بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 52
Kemunculan Putra-putra
Ruhani Hakiki Nabi Besar Muhammad Saw. di Setiap Abad & Makna Misal Istri-stri Durhaka Nabi Nuh
a.s. dan Nabi Luth a.s. serta Hubungannya dengan Nafs Ammarah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai pengulangan perintah iqra (bacalah) kepada Nabi Besar
Muhammad saw.: اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ
الۡاَکۡرَمُ -- Bacalah, dan Rabb (Tuhan) engkau Maha Mulia, الَّذِیۡ عَلَّمَ
بِالۡقَلَمِ -- Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ -- Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-‘Alaq [96]:4-6).
Pengulangan kata iqra (bacalah) dalam ayat tersebut berarti bahwa semakin sering
Al-Quran dibaca dan didakwahkan ke seluruh dunia, akan
semakin tambah jua kekudusan Allah Swt. dan kehormatan
manusia diakui dan dihargai.
Ayat: الَّذِیۡ عَلَّمَ
بِالۡقَلَمِ -- Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ -- Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya” nampaknya
mengandung suatu nubuatan bahwa pena
akan memainkan peranan
sangat penting dalam pengalihan Al-Quran ke dalam bentuk tulisan dan dalam pemeliharaan serta penjagaan
dari bahaya hilang atau dari gangguan campur-tangan manusia, sesuai dengan janji pemeliharaan Allah Swt. terhadap
Al-Quran (QS.15:10).
Lebih lanjut ayat ini menunjuk kepada sumbangan
besar yang akan diberikan oleh pena kepada penyebaran dan penyiaran
ilmu-ilmu ruhani dan rahasia-rahasia
Ilahi dengan perantaraan Al-Quran
dan penyebaran ilmu-ilmu duniawi,
yang dengan mempelajari Al-Quran
mendapat dorongan besar ke arah upaya
itu sebagaimana dinubuatkan pula dalam (QS.81:11) mengenai terjadinya penyebar-luasan buku-buku yang merupakan hasil
kerja para penulis yang menggunakan “pena”, firman-Nya:
وَ اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾
Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan
(At-Takwīr 81]:11).
Isyarat ini nampaknya ditujukan kepada penyebarluasan surat-surat
kabar, majalah-majalah, dan juga buku-buku, juga ditujukan kepada sistem
perpustakaan dan taman-taman bacaan serta tempat-tempat dan sarana-sarana
lainnya serupa itu untuk penyiaran ilmu pengetahuan di Akhir Zaman ini.
Sungguh bermakna sekali bahwa pena
disebut dengan kerapnya dalam sebuah Kitab
suci yang telah diwahyukan
ditengah-tengah suatu bangsa yang
sedikit pun tidak menghargai pena dan
yang jarang mempergunakannya, dan
yang diwahyukan kepada orang yang
tidak dapat membaca dan menulis (QS.7:158; QS.62:3).
Bantahan Tuduhan “Orang
Gila” Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.
Kembali kepada Surah Al-Qalam yang dikemukakan sebelum ini mengenai kesaksian bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. benar-benar memiliki akhlak
dan ruhani yang sangat agung وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ – “dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung”
-- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ نٓ وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ
ۙ﴿﴾ مَاۤ اَنۡتَ
بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾ وَ اِنَّ لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾ وَ اِنَّکَ
لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
نٓ وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ -- demi tempat tinta dan pena dan apa yang mereka
tulis. مَاۤ اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ -- Dengan nikmat Rabb (Tuhan) engkau, engkau
sekali-kali bukanlah orang gila.
وَ اِنَّ
لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ -- Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya. وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung (Al-Qalam [68]:1-5).
Dalam ayat ini tempat tinta dan pena
serta semua sarana tulis-menulis
disebutkan sebagai bukti guna mendukung serta membenarkan pernyataan yang dibuat pada tiga ayat berikutnya
mengenai Nabi Besar Muhammad saw..
Ayat 3 berarti bahwa dengan ujian pengetahuan dan penalaran
apa pun dakwa Nabi Besar Muhammad saw. diselidiki, beliau saw. akan terbukti bukan orang yang
dihinggapi penyakit gila seperti
dikatakan oleh orang-orang kafir,
melainkan beliau saw. seorang
yang berakal sehat sesehat-sehatnya dan bijaksana sebijaksana-bijaksananya: مَاۤ اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ -- Dengan nikmat Rabb (Tuhan) engkau, engkau
sekali-kali bukanlah orang gila.”
Ayat berikutnya (4) memberikan alasan-alasan mengapa tuduhan itu bukan saja tanpa dasar apa pun tetapi juga amat bodoh
dan khayali: وَ اِنَّ
لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ – “Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya”.
Ayat-ayat tersebut bersama ayat berikutnya (5)
dengan sangat ampuh membukakan serta menampakkan kejanggalan tuduhan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah menjadi gila. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa perbuatan orang gila tidak membuahkan hasil kekal abadi lagi berguna,
tetapi Nabi Besar Muhammad saw. sangat berhasil menyempurnakan tujuan dan tugas Ilahi dan dalam menciptakan suatu revolusi yang menakjubkan dalam kehidupan kaum beliau saw. yang sudah merosot
dan rendah derajatnya bagaikan hewan karena telah sangat jauh dari masa
Nabi Isma’il a.s..
Kemunculan “Putra-putra Ruhani” Nabi Besar Muhammad Saw. di Setiap Abad
Revolusi akhlak dan ruhani itu tidak berakhir dengan wafat Nabi Besar Muhammad saw., sebab tatkala pengikut-pengikut beliau saw. menyimpang dari jalan lurus di masa yang akan datang dengan ditariknya kembali “ruh” Al-Quran (QS.17:87-88; QS.32:6),
Allah Swt. akan membangkitkan di
antara mereka mujaddid-mujaddid yang
akan memperbaharui akhlak
dan ruhani mereka dan akan meresapkan ke dalam diri mereka kehidupan baru: وَ اِنَّ
لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ -- Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.” Dan peristiwa pemeliharaan
dari Allah Swt. tersebut akan
berlangsung terus hingga Akhir Zaman
dengan diutus-Nya Rasul Akhir Zaman
di kalangan umat Islam (QS.5:55-57;
QS.61:10; QS.62:3-4)
Ayat selanjutnya: وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ – “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung,” merupakan ulasan lebih lanjut mengenai kejanggalan yang dituduhkan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. seakan-akan
beliau saw. gila (ayat 3).
Menurut ayat ini Nabi
Besar Muhammad saw. bukan
saja tidak sakit jiwa (gila), melainkan beliau saw. adalah yang paling mulia dan paling
sempurna di antara umat manusia
dan yang memiliki segala kesempurnaan
akhlak dalam ukuran sepenuhnya,
kesemua sifat itu bersama-sama
membuat sang pemiliknya itu jadi gambaran sempurna Khāliq-nya, bahkan di antara para pengikut sejati beliau saw. ada pula yang menjadi pewaris ruhani beliau saw.
yang paling sempurna, sebagai bukti benarnya firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ
یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ -- maka ikutilah
aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Dan Allah Maha
Pengampun, Maha Penyayang” (Āli
‘Imran [3]:32).
Firman-Nya
lagi:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ
مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ
حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang
Allah memberi nikmat kepada mereka yakni:
مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ
الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ -- nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat
yang sejati. ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui (An-Nisa
[4]:70-71).
Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman Allah
Swt. mengenai perumpamaan martabat
ruhani Maryam binti ‘Imran berikut ini:
وَ
مَرۡیَمَ ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ الَّتِیۡۤ
اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا
فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا
وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami, dan ia menggenapi
firman Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya,
وَ کَانَتۡ مِنَ
الۡقٰنِتِیۡنَ -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh (At-Tahrim [66]:13).
Pendek kata, Nabi Besar
Muhammad saw. adalah perwujudan
segala nilai akhlak baik yang bisa
dimiliki manusia. Segala nilai akhlak tinggi berpadu pada pribadi beliau saw. dalam suatu keseluruhan yang sempurna lagi serasi.
Siti ‘Aisyah r.a., istri beliau saw. yang sangat berbakat, ketika pada
sekali peristiwa diminta menerangkan peri keadaan Besar Muhammad saw. berkata: “Beliau
memiliki segala keagungan akhlak yang disebut dalam Al-Quran sebagai ciri-ciri
istimewa seorang hamba Allah yang sejati” (Bukhari).
Kehebatan “Daya Tarik” Nafs Ammarah Kepada Keburukan
Kembali
kepada Surah Al-‘Alaq mengenai proses
penciptaan manusia dalam rahim ibu dari ‘alaqah (segumpal darah): ِقۡرَاۡ
بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ -- Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang menciptakan, خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ
مِنۡ عَلَقٍ --
menciptakan insan (manusia) dari segumpal
darah” (Al-‘Alaq [96]:2-3), dan hubungannya dngan perumpamaan orang-orang kafir yang digambarkan
sebagai istri-istri durhaka Nabi Nuh
a.s. dan Nabi Luth a.s., yang tidak pernah mengalami kelahiran akhlak dan ruhani
yang baik, bahkan sebaliknya akhlak dan ruhani mereka semakin buruk,
sehingga mereka termasuk yang mendapat azab Ilahi bersama kaumnya yang mendustakan dan menentang Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s., firman-Nya:
ضَرَبَ
اللّٰہُ مَثَلًا لِّلَّذِیۡنَ
کَفَرُوا امۡرَاَتَ نُوۡحٍ وَّ
امۡرَاَتَ لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ
عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا
عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah
mengemukakan istri Nuh dan istri
Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak
dapat membela kedua istri mereka itu di
hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ -- “Masuklah
kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang
yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).
Keadaan seperti itu
dalam Al-Quran digambarkan sebagai keadaan nafs-al-Ammarah, sebagaimana
Nabi Yusuf a.s. berkata dalam firman-Nya berikut ini:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ
اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ
بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan
aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ -- sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa
menyuruh kepada keburukan, اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ -- kecuali orang yang dikasihani oleh
Rabb-ku (Tuhan-ku), اِنَّ
رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha
Pengampun, Maha Pe-nyayang” (Yusuf [12]:52).
Anak kalimat illa mā rahima
rabbi (kecuali orang yang dikasihani
oleh Rabb-ku/Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
(a)
Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku bersikap Rahīm
(kasih
sayang), huruf mā di sini
menggantikan kata nafs.
(b) Kecuali dia,
yang kepadanya Tuhan-ku bersikap Rahīm
(kasih
sayang) , mā di sini berarti man
(siapa).
(c) Memang begitu, tetapi Rahīmiyat
(kasih-sayang) Tuhan-lah yang menyelamatkan
siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti
tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan
ruhani manusia.
Arti pertama,
menunjuk kepada taraf ketika manusia
telah mencapai tingkat kesempurnaan
ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28).
Arti kedua, dikenakan kepada orang yang masih
pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3),
ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya,
kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya.
Arti ketiga, dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya.
Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada
keburukan), sebagaimana yang dikemukakan
Nabi Yusuf a.s. yang merasakan bagaimana kuatnya daya-tarik nafsu Ammarah yang beliau alami selama berada di Mesir
-- baik ketika dibeli oleh seorang pembesar Mesir dan tinggal di sebuah gedung mewah (QS.12:22-23), mau pun ketika telah dewasa beliau mendapat rayuan
dari istri majikannya (QS.12:24:30)
serta dpersekongkolannya
dengan para istri pembesar Mesir
lainnya, sehingga Nabi Yusuf a.s. berdoa
kepada Allah Swt. untuk memilih hidup
dalam penjara daripada melakukan pengkhianatan
kepada Allah Swt. (QS.12:31-36, firman-Nya:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ
اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ
بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan
aku sama sekali tidak menganggap diriku
bebas dari kelemahan, اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ -- sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa
menyuruh kepada keburukan, اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ -- kecuali orang yang dikasihani oleh
Rabb-ku (Tuhan-ku), اِنَّ
رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha
Pengampun, Maha Pe-nyayang” (Yusuf [12]:52).
Tiga Makna
Kalimat Illa Mā Rahima Rabbi (Kecuali
orang yang dikasihani oleh
Rabb-ku/Tuhan-ku)
Anak kalimat illa mā rahima
rabbi (kecuali orang yang dikasihani
oleh Rabb-ku/Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
(a)
Kecuali nafs (jiwa) “yang kepadanya Tuhan-ku bersikap Rahīm
(kasih
sayang)”, huruf mā di sini
menggantikan kata nafs.
(b) Kecuali dia,
yang “kepadanya Rabb-ku (Tuhan-ku) bersikap
Rahīm (kasih sayang)" , mā
di sini berarti man (siapa).
(c) Memang begitu, tetapi Rahīmiyat
(kasih-sayang) Tuhan-lah yang menyelamatkan
siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti
tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan
ruhani manusia.
Arti pertama,
menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani
— tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ
اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ
فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau
ridha kepada-Nya dan Dia pun
ridha kepada engkau. Maka masuklah
dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku.
(Al-Fajr
[89]:27-31).
Firman Allah Swt. tersebut mengisyaratkan kepada tingkat perkembangan
ruhani tertinggi ketika manusia ridha
kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Tuhan
pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada
tingkat ini yang disebut pula tingkat
surgawi, ia menjadi kebal
terhadap segala macam kelemahan akhlak,
diperkuat dengan kekuatan ruhani yang
khusus.
Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dalam
Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya dan tidak
dapat hidup tanpa Dia. Di dunia
inilah dan bukan sesudah mati di alam akhirat perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan bukan di tempat lain (akhirat) jalan
dibukakan baginya untuk masuk ke surge: فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ وَ
ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ -- “maka
masuklah dalam golongan
hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Arti kedua, dikenakan kepada orang yang masih
pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3),
ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang
ia mengalahkannya dan kadang-kadang
ia dikalahkan olehnya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِیَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ۙ﴿﴾ وَ لَاۤ اُقۡسِمُ
بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَلَّنۡ نَّجۡمَعَ عِظَامَہٗ
ؕ﴿﴾ بَلٰی قٰدِرِیۡنَ
عَلٰۤی اَنۡ نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لَاۤ
اُقۡسِمُ بِیَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ۙ﴿﴾ -- Tidak demikian! Aku bersumpah dengan
Hari Kiamat. وَ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِالنَّفۡسِ
اللَّوَّامَۃِ -- Dan, tidak demikian! Aku bersumpah dengan jiwa
yang mencela diri, Apakah manusia
menyangka bahwa Kami tidak akan
mengumpulkan tulang-tulangnya? Mengapa tidak, bahkan Kami
berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya. (Al-Qiyāmah [75]:1-5).
Kata lā
dalam ayat 2 dan 3 dapat
berarti “Hal itu tidak seperti apa yang disangka mereka.” Kadang-kadang kata
itu dipakai sebagai jawaban terhadap
suatu keberatan atau penolakan
terhadap apa yang telah dikatakan sebelumnya (Lexicon Lane).
Tiga Tingkatan Keadaan Nafs (Jiwa) Manusia
Al-Quran telah menyebut tiga tingkat perkembangan jiwa manusia. Tingkat
pertama disebut nafs ammarah (jiwa yang tak terkendalikan), ketika nafsu kebinatangan atau sifat kehewanan di dalam diri manusia bersimaharajalela (QS.12: 52).
Tingkat kedua ialah nafs
lawwamah (jiwa yang menyesali diri), ketika kata-hati manusia yang telah bangkit menyesalinya dari berbuat
jahat lalu menahan nafsu dan hasratnya. Pada tingkat ini sifat kemanusiaan di dalam diri manusia
memperoleh keunggulan. Itulah
permulaan kebangkitan akhlak, dan
karena itu dikatakan dalam ayat-ayat ini
sebagai bukti adanya Hari Kiamat.
Sebab jika manusia tidak
mempunyai pertanggung-jawaban, dan
seandainya ia tidak akan diminta pertanggung-jawaban
atas amal-amalnya dalam kehidupan di
alam kemudian (akhirat), mengapakah ada gangguan
yang menusuk-nusuk kata-hati ketika
melakukan suatu perbuatan jahat? Itulah
sebabnya tingkatan ini disebut nafs-al-lawwāmah (jiwa yang mencela diri).
Tingkat ketiga dan
tertinggi pada perkembangan ruh manusia adalah yang disebut nafs muthmainnah
(jiwa yang tenteram). Pada tingkat ini ruh
manusia praktis menjadi kebal
terhadap kegagalan atau tersandung dan ada dalam suasana ketenteraman bersama Khāliq-nya,
sebagaimana telah jelaskan sebelumnya (QS.89:27-31).
Arti ketiga, dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya.
Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada
keburukan), sebagaimana yang dikemukakan
Nabi Yusuf a.s. yang merasakan bagaimana kuatnya daya-tarik nafsu Ammarah yang beliau alami selama berada di Mesir
-- baik ketika dibeli oleh seorang pembesar Mesir dan tinggal di sebuah gedung mewah (QS.12:22-23), mau pun ketika telah dewasa beliau
mendapat rayuan dari istri majikannya
(QS.12:24:30) serta dpersekongkolannya dengan para istri pembesar Mesir lainnya, sehingga
Nabi Yusuf a.s. berdoa kepada Allah
Swt. untuk memilih hidup dalam penjara
daripada melakukan pengkhianatan
kepada Allah Swt. (QS.12:31-36, firman-Nya:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ
اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ
بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan
aku sama sekali tidak menganggap diriku
bebas dari kelemahan, اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ -- sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa
menyuruh kepada keburukan, اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ -- kecuali orang yang dikasihani oleh
Rabb-ku (Tuhan-ku), اِنَّ
رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha
Pengampun, Maha Pe-nyayang” (Yusuf [12]:52).
Demikianlah 3 makna dari ucapan Nabi
Yusuf a.s.: اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ -- kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku/Tuhan-ku), اِنَّ
رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
-- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Yusuf
[12]:52), bahwa semuanya karena Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan
Ar-Rahim
(Maha Penyayang).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 26 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar