Selasa, 08 September 2015

Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Malaikat dan Manusia & Cara Da'wah "Sindiran" Nabi Ibrahim a.s. Mengenai Kemusyrikan Kaumnya


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 32


Kesimbungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Malaikat dan Manusia &   Cara Da’wahSindiran”  Nabi Ibrahim a.s.   Mengenai Kemusyrikan Kaumnya

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai sabda Masih Mau’ud a.s. Sifat Tanzihiyyah  Allah Swt., yang merupakan “kriteria” Tuhan yang hakiki:
      “…Dalam Al-Quran, Allah Swt.  menguraikan sifat-sifat-Nya sebagai:
قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾   وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang pun menyamai Dia”  (Al-Ikhlash [112]:2-5).
       Berarti bahwa Tuhan kita adalah Maha Esa dalam Wujud-Nya dan dalam Sifat-sifat-Nya. Tidak ada wujud lainnya yang bersifat abadi dan tegak dengan sendirinya seperti Wujud-Nya. Begitu juga tidak ada sifat-sifat dari wujud lain yang menyamai Sifat-sifat-Nya.
       Pengetahuan seseorang membutuhkan seorang guru dan itu pun tetap terbatas. Pengetahuan Tuhan tidak memerlukan guru dan tanpa batas. Kemampuan pendengaran seseorang tergantung kepada udara dan bersifat terbatas, tetapi Sifat mendengar Allah Swt. bersifat inheren (melekat) dan tanpa batas. Kemampuan penglihatan manusia tergantung kepada adanya sinar matahari atau sumber sinar lainnya serta bersifat terbatas, sedangkan penglihatan Tuhan adalah berasal dari Nur yang inheren dalam Wujud-Nya dan tanpa batasan apa pun.    
       Kemampuan manusia untuk mencipta tergantung pada sarana dan waktu serta bersifat terbatas. Kemampuan Allah mencipta tidak bergantung pada apa pun, tidak juga pada waktu dan bersifat tanpa batas. Semua Sifat-sifat-Nya tanpa banding dan tidak ada apa pun yang sepadan dengan Wujud-Nya atau pun Sifat-sifat-Nya.
       Jika ada Sifat-Nya yang dianggap cacat maka keseluruhan Sifat-Nya juga pasti akan cacat dan karena itu ke-Esa-an-Nya tidak bisa ditegakkan sepanjang belum menyadari bahwa Dia itu tidak ada yang menyamai dalam Wujud-Nya. Dia bukan putra siapa pun dan tidak ada siapa pun yang menjadi putra-Nya.
       Dia itu tegak dengan sendiri-Nya dan tidak membutuhkan ayah atau pun anak. Inilah Ketauhidan yang diajarkan Al-Quran dan menjadi dasar dari agama kita.”  (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 20, hlm. 155, London, 1984).

Ketidak-berdayaan “Berhala-berhala”  Sembahan Selain Allah Swt.

         Jadi, siapa pun dan apa pun  yang dianggap sebagai “tuhan sembahan” yang tidak memenuhi   “kriteria Tuhan” dalam Surah Al-Ikhlas tersebut pasti bukan Tuhan Al-Khāliq (Tuhan Maha Pencipta) melainkan makhluq (suatu yang diciptakan), yang tidak pantas dipertuhankan, sebab pada hakikatnya merupakan “benda mati” belaka, sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾  اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu. اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  --  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --  Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,  sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ --  Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”  (Al-Hājj [22]:74-76).
     Ayat 74  menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan  yang tidak berdaya seperti itu. Berbagai bentuk sesajen (sesajian) serta persembahan-persembahan lainnya yang disajikan di hadapannya  jika disambar dan makan lalat atau binatang lainnya – bahkan diambil manusia   -- tetap tak bergeming di tempatnya.
        Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu atau logam — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Allah Swt.  -- Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung  -- terutama Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Malikiyat yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah.
        Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan  itu terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia, itulah makna ayat: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --   ”Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,  sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” (Al-Hājj [22]:75).

Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Malaikat dan Manusia

       Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. menjelaskan Sunnah-Nya  guna memberi petunjuk kepada umat manusia  yang telah terjerumus ke dalam kemusyrikan berkenaan   “Tuhan Sembahan” yang hakiki, yaitu melalui orang-orang yang telah dipilih oleh-Nya untuk “bertemu” dan “berwawancakap” dengan-Nya,  yaitu para Rasul Allah dari kalangan manusia, sebagaimana firman-Nya: اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ --  Allah senantiasa memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”  (Al-Hājj [22]:76).
      Kalimat  یَصۡطَفِیۡ   adalah bentuk  fi’il mudhari, yang artinya “senantiasa”   -- yakni    telah, sedang dan akan -- karena itu kalimat  اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ  --  artinya “Allah senantiasa memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”, selaras dengan firman-Nya dalam QS.7:35-36 bahwa Allah Swt. akan senantiasa mengutus Rasul-Nya dari kalangan “Bani Adam” yakni umat manusia. Dan pengutusan rasul Allah dari kalangan manusia pasti akan disertai dengan pengutusan rasul-Nya dari kalangan malaikat (QS.42:52-54; QS.72:27-29).
         Kenyataan yang dikemukakan oleh ketiga ayat tersebut sesuai dengan  firman Allah Swt. yang dikemukakan dalam ayat sebelumnya:
وَ یَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَمۡ  یُنَزِّلۡ بِہٖ سُلۡطٰنًا وَّ مَا لَیۡسَ لَہُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ وَ مَا  لِلظّٰلِمِیۡنَ  مِنۡ  نَّصِیۡرٍ ﴿﴾
Dan mereka menyembah selain Allah, yang untuk itu Dia tidak menurunkan dalil, dan sekali-kali mereka tidak memiliki pengetahuan  mengenai itu. Dan bagi  orang-orang zalim sekali-kali  tidak ada seorang penolong  (Al-Hajj [22]:72).
        Dalam  ayat tersebut Allah Swt. mengemukakan   tiga dalil  yang membantah kemusyrikan:
      (a) Tidak ada satu pun dalil terdapat dalam Kitab-kitab yang diwahyukan membenarkan penyembahan berhala;
          (b) Akal manusia dan hati nuraninya menentang, dan orang-orang musyrik tidak dapat mengemukakan alasan yang kuat berlandaskan pengalaman dan penyelidikan mereka untuk mendukungnya;
         (c) Sepanjang masa, dalam pertarungan antara orang-orang musyrik dan orang-orang beriman, yang tersebut terakhirlah yang selamanya — tanpa kecuali -- mencapai kemenangan pada akhirnya. Jadi, wahyu Ilahi, akal manusia, dan keputusan sejarah, semuanya menentang penyembahan berhala.

”Sindiran” Cara Khas Da’wah Nabi Ibrahim a.s.

        Nabi Ibrahim a.s.   dengan “gaya menyindir” (sindiran) – sebagaimana firman-Nya: وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ  اِبۡرٰہِیۡمَ  رُشۡدَہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا  بِہٖ  عٰلِمِیۡنَ    -- “Dan  sungguh sebelumnya  Kami  benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim petunjuknya  dan Kami mengetahui benar tentang dia“  -- beliau telah membuktikan kebenaran ketiga dalil tersebut terhadap kemusyrikan yang dilakukan kaum beliau yang menyembah patung-patung berhala buatan mereka sendiri, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ  اِبۡرٰہِیۡمَ  رُشۡدَہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا  بِہٖ  عٰلِمِیۡنَ  ﴿ۚ﴾ اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ  اَنۡتُمۡ  وَ اٰبَآؤُکُمۡ  فِیۡ  ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan  sungguh sebelumnya  Kami  benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim petunjuknya  dan Kami mengetahui benar tentang dia.    Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ  --  “Patung-patung apakah ini  yang kamu duduk tekun menyembah  kepadanya?” قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ   --  Mereka berkata:  “Kami  dapati bapak-bapak kami menyembahnya.”   قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ  اَنۡتُمۡ  وَ اٰبَآؤُکُمۡ  فِیۡ  ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ --   Ia, Ibrahim,  berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu  benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Anbiya [21]:52-55).
         Perkataan Nabi Ibrahim a.s. dengan menggunakan kata  dalam ayat  مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  -- “Patung-patung apakah ini…“  bukan   pertanyaan melainkan   celaan, sebab ketika berbicara dengan penyembah-penyembah berhala, biasanya Nabi Ibrahim a.s. mempergunakan sindiran, lihat QS.6:77, 78, 79, ketika beliau merujuk bintang, bulan dan matahari, yaitu  benda-benda langit    selalu    mengalami terbit dan terbenam,  yang menurut beliau  mustahil Tuhan  Pencipta alam semesta  mengalami hal seperti itu (QS.2:256).
       Nabi Ibrahim a.s.dalam ayat: مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ  --  “Patung-patung apakah ini  yang kamu duduk tekun menyembah  kepadanya?”  agaknya   mengatakan kepada kaumnya, “Betapa tidak bergunanya dan sia-sianya patung-patung yang kalian  puja ini.” Jika Nabi Ibrahim a.s.   biasa berbicara dengan memakai bahasa sindiran, maka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  berbicara dengan bahasa kiasan.
         Terhadap pertanyaan yang bernada sindiran – yakni celaan   -- Nabi Ibrahim a.s. tersebut,  mereka secara tidak langsung mengakui bahwa mereka sama sekali tidak mengetahuinya sama sekali    kemampuan dari “berhala-berhala” sembahan mereka itu, mereka   hanya sekedar mengikuti  adat-istiadat nenek-moyang mereka saja: قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ   --  Mereka berkata:  “Kami  dapati bapak-bapak kami menyembahnya.”   قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ  اَنۡتُمۡ  وَ اٰبَآؤُکُمۡ  فِیۡ  ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ --   Ia, Ibrahim,  berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu  benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Makrifat Ilahi yang Dilandasi Haqqul-Yaqin  

          Mendengar celaan  Nabi Ibrahim a.s. yang  pedas tetapi benar tersebut, mereka balik bertanya kepada Nabi Ibrahim a.s.:   قَالُوۡۤا  اَجِئۡتَنَا بِالۡحَقِّ اَمۡ  اَنۡتَ مِنَ اللّٰعِبِیۡنَ --  “Mereka berkata: “Apakah  yang engkau datangkan kepada kami itu dengan haq, ataukah engkau termasuk orang-orang yang bermain-main?” (Al-Anbiya [21]:56).  Atas pertanyaan balik mereka itu dengan penuh keyakinan  Nabi Ibrahim a.s. menjawab:  قَالَ بَلۡ رَّبُّکُمۡ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الَّذِیۡ فَطَرَہُنَّ ۫ۖ وَ اَنَا عَلٰی ذٰلِکُمۡ  مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ    --  “Ia berkata: “Tidak, bahkan Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi, Dia-lah Yang telah menciptakannya, dan atas hal itu aku termasuk orang-orang yang menjadi saksi” (Al-Anbiya [21]:57). 
      Ucapan Nabi Ibrahim a.s.:  وَ اَنَا عَلٰی ذٰلِکُمۡ  مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ  -- “dan atas hal itu aku termasuk orang-orang yang menjadi saksi”  dalam ayat ini mengisyaratkan kepada kebenaran agung, bahwa jika rasul-rasul Allah menuturkan sesuatu mengenai  Tuhan, mereka berbicara atas dasar pengalamannya sendiri. Mereka tidak memanggil manusia kepada Allah Swt.  hanya semata-mata karena akal manusia –  setelah menyaksikan kesempurnaan tatanan alam semesta  -- menuntut kesimpulan  atau kepercayaan  bahwa   seharusnya ada  Tuhan,  sebagaimana argumentasi para filosof,  tetapi para rasul Allah berbuat demikian dengan keyakinan yang penuh  dan keimanan yang kokoh-kuat    atas   dasar  bashīrah (penglihatan atau pengalaman langsung), sebagaimana firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ ہٰذِہٖ سَبِیۡلِیۡۤ  اَدۡعُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ ۟ؔ عَلٰی بَصِیۡرَۃٍ  اَنَا  وَ مَنِ اتَّبَعَنِیۡ ؕ وَ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ  وَ مَاۤ   اَنَا مِنَ  الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ ﴾ وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِیۡۤ  اِلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡقُرٰی ؕ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ وَ لَدَارُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿ ﴾ حَتّٰۤی اِذَا اسۡتَیۡـَٔسَ الرُّسُلُ وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ قَدۡ کُذِبُوۡا جَآءَہُمۡ نَصۡرُنَا ۙ فَنُجِّیَ مَنۡ  نَّشَآءُ ؕ وَلَا  یُرَدُّ بَاۡسُنَا عَنِ الۡقَوۡمِ  الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah, hai Rasulullah:  ”Inilah jalanku, aku memanggil kepada Allah. عَلٰی بَصِیۡرَۃٍ  اَنَا  وَ مَنِ اتَّبَعَنِیۡ   -- Aku dan orang-orang yang mengikutiku berada di atas dalil yang nyata. وَ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ  وَ مَاۤ   اَنَا مِنَ  الۡمُشۡرِکِیۡنَ --   Dan Maha Suci Allah, dan aku sama sekali bukan dari golongan orang-orang musyrik.” وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِیۡۤ  اِلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡقُرٰی  --   Dan  Kami sama sekali tidak mengutus rasul-rasul sebelum engkau melainkan orang-orang lelaki yang kepadanya Kami mewahyukan  dari antara penduduk kota-kota itu.  اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  -- Apakah mereka tidak bepergian di muka bumi lalu  mereka dapat melihat bagaimana senantiasa  kesudahan buruk orang-orang yang sebelum mereka?  وَ لَدَارُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Dan niscaya rumah di akhirat itu lebih baik bagi  orang-orang  yang bertakwa, apakah kamu tidak memikirkannyaحَتّٰۤی اِذَا اسۡتَیۡـَٔسَ الرُّسُلُ وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ قَدۡ کُذِبُوۡا جَآءَہُمۡ نَصۡرُنَا --  Sehingga   apabila  rasul-rasul itu berputus asa mengenai orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu pun merasa yakin bahwa sesungguhnya mereka itu telah dibohongi, maka  datang pertolongan Kami kepada mereka yakni  rasul-rasul itu,  فَنُجِّیَ مَنۡ  نَّشَآءُ ؕ وَلَا  یُرَدُّ بَاۡسُنَا عَنِ الۡقَوۡمِ  الۡمُجۡرِمِیۡنَ   -- lalu diselamatkan siapa yang Kami kehendaki, dan  siksaan Kami tidak dapat dihindarkan  dari kaum yang berdosa. (Yusuf [12]:109-111).
          Kepercayaan buta dan tanpa dipikir, dan yang tidak didasarkan atas alasan-alasan sehat serta keyakinan yang kuat, tidak ada harganya dalam pandangan Allah Swt., itulah makna ayat:  قُلۡ ہٰذِہٖ سَبِیۡلِیۡۤ  اَدۡعُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ  -- Katakanlah, hai Rasulullah:  ”Inilah jalanku, aku memanggil kepada Allah. عَلٰی بَصِیۡرَۃٍ  اَنَا  وَ مَنِ اتَّبَعَنِیۡ   -- Aku dan orang-orang yang mengikutiku berada di atas dalil yang nyata, وَ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ  وَ مَاۤ   اَنَا مِنَ  الۡمُشۡرِکِیۡنَ --   Dan Maha Suci Allah, dan aku sama sekali bukan dari golongan orang-orang musyrik.” (109).

 Makna “Putus Asa” Rasul Allah Berkenaan Para Penentangnya

   Kata hatta (hingga)  dalam ayat selanjutnya,   kadang-kadang dipakai sebagai kata penghubung seperti wa yang berarti “dan” atau “bahkan” seperti contohnya dalam  ungkapan kalimat “akaltus-samaka hatta ra’saha” artinya “saya makan ikan dan (bahkan) kepalanya juga” (Lexicon Lane):  حَتّٰۤی اِذَا اسۡتَیۡـَٔسَ الرُّسُلُ وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ قَدۡ کُذِبُوۡا جَآءَہُمۡ نَصۡرُنَا --  Sehingga   apabila  rasul-rasul itu berputus asa mengenai orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu pun merasa yakin bahwa sesungguhnya mereka itu telah dibohongi, maka  datang pertolongan Kami kepada mereka yakni  rasul-rasul itu.  
        Makna kata “putus-asa” berkenaan para  rasul Allah dalam ayat   حَتّٰۤی اِذَا اسۡتَیۡـَٔسَ الرُّسُلُ – “Sehingga   apabila  rasul-rasul itu berputus asa,” bahwa musuh-musuh yang menentang  para nabi Allah terus bertambah dalam keburukan dan perlawanan terhadap mereka, sehingga tercapailah suatu tingkatan  di mana para nabi Allah mulai merasa bahwa mereka yang ditakdirkan untuk beriman telah beriman; dan tentang selebihnya para nabi Allah tidak punya harapan lagi bahwa mereka akan beriman.
        Mengisyaratkan kepada sikap seperti  itu pulalah   “pengaduan Nabi Nuh a.s. kepada Allah Swt.  berkenaan kedegilan kaumnya (QS.71:1-29), tetapi para nabi Allah tidak pernah putus asa tentang rahmat dan pertolongan Allah Swt. kepada mereka (QS.15:57).
        Demikian juga sebaliknya, para penentang Nabi Allah disebabkan oleh lambatnya kedatangan azab Tuhan, mereka merasa tidak akan ditimpa azab apa pun, dan  mereka  menganggap nubuatan-nubuatan mengenai kemenangan terakhir dari nabi Allah  dan kekalahan musuh-musuh para nabi Allah  itu bukan apa-apa, melainkan ucapan-ucapan palsu belaka. Itulah arti dari ayat:   وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ قَدۡ کُذِبُوۡا جَآءَہُمۡ نَصۡرُنَا ۙ فَنُجِّیَ مَنۡ  نَّشَآءُ ؕ وَلَا  یُرَدُّ بَاۡسُنَا عَنِ الۡقَوۡمِ  الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- dan orang-orang kafir itu pun merasa yakin bahwa sesungguhnya mereka itu telah dibohongi, maka  datang pertolongan Kami kepada mereka yakni  rasul-rasul itu.”  (QS.12:110).

Siasat Berani” Nabi Ibrahim a.s.   Memancing  “Dialog” dengan Para Pemuka Kaumnya

      Kembali kepada Surah Al-Anbiya mengenai dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya yang tetap bertahan pada kemusyrikan mereka, sekali pun Nabi Ibrahim a.s. telah memberitahukan kesia-siaan  kaumnya melakukan penyembahan terhadap berhala mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ  اِبۡرٰہِیۡمَ  رُشۡدَہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا  بِہٖ  عٰلِمِیۡنَ  ﴿ۚ﴾ اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ  اَنۡتُمۡ  وَ اٰبَآؤُکُمۡ  فِیۡ  ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan  sungguh sebelumnya  Kami  benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim petunjuknya  dan Kami mengetahui benar tentang dia.    Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ  --  “Patung-patung apakah ini yang kamu duduk tekun menyembah  kepadanya?” قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ   --  Mereka berkata:  “Kami  dapati bapak-bapak kami menyembahnya.”   قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ  اَنۡتُمۡ  وَ اٰبَآؤُکُمۡ  فِیۡ  ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ --   Ia, Ibrahim,  berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu  benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Anbiya [21]:52-55).
        Selanjutnya Nabi Ibrahim a.s. berkata mengenai langkah-langkah yang akan beliau lakukan untuk menyadarkan kaumnya  dari kemusyrikan yang mereka lakukan, firman-Nya:
وَ تَاللّٰہِ لَاَکِیۡدَنَّ  اَصۡنَامَکُمۡ بَعۡدَ اَنۡ تُوَلُّوۡا مُدۡبِرِیۡنَ ﴿﴾  فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا  اِلَّا کَبِیۡرًا  لَّہُمۡ  لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
 “Dan demi Allah, niscaya  aku akan membuat rencana melawan berhala-berhala kamu, setelah kamu berlalu membalikkan punggungmu.” فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا  اِلَّا کَبِیۡرًا  لَّہُمۡ  لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ  یَرۡجِعُوۡنَ  --   Maka ia membuat berhala-hala itu pecah berkeping-keping, ke-cuali yang terbesar dari berhala mereka, supaya mereka kembali kepadanya” (Al-Anbiya [21]:59).
       Kata pengganti hi dalam ungkapan ilaihi, dapat mengisyarakatkan kepada (1) Tuhan (Allah Swt.), atau (2) kepada berhala yang paling besar,  atau (3) kepada Nabi Ibrahim a.s.   sendiri, dengan makna:
       (1)  Mudah-mudahan setelah melihat kedaan berhala-berhala sembahan mereka yang hancur, kecuali berhala yang paling besar,   mereka akan menyadari kesesatannya dan   mereka akan  kembali  (bertaubat) serta  menyadi penyembah   Allah Swt..
       (2)  Mereka akan menanyakan kepada   berhala  paling besar yang tersisa, apa gerangan  yang terjadi dengan rekan-rekannya yang hancur berantakan.
      (3) Mereka akan kembali dan mencari Nabi Ibrahim a.s. untuk menanyakan alasan mengapa beliau melakukan perbuatan tersebut kepada berhala-berhala mereka, sehingga Nabi Ibrahim a.s. mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk menjelaskan kesesatan  mereka itu.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar