Rabu, 02 September 2015

Tidak Ada "Rahbaniyah" (Ke-rahib-an) dan "Ke-habib-an" Dalam Islam


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 26

Tidak Ada Rahbaniyah  (Kerahiban) dan “Kehabiban” Dalam Islam

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  praktek kemusyrikan berupa penyembahan kuburan para wali Allah,  bahkan “mempertuhankan” setelah kewafatan mereka, sebagaimana yang marak di kalangan golongan Ahli Kitab di masa kemunduran ruhani mereka,   firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ  --  Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,  یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ  -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ --   Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ  -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ   --    Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka,  وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ   -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ  -- walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).

Munculnya “Kemusyrikan” di Kalangan Umat Beragama

     ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
    Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish  Encyclopaedia  & Encyclopaedia  Biblica).
       Ahbar dan Ruhban dalam ayat اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ     -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah,” mereka adalah ulama-ulama Yahudi  dan para rahib agama Nasrani, yang dalam lingkungan umat  Hindu adalah para yogi, sedangkan  di kalangan umat Islam  mirip dengan para faqir atau sufi.
        Mengenai  terjadinya penyimpangan di kalangan  para rahib   --  dan yang orang-orang yang sejenis dengan mereka itu -- tersebut  Allah Swt. berfirman mengenai  masalah rahbaniyat, yaitu  hidup   membujang  dan  menggadis  demi “Tuhan Yesus
وَ لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَا  نُوۡحًا وَّ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ جَعَلۡنَا فِیۡ  ذُرِّیَّتِہِمَا النُّبُوَّۃَ  وَ الۡکِتٰبَ فَمِنۡہُمۡ  مُّہۡتَدٍ ۚ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ قَفَّیۡنَا عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  بِرُسُلِنَا وَ قَفَّیۡنَا بِعِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ  وَ اٰتَیۡنٰہُ الۡاِنۡجِیۡلَ ۬ۙ وَ جَعَلۡنَا فِیۡ  قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡہُ  رَاۡفَۃً  وَّ رَحۡمَۃً ؕ وَ رَہۡبَانِیَّۃَۨ  ابۡتَدَعُوۡہَا مَا کَتَبۡنٰہَا عَلَیۡہِمۡ  اِلَّا ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ اللّٰہِ  فَمَا رَعَوۡہَا حَقَّ رِعَایَتِہَا ۚ فَاٰتَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡہُمۡ اَجۡرَہُمۡ ۚ وَ کَثِیۡرٌ    مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿ ﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami meletakkan di antara benih keturunan mereka berdua kenabian dan  Kitab, maka sebagian mereka mengikuti petunjuk tetapi  kebanyakan dari mereka itu fasiq (durhaka).  Kemudian  Kami mengikutkan di atas jejak-jejak mereka rasul-rasul Kami, وَ قَفَّیۡنَا بِعِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ  وَ اٰتَیۡنٰہُ الۡاِنۡجِیۡلَ -- dan Kami mengikutkan pula Isa Ibnu Maryam, dan Kami memberikan kepadanya Injil,  وَ جَعَلۡنَا فِیۡ  قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡہُ  رَاۡفَۃً  وَّ رَحۡمَۃً --  dan Kami menjadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih-sayang. وَ رَہۡبَانِیَّۃَۨ  ابۡتَدَعُوۡہَا مَا کَتَبۡنٰہَا عَلَیۡہِمۡ  اِلَّا ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ اللّٰہِ    -- Dan cara hidup merahib yang dibuat-buat mereka Kami sekali-kali tidak mewajibkannya atas mereka,  اِلَّا ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ اللّٰہِ  فَمَا رَعَوۡہَا حَقَّ رِعَایَتِہَا -- kecuali untuk mencari keridhaan Allah, فَمَا رَعَوۡہَا حَقَّ رِعَایَتِہَا -- tetapi mereka tidak melaksanakannya sebagaimana seharusnya dilaksanakan, فَاٰتَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡہُمۡ اَجۡرَہُمۡ  -- maka Kami menganugerahkan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka ganjaran mereka,  وَ کَثِیۡرٌ    مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ -- tetapi kebanyakan dari mereka fasik. (Al-Hadīd [57]:27-28).

Tidak ada Rahbaniyah    dalam Islam

     Ayat  وَ رَہۡبَانِیَّۃَۨ  ابۡتَدَعُوۡہَا مَا کَتَبۡنٰہَا عَلَیۡہِمۡ  اِلَّا ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ اللّٰہِ  -- “dan cara hidup merahib yang dibuat-buat mereka Kami sekali-kali tidak mewajibkannya atas mereka ini dapat juga diartikan bahwa para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mengadakan sendiri rahbaniyah (cara hidup membujang sebagai biarawan atau biarawati) untuk mencari keridhaan Allah, akan tetapi Allah Swt. tidak  memerintahkan yang demikian kepada mereka.
    Atau artinya ialah,  mereka membuat sendiri cara  hidup membiara, akan tetapi Allah  Swt. tidak pernah menetapkannya bagi mereka – Dia hanya memerintahkan kepada mereka mencari keridhaannya. Itulah sebabnya ketika istri ‘Imran  -- sesuai  nazarnya mengenai  bayi yang dikandungnya     untuk diwakafkan  mengkhidmati agama   -- mewakafkan bayi perempuan  yang dilahirkannya, yakni Maryam binti ‘Imran, tetapi  kemudian Allah Swt. telah membuatnya  hamil sekali pun ia berniat untuk tidak menikah (QS.3:36-50; QS.19-17-37).
   Orang-orang yang berhati bengkok menafsirkan peristiwa unik tersebut sebagai dalil mengenai faham  sesat bahwa  Yesus  adalah “Anak Allah”, na’ūdzubillāh min dzālik, padahal merupakan isyarat  penghinaan dari Allah Swt. terhadap kaum laki-laki Bani Israil  (orang-orang Yahudi), bahwa akibat kedurhakaan yang berulang kali yang mereka lakukan terhadap Allah Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-89), maka tidak ada seorang pun dari kalangan laki-laki bangsa Yahudi yang layak menjadi ayah seorang rasul Allah  yang dibangkitkan di kalangan mereka, itulah sebabnya maka Allah Swt. telah membuat  kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   tanpa peran seorang laki-laki dari kalangan orang-orang Yahudi, sehingga Allah Swt. menamainya  Masih Isa Ibnu Maryam (Masih Isa anak Maryam) karena Maryam  selain sebagai ibunya juga merangkap sebagai ayahnya.
   Itulah pula sebabnya Allah Swt. telah  menyebut kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tanpa ayah seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil (Yahudi) tersebut sebagai as-Sā’ah (tanda kiamat) bagi  Bani Israil (QS.43:62), karena setelah beliau    Allah Swt. memindahkan nikmat kenabian dan kerajaan  (QS.5:21) dari kalangan Bani Israil kepada Bani Ismail, sesuai nubuatan dalam Bible (Ulangan 18:15-19), berupa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai nabi yang seperti Musa (QS.46:11).
   Jadi, sebagaimana  Allah Swt. telah   menolak   rahbaniyat  dengan membuat gadis  Maryam binti ‘Imran  hamil ketika sedang melakukan pengkhidmatan agama (QS.3:36-50; QS.19-17-37), demikian pula halnya dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., setelah beliau selamat dari upaya pembunuhan melalui tiang salib  yang dirancang dalam makar buruk para pemuka agama Yahudi -- guna membuktikan kepada masyarakat luas bahwa  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bukan rasul Allah  melainkan  seorang yang terkutuk (QS.4:157-159)  --  Allah Swt. telah menyelamatkan  beliau dan ibunya  ke  wilayah  dataran tinggi   yang memiliki lembah-lembah hijau dan banyak mata air,  yakni wilayah Kasymir  di kaki gunung Himalaya (QS.23:51), dan di sana Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  menghabiskan hidupnya  dengan keluarga (anak dan istri) beliau,  sebagaimana halnya para rasul Allah lainnya pun memiliki istri dan anak keturunan.  Mengenai hal tersebut berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ مِنَ الۡمَآءِ بَشَرًا فَجَعَلَہٗ  نَسَبًا وَّ صِہۡرًا ؕ وَ کَانَ رَبُّکَ قَدِیۡرًا ﴿ ﴾
Dan Dia-lah Yang menciptakan manusia dari air, dan menjadikannya keluarga melalui pertalian darah dan keluarga melalui pernikahan, dan Rabb (Tuhan) engkau Maha Kuasa  (Al-Furqan [25]:55).
        Ayat ini bukan saja menolak rahbaniyat, bahkan mengisyaratkan secara halus bahwa dalam kedudukannya sebagai rasul Allah,  maka para rasul Allah     harus memberikan contoh (teladan)  yang  baik dalam  masalah kehidupan    kepada umatnya   -- termasuk kehidupan berumahtangga dan bermasyarakat --  demikian juga halnya  dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terhadap masyarakat di Kasymir, yang terbukti merupakan keturunan dari 10 suku (domba) Bani Israil yang tercerai-berai di luar Palestina, yang menjadi kewajiban utama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk mencari mereka (Injil Yohanes 10:10-16).
     Terlebih lagi  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyatakan bahwa  dalam kedudukannya sebagai rasul Allah, maka selama beliau hidup  di dunia ini bukan saja harus tetap mendirikan shalat tetapi juga  harus membayar zakat  --  suatu kegiatan keagamaan yang mustahil dilakukan di atas langit -- firman-Nya:
قَالَ اِنِّیۡ عَبۡدُ اللّٰہِ ۟ؕ اٰتٰنِیَ الۡکِتٰبَ وَ جَعَلَنِیۡ  نَبِیًّا ﴿ۙ﴾  وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ  وَ الزَّکٰوۃِ مَا دُمۡتُ  حَیًّا ﴿۪ۖ﴾ وَّ بَرًّۢا بِوَالِدَتِیۡ ۫ وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡنِیۡ جَبَّارًا شَقِیًّا ﴿﴾  وَ السَّلٰمُ عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ اَمُوۡتُ  وَ  یَوۡمَ  اُبۡعَثُ  حَیًّا ﴿﴾  ذٰلِکَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ ۚ قَوۡلَ الۡحَقِّ الَّذِیۡ  فِیۡہِ  یَمۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Ia, Ibnu Maryam, berkata: "Sesungguhnya aku seorang hamba Allah, Dia telah menganugerahkan kepadaku Kitab itu dan Dia telah menjadikanku seorang nabi,  Dan Dia telah menjadikan­ku diberkati di mana pun aku ber­ada, وَ اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ  وَ الزَّکٰوۃِ مَا دُمۡتُ  حَیًّا  -- dan telah memerintahkanku mendirikan  shalat dan membayar zakat selama aku hidup.    Dan  berbakti  kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang   yang sewenang-wenang lagi sial.  (Maryam [19]:31-33).

Pentingnya Menegakkan Mizan (Timbangan)
   
   Dalam   QS.57:26 dinyatakan bahwa Allah  Swt. telah menurunkan al-mīzān, agar dengan menjauhi batas-batas   keterlaluan (ekstrim), orang harus mengambil jalan-tengah dalam segala urusan dan tindakan mereka.  Dalam ayat  ini contoh berkenaan dengan suatu umat (umat Kristen) telah dikemukakan guna memperlihatkan bahwa penempuhan jalan ekstrim (keterlaluan) yang dilakukan oleh mereka  -- meskipun dengan niat yang betapa pun baiknya  --  menjauhkan mereka dari tujuan yang telah diusahakan mereka untuk mencapainya.
   Mereka telah  menciptakan sendiri lembaga kerahiban untuk – sebagaimana anggapan mereka yang keliru — guna mencari keridhaan Tuhan, dan sesuai dengan ajaran dan sunah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., tetapi lembaga ini ternyata merupakan sumber kejahatan sosial yang sangat banyak. Mereka mulai mengamalkan rahbaniyah dan berakhir dengan  penyembahan Mamon.   Tetapi Islam telah mencela dan menyesali rahbaniyah sebagai hal yang bertentangan dengan fitrat manusia.
    Menurut riwayat  Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda: “Tidak ada rahbaniyah dalam Islam” (Atsir). Islam bukanlah agama khayali yang hidup dalam alam konsepsi atau ciptaan mereka sendiri  dan sama sekali terpisah dari kenyataan-kenyataan jelas dalam kehidupan ini.
  Tidak ada tempat dalam Islam untuk ajaran yang tidak dapat diamalkan semacam itu, seperti “jangan kamu khawatir akan hal esok hari” (Matius 6:34). Islam justru memerintahkan dengan tegas supaya “memperhatikan apa yang didahulukannya untuk esok hari” (QS.59:19).
   Seorang Muslim sejati adalah orang yang melaksanakan semua kewajibannya kepada Tuhan dan manusia, secara adil dan sepenuhnya, bukannya menyendiri  dan pergi ke dalam hutan atau ke  dalam gua, melainkan melaksanakan ajaran agama secara  aktif  di berbagai tingkatan kehidupan sosial, mulai dari lingkungan  rumahtangga sampai dengan lingkungan masyarakat dunia, sesuai dengan misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108) dan kedudukan mulia umat Islam sebagai “umat terbaik” yang dijadikan  bagi kemanfaatan  seluruh umat manusia  (QS.2:144; QS.3:111).
   Itulah berbagai “kemusyrikan” yang muncul pada masa fatrah (masa jeda pengutusan Rasul Allah) yang  pada masa itu  “malam kegelapan ruhani” yang pekat kembali  melanda  kalangan umat beragama, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  وَ النَّصٰرٰی  نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ ؕ قُلۡ فَلِمَ یُعَذِّبُکُمۡ  بِذُنُوۡبِکُمۡ ؕ بَلۡ  اَنۡتُمۡ  بَشَرٌ مِّمَّنۡ خَلَقَ ؕ یَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ۫ وَ اِلَیۡہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾  یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ  رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ عَلٰی  فَتۡرَۃٍ  مِّنَ الرُّسُلِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Dan orang-orang Yahudi serta Nasrani berkata: نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ   --  Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." قُلۡ فَلِمَ یُعَذِّبُکُمۡ  بِذُنُوۡبِکُمۡ   -- Katakanlah: “Jika benar demikian mengapa Dia mengazab kamu karena dosa-dosamu? Tidak, bahkan kamu adalah manusia-manusia biasa dari antara mereka yang telah Dia ciptakanیَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ --   Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan Dia mengazab siapa yang Dia kehendaki." Dan kepunyaan   Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya-lah  kembali segala sesuatu. یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ  رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ عَلٰی  فَتۡرَۃٍ  مِّنَ الرُّسُلِ --  Hai Ahlul Kitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang  menjelaskan syariat kepada kamu  pada masa jeda pengutusan rasul-rasul, اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ  -- supaya kamu tidak mengatakan: “Tidak pernah datang kepada kami  seorang pemberi kabar gembira dan tidak pula seorang pemberi peringatan.”  فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ --     Padahal sungguh  telah datang kepada kamu seorang pembawa kabar gembira  dan pemberi peringatan,  وَ اللّٰہُ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ -- dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. (Al-Maidah [19]-20).

Tidak ada  “Kehabiban” Dalam Islam

       Walau pun benar di kalangan umat Islam tidak pernah ada yang mengatakan نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ   --  Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya", tetapi sikap-sikap takabbur yang sejenis dengan  ucapan takabbur dan dusta  golongan Ahli Kitab tersebut marak terjadi di Akhir Zaman ini, di antaranya mereka yang membangga-banggakan istilah “habib”, yang sama sekali tidak dikenal di  masa Nabi Besar Muhammad saw. dan di masa Khulafa-ur-Rasyidin.
      Sejarah bungkam perihal apakah ada seorang nabi Allah pernah datang di salah satu negeri di antara zaman Nabi Besar Muhammad saw.   dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   yang pasti ialah sekurang-kurangnya di antara para Ahlulkitab tiada seorang nabi Allah  pun datang dalam jangka waktu itu.
      Pada hakikatnya, dunia telah mengharap-harapkan dan bersiap-siap menerima kedatangan Juru Selamat terbesar bagi umat manusia. Beberapa pernyataan dari sumber yang diragukan (Kalbi) menyebutkan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. disusul oleh beberapa nabi, di antaranya Khalid bin Salam termasuk seorang dari antara mereka. Tetapi Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa antara beliau saw. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tidak ada nabi (Bukhari).
        Kembali kepada   firman-Nya dalam Surah At-Taubah: ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ   -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ  -- walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya  (At-Taubah [9]:33), dan lihat pula QS.61:10.
     Para mufassir (ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  kemenangan Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s.  (TafsirAl-Quran oleh  Ibnu Jarir Thabari), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bangkit dan akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
       Cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan masuk ke dalam haribaan Islam dalam jumlah besar, sebagaimana yang pernah terjadi di masa awal kejayaan Islam yang pertama (QS.110:1-4).
     Pendek kata, hanya melalui upaya penegakkan kembali Tauhid Ilahi dengan perantaraan pengutusan Rasul Allah yang dijanjikan sajalah   - yakni melalui “Tali Allah” yang diulurkan dari langit (QS.3:103-105)  -- kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini, insya Allah, akan kembali terwujud, firman-Nya:
فَاَقِمۡ  وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ  الَّتِیۡ فَطَرَ  النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah engkau  kepada agama yang lurus, yaitu fitrat Allah,  yang atas dasar itu  Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah,  itulah agama yang lurus,  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ    --  Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat,   وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ --     Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ --     tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar- Rūm [30]:31-33).
        Tuhan adalah  Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri (QS.7:173-175). Di dalam agama inilah seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
       Ayat 32 menjelaskan bahwa hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan mutlak dan Keesaan Tuhan  -- yang sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki  -- adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu  shalat – yang merupakan sarana utama pelaksanaan haququllūh -- adalah  yang harus mendapat prioritas utama.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 3 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar