Minggu, 13 September 2015

Eksodus Bernuansa "Agama" dari Benua Afrika dan Wilayah Timur Tengah ke Negara-negara Non-Muslim yang Sangat Memprihatinkan & Pengulangan "Pelanggaran Perjanjian" Bani Israil dengan Allah Swt.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 38

Eksodus  Bernuansa “Agama” dari   Benua Afrika dan Wilayah  Timur Tengah ke Negara-negara Non-Muslim yang Sangat Memprihatinkan  & Pengulangan  Pelanggaran Perjanjian Bani Israil dengan Allah Swt.

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai beberapa sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai Sifat-sifat sempurna Allah Swt. yang dibukakan Allah Swt. kepada beliau sebagai Rasul Akhir Zaman, yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh berbagai umat beragama dengan nama yang berbeda   -- seakan-akan merupakan  kedatangan kedua kali para rasul Allah (QS.77:12)  -- sehingga  berbagai pemahaman mengenai Allah Swt.  yaitu   Tuhan Maha Pencipta yang Hakiki,    yang sudah menyimpang jauh dari ajaran asli para rasul Allah  yang diutus kepada mereka (QS.5:20; QS.30:42-44; QS.57:17-18), bukan saja diluruskan lagi, bahkan dijelaskan pula rahasia-rahasia gaib-Nya yang baru, sebagaimana firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu   (Al-Jin [72]:27-29). Lihat pula QS.3:180.
Firman-Nya lagi:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirmanاَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”  اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ   --   Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka.  اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ --  Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang haq   (Al-A’rāf [7]:1173-175).

Hakikat “Kesaksian Ruh” Mengenai Tauhid Ilahi   dan Hubungannya Munculnya “Kemusyrikan” di Kalangan Umat beragama

    Ayat 173   menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-36).
  Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap pengutusan  rasul Allah  yang dijanjikan  (QS.7:35-37) itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan  Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ  --  Bukankah  Aku Tuhan kamu?”  karena pada saat itu  keimanan kepada “Tauhid Ilahi” yang  tertanam dalam ruh (jiwa) manusia terkubur dalam berbagai bentuk “kemusyrikan” (syirik) akibat umat  beragama semakin jauh dari masa kenabian yang penuh berkat (QS.30:42-44), firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ  -- dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya,  فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا --  Ketahuilah, bahwasanya  Allah cmenghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepadamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
         Salah satu tanda bahwa  kemusyrikan  telah merasuki    umat beragama    adalah terjadinya perpecahan   di kalangan mereka, firman-Nya:
فَاَقِمۡ  وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ  الَّتِیۡ فَطَرَ  النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah kamu kepada agama yang lurus, yaitu fitrat Allah, yang atas dasar itu  Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah,  itulah agama yang lurus,  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ    -- Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat,  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ --   dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik,  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ  --   yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ    --   tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar-Rūm [30]:31-33).
        Terhadap   kemusyrikan” (syirik) jenis itulah Allah Swt. dalam Al-Quran telah memperingatkan umat Islam  untuk tetap berpegang-teguh pada “tali Allah” agar mereka tidak terpecah-belah  (QS.3:103-105). Tteapi karena umat Islam melalaikan peringatan Allah Swt. tersebut maka  Sunnatullah yang terjadi pada  golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani)  terjadi pula di kalangan umat Islam, sehingga genaplah sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai adanya persamaan antara umat Islam dengan umat sebelumnya (golongan Ahli Kitab) bagaikan persamaan sepasang sepatu (Bukhari, Kitab At-Tafsir).

Persamaan  Dalam Keburukan Antara Bani Ismail dan Bani Israil

          Dari sekian banyak persamaan tersebut salah satunya adalah pengusiran sesama Muslim oleh golongan Muslim lainnya dari tanah air mereka, seperti yang saat  ini marak terjadi di Timur Tengah, firman-Nya:
 وَ اِذۡ  اَخَذۡنَا مِیۡثَاقَکُمۡ لَا تَسۡفِکُوۡنَ دِمَآءَکُمۡ وَ لَا تُخۡرِجُوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ ثُمَّ  اَقۡرَرۡتُمۡ  وَ اَنۡتُمۡ تَشۡہَدُوۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ  اَنۡتُمۡ  ہٰۤـؤُلَآءِ تَقۡتُلُوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ  وَ تُخۡرِجُوۡنَ فَرِیۡقًا مِّنۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِہِمۡ ۫ تَظٰہَرُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ بِالۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ ؕ وَ اِنۡ یَّاۡتُوۡکُمۡ اُسٰرٰی تُفٰدُوۡہُمۡ  وَ ہُوَ مُحَرَّمٌ عَلَیۡکُمۡ اِخۡرَاجُہُمۡ  ؕ اَفَتُؤۡمِنُوۡنَ بِبَعۡضِ الۡکِتٰبِ وَ تَکۡفُرُوۡنَ بِبَعۡضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ  مَنۡ یَّفۡعَلُ ذٰلِکَ مِنۡکُمۡ اِلَّا خِزۡیٌ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُرَدُّوۡنَ اِلٰۤی اَشَدِّ الۡعَذَابِ ؕ وَ مَا اللّٰہُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اشۡتَرَوُا الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا بِالۡاٰخِرَۃِ ۫ فَلَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا ہُمۡ یُنۡصَرُوۡنَ ﴿٪﴾   
Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian yang  teguh dari kamu bahwa:  “Kamu tidak akan menumpahkan darah sesamamu dan kamu tidak akan mengusir kaummu dari kampung halamanmu,” kemudian kamu mengikrarkannya dan kamu  menjadi saksi atasnya  Kemudian kamulah orang-orang yang membunuh satu sama lain dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung-halaman mereka, sambil membantu musuh-musuh mereka dalam dosa dan pelanggaran. Dan  jika mereka datang kepada kamu selaku tawanan, kamu menebus mereka, padahal pengusiran mereka telah diharamkan bagi kamu. Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab dan ingkar kepada sebagian lainnya? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang sangat keras, dan sesungguhnya Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.  Mereka inilah orang-orang yang telah membeli kehidupan dunia dengan akhirat, karena itu tidak diringankan dari mereka azab dan tidak pula mereka  akan ditolong. (Al-Baqarah [2]:85-87).
      Yang diisyaratkan  dalam ayat 85 mungkin perjanjian antara Nabi Besar Muhammad saw.  dengan kaum Yahudi Medinah, yaitu kedua pihak berjanji untuk tolong-menolong dalam melawan musuh bersama dan segala perselisihan akan disampaikan kepada beliau saw.  untuk mendapat keputusan (Sir Williams Muir’s “Life of Mohammad” dan Sirat Khātaman Nabiyyīn oleh   Mirza Basyir Ahmad M.A.).
       Di zaman  Nabi Besar Muhammad asw.  di Medinah tinggal tiga suku bangsa Yahudi, yaitu Banu Qainuqa, Banu Nadhir dan Banu Quraizhah; dan dua suku musyrik  yakni Aus dan Khazraj. Dua dari suku Yahudi itu, Banu Qainuqa dan Banu Quraizhah, berpihak kepada Aus, sedangkan Banu Nadhir kepada Khazraj.
         Jadi saat suku-suku musyrik itu sedang berada dalam keadaan perang satu sama lain, suku-suku Yahudi itu dengan sendirinya terlibat. Tetapi, bila di waktu perang ada orang-orang Yahudi yang ditawan oleh orang-orang musyrik, golongan Yahudi akan mengumpulkan uang dengan memungut iuran dan menebus mereka. Mereka memandang tidak pantas untuk seorang Yahudi berada dalam perbudakan orang bukan-Yahudi.

Pengabaian Terhadap Al-Quran

       Al-Quran menentang kebiasaan itu dengan mengatakan bahwa agama mereka bukan saja melarang memperbudak orang-orang Yahudi, tetapi juga melarang saling memerangi dan bunuh-membunuh yang sudah menjadi kebiasaan mereka. Tiada yang lebih buruk daripada menerima sebagian dari Kitab Suci dan menolak sebahagian yang lainnya, karena bila seseorang menerima sebagian dari suatu Kitab Suci, maka hal itu menjadi bukti akan kenyataan bahwa orang itu tidak meyakini kebenaran seluruhnya.
       Jadi penolakan sebagian Kitab merupakan bukti yang nyata mengenai pikiran sesat. Untuk larangan perbudakan orang-orang Yahudi, lihat Lewi 25:39-43, 47-49, 54-55 Nehemya. 5:8. Keadaan buruk seperti itulah yang saat ini terjadi  di umumnya negara-negara Muslim Timur Tengah, sehingga terjadi eksodus para pengungsi dari wilayah Timur Tengah  ke negara-negara Non Muslim di Eropa yang sangat  memprihatinkan.
        Sedemikian rupa  buruknya keadaan  pengabaian para pemuka umat Islam terhadap Kitab suci Al-Quran, sehingga membuat Rasul Akhir Zaman sangat bersedih hati, firman-Nya: 
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.  (Al-Furqān [25]:31).
       Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
        Ada sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad asw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang  di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan itu, sesuai firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  لِمَ  تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا  تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  کَبُرَ  مَقۡتًا عِنۡدَ  اللّٰہِ  اَنۡ  تَقُوۡلُوۡا مَا  لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan?  Adalah sesuatu yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu me-ngatakan apa yang tidak kamu kerjakan.  اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ    --  Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat. (Ash-Shaff [61]:3-5).
   Dalam ayat 3 Allah Swt. memperingatkan bahwa perbuatan seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya, sebab bicara sombong dan kosong membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.

Janji Allah Swt. Mengenai Akan Berdirinya Khilafat Atas Acuan Kenabian

  Kenyataan  buruk seperti itu telah dilakukan pula oleh golongan Ahli Kitab sebelumnya, firman-Nya:
اَتَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبِرِّ وَ تَنۡسَوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ تَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca  Kitab  itu maka apakah  kamu tidak berpikir? (Al-Baqarah [2]:45).
       Birr (kebajikan)  dalam ayat اَتَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبِرِّ وَ تَنۡسَوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ   --  “Apakah kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri” berarti: berbuat baik terhadap keluarga dan lain-lain; kejujuran; kesetiaan; ketakwaan; kepatuhan kepada Allah Swt.  (Al-Aqrabul-Mawarid). Kata birr  itu berarti pula kebaikan atau kebajikan yang berlimpah-limpah (Al-Mufradat).  Dalam kenyataannya   mereka melakukan hal-hal yang sebaliknya dengan berbagai arti kata birr tersebut.
       “Alkitab” dalam ayat selanjutnya  وَ اَنۡتُمۡ تَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ --  “padahal kamu membaca  Kitab  itu” di sini tertuju kepada Bible, tetapi anak kalimat padahal kamu membaca Kitab itu tidak mengandung arti bahwa semua isi Bible diterima sebagai benar,  akibat dari perbuatan buruk  yang mereka lakukan terhadap  Bible  karena mengubah-ubah ayat-ayat Kitab   sesuai keinginan hawa-nafsu mereka merupakan kebiasaan di kalangan mereka (QS.2:43;  QS.3:72, 79-81).
       Setelah memperingatkan umat Islam  untuk tidak mengikuti perbuatan  buruk golongan Ahli-Kitab – khususnya para pemuka Yahudi  (QS.61:2) --   dalam ayat selanjutnya Allah Swt.  berfirman:  اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ    -- Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat. (Ash-Shaff [61]:5).
    Orang-orang Muslim diharapkan tampil dalam barisan yang rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah komando seorang  pemimpin mereka, yang terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya. Tetapi suatu kaum, yang berusaha menjadi satu Jemaat yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu tata-cara hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan satu rencana untuk mencapai tujuan itu.
  Di  Akhir Zaman ini semua hal tersebut ada dalam Jemaat Muslim Ahmadiyah yang merupakan pemenuhan janji Allah Swt.  dalam Al-Quran mengenai  berdirinya kembali silsilah khilafat kenabian  di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebe-lum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah ketakutan mereka. یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا --  Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku,  وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ -- dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka.  (An-Nūr [24]:56).
        Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.24:55 berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan rasul-Nya. Tekanan masalah ketaatan  ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.

Empat Martabat Ruhani Bagi para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.

        Janji Allah Swt. itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat atau khalifah akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus  Nabi Besar Muhammad saw.  serta wakil seluruh umat Islam.
      Janji Allah Swt. mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham. Oleh sebab kini Nabi Besar Muhammad saw.  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32), khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ   --  maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  -- Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ -- Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”,  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ -- kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33)
         Ayat 32  dengan tegas menyatakan bahwa  dengan diutus-Nya  Nabi Besar Muhammad saw. maka tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti beliau saw.. Ayat ini  pun melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan). Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allāh memberi nikmat kepada mereka مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  --  yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui  (An-Nisā [4]:70-71).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 13 September 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar