بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 49
Makna “Peniupan
Ruh” Allah Kepada Maryam binti ‘Imran dan Sebutan “Kalimah Allah” Kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Pentingnya
Melaksanakan Ibadah-ibadah Fardhu dan
Nafal (Tambahan)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan mengenai sabda Masih Mau’ud
a.s. tentang keistimewaan
lainnya dari hamba-hamba Allah
Swt. yang memiliki makrifat
Ilahi yang beliau
kemukakan sebelumnya:
“Hukum alam yang ditetapkan Tuhan dan norma-norma
alamiah yang sudah ada sejak penciptaan
manusia, mengajarkan kepada kita bahwa untuk menciptakan hubungan
yang erat dengan Tuhan
diperlukan pengalaman mengenai Sifat
Maha Penyayang dan Maha
Indah Allah Swt..
Ada pun yang dimaksud dengan Sifat Maha Penyayang adalah contoh-contoh (bukti-bukti) dari Sifat akhlak Allah Yang Maha Kuasa yang
pernah dialami manusia dalam dirinya sendiri.
Sebagai contoh, Allah telah menjadi Penjaga-nya ketika ia sedang tidak berdaya,
lemah dan yatim. Atau Tuhan telah memenuhi kebutuhannya ketika sedang kekurangan,
atau bisa jadi Allah Swt. telah melipurnya
pada saat sedang dilanda kesedihan.
Bisa jadi Tuhan telah membimbingnya tanpa perantara seorang guru atau pengajar dalam pencahariannya di jalan Allah Swt….. (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 186).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Yang dimaksud dengan Keindahan-Nya
adalah Sifat-sifat yang muncul dalam
kemasan kasih-sayang, seperti Sifat-Nya
Yang Maha Sempurna, Maha Lembut, Maha Penyayang atau
Rahīmiyat, atau Sifat Rabubiyat-Nya yang umum serta semua karunia yang bisa dinikmati manusia untuk kenyamanan mereka. Di samping itu
adalah pengetahuan milik-Nya
yang dikucurkan melalui para rasul-Nya agar manusia bisa menyelamatkan dirinya dari kematian dan kemudharatan.
Begitu juga dengan Sifat-Nya Yang Maha Mendengar permohonan doa
mereka yang sedang gelisah dan lelah. Begitu pula kecenderungan-Nya
kepada mereka yang cenderung kepada-Nya. Semua ini
terangkum dalam Keindahan Tuhan. Berkat pengalamannya
atas Sifat-sifat Ilahi demikian,
seseorang memperoleh peneguhan keimanan dimana jiwanya menjadi tertarik kepada Allah Swt. sebagaimana besi tertarik oleh magnit,
sehingga kecintaan manusia
itu kepada Tuhan-nya menjadi berlipat-ganda dan keimanannya menjadi
jauh lebih kuat.
Memperhatikan bahwa semua kemaslahatan
dirinya adalah bersama Tuhan
maka harapannya kepada Tuhan menjadi bertambah kuat dan ia akan menjadi lebih cenderung lagi kepada-Nya
serta menggantungkan diri sepenuhnya
kepada Tuhan dalam segala hal dan setiap saat. Ia merasa pasti akan berhasil karena ia telah merasakan
sendiri banyak contoh dari rahmat,
berkat dan kemurahan hati Ilahi.
Ibadahnya
akan bersumber pada kekuasaan dan keyakinan
sehingga keteguhan hatinya menjadi mantap.
Setelah menyadari karunia dan berkat
Ilahi maka nur keyakinan secara gencar
merasuki kalbunya dimana perasaan egonya lalu menjadi sirna. Berkat renungan berulang-kali akan kebesaran dan kekuasaan
Tuhan, hatinya telah menjadi Rumah Allah. Sebagaimana nyawa
tidak meninggalkan diri manusia
selama yang bersangkutan masih hidup,
begitu juga keyakinan akan Tuhan
Yang Maha Kuasa, Maha Agung,
yang masuk ke dalam hatinya tidak
akan pernah lagi meninggalkannya. Jiwanya yang suci bergolak
sepanjang waktu di dalam dirinya dan ia berbicara hanya di bawah petunjuk
jiwanya itu.
Kebenaran dan wawasan
mengalir dari dirinya sedangkan tenda Allah Yang Maha Agung dan
Maha Luhur selalu tegak di dalam hatinya. Kegembiraan karena keyakinan, ketulusan
dan kecintaan mengalir di seluruh tubuhnya seolah air
yang menghidupi seluruh anggota tubuh. Sinar mata dan keningnya mencerminkan kecemerlangan nur Ilahi.
Penampilannya gemilang seolah-olah
baru habis dibasuh dengan hujan
rahmat Ilahi, sedangkan lidahnya menjadi ikut disegarkan. Semua anggota tubuhnya memancar terang seperti hujan
musim semi yang menyegarkan cabang,
daun dan bunga-bunga serta buah
pepohonan..
Tubuh
mereka yang belum pernah didatangi ruh
seperti ini sama saja seperti sebuah bangkai. Kesegaran dan kegembiraan
yang ditimbulkan tidak dapat diuraikan
dengan kata-kata dan tak akan pernah
bisa dicapai oleh kalbu
yang mati yang belum pernah disegarkan
oleh sumber nur dan keyakinan, bahkan kalbu
demikian itu berbau busuk.
Adapun mereka yang telah memperoleh karunia nur ini dan di dalam kalbunya
telah mengalir sumber mata air nur, maka ia akan menerima kuasa Allah Swt. dalam segala kata
dan perbuatannya setiap saat
dan dalam semua keadaan. Semua itu
menjadi kegembiraan serta kenyamanan baginya dan ia tidak bisa hidup tanpa hal itu.” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 186-187).
Hakikat Misal Maryam Binti 'Imran & Makna Lain "Peniupan Ruh" Allah Kepada Maryam Binti 'Imran
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut sejalan
dengan firman Allah Swt. mengenai
proses kelahiran ruhani dari tingkatan ruhani Maryam binti ‘Imran menjadi tingkatan
ruhani Isa Ibnu Maryam a.s. yang
secara jasmani beliau dilahirkan
tanpa peran-serta seorang ayah jasmani
seorang laki-laki, karena ibunya
merangkap juga sebagai ayahnya,
karena itu beliau disebut Al-Masih Ibnu Maryam
(QS.3:46-50), firman-Nya:
وَ
مَرۡیَمَ ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ الَّتِیۡۤ
اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا
فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا
وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami, dan ia meng-genapi firman Rabb-nya
(Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, وَ کَانَتۡ مِنَ
الۡقٰنِتِیۡنَ -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh (At-Tahrim [66]:13).
Salah satu maknanya adalah bahwa orang-orang
bertakwa pada tingkat ruhani
Maryam binti ’Imran, sebagaimana
halnya mengandungnya gadis Maryam
sama sekali tidak berkaitan dengan peran manusia melainkan sepenuhnya
merupakan “peniupan ruh” dari Allah
Swt., firman-Nya:
وَ الَّتِیۡۤ اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا فِیۡہَا مِنۡ
رُّوۡحِنَا وَ جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ
اٰیَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
Maryam perempuan yang memelihara
kesuciannya, فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا فِیۡہَا مِنۡ رُّوۡحِنَا -- maka Kami
meniupkan kepadanya ruh Kami,
وَ
جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ اٰیَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ -- dan Kami menjadikan dia dan anaknya
suatu Tanda untuk seluruh
alam (Al-Anbiya [21]:92).
Ayat ini membantah fitnahan-fitnahan keji yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi
terhadap Siti Maryam dan juga
terhadap Nabi Isa Ibnu maryam a.s.
(QS.4:156-159). Ayat ini dapat pula diterapkan kepada siapa pun yang menjalani kehidupan yang bertakwa dan lurus.
Dalam QS.66:13 suatu golongan tertentu dari orang-orang mukmin dipersamakan dengan Maryam binti ‘Imran. Setiap orang dari
antara orang-orang mukmin yang mempunyai ketakwaan
seperti itu, seolah-olah menjadi Maryam binti ‘Imran, dan ketika Allah
Swt. meniupkan ke dalam dirinya ruh-Nya,
ia menjadi seorang “anak Maryam”
yakni ia mencerminkan Sifat-sifat Tuhan
seperti yang dimiliki Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., firman-Nya:
وَ
مَرۡیَمَ ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ الَّتِیۡۤ
اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا
فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا
وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami, dan ia menggenapi
firman/kalimat Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, وَ کَانَتۡ مِنَ
الۡقٰنِتِیۡنَ -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh (At-Tahrim [66]:13).
Makna ayat وَ
جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ اٰیَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ -- dan Kami menjadikan dia dan anaknya suatu Tanda untuk seluruh
alam (Al-Anbiya [21]:92), sangat malang sebagian orang yang
berpendapat, bahwa kecuali Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dan ibunya (Maryam binti
‘Imran), tidak ada seseorang pun sebagai Tanda
kebenaran. Padahal setiap ayat
Al-Quran disebut Tanda (bukti) kebenaran (Kamus Taj-ul-‘Arus).
Al-Quran ini seluruh ayatnya turun kepada Nabi Besar Muhammad saw. sehingga wujud
beliau saw. adalah kumpulan seluruh Tanda kebenaran. Itulah sebabnya sebutan nur (cahaya) bagi Al-Quran kadangkala dipergunakan juga untuk Nabi
Besar Muhammad saw. (QS:5:16; QS.7:158; QS.39:70:64:9), sehingga beliau saw. dalam
Al-Quran disebut Nur di atas nur (Cahaya di atas cahaya – QS.24:36).
Lagi pula Allah Swt. dalam
Al-Quran menyebut Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. sebagai kalimat-Nya:
اِذۡ
قَالَتِ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یٰمَرۡیَمُ اِنَّ اللّٰہَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَۃٍ مِّنۡہُ
٭ۖ اسۡمُہُ الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ وَجِیۡہًا فِی الدُّنۡیَا وَ
الۡاٰخِرَۃِ وَ مِنَ الۡمُقَرَّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Ingatlah ketika para malaikat berkata: “Hai Maryam,
sesungguhnya Allāh
memberi engkau kabar gembira dengan satu
kalimat dari-Nya tentang
kelahiran seorang anak laki-laki namanya Al-Masih Isa Ibnu
Maryam, yang dimuliakan di dunia serta di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang yang didekatkan kepada Allāh.
(Āli ‘Imran [3]:45).
Kalimah
berarti: sebuah kata, putusan, perintah (Al-Mufradat).
Kata ini bersama-sama dengan kata ruh yang terdapat dalam QS.4:172,
menjelaskan tanpa sekelumit pun keraguan
bahwa jauh dari membenarkannya, bahkan kata-kata
itu dipakai untuk menghancurkan dan menolak paham yang menganggap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah Tuhan dan anak Tuhan.
Makna Lain Sebutan Kalimatullāh &
Keunggulan Sebutan Dzikr Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw.
Dalam ayat ini Nabi Isa a.s.
disebut Kalimatullāh, karena kata-kata (ucapan-ucapan) beliau membantu
untuk kepentingan Kebenaran. Seperti
halnya orang yang membela kepentingan kebenaran
dengan keberaniannya disebut Saifullāh (Pedang Allah) atau Asadullāh
(Singa Allah), demikian pula Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. disebut Kalimatullāh, sebab kelahirannya tidak terjadi dengan
perantaraan seorang ayah dari kalangan laki-laki melainkan atas “perintah”
langsung dari Allah Swt. (QS.19:22).
Selain arti harfiah yang
tercantum di atas, Al-Quran telah memakai kata kalimah dalam arti-arti
berikut: (1) “Tanda” (QS.66:13 dan QS.8:8); (2) “hukuman” (QS.10:97); (3)
“rencana” atau “rancangan” (QS.9:40); (4) “kabar gembira” (QS.7:138); (5)
“ciptaan Tuhan” (QS.18:110); (6) “semata-mata ucapan” atau “semata-mata
pernyataan” (QS.23:101).
Diambil
dalam rangkuman salah satu arti di atas, penggunaan kata kalimah
mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sekali-kali tidak memberikan
kepada beliau suatu martabat yang
lebih tinggi daripada nabi-nabi Allah
lainnya, apalagi lebih mulia daripada
Nabi Besar Muhammad saw., yang disebut Nabi Isa Ibnu Maryam as. (Yesus) sebagai
“Roh Kebenaran” yang akan membawa seluruh kebenaran (Yohanes 16:12-13).
Tambahan pula, bila Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. disebut Kalimah
dalam Al-Quran, sedangkan Nabi Besar
Muhammad saw. telah disebut Dzikr, artinya Kitab atau nasihat yang baik
(QS.15:10; QS.36:70-71; QS.65:11-12), yang tentunya terdiri atas banyak kalimat.
Pada hakikatnya, bila Kalimatullah
diambil dalam arti “Firman Allah”, paling-paling
kita hanya dapat mengatakan bahwa Allah
Swt. telah menyatakan Diri-Nya lewat Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. seperti halnya Dia menyatakan Diri-Nya melalui para nabi Allah lainnya.
Kata-kata (kalimat) tidak lain
hanya wahana untuk pengungkapan pikiran-pikiran. Kata-kata
(kalimat) tidak merupakan bagian wujud kita dan tidak pula menjadi titisan manusia. Jadi kembali kepada firman-Nya:
وَ الَّتِیۡۤ اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا فِیۡہَا مِنۡ
رُّوۡحِنَا وَ جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ
اٰیَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
Maryam perempuan yang memelihara
kesuciannya, فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا فِیۡہَا مِنۡ رُّوۡحِنَا -- maka Kami
meniupkan kepadanya ruh Kami,
وَ
جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ اٰیَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ -- dan Kami menjadikan dia dan anaknya suatu Tanda untuk seluruh
alam (Al-Anbiya [21]:92).
Bahwa
sebagaimana kehamilan yang
terjadi pada Maryam binti ‘Imran adalah semata-mata karena “peniupan
ruh” dari-Nya, demikian pula perkembangan ruhani yang terjadi di kalangan orang-orang
bertakwa pada tingkatan ruhani Maryam
binti ‘Imran (QS.66:13) pun adalah
semata-mata karena peran wahyu
Ilahi mulai mempengaruhi hatinya,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَتَّقُوا
اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ
یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو
الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا -- Dia akan menjadikan bagi kamu
pembeda, وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ -- dan Dia
akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan
kamu, dan Dia akan mengampuni kamu
kamu, وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ -- dan Allah Memiliki karunia yang sangat besar (Al-Anfāl
[8]:30). QS.8:6; QS.63:10; QS.66:9.
Pentingnya Kedawaman Melaksanakan Shalat
Fardhu dan Shalat
Nafal (Tambahan), Terutama Shalat
Tahajjud
Furqān berarti: (1) sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang salah; (2) bukti atau bahan bukti atau dalil; (3) bantuan atau
kemenangan, dan (4) fajar (Lexicon
Lane). Menurut Allah Swt. dalam
Al-Quran kedawaman melaksanakan shalat
tahajjud memberikan peran besar
dalam upaya memperoleh furqān
tersebut, sehingga mampu mengalahkan
berbagai bentuk kebathilan
(kepalsuan/kedustaan), firman-Nya:
اَقِمِ
الصَّلٰوۃَ لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی
غَسَقِ الَّیۡلِ وَ قُرۡاٰنَ
الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ قُرۡاٰنَ
الۡفَجۡرِ کَانَ مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾ وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾ وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ
اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا
نَّصِیۡرًا ﴿﴾ وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ
الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan
malam dan bacalah Al-Quran
pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh
disaksikan secara istimewa oleh Allah. وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ -- Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya,
suatu ibadah tambahan bagi engkau, عَسٰۤی
اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا
مَّحۡمُوۡدًا -- boleh
jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang
sangat terpuji. وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ
صِدۡقٍ -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan
cara masuk yang baik serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ
لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا -- dan jadikanlah bagiku dari hadirat
Engkau kekuatan yang menolong.” وَ قُلۡ
جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ
زَہُوۡقًا -- Dan katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah
datang dan kebatilan telah lenyap,
sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap (Bani
Israil [17]:79-82).
Dalakat asy-syamsu berarti: (1)
matahari condong sesudah mencapai titik puncaknya pada tengah hari; (2)
matahari menjadi kekuning-kuningan; (3) matahari terbenam. Ghasaq
berarti, kegelapan malam, atau ketika warna merah di kaki langit lenyap sesudah
matahari terbenam (Lexicon Lane).
Nampaknya ayat 79 menunjuk kepada saat-saat untuk mendirikan
shalat 5 waktu sehari. Tiga arti dulūk menunjukkan saat untuk shalat
Zuhur, Ashar, dan Maghrib. Untuk ghasaqil-lail meliputi saat untuk
shalat Magrib, tetapi khususnya menunjuk kepada shalat Isya, dan kata-kata qur’an
al-fajr (bacalah Al-Quran di waktu
fajar) menunjuk kepada saat shalat Subuh.
Shalat
Fardhu dan Shalat Nafal Merupakan
Karunia Khas dari Allah Swt.
Sebagai
arti tambahan pada ayat وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ
نَافِلَۃً لَّکَ -- “dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya,
suatu ibadah tambahan bagi engkau” yang diberikan dalam terjemahan
teks, nāfilah berarti karunia
yang khas, dan mengandung arti bahwa shalat-shalat itu bukan suatu beban yang hanya meletihkan tubuh, melainkan suatu kesempatan istimewa dan karunia
khas dari Allah Swt. sebagai
ketemngan hadits Qudsi berikut ini:
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Allah telah berfirman : “Tidak ada
sesuatu yang dilakukan oleh salah seorang di antara hamba-hamba-Ku yang
mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku sukai ketimbang (melaksanakan)
kewajiban-kewajiban yang telah Kutetapkan kepadanya. Dia (sang hamba)
mendekatkan dirikepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah) sehingga Aku
mencintainya. Jika Aku telah mencintai-Nya, maka Aku menjadi telinganya yang
dengannya ia mendengar, menjadi matanya yang dengannya ia melihat dan menjadi
tangannya yang dengannya ia memegang. Jika ia memohon kepada-Ku pasti Aku
kabulkan dan seandainya ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri” (Imam Bukhâri)
Makna ayat selanjutnya: عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا -- “boleh jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat
terpuji.” Barangkali tiada orang yang pernah begitu dibenci
dan dimaki seperti Nabi Besar
Muhammad saw., tetapi kemudian sungguh tidak ada wujud lain yang menerima begitu banyak pujian Allah Swt. dan
menjadi penadah begitu banyak rahmat dan berkat Ilahi seperti beliau saw..
Shalat Tahajjud paling cocok
untuk orang beriman guna mencapai kemajuan
ruhaninya, karena dalam kesunyian malam dalam keadaan menyendiri di hadapan Sang Khaliq-nya ia menikmati perhubungan khas dengan Allah
Swt., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat
suri teladan yang
sebaik-baiknya bagi kamu,
yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang
banyak mengingat Allah (Al-Ahzāb
[33]:22).
Kesaksian Penulis Non-Muslim Mengenai Kesempurnaan Akhlak dan Ruhani
Nabi Besar Muhammad Saw.
Pertempuran Khandak mungkin merupakan
percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan seperti Nabi Besar Muhammad saw., dan beliau saw.
keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
Sesungguhnyalah pada saat yang sangat
berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam
sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan
bahwa seperti Nabi Besar Muhammad saw. baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan
dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain
menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak seperti Nabi Besar Muhammad saw. yang indah,
dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas
Mekkah) memperlihatkan watak beliau saw.
lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat beliau saw. atau mengecutkan
hati beliau, begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari
Pertempuran Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau
tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh
seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku
nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan
tatkala Mekkah jatuh dan seluruh
tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan
yang mutlak dan tak tersaingi itu
tidak kuasa merusak beliau saw..
Beliau saw. menunjukkan keluhuran budi (akhlak) yang tiada
taranya terhadap musuh-musuh beliau saw..
Kesaksian
lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak Nabi Besar
Muhammad saw.. selain
kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau saw. dan yang
paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan
merupakan yang pertama-tama percaya akan misi beliau, yakni, istri beliau yang
tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau sepanjang hayat, Abu Bakar r.a.;
saudara sepupu yang juga menantu beliau, Al bin Abi Thalib r.a., dan bekas
budak beliau saw. yang telah dimerdekakan, Zaid bin Haritsah r.a., Nabi Besar
Muhammad saw. merupakan
contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna
dalam keindahan dan kebajikan.
Dalam segala segi kehidupan dan watak Nabi Besar Muhammad saw. yang beraneka
ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh
yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti. Seluruh
kehidupan beliau saw. nampak dengan
jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot
sejarah. Nabi Besar Muhammad saw. mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib
seluruh bangsa.
Sebagai kanak-kanak beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia
remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak,
ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau saw. mendapat julukan Al-Amin (si Jujur dan
setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau saw. terbukti paling jujur dan cermat.
Nabi Besar Muhammad saw. menikah dengan perempuan-perempuan yang di
antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau sendiri dan ada juga yang
jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan
kekudusan beliau saw..
Sebagai ayah
Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau sangat setia dan murah
hati. Ketika beliau saw. diamanati tugas
yang amat besar dan berat dalam
usaha memperbaiki suatu masyarakat
yang sudah rusak, beliau saw. menjadi
sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw. memikul
semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
Nabi Besar Muhammad saw. bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin
pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan
dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Nabi Besar Muhammad saw. menghakimi
dan mengambil serta menjatuhkan keputusan
dalam berbagai perkara. Beliau saw. adalah seorang negarawan, seorang pendidik,
dan seorang pemimpin. Bosworth Smith dalam bukunya menulis:
“Kepala negara merangkap Penghulu Agama,
beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak
berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara
tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan
tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan
hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai
kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan
pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas
sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau
roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau
biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua
belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan
suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muhammadanism”).
Makna Orang yang Paling
Banyak Berdzikir Ilahi
Pendek kata, Nabi Besar Muhammad saw. bukan saja membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. mengenai pentingnya melaksanakan
berbagai ibadah fardu dan nafal
(tambahan) – termasuk shalat tahajjud -- dalam firman-Nya: عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا -- “boleh jadi Rabb (Tuhan) engkau akan
mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.” (Bani Israil [17]:80),
tetapi juga sebagai bukti nyata
mengenai makna yang sebenarnya dari orang yang paling banyak berdzikir
kepada Allah Swt. – yang disalah-artikan
sebagai banyaknya jumlah
(hitungan) wirid (dzikr) dengan
menggunakan untaian biji tasbih -- sebab nama
lain dari Al-Quran adalah adz-Dzikir (QS.15:10).
Itulah sebabnya ketika
Ummul-mukminin ‘Aisyah r.a. ditanya mengenai bagaimana akhlak
Nabi Besar Muhammad saw.. beliau
menjawab bahwa akhlak Nabi Besar
Muhammad saw. adalah Al-Quran,
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya
mengenai Surah Al-Ahzab ayat
22.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 24 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar