بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 35
Konsep “Tuhan”
yang Keliru Dalam Agama-agama Selain Islam & Pentingnya Menerima Kebenaran (Haq) dan Hikmah
Walau pun Sangat Pahit
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai sabda Masih Mau’ud a.s.:
“Segala puji milik Allah. Segala puji milik Tuhan Yang Maha Benar,
Yang merangkum di dalam Wujud-Nya semua
Sifat-sifat yang sempurna, dan Yang nama-Nya adalah Allah. Dalam istilah Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud Yang sempurna yang patut disembah dan
yang merangkum dalam Diri- Nya segala hal yang bersifat sempurna, bebas dari
segala cela dan Yang Maha Esa, Yang tidak mempunyai sekutu serta menjadi Sumber
mata air dari semua karunia. Dalam Kitab Suci-Nya, Allah Yang Maha Perkasa
menguraikan nama-Nya Allah
sebagai Yang merangkum dalam Wujud-Nya segala sifat dari nama-nama dan sifat
lainnya. Tidak ada nama lain yang memiliki derajat demikian.
Allah
merangkum semua sifat-sifat yang sempurna. Dengan demikian ucapan Alhamdulillah mengandung arti bahwa semua pujian, yang terbuka mau pun yang tersembunyi, berkaitan dengan
kesempurnaan wujud atau pun keajaiban alamiah, merupakan karakteristik Allah dan tidak ada satu pun yang menjadi
sekutu bagi-Nya.
Ucapan tersebut juga berarti bahwa semua pujian tulus dan sifat-sifat sempurna yang bisa terjangkau oleh
fikiran seorang bijak, atau pun yang bisa dibayangkan oleh seorang pemikir,
telah terangkum di dalam Wujud
Allah Swt.. Tidak ada satu pun sifat unggulan yang tidak dimiliki oleh Allah.
Tidak ada seorang bijak pun yang bisa mengatakan bahwa ada sifat unggulan yang
tidak ada pada Allah Yang Maha Kuasa. Semua unggulan sifat yang mungkin bisa
dipahami manusia, sudah ada pada wujud-Nya. Dia itu sempurna dari segala sudut
pandang, baik dalam wujud-Nya mau pun dalam sifat-sifat-Nya serta
keunggulan-keunggulan lainnya, dan Dia sepenuhnya bebas dari segala kekurangan.
Inilah kebenaran yang membedakan agama
yang benar dengan agama yang
palsu.”
Konsep “Tuhan”
yang Salah Dalam Agama Lain & Konsep “Tuhan” Umat Hindu dan Arya Samaj
Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah – dalam kapasitas sebagai Sri Krisyna a.s. yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh umat Hindu -- selanjutnya bersabda:
“Telaah dari semua agama
mengungkapkan bahwa tidak ada agama
lain selain Islam yang mengajarkan
bahwa Allah Yang Maha Perkasa itu
bebas sama sekali dari segala cacat
dan memiliki sepenuhnya semua Sifat-sifat
yang baik.
Umat Hindu umumnya menganggap sembahan
mereka sebagai rekan senasib dan
sebagai wujud yang berbagi kegiatan
dalam tindakan-tindakan ketuhanan.
Mereka malah menganggap dewa-dewanya
itu sebagai sosok yang mampu mengubah rencana Tuhan dan mengkacaukan takdir-Nya.
Umat Hindu juga meyakini
bahwa Parmeshwar mereka, pada suatu
tahapan atau ketika lain, melalui transmigrasin
jiwa[1] (reinkarnasi) telah dilahirkan sebagai manusia
atau hewan atau bahkan sebagai mahluk yang kotor seperti babi, dimana ia ikut terlibat dalam segala keburukan dan sifat jahat manusia.
Dalam kondisi demikian itu, dewa
tersebut ikut merasakan lapar dan haus, sakit dan luka, ketakutan dan kesedihan, penyakit dan kematian, keaiban dan kehinaan,
serta ketidakberdayaan dan kelemahan. Dengan demikian jelas bahwa
keyakinan transmigrasi jiwa
(reinkarnasi) seperti itu telah
menisbikan Sifat-sifat luhur Allah
Yang Maha Kuasa serta mengurangi Sifat Keagungan dan Keluhuran-Nya yang abadi.
Saudara mereka, kelompok Arya
Samaj, yang menyatakan diri sebagai pengikut taat kitab Veda, mereka pun telah menghilangkan
kekuasaan Sifat penciptaan (Al-Khāliq) Tuhan.
Mereka menganggap bahwa yang namanya jiwa (ruh) itu tidak
diciptakan dan ada dengan
sendirinya sebagaimana halnya Tuhan
sendiri. Padahal logika sulit
menerima adanya Wujud Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang menguasai seluruh alam tetapi bukan merupakan Maha Pencipta, dimana kehidupan dunia tidak perlu bergantung kepada pertolongan-Nya karena sudah ada
dengan sendirinya.
Dari dua
pandangan yaitu pertama -- bahwa
Dia telah menciptakan seluruh alam ini dari kekuasaan-Nya Sendiri Yang Maha Sempurna dan Dia menjadi Tuhan
dan Pencipta dimana seluruh
alam ini bergantung kepada pemeliharaan-Nya
serta Sifat penciptaan dan kekuasaan merupakan hal yang inheren (melekat) dari Wujud-Nya, dan Dia tidak lahir, melahirkan atau mati -- dengan pandangan kedua yang menyatakan bahwa seluruh ciptaan ini berada di
bawah kendali-Nya tetapi tidak
diciptakan oleh dan tidak tergantung
eksistensinya (keberadaannya) kepada-Nya,
serta Dia itu bukan Pencipta karena tidak memiliki Sifat
mencipta dan tidak bebas
dari lahir, melahirkan dan kematian;
maka logika pasti memilih pandangan
yang pertama.
Jelas tidak masuk akal bahwa Dia
Yang menjadi Tuhan seluruh alam
tetapi bukan menjadi Penciptanya, dimana semua sifat-sifat mewujud dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan mereka sehingga Tuhan itu hanya di nama
saja.
Begitu juga sulit diterima akal
bahwa Tuhan itu tidak memiliki kekuasaan penciptaan, atau tak berdaya,
cacat serta makan dari barang-barang
yang tidak suci, atau mengalami penderitaan,
kematian, kebodohan, penyakit dan
lain-lain. Sebaliknya, logika
menuntut bahwa yang namanya Tuhan Yang Maha Kuasa haruslah
bersih dari segala sifat-sifat rendah dan cacat serta memiliki sifat kesempurnaan mutlak. Kesempurnaan mutlak mensyaratkan kepemilikan kekuasaan yang mutlak.
Jika Allah Yang Maha Kuasa
tidak memiliki kekuasaan mutlak dan bukan pencipta dari segala
sesuatu serta tidak mampu melindungi
Wujud-Nya dari cacat dan cela, maka Dia tidak memiliki kesempurnaan
mutlak dan karena itu Dia tidak
patut memperoleh penyembahan manusia. Begitu itulah masalah yang terdapat di antara umat Hindu dan Arya.
Konsep “Tuhan” yang Lemah Menurut Agama Kristen
Demikian juga dalam kapasitasnya
sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. atau
misal Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. (QS.43:58), beliau bersabda mengenai kekeliruan konsep Trinitas dalam agama Kristen -- yang bertolak-belakang dengan ajaran
asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
-- firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ
تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada
manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang
sekali-kali bukan hakku.
Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau
mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. مَا قُلۡتُ لَہُمۡ
اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ -- Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang telah
Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah ke-pada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala cEngkau telah mewafatkanku
maka Engkau-lah Yang benar-benar
menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ
فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Kalau
Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:117-119).
Sehubungan dengan “dialog” antara Allah Swt.
dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang telah berada di alam akhirat tersebut,
Al-Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Apa yang disifatkan oleh umat Kristiani terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa adalah suatu hal
yang bisa ditentukan oleh satu pertanyaan saja. Allah Yang Maha Kuasa, Yang bersifat
abadi dan sempurna, Yang tegak dengan sendiri-Nya dan tidak bergantung kepada apa pun, telah
melakukan semua kegiatan akbar-Nya sepanjang
masa keabadian dengan Wujud-Nya Sendiri.
Dia
Sendiri Yang menciptakan alam semesta
ini tanpa bantuan bapak atau pun anak. Dia itulah Yang telah mengkaruniakan kekuatan yang mereka butuhkan kepada
semua mahluk hidup, dan Dia Sendirilah Yang menjadi Penjaga dan Pendukung
serta Pengendali alam ini. Berkat sifat Rahmāniat-Nya (Maha Pemurah-Nya) Dia menciptakan
segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
semua ruh dan jasmani tanpa perlu kegiatan (upaya) apa pun dari pihak
mereka.
Dia
menciptakan matahari, rembulan dan bintang-bintang, bumi dengan segala isinya
semata-mata karena rahmat-Nya tanpa
bantuan dari seorang putra. Tetapi secara
tiba-tiba Tuhan Yang Maha Sempurna
ini di kemudian hari dengan menanggalkan
segala Sifat Keagungan dan Kekuasaan-Nya, lalu menjadi tergantung kepada seorang putra
untuk menyediakan penebusan dan pengampunan
bagi umat manusia, padahal putra itu demikian rendah mutunya sehingga tidak ada mirip-miripnya dengan sang Bapak. Putra ini tidak ada
menciptakan apa pun dari langit
dan bumi sebagaimana yang dilakukan Bapaknya
untuk memperoleh status ketuhanan.
Dalam Injil Markus pasal 8
ayat 12 dikemukakan betapa ketidak-berdayaan
dirinya sendiri sehingga putra
tersebut mengeluh: “Mengapa angkatan (generasi) ini meminta tanda?
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”
Ketika kemudian umat Yahudi
menyalibnya, mereka mengatakan bahwa jika beliau bisa hidup kembali maka baru mereka akan beriman. Namun beliau tidak
ada memberikan tanda itu kepada mereka, tidak juga memperlihatkan ketuhanan dirinya atau pun kekuasaan melalui cara apa
pun. Adapun mukjizat-mukjizat yang
dilakukannya, sudah juga dilakukan oleh nabi-nabi
terdahulu, bahkan air di kolam pun memiliki sifat yang memanifestasikan (menampakkan) mukjizat-mukjizat yang sama (lihat pasal 5 Injil Yohanes)[2].
Yesus
sendiri mengakui bahwa beliau tidak mampu memberikan tanda-tanda yang mendukung sifat ketuhanannya. Karena dilahirkan
dari seorang perempuan yang lemah,
maka beliau dalam pandangan umat
Kristiani, harus mengalami penghinaan,
perendahan dan ketidakberdayaan sepanjang hidup beliau sebagaimana layaknya manusia yang tidak beruntung
dan papa. Beliau terpenjara sepanjang suatu kurun waktu
dalam kegelapan rahim untuk kemudian
dilahirkan melalui saluran kandungan ibunya dan menjalani semua hal yang terjadi pada seorang bayi manusia tanpa ada kekecualian apa pun.
Kemudian beliau mengaku dalam kitabnya
sendiri, kebodohan dan ketidaktahuannya serta ketidakberdayaan dan bahwa beliau
merasa tidak becus. Hamba yang lemah itu, yang tanpa alasan yang jelas lalu dianggap
sebagai anak Tuhan, bahkan masih kalah mutunya dibanding beberapa Nabi-nabi besar lain dalam kemampuan
intelektual dan dalam tindakannya.
Begitu juga ajaran beliau tidak sempurna karena hanya merupakan salah satu cabang dari ajaran Nabi Musa a.s.. Bagaimana
mungkin masuk akal mensifatkan
segala hal yang menjadi atribut Tuhan
Yang Maha Perkasa, Yang Maha Abadi,
Wujud Yang sempurna dan tegak dengan sendiri-Nya, dengan fitnah yang menyatakan bahwa pada
akhirnya Dia harus bergantung kepada
putra
yang cacat demikian, sehingga karenanya Dia kehilangan segala keagungan dan keakbaran-Nya?
Aku tidak
yakin bahwa ada manusia bijak yang mengizinkan penghinaan
seperti itu dilontarkan kepada Wujud Yang menjadi himpunan dari semua Sifat yang sempurna.” (Brahin-i-Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 435-441, London, 1984).
Bagi Para Pecinta Kesesatan Kebenaran itu Pahit &
Pentingnya Memiliki Hikmah
Ada peribahasa “al-haqqu murrun” yakni “kebenaran
itu sangat pahit” terutama bagi orang-orang yang tidak menyukai kebenaran, tetapi bagi mereka yang menyukai kebenaran dan selalu mencari kebenaran, Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda mengenai hikmah
bahwa:
”Hikmah atau kebenaran itu milik orang-orang
yang beriman, karena itu di mana pun dan dari siapa pun kalian menemukannya
maka ambillah karena pada hakikatnya adalah milik kalian.” (H.R.Tirmidzi).
Berikut
adalah copas dari satu artikel tentang sabda Nabi Besar
Muhammad saw. tersebut:
Rasulullah
SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang
yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka
ambillah.” (HR. Tirmidzi).
Dalam kosa kata bahasa Indonesia, kata Hikmah mempunyai beberapa arti. Pertama, kebijaksanaan dari Allah. Kedua, sakti atau kesaktian (kekuatan
ghaib). Ketiga, arti atau makna yang
dalam. Keempat, manfaat. Sedang menurut kamus bahasa Arab, Al Hikmah mempunyai banyak arti. Di antaranya, kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat,
kenabian, keadilan, peribahasa
(kata-kata bijak), dan Al Qur’anul
karim.
Al
Hikmah juga bermakna kumpulan keutamaan
dan kemuliaan yang mampu membuat
pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional). Al Hikmah juga merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.
Para ulama tafsir mempunyai definisi masing-masing tentang Al Hikmah. Yang mana antar pendapat
tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Imam Mujahid
mengartikan Al Hikmah, “Benar dalam
perkataan dan perbuatan”. Ibnu Zaid memaknai, “Cendekia dalam memahami
agama.” Malik bin Anas mengartikan,
“Pengetahuan dan pemahaman yang dalam terhadap agama Allah, lalu mengikuti
ajarannya.” Ibnu Qasim mengatakan, “Memahami ajaran agama Allah lalu
mengikutinya dan mengamalkannya.” Imam Ibrahim An Nakho’i mengartikan, “Memahami apa yang dikandung Al Qur’an.” Imam As Suddiy mengartikan Al Hikmah dengan An Nubuwwah (kenabian). Ar Rabi’ bin Anas berkata, “Rasa takut
kepada Allah.” Hasan Al Bashri memaknai, “Sifat wara’ (hati-hati dalam masalah
halal dan haram).”
Al Hikmah sumbernya dari Al Ahkam, yang artinya mumpuni dalam perkataan dan perbuatan. Al Hukama, yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya sesuai dengan sunnah
Rasulullah saw.. Dalam kitab Al Misbah,
menurut Al Biqa’i Hikmah berarti “Mengetahui yang paling utama dari segala
sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Ia adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah,
artinya ia adalah ilmu yang didukung oleh amal dan amal yang tepat yang
didukung oleh ilmu.”
Seseorang yang ahli dalam melakukan sesuatu dinamai hakim. Kata hakim sendiri maknanya berkisar pada menghalangi. Seperti hukum yang berfungsi menghalangi terjadinya penganiayaan. Kendali bagi hewan dinamai
“hakamah”. Karena ia menghalangi hewan mengarah ke arah yang
tidak diinginkan.
Hikmah
adalah sesuatu yang bila digunakan akan menghalangi
terjadinya mudharat atau kesulitan dan akan mendatangkan kemaslahatan serta kemudahan. Memilih yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk pun
adalah perwujudan dari hikmah
pelakunya dinamakan hakim. Siapa yang
tepat dalam penilaiannya dan dalam pengaturannya dialah hakim.
Seorang
yang memiliki hikmah harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya, sehingga dia akan tampil dengan penuh
percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau kira-kira dan tidak pula
melakukan sesuatu dengan coba-coba.
Imam
Al Ghazali memahami kata hikmah dalam
arti pengetahuan tentang sesuatu yang
paling utama. Dan ilmu yang paling utama serta Wujud yang paling agung adalah Allah
Swt.. Jika demikian, tulis Al
Ghazali, Allah adalah Hakim yang sebenarnya, sebagaimana dinyatakan dalam surah At Tīn: “Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya
(QS. At Tīn, 95:8). Al Qur’an
bersifat hakim, karena seluruh kandungannya merupakan petunjuk yang terbaik, guna mendatangkan kemaslahatan
dan menghindarkan keburukan.
Sifat-sifat Sempurna Tuhan Yang Hakiki, yakni Allah Swt.
Selanjutnya
Al-Masih Mau’ud a.s. memaparkan
kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. berdasarkan makrifat Ilahi yang dianugerahkan
Allah Swt. kepada beliau a.s. (QS.3:180; QS.72:27-29) di Akhir Zaman ini:
“Tuhan Yang Maha Benar dan Maha Sempurna, Yang tidak memerlukan argumentasi
untuk beriman kepada-Nya, Yang
adalah menjadi kewajiban bagi semua makhluk, adalah Rabb (Tuhan) seluruh alam. Sifat Rahmāniyat-Nya (Maha Pemurah-Nya) tidak terbatas kepada suatu kelompok manusia tertentu, atau masa tertentu atau pun suatu negeri khusus. Dia adalah Rabb (Tuhan) dari semua bangsa, semua masa, semua tempat dan
semua negeri. Dia adalah Sumber mata air
segala rahmat.
Semua kekuatan jasmani dan ruhani adalah karunia-Nya dan seluruh alam
ini dipelihara oleh-Nya.
Rahmat Allah
Swt. mencakup semua bangsa,
semua negeri dan semua masa, sehingga tidak akan ada orang yang akan mengatakan
bahwa Tuhan hanya membatasi rahmat-Nya hanya kepada bangsa
lain saja dan tidak kepada bangsanya
sendiri. Atau mengatakan bahwa bangsa lain memperoleh Kitab dari-Nya sebagai petunjuk sedangkan mereka tidak. Atau
menyatakan bahwa Dia memanifestasikan Wujud-Nya melalui wahyu, ilham dan mukjizat-mukjizat-Nya
di masa lalu, sedangkan di masa mereka sendiri Dia
itu bersembunyi.
Melalui rahmat yang
diberikan-Nya kepada semua itu Dia meniadakan semua sangkalan, karena
dengan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Akbar, Dia tidak menahan rahmat karunia jasmani dan ruhani
kepada bangsa mana pun.” (Paigham Sulh, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 23, hlm. 442, London, 1984).
Qasidah Kecintaan Masih
Mau’ud a.s. Kepada Allah Swt.
Ya Allah, Maha Pencipta, Yang Menyembunyikan segala kelemahan,
Yang Maha Kuasa;
Wahai Kekasih-ku, Maha Pelindung, Maha Pemelihara!
Bagaimana caraku bersyukur kepada Engkau?
Wahai Pengarunia
segala berkat yang akbar.
Dimana ‘kan kuperoleh bahasa guna menyatakan syukurku?
Semata berkat dan karunia Engkau maka Engkau memilih aku,
Karena tak berkekurangan hamba-hamba yang ikhlas di
hadirat Engkau.
Mereka yang berjanji menjadi sahabat, kini menjadi musuh,
Namun Engkau tidak meninggalkan diriku,
Wahai Sang Pemenuh segala hajatku.
Wahai Sahabat Yang Maha Esa, wahai Pelindung diriku;
Engkau semata cukup bagiku, aku tak berdaya tanpa Diri
Engkau;
Jika bukan karena Berkat Engkau, maka lama sudah aku jadi
debu,
Hanya Allah yang tahu kemana ditebarkan ini debu.
Semoga hati, jiwa dan wujudku dikurbankan di Jalan Engkau;
Tak ada lagi wujud yang mencintai laiknya Engkau.
Sejak awal aku tumbuh dalam naungan perlindungan Engkau yang berberkat
Laiknya bayi menyusu, aku telah Engkau pelihara.
Tidak ada anak manusia memiliki kesetiaan seperti Engkau;
Selain Engkau, tak ada aku berjumpa sahabat yang mengasihi.
Orang bilang bahwa ia yang tidak berarti tidak akan
diridhai;
Namun meski tak berarti, aku telah Engkau terima di
hadirat Engkau;
Demikian banyak berkat dan karunia Engkau atas diriku;
Akan tetap tidak terbilang sampai Hari Kiamat nanti.
(Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, Jld. 21, hlm. 127, London, 1984).
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 11 September 2015
[1]
Transmigration atau metempsychosis, merupakan kepercayaan
dalam agama-agama yang kebanyakan berasal dari Asia, yang menyatakan bahwa jiwa
akan mengalami kelahiran kembali beberapa kali, baik dalam bentuk manusia, hewan
atau pun tumbuhan. Nama lain yang biasa digunakan adalah reinkarnasi dimana
jiwa akan berputar terus dilahirkan kembali sampai yang bersangkutan berhasil
mencapai tahapan moksha. (Penterjemah)
[2]
Yang dimaksud adalah kisah penyembuhan di kolam Bethesda
dimana berbaring orang-orang sakit, buta, timpang dan lumpuh yang menunggu
goncangan air kolam. Jika a irnya goncang berarti ada malaikat turun dan siapa
yang masuk kolam pada saat itu akan sembuh . (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar