Jumat, 18 September 2015

"Tauhid Ilahi" Identik Dengan Kesatuan dan Persatuan, Dibuktikan Dengan Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta & "Kemusyrikan" Identik Dengan "Perpecahan Umat"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 43

    Tauhid Ilahi identik Dengan Kesatuan dan Persatuan,   Dibuktikan  Dengan Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta &   Kemusyrikan Identik Dengan Perpecahan Umat    

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai makna Ayat Kursi yaitu  Sifat Allah Swt. Al-Hayyul- Qayyum:
Dia adalah Wujud Yang menggabung dalam Diri-Nya semua Sifat-sifat yang sempurna, Dia Yang menciptakan alam dengan kebijakan dan ketepatan yang sempurna serta  memilih eksistensi (keberadaan) di atas non-eksistensi (ketiadaan). Hanya Dia Sendiri Yang patut disembah berdasarkan kesempurnaan-Nya, hasil ciptaan-Nya, sifat Rahīmiyat dan Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum). Inilah makna dari ayat:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyerang-Nya dan tidak pula tidur. Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. (Al-Baqarah [2]:256).

Segala Sesuatu di Alam Semesta Milik Allah Swt., Rabb Seluruh Alam

    Betapa indah dan anggunnya Al-Quran mengemukakan pandangan yang mendukung eksistensi (keberadaan) Pencipta alam semesta ini dalam ayat Kursi, dalam pengertian yang mendalam dan pokok pandangan yang bijak. Bagi semua hal yang ada di langit dan di bumi, telah dinyatakan secara lugas adanya eksistensi sosok Pencipta Yang memiliki Sifat-sifat yang sempurna, dalam kata-kata yang kedalaman maknanya dan lingkupannya tidak pernah bisa ditandingi oleh para ahli filosofi.
    Para filosof yang pengetahuannya dangkal, tidak mampu melihat bahwa jasmani dan ruhani ini merupakan hasil ciptaan (makhluk) dan tidak bersifat abadi, tetapi mereka tetap saja tidak menyadari bahwa kehidupan, eksistensi dan pemeliharaan yang sempurna hanya ada pada Allah Swt..
    Pemahaman yang mendalam ini hanya bisa dipelajari dari ayat tersebut dimana diungkapkan bahwa kehidupan yang sempurna dan keabadian eksistensi hanyalah milik Allah  Swt. Yang menggabung dalam Diri-Nya semua Sifat yang sempurna. Selain Dia tidak ada lagi yang memiliki eksistensi dan pemeliharaan yang sempurna. Hal ini menjadi dasar pemikiran harus adanya sosok Pencipta dari alam semesta dan dikatakan selanjutnya:
 لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi (Al-Baqarah [2]:256).
      Dengan kata lain, karena alam tidak memiliki eksistensi atau pemeliharaan yang sempurna dari dirinya sendiri maka alam membutuhkan suatu kausa (penyebab) agar ia bisa hidup dan terpelihara. Kausa tersebut dengan sendirinya harus bersifat komprehensif (lengkap) dengan Sifat-sifat yang sempurna, Yang mengendalikan alam ini menurut kehendak-Nya Yang bersifat Bijak dan Melihat segala hal yang tersembunyi, dan Kausa (penyebab) itu bernama Allah.
    Dalam istilah Kitab Suci Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud Yang bersifat komprehensif (lengkap) dengan segala kesempurnaan. Itulah sebabnya nama Allah selalu dikaitkan dengan segala yang bersifat Maha,  dan di berbagai tempat dinyatakan bahwa Allah Swt. adalah   Rabb (Tuhan) seluruh alam, Ar-Rahmān, Ar-Rahīm, Yang mengendalikan alam berdasar kehendak-Nya, Maha Bijak, Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, Maha Kuasa, Maha Abadi dan lain-lainnya. Itulah sebabnya maka ayat tersebut dimulai dengan nama Allah dan selanjutnya:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ  
 Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu.  (Al-Baqarah [2]:256).

Allah Swt. Bebas dari Segala Bentuk Persekutuan

       Dengan kata lain, Penunjang dari alam fana (tidak kekal) ini adalah Wujud Yang secara komprehensif memiliki semua Sifat yang sempurna. Semua itu merupakan indikasi bahwa dalam alam yang tertata rapi ini adalah salah untuk menganggap bahwa suatu benda menjadi kausa (penyebab) timbulnya benda lain. Kegiatan seperti itu harus melalui fungsi Sifat dari Sang Pencipta Yang mengendalikan takdir-Nya, Yang bersifat Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Al-Rahīm (Maha Penyayang), Maha Abadi dan bersifat komprehensif  (lengkap) dalam Sifat-sifat sempurna-Nya. Hanya Allah  Swt.  Yang memiliki kesempurnaan Wujud.
     Setelah membuktikan eksistensi  Sang Pencipta alam maka bagi seorang pencari kebenaran perlu juga meyakinkan bahwa Sang Pencipta tersebut bebas dari segala perserikatan (persekutuan) . Hal ini dinyatakan dalam:
                                                                                             قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Katakan: ‘Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang pun menyamai Dia’ (Al-Ikhlash: [11]:2-5).
      Jika diperhatikan, betapa jelasnya Wujud Pencipta itu digambarkan dalam ayat tersebut sebagai bebas dari segala persekutuan. Yang namanya persekutuan itu ada empat macam. Bisa merupakan persekutuan dalam jumlah perwujudan, atau jenjang jabatan, atau pertalian keturunan, atau pun perserikatan dalam tindakan dan akibat. Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa Allah Swt.  bersih dari segala bentuk persekutuan itu dan dijelaskan bahwa Dia itu Maha Esa, hanya sendiri atau tunggal dalam Wujud-Nya.
     Juga bahwa Dia itu unik dalam jabatan-Nya sebagai Yang Maha Dicari dan bahwa hanya Dia Sendiri Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri, sedangkan yang lainnya semua bersifat fana (tidak kekal) dan tergantung kepada-Nya sepanjang masa. Dia tidak memiliki putra yang akan mengaku sebagai sekutu-Nya dan tidak juga seorang bapak untuk berbagi kekuasaan. Tidak ada seorang pun yang mampu menyamai hasil karya-Nya dan karena itu tidak ada yang bisa mengajukan pengakuan bahwa ia menjadi sekutu-Nya.

Kemusyrikan Identik dengan Perpecahan

    Dengan demikian jelas bahwa Allah Yang Maha Kuasa itu terbebas dari adanya persekutuan jenis apa pun dan Dia adalah Tunggal tanpa serikat. Kitab Suci Al-Quran mengajukan argumentasi yang menyatakan bahwa Dia itu Tunggal dengan menyatakan:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ
Sekiranya dalam langit dan bumi keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, pasti binasalah kedua-duanya  (Al-Anbiya [21]:23).
 Begitu juga di tempat lain:
مَا اتَّخَذَ اللّٰہُ مِنۡ وَّلَدٍ وَّ مَا کَانَ مَعَہٗ مِنۡ  اِلٰہٍ  اِذًا  لَّذَہَبَ  کُلُّ   اِلٰہٍۭ  بِمَا خَلَقَ وَ لَعَلَا بَعۡضُہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ
 Allah sekali-kali tidak mengambil bagi-Nya sendiri seorang anak dan tiada tuhan beserta Dia, sekiranya begitu setiap tuhan akan memisahkan yang telah ia ciptakan dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan berusaha menguasai sebagian yang lain (Al-Mu’minūn [23]:92).
    Artinya, jika tuhan itu terdapat lebih dari satu maka mereka akan saling bertikai, dan perbedaan di antara mereka akan menghancurkan alam ini. Masing-masing dari mereka akan bertindak demi kesejahteraan dan keselesaan  (ketentraman) ciptaannya sendiri, sehingga menghalalkan baginya untuk menghancurkan yang lain, dimana semua hal ini akan menimbulkan kerancuan luar biasa. Begitu juga dinyatakan:
قُلِ ادۡعُوا الَّذِیۡنَ  زَعَمۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖ فَلَا یَمۡلِکُوۡنَ  کَشۡفَ الضُّرِّ عَنۡکُمۡ   وَ لَا تَحۡوِیۡلًا ﴿﴾
Katakanlah:  “Serukanlah kepada mereka yang kamu anggap tuhan-tuhan selain Dia, lalu akan kamu ketahui bahwa mereka itu tidak mempunyai kekuasaan melenyapkan dari kamu bencana dan tidak pula mengubah keadaan kamu” (Bani Israil [17]:57).
      Ayat ini dimaksudkan bahwa mereka yang menyangkal eksistensi (keberadaan) Tuhan, karena mereka telah melihat argumentasi yang mendukung keagungan dan kekuatan Islam, maka mereka dipersilakan minta tolong kepada sesembahan lain mereka. Mereka akan menyadari bahwa mereka tidak akan bisa menyingkirkan bencana dari tengah mereka atau pun mampu membawa perubahan positif bagi mereka.
      Yang mulia Rasulullah saw. diarahkan untuk menantang para penyembah berhala agar mereka disilakan memanggil dewa-dewa untuk membantu mereka melawan Nabi suci Rasulullah saw., agar tidak memberikan jeda (tenggang waktu) kepada mereka dan agar menyatakan kepada mereka bahwa yang membantu dan menyokong beliau saw. adalah Allah Swt. Yang telah menurunkan Al-Quran kepada beliau. Begitu juga agar dinyatakan bahwa Dia-lah Yang memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya yang benar, sedangkan dewa-dewa yang mereka pintai tidak akan mampu menolong mereka atau pun dirinya sendiri.

Segala Suatu Menyanjung Kesucian dan Kekudusan Allah Swt. dengan Puji-pujian-Nya

     Kemudian Al-Quran selanjutnya melalui hukum alam menyatakan bahwa Allah Swt.  bebas dari segala cacat dan cela:
تُسَبِّحُ  لَہُ  السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ  اِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِہٖ  وَ لٰکِنۡ لَّا تَفۡقَہُوۡنَ تَسۡبِیۡحَہُمۡ
Kepada-Nya bertasbih ketujuh petala langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan tiada suatu benda pun melainkan menyanjung Dia dengan puji-pujian-Nya akan tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka itu  (Bani Israil [17]:45).
      Jadi jika kita renungi langit dan bumi ini akan menjadi jelas bahwa Allah itu Maha Sempurna, Maha Suci, tidak mempunyai putra atau sekutu, namun semua ini hanya bisa disadari oleh mereka yang memiliki pemahaman.
      Dinyatakan juga dalam Al-Quran:
قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا سُبۡحٰنَہٗ ؕ ہُوَ الۡغَنِیُّ
 Mereka berkata: “Allah mengangkat anak bagi diri-Nya!” Maha Suci Dia, Dia Maha Kaya (Yunus [10]:69).
     Ayat ini mengandung arti bahwa keharusan bergantung kepada seorang anak merupakan suatu cacat kekurangan sedangkan Allah itu bebas darinya. Dia itu Maha Kaya dan Berdiri Sendiri serta tidak memerlukan bantuan siapa pun.
لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ  وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنۡ عِنۡدَکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍۭ بِہٰذَا ؕ اَتَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Kepunyaan Dia-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi. Patutkah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?  (Yunus [10]:69).
   Mengapa Dia harus dibantu putra? Dia itu Maha Sempurna dan dengan Wujud-Nya Sendiri sanggup melaksanakan fungsi Ketuhanan tanpa bantuan sarana apa pun.
     Ada juga orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan memiliki putri padahal Dia itu bebas dari segala kebutuhan demikian.
اَلَکُمُ  الذَّکَرُ  وَ لَہُ  الۡاُنۡثٰی  ﴿﴾ تِلۡکَ  اِذًا  قِسۡمَۃٌ  ضِیۡزٰی  ﴿﴾
 Apakah bagi kamu (dialokasikan) yang laki-laki dan bagi Dia yang perempuan? Yang demikian itu sungguh pembagian yang curang  (An-Najm [53]:22-23).
Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً ۪ وَّ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً  فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّکُمۡ ۚ  ....... ﴿﴾
Hai manusia, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu Yang telah menjadikan kamu dan juga orang-orang sebelum kamu supaya kamu terpelihara. Dia-lah Yang menjadikan bumi bagimu sebagai hamparan dan langit sebagai atap dan menurunkan air dari awan, maka dengan air itu dikeluarkan-Nya bagimu rezeki dari jenis buah-buahan’ (Al-Baqarah [2]:22-23).
     Allah itu Maha Esa dan tidak mempunyai sekutu:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ فِی السَّمَآءِ  اِلٰہٌ  وَّ فِی الۡاَرۡضِ  اِلٰہٌ ؕ وَ ہُوَ  الۡحَکِیۡمُ  الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dia itulah Tuhan di seluruh langit dan Tuhan di bumi, dan Dia Maha Bijasana, Maha Mengetahui  (Az-Zukhruf [43]:85).
ہُوَ الۡاَوَّلُ وَ الۡاٰخِرُ وَ الظَّاہِرُ وَ الۡبَاطِنُ ۚ  وَ ہُوَ   بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dia-lah Yang awal dan Yang akhir dan Yang Nyata dan Yang Tersembunyi, aan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu  (Al-Hadīd [57]:4).
لَا تُدۡرِکُہُ  الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ  ہُوَ  اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ ﴿﴾
Penglihatan tidak dapat mencapai-Nya tetapi Dia mencapai penglihatan, dan Dia Maha Halus, Maha Waspada (Al-An’ām [6]:104).

Syirik (Kemusyrikan) Merupakan Pengkhianatan  kepada Allah Swt.  --  Rabb (Pencipta) Seluruh Alam

        Dia itulah Pencipta segalanya dan tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya, dan:
وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا
Dia telah menciptakan segala sesuatu,dan telah menetapkan ukurannya yang tepat’ (Al-Furqān [25]:3).
     Dan hal ini menjadi bukti eksistensi dari Wujud Sang Pengukur dan Pembatas. Hanya Dia-lah yang patut sebagai pujaan dan hanya Dia-lah Yang Maha Penyayang, baik di dunia ini maupun di akhirat.
      Semua kekuasaan adalah milik-Nya dan semuanya akan kembali kepada-Nya:
         یَغۡفِرُ  مَا دُوۡنَ ذٰلِکَ لِمَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَقَدِ افۡتَرٰۤی  اِثۡمًا عَظِیۡمًا ﴿﴾
Dia akan mengampuni dosa   siapa yang dikehendaki-Nya, tetapi barangsiapa yang menyekutukan Allah maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang sangat besar (An-Nisā [4]:49).
فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿﴾٪
Maka barangsiapa mengharap akan bertemu dengan Rabb-nya (Tuhan-nya), hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan siapa jua pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)’ (Al-Kahf [18]:111).
 لَا تُشۡرِکۡ بِاللّٰہِ ؕؔ اِنَّ الشِّرۡکَ لَظُلۡمٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Janganlah kamu berbuat syirik terhadap Allah. Sesungguhnya perbuatan syirik itu benar-benar suatu keaniayaan besar  (Luqman [31]:14).
وَ لَا تَدۡعُ مَعَ اللّٰہِ  اِلٰـہًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ  اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۟ کُلُّ  شَیۡءٍ ہَالِکٌ  اِلَّا وَجۡہَہٗ ؕ لَہُ  الۡحُکۡمُ  وَ  اِلَیۡہِ  تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Janganlah engkau menyeru tuhan lain selain Allah. Tiada tuhan selain Dia. Segala sesuatu akan binasa kecuali Dia. Kepunyaan Dia-lah segala keputusan hukum dan kepada Dia-lah kamu sekalian akan dikembalikan (Al-Qashash [28]:89). (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 517-521, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 18 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar