بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 48
Pentingnya Memiliki Makrifat Ilahi Mengenai
Keindahan Sifat Penyayang Allah
Swt. & Hamba-hamba Allah yang Hakiki Merupakan “Pribadi-pribadi Surgawi”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai beberapa surat da’wah Islam Nabi Besar Muhammad saw. di antaranya adalah
kepada Kaisar Hiraclius
– penguasa Romawi (Byzantium) yang
dibawa oleh Dihyah al-Kalbi.
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. mengirim
surat da’wah kepada Kaisar Heraclius dan menyerukan kepada Islam. Pada waktu itu Kaisar sedang merayakan
kemenangannya atas kerajaan Persia, sebagaimana dinubuatkan dalam Al-Quran, Surah Ar-Rūm [30]: 1-8.
“Bismillaahirrahmaannirrahiim.
Dari Muhammad,
hamba dan utusan Allah kepada Hiraclius penguasa Romawi. Salam sejahtera bagi siapapun yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.
Dengan ini, aku menyeru Anda untuk memeluk
Islam. Masuk Islamlah, maka Allah akan mengganjar Anda dengan pahala dua kali
lipat. Akan tetapi, jika Anda menolak,
Anda harus menanggung dosa orang-orang
Arisi.
“Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada
satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu,
bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah, dan kita tidak
mempersekutukan-Nya dengan apapun.
Sebagian kita tidak pula menjadikan tuhan selain Dia’. Jika mereka
berpaling, katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang
yang berserah diri (kepada Allah).”
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimah yang tidak ada perselisihan antara kami dan
kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali
Allah dan tidak kita persekutukan
Dia dengan sesuatu pun dan tidak
(pula) sebahagian kita menjadikan
sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
“Saksikanlah, bahawa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”
(Surah Āli-Imran:
65) [Sahih Al-Bukhari 1/4,5].
Selain mengirimkan surat kepada Hiraclius,
Nabi saw. juga menulis surat yang ditujukan kepada uskup terpandang di Romawi,
yaitu Uskup Dhughatir. Surat yang
diantarkan juga oleh Dihyah tersebut berisi:
“Salam
bagi yang beriman. Atas dasar itu sesungguhnya Isa bin Maryam adalah tiupan roh
Allah, terjadi dengan kalimat-Nya yang benar (haq), disampaikan kepada Maryam
yang suci. Aku beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim,
Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya serta apa yang diberikan kepada para
Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara
mereka, dan kami hanya tunduk patuh kepadanya. Salam yang mengikuti petunjuk.”
Setelah membaca surat tersebut, sang uskup
berkata kepada Dihyah, “Demi Allah,
kawannya adalah seorang Nabi yang diutus. Kami mengenali sifat-sifat dan namanya
semuanya tercantum dalam kitab-kitab kami.”
Uskup tersebut kemudian menanggalkan
keuskupannya yang berwarna hitam dan digantinya dengan jubah berwarna putih.
Dia mengambil tongkatnya, lalu beranjak menuju ke gereja. Di sana, banyak orang
sedang berkumpul. Di hadapan mereka, uskup berkata, “Wahai segenap orang Romawi, aku telah menerima surat dari Ahmad yang
mengajak kita kepada Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan
aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang pun
serempak menyerang dan memukulinya bertubi-tubi hingga tewas. Setelah kejadian itu, Dihyah kembali kepada
Heraklius. Kemudian Heraklius berujar, “Aku
sudah memberitahukan kepadamu bahwa kami mencemaskan diri sendiri dan tindakan
kekerasan mereka. Demi Allah, uskup Dhughatir lebih mulia daripada aku.”
Pendek
kata apa pun yang dikemukakan
Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini benar-benar telah dilaksanakan secara
sempurna oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلۡحَقُّ
مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُنۡ مِّنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾ فَمَنۡ حَآجَّکَ فِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَکَ
مِنَ الۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ
نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ
فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ الۡقَصَصُ الۡحَقُّ ۚ وَ مَا
مِنۡ اِلٰہٍ اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Kebenaran ini dari Rabb (Tuhan) engkau maka janganlah
engkau termasuk orang-orang yang
ragu. Tetapi barangsiapa membantah
engkau mengenainya setelah datang kepada engkau ilmu maka katakanlah: تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ
نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ
لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ -- “Marilah
kita panggil anak-anak laki-laki kami dan anak-anak laki-lakimu, perempuan-perempuan kami dan
pe-rempuan-perempuanmu, orang-orang kami dan orang-orangmu, kemudian kita berdoa
supaya laknat Allah menimpa orang-orang yang berdusta.” Sesungguhnya ini benar-benar kisah yang haq,
dan sekali-kali tidak ada Tuhan yang
patut disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya Allah Dia
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Āli ‘Imran [3]:61-63).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا
اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا
اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا
بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai Ahlul Kitab, بَیۡنَنَا وَ
بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ -- marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak
menyembah kecuali kepada Allah, وَ لَا نُشۡرِکَ
بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ -- dan tidak
pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian
yang lain sebagai tuhan-tuhan
selain Allah.” فَاِنۡ تَوَلَّوۡا
فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ -- Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah:
“Jadi saksilah bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri kepada
Allah” (Āli ‘Imran [3]:65).
Genapnya Peringatan
dan Nubuatan Al-Quran Terhadap Umat Islam Bani Isma’il
Karena kedua azab Ilahi yang diperingatkan
Allah Swt. Bani Israil telah terjadi sebelum pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw., karena itu pemuatan dalam Al-Quran
dua azab
Ilahi yang menimpa Bani Israil tersebut dalam Surah Bani Israil [17]:5-9, selain untuk mengingatkan golongan Ahli-Kitab mengenai hal tersebut, juga
merupakan nubuatan dan peringatan bagi umat Islam (Bani Isma’il), bahwa seperti orang-orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka pada
masa kemunduran Islam setelah 3 abad masa kejayaan mereka yang pertama (QS.32:6), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ
اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ
عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا
جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya
kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- Apabila datang saat sempurnanya janji
yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan
untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami
yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan itu merupakan
suatu janji yang pasti terlaksana. ثُمَّ
رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا -- Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka,
dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
keadaan kamu sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri, وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat
buruk maka itu untuk diri kamu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan
lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka
mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ -- Boleh jadi kini Rabb (Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ
عُدۡنَا -- tetapi
jika kamu kembali kepada
perbuatan buruk, Kami pun akan
kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا --
Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang
kafir. (Bani Israil [17]:5-9).
Serbuan Dahsyat Balatentara Hulaku Khan Terhadap Kota Baghdad & Serbuan Mendunia Gog
(Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) di Akhir Zaman
Tetapi
umat Islam tidak memperoleh
faedah dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak
meninggalkan cara-cara yang buruk;
dan karena itu telah dihukum dua kali oleh Allah Swt.. Hukuman pertama yang menimpa mereka, yaitu
ketika kota Baghdad jatuh pada tahun
1258 M, dimana pasukan-pasukan Hulaku Khan yang biadab
telah memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan pusat kekuasaan
yang agung itu, dan konon kabarnya
1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu oleh balatentara
keturunan Jenghis Khan tersebut.
Namun sesuai dengan ayat: ثُمَّ
رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا -- Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka,
dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
keadaan kamu sebelumnya” (ayat 7),
dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka
yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan, yakni cucu
Hulaku Khan bersama-sama sejumlah
besar orang Mongol dan Tartar
memeluk agama Islam, yang
kemudian muncul sebagai dinasti Moghul (Mughal) di Hindustan.
Hukuman kedua yang
diisyaratkan dalam QS.17:8 telah ditakdirkan
akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman, ketika Allah Swt.
membangkitkan Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) -- yakni bangsa-bangsa
Kristen dari Barat yang bermata biru --
mereka menyebar dan menguasai
hampir seluruh dunia, termasuk wilayah
kekuasaan umat Islam (QS.18:95-102; QS.20:103-112; QS.21:96:99)
yang dalam Bible disebut sebagai “ pelepasan
sementara iblis dan Satan -- naga,
si ular tua -- dari pemenjaraan mereka selama 1000 tahun:
20:7 Dan setelah masa
seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, 20:8 dan ia
akan pergi menyesatkan bangsa-bangsal pada keempat
penjuru bumi, yaitu Gog
dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah
mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah
mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah
api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis
yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang yaitu tempat binatang dan
nabi palsu itu, dan mereka
disiksa siang malam sampai selama-lamanya. (Wahyu 20:7-10).
Keindahan dan Sifat Penyayang Allah Swt.
Merajalelanya penyebaran dan kekuasaan Gog
(Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) -- yakni bangsa-bangsa
Kristen dari Barat yang bermata biru -- tersebut secara berangsur-angsur menjadi
semakin surut dengan diutus-Nya Rasul
Akhir Zaman -- yakni Masih Mau’ud a.s. – yang ditakdirkan
Allah Swt. untuk mewujudkan kejayaan
Islam kedua kali di Akhir Zaman
ini, sehingga Tauhid Ilahi akan kembali unggul
atas kemusyrikan, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ
رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ
دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Sebagai
Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya dijanjikan, selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai keindahan
dan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt., yang dengan memilik makrifat
mengenai Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah)
Allah Swt. berdasarkan pengalaman
nyata akan membuat kecintaan kepada
Allah Swt. semakin meningkat kesempurnaannya, beliau bersabda:
“Hukum alam yang ditetapkan Tuhan dan norma-norma
alamiah yang sudah ada sejak penciptaan
manusia, mengajarkan kepada kita bahwa untuk menciptakan hubungan
yang erat dengan Tuhan diperlukan
pengalaman
mengenai Sifat Maha Penyayang dan Maha
Indah Allah Swt..
Ada pun yang dimaksud dengan Sifat Maha Penyayang adalah contoh-contoh (bukti-bukti) dari Sifat akhlak Allah Yang Maha Kuasa yang
pernah dialami manusia dalam dirinya sendiri.
Sebagai contoh, Allah telah menjadi Penjaga-nya ketika ia sedang tidak berdaya,
lemah dan yatim. Atau Tuhan telah memenuhi kebutuhannya ketika sedang kekurangan,
atau bisa jadi Allah Swt. telah melipurnya
pada saat sedang dilanda kesedihan.
Bisa jadi Tuhan telah membimbingnya tanpa perantara seorang guru atau pengajar dalam pencahariannya di jalan Allah Swt….. (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 186).
Dua Macam Ujian
Keimanan
Dari Al-Quran diketahui, bahwa ujian keimanan pada masa pengutusan para rasul Allah ada dua macam, yakni
pada periode awal berupa kesempitan duniawi (QS.2:154-158) dan periode selanjutnya berupa
kelapangan duniawi (QS.110:1-4).
Demikian pula yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s., setelah beliau mengalami penderitaan akibat perbuatan buruk saudara-saudara tua beliau (QS.12:4-21), selanjutnya di Mesir beliau
mulai menghadapi ujian keimanan berupa kelapangan
duniawi (QS.12:22-35), yang pada umumnya banyak orang-orang beriman yang gagal
menghadapi jeratan godaannya
yang sangat menggiurkan serta penuh tipuan -- sebagaimana Nabi Yusuf a.s. mendapat godaan dari istri majikan beliau di Mesir (QS.6:33; QS.29:65; QS.47:37; QS.102:1-9) yang melambangkan kesenangan duniawi -- firman-Nya:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ
زِیۡنَۃٌ وَّ تَفَاخُرٌۢ بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ
الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا
ثُمَّ یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ
اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ
الدُّنۡیَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ ﴿﴾ سَابِقُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ مَاۤ اَصَابَ
مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا
فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اِلَّا فِیۡ
کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ اِنَّ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ یَسِیۡرٌ ﴿ۚۖ﴾ مَاۤ
اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ فِی
الۡاَرۡضِ وَ لَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اِلَّا فِیۡ
کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ اِنَّ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ یَسِیۡرٌ ﴿ۚۖ﴾ لِّکَیۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰی مَا فَاتَکُمۡ وَ
لَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰىکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ لَا یُحِبُّ کُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۣ ﴿ۙ﴾
Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan,
pengisi waktu, perhiasan, saling berbangga
di antara kamu serta bersaing dalam banyaknya harta dan anak.
Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya mengagumkan para
penanamnya kemudian tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menjadi kuning lalu
menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab sangat keras dan
ada ampunan serta keridhaan
dari Allah. وَ مَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ
اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ -- Dan
sekali-kali tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan sementara yang menipu. سَابِقُوۡۤا
اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ
رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ -- Berlomba-lombalah
kamu dalam mencari ampunan Rabb
(Tuhan) kamu dan surga yang nilainya setara dengan nilai langit dan bumi,
اُعِدَّتۡ
لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- yang disediakan
bagi orang-orang yang beriman kepada Allah
dan rasul-rasul-Nya. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Demikianlah
karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa
yang Dia kehendaki, dan Allah itu
Pemilik karunia yang besar. مَاۤ
اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ فِی
الۡاَرۡضِ وَ لَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اِلَّا فِیۡ
کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ -- Sekali-kali tidak ada musibah menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kamu melainkan sudah
tercatat dalam sebuah kitab sebelum Kami
menciptakannya. اِنَّ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ
یَسِیۡرٌ -- Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.
لِّکَیۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰی مَا
فَاتَکُمۡ وَ لَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ
اٰتٰىکُمۡ -- Supaya kamu jangan bersedih atas apa
yang berlalu dari kamu, وَ لَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰىکُمۡ -- dan jangan
pula kamu terlampau gembira atas apa yang dianugerahkan kepada kamu.
وَ اللّٰہُ لَا یُحِبُّ کُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۣ -- Dan Allah
tidak mencintai setiap pembual, membanggakan diri (Al-Hadīd [57]:21-24).
Hakikat Surga Seluas Langit dan Bumi &
Hamba-hamba Allah yang
Hakiki Merupakan ”Pribadi-pribadi Surgawi”
Makna kata ‘ardh
dalam ayat: سَابِقُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ -- Berlomba-lombalah kamu dalam mencari
ampunan Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya setara
dengan nilai langit dan bumi”, karena
‘ardh berarti nilai atau keluasan, maka ayat ini berarti bahwa:
(a) ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa
di akhirat akan tidak terkira
banyaknya;
(b) karena surga itu seluas
bentangan langit dan bumi – seluruh jagat raya – maka surga itu meliputi neraka juga. Hal itu menunjukkan bahwa surga dan neraka itu
bukan dua tempat yang berbeda dan terpisah, melainkan dua
keadaan atau kondisi alam pikiran.
Sebuah hadits Nabi Besar Muhammad
saw. yang terkenal memberikan pengertian yang mendalam mengenai paham Al-Quran
mengenai surga dan neraka. Pada sekali peristiwa beberapa
orang sahabat bertanya: “Jika surga itu
meliputi bentangan langit dan bumi dalam keluasannya, maka di manakah terletak
neraka itu?” Menurut riwayat beliau saw. telah memberikan jawaban atas pertanyaan
itu: “Dimanakah malam bila siang tiba?”
(Tafsir Ibnu Katsir).
Makna Kitab
dalam ayat: مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ
اِلَّا فِیۡ کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ
اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ -- Sekali-kali tidak ada musibah menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kamu melainkan sudah tercatat dalam sebuah kitab sebelum Kami
menciptakannya”, dapat diartikan hukum atau pengetahuan Ilahi, atau Al-Quran;
dan ayat ini dapat berarti bahwa segala sesuatu tunduk kepada hukum alam
tertentu atau bahwa penyebab-penyebab
dan obat penyembuh bagi malapetaka yang menimpa bangsa-bangsa dan perorangan-perorangan telah disebut dalam Al-Quran.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keistimewaan lainnya dari hamba-hamba
Allah Swt. yang memiliki makrifat
Ilahi seperti itu:
“Yang dimaksud dengan Keindahan-Nya
adalah Sifat-sifat yang muncul dalam
kemasan kasih-sayang, seperti Sifat-Nya
Yang Maha Sempurna, Maha Lembut, Maha Penyayang atau
Rahīmiyat, atau Sifat Rabubiyat-Nya yang umum serta semua karunia yang bisa dinikmati manusia untuk kenyamanan mereka. Di samping itu
adalah pengetahuan milik-Nya
yang dikucurkan melalui para rasul-Nya agar manusia bisa menyelamatkan dirinya dari kematian dan kemudharatan.
Begitu juga dengan Sifat-Nya Yang Maha Mendengar permohonan doa
mereka yang sedang gelisah dan lelah. Begitu pula kecenderungan-Nya
kepada mereka yang cenderung kepada-Nya. Semua ini
terangkum dalam Keindahan Tuhan. Berkat pengalamannya
atas Sifat-sifat Ilahi demikian,
seseorang memperoleh peneguhan keimanan dimana jiwanya menjadi tertarik kepada Allah Swt. sebagaimana besi tertarik oleh magnit,
sehingga kecintaan manusia
itu kepada Tuhan-nya menjadi berlipat-ganda dan keimanannya menjadi
jauh lebih kuat.
Memperhatikan bahwa semua kemaslahatan
dirinya adalah bersama Tuhan
maka harapannya kepada Tuhan menjadi bertambah kuat dan ia akan menjadi lebih cenderung lagi kepada-Nya
serta menggantungkan diri sepenuhnya
kepada Tuhan dalam segala hal dan setiap saat. Ia merasa pasti akan berhasil karena ia telah merasakan
sendiri banyak contoh dari rahmat,
berkat dan kemurahan hati Ilahi.
Ibadahnya
akan bersumber pada kekuasaan dan keyakinan
sehingga keteguhan hatinya menjadi mantap.
Setelah menyadari karunia dan berkat
Ilahi maka nur keyakinan secara gencar
merasuki kalbunya dimana perasaan egonya lalu menjadi sirna. Berkat renungan berulang-kali akan kebesaran dan kekuasaan
Tuhan, hatinya telah menjadi Rumah Allah. Sebagaimana nyawa
tidak meninggalkan diri manusia
selama yang bersangkutan masih hidup,
begitu juga keyakinan akan Tuhan
Yang Maha Kuasa, Maha Agung,
yang masuk ke dalam hatinya tidak
akan pernah lagi meninggalkannya. Jiwanya yang suci bergolak
sepanjang waktu di dalam dirinya dan ia berbicara hanya di bawah petunjuk
jiwanya itu.
Kebenaran dan wawasan
mengalir dari dirinya sedangkan tenda Allah Yang Maha Agung dan
Maha Luhur selalu tegak di dalam hatinya. Kegembiraan karena keyakinan, ketulusan
dan kecintaan mengalir di seluruh tubuhnya seolah air
yang menghidupi seluruh anggota tubuh. Sinar mata dan keningnya mencerminkan kecemerlangan nur Ilahi.
Penampilannya gemilang seolah-olah
baru habis dibasuh dengan hujan
rahmat Ilahi, sedangkan lidahnya menjadi ikut disegarkan. Semua anggota tubuhnya memancar terang seperti hujan
musim semi yang menyegarkan cabang,
daun dan bunga-bunga serta buah
pepohonan..
Tubuh
mereka yang belum pernah didatangi ruh
seperti ini sama saja seperti sebuah bangkai. Kesegaran dan kegembiraan
yang ditimbulkan tidak dapat diuraikan
dengan kata-kata dan tak akan pernah
bisa dicapai oleh kalbu
yang mati yang belum pernah disegarkan
oleh sumber nur dan keyakinan, bahkan kalbu
demikian itu berbau busuk.
Adapun mereka yang telah memperoleh karunia nur ini dan di dalam kalbunya
telah mengalir sumber mata air nur, maka ia akan menerima kuasa Allah Swt. dalam segala kata
dan perbuatannya setiap saat
dan dalam semua keadaan. Semua itu
menjadi kegembiraan serta kenyamanan baginya dan ia tidak bisa hidup tanpa hal itu.” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 186-187).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 23 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar