بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 51
Kesuksesan Revolusi
Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. – Sang “Muzzammil”
Agung -- di Kalangan Bangsa Jahiliyah & Hubungan Proses
Penciptaan Manusia Dalam Rahim Ibu dengan ‘Alaq (Segumpal Darah)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
masalah
pentingnya mendirikan shalat
tahajjud, berikut firman-Nya lagi kepada Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan
dengan pentingnya melaksanakan shalat
tahajjud dalam menghadapi tugas kerasulan beliau saw. yang sangat berat
-- yang digambarkan langit, bumi dan gunung-gunung
menolak untuk “memikulnya” karena
takut, kecuali insan yakni insan
kamil (manusia sempurna) yaitu Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:73) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾ قُمِ
الَّیۡلَ اِلَّا قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ نِّصۡفَہٗۤ
اَوِ انۡقُصۡ مِنۡہُ قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ اَوۡ زِدۡ
عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ
الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ قَوۡلًا
ثَقِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّ نَاشِئَۃَ
الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً وَّ
اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾ وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. یٰۤاَیُّہَا
الۡمُزَّمِّلُ -- Wahai orang
yang berselimut, قُمِ الَّیۡلَ
اِلَّا قَلِیۡلًا -- berdirilah
untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit, نِّصۡفَہٗۤ اَوِ انۡقُصۡ
مِنۡہُ قَلِیۡلًا -- setengahnya atau kurangilah
sedikit darinya, اَوۡ زِدۡ عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا ؕ -- atau
tambahkan atasnya dan bacalah
Al-Quran dengan pembacaan yang
teratur. اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ
قَوۡلًا ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada
engkau firman yang berbobot. اِنَّ
نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ
وَطۡاً وَّ اَقۡوَمُ قِیۡلًا -- Sesungguhnya bangun di waktu malam itu
merupakan sarana untuk menguasai
diri dan meneguhkan
per-kataan. اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا
طَوِیۡلًا -- Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan
yang panjang. وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ -- Maka ingatlah selalu nama Rabb (Tuhan) engkau وَ تَبَتَّلۡ اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا -- dan baktikanlah
diri engkau kepada-Nya dengan sepenuh kebaktian (Muzzammil
[73]:1-9).
Arti Muzzammil dan Hubungannya dengan Nabi Besar Muhammad
Saw.
Zammalahu sehubungan sebutan muzzammil
terhadap Nabi Besar Muhammad saw.: یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ -- “Wahai
orang yang berselimut” berarti: ia
menggendong dia di belakang punggungnya. Zammala, kecuali arti yang
diberikan dalam terjemahan, berarti: ia lari dan pergi dengan cepat. Tazammala,
izzammala atau izzamala berarti: ia membungkus diri; ia memikul
atau menggendong sesuatu, yaitu suatu beban pada suatu waktu. Muzzammil (atau
mutazammil) berarti: orang yang terbungkus di dalam busananya;
seseorang yang memikul tanggung-jawab besar (Aqrab-al-Mawarid; Fath-ul- Qadir; Ruh-ul-Ma’ani).
Sesudah pengalaman
ruhani pertama, ketika satu wujud malaikat datang kepada Nabi Besar Muhammad saw. membawa wahyu Ilahi -- ayat-ayat
awal Surah Al-‘Alaq -- di gua Hira,
beliau saw. serta-merta pulang dalam keadaan sangat ketakutan. Rasa takut itu
wajar, karena pengalaman itu sungguh-sungguh baru sekali.
Nabi Besar Muhammad saw. meminta agar diselimuti dengan jubah. Karena berselimut
berarti pula rasa berpadu dan bersatu maka arti ayat ini kurang lebih
demikian: “Wahai engkau yang telah diutus supaya mempersatukan
semua bangsa di seluruh dunia di bawah satu panji!”
Beliau saw. telah dilukiskan dalam hadits sebagai Al-Hasyir,
yakni pemadu dan pemersatu
bangsa-bangsa di seluruh dunia (Bukhari),
sebab beliau saw. adalah rasul Allah
untuk seluruh umat manusia (QS.7:159;
QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29). Ayat ini mungkin berarti pula:
(1) Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang yang harus bepergian
dengan menempuh jarak jauh untuk membangunkan umat manusia supaya menyadari takdirnya yang tinggi lagi mulia, dan
karena itu harus melangkah dengan cepat, yaitu bekerja keras, tidak
putus-putus, dan cepat.
(2) Beliau adalah seseorang yang harus memikul
beban berat, suatu tanggung-jawab yang sangat berat, menyampaikan Amanat Ilahi
ke seluruh dunia.
Nabi Besar Muhammad saw.
mungkin telah diperingatkan akan tugas yang mahaberat mempersiapkan suatu jemaat, terdiri dari pengikut-pengikut yang bertakwa dan disemangati oleh cita-cita
agung lagi mulia yang sama dan
dikobarkan oleh kegairahan bergelora dan pantang surut seperti halnya beliau saw.
sendiri, untuk membantu beliau saw. menyampaikan tabligh Islam kepada umat manusia.
Kepada tugas
dan tanggung-jawab Nabi Besar Muhammad saw. itulah
diisyaratkan di sini dan bukan kepada keadaan beliau sa. membungkus diri di dalam jubah
beliau saw., firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka
Kitab dan Hikmah وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya
mereka berada dalam kesesatan yang
nyata, (Al-Jumu’ah [632]:3).
Tugas suci Nabi Besar Muhammad saw. meliputi penunaian empat macam kewajiban mulia
yang disebut dalam ayat ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan
kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab yang buta huruf serta dalam keadaan jahiliyah itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s. telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang
lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., beliau mendirikan
dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
Pada hakikatnya tidak
ada Pembaharu (Mushlih Rabbani) dapat
benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang
kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita
dan asas-asas ajarannya serta
mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita serta asas-asas
ajarannya itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa
lain.
Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. – Sang Muzzammil -- berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia
beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh
ayat ini.
Al-Quran “Firman yang Berbobot”
Selanjutnya Allah Swt. memerintahkan untuk mendirikan shalat tahajjud kepada beliau saw.: قُمِ الَّیۡلَ اِلَّا
قَلِیۡلًا --
berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit, نِّصۡفَہٗۤ اَوِ انۡقُصۡ
مِنۡہُ قَلِیۡلًا -- setengahnya atau kurangilah
sedikit darinya, اَوۡ زِدۡ عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا ؕ -- atau
tambahkan atasnya dan bacalah
Al-Quran dengan pembacaan yang
teratur.” (QS.73:3-5).
Ungkapan “firman yang berbobot” dalam ayat
selanjutnya: اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ قَوۡلًا
ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada engkau firman
yang berbobot” dapat berarti “ajaran
Al-Quran itu padat dengan ajaran mahapenting. Ajaran itu terlalu penting untuk
digantikan atau disisihkan.” Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang
dapat diubah, diganti atau diperbaiki.
Menurut hadits yang kerap
kali dikutip, manakala ada wahyu Al-Quran
turun kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. jadi hening terpaku dan
merasakan ada suatu keharuan
istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun
tetes-tetes besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan
bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari).
Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang
berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan Nabi Besar Muhammad
saw. itu disebabkan oleh keharuan
tadi.
Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajjud merupakan wahana yang kuat untuk menguasai diri dan dengan ampuh mengendalikan kecenderungan dan hasrat jahat seseorang. Merupakan
pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tidak ada yang begitu banyak memberi
manfaat bagi perkembangan ruhani
seseorang selain tahajjud atau shalat malam.
Di dalam kesunyian dan
keheningan malam, semacam kedamaian
yang ajaib mengungguli segala
sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri
bersama Sang Khāliq-nya – menikmati perhubungan istimewa dengan Dia dan
menjadi terang benderang oleh cahaya
samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang lain.
Saat itu luar biasa
cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan
kekuatan watak dan membuat pembicaraannya
sehat, bernas, dan dapat diandalkan. Ucapan
yang jitu dan kemampuan yang tiada terhingga untuk bekerja keras merupakan dua syarat yang perlu bagi seorang Pembaharu agar berhasil di dalam tugasnya.
Tahajjud membantu memperkembangkan dua syarat itu. Karena
telah dapat menguasai pikiran dan ucapannya, orang menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula.
Revolusi Ruhani yang Diciptakan Nabi Besar
Muhammad Saw.
Berkat melaksanakan
semua petunjuk Al-Quran -- dalam
kadarnya yang paling sempurna --
maka Nabi Besar Muhammad saw. hanya dalam waktu 23 tahun saja quwat qudsiyah (daya pensucian ruhani) beliau saw. telah
mampu membuat bangsa Arab jahiliyah
menjadi pribadi-pribadi surgawi (QS.62:3), “rahim
ruhani” (hati) mereka yang sebelumnya hanya melahirkan semacam “darah
kotor” telah berubah menjadi “rahim
ruhani” (hati) yang mampu melahirkan
berbagai macam akhlak dan ruhani serta makrifat
Ilahi yang terpuji, sehingga
banyak di antara mereka yang meraih martabat
ruhani Maryam binti ‘Imran, terutama para Khalifah Rasyidin dan para Mujaddid serta
para Wali
Allah hakiki yang muncul di seriap abad, setelah masa Khulafatur Rasyidin -- firman-Nya:
وَ
مَرۡیَمَ ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ الَّتِیۡۤ
اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا
فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا
وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami, dan ia menggenapi
firman Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya,
وَ کَانَتۡ مِنَ
الۡقٰنِتِیۡنَ -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh (At-Tahrim [66]:13).
Dalam Surah At-Tahrim
ayat 11 sebelumnya, orang-orang kafir yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah
yang dibangkitkan di kalangan mereka diumpamakan seperti istri durhaka Nabi Nuh a.s. dan istri durhaka Nabi Luth a.s., hal tersebut untuk menunjukkan bahwa persahabatan dengan orang bertakwa -- bahkan
dengan seorang nabi Allah
sekalipun -- tidak berfaedah bagi
orang yang mempunyai kecenderungan buruk menolak
kebenaran, firman-Nya:
ضَرَبَ
اللّٰہُ مَثَلًا لِّلَّذِیۡنَ
کَفَرُوا امۡرَاَتَ نُوۡحٍ وَّ
امۡرَاَتَ لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ
عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا
عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah
mengemukakan istri Nuh dan istri
Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak
dapat membela kedua istri mereka itu di
hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ -- “Masuklah
kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang
yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).
Para Rasul Allah
Merupakan “Suami Ruhani” Kaumnya
& Kelahiran Ruhani yang Buruk
Para Penentang Rasul Allah
Dari firman Allah Swt. tersebut diketahui
bahwa dari segi ruhani kedudukan para
nabi Allah bagi kaumnya adalah bagaikan kedudukan seorang “suami” terhadap istrinya, karena itu kaum yang mendustakan
dan menentang para nabi Allah yang
dibangkitkan di kalangan mereka bukan
saja akan membuat kaum yang durhaka
tersebut tersebut luput dari
memperoleh “kelahiran ruhani yang baik”,
bahkan di dunia ini juga mereka akan dimasukkan
ke dalam “neraka jahannam” yakni
mendapat azab Ilahi (QS.6:132;
QS.11:118; QS.17:16; QS.20:134-136; QS.26:209; QS.28:60).
Bahkan, sebagaimana halnya umumnya perempuan – baik gadis yang sudah balig, janda
mau pun yang punya suami --
jika rahimnya tidak mengalami
“pembuahan” sperma laki-laki, maka dari
rahimnya akan “melahirkan darah
haid” yang tidak akan pernah berubah menjadi “bayi”.
Bahkan darah
haid tersebut dinamakan “darah kotor”,
sehingga dalam ajaran Islam kaum
perempuan yang sedang dalam keadaan “haid” tidak boleh melakukan shalat, sampai habis masa haidnya dan harus terlebih dulu mandi
junub sebelum akan mengerjalan shalat lagi.
Demikian juga kaum-kaum
yang mendustakan dan menentang para rasul Allah tidak akan
pernah mengalami kelahiran akhlak dan
ruhani yang baik, bahkan yang terjadi
adalah sebaliknya, yakni terjadi berbagai bentuk “kelahiran ruhani yang buruk”,
sehingga mencapai taraf sebagai asfala sāfilīn
(yang paling rendah) dan mendapat azab Ilahi (QS.95:5-9). Itulah makna
lain dari firman-Nya:
ضَرَبَ
اللّٰہُ مَثَلًا لِّلَّذِیۡنَ
کَفَرُوا امۡرَاَتَ نُوۡحٍ وَّ
امۡرَاَتَ لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ
عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا
عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah
mengemukakan istri Nuh dan istri
Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak
dapat membela kedua istri mereka itu di
hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ -- “Masuklah
kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang
yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).
Hubungan Penciptaan Insan (Mmanusia) dengan ‘Alaq
(Segumpal Darah)
Sehubungan dengan firman Allah Swt.
tersebut, ada yang menarik sehubungan dengan Surah Al-Muzzammil yang dikemukakan di awal
Bab ini, yaitu sangat erat hubungannya dengan wahyu Al-Quran yang pertama kali diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. di gua Hira,
yaitu Surah Al-‘Alaq -- yang artinya “segumpal darah lengket” -- firman-Nya:
اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ
رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ ۚ﴿﴾ خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ
مِنۡ عَلَقٍ ۚ﴿﴾ اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ ۙ﴿﴾ عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ ؕ﴿﴾
Bacalah
dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang
menciptakan, خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ -- menciptakan insan (manusia) dari
segumpal darah. اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ -- Bacalah,
dan Rabb (Tuhan) engkau Maha
Mulia, الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ -- Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ -- Mengajar
manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-‘Alaq
[96]:2-6).
Kata iqra’ dalam ayat اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ
رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ -- “Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang menciptakan” berarti: bacalah, tilawatkanlah, sampaikanlah, umumkanlah atau
kumpulkanlah, dan ayat itu mengandung arti, bahwa Al-Quran dimaksudkan supaya dibaca dan diumumkan, dikumpulkan dan
disusun dan kemudian disampaikan ke seluruh dunia.
Sebutan
Sifat Rabb Allah Swt. dalam ayat
tersebut – yakni artinya Pencipta, Pengasuh, Pemelihara dan Pengembang,
Yang memupuk (membina) manusia melalui
segala tingkat perkembangannya -- menunjukkan, bahwa sesuai dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt., perkembangan akhlak manusia pun terjadi secara bertahap
hingga perkembangan itu mencapai kesempurnaan penuh dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw. – pemilik akhlak dan ruhani yang paling agung
-- sebagaimana firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ نٓ وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ
ۙ﴿﴾ مَاۤ اَنۡتَ
بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾ وَ اِنَّ لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾ وَ اِنَّکَ
لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
نٓ وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ -- demi tempat tinta dan pena dan apa yang mereka
tulis. مَاۤ اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ -- Dengan nikmat Rabb (Tuhan) engkau, engkau
sekali-kali bukanlah orang gila.
وَ اِنَّ
لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ -- Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya. وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung (Al-Qalam [68]:1-5).
Dalam Surah Al-‘Alaq [96]:2-6) dikatakan bahwa awal terjadinya manusia
dimulai dari ‘alaq (‘alaqah),
sedangkan dalam QS.22:8 dan QS.23:13-15
disebut berasal dari turāb
(tanah) atau dari sulālatin min thīn (intisari tanah liat). Dalam kedua pernyataan tersebut sama sekali tidak
ada kontradiksi, sebab yang
dikemukakan dalam QS.22:6 dan QS.23:13-15 adalah rangkaian sebab-akibat
secara umum proses terjadinya
(diciptakan-Nya) manusia dalam rahim perempuan (ibu); sedangkan penyebutan ‘alaq
(segumpal darah) sebagai awal terjadinya manusia karena selama “sel telur” (ovum) yang berhasil dibuahi oleh “sperma laki-laki” dalam rahim perempuan (ibu) tidak melengket
dan tenggelam dalam dinding rahim
ibu -- sehingga secara bertahap berubah
menjadi ‘alaq (segumpal darah) -- maka proses terciptanya janin manusia (bayi) dalam rahim
ibu tidak akan pernah terjadi,
sebab ia akan dikeluarkan dari rahim sebagai
darah haid yang kotor. Itulah
makna ayat: اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ -- Bacalah
dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang
menciptakan, خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ -- menciptakan insan (manusia) dari
segumpal darah” (Al-‘Alaq [96]:2-3).
Nabi Besar
Muhammad Saw., Seorang Nabi Allah yang Ummi (Butahuruf) tetapi
Menghasilkan Putra-putra Ruhani Sebagai “Raja-raja
Pena”
Penyebutan kata insan dalam ayat tersebut berarti
bahwa kecintaan kepada Allah Swt. atau Tauhid Ilahi telah terpatri di dalam fitrat manusia (QS.7:173-174; QS.30:31) dan bahwa memang sudah
sewajarnyalah ada seseorang yang
dalam dirinya dorongan naluri itu
harus mencapai pengejawantahannya
yang sempurna. Wujud itu adalah insan
kamil (manusia sempurna) yakni Nabi
Besar Muhammad saw. yang paling mencintai
Al-Khāliq, Sang Pencipta-nya, dengan segenap pikiran, hati, dan jiwanya.
Jadi
kata insan dalam ayat ini kecuali arti yang diberikan dalam teks, berarti
pula manusia sempurna yakni Nabi Besar Muhammad saw., sebab dari seluruh
umat manusia – bahkan seluruh rasul Allah -- wujud yang paling sempurna memperoleh
pengejewantahan Sifat Rahīmiyat
(Kasih-sayang) Allah Swt.
yang adalah Ar-Rahīm (Yang Maha
Penyayang) adalah Nabi Besar Muhammad saw.
Betapa dalamnya hikmah yang terkandung dalam ayat: ِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ -- Bacalah
dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang
menciptakan, خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ -- menciptakan insan (manusia) dari
segumpal darah” (Al-‘Alaq [96]:2-3).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ -- Bacalah, dan Rabb
(Tuhan) engkau Maha Mulia, الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ -- Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ -- Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-‘Alaq [96]:4-6).
Pengulangan kata iqra (bacalah) dalam ayat tersebut berarati bahwa semakin sering
Al-Quran dibaca dan didakwahkan ke seluruh dunia, akan
semakin tambah jua kekudusan Allah Swt. dan kehormatan
manusia diakui dan dihargai.
Ayat: الَّذِیۡ عَلَّمَ
بِالۡقَلَمِ -- Yang mengajar dengan pena, عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ -- Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya” nampaknya
mengandung suatu nubuatan bahwa pena
akan memainkan peranan
sangat penting dalam pengalihan Al-Quran ke dalam bentuk tulisan dan dalam pemeliharaan serta penjagaan
dari bahaya hilang atau dari gangguan campur-tangan manusia, sesuai dengan janji pemeliharaan Allah Swt. terhadap
Al-Quran (QS.15:10).
Lebih lanjut ayat ini menunjuk kepada sumbangan
besar yang akan diberikan oleh pena kepada penyebaran dan penyiaran
ilmu-ilmu ruhani dan rahasia-rahasia
Ilahi dengan perantaraan Al-Quran
dan penyebaran ilmu-ilmu duniawi, yang
dengan mempelajari Al-Quran mendapat dorongan besar ke arah upaya itu
sebagaimana dinubuatkan pula dalam (QS.81:11) mengenai terjadinya penyebar-luasan buku-buku yang merupakan hasil
kerja para penulis yang menggunakan “pena”, firman-Nya:
وَ اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾
Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan
(At-Takwīr 81]:11).
Isyarat ini nampaknya ditujukan kepada penyebarluasan surat-surat
kabar, majalah-majalah, dan juga buku-buku, juga ditujukan kepada sistem
perpustakaan dan taman-taman bacaan serta tempat-tempat dan sarana-sarana
lainnya serupa itu untuk penyiaran ilmu pengetahuan di Akhir Zaman ini.
Sungguh bermakna sekali bahwa pena
disebut dengan kerapnya dalam sebuah Kitab
suci yang telah diwahyukan
ditengah-tengah suatu bangsa yang
sedikit pun tidak menghargai pena dan
yang jarang mempergunakannya, dan
yang diwahyukan kepada orang yang
tidak dapat membaca dan menulis (QS.7:158; QS.62:3).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 25 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar