Sabtu, 26 September 2015

Makna "Peniupan Ruh" Allah Kepada Maryam binti 'Imran dan Sebutan "Kalimah Allah" Kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Pentingnya Melaksanakan Ibadah-ibadah Fardhu dan Nafal (Tambahan)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 49

Makna “Peniupan Ruh” Allah Kepada Maryam binti ‘Imran dan Sebutan “Kalimah Allah” Kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Pentingnya Melaksanakan Ibadah-ibadah Fardhu dan Nafal (Tambahan)

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  mengenai sabda Masih Mau’ud a.s.  tentang  keistimewaan lainnya dari hamba-hamba Allah Swt.  yang  memiliki makrifat Ilahi   yang  beliau  kemukakan sebelumnya:
     “Hukum alam yang ditetapkan Tuhan dan norma-norma alamiah yang sudah ada sejak penciptaan manusia, mengajarkan kepada kita bahwa untuk menciptakan hubungan yang erat dengan Tuhan diperlukan pengalaman mengenai Sifat Maha Penyayang  dan  Maha Indah  Allah  Swt..  Ada pun yang dimaksud dengan Sifat Maha Penyayang  adalah contoh-contoh (bukti-bukti) dari Sifat akhlak Allah Yang Maha Kuasa yang pernah dialami manusia dalam dirinya sendiri.
    Sebagai contoh, Allah telah menjadi Penjaga-nya ketika ia sedang tidak berdaya, lemah dan yatim. Atau Tuhan telah memenuhi kebutuhannya ketika sedang kekurangan, atau bisa jadi Allah Swt.  telah melipurnya pada saat sedang dilanda kesedihan. Bisa jadi Tuhan telah membimbingnya tanpa perantara seorang guru atau pengajar dalam pencahariannya di jalan Allah Swt….. (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 186).
Selanjutnya  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Yang dimaksud dengan Keindahan-Nya adalah Sifat-sifat yang muncul dalam kemasan kasih-sayang, seperti Sifat-Nya Yang Maha Sempurna, Maha Lembut, Maha Penyayang atau Rahīmiyat, atau Sifat Rabubiyat-Nya yang umum serta semua karunia yang bisa dinikmati manusia untuk kenyamanan mereka. Di samping itu adalah pengetahuan milik-Nya yang dikucurkan melalui para rasul-Nya agar manusia bisa menyelamatkan dirinya dari kematian dan kemudharatan.   
     Begitu juga dengan Sifat-Nya Yang Maha Mendengar permohonan doa mereka yang sedang gelisah dan lelah. Begitu pula kecenderungan-Nya kepada mereka yang cenderung kepada-Nya. Semua ini terangkum dalam Keindahan Tuhan. Berkat pengalamannya atas Sifat-sifat Ilahi demikian, seseorang memperoleh peneguhan keimanan dimana jiwanya menjadi tertarik kepada Allah Swt.  sebagaimana besi tertarik oleh magnit, sehingga  kecintaan manusia itu kepada Tuhan-nya menjadi berlipat-ganda dan keimanannya menjadi jauh lebih kuat.
      Memperhatikan bahwa semua kemaslahatan dirinya adalah bersama Tuhan maka harapannya kepada Tuhan menjadi bertambah kuat dan ia akan menjadi lebih cenderung lagi kepada-Nya serta menggantungkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala hal dan setiap saat. Ia merasa pasti akan berhasil karena ia telah merasakan sendiri banyak contoh dari rahmat, berkat dan kemurahan hati Ilahi. Ibadahnya akan bersumber pada kekuasaan dan keyakinan sehingga keteguhan hatinya menjadi mantap.
    Setelah menyadari karunia dan berkat Ilahi maka nur keyakinan secara gencar merasuki kalbunya dimana perasaan egonya lalu menjadi sirna. Berkat renungan berulang-kali akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, hatinya telah menjadi Rumah Allah. Sebagaimana nyawa tidak meninggalkan diri manusia selama yang bersangkutan masih hidup, begitu juga keyakinan akan Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Agung, yang masuk ke dalam hatinya tidak akan pernah lagi meninggalkannya. Jiwanya yang suci bergolak sepanjang waktu di dalam dirinya dan ia berbicara hanya di bawah petunjuk jiwanya itu.
     Kebenaran dan wawasan mengalir dari dirinya sedangkan tenda Allah Yang Maha Agung dan Maha Luhur selalu tegak di dalam hatinya. Kegembiraan karena keyakinan, ketulusan dan kecintaan mengalir di seluruh tubuhnya seolah air yang menghidupi seluruh anggota tubuh. Sinar mata dan keningnya mencerminkan kecemerlangan nur Ilahi. Penampilannya gemilang seolah-olah baru habis dibasuh dengan hujan rahmat Ilahi, sedangkan lidahnya menjadi ikut disegarkan. Semua anggota tubuhnya memancar terang seperti hujan musim semi yang menyegarkan cabang, daun dan bunga-bunga serta buah pepohonan..
    Tubuh mereka yang belum pernah didatangi ruh seperti ini sama saja seperti sebuah bangkai. Kesegaran dan kegembiraan yang ditimbulkan tidak dapat diuraikan dengan kata-kata dan tak akan pernah bisa dicapai oleh kalbu yang mati yang belum pernah disegarkan oleh sumber nur dan keyakinan, bahkan kalbu demikian itu berbau busuk.
    Adapun mereka yang telah memperoleh karunia nur ini dan di dalam kalbunya telah mengalir sumber mata air nur, maka ia akan menerima kuasa Allah Swt. dalam segala kata dan perbuatannya setiap saat dan dalam semua keadaan. Semua itu menjadi kegembiraan serta kenyamanan baginya dan ia tidak bisa hidup tanpa hal itu.”  (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 186-187).

Hakikat Misal  Maryam Binti 'Imran   & Makna Lain "Peniupan Ruh" Allah Kepada Maryam Binti 'Imran

    Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. mengenai   proses kelahiran ruhani dari tingkatan ruhani Maryam binti ‘Imran  menjadi tingkatan ruhani Isa Ibnu Maryam a.s. yang secara jasmani beliau dilahirkan tanpa peran-serta seorang ayah jasmani seorang laki-laki,  karena ibunya merangkap juga sebagai ayahnya, karena itu beliau disebut  Al-Masih Ibnu Maryam  (QS.3:46-50),  firman-Nya:
وَ مَرۡیَمَ  ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ  الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا  فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ  مِنۡ  رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran   yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami,  dan ia meng-genapi firman  Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ  -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh  (At-Tahrim [66]:13).
     Salah satu maknanya adalah bahwa  orang-orang bertakwa pada tingkat ruhani Maryam binti  ’Imran, sebagaimana halnya  mengandungnya gadis  Maryam sama sekali tidak berkaitan dengan  peran manusia  melainkan sepenuhnya merupakan “peniupan ruh” dari Allah Swt., firman-Nya:
وَ الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا فِیۡہَا مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ  اٰیَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah Maryam perempuan yang memelihara kesuciannya, فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا فِیۡہَا مِنۡ رُّوۡحِنَا  -- maka Kami meniupkan  kepadanya ruh Kami,  وَ جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ  اٰیَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  -- dan Kami menjadikan dia dan anaknya  suatu Tanda  untuk seluruh alam  (Al-Anbiya [21]:92).
   Ayat ini membantah fitnahan-fitnahan keji yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi terhadap Siti Maryam dan juga terhadap  Nabi Isa Ibnu maryam a.s. (QS.4:156-159). Ayat ini dapat pula diterapkan kepada siapa pun yang menjalani kehidupan yang bertakwa dan lurus. 
     Dalam QS.66:13 suatu golongan tertentu dari orang-orang mukmin dipersamakan dengan Maryam binti ‘Imran. Setiap orang dari antara orang-orang mukmin yang mempunyai ketakwaan seperti itu, seolah-olah menjadi  Maryam binti ‘Imran, dan ketika Allah Swt.  meniupkan ke dalam dirinya ruh-Nya, ia menjadi seorang “anak Maryam” yakni ia mencerminkan Sifat-sifat Tuhan seperti yang dimiliki Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ مَرۡیَمَ  ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ  الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا  فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ  مِنۡ  رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan juga misal Maryam putri ‘Imran   yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami,  dan ia menggenapi firman/kalimat Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Kitab-kitab-Nya, وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ  -- dan ia termasuk orang-orang yang patuh  (At-Tahrim [66]:13).
    Makna ayat وَ جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ  اٰیَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  -- dan Kami menjadikan dia dan anaknya  suatu Tanda  untuk seluruh alam  (Al-Anbiya [21]:92),   sangat malang sebagian orang yang berpendapat, bahwa   kecuali  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dan ibunya (Maryam binti ‘Imran), tidak ada seseorang pun sebagai Tanda kebenaran. Padahal setiap ayat Al-Quran disebut Tanda (bukti) kebenaran (Kamus Taj-ul-‘Arus).
        Al-Quran ini seluruh ayatnya turun kepada Nabi Besar Muhammad saw. sehingga wujud  beliau saw.  adalah kumpulan seluruh Tanda kebenaran. Itulah sebabnya sebutan nur  (cahaya) bagi Al-Quran  kadangkala dipergunakan juga untuk  Nabi Besar Muhammad saw. (QS:5:16; QS.7:158; QS.39:70:64:9),  sehingga beliau saw. dalam Al-Quran disebut Nur di atas nur (Cahaya di atas cahaya – QS.24:36).  
       Lagi pula Allah Swt.  dalam Al-Quran menyebut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai kalimat-Nya
اِذۡ قَالَتِ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یٰمَرۡیَمُ اِنَّ اللّٰہَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَۃٍ مِّنۡہُ ٭ۖ اسۡمُہُ الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ وَجِیۡہًا فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ  وَ مِنَ الۡمُقَرَّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Ingatlah ketika para malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya  Allāh memberi engkau kabar gembira dengan  satu kalimat  dari-Nya tentang kelahiran seorang anak laki-laki namanya Al-Masih  Isa Ibnu Maryam,  yang dimuliakan di dunia serta di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang yang didekatkan kepada Allāh.  (Āli ‘Imran [3]:45).
       Kalimah berarti: sebuah kata, putusan, perintah (Al-Mufradat). Kata ini bersama-sama dengan kata ruh yang terdapat dalam QS.4:172, menjelaskan tanpa sekelumit pun keraguan bahwa jauh dari membenarkannya, bahkan  kata-kata itu dipakai untuk menghancurkan dan menolak paham yang menganggap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  adalah Tuhan dan anak Tuhan.

Makna Lain Sebutan Kalimatullāh  &  Keunggulan Sebutan  Dzikr  Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw.

       Dalam ayat ini Nabi Isa a.s. disebut Kalimatullāh, karena kata-kata (ucapan-ucapan) beliau membantu untuk kepentingan Kebenaran. Seperti halnya orang yang membela kepentingan kebenaran dengan keberaniannya disebut Saifullāh (Pedang Allah) atau Asadullāh (Singa Allah), demikian pula Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  disebut Kalimatullāh, sebab kelahirannya tidak terjadi dengan perantaraan seorang ayah dari kalangan laki-laki melainkan atas “perintah” langsung dari Allah  Swt.  (QS.19:22).
       Selain arti harfiah yang tercantum di atas, Al-Quran telah memakai kata kalimah dalam arti-arti berikut: (1) “Tanda” (QS.66:13 dan QS.8:8); (2) “hukuman” (QS.10:97); (3) “rencana” atau “rancangan” (QS.9:40); (4) “kabar gembira” (QS.7:138); (5) “ciptaan Tuhan” (QS.18:110); (6) “semata-mata ucapan” atau “semata-mata pernyataan” (QS.23:101).
    Diambil dalam rangkuman salah satu arti di atas, penggunaan kata kalimah mengenai Nabi Isa  Ibnu Maryam  a.s. sekali-kali tidak memberikan kepada beliau suatu martabat yang lebih tinggi daripada nabi-nabi Allah  lainnya, apalagi lebih mulia daripada Nabi Besar Muhammad saw., yang disebut Nabi Isa Ibnu Maryam as. (Yesus) sebagai “Roh Kebenaran” yang akan membawa seluruh kebenaran (Yohanes 16:12-13).
      Tambahan pula, bila Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  disebut Kalimah dalam Al-Quran, sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. telah disebut Dzikr, artinya Kitab atau nasihat yang baik (QS.15:10; QS.36:70-71; QS.65:11-12), yang tentunya terdiri atas banyak kalimat.
      Pada hakikatnya, bila Kalimatullah diambil dalam arti “Firman Allah”,  paling-paling kita hanya dapat mengatakan bahwa  Allah Swt.   telah menyatakan Diri-Nya lewat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  seperti halnya Dia menyatakan Diri-Nya melalui para nabi Allah lainnya.
        Kata-kata  (kalimat) tidak lain hanya wahana untuk pengungkapan pikiran-pikiran. Kata-kata (kalimat) tidak merupakan bagian wujud kita dan tidak pula menjadi titisan manusia.  Jadi kembali kepada  firman-Nya:
وَ الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا فِیۡہَا مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ  اٰیَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah Maryam perempuan yang memelihara kesuciannya, فَرۡجَہَا فَنَفَخۡنَا فِیۡہَا مِنۡ رُّوۡحِنَا  -- maka Kami meniupkan  kepadanya ruh Kami,  وَ جَعَلۡنٰہَا وَ ابۡنَہَاۤ  اٰیَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  -- dan Kami menjadikan dia dan anaknya  suatu Tanda  untuk seluruh alam  (Al-Anbiya [21]:92).
       Bahwa  sebagaimana kehamilan yang terjadi pada  Maryam binti  ‘Imran adalah semata-mata  karena “peniupan ruh” dari-Nya, demikian pula  perkembangan ruhani   yang terjadi di kalangan  orang-orang bertakwa pada tingkatan ruhani Maryam binti ‘Imran  (QS.66:13) pun  adalah  semata-mata karena peran wahyu Ilahi mulai mempengaruhi   hatinya,  firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  jika kamu bertakwa kepada Allah  یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا -- Dia akan menjadikan  bagi kamu   pembeda, وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ  --    dan Dia akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan kamu, dan Dia akan mengampuni kamu kamu, وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ  الۡعَظِیۡمِ  -- dan Allah  Memiliki  karunia yang sangat besar (Al-Anfāl [8]:30). QS.8:6;  QS.63:10;  QS.66:9.

Pentingnya  Kedawaman Melaksanakan  Shalat Fardhu    dan Shalat Nafal (Tambahan), Terutama Shalat Tahajjud

        Furqān berarti: (1) sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang salah; (2) bukti atau bahan bukti atau dalil; (3) bantuan atau kemenangan, dan (4) fajar (Lexicon Lane).  Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran kedawaman melaksanakan shalat tahajjud  memberikan peran besar dalam upaya memperoleh furqān tersebut, sehingga mampu mengalahkan berbagai bentuk kebathilan (kepalsuan/kedustaan), firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ  لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ  الَّیۡلِ وَ  قُرۡاٰنَ  الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ  قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ  کَانَ  مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾  وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾  وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh disaksikan secara istimewa oleh Allah.    وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ  -- Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan  bagi engkau, عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا  -- boleh jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.   وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ    -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --    dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.” وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا --  Dan katakanlah:  Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap   (Bani Israil [17]:79-82).
   Dalakat asy-syamsu berarti: (1) matahari condong sesudah mencapai titik puncaknya pada tengah hari; (2) matahari menjadi kekuning-kuningan; (3) matahari terbenam. Ghasaq berarti, kegelapan malam, atau ketika warna merah di kaki langit lenyap sesudah matahari terbenam (Lexicon Lane).
       Nampaknya ayat 79   menunjuk kepada saat-saat untuk mendirikan shalat 5 waktu sehari. Tiga arti dulūk menunjukkan saat untuk shalat Zuhur, Ashar, dan Maghrib. Untuk ghasaqil-lail meliputi saat untuk shalat Magrib, tetapi khususnya menunjuk kepada shalat Isya, dan kata-kata qur’an al-fajr (bacalah Al-Quran  di waktu fajar) menunjuk kepada saat shalat Subuh.

  Shalat Fardhu dan Shalat Nafal  Merupakan  Karunia Khas  dari Allah Swt.

         Sebagai arti tambahan pada ayat وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ  -- dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan  bagi engkau” yang diberikan dalam terjemahan teks, nāfilah berarti karunia yang khas, dan mengandung arti bahwa shalat-shalat itu bukan suatu beban yang hanya meletihkan tubuh, melainkan suatu kesempatan istimewa dan karunia khas dari Allah  Swt. sebagai ketemngan hadits Qudsi berikut ini:
     Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah telah berfirman : “Tidak ada sesuatu yang dilakukan oleh salah seorang di antara hamba-hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku sukai ketimbang (melaksanakan) kewajiban-kewajiban yang telah Kutetapkan kepadanya. Dia (sang hamba) mendekatkan dirikepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintai-Nya, maka Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, menjadi matanya yang dengannya ia melihat dan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang. Jika ia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan dan seandainya ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri”  (Imam Bukhâri)
      Makna ayat selanjutnya: عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا  -- “boleh jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.”    Barangkali tiada orang yang pernah begitu dibenci dan dimaki seperti Nabi Besar Muhammad saw.,  tetapi kemudian  sungguh tidak ada wujud lain yang menerima begitu banyak pujian Allah Swt.  dan menjadi penadah begitu banyak rahmat dan berkat Ilahi seperti beliau saw..
      Shalat Tahajjud paling cocok untuk orang beriman guna mencapai kemajuan ruhaninya,  karena dalam kesunyian malam  dalam keadaan menyendiri di hadapan Sang Khaliq-nya  ia menikmati perhubungan khas dengan  Allah Swt., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah (Al-Ahzāb [33]:22).

Kesaksian Penulis Non-Muslim Mengenai Kesempurnaan Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

   Pertempuran Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan  seperti Nabi Besar Muhammad saw., dan beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
   Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa  seperti Nabi Besar Muhammad saw.  baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
    Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak  seperti Nabi Besar Muhammad saw. yang indah, dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak beliau saw. lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat beliau saw. atau mengecutkan hati beliau, begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
   Ketika  Nabi Besar Muhammad saw.  ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan tatkala Mekkah jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak beliau saw.. Beliau  saw. menunjukkan keluhuran budi (akhlak) yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw..
Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak  Nabi Besar Muhammad saw.selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau saw. dan yang paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya akan misi beliau, yakni, istri beliau yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau sepanjang hayat, Abu Bakar r.a.; saudara sepupu yang juga menantu beliau, Al bin Abi Thalib r.a., dan bekas budak beliau saw. yang telah dimerdekakan, Zaid bin Haritsah r.a., Nabi Besar Muhammad saw.    merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan dan kebajikan.
  Dalam segala segi kehidupan dan watak  Nabi Besar Muhammad saw.  yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti. Seluruh kehidupan beliau saw.  nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah. Nabi Besar Muhammad saw. mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa.
     Sebagai kanak-kanak beliau saw.  penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau saw.  mendapat julukan Al-Amin (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau  saw. terbukti paling jujur dan cermat.
  Nabi Besar Muhammad saw.  menikah dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau saw..
    Sebagai ayah  Nabi Besar Muhammad saw.  penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau sangat setia dan murah hati. Ketika beliau saw. diamanati tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak, beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
  Nabi Besar Muhammad saw.  bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau  saw. memperoleh kemenangan-kemenangan.  Nabi Besar Muhammad saw.  menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara. Beliau saw. adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.  Bosworth Smith dalam bukunya menulis:
Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muhammadanism”).

Makna Orang  yang Paling Banyak Berdzikir Ilahi

     Pendek kata,  Nabi Besar Muhammad saw. bukan saja  membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. mengenai pentingnya melaksanakan berbagai  ibadah fardu dan nafal (tambahan) – termasuk shalat tahajjud  --  dalam firman-Nya: عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا  -- “boleh jadi Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.”  (Bani Israil [17]:80), tetapi juga sebagai bukti nyata mengenai makna yang sebenarnya  dari orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt. – yang disalah-artikan sebagai  banyaknya  jumlah (hitungan)   wirid  (dzikr) dengan menggunakan  untaian biji tasbih   -- sebab nama lain dari Al-Quran adalah adz-Dzikir  (QS.15:10).
      Itulah sebabnya ketika Ummul-mukminin ‘Aisyah r.a. ditanya mengenai bagaimana  akhlak Nabi Besar Muhammad  saw.. beliau menjawab bahwa akhlak Nabi Besar Muhammad saw. adalah Al-Quran, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya   mengenai Surah Al-Ahzab ayat 22.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 24  September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar