بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 38
Eksodus Bernuansa “Agama”
dari Benua Afrika dan Wilayah Timur
Tengah ke Negara-negara Non-Muslim
yang Sangat Memprihatinkan &
Pengulangan Pelanggaran Perjanjian Bani Israil dengan Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai beberapa sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai Sifat-sifat
sempurna Allah Swt. yang dibukakan
Allah Swt. kepada beliau sebagai Rasul
Akhir Zaman, yang kedatangannya ditunggu-tunggu
oleh berbagai umat beragama dengan nama yang berbeda -- seakan-akan merupakan kedatangan kedua kali para rasul Allah (QS.77:12) -- sehingga
berbagai pemahaman mengenai
Allah Swt. yaitu Tuhan Maha Pencipta yang Hakiki, yang sudah menyimpang
jauh dari ajaran asli para rasul Allah yang diutus kepada mereka (QS.5:20;
QS.30:42-44; QS.57:17-18), bukan saja diluruskan
lagi, bahkan dijelaskan pula rahasia-rahasia
gaib-Nya yang baru, sebagaimana firman-Nya:
عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya
Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu (Al-Jin
[72]:27-29). Lihat pula QS.3:180.
Firman-Nya lagi:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ
ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ
قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ
بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil kesaksian dari
bani Adam yakni dari sulbi keturunan mereka
serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman:
اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami
menjadi saksi.” اَنۡ
تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- Hal itu supaya kamu
tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami
benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً
مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya
bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami
hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan
membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang
yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah
Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali
kepada yang haq (Al-A’rāf [7]:1173-175).
Hakikat “Kesaksian Ruh” Mengenai Tauhid Ilahi dan
Hubungannya Munculnya “Kemusyrikan”
di Kalangan Umat beragama
Ayat 173
menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat
manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31). Atau
ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan
menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari sulbi bani Adam” maksudnya umat
dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus
(QS.7:35-36).
Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap pengutusan rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37) itulah yang
mendorong timbulnya pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- “Bukankah Aku Tuhan kamu?” karena pada saat itu keimanan
kepada “Tauhid Ilahi” yang tertanam
dalam ruh (jiwa) manusia terkubur dalam berbagai bentuk “kemusyrikan” (syirik) akibat umat
beragama semakin jauh dari
masa kenabian yang penuh berkat (QS.30:42-44), firman-Nya:
اَلَمۡ
یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ
الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang
yang beriman, bahwa hati mereka
tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat kebenaran
yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ -- maka zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا -- Ketahuilah, bahwasanya Allah cmenghidupkan bumi
sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ
-- Sungguh Kami telah menjelaskan
Tanda-tanda kepadamu supaya kamu
mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
Salah
satu tanda bahwa kemusyrikan telah
merasuki umat beragama adalah
terjadinya perpecahan di kalangan mereka, firman-Nya:
فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ
اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ
الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾ مُنِیۡبِیۡنَ
اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾ مِنَ الَّذِیۡنَ
فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا
شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah kamu kepada agama yang
lurus, yaitu fitrat Allah,
yang atas dasar itu Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ -- Kembalilah kamu kepada-Nya
dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat, وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ الَّذِیۡنَ
فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا
شِیَعًا ؕ -- yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ
حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ -- tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar-Rūm
[30]:31-33).
Terhadap “kemusyrikan”
(syirik) jenis itulah Allah Swt. dalam Al-Quran telah memperingatkan umat Islam
untuk tetap berpegang-teguh
pada “tali Allah” agar mereka tidak terpecah-belah (QS.3:103-105). Tteapi karena umat Islam
melalaikan peringatan Allah Swt.
tersebut maka Sunnatullah yang terjadi pada
golongan Ahli Kitab (Yahudi
dan Nashrani) terjadi pula di kalangan umat Islam, sehingga genaplah sabda Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai adanya persamaan
antara umat Islam dengan umat sebelumnya (golongan Ahli Kitab)
bagaikan persamaan sepasang sepatu (Bukhari,
Kitab At-Tafsir).
Persamaan Dalam Keburukan
Antara Bani Ismail dan Bani Israil
Dari sekian banyak persamaan tersebut salah satunya adalah pengusiran sesama Muslim oleh golongan Muslim lainnya dari tanah air
mereka, seperti yang saat ini marak
terjadi di Timur Tengah, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذۡنَا مِیۡثَاقَکُمۡ لَا تَسۡفِکُوۡنَ دِمَآءَکُمۡ وَ لَا تُخۡرِجُوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ
ثُمَّ اَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَنۡتُمۡ تَشۡہَدُوۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ اَنۡتُمۡ ہٰۤـؤُلَآءِ تَقۡتُلُوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ وَ تُخۡرِجُوۡنَ فَرِیۡقًا مِّنۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِہِمۡ ۫ تَظٰہَرُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ بِالۡاِثۡمِ وَ
الۡعُدۡوَانِ ؕ وَ اِنۡ یَّاۡتُوۡکُمۡ اُسٰرٰی تُفٰدُوۡہُمۡ وَ ہُوَ مُحَرَّمٌ عَلَیۡکُمۡ
اِخۡرَاجُہُمۡ ؕ اَفَتُؤۡمِنُوۡنَ بِبَعۡضِ الۡکِتٰبِ وَ
تَکۡفُرُوۡنَ بِبَعۡضٍ ۚ فَمَا
جَزَآءُ مَنۡ یَّفۡعَلُ ذٰلِکَ مِنۡکُمۡ اِلَّا خِزۡیٌ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُرَدُّوۡنَ اِلٰۤی اَشَدِّ
الۡعَذَابِ ؕ وَ مَا
اللّٰہُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ
اشۡتَرَوُا الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا بِالۡاٰخِرَۃِ ۫ فَلَا یُخَفَّفُ
عَنۡہُمُ
الۡعَذَابُ وَ لَا ہُمۡ یُنۡصَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
ketika Kami mengambil perjanjian
yang teguh dari kamu bahwa:
“Kamu tidak akan menumpahkan
darah sesamamu dan kamu tidak
akan mengusir kaummu dari kampung
halamanmu,” kemudian kamu mengikrarkannya
dan kamu menjadi saksi atasnya Kemudian kamulah
orang-orang yang membunuh satu sama lain dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung-halaman mereka, sambil membantu musuh-musuh mereka dalam dosa dan pelanggaran. Dan jika mereka
datang kepada kamu selaku tawanan,
kamu menebus mereka, padahal pengusiran mereka telah diharamkan bagi kamu.
Apakah kamu beriman kepada sebagian
Alkitab dan ingkar kepada sebagian
lainnya? Maka tidak ada balasan
bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang sangat keras,
dan sesungguhnya Allah tidak lengah
terhadap apa yang kamu kerjakan. Mereka inilah orang-orang yang telah membeli kehidupan dunia dengan akhirat, karena itu tidak diringankan dari mereka azab dan tidak pula mereka akan ditolong. (Al-Baqarah
[2]:85-87).
Yang diisyaratkan dalam ayat 85 mungkin perjanjian antara Nabi Besar
Muhammad saw. dengan kaum Yahudi Medinah, yaitu kedua pihak berjanji untuk tolong-menolong dalam melawan musuh
bersama dan segala perselisihan
akan disampaikan kepada beliau saw. untuk mendapat keputusan (Sir Williams Muir’s
“Life of Mohammad” dan Sirat Khātaman Nabiyyīn oleh Mirza
Basyir Ahmad M.A.).
Di
zaman Nabi Besar Muhammad asw. di Medinah
tinggal tiga suku bangsa Yahudi, yaitu Banu Qainuqa, Banu Nadhir
dan Banu Quraizhah; dan dua suku musyrik
yakni Aus dan Khazraj. Dua dari suku Yahudi itu, Banu Qainuqa dan Banu Quraizhah, berpihak kepada Aus,
sedangkan Banu Nadhir kepada Khazraj.
Jadi saat suku-suku
musyrik itu sedang berada dalam keadaan perang
satu sama lain, suku-suku Yahudi itu
dengan sendirinya terlibat. Tetapi, bila di waktu perang ada orang-orang Yahudi yang ditawan oleh orang-orang musyrik, golongan Yahudi akan mengumpulkan uang dengan memungut iuran
dan menebus mereka. Mereka memandang tidak pantas untuk seorang Yahudi berada dalam perbudakan
orang bukan-Yahudi.
Pengabaian Terhadap Al-Quran
Al-Quran menentang kebiasaan itu dengan mengatakan bahwa agama mereka bukan saja melarang memperbudak orang-orang Yahudi, tetapi juga melarang saling memerangi
dan bunuh-membunuh yang sudah menjadi
kebiasaan mereka. Tiada yang lebih buruk daripada menerima sebagian dari Kitab Suci
dan menolak sebahagian yang lainnya,
karena bila seseorang menerima sebagian
dari suatu Kitab Suci, maka hal itu menjadi bukti akan kenyataan bahwa orang
itu tidak meyakini kebenaran seluruhnya.
Jadi penolakan sebagian Kitab merupakan bukti
yang nyata mengenai pikiran sesat.
Untuk larangan perbudakan orang-orang Yahudi, lihat Lewi 25:39-43, 47-49,
54-55 Nehemya. 5:8. Keadaan buruk seperti itulah yang saat ini
terjadi di umumnya negara-negara Muslim Timur Tengah, sehingga terjadi eksodus para pengungsi dari wilayah Timur Tengah ke negara-negara Non Muslim di Eropa yang sangat
memprihatinkan.
Sedemikian rupa buruknya keadaan pengabaian
para pemuka umat Islam terhadap Kitab
suci Al-Quran, sehingga membuat Rasul
Akhir Zaman sangat bersedih hati,
firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah
ditinggalkan. (Al-Furqān
[25]:31).
Ayat
ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan
diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali
belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan
dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad asw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari
Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir
Zaman inilah saat yang dimaksudkan itu, sesuai firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ
تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ کَبُرَ
مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ اَنۡ
تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan? Adalah sesuatu
yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu me-ngatakan apa yang tidak kamu kerjakan. اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ
یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا
کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ مَّرۡصُوۡصٌ -- Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun
rapat. (Ash-Shaff [61]:3-5).
Dalam ayat 3 Allah
Swt. memperingatkan bahwa perbuatan
seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya, sebab bicara sombong dan kosong
membawa seseorang tidak keruan kemana
yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.
Janji Allah Swt. Mengenai Akan Berdirinya
Khilafat Atas Acuan Kenabian
Kenyataan buruk seperti itu telah dilakukan pula oleh
golongan Ahli Kitab sebelumnya,
firman-Nya:
اَتَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبِرِّ وَ تَنۡسَوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ
تَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan
sedangkan kamu melupakan dirimu
sendiri, padahal kamu membaca Kitab itu maka apakah kamu
tidak berpikir? (Al-Baqarah [2]:45).
Birr (kebajikan) dalam ayat اَتَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبِرِّ وَ
تَنۡسَوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ -- “Apakah
kamu menyuruh orang lain berbuat
kebajikan sedangkan kamu
melupakan dirimu sendiri” berarti: berbuat baik terhadap keluarga dan
lain-lain; kejujuran; kesetiaan; ketakwaan; kepatuhan kepada Allah Swt. (Al-Aqrabul-Mawarid).
Kata birr itu berarti pula kebaikan atau kebajikan yang
berlimpah-limpah (Al-Mufradat). Dalam kenyataannya mereka melakukan hal-hal yang sebaliknya dengan berbagai arti kata birr tersebut.
“Alkitab”
dalam ayat selanjutnya وَ اَنۡتُمۡ
تَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ --
“padahal kamu membaca Kitab itu” di sini tertuju kepada Bible, tetapi anak kalimat padahal
kamu membaca Kitab itu tidak mengandung arti bahwa semua isi Bible diterima sebagai benar, akibat dari perbuatan buruk yang mereka lakukan terhadap Bible
karena mengubah-ubah ayat-ayat Kitab
sesuai keinginan hawa-nafsu
mereka merupakan kebiasaan di
kalangan mereka (QS.2:43; QS.3:72,
79-81).
Setelah memperingatkan umat Islam
untuk tidak mengikuti perbuatan
buruk golongan Ahli-Kitab – khususnya para pemuka Yahudi (QS.61:2) --
dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ -- Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun
rapat. (Ash-Shaff [61]:5).
Orang-orang Muslim diharapkan tampil dalam barisan yang rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah komando seorang pemimpin
mereka, yang terhadapnya mereka harus
taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya. Tetapi suatu kaum,
yang berusaha menjadi satu Jemaat
yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu
tata-cara hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan satu rencana untuk mencapai tujuan itu.
Di Akhir
Zaman ini semua hal tersebut ada dalam Jemaat
Muslim Ahmadiyah yang merupakan pemenuhan
janji Allah Swt. dalam Al-Quran
mengenai berdirinya kembali silsilah khilafat kenabian di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
dan beramal saleh di antara kamu niscaya Dia akan menjadikan mereka itu
khalifah di bumi ini sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang yang sebe-lum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya
yang telah Dia ridhai bagi mereka,
dan niscaya Dia akan mengubah keadaan
mereka dengan ke-amanan sesudah ketakutan mereka. یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ
لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا -- Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, وَ مَنۡ
کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡفٰسِقُوۡنَ -- dan barangsiapa
kafir sesudah itu mereka itulah orang-orang durhaka. (An-Nūr [24]:56).
Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan
untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.24:55
berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah Swt.
dan rasul-Nya. Tekanan masalah ketaatan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan
seorang khalifah dalam Islam.
Ayat ini berisikan janji bahwa
orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
Empat Martabat Ruhani
Bagi para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.
Janji Allah Swt. itu diberikan
kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat atau khalifah akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang
akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam.
Janji
Allah Swt. mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak
dapat menimbulkan salah paham. Oleh
sebab kini Nabi Besar Muhammad saw. satu-satunya hadi (petunjuk
jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32), khilafat beliau saw. akan terus berwujud
dalam salah satu bentuk di dunia
ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat
yang lain telah tiada lagi, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ
تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ
یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ -- maka ikutilah
aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ -- Dan
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” قُلۡ اَطِیۡعُوا
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ -- Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, فَاِنۡ تَوَلَّوۡا
فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡکٰفِرِیۡنَ -- kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir.
(Ali
‘Imran [3]:32-33)
Ayat 32 dengan tegas menyatakan bahwa dengan diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. maka tujuan
memperoleh kecintaan Ilahi sekarang
tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti beliau saw.. Ayat ini pun melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat
saja sudah cukup untuk memperoleh najat
(keselamatan). Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allāh memberi nikmat kepada
mereka مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ
ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- yakni:
nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui (An-Nisā [4]:70-71).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 13 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar