Kamis, 10 September 2015

Konsep "Tuhan" yang Keliru Dalam Agama-agama Selain Islam & Pentingnya Menerima Kebenaran (Haq) dan Hikmah Walau pun Sangat Pahit


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 35

Konsep “Tuhan” yang Keliru Dalam Agama-agama Selain Islam &  Pentingnya Menerima Kebenaran (Haq) dan Hikmah Walau pun  Sangat Pahit 

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai sabda Masih Mau’ud a.s.:
Segala puji milik Allah. Segala puji milik Tuhan Yang Maha Benar, Yang  merangkum di dalam Wujud-Nya semua Sifat-sifat yang sempurna,  dan Yang  nama-Nya adalah Allah. Dalam istilah Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud Yang sempurna yang patut disembah dan yang merangkum dalam Diri- Nya segala hal yang bersifat sempurna, bebas dari segala cela dan Yang Maha Esa, Yang tidak mempunyai sekutu serta menjadi Sumber mata air dari semua karunia. Dalam Kitab Suci-Nya, Allah Yang Maha Perkasa menguraikan nama-Nya Allah sebagai Yang merangkum dalam Wujud-Nya segala sifat dari nama-nama dan sifat lainnya. Tidak ada nama lain yang memiliki derajat demikian.
        Allah merangkum semua sifat-sifat yang sempurna. Dengan demikian ucapan Alhamdulillah mengandung arti bahwa semua pujian, yang terbuka mau pun yang tersembunyi, berkaitan dengan kesempurnaan wujud atau pun keajaiban alamiah, merupakan karakteristik   Allah dan tidak ada satu pun yang menjadi sekutu bagi-Nya.
     Ucapan tersebut juga berarti bahwa semua pujian tulus dan sifat-sifat sempurna yang bisa terjangkau oleh fikiran seorang bijak, atau pun yang bisa dibayangkan oleh seorang pemikir, telah terangkum di dalam Wujud Allah Swt.. Tidak ada satu pun sifat unggulan yang tidak dimiliki oleh Allah. Tidak ada seorang bijak pun yang bisa mengatakan bahwa ada sifat unggulan yang tidak ada pada Allah Yang Maha Kuasa. Semua unggulan sifat yang mungkin bisa dipahami manusia, sudah ada pada wujud-Nya. Dia itu sempurna dari segala sudut pandang, baik dalam wujud-Nya mau pun dalam sifat-sifat-Nya serta keunggulan-keunggulan lainnya, dan Dia sepenuhnya bebas dari segala kekurangan. Inilah kebenaran yang membedakan agama yang benar dengan agama yang palsu.”

Konsep “Tuhan” yang Salah Dalam Agama Lain & Konsep  “Tuhan” Umat Hindu dan Arya Samaj

       Pendiri Jemaat  Muslim Ahmadiyah – dalam kapasitas sebagai   Sri Krisyna a.s.  yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh umat Hindu  -- selanjutnya bersabda:
      “Telaah dari semua agama mengungkapkan bahwa tidak ada agama lain selain Islam yang mengajarkan bahwa Allah Yang Maha Perkasa itu bebas sama sekali dari segala cacat dan memiliki sepenuhnya semua Sifat-sifat yang baik.
      Umat Hindu umumnya menganggap sembahan mereka sebagai rekan senasib dan sebagai wujud yang berbagi kegiatan dalam tindakan-tindakan ketuhanan. Mereka malah menganggap dewa-dewanya itu sebagai sosok yang mampu mengubah rencana Tuhan dan mengkacaukan takdir-Nya.
       Umat Hindu juga meyakini bahwa Parmeshwar mereka, pada suatu tahapan atau ketika lain, melalui transmigrasin jiwa[1]  (reinkarnasi) telah dilahirkan sebagai manusia atau hewan atau bahkan sebagai mahluk yang kotor seperti babi, dimana ia ikut terlibat dalam segala keburukan dan sifat jahat manusia.
        Dalam kondisi demikian itu, dewa tersebut ikut merasakan lapar dan haus, sakit dan luka, ketakutan dan kesedihan, penyakit dan kematian, keaiban dan kehinaan, serta ketidakberdayaan dan kelemahan. Dengan demikian jelas bahwa keyakinan transmigrasi jiwa (reinkarnasi) seperti   itu telah menisbikan Sifat-sifat luhur Allah Yang Maha Kuasa serta mengurangi Sifat Keagungan dan Keluhuran-Nya yang abadi.
      Saudara mereka, kelompok Arya Samaj, yang menyatakan diri sebagai pengikut taat kitab Veda, mereka pun telah menghilangkan kekuasaan Sifat penciptaan (Al-Khāliq) Tuhan. Mereka menganggap bahwa yang namanya jiwa (ruh) itu tidak diciptakan dan ada dengan sendirinya sebagaimana halnya Tuhan sendiri. Padahal logika sulit menerima adanya Wujud Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang menguasai seluruh alam tetapi bukan merupakan Maha Pencipta, dimana kehidupan dunia tidak perlu bergantung kepada pertolongan-Nya karena sudah ada dengan sendirinya.
        Dari dua pandangan yaitu pertama -- bahwa Dia telah menciptakan seluruh alam ini dari kekuasaan-Nya Sendiri Yang Maha Sempurna dan Dia menjadi Tuhan dan Pencipta dimana seluruh alam ini bergantung kepada pemeliharaan-Nya serta Sifat penciptaan dan kekuasaan merupakan hal yang inheren (melekat) dari Wujud-Nya,  dan Dia tidak lahir, melahirkan atau mati -- dengan pandangan kedua yang menyatakan bahwa seluruh ciptaan ini berada di bawah kendali-Nya tetapi tidak diciptakan oleh dan tidak tergantung eksistensinya (keberadaannya) kepada-Nya, serta Dia itu bukan Pencipta karena tidak memiliki Sifat mencipta dan tidak bebas dari lahir, melahirkan dan kematian;  maka logika pasti memilih pandangan yang pertama.
       Jelas tidak masuk akal bahwa Dia Yang menjadi Tuhan seluruh alam tetapi bukan menjadi Penciptanya, dimana semua sifat-sifat mewujud dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan mereka sehingga Tuhan itu hanya di nama saja.
      Begitu juga sulit diterima akal bahwa Tuhan itu tidak memiliki kekuasaan penciptaan, atau tak berdaya, cacat serta makan dari barang-barang yang tidak suci, atau mengalami penderitaan, kematian, kebodohan, penyakit dan lain-lain. Sebaliknya, logika menuntut bahwa yang namanya Tuhan Yang Maha Kuasa haruslah bersih dari segala sifat-sifat rendah dan cacat serta memiliki sifat kesempurnaan mutlak. Kesempurnaan mutlak mensyaratkan kepemilikan kekuasaan yang mutlak.
      Jika Allah Yang Maha Kuasa tidak memiliki kekuasaan mutlak dan bukan pencipta dari segala sesuatu serta tidak mampu melindungi Wujud-Nya dari cacat dan cela, maka Dia tidak memiliki kesempurnaan mutlak dan karena itu Dia tidak patut memperoleh penyembahan manusia. Begitu itulah masalah yang terdapat di antara umat Hindu dan Arya.

Konsep “Tuhan” yang Lemah Menurut Agama Kristen

       Demikian juga dalam kapasitasnya sebagai Al-Masih Mau’ud a.s.  atau  misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), beliau bersabda mengenai kekeliruan konsep Trinitas  dalam agama Kristen  --  yang bertolak-belakang dengan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  --  firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾     
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya.    Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ --    Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah ke-pada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan  Rabb (Tuhan) kamu.”   Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala cEngkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.    اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  --  Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Māidah [5]:117-119).
   Sehubungan dengan “dialog” antara Allah Swt. dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  yang telah berada di alam akhirat tersebut, Al-Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Apa yang disifatkan oleh umat Kristiani terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa adalah suatu hal yang bisa ditentukan oleh satu pertanyaan saja. Allah Yang Maha Kuasa, Yang bersifat abadi dan sempurna, Yang tegak dengan sendiri-Nya dan tidak bergantung kepada apa pun, telah melakukan semua kegiatan akbar-Nya sepanjang masa keabadian dengan Wujud-Nya Sendiri.
       Dia Sendiri Yang menciptakan alam semesta ini tanpa bantuan bapak atau pun anak. Dia itulah Yang telah mengkaruniakan kekuatan yang mereka butuhkan kepada semua mahluk hidup, dan Dia Sendirilah Yang menjadi Penjaga dan Pendukung serta Pengendali alam ini.  Berkat sifat Rahmāniat-Nya (Maha Pemurah-Nya)   Dia menciptakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua ruh dan jasmani tanpa perlu kegiatan (upaya) apa pun dari pihak mereka.
      Dia menciptakan matahari, rembulan dan bintang-bintang, bumi dengan segala isinya semata-mata  karena rahmat-Nya tanpa bantuan dari seorang putra. Tetapi secara tiba-tiba Tuhan Yang Maha Sempurna ini di kemudian hari dengan menanggalkan segala Sifat Keagungan dan Kekuasaan-Nya, lalu menjadi tergantung kepada seorang putra untuk menyediakan penebusan dan pengampunan bagi umat manusia,  padahal putra itu demikian rendah mutunya sehingga tidak ada mirip-miripnya dengan sang  Bapak. Putra ini tidak ada menciptakan apa pun dari langit dan bumi sebagaimana yang dilakukan Bapaknya untuk memperoleh status ketuhanan.
      Dalam Injil Markus pasal 8 ayat 12 dikemukakan betapa ketidak-berdayaan dirinya sendiri sehingga putra tersebut mengeluh: “Mengapa angkatan (generasi) ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”
       Ketika kemudian umat Yahudi menyalibnya, mereka mengatakan bahwa jika beliau bisa hidup kembali maka baru mereka akan beriman. Namun beliau tidak ada memberikan tanda itu kepada mereka, tidak juga memperlihatkan ketuhanan dirinya atau pun kekuasaan melalui cara apa pun. Adapun mukjizat-mukjizat yang dilakukannya, sudah juga dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu, bahkan air di kolam pun memiliki sifat yang memanifestasikan (menampakkan) mukjizat-mukjizat yang sama (lihat pasal 5 Injil Yohanes)[2].
      Yesus sendiri mengakui bahwa beliau tidak mampu memberikan tanda-tanda yang mendukung sifat ketuhanannya. Karena dilahirkan dari seorang perempuan yang lemah, maka beliau dalam pandangan umat Kristiani, harus mengalami penghinaan, perendahan dan ketidakberdayaan sepanjang hidup beliau sebagaimana layaknya manusia yang tidak beruntung dan papa. Beliau terpenjara sepanjang suatu kurun waktu dalam kegelapan rahim untuk kemudian dilahirkan melalui saluran kandungan ibunya dan menjalani semua hal yang terjadi pada seorang bayi manusia tanpa ada kekecualian apa pun.
    Kemudian beliau mengaku dalam kitabnya sendiri, kebodohan dan ketidaktahuannya serta ketidakberdayaan dan bahwa beliau merasa tidak becus. Hamba yang lemah itu, yang tanpa alasan yang jelas lalu dianggap sebagai anak Tuhan, bahkan masih kalah mutunya dibanding beberapa Nabi-nabi besar lain dalam kemampuan intelektual dan dalam tindakannya.
      Begitu juga ajaran beliau tidak sempurna karena hanya merupakan salah satu cabang dari ajaran Nabi Musa a.s.. Bagaimana mungkin masuk akal mensifatkan segala hal yang menjadi atribut Tuhan Yang Maha Perkasa, Yang Maha Abadi, Wujud Yang sempurna dan tegak dengan sendiri-Nya, dengan fitnah yang menyatakan bahwa pada akhirnya Dia harus bergantung kepada putra yang cacat demikian, sehingga karenanya Dia kehilangan segala keagungan dan keakbaran-Nya?
        Aku tidak yakin bahwa ada manusia bijak yang mengizinkan penghinaan seperti itu dilontarkan kepada Wujud Yang menjadi himpunan dari semua Sifat yang sempurna.”  (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 435-441, London, 1984).

Bagi Para Pecinta Kesesatan Kebenaran itu  Pahit &  Pentingnya Memiliki Hikmah

      Ada peribahasa “al-haqqu murrun” yakni  “kebenaran itu sangat pahit” terutama bagi orang-orang yang tidak menyukai kebenaran, tetapi bagi mereka yang menyukai kebenaran dan  selalu mencari kebenaran, Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda  mengenai hikmah bahwa:
Hikmah atau kebenaran itu milik orang-orang yang beriman, karena itu di mana pun dan dari siapa pun kalian menemukannya maka ambillah karena pada hakikatnya adalah milik kalian.” (H.R.Tirmidzi).
          Berikut adalah copas dari  satu artikel tentang sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut:
         Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi).
       Dalam kosa kata bahasa Indonesia, kata Hikmah mempunyai beberapa arti. Pertama, kebijaksanaan dari Allah. Kedua, sakti atau kesaktian (kekuatan ghaib). Ketiga, arti atau makna yang dalam. Keempat, manfaat.       Sedang menurut kamus bahasa Arab, Al Hikmah mempunyai banyak arti.   Di antaranya, kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan Al Qur’anul karim.
       Al Hikmah juga bermakna kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional). Al Hikmah juga merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.
       Para ulama tafsir mempunyai definisi masing-masing tentang Al Hikmah. Yang mana antar pendapat tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Imam Mujahid mengartikan Al Hikmah, “Benar dalam perkataan dan perbuatan”. Ibnu Zaid memaknai, “Cendekia dalam memahami agama.”    Malik bin Anas mengartikan, “Pengetahuan dan pemahaman yang dalam terhadap agama Allah, lalu mengikuti ajarannya.” Ibnu Qasim mengatakan, “Memahami ajaran agama Allah lalu mengikutinya dan mengamalkannya.” Imam Ibrahim An Nakho’i mengartikan,  “Memahami apa yang dikandung Al Qur’an.”  Imam As Suddiy mengartikan Al Hikmah dengan An Nubuwwah (kenabian). Ar Rabi’ bin Anas berkata, “Rasa takut kepada Allah.” Hasan Al Bashri memaknai, “Sifat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram).”
       Al Hikmah sumbernya dari Al Ahkam, yang artinya mumpuni dalam perkataan dan perbuatan. Al Hukama, yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.. Dalam kitab Al Misbah, menurut Al Biqa’i Hikmah berarti “Mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Ia adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah, artinya ia adalah ilmu yang didukung oleh amal dan amal yang tepat yang didukung oleh ilmu.”
     Seseorang yang ahli dalam melakukan sesuatu dinamai hakim.   Kata hakim sendiri maknanya berkisar pada menghalangi. Seperti hukum yang berfungsi menghalangi terjadinya penganiayaan. Kendali bagi hewan dinamai “hakamah”. Karena ia menghalangi hewan mengarah ke arah yang tidak diinginkan.
        Hikmah adalah sesuatu yang bila digunakan akan menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan dan akan mendatangkan kemaslahatan serta kemudahan. Memilih yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk pun adalah perwujudan dari hikmah pelakunya dinamakan hakim. Siapa yang tepat dalam penilaiannya dan dalam pengaturannya dialah hakim.
        Seorang yang memiliki hikmah harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya, sehingga dia akan tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau kira-kira dan tidak pula melakukan sesuatu dengan coba-coba.
        Imam Al Ghazali memahami kata hikmah dalam arti pengetahuan tentang sesuatu yang paling utama. Dan ilmu yang paling utama serta Wujud yang paling agung  adalah Allah  Swt.. Jika demikian, tulis Al Ghazali, Allah adalah Hakim yang sebenarnya, sebagaimana dinyatakan dalam surah At Tīn: “Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya (QS. At Tīn, 95:8). Al Qur’an bersifat hakim, karena seluruh kandungannya merupakan petunjuk yang terbaik, guna mendatangkan kemaslahatan dan menghindarkan keburukan.

Sifat-sifat Sempurna Tuhan Yang Hakiki, yakni Allah Swt.

        Selanjutnya Al-Masih Mau’ud a.s. memaparkan kesempurnaan Sifat-sifat Allah  Swt. berdasarkan makrifat Ilahi yang dianugerahkan Allah Swt. kepada beliau a.s. (QS.3:180; QS.72:27-29) di Akhir  Zaman ini:
     Tuhan Yang Maha Benar dan Maha Sempurna, Yang tidak memerlukan argumentasi untuk beriman kepada-Nya, Yang adalah menjadi kewajiban bagi semua makhluk, adalah Rabb (Tuhan) seluruh alam. Sifat Rahmāniyat-Nya (Maha Pemurah-Nya) tidak terbatas kepada suatu kelompok manusia tertentu, atau masa tertentu atau pun suatu negeri khusus. Dia adalah Rabb (Tuhan) dari semua bangsa, semua masa, semua tempat dan semua negeri. Dia adalah Sumber mata air   segala rahmat. Semua kekuatan jasmani dan ruhani adalah karunia-Nya dan seluruh alam ini dipelihara oleh-Nya.
      Rahmat Allah  Swt.  mencakup semua bangsa, semua negeri dan semua masa, sehingga tidak akan ada orang yang akan mengatakan bahwa Tuhan hanya membatasi rahmat-Nya hanya kepada bangsa lain saja dan tidak kepada bangsanya sendiri. Atau mengatakan bahwa bangsa lain memperoleh Kitab dari-Nya sebagai petunjuk sedangkan mereka tidak. Atau menyatakan bahwa Dia memanifestasikan Wujud-Nya melalui wahyu, ilham dan mukjizat-mukjizat-Nya di masa lalu, sedangkan di masa mereka sendiri  Dia itu bersembunyi.
       Melalui rahmat yang diberikan-Nya kepada semua itu Dia meniadakan semua sangkalan, karena dengan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Akbar, Dia tidak menahan rahmat karunia jasmani dan ruhani kepada bangsa mana pun.”  (Paigham Sulh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm. 442, London, 1984).

Qasidah Kecintaan Masih Mau’ud a.s. Kepada Allah Swt.

Ya Allah, Maha Pencipta, Yang Menyembunyikan segala kelemahan,
Yang Maha Kuasa;
Wahai Kekasih-ku, Maha Pelindung, Maha Pemelihara!
Bagaimana caraku bersyukur kepada Engkau?

Wahai Pengarunia segala berkat yang akbar.
Dimana ‘kan kuperoleh bahasa guna menyatakan syukurku?
Semata berkat dan karunia Engkau maka Engkau memilih aku,
Karena tak berkekurangan hamba-hamba yang ikhlas di hadirat Engkau.

Mereka yang berjanji menjadi sahabat, kini menjadi musuh,
Namun Engkau tidak meninggalkan diriku,
Wahai Sang Pemenuh segala hajatku.

Wahai Sahabat Yang Maha Esa, wahai Pelindung diriku;
Engkau semata cukup bagiku, aku tak berdaya tanpa Diri Engkau;
Jika bukan karena Berkat Engkau, maka lama sudah aku jadi debu,
Hanya Allah yang tahu kemana ditebarkan ini debu.

Semoga hati, jiwa dan wujudku dikurbankan di Jalan Engkau;
Tak ada lagi wujud yang mencintai laiknya Engkau.
Sejak awal aku tumbuh dalam naungan perlindungan Engkau yang berberkat
Laiknya bayi menyusu, aku telah Engkau pelihara.

Tidak ada anak manusia memiliki kesetiaan seperti Engkau;
Selain Engkau, tak ada aku berjumpa sahabat yang mengasihi.
Orang bilang bahwa ia yang tidak berarti tidak akan diridhai;
Namun meski tak berarti, aku telah Engkau terima di hadirat Engkau;

Demikian banyak berkat dan karunia Engkau atas diriku;
Akan tetap tidak terbilang sampai Hari Kiamat nanti.

(Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, Jld. 21, hlm. 127, London, 1984).

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 11 September 2015






[1] Transmigration atau metempsychosis, merupakan kepercayaan dalam agama-agama yang kebanyakan berasal dari Asia, yang menyatakan bahwa jiwa akan mengalami kelahiran kembali beberapa kali, baik dalam bentuk manusia, hewan atau pun tumbuhan. Nama lain yang biasa digunakan adalah reinkarnasi dimana jiwa akan berputar terus dilahirkan kembali sampai yang bersangkutan berhasil mencapai tahapan moksha. (Penterjemah)


[2] Yang dimaksud adalah kisah penyembuhan di kolam Bethesda dimana berbaring orang-orang sakit, buta, timpang dan lumpuh yang menunggu goncangan air kolam. Jika a irnya goncang berarti ada malaikat turun dan siapa yang masuk kolam pada saat itu akan sembuh . (Penterjemah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar