بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 46
Bukti-bukti Kemusyrikan
Merasuki Golongan Ahli
Kitab & Dua Kali
Azab Ilahi Kepada Mereka
Sebagai Hukuman-Nya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai upaya sia-sia dari
golongan Ahli Kitab memadamkan “Nur
Ilahi” paling sempurna yang dinyalakan Allah Swt. di Lembah Bakkah (Mekkah -- QS.3:97), sesuai dengan nubuatan dalam Kitab Ulangan 18:18 mengenai kedatangan Nabi yang seperti Musa a.s. yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.46:11), firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ -- “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ اللّٰہِ -- “Al-Masih
adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.
ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ -- Allah
membinasakan mereka, bagaimana mereka
sampai dipalingkan dari Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah,
dan begitu juga Al-Masih ibnu
Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- padahal
mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada
Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ -- Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ – walau pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya.
(At-Taubah [9]:30-33).
Kemusyrikan Memasuki Kalangan Bani Israil
‘Uzair atau Ezra hidup pada abad
kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya,
imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam
Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai
pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi.
Beliau mendapat kehormatan khas
di antara nabi-nabi Bani Israil. Orang-orang Yahudi di Medinah dan
suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi
(pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa
lembaga-lembaga penting.
Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap
berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat
itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di
Babil (Yewish Encyclopaedia
& Encyclopaedia Biblica).
Ahbar dalam ayat اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- “Mereka telah menjadikan ulama-ulama
mereka dan rahib-rahib mereka sebagai
tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu
juga Al-Masih ibnu Maryam,” adalah ulama-ulama
Yahudi dan ruhban adalah para rahib
agama Nasrani.
Makna ayat
یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- “Mereka berkehendak
memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka,” orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan
Allah Swt. melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di
tanah Arab.
Orang-orang Yahudi pun pernah
berupaya semacam itu, dengan menghasut
orang-orang penguasa kerajaan Fersia (Kisra Fersia) untuk bangkit
melawan Nabi Besar Muhammad saw..
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ -- Dia-lah Yang
telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ – walau pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya” (At-Taubah [9]:30-33).
Para mufassir
(ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa,
seperti dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw., kemenangan
Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s. (Tafsir Ibnu Jarir), manakala semua
agama yang beraneka ragam akan
bangkit dan akan berusaha
sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran
mereka sendiri (QS.61:10.).
Cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam
akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan para pengikut agama-agama
itu akan masuk ke dalam haribaan Islam
dalam jumlah besar (QS.110:1-4).
Nubuatan Mengenai Dua Azab Ilahi yang Menimpa Bani Israil
Kembali kepada dua kali azab Ilahi yang menimpa Bani
Israil sebagai akibat kutukan
Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-80):
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ
اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ
عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا
جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya
kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- Apabila datang saat sempurnanya janji
yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan
untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat,
فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- dan mereka
menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan itu merupakan
suatu janji yang pasti terlaksana. ثُمَّ
رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا -- Kemudian Kami mengembalikan lagi kepadamu kekuatan untuk melawan mereka, dan
Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
keadaan kamu sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri, وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat
buruk maka itu untuk diri kamu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan
lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka
mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama,
dan supaya mereka menghancurluluhkan
segala yang telah mereka kuasai. عَسٰی رَبُّکُمۡ
اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ -- Boleh jadi kini Rabb (Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا -- tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah,
وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا --
Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang
kafir. (Bani Israil [17]:5-9).
Dua kedurhakaan Bani Israil tersebut dikemukakan juga dalam kitab Musa
a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15). Di kalangan Bani Israil yang melakukan kedurhakaan kepada para Rasul Allah tersebut telah dua kali dikutuk yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79),
dan sebagai akibatnya telah dihukum Allah
Swt. pula dua kali.
Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani
Israil sesudah Nabi Daud a.s. sesangkan
azab Ilahi yang kedua terjadi sesudah
peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s.. Nampak dari Bible bahwa sesudah Nabi Musa a.s., orang-orang Yahudi telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat, dan di masa Nabi
Daud a.s. mereka meletakkan
dasar suatu kerajaan kuat, yang
setelah wafatnya pun untuk beberapa
waktu -- di bawah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s. -- kejayaan mereka terus berlanjut. Kemudian setelah wafatnya Nabi Sulaiman a.s. kerajaan Bani Israil a.s. itu menjadi
sasaran kemunduran yang
berangsur-angsur, -- yang digambarkan dalam Al-Quran sebagai “rayap
yang memakan tongkat Nabi Sulaiman
a.s.” (QS.34:15) -- dan pada sekitar 733 s.M. Samaria ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang mencaplok seluruh daerah
Israil di sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M., Palestina telah dilanda oleh satu lasykar Mesir di bawah Firaun Necho, dan Bani Israil takluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish Encyclopaedia Jilid 6, halaman 665).
Serbuan
Dahsyat Balatentara Nebukadnezar dari Babilonia & Makna “Kematian” Nabi Yehezkiel a.s. Selama
100 Tahun
Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi mereka serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong mereka untuk memperbaiki cara-cara mereka yang buruk.
Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara
buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah
a.s., memperingatkan mereka
supaya meninggalkan cara-cara buruk
mereka, sebab kemurkaan Allah tidak
lama lagi akan menimpa mereka, tetapi
mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan
Nabi Yermiah a.s. . tersebut.
Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar
dari Babilonia melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan
membawa pulang perkakas rumah
peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem
sendiri selamat dari kekejaman akibat
pengepungan.
Pada tahun 597 s.M. pun kota Yerusalem
itu dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang sangat keras. Tetapi pemberontakan raja Zedekia membawa
akibat adanya serbuan kedua oleh
Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota Yerusalem itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar.
Putra-putranya dibunuh dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babilonia. Rumah peribadatan, istana raja, serta
semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan
(Yewish Encyclopaedia Jilid
6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”), firman-Nya: فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ -- Apabila
datang saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapimu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan itu merupakan
suatu janji yang pasti terlaksana (Bani Israil [17]:6).
Dalam peristiwa pembuangan yang pertama tersebut Nabi Yehezkiel a.s.
berada bersama rombongan yang dibawa ke Babilonia tersebut, dan beliau sangat berduka melihat kehancuran yang menimpa kota Yerusalem,
firman-Nya:
اَوۡ
کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ
اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ اللّٰہُ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ
لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ
مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰی طَعَامِکَ
وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ
اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ
نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Atau seperti perumpamaan orang yang melalui suatu kota yang dinding-dindingnya
telah runtuh atas atap-atapnya,
kemudian قَالَ اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ اللّٰہُ
بَعۡدَ مَوۡتِہَا -- ia berkata: “Kapankah Allah akan menghidupkan kembali kota ini
sesudah kematian yakni kehancurannya?”
فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ -- Lalu Allah
mematikannya seratus tahun lamanya, kemudian Dia membangkitkannya lagi, قَالَ کَمۡ
لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ -- dan
berfirman: “Berapa lamakah engkau
tinggal dalam keadaan seperti ini?” Ia berkata: “Aku tinggal sehari atau sebagian hari”. قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَۃَ عَامٍ -- Dia berfirman: “Tidak,
bahkan engkau telah tinggal seratus tahun lamanya. Tetapi lihatlah makanan engkau dan minuman engkau, itu sekali-kali tidak membusuk, dan lihat pulalah keledai engkau, dan
Kami melakukan demikian itu وَ
لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ -- supaya Kami menjadikan engkau sebagai Tanda
bagi manusia. Dan lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami menatanya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala kenyataan ini menjadi jelas baginya ia berkata: اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- “Aku mengetahui bahwa sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah
[2]:260).
Orang-orang Yahudi Kembali Melakukan Kedurhakaan Kepada Allah
Swt.
Makna ayat الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا -- “kemudian
Kami mengembalikan lagi kepada kamu
kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami
membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan Kami
menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
keadaan kamu sebelumnya” (Bani
Israil [17]:7), orang-orang Yahudi
menyesuaikan diri mereka dengan keadaan
baru di masa pembuangan di Babilonia.
Kebanyakan di antara mereka telah dipekerjakan
pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babilonia
Tengah, dan banyak dari mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan dan mencapai kedudukan
yang berpengaruh. Keyakinan dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali; kepustakaan
kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali, dan disesuaikan dengan keperluan kaum
yang sedang hidup kembali itu, serta harapan untuk mereka kembali ke Palestina
telah dikobarkan dan dipupuk.
Kira-kira pada tahun 545 s.M., cita-cita
ini memperoleh bentuk lebih jelas. Kaum Yahudi membuat suatu perjanjian rahasia dengan Cyrus –
yakni Dzulqarnain (QS.18:84-99)
-- raja Media dan Persia, dan mereka membantu Cyrus
(Koresy) menaklukkan Babilonia dari dalam, lihat kisah “Harut
dan Marut” dalam
QS.2:103.
Kota
itu dalam bulan Juli tahun 539 s.M. jatuh kepada tentara Cyrus tanpa perlawanan. Sebagai ganjaran
atas jasa-jasa mereka, Cyrus
mengizinkan orang-orang Yahudi kembali
ke Yerusalem dan juga membantu mereka
membangun kembali rumah peribadatan
mereka (Historians’ History of the
World, jilid II, hlm. 126; Jewish
Encyclopaedia jilid 7,
pada kata “Cyrus”, dan 2 Tawarikh
36:22, 23). Syesybazzar (seorang gubernur Sirus) yang berasal dari Yudea,
membawa kembali ke rumah peribadatan
itu alat-alat Nebukadnezar pada tahun 587 s.M..
Syesybazzar (seorang gubernur
Cyrus) yang berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan itu alat-alat dan perkakas yang telah dirampas oleh
Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan
membelanjakan uang kerajaan.
Sejumlah besar orang buangan
kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5). Pekerjaan
pembangunan kembali rumah peribadatan
berangsur-angsur maju terus dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian
ini dan kejayaan serta kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang
diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah
dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh
terjadi (Ulangan 30:1-5).
Jadi, sebagaimana kasyaf
(penglihatan ruhani) yang dialami oleh Nabi Yehezkiel a.s. di Babilonia yaitu mengalami kematian selama 100 tahun, persis selama 100
tahun kota Yerusalem dibangun kembali sejak masa penghancurannya yang pertama yang disa-+/*-ksikan oleh Nabi Yehezkiel a.s..
Jadi, tidak benar pendapat
bahwa Nabi Yehezkiel a.s. dalam QS.2:103
benar-benar mengalami kematian
jasmani selama 100 tahun lalu
beliau dihidupkan kembali oleh Allah Swt., sebab orang yang benar-benar secara jasmani telah mati tidak pernah ada yang dihidupkan kembali oleh Allah Swt.
(QS.21:35-36; QS.39:43), kecuali dalam dongeng.
Makna Kata Wujuh (Wajah-wajah)
Makna wujud
(wajah-wajah) dalam ayat لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ ini berarti pula, “Supaya mereka akan menghina
pemimpin-pemimpin kamu.” Kata wujuh berarti pula pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane), firman-Nya:
فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- “Lalu apabila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan
lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka
mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai” (Bani Israil [17]:8).
Ayat ini membicarakan jatuhnya
kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan, dan tentang azab Ilahi yang menimpa mereka sebagai akibatnya. Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta berusaha membunuh beliau pada palang
salib dan memusnahkan pergerakan
beliau (QS.4:157-159).
Oleh sebab itu Allah Swt. menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras,
ketika pada tahun 70 M. pasukan-pasukan
Romawi di bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di
tengah-tengah kejadian-kejadian mengerikan
yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan
dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumihanguskan (Encyclopaedia Biblica pada kata “Yerusalem”).
Malapetaka yang menimpa Yerusalem
– yang melambangkan orang-orang Yahudi -- itu terjadi ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. a.s.
masih hidup di Kasymir (QS.23:51). Hal
ini pun dinubuatkan oleh Nabi Musa
a.s. (Ulangan 32:
18-26), dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Matius
23:37-39 & 24:1-22):
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh
nabi-nabi dan melempari dengan batu
orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di
bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. 23:39 Dan Aku berkata
kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan
melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius
23:37-39).
Jadi, penghancuran yang kedua kali kota Yerusalem membuktikan betapa benarnya firman Allah Swt. dalam ayat sebelumnya: لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ ini berarti pula, “Supaya mereka akan menghina
pemimpin-pemimpin kamu” (Bani Israil [17]:8).
Kata wujuh berarti pula pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane), sebab kota Yerusalem bukan saja merupakan kota
suci golongan Ahli KItab, tetapi juga menjadi lambang (perumpamaan) orang-orang
Yahudi, sebagaimana firman Allah Swt. melalui mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
tersebut.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 21 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar