Kamis, 24 September 2015

Pentingnya Memiliki "Makrifat Ilahi" Mengenai Keindahan Sifat Penyayang Allah Swt. & Hamba-hamba Allah yang Hakiki Merupakan "Pribadi-pribadi Surgawi"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 48

Pentingnya Memiliki Makrifat Ilahi  Mengenai Keindahan Sifat Penyayang Allah Swt.  &   Hamba-hamba Allah yang Hakiki Merupakan “Pribadi-pribadi Surgawi

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai  beberapa surat da’wah Islam  Nabi Besar Muhammad saw. di antaranya adalah kepada   Kaisar Hiraclius   – penguasa Romawi (Byzantium)  yang dibawa oleh Dihyah al-Kalbi.
       Ketika Nabi Besar Muhammad saw. mengirim surat da’wah kepada Kaisar Heraclius dan menyerukan kepada Islam. Pada waktu itu Kaisar sedang merayakan kemenangannya atas kerajaan  Persia, sebagaimana dinubuatkan dalam Al-Quran, Surah Ar-Rūm [30]: 1-8.  
Bismillaahirrahmaannirrahiim.
     Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah kepada Hiraclius penguasa Romawi. Salam sejahtera bagi siapapun yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.
     Dengan ini, aku menyeru Anda untuk memeluk Islam. Masuk Islamlah, maka Allah akan mengganjar Anda dengan pahala dua kali lipat. Akan tetapi, jika Anda  menolak, Anda  harus menanggung dosa orang-orang Arisi.
      “Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.  Sebagian kita tidak pula menjadikan tuhan selain Dia’. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
       Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimah   yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahawa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”  (Surah Āli-Imran: 65)  [Sahih Al-Bukhari 1/4,5].

Surat Da’wah Kepada Uskup Dhughathir

    Selain mengirimkan surat kepada Hiraclius, Nabi saw. juga menulis surat yang ditujukan kepada uskup terpandang di Romawi, yaitu Uskup Dhughatir. Surat yang diantarkan juga oleh Dihyah tersebut berisi:
      Salam bagi yang beriman. Atas dasar itu sesungguhnya Isa bin Maryam adalah tiupan roh Allah, terjadi dengan kalimat-Nya yang benar (haq), disampaikan kepada Maryam yang suci. Aku beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya serta apa yang diberikan kepada para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya tunduk patuh kepadanya. Salam yang mengikuti petunjuk.”
        Setelah membaca surat tersebut, sang uskup berkata kepada Dihyah, “Demi Allah, kawannya adalah seorang Nabi yang diutus. Kami mengenali sifat-sifat dan namanya semuanya tercantum dalam kitab-kitab kami.”
       Uskup tersebut kemudian menanggalkan keuskupannya yang berwarna hitam dan digantinya dengan jubah berwarna putih. Dia mengambil tongkatnya, lalu beranjak menuju ke gereja. Di sana, banyak orang sedang berkumpul. Di hadapan mereka, uskup berkata, “Wahai segenap orang Romawi, aku telah menerima surat dari Ahmad yang mengajak kita kepada Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
    Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang pun serempak menyerang dan memukulinya bertubi-tubi hingga tewas. Setelah kejadian itu, Dihyah kembali kepada Heraklius. Kemudian Heraklius berujar, “Aku sudah memberitahukan kepadamu bahwa kami mencemaskan diri sendiri dan tindakan kekerasan mereka. Demi Allah, uskup Dhughatir lebih mulia daripada aku.”
     Pendek  kata  apa pun yang dikemukakan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini benar-benar telah dilaksanakan secara sempurna oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُنۡ مِّنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾  فَمَنۡ حَآجَّکَ فِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَکَ مِنَ الۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ الۡقَصَصُ الۡحَقُّ ۚ وَ مَا مِنۡ  اِلٰہٍ  اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Kebenaran ini dari Rabb (Tuhan) engkau maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. Tetapi barangsiapa membantah engkau mengenainya setelah datang kepada engkau ilmu maka katakanlah:  تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ --  Marilah kita panggil anak-anak laki-laki kami dan anak-anak laki-lakimu,  perempuan-perempuan kami dan pe-rempuan-perempuanmu, orang-orang kami dan orang-orangmu, kemudian kita   berdoa supaya laknat Allah menimpa orang-orang yang berdusta.”  Sesungguhnya ini benar-benar  kisah yang haq, dan sekali-kali tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali  Allah, dan sesungguhnya Allah   Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Āli ‘Imran [3]:61-63).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ  بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai Ahlul Kitab, بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ   -- marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan  sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ -- Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah: “Jadi saksilah bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri kepada Allah” (Āli ‘Imran [3]:65).

Genapnya Peringatan dan Nubuatan Al-Quran Terhadap Umat Islam Bani Isma’il

      Karena kedua azab Ilahi yang diperingatkan Allah Swt. Bani Israil telah terjadi sebelum pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., karena itu pemuatan  dalam Al-Quran  dua azab Ilahi yang menimpa Bani Israil  tersebut  dalam Surah Bani Israil [17]:5-9, selain untuk mengingatkan  golongan Ahli-Kitab mengenai hal tersebut, juga merupakan nubuatan dan  peringatan bagi umat Islam (Bani Isma’il), bahwa seperti orang-orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka pada masa kemunduran Islam  setelah 3 abad masa kejayaan mereka yang pertama (QS.32:6), firman-Nya:   
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ  --   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi  kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ --  dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,  وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا -- dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا  -- Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar   dari keadaan kamu sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ   --    Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri.  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ    --   Boleh jadi kini Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا  -- tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا  -- Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang kafir.  (Bani Israil [17]:5-9).

Serbuan Dahsyat Balatentara Hulaku Khan Terhadap Kota Baghdad  & Serbuan Mendunia Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) di Akhir Zaman

       Tetapi  umat Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan  karena itu telah dihukum dua kali oleh Allah Swt.. Hukuman pertama yang menimpa mereka, yaitu ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M, dimana pasukan-pasukan Hulaku Khan yang  biadab  telah  memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan  pusat kekuasaan yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu  oleh balatentara keturunan Jenghis Khan tersebut.
        Namun  sesuai dengan ayat:  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا  -- Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar   dari keadaan kamu sebelumnya” (ayat 7), dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan, yakni  cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Mongol  dan Tartar memeluk agama Islam, yang kemudian  muncul sebagai dinasti Moghul (Mughal) di Hindustan.
       Hukuman kedua   yang diisyaratkan dalam QS.17:8 telah ditakdirkan akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman, ketika Allah Swt. membangkitkan Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj)  -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang bermata biru   --  mereka menyebar  dan menguasai hampir seluruh  dunia, termasuk wilayah kekuasaan umat Islam  (QS.18:95-102; QS.20:103-112; QS.21:96:99) yang  dalam Bible disebut sebagai “ pelepasan sementara  iblis dan Satan  -- naga, si ular tua -- dari pemenjaraan mereka selama 1000 tahun:
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,  Iblis akan dilepaskan   dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsal  pada keempat penjuru bumi,   yaitu Gog dan Magog,  dan mengumpulkan mereka untuk berperang   dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.  20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung   perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi  itu. Tetapi dari langit  turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis yang menyesatkan mereka,  dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang    yaitu tempat binatang  dan nabi palsu   itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.   (Wahyu 20:7-10).

Keindahan dan Sifat Penyayang  Allah Swt.

       Merajalelanya penyebaran dan kekuasaan  Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj)   -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang bermata biru   -- tersebut secara berangsur-angsur menjadi semakin surut dengan diutus-Nya  Rasul Akhir Zaman  --  yakni Masih Mau’ud a.s.  – yang ditakdirkan Allah Swt. untuk mewujudkan kejayaan Islam kedua kali di Akhir Zaman ini, sehingga Tauhid Ilahi akan kembali unggul atas kemusyrikan, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ   ﴿﴾  
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai  (Ash-Shaf [61]:10).     
      Sebagai Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya dijanjikan, selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai keindahan dan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt., yang dengan memilik makrifat mengenai  Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.  berdasarkan pengalaman nyata  akan membuat kecintaan kepada Allah Swt. semakin meningkat kesempurnaannya, beliau bersabda:
     Hukum alam yang ditetapkan Tuhan dan norma-norma alamiah yang sudah ada sejak penciptaan manusia, mengajarkan kepada kita bahwa untuk menciptakan hubungan yang erat dengan Tuhan diperlukan pengalaman mengenai Sifat Maha Penyayang  dan  Maha Indah  Allah  Swt..  Ada pun yang dimaksud dengan Sifat Maha Penyayang  adalah contoh-contoh (bukti-bukti) dari Sifat akhlak Allah Yang Maha Kuasa yang pernah dialami manusia dalam dirinya sendiri.
    Sebagai contoh, Allah telah menjadi Penjaga-nya ketika ia sedang tidak berdaya, lemah dan yatim. Atau Tuhan telah memenuhi kebutuhannya ketika sedang kekurangan, atau bisa jadi Allah Swt.  telah melipurnya pada saat sedang dilanda kesedihan. Bisa jadi Tuhan telah membimbingnya tanpa perantara seorang guru atau pengajar dalam pencahariannya di jalan Allah Swt….. (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 186).

Dua Macam   Ujian Keimanan

      Dari Al-Quran diketahui, bahwa ujian keimanan  pada masa pengutusan para rasul Allah ada dua macam, yakni  pada periode awal  berupa kesempitan duniawi  (QS.2:154-158) dan periode selanjutnya berupa kelapangan duniawi (QS.110:1-4). Demikian pula yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s., setelah beliau mengalami penderitaan akibat perbuatan buruk saudara-saudara tua beliau  (QS.12:4-21), selanjutnya di Mesir beliau mulai menghadapi  ujian keimanan  berupa  kelapangan duniawi (QS.12:22-35), yang pada umumnya banyak orang-orang beriman yang gagal menghadapi jeratan godaannya yang  sangat menggiurkan  serta penuh tipuan    -- sebagaimana Nabi Yusuf a.s. mendapat godaan dari istri majikan beliau di Mesir (QS.6:33; QS.29:65;  QS.47:37; QS.102:1-9)  yang melambangkan kesenangan duniawi  --  firman-Nya:
  اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ زِیۡنَۃٌ  وَّ تَفَاخُرٌۢ  بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ  ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ  یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ ﴿﴾  سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ ۙ اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾  مَاۤ  اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ  فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ  اِلَّا فِیۡ  کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ اِنَّ  ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ یَسِیۡرٌ ﴿ۚۖ﴾ مَاۤ  اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ  فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ  اِلَّا فِیۡ  کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ اِنَّ  ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ یَسِیۡرٌ ﴿ۚۖ﴾   لِّکَیۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰی مَا فَاتَکُمۡ وَ لَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ  اٰتٰىکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یُحِبُّ کُلَّ  مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۣ ﴿ۙ﴾
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya  kehidupan dunia ini hanyalah  permainan, pengisi waktu, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta  bersaing dalam banyaknya harta dan anak. Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya mengagumkan para penanamnya kemudian  tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menjadi kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab sangat keras dan ada ampunan serta  keridhaan dari Allah.  وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ -- Dan sekali-kali tidaklah  kehidupan dunia ini melainkan kesenangan sementara yang menipu. سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ -- Berlomba-lombalah kamu dalam mencari ampunan Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya setara dengan nilai langit dan bumi,  اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ --  yang disediakan bagi  orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Demikianlah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah itu Pemilik karunia yang besar. مَاۤ  اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ  فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ  اِلَّا فِیۡ  کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ    -- Sekali-kali tidak ada musibah menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kamu melainkan sudah tercatat dalam sebuah kitab  sebelum Kami menciptakannya. اِنَّ  ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ یَسِیۡرٌ  -- Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. لِّکَیۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰی مَا فَاتَکُمۡ وَ لَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ  اٰتٰىکُمۡ  --  Supaya kamu jangan bersedih atas apa yang berlalu dari kamu,  وَ لَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ  اٰتٰىکُمۡ  -- dan jangan pula kamu terlampau gembira atas apa yang  dianugerahkan kepada kamu. وَ اللّٰہُ  لَا یُحِبُّ کُلَّ  مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۣ   -- Dan Allah tidak mencintai setiap pembual, membanggakan diri  (Al-Hadīd [57]:21-24).

Hakikat   Surga Seluas Langit dan Bumi   &    Hamba-hamba Allah yang Hakiki  Merupakan ”Pribadi-pribadi Surgawi

 Makna kata    ardh  dalam ayat: سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ --  Berlomba-lombalah kamu dalam mencari ampunan Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya setara dengan nilai langit dan bumi”,            karena ‘ardh berarti nilai atau keluasan, maka ayat ini berarti bahwa:
 (a) ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa di akhirat akan tidak terkira banyaknya;
  (b) karena surga itu seluas bentangan langit dan bumi – seluruh jagat raya – maka surga itu meliputi neraka juga. Hal itu menunjukkan bahwa surga dan neraka itu bukan dua tempat yang berbeda dan terpisah, melainkan dua keadaan atau kondisi alam pikiran.
 Sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang terkenal memberikan pengertian yang mendalam mengenai paham Al-Quran mengenai surga dan neraka. Pada sekali peristiwa beberapa orang sahabat bertanya: “Jika surga itu meliputi bentangan langit dan bumi dalam keluasannya, maka di manakah terletak neraka itu?” Menurut riwayat beliau saw.  telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu: “Dimanakah malam bila siang tiba?” (Tafsir Ibnu Katsir).
    Makna  Kitab  dalam ayat: مَاۤ  اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ  فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ  اِلَّا فِیۡ  کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ    -- Sekali-kali tidak ada musibah menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kamu melainkan sudah tercatat dalam sebuah kitab  sebelum Kami menciptakannya”,  dapat diartikan hukum atau pengetahuan Ilahi, atau Al-Quran; dan ayat ini dapat berarti bahwa segala sesuatu tunduk kepada hukum alam tertentu atau bahwa penyebab-penyebab dan obat penyembuh bagi malapetaka yang menimpa bangsa-bangsa dan perorangan-perorangan telah disebut dalam Al-Quran.
      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.   bersabda mengenai keistimewaan lainnya dari hamba-hamba Allah Swt.  yang  memiliki makrifat Ilahi seperti itu:
     “Yang dimaksud dengan Keindahan-Nya adalah Sifat-sifat yang muncul dalam kemasan kasih-sayang, seperti Sifat-Nya Yang Maha Sempurna, Maha Lembut, Maha Penyayang atau Rahīmiyat, atau Sifat Rabubiyat-Nya yang umum serta semua karunia yang bisa dinikmati manusia untuk kenyamanan mereka. Di samping itu adalah pengetahuan milik-Nya yang dikucurkan melalui para rasul-Nya agar manusia bisa menyelamatkan dirinya dari kematian dan kemudharatan.   
      Begitu juga dengan Sifat-Nya Yang Maha Mendengar permohonan doa mereka yang sedang gelisah dan lelah. Begitu pula kecenderungan-Nya kepada mereka yang cenderung kepada-Nya. Semua ini terangkum dalam Keindahan Tuhan. Berkat pengalamannya atas Sifat-sifat Ilahi demikian, seseorang memperoleh peneguhan keimanan dimana jiwanya menjadi tertarik kepada Allah Swt.  sebagaimana besi tertarik oleh magnit, sehingga  kecintaan manusia itu kepada Tuhan-nya menjadi berlipat-ganda dan keimanannya menjadi jauh lebih kuat.
      Memperhatikan bahwa semua kemaslahatan dirinya adalah bersama Tuhan maka harapannya kepada Tuhan menjadi bertambah kuat dan ia akan menjadi lebih cenderung lagi kepada-Nya serta menggantungkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala hal dan setiap saat. Ia merasa pasti akan berhasil karena ia telah merasakan sendiri banyak contoh dari rahmat, berkat dan kemurahan hati Ilahi. Ibadahnya akan bersumber pada kekuasaan dan keyakinan sehingga keteguhan hatinya menjadi mantap.
     Setelah menyadari karunia dan berkat Ilahi maka nur keyakinan secara gencar merasuki kalbunya dimana perasaan egonya lalu menjadi sirna. Berkat renungan berulang-kali akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, hatinya telah menjadi Rumah Allah. Sebagaimana nyawa tidak meninggalkan diri manusia selama yang bersangkutan masih hidup, begitu juga keyakinan akan Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Agung, yang masuk ke dalam hatinya tidak akan pernah lagi meninggalkannya. Jiwanya yang suci bergolak sepanjang waktu di dalam dirinya dan ia berbicara hanya di bawah petunjuk jiwanya itu.
      Kebenaran dan wawasan mengalir dari dirinya sedangkan tenda Allah Yang Maha Agung dan Maha Luhur selalu tegak di dalam hatinya. Kegembiraan karena keyakinan, ketulusan dan kecintaan mengalir di seluruh tubuhnya seolah air yang menghidupi seluruh anggota tubuh. Sinar mata dan keningnya mencerminkan kecemerlangan nur Ilahi. Penampilannya gemilang seolah-olah baru habis dibasuh dengan hujan rahmat Ilahi, sedangkan lidahnya menjadi ikut disegarkan. Semua anggota tubuhnya memancar terang seperti hujan musim semi yang menyegarkan cabang, daun dan bunga-bunga serta buah pepohonan..
      Tubuh mereka yang belum pernah didatangi ruh seperti ini sama saja seperti sebuah bangkai. Kesegaran dan kegembiraan yang ditimbulkan tidak dapat diuraikan dengan kata-kata dan tak akan pernah bisa dicapai oleh kalbu yang mati yang belum pernah disegarkan oleh sumber nur dan keyakinan, bahkan kalbu demikian itu berbau busuk.
      Adapun mereka yang telah memperoleh karunia nur ini dan di dalam kalbunya telah mengalir sumber mata air nur, maka ia akan menerima kuasa Allah Swt. dalam segala kata dan perbuatannya setiap saat dan dalam semua keadaan. Semua itu menjadi kegembiraan serta kenyamanan baginya dan ia tidak bisa hidup tanpa hal itu.”  (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 186-187).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 23  September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar