بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 26
Tidak Ada Rahbaniyah (Kerahiban)
dan “Kehabiban” Dalam Islam
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
praktek kemusyrikan berupa penyembahan kuburan para wali Allah, bahkan “mempertuhankan”
setelah kewafatan mereka, sebagaimana
yang marak di kalangan golongan Ahli
Kitab di masa kemunduran ruhani
mereka, firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ
الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak Allah”,
dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.
قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ
ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari
Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ
الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka
dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya mereka
menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan
cahaya-Nya, walau pun orang-orang
kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ -- Dia-lah Yang telah mengutus
Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia
mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- walau-pun
orang-orang musyrik tidak menyukainya.
(At-Taubah [9]:30-33).
Munculnya “Kemusyrikan” di Kalangan Umat Beragama
‘Uzair
atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan
Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam
Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai
pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan
suatu mazhab Yahudi di Hadramaut,
mempercayai beliau sebagai anak Allah.
Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan
beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel”
bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana
pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa
a.s. Beliau bekerjasama dengan Nehemya
dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia & Encyclopaedia Biblica).
Ahbar
dan Ruhban dalam ayat اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka
dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah,” mereka adalah ulama-ulama
Yahudi dan para rahib agama Nasrani, yang
dalam lingkungan umat Hindu adalah para yogi, sedangkan di kalangan
umat Islam mirip dengan para faqir atau sufi.
Mengenai terjadinya penyimpangan di kalangan
para rahib -- dan
yang orang-orang yang sejenis dengan mereka itu -- tersebut Allah Swt. berfirman mengenai masalah rahbaniyat,
yaitu hidup membujang dan menggadis demi “Tuhan
Yesus”
وَ
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا نُوۡحًا وَّ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ جَعَلۡنَا
فِیۡ ذُرِّیَّتِہِمَا النُّبُوَّۃَ وَ الۡکِتٰبَ فَمِنۡہُمۡ مُّہۡتَدٍ ۚ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ
﴿﴾ ثُمَّ قَفَّیۡنَا عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ بِرُسُلِنَا وَ قَفَّیۡنَا بِعِیۡسَی ابۡنِ
مَرۡیَمَ وَ اٰتَیۡنٰہُ الۡاِنۡجِیۡلَ ۬ۙ
وَ جَعَلۡنَا فِیۡ قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ
اتَّبَعُوۡہُ رَاۡفَۃً وَّ رَحۡمَۃً ؕ وَ رَہۡبَانِیَّۃَۨ ابۡتَدَعُوۡہَا مَا کَتَبۡنٰہَا
عَلَیۡہِمۡ اِلَّا ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ
اللّٰہِ فَمَا رَعَوۡہَا حَقَّ رِعَایَتِہَا
ۚ فَاٰتَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡہُمۡ اَجۡرَہُمۡ ۚ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿ ﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah mengutus
Nuh dan Ibrahim, dan Kami meletakkan di antara benih keturunan
mereka berdua kenabian dan Kitab, maka sebagian mereka mengikuti petunjuk tetapi kebanyakan
dari mereka itu fasiq (durhaka). Kemudian Kami
mengikutkan di atas jejak-jejak mereka rasul-rasul Kami, وَ قَفَّیۡنَا
بِعِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ وَ اٰتَیۡنٰہُ
الۡاِنۡجِیۡلَ -- dan Kami mengikutkan
pula Isa Ibnu Maryam, dan Kami
memberikan kepadanya Injil, وَ جَعَلۡنَا
فِیۡ قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ
اتَّبَعُوۡہُ رَاۡفَۃً وَّ رَحۡمَۃً -- dan Kami menjadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun
dan kasih-sayang. وَ رَہۡبَانِیَّۃَۨ ابۡتَدَعُوۡہَا
مَا کَتَبۡنٰہَا عَلَیۡہِمۡ اِلَّا
ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ اللّٰہِ -- Dan cara
hidup merahib yang dibuat-buat mereka Kami
sekali-kali tidak mewajibkannya atas mereka, اِلَّا ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ
اللّٰہِ فَمَا رَعَوۡہَا حَقَّ
رِعَایَتِہَا -- kecuali untuk mencari
keridhaan Allah, فَمَا رَعَوۡہَا حَقَّ رِعَایَتِہَا -- tetapi mereka tidak melaksanakannya sebagaimana seharusnya dilaksanakan, فَاٰتَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
مِنۡہُمۡ اَجۡرَہُمۡ -- maka Kami menganugerahkan kepada orang-orang
yang beriman di antara mereka ganjaran
mereka, وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ -- tetapi kebanyakan
dari mereka fasik. (Al-Hadīd [57]:27-28).
Tidak ada Rahbaniyah
dalam Islam
Ayat وَ
رَہۡبَانِیَّۃَۨ ابۡتَدَعُوۡہَا مَا
کَتَبۡنٰہَا عَلَیۡہِمۡ اِلَّا
ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ اللّٰہِ -- “dan cara hidup merahib yang dibuat-buat
mereka Kami sekali-kali tidak
mewajibkannya atas mereka” ini dapat juga diartikan bahwa para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengadakan sendiri rahbaniyah
(cara hidup membujang sebagai biarawan
atau biarawati) untuk mencari keridhaan
Allah, akan tetapi Allah Swt. tidak memerintahkan yang demikian kepada mereka.
Atau artinya ialah, mereka
membuat sendiri cara hidup membiara, akan tetapi Allah Swt. tidak
pernah menetapkannya bagi mereka – Dia hanya memerintahkan kepada mereka mencari keridhaannya. Itulah sebabnya ketika istri ‘Imran -- sesuai nazarnya
mengenai bayi yang dikandungnya untuk diwakafkan
mengkhidmati agama -- mewakafkan bayi perempuan yang dilahirkannya, yakni Maryam binti ‘Imran, tetapi
kemudian Allah Swt. telah membuatnya
hamil sekali pun ia berniat untuk tidak menikah (QS.3:36-50; QS.19-17-37).
Orang-orang yang berhati bengkok menafsirkan peristiwa unik tersebut sebagai dalil mengenai faham sesat
bahwa Yesus adalah “Anak Allah”, na’ūdzubillāh min dzālik, padahal merupakan isyarat penghinaan dari Allah Swt. terhadap kaum laki-laki Bani Israil
(orang-orang Yahudi), bahwa akibat kedurhakaan
yang berulang kali yang mereka lakukan terhadap Allah Swt. dan para rasul
Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka (QS.2:88-89), maka tidak ada seorang pun dari kalangan laki-laki bangsa Yahudi yang layak menjadi ayah
seorang rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka, itulah
sebabnya maka Allah Swt. telah membuat
kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. tanpa peran seorang laki-laki dari kalangan orang-orang Yahudi, sehingga Allah Swt. menamainya Masih
Isa Ibnu Maryam (Masih Isa anak Maryam) karena Maryam selain sebagai ibunya juga merangkap sebagai ayahnya.
Itulah pula sebabnya
Allah Swt. telah menyebut kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tanpa ayah seorang laki-laki dari kalangan Bani
Israil (Yahudi) tersebut sebagai as-Sā’ah
(tanda kiamat) bagi Bani Israil (QS.43:62), karena setelah beliau Allah Swt. memindahkan nikmat kenabian dan kerajaan (QS.5:21) dari kalangan Bani Israil kepada Bani Ismail, sesuai nubuatan
dalam Bible (Ulangan 18:15-19), berupa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.
sebagai nabi yang seperti Musa (QS.46:11).
Jadi, sebagaimana Allah Swt. telah menolak rahbaniyat dengan membuat gadis Maryam binti
‘Imran hamil ketika sedang melakukan pengkhidmatan
agama (QS.3:36-50; QS.19-17-37), demikian pula halnya dengan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., setelah beliau selamat
dari upaya pembunuhan melalui tiang salib yang dirancang dalam makar buruk para pemuka agama
Yahudi -- guna membuktikan kepada
masyarakat luas bahwa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. bukan rasul Allah melainkan
seorang yang terkutuk (QS.4:157-159)
--
Allah Swt. telah menyelamatkan beliau dan ibunya ke wilayah dataran
tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan banyak mata air, yakni wilayah Kasymir di kaki gunung Himalaya (QS.23:51), dan di sana Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. menghabiskan hidupnya
dengan keluarga (anak dan
istri) beliau, sebagaimana halnya para rasul Allah lainnya pun memiliki istri dan anak keturunan. Mengenai hal
tersebut berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ مِنَ الۡمَآءِ بَشَرًا فَجَعَلَہٗ نَسَبًا وَّ صِہۡرًا ؕ وَ کَانَ رَبُّکَ
قَدِیۡرًا ﴿ ﴾
Dan Dia-lah Yang menciptakan manusia dari air,
dan menjadikannya keluarga melalui pertalian darah dan keluarga melalui pernikahan, dan Rabb (Tuhan)
engkau Maha Kuasa (Al-Furqan [25]:55).
Ayat ini bukan saja menolak rahbaniyat, bahkan mengisyaratkan secara
halus bahwa dalam kedudukannya sebagai rasul
Allah, maka para rasul Allah harus memberikan contoh (teladan) yang baik dalam masalah kehidupan kepada umatnya -- termasuk kehidupan berumahtangga dan bermasyarakat
-- demikian juga halnya dengan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. terhadap masyarakat
di Kasymir, yang terbukti merupakan keturunan
dari 10 suku (domba) Bani Israil yang
tercerai-berai di luar Palestina,
yang menjadi kewajiban utama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk mencari mereka (Injil Yohanes 10:10-16).
Terlebih lagi Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyatakan
bahwa dalam kedudukannya sebagai rasul Allah, maka selama beliau hidup
di dunia ini bukan saja harus tetap mendirikan
shalat tetapi juga harus membayar
zakat
-- suatu kegiatan keagamaan yang mustahil
dilakukan di atas langit --
firman-Nya:
قَالَ
اِنِّیۡ عَبۡدُ اللّٰہِ ۟ؕ اٰتٰنِیَ الۡکِتٰبَ وَ جَعَلَنِیۡ نَبِیًّا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ
اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ وَ الزَّکٰوۃِ
مَا دُمۡتُ حَیًّا ﴿۪ۖ﴾ وَّ بَرًّۢا
بِوَالِدَتِیۡ ۫ وَ لَمۡ یَجۡعَلۡنِیۡ
جَبَّارًا شَقِیًّا ﴿﴾ وَ السَّلٰمُ
عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ اَمُوۡتُ
وَ یَوۡمَ اُبۡعَثُ
حَیًّا ﴿﴾ ذٰلِکَ عِیۡسَی
ابۡنُ مَرۡیَمَ ۚ قَوۡلَ الۡحَقِّ الَّذِیۡ
فِیۡہِ یَمۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Ia,
Ibnu Maryam, berkata: "Sesungguhnya aku seorang hamba Allah, Dia
telah menganugerahkan kepadaku Kitab
itu dan Dia telah menjadikanku seorang
nabi, Dan Dia telah menjadikanku diberkati di mana pun aku berada, وَ اَوۡصٰنِیۡ
بِالصَّلٰوۃِ وَ الزَّکٰوۃِ مَا
دُمۡتُ حَیًّا
-- dan telah memerintahkanku mendirikan shalat
dan membayar zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang
yang sewenang-wenang lagi sial.
(Maryam [19]:31-33).
Pentingnya Menegakkan Mizan (Timbangan)
Dalam QS.57:26
dinyatakan bahwa Allah Swt. telah
menurunkan al-mīzān, agar dengan menjauhi batas-batas keterlaluan (ekstrim), orang harus
mengambil jalan-tengah dalam segala urusan dan tindakan mereka. Dalam ayat ini contoh berkenaan dengan suatu umat (umat Kristen) telah dikemukakan guna
memperlihatkan bahwa penempuhan jalan
ekstrim (keterlaluan) yang dilakukan oleh mereka -- meskipun dengan niat yang betapa pun baiknya
-- menjauhkan mereka dari tujuan yang telah diusahakan mereka
untuk mencapainya.
Mereka telah
menciptakan sendiri lembaga
kerahiban untuk – sebagaimana anggapan mereka yang keliru — guna mencari keridhaan
Tuhan, dan sesuai dengan ajaran dan sunah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., tetapi
lembaga ini ternyata merupakan sumber kejahatan sosial yang sangat
banyak. Mereka mulai mengamalkan rahbaniyah
dan berakhir dengan penyembahan Mamon. Tetapi Islam telah mencela dan menyesali rahbaniyah
sebagai hal yang bertentangan dengan fitrat manusia.
Menurut riwayat Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda: “Tidak ada rahbaniyah dalam Islam” (Atsir). Islam bukanlah agama khayali
yang hidup dalam alam konsepsi atau ciptaan mereka sendiri dan sama sekali terpisah dari kenyataan-kenyataan
jelas dalam kehidupan ini.
Tidak ada tempat dalam Islam untuk ajaran yang tidak dapat diamalkan semacam itu, seperti
“jangan kamu khawatir akan hal esok hari”
(Matius 6:34). Islam justru memerintahkan dengan tegas supaya “memperhatikan apa yang didahulukannya untuk esok hari” (QS.59:19).
Seorang Muslim sejati adalah orang yang
melaksanakan semua kewajibannya kepada
Tuhan dan manusia, secara adil dan sepenuhnya, bukannya menyendiri dan pergi ke dalam hutan atau ke dalam gua, melainkan melaksanakan ajaran agama
secara aktif di berbagai tingkatan
kehidupan sosial, mulai dari
lingkungan rumahtangga sampai dengan lingkungan masyarakat dunia, sesuai dengan misi
kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108) dan kedudukan mulia umat Islam sebagai “umat terbaik” yang dijadikan
bagi kemanfaatan seluruh umat
manusia (QS.2:144; QS.3:111).
Itulah berbagai “kemusyrikan” yang muncul pada masa fatrah (masa jeda pengutusan Rasul
Allah) yang pada masa itu “malam
kegelapan ruhani” yang pekat kembali
melanda kalangan umat beragama, firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ وَ النَّصٰرٰی نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ ؕ
قُلۡ فَلِمَ یُعَذِّبُکُمۡ بِذُنُوۡبِکُمۡ
ؕ بَلۡ اَنۡتُمۡ بَشَرٌ مِّمَّنۡ خَلَقَ ؕ یَغۡفِرُ لِمَنۡ
یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ۫ وَ اِلَیۡہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ عَلٰی فَتۡرَۃٍ
مِّنَ الرُّسُلِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا
نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Dan orang-orang Yahudi serta Nasrani berkata: نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا
اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ -- ”Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." قُلۡ فَلِمَ یُعَذِّبُکُمۡ بِذُنُوۡبِکُمۡ -- Katakanlah: “Jika benar demikian mengapa Dia mengazab kamu karena dosa-dosamu? Tidak, bahkan kamu adalah manusia-manusia biasa dari
antara mereka yang telah Dia ciptakan. یَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ
مَنۡ یَّشَآءُ -- Dia
mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan Dia mengazab siapa yang Dia kehendaki." Dan kepunyaan
Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya-lah kembali segala
sesuatu. یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ عَلٰی
فَتۡرَۃٍ مِّنَ الرُّسُلِ -- Hai Ahlul Kitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang
menjelaskan syariat kepada kamu pada masa
jeda pengutusan rasul-rasul,
اَنۡ
تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ
بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ -- supaya
kamu tidak mengatakan: “Tidak pernah
datang kepada kami seorang pemberi kabar
gembira dan tidak pula seorang
pemberi peringatan.” فَقَدۡ جَآءَکُمۡ
بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ -- Padahal sungguh telah datang kepada kamu seorang pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan, وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. (Al-Maidah [19]-20).
Tidak ada “Kehabiban”
Dalam Islam
Walau pun benar di kalangan umat Islam
tidak pernah ada yang mengatakan نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ
اَحِبَّآؤُہٗ -- ”Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya", tetapi sikap-sikap takabbur yang sejenis
dengan ucapan takabbur dan dusta golongan Ahli
Kitab tersebut marak terjadi di Akhir
Zaman ini, di antaranya mereka yang membangga-banggakan istilah “habib”, yang sama sekali tidak dikenal di masa Nabi Besar Muhammad saw. dan di masa Khulafa-ur-Rasyidin.
Sejarah
bungkam perihal apakah ada seorang nabi Allah
pernah datang di salah satu negeri di
antara zaman Nabi Besar Muhammad saw.
dengan zaman Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. yang pasti ialah
sekurang-kurangnya di antara para Ahlulkitab
tiada seorang nabi Allah pun datang dalam jangka waktu itu.
Pada hakikatnya, dunia telah mengharap-harapkan dan bersiap-siap menerima kedatangan Juru Selamat terbesar bagi umat manusia.
Beberapa pernyataan dari sumber yang diragukan (Kalbi) menyebutkan bahwa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. disusul
oleh beberapa nabi, di antaranya Khalid bin Salam termasuk seorang dari
antara mereka. Tetapi Nabi Besar Muhammad saw. menurut riwayat pernah bersabda bahwa antara beliau saw. dan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. tidak ada nabi (Bukhari).
Kembali kepada firman-Nya dalam Surah At-Taubah: ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya
(At-Taubah [9]:33), dan
lihat pula QS.61:10.
Para mufassir (ahli
tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. kemenangan
Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s. (TafsirAl-Quran oleh Ibnu Jarir
Thabari), manakala semua agama yang
beraneka ragam akan bangkit dan akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
Cita-cita
dan asas-asas Islam yang luhur sudah
mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut
agama-agama itu akan masuk ke dalam haribaan
Islam dalam jumlah besar, sebagaimana yang pernah terjadi di masa awal kejayaan Islam yang pertama
(QS.110:1-4).
Pendek kata, hanya melalui upaya penegakkan kembali Tauhid Ilahi dengan perantaraan pengutusan
Rasul Allah yang dijanjikan sajalah
- yakni melalui “Tali Allah”
yang diulurkan dari langit (QS.3:103-105)
-- kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir
Zaman ini, insya Allah, akan
kembali terwujud, firman-Nya:
فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ
اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ
الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾ مُنِیۡبِیۡنَ
اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾ مِنَ الَّذِیۡنَ
فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا
شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama
yang lurus, yaitu fitrat Allah, yang atas dasar itu Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah,
itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. مُنِیۡبِیۡنَ
اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ -- Kembalilah kamu
kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat,
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah kamu
termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا
دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ -- Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan,
کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ -- tiap-tiap
golongan bangga dengan apa yang ada
pada mereka. (Ar- Rūm [30]:31-33).
Tuhan
adalah Esa dan kemanusiaan itu
satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia
menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri (QS.7:173-175). Di dalam agama inilah seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan
orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka
itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
Ayat 32 menjelaskan bahwa hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan
mutlak dan Keesaan Tuhan -- yang sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki -- adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu shalat – yang merupakan sarana utama
pelaksanaan haququllūh -- adalah yang harus mendapat prioritas utama.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 3 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar