nya” yang gaib, sehingga akan menimbulkan keyakinan dan kecintaan manusia kepada-Nya:
    “Sepanjang Allah Yang Maha Kuasa tidak mengukuhkan eksistensi-Nya  (keberadaan-Nya) melalui firman-Nya maka penelaahan atas hasil kinerja-Nya (ciptaan-Nya) semata tidak akan memberikan kepuasan. Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah kamar yang terkunci dari dalam, reaksi pertama kita adalah mengatakan bahwa ada seseorang di dalam kamar yang telah menguncinya dari dalam karena mengunci dari luar jelas tidak mungkin.
     Namun jika setelah suatu jangka waktu lama tidak juga ada yang menanggapi dari dalam kamar  -- meskipun berulangkali telah diseru -- maka kita harus menanggalkan asumsi yang menyatakan bahwa ada seseorang di dalam,  dan kita mulai membayangkan bahwa sebenarnya kamar itu kosong, sedangkan terkuncinya kamar   melalui suatu cara yang canggih (ajaib).
   Hal seperti inilah yang terjadi pada diri para filosof  (ahli filsafat) yang pandangannya tidak melampaui batas semata hanya menelaah hasil kinerja Tuhan. Adalah suatu kekeliruan besar untuk membayangkan bahwa Tuhan itu seperti mayat yang harus dikeluarkan manusia dari kuburnya. Jika Tuhan harus ditemukan melalui upaya manusia maka semua harapan kita atas Tuhan tersebut menjadi tidak ada artinya.
    Sesungguhnya Tuhan adalah Wujud Yang selalu memanggil manusia ke arah-Nya dengan menyatakan:  Anal-maujud --  “Aku ini ada.” Merupakan suatu kekonyolan untuk membayangkan bahwa Tuhan harus sejalan dengan pemahaman manusia dan menganggap bahwa jika tidak karena para filosof maka Dia tidak akan dikenal. Juga merupakan kekurangajaran untuk menanyakan apakah Tuhan memiliki lidah untuk berbicara?
        Bukankah Dia telah menciptakan semua benda di langit dan di bumi tanpa bantuan tangan jasmani? Bukankah Dia memandang ke seluruhan alam ini tanpa mata jasmani? Tidakkah Dia itu mendengar tanpa telinga jasmani? Dengan sendirinya juga maka Dia bisa berbicara. Adalah keliru mengatakan bahwa Tuhan hanya berbicara di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi yang tersisa di masa depan. Kita tidak akan pernah bisa mematok firman atau kata-kata-Nya hanya pada suatu periode tertentu saja.
     Tidak diragukan lagi bahwa Dia akan memperkaya para pencari-Nya dari sumber mata air wahyu sebagaimana yang telah dilakukan-Nya sejak dulu. Gerbang keridhaan-Nya tetap terbuka sekarang sebagaimana juga terbuka sejak sebelumnya. Yang benar adalah, setelah kebutuhan akan kaidah (hukum) dan petunjuk telah dipenuhi, maka semua kenabian dan kerasulan mencapai kulminasi (puncak) kesempurnaannya pada titik akhir dalam diri Junjungan dan Penghulu kita, Rasulullah Muhammad saw.“ (Islami Usul ki Philosophy (Falsafah Ajaran Islam) sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 10, hlm. 365-367, London, 1984).

Allah Swt. Senantiasa Berkomunikasi dengan Para “Kekasih-Nya” &  Kedekatan  Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt.

    Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran mengenai  cara meraih “kedekatan” dengan-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang  untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan   (Al-Ankabūt [29]:70).
        Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.” Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka  engkau akan bertemu dengan-Nya  (Al-Insyiqāq [84]:7).
       Mengenai “kedekatan” sempurna dengan Allah Swt. yang diraih oleh Nabi Besar Muhammad saw.  Dia berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾ اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾ اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  -- Demi bintang  apabila  jatuh.  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی --    Sahabat kamu tidak  sesat dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  --   Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,   ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی     -- Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy,  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی  -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi, ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  --   Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta mengenai apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی    -- Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی    -- Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی  -- dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  --  Yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی  -- penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی  -- Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya). (An-Najm [53]:1-19).

Berbagai Makna An-Najm

  An-najm berarti bintang atau tumbuhan yang tidak berbatang. Tetapi bila dikenakan sebagai kata pengganti nama kata itu berarti “Bintang Tujuh“ (Bintang Kartika atau Pleiades). Kata an-najm itu dianggap juga oleh beberapa ‘ulama sebagai mengandung arti penurunan Al-Quran secara berangsur-angsur, dan oleh beberapa sumber lainnya dianggap mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. sendiri. Kata jamaknya an-nujum, berarti juga para kepala kaum atau kepala negara-negara kecil atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil (Al-Kasysyaf ’an Ghawamidh al-Tanzil; Taj-ul’Arus & Ghara’ib-al-Quran).
    Mengingat akan arti yang berbeda-beda maka kata an-najm dalam ayat ini dapat diterangkan:
   (1) Menurut sebuah hadits yang masyhur, -- sehubungan nubuatan kemunduran umat Islam yang diisyaratkan dalam dalam QS.17:87-88; QS.32:6;  QS.62:3-4 --  Nabi Besar Muhammad saw.  pernah mengatakan: “Manakala kegelapan ruhani meliputi seluruh permukaan bumi dan tidak ada yang tinggal dari Islam kecuali namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hurufnya dan iman terbang ke Bintang Tsuraya, maka seorang laki-laki dari keturunan Parsi akan membawanya kembali ke bumi” (Bukhari).
  (2) Kata itu dapat berarti bahwa Al-Quran memberi kesaksian atas kebenarannya sendiri, sebab mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah Swt. (QS.15:10).
   (3) Pohon Islam yang masih lemah,  yang di awalnya  seperti akan tumbang oleh angin perlawanan kuat lagi tidak bersahabat yang bertiup kencang dan sengit ke arahnya, tidak lama lagi akan bangkit dan berkembang menjadi pohon megah, dan di bawah naungannya yang sejuk  bangsa-bangsa besar akan berteduh (QS.48:30).
  (4) Karena orang-orang Arab sudah biasa menetapkan arah dan tujuan serta dibimbing dalam perjalanan mereka di padang pasir Arabia oleh peredaran bintang-bintang (QS.16:17), demikianlah mereka sekarang akan dibimbing ke tujuan ruhani mereka oleh bintang yang paling cemerlang, yaitu   Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33: 46-48).
   (5) Ayat ini dapat juga mengandung sebuah nubuatan tentang jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok, suatu nubuatan yang lebih jelas lagi diterangkan dalam  QS.54:2 mengenai “terbelahnya bulan”, yang merupakan lambang bangsa Arab.
  Makna ayat مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی --  “Sahabat kamu tidak  sesat dan tidak pula keliru”.  Cita-cita dan asas-asas yang dikemukakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.    tidak salah  lagi pula beliau  saw. ekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas itu (yakni beliau saw. juga tidak tersesat).
  Dengan demikian mengingat cita-cita luhur dan mulia  Nabi Besar Muhammad saw., dan mengingat pula cara beliau saw. menjalani hidup sesuai dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin dan aman. Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat berikut-nya.

Makna “Ufuq” Tertinggi   

   Kalau ayat اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  --   ‘”perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan” membicarakan sumber asal wahyu Nabi Besar Muhammad saw.  yang adalah dari Allah Swt., maka dua ayat sebelumnya مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی --  “Sahabat kamu tidak  sesat dan tidak pula keliru,    وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya mengisyaratkan kepada khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahat.
   Makna ayat عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --  “Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya”, Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar artinya. Sedangkan maka kata    mirrah dalam ayat ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی     --Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy”,  berarti: kekuatan karya atau kecerdasan; pertimbangan sehat; keteguhan (Aqrab-ul-Mawarid). Dzū  mirrah dapat juga berarti  “orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari” yakni Nabi Besar Muhammad saw..
 Ungkapan istawā ‘alā asy-syai-i  sehubungan ayat    فَاسۡتَوٰی “lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy,”  berarti  bahwa  ia memperoleh atau memiliki  hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu. Jika diterapkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw., ungkapan itu akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya.
  Makna ayat وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی  -- “dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi”, Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj beliau saw. yang mungkin dicapai para rasul Allah, ketika Allah Swt. menampakkan Wujud-Nya kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna. Itulah sebabnya agama terakhir dan tersempurna telah diwahyukan Allah Swt. kepada beliau saw. (QS.5:4;) karena hanya beliau saw. yang sanggup “mengemban  Amanat Allah Swt. tersebut secara sempurna (QS.33:73)
    Atau, ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang sangat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dapat menunjuk kepada Allah Swt.  dan kepada  Nabi Besar Muhammad saw..  Lihat juga ayat 10.
 Makna ungkapan  dalla al-dalwa  sehubungan ayat ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی   -- “kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya”,  berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi. Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-al-’Arab).
  Jadi ayat  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی   -- “kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya”,   berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    mendekati Allah Swt. dan Allah Swt.  condong kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw.    mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt., lalu setelah minum dengan sepuas-puasnya di Sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.

Makna “Seutas Tali Dua Buah Busur” &   Perpaduan” Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt.

  Qāb  dalam ayat فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,”   berarti:
(1)             bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan;
(2)             dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain;
(3)             ukuran atau ruang.
Orang Arab berkata  bainahumā  qāba qausaini, yakni “di antara mereka berdua adalah seukuran busur”, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab. Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin, yakni  “mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane, Lisan-al-‘Arab, dan Zamakhsyari).
  Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.     terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj  dan menghampiri Allah Swt. sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan  Nabi Besar Muhammad saw.     seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur”.
 Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
    Bila kata tadalla dianggap mengenai Allah  Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.     naik menuju Allah Swt. dan Allah Swt.  turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
   Ungkapan فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,”   tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak  Nabi Besar Muhammad saw.      menjadi sama sekali  fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri, maka di pihak lain beliau saw. turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka, sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw. dan beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan. Kata-kata  اَوۡ اَدۡنٰی --  “atau lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan antara  Nabi Besar Muhammad saw.       dengan Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.

Mikraj dan Isra  Nabi Besar Muhammad Saw. Dua Peristiwa Ruhani  yang Berbeda Waktunya dan Kejadiannya

     Ayat-ayat 8 sampai 18 menggambarkan mikraj  Nabi Besar Muhammad saw.       ketika beliau saw.  secara ruhani dibawa ke langit dan dianugerahi pemandangan  suatu penjelmaan   ruhani Allah Swt., dan secara ruhani beliau saw.  naik sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya. Pada hakikatnya, mikraj merupakan dua pengalaman ruhani; yaitu kenaikan ruhani  Nabi Besar Muhammad saw. dan turunnya tajalli (penampakan kebesaran) Allah Swt. kepada beliau saw..
   Dalam pikiran umum, mikraj telah dicampurbaurkan dengan isra’ (perjalanan Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu malam ke Yerusalem), sedangkan masing-masing berlainan dan terpisah waktu terjadinya. Isra   yang diisyaratkan dalam Surah Bani Israil ayat 2   -- terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi (Zurqani), padahal  Nabi Besar Muhammad saw.  telah lebih dahulu mengalami  mikraj pada tahun ke-5, tidak lama sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6 atau 7 tahun sebelum terjadi isra’.
  Penelaahan saksama dan teliti mengenai rincian kedua peristiwa itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam hadits  juga mendukung pendapat ini. Untuk keterangan lebih  terinci  mengenai kedua peristiwa  mikraj dan isra’  keduanya merupakan kejadian yang terpisah dan berbeda satu sama lain.
    Mā   dalam ayat فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  --  “Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan,” kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan (keta’juban) atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-al-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. menurunkan wahyu kepada hamba-Nya, dan “alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!”
   Makna ayat selanjutnya مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  --   “Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta mengenai apa yang dia lihat.”  Hakikatnya  ialah apa yang telah dilihat oleh adalah pengalaman hakiki, pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw.. Sedangkan makna ayat  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی    -- “Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali,” bahwa kasyaf  Nabi Besar Muhammad saw.  itu suatu pengalaman ruhani berganda.

Makna “Pohon Sidrah” Tertinggi

  Makna ayat عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی  -- “dekat pohon Sidrah tertinggi”, pada waktu mikraj,  Nabi Besar Muhammad saw.       telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau  saw. samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi,  hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi.
 Kata  sadir sehubungan dengan “Sidratul muntaha” (Sidrah tertinggi) yang diambil dari akar kata yang sama, berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw. akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah.
 Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat berarti  bahwa ajaran Islam (Al-Quran)  yang diwahyukan Allah Swt. kepada  Nabi Besar Muhammad saw.,      tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan   -- karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10)  -- bahkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan akhlak dan ruhani.
  Atau, ayat ini mengandung kabar gaib yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat  Nabi Besar Muhammad saw.     mengikat janji setia kepada beliau pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, firman-Nya:
لَقَدۡ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  اِذۡ یُبَایِعُوۡنَکَ تَحۡتَ الشَّجَرَۃِ  فَعَلِمَ  مَا فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ  فَاَنۡزَلَ السَّکِیۡنَۃَ  عَلَیۡہِمۡ وَ اَثَابَہُمۡ  فَتۡحًا  قَرِیۡبًا ﴿ۙ﴾
Sungguh Allah benar-benar telah ridha terhadap orang-orang beriman ketika mereka baiat kepada engkau di bawah pohon itu,   maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka,  lalu Dia menurunkan ketenteraman kepada mereka, dan Dia mengganjar mereka dengan keme-nangan yang dekat  (Al-Fath [48]:19).
       Kata-kata “yang menutupi” (menyelubungi) dalam ayat  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- “Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi”, maknanya ialah penjelmaan Ilahi  (Tajali Ilahiyat).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 18 Oktober  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar