بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 32
Kesimbungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Malaikat
dan Manusia & Cara Da’wah “Sindiran” Nabi Ibrahim a.s. Mengenai Kemusyrikan
Kaumnya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai sabda Masih Mau’ud a.s. Sifat Tanzihiyyah
Allah Swt., yang merupakan
“kriteria” Tuhan yang hakiki:
“…Dalam Al-Quran, Allah
Swt. menguraikan sifat-sifat-Nya
sebagai:
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Allah
Yang Maha Esa, Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan
segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang pun menyamai Dia” (Al-Ikhlash [112]:2-5).
Berarti bahwa Tuhan kita adalah Maha Esa dalam Wujud-Nya
dan dalam Sifat-sifat-Nya. Tidak ada wujud lainnya yang bersifat abadi dan tegak dengan sendirinya seperti Wujud-Nya. Begitu juga tidak ada sifat-sifat dari wujud lain yang
menyamai Sifat-sifat-Nya.
Pengetahuan seseorang membutuhkan
seorang guru dan itu pun tetap terbatas.
Pengetahuan Tuhan tidak memerlukan guru dan tanpa batas. Kemampuan pendengaran
seseorang tergantung kepada udara dan bersifat terbatas, tetapi Sifat mendengar Allah Swt. bersifat inheren (melekat)
dan tanpa batas. Kemampuan penglihatan
manusia tergantung kepada adanya sinar matahari atau sumber sinar lainnya serta bersifat terbatas, sedangkan penglihatan
Tuhan adalah berasal dari Nur yang inheren dalam Wujud-Nya dan tanpa batasan apa pun.
Kemampuan manusia untuk mencipta
tergantung pada sarana dan waktu serta bersifat terbatas.
Kemampuan Allah mencipta tidak
bergantung pada apa pun, tidak juga pada waktu
dan bersifat tanpa batas. Semua Sifat-sifat-Nya tanpa banding dan tidak ada apa pun yang sepadan dengan Wujud-Nya atau pun Sifat-sifat-Nya.
Jika ada Sifat-Nya yang dianggap cacat maka keseluruhan Sifat-Nya juga pasti akan cacat
dan karena itu ke-Esa-an-Nya tidak bisa ditegakkan
sepanjang belum menyadari bahwa
Dia itu tidak ada yang menyamai
dalam Wujud-Nya. Dia bukan putra siapa pun dan tidak ada siapa pun
yang menjadi putra-Nya.
Dia
itu tegak dengan sendiri-Nya dan
tidak membutuhkan ayah atau pun anak. Inilah Ketauhidan yang
diajarkan Al-Quran dan menjadi dasar dari agama kita.”
(Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 155, London, 1984).
Ketidak-berdayaan
“Berhala-berhala” Sembahan Selain Allah Swt.
Jadi, siapa pun dan apa pun yang dianggap
sebagai “tuhan sembahan” yang tidak
memenuhi “kriteria Tuhan” dalam Surah Al-Ikhlas
tersebut pasti bukan Tuhan Al-Khāliq (Tuhan
Maha Pencipta) melainkan makhluq
(suatu yang diciptakan), yang tidak pantas dipertuhankan,
sebab pada hakikatnya merupakan “benda
mati” belaka, sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ
مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا وَّ مِنَ
النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah
dikemukakan maka dengarlah tamsil
itu. اِنَّ
الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ
اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ
یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk itu.
Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka,
mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sangat lemah yang
meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ -- Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Al-Hājj [22]:74-76).
Ayat 74 menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai
kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya
mereka untuk menyembah tuhan-tuhan yang tidak
berdaya seperti itu. Berbagai bentuk sesajen
(sesajian) serta persembahan-persembahan
lainnya yang disajikan di hadapannya jika disambar dan makan lalat atau binatang lainnya – bahkan diambil manusia -- tetap tak bergeming di tempatnya.
Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat
mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat
dari kayu dan batu atau logam —
menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan
yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Allah Swt. -- Tuhan
Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung
-- terutama Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Malikiyat
yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah.
Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan
musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan itu terbatas
dan mempunyai kekurangan seperti
halnya manusia, itulah makna ayat: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- ”Mereka sekali-kali
tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.”
(Al-Hājj
[22]:75).
Kesinambungan Pengutusan Rasul
Allah dari Kalangan Malaikat dan Manusia
Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. menjelaskan Sunnah-Nya guna memberi petunjuk kepada umat manusia yang telah terjerumus ke dalam kemusyrikan berkenaan “Tuhan
Sembahan” yang hakiki, yaitu melalui orang-orang
yang telah dipilih oleh-Nya untuk “bertemu” dan “berwawancakap” dengan-Nya,
yaitu para Rasul Allah dari
kalangan manusia, sebagaimana firman-Nya:
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ -- Allah senantiasa memilih rasul-rasul dari
antara malaikat-malaikat dan dari antara
manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Al-Hājj [22]:76).
Kalimat یَصۡطَفِیۡ adalah bentuk fi’il
mudhari, yang artinya “senantiasa” -- yakni telah, sedang dan akan -- karena
itu kalimat اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ
مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا وَّ مِنَ
النَّاسِ
-- artinya “Allah senantiasa memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”, selaras dengan firman-Nya
dalam QS.7:35-36 bahwa Allah Swt. akan senantiasa
mengutus Rasul-Nya dari kalangan “Bani Adam” yakni umat manusia. Dan
pengutusan rasul Allah dari kalangan manusia pasti akan disertai dengan
pengutusan rasul-Nya dari kalangan malaikat (QS.42:52-54; QS.72:27-29).
Kenyataan yang dikemukakan oleh ketiga
ayat tersebut sesuai dengan firman Allah
Swt. yang dikemukakan dalam ayat sebelumnya:
وَ یَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَمۡ یُنَزِّلۡ بِہٖ سُلۡطٰنًا وَّ مَا لَیۡسَ
لَہُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ وَ مَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ نَّصِیۡرٍ ﴿﴾
Dan mereka menyembah selain Allah, yang untuk itu Dia tidak menurunkan dalil, dan
sekali-kali mereka tidak memiliki
pengetahuan mengenai itu.
Dan bagi orang-orang zalim sekali-kali
tidak ada seorang penolong (Al-Hajj [22]:72).
Dalam ayat tersebut Allah Swt. mengemukakan tiga dalil yang membantah kemusyrikan:
(a) Tidak ada satu pun dalil terdapat dalam Kitab-kitab yang diwahyukan membenarkan penyembahan
berhala;
(b) Akal manusia dan hati nuraninya menentang, dan orang-orang musyrik tidak dapat
mengemukakan alasan yang kuat berlandaskan pengalaman dan penyelidikan
mereka untuk mendukungnya;
(c) Sepanjang masa, dalam pertarungan
antara orang-orang musyrik dan orang-orang beriman, yang tersebut
terakhirlah yang selamanya — tanpa kecuali -- mencapai kemenangan pada akhirnya. Jadi, wahyu
Ilahi, akal manusia, dan keputusan sejarah, semuanya menentang penyembahan berhala.
”Sindiran” Cara Khas Da’wah
Nabi Ibrahim a.s.
Nabi Ibrahim a.s. dengan “gaya
menyindir” (sindiran) – sebagaimana firman-Nya: وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ
اِبۡرٰہِیۡمَ رُشۡدَہٗ مِنۡ
قَبۡلُ وَ کُنَّا بِہٖ عٰلِمِیۡنَ -- “Dan sungguh sebelumnya Kami
benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim petunjuknya dan Kami
mengetahui benar tentang dia“ --
beliau telah membuktikan kebenaran ketiga
dalil tersebut terhadap kemusyrikan
yang dilakukan kaum beliau yang
menyembah patung-patung berhala
buatan mereka sendiri, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ اِبۡرٰہِیۡمَ
رُشۡدَہٗ مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا بِہٖ
عٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ﴾ اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا
ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ الَّتِیۡۤ اَنۡتُمۡ
لَہَا عٰکِفُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ
اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ
وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan sungguh sebelumnya Kami benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim
petunjuknya dan Kami mengetahui benar tentang dia. Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ الَّتِیۡۤ
اَنۡتُمۡ لَہَا عٰکِفُوۡنَ -- “Patung-patung apakah ini yang kamu
duduk tekun menyembah kepadanya?” قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ -- Mereka berkata: “Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.” قَالَ لَقَدۡ
کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ
ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- Ia, Ibrahim, berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Anbiya [21]:52-55).
Perkataan Nabi Ibrahim a.s. dengan
menggunakan kata mā dalam ayat مَا ہٰذِہِ
التَّمَاثِیۡلُ -- “Patung-patung apakah ini…“ bukan pertanyaan melainkan celaan, sebab ketika berbicara dengan penyembah-penyembah berhala, biasanya
Nabi Ibrahim a.s. mempergunakan sindiran,
lihat QS.6:77, 78, 79, ketika beliau merujuk bintang, bulan dan matahari, yaitu benda-benda langit selalu mengalami terbit dan terbenam, yang menurut beliau mustahil Tuhan Pencipta alam semesta mengalami hal seperti itu (QS.2:256).
Nabi Ibrahim a.s.dalam ayat: مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ
الَّتِیۡۤ اَنۡتُمۡ لَہَا
عٰکِفُوۡنَ -- “Patung-patung
apakah ini yang kamu duduk tekun menyembah kepadanya?”
agaknya mengatakan kepada kaumnya, “Betapa tidak bergunanya dan sia-sianya
patung-patung yang kalian puja ini.”
Jika Nabi Ibrahim a.s. biasa
berbicara dengan memakai bahasa sindiran,
maka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berbicara
dengan bahasa kiasan.
Terhadap pertanyaan yang bernada sindiran – yakni celaan -- Nabi Ibrahim a.s.
tersebut, mereka secara tidak langsung mengakui bahwa mereka sama sekali tidak mengetahuinya sama sekali kemampuan
dari “berhala-berhala” sembahan
mereka itu, mereka hanya sekedar mengikuti adat-istiadat
nenek-moyang mereka saja: قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ
اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ -- Mereka berkata: “Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.” قَالَ لَقَدۡ
کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ
ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- Ia, Ibrahim, berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
Makrifat Ilahi yang Dilandasi Haqqul-Yaqin
Mendengar celaan Nabi Ibrahim a.s. yang pedas
tetapi benar tersebut, mereka balik bertanya kepada Nabi Ibrahim a.s.: قَالُوۡۤا اَجِئۡتَنَا بِالۡحَقِّ اَمۡ اَنۡتَ مِنَ اللّٰعِبِیۡنَ -- “Mereka berkata:
“Apakah yang engkau datangkan kepada kami itu dengan haq, ataukah engkau termasuk orang-orang yang bermain-main?” (Al-Anbiya [21]:56). Atas pertanyaan balik mereka itu dengan penuh
keyakinan Nabi Ibrahim a.s. menjawab: قَالَ بَلۡ
رَّبُّکُمۡ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الَّذِیۡ فَطَرَہُنَّ ۫ۖ وَ اَنَا
عَلٰی ذٰلِکُمۡ مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- “Ia
berkata: “Tidak, bahkan Rabb
(Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan)
seluruh langit dan bumi, Dia-lah Yang telah menciptakannya, dan atas hal
itu aku termasuk orang-orang yang
menjadi saksi” (Al-Anbiya
[21]:57).
Ucapan Nabi Ibrahim a.s.: وَ اَنَا
عَلٰی ذٰلِکُمۡ مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- “dan atas hal itu aku termasuk orang-orang yang menjadi saksi” dalam ayat ini
mengisyaratkan kepada kebenaran agung,
bahwa jika rasul-rasul Allah menuturkan
sesuatu mengenai Tuhan, mereka berbicara
atas dasar pengalamannya sendiri. Mereka tidak memanggil manusia kepada Allah Swt. hanya semata-mata karena akal manusia – setelah menyaksikan kesempurnaan tatanan alam
semesta -- menuntut kesimpulan atau kepercayaan
bahwa
seharusnya ada Tuhan, sebagaimana argumentasi para filosof, tetapi para
rasul Allah berbuat demikian dengan keyakinan
yang penuh dan keimanan yang kokoh-kuat atas
dasar bashīrah (penglihatan atau pengalaman langsung), sebagaimana
firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ ہٰذِہٖ سَبِیۡلِیۡۤ اَدۡعُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ ۟ؔ عَلٰی بَصِیۡرَۃٍ اَنَا وَ مَنِ اتَّبَعَنِیۡ ؕ وَ سُبۡحٰنَ
اللّٰہِ وَ مَاۤ اَنَا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ ﴾ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِیۡۤ اِلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡقُرٰی ؕ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ
عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ وَ لَدَارُ
الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ
لِّلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿ ﴾ حَتّٰۤی اِذَا
اسۡتَیۡـَٔسَ
الرُّسُلُ وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ قَدۡ کُذِبُوۡا جَآءَہُمۡ
نَصۡرُنَا ۙ فَنُجِّیَ مَنۡ نَّشَآءُ ؕ وَلَا یُرَدُّ بَاۡسُنَا عَنِ
الۡقَوۡمِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah, hai
Rasulullah: ”Inilah
jalanku, aku memanggil kepada Allah. عَلٰی بَصِیۡرَۃٍ اَنَا وَ مَنِ اتَّبَعَنِیۡ -- Aku dan orang-orang yang mengikutiku berada di atas dalil yang nyata. وَ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ وَ مَاۤ اَنَا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- Dan Maha
Suci Allah, dan aku sama sekali bukan dari golongan orang-orang musyrik.” وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِیۡۤ اِلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡقُرٰی -- Dan Kami
sama sekali tidak mengutus rasul-rasul sebelum engkau melainkan orang-orang
lelaki yang kepadanya Kami mewahyukan dari antara penduduk kota-kota itu. اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ -- Apakah mereka
tidak bepergian di muka bumi lalu mereka dapat melihat bagaimana
senantiasa kesudahan buruk orang-orang yang sebelum mereka? وَ لَدَارُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Dan
niscaya rumah di akhirat itu lebih baik
bagi orang-orang yang bertakwa,
apakah kamu tidak memikirkannya? حَتّٰۤی اِذَا
اسۡتَیۡـَٔسَ الرُّسُلُ وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ قَدۡ کُذِبُوۡا جَآءَہُمۡ نَصۡرُنَا -- Sehingga apabila rasul-rasul
itu berputus asa mengenai orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu pun merasa yakin bahwa sesungguhnya
mereka itu telah dibohongi, maka datang pertolongan Kami kepada mereka yakni rasul-rasul itu, فَنُجِّیَ مَنۡ نَّشَآءُ ؕ وَلَا
یُرَدُّ بَاۡسُنَا عَنِ الۡقَوۡمِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- lalu diselamatkan
siapa yang Kami kehendaki, dan siksaan Kami tidak dapat dihindarkan dari kaum
yang berdosa. (Yusuf [12]:109-111).
Kepercayaan buta dan tanpa dipikir,
dan yang tidak didasarkan atas alasan-alasan
sehat serta keyakinan yang kuat,
tidak ada harganya dalam pandangan Allah Swt., itulah makna ayat: قُلۡ ہٰذِہٖ سَبِیۡلِیۡۤ اَدۡعُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ -- Katakanlah, hai
Rasulullah: ”Inilah
jalanku, aku memanggil kepada Allah. عَلٰی بَصِیۡرَۃٍ اَنَا وَ مَنِ اتَّبَعَنِیۡ -- Aku dan orang-orang yang mengikutiku berada di atas dalil yang nyata, وَ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ وَ مَاۤ اَنَا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- Dan Maha
Suci Allah, dan aku sama sekali bukan dari golongan orang-orang musyrik.” (109).
Makna “Putus Asa” Rasul Allah Berkenaan Para Penentangnya
Kata hatta (hingga) dalam ayat selanjutnya, kadang-kadang dipakai sebagai kata penghubung
seperti wa yang berarti “dan” atau “bahkan” seperti contohnya dalam ungkapan kalimat “akaltus-samaka hatta
ra’saha” artinya “saya makan ikan dan
(bahkan) kepalanya juga” (Lexicon
Lane): حَتّٰۤی اِذَا اسۡتَیۡـَٔسَ الرُّسُلُ وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ قَدۡ کُذِبُوۡا جَآءَہُمۡ نَصۡرُنَا -- Sehingga apabila rasul-rasul
itu berputus asa mengenai orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu pun merasa yakin bahwa sesungguhnya
mereka itu telah dibohongi, maka datang pertolongan Kami kepada mereka yakni rasul-rasul itu.”
Makna kata “putus-asa” berkenaan para rasul
Allah dalam ayat حَتّٰۤی اِذَا اسۡتَیۡـَٔسَ الرُّسُلُ – “Sehingga apabila rasul-rasul
itu berputus asa,” bahwa musuh-musuh yang menentang para nabi Allah terus bertambah dalam keburukan
dan perlawanan terhadap mereka,
sehingga tercapailah suatu tingkatan di mana para nabi Allah mulai merasa
bahwa mereka yang ditakdirkan untuk beriman telah beriman;
dan tentang selebihnya para nabi Allah tidak
punya harapan lagi bahwa mereka akan beriman.
Mengisyaratkan kepada sikap seperti itu pulalah “pengaduan”
Nabi
Nuh a.s. kepada Allah Swt. berkenaan kedegilan kaumnya (QS.71:1-29), tetapi
para nabi Allah tidak pernah putus asa tentang rahmat dan pertolongan
Allah Swt. kepada mereka (QS.15:57).
Demikian juga sebaliknya, para penentang Nabi Allah disebabkan oleh lambatnya kedatangan azab Tuhan, mereka merasa tidak akan ditimpa
azab apa pun, dan mereka
menganggap nubuatan-nubuatan mengenai
kemenangan terakhir dari nabi Allah dan kekalahan
musuh-musuh para nabi Allah itu bukan apa-apa, melainkan ucapan-ucapan palsu belaka. Itulah arti
dari ayat: وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ قَدۡ کُذِبُوۡا جَآءَہُمۡ نَصۡرُنَا ۙ فَنُجِّیَ مَنۡ نَّشَآءُ ؕ وَلَا یُرَدُّ بَاۡسُنَا عَنِ الۡقَوۡمِ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- dan orang-orang
kafir itu pun merasa yakin
bahwa sesungguhnya mereka itu telah
dibohongi, maka datang pertolongan Kami kepada mereka yakni rasul-rasul itu.” (QS.12:110).
“Siasat Berani” Nabi
Ibrahim a.s. Memancing “Dialog” dengan Para Pemuka Kaumnya
Kembali kepada Surah Al-Anbiya mengenai dialog
Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya yang tetap bertahan pada kemusyrikan mereka, sekali pun Nabi Ibrahim a.s. telah
memberitahukan kesia-siaan kaumnya melakukan penyembahan terhadap berhala
mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
اٰتَیۡنَاۤ اِبۡرٰہِیۡمَ رُشۡدَہٗ
مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا بِہٖ
عٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ﴾ اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا
ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ الَّتِیۡۤ اَنۡتُمۡ
لَہَا عٰکِفُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ
اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ
وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan sungguh sebelumnya Kami benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim
petunjuknya dan Kami mengetahui benar tentang dia. Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ الَّتِیۡۤ
اَنۡتُمۡ لَہَا عٰکِفُوۡنَ -- “Patung-patung apakah ini yang kamu
duduk tekun menyembah kepadanya?” قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ -- Mereka berkata: “Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.” قَالَ لَقَدۡ
کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ
ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- Ia, Ibrahim, berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Anbiya [21]:52-55).
Selanjutnya
Nabi Ibrahim a.s. berkata mengenai langkah-langkah
yang akan beliau lakukan untuk menyadarkan
kaumnya dari kemusyrikan yang mereka lakukan, firman-Nya:
وَ تَاللّٰہِ لَاَکِیۡدَنَّ
اَصۡنَامَکُمۡ بَعۡدَ اَنۡ تُوَلُّوۡا مُدۡبِرِیۡنَ ﴿﴾ فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا
اِلَّا کَبِیۡرًا لَّہُمۡ لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
“Dan demi
Allah, niscaya aku akan membuat rencana melawan berhala-berhala kamu, setelah kamu berlalu membalikkan punggungmu.”
فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا
اِلَّا کَبِیۡرًا لَّہُمۡ لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ یَرۡجِعُوۡنَ -- Maka ia membuat berhala-hala
itu pecah berkeping-keping, ke-cuali
yang terbesar dari berhala
mereka, supaya mereka kembali
kepadanya” (Al-Anbiya [21]:59).
Kata
pengganti hi dalam ungkapan ilaihi, dapat mengisyarakatkan kepada
(1) Tuhan (Allah Swt.), atau (2) kepada
berhala yang paling besar, atau (3) kepada Nabi Ibrahim a.s. sendiri, dengan makna:
(1)
Mudah-mudahan setelah melihat kedaan berhala-berhala
sembahan mereka yang hancur, kecuali berhala yang paling besar, mereka akan menyadari kesesatannya
dan mereka akan kembali (bertaubat) serta menyadi penyembah Allah Swt..
(2) Mereka akan menanyakan kepada berhala paling besar yang tersisa, apa gerangan yang terjadi dengan rekan-rekannya yang hancur berantakan.
(3) Mereka akan kembali dan mencari Nabi Ibrahim a.s. untuk menanyakan
alasan mengapa beliau melakukan perbuatan tersebut kepada berhala-berhala
mereka, sehingga Nabi Ibrahim a.s. mendapat kesempatan
yang lebih banyak untuk menjelaskan kesesatan mereka itu.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 8 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar