بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 43
Tauhid
Ilahi identik Dengan Kesatuan dan
Persatuan, Dibuktikan Dengan Kesempurnaan
Tatanan Alam Semesta & Kemusyrikan
Identik Dengan Perpecahan Umat
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda
Masih Mau’ud a.s. mengenai makna Ayat Kursi yaitu Sifat Allah Swt. Al-Hayyul- Qayyum:
“Dia adalah Wujud Yang menggabung dalam Diri-Nya semua Sifat-sifat
yang sempurna, Dia Yang menciptakan
alam dengan kebijakan dan ketepatan yang sempurna serta memilih eksistensi (keberadaan) di atas non-eksistensi
(ketiadaan). Hanya Dia Sendiri Yang patut disembah berdasarkan kesempurnaan-Nya,
hasil ciptaan-Nya, sifat Rahīmiyat dan Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum). Inilah
makna dari ayat:
اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا
نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
Allah, tiada yang patut disembah
selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk
tidak menyerang-Nya dan tidak pula tidur.
Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di
seluruh langit dan apa yang ada di bumi. (Al-Baqarah
[2]:256).
Segala Sesuatu di Alam Semesta Milik Allah Swt., Rabb Seluruh Alam
Betapa indah dan anggunnya Al-Quran mengemukakan pandangan yang
mendukung eksistensi (keberadaan) Pencipta
alam semesta ini dalam ayat Kursi,
dalam pengertian yang mendalam dan pokok pandangan yang bijak. Bagi semua hal
yang ada di langit dan di bumi, telah dinyatakan secara lugas adanya eksistensi sosok Pencipta Yang
memiliki Sifat-sifat yang sempurna,
dalam kata-kata yang kedalaman maknanya
dan lingkupannya tidak pernah bisa ditandingi oleh para ahli filosofi.
Para filosof yang
pengetahuannya dangkal, tidak mampu melihat bahwa jasmani dan ruhani ini
merupakan hasil ciptaan (makhluk) dan tidak bersifat abadi, tetapi
mereka tetap saja tidak menyadari
bahwa kehidupan, eksistensi dan pemeliharaan yang sempurna
hanya ada pada Allah Swt..
Pemahaman yang mendalam ini
hanya bisa dipelajari dari ayat tersebut dimana diungkapkan bahwa kehidupan yang sempurna dan keabadian eksistensi hanyalah milik Allah Swt. Yang menggabung dalam Diri-Nya semua Sifat yang
sempurna. Selain Dia tidak ada
lagi yang memiliki eksistensi dan pemeliharaan
yang sempurna. Hal ini menjadi dasar
pemikiran harus adanya sosok Pencipta dari alam semesta dan
dikatakan selanjutnya:
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
‘Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi’ (Al-Baqarah [2]:256).
Dengan kata lain, karena alam tidak memiliki eksistensi atau pemeliharaan
yang sempurna dari dirinya sendiri
maka alam membutuhkan suatu kausa
(penyebab) agar ia bisa hidup dan
terpelihara. Kausa tersebut dengan sendirinya harus bersifat komprehensif
(lengkap) dengan Sifat-sifat yang sempurna, Yang mengendalikan alam ini menurut kehendak-Nya
Yang bersifat Bijak dan Melihat segala hal yang tersembunyi, dan Kausa (penyebab)
itu bernama Allah.
Dalam istilah Kitab Suci Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud Yang bersifat komprehensif (lengkap) dengan segala kesempurnaan.
Itulah sebabnya nama Allah selalu dikaitkan dengan
segala yang bersifat Maha, dan di berbagai tempat dinyatakan bahwa Allah Swt. adalah Rabb (Tuhan) seluruh alam, Ar-Rahmān, Ar-Rahīm, Yang mengendalikan
alam berdasar kehendak-Nya, Maha Bijak, Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, Maha Kuasa, Maha Abadi dan
lain-lainnya. Itulah sebabnya maka ayat tersebut dimulai dengan nama Allah
dan selanjutnya:
اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ
Allah, tiada yang patut disembah
selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. (Al-Baqarah [2]:256).
Allah Swt. Bebas dari Segala Bentuk Persekutuan
Dengan kata lain, Penunjang
dari alam fana (tidak kekal) ini
adalah Wujud Yang secara komprehensif memiliki semua Sifat
yang sempurna. Semua itu merupakan indikasi
bahwa dalam alam yang tertata rapi
ini adalah salah untuk menganggap bahwa suatu benda menjadi kausa
(penyebab) timbulnya benda lain.
Kegiatan seperti itu harus melalui fungsi Sifat
dari Sang Pencipta Yang mengendalikan takdir-Nya, Yang bersifat Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Al-Rahīm (Maha Penyayang), Maha Abadi
dan bersifat komprehensif (lengkap) dalam Sifat-sifat sempurna-Nya. Hanya Allah Swt. Yang memiliki kesempurnaan Wujud.
Setelah membuktikan eksistensi Sang Pencipta
alam maka bagi seorang pencari
kebenaran perlu juga meyakinkan
bahwa Sang Pencipta tersebut bebas dari segala perserikatan (persekutuan) . Hal ini dinyatakan dalam:
قُلۡ
ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Katakan: ‘Dia-lah
Allah Yang Maha Esa, Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak
pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang
pun menyamai Dia’ (Al-Ikhlash: [11]:2-5).
Jika diperhatikan, betapa jelasnya Wujud
Pencipta itu digambarkan
dalam ayat tersebut sebagai bebas
dari segala persekutuan. Yang namanya persekutuan itu ada
empat macam. Bisa merupakan persekutuan dalam jumlah perwujudan, atau jenjang
jabatan, atau pertalian keturunan, atau pun perserikatan
dalam tindakan dan akibat. Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa Allah Swt. bersih dari
segala bentuk persekutuan itu dan dijelaskan bahwa Dia itu Maha
Esa, hanya sendiri atau tunggal dalam Wujud-Nya.
Juga bahwa Dia itu unik dalam
jabatan-Nya
sebagai Yang Maha Dicari dan bahwa
hanya Dia Sendiri Yang Tegak
dengan Dzat-Nya Sendiri,
sedangkan yang lainnya semua bersifat fana (tidak kekal) dan tergantung kepada-Nya sepanjang masa.
Dia tidak memiliki putra yang akan mengaku sebagai sekutu-Nya dan
tidak juga seorang bapak untuk berbagi kekuasaan. Tidak ada seorang pun yang
mampu menyamai hasil karya-Nya dan karena itu tidak ada yang bisa
mengajukan pengakuan bahwa ia menjadi sekutu-Nya.
Kemusyrikan Identik dengan Perpecahan
Dengan demikian jelas bahwa Allah
Yang Maha Kuasa itu terbebas dari adanya persekutuan jenis apa pun dan Dia
adalah Tunggal tanpa serikat. Kitab Suci Al-Quran mengajukan
argumentasi yang menyatakan bahwa Dia
itu Tunggal dengan menyatakan:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
Sekiranya dalam langit
dan bumi keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, pasti binasalah kedua-duanya
(Al-Anbiya [21]:23).
Begitu juga di tempat lain:
مَا اتَّخَذَ اللّٰہُ مِنۡ
وَّلَدٍ وَّ مَا کَانَ مَعَہٗ مِنۡ
اِلٰہٍ اِذًا لَّذَہَبَ
کُلُّ اِلٰہٍۭ بِمَا خَلَقَ وَ لَعَلَا بَعۡضُہُمۡ عَلٰی
بَعۡضٍ
Allah
sekali-kali tidak mengambil bagi-Nya sendiri seorang anak dan tiada tuhan
beserta Dia, sekiranya begitu setiap tuhan akan memisahkan yang telah ia
ciptakan dan sebagian dari tuhan-tuhan
itu akan berusaha menguasai sebagian
yang lain (Al-Mu’minūn [23]:92).
Artinya, jika tuhan itu terdapat lebih dari satu
maka mereka akan saling bertikai, dan
perbedaan di antara mereka akan menghancurkan alam ini. Masing-masing
dari mereka akan bertindak demi kesejahteraan
dan keselesaan (ketentraman) ciptaannya sendiri, sehingga menghalalkan baginya untuk menghancurkan yang lain, dimana semua
hal ini akan menimbulkan kerancuan
luar biasa. Begitu juga dinyatakan:
قُلِ ادۡعُوا الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ
مِّنۡ دُوۡنِہٖ فَلَا
یَمۡلِکُوۡنَ کَشۡفَ الضُّرِّ
عَنۡکُمۡ وَ لَا تَحۡوِیۡلًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Serukanlah kepada mereka yang kamu anggap tuhan-tuhan selain Dia,
lalu akan kamu ketahui bahwa mereka
itu tidak mempunyai kekuasaan melenyapkan dari kamu bencana dan tidak pula mengubah keadaan kamu” (Bani Israil [17]:57).
Ayat ini dimaksudkan bahwa mereka yang
menyangkal eksistensi (keberadaan) Tuhan, karena mereka telah melihat argumentasi yang mendukung keagungan dan kekuatan Islam, maka
mereka dipersilakan minta tolong
kepada sesembahan lain mereka.
Mereka akan menyadari bahwa mereka tidak akan bisa menyingkirkan bencana dari tengah mereka atau pun mampu membawa perubahan positif bagi mereka.
Yang mulia Rasulullah saw.
diarahkan untuk menantang para penyembah berhala agar mereka disilakan
memanggil dewa-dewa untuk membantu mereka melawan Nabi suci Rasulullah saw., agar tidak memberikan jeda (tenggang waktu) kepada mereka dan
agar menyatakan kepada mereka bahwa yang membantu
dan menyokong beliau saw. adalah Allah Swt. Yang telah menurunkan Al-Quran
kepada beliau. Begitu juga agar dinyatakan bahwa Dia-lah Yang memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya
yang benar, sedangkan dewa-dewa yang
mereka pintai tidak akan mampu menolong
mereka atau pun dirinya sendiri.
Segala Suatu Menyanjung Kesucian dan Kekudusan
Allah Swt. dengan Puji-pujian-Nya
Kemudian Al-Quran selanjutnya
melalui hukum alam menyatakan bahwa
Allah Swt. bebas dari segala cacat
dan cela:
تُسَبِّحُ لَہُ
السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ وَ
الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ وَ لٰکِنۡ لَّا تَفۡقَہُوۡنَ تَسۡبِیۡحَہُمۡ
Kepada-Nya bertasbih ketujuh petala langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan tiada suatu benda pun melainkan menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya
akan tetapi kamu tidak memahami tasbih
mereka itu (Bani Israil [17]:45).
Jadi jika kita renungi langit
dan bumi ini akan menjadi jelas
bahwa Allah itu Maha Sempurna, Maha Suci,
tidak mempunyai putra atau sekutu, namun semua ini hanya bisa
disadari oleh mereka yang memiliki pemahaman.
Dinyatakan juga dalam Al-Quran:
قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ
وَلَدًا سُبۡحٰنَہٗ ؕ ہُوَ الۡغَنِیُّ
Mereka
berkata: “Allah mengangkat anak bagi
diri-Nya!” Maha Suci Dia, Dia Maha Kaya’ (Yunus [10]:69).
Ayat ini mengandung arti bahwa
keharusan bergantung kepada seorang anak
merupakan suatu cacat kekurangan
sedangkan Allah itu bebas darinya. Dia itu Maha Kaya dan Berdiri Sendiri serta tidak memerlukan bantuan siapa pun.
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنۡ عِنۡدَکُمۡ مِّنۡ
سُلۡطٰنٍۭ بِہٰذَا ؕ اَتَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Kepunyaan Dia-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi.
Patutkah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Yunus [10]:69).
Mengapa Dia harus dibantu putra? Dia itu Maha Sempurna dan dengan Wujud-Nya
Sendiri sanggup melaksanakan fungsi Ketuhanan
tanpa bantuan sarana apa pun.
Ada juga orang-orang yang mengatakan
bahwa Tuhan memiliki putri
padahal Dia itu bebas dari segala kebutuhan
demikian.
اَلَکُمُ الذَّکَرُ
وَ لَہُ الۡاُنۡثٰی ﴿﴾ تِلۡکَ اِذًا
قِسۡمَۃٌ ضِیۡزٰی ﴿﴾
Apakah
bagi kamu (dialokasikan) yang laki-laki
dan bagi Dia yang perempuan? Yang
demikian itu sungguh pembagian yang
curang (An-Najm [53]:22-23).
Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً ۪
وَّ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ
الثَّمَرٰتِ
رِزۡقًا
لَّکُمۡ ۚ ....... ﴿﴾
Hai manusia,
sembahlah Rabb (Tuhan) kamu Yang telah menjadikan kamu dan juga orang-orang sebelum kamu
supaya kamu terpelihara. Dia-lah Yang menjadikan bumi bagimu sebagai hamparan
dan langit sebagai atap dan menurunkan air dari awan,
maka dengan air itu dikeluarkan-Nya bagimu rezeki
dari jenis buah-buahan’ (Al-Baqarah [2]:22-23).
Allah itu Maha Esa dan tidak
mempunyai sekutu:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ فِی
السَّمَآءِ اِلٰہٌ وَّ فِی الۡاَرۡضِ اِلٰہٌ ؕ وَ ہُوَ الۡحَکِیۡمُ
الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dia itulah Tuhan
di seluruh langit dan Tuhan di bumi, dan Dia Maha Bijasana,
Maha Mengetahui (Az-Zukhruf [43]:85).
ہُوَ الۡاَوَّلُ وَ الۡاٰخِرُ
وَ الظَّاہِرُ وَ الۡبَاطِنُ ۚ وَ
ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dia-lah Yang awal dan
Yang akhir dan Yang Nyata dan Yang Tersembunyi, aan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu
(Al-Hadīd [57]:4).
لَا تُدۡرِکُہُ الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ
ۚ وَ ہُوَ اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ ﴿﴾
‘Penglihatan tidak dapat mencapai-Nya
tetapi Dia mencapai penglihatan, dan
Dia Maha Halus, Maha Waspada’ (Al-An’ām
[6]:104).
Syirik (Kemusyrikan) Merupakan Pengkhianatan
kepada
Allah Swt. -- Rabb
(Pencipta) Seluruh Alam
Dia itulah Pencipta
segalanya dan tidak ada satu pun
yang menyerupai-Nya, dan:
وَ
خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا
Dia
telah menciptakan segala sesuatu,dan telah menetapkan ukurannya yang tepat’ (Al-Furqān [25]:3).
Dan hal ini menjadi bukti eksistensi
dari Wujud Sang Pengukur dan Pembatas.
Hanya Dia-lah yang patut sebagai pujaan dan hanya Dia-lah Yang Maha Penyayang, baik di dunia ini
maupun di akhirat.
Semua kekuasaan adalah milik-Nya dan semuanya akan kembali kepada-Nya:
یَغۡفِرُ
مَا دُوۡنَ ذٰلِکَ لِمَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَقَدِ
افۡتَرٰۤی اِثۡمًا عَظِیۡمًا ﴿﴾
Dia
akan mengampuni dosa siapa yang dikehendaki-Nya, tetapi
barangsiapa yang menyekutukan Allah maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya ia telah berbuat dosa
yang sangat besar (An-Nisā [4]:49).
فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ
عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ
اَحَدًا ﴿﴾٪
Maka
barangsiapa mengharap akan bertemu dengan Rabb-nya (Tuhan-nya), hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan
siapa jua pun dalam beribadah kepada
Rabb-nya (Tuhan-nya)’ (Al-Kahf [18]:111).
لَا
تُشۡرِکۡ بِاللّٰہِ ؕؔ اِنَّ الشِّرۡکَ لَظُلۡمٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Janganlah kamu berbuat syirik terhadap Allah.
Sesungguhnya perbuatan syirik itu benar-benar
suatu keaniayaan besar
(Luqman [31]:14).
وَ لَا تَدۡعُ مَعَ
اللّٰہِ اِلٰـہًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۟ کُلُّ شَیۡءٍ ہَالِکٌ اِلَّا وَجۡہَہٗ ؕ لَہُ الۡحُکۡمُ
وَ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
‘Janganlah engkau menyeru tuhan lain selain Allah.
Tiada tuhan selain Dia. Segala sesuatu akan binasa kecuali Dia. Kepunyaan Dia-lah segala keputusan hukum dan kepada Dia-lah
kamu sekalian akan dikembalikan’ (Al-Qashash [28]:89). (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 1, hlm. 517-521, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 18 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar