Senin, 28 September 2015

Kemunculan "Putra-putra Ruhani" Hakiki Nabi Besar Muhammad Saw. di Setiap Abad & Makna Misal "Istri-istriDurhaka" Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. serta Hubungannya dengan Nafs-al-Ammarah


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 52

Kemunculan Putra-putra Ruhani Hakiki   Nabi Besar Muhammad Saw. di Setiap Abad  & Makna Misal Istri-stri Durhaka Nabi Nuh  a.s. dan Nabi Luth a.s.  serta Hubungannya dengan Nafs Ammarah

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai pengulangan perintah iqra (bacalah) kepada Nabi Besar Muhammad saw.:         اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ --   Bacalah, dan Rabb (Tuhan) engkau   Maha Mulia, الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ --   Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ  یَعۡلَمۡ --   Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya  (Al-‘Alaq [96]:4-6).
  Pengulangan kata iqra (bacalah) dalam ayat tersebut berarti bahwa semakin sering Al-Quran dibaca dan didakwahkan ke seluruh dunia, akan semakin tambah jua kekudusan Allah Swt.   dan kehormatan manusia diakui dan dihargai.
  Ayat: الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ --   Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ  یَعۡلَمۡ -- Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”   nampaknya mengandung suatu nubuatan bahwa pena akan memainkan   peranan sangat penting dalam pengalihan Al-Quran ke dalam bentuk tulisan dan dalam pemeliharaan serta penjagaan dari bahaya hilang atau dari gangguan campur-tangan manusia, sesuai dengan janji pemeliharaan Allah Swt. terhadap Al-Quran (QS.15:10).
  Lebih lanjut ayat ini menunjuk kepada   sumbangan besar yang akan diberikan oleh pena kepada penyebaran dan penyiaran ilmu-ilmu ruhani dan rahasia-rahasia Ilahi dengan perantaraan Al-Quran dan penyebaran ilmu-ilmu duniawi, yang dengan mempelajari Al-Quran mendapat dorongan besar ke arah upaya itu sebagaimana dinubuatkan pula dalam (QS.81:11)  mengenai terjadinya penyebar-luasan buku-buku yang merupakan hasil  kerja  para penulis yang menggunakan  “pena”, firman-Nya:
وَ  اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾
  Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan  (At-Takwīr 81]:11).
   Isyarat ini nampaknya ditujukan kepada penyebarluasan surat-surat kabar, majalah-majalah, dan juga buku-buku, juga ditujukan kepada sistem perpustakaan dan taman-taman bacaan serta tempat-tempat dan sarana-sarana lainnya serupa itu untuk penyiaran ilmu pengetahuan di Akhir Zaman ini.
   Sungguh bermakna sekali bahwa pena disebut dengan kerapnya dalam sebuah Kitab suci yang telah diwahyukan ditengah-tengah suatu bangsa yang sedikit pun tidak menghargai pena dan yang jarang mempergunakannya, dan yang diwahyukan kepada orang yang tidak dapat membaca dan menulis (QS.7:158; QS.62:3).

Bantahan Tuduhan “Orang Gila” Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.

 Kembali kepada Surah Al-Qalam yang dikemukakan sebelum ini mengenai kesaksian bahwa Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar memiliki akhlak  dan ruhani yang sangat  agung وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ “dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung”     --  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ نٓ  وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ﴿﴾  مَاۤ  اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾  وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾  وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. نٓ  وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ   --      demi tempat tinta dan pena dan apa yang mereka tulisمَاۤ  اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ  --    Dengan nikmat Rabb (Tuhan) engkau,  engkau sekali-kali bukanlah orang gila. وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ --   Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya. وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung   (Al-Qalam [68]:1-5).
 Dalam ayat ini tempat tinta dan pena serta semua sarana tulis-menulis disebutkan sebagai bukti guna mendukung serta membenarkan pernyataan yang dibuat pada tiga ayat berikutnya mengenai  Nabi Besar  Muhammad saw..
  Ayat 3   berarti bahwa dengan ujian pengetahuan dan penalaran apa pun dakwa Nabi Besar Muhammad saw.  diselidiki, beliau saw.  akan terbukti bukan orang yang dihinggapi penyakit gila seperti dikatakan oleh orang-orang kafir, melainkan beliau saw.    seorang  yang  berakal sehat sesehat-sehatnya dan bijaksana sebijaksana-bijaksananya: مَاۤ  اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ  --    Dengan nikmat Rabb (Tuhan) engkau,  engkau sekali-kali bukanlah orang gila.”
   Ayat berikutnya (4) memberikan alasan-alasan mengapa tuduhan itu bukan saja tanpa dasar apa pun tetapi  juga amat bodoh dan khayali: وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ “Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya”.
  Ayat-ayat tersebut bersama ayat berikutnya (5) dengan sangat ampuh membukakan serta menampakkan kejanggalan tuduhan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  telah menjadi gila. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa perbuatan orang gila tidak membuahkan hasil kekal abadi lagi berguna, tetapi  Nabi Besar Muhammad saw. sangat berhasil menyempurnakan tujuan dan tugas Ilahi dan dalam menciptakan suatu revolusi yang menakjubkan dalam kehidupan kaum beliau saw. yang sudah merosot dan rendah derajatnya  bagaikan hewan karena telah sangat jauh  dari masa  Nabi Isma’il a.s..

Kemunculan “Putra-putra Ruhani” Nabi Besar Muhammad Saw. di Setiap Abad

  Revolusi akhlak dan ruhani  itu tidak berakhir dengan wafat Nabi Besar Muhammad saw., sebab  tatkala  pengikut-pengikut beliau saw. menyimpang dari jalan lurus di masa yang akan datang  dengan ditariknya kembali “ruh” Al-Quran (QS.17:87-88; QS.32:6), Allah Swt. akan membangkitkan di antara mereka mujaddid-mujaddid yang akan memperbaharui  akhlak dan ruhani mereka dan akan meresapkan ke dalam diri mereka kehidupan baru: وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ --   Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.”   Dan peristiwa  pemeliharaan dari Allah Swt. tersebut  akan berlangsung terus hingga Akhir Zaman dengan diutus-Nya Rasul Akhir Zaman di kalangan umat Islam  (QS.5:55-57; QS.61:10; QS.62:3-4)
   Ayat selanjutnya: وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ – “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung,”  merupakan ulasan lebih lanjut mengenai kejanggalan yang dituduhkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   seakan-akan beliau saw. gila (ayat 3).
    Menurut ayat ini Nabi Besar Muhammad saw.  bukan saja tidak sakit jiwa (gila),  melainkan beliau saw.  adalah yang paling mulia dan paling sempurna di antara umat manusia dan yang memiliki segala kesempurnaan akhlak dalam ukuran sepenuhnya, kesemua sifat itu bersama-sama membuat sang pemiliknya itu jadi gambaran sempurna Khāliq-nya, bahkan di antara para pengikut sejati beliau saw. ada pula  yang menjadi pewaris ruhani  beliau saw. yang paling sempurna, sebagai bukti benarnya firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah:  Jika kamu benar-benar mencintai Allah  فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ  -- maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu.   وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ -- Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Āli ‘Imran [3]:32).
Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ   --  nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  -- dan mereka  itulah sahabat yang sejati.   ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا  -- Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui (An-Nisa [4]:70-71).
     Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt.  mengenai perumpamaan  martabat ruhani Maryam binti ‘Imran berikut ini:
وَ مَرۡیَمَ  ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ  الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا  فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ  مِنۡ  رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran   yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami,  dan ia menggenapi firman  Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ  -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh  (At-Tahrim [66]:13).
   Pendek kata, Nabi Besar Muhammad saw. adalah perwujudan segala nilai akhlak baik yang bisa dimiliki manusia. Segala nilai akhlak tinggi berpadu pada pribadi beliau saw.  dalam suatu keseluruhan yang sempurna lagi serasi. Siti ‘Aisyah r.a., istri  beliau saw. yang sangat berbakat, ketika pada sekali peristiwa diminta menerangkan peri keadaan  Besar Muhammad saw.  berkata: “Beliau memiliki segala keagungan akhlak yang disebut dalam Al-Quran sebagai ciri-ciri istimewa seorang hamba Allah yang sejati” (Bukhari).

Kehebatan “Daya  TarikNafs Ammarah  Kepada Keburukan

  Kembali kepada  Surah Al-‘Alaq  mengenai proses penciptaan manusia dalam rahim ibu  dari ‘alaqah (segumpal darah):  ِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ  -- Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang  menciptakan, خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ --    menciptakan insan  (manusia) dari  segumpal darah (Al-‘Alaq [96]:2-3),  dan hubungannya dngan perumpamaan orang-orang kafir yang digambarkan sebagai istri-istri durhaka Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s., yang tidak pernah mengalami kelahiran akhlak dan ruhani yang baik, bahkan sebaliknya akhlak dan ruhani mereka semakin buruk, sehingga mereka termasuk  yang mendapat azab Ilahi bersama kaumnya yang mendustakan dan menentang Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s.,  firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوا امۡرَاَتَ  نُوۡحٍ وَّ امۡرَاَتَ  لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh  dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ --  Masuklah kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).
 Keadaan seperti itu dalam Al-Quran digambarkan sebagai keadaan nafs-al-Ammarah, sebagaimana    Nabi Yusuf a.s. berkata  dalam  firman-Nya berikut ini:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan,  اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ    -- sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ  -- kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),   اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ   -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Pe-nyayang”  (Yusuf [12]:52).
   Anak kalimat illa mā  rahima rabbi (kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku/Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
     (a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku  bersikap Rahīm  (kasih sayang), huruf  di sini menggantikan kata nafs.
     (b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku bersikap Rahīm  (kasih sayang) ,  di sini berarti man (siapa).
  (c) Memang begitu, tetapi  Rahīmiyat (kasih-sayang) Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
Arti pertama, menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28).
      Arti kedua, dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya.
  Arti ketiga, dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan), sebagaimana  yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s. yang merasakan bagaimana kuatnya daya-tarik nafsu Ammarah  yang beliau alami selama berada di Mesir   -- baik ketika dibeli oleh seorang pembesar Mesir  dan tinggal di sebuah gedung mewah (QS.12:22-23), mau pun ketika telah dewasa beliau  mendapat rayuan dari istri majikannya (QS.12:24:30)  serta dpersekongkolannya dengan para istri pembesar Mesir lainnya, sehingga Nabi Yusuf a.s. berdoa kepada Allah Swt. untuk memilih hidup dalam penjara daripada melakukan pengkhianatan kepada Allah Swt. (QS.12:31-36, firman-Nya:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan,  اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ    -- sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ  -- kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),   اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ   -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Pe-nyayang”  (Yusuf [12]:52).

Tiga Makna Kalimat Illa Mā  Rahima Rabbi (Kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku/Tuhan-ku)

   Anak kalimat illa mā  rahima rabbi (kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku/Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
     (a) Kecuali nafs (jiwa) “yang kepadanya Tuhan-ku  bersikap Rahīm  (kasih sayang)”, huruf  di sini menggantikan kata nafs.
      (b) Kecuali dia, yang “kepadanya Rabb-ku (Tuhan-ku) bersikap Rahīm  (kasih sayang)" ,  di sini berarti man (siapa).
   (c) Memang begitu, tetapi  Rahīmiyat (kasih-sayang) Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
      Arti pertama, menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram!   Kembalilah kepada  Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,   dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-31).
  Firman Allah Swt. tersebut mengisyaratkan kepada  tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus.
   Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dalam Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan sesudah mati  di alam akhirat perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain (akhirat) jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surgeفَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ       وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ   --  “maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,  dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
      Arti kedua, dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  لَاۤ   اُقۡسِمُ   بِیَوۡمِ  الۡقِیٰمَۃِ ۙ﴿﴾  وَ  لَاۤ   اُقۡسِمُ  بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ ؕ﴿﴾  اَیَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَلَّنۡ نَّجۡمَعَ عِظَامَہٗ ؕ﴿﴾  بَلٰی قٰدِرِیۡنَ  عَلٰۤی  اَنۡ  نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لَاۤ   اُقۡسِمُ   بِیَوۡمِ  الۡقِیٰمَۃِ ۙ﴿﴾   --  Tidak demikian! Aku bersumpah dengan Hari Kiamat. وَ  لَاۤ   اُقۡسِمُ  بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ  -- Dan, tidak demikian! Aku bersumpah dengan jiwa yang mencela  diri,  Apakah manusia menyangka bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-tulangnya?       Mengapa tidak, bahkan Kami  berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya. (Al-Qiyāmah [75]:1-5).
  Kata lā   dalam ayat 2 dan 3   dapat berarti  “Hal itu tidak seperti apa yang disangka mereka.” Kadang-kadang kata itu dipakai sebagai jawaban terhadap suatu keberatan atau penolakan terhadap apa yang telah dikatakan sebelumnya (Lexicon Lane).

Tiga Tingkatan Keadaan Nafs (Jiwa) Manusia

  Al-Quran telah menyebut tiga tingkat perkembangan jiwa manusia. Tingkat pertama disebut nafs ammarah (jiwa yang tak terkendalikan), ketika nafsu kebinatangan atau sifat kehewanan di dalam diri manusia bersimaharajalela (QS.12: 52).
  Tingkat kedua ialah nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri), ketika kata-hati manusia yang telah bangkit menyesalinya dari berbuat jahat lalu menahan nafsu dan hasratnya. Pada tingkat ini sifat kemanusiaan di dalam diri manusia memperoleh keunggulan. Itulah permulaan kebangkitan akhlak, dan karena itu dikatakan  dalam ayat-ayat ini sebagai bukti adanya Hari Kiamat.
 Sebab jika manusia tidak mempunyai pertanggung-jawaban, dan seandainya ia tidak akan diminta pertanggung-jawaban atas amal-amalnya dalam kehidupan di alam kemudian (akhirat), mengapakah ada gangguan yang menusuk-nusuk kata-hati ketika melakukan suatu perbuatan jahat? Itulah sebabnya  tingkatan ini disebut nafs-al-lawwāmah  (jiwa yang mencela diri).
 Tingkat ketiga dan tertinggi pada perkembangan ruh manusia adalah yang disebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram). Pada tingkat ini ruh manusia praktis menjadi kebal terhadap kegagalan atau tersandung dan ada dalam suasana ketenteraman bersama Khāliq-nya, sebagaimana telah jelaskan sebelumnya (QS.89:27-31).
 Arti ketiga, dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan), sebagaimana  yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s. yang merasakan bagaimana kuatnya daya-tarik nafsu Ammarah  yang beliau alami selama berada di Mesir   -- baik ketika dibeli oleh seorang pembesar Mesir  dan tinggal di sebuah gedung mewah (QS.12:22-23), mau pun ketika telah dewasa beliau mendapat rayuan dari istri majikannya (QS.12:24:30)  serta dpersekongkolannya dengan para istri pembesar Mesir lainnya, sehingga Nabi Yusuf a.s. berdoa kepada Allah Swt. untuk memilih hidup dalam penjara daripada melakukan pengkhianatan kepada Allah Swt. (QS.12:31-36, firman-Nya:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan,  اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ    -- sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ  -- kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),   اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ   -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Pe-nyayang”  (Yusuf [12]:52).
       Demikianlah 3 makna dari ucapan Nabi Yusuf a.s.:  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ     --    kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku/Tuhan-ku),  اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang”  (Yusuf [12]:52), bahwa semuanya karena Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Ar-Rahim (Maha Penyayang).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 26 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar