Minggu, 27 September 2015

Kesuksesan "Revolusi Ruhani" Nabi Besar Muhammad Saw. -- Sang "Muzzammil" Agung -- di Kalangan Bangsa Jahiliyah & Hubungan Proses Penciptaan Manusia Dalam Rahim Ibu dengan 'Alaq (Segumpal Darah)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 51

Kesuksesan Revolusi Ruhani   Nabi Besar Muhammad Saw.  – Sang “Muzzammil” Agung  -- di Kalangan Bangsa Jahiliyah  &  Hubungan  Proses Penciptaan Manusia Dalam Rahim Ibu dengan ‘Alaq (Segumpal Darah)

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan    masalah  pentingnya mendirikan shalat tahajjud, berikut firman-Nya lagi kepada Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan pentingnya melaksanakan shalat tahajjud  dalam menghadapi tugas kerasulan beliau saw. yang sangat  berat  --  yang digambarkan langit, bumi dan gunung-gunung menolak untuk “memikulnya” karena takut,    kecuali insan  yakni insan  kamil (manusia sempurna) yaitu Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:73)   --  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾  قُمِ  الَّیۡلَ   اِلَّا  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾  نِّصۡفَہٗۤ  اَوِ انۡقُصۡ  مِنۡہُ  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾  اَوۡ زِدۡ  عَلَیۡہِ  وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ  تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾  اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا ﴿﴾  اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾  وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ  --  Wahai orang yang berselimut, قُمِ  الَّیۡلَ   اِلَّا  قَلِیۡلًا  --  berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit,  نِّصۡفَہٗۤ  اَوِ انۡقُصۡ  مِنۡہُ  قَلِیۡلًا --  setengahnya atau kurangilah sedikit darinya,  اَوۡ زِدۡ  عَلَیۡہِ  وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ  تَرۡتِیۡلًا ؕ  --  atau tambahkan atasnya dan  bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang teratur.  اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا --  Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada engkau  firman yang berbobot.  اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا  -- Sesungguhnya bangun di waktu malam  itu merupakan sarana untuk menguasai diri dan meneguhkan per-kataan.  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا  --  Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjangوَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ --   Maka ingatlah selalu nama Rabb (Tuhan) engkau وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا  --  dan baktikanlah diri engkau  kepada-Nya dengan sepenuh kebaktian  (Muzzammil [73]:1-9).

Arti Muzzammil  dan Hubungannya dengan Nabi Besar Muhammad Saw.

 Zammalahu  sehubungan sebutan muzzammil terhadap  Nabi Besar Muhammad saw.: یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ  --  “Wahai orang yang berselimut” berarti: ia menggendong dia di belakang punggungnya. Zammala, kecuali arti yang diberikan dalam terjemahan, berarti: ia lari dan pergi dengan cepat. Tazammala, izzammala atau izzamala berarti: ia membungkus diri; ia memikul atau menggendong sesuatu, yaitu suatu beban pada suatu waktu. Muzzammil (atau mutazammil) berarti: orang yang terbungkus di dalam busananya; seseorang yang memikul tanggung-jawab besar (Aqrab-al-Mawarid; Fath-ul- Qadir; Ruh-ul-Ma’ani).
    Sesudah pengalaman ruhani pertama, ketika satu wujud malaikat datang kepada Nabi Besar Muhammad saw.  membawa wahyu Ilahi   -- ayat-ayat awal Surah Al-‘Alaq -- di gua Hira, beliau saw. serta-merta pulang dalam keadaan sangat ketakutan. Rasa takut itu wajar, karena pengalaman itu sungguh-sungguh baru sekali.
 Nabi Besar Muhammad saw.  meminta agar diselimuti dengan jubah. Karena berselimut berarti pula rasa berpadu dan bersatu maka arti ayat ini kurang lebih demikian: “Wahai  engkau yang telah diutus supaya mempersatukan semua bangsa di seluruh dunia di bawah satu panji!”
   Beliau saw.  telah dilukiskan dalam hadits sebagai Al-Hasyir, yakni   pemadu dan pemersatu bangsa-bangsa di seluruh dunia (Bukhari), sebab beliau saw. adalah rasul Allah untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2; QS.34:29).   Ayat ini mungkin berarti pula:
   (1)  Nabi Besar Muhammad saw.   adalah seorang yang harus bepergian dengan menempuh jarak jauh untuk membangunkan umat manusia supaya menyadari takdirnya yang tinggi lagi mulia, dan karena itu harus melangkah dengan cepat, yaitu bekerja keras, tidak putus-putus, dan cepat.
   (2) Beliau adalah seseorang yang harus memikul beban berat, suatu tanggung-jawab yang sangat berat, menyampaikan Amanat Ilahi ke seluruh dunia.
   Nabi Besar Muhammad saw.  mungkin telah diperingatkan akan tugas yang mahaberat mempersiapkan suatu jemaat, terdiri dari pengikut-pengikut yang bertakwa dan disemangati oleh cita-cita agung lagi mulia yang sama dan dikobarkan oleh kegairahan bergelora dan pantang surut seperti halnya beliau saw. sendiri, untuk membantu beliau saw. menyampaikan tabligh Islam kepada umat manusia.
 Kepada tugas dan tanggung-jawab  Nabi Besar Muhammad saw.   itulah diisyaratkan di sini dan bukan kepada keadaan beliau sa. membungkus diri di dalam jubah beliau saw., firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾    
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ -- yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,   dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, (Al-Jumu’ah [632]:3).
  Tugas suci  Nabi Besar Muhammad saw.   meliputi penunaian empat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab yang buta huruf  serta dalam keadaan jahiliyah itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s.  telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
    Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu (Mushlih Rabbani) dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita serta asas-asas ajarannya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.
   Didikan yang  Nabi Besar Muhammad saw.   – Sang Muzzammil   --    berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini.

Al-Quran “Firman yang Berbobot

  Selanjutnya  Allah Swt. memerintahkan  untuk mendirikan shalat tahajjud kepada beliau saw.: قُمِ  الَّیۡلَ   اِلَّا  قَلِیۡلًا  --  berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit,  نِّصۡفَہٗۤ  اَوِ انۡقُصۡ  مِنۡہُ  قَلِیۡلًا --  setengahnya atau kurangilah sedikit darinya,  اَوۡ زِدۡ  عَلَیۡہِ  وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ  تَرۡتِیۡلًا ؕ  --  atau tambahkan atasnya dan  bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang teratur.”  (QS.73:3-5).
    Ungkapan “firman yang berbobot” dalam ayat selanjutnya: اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا --  Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada engkau  firman yang berbobot”  dapat berarti  “ajaran Al-Quran itu padat dengan ajaran mahapenting. Ajaran itu terlalu penting untuk digantikan atau disisihkan.” Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang dapat diubah, diganti atau diperbaiki.
   Menurut hadits yang kerap kali dikutip, manakala ada wahyu Al-Quran turun kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. jadi hening terpaku dan merasakan ada suatu keharuan istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun tetes-tetes besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari). Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan Nabi Besar Muhammad saw. itu disebabkan oleh keharuan tadi.
  Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajjud  merupakan wahana yang kuat untuk menguasai diri dan dengan ampuh mengendalikan kecenderungan dan hasrat jahat seseorang. Merupakan pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tidak ada yang begitu banyak memberi manfaat bagi perkembangan ruhani seseorang selain tahajjud atau shalat malam.
   Di dalam kesunyian dan keheningan malam, semacam kedamaian yang ajaib mengungguli segala sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri bersama Sang Khāliq-nya – menikmati perhubungan istimewa dengan Dia dan menjadi terang benderang oleh cahaya samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang lain.
   Saat itu luar biasa cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan kekuatan watak dan membuat pembicaraannya sehat, bernas, dan dapat diandalkan. Ucapan yang jitu dan kemampuan yang tiada terhingga untuk bekerja keras merupakan dua syarat yang perlu bagi seorang Pembaharu agar berhasil di dalam tugasnya. Tahajjud membantu memperkembangkan dua syarat itu. Karena telah dapat menguasai pikiran dan ucapannya, orang menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula.

Revolusi Ruhani yang Diciptakan Nabi Besar Muhammad Saw.

    Berkat melaksanakan semua petunjuk Al-Quran   -- dalam  kadarnya yang paling sempurna   -- maka Nabi Besar Muhammad saw. hanya dalam waktu 23 tahun saja quwat qudsiyah  (daya pensucian ruhani) beliau saw. telah mampu membuat bangsa Arab jahiliyah menjadi pribadi-pribadi surgawi (QS.62:3),  “rahim ruhani” (hati) mereka yang sebelumnya hanya melahirkan semacam “darah kotor” telah berubah menjadi “rahim ruhani” (hati) yang  mampu melahirkan berbagai  macam akhlak dan ruhani  serta makrifat Ilahi yang terpuji, sehingga banyak di antara mereka yang meraih martabat ruhani  Maryam binti  ‘Imran,  terutama para Khalifah Rasyidin dan para Mujaddid   serta para  Wali Allah hakiki yang muncul di seriap abad, setelah masa Khulafatur Rasyidin   -- firman-Nya:
وَ مَرۡیَمَ  ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ  الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا  فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ  مِنۡ  رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran   yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami,  dan ia menggenapi firman  Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ  -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh  (At-Tahrim [66]:13).
  Dalam Surah At-Tahrim ayat 11 sebelumnya,  orang-orang kafir  yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka diumpamakan seperti istri durhaka  Nabi Nuh a.s.  dan istri  durhaka Nabi Luth a.s., hal tersebut   untuk menunjukkan bahwa persahabatan dengan orang bertakwa   -- bahkan dengan  seorang  nabi Allah sekalipun    -- tidak berfaedah bagi orang yang mempunyai kecenderungan buruk menolak kebenaran, firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوا امۡرَاَتَ  نُوۡحٍ وَّ امۡرَاَتَ  لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh  dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ --  Masuklah kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).

Para Rasul Allah Merupakan “Suami Ruhani” Kaumnya & Kelahiran Ruhani yang Buruk Para Penentang  Rasul Allah

      Dari firman Allah Swt. tersebut diketahui bahwa dari segi ruhani kedudukan para nabi Allah bagi kaumnya adalah bagaikan kedudukan seorang “suami”  terhadap istrinya, karena itu  kaum yang mendustakan dan menentang para nabi Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka  bukan saja akan membuat kaum yang durhaka tersebut tersebut luput dari memperoleh “kelahiran ruhani yang baik”, bahkan di dunia ini juga mereka akan dimasukkan ke dalam “neraka jahannam” yakni mendapat azab Ilahi (QS.6:132; QS.11:118; QS.17:16; QS.20:134-136; QS.26:209; QS.28:60).
   Bahkan, sebagaimana halnya umumnya perempuan – baik gadis yang sudah balig, janda mau pun yang punya suami   --  jika rahimnya tidak mengalami “pembuahan”   sperma   laki-laki, maka dari rahimnya akan “melahirkan  darah haid”   yang tidak akan pernah berubah menjadi “bayi”.
   Bahkan darah haid tersebut dinamakan “darah kotor”, sehingga dalam ajaran Islam kaum perempuan yang sedang dalam keadaan “haid” tidak boleh melakukan shalat, sampai habis masa haidnya dan harus terlebih dulu  mandi junub sebelum  akan mengerjalan shalat lagi.
    Demikian juga   kaum-kaum yang mendustakan dan menentang para rasul Allah  tidak akan pernah mengalami kelahiran akhlak dan ruhani yang baik, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, yakni terjadi berbagai bentuk “kelahiran  ruhani yang buruk”, sehingga mencapai taraf sebagai asfala sāfilīn (yang  paling rendah) dan mendapat azab Ilahi (QS.95:5-9). Itulah makna lain dari firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوا امۡرَاَتَ  نُوۡحٍ وَّ امۡرَاَتَ  لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh  dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ --  Masuklah kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).

Hubungan Penciptaan Insan (Mmanusia) dengan ‘Alaq (Segumpal Darah)

    Sehubungan dengan firman Allah Swt. tersebut, ada yang menarik sehubungan dengan Surah Al-Muzzammil yang dikemukakan di awal  Bab ini, yaitu sangat erat hubungannya dengan wahyu Al-Quran yang pertama kali diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. di gua Hira, yaitu Surah Al-‘Alaq  -- yang artinya “segumpal darah lengket”   -- firman-Nya:
اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ ۚ﴿﴾  خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ ۚ﴿﴾  اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ ۙ﴿﴾  عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ  یَعۡلَمۡ ؕ﴿﴾
Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang  menciptakan, خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ --    menciptakan insan  (manusia) dari  segumpal darah. اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ --   Bacalah, dan Rabb (Tuhan) engkau   Maha Mulia, الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ --   Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ  یَعۡلَمۡ --   Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya  (Al-‘Alaq [96]:2-6).
   Kata iqra’  dalam ayat اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ  -- “Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang  menciptakan” berarti: bacalah, tilawatkanlah, sampaikanlah, umumkanlah atau kumpulkanlah, dan ayat itu mengandung arti, bahwa Al-Quran dimaksudkan supaya dibaca dan diumumkan, dikumpulkan dan disusun dan kemudian disampaikan ke seluruh dunia.
  Sebutan Sifat Rabb  Allah Swt. dalam ayat tersebut   – yakni artinya Pencipta, Pengasuh, Pemelihara dan Pengembang, Yang memupuk (membina)  manusia melalui segala tingkat perkembangannya  --  menunjukkan, bahwa sesuai dengan  Sifat Rabubiyat  Allah Swt.,   perkembangan akhlak manusia pun terjadi secara bertahap hingga perkembangan itu mencapai kesempurnaan penuh dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw. – pemilik akhlak dan ruhani yang paling agung -- sebagaimana firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ نٓ  وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ﴿﴾  مَاۤ  اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾  وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾  وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. نٓ  وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ   --      demi tempat tinta dan pena dan apa yang mereka tulisمَاۤ  اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ  --    Dengan nikmat Rabb (Tuhan) engkau,  engkau sekali-kali bukanlah orang gila. وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ --   Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya. وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung   (Al-Qalam [68]:1-5).
      Dalam Surah Al-‘Alaq [96]:2-6) dikatakan bahwa awal terjadinya manusia dimulai dari ‘alaq (‘alaqah), sedangkan dalam QS.22:8 dan QS.23:13-15   disebut berasal dari turāb (tanah) atau dari  sulālatin min thīn (intisari tanah liat).  Dalam kedua pernyataan tersebut sama sekali tidak ada kontradiksi, sebab yang dikemukakan dalam QS.22:6 dan QS.23:13-15 adalah   rangkaian sebab-akibat  secara umum proses terjadinya (diciptakan-Nya) manusia dalam rahim perempuan (ibu); sedangkan penyebutan  ‘alaq (segumpal darah)  sebagai awal terjadinya manusia karena selama “sel telur” (ovum) yang berhasil dibuahi oleh  “sperma laki-laki” dalam  rahim   perempuan (ibu)  tidak melengket  dan tenggelam dalam dinding rahim ibu   -- sehingga secara bertahap berubah menjadi ‘alaq (segumpal darah)  --  maka proses terciptanya janin manusia (bayi) dalam rahim ibu tidak akan pernah  terjadi, sebab  ia akan dikeluarkan dari rahim  sebagai  darah haid yang kotor. Itulah makna ayat:   اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ  -- Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang  menciptakan, خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ --    menciptakan insan  (manusia) dari  segumpal darah (Al-‘Alaq [96]:2-3).

Nabi Besar Muhammad Saw.,  Seorang Nabi  Allah yang Ummi (Butahuruf)  tetapi Menghasilkan  Putra-putra Ruhani Sebagai “Raja-raja Pena

   Penyebutan kata insan  dalam ayat  tersebut  berarti  bahwa kecintaan kepada Allah Swt. atau Tauhid Ilahi telah terpatri di dalam fitrat manusia (QS.7:173-174; QS.30:31) dan bahwa memang sudah sewajarnyalah ada seseorang yang dalam dirinya dorongan naluri itu harus mencapai pengejawantahannya yang sempurna. Wujud itu adalah insan  kamil (manusia sempurna) yakni Nabi Besar Muhammad saw.  yang paling mencintai Al-Khāliq, Sang Pencipta-nya, dengan segenap pikiran, hati, dan jiwanya.
   Jadi kata insan dalam ayat ini kecuali arti yang diberikan dalam teks, berarti pula manusia sempurna  yakni Nabi Besar Muhammad saw., sebab  dari seluruh  umat manusia – bahkan  seluruh rasul Allah   -- wujud yang paling sempurna memperoleh pengejewantahan  Sifat Rahīmiyat   (Kasih-sayang) Allah Swt. yang adalah Ar-Rahīm (Yang Maha Penyayang) adalah Nabi Besar Muhammad saw.  Betapa dalamnya hikmah yang terkandung dalam ayat: ِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ  -- Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang  menciptakan, خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ --    menciptakan insan  (manusia) dari  segumpal darah (Al-‘Alaq [96]:2-3).
   Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ --   Bacalah, dan Rabb (Tuhan) engkau   Maha Mulia, الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ --   Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ  یَعۡلَمۡ --   Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya  (Al-‘Alaq [96]:4-6).
  Pengulangan kata iqra (bacalah) dalam ayat tersebut berarati bahwa semakin sering Al-Quran dibaca dan didakwahkan ke seluruh dunia, akan semakin tambah jua kekudusan Allah Swt.   dan kehormatan manusia diakui dan dihargai.
  Ayat: الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ --   Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ  یَعۡلَمۡ -- Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”   nampaknya mengandung suatu nubuatan bahwa pena akan memainkan   peranan sangat penting dalam pengalihan Al-Quran ke dalam bentuk tulisan dan dalam pemeliharaan serta penjagaan dari bahaya hilang atau dari gangguan campur-tangan manusia, sesuai dengan janji pemeliharaan Allah Swt. terhadap Al-Quran (QS.15:10).
  Lebih lanjut ayat ini menunjuk kepada   sumbangan besar yang akan diberikan oleh pena kepada penyebaran dan penyiaran ilmu-ilmu ruhani dan rahasia-rahasia Ilahi dengan perantaraan Al-Quran dan penyebaran ilmu-ilmu duniawi, yang dengan mempelajari Al-Quran mendapat dorongan besar ke arah upaya itu sebagaimana dinubuatkan pula dalam (QS.81:11)  mengenai terjadinya penyebar-luasan buku-buku yang merupakan hasil  kerja  para penulis yang menggunakan  “pena”, firman-Nya:
وَ  اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾
  Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan  (At-Takwīr 81]:11).
   Isyarat ini nampaknya ditujukan kepada penyebarluasan surat-surat kabar, majalah-majalah, dan juga buku-buku, juga ditujukan kepada sistem perpustakaan dan taman-taman bacaan serta tempat-tempat dan sarana-sarana lainnya serupa itu untuk penyiaran ilmu pengetahuan di Akhir Zaman ini.
  Sungguh bermakna sekali bahwa pena disebut dengan kerapnya dalam sebuah Kitab suci yang telah diwahyukan ditengah-tengah suatu bangsa yang sedikit pun tidak menghargai pena dan yang jarang mempergunakannya, dan yang diwahyukan kepada orang yang tidak dapat membaca dan menulis (QS.7:158; QS.62:3).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 25  September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar